Connect with us

Cerpen

Potpouri Buat Rebi Astuti

mm

Published

on

Potpouri Buat Rebi Astuti

Oleh: Ladinata

Tuhan jauh-jauh telah menakdirkan

bahwa kematian akan tiba pada kita semua, anakku sayang

dan jika dia datang kepada ibu sekarang

janganlah sekali-sekali engkau menunjukkan kedukaanmu

karena kematian sebenarnya datang

bukan untuk membuatmu menjadi susah

tetapi dia datang untuk memberikan pelajaran-pelajaran kepadamu

bagaimana kehidupan ini harus dijalani

dan dari kematian pula kau akan mengetahui

bahwa ibu tak akan melihat lagi bunga-bunga

burung-burung yang terbang

dan matahari pagi yang bersinar cemerlang

segalanya memang teramat sederhana buatmu

tetapi ibu yakin akan kehilangan bayangannya

sementara kau sendiri belum merasa memiliki

oleh karena itu, anakku sayang

belajarlah menerjemahkan kehidupan dan kematian

melalui keberadaan dan kepergian orang-orang yang kau sayangi

agar di masa nanti engkau tidak menjadi bagian dari kesia-siaan[1]

 

Lagi, kuhirup udara lembab. Angin yang datang perlahan-lahan membawa dingin. Syal merah jingga, hadiah darimu, menghangatkan leherku. Samar-samar masih terdengar suara pohon-pohon pinus, memberikan sesuatu yang lain ke dalam jiwa.

Dalam beberapa saat aku seperti dikukung oleh kekuatan dan keindahan yang maha gaib. Bukanlah kesalahanku jika pada saat itu bayanganmu datang dan teramat akrab di sampingku. Suasana Maribaya yang diselimuti kabut hujan, selalu pasti menunaikan kerinduan di dalam batin kepadamu, meskipun pada kenyataannya itu tidak sesempurna sewaktu kau dan aku menikmati sampai batas yang terdalam dari keajaiban Tawangmangu dengan Air Terjun Seribu-nya. Rasanya memang tak akan pernah mungkin menghadirkan dirimu dan Tawangmangu ke dalam suasana Maribaya dengan bunga yang berwarna merah dan kuning. Akan tetapi setidak-tidaknya melalui Maribaya yang menyejukkan dan menentramkan pikiran, aku dapat mendekati dirimu yang memiliki seribu jawaban dari seribu pertanyaanku – yang sebenarnya – satu pun belum kau jawab. Kadang-kadang, ada kecemasan yang luar biasa menghajar rasio normalku. Jangan-jangan selama ini aku hanya berfantasi dan tengah mabuk asmara sendirian.

Hanya satu kebetulan yang menyenangkan aku dapat mengenalmu lewat seorang sahabat, yang juga menjadi sahabat baikmu di sekolah menengah. Sejak itu kita sering berdua di dalam beribu-ribu kabar tanpa sekali juga penah berjumpa dan tertawa. Pikiran sederhanaku menduga-duga, bahwa kau seorang yang teramat lincah sesuai dengan bahasa yang ditampakkan. Dan hal itu cukup membuat kerinduan yang sudah ada semakin bertumpuk-tumpuk untuk segera menatap sinar mata yang kau miliki. Dari hari ke hari selalu ada perjuangan untuk menahan keinginan yang terus-menerus bertambah-tambah ini. Barangkali sekejap pun kau tak menduga, bahwa kemudian aku memutuskan untuk meluluskan permintaan yang ada di dalam batinku sendiri. Satu keputusan yang mendatangkan rasa tenang luar biasa. Satu keanehan yang tiada bandingannya telah mengendap jauh di dasar hati.

Seperti yang diperkirakan sejak semula, engkau memandangi sosok yang ada di depanmu berkali-kali dengan binar mata yang kurang pasti. Ini memang perjumpaan kita yang pertama selama hampir tiga tahun bersahabat. Sungguh wajar seandainya engkau menyangsikan matamu sendiri. Dan aku berharap kedatangan yang teramat tiba-tiba ini akan memberikan kegembiraan yang sebesar-besarnya untukmu. Akan tetapi harapan yang demikian agaknya sirna tak berbekas. Engkau sama sekali lain dari bayangan semula, meskipun sangat ramah menyambut kehadiran orang yang selalu jauh darimu.

Harus dikatakan secara jujur, bahwa pada saat itu ada kekecewaan yang sedalam lautan terhadap sikap-sikapmu, yang tidak selincah kabar-kabar di dalam surat yang sudah kau tuliskan selama ini untukku. Hanya beberapa saat penyesalan mempermainkan aku di dalam lingkarannya, engkau segera mengajakku menikmati kota kecilmu yang menawan. Pada mulanya engkau mengkhawatirkan kelelahan yang telah menerpaku selama dalam perjalanan dari Bandung ke Ngawi. Tapi entah mengapa aku tak merasakan apa-apa. Berjalan bersama orang yang selalu dibayang-bayangkan selama hampir tiga tahun memiliki seni tersendiri yang begitu berbeda dari mimpi-mimpi lain.

Berdua kita menyusuri jalan Diponegoro yang lengang, tetapi kelihatan begitu bersih untuk dipandang. Selembar daun jatuh terkena hempasan angin dan hampir mengenai rambut sebahumu. Kau berhenti sejenak sembari menatapi guliran daun jatuh tersebut dengan tiada henti-hentinya. Dan pada saat itulah terbentang satu kesempatan yang datang tanpa disengaja untuk menikmati wajah beningmu. Dalam beberapa saat naluri yang kumiliki ditarik-tarik memasuki satu dunia pesona yang istimewa dan berkepanjangan, tanpa batas. Seperti baru sadar ada sepasang mata yang memandangi keindahan tersembunyi yang telah Tuhan berikan kepadamu, kau menenggadahkan wajah sambil menghujam mataku. Tiba-tiba saja jantungku berpacu dengan irama yang sulit dibayangkan. Perasaan amat berdosa dan bersalah menjepit seluruh pertimbangan yang sudah diambil. Akan tetapi ternyata engkau amat bijak. Dengan sebuah senyuman manis, kau mengajakku melangkahkan kaki kembali. Dengan segenap perasaan kagum yang mulai terbit, aku berusaha menjajari langkahmu. Setelah melewati Taman Makam Dokter Radjiman Wedyadiningrat, engkau – entah sengaja, entah tidak – memegang tanganku dan mengajakku menyeberang ke sebelah kanan jalan.

“Kemana kita?” tanyaku perlahan, tetapi mampu membuatmu tersipu dan segera melepaskan tanganku.

“Ke Beteng,”[2] jawabmu ringkas dan bersamaan dengan itu kita berbelok ke kanan lagi.

“Beteng?”

“Ya, Beteng Pendem.”

“Beteng Pendem?” Rasa penasaran yang melahirkan beberapa pertanyaan itu kau jawab dengan lugas. Beteng Pendem adalah sebutan masyarakat sekitar terhadap benteng VOC, yang dibangun sekitar tahun 1825-1830 atau lebih terangnya pada jaman perang Diponegoro. Dinamakan ‘Pendem’, karena letaknya dihalangi oleh gundukan tanah seperti bukit, sehingga tidak dapat terlihat langsung. Dulu di sekelilingnya ada parit yang ditujukan untuk menahankan serangan. Tetapi sekarang parit tersebut telah sejajar dengan dataran. Bangunan benteng ini tampak masih sangat kokoh. Hanya sayangnya, pada tembok-tembok Beteng Pendem banyak sekali ditumbuhi lumut. Sewajarnyalah, jika benteng ini mesti direnovasi juga, layaknya bangunan-bangunan lain yang punya sejarah.

“Mau kamu, kutunjukkan satu keistimewaan lagi?” tanyamu setelah kita cukup lama berputar-putar mengelilingi lorong demi lorong dan ruang demi ruang. Aku segera mengangguk. Dan kau mengajakku menyusuri jalanan yang di sebelah kanan-kirinya dapat terlihat dengan jelas tanaman padi yang telah menguning. Angin kencang yang datangnya tiba-tiba sanggup membujukku untuk merasakan suatu alam yang nyaman, tenteram, dan membahagiakan. Tanpa terasa kita sudah sampai di tempat yang kau tujukan untukku.

“Kita naik sampan,” ajakmu sambil menuntun tanganku. Sekali lagi aku mengangguk dan melangkah dengan sedikit rasa cemas. Engkau tersenyum melihat sikap yang demikian.

“Sungai apa ini?” tanyaku.

“Madiun. Sungai Madiun.”

“Kau bilang tadi ada yang istimewa,” kataku menuntut. Tawamu yang belum pernah terdengar segera saja berderai. Terasa begitu riang dan renyah. Barangkali kau geli melihat ketidaksabaranku atau jangan-jangan malah wajahku yang merah. Tak seberapa lama, sampan telah sampai ke tepi. Kita segera naik ke dataran yang lebih tinggi dan sesudah itu baru kusadari kebenaran kata-katamu. Kota kecil milikmu ternyata mempertemukan dua sungai besar yang tak akan pernah bertemu di manapun juga. Tampak bahwa air Bengawan Solo lebih berwarna coklat muda dibandingkan dengan Sungai Madiun yang menua dan ketika aku tanya mengapa, kau berkelakar, bahwa orang Solo adalah orang keraton, sedangkan orang Madiun itu hanya seperti kebanyakan orang biasa saja. Aku tersenyum mendengar jawaban anehmu, yang mungkin tidak serius.

“Kita ke Trinil,” ajakmu mengusik kesenyapan yang begitu saja datang menyelimuti kedua sungai, kau, dan aku.

“Kapan?” tanyaku dengan penuh antusias.

“Selesai Dzhuhur. Sekarang kita pulang dan kau mesti beristirahat dulu,” katamu memberi saran atau barangkali juga perintah lembut yang mesti dipatuhi. Kita naik sampan kembali. Naik sampan. Ah, aku jadi diingatkan pada keindahan lagu Perahu Kecil Berwarna Putih.[3] Beberapa kali mata kita saling menatap. Dan sekarang seolah dibangkitkan oleh sinar matamu, aku melangkahkan kaki dengan pelan-pelan menuju ke Air Terjun Abadi.[4] Mungkin sekali suara air terjun tersebut lebih mampu mencairkan kerinduan yang sedang kugenggam. Suatu kali jika kau datang berkunjung, akan kuajak kau membedah kecantikan Maribaya. Akan kubuat kau selalu terkenang padanya dan padaku.

Harus diakui, bahwa Trinil adalah tempat yang historikal. Di desa inilah pada tahun 1890 Eugene Dubois menemukan fosil Pithecanthropus Erectus yang tingginya 1,65 meter. Pithecanthropus Erectus ini dimasukkan ke dalam lapisan pleistosen tengah: suatu lapisan yang terdapat pada jaman batu dan, terutama sekali, pada masa Palaeolithikum.

Akan tetapi yang paling menarik dari semuanya itu adalah semakin jelasnya kepribadian dan sifat-sifatmu. Tidak sekelebat juga ada bayangan bahwa kau sebenarnya punya adik-adik asuh. Sungguh suatu sikap simpatik yang sangat tersendiri dari seorang dara sepertimu. Anak-anak kecil yang kaki telanjangnya bagaikan menari-nari di atas tanah becek itu, menatapmu dengan pandangan mata penuh rasa sayang. Bagi mereka engkau adalah seorang bidadari, sekaligus seorang ibu. Jika boleh dibandingkan, anak-anak Trinil ini lebih mencintai dirimu daripada segala sesuatu yang sudah mereka miliki. Bungkusan-bungkusan yang telah kau persiapkan dari rumah dan sempat memunculkan berbagai pertanyaan di benakku, kau berikan pada mereka. Bukan karena engkau, jika kemudian kurasakan hasrat untuk menjaga kehidupan mereka. Hasrat tersebut datang lantaran sinar mata anak-anak Trinil yang sepolos bulan.

Sekembalinya dari Trinil, malamnya, kita jalan-jalan di alun-alun kotamu. Kesenyapannya membuatku merasa ganjil. Di manapun alun-alun suatu kota selalu pasti meriah. Di lain pihak, kesenyapan itu memberikan satu keleluasan tersendiri. Kita bisa berbincang-bincang dengan sesukanya tanpa takut didengar orang lain.

Lagi-lagi kau memerangkapku dengan pembicaraanmu yang sarat oleh pemikiran-pemikiran yang radikal. Kau marah pada segala sesuatu yang bersifat hedonistik dan nepotistik. Boleh jadi juga, kau termasuk orang yang sedikit skeptis manakala mengungkapkan karakteristik manusia yang indefinitif. Atau seperti lazimnya orang, kau sedang mengalami evolusi jiwa. Ya, kau sedang berkembang menuju ke batin yang lebih mantap dan stabil. Sampai kemudian aku mengetahui, bahwa ibumu yang selalu kau kabarkan sangat menyayangimu telah dipanggil Tuhan tepat seminggu sebelum aku melihat-lihat keajaiban kota kecilmu. Apa yang mesti dikatakan mendengar berita duka yang sedang bersamamu?

Aku sama sekali tidak tahu. Tidak tahu apa yang sesungguhnya sekarang kau butuhkan. Tetapi aku amat bersyukur melihat jiwamu yang melesat jauh ke depan. Dengan kepergian ibumu, kau mencoba untuk lebih mengerti mengenai kehidupan ragawi, bahkan terhadap arti guguran daun. Pada kehidupanmu tergenggam kematian. Artinya, melalui hidup kau mencoba memahami kematian yang absolut akan datang. Engkau pun mulai sampai kepada penyabaran diri dari keinginan bermacam-macam. Satu sikap besar yang aku ketahui tapi belum kualami. Selain itu, kau juga lebih respek terhadap orang-orang yang melawan arus. Mulai dari Socrates[5] pada jaman Yunani, tokoh-tokoh renaissance, sampai kepada Imre Nagy[6], Milovan Djilas[7], Pasternak[8], Sakharov[9], dan Solzhenitsyn[10] di Eropa Timur mampu kau telaah.

“Kapan kamu pulang?”

“Lusa.”

“Lusa?” tanyamu lagi penuh keragu-raguan.

“Ya, pagi-pagi sekali,” kataku dan kemudian kujelaskan bahwa aku akan mendapat pembekalan Kuliah Kerja Nyata di fakultas dan universitas selama tiga hari. Kau pun tercenung. Barangkali kau akan merasa sangat kehilangan. Lain kali, aku akan datang kepadamu selama yang kamu mau. Akan tetapi yang sekejap itu nyata-nyata mendatangkan seribu kenangan. Malam semakin dekat menuju ke pertengahan. Kita pulang tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Entah perasaan apa yang datang ini. Kesedihan, kedukaan, ataukah rasa takut kehilangan. Yang jelas, engkau telah mampu membangkitkan satu perasaan asing yang berwarna-warna. Mungkin itu terlalu cepat, tetapi tidak, waktu yang baru sehari kita lampaui telah memberikan sesuatu yang indah dan selamanya demikian.

Besoknya, sesuai dengan janji di alun-alun, kita pergi ke Tawangmangu. Udara pagi yang bersih mampu membuat hati menjadi riang. Di desa Banjarejo kau mengajakku turun dari bis yang kita tumpangi. Perasaan heran yang tiba-tiba menyergap, bermain-main di dalam hati. Ternyata kau mengajakku menikmati monumen Suryo dan hutan jati. Seperti biasanya, kau yang bagaikan seorang guide, menceritakan latarnya. Sesudah itu perjalanan diteruskan. Jalan yang berbelok-belok akhirnya menyampaikan kita ke tempat impian. Engkau, aku, dan Tawangmangu ditambah dengan Air Terjun Seribu segera berpadu dalam kenangan yang terkekal. Inilah yang paling berkesan selama hampir tiga tahun kita berdua.

Tak ada satu titik pun dari keindahan Tawangmangu ditinggalkan tanpa sentuhan keakraban. Sepasang matamu yang berpendar-pendar mampu membuat semua batang pohon, setiap ekor burung jadi makin gembira, bahkan sinar matari pun berlebihan gemerlapnya. Engkaulah segala sesuatu yang mempunyai ketakjuban. Bersamamu, kupastikan, sanubari ini tertambat begitu jauh. Akan tetapi, entah jika engkau bersamaku. Inilah yang mendatangkan keragu-raguan sampai sekarang dan ini juga yang menyebabkan aku seperti bermain dengan perasaan sendiri. Kepergian ibumu, kunjungan, dan kepulanganku, yang kutakutkan, hanya menimbulkan pengertianmu yang semakin dalam terhadap hidup tanpa pernah menanggapi getaran yang kualami. Pertimbangan yang demikian, menyebabkan aku tak mengatakan apa-apa juga kepadamu.

Sampai kita meninggalkan Tawangmangu dan udara dingin pada sore yang diliputi mendung hujan. Begitu pula ketika aku harus meninggalkan kota kecil milikmu, terutama kau sendiri. Tak ada satu kata pun yang mampu kuucapkan. Bahkan aku sama sekali tak mampu membalikkan badan, mengatakan selamat tinggal, dan melambaikan tangan. Pada saat itu, ada rasa takut yang luar biasa, bahwa sinar matamu tidak menunjukkan kehilangan sesuatu. Dan aku sendiri tak ingin memperlihatkan kepadamu, bahwa aku sedang menghadapi semua rasa kehilangan yang pasti akan menimbulkan kerinduan yang tak akan pernah habis.

Dan sekarang aku sendiri. Berdiri memandang Air Terjun Abadi, memandang langit di atas Maribaya, memandang pohon pinus, kemudian memandang wajahku sendiri di atas permukaan air. Syal merah jinggamu seolah-olah berkata, bahwa engkau sebenarnya dekat padaku. Beberapa detik Ho Chong Wing melalui harmonika peraknya menggamparku dengan Cinta Tanpa Akhir.[11] Kelembutan maknanya menyimpulkan bahwa sebenarnya aku juga demikian padamu. Cintaku demikian padamu. Dengan kesadaran dan kekuatan batin yang penuh, akhirnya kuputuskan untuk menjumpaimu sekali lagi. Biarlah engkau mengetahui keajaiban sepasang mataku. Dan besok, yang tak terlalu lama dari hari ini, aku akan datang kepadamu selama yang aku mau dan selama yang engkau mau. (*)

 

[1] Potpouri buat Rebi Astuti

[2] Fonetik masyarakat sekitar untuk kata Benteng

[3] Little White Boat, di dalam kumpulan lagu Asian Delights oleh Ho Chong Wing and His Silver Harmonica

[4] Saya menyebut Air Terjun Maribaya secara demikian

[5] Socrates (470 SM-399 SM) merupakan filsuf dari Athena, Yunani

[6] Imre Nagy (7 Juni 1896-16 Juni 1958) merupakan politikus dan perdana menteri Hungaria

[7] Milovan Djilas lahir tahun 1911 di Montenegro, Yugoslavia dan meninggal tahun 1997

[8] Boris Pasternak (10/29 Pebruari 1890-30 Mei 1930) merupakan penyair Rusia, novelnya yang ternama adalah Doktor Zhivago

[9] Andrei Sakharov (21 Mei 1921-14 Desember 1989) merupakan fisikawan nuklir Uni Soviet. Tahun 1975 memperoleh Nobel Perdamaian untuk gerakan hak azasi manusia

[10] Alexander Solzhenitsyn (11 Desember 1918-3 Agustus 2008) merupakan penulis Rusia yang pada tahun 1970 mendapatkan hadiah Nobel dalam Kesusastraan.

[11] Love without End

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Kamera Tua

mm

Published

on

lelaki itu melepaskan fantasinya. Ia mulai menelepon seseorang disana, yang ia catat sendiri. Ya, seorang pelacur cantik yang ia idamkan. Ia memintanya untuk datang ke rumah.

 Aflaha Rizal *)


Desas-desus terdengar dari ruang dapur lelaki itu, yang masih amat muda, dan belum menikah. Tak perlu kau tahu namanya, hanya yang perlu kau tahu, ia adalah lelaki muda yang sedang mencuci piring, dengan hidupnya yang belum menikah. Lelaki itu selalu berkata, “Menikah itu sebenarnya seperti pembayaran untuk memuaskan nafsu birahi semata kepada perempuan. Serupa pembayaran uang untuk menyewa pelacur. Tetapi ditutupi lewat perayaan kebahagiaan dari kedua mempelai, dua antar mertua, dan undangan tamu yang berbahagia.” Apa bedanya? Ya, hanya pesta kebahagiaan selepas membayar uang kepada pelacur lewat pernikahan. Perkataan itu pernah ia lontarkan kepada seorang kawannya, yang bekerja sebagai penulis cerita pendek dan kini sudah tidak menulis lagi. Lantaran tidak ada ide yang baru untuk menulis.

Hidupnya kini menjadi seorang petani, juga membangun perpustakaan tua yang ada di desa Kepala Tiga. Desa yang tidak pernah ditemukan di peta negara, dan tentunya, tak pernah dipedulikan oleh seorang presiden yang duduk di istana, beserta jajaran dan juga menteri yang hidup bermewahan. Mencuci piring, bagi lelaki itu, katanya, seperti sedang membersihkan sebuah dosa manusia selama hidup. Dan kau mendengarnya itu bagai tubuhnya yang ganjil. Ya, lelaki muda itu memang amat ganjil. Dengan kepalanya, hidupnya, juga waktu-waktunya.

Namun ia masih bekerja di sebuah instansi, tetapi ia merasa muak dengan pekerjaan itu. Tetapi, hidup perlu makan dan perlu pakaian. Meski kau tahu, pekerjaan dimana-mana, akan selalu timbul muak dan kebosanan dari sebuah keharusan dan kewajiban. Apakah tidak patut bila bermasalan di saat memiliki istri dan anak yang mesti dihidupi? Kau tentu akan tetap melakukannya, di saat kau muak dan bosan dalam hidup ini.

Piring-piring yang menumpuk, kini semua bersih dari kotoran dosa yang berasal dari makanan. Tempat cucian piring telah bersih. Kini, lelaki muda itu menuju ruang tamu dan memutar piringan hitam. Sebuah lagu romantis yang mengingatkan dirinya pada mantan kekasihnya, yang pernah ia minta untuk tidur bersama. Kekasihnya itu menolak, dengan alasan, “Aku tak mau diriku direnggut kau sebelum menikahiku.” Sebenarnya, kau melihat wajah lelaki itu yang tertawa ketika mengingat masa lalunya itu. Perempuan itu, yang diberi nama Tenun, memiliki hasrat seksual yang harus dibuangnya, demi untuk menjaganya sebelum menikah. Apapun perihal cinta maupun percintaan dari seorang kekasih, hasrat seksual atau berhubungan badan tak bisa dilepas. Dan akan tetap dilakukannya.

“Aku takut bila kita dipergok warga,” ucap Tenun saat itu.

“Kau tahu, warga sini seperti menjaga kesucian mereka dan moral mereka. Padahal, mereka juga sebenarnya tidak bermoral. Aku melihat mereka menebar fitnah kepada warga lain, dengan alasan yang tidak kuketahui. Dan mereka selalu menyebut diri mereka bermoral.”

“Kau selalu menceritakan ini dengan persepsimu. Kau tak harus menilai mereka bahwa apa yang dilakukan oleh mereka adalah bejat.”

“Tetapi, manusia memang memiliki bejatnya bukan?” tanya lelaki itu, yang kau dengar bagai manusia yang sama sekali tidak ada pegangan aturan dan juga agama.

Lelaki muda itu sebenarnya beragama, ia selau menunaikan agamanya. Tetapi, orang-orang selalu meragukan agama lelaki muda itu sendiri. Namun kau tak perlu melihat apa agama lelaki itu, selain punya cinta dan hasrat untuk bertahan hidup. Tentu, sebagian masa lalunya yang pahit, terekam dalam kamera tua-nya. Ia merekam secara sembunyi perihal ayahnya yang memukuli ibunya di ruang tamu, saat lelaki muda itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Kecakapan dalam bermain kamera yang diajarkan oleh ibunya sudah tertanam, dan kelak pada cita-citanya, ia ingin menjadi seorang kameramen, tetapi tidak tercapai.

Pekerjaan di instansi ini berkat dari ayahnya yang punya kenalan. Dengan perkataan, “Anak muda ini harus punya masa depan yang baik, biar tidak susah mencari uang. Apalagi, pensiun masa tua-nya juga menjamin.” Dengan berat hati, lelaki muda itu menerimanya, melepas cita-citanya sebagai kameramen. Suatu ketika, saat masih di ruang tamu, kau mendengar lelaki muda itu mengucap kata, “Bajingan!” seolah kata-kata itu ia maki kepada ayahnya yang kolot dan tidak punya pikiran terbuka. Sepanjang kuliah, ia tentu dibatasi pertemanannya. Selain harus belajar, lulus cepat, dan dapat pekerjaan serta mencari uang yang banyak. “Jangan lah jadi mahasiswa aktivis yang tiada gunanya itu. Memaki pemerintah karena tidak adil, padahal mereka juga menikmati hasil yang dibangun pemerintah. Mereka itu sama kayak komunis tahu! Liberal, tidak ada pegangan aturan serta agama.” Ucap ayahnya suatu ketika, yang kali ini, kau mendengar bahwa lelaki itu dendam akan masa lalunya.

“Apakah menjadi aktivis itu salah?” lelaki muda itu mengucap pertanyaan di ruang tamu, sendirian, mengenai masa lalunya yang kau dengar. Ya, saat lelaki muda itu melontarkan pertanyaan kepada ayahnya yang sedang minum kopi, ayahnya menjawab. “Salah besar! Mengungkapkan pendapat itu boleh, tapi ada jelasnya gitu loh. Bukan hanya menebar, ‘Wah pemerintah ini tidak adil’, ‘Kasus ini harus dituntaskan’. Padahal, salah mereka juga yang menolak pembangunan. Dan itu baik untuk kesejahteraan mereka.”

Saat ini, ketika lelaki muda itu sudah bekerja, ia hanya menertawakan ayahnya yang sama sekali bodoh. Padahal, kau tahu, lelaki muda itu punya ayah yang berpendidikan hingga gelar doktor. Tetapi masalah nalar logika dan kritis, sama sekali tidak ada. Selain kritis yang dibangun oleh orang-orang yang meremehkan kaum orang bawah yang menentang itu.

Lelaki muda itu kini mulai merasakan hasrat ingin bercinta. Tentu kau melihat gerakannya yang kini menuju kelaminnya sendiri, yang perlahan-lahan berdiri. “Mantan kekasihku yang kini telah menikah, kini juga merasakan rasanya bercinta. Tetapi menutupi dirinya lewat pernikahan.” Ia naik turunkan kelaminnya itu, dengan kau yang melihat matanya yang memejam, dengan suara musik dari piringan hitam yang perlahan membangkitkan rasa birahinya.

“Ah!” lelaki itu melepaskan fantasinya. Ia mulai menelepon seseorang disana, yang ia catat sendiri. Ya, seorang pelacur cantik yang ia idamkan. Ia memintanya untuk datang ke rumah.

__________

 

Kamera tua itu, tentu, berisi kekerasan ayahnya kepada ibunya. Tidak ada yang lain. Ia ingin menjual kamera tua itu, kepada orang-orang yang tahu akan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kepada kawannya yang seorang penulis cerita pendek, yang bernama Garcia, yang seolah-olah kau teringat pengarang yang bernama Gabriel Garcia Marquez itu, untuk menawarkan kamera tua untuk dijual lewat tulisannya sebagai promosi. Kawannya yang datang ke rumah itu berkata, “Aku tidak bisa menulis untuk membuat orang lain tertarik pada barang yang kau jual, selain menulis cerita pendek.” Lelaki muda itu kau dengar tertawa keras, bahkan kepalanya menghadap wajah kawannnya itu.

“Kau tolol!” umpatnya. “Hidupmu lebih parah dari aku. Kau hidup berkubang dengan fantasi yang tolol. Apakah kau tak pernah merasakan realitas yang membuatmu tahu, seperti, bercinta salah satunya?”

“Aku sudah punya istri, dan sudah merasakannya. Memangnya engkau yang tak menikah?”

“Hahahhahaha.” Lelaki muda itu tertawa. “Kukira kau belum mencoba. Baiklah, bisakah kau kerja keras dulu untuk menjual barang ini?”

“Memangnya berisi apa?” tentu, Garcia yang kau dengar pertanyaannya itu, tidak tahu apa isinya.

“Tentang ayahku, yang selalu memukul ibuku.”

“Apa?” Garcia seolah tercengang akan pernyataan kawan anehnya itu.

“Ya, ayahku bejat tahu! Ia menyiksa ibuku hingga mati. Dan kini, ayahku masih hidup. Aku mau setelah ini, kameraku yang terjual dengan rekaman yang tersembunyi, bisa menimbulkan keadilan dan menghukum kejahatan ayahku.”

“Apakah selama ini tak ada kepolisian yang tahu?”

Lelaki muda itu kau dengar berteriak, bahkan wajahnya yang berubah seperti mengejek seseorang. Ayahnya juga dekat dengan jenderal kepolisian, sudah pasti kasus ini telah ditutup dengan uang tunai besar yang diberikan kepadanya, agar tidak terkuak kasus ini. “Kau tahu, uang itu mempermudah segalanya. Aku muak dengan uang. Uang bisa membuat seseorang tahu keburuan dan bejatnya mereka. Bahkan juga seorang perempuan sekalipun.”

“Bukankah uang memang kebutuhan manusia dan juga perempuan, apalagi dalam hubungan asmara?”

“Memang. Aku tahu, tetapi, banyak rasa cinta yang kemudian tak nyata, selain uang yang berbicara.”

Di dunia ini, kau pun tahu, dengan uang adalah barang yang bisa membuat segalanya mudah. Kau juga muak dengan uang, tetapi kau selalu melakukannya untuk hidup. Bahkan kekasihmu sekalipun, yang ditinggalkan karena alasan uangmu sudah tidak ada di saat kau susah. Padahal, kekasihmu pernah berkata, ‘Aku akan mencintai kau dalam suka dan duka, bahkan badai yang menerjang’. Garcia yang memandang wajah kawannya itu bertanya lagi, “Apa langkah untukmu selanjutnya?” tentu, kau mendengar lelaki muda itu menjanjikan sebagian uang dari kamera yang terjual.

“Dan uang sebagian itu, bisa kau beli buku-buku baru. Atau bibit baru untuk menanam padimu.” Ucap lelaki muda.

Maka, lelaki muda itu sepakat kepada Garcia untuk menulis barang promosi perihal kamera tua, yang dibutuhkan seorang pakar kasus kriminal yang harus melaporkan kejadian yang ditutupi ayahnya selama beberapa tahun.

___________

 

“Kamera ini seperti punya kamu dulu,” ucap ayahnya yang sedang membaca koran, tentu, promosi barang yang dijual dengan sebuah tulisan milik kawannya itu terbit di koran. Lelaki muda itu berancang-ancang mencari argumen untuk membalas kepada ayahnya, bila ia tahu, bahwa kamera tua milik lelaki muda itulah yang ia jual. “Ah, kemana, ya, kamera itu?”

“Tidak tahu. Rusak sepertinya, Yah,” ucap lelaki muda itu.

“Masa rusak?”

“Ya, namanya barang. Seperti juga kematian. Manusia akan mati, pun barang begitu. Mau usaha sekeras apapun, kalau sudah berakhir, ya akan berakhir.”

“Bijak juga kata-katamu, tak sia-sia ayah menyekolahkan kamu. Itu namanya anak pemuda negara yang membangun bangsa. Bukan seperti aktivis yang menentang pemerintah, yang mirip komunis itu.”

Dalam hati lelaki muda itu, kau dengar seruan tawa yang paling keras untuk menghina argumen ayahnya yang semakin hari semakin tolol. Jika kamera itu terjual hanya khusus bagi orang-orang kriminolog dan juga pakar kasus pembunuhan, maka ayahnya suatu hari akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Dalam diri lelaki itu, ada dendam kesumat bagai binatang yang lepas dari sangkar, yang dikurung sang tuan agar tidak kabur dan mengamuk. Lelaki muda itu duduk manis, sambil mendengarkan ayahnya bercerita mengenai kekasih barunya yang paling cantik. Ia perlihatkan fotonya itu kepada lelaki muda itu, dan juga kau lihat wajah perempuan yang cantik itu.

“Wah, montok.” Kata lelaki muda itu.

“Siapa dulu? Ayah!” ucapnya bagai membanggakan dirinya.

Namun, sebentar lagi, dendam itu akan tiba. Ayahnya akan mati di dalam penjara, seperti yang diinginkan lelaki muda itu.

__________

 

Kamera tua itu kemudian terjual, lima hari kemudian setelah promosi dengan tulisan yang ciamik milik kawannya terbit di koran. Para kriminolog dan pakar permasalahan kasus pembunuhan saling berlomba-lomba menawarkan harga lewat kawannya itu. Disitu tertulis di koran, ‘Di kamera ini, ada jejak rekaman manusia biadab yang menyiksa istrinya sendiri, yang selama ini ditutup-tutupi dan tidak terungkap’. Sayangnya, ayah lelaki muda itu, tolol dan tidak tahu. Selain hanya menatap kamera tua yang barangkali, begitu ia kenal.

Barang itu jatuh kepada seorang kriminolog yang masih satu pekerjaan di kantor kepolisian. Uang tunai itu diberikan kepada kawannya lalu mulai dibagi-bagi dari lelaki muda itu. Tentu, uang itu banyak, barangkali bisa membeli mobil atau rumah mewah di kota. Dan uang itu, ia pakai dengan kawannya untuk bersenang-senang di dalam kamarnya. Membelanjakan sebagian uang untuk membeli makanan ringan dan minuman alkohol dingin di minimarket. Lalu menonton film di laptop dengan remang lampu kamar yang menyala. Hidup sesederhana itu, selepas dendam untuk ayahnya sendiri.

            Maka, ayahnya itu kini tertangkap, saat sedang berduaan di dalam kamar hotel bersama kekasih cantiknya. Tentu, mereka berdua sedang telanjang bulat dan berhubungan badan, tetapi kepergok oleh kepolisian untuk menangkapnya atas kasus penyiksaan terhadap istrinya yang membuatnya mati. Untuk membuatnya malu, sang kepolisian membopong ayahnya yang masih dalam keadaan telanjang bulat. Hingga kelamin itu tertampak dan dilihat oleh pengunjung hotel. Para perempuan yang ada di hotel, terutama di lobi, menutup matanya. Kekasihnya itu kini sendirian di kamar, ia tidak tahu dan tiba-tiba, kekasihnya ditangkap.

Untuk perihal perempuan cantik itu, tampaknya kekagetan itu hanya selintas. Ia kembali tenang, dengan memakai pakaiannya kembali dan menikmati barang semalam di hotel mewah eksekutif ini, sekali lagi.

__________

 

“Bajingan kamu!” teriak ayah lelaki muda itu, dan kau mendengarnya bagai kemarahan kesumat bercampur kesetanan.

“Kau yang bajingan!” balas anaknya.

“Akan kupastikan, kau dipecat dari kantor instansi kawan ayah!”

“Silahkan, tak mengapa. Aku muak dengan pekerjaan dan hidupku yang dikendalikan ayah. Sekarang, mampus lah sebagai pengkhianat di penjara. Ini hutang yang telah lunas atas kematian ibuku.”

Ayahnya memukul besi penjara. Tak terima akan perlakuan anaknya. Dan lelaki muda yang masih kau dengar itu, tertawa begitu keras. Telah puas membuat dendam itu telah selesai. Dan ayahnya menderita di dalam penjara. Semoga cepat mati dan berada di neraka, tentu, Tuhan tak sudi menerima surga untukmu ayah. Hanya ibu yang pantas, yang dimatikan atas siksaanmu. Setelah berucap, lelaki muda itu pergi. Ayahnya berteriak dengan tangisan yang merongrong. Polisi yang berjaga, memukul penjara untuk tenang.

Lelaki muda itu pulang, melangkah pelan di tengah kota. Tentu dengan mobil peninggalan ayahnya yang kini sekarang miliknya. Lalu menelepon nomor kontak yang tersimpan disana, menunggu panggilan tersambung. Terangkat kemudian dari seorang perempuan, yang kau kenal suaranya itu, bermanja-manja bahkan serak-serak yang dapat membuat birahi seseorang menaik seketika. “Kamu dimana? Jadi hari ini?” bertanya seorang perempuan itu.

“Jadi dong, sayang,” lelaki muda itu tampak senang. Sebab telah puas ia sekarang.

“Di tempat biasa, ya,” ucap seorang perempuan.

Mobil melintasi kendaraan yang berjalan pelan, mengitari kota dengan gedung-gedung tinggi. Orang-orang di dalam gedung juga serupa, banyak pengkhianat dan juga bangsatnya. Lelaki muda itu juga telah muak tinggal di kota, ia ikut dengan kawannya yang menjadi petani, sekaligus membuat tempat lumbung padi agar padi tetap berkembang dan terjual banyak. Lelaki muda itu meyakinkan dirinya, bahwa menjadi petani ia bisa hidup dan kaya.

Perempuan yang sedang menunggu itu, tentu, adalah bekas kekasih ayahnya sendiri, yang kau temukan ketika ayahnya sedang telanjang bulat bersamanya di kamar hotel saat penangkapan itu terjadi. (*)

*) AFLAHA RIZAL, Penulis. Karya yang telah diterbitkan berupa kumpulan cerpen secara indie: Cuaca Sama(2016), Cuaca Sama II(2017). Puisi yang lain, masuk pada antologi, media online, dan pernah terbit di Radar Selatan(2019), dan Koran Tempo(2019). Cerpen terbarunya kini sedang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris tahun ini, oleh Inter Sastra. Juga pernah diundang di Festival Sastra Bengkulu 2019 sebagai penulis terbaik.

 

Continue Reading

Cerpen

Petualangan Singkat Tokoh Aneh yang Keluar dari Novel Roberto Bolaño

mm

Published

on

The Athenaeum - Surrealist Composition/ Getty Images

Dia meringis. Seperti bagal. Pistolnya kembali disiapkan… Aku bagai menghadapi orang yang tak sebenar-benarnya ada namun terasa kehadirannya. Bukan hantu, melainkan jiwa berparadoks. Entah, memikirkan istilah yang kutempelkan pada sosok ini membuat kepalaku pusing sendiri. Aku tetap membujuknya dengan kalimat-kalimat penegasan yang tak kunjung membuahkan hasil.

 

Oleh: Bagus Dwi Hananto *)

Pancho Monje tiba-tiba menodongkan pistolnya ke mukaku. Anak Maria Exposito kesekian itu tak salah lagi adalah karakter novel Roberto Bolaño yang tadi kubaca. Yang langsung kupikirkan saat dia muncul di hadapanku adalah perasaannya atas kutukan nama yang dia sandang. Kalau dia tahu dan mampu membalik waktu, pasti dia akan membunuh seorang pemabuk yang di tahun 1880 bernyanyi dengan nenek buyutnya di atas kuda pada saat hari perayaan Santo Dismas.

Ini bukan mimpi, kan? Sebab aku benar-benar yakin orang di hadapanku ini memang Francisco Monje Exposito. Badan kurus dengan celana drill kebesaran yang dibalut sabuk kulit hitam dan tatapan kosong yang dia layangkan padaku membuatku takut dan takjub. Anak hasil dari tiga orang mahasiswa kiri yang tak benar-benar meneriakkan revolusi agraria, menyandang takdir yang tak dinyana: Muncul dari sebuah buku. Hidup.

Untuk menyelamatkan diriku sendiri dari semua hal yang rasanya tak betul-betul nyata ini, aku menggunakan kalimat-kalimat afirmatif padanya.

“Maaf aku masih tidur,” desisku.

Tapi dia sepertinya tak mengerti apa yang kukatakan. Pancho Monje masih menodongkan pistol. Kali ini moncong senjatanya menekan pipi kiriku.

Selama tiga puluh tahun aku tinggal di rumah ini belum pernah kulihat demit paling halus maupun kasar sekalipun. Jika pun sosok yang muncul di depanku ini adalah setan, tentunya aku tak bisa menerima ini bulat-bulat. Aku tetap bertanya-tanya dalam hati meski sia-sia. Dia benar-benar muncul dari buku.

Senapan Smith & Wesson itu terdengar enak saat diucap berulang-ulang. Bolaño bahkan memberi detail tentang senjata itu dalam narasi di novelnya. Aku pun menggeleng, bukan saatnya terpana melainkan aku harus membujuknya untuk tidak menembakkan peluru melubangi pipiku.

“Dengarlah, sobat. Kau baru bangun tidur, sekarang kau bisa kembali ke buku ini!”

Pancho masih membisu.

Tiba-tiba terasa kuat aku tahu semua hal yang dia pikir meski bibirnya tak berucap apa pun. Pancho sudah lama kubayangkan sebab seminggu berlalu aku membaca dan menghayati novel itu.

“Musuhmu sudah mati, sedang dua kawanmu tak perlu lagi kautemui. Ini tempat yang berbeda dengan yang selama ini kau datangi. Tak ada bar yang bagus dan tak ada perampok yang jago.”

Pancho Monje tampak kebingungan dan aku rasa dia mengerti apa yang kukatakan selaras dengan apa yang dia pikir. Dikira dua kawan dungunya yang lari lintang pukang  setelah ditantang dua jagoan yang telah dia habisi, ada dalam dimensi hidup ini, masa ini, dan di waktu kini. Aku terus meyakinkan dirinya bahwa dia salah masuk panggung. Namun Pancho Monje tetap ngotot. Matanya yang bengis bagiku tak cocok dengan tubuh kurusnya. Meski begitu dari tadi dia tak hendak menyarungkan kembali pistol itu.

Untuk mengulur-ulur waktu tanpa tujuan berarti, kukatakan padanya bahwa ini Jakarta, bukan Sonora. Keduanya tempat yang keras memang. Namun di sini orang-orang menjual segala hal berbau suci dan mengeramatkan badut, sementara di sana orang asyik minum mescal. Dia tersenyum tapi tak ada niat untuk menyarungkan lagi pistol yang rasanya kian menekan pipiku ini. Kalimat moralis yang kuucapkan barangkali sama seperti ceramah membosankan baginya.

Aku bagai menghadapi orang yang tak sebenar-benarnya ada namun terasa kehadirannya. Bukan hantu, melainkan jiwa berparadoks. Entah, memikirkan istilah yang kutempelkan pada sosok ini membuat kepalaku pusing sendiri. Aku tetap membujuknya dengan kalimat-kalimat penegasan yang tak kunjung membuahkan hasil.

“Hei, sobat, pacarmu tak ada di sini. Begitu pula mobil yang kaubanggakan.”

Dalam waktu yang terus berjalan ini, aku kembali membayangkan mobil Pancho Monje diparkir di halaman depan apartemen Colonia El Milagro, Santa Teresa. Ford Mustang yang selalu dia banggakan dan setelah jadi polisi pada usia muda dia pamerkan mobil itu ke mana-mana. Tapi Pancho tetap tak menarik pistol di hadapanku ini. Niatku ingin melucu dan mengingatkan dia pada harta-harta yang ditinggalkannya di dalam buku tak menggerakkan dirinya barang sesenti.

Aku masih mengangkat tangan dan suhu udara mulai dingin, langit tampak mendung kelam, aku mesti mengambil jemuranku. Kukatakan padanya ada hal penting yang harus kulakukan. Aku menjanjikan pada Pancho Monje dia bisa menodongkan pistolnya lagi usai aku mengangkat jemuran. Aku tak ingin mengenakan sempak yang sama dua hari berturut-turut. Setidaknya itikad menjemur celana dalamku ini mesti dia hargai walau aku tak mengatakan itu semua.

Anehnya dia mau menurutiku. Aku senang dia pengertian pada akhirnya.

Satu per satu aku angkat jemuran. Kehidupan selibat yang telah bertahan empat tahun ini membuatku jadi malas mencuci baju. Dulu kalau ada pembantu segalanya mudah. Kini aku mesti menghemat uang. Pekerja grafis serabutan sepertiku hanya mampu menghibur diri dengan buku. Dan kali ini ilusi berhasil menjamah diriku dan jadi kenyataan. Usai mengangkat seluruh jemuran, aku kembali duduk di kursi depan desk dan menawarkan lagi pipi kiriku untuk Pancho Monje todong.

Dia meringis. Seperti bagal. Pistolnya kembali disiapkan.

Tapi semenit kemudian segalanya berubah. Perut Pancho Monje berbunyi. Dia tak lagi menodongkan pistol. Lapar telah mengganti perannya jadi anak baik bak anjing peliharaan. Dia menyudahi drama dungu yang membuatku bisa bernapas panjang. Aku pun lega selega-leganya dan tertawa tanpa kusadari sebelumnya. Namun dia tak tersinggung.

Dia menunjuk Impala putih yang terparkir di garasi rumah. Itu mobil almarhum bapakku. Dan sepeninggal bapak, aku tak betul-betul telaten merawat mobil tua itu.

“Pizza!” serunya. Aku terkejut. Bisa omong pula dia akhirnya.

Sementara aku memanaskan mesin dan mengeluarkan mobil tua itu dengan susah payah, Pancho Monje duduk di beranda, nikmat merokok. Lalu kami berangkat.

Pancho Monje membuka jendela mobil dan menjulurkan kepalanya keluar. Sepanjang jalan orang-orang menahan tawa karena melihat topi lebar yang sedari tadi dikenakan Pancho Monje. Anehnya aku baru sadar. Mungkin saking takutnya diriku hingga tak memerhatikan detail yang bertengger dekat di hadapanku selama satu setengah jam kami bercakap-cakap walau cuma satu arah.

Kami bermobil selama lima belas menit. Pancho Monje tersenyum-senyum dan terus menerus menepuk bahuku. Aku senang dia senang. Begitu sampai di restoran pizza, dia bergegas masuk tanpa menunjukkan tanda-tanda keheranan seperti saat tadi dirinya tiba-tiba muncul di hadapanku.

Usai memesan empat paket besar pizza dan membuat dompetku bobol seketika, kami pulang dan hujan pertama sudah terkumpul di bubungan rumah dan jatuh dengan intensitas yang deras saat mobil mulai memasuki garasi. Pancho tampak senang akan menyantap pizza dalam keadaan cuaca yang sedingin ini. Dia keluar terlalu semangat dan tak bisa menjaga keseimbangan saat sepatu kulitnya menyentuh lantai licin karena basah. Pancho Monje terpeleset dan tak pernah sadar untuk selamanya. Ingatanku tentang dia setelah itu adalah betapa maut tak pernah tebang pilih sasaran.

Kemudian segalanya jadi seperti mimpi. Aku kembali membaca novel itu dan pada mulanya Pancho muncul dengan pistol siap ditodongkan dan aku tertidur lagi. Kisah novel itu kian membekas di otakku, bak kabut tebal menggumpal dan tak dapat aku gusah. Maka sebelum ini semua kulupakan, aku pun menulis cerita pertama sebagai seorang pembaca yang mengalami petualangan aneh. Sebuah cerita penuh basa-basi dengan kalimat pembuka begini: Pancho Monje tiba-tiba menodongkan pistolnya ke mukaku….

 *) Bagus Dwi Hananto, lahir di Kudus, 31 Agustus 1992. Menulis cerpen dan novel.

 

 

Continue Reading

Cerpen

Api Diana

mm

Published

on

Aku ingin bercinta sampai mati, tetapi acara bedah buku itu sudah berakhir. Diana dan aku harus bergegas, dan kepada tuan rumah yang juga sekaligus pembicara utama di bedah buku kali ini, kukatakan dengan wajah tanpa dosa: “Sering-seringlah menerbitkan karya dan undang aku seperti malam ini.”

Oleh Ken Hanggara *)

Aku hanya bercanda. Penulis yang juga sahabatku itu pacar Diana, dan aku bukan jenis pemain yang suka menantang bahaya. Berhubungan intim dengan pacar sahabatmu pada waktu bersamaan, di bangunan yang seatap dengan suatu acara penting yang mana sahabatmu itu menjadi rajanya, adalah kekurang-ajaran yang pantas mendapat ganjaran. Aku tidak berharap ganjaran berat kelak menimpaku.

Orang bilang aku sinting, tetapi Diana diam-diam menggilai kesintinganku. Sudah berkali-kali kumohon kepadanya agar berhenti merayuku dan berhenti memesan kamar hotel diam-diam untuk kami berdua.

Diana bilang, “Dia tidak seistimewa kamu.”

Pertama kali bertemu Diana, kukira gadis ini bahagia. Sahabatku pengarang yang sukses dengan buku-buku fiksi yang luar biasa. Dia layak mendapat penghargaan dan uang dan ketenaran. Dia juga pantas menggaet perempuan seindah Diana, dan keduanya terlihat bahagia dengan semua yang mereka miliki.

Aku yang bukan siapa-siapa menyadari itu.

Pada satu kesempatan aku turut datang merayakan kemenangan sahabatku di jagat literasi tanah air. Dia memang tidak pernah melupakan keberadaanku yang dulu sering membantu ketika sedang kesulitan. Aku dulu beruntung dengan bisnis rumah makanku, dan sahabatku mendapat manfaat dari bisnis itu sebelum suatu telepon datang untuknya, mengabarkan jika karyanya yang tempo hari dikirim ke sebuah penerbit diterima untuk diterbitkan. Sejak itu sahabatku bukan lagi penulis muda yang miskin.

Roda berputar. Akulah yang kemudian sering kena masalah. Bisnisku naik-turun dan lama-lama bangkrut. Utang menumpuk sampai kujual beberapa aset, dan kini yang tersisa hanya rumah kecil dan pekerjaan yang tak kuinginkan. Aku tidak perlu menyebut pekerjaan itu. Aku malu. Jelas aku tak seberuntung sahabatku.

Dalam undangan-undangan bedah buku atau sekadar bincang sastra yang diadakan sahabatku, atau di mana dia menjadi narasumbernya, aku selalu melihat sosok lain di panggungnya. Aku melihat perwujudan manusia sukses dengan masa depan cerah. Jauh berbeda dariku yang merana dengan pakaian yang sering kali sengaja tak kucuci sampai seminggu lebih demi menghemat deterjen.

Pertemuanku dengan Diana dimulai di salah satu pesta, dan itu terjadi secara tidak sengaja. Diana tidak benar-benar lebur ke acara-acara yang menjadikan pacarnya raja dalam semalam. Itu karena dia sibuk mengurus bisnisnya dan dia juga masih kuliah. Ketika Diana benar-benar ikut dan aku juga kebetulan di sana, sahabatku mengenalkan gadis itu sebagai masa depan keduanya.

“Diana masa depan keduaku setelah semua yang kucapai hari ini,” katanya waktu itu.

Aku ingat kalimat tersebut. Suatu kalimat yang seorang sahabat dari masa kecil katakan, di acara yang membawa nama besarnya, sementara tidak jauh dari kami berdiri perempuan anggun yang mirip sebagai mimpi di siang bolong. Aku benar-benar merasa ditarik ke alam mimpi, tetapi tidak diizinkan masuk, sebab tiket yang disediakan untuk istana masa depan hanya tersedia untuk sahabatku dan gadis bernama Diana itu.

Aku tidak berpikir ingin merebut Diana atau apa. Sejak awal pikiranku cuma satu: betapa beruntung sahabatku. Kurasa dia layak mendapat semuanya. Tapi, Diana datang padaku suatu sore. Dia bilang, dia bisa mencari info soal di mana tempat tinggalku atau di mana aku bekerja, meski saat kami berjabat tangan dulu, aku tidak menjabarkan siapa diriku dengan mendetail.

Aku tidak tahu kenapa Diana datang ke tempatku, tetapi mendadak aku ditarik ke celah antara sepasang kekasih ini. Aku diajak bermain api oleh Diana dalam percintaan yang membuat jantungku nyaris copot setiap mendapat telepon dari sahabatku.

Diana cantik. Setiap lelaki tidak akan tahan oleh godaan yang dia lakukan. Tidak perlu keahlian khusus untuknya demi melakukan dosa semacam itu. Ia jauh lebih cantik dari bayangan bidadari yang dapat kuimajinasikan seumur hidupku.

Awalnya aku merasa sangat berdosa. Terkadang diam-diam kupukul pipiku sendiri, lalu kukecap darah dari bagian dalam mulutku, sehingga asinnya mengingatkanku pada masa lalu sahabatku yang belum sukses. Aku sering memandangi wajahku lama-lama di depan cermin sebelum tidur. Di sana kubayangkan akulah yang berdiri dengan gagah di podium tempat sahabatku selama ini menyapa para pengagum karyanya.

“Ya, doakan saja karya terbaru saya segera terbit,” katanya selalu, ketika menutup perjumpaan di setiap acara.

Kubayangkan, bibirku yang tebal yang mengucap kalimat basi macam itu di depan penonton. Sayangnya, aku bukan pengarang sukses. Aku hanya lelaki biasa yang sedang kehilangan masa jayanya saat usiaku masih terbilang muda. Betapa menyedihkan. Aku bahkan tak pernah sekalipun bercita-cita menjadi pengarang.

“Tidak ada yang menyedihkan, Dakir,” sangkal Diana. “Kamu masih bisa membuat kisah suksesmu. Dari nol. Tak ada yang tak mungkin. Kamu mampu, kalau kamu mau. Aku bisa bantu, dan pacarku tidak keberatan membantumu, karena dia pernah bercerita kalau dulu kamulah satu-satunya yang membantunya.”

Aku tak benar-benar yakin hidupku akan membaik setelah perselingkuhan dengan pacar sahabatku berlangsung dan justru kami nikmati, karena tidak ketahuan dan sebab tak ada yang curiga. Pertemuan-pertemuan kami tidak terendus karena saking sibuknya sahabatku, dan jarangnya jadwal mereka bertemu. Aku sendiri bisa menggunakan waktu luangku yang banyak.

Saat perselingkuhan ini kupikir akan menjadi penyakit akut yang tak tersembuhkan, aku bayangkan Diana milikku seutuhnya. Aku bayangkan Diana tidak punya hubungan dengan sahabatku. Aku bayangkan kelak akulah yang menjadi suami gadis itu. Bahkan, perlahan dan pasti, beberapa teman kerjaku tahu permainan ini. Tentu aku tidak bodoh. Tidak ada di antara mereka yang mengenal sahabatku, tetapi kemudian oleh tiap orang di tempat kerja, aku disebut-sebut sebagai orang tersinting yang pernah ada.

Itu bukan sekadar julukan. Aku mungkin sinting saat menerima rayuan Diana demi membuat sensasi tersendiri di antara kami. Maksudku, dalam acara bedah buku waktu itu; di bangunan yang sama di mana acara sahabatku dimulai, kami malah asyik bercinta di antara rak-rak buku. Semua itu terjadi begitu saja.

Hanya saja, rasa takut tetap ada di dadaku. Diana tidak pernah terlihat benar-benar takut, tetapi dia bilang, “Setiap orang punya rasa takut. Aku juga takut kalau sampai dia tahu. Bagaimana hubungan kalian? Bagaimana rencana pernikahanku? Di sini, sekarang, aku merasa sahabatmu mengintip, padahal kamu dengar sendiri dia sedang berbicara di ruang tengah.”

Biasanya, selesai kami berbuat gila di tempat-tempat tak terduga, yang berjarak tak terlalu jauh dari sahabatku, aku langsung menjauh dari Diana dan kadang berpikir amat lama tentang bagaimana semua ini berakhir. Sahabatku, barangkali tetap berjaya dengan karyanya. Diana jadi istri yang baik, atau barangkali menolak semua yang mereka telah rencanakan? Kukira itu bisa terjadi. Diana mengaku tak bahagia dengan sahabatku.

Aku sendiri?

Bertahun-tahun setelah ini, yang muncul di pikiranku hanya satu: apa sahabatku itu masih menganggapku sahabat? Jawabannya tergantung dari apa dia tahu permainanku dan Diana atau tidak sama sekali. (*)

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending