Connect with us

Buku

Pram dalam Dekapan Ideologi

mm

Published

on

Pramoedya Ananta Toer yang lebih akrab disebut Pram masih menarik untuk terus dibahas, baik secara karya maupun pribadinya. Karyanya yang sangat fenomenal dan pribadinya yang keras, tentu membuat beberapa peneliti mempunyai alasan cukup kuat sekaligus logis untuk menjadikannya bahan penelitian. Belum lama ini, salah satu profesor dari salah satu Universitas di Korea Selatan meluncurkan buku tentang Pram yang berjudul Pramoedya Menggugat.

Tapi dalam kesempatan ini saya bukan ingin membahas buku tersebut di atas, kali ini yang akan kita perbincangkan buku lain, namun masih seputar tentang Pram yakni Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi, karya Savitri Scherer. Savitri, seorang peneliti yang pernah menjadi koresponden harian Kompas di luar negeri ini menjadikan Pram sebagai bahan penelitian untuk disertasinya di Universitas Nasional Australia, dekade tahun 80an.

Meskipun terhitung lawas, penelitian yang akhirnya dijadikan buku ini masih menarik dan relevan untuk dibahas karena menceritakan sisi Pram tak melulu dari soal karya, tapi juga pribadinya. Selama ini Pram selalu dikenal sebagai seorang sasterawan kiri yang revolusioner dan berpihak kepada PKI melalui organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Tapi siapa kira, Pram juga pernah bergaul bahkan cukup intim dengan sasterawan-sasterawan golongan kanan yang memusuhi Lekra, kelompok Seniman Gelanggang Merdeka seperti Asrul Sani, Rivai Apin dan HB Jassin. Meskipun tidak terlibat secara jauh, namun Pram mengenal cukup dekat mereka. Bahkan, karya-karya Pram sendiri pernah dimuat di media Siasat yang dikelola kelompok ini.

Lalu, bagaimana Pram bisa secara mengejutkan ikut berkecimpung dengan kelompok sasterawan kiri, dan dengan begitu bersemangat ikut mengibarkan bendera konfrontasi antar kelompok sasterawan diperiode tahun 60an? Daalam pengantarnya, Ajip Rosidi, salah satu kritikus sastera terkemuka sekaligus kawan Pram dengan begitu lugas mendeskripsikan peralihan haluan Pram dari kanan ke kiri.

Menurut Ajip, salah satu faktor terkuat dari berpindahnya haluan Pram dari kanan ke kiri salah satunya kesulitan ekonomi. Entah, apakah alasan ini bisa diterima atau tidak yang pasti Ajip mengakui kalau saat itu Pram pernah bertutur kepadanya kalau dirinya sudah tidak makan selama beberapa hari karena tidak mempunyai uang. Selain itu, kesulitan finansial juga ikut menggoyahkan biduk rumah tangga Pram.

Republik pasca Revolusi 45 memang sedang mengalami masa-masa sulit, terutama dalam masalah ekonomi. Banyaknya konfrontasi dengan pihak luar ikut menyedot anggaran negara mengakibatkan inflasi yang cukup tinggi. Kesulitan ekonomi di masa itu sempat dibantah oleh pihak kiri dengan munculnya lagu dengan cuplikan ”… siapa bilang rakyat Indonesia lapar, Indonesia banyak makanan… “

Tapi, faktor kesulitan ekonomi juga tidak bisa dijadikan faktor tunggal dari berpindahnya dukungan Pram kepada kelompok sasterawan kiri, jauh sebelum itu Pram sudah dikenal sebagai sasterawan yang selalu mengangkat kehidupan wong cilik dalam karya-karyanya, diantaranya Djalan jang Amat Pandjang (1956) dan Sekali Peristiwa di Banten (1959).

Kesadaran akan kondisi politik dan sosiologis masyarakat Indonesia yang dimunculkan oleh Pram juga sedikit banyak terpengaruh oleh kehadirannya dalam diskusi sastra di Belanda. Dalam simposium itu, pernyataan seorang pemikir sastra marxis. Prof. Wertheim yang menyatakan kondisi sastra Indonesia memprihatinkan karena cenderung menganut pesismisme barat dalam memandang masyarakat Indonesia, cukup menyentak Pram.

Menurut Wertheim, masyarakat Indonesia tidak seharusnya tidak berhak untuk merasa pesimis. Revolusi yang melahirkan masyarakat baru seharusnya bisa meletupkan semangat-semangat yang bergelora. Jika karya sastranya saja begitu pesimis dalam melihat kondisi masyarakat, tanda revolusi tidaklah berhasil.

Dari pergulatan-pergulatan itu, Pram perlahan-lahan mulai fokus dengan tema-tema yang mengangkat tentang isu-isu kerakyatan. Kelak, kerakyatan itu menjadi idealisme utama yang nanti diusung Pram hingga akhir hayatnya sekaligus menjadi jurang pemisah antara Pram beserta rombongan sasterawan kiri dengan HB Jassin dan kawan-kawannya.

Pram mungkin juga bisa disebut sebagai salah satu pelopor sasterawan yang cukup getol dengan epos-epos sejarah masa lalu bangsa Indonesia. Dengan penuh semangat Pram menganjurkan agar para sastrawan Indonesia mengangkat sejarah masa lalu sebagai tema utama karya sastra, dengan maksud mengingatkan kita pada masa-masa perjuangan pendirian republik ini.

Pram mengecam karya sastra picisan yang tidak memberikan sumbangan apa-apa bagi kemajuan bangsa Indonesia, dan justru malah membuat rakyat jadi semakin lemah dan mempunyai mental terjajah. Sosok Pram dengan sangat tegas menunjukan bagaimana seorang penulis harus memosisikan dirinya di tengah-tengah rakyat, menyuarakan ketertindasan dan menggelorakan perlawanan. Bisa jadi, pilihan posisi itulah yang memberi efek luar biasa bagi karya-karyanya sehingga sepeninggal dirinya karya sastra Pram tetap mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia. Tabik! (*)

*) Wahyu Arifin—Wartawan dan Pecinta Buku.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Perempuan Jawa dalam Gerak dan Wacana Modernitas Barat

mm

Published

on

Portrait of a Javanese woman in traditional clothing artokoloro/ photo via fainart america

 Risa ingin mengatakan bahwa yang menentukan medan smantik modernitas yang menjadi identitas baru hari ini, justru dibentuk oleh “pengetahuan awam” yang saling berkelitan, sehingga memandu individu untuk menginterpretasi dan mereproduksi ulang realitas yang bernama modernitas tersebut. Di sini konteks kultural mempunyai peran utama dalam mempertemukan modern dengan masyarakat itu sendiri. Kita bisa pahami bahwa ruang budaya menjadi ruang titik temu diantara keduanya dalam hal ini. Karna ruang budaya merupakan tempat endapan, sistem nilai, ungkapan, penilaian sosial, sistem simbolik, mitologi, tradisi, agama, yang semuanya berada dalam rell bahasa masyarakat.

Oleh; Doel Rohim *)

Wacana modernitas barat dalam memandang perempuan, khususnya dalam relasi sosial di Jawa, kerap menjadi destruktif jika ia dihadirkan secara kaku dan hadap-hadapan secara langsung sebagai upaya mengganti atau merubah kultur seluruhnya, yang pada dasarnya memang telah mapan sebab telah menjadi budaya.

Modernitas yang menjadi latar belakang berkembangnya wacana tentang perempuan dari sumber ideologi barat tidak bisa secara serta merta digunakan atau dipaksakan untuk melihat kultur masyarakat kita dengan kaca mata hitam putih. Sehingga dominasi wacana moderitas selalu menjadi ukuran atas suatu obyek kultural untuk direpresentasiakan secara rasional dan material. Terciptanya Struktur metodologis yang selalu memposisikan kita sebagai obyek dari wacana akademis yang di bangun Barat juga menjadi persoalan lain, ketidakberdayaan kita dalam membangun epistimologi pengetahuan kita sendiri.

Representasi Sosial Dalam Memandang Perempuan

Dalam hal ini, buku hasil penlitian Risa Permanadeli yang berjudul Dadi Wong Wadon, Representasi Sosial Perempuan Jawa Di Era Modern, memberikan cara pandang lain kalau tidak mau dikatakan baru saat melihat perempuan Indonesia khususnya Jawa di konteks masayarakat modern. Risa melihat bahwa modernitas selalu berkait erat dengan perubahan yang ada di tengah masyarakat. Begitupun modernitas tidak lantas merubah struktur budaya perempuan Jawa yang terikat dengan adat dan tata nilai yang ada, namun malah sebaliknya memperkaya gagasan perempuan Jawa seperti direpresentasikan dalam kata “dadi wong” sebagai perwujudan manusia ideal di masyarakat Jawa.

Melalui repertoire-repertoire makna seperti ungkapan “dadi wong” dan bentuk komunikasi lain yang tumbuh dari kebiasaan masyarakat Jawa dalam menjalin relasi sosial, Risa mencari bangunan pemahaman dalam merepresentasikan perempuan Jawa dalam konteks modern. Dengan menggunakan teori representasi sosial yang merupakan turunan dari pendekatan baru psikologi sosial yang berangkat dari asumsi bahwa dalam menerima nilai, budaya, dan praktik baru (asing), sebuah masyarakat mempunyai perangkat “pengetahuan sosial” atau bisa dikatakan “nalar sosial” untuk menanggapi, menafsirkan, kemudian merekonstruksi ulang fenomena sosial tersebut, yang secara merata kemudian disebarkan ke dalam masyarakat. Jadi proses penerimaan nilai, pandangan, dan praktik hidup modern tersebut tidak diterima melalui proses mental individu yang terpisah dari nilai-nilai masyarakat (baca: psikologi behaviorial).

Secara sederhana dalam proses penerimaan nilai, pandangan, dan praktik modernitas, dari perespektif ini, masyarakat tidak serta merta menelan mentah-mentah fenomena sosial yang bernama modernitas ini secara serampangan. Namun, secara tidak sadar masyarakat mengklasifikasi dan menamai realitas baru atau elemen-elemen yang asing dikeseharian tersebut sesuai dengan repertoire makna yang sudah ada sebelumnya. Dalam hal ini Risa menggunakan repertoire makna tersebut, sebagai perangkat interpretasi yang digunakan oleh masyarakat untuk membuat dan memecahkan realitas baru yang datang dalam keseharian dengan kode makna yang sudah mapan dan dikenal luas oleh masyarakat sebagai suatu pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.

Lebih jauh Risa ingin mengatakan bahwa yang menentukan medan smantik modernitas yang menjadi identitas baru hari ini, justru dibentuk oleh “pengetahuan awam” yang saling berkelitan, sehingga memandu individu untuk menginterpretasi dan mereproduksi ulang realitas yang bernama modernitas tersebut. Di sini konteks kultural mempunyai peran utama dalam mempertemukan modern dengan masyarakat itu sendiri. Kita bisa pahami bahwa ruang budaya menjadi ruang titik temu diantara keduanya dalam hal ini. Karna ruang budaya merupakan tempat endapan, sistem nilai, ungkapan, penilaian sosial, sistem simbolik, mitologi, tradisi, agama, yang semuanya berada dalam rell bahasa masyarakat.

Kembali pada konteks Dadi Wong Wadon seperti temuan Risa, ia ingin menyangkal dari narasi besar yang sudah digariskan oleh Barat, bahwa untuk menyongsong modernitas masyarakat Dunia Ketiga yang dipaksa untuk memilih, meneliti, dan pada akhirnya menghilangkan tradisi kulturalnya hanya untuk menuruti prasyarat menuju modernitas dengan segala perangkatnya. Namun upaya tersebut ternyata tidak sesuai dengan kenyataan masyarakat Jawa yang justru mempunyai konsep sendiri yang masih berjangkar pada tradisi kultur untuk mengapropriasi moderitas.

Karna pada kenyataanya moderitas yang lebih tepat kita sebut “dipaksakan” untuk negara Dunia Ketiga sebagai budaya, bukan merupakan sebuah gerak yang tumbuh dan lahir dari rahim kebudayaan masyarakat kita sendiri. Ia lahir dari sebuah kekecewaan dalam ketertinggalanya oleh gerak peradaban. Maka yang muncul untuk mengejar ketertinggalanya tersebut, kemudian ia perlu mengubah ataupun menyesuaiakan lapisan nilai tata pemerintahan, ekonomi, maupun kulturnya, sebagaimana telah di atur dan ditetapkan prasyaratanya oleh Barat.  Jelas kalau seperti ini, dibutuhkan suatu pengetahuan tentang Timur dengan segala aspeknya, yang selama ini telah didefinisiakan oleh Barat sesuai dengan kepentinganya. Dari hal itulah selama belenggu sejarah ini, tidak pernah coba kita bongkar sedikit demi sedikit, senyatanya kita akan selamanya terkurung sebagai bangsa yang tidak mampu menemukan arah dan rumusanya sendiri.

Dengan teori represetasi sosial ini sendiri, setidaknya Risa berhasil memposisikan budaya masyarakat Jawa sebagai obyek yang juga subyek untuk mendefenisikan dirinya sendiri. Walaupun ia tidak seutuhnya mengeliminir karangka pemahaman Barat atas kita, tapi setidaknya ia berusaha mensejajarkan bagaimana “pengetahuan” kita dengan Barat bisa saling beriringan.

 Modernitas dan Konsep Dadi Wong

Seperti telah sedikit disingung di atas, bahwa konsep menjadi orang “dadi wong” dalam alam fikir pengetahuan masyarakat Jawa juga beriringan dengan gagasan menjadi modern yang sudah melekat di tengah-tengah masyarakat Jawa. Dengan kriteria yang muncul sebagai parameter orang modern hari ini, seperti yang dapat kita lihat melalui penampilan yang mengikuti zaman, ketebukaan cara berfikir, tidak fanatik, kemudian bersekolah tinggi, ditempatkan kemudian dipersonifikasi untuk mengukuhkan gagasan konsep “dadi wong” seperti diamini oleh banyak perempuan Jawa.

Dalam konteks seperti itu, gagasan dadi wong menyimpan semesta simbolik masyarakat Jawa yang ditetapkan sebagai ukuran akan keadaan ketercukupan material manusia Jawa. Dalam kata lain orang yang sudah “mentes”, mandiri, dan “mulya” kemudian mempunyai posisi sosial yang terpandang karna sudah mempunyai keluarga (tidak lagi bergantung pada orang tua). Mengacu dari apa yang ada, gagasan dadi wong kemudian selalu diasosiasikan dengan keberlimpahan material semata. Namun sebenarnya kalau kita ingin bedah dan kita kaitkan dengan khasanah pengetahuan dari tradisi keilmuan masyarakat Jawa, gagasan tersebut sudah melakat dalam kesadaran alam batin yang sangat subtil dari masyarakat Jawa.

Secara geneologic bentuk-bentuk repertoire yang terkandung dalam ungkapan dadi wong seperti yang telah disebutkan di atas, semuanya mempunyai relasi pengetahuan yang termanivestasiakan dalam tradisi dan tata nilai masyarakat yang selalu menyesuaikan ruang dan waktu yang ada. Jadi gagasan “dadi wong” berkembang secara produktif dengan bentuk-bentuk bahasa atau definisi secara semantic yang mungkin juga berbeda, namun secara subtantif tetap berjangkar dari akar tradisi pengetahuan masyarakat Jawa.

Masih banyak sebenarnya ungkapan-ungkapan juga konsep yang tumbuh dari masyarakat

Jawa terutama perempuan yang digunakan Risa untuk menjelaskan bahwa perempuan Jawa tidak serta merta menerima modernitas dengan dangkal. Namun diantara konsep-konsep yang ada, penjangkaran dari keilmuan Jawa yang membentuk tradisi tata nilai masyarakat yang menjadi sistem sosial telah merubah wajah modernitas di hadapan perempuan Jawa. Wajah baru modernitas yang bisa jadi malah akan memperkaya tradisi masyarakat Jawa di dalam gerak zaman, begitupun tidak kehilangan identitas perempuan Jawa yang seutuhnya. (*)

*) Santri Pondok Pesantren Budaya Kaliopak Piyungan Bantul, Juga Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

 

 

Continue Reading

Buku

Jakarta, Pusat Pinggiran yang Meluruh

mm

Published

on

photo: Modern and Contemporary Art in Nusantara/ Getty Image/ Nadia L / via pegipegi

Satu tulisan panjang lainnya adalah soal pemeran teater. Jawir menceritakan dengan panjang bagaimana hidup dan dengan cara apa sang seniman tersebut mengakhiri hidup. Seniman tersebut adalah Dudung Hadi.

by Triyo Handoko

Tahun 2019 Jakarta genap berusia 492 tahun. Kota ini banyak menyimpan cerita. Sebagai ibu kota, ia ibarat miniatur Indonesia. Banyak orang dari berbagai daerah telah mencoba peruntungannya disana. Peruntungan ekonomi, politik, hingga seni.

Chairil Anwar, misalnya, merantau ke Jakarta untuk menjadi penyair. Dalam tulisan berjudul “Epilog Sejarah Pasar Senen”, Viriya Paramita menulis dalam buku ini, bagaimana Pasar Senen tidak hanya sebagai tempat ekonomi. Namun juga tempatnya seni.

Tidak hanya Chairil Anwar, disana ada H.B. Jasin, Wim Humboh, hingga Ajip Rosidi mendiami Pasar Senen untuk menggal ide-ide kesenian. Termasuk didalamnya mengadakan diskusi rutin disana.

Kota sebagai ruang interaksi multidimensi memang menarik sekali untuk ditelisik lebih dalam lagi. Kadang penghuninya tidak menyadari setiap jalan yang dilewatinya memiliki banyak hal yang ternyata menyimpan banyak hal yang mengesankan. Apalagi Jakarta, dengan sejarah dan hiruk pikuknya.

Viriya Paramita dengan “Menjejal Jakarta”-nya memberi khasanah bagaimana kota bernama Jakarta dihidupi oleh beragam orang di dalamnya. Diracik dari hasil kumpulan reportase dalam kurun waktu 2013 hingga 2015 yang ditulis dengan gaya feature. Buku ini menarik untuk dismiak karena dituturkan dengan mengalir. Dari satu titik ke titik lain. Dalam satu koridor tema Jakarta.

Dari soal bagaiamana ragamnya penghuni Jakarta yang menjadikan lahirnya stigma etnisitas. Soal bagaimana kota memberikan ruang untuk minoritas orientasi seksual. Hingga soal kesenin, bagaimana kesenian menghibur dan mengedukasi penghuninya. Namun ada satu tema yang determinan dibanding tema lain. Yaitu soal ekonomi, soal bagaimana perut terisi.

“Menjejal Jakarta” by Viriya Paramita dengan/ Photo via Mojok Store

Jawir—sapaan akrab Viriya Paramita—terjebak disana. Saya merasakan hitam putih sekali ketika membaca tulisannya soal ekonomi. Kemudian jika berbicara permasalahan ekonomi maka tidak bisa lepas dari politik. Siapa yang berkuasa. Ia yang mengatur sumber penghidupan.

Membaca tulisan berjudul “Tahu Gejrot Syaiful” atau “Puluhan Tahun Menuntut Keadilan”. Kemudian membaca “Sehari Bersama Jokowi”, terlihat sekali keanehan dari keberpihakan Jawir.

Dalam tulisan “Sehari Bersama Jokowi”, Jawir adalah humas Pemda Jakarta. Membututi Jokowi dari pagi hingga sore hari. Tidak ada celah bagi sempurnanya Jokowi sebagai pemimpin.

Barangkali tulisan tersebut juga punya kontribusi atas dua kalinya Jokowi jadi presiden. Dalam medio Jawir meliput dan menulis “Sehari Bersama Jokowi”, memang banyak sekali wartawan yang menulis soal serupa. Seakan-akan media berlomba untuk menaikan nama Jokowi.

Pusat di Pinggiran

Jawir menggunakan Jakarta bukan sebagai identifikasi geografis, lebih dari itu ia menggunakan Jakarta sebagai geliat hidup warga urban. Syaiful misalnya, seorang tukang tahu gejrot di pinggiran Jakarta.

Slamet menjadi kontras karena ia berada jauh dari  gemerlapnya Jakarta. Padahal, Syaiful si tukang tahu gejrot dan puluhan tokoh lainnya dalam Menjejal Jakarta berada di pusaran ibukota. Mereka lah yang menghidupkan Jakarta yang menandai sekaligus menjadi tanda bahwa Jakarta berbeda dengan yang lain.

Selain Syaiful juga ada Jose Rizal Manua. Seorang seniman teater yang membidani juga mengurusi Teater Tanah Air. Sanggar teaternya tersebut awalnya tidak dibantu oleh otoritas setempat. Namun Jose, terus berusaha hingga sanggar teaternya dapat pentas dan dikenal di manca negara.

Jose menghidup Jakarta dengan keseniannya. Melalui anak-anak kecil ia memberikan harapan bahwa Jakarta tidak hanya kerak kehidupan yang mekanistik. Sayangnya fokus dari kebanyakan cerita Jawir di buku ini hanya sebatas fenomena. Tidak bisa lebih besar dari itu.

Padahal setiap fenomena hadir karena ada yang memicu. Pemicu dari setiap fenomena Jakarta adalah hasrat. Banyak orang berbondong-bondong ke Jakarta karena hasrat. Hasrat ekonomi adalah yang dominan. Dimana hasrat ini seperti rantai yang tak putus-putus, yang menghasilkan hasrat lainnya. Gaya hidup misalnya.

Salah satu tulisan paling panjang di buku ini adalah “Menjejal Transjakarta”, Jawir hanya menceritakan bagaimana beberapa tokohnya menjejal transajakarta. Selain bagaimana Jakarta adalah  kota dengan tingkat kemancetan tertinggi di dunia. Padahal disisi lain, ada hasrat warga Jakarta untuk terus membeli kendaraan pribadi. Selain tidak sigapnya otoritas menghadapi perkembangan Jakarta.

Satu tulisan panjang lainnya adalah soal pemeran teater. Jawir menceritakan dengan panjang bagaimana hidup dan dengan cara apa sang seniman tersebut mengakhiri hidup. Seniman tersebut adalah Dudung Hadi.

Dalam judul “Lelucon Pamungkas Sukiu” Jawir menceritakan dengan apik bagaimana Dudung berperan sebagai Sukiu, karakter yang akan terus melekat pada dirinya. Dudung Hadi adalah punggawa Teater Koma. Dari bagaimana Dudung mengawali karir sebagai pemain teater hingga problematika kehidupan pribadinya ditulis Jawir dalam 22 halaman di buku ini. Saya benar-benar menikmatinya.

Jawir dengan minatnya di teater membuat setiap tulisannya soal teater mengasikan sekali untuk dibaca. Terutama reportasenya soal teater. Semua sudut berhasil dibidiknya dan analisanya mengesankan. (*)

Continue Reading

Buku

Mengatasi Ketimpangan, Mewujudkan Kapitalisme dan Demokrasi Progresif

mm

Published

on

Professor Joseph Stiglitz at Columbia University / via commons.wikimedia.org

Celakanya, ketidakpuasan justru dimanfaatkan oleh para politisi sebagai objek untuk mendulang suara. Cherian George (2016) menyatakan, politisi tak segan untuk memelintir kebencian, mengagitasi massa, dan membuat polarisasi di masyarakat.

by Virdika Rizky Utama *)

Tak ada yang memungkiri bahwa abad ke-21 merupakan abad penuh dengan kemajuan. Baik di bidang ekonomi, kesehatan, maupun teknologi. Demi membuktikan hal tersebut, Steven Pinker (2018) membandingkan data-data tersebut selama 200 tahun. Hasilnya, Pinker menyatakan bahwa bumi tengah mengalamai abad pencerahan terbaru.

Kendati demikian, ada satu hal yang terlewatkan oleh Pinker yakni ketimpangan. Hal tersebut yang ingin diungkapkan oleh Joseph E. Stiglitz dalam buku terbarunya ini. Berdasarkan data yang diteliti oleh peraih nobel di bidang ekonomi pada 2001, jika pada abad ke-20, 1 persen populasi manusia menguasai bumi, maka saat ini hanya 0,1 persen populasi manusia yang menguasai bumi (hlm. 38).

Bahkan majalah Forbes pada 2018 mengungkapkan bahwa saat ini ada “Individu-individu dengan kekayaan bersih sangat tinggi” – istilah industri manajemen kekayaan untuk orang-orang yang bernilai lebih dari USD30 juta – memiliki bagian yang sangat tidak proporsional dari kekayaan global. Pemilik kekayaan ini—kapitalis— memiliki 11,3 persen dari total kekayaan global, namun hanya mewakili sebagian kecil (0,003%) dari populasi dunia.

Sedangkan di Indoneisa, World Bank pada 2015 sudah memberikan peringatan. Pasalnya, sejak tahun 2000, ketimpangan ekonomi di Indonesia meningkat pesat. Pertumbuhan ekonomi yang ada lebih dinikmati oleh 20 persen penduduk terkaya daripada masyarakat umum lainnya. Meskipun, Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018 merilis data rasio gini Indonesia selama periode September 2017 hingga Maret 2018. BPS mencatat rasio gini sebesar 0,389, dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni 0,391. Ini merupakan rasio gini terendah dalam tujuh tahun terakhir.

Judul Buku: People, Power, and Profits | Penulis : Joseph E. Stiglitz Penerbit: WW Norton and Company | Tebal: xxvii+ 366 halaman, ISBN 978-1324004219 Tahun Terbit : Cetakan I, April 2019

Stiglitz berargumen bahwa ketimpangan terjadi karena dua aspek yang tak dapat dipisahkan yakni ekonomi dan politik. Di bidang ekonomi, Stiglitz menyatakan bahwa ada yang salah dalam praktik kapitalisme yang tengah berlangsung. Mengutip Adam Smith (1776) Ia menjelaskan bahwa kapitalisme yang menyerahkan sistem ekomnomi kepada pasar—meminimalisasi serta mengeleminasi peran pemerintah— dan terjadinya persaingan akan menghasilkan kompetisi yang sehat diiringi dengan adanya inovasi.

Dua hal ini diyakini akan membawa kesejahteraan bagi manusia. Sayangnya, kesejahteraan itu tak terjadi. Pada kenyataannya, para kapitalis tak senang dengan adanya persaingan. Sebagai contoh, Facebook mengakuisisi Whatsapp dan Instagram (hlm.73). Dengan kata lain, yang terjadi adalah monopoli. Konsekuensi logisnya adalah modal terkonsentrasi pada satu tempat saja. Alhasil, tidak ada distribusi kemakmuran dari adanya persaingan yang sehat. Padahal, tolok ukur kesejateraan suatu negara adalah adanya kemampuan untuk mendistribusikan standar hidup yang tinggi bagi seluruh rakyat (hlm.9). Hal ini dapat diprediksi, sebab kemajuan ekonomi diraih bukan melalui inovasi, melainkan dengan eksploitasi.

Sedangkan, tak adanya peran negara dalam mekanisme pasar justru malah kekacauan. Stiglitz bersikukuh bahwa peran pemerintah mesti diperkuat. Musababnya, pemerintah dapat membuat regulasi yang bisa memproteksi ekonomi rakyat kecil dan mendistirbusikan kesejahteraan. Tak hanya itu, semestinya pemerintah juga dapat mendorong tumbuh kembangnya ekonomi rakyat. Hal yang paling penting, kata Stiglitz, adalah penerapan pajak yang adil bagi para konglomerat.

Pajak dinilai penting untuk mengurangi ketimpangan dan menjamin program-program sosial yang banyak diperuntukan bagi rakyat miskin. Ia mencontohkan, di negara-negara Skandinavia—yang terkenal sejahtera, pemerintahnya tak segan menerapkan pajak tinggi. Sebab, pemerintah berhasil membuat kesadaran baik pemilik modal maupun rakyat pun sadar bahwa pajak akan diperuntukan untuk menjalankan program-program sosial pemerintah (hlm.100).

Sekilas, gagasan Stiglitz mirip dengan ide-ide sosialisme yang menekankan pentingnya peran pemerintah dan jaminan sosial bagi rakyat. Akan tetapi, Stiglitz tetap bersikukuh bahwa kritiknya untuk menyelamatkan kapitalisme kepada fitrahnya yang ia sebut kapitalisme progresif (hlm.247). Bukan tanpa sebab Stiglitz bersikukuh pada pendiriannya, pasalnya kapitalisme dianggap sejalan dengan nilai-nilai demokrasi yang menjamin hak-hak individu. Satu hal yang tak diakui dalam sistem sosialis.

Besarnya ketimpangan, juga diakibatkan dengan praktik politik demokrasi, kata Stiglitz, ditekan oleh para kapitalis yang tak ingin adanya persaingan. Akibatnya, sifat monopolistik menginternalisasi ke dalam politik. Sebuah sifat yang tentu tidak sejalan dengan demokrasi dan cenderung totaliter. Stiglitz mencontohkan terpilihnya Donald Trump sebagai bukti nyata dari internalisasi sifat monopolistik ekonomi dan politik.

Hal itu disebabkan karena demokrasi yang berjalan sangat liberal dan transaksional, kekuatan ekonomi dapat mengintervensi ranah politik. Para kapitalis biasanya berperan sebagai pendonor calon presiden atau anggota legisliatif. Ketika calon mereka terpilih, maka si calon akan menyiapkan segudang aturan untuk mempermudah bisnisnya. Alhasil, rakyat tak pernah mendapatkan “kue kesejahteraan” dari negara. Hal ini yang menimbulkan ketidakpuasan.

Celakanya, ketidakpuasan justru dimanfaatkan oleh para politisi sebagai objek untuk mendulang suara. Cherian George (2016) menyatakan, politisi tak segan untuk memelintir kebencian, mengagitasi massa, dan membuat polarisasi di masyarakat.

Lantas bagaimana apakah kita mesti percaya pemerintah akan berperan untuk menyejahterakan rakyat seperti yang diungkapkan Stiglitz di atas?

Stiglitz berkeyakinan bahwa hal itu masih sangat dapat terjadi. Banyak politisi yang memiliki program dan gagasan bagus tapi tak terpilih karena kalah modal dalam kampanye. Oleh sebab itu, kata Stiglitz, medan pembuktian kekuatan rakyat terjadi saat pemilu berlangsung (hlm.246). Karena mencapai kesejateraan bukan hanya sekadar masalah moral atau bagusnya ekonomi, melainkan juga tentang memperjuangkan demokrasi. Maka tak heran bila Stiglitz memercayai bahwa sebelum mereformasi ekonomi, yang harus dilakukan adalah mereformasi politik.

Selain itu, pemerintah punya segala perangkat untuk mencapai kemajuan. Salah satunya memberikan banyak investasi dalam riset. Sebab, kemajuan dunia selama 200 tahun dapat terjadi karena banyaknya penemuan dan inovasi berdasarkan riset yang besar. Maka tak dapat tidak, jika pemerintah wajib mendanai riset (hlm.141). Sebab, kesejahteraan tak bisa terus menerus diwujudkan dari praktik ekonomi yang bersifat eksploitasi, tapi harus berbasis pada produktivitas, kreativitas, dan kekuatan rakyat.

Buku yang terdiri dari 11 Bab ini layak oleh dibaca oleh semua kalangan—terutama para pebisnis dan pemerintah. Agar mewujudkan kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia benar-benar terjadi. Bukan hanya mewujudkan kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia yang mampu menjangkaunya. Sebab, seperti dikatakan Bung Karno bahwa Indonesia didirikan bukan untuk golongan tertentu, melainkan untuk semua. (*)

 __________

*) Virdika Rizky Utama–Peneliti di Narasi.TV

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending