Connect with us
Potpouri Buat Rebi Astuti Potpouri Buat Rebi Astuti

Cerpen

Potpouri Buat Rebi Astuti

mm

Published

on

Oleh: Ladinata

Tuhan jauh-jauh telah menakdirkan

bahwa kematian akan tiba pada kita semua, anakku sayang

dan jika dia datang kepada ibu sekarang

janganlah sekali-sekali engkau menunjukkan kedukaanmu

karena kematian sebenarnya datang

bukan untuk membuatmu menjadi susah

tetapi dia datang untuk memberikan pelajaran-pelajaran kepadamu

bagaimana kehidupan ini harus dijalani

dan dari kematian pula kau akan mengetahui

bahwa ibu tak akan melihat lagi bunga-bunga

burung-burung yang terbang

dan matahari pagi yang bersinar cemerlang

segalanya memang teramat sederhana buatmu

tetapi ibu yakin akan kehilangan bayangannya

sementara kau sendiri belum merasa memiliki

oleh karena itu, anakku sayang

belajarlah menerjemahkan kehidupan dan kematian

melalui keberadaan dan kepergian orang-orang yang kau sayangi

agar di masa nanti engkau tidak menjadi bagian dari kesia-siaan[1]

 

Lagi, kuhirup udara lembab. Angin yang datang perlahan-lahan membawa dingin. Syal merah jingga, hadiah darimu, menghangatkan leherku. Samar-samar masih terdengar suara pohon-pohon pinus, memberikan sesuatu yang lain ke dalam jiwa.

Dalam beberapa saat aku seperti dikukung oleh kekuatan dan keindahan yang maha gaib. Bukanlah kesalahanku jika pada saat itu bayanganmu datang dan teramat akrab di sampingku. Suasana Maribaya yang diselimuti kabut hujan, selalu pasti menunaikan kerinduan di dalam batin kepadamu, meskipun pada kenyataannya itu tidak sesempurna sewaktu kau dan aku menikmati sampai batas yang terdalam dari keajaiban Tawangmangu dengan Air Terjun Seribu-nya. Rasanya memang tak akan pernah mungkin menghadirkan dirimu dan Tawangmangu ke dalam suasana Maribaya dengan bunga yang berwarna merah dan kuning. Akan tetapi setidak-tidaknya melalui Maribaya yang menyejukkan dan menentramkan pikiran, aku dapat mendekati dirimu yang memiliki seribu jawaban dari seribu pertanyaanku – yang sebenarnya – satu pun belum kau jawab. Kadang-kadang, ada kecemasan yang luar biasa menghajar rasio normalku. Jangan-jangan selama ini aku hanya berfantasi dan tengah mabuk asmara sendirian.

Hanya satu kebetulan yang menyenangkan aku dapat mengenalmu lewat seorang sahabat, yang juga menjadi sahabat baikmu di sekolah menengah. Sejak itu kita sering berdua di dalam beribu-ribu kabar tanpa sekali juga penah berjumpa dan tertawa. Pikiran sederhanaku menduga-duga, bahwa kau seorang yang teramat lincah sesuai dengan bahasa yang ditampakkan. Dan hal itu cukup membuat kerinduan yang sudah ada semakin bertumpuk-tumpuk untuk segera menatap sinar mata yang kau miliki. Dari hari ke hari selalu ada perjuangan untuk menahan keinginan yang terus-menerus bertambah-tambah ini. Barangkali sekejap pun kau tak menduga, bahwa kemudian aku memutuskan untuk meluluskan permintaan yang ada di dalam batinku sendiri. Satu keputusan yang mendatangkan rasa tenang luar biasa. Satu keanehan yang tiada bandingannya telah mengendap jauh di dasar hati.

Seperti yang diperkirakan sejak semula, engkau memandangi sosok yang ada di depanmu berkali-kali dengan binar mata yang kurang pasti. Ini memang perjumpaan kita yang pertama selama hampir tiga tahun bersahabat. Sungguh wajar seandainya engkau menyangsikan matamu sendiri. Dan aku berharap kedatangan yang teramat tiba-tiba ini akan memberikan kegembiraan yang sebesar-besarnya untukmu. Akan tetapi harapan yang demikian agaknya sirna tak berbekas. Engkau sama sekali lain dari bayangan semula, meskipun sangat ramah menyambut kehadiran orang yang selalu jauh darimu.

Harus dikatakan secara jujur, bahwa pada saat itu ada kekecewaan yang sedalam lautan terhadap sikap-sikapmu, yang tidak selincah kabar-kabar di dalam surat yang sudah kau tuliskan selama ini untukku. Hanya beberapa saat penyesalan mempermainkan aku di dalam lingkarannya, engkau segera mengajakku menikmati kota kecilmu yang menawan. Pada mulanya engkau mengkhawatirkan kelelahan yang telah menerpaku selama dalam perjalanan dari Bandung ke Ngawi. Tapi entah mengapa aku tak merasakan apa-apa. Berjalan bersama orang yang selalu dibayang-bayangkan selama hampir tiga tahun memiliki seni tersendiri yang begitu berbeda dari mimpi-mimpi lain.

Berdua kita menyusuri jalan Diponegoro yang lengang, tetapi kelihatan begitu bersih untuk dipandang. Selembar daun jatuh terkena hempasan angin dan hampir mengenai rambut sebahumu. Kau berhenti sejenak sembari menatapi guliran daun jatuh tersebut dengan tiada henti-hentinya. Dan pada saat itulah terbentang satu kesempatan yang datang tanpa disengaja untuk menikmati wajah beningmu. Dalam beberapa saat naluri yang kumiliki ditarik-tarik memasuki satu dunia pesona yang istimewa dan berkepanjangan, tanpa batas. Seperti baru sadar ada sepasang mata yang memandangi keindahan tersembunyi yang telah Tuhan berikan kepadamu, kau menenggadahkan wajah sambil menghujam mataku. Tiba-tiba saja jantungku berpacu dengan irama yang sulit dibayangkan. Perasaan amat berdosa dan bersalah menjepit seluruh pertimbangan yang sudah diambil. Akan tetapi ternyata engkau amat bijak. Dengan sebuah senyuman manis, kau mengajakku melangkahkan kaki kembali. Dengan segenap perasaan kagum yang mulai terbit, aku berusaha menjajari langkahmu. Setelah melewati Taman Makam Dokter Radjiman Wedyadiningrat, engkau – entah sengaja, entah tidak – memegang tanganku dan mengajakku menyeberang ke sebelah kanan jalan.

“Kemana kita?” tanyaku perlahan, tetapi mampu membuatmu tersipu dan segera melepaskan tanganku.

“Ke Beteng,”[2] jawabmu ringkas dan bersamaan dengan itu kita berbelok ke kanan lagi.

“Beteng?”

“Ya, Beteng Pendem.”

“Beteng Pendem?” Rasa penasaran yang melahirkan beberapa pertanyaan itu kau jawab dengan lugas. Beteng Pendem adalah sebutan masyarakat sekitar terhadap benteng VOC, yang dibangun sekitar tahun 1825-1830 atau lebih terangnya pada jaman perang Diponegoro. Dinamakan ‘Pendem’, karena letaknya dihalangi oleh gundukan tanah seperti bukit, sehingga tidak dapat terlihat langsung. Dulu di sekelilingnya ada parit yang ditujukan untuk menahankan serangan. Tetapi sekarang parit tersebut telah sejajar dengan dataran. Bangunan benteng ini tampak masih sangat kokoh. Hanya sayangnya, pada tembok-tembok Beteng Pendem banyak sekali ditumbuhi lumut. Sewajarnyalah, jika benteng ini mesti direnovasi juga, layaknya bangunan-bangunan lain yang punya sejarah.

“Mau kamu, kutunjukkan satu keistimewaan lagi?” tanyamu setelah kita cukup lama berputar-putar mengelilingi lorong demi lorong dan ruang demi ruang. Aku segera mengangguk. Dan kau mengajakku menyusuri jalanan yang di sebelah kanan-kirinya dapat terlihat dengan jelas tanaman padi yang telah menguning. Angin kencang yang datangnya tiba-tiba sanggup membujukku untuk merasakan suatu alam yang nyaman, tenteram, dan membahagiakan. Tanpa terasa kita sudah sampai di tempat yang kau tujukan untukku.

“Kita naik sampan,” ajakmu sambil menuntun tanganku. Sekali lagi aku mengangguk dan melangkah dengan sedikit rasa cemas. Engkau tersenyum melihat sikap yang demikian.

“Sungai apa ini?” tanyaku.

“Madiun. Sungai Madiun.”

“Kau bilang tadi ada yang istimewa,” kataku menuntut. Tawamu yang belum pernah terdengar segera saja berderai. Terasa begitu riang dan renyah. Barangkali kau geli melihat ketidaksabaranku atau jangan-jangan malah wajahku yang merah. Tak seberapa lama, sampan telah sampai ke tepi. Kita segera naik ke dataran yang lebih tinggi dan sesudah itu baru kusadari kebenaran kata-katamu. Kota kecil milikmu ternyata mempertemukan dua sungai besar yang tak akan pernah bertemu di manapun juga. Tampak bahwa air Bengawan Solo lebih berwarna coklat muda dibandingkan dengan Sungai Madiun yang menua dan ketika aku tanya mengapa, kau berkelakar, bahwa orang Solo adalah orang keraton, sedangkan orang Madiun itu hanya seperti kebanyakan orang biasa saja. Aku tersenyum mendengar jawaban anehmu, yang mungkin tidak serius.

“Kita ke Trinil,” ajakmu mengusik kesenyapan yang begitu saja datang menyelimuti kedua sungai, kau, dan aku.

“Kapan?” tanyaku dengan penuh antusias.

“Selesai Dzhuhur. Sekarang kita pulang dan kau mesti beristirahat dulu,” katamu memberi saran atau barangkali juga perintah lembut yang mesti dipatuhi. Kita naik sampan kembali. Naik sampan. Ah, aku jadi diingatkan pada keindahan lagu Perahu Kecil Berwarna Putih.[3] Beberapa kali mata kita saling menatap. Dan sekarang seolah dibangkitkan oleh sinar matamu, aku melangkahkan kaki dengan pelan-pelan menuju ke Air Terjun Abadi.[4] Mungkin sekali suara air terjun tersebut lebih mampu mencairkan kerinduan yang sedang kugenggam. Suatu kali jika kau datang berkunjung, akan kuajak kau membedah kecantikan Maribaya. Akan kubuat kau selalu terkenang padanya dan padaku.

Harus diakui, bahwa Trinil adalah tempat yang historikal. Di desa inilah pada tahun 1890 Eugene Dubois menemukan fosil Pithecanthropus Erectus yang tingginya 1,65 meter. Pithecanthropus Erectus ini dimasukkan ke dalam lapisan pleistosen tengah: suatu lapisan yang terdapat pada jaman batu dan, terutama sekali, pada masa Palaeolithikum.

Akan tetapi yang paling menarik dari semuanya itu adalah semakin jelasnya kepribadian dan sifat-sifatmu. Tidak sekelebat juga ada bayangan bahwa kau sebenarnya punya adik-adik asuh. Sungguh suatu sikap simpatik yang sangat tersendiri dari seorang dara sepertimu. Anak-anak kecil yang kaki telanjangnya bagaikan menari-nari di atas tanah becek itu, menatapmu dengan pandangan mata penuh rasa sayang. Bagi mereka engkau adalah seorang bidadari, sekaligus seorang ibu. Jika boleh dibandingkan, anak-anak Trinil ini lebih mencintai dirimu daripada segala sesuatu yang sudah mereka miliki. Bungkusan-bungkusan yang telah kau persiapkan dari rumah dan sempat memunculkan berbagai pertanyaan di benakku, kau berikan pada mereka. Bukan karena engkau, jika kemudian kurasakan hasrat untuk menjaga kehidupan mereka. Hasrat tersebut datang lantaran sinar mata anak-anak Trinil yang sepolos bulan.

Sekembalinya dari Trinil, malamnya, kita jalan-jalan di alun-alun kotamu. Kesenyapannya membuatku merasa ganjil. Di manapun alun-alun suatu kota selalu pasti meriah. Di lain pihak, kesenyapan itu memberikan satu keleluasan tersendiri. Kita bisa berbincang-bincang dengan sesukanya tanpa takut didengar orang lain.

Lagi-lagi kau memerangkapku dengan pembicaraanmu yang sarat oleh pemikiran-pemikiran yang radikal. Kau marah pada segala sesuatu yang bersifat hedonistik dan nepotistik. Boleh jadi juga, kau termasuk orang yang sedikit skeptis manakala mengungkapkan karakteristik manusia yang indefinitif. Atau seperti lazimnya orang, kau sedang mengalami evolusi jiwa. Ya, kau sedang berkembang menuju ke batin yang lebih mantap dan stabil. Sampai kemudian aku mengetahui, bahwa ibumu yang selalu kau kabarkan sangat menyayangimu telah dipanggil Tuhan tepat seminggu sebelum aku melihat-lihat keajaiban kota kecilmu. Apa yang mesti dikatakan mendengar berita duka yang sedang bersamamu?

Aku sama sekali tidak tahu. Tidak tahu apa yang sesungguhnya sekarang kau butuhkan. Tetapi aku amat bersyukur melihat jiwamu yang melesat jauh ke depan. Dengan kepergian ibumu, kau mencoba untuk lebih mengerti mengenai kehidupan ragawi, bahkan terhadap arti guguran daun. Pada kehidupanmu tergenggam kematian. Artinya, melalui hidup kau mencoba memahami kematian yang absolut akan datang. Engkau pun mulai sampai kepada penyabaran diri dari keinginan bermacam-macam. Satu sikap besar yang aku ketahui tapi belum kualami. Selain itu, kau juga lebih respek terhadap orang-orang yang melawan arus. Mulai dari Socrates[5] pada jaman Yunani, tokoh-tokoh renaissance, sampai kepada Imre Nagy[6], Milovan Djilas[7], Pasternak[8], Sakharov[9], dan Solzhenitsyn[10] di Eropa Timur mampu kau telaah.

“Kapan kamu pulang?”

“Lusa.”

“Lusa?” tanyamu lagi penuh keragu-raguan.

“Ya, pagi-pagi sekali,” kataku dan kemudian kujelaskan bahwa aku akan mendapat pembekalan Kuliah Kerja Nyata di fakultas dan universitas selama tiga hari. Kau pun tercenung. Barangkali kau akan merasa sangat kehilangan. Lain kali, aku akan datang kepadamu selama yang kamu mau. Akan tetapi yang sekejap itu nyata-nyata mendatangkan seribu kenangan. Malam semakin dekat menuju ke pertengahan. Kita pulang tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Entah perasaan apa yang datang ini. Kesedihan, kedukaan, ataukah rasa takut kehilangan. Yang jelas, engkau telah mampu membangkitkan satu perasaan asing yang berwarna-warna. Mungkin itu terlalu cepat, tetapi tidak, waktu yang baru sehari kita lampaui telah memberikan sesuatu yang indah dan selamanya demikian.

Besoknya, sesuai dengan janji di alun-alun, kita pergi ke Tawangmangu. Udara pagi yang bersih mampu membuat hati menjadi riang. Di desa Banjarejo kau mengajakku turun dari bis yang kita tumpangi. Perasaan heran yang tiba-tiba menyergap, bermain-main di dalam hati. Ternyata kau mengajakku menikmati monumen Suryo dan hutan jati. Seperti biasanya, kau yang bagaikan seorang guide, menceritakan latarnya. Sesudah itu perjalanan diteruskan. Jalan yang berbelok-belok akhirnya menyampaikan kita ke tempat impian. Engkau, aku, dan Tawangmangu ditambah dengan Air Terjun Seribu segera berpadu dalam kenangan yang terkekal. Inilah yang paling berkesan selama hampir tiga tahun kita berdua.

Tak ada satu titik pun dari keindahan Tawangmangu ditinggalkan tanpa sentuhan keakraban. Sepasang matamu yang berpendar-pendar mampu membuat semua batang pohon, setiap ekor burung jadi makin gembira, bahkan sinar matari pun berlebihan gemerlapnya. Engkaulah segala sesuatu yang mempunyai ketakjuban. Bersamamu, kupastikan, sanubari ini tertambat begitu jauh. Akan tetapi, entah jika engkau bersamaku. Inilah yang mendatangkan keragu-raguan sampai sekarang dan ini juga yang menyebabkan aku seperti bermain dengan perasaan sendiri. Kepergian ibumu, kunjungan, dan kepulanganku, yang kutakutkan, hanya menimbulkan pengertianmu yang semakin dalam terhadap hidup tanpa pernah menanggapi getaran yang kualami. Pertimbangan yang demikian, menyebabkan aku tak mengatakan apa-apa juga kepadamu.

Sampai kita meninggalkan Tawangmangu dan udara dingin pada sore yang diliputi mendung hujan. Begitu pula ketika aku harus meninggalkan kota kecil milikmu, terutama kau sendiri. Tak ada satu kata pun yang mampu kuucapkan. Bahkan aku sama sekali tak mampu membalikkan badan, mengatakan selamat tinggal, dan melambaikan tangan. Pada saat itu, ada rasa takut yang luar biasa, bahwa sinar matamu tidak menunjukkan kehilangan sesuatu. Dan aku sendiri tak ingin memperlihatkan kepadamu, bahwa aku sedang menghadapi semua rasa kehilangan yang pasti akan menimbulkan kerinduan yang tak akan pernah habis.

Dan sekarang aku sendiri. Berdiri memandang Air Terjun Abadi, memandang langit di atas Maribaya, memandang pohon pinus, kemudian memandang wajahku sendiri di atas permukaan air. Syal merah jinggamu seolah-olah berkata, bahwa engkau sebenarnya dekat padaku. Beberapa detik Ho Chong Wing melalui harmonika peraknya menggamparku dengan Cinta Tanpa Akhir.[11] Kelembutan maknanya menyimpulkan bahwa sebenarnya aku juga demikian padamu. Cintaku demikian padamu. Dengan kesadaran dan kekuatan batin yang penuh, akhirnya kuputuskan untuk menjumpaimu sekali lagi. Biarlah engkau mengetahui keajaiban sepasang mataku. Dan besok, yang tak terlalu lama dari hari ini, aku akan datang kepadamu selama yang aku mau dan selama yang engkau mau. (*)

 

[1] Potpouri buat Rebi Astuti

[2] Fonetik masyarakat sekitar untuk kata Benteng

[3] Little White Boat, di dalam kumpulan lagu Asian Delights oleh Ho Chong Wing and His Silver Harmonica

[4] Saya menyebut Air Terjun Maribaya secara demikian

[5] Socrates (470 SM-399 SM) merupakan filsuf dari Athena, Yunani

[6] Imre Nagy (7 Juni 1896-16 Juni 1958) merupakan politikus dan perdana menteri Hungaria

[7] Milovan Djilas lahir tahun 1911 di Montenegro, Yugoslavia dan meninggal tahun 1997

[8] Boris Pasternak (10/29 Pebruari 1890-30 Mei 1930) merupakan penyair Rusia, novelnya yang ternama adalah Doktor Zhivago

[9] Andrei Sakharov (21 Mei 1921-14 Desember 1989) merupakan fisikawan nuklir Uni Soviet. Tahun 1975 memperoleh Nobel Perdamaian untuk gerakan hak azasi manusia

[10] Alexander Solzhenitsyn (11 Desember 1918-3 Agustus 2008) merupakan penulis Rusia yang pada tahun 1970 mendapatkan hadiah Nobel dalam Kesusastraan.

[11] Love without End

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Gao Xingjian: Bayangan Kematian

mm

Published

on

Getty Images/ google

Kau tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal-hal aneh, dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andaikan kau menginginkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya rasa takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.

Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal di masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar dari kini. Kesedihan sepele membuatmu begitu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.

Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan sebuah keajaiban. Tak cukupkah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?

Ketakutanmu pada kematian muncul saat kau rapuh jiwa dan raga. Kau merasa sesak dan cemas, khawatir keburu mati sebelum sempat menghela napas berikutnya. Seolah-olah kau terlempar ke dasar jurang, perasaan keterpurukan ini sering muncul dalam mimpi-mimpi masa kecilmu dank au akan terbangun dengan napas terengah-engah, ketakutan. Saat itu ibumu akan membawamuke rumah sakit, namun kini, sebuah permintaan dokter untuk melakukan pemeriksaan pun kau tunda berkali-kali.

Jelas sekali bagimu kehidupan berakhir dengan sendirinya dan saat akhir itu tiba rasa takutmu memudar, karena rasa takut itu sendiri adalah perwujudan kehidupan. Saat kehilangan kesadaran dan keinsyafan, hidup tiba-tiba berakhir tanpa menyisakan makna dan pemikiran.

Penderitaanmu adalah pencarian makna bagimu. Saat kau mulai membincangkan arti kesejatian hidup manusia dengan teman-teman masa mudamu, kau hidup dengan susah payah, seolah-olah kini kau telah menikmati segala kesemuan hidup dank au menertawakan kesia-siaanmu dalam pencarian makna. Yang terbaik adalah mengalami keberadaan dan menjaganya.

Kau merasa melihat makna hidup dalam kehampaan, cahaya samar yang muncul dari antah berantah. Ia tak berdiri di tempat tertentu di atas bumi. Ia seperti dahan pohon tanpa bayangan, sementara ufuk yang memisahkan langit dan bumi telah lenyap. Atau, ia bagaikan seekor burung di sebuah tempat berselimut salju yang memandang berkeliling. Terkadang, ia menatap ke depan, menghunjam dalam pikiranmu, walaupun tak jelas benar apa yang ia renungi. Itu hanyalah isyarat tubuh sederhana, isyarat tubuh yang indah. Keberadaan pun senyatanya adalah sebuah isyarat tubuh, mencoba mencari rasa nyaman, merentangkan lengan, menekuk lutut, berbalik, memandang ke belakang di atas relung kesadaran. Dari situ ia mampu menggapai kebahagiaan sekejap. Tragedi, komedi, dan lelucon. Penghakiman atas keindahan hidup manusia yang berbeda bagi masing-masing orang, waktu, dan tempat. Perasaan pun mungkin seperti ini. Kesedihan yang timbul di saat ini di waktu yang lain bisa jadi sebuah kekonyolan dan penyucian diri. Hanya isyarat tubuh yang tenang bisa memperpanjang hidup ini dan bersusah payah menyimpulkan misteri kekinian di saat kebebasan tercapai. Menyendiri, meneliti pendapat diri melalui kekalahan-kekalahan orang lain.

Kau tak tahu apa lagi yang akan dilakuan, apa pun yang bisa kau lakukan tak penting lagi. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Tapi tak kau lakukan pun tak jadi soal. Dan kau tak perlu ngotot melakukan sesuatu jika kau merasa lapar dan haus, lebih baik kau makan dan minum. Tentu saja kau bebas berpendapat, menafsir apapun, punya keinginan, dan bahkan marah, biarpun kau telah sampai pada usia di mana tenagamu tak cukup lagi untuk marah. Secara alamiah, kau bisa naik darah, namun tanpa gairah amarah. Perasaan dan inderamu tetap bekerja, namun tak seperti dulu. Tak akan ada lagi penyesalan. Penyesalan itu sia-sia dan merusak diri.

Bagimu hanyalah kehidupan yang bernilai. Kau telah melekat dan terserap padanya seolah-olah masih ada hal menakjubkanyang bisa kau temukan di dalamnya. Seolah-olah hanya kehidupan yang bisa membuatmu senang. Bukankah itu yang kau rasakan? (*)

Gao Xingjian (高行健, pinyin: Gāo Xíngjiàn, lahir di Ganzhou, Jiangxi, Republik Rakyat Tiongkok, 4 Januari 1940; umur 77 tahun), ialah penulis seorang novelis, dramawan, dan kritikus Tiongkok seberang lautan. Ia juga seorang penerjemah, sutradara, dan pelukis terkenal.

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Cerpen

Chingiz Aitmatov: Mankurt

mm

Published

on

Ini terjadi pada berabad-abad yang lalu. Di antara suku-suku nomaden, yang hidup di tanah Kazakhstan, berlangsung perang yang permanen. Para pemenang perang mengubah orang-orang taklukan menjadi budak. Zhuanzhuan, yang pada suatu waktu menguasai sebagian besar tanah Kazakhstan, merupakan orang-orang yang terutama sangat keji. Mereka mengubah para tawanan menjadi mankurt, manusia yang kehilangan ingatan. Untuk itu ke kepala para tawanan dilekatkan kulit unta yang lembab dan mereka ditinggal  tanpa air, tanpa roti, dalam beberapa hari di atas tanah lapang terbuka. Matahari memanaskan kulit unta yang lembab dan kulit itu pun menjadi mengkerut, dan manusia bisa mati lantaran rasa sakit atau bisa menjadi gila, kehilangan ingatan. Baru pada hari ke lima Zhuanzhuan datang melihat, siapakah di antara tawanan yang bertahan hidup. Biasanya yang bertahan hidup hanyalah 1-2 orang dari lima. Mereka merupakan budak-mankurt, yang harganya sangat mahal, karena mereka adalah manusia tanpa ingatan, manusia, yang melupakan ayah dan ibunya dan hanya mengetahui tuannya. Budak yang demikian tidak memimpikan kebebasan, dia mampu mengerjakan pekerjaan yang paling hitam dan berat, dan tidak menginginkan apa-apa. Dan tidak ada seorang dari para kerabat atau kawan yang berupaya membebaskan mankurt, manusia, yang melupakan segala.

Tetapi ada seorang ibu, bernama Naiman-Ana, tidak mampu berdamai dengan hal tersebut. Anak laki-lakinya, yang ikut di dalam pertempuran dengan Zhuanzhuan, jatuh ke dalam tawanan. Naiman-Ana ingin menemukan anaknya. Dia memimpikan hanya satu hal: semoga anaknya masih hidup, meskipun menjadi seorang mankurt, yang kehilangan ingatan, tetapi anaknya tetap hidup, tetap hidup! Naiman-Ana mengambil selembar selendang putih dan mulai berjalan ke padang stepa. Begitu lama dia berjalan di atas padang stepa dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda rupawan dan dia mengetahui, bahwa itu adalah anaknya.

“Anakku, anak kandungku! Aku mencarimu!” teriaknya, “aku ibumu!” Dan dengan seketika Naiman-Ana memahami semuanya dan dia pun mulai menangis, dan dia memandangi wajah anaknya yang beku, yang berdiri di sampingnya. Tetapi anaknya bahkan tidak bertanya, siapakah dia dan mengapa juga dia menangis. Kedua mata anaknya tampak kosong dan wajahnya tidak pedulian.

“Kau tidak mengenalku?” tanya sang ibu, akhirnya.

“Tidak,” jawab mankurt.

“Siapakah namamu?”

“Mankurt.”

“Begitulah sekarang kau dipanggil. Dan bagaimanakah dulunya kau dipanggil? Ingatlah namamu sendiri!”

Mankurt terdiam.

“Dan siapakah nama ayahmu? Dan kau sendiri siapa, dari mana, di manakah kau dilahirkan? Kau ingatkah?”

Tidak, anaknya tidak ingat apa-apa dan dia tidak mengenali.

“Apakah yang mereka lakukan terhadapmu!” kata sang ibu dengan lirih. “Kau dengar? Namamu Zholaman. Ayahmu bernama Donenbai. Kau ingat ayahmu? Dialah yang mengajari kau memanah. Dan aku adalah ibumu, kau dengar?”

Akan tetapi semua, apa yang dikatakan sang ibu, tidaklah menarik baginya.

“Marilah aku lihat, apa yang mereka lakukan dengan kepalamu?” kata Naiman-Ana.

“Tidak,” jawab mankurt dan dia tidak ingin lebih jauh lagi berbicara dengan Naiman-Ana. Dan Naiman-Ana memutuskan untuk membawa pulang anaknya. Lebih baik anaknya tinggal di rumah sendiri, dibandingkan di padang stepa, menjadi budak Zhuanzhuan.

Naiman-Ana dengan begitu lama meminta anaknya untuk pulang ke rumah, tetapi anaknya tidak memahami, bagaimanakah harus pergi, jika sang tuan tidak mengijinkan. Dan kembali, dan kembali lagi Naiman-Ana mengulangi:

“Ayahmu Donenbai, dan namamu bukan Mankurt, tetapi Zholaman. Ketika kau dilahirkan di dalam keluarga kita ada perayaan yang demikian besar.”

Dan tiba-tiba saja Naiman-Ana melihat seseorang, yang berjalan ke arah mereka di atas seekor unta.

“Siapakah dia?” tanyanya.

“Itu sang tuan.”

Naiman-Ana mestilah pergi.

“Jangan katakan apa-apa kepadanya, aku akan segera datang kembali.” Kata Naiman-Ana. Anaknya tidak menjawab. Baginya semua sama saja.

Tetapi sang tuan telah melihat sang perempuan tersebut. “Siapakah dia?” tanyanya kepada mankurt.

“Dia berkata, bahwa dia adalah ibuku.”

“Dia bukan ibumu! Kau tidak punya ibu! Kau tahu, apa yang dia inginkan? Dia ingin mengambil kepalamu!” teriak Zhuanzhuan.

Mankurt ketakutan. Wajahnya menjadi suram.

“Jangan khawatir!” kata sang tuan, “bukankah kau bisa memanah? Nah, ambillah!” Dan dia memberikan mankurt busur beserta anak panahnya.

Ketika Zhuanzhuan pergi, Naiman-Ana menghampiri anaknya. Dia tidak melihat, bahwa anaknya, mankurt, telah bersiap-siap memanah. Sinar matahari mengganggu mankurt, dan dia menantikan momen yang tepat.

“Zholaman, anakku!” panggil Naiman-Ana kepada anaknya. Tetapi terlambat: anak panah telah menghantam tepat di jantung Naiman-Ana. Itu adalah hantaman yang mematikan. Naiman-Ana pelan-pelan terjatuh, tetapi dari bagian kepalanya selendang putih terlebih dulu jatuh, berubah menjadi seekor burung dan terbang dengan teriakan: “Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai! Donenbai!”

Orang-orang mengatakan, bahwa sekarang pejalan yang berjalan di padang stepa masih bisa mendengar, bagaimana burung tersebut berteriak:

“Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai!” (*)

 

*Biografi Chingiz Aitmatov

Chingiz Torekulovich Aitmatov lahir pada tanggal 12 Desember 1928, di Sheker, Kyrgyzstan dan meninggal pada tanggal  10 Juni 2008, di Nürnberg, Jerman. Karyanya antara lain: “Jamila” (1958), “Farewell, Gulsary” (1966), “The White Ship” (1970), “The Day Last More Than a Hundred Years” (1980), “Mother Earth and Other Stories” (2011). Chingiz Aitmatov juga pernah berkaris sebagai ambassador Uni Soviet dan kemudian Kyrgyzstan untuk European Union, NATO, UNESCO dan negara-negara Benelux. Karya-karya Chingiz Aitmatov memiliki elemen-elemen yang unik, khususnya pada proses kreatifnya dan karya-karyanya menggambarkan folklore, bukan dalam cita  rasa kuno, tetapi Chingiz berupaya mengkreasi kembali dan mensintesiskan karya-karya lisan ke dalam kehidupan kontemporer.

Dalam arti kiasan, kata mankurt digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang telah kehilangan kontak dengan akar sejarah dan kenasionalan mereka, dan melupakan hubungan mereka. Kata mankurt telah menjadi identik dan telah digunakan di dalam jurnalisme. Di Rusia muncul neologisme: mankurtismmankurtizatsiya, dan  demankurtizatsiya.

Kata mankurt bisa jadi diderivasi dari bahasa Mongolia мангуурах (manguurah, yang bermakna bodoh), atau mungkin bahasa Turki mengirt (manusia yang memorinya dirampas) atau man kort (suku yang jelek, buruk atau jahat).

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Trending