Connect with us

Buku

Pram dalam Dekapan Ideologi

mm

Published

on

Pramoedya Ananta Toer yang lebih akrab disebut Pram masih menarik untuk terus dibahas, baik secara karya maupun pribadinya. Karyanya yang sangat fenomenal dan pribadinya yang keras, tentu membuat beberapa peneliti mempunyai alasan cukup kuat sekaligus logis untuk menjadikannya bahan penelitian. Belum lama ini, salah satu profesor dari salah satu Universitas di Korea Selatan meluncurkan buku tentang Pram yang berjudul Pramoedya Menggugat.

Tapi dalam kesempatan ini saya bukan ingin membahas buku tersebut di atas, kali ini yang akan kita perbincangkan buku lain, namun masih seputar tentang Pram yakni Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi, karya Savitri Scherer. Savitri, seorang peneliti yang pernah menjadi koresponden harian Kompas di luar negeri ini menjadikan Pram sebagai bahan penelitian untuk disertasinya di Universitas Nasional Australia, dekade tahun 80an.

Meskipun terhitung lawas, penelitian yang akhirnya dijadikan buku ini masih menarik dan relevan untuk dibahas karena menceritakan sisi Pram tak melulu dari soal karya, tapi juga pribadinya. Selama ini Pram selalu dikenal sebagai seorang sasterawan kiri yang revolusioner dan berpihak kepada PKI melalui organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Tapi siapa kira, Pram juga pernah bergaul bahkan cukup intim dengan sasterawan-sasterawan golongan kanan yang memusuhi Lekra, kelompok Seniman Gelanggang Merdeka seperti Asrul Sani, Rivai Apin dan HB Jassin. Meskipun tidak terlibat secara jauh, namun Pram mengenal cukup dekat mereka. Bahkan, karya-karya Pram sendiri pernah dimuat di media Siasat yang dikelola kelompok ini.

Lalu, bagaimana Pram bisa secara mengejutkan ikut berkecimpung dengan kelompok sasterawan kiri, dan dengan begitu bersemangat ikut mengibarkan bendera konfrontasi antar kelompok sasterawan diperiode tahun 60an? Daalam pengantarnya, Ajip Rosidi, salah satu kritikus sastera terkemuka sekaligus kawan Pram dengan begitu lugas mendeskripsikan peralihan haluan Pram dari kanan ke kiri.

Menurut Ajip, salah satu faktor terkuat dari berpindahnya haluan Pram dari kanan ke kiri salah satunya kesulitan ekonomi. Entah, apakah alasan ini bisa diterima atau tidak yang pasti Ajip mengakui kalau saat itu Pram pernah bertutur kepadanya kalau dirinya sudah tidak makan selama beberapa hari karena tidak mempunyai uang. Selain itu, kesulitan finansial juga ikut menggoyahkan biduk rumah tangga Pram.

Republik pasca Revolusi 45 memang sedang mengalami masa-masa sulit, terutama dalam masalah ekonomi. Banyaknya konfrontasi dengan pihak luar ikut menyedot anggaran negara mengakibatkan inflasi yang cukup tinggi. Kesulitan ekonomi di masa itu sempat dibantah oleh pihak kiri dengan munculnya lagu dengan cuplikan ”… siapa bilang rakyat Indonesia lapar, Indonesia banyak makanan… “

Tapi, faktor kesulitan ekonomi juga tidak bisa dijadikan faktor tunggal dari berpindahnya dukungan Pram kepada kelompok sasterawan kiri, jauh sebelum itu Pram sudah dikenal sebagai sasterawan yang selalu mengangkat kehidupan wong cilik dalam karya-karyanya, diantaranya Djalan jang Amat Pandjang (1956) dan Sekali Peristiwa di Banten (1959).

Kesadaran akan kondisi politik dan sosiologis masyarakat Indonesia yang dimunculkan oleh Pram juga sedikit banyak terpengaruh oleh kehadirannya dalam diskusi sastra di Belanda. Dalam simposium itu, pernyataan seorang pemikir sastra marxis. Prof. Wertheim yang menyatakan kondisi sastra Indonesia memprihatinkan karena cenderung menganut pesismisme barat dalam memandang masyarakat Indonesia, cukup menyentak Pram.

Menurut Wertheim, masyarakat Indonesia tidak seharusnya tidak berhak untuk merasa pesimis. Revolusi yang melahirkan masyarakat baru seharusnya bisa meletupkan semangat-semangat yang bergelora. Jika karya sastranya saja begitu pesimis dalam melihat kondisi masyarakat, tanda revolusi tidaklah berhasil.

Dari pergulatan-pergulatan itu, Pram perlahan-lahan mulai fokus dengan tema-tema yang mengangkat tentang isu-isu kerakyatan. Kelak, kerakyatan itu menjadi idealisme utama yang nanti diusung Pram hingga akhir hayatnya sekaligus menjadi jurang pemisah antara Pram beserta rombongan sasterawan kiri dengan HB Jassin dan kawan-kawannya.

Pram mungkin juga bisa disebut sebagai salah satu pelopor sasterawan yang cukup getol dengan epos-epos sejarah masa lalu bangsa Indonesia. Dengan penuh semangat Pram menganjurkan agar para sastrawan Indonesia mengangkat sejarah masa lalu sebagai tema utama karya sastra, dengan maksud mengingatkan kita pada masa-masa perjuangan pendirian republik ini.

Pram mengecam karya sastra picisan yang tidak memberikan sumbangan apa-apa bagi kemajuan bangsa Indonesia, dan justru malah membuat rakyat jadi semakin lemah dan mempunyai mental terjajah. Sosok Pram dengan sangat tegas menunjukan bagaimana seorang penulis harus memosisikan dirinya di tengah-tengah rakyat, menyuarakan ketertindasan dan menggelorakan perlawanan. Bisa jadi, pilihan posisi itulah yang memberi efek luar biasa bagi karya-karyanya sehingga sepeninggal dirinya karya sastra Pram tetap mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia. Tabik! (*)

*) Wahyu Arifin—Wartawan dan Pecinta Buku.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Joko Pinurbo, Menjadi Penyair Adalah Menjadi Manusia Biasa

mm

Published

on

Konon, kehidupan Jokpin sejak kecil bersinggungan dengan biskuit Khong Guan. Biskuit Khong Guan menjadi ikon bingkisan yang mewah. Sampai kini, ia mendapati Khong Guan hadir di meja ruang tamu di berbagai perayaan hari raya umat beragama.

Mari kita buka

apa isi kaleng Khong Guan ini

biskuit

peyek

keripik

ampiang

atau rengginang?

Simsalabim. Buka!

Isinya ternyata

ponsel

kartu ATM

tiket

voucer

obat

jimat

dan kepingan-kepingan rindu

yang sudah membatu.

(Bingkisan Khong Guan, 2019)

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Seorang lelaki paruh baya berjalan tenang melintasi deretan kursi yang sudah penuh terisi. Puluhan pasang mata pirsawan yang hadir bergerak mengikuti langkah lelaki itu sampai ia tiba dan duduk di kursi di atas panggung. Dari kursi pirsawan, kaos berkerah dan celana kain yang membalut tubuhnya tampak longgar. Sementara bagian bawah matanya menghitam.

Begitulah Joko Pinurbo atau yang juga dikenal publik dengan akronim Jokpin malam itu (31/1/2020). Ialah penyair yang menulis puisi Bingkisan Khong Guan. Bersama puluhan puisi lain, puisi yang tak sungkan menyebut merek dagang itu belum lama diterbitkan sebagai buku dan lekas menjadi salah satu buku paling dicari pembeli.

“Saya menulis Khong Guan bukan karena saya duta Khong Guan, juga bukan karena pengen dapat sponsor dari Khong Guan. Saya tidak berhubungan sama perusahaannya. Mereka mungkin malah nggak tahu saya nulis tentang Khong Guan. Andaikan tahu, mungkin malah bingung sendiri membaca puisi-puisi saya. Saat saya sedang merenung, memikirkan citraan apa yang tepat untuk menampung hal-hal yang ingin saya sampaikan, misalnya soal toleransi, kemanusiaan, keberagaman, dan lain-lain, saya berusaha mengingat benda-benda di sekitar saya, yang dekat dengan saya dan masyarakat. Saya kemudian ingat biskuit Khong Guan,” ungkap Jokpin.

Konon, kehidupan Jokpin sejak kecil bersinggungan dengan biskuit Khong Guan. Biskuit Khong Guan menjadi ikon bingkisan yang mewah. Sampai kini, ia mendapati Khong Guan hadir di meja ruang tamu di berbagai perayaan hari raya umat beragama. Biskuit Khong Guan tidak termasuk jenis hidangan yang digemari tamu sehingga tidak lekas habis. Jokpin menyebutnya sebagai yang “biasa-biasa saja, akhirnya habis juga”.

Ia juga menangkap fenomena kaleng Khong Guan yang sering difungsikan untuk wadah rengginang atau jenis penganan lain. Kaleng Khong Guan melampaui manusia. Ia bisa hadir di segala jenis hari raya, ia menampung apa saja yang diletakkan manusia di dalamnya. Demikian Jokpin memberi penjelasan.

Sastra yang Dekat dengan Masyarakat

Siapa bilang dunia sastra itu dunia tersendiri yang terpisah dari masyarakat? Anggapan itu jadi tidak relevan dengan puisi yang ditulis Jokpin. Di Yogyakarta ini, siapa yang tidak tahu atau minimal tidak pernah dengar nama Pasar Beringharjo? Saya kira tidak ada. Masyarakat di luar Yogyakarta pun akrab dengan nama pasar tersebut. Di Kawasan Pasar Beringharjo terpampang sebuah mural dengan tulisan sebagai berikut, Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Mural yang sering dijadikan latar berfoto itu tidak lain ialah penggalan puisi Jokpin.

Penggalan puisi yang dijadikan mural itu menjadi bukti bahwa sastra tidak terpisah dari kehidupan masyarakat. Pilihan kata dalam puisi-puisi Jokpin yang lain juga terasa dekat dengan kita sebagai masyarakat pada umumnya. Kita bisa melihat dari judul-judul buku puisi Jokpin. Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007), Tahilalat (2012), Haduh, aku di-follow (2013), Baju Bulan (2013), Bulu Matamu: Padang Ilalang (2014), Surat Kopi (2014), Surat dari Yogya (2015), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), Buku Latihan Tidur (2017), Perjamuan Khong Guan (2020).

“Puisi Celana saya tulis ketika saya melihat orang-orang Indonesia banyak sekali yang memakai celana jeans. Di kampus saya, di Sanata Dharma, waktu saya main setelah lulus, itu hampir semua mahasiswanya memakai celana jeans. Fenomena itu belum ada waktu saya masih kuliah. Terus terpikirlah untuk menulis puisi tentang celana,” kenang Jokpin.

Demikian halnya dengan puisi-puisi Jokpin yang lain, idenya selalu datang dari pengamatan dan kemudian keinginan mengabadikan apa-apa yang terjadi di masyarakat dalam bentuk puisi. Puisi Telepon Genggam ditulis ketika penggunaan telepon genggam generasi pertama mulai marak di Indonesia. Di tahun 2000-an, telepon genggam yang beredar di Indonesia fungsinya masih terbatas untuk mengirim pesan pendek dan telepon, belum secanggih dan selengkap telepon genggam di era internet seperti saat ini.

Fenomena merebaknya kopi dan menjamurnya kafe-kafe dengan desain yang instagramable juga tak luput dari pengamatan Jokpin. Ia menulis puluhan puisi yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Surat Kopi (2014). Jokpin memilih menggunakan kata-kata biasa yang dekat dengan keseharian masyarakat misalnya ibadah, sarung, latihan tidur, dan lain sebagainya.

“Karena puisi saya memang refleksi dari apa yang sedang terjadi di masyarakat. Saya memilih menulis puisi dengan bahasa sehari-hari untuk menyampaikan ide-ide saya, misalnya tentang kemanusiaan, keberagaman, keluarga. Supaya apa? Supaya lebih banyak orang yang bisa memahami apa yang mau saya sampaikan,” ungkap Jokpin setelah menenggak air mineral di hadapannya.

Banyak Membaca, Sedikit Menulis

Lelaki berusia 57 tahun itu sudah menulis puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi ketenarannya saat ini bukan didapat begitu saja. Ada upaya tekun dan serius yang dilakoni Jokpin untuk menjadi penyair.

“Pesan saya untuk anak-anak muda yang ingin jadi penyair, jangan buru-buru. Meskipun dunia internet seperti sekarang mudah sekali mempublikasikan karya, tapi pesan saya jangan terburu-buru mempublikasikannya. Setelah menulis, coba biarkan dulu, diamkan dulu puisimu. Untuk mengambil jarak dengan apa yang kamu tulis. Biasanya kalau selesai menulis kamu langsung mengirimkan ke media massa, itu kamu dikuasai oleh rasa senang atau puas karena telah menyelesaikan tulisan. Padahal boleh jadi tulisanmu itu belum maksimal, masih bisa diperbaiki lagi,” demikian jawaban Jokpin ketika ditanya apa pesannya bagi anak-anak muda yang ingin menjadi penyair seperti dirinya.

Jokpin sendiri memiliki kebiasaan unik. Ia belum berhenti mengedit puisinya kalau belum sebelas kali. Ketika dikonfirmasi oleh merdeka.com, alasan mengapa ia memilih angka sebelas, ternyata sebelas adalah tanggal lahirnya. Ia percaya dan meyakini kalau puisinya belum diedit sebelas kali itu artinya belum layak untuk dikirim ke media massa.

Pesan Jokpin supaya anak-anak muda yang ingin menjadi penyair tidak buru-buru mempublikasikan puisinya ialah untuk meminimalisir kemungkinan puisi itu muncul selintas saja, atau tak diingat siapapun karena memang tidak berbeda dengan puisi-puisi lain yang muncul dengan sangat cepat di berbagai media sosial.

Satu lagi pesan Jokpin untuk anak-anak muda yang ingin menjadi penyair. Menurut Jokpin, penyair harus banyak membaca, baik itu buku atau kejadian sehari-hari. “Penyair atau penulis apapun, ia harus lebih banyak membaca daripada menulis. Katakanlah kalau dibuat perbandingan ya 3:1, 3-nya membaca, 1-nya menulis.” (*)

*) Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Continue Reading

Buku

Catat! Bukan Tip-tip Menulis ala Bradbury

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih–Esais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Ia sudah menakdirkan diri pada seribu kata sehari sejak usia 12 tahun, menjadi penulis sebagai keputusan hidup penting kedua setelah pada usia 11 tahun memutuskan menjadi tukang sulap dan pelancong segala penjuru dunia dengan ilusi dan imajinasi. Ia adalah penulis Amerika, Ray Bradbury, yang tidak menutup diri pernah picisan dan melawan segala persepsi buruk tentang fiksi sains. Bradbury menulis seiyanya satu cerita pendek setiap pekan karena hadiah kecil Natal di tahun ke-12: mesin ketik mainan. Ia telah bertarung dalam belantara kata dengan keras kepala, gairah, kegembiraan, dan kegilaan sampai usia 90 tahun. Maka, bagi dirimu sekalian yang ingin menjadi penulis atau baru berencana banting haluan hidup ke penulisan, jangan berharap banyak mendapatkan tip-tip jitu menulis dalam kumpulan esai otobiografis kocak-memukau garapan Ray Bradbury, Zen dalam Seni Menulis (2018).



Pada akhirnya, usaha paling kecil untuk menang berarti semacam kemenangan. Ingatlah sang pianis yang berkata bahwa jika ia tidak berlatih setiap hari maka ia sendiri akan tahu, jika ia tidak berlatih selama dua hari, kritikus akan tahu, setelah tiga hari, audiens-nya akan tahu. Kau harus tetap mabuk dalam menulis sehingga kenyataan tidak mampu menghancurkanmu. Jadi, kira-kira, tentang itulah buku ini.—Ray Bradbury

Buku ini barangkali akan gagal membikin merinding atau bergidik orang-orang yang belum pernah merasa menulis itu sudah nyaris separuh lebih nyawa hidup, resah karena sering gagal menerbitkan kata-kata kala pagi, atau dikalahkan bertubi-tubi oleh istilah mengerikan “miskin” dan “tidak punya waktu.” Kita bisa menyimak “kesombongan bersahaja” Bradbury sejak dari pengantar, “Dalam perjalananku, aku telah belajar bahwa jika aku membiarkan sehari saja lewat tanpa menulis, aku menjadi gelisah. Dua hari lewat dan aku akan menggigil. Tiga hari lewat dan aku menderita kegilaan. Empat hari lewat dan aku menjadi seperti babi yang terjebak dalam pusaran air. Menulis satu jam saja sudah menjadi tonik. Aku berdiri lagi, berlari berputar-putar, dan berseru-seru.”

Bradbury berhak mengatakan kepada kita tanpa nada pelatihan atau workshop, “Kau harus tetap mabuk dalam menulis sehingga kenyatan tidak mampu menghancurkanmu.” Buku kumpulan esai ini memuat tulisan-tulisan yang digarap dalam pelbagai masa dalam periode sepuluh tahun yang dianggap sebagai penemuan diri dan ketakjuban. Esai-esainya mendokumentasikan secara kronik apa yang terjadi dalam masa-masa memunculkan ide dan tulisan yang selalu dikatakan selalu bisa menyelesaikan diri mereka sendiri. Pembaca bisa menduga Bradbudry masih mengandalkan coretan-coretan di atas kertas yang jadi medium penyimpanan sekaligus pengingatan. Bradbury tidak menciptakan trik atau tip menulis yang bisa hilang karena soal mood, tapi ritme yang terkalender secara biologis dalam tahun-tahun panjang untuk diceritakan ke publik.

Kita cerap salah satunya ketika masih remaja, Bradbury sudah semacam sanggup mengidentifikasi “kekeliruan” yang sangat mungkin menjadi masalah para penulis pemula secara umum. Dia mengatakan, “Aku tumbuh dengan membaca dan mencintai cerita-cerita hantu tradisional karya Dickens, Lovecraft, Poe, dan kemudian Kuttner, Bloch, dan Clark Ashton Smith. Aku mencoba menulis cerita-cerita yang sangat dipengaruhi oleh para penulis yang beragam ini, dan berhasil menciptakan hantu putih berlapis empat, dengan semua bahasa dan gayanya, yang tidak mau mengambang, dan menghilang tanpa jejak. Aku terlalu muda untuk mengidentifikasi masalahku itu karena terlalu sibuk meniru.” Sejak usia 20, Bradbury masih mengakui godaan menjadi imitatif dari para penulis yang terasa seperti menungguinya menulis. Ia pun memulai membuat barisan panjang kata benda untuk menguji dan memprovokasi diri. Danau, jangkrik, malam, jurang, loteng, karnaval, kurcaci, komidi putar, dan segala benda lain diujikan dalam penulis prosa, puisi, dan esai.

Narsis

Tulisan Bradbury, terutama sering dalam bentuk fiksi, tidak lahir dari sekadar aktivitas berkhayal. Menulis mengharuskan bergerak mengamati tata kehidupan sehari-hari, bahkan untuk cerita-cerita yang ingin meramalkan masa depan. Tindakan berpikir dan mengamati bisa dianggap kejahatan. Inilah yang juga menjadikan dirinya terlibat masalah dengan polisi. “Kapan terakhir kali kau diberhentikan oleh polisi di lingkunganmu karena kau suka berjalan, dan mungkin juga berpikir, pada malam hari? Kebetulan hal ini terjadi cukup sering sehingga aku, karena jengkel, menulis “The Pedestrian”, sebuah cerita tentang suatu masa, lima puluh tahun dari sekarang, ketika seorang laki-laki ditangkap dan diperiksa untuk studi, ketika seorang laki-laki ditangkap dan diperiksa untuk studi klinis karena ia bersikeras untuk melihat realitas yang tak ditayangkan televisi, dan menghirup udara yang tak diembuskan pendingin ruangan.”

Seteru dan sekutu Bradbury mengarah pada waktu, ide-ide, dan proses. Gairah dan semangat menjadi dua istilah pembuka yang sakral, menjadikan menulis berjalan gila-gilaan. Bradbury pun sempat bertaruh dengan ruang dan keluarga yang rentan membuat orang-orang yang dulu menyukai menulis tidak menulis lagi. Ruang penyelamatan menulis itu salah satunya perpustakaan yang kocaknya menjadi tempat paling satire untuk menciptakan kisah tentang pembakaran buku di masa depan, Fahrenheit 451.

Novel ini sepertinya novel yang cukup dekat dengan pembaca Indonesia karena sempat diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 2013 oleh penerbit Elex Media Komputindo dan juga difilmkan. Tahun 2018, Gramedia menyusul menerbitkan. Bradbury mengakui novel sebagai investasi recehan dan masuk kategori picisan! Sekitar 1950, Bradbury miskin, menulis, bertekad menghidupi keluarga kecilnya di California. Ia mengetik di garasi, tapi sering tergoda atau terusir oleh anak-anaknya yang mengajak bermain. Sampai akhirnya, perpustakaan merekam kejaran diri dengan ruang dan waktu. Bradbury menulis dengan kocak, “Akhirnya, aku menemukan tempat itu, yaitu ruang mengetik di ruang bawah tanah perpustakaan di University of California di Los Angeles. Di sana, berbaris rapi, ada delapan atau lebih mesin ketik Remington atau Underwood tua yang disewakan satu sen untuk setengah jam. Kau masukkan koinmu, dan jam berdetik dengan gila, dan kau mengetik dengan gila, agar selesai sebelum waktu setengah jam itu habis.”   

Berpamit dari dunia pada usia sekitar 92 tahun, Bradbury memulai persekutuan dengan kata dari keisengan menguyupi komik. Bradbury sepertinya bukan seorang pak tua memberi nasihat bijak kepada kaum pemula penulis yang tidak berminat pada ketelatenan dan kekeraskepalaan untuk menulis, menulis, menulis, dan menerjang segala hambatan yang jitu jadi alasan. Memang untuk esai-esai penuh “kesombongan yang bersahaja” soal menulis ini, kita pantas menerimanya dengan merinding dan takjub. Benar-benar tidak ada dosanya kalau Bradbury memang harus narsis. Narsis karena nulis!

Continue Reading

Buku

Bersin…

mm

Published

on

Oleh Bandung Mawardi

Ia tak bersama kita menanggungkan wabah. Orang-orang “dipaksa” terlalu mengartikan rumah, setelah menganggap diri dan rumah itu “sepele”. Ia beruntung pamitan duluan, memberi kita cerita-cerita wagu dan mengenaskan: rumah. Di Indonesia, ia sering mendapat cemooh. Ia memang keterlaluan bila omong sastra, agama, dan identitas. Orang-orang di Indonesia berhak sebal. Indonesia pun “termiliki” saat ia dolan, bertemu para tokoh: ingin mengerti Islam dan sastra. Kunjungan itu menjadi tulisan terbaca seperti reportase atau catatan orang pelesiran dengan kecerobohan dan pemaknaan mendalam.



A House for Mr. Biswas: A Novel (Anglais) Broché – 13 mars 2001 de V. S. Naipaul | In his forty-six short years, Mr. Mohun Biswas has been fighting against destiny to achieve some semblance of independence, only to face a lifetime of calamity. Shuttled from one residence to another after the drowning death of his father, for which he is inadvertently responsible, Mr. Biswas yearns for a place he can call home. But when he marries into the domineering Tulsi family on whom he indignantly

Di rumah dan wabah belum tamat, kita mengenang VS Naipaul. Sekian buku Naipul sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Di mata pembaca berselera pascakolonial, novel-novel Naipaul itu incaran untuk berpikir dan berkelakar. Ia tak menulis novel mengenai wabah bersaing dengan Albert Camus. Cerita-cerita gubahan Naipaul tak semenegangkan novel-novel besar gubahan para pengarang Prancis, Jerman, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Amerika Latin. Kelucuan dan ketololan sering terbaca dalam cerita-cerita Naipaul.

Kita mengingat Mohun alias Tuan Biswas alias “Tuan Bersin”. Sebutan terakhir sengaja diadakan sesuai situasi mutakhir memasalahkan bersih. Pada situasi wabah, orang bersin sembarangan bisa malapetaka. Kita masuk dulu ke novel berjudul Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas, novel “teragung” persembahan Naipaul. Novel tebal dan menumpas lapar penasaran pascakolonial. Peraih Nobel Sastra 2001 itu mengisahkan bersin, tak pernah ada niat menjadi kutipan bagi para pembaca mengalami wabah buruk di abad XXI.

Pada suatu lahir, kelahiran mencipta ribut panjang. Kelahiran diinginkan dan ditakutkan. Penghuni dunia bertambah oleh kehadiran Mohun, nama berarti “kekasih”. Arti itu berantakan bila melihat kondisi raga Mohun dan nasib seperti diramalkan pandita. Sang ibu mengadakan pesta sederhana, mengundang orang-orang desa: makan bareng dan berharap memberi doa-doa terindah pada Mohun. Si bapak datang dari tempat jauh, berlagak sombong mengetahui ada pesta. Ibu itu marah, memberi omelan pada suami: “Lihat saja, Tuhan telah membalas kesombongan dan kekasaranmu. Pergi dan lihatlah anakmu! Ia akan menyengsarakanmu. Berjari enam, lahir di saat yang salah. Pergi dan lihatlah! Ia pun mengidap bersin pembawa sial.”

Keluarga itu berkumpul kembali di rumah. Naipaul mulai membuat pembaca terpana dan mengasihani para tokoh dalam novel. Semua gara-gara bersin. Di kesusastraan dunia, Naipaul mungkin pengisah paling menjengkelkan tentang bersin. Kita mengutip: “Mereka tak pernah melalaikan anak malang beserta bersin pembawa sialnya itu. Tuan Biswas mudah terserang flu dan di musim hujan membuat keluarganya terancam miskin. Seandainya Tuan Biswas bersin-bersin sebelum Raghu (bapak) bergi ke pabrik tebu, maka Raghu akan tetap di rumah: menggarap kebun sayuran pagi-pagi dan menghabiskan waktu sorenya dengan membuat tongkat dan sepatu dari kayu… Meskipun demikian, kesialan kecil sering menyertai bersin-bersin Tuan Biswas: uang yang hilang saat belanja, botol retak, atau piring yang pecah. Sekali waktu Tuan Biswas bersin-bersin setiap pagi selama tiga hari berturut-turut.” Bersin itu malapetaka! Bersin tak cuma menandai flu. Bersin bisa memiskinan! Bersin itu mengabarkan sengsara keluarga.

Bersin, bukan masalah terpenting dalam novel gubahan Naipaul. Kita saja sengaja mencomot dan menganggap penting dipikirkan saat mengalami hari-hari di rumah. Kita dianjurkan waras. Pemerintah tak membuat larangan bersin tapi kita dianjurkan mengetahui “tata krama” bersin agar tak mencipta petaka kolosal. Bersin itu masalah besar saat wabah. Kita mulai meninggalkan novel, bergerak ke masalah bersin saja. Naipaul sudah selesai menjadi pengingat. Kita membuka majalah Matra edisi Mei 2007. Bersin dibahas dua halaman di rubrik etiket. Kita membaca sambil mengingat terakhir kali bersin: “Mungkin karena flu tergolong penyakit ringan, sejumlah orang tetap melakukan aktivitas sehari-hari meski penyakit ini menyerang. Masalahnya, produksi lendir yang berlebihan di saat flu cukup menyiksa. Apalagi kalau disertai bersin-bersin yang kadang ‘menumpahkan’ beberapa produksi lendir itu.” Nah, bersin itu masalah. Ulasan berlatar Jakarta setelah banjir. Ulasan diarahkan ke orang-orang kantoran agar membuat pertimbangan serius saat mengidap flu: masuk kerja atau izin di rumah saja.

Di situ, ada anjuran orang sedang flu mendingan mengenakan masker bila ingin terus melakukan peristiwa-peristiwa harian. Orang malu mengenakan masker bisa membekali diri dengan sapu tangan atau tisu. Petunjuk bersin secara sopan: “Jangan sekali-kali mengarahkan muka anda ke wajah orang lain. Sebaiknya, arahkan wajah sedikit ke bawah atau ke arah berlawanan dengan lawan bicara. Jangan lupa gunakan sapu tangan atau tisu. Tapi jangan meneliti ‘isi’ sapu tangan anda setelah bersin. Masukkan saja langsung ke saku dengan santai.” Petunjuk sopan tiada dalam novel berjudul Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas. Naipaul belum membentuk tokoh memiliki tata krama berbekal sapu tangan atau tisu. Mohun atau “Tuan Bersin” juga berada di keluarga miskin. Bapak cuma buruh, tak pernah berpredikat orang kantoran dengan acara rapat atau jamuan makan berdalih bisnis. 

Bersin memang masalah gawat bagi kaum kantoran dan bernalar modern. Kita beruntung mendapat petunjuk penting dalam buku berjudul Etiket dan Netikat: Sopan Santun dalam Pergaulan dan Pekerjaan (2016) susunan Marulina Pane. Buku penting tapi tak ada kaitan dengan novel gubahan Naipaul. Penulis buku itu berkaitan dengan keluarga pengarang ternama di Indonesia: ArmijnPane dan Sanoesi Pane. Petunjuk tak disampaikan dalam bahasa puitis: “Selalu bawa sapu tangan atau tisu… segeralah menutup hidung anda saat terasa akan bersin; untuk menahan bersin di acara yang khidmat, tekanlah jari telunjuk anda dengan kuat di bibir atas anda persih di bawah lubang hidung; bersinlah dengan ‘pelan-pelan’, usahakan tanpa suara; palingkan wajah anda dari orang yang berada di sebelah anda; bila sedang duduk, usahakan membungkuk ke bawah; bila bersin berkepanjangan, pergilah ke toilet….”

Petunjuk penting telah terbaca saat kita masih di hari-hari berwabah. Di rumah, orang-orang memiliki tata krama baru. Orang nekat ke kantor pasti diwajibkan memenuhi tata krama ketat dan njlimet. Ah, kita sejenak mengingat Naipaul dan “Tuan Bersin”, ikhtiar kecil “mengejek” kejenuhan selama di rumah. Dulu, masalah bersin sudah disampaikan dalam masalah etiket tapi mesti mendapat penjelasan imbuhan di masa wabah. Kita belum sempat membuka dan membaca novel-novel gubahan para pengarang Indonesia pernah sengaja mengisahkan manusia bersin. Kita cukupkan membaca Naipaul saja. Kita nekat ingin membaca novel selama di rumah mendingan memilih novel-novel tipis membikin tertawa. Jangan pilih novel-novel memicu bersin! Begitu.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending