Connect with us
Potpouri Buat Rebi Astuti Potpouri Buat Rebi Astuti

Cerpen

Potpouri Buat Rebi Astuti

mm

Published

on

Oleh: Ladinata

Tuhan jauh-jauh telah menakdirkan

bahwa kematian akan tiba pada kita semua, anakku sayang

dan jika dia datang kepada ibu sekarang

janganlah sekali-sekali engkau menunjukkan kedukaanmu

karena kematian sebenarnya datang

bukan untuk membuatmu menjadi susah

tetapi dia datang untuk memberikan pelajaran-pelajaran kepadamu

bagaimana kehidupan ini harus dijalani

dan dari kematian pula kau akan mengetahui

bahwa ibu tak akan melihat lagi bunga-bunga

burung-burung yang terbang

dan matahari pagi yang bersinar cemerlang

segalanya memang teramat sederhana buatmu

tetapi ibu yakin akan kehilangan bayangannya

sementara kau sendiri belum merasa memiliki

oleh karena itu, anakku sayang

belajarlah menerjemahkan kehidupan dan kematian

melalui keberadaan dan kepergian orang-orang yang kau sayangi

agar di masa nanti engkau tidak menjadi bagian dari kesia-siaan[1]

 

Lagi, kuhirup udara lembab. Angin yang datang perlahan-lahan membawa dingin. Syal merah jingga, hadiah darimu, menghangatkan leherku. Samar-samar masih terdengar suara pohon-pohon pinus, memberikan sesuatu yang lain ke dalam jiwa.

Dalam beberapa saat aku seperti dikukung oleh kekuatan dan keindahan yang maha gaib. Bukanlah kesalahanku jika pada saat itu bayanganmu datang dan teramat akrab di sampingku. Suasana Maribaya yang diselimuti kabut hujan, selalu pasti menunaikan kerinduan di dalam batin kepadamu, meskipun pada kenyataannya itu tidak sesempurna sewaktu kau dan aku menikmati sampai batas yang terdalam dari keajaiban Tawangmangu dengan Air Terjun Seribu-nya. Rasanya memang tak akan pernah mungkin menghadirkan dirimu dan Tawangmangu ke dalam suasana Maribaya dengan bunga yang berwarna merah dan kuning. Akan tetapi setidak-tidaknya melalui Maribaya yang menyejukkan dan menentramkan pikiran, aku dapat mendekati dirimu yang memiliki seribu jawaban dari seribu pertanyaanku – yang sebenarnya – satu pun belum kau jawab. Kadang-kadang, ada kecemasan yang luar biasa menghajar rasio normalku. Jangan-jangan selama ini aku hanya berfantasi dan tengah mabuk asmara sendirian.

Hanya satu kebetulan yang menyenangkan aku dapat mengenalmu lewat seorang sahabat, yang juga menjadi sahabat baikmu di sekolah menengah. Sejak itu kita sering berdua di dalam beribu-ribu kabar tanpa sekali juga penah berjumpa dan tertawa. Pikiran sederhanaku menduga-duga, bahwa kau seorang yang teramat lincah sesuai dengan bahasa yang ditampakkan. Dan hal itu cukup membuat kerinduan yang sudah ada semakin bertumpuk-tumpuk untuk segera menatap sinar mata yang kau miliki. Dari hari ke hari selalu ada perjuangan untuk menahan keinginan yang terus-menerus bertambah-tambah ini. Barangkali sekejap pun kau tak menduga, bahwa kemudian aku memutuskan untuk meluluskan permintaan yang ada di dalam batinku sendiri. Satu keputusan yang mendatangkan rasa tenang luar biasa. Satu keanehan yang tiada bandingannya telah mengendap jauh di dasar hati.

Seperti yang diperkirakan sejak semula, engkau memandangi sosok yang ada di depanmu berkali-kali dengan binar mata yang kurang pasti. Ini memang perjumpaan kita yang pertama selama hampir tiga tahun bersahabat. Sungguh wajar seandainya engkau menyangsikan matamu sendiri. Dan aku berharap kedatangan yang teramat tiba-tiba ini akan memberikan kegembiraan yang sebesar-besarnya untukmu. Akan tetapi harapan yang demikian agaknya sirna tak berbekas. Engkau sama sekali lain dari bayangan semula, meskipun sangat ramah menyambut kehadiran orang yang selalu jauh darimu.

Harus dikatakan secara jujur, bahwa pada saat itu ada kekecewaan yang sedalam lautan terhadap sikap-sikapmu, yang tidak selincah kabar-kabar di dalam surat yang sudah kau tuliskan selama ini untukku. Hanya beberapa saat penyesalan mempermainkan aku di dalam lingkarannya, engkau segera mengajakku menikmati kota kecilmu yang menawan. Pada mulanya engkau mengkhawatirkan kelelahan yang telah menerpaku selama dalam perjalanan dari Bandung ke Ngawi. Tapi entah mengapa aku tak merasakan apa-apa. Berjalan bersama orang yang selalu dibayang-bayangkan selama hampir tiga tahun memiliki seni tersendiri yang begitu berbeda dari mimpi-mimpi lain.

Berdua kita menyusuri jalan Diponegoro yang lengang, tetapi kelihatan begitu bersih untuk dipandang. Selembar daun jatuh terkena hempasan angin dan hampir mengenai rambut sebahumu. Kau berhenti sejenak sembari menatapi guliran daun jatuh tersebut dengan tiada henti-hentinya. Dan pada saat itulah terbentang satu kesempatan yang datang tanpa disengaja untuk menikmati wajah beningmu. Dalam beberapa saat naluri yang kumiliki ditarik-tarik memasuki satu dunia pesona yang istimewa dan berkepanjangan, tanpa batas. Seperti baru sadar ada sepasang mata yang memandangi keindahan tersembunyi yang telah Tuhan berikan kepadamu, kau menenggadahkan wajah sambil menghujam mataku. Tiba-tiba saja jantungku berpacu dengan irama yang sulit dibayangkan. Perasaan amat berdosa dan bersalah menjepit seluruh pertimbangan yang sudah diambil. Akan tetapi ternyata engkau amat bijak. Dengan sebuah senyuman manis, kau mengajakku melangkahkan kaki kembali. Dengan segenap perasaan kagum yang mulai terbit, aku berusaha menjajari langkahmu. Setelah melewati Taman Makam Dokter Radjiman Wedyadiningrat, engkau – entah sengaja, entah tidak – memegang tanganku dan mengajakku menyeberang ke sebelah kanan jalan.

“Kemana kita?” tanyaku perlahan, tetapi mampu membuatmu tersipu dan segera melepaskan tanganku.

“Ke Beteng,”[2] jawabmu ringkas dan bersamaan dengan itu kita berbelok ke kanan lagi.

“Beteng?”

“Ya, Beteng Pendem.”

“Beteng Pendem?” Rasa penasaran yang melahirkan beberapa pertanyaan itu kau jawab dengan lugas. Beteng Pendem adalah sebutan masyarakat sekitar terhadap benteng VOC, yang dibangun sekitar tahun 1825-1830 atau lebih terangnya pada jaman perang Diponegoro. Dinamakan ‘Pendem’, karena letaknya dihalangi oleh gundukan tanah seperti bukit, sehingga tidak dapat terlihat langsung. Dulu di sekelilingnya ada parit yang ditujukan untuk menahankan serangan. Tetapi sekarang parit tersebut telah sejajar dengan dataran. Bangunan benteng ini tampak masih sangat kokoh. Hanya sayangnya, pada tembok-tembok Beteng Pendem banyak sekali ditumbuhi lumut. Sewajarnyalah, jika benteng ini mesti direnovasi juga, layaknya bangunan-bangunan lain yang punya sejarah.

“Mau kamu, kutunjukkan satu keistimewaan lagi?” tanyamu setelah kita cukup lama berputar-putar mengelilingi lorong demi lorong dan ruang demi ruang. Aku segera mengangguk. Dan kau mengajakku menyusuri jalanan yang di sebelah kanan-kirinya dapat terlihat dengan jelas tanaman padi yang telah menguning. Angin kencang yang datangnya tiba-tiba sanggup membujukku untuk merasakan suatu alam yang nyaman, tenteram, dan membahagiakan. Tanpa terasa kita sudah sampai di tempat yang kau tujukan untukku.

“Kita naik sampan,” ajakmu sambil menuntun tanganku. Sekali lagi aku mengangguk dan melangkah dengan sedikit rasa cemas. Engkau tersenyum melihat sikap yang demikian.

“Sungai apa ini?” tanyaku.

“Madiun. Sungai Madiun.”

“Kau bilang tadi ada yang istimewa,” kataku menuntut. Tawamu yang belum pernah terdengar segera saja berderai. Terasa begitu riang dan renyah. Barangkali kau geli melihat ketidaksabaranku atau jangan-jangan malah wajahku yang merah. Tak seberapa lama, sampan telah sampai ke tepi. Kita segera naik ke dataran yang lebih tinggi dan sesudah itu baru kusadari kebenaran kata-katamu. Kota kecil milikmu ternyata mempertemukan dua sungai besar yang tak akan pernah bertemu di manapun juga. Tampak bahwa air Bengawan Solo lebih berwarna coklat muda dibandingkan dengan Sungai Madiun yang menua dan ketika aku tanya mengapa, kau berkelakar, bahwa orang Solo adalah orang keraton, sedangkan orang Madiun itu hanya seperti kebanyakan orang biasa saja. Aku tersenyum mendengar jawaban anehmu, yang mungkin tidak serius.

“Kita ke Trinil,” ajakmu mengusik kesenyapan yang begitu saja datang menyelimuti kedua sungai, kau, dan aku.

“Kapan?” tanyaku dengan penuh antusias.

“Selesai Dzhuhur. Sekarang kita pulang dan kau mesti beristirahat dulu,” katamu memberi saran atau barangkali juga perintah lembut yang mesti dipatuhi. Kita naik sampan kembali. Naik sampan. Ah, aku jadi diingatkan pada keindahan lagu Perahu Kecil Berwarna Putih.[3] Beberapa kali mata kita saling menatap. Dan sekarang seolah dibangkitkan oleh sinar matamu, aku melangkahkan kaki dengan pelan-pelan menuju ke Air Terjun Abadi.[4] Mungkin sekali suara air terjun tersebut lebih mampu mencairkan kerinduan yang sedang kugenggam. Suatu kali jika kau datang berkunjung, akan kuajak kau membedah kecantikan Maribaya. Akan kubuat kau selalu terkenang padanya dan padaku.

Harus diakui, bahwa Trinil adalah tempat yang historikal. Di desa inilah pada tahun 1890 Eugene Dubois menemukan fosil Pithecanthropus Erectus yang tingginya 1,65 meter. Pithecanthropus Erectus ini dimasukkan ke dalam lapisan pleistosen tengah: suatu lapisan yang terdapat pada jaman batu dan, terutama sekali, pada masa Palaeolithikum.

Akan tetapi yang paling menarik dari semuanya itu adalah semakin jelasnya kepribadian dan sifat-sifatmu. Tidak sekelebat juga ada bayangan bahwa kau sebenarnya punya adik-adik asuh. Sungguh suatu sikap simpatik yang sangat tersendiri dari seorang dara sepertimu. Anak-anak kecil yang kaki telanjangnya bagaikan menari-nari di atas tanah becek itu, menatapmu dengan pandangan mata penuh rasa sayang. Bagi mereka engkau adalah seorang bidadari, sekaligus seorang ibu. Jika boleh dibandingkan, anak-anak Trinil ini lebih mencintai dirimu daripada segala sesuatu yang sudah mereka miliki. Bungkusan-bungkusan yang telah kau persiapkan dari rumah dan sempat memunculkan berbagai pertanyaan di benakku, kau berikan pada mereka. Bukan karena engkau, jika kemudian kurasakan hasrat untuk menjaga kehidupan mereka. Hasrat tersebut datang lantaran sinar mata anak-anak Trinil yang sepolos bulan.

Sekembalinya dari Trinil, malamnya, kita jalan-jalan di alun-alun kotamu. Kesenyapannya membuatku merasa ganjil. Di manapun alun-alun suatu kota selalu pasti meriah. Di lain pihak, kesenyapan itu memberikan satu keleluasan tersendiri. Kita bisa berbincang-bincang dengan sesukanya tanpa takut didengar orang lain.

Lagi-lagi kau memerangkapku dengan pembicaraanmu yang sarat oleh pemikiran-pemikiran yang radikal. Kau marah pada segala sesuatu yang bersifat hedonistik dan nepotistik. Boleh jadi juga, kau termasuk orang yang sedikit skeptis manakala mengungkapkan karakteristik manusia yang indefinitif. Atau seperti lazimnya orang, kau sedang mengalami evolusi jiwa. Ya, kau sedang berkembang menuju ke batin yang lebih mantap dan stabil. Sampai kemudian aku mengetahui, bahwa ibumu yang selalu kau kabarkan sangat menyayangimu telah dipanggil Tuhan tepat seminggu sebelum aku melihat-lihat keajaiban kota kecilmu. Apa yang mesti dikatakan mendengar berita duka yang sedang bersamamu?

Aku sama sekali tidak tahu. Tidak tahu apa yang sesungguhnya sekarang kau butuhkan. Tetapi aku amat bersyukur melihat jiwamu yang melesat jauh ke depan. Dengan kepergian ibumu, kau mencoba untuk lebih mengerti mengenai kehidupan ragawi, bahkan terhadap arti guguran daun. Pada kehidupanmu tergenggam kematian. Artinya, melalui hidup kau mencoba memahami kematian yang absolut akan datang. Engkau pun mulai sampai kepada penyabaran diri dari keinginan bermacam-macam. Satu sikap besar yang aku ketahui tapi belum kualami. Selain itu, kau juga lebih respek terhadap orang-orang yang melawan arus. Mulai dari Socrates[5] pada jaman Yunani, tokoh-tokoh renaissance, sampai kepada Imre Nagy[6], Milovan Djilas[7], Pasternak[8], Sakharov[9], dan Solzhenitsyn[10] di Eropa Timur mampu kau telaah.

“Kapan kamu pulang?”

“Lusa.”

“Lusa?” tanyamu lagi penuh keragu-raguan.

“Ya, pagi-pagi sekali,” kataku dan kemudian kujelaskan bahwa aku akan mendapat pembekalan Kuliah Kerja Nyata di fakultas dan universitas selama tiga hari. Kau pun tercenung. Barangkali kau akan merasa sangat kehilangan. Lain kali, aku akan datang kepadamu selama yang kamu mau. Akan tetapi yang sekejap itu nyata-nyata mendatangkan seribu kenangan. Malam semakin dekat menuju ke pertengahan. Kita pulang tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Entah perasaan apa yang datang ini. Kesedihan, kedukaan, ataukah rasa takut kehilangan. Yang jelas, engkau telah mampu membangkitkan satu perasaan asing yang berwarna-warna. Mungkin itu terlalu cepat, tetapi tidak, waktu yang baru sehari kita lampaui telah memberikan sesuatu yang indah dan selamanya demikian.

Besoknya, sesuai dengan janji di alun-alun, kita pergi ke Tawangmangu. Udara pagi yang bersih mampu membuat hati menjadi riang. Di desa Banjarejo kau mengajakku turun dari bis yang kita tumpangi. Perasaan heran yang tiba-tiba menyergap, bermain-main di dalam hati. Ternyata kau mengajakku menikmati monumen Suryo dan hutan jati. Seperti biasanya, kau yang bagaikan seorang guide, menceritakan latarnya. Sesudah itu perjalanan diteruskan. Jalan yang berbelok-belok akhirnya menyampaikan kita ke tempat impian. Engkau, aku, dan Tawangmangu ditambah dengan Air Terjun Seribu segera berpadu dalam kenangan yang terkekal. Inilah yang paling berkesan selama hampir tiga tahun kita berdua.

Tak ada satu titik pun dari keindahan Tawangmangu ditinggalkan tanpa sentuhan keakraban. Sepasang matamu yang berpendar-pendar mampu membuat semua batang pohon, setiap ekor burung jadi makin gembira, bahkan sinar matari pun berlebihan gemerlapnya. Engkaulah segala sesuatu yang mempunyai ketakjuban. Bersamamu, kupastikan, sanubari ini tertambat begitu jauh. Akan tetapi, entah jika engkau bersamaku. Inilah yang mendatangkan keragu-raguan sampai sekarang dan ini juga yang menyebabkan aku seperti bermain dengan perasaan sendiri. Kepergian ibumu, kunjungan, dan kepulanganku, yang kutakutkan, hanya menimbulkan pengertianmu yang semakin dalam terhadap hidup tanpa pernah menanggapi getaran yang kualami. Pertimbangan yang demikian, menyebabkan aku tak mengatakan apa-apa juga kepadamu.

Sampai kita meninggalkan Tawangmangu dan udara dingin pada sore yang diliputi mendung hujan. Begitu pula ketika aku harus meninggalkan kota kecil milikmu, terutama kau sendiri. Tak ada satu kata pun yang mampu kuucapkan. Bahkan aku sama sekali tak mampu membalikkan badan, mengatakan selamat tinggal, dan melambaikan tangan. Pada saat itu, ada rasa takut yang luar biasa, bahwa sinar matamu tidak menunjukkan kehilangan sesuatu. Dan aku sendiri tak ingin memperlihatkan kepadamu, bahwa aku sedang menghadapi semua rasa kehilangan yang pasti akan menimbulkan kerinduan yang tak akan pernah habis.

Dan sekarang aku sendiri. Berdiri memandang Air Terjun Abadi, memandang langit di atas Maribaya, memandang pohon pinus, kemudian memandang wajahku sendiri di atas permukaan air. Syal merah jinggamu seolah-olah berkata, bahwa engkau sebenarnya dekat padaku. Beberapa detik Ho Chong Wing melalui harmonika peraknya menggamparku dengan Cinta Tanpa Akhir.[11] Kelembutan maknanya menyimpulkan bahwa sebenarnya aku juga demikian padamu. Cintaku demikian padamu. Dengan kesadaran dan kekuatan batin yang penuh, akhirnya kuputuskan untuk menjumpaimu sekali lagi. Biarlah engkau mengetahui keajaiban sepasang mataku. Dan besok, yang tak terlalu lama dari hari ini, aku akan datang kepadamu selama yang aku mau dan selama yang engkau mau. (*)

 

[1] Potpouri buat Rebi Astuti

[2] Fonetik masyarakat sekitar untuk kata Benteng

[3] Little White Boat, di dalam kumpulan lagu Asian Delights oleh Ho Chong Wing and His Silver Harmonica

[4] Saya menyebut Air Terjun Maribaya secara demikian

[5] Socrates (470 SM-399 SM) merupakan filsuf dari Athena, Yunani

[6] Imre Nagy (7 Juni 1896-16 Juni 1958) merupakan politikus dan perdana menteri Hungaria

[7] Milovan Djilas lahir tahun 1911 di Montenegro, Yugoslavia dan meninggal tahun 1997

[8] Boris Pasternak (10/29 Pebruari 1890-30 Mei 1930) merupakan penyair Rusia, novelnya yang ternama adalah Doktor Zhivago

[9] Andrei Sakharov (21 Mei 1921-14 Desember 1989) merupakan fisikawan nuklir Uni Soviet. Tahun 1975 memperoleh Nobel Perdamaian untuk gerakan hak azasi manusia

[10] Alexander Solzhenitsyn (11 Desember 1918-3 Agustus 2008) merupakan penulis Rusia yang pada tahun 1970 mendapatkan hadiah Nobel dalam Kesusastraan.

[11] Love without End

Continue Reading

Cerpen

Cinta yang Sulit

mm

Published

on

Kawan pertamanya di semesta ganjil ini adalah seekor ayam jago muda. Dengan suaranya yang tipis dan belum matang benar, si ayam jago muda senantiasa menjadi yang pertama berkokok. Jago-jago yang lain, dengan malas-malasan, kemudian mengikutinya. Sesekali mereka mengeluh apalah gunanya berkokok di semesta yang seperti itu. Sia-sia belaka, tukas yang lain. Namun tak urung, mereka tetap saja berkokok. Jago-jago yang benar-benar labil. Ayam-ayam betina akan bangun dari tidur mereka dan berciap-ciap ribut. Lalu hari yang membosankan pun dimulai. Mereka berkeliaran. Kadang-kadang, mengikuti kebiasaan alami kaum ayam, mereka mematuk-matuk lantai semesta tersebut. Namun tak ada cacing atau remah tanah yang bisa diasin. Bahkan, tak ada partikel apa pun yang masuk melalui paruh-paruh mereka. Semesta ini bersih dan jembar dengan caranya sendiri yang sepertinya tak terdeskripsikan. Bukan hanya umat ayam penghuni semesta tersebut, tentu saja. Banyak. Aneka tetumbuhan seperti bayam dan kangkung, hingga binatang-binatang, mulai sapi hingga kelelawar dan tikus.

“Bagaimana bisa ada tikus dan kelelawar?” ia pernah bertanya seperti itu.

“Menado,” jawab si ayam jago muda. “Mereka masuk ke sini ketika ia berada di Menado.”

“Ia pernah ke Menado? Itu kan jauh,” katanya. “Kukira ia tidak cukup kaya untuk bisa pergi ke Menado.”

“Kau beruntung aku sudah berada di sini cukup lama. Lebih lama ketimbang kelelawar dan tikus itu. Jadi aku bisa tahu dengan pasti bagaimana ia bisa sampai ke Menado, lalu memasukkan kelelawar dan tikus itu ke sini. Jadi begini,” si ayam mendehem sebentar. Ia mengepakkan sayapnya tiga kali, membenahi posisi berdirinya, lalu meneruskan, “dia seorang penyair. Kau pasti tahu itu kan? Sekitar tiga tahun yang lalu, ia pernah dikirim oleh Dewan Kesenian Jawa Timur untuk menghadiri temu sastrawan di sana. Semua biaya ditanggung. Selain itu, ia juga mendapat uang saku yang cukup banyak. Ini akan ada hubungannya denganmu.”

“Ada hubungannya denganku? Apa maksudmu?”

“Dengan uang saku yang ia dapat, ia melamar perempuan itu.”

“Siti?”

“Siti.”

“Oh.”

“Kenapa?”

“Kukira mereka kawin lari.”

“Mereka memang kawin lari.”

“Apa maksudmu? Bukankah katamu ia melamar Siti. Lalu kenapa mereka kawin lari?”

“Lamarannya ditolak. Mereka beda agama. Masa kau tidak tahu itu? Dan karena ditolak itulah, mereka kawin lari. Uang yang sedianya untuk beli peningset itu yang mereka gunakan untuk lari dan mengontrak rumah di tepi kali itu.”

“Begitu?”

“Begitulah. Dan kau sudah tahu apa yang kemudian terjadi.”

Ia memang tahu apa yang kemudian terjadi. Sejak suatu sore tiga tahun yang lalu, hari kedua kepindahan pasangan muda tersebut, ia tahu hampir semua yang terjadi atas mereka. Ia sedang mengintai seekor kodok yang tengah bersantai di pinggir kali sewaktu Siti hendak membuang sampah. Setengah tubuhnya tersembunyi di balik gerumbul semak. Namun ekornya yang panjang menjulur tak terlindung. Jarak mereka tidak begitu jauh, sekitar dua puluh meter. Cahaya matahari sore menimpa sisik-sisik gelapnya. Takdir menumbukkan padangan mata Siti ke ekornya.

“Buaya… buaya…” Siti berteriak seraya menjatuhkan keranjang sampahnya dan berlari balik ke rumah petak kontrakannya. Ia terkejut mendengar teriakan itu dan melesat nyemplung ke dalam kali. Si kodok juga terkejut dan melompat entah ke mana. Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari rumah, dengan Siti yang mukanya sepucat mayat mengikuti dan mengintip dari balik bahu.

“Di mana buayanya?” lelaki itu bertanya.

“Di sana. Tadi aku melihat ekornya. Di sana. Mungkin sudah pergi. Tapi hati-hatilah.”

Si lelaki menggenggam sebilah parang. Dengan mantap, ia berjalan menuju semak-semak. Melempar batu ke sana. Lalu diam sebentar dalam jarak lima meter.

“Kalau memang ada buaya, pasti ia sudah keluar,” kata si lelaki.

“Mungkin batunya kurang besar.”

Si lelaki memungut batu yang lebih besar. Lalu melemparkannya ke gerumbul semak.

“Tidak ada,” kata si lelaki. Lalu ia berjalan semakin mendekati gerumbul itu. Dan dengan parangnya, ia tebasi gerumbul itu.

“Tidak ada apa-apa.”

“Tapi aku bersumpah.”

“Mungkin kau hanya salah lihat.”

Ia mengamati adegan itu dengan sepasang mata kecilnya dari bawah permukaan air yang coklat. Itulah saat ia merasa darahnya yang dingin berubah hangat. Ia lupa akan dirinya, akan bahaya yang mengancamnya. Ia berenang ke tepian yang baru saja ia tinggalkan. Seperti ada magnet yang menariknya. Dan ia tahu, perempuan itulah magnet tersebut. Si lelaki sudah membalikkan badan dan mulai melangkah menuju rumah kontraknya ketika ia sampai di tepian. Siti berjalan mengikuti lelaki itu, namun sebelum memasuki halaman rumah, Siti menoleh. Pandangan mereka bertemu. Siti kembali menjerit. Dan ia merasa tubuhnya kaku.

Si lelaki menoleh. Lantas tertawa kencang. “Itu biawak. Bukan buaya. Sama sekali tidak berbahaya,” kata si lelaki di sela-sela tawa.

Sejak itu, satu-satunya hal yang ia ingini adalah melihat si perempuan yang di kemudian hari, dari bagaimana si lelaki memanggil, ia ketahui bernama Siti. Semakin dekat semakin baik. Dan dalam rangka itulah ia kerap menyelinap di antara tumpukan sampah tak jauh dari rumah petak tersebut, kadangkala ia mendekam di antara potongan kayu dan tong-tong yang berada di samping rumah. Namun yang paling ia sukai adalah berada di kolong tempat tidur pasangan baru tersebut.

Beberapa kali Siti memergokinya. Ia gembira ketika tahu bahwa Siti mengetahui kehadirannya. Namun tidak dengan Siti. Perempuan itu selalu berteriak. Dan si lelaki akan segera datang untuk mengusirnya.

“Usir yang jauh supaya dia tidak kembali lagi,” begitu selalu yang dikatakan Siti.

“Jangan takut. Nanti aku akan menangkapnya. Daging biawak enak kalau dimasak rica-rica.”

“Ih… jangan begitu. Menjijikkan.”

Namun si lelaki tak pernah berhasil menangkapnya. Ia terlalu gesit. Sekali waktu, ia hampir tertangkap. Si lelaki bahkan berhasil menyabetkan parang yang merobek punggungnya. Namun ia segera berlari. Kesakitan yang ia rasakan memberi semacam kekuatan ekstra yang tak ia duga sebelumnya. Setelah kejadian itu, ia menjadi lebih berhati-hati.

Namun dua minggu yang lalu, ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya. Dan untuk keputusan paling penting dalam keseluruhan takdirnya itu, ia berhutang kepada seekor kodok yang sedianya bakal menjadi menu makan siangnya. Seekor kodok petapa, pikirnya, dan karenanya, telah memperoleh pencerahan yang tidak didapat oleh kebanyakan makhluk. Kodok itu, tanpa ia tahu bagaimana, mengerti bahasanya.

“Aku lebih suka menjadi santapanmu ketimbang mati karena usia tua dan membusuk dalam tanah,” kata si kodok. “Dengan menjadi santapanmu, aku tidak benar-benar mati. Aku akan meneruskan hidupku, hanya saja dalam semesta tubuhmu, menjadi bagian dari dirimu.”

Itu adalah hari ketiga ia tersiksa dalam nelangsa yang tidak karuan besarnya. Itu adalah hari ketiga ia mengetahui bahwa Siti telah meninggalkan si lelaki setelah sebuah pertengkaran atas hal yang sama, namun telah mencapai puncaknya. Ia berada di kolong ranjang ketika pertengkaran tersebut terjadi. Dan karenanya, ia tahu detil-detilnya.

“Kita ini kualat. Karena itu rezeki kita seret. Aku lapar. Dan kita terancam jadi gelandangan kalau tidak bisa membayar kontrakan bulan depan,” rintih Siti terbata, di antara isak tangis yang sedemikian pilu.

“Sabarlah. Aku yakin sebentar lagi tulisanku akan ada yang terbit. Dan itu berarti kita akan dapat honor.”

“Seberapa besar honormu? Tidak. Kau tahu, bukan karena tulisanmu jelek sehingga jarang ada yang mau memuatnya. Tapi karena kualat. Kita sudah melawan orangtua kita. Kita ini durhaka. Ini hukuman.”

“Ada apa denganmu? Kau dulu tidak pernah berkata seperti ini.”

“Dulu aku belum tahu kalau kita akan kualat.”

Keesokan paginya, Siti meninggalkan rumah itu sebelum si lelaki bangun. Pergi untuk selama-lamanya. Dan ia tahu, ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Siti kalau ia tidak melakukan sesuatu. Ucapan si kodoklah yang membuatnya keluar dari persembunyiannya, menampakkan diri pada si lelaki, dan membiarkan lelaki lapar itu menebas kepalanya, lalu mengulitinya, memotong-motong dagingnya, memasaknya, lalu memangsanya.

Dan seperti yang dikatakan si kodok, ia ternyata tidak benar-benar mati. Ia hanya berpindah semesta. Meneruskan hidup dalam diri si lelaki. Dan bertemu serta berkenalan dengan banyak makhluk yang juga meneruskan hidup dalam diri si lelaki.

Ia berharap si lelaki akan menyusul Siti dan membujuknya, dan mereka akan kembali hidup bersama, lalu berbahagia selama-lamanya. Namun ucapan si ayam jago muda membuat semangatnya menyusut.

“Kau tahu apa yang membuat hubungan mereka tidak direstui?”

Ia menggeleng.

“Mereka beda agama. Dan secinta-cintanya mereka satu sama lain, keimanan mereka jauh lebih kuat. Mereka memang bukan orang saleh dan karenanya kau tak akan mendapatkan mereka tengah beribadah. Kekurang salehan mereka, selain cinta tentu saja, yang menyebabkan mereka memutuskan kawin lari. Namun toh, tetap saja, tak ada yang mau mengalah dengan berpindah agama. Mereka pikir itu bukan kendala yang berarti. Dan sekarang kau tahu, yang menjadi kendala adalah kelaparan. Uang. Dan aku yakin, bila ia menyusul Siti, orang tua Siti hanya akan memberi dua pilihan: berpisah atau ia pindah agama.”

“Kemungkinan mana yang lebih besar?”

“Berpisah.”

Tapi si lelaki, ternyata, tak pernah menyusul Siti. Tak pernah. Dan ia, yang merasa pengorbanannya sia-sia, hanya bisa merutuki si lelaki: lelaki terkutuk ini tidak pernah benar-benar mencintai Siti. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

Continue Reading

Cerpen

Ziarah Bit

mm

Published

on

Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore, membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20, memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik dan mulai merasa rikuh, mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.

“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.

“Tapi tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.

Dan mereka kembali tertawa.

Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun semua, tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan, puisi ke koran-koran dan majalah-majalah, mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!

Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.

Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.

Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu.  Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif mereka, mereka menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan krasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.

Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.

Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.

“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu, namun tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah, di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap, namun secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.

Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.

Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.

Namun khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.

Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun.  Begitu singun. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Samuel Beckett: Molloy

mm

Published

on

Aku ada dikamar Ibu. Sekarang aku memang tinggal di sana. Aku tak tahu, bagaimana aku bisa sampai ke sana. Barangkali dengan ambulans, sejenis kendaraan atau angkutan tertentu. Aku tidak betah. Heran. Aku tak pernah disana sendirian.

Ada seorang laki-laki yang rutin berkunjung setiap minggu. Mungkin aku harus berterima kasih padanya. Dia tidak banyak bicara. Dia memberiku uang dan mengambil berkas-berkas. Lebih banyak berkas, akan lebih banyak uang. Ya, aku bekerja sekarang. Setidak-tidaknya, yang kuangankan, sedikit mirip. Lagi pula aku tidak tahu persis, bagaimana sesungguhnya bekerja itu. Agaknya ini tidak penting.

Apa yang sesungguhnya kuinginkan sekarang adalah membicarakan hal-hal yang telah lewat, mengucapkan selamat tinggal, lalu mengakhiri dengan kematian. Tetapi mereka tak mengiinginkan hal itu terjadi padaku. Ya, kukatakan mereka, karena lebih dari satu—tampaknya begitu. Tetapi, hanya orang itu-itu saja yang datang. Kamu akan bisa mengerjakannya nanti, katanya. Baguslah.

Nyatanya, aku tak akan membiarkan semua ini terus tertinggal. Yaitu ketika dia datang dengan berkas-berkas baru yang ia bawa minggu berikutnya. Mereka sibuk menandai dengan tanda-tanda yang sama sekali tidak kumengerti. Karena itu, aku sengaja tak membacanya. Dan ketika aku tidak mengerjakan apa-apa, mereka tidak memberiku apa-apa. Bahkan mengancamku.

Sebenarnya aku tidak bekerja demi uang. Lalu, untuk apa? Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu banyak. Sebagai contoh, kematian Ibu. Apakah berliau sudah meninggal waktu aku datang? Ataukah beliau meninggal kemudian, yaitu baru meninggal beberapa saat setelah kedatanganku?

Kukira Ibu sudah dimakamkan. Entahlah. Mungkin mereka malah belum menguburkannya. Yang pasti, di sisi lain, aku memiliki kamarnya. Aku tidur di ranjangnya. Aku buang air dan meludah di pispotnya. Aku sudah mengambil alih tempatnya. Barangkali, semakin lama aku semakin mirip dengannya.

Yang lebih kubutuhkan sekarang sebenarnya seorang anak laki-laki. Barangkali suatu saat nanti aku akan memiliki satu. Tapi kupikir tidak. Dia sudah sangat tua sekarang. Hampir setua aku. Dia hanyalah pelayan rendahan. Ini bukan cintaku yang sesungguhnya.

Cinta yang sejati telah kupersembahkan pada orang yang lainnya lagi. Kita akan membicarakannya setelah ini. Namanya? Ah, aku sudah lupa. Dan agaknya, bagi diriku sendiri, kadang-kadang seakan aku merasa begitu mengetahui ihwal anak laki-lakiku tadi. Aku bentul-betul menganguminya. Kemudian aku meyakinkan diriku kalau itu tidak mungkin. Seperti juga tidak mungkinya aku dapat mengagumi orang lain. Aku bahkan sudah lupa, bagaimana mengeja dan memilah kata-kata. Tampaknya ini tidak penting.

Baiklah. Dia adalah kartu ajaib bagiku, yang datang secara khusus untuk menjengukku. Agaknya dia datang hanya setiap hari Minggu. Pada hari-hari yang lain, dia libur. Dia selalu keharusan. Dialah yang membentakku kalau aku mulai mengerjakan sesuatu yang menurutnya salah; dan aku seharusnya mengerjakannya secara berbeda. Mungkin dia benar. Aku harus memuliai dari permulaan lagi; seperti meneliti suatu kesalahan yang usang dan membingunkan—bisakah kalian bayangkan?

Ini permulaan bagiku. Mungkin karena itulah mereka membiarkannya saja.Aku menemui banyak kesulitan. Padahal ini baru permulaan—kalian lihat? Seolah-olah sekarang aku sedang mendekati titik akhir. Apakah yang kukerjakan saat ini jauh lebih baik? Entahlah.

Kota itu tidak jauh. Ada dua orang, mungkin tidak mudah kalian pahami. Yang satu pendek, yang satunya lagi lebih tinggi. Mererka bergerak meninggalkan kota. Mula-mula yang satu, kemudian yang lainnya. Dan kemudian, dengan susah-payah mereka mengingat-ingat semua perbuatan yang telah mereka kerjakan. Udara dingin menusuk tajam, sehingga mereka mengenakan mantel-mantel tebal. Mereka tampak serupa satu sama lain.

Tetapi tak ada lagi yang mereka kerjakan. Pada awalnya jarak yang lebar membentang diantara mereka. Mereka tidak saling melihat. Padahal mereka sudah mencapai keadaan di mana kepala mereka saling berhadapan. Namun, dikarenakan jarak yang lebar, ruang yang lapang, dan kemudian karena tanah yang bergelombang yang menyebabkan jalanan jadi ikut bergelombang—meskipun tidak curam dan terjal tapi cukup berkelok. Tetapi saatnya tiba, ketika mereka berdua tiba di sebuah ruang yang sama dan akhirnya tikungan-tikungan itu bertemu.

Untuk mengatakan bahwa mereka saling memperkenalkan diri, tidak, tidak ada apa pun yang jadi jaminannya. Tetapi, barangkali dari suara langkah-langkah kaki atau ditandai gemerisik uap insting yang samar-samar, mereka saling mendongakkan kepala dan saling menyelidiki satu sama lain, untuk menentukan langkah-langkah yang baik sebelum akhirnya mereka berhenti dan saling berhadapan.

Ya, mereka tidak saling melewati, tetapi mengendap-endap, berhadap-hadapan, mengadu wajah seperti ketika di desa: pada suatu senja di ruas jalan yang sejuk, dua sosok bayang-bayang saling berkelebat, tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Tetapi barangkali saja mereka sudah saling mengenal satu sama lain, mengagumi satu sama lainnya, saling memuji, bahkan setelah mereka sampai ke sudut-sudut kota.

Mereka berjalan memutar, melewati laut yang ada di ujung timur. Jauh dari padang-padang rumput, memanjat cakrawala tinggi dengan menggubah sedikit kata-kata. Kemudian keduanya berjalan ke arah masing-masing. A melintasi kota, B melewati jalanan yang seolah teramat sulit untuk dia mengerti. Atau semuanya.

Selama dia pergi dengan langkah-langkah tak menentu dan terkadang terlalu sering menghentikan langkahnya untuk mengamati apa saja, dia seperti seseorang yang mencoba memperbaiki letak penanda batas-tanah-milik di dalam benaknya. Pada suatu hari, barangkali dia harus berkali-kali membalikkan langkahnya—kalian tak akan pernah tahu kenapa.

Dia tampak tua. Dan dengan pandangan mata penuh penyesalan, ia menekuri kesunyian yang telah ditempuhnya berabad-abad, bertahun-tahun, berhari-hari, dan bermalam-malam tanpa bernah berpikir untuk membiarkan keajaiban-keajaiban itu muncul justru pada hari kelahirannya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Sekarang, perlahan, sebuah bisikan. Sekarang, lebih teliti dari apa yang telah dikerjakan seorang pelayan teladan. Dan selanjutnya? Sesudah itu? Dan sering pula muncul sebagai jeritan. Dan pada akhirnya, aku harus percaya padanya. Aku tahu, tinggal ini kesempatanku. Tinggal ini saja. Aku percaya lagi pada umur panjangku. Dan sekarang aku mengunyah apa saja dengan asyik.

Apa yang kubutuhkan sekarang adalah dongeng-dongeng yang membutuhkan waktu sangat lama untuk memahaminya, dan aku tidak yakin apakah itu ada, memberi informasi padamu, pada kalian, hal-hal tertentu; tentang benda-benda yang kuketahui, tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Hal-hal yang begitu menyulitkanku, juga yang tak pernah menyulitkanku.

Apapun bahasanya. Apa pun istilahnya. Aku bahkan telah mempelajari apa profesinya, karena aku tertarik pada keahlian-keahlian. Dan berpikir: aku mencoba mengerjakan yang terbaik untuk tidak bercerita tentang diriku sendiri. Pada suatu ketika aku mungkin akan bercerita tentang ternak-ternak, tentang langit dan apa saja, apabila aku mampu melakukannya.

Aku di sana, kemudian dia meninggalkan aku. Dia tampak terburu-buru. Dia mengembara, seperti yang sudah pernah kukatakan pada kalian; tetapi, setelah tiga menit berbicara denganku, dia tampak terburu-buru. Aku percaya padanya. Dan sekali lagi, aku tak akan menceritakan diriku sendiri. Tidak, itu tidak seperti aku. Tetapi bagaimana aku harus mengatakannya, aku tidak tahu.

Memperbaiki diri sendiri, menyempurnakan diri sendiri, oh tidak. Aku tak akan bisa membiarkan diriku sendiri. Bebas. Ya. Aku tak tahu apa artinya itu, tetapi itulah kata yang kupilih dan kugunakan. Bebas untuk mengerjakan apa saja, bebas untuk tidak melakukan apa-apa, bebas untuk mengetahui—tapi apa? Mungkin hukum-hukum pemikiran; pemikiran-pemikiranmu sendiri yang serupa air mengalir secara proporsional ketika ia memutuskan untuk membasahimu. Dan kalian akan mengerjakan hal-hal yang baik, paling tidak, tidak terlalu buruk untuk menghapus teks-teks, menghilangkan margin-margin, mengisi lubang kata-kata, sampai segalanya menjadi kosong dan datar. Sehingga segala kesibukan yang tampaknya dahsyat, menakutkan dan tak berperasaan atau semacamnya menjadi tak terkatakan, sampai tak ada lagi isu kemiskinan. Jadi aku tak merasa ragu untuk mengerjakan semua yang lebih baik, paling tidak, tidak terlalu buruk, dan tidak menyusahkan diriku sendiri dengan serangkaian observasi tentang segala sesuatu yang akan terjadi nanti.

Aku memiliki cacat untuk dapat membangkitkan semangat orang lain, yaitu orang-orang yang bertongkat. Kemudian bisik-bisikan dan gumam-gumam itu kembali dimulai. Untuk bersunyi sendiri; mengembalikan peranan lebih dari sekadar objek-objek.

Kemudian, aku masih hidup. Mungkin kehadiranku masih berguna. Mahkota dan pakaian kebesaran kupandang sebagai sesuatu yang belum layak kubicarakan sekarang, karena masih terlalu dini. Tanpa ragu-ragu aku akan membicarakannya nanti, jika sudah tiba saatnya untuk membicarakan penemuan kebaikan-kebaikan serta harapan-harapan milikku. Jika tidak, aku akan merelakannya hilang, terselip di antara hari-hari sekarang dan nanti. Tetapi, bahkan ketika semua itu hilang, mereka tetap akan mendapat tempat, di dalam daftar semua barang kesayanganku. Tetapi, mudah bagi ingatanku; tidak seharusnya aku menghilangkannya. Seperti tongkat setiaku, yang tidak seharusnya kuhilangkan juga.

Barangkali sekarang aku sedang berada di puncak atau di lereng, di antara orang-orang penting dan terkenal, demi orang lain. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat melihat begitu jauh, begitu dekat di tangan, begitu banyak hal yang tetap dan yang berpindah-pindah. Tetapi, apa yang akan dilakukan seseorang yang sudah sangat terkenal di tempat yang hampir-hampir tak beriak ini? Dan aku, apa yang kukerjakan di sini, dan kenapa mesti datang?

Ada banyak hal yang mesti kita coba dan temukan. Tetapi ada hal-hal tertentu yang tidak seharusnya kita pikirkan dengan serius. Ada sebagian dari segala sesuatu yang secara penampakan wajud lahirnya memiliki cacat tersendiri. Dan pada suatu ketika aku mungkin menjadi bingung oleh kontrasnya perbedaan-perbedaan itu. Tetapi pertentangan-pertentangan adalah tempat kediamanku. (*)

_______________________

*) Samuel Beckett: Peraih Nobel Prize for Literature 1969. Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1906 dan meninggal tahun 1989 di Paris, Prancis. Beckett dianggap sebagai salah satu pengarang abad ke-20 yang paling inovatif dan berpengaruh. Hal ini berangkat dari keyakinannya, yang lalu membekas dalam karya-karyanya, bahwa hidup manusia adalah absurd, tidak jelas, keras, dan akhirnya tidak memiliki tujuan. Secara pribadi, ia gigih menyuarakan metafora-metafora tentang malaise moral manusia.

Beckett terutama dikenal sebagai penulis drama, tetapi ia juga menulis novel dan puisi. Ia telah menulis enam novel, empat naskah drama serta lusinan framen yang lebih pendek, selain sebuah esai dan satu kumpulan puisi. Tetapi yang membuat namanya dikenal adalah karya drama Waiting for Godot (1952) yang disebut-sebut sebagai drama paling penting dalam abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Keusastraan pada Beckett sebagai pengakuan: “…..untuk karangan-karangannya yang dalam serta mengungkap kekurangan manusia modern, mendapatkan tempat yang luhur lewat bentuk novel dan drama gaya baru…..

Beckett adalah sastrawan kedua Irlandia (Setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut. Atau sastrawan ketiga setelah George Benard Shaw (tahun 1925) yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

**) Penerjemah: Endang Susanti R.A.

 

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending