Connect with us

COLUMN & IDEAS

Pudarnya Spiritualitas Kita, Belajar Dari (Film) Perang

mm

Published

on

Oleh : Sabiq Carebesth*

“Ini adalah pekerjaan terbaik yang pernah kumiliki…” Kemudian digambarkan satu persatu tentara di dalam tank tempur jenis M4A3E8s menyesap rokok, menenggak alkohol, tersenyum dan saling berbicara, atau sebenarnya bicara dengan diri sendiri—sementara di luar tank, ratusan tentara SS Nazi mengepung, siap membakar dan menghancurkan tank bersama segenap penghuninya. Demikian potongan suasana adegan dalam film terbaru arahan David Ayer: “Fury” (2014) yang berarti “Amarah”.

Bagian dialog tersebut mendalam, menyangkut sebuah pilihan, eksistensi, barangkali juga nasib menjadi manusia yang terlibat langsung dalam Perang Dunia ke-2 yang muram dan mengerikan.

“Fury” adalah sebuah julukan bagi Tank jenis Sherman tipe M4A2E8, yang dalam cerita film ini, menjadi kendaraan perang bagi kelompok yang dipimpin Brad Pitt (Sertu Don Wardaddy) dan diawaki Micheal Pena (Trini “Gordo” Garcia), Shia Labeouf (Boyd “Bible” Swan), dan Jhon Bernthal (Grady “Coon-Ass” Travis). Cerita mulai berkembang ketika seorang pemuda bernama Norman “Machine” Ellison (Logan Lerman), ditugaskan untuk menggantikan 1 awak Fury yang tewas.

Norman sendiri adalah sebuah “dilema”; ia pemuda muda usia dan juga “lemah” jiwa, tak pernah membunuh dan tidak becus memegang senjata. Hanya tukang ketik dengan hayalan setitik yang belum pernah meniduri perempuan dari musuh sebagai “harta rampasan” perang. Norman berbeda dengan 4 awak tank lainnya terutama Sertu Don Wardaddy yang tegar nyaris beku, air mukanya keras dan matanya menatap lawan bagaikan mangsa yang harus mati dengan sama kejinya.

Don Wardaddy adalah kebalikan dari Norman, sekaligus pada saat yang sama cermin buram. Sertu Don adalah komandan regu yang “tampak” tegar, cenderung bengis pada musuh, temparemantal dan tak menyisakan rasa takut! Tapi inilah kenapa film ini keren, Norman dalam kaca mata Sertu Don adalah cermin dirinya dahulu, anak kecil yang lemah jiwanya dan penakut, sampai sebuah trauma teratasi dan akhirnya ia menjadi pemimpin regu dengan sepasukan yang sangat loyal padanya. Sebagai pemimpin ia penuh kharisma—tentu karena ia telah melewati ketakutannya sendiri, atau sejatinya ia tak perduli.
Dalam misi terakhir, “Fury” dan 2 tank lainnya ditugaskan untuk menyerang Nazi di jantung kota Jerman. Drama yang sesungguhnya dimulai dari sini; 2 tank lainnya hancur lebur oleh kendaraan anti tank milik Nazi. Hanya tersisa satu Tank yaitu “Fury” yang dikomando Sertu Don Wardaddy. Dengan kecakapan dan pengalaman serta kegeniusannya membaca peta dan mengambil keputusan kapan melepas peluru dan meriam, tank berisi pasukan pimpinan Sertu Don Wardaddy akhirnya bisa meledakkan Tank Nazi. Tentu saja itu setelah adegan babak-belur Tank karena tembakan dan granat; lengkap dengan gambaran proses adu kendali dan emosi yang suram sekaligus dinamis.

Tank “Fury” berjalan melanjutkan misi berikutnya hingga sampai di sebuah jalan desa di Jerman, drama kian memuncak ketika tank mereka menginjak ranjau yang memutuskan rantai tank mereka sehingga mau tak mau mereka terjebak di petang hari di sebuah persimpangan jalan desa dengan setting tahun 1945. Sementara 4 awak lain mencoba membenarkan Tank, Norman sebagai yang paling muda diminta menjadi pengintai di ujung bukit.

Tak lama berselang musik (digawangi Steven Price) memulai sihirnya dan ketegangan mulai tumpah, suara desau angin sore memberikan atmosfir sempurna bagi datangnya malam dan perang terakhir; dari rimbun pepohonan tempat Norman berjaga, matanya terbelalak oleh barisan pasukan khusus Nazi berjumlah 300an orang. Ia pun tergopoh menemui sertu Don sebagai komandannya. Don Wardaddy dengan jenius mengenali yel-yel dan suara dari derap baris-berbarisnya; “pasukan khusus SS” ujarnya dengan ngeri. Bahaya bukan kepalang, mereka hanya berlima, jika tertangkap mereka tidak akan dibunuh, melainkan disiksa, dikuliti, dan segala yang mungkin lebih mengerikan dari kematian.
4 awak lain diceritakan ingin menyelamatkan diri, tapi di sinilah kepemimpinan dan loyalitas yang dibimbing oleh “spirituaslitas” Sertu Don Wardaddy membimbing keyakinan untuk tetap bertempur demi mempertahankan “Tank” yang telah sama artinya dengan rumah. “Aku tidak akan meninggalkan rumahku untuk dihancurkan musuh.” Ujar Don.

Bahu membahu, keyakinan telah dibulatkan, saling solidaritas menjadi puncak kesadaran eksistensi, mereka masuk satu-persatu melompat ke dalam tank dan bersiap mempertahankan “rumah” mereka dengan senjata yang tersisa. Mereka menunggu sepasukan SS yang siap mengepung dan menghabisi mereka dengan kekejian yang bisa dibayangkan dari musik dan desau angin di pedesaan Eropa tahun 1945—suram dan absurd.

Spiritualitas

Di dalam tank derap langkah pasukan Nazi mulai terdengar kian dekat. 4 awak tank saling bicara dan menenggak minuman yang terisisa; terlalu mengerikan apa yang akan mereka hadapi untuk dilawan dengan sepenuhnya sadar. Sebotol alkohol telah sampai ke dalam perut; satu persatu menenggak; Shia Labeouf (Boyd “Bible” Swan) yang memerankan sosok penganut Kristen taat menghutbahkan Alkitab; “dalam keadaan perang Tuhan mengutus rasul.” Ujarnya gemetar.

Mereka membutuhkan lebih dari sekedar kemabukan alkohol untuk menghadapi hal mengerikan, mereka memerlukan hal yang lebih immateriil untuk menguburkan ketakutan mereka sendiri, dan itulah spiritualitas.

Menariknya, sertu Don, yang sedari awal film ini digambarkan sebagai Komandan yang keras, dan tak pernah menunjukan diri mengenal “Tuhan” tiba-tiba berujar: “Yesaya; 6”—yah, Don hafal surat dari alkitab yang disebutkan Shia Labeouf, mereka pun tertawa, lega dan telah dikuatkan sebelum akhirnya suara tembakan mendesing mengenai dinding tank dan mereka pun bergegas untuk melawan!
Ada pelajaran berharga dari adegan itu, bahwa dalam perang Tuhan selalu ada. Tidak ada perang yang sanggup dihadapi oleh mereka yang terlibat tanpa ada spiritualitas dalam diri masing-masing.
Tuhan memang ada di mana-mana, termasuk di medan perang, di antara kematian dan pembantaian yang mengerikan. Tapi tempat sejati Tuhan sejatinya memang ada dalam “hati” manusia—sebagai spirit yang nyata.

Film yang diperankan Brad Pitt kali ini memang boleh dikatakan sangat mengesankan; tidak hanya bagus, tapi menunjukkan kerja keras semua yang terlibat dalam film itu—sebutlah sebuah dedikasi yang bisa dilakukan oleh dunia seni dan senimannya bagi kemanusiaan. Brad Pitt sendiri mengalami trauma psikis dalam syuting film ini, dan Shia Labeouf terpaksa menyayat wajahnya dengan pisau dan mencabut giginya demi peran di film Fury ini.

Dalam sebuah konferensi pers Pitt berharap para tentara bisa merasa dihormati dengan adanya film ini. “Ini adalah fakta yang luar biasa dari sifat manusia bahwa dalam satu tahun kita dapat saling memotong dan berikutnya kita saling berbagi. Kita selalu terlibat konflik, tidak peduli berapa banyak kita berevolusi,” kata Pitt.

Bukan Achilles

Akting Brad Pitt secara khusus layak mendapat pujian lebih. Ia mempertontonkan sebuah drama peran yang benar-benar melampaui dirinya sendiri. Ia hilang lenyap menjadi Sertu Don Wardaddy yang diperankannya; pemimpin regu yang kharismatik dan patut disegani anak buahnya—bukan karena apa pun melainkan karena ia sudah tak perduli dengan (kepentingan) dirinya sendiri, ia hanya perduli pada perang dan kehormatan “rumahnya”; cerita hidup dan sejarahnya sebagai manusia.

Pitt memang sama berotot, tangguh, genius, ahli taktik dan strategi perang handal, dan tentu saja cenderung tragis—nada dan langgam yang sama sebagaimana ketika ia memerankan “Achilles” dalam film “Troy”. Bedanya, dalam film yang menelan dana $57.6 miliar ini Pitt seakan telah tumbuh dan sampai pada puncak kematangannya sebagai lakon. Ia sangat simpatik dan etiketnya terlihat sexi! Empatinya terlihat jauh lebih kuat dalam memerankan komandan regu dalam susana Perang Dunia ke II yang “nyata”. Ia bukan “Achilles” yang mistis dan penuh balutan legenda, kali ini ia nyata, hadir, sebagai manusia biasa, yang menjadi kuat hanya karena spiritualitas dan pengalaman dari kegetiran hidup dan perang yang telah dilewatinya.

Kepemimpinan dan Solidaritas

Hal menarik dan bisa jadi pelajaran adalah kepemimpinan seoarang komandan regu atau group. Bagaimana seorang pemimpin membangun solidaritas, bagaimana ia mesti sanggup menahan diri, memendam dalam-dalam kedirian demi kebaikan bersama dan hanya bersikap pada titik di mana memang saharusnya ia membuka mulut dan menggebrak piring makan anak buahnya—jika dengan itu tak sanggup meredakan konflik antar anggotanya, maka sejak itu ia bukan lagi pemimpin.

Adegan itu ada ketika ia dan 4 awak tank lainnya rehat setelah memenangi perang di pertengahan film ini. Sementara yang lain mengurus tawanan dan harta jarahan, ia dan anggota termudanya Norman “Machine” Ellison, naik ke sebuah loteng dan mendapati dua perempuan: Stella Stocker (Edith) dan sepupunya yang muda jelita Alicia von Rittberg (Emma).

Dalam adegan tersebut, sebagai pemimpin regu perang yang “garang” ia menunjukan kesopanan yang menakjubkan yang tak dikira. Keributan terjadi ketia 3 awak lainnya menyusul dan terheran karena mereka tampak baik-baik saja (tak ada perkosaan atau kekerasan sebagaimana amanat balas dendam pada Nazi). Kepemimpinan yang tegar dan matang dipertontonkan dengan sangat apik dalam bagian ini.
Don “Wardaddy” Collier sebagai “ketua” regu, memerankan gaya kepemimpinan yang sangat menawan! Sebagaimana pemimpin terbaik, ia digambarkan sebagai pribadi yang telah melampaui dirinya sendiri, ketakutan, trauma dan bahkan hidup-nya sendiri, ia menerima kematian dalam perang sebagaimana kehidupan yang ia terima setiap saatnya.

Sebagai pemimpin, dalam adegan jamuan makan yang “menegangkan”, Don “Wardaddy” Collier memerankan “kebisuan” yang matang, ia membiarkan keempat anak buahnya menemukan jati dirinya sendiri dalam beragam peristiwa—dengan pada saat yang sama ia memperhatikan dan sangat hegemonik demi kebaikan semua.

Penonton yang terlibat akan mengambil pelajaran kepemimpinan dari lakon Brad Pitt sebagai Sersan Don; bahwa pemimpin, terlebih dalam status perang, harus mendalam, pandai “mendem jero” demi kesetian gerombolan untuk tujuan yang bervisi, lebih besar dan lebih jauh; yaitu masa depan sebanyak-banyaknya manusia.

Film yang akan diputar sebagai penutup Festival Film London BFI 2014 ini sangat layak untuk ditonton, terutama bagi mereka yang ingin menyelami drama dalam kemanusian hari ini; bahwa beruntunglah kita yang tidak dalam kondisi perang atau mengalaminya. Bagaimana pun perang yang nyata jauh lebih mengerikan dari yang sanggup anda bayangkan.

“Ideologi memberi kedamaian, tapi sejarah selalu penuh kekerasan!” gumam Don “Wardaddy” Collier dalam salah satu adegan. Perang pada akhirnya memakan semuanya sebagai korban, tanpa kecuali. (*)

*Sabiq Carebesth, pecinta buku dan kesenian, penikmat bioskop di Jakarta. Freelance Writer sekaligus Chief  Editor Galeri Buku Jakarta. Twitter: @sabiqcarebesth

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Golput Otonom Dan Tantangan Demokratisasi

mm

Published

on

Golput (Golongan Putih) di Indonesia bukanlah hal baru. Ia adalah gerakan sosial dalam artinya yang paling populis (kerakayatan) sekaligus politik (demokrasi) warga dalam upaya kritisisme dan upaya memajukan demokratisasi di indonesia berhadapan dengan ancaman politik totalitarianisme dan fasisme sebagai bentuk monopoli kapitalisme atas keadilan ekonomi .

Dalam sejarah pesta demokrasi di indonesia, Golongan Putih (Golput) telah berlangsung sejak pemilu pertama era Orde Baru pada pemilu tahun 1971. Gerakan Golput pada masa itu terorganisir sebagai bentuk perlawanan yang dimotori mahasiswa dan pemuda dalam rangka melawan “Golongan Karya”.

Gerakan Golput sebagai alternatif kembali mengemuka sebagai sikap politik kritis mahasiswa dan pemuda pada periode paska reformasi 1998. Pada era reformasi 98 Golput dimotori oleh organisasi mahasiswa-pemuda dalam mengusung isu kerakyatan sebagai alternatif wacana politik kekuasaan yang oligarkis.

Golput sendiri adalah hak politik warga dan sifatnya konstitusional. UU No 39/1999 tentang HAM Pasal 43, selanjutnya UU No 12/2005 tentang Pengesahan Kovenan Hak Sipil Politik yaitu di Pasal 25 dan dalam UU No 10/2008 tentang Pemilu disebutkan di Pasal 19 ayat 1 bahwa “WNI yang pada hari pemungutan suara telah berumur 17 tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih.

Moralitas Politik

Golput dalam sejarah gerakannya merupakan gerakan moral. Dalam arti tidak ada maksud politis terkait memenangkan salah satu pasangan tertentu dalam suatu momen Pemilihan Umum (Pemiu). Ketimbang sebagai gerakan politik dengan tujuan kekuasaan, golput sejatinya adalah sikap politis masyarakat sipil yang ingin mendorong supaya kekuasaan yang dihasilkan oleh suatu Pemilu pada akhirnya benar-benar ditujukan guna politik kerakyatan di mana hak-hak rakyat yang terabaikan mendapat perhatian dan dipenuhi.

Dalam pemahaman semacam itu, Golput bisa dikatakan memiliki sifat-sifat umum: Pertama: Golput adalah gerakan kritik. Sebagai gerakan ia tidak dilangsungkan otonom oleh individu-individu melainkan suatu konsolidasi yang organis, memiliki bentuk dan tujuan politik berupa daya tawar masyarakat di hadapan politik kekuasaan—siapa pun penguasanya.

Kedua: Golput mengandaikan suatu organisasi massa yang ideologis dalam arti memiliki nilai gerakan yang melampaui suka dan atau tidak suka, kecewa dan atau tidak kecewa yang sifatnya personal belaka. Nilai yang dibangun dalam gerakan ini adalah nilai kerakyatan di mana golput diharapkan mampu mendorong isu-isu kerakyatan seperti soal agraria dan HAM supaya menjadi isu politik kalangan elit.

Ketiga: Golput merupakan langkah taktis dari suatu gerakan politik yang sifatnya strategis. Tujuan akhirnya memang bertaut dengan politik kekuasaan tetapi ia diandaikan sebagai jalan panjang pendidikan politik masyarakat agar tidak tergerus arus politik lima tahunan di mana masyarakat hanya dijadikan pundi suara tanpa kepastian terpenuhi hak dan makin baiknya pemenuhan hak-hak sosial politiknya.

Melampaui Individualitas Politis 

Penulis berharap, dalam situasi di mana proses evolusi nilai kebangsaan indonesia yang Bhineka Tunggal Ika nyata tengah diuji kematangannya, partisipasi dan kontribusi terutama mereka yang hari ini berpotensi memilih untuk tidak memilih (golput), di mana umumnya merupakan kalangan melek politik bahkan intelektual, untuk merenungkan kembali manfaat kolektif sikap politiknya bagi bangsa ini ketimbang sekedar mengedepankan otonomi politik masing-masing atas nama kekecewaan individual.

Pun jika kedua pasangan Capres dan Cawapres dianggap tidak cukup memberi harapan bagi perbaikan kewargaan kita, alangkah lebih baik untuk mengambil sikap aktif dalam mengawal proses demokrasi—yang bagaimana pun sedang dalam proses menjadi lebih baik meski masih banyak kekurangan di sana sini.

Justeru inilah waktu yang menentukan, apakah kebaikan yang tengah berlangsung akan digantungkan hanya sebagai prestasi pada suatu momen lima tahunan, atau disorongkan menjadi pondasi kokoh bagi keberlanjutan pembangunan dan demokrasi indonesia di masa depan.

Lagi pula, kondisi dan prasyarat perubahan hari ini telah berbeda dari abad 20 lalu, kita berada dalam komunitas dunia abad 21 dengan peta demografis yang berbeda, juga bentuk-bentuk gerakan yang telah lain pula, seperti di katakan Noam Chomsky dalam bukunya “Optimism Over Despair” akan selalu ada ruang untuk “optimisme kehendak” (hlm.133) di tengah terus berkembangnya hegemoni kapitalisme dalam merampas hak-hak warga.

Optimisme yang dimaksud Chomsky adalah persekutuan warga dalam jejaring komunitas yang memiliki kekuatan dalam menekan negara guna memenuhi hak-hak warga. Sebab, kata Chomsky, kita masih kekurangan asosiasi dan organisasi yang memungkinkan publik untuk berpartisipasi dalam hal yang berarti seperti diskursus politik, sosial, dan ekonomi (hlm165).

Saya kira optimisme lebih dibutuhkan dalam dunia kita hari ini ketimbang suatu sikap pesimistis dan menyerah seperti halnya Golput yang tidak terorganisir sebagai alat pendidikan politik untuk tujuan politik kerakyatan.

Sebab apa yang kita perjuangkan melalui partisipasi aktif politik kewargaan kita bukanlah semata-mata untuk memenangkan salah satu pasangan calon Capres dan Cawapres, melainkan lebih jauh dari itu adalah terbebasnya kehendak nasional indonesia dari jerat dan ancaman sistem ekonomi politik global yang kapitalistik dan mengabaikan kewarganegaraan dan nasionalisme apalagi peduli dengan kepentingan rakyat.

Sebagai penutup penulis ingin mengajak semua pihak merenungkan bahwa politik hari ini bukan sama sekali soal individu-individu semata, melainkan seperti disebut Martin Luther King Jr: “There comes a time when one must take a position that is neither safe, nor politic, nor popular, but he must take it because conscience tells him it is right”.

Bagi penulis inilah momentum seluruh elemen rakyat indonesia untuk “berpolitik”!. Politik berbasis kesadaran untuk memastikan kian majunya praktik kebudayaan dari kebhinekaan indonesia dan politik mendorong agenda “keadilan sosial” menjadi lebih mengejewantah dalam praktik mau wacana politik kekuasaan khususnya di kalangan elit. (*)
_____________

*) Sabiq Carebesth, Penyair dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

**) Tulisan ini sebelumnya dimuat di kolom Geotimes (27/9)

 

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Memantapkan Niatan Nasional Kita

mm

Published

on

Niatan nasional kita untuk Indonesia harus kembali diikhtisarkan. Pertamakarena kian menguatnya gejala gagap kebangsaan. Ditandai oleh kian merumitnya cara pandang sebagian rakyat atas Indonesia, baik dalam ideologinya dalam hal ini Pancasila, mau pun dalam ihwal kebudayaannya dalam hal ini kebhinekaan nusantara dan realitas ekonomi politik kepulauan yang kerap dianggap sederhana.

Kedua, situasi politik yang kian menampakkan diri sebagai politik elitis, dalam arti diktum dan rasionalitas politik didikte oleh kecenderungan para elit politik khususnya dari Jakarta. Politik elitis merugikan terutama karena ia tak memiliki kecenderungan pada cita-cita politik nasional, hanya berorientasi pada keuntungan material dan politis tapi mengabaikan spritulitas dan solidartias kerakyatan dan kebangsaan.

Gagap kebangsaan dan politik elitis menjadi tantangan kultural yang berakibat pada kekaburan dan kemunduran terhadap paling tidak tiga hal: (1) ketidakjelasan cita-cita dan niatan politik (kekuasaan) dalam pembangunan Indonesia. (2) kosongnya kepemimpinan kultural yang berfungsi memandu spiritualitas bangsa dalam upaya membangun dan menuju Indonesia yang modern dan berkemajuan dalam prinsip kekeluargaan dan gotong-royong. (3) Lazimnya Praktik pengaburan agenda kesejahteraan rakyat menjadi seluruhnya agenda politik kekuasaan.

Hal tersebut menjadi persoalan yang tidak sepele, lantaran masih banyak masalah ekonomi politik seperti masalah agraria, kemiskinan dan ketimpangan lamban penanganannya. Masalah tersebut justeru kalah gegap gempita oleh semata-mata bagaima berkuasa; menjadi legislatif, mendukung capres ini dan capres itu.

Selain masalah di atas ada hal krusial yang meminta kita semua—yang sadar dan peduli pada Indonesia, untuk mengingatkan dan memantapkan kembali “niatan nasional” kita. Jika penulis boleh mencatatkan untuk dijadikan bahan permenungan bersama, maka niatan nasional itu dapat dinyatakan dan ditujukan pada lapangan sosial politik dan ekonomi politik berikut:

Di lapangan sosial politik, niatan nasional kita adalah, pertama: kita bersama meniatkan diri untuk menjadi warga bangsa Indonesia dengan kesadaran kebhinekaan dan kebangsaan luhur berupa perasaan sebangsa dan setanah air. Dalam konteks tersebut berarti, kita bersedia menjadi masyarakat yang bertanggung jawab pada nasionalisme Indonesia, tanggung jawab untuk tidak melemahkan dan membuat bangsa ini rugi dan tidak mandiri.

Semua itu dilandasi kesedian untuk menerima perbedaan baik dalam paham ideologi, politik mau pun identitas lainnya selagi tidak bertentangan dengan Pancasila dan konstitusi. Maka kedua: kita  bertekad dan meniatkan untuk tidak korupsi, kolusi dan melakukan nepotisme.

Ketiga: Kita bertekad bersikap toleran dan tidak rasial. Sebab toleransi dan kesadaran kebhinekaan merupakan pondasi kokoh solidaritas sosial dan akhirnya kedaulatan bangsa dalam sistem yang demokratis. Keempat: Kita memantapkan diri kembali, untuk menjadi warga beragama yang berketuhanaan yang maha esa dan menjamin-melindungi seluruh umat beragama dalam melangsungkan ibadah dan beramal baik sesuai dengan takaran dan ajaran keyakinan agamanya masing-masing.

Sementara itu dilapangan ekonomi politik kita sudah seharusnya memantapkan kembali “niat nasional” kita untuk (1) Kita meniatkan diri untuk menuju kemandirian dan kedaulatan Indonesia secara politik dan dalam ekonomi. Kunci dari kemandirian dan kedaulatan sekali lagi adalah menguatnya solidaritas sosial dan bukan sebaliknya, meruncingnya perselisihan.

(2) Kita meniatkan diri untuk menyambut persaingan global dalam ranah kemajuan teknologi. Dalam hal ini keunggulan demografis harus bersama didorong dengan penguatan sumber daya manusia Indonesia khususnya bagi alangan muda milenial dan perempuan melalui reforma (perubahan mendasar) khususnya di ranah pendidikan dan literasi.

(3) kita memantapkan niat untuk menjadi bagian dari warga dunia dengan menjunjung tinggi pesan moral perdamaian dunia dan keadilan bagi semua dengan prinsip dasar meniadakan kemiskinan dalam segala rupa bentuknya di mana saja di dunia ini. (4) Kita harus bersama meniatkan diri untuk menjamin proses ekonomi rakyat, melindungi dari sistem kapitalisme global yang semata mengedepankan kompetisi tapi sekaligus mengabaikan prinsip keadilan.

Niatan nasional ini akan menolong bangsa ini dari potensi “geger” terutama akibat panggung politik yang akhir-akhir lebih tegak berdiri di atas kubangan kesadaran alienatif—yang ironisnya justeru kerap dijadikan bahan bakar utama sandiwara. (*)

*) Sabiq Carebesth, Penyair dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

**) Tulisan ini sebelumnya dimuat di kolom Geotimes (27/9)

 

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Jakarta Tidak Gemerlapan

mm

Published

on

Kegemerlapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal diredamnya.

Barangkali sudah waktunya menyadari, Jakarta bukanlah kota gemerlapan seperti yang ditampilkan oleh kemasan media massa. Segitiga Emas hanyalah suatu kavling terbatas, sisanya adalah keremangan yang sia-sia berusaha mempertahankan mimpi dengan kegemerlapan semu. Kafe-kafe memang tertata dengan nyaman, dengan nama makanan yang susah diucapkan dan gaya para pemakan yang menguji coba table manner ajaran majalah-majalah gayahidup; tetapi gang-gang di belakangnya tidak menyembunyikan bau got yang mampet, dan nasib orang-orang di sekitarnya yang juga mampet. Para ekonom sering berkata betapa krisis sudah lewat, tapi itu hanya perhitungan angka. Secara konkret mereka tidak menyaksikan anak-anak berak di atas comberan di depan pintu rumah mereka, tidak menyaksikan para pemuda bertato menjadi preman di pojok jalan karena tidak ada pilihan, dan meski tangan orang-orang mengemis di jendela mobil mereka, bukankah waktu lebih baik digunakan untuk menganalisis dampak konflik Aceh terhadap perilaku bisnis?

Jakarta tidak gemerlapan, Jakarta itu kelam, dan semakin kelam karena terlalu sedikit di antara mereka yang survive mencoba berbuat sesuatu untuk lingkungan yang semakin tenggelam dalam kemiskinan berkepanjangan. Masuklah bis kota dan perhatikanlah wajah-wajah lesu darah dan kurang zat asam yang kelelahan. Tentu mereka adalah para pejuang, tapi jangan lagi menipu diri dengan mengira Jakarta kota gemerlapan, yang harus dihidupkan dengan gaya yang juga harus gemerlap tiada ketulungan. Turunlah Anda dari BMW Anda dan berjalanlah masuk gang, berhenti di masjid, dan dengarkan apa yang disebut khotbah, maka akan Anda temukan betapa keras perjuangan para pengkhotbah itu untuk memperkuat iman mereka yang tertekan oleh nasib, yang sekali lepas dari penjagaan hanya akan menjelma penjarahan. Kegemerlapan Jakarta adalah kegemerlapan yang menyakitkan, di mana banyak orang hanya bisa menyaksikan dari balik kaca benderang.

“Kami kan bekerja keras, kami berhak juga dong bersenang-senang”

Justru itulah yang menjadi pertanyaan, semua orang bekerja keras di Jakarta, tapi kenapa tidak semua orang bisa bersenang-senang? Kaum buruh bangun jam 05.00 pagi dan pulang jam 07.00 malam, setelah melaksanakannya bertahun-tahun, persentase peningkatan gaji mereka menggiriskan perasaan ? kalau dipersoalkan malah terancam pemecatan. Adapun sang juragan, hmmm, yang dipikirkannya adalah memperbesar jarak antara ongkos produksi dan harga pasaran. Karena situasi pasar biasanya di luar kekuasaan, ongkos produksi alias upah buruh yang paling mungkin ditekan ? dan itulah perjuangannya sehari-hari yang disebutnya sebagai pekerjaan.

“Upah buruh sesuai dengan standar minimum” katanya, ya sudah, minimum saja selama-lamanya, selama situasi mengizinkan. Kalau buruh berdemo, baru upah sedikit-sedikit dinaikkan. Semakin rendah upah buruh semakin baik, supaya ada cadangan ketika terjadi tuntutan : kerendahan upah merupakan strategi yang dilaksanakan dengan kesadaran, karena dari margin ongkos produksi dan harga penjualan, kaum juragan pemilik modal hidup bagai benalu penghisap darah yang menciptakan kesengsaraan, dan itulah yang disebut sebagai kerja keras sepanjang hayat dikandung badan. Bukan hanya di pabrik, tapi di mana pun ada pegawai dan juragan.

Mohon maaf Puan-puan dan Tuan-tuan, itulah struktur kapitalisme, dan struktur itu agak kurang mengenal keadilan : bahwa para pekerja keras berlari bagaikan bajing dalam kandang yang dasarnya berputar. Selama masih berada dalam struktur, perubahan nasib alias kenaikan gaji hanya merupakan soal belas kasihan, mereka yang progresif memang berjuang menuntut keadilan, tetapi itu hanyalah bagian dari permainan. Semua tuntutan kenaikan ongkos produksi sudah dicadangkan. Tak ada soal nasib manusia jadi perhatian, yang ada hanyalah strategi tawar menawar dalam perundingan. Mereka yang beruntung untuk meloncat jadi juragan, menjadi juragan taksi atau bakso, sikap mereka tetap sama dengan mereka punya bekas juragan.

Apa yang bisa dilakukan dengan sedikit uang hasil kerja keras pada akhir pekan? Bukankah masyarakat kelas bawah perlu hiburan sama dengan kaum juragan? Hiburan macam apakah kiranya yang begitu murah semurah-murahnya tapi bisa mendatangkan kegembiraan? Adakah kiranya hiburan yang begitu murah tetapi mendatangkan rasa kekayaan? Inilah yang ingin dinikmati kelas penderita dan kelas korban, sesuatu yang tampak sebagai suatu kebahagiaan. Tidakkah ini justru merupakan suatu tanda kepahitan?

Begitulah struktur ekonomi dan politik kapitalistis mempengaruhi kesehatan jiwa, dan begitukah masyarakat dikibuli oleh berbagai macam kegemerlapan : dalam kebijakan pemerintah, perusahaan, maupun apa yang disebut hiburan. Betapa semunya kegemerlapan, dan betapa pahitnya kenyataan, terutama ketika nasib bagai ditakdirkan, bukan oleh Tuhan ? tetapi struktur sosial yang dibentuk kebijakan ekonomi dan politik, yang menjadikan manusia hanya eksemplar dari apa yang disebut sumber daya atau massa, dan hanya dihargai dari segi kegunaan.

Apakah kegemerlapan Jakarta mencerminkan kegemerlapan jiwa warga kota? Saya kira tidak. Kegemerlapan Jakarta mencerminkan kepahitan yang bagaikan sia-sia diredamnya.

*Seno Gumira Adjidarma. Sumber : Majalah Djakarta Edisi Mar 2005

Continue Reading

Classic Prose

Trending