Connect with us
Potpouri Buat Rebi Astuti Potpouri Buat Rebi Astuti

Cerpen

Potpouri Buat Rebi Astuti

mm

Published

on

Oleh: Ladinata

Tuhan jauh-jauh telah menakdirkan

bahwa kematian akan tiba pada kita semua, anakku sayang

dan jika dia datang kepada ibu sekarang

janganlah sekali-sekali engkau menunjukkan kedukaanmu

karena kematian sebenarnya datang

bukan untuk membuatmu menjadi susah

tetapi dia datang untuk memberikan pelajaran-pelajaran kepadamu

bagaimana kehidupan ini harus dijalani

dan dari kematian pula kau akan mengetahui

bahwa ibu tak akan melihat lagi bunga-bunga

burung-burung yang terbang

dan matahari pagi yang bersinar cemerlang

segalanya memang teramat sederhana buatmu

tetapi ibu yakin akan kehilangan bayangannya

sementara kau sendiri belum merasa memiliki

oleh karena itu, anakku sayang

belajarlah menerjemahkan kehidupan dan kematian

melalui keberadaan dan kepergian orang-orang yang kau sayangi

agar di masa nanti engkau tidak menjadi bagian dari kesia-siaan[1]

 

Lagi, kuhirup udara lembab. Angin yang datang perlahan-lahan membawa dingin. Syal merah jingga, hadiah darimu, menghangatkan leherku. Samar-samar masih terdengar suara pohon-pohon pinus, memberikan sesuatu yang lain ke dalam jiwa.

Dalam beberapa saat aku seperti dikukung oleh kekuatan dan keindahan yang maha gaib. Bukanlah kesalahanku jika pada saat itu bayanganmu datang dan teramat akrab di sampingku. Suasana Maribaya yang diselimuti kabut hujan, selalu pasti menunaikan kerinduan di dalam batin kepadamu, meskipun pada kenyataannya itu tidak sesempurna sewaktu kau dan aku menikmati sampai batas yang terdalam dari keajaiban Tawangmangu dengan Air Terjun Seribu-nya. Rasanya memang tak akan pernah mungkin menghadirkan dirimu dan Tawangmangu ke dalam suasana Maribaya dengan bunga yang berwarna merah dan kuning. Akan tetapi setidak-tidaknya melalui Maribaya yang menyejukkan dan menentramkan pikiran, aku dapat mendekati dirimu yang memiliki seribu jawaban dari seribu pertanyaanku – yang sebenarnya – satu pun belum kau jawab. Kadang-kadang, ada kecemasan yang luar biasa menghajar rasio normalku. Jangan-jangan selama ini aku hanya berfantasi dan tengah mabuk asmara sendirian.

Hanya satu kebetulan yang menyenangkan aku dapat mengenalmu lewat seorang sahabat, yang juga menjadi sahabat baikmu di sekolah menengah. Sejak itu kita sering berdua di dalam beribu-ribu kabar tanpa sekali juga penah berjumpa dan tertawa. Pikiran sederhanaku menduga-duga, bahwa kau seorang yang teramat lincah sesuai dengan bahasa yang ditampakkan. Dan hal itu cukup membuat kerinduan yang sudah ada semakin bertumpuk-tumpuk untuk segera menatap sinar mata yang kau miliki. Dari hari ke hari selalu ada perjuangan untuk menahan keinginan yang terus-menerus bertambah-tambah ini. Barangkali sekejap pun kau tak menduga, bahwa kemudian aku memutuskan untuk meluluskan permintaan yang ada di dalam batinku sendiri. Satu keputusan yang mendatangkan rasa tenang luar biasa. Satu keanehan yang tiada bandingannya telah mengendap jauh di dasar hati.

Seperti yang diperkirakan sejak semula, engkau memandangi sosok yang ada di depanmu berkali-kali dengan binar mata yang kurang pasti. Ini memang perjumpaan kita yang pertama selama hampir tiga tahun bersahabat. Sungguh wajar seandainya engkau menyangsikan matamu sendiri. Dan aku berharap kedatangan yang teramat tiba-tiba ini akan memberikan kegembiraan yang sebesar-besarnya untukmu. Akan tetapi harapan yang demikian agaknya sirna tak berbekas. Engkau sama sekali lain dari bayangan semula, meskipun sangat ramah menyambut kehadiran orang yang selalu jauh darimu.

Harus dikatakan secara jujur, bahwa pada saat itu ada kekecewaan yang sedalam lautan terhadap sikap-sikapmu, yang tidak selincah kabar-kabar di dalam surat yang sudah kau tuliskan selama ini untukku. Hanya beberapa saat penyesalan mempermainkan aku di dalam lingkarannya, engkau segera mengajakku menikmati kota kecilmu yang menawan. Pada mulanya engkau mengkhawatirkan kelelahan yang telah menerpaku selama dalam perjalanan dari Bandung ke Ngawi. Tapi entah mengapa aku tak merasakan apa-apa. Berjalan bersama orang yang selalu dibayang-bayangkan selama hampir tiga tahun memiliki seni tersendiri yang begitu berbeda dari mimpi-mimpi lain.

Berdua kita menyusuri jalan Diponegoro yang lengang, tetapi kelihatan begitu bersih untuk dipandang. Selembar daun jatuh terkena hempasan angin dan hampir mengenai rambut sebahumu. Kau berhenti sejenak sembari menatapi guliran daun jatuh tersebut dengan tiada henti-hentinya. Dan pada saat itulah terbentang satu kesempatan yang datang tanpa disengaja untuk menikmati wajah beningmu. Dalam beberapa saat naluri yang kumiliki ditarik-tarik memasuki satu dunia pesona yang istimewa dan berkepanjangan, tanpa batas. Seperti baru sadar ada sepasang mata yang memandangi keindahan tersembunyi yang telah Tuhan berikan kepadamu, kau menenggadahkan wajah sambil menghujam mataku. Tiba-tiba saja jantungku berpacu dengan irama yang sulit dibayangkan. Perasaan amat berdosa dan bersalah menjepit seluruh pertimbangan yang sudah diambil. Akan tetapi ternyata engkau amat bijak. Dengan sebuah senyuman manis, kau mengajakku melangkahkan kaki kembali. Dengan segenap perasaan kagum yang mulai terbit, aku berusaha menjajari langkahmu. Setelah melewati Taman Makam Dokter Radjiman Wedyadiningrat, engkau – entah sengaja, entah tidak – memegang tanganku dan mengajakku menyeberang ke sebelah kanan jalan.

“Kemana kita?” tanyaku perlahan, tetapi mampu membuatmu tersipu dan segera melepaskan tanganku.

“Ke Beteng,”[2] jawabmu ringkas dan bersamaan dengan itu kita berbelok ke kanan lagi.

“Beteng?”

“Ya, Beteng Pendem.”

“Beteng Pendem?” Rasa penasaran yang melahirkan beberapa pertanyaan itu kau jawab dengan lugas. Beteng Pendem adalah sebutan masyarakat sekitar terhadap benteng VOC, yang dibangun sekitar tahun 1825-1830 atau lebih terangnya pada jaman perang Diponegoro. Dinamakan ‘Pendem’, karena letaknya dihalangi oleh gundukan tanah seperti bukit, sehingga tidak dapat terlihat langsung. Dulu di sekelilingnya ada parit yang ditujukan untuk menahankan serangan. Tetapi sekarang parit tersebut telah sejajar dengan dataran. Bangunan benteng ini tampak masih sangat kokoh. Hanya sayangnya, pada tembok-tembok Beteng Pendem banyak sekali ditumbuhi lumut. Sewajarnyalah, jika benteng ini mesti direnovasi juga, layaknya bangunan-bangunan lain yang punya sejarah.

“Mau kamu, kutunjukkan satu keistimewaan lagi?” tanyamu setelah kita cukup lama berputar-putar mengelilingi lorong demi lorong dan ruang demi ruang. Aku segera mengangguk. Dan kau mengajakku menyusuri jalanan yang di sebelah kanan-kirinya dapat terlihat dengan jelas tanaman padi yang telah menguning. Angin kencang yang datangnya tiba-tiba sanggup membujukku untuk merasakan suatu alam yang nyaman, tenteram, dan membahagiakan. Tanpa terasa kita sudah sampai di tempat yang kau tujukan untukku.

“Kita naik sampan,” ajakmu sambil menuntun tanganku. Sekali lagi aku mengangguk dan melangkah dengan sedikit rasa cemas. Engkau tersenyum melihat sikap yang demikian.

“Sungai apa ini?” tanyaku.

“Madiun. Sungai Madiun.”

“Kau bilang tadi ada yang istimewa,” kataku menuntut. Tawamu yang belum pernah terdengar segera saja berderai. Terasa begitu riang dan renyah. Barangkali kau geli melihat ketidaksabaranku atau jangan-jangan malah wajahku yang merah. Tak seberapa lama, sampan telah sampai ke tepi. Kita segera naik ke dataran yang lebih tinggi dan sesudah itu baru kusadari kebenaran kata-katamu. Kota kecil milikmu ternyata mempertemukan dua sungai besar yang tak akan pernah bertemu di manapun juga. Tampak bahwa air Bengawan Solo lebih berwarna coklat muda dibandingkan dengan Sungai Madiun yang menua dan ketika aku tanya mengapa, kau berkelakar, bahwa orang Solo adalah orang keraton, sedangkan orang Madiun itu hanya seperti kebanyakan orang biasa saja. Aku tersenyum mendengar jawaban anehmu, yang mungkin tidak serius.

“Kita ke Trinil,” ajakmu mengusik kesenyapan yang begitu saja datang menyelimuti kedua sungai, kau, dan aku.

“Kapan?” tanyaku dengan penuh antusias.

“Selesai Dzhuhur. Sekarang kita pulang dan kau mesti beristirahat dulu,” katamu memberi saran atau barangkali juga perintah lembut yang mesti dipatuhi. Kita naik sampan kembali. Naik sampan. Ah, aku jadi diingatkan pada keindahan lagu Perahu Kecil Berwarna Putih.[3] Beberapa kali mata kita saling menatap. Dan sekarang seolah dibangkitkan oleh sinar matamu, aku melangkahkan kaki dengan pelan-pelan menuju ke Air Terjun Abadi.[4] Mungkin sekali suara air terjun tersebut lebih mampu mencairkan kerinduan yang sedang kugenggam. Suatu kali jika kau datang berkunjung, akan kuajak kau membedah kecantikan Maribaya. Akan kubuat kau selalu terkenang padanya dan padaku.

Harus diakui, bahwa Trinil adalah tempat yang historikal. Di desa inilah pada tahun 1890 Eugene Dubois menemukan fosil Pithecanthropus Erectus yang tingginya 1,65 meter. Pithecanthropus Erectus ini dimasukkan ke dalam lapisan pleistosen tengah: suatu lapisan yang terdapat pada jaman batu dan, terutama sekali, pada masa Palaeolithikum.

Akan tetapi yang paling menarik dari semuanya itu adalah semakin jelasnya kepribadian dan sifat-sifatmu. Tidak sekelebat juga ada bayangan bahwa kau sebenarnya punya adik-adik asuh. Sungguh suatu sikap simpatik yang sangat tersendiri dari seorang dara sepertimu. Anak-anak kecil yang kaki telanjangnya bagaikan menari-nari di atas tanah becek itu, menatapmu dengan pandangan mata penuh rasa sayang. Bagi mereka engkau adalah seorang bidadari, sekaligus seorang ibu. Jika boleh dibandingkan, anak-anak Trinil ini lebih mencintai dirimu daripada segala sesuatu yang sudah mereka miliki. Bungkusan-bungkusan yang telah kau persiapkan dari rumah dan sempat memunculkan berbagai pertanyaan di benakku, kau berikan pada mereka. Bukan karena engkau, jika kemudian kurasakan hasrat untuk menjaga kehidupan mereka. Hasrat tersebut datang lantaran sinar mata anak-anak Trinil yang sepolos bulan.

Sekembalinya dari Trinil, malamnya, kita jalan-jalan di alun-alun kotamu. Kesenyapannya membuatku merasa ganjil. Di manapun alun-alun suatu kota selalu pasti meriah. Di lain pihak, kesenyapan itu memberikan satu keleluasan tersendiri. Kita bisa berbincang-bincang dengan sesukanya tanpa takut didengar orang lain.

Lagi-lagi kau memerangkapku dengan pembicaraanmu yang sarat oleh pemikiran-pemikiran yang radikal. Kau marah pada segala sesuatu yang bersifat hedonistik dan nepotistik. Boleh jadi juga, kau termasuk orang yang sedikit skeptis manakala mengungkapkan karakteristik manusia yang indefinitif. Atau seperti lazimnya orang, kau sedang mengalami evolusi jiwa. Ya, kau sedang berkembang menuju ke batin yang lebih mantap dan stabil. Sampai kemudian aku mengetahui, bahwa ibumu yang selalu kau kabarkan sangat menyayangimu telah dipanggil Tuhan tepat seminggu sebelum aku melihat-lihat keajaiban kota kecilmu. Apa yang mesti dikatakan mendengar berita duka yang sedang bersamamu?

Aku sama sekali tidak tahu. Tidak tahu apa yang sesungguhnya sekarang kau butuhkan. Tetapi aku amat bersyukur melihat jiwamu yang melesat jauh ke depan. Dengan kepergian ibumu, kau mencoba untuk lebih mengerti mengenai kehidupan ragawi, bahkan terhadap arti guguran daun. Pada kehidupanmu tergenggam kematian. Artinya, melalui hidup kau mencoba memahami kematian yang absolut akan datang. Engkau pun mulai sampai kepada penyabaran diri dari keinginan bermacam-macam. Satu sikap besar yang aku ketahui tapi belum kualami. Selain itu, kau juga lebih respek terhadap orang-orang yang melawan arus. Mulai dari Socrates[5] pada jaman Yunani, tokoh-tokoh renaissance, sampai kepada Imre Nagy[6], Milovan Djilas[7], Pasternak[8], Sakharov[9], dan Solzhenitsyn[10] di Eropa Timur mampu kau telaah.

“Kapan kamu pulang?”

“Lusa.”

“Lusa?” tanyamu lagi penuh keragu-raguan.

“Ya, pagi-pagi sekali,” kataku dan kemudian kujelaskan bahwa aku akan mendapat pembekalan Kuliah Kerja Nyata di fakultas dan universitas selama tiga hari. Kau pun tercenung. Barangkali kau akan merasa sangat kehilangan. Lain kali, aku akan datang kepadamu selama yang kamu mau. Akan tetapi yang sekejap itu nyata-nyata mendatangkan seribu kenangan. Malam semakin dekat menuju ke pertengahan. Kita pulang tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Entah perasaan apa yang datang ini. Kesedihan, kedukaan, ataukah rasa takut kehilangan. Yang jelas, engkau telah mampu membangkitkan satu perasaan asing yang berwarna-warna. Mungkin itu terlalu cepat, tetapi tidak, waktu yang baru sehari kita lampaui telah memberikan sesuatu yang indah dan selamanya demikian.

Besoknya, sesuai dengan janji di alun-alun, kita pergi ke Tawangmangu. Udara pagi yang bersih mampu membuat hati menjadi riang. Di desa Banjarejo kau mengajakku turun dari bis yang kita tumpangi. Perasaan heran yang tiba-tiba menyergap, bermain-main di dalam hati. Ternyata kau mengajakku menikmati monumen Suryo dan hutan jati. Seperti biasanya, kau yang bagaikan seorang guide, menceritakan latarnya. Sesudah itu perjalanan diteruskan. Jalan yang berbelok-belok akhirnya menyampaikan kita ke tempat impian. Engkau, aku, dan Tawangmangu ditambah dengan Air Terjun Seribu segera berpadu dalam kenangan yang terkekal. Inilah yang paling berkesan selama hampir tiga tahun kita berdua.

Tak ada satu titik pun dari keindahan Tawangmangu ditinggalkan tanpa sentuhan keakraban. Sepasang matamu yang berpendar-pendar mampu membuat semua batang pohon, setiap ekor burung jadi makin gembira, bahkan sinar matari pun berlebihan gemerlapnya. Engkaulah segala sesuatu yang mempunyai ketakjuban. Bersamamu, kupastikan, sanubari ini tertambat begitu jauh. Akan tetapi, entah jika engkau bersamaku. Inilah yang mendatangkan keragu-raguan sampai sekarang dan ini juga yang menyebabkan aku seperti bermain dengan perasaan sendiri. Kepergian ibumu, kunjungan, dan kepulanganku, yang kutakutkan, hanya menimbulkan pengertianmu yang semakin dalam terhadap hidup tanpa pernah menanggapi getaran yang kualami. Pertimbangan yang demikian, menyebabkan aku tak mengatakan apa-apa juga kepadamu.

Sampai kita meninggalkan Tawangmangu dan udara dingin pada sore yang diliputi mendung hujan. Begitu pula ketika aku harus meninggalkan kota kecil milikmu, terutama kau sendiri. Tak ada satu kata pun yang mampu kuucapkan. Bahkan aku sama sekali tak mampu membalikkan badan, mengatakan selamat tinggal, dan melambaikan tangan. Pada saat itu, ada rasa takut yang luar biasa, bahwa sinar matamu tidak menunjukkan kehilangan sesuatu. Dan aku sendiri tak ingin memperlihatkan kepadamu, bahwa aku sedang menghadapi semua rasa kehilangan yang pasti akan menimbulkan kerinduan yang tak akan pernah habis.

Dan sekarang aku sendiri. Berdiri memandang Air Terjun Abadi, memandang langit di atas Maribaya, memandang pohon pinus, kemudian memandang wajahku sendiri di atas permukaan air. Syal merah jinggamu seolah-olah berkata, bahwa engkau sebenarnya dekat padaku. Beberapa detik Ho Chong Wing melalui harmonika peraknya menggamparku dengan Cinta Tanpa Akhir.[11] Kelembutan maknanya menyimpulkan bahwa sebenarnya aku juga demikian padamu. Cintaku demikian padamu. Dengan kesadaran dan kekuatan batin yang penuh, akhirnya kuputuskan untuk menjumpaimu sekali lagi. Biarlah engkau mengetahui keajaiban sepasang mataku. Dan besok, yang tak terlalu lama dari hari ini, aku akan datang kepadamu selama yang aku mau dan selama yang engkau mau. (*)

 

[1] Potpouri buat Rebi Astuti

[2] Fonetik masyarakat sekitar untuk kata Benteng

[3] Little White Boat, di dalam kumpulan lagu Asian Delights oleh Ho Chong Wing and His Silver Harmonica

[4] Saya menyebut Air Terjun Maribaya secara demikian

[5] Socrates (470 SM-399 SM) merupakan filsuf dari Athena, Yunani

[6] Imre Nagy (7 Juni 1896-16 Juni 1958) merupakan politikus dan perdana menteri Hungaria

[7] Milovan Djilas lahir tahun 1911 di Montenegro, Yugoslavia dan meninggal tahun 1997

[8] Boris Pasternak (10/29 Pebruari 1890-30 Mei 1930) merupakan penyair Rusia, novelnya yang ternama adalah Doktor Zhivago

[9] Andrei Sakharov (21 Mei 1921-14 Desember 1989) merupakan fisikawan nuklir Uni Soviet. Tahun 1975 memperoleh Nobel Perdamaian untuk gerakan hak azasi manusia

[10] Alexander Solzhenitsyn (11 Desember 1918-3 Agustus 2008) merupakan penulis Rusia yang pada tahun 1970 mendapatkan hadiah Nobel dalam Kesusastraan.

[11] Love without End

Continue Reading

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Classic Prose

Trending