Connect with us

Inspirasi

Pudarnya Spiritualitas Kita, Belajar Dari (Film) Perang

mm

Published

on

Oleh : Sabiq Carebesth*

“Ini adalah pekerjaan terbaik yang pernah kumiliki…” Kemudian digambarkan satu persatu tentara di dalam tank tempur jenis M4A3E8s menyesap rokok, menenggak alkohol, tersenyum dan saling berbicara, atau sebenarnya bicara dengan diri sendiri—sementara di luar tank, ratusan tentara SS Nazi mengepung, siap membakar dan menghancurkan tank bersama segenap penghuninya. Demikian potongan suasana adegan dalam film terbaru arahan David Ayer: “Fury” (2014) yang berarti “Amarah”.

Bagian dialog tersebut mendalam, menyangkut sebuah pilihan, eksistensi, barangkali juga nasib menjadi manusia yang terlibat langsung dalam Perang Dunia ke-2 yang muram dan mengerikan.

“Fury” adalah sebuah julukan bagi Tank jenis Sherman tipe M4A2E8, yang dalam cerita film ini, menjadi kendaraan perang bagi kelompok yang dipimpin Brad Pitt (Sertu Don Wardaddy) dan diawaki Micheal Pena (Trini “Gordo” Garcia), Shia Labeouf (Boyd “Bible” Swan), dan Jhon Bernthal (Grady “Coon-Ass” Travis). Cerita mulai berkembang ketika seorang pemuda bernama Norman “Machine” Ellison (Logan Lerman), ditugaskan untuk menggantikan 1 awak Fury yang tewas.

Norman sendiri adalah sebuah “dilema”; ia pemuda muda usia dan juga “lemah” jiwa, tak pernah membunuh dan tidak becus memegang senjata. Hanya tukang ketik dengan hayalan setitik yang belum pernah meniduri perempuan dari musuh sebagai “harta rampasan” perang. Norman berbeda dengan 4 awak tank lainnya terutama Sertu Don Wardaddy yang tegar nyaris beku, air mukanya keras dan matanya menatap lawan bagaikan mangsa yang harus mati dengan sama kejinya.

Don Wardaddy adalah kebalikan dari Norman, sekaligus pada saat yang sama cermin buram. Sertu Don adalah komandan regu yang “tampak” tegar, cenderung bengis pada musuh, temparemantal dan tak menyisakan rasa takut! Tapi inilah kenapa film ini keren, Norman dalam kaca mata Sertu Don adalah cermin dirinya dahulu, anak kecil yang lemah jiwanya dan penakut, sampai sebuah trauma teratasi dan akhirnya ia menjadi pemimpin regu dengan sepasukan yang sangat loyal padanya. Sebagai pemimpin ia penuh kharisma—tentu karena ia telah melewati ketakutannya sendiri, atau sejatinya ia tak perduli.
Dalam misi terakhir, “Fury” dan 2 tank lainnya ditugaskan untuk menyerang Nazi di jantung kota Jerman. Drama yang sesungguhnya dimulai dari sini; 2 tank lainnya hancur lebur oleh kendaraan anti tank milik Nazi. Hanya tersisa satu Tank yaitu “Fury” yang dikomando Sertu Don Wardaddy. Dengan kecakapan dan pengalaman serta kegeniusannya membaca peta dan mengambil keputusan kapan melepas peluru dan meriam, tank berisi pasukan pimpinan Sertu Don Wardaddy akhirnya bisa meledakkan Tank Nazi. Tentu saja itu setelah adegan babak-belur Tank karena tembakan dan granat; lengkap dengan gambaran proses adu kendali dan emosi yang suram sekaligus dinamis.

Tank “Fury” berjalan melanjutkan misi berikutnya hingga sampai di sebuah jalan desa di Jerman, drama kian memuncak ketika tank mereka menginjak ranjau yang memutuskan rantai tank mereka sehingga mau tak mau mereka terjebak di petang hari di sebuah persimpangan jalan desa dengan setting tahun 1945. Sementara 4 awak lain mencoba membenarkan Tank, Norman sebagai yang paling muda diminta menjadi pengintai di ujung bukit.

Tak lama berselang musik (digawangi Steven Price) memulai sihirnya dan ketegangan mulai tumpah, suara desau angin sore memberikan atmosfir sempurna bagi datangnya malam dan perang terakhir; dari rimbun pepohonan tempat Norman berjaga, matanya terbelalak oleh barisan pasukan khusus Nazi berjumlah 300an orang. Ia pun tergopoh menemui sertu Don sebagai komandannya. Don Wardaddy dengan jenius mengenali yel-yel dan suara dari derap baris-berbarisnya; “pasukan khusus SS” ujarnya dengan ngeri. Bahaya bukan kepalang, mereka hanya berlima, jika tertangkap mereka tidak akan dibunuh, melainkan disiksa, dikuliti, dan segala yang mungkin lebih mengerikan dari kematian.
4 awak lain diceritakan ingin menyelamatkan diri, tapi di sinilah kepemimpinan dan loyalitas yang dibimbing oleh “spirituaslitas” Sertu Don Wardaddy membimbing keyakinan untuk tetap bertempur demi mempertahankan “Tank” yang telah sama artinya dengan rumah. “Aku tidak akan meninggalkan rumahku untuk dihancurkan musuh.” Ujar Don.

Bahu membahu, keyakinan telah dibulatkan, saling solidaritas menjadi puncak kesadaran eksistensi, mereka masuk satu-persatu melompat ke dalam tank dan bersiap mempertahankan “rumah” mereka dengan senjata yang tersisa. Mereka menunggu sepasukan SS yang siap mengepung dan menghabisi mereka dengan kekejian yang bisa dibayangkan dari musik dan desau angin di pedesaan Eropa tahun 1945—suram dan absurd.

Spiritualitas

Di dalam tank derap langkah pasukan Nazi mulai terdengar kian dekat. 4 awak tank saling bicara dan menenggak minuman yang terisisa; terlalu mengerikan apa yang akan mereka hadapi untuk dilawan dengan sepenuhnya sadar. Sebotol alkohol telah sampai ke dalam perut; satu persatu menenggak; Shia Labeouf (Boyd “Bible” Swan) yang memerankan sosok penganut Kristen taat menghutbahkan Alkitab; “dalam keadaan perang Tuhan mengutus rasul.” Ujarnya gemetar.

Mereka membutuhkan lebih dari sekedar kemabukan alkohol untuk menghadapi hal mengerikan, mereka memerlukan hal yang lebih immateriil untuk menguburkan ketakutan mereka sendiri, dan itulah spiritualitas.

Menariknya, sertu Don, yang sedari awal film ini digambarkan sebagai Komandan yang keras, dan tak pernah menunjukan diri mengenal “Tuhan” tiba-tiba berujar: “Yesaya; 6”—yah, Don hafal surat dari alkitab yang disebutkan Shia Labeouf, mereka pun tertawa, lega dan telah dikuatkan sebelum akhirnya suara tembakan mendesing mengenai dinding tank dan mereka pun bergegas untuk melawan!
Ada pelajaran berharga dari adegan itu, bahwa dalam perang Tuhan selalu ada. Tidak ada perang yang sanggup dihadapi oleh mereka yang terlibat tanpa ada spiritualitas dalam diri masing-masing.
Tuhan memang ada di mana-mana, termasuk di medan perang, di antara kematian dan pembantaian yang mengerikan. Tapi tempat sejati Tuhan sejatinya memang ada dalam “hati” manusia—sebagai spirit yang nyata.

Film yang diperankan Brad Pitt kali ini memang boleh dikatakan sangat mengesankan; tidak hanya bagus, tapi menunjukkan kerja keras semua yang terlibat dalam film itu—sebutlah sebuah dedikasi yang bisa dilakukan oleh dunia seni dan senimannya bagi kemanusiaan. Brad Pitt sendiri mengalami trauma psikis dalam syuting film ini, dan Shia Labeouf terpaksa menyayat wajahnya dengan pisau dan mencabut giginya demi peran di film Fury ini.

Dalam sebuah konferensi pers Pitt berharap para tentara bisa merasa dihormati dengan adanya film ini. “Ini adalah fakta yang luar biasa dari sifat manusia bahwa dalam satu tahun kita dapat saling memotong dan berikutnya kita saling berbagi. Kita selalu terlibat konflik, tidak peduli berapa banyak kita berevolusi,” kata Pitt.

Bukan Achilles

Akting Brad Pitt secara khusus layak mendapat pujian lebih. Ia mempertontonkan sebuah drama peran yang benar-benar melampaui dirinya sendiri. Ia hilang lenyap menjadi Sertu Don Wardaddy yang diperankannya; pemimpin regu yang kharismatik dan patut disegani anak buahnya—bukan karena apa pun melainkan karena ia sudah tak perduli dengan (kepentingan) dirinya sendiri, ia hanya perduli pada perang dan kehormatan “rumahnya”; cerita hidup dan sejarahnya sebagai manusia.

Pitt memang sama berotot, tangguh, genius, ahli taktik dan strategi perang handal, dan tentu saja cenderung tragis—nada dan langgam yang sama sebagaimana ketika ia memerankan “Achilles” dalam film “Troy”. Bedanya, dalam film yang menelan dana $57.6 miliar ini Pitt seakan telah tumbuh dan sampai pada puncak kematangannya sebagai lakon. Ia sangat simpatik dan etiketnya terlihat sexi! Empatinya terlihat jauh lebih kuat dalam memerankan komandan regu dalam susana Perang Dunia ke II yang “nyata”. Ia bukan “Achilles” yang mistis dan penuh balutan legenda, kali ini ia nyata, hadir, sebagai manusia biasa, yang menjadi kuat hanya karena spiritualitas dan pengalaman dari kegetiran hidup dan perang yang telah dilewatinya.

Kepemimpinan dan Solidaritas

Hal menarik dan bisa jadi pelajaran adalah kepemimpinan seoarang komandan regu atau group. Bagaimana seorang pemimpin membangun solidaritas, bagaimana ia mesti sanggup menahan diri, memendam dalam-dalam kedirian demi kebaikan bersama dan hanya bersikap pada titik di mana memang saharusnya ia membuka mulut dan menggebrak piring makan anak buahnya—jika dengan itu tak sanggup meredakan konflik antar anggotanya, maka sejak itu ia bukan lagi pemimpin.

Adegan itu ada ketika ia dan 4 awak tank lainnya rehat setelah memenangi perang di pertengahan film ini. Sementara yang lain mengurus tawanan dan harta jarahan, ia dan anggota termudanya Norman “Machine” Ellison, naik ke sebuah loteng dan mendapati dua perempuan: Stella Stocker (Edith) dan sepupunya yang muda jelita Alicia von Rittberg (Emma).

Dalam adegan tersebut, sebagai pemimpin regu perang yang “garang” ia menunjukan kesopanan yang menakjubkan yang tak dikira. Keributan terjadi ketia 3 awak lainnya menyusul dan terheran karena mereka tampak baik-baik saja (tak ada perkosaan atau kekerasan sebagaimana amanat balas dendam pada Nazi). Kepemimpinan yang tegar dan matang dipertontonkan dengan sangat apik dalam bagian ini.
Don “Wardaddy” Collier sebagai “ketua” regu, memerankan gaya kepemimpinan yang sangat menawan! Sebagaimana pemimpin terbaik, ia digambarkan sebagai pribadi yang telah melampaui dirinya sendiri, ketakutan, trauma dan bahkan hidup-nya sendiri, ia menerima kematian dalam perang sebagaimana kehidupan yang ia terima setiap saatnya.

Sebagai pemimpin, dalam adegan jamuan makan yang “menegangkan”, Don “Wardaddy” Collier memerankan “kebisuan” yang matang, ia membiarkan keempat anak buahnya menemukan jati dirinya sendiri dalam beragam peristiwa—dengan pada saat yang sama ia memperhatikan dan sangat hegemonik demi kebaikan semua.

Penonton yang terlibat akan mengambil pelajaran kepemimpinan dari lakon Brad Pitt sebagai Sersan Don; bahwa pemimpin, terlebih dalam status perang, harus mendalam, pandai “mendem jero” demi kesetian gerombolan untuk tujuan yang bervisi, lebih besar dan lebih jauh; yaitu masa depan sebanyak-banyaknya manusia.

Film yang akan diputar sebagai penutup Festival Film London BFI 2014 ini sangat layak untuk ditonton, terutama bagi mereka yang ingin menyelami drama dalam kemanusian hari ini; bahwa beruntunglah kita yang tidak dalam kondisi perang atau mengalaminya. Bagaimana pun perang yang nyata jauh lebih mengerikan dari yang sanggup anda bayangkan.

“Ideologi memberi kedamaian, tapi sejarah selalu penuh kekerasan!” gumam Don “Wardaddy” Collier dalam salah satu adegan. Perang pada akhirnya memakan semuanya sebagai korban, tanpa kecuali. (*)

*Sabiq Carebesth, pecinta buku dan kesenian, penikmat bioskop di Jakarta. Freelance Writer sekaligus Chief  Editor Galeri Buku Jakarta. Twitter: @sabiqcarebesth

Continue Reading

Inspirasi

Lima Fakta Menarik Tetang Truman Capote

mm

Published

on

Siapa tidak kenal dengan Breakfast at Tiffany’s, novelet karya Truman Capote yang berhasil menghipnotis seluruh dunia tidak hanya dalam media sastra tetapi juga film, fashion, kuliner dan hampir seluruh budaya pop yang bisa dihasilkan pada zamannya bahkan sampai sekarang. Novel Breakfast at Tiffany’s masih terus diterjemahkan ke berbagai Bahasa hingga hari ini dan terus menambah pembaca setianya tak terkecuali di Indonesia.

Sosok dan keseharian Capote memang mengagumkan, ia sosok yang layak menjadi besar di mana hal itu terlihat jelas bagaimana karya dan pribadinya mampu menginspirasi orang lain dan ragam seni lain. Salah satu contohnya karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird karya Lee tidak lain dan tak bukan adalah pribadi Capote yang dalam kehidupan nyata adalah karib Lee.

Beberapa fakta menarik lain tentang Truman Capote: hidup, pekerjaan, dan keterkaitannya dengan para penulis lain benar-benar tak layak Anda abaikan, simak selangkapnya berikut ini:

  1. Truman Capote mengilhami karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird. Karakter Dill Harris dalam novel Lee didasari oleh tetangga sekaligus sahabat Harper Lee sendiri- Truman Capote. Capote, yang lahir pada tahun 1924 dengan nama Truman Streckfus Persons, mengubah namanya menjadi Truman Capote pada tahun 1935, mengikuti ayah tirinya, Joseph Capote.
  2. Ternyata, Lee bekerja sebagai asisten Capote untuk salah satu bukunya. Karya Truman Capote, In Cold Blood, sebuah karya non-fiksi yang diterbitkan pada tahun 1966, berfokus pada pembunuhan brutal oleh empat orang dari satu keluarga yang sama di Kansas pada tahun 1959. Menulis tentang tragedi terkini tentu saja melibatkan cukup banyak penelitian, sehingga Capote bisa pastikan fakta di karyanya tepat, dan Harper Lee membantu wawancara dan penelitian untuk buku ini. Pembunuhan kemudian akan muncul kembali di dunia Capote dengan cara yang aneh dan paling meresahkan. Yang mengerikan, Capote ternyata mengenal empat korban pembunuhan Manson tahun 1969, masing-masing dari mereka. Capote kemudian mengungkapkan bahwa ‘dari lima orang yang terbunuh di rumah Tate malam itu, saya mengenal empat dari mereka. Saya bertemu dengan Sharon Tate di Cannes Film Festival. Jay Sebring memotong rambut saya beberapa kali. Saya pernah makan siang sekali di San Francisco bersama Abigail Folger dan pacarnya, Frykowski. Dengan kata lain, saya mengenal masing-masing dari mereka.”

Saya tidak peduli apa yang dikatakan orang lain tentang saya selama itu tidak benar. –Truman Capote

  1. Capote menulis drafnya di atas kertas kuning. Pastinya kertas ini adalah ‘kertas kuning yang sangat istimewa’, seperti yang dia ungkapkan dalam sebuah wawancara dengan Paris Review. Kemudian, begitu dia senang dengan drafnya, dia akan mengetiknya di atas kertas putih.
  2. Capote memberi Ray Bradbury jeda lama dalam menulis. Bradbury mendapat jeda penting pertamanya saat dia remaja, di akhir 1930-an. Dia mengajukan sebuah cerita ke majalah Mademoiselle, yang mana seorang Truman Capote muda – yang sebenarnya empat tahun lebih muda dari Bradbury – bekerja sebagai asisten editor. Capote membaca cerita Bradbury, yang berjudul Homecoming, dan merekomendasikan kepada editornya untuk menerbitkannya.

Hidup ialah drama yang lumayan bagus dengan babak ketiga yang ditulis dengan buruk. – Truman Capote

  1. Truman Capote akan berganti kamar hotel jika nomor teleponnya disertai nomor 13. Seperti Stephen King – yang menderita triskaidekaphobia – Capote adalah seorang penulis yang percaya takhayul dan nomor 13 tidak disukainya. Dia juga tidak akan memulai atau mengakhiri sebuah karya pada hari Jumat, karena dia menganggapnya sebagai nasib sial. Terlepas dari kondisi dirinya sendiri, dia berhasil menulis sejumlah karya fiksi dan non-fiksi yang sukses, tidak hanya In Cold Blood, tapi juga novel pendek Breakfast at Tiffany’s (1958), film yang dibintangi Audrey Hepburn. Capote meninggal pada tahun 1984, berusia 59 tahun. Pada tahun 2005, almarhum Philip Seymour Hoffman berperan sebagai penulis dalam film biografi terkenal, Capote.

______________________________________________

*) By Regina N. Helnaz | Editor Sabiq Carebesth

Continue Reading

Inspirasi

Lima Fakta Menarik Tentang Novelis John Steinbeck

mm

Published

on

Saat menulis novel East of Eden jarang yang tahu fakta bahwa ia menggunakan 300 pensil untuk menulis East of Eden. Dia diketahui menggunakan hingga 60 pensil dalam sehari, lebih memilih pensil dibanding mesin tik atau pulpen. Dialah John Steinbeck, novelis Amerika yang karyanya juga digemari sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Fakta unik lain dari penulis ini? Simak selengkapnya:

  1. Draf awal dari novel John Steinbeck, Of Mice and Men, dimakan anjingnya sendiri. Anjing itu bernama Max, salah satu anjing yang dipelihara Steinbeck semasa hidupnya, yang melahap habis draf novel itu dan karenanya, menjadi kritikus pertama buku itu. Buku itu mungkin adalah buku Steinbeck yang paling terkenal, dan terinspirasi dari pengalaman pribadinya sebagai bindlestiff (pekerja yang suka berpindah tempat) di Amerika Serikat pada tahun 1920-an. Judul novel yang terkenal itu terilhami puisi Robert Burns ‘To a Mouse’: ‘The best laid schemes o’ mice an’ men / Gang aft agley’ (atau ‘sering tidak terjadi sesuai rencana’). Judul asli dari novel itu adalah ‘Something That Happened’.
  2. Pada 1980-an, muncul rumor bahwa novel Steinbeck, The Grapes of Wrath, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul ‘The Angry Raisins’ (. Namun rumor ini ternyata tidak benar adanya. Ini adalah contoh menarik bagaimana orang menyukai cerita tentang ‘tersesat dalam terjemahan’, dan rumor itu telah berkali-kali dibantah.
  3. Steinbeck menggunakan 300 pensil untuk menulis East of Eden. Dia diketahui menggunakan hingga 60 pensil dalam sehari, lebih memilih pensil dibanding mesin tik atau pulpen. Hemingway juga penggemar grafit dibandingkan tinta, meskipun ‘Papa’ rupanya juga gemar menajamkan pensil saat dia mengerjakan sebuah novel, untuk membantunya berpikir!
  4. Steinbeck menulis buku tentang King Arthur. Ini adalah topik yang tidak biasa bagi penulis novel di era Depresi, namun penjelajahannya ke dalam dunia fantasi Arthur baru ditulis di penghujung karirnya. Seperti T. H. White (yang menulis sekuel The Once and Future King, didahului dengan The Sword in The Stone) dan Tennyson (yang menulis novel bersyair panjang, Idylls of the King, pada abad ke-19), Steinbeck terilhami epos abad ke-15 karya Sir Thomas Malory, Le Morte d’Arthur, untuk materi novelnya. Fantasi Arthurian Steinbeck adalah The Acts of King Arthur and His Noble Knights. Mulai ditulis pada 1956, buku itu tidak terselesaikan dikarenakan kematian Steinbeck pada tahun 1968, dan tidak diterbitkan hingga 1976.
  5. Dia menulis salah satu surat cinta terbaik yang pernah ada dalam kesusasteraan– sebuah surat tentang jatuh cinta. Pada sebuah surat di tahun 1958, Steinbeck merespon surat yang ditulis putranya, Thom, untuknya. Thom berkata pada ayahnya kalau dia benar-benar jatuh cinta pada seorang gadis bernama Susan (saat itu, Thom tinggal di asrama). Steinbeck meresponnya dengan nada suportif dan jujur di sepanjang surat itu, mempertimbangkan dengan seksama perasaan anaknya namun juga menawarkan nasihat tentang ‘apa yang harus dilakukan’ – pastinya hal yang ingin diketahui oleh setiap anak remaja dalam masa-masa sakit hati karena cinta, “Tujuan dari cinta lah yang terbaik dan paling indah,” katanya pada Thom. “Cobalah untuk hidup dengan mengingat itu.” Ia mengkahiri suratnya dengan meyakinkan putranya, “Dan jangan khawatir akan kehilangan. Jika harus terjadi, maka terjadilah – yang paling penting jangan terburu-buru. Sesuatu yang baik tidak mungkin terlepas darimu.”

*) Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Continue Reading

Inspirasi

Alice Munro: Menulis Harus Disiplin dan Percaya Diri

mm

Published

on

foto: The New York Times

“Saya tidak pernah menunjukkan karya yang masih dalam tahap penyelesaian kepada siapapun”. Hal itu bisa jadi salah satu ungkapan paling rahasia dalam proses kreatif  penerima Penghargaan Nobel Sastra (2013) Alice Munro.

Alice termasuk penulis yang sangat prolifik dengan reputasi tinggi. Seperti Anton Chekhov, Alice tidak pernah menulis novel utuh—namun setiap ceritanya mengandung elemen-elemen novel yang membuatnya terkesan ‘penuh’. Meski karyanya telah diganjar Nobel Sastra, ia kerap mengaku bahwa setiap penulis membutuhkan rasa percari diri lebih. Juga bagaimana menghadapi kritik yang kerap membuat sakit hati.

Edit dan Kritik

Dalam sebuah wawancara dengan Paris Review, Alice mengisahkan pengalaman pentingnya terkait pengeditan yang ‘serius’. Moment itu terjadi ketika cerpennya akan diterbitkan dalam majalah The New Yorker. Menurutnya itu adalah pengalaman sangat serius ketimbang sekedar copyediting yang biasanya sangat sedikit usulan.

“Karena harus ada kesepakatan antara si editor dan saya tentang apa-apa saja yang perlu diganti, dikeluarkan serta ditambahkan ke dalam sebuah karya. Editor saya yang pertama di The New Yorker bernama Chip McGrath dan dia adalah seorang editor handal. Saya sangat terkejut mendapati betapa besar komitmen yang dia berikan terhadap karya saya. Terkadang kami tidak melakukan perubahan besar, tapi ada juga saat di mana dia memberikan arahan yang cukup signifikan kepada saya. Suatu kali saya pernah menulis ulang sebuah cerita pendek berjudul The Turkey Season yang sudah ia beli untuk diterbitkan di The New Yorker. Saya pikir dia akan menerima perubahan yang saya berikan begitu saja, tanpa banyak protes. Namun saya salah. Katanya, ‘Ada beberapa hal dalam revisian ceritamu yang saya suka dan ada juga hal lain yang menurut saya lebih menarik dalam versi draft sebelumnya. Kita lihat saja nanti ya’. Dia tidak pernah memberikan kepastian yang mutlak, karena sebuah cerita selalu punya potensi untuk dikembangkan. Saya rasa metode pendekatan seperti itu cukup manjur dalam menghasilkan versi akhir yang lebih menarik.” Kisah Alice sebagaimana ditayangkan dalam wawancara khususnya bersama Paris Review.

Hal paling penting dalam menulis salah satunya, menurut pengarang Friend of My Youth ini adalah kepercayaan diri. Ia sendiri sering merasa, sebagai penulis perempuan, profesi menulis dianggap tabu.

“Karenanya dalam menulis, saya selalu punya rasa percaya diri yang tinggi—tapi saya juga punya kekhawatiran bahwa rasa percaya diri itu tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Menurut saya, rasa percaya diri yang saya miliki datangnya dari kebodohan saya sendiri. Karena karya saya bukan karya populer, saya tidak pernah tahu bahwa profesi menulis seringkali dianggap tabu bagi kaum wanita ataupun mereka yang datang dari kelas menengah ke bawah. Bila kita tahu kita bisa menulis dengan baik di tengah lingkungan di mana orang-orangnya bahkan merasa kesulitan membaca, tentu saja kita berpikir bahwa bakat yang kita miliki sangatlah spesial.” Ujar penulis Too Much Happiness tersebut.

Sementara itu terkait opini kritikus atas karya penulis, ia berpendapat bahwa hal itu bisa jadi penting bisa jadi tidak. “Sebagai penulis, tak ada yang bisa kita pelajari dari kritik pembaca; tapi kita bisa menuai perasaan sakit hati dengan mudah dari kritik. Bila karya kita dinilai tidak bagus, kita cenderung merasa dipermalukan di depan umum. Meski kita meyakinkan diri bahwa tidak ada kritik yang perlu untuk diperhatikan, namun ujung-ujungnya kita selalu berusaha untuk mencari tahu. Jadi…” katanya dengan nada ambigu.

Disiplin

Menulis membutuhkan disiplin tinggi. Alice mengaku bahwa ia menulis sepanjang hari. Pada pagi hari, hampir 5 jam dan itu berlangsung tanpa libur.

Ia mengisahkan bahwa ketika anak-anak saya masih kecil, ia selalu menyempatkan menulis setelah mereka berangkat sekolah. Bisa dibilang ia bekerja sangat giat di masa tersebut. Ia bersama suaminya memiliki sebuah toko buku, dan bahkan jika gilirannya tiba untuk jaga toko, ia takkan berangkat dari rumah sampai pukul dua belas siang.

“Seharusnya saya membereskan rumah, tapi saya justru banyak menghabiskan waktu menulis.” Kisahnya.

Beberapa tahun kemudian, saat ia tidak lagi bekerja di toko buku, ia akan menulis sampai keluarga pulang untuk makan siang, dan disambung lagi saat mereka keluar rumah sehabis makan siang—sampai sekitar pukul 2.30 siang. Setelah itu ia akan minum secangkir kopi dan membereskan rumah sebelum anak-anak dan suami saya pulang pada malam.

“Sekarang saya menulis setiap pagi, tujuh hari seminggu. Saya mulai menulis pukul 8 dan selesai pada pukul 11. Setelah itu saya akan melakukan hal lain selama seharian penuh. Kecuali saya sedang menyelesaikan draft terakhir sebuah cerita atau saya sangat terdorong untuk menulis sesuatu—pada saat itu saya akan bekerja seharian, dengan sedikit sekali waktu istirahat.” Jelas Alice.

Ketika ditayanyakan padanya apakah dia menulis dengan kerangka tulisan dan akan menepatinya sampai tulisan selesai, Alice tegas menjawab sebaliknya. “Dalam menulis sebuah cerita, saya jarang sekali mengetahui detail plot yang akan terjadi. Bagi saya cerita yang baik selalu mengalami perubahan saat masih dalam proses penulisan.” Katanya.

Contohnya, menurut Alice sendiri,  saat ia sedang memulai sebuah cerita ia menulisnya setiap pagi dan meski menurutnya tulisannya sudah sangat rapi, kerap ada perasaan ia belum sepenuhnya menyukai hasil akhirnya; dan ia berharap, entah kapan, akan mulai menyukainya.

“Biasanya saya harus mengenal cerita yang hendak saya sampaikan sebelum saya mulai menuliskannya. Ketika saya tidak punya jadwal menulis yang tetap, saya terbiasa memikirkan cerita yang ingin saya sampaikan di kepala—maka saat saya menulisnya, saya sudah mengenal betul setiap elemen dalam cerita itu.” Ujar Alice.

Untuk hal itu ia mengaku menuliskan ketidaksukaanya pada tulisannya dalam sebuah buku catatan.

“Saya punya banyak sekali buku catatan berisi tulisan yang semrawut. Saya tidak perduli apa yang saya tulis di dalamnya, karena intinya saya hanya ingin menulis bebas. Saya bukan penulis yang bisa menulis kilat dan menyelesaikan sebuah cerita hanya dengan satu draft saja. Biasanya saya akan melintasi jalur yang salah, sebelum akhirnya saya harus kembali ke titik awal dan memulai perjalanan cerita itu kembali.” Kisahnya. (GBJ/ SC)

Continue Reading

Classic Prose

Trending