Connect with us
a a

Cerpen

Pertimbangan Cinta

mm

Published

on

oleh: Anton Chekov

Nikanor seorang yang juga sangat saleh dan memiliki keyakinan religius yang tidak memperbolehkannya hidup dengan cara demikian, dia meminta Pelageya, agar menikah dengannya dan tidak menginginkan cara yang lain, mencerca-cercanya dan bahkan Nikanor memukulnya, manakala ia sedang mabuk, Pelageya bersembunyi di atas dan menangis sesegukkan; Alyokhin dan pelayan lainnya di saat yang sama tidak keluar dari rumah untuk melindunginya, sekiranya memang diperlukan.

Pada makan pagi di hari kedua disuguhkan pastel-pastel yang begitu lezat, udang dan kotelet[1] daging domba; dan ketika kami makan, juru masak Nikanor datang ke atas menanyakan kepada para tamu, apakah yang mereka inginkan untuk makan siang. Nikanor adalah seorang yang berperawakan sedang dengan wajah gempal dan mata berbentuk kecil-kecil, bercukur, dan kelihatan, bahwa kumisnya bukan tercukur, tetapi seperti bekas dicerabuti.

Alyokhin menceritakan, bahwa Pelageya yang cantik telah jatuh cinta pada juru masak tersebut. Oleh karena Nikanor seorang pemabuk dan bertabiat kasar, Pelageya tidak mau menikah dengannya, namun setuju hidup secara begitu. Nikanor seorang yang juga sangat saleh dan memiliki keyakinan religius yang tidak memperbolehkannya hidup dengan cara demikian, dia meminta Pelageya, agar menikah dengannya dan tidak menginginkan cara yang lain, mencerca-cercanya dan bahkan Nikanor memukulnya, manakala ia sedang mabuk, Pelageya bersembunyi di atas dan menangis sesegukkan; Alyokhin dan pelayan lainnya di saat yang sama tidak keluar dari rumah untuk melindunginya, sekiranya memang diperlukan.

Perbincangan mengenai cinta dimulailah.

“Bagaimanakah munculnya cinta,” Alyokhin berkata, “mengapa Pelageya tidak mencintai orang lain, yang lebih wajar untuknya baik dari sifat-sifatnya yang lembut maupun bentuk lahiriahnya, tetapi dia justru mencintai Nikanor, si wajah jelek ini (di sini kami semua menyebut Nikanor dengan si wajah jelek), karena di dalam cinta terdapat masalah-masalah yang mendasar dari kebahagiaan pribadi: semua ini belum dikenal dan semuanya boleh ditafsirkan secara terserah. Sampai saat ini hanya satu kebenaran yang tak dapat dibantah, yang telah dikatakan mengenai cinta dan tentu saja itu adalah rahasia yang bersifat agung, sedang sisanya, yakni yang telah ditulis dan dibicarakan, masih tidak terselesaikan, tetapi hanya merupakan masalah- masalah yang diangkat, yang dibiarkan berhenti tanpa pemecahan. Makanya penafsiran yang dapat dipakai untuk satu kejadian, kelihatannya, sudah tak sesuai lagi untuk sepuluh kejadian yang lainnya dan menurut saya, yang paling baik, hal seperti itu dapat dijelaskan melalui setiap peristiwa secara terpisah, sambil jangan mencoba untuk menyimpulkan. Sebagaimana dokter-dokter pernah berkata, mestilah menggolongkan setiap peristiwa yang berlainan menurut sifat khususnya masing- masing.”

“Tepat sekali,” Burkin menyetujui.

“Kita, orang Rusia, orang-orang berhati lurus, yang memiliki kelemahan terhadap masalah-masalah, yang ditinggalkan tanpa penyelesaian tersebut. Biasanya kita memuisikan cinta, menghiasinya dengan kembang-kembang mawar dan burung bulbul. Kita juga, orang Rusia, menghiasi cinta kita dengan masalah-masalah mendasar tersebut, terlebih lagi kita memilih yang paling tidak menarik dari masalah-masalah itu. Di Moskow[2], ketika masih menjadi seorang mahasiswa, saya punya seorang kawan setia: seorang nyonya jelita, yang apabila setiap kali saya merengkuhnya di dalam pelukan, dia berpikir tentang, berapakah yang akan saya berikan pada tiap bulan dan mengingatkan, berapakah sekarang harga satu pon[3]daging sapi. Begitulah kami, manakala bercinta, justru tidak berhenti memberikan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri: jujurkah ini atau tidak jujur, cendikia ataukah pandir, yang dirujuk oleh cinta itu dan lain sebagainya. Baikkah itu atau tidak baik, saya tidak mengetahui. Akan tetapi, bahwa itu mengusik, tak menyenangkan dan menjengkelkan: saya tahu.”

Kelihatannya sama, dia ingin menceritakan sesuatu. Bagi orang-orang yang hidup sendiri, selalu terjadi sesuatu yang demikian di dalam jiwanya, yakni mereka akan bercerita dengan suka hati. Di kota, para bujangan secara sengaja pergi ke tempat pemandian umum dan ke restoran-restoran hanya untuk berbincang-bincang dan terkadang mereka menceritakan peristiwa-peristiwa yang begitu menarik kepada para pekerja di tempat pemandian umum dan para pelayan restoran tersebut; di desa pun para bujangan biasanya mencurahkan isi hati mereka di hadapan tamu-tamunya. Sekarang langit yang mendung dan pohon-pohon yang basah karena hujan, terpampang di jendela, dalam cuaca seperti ini orang tidak akan pergi kemana-mana dan bukanlah suatu masalah untuk tinggal lebih lama, bercerita dengan segera dan mendengarkan.

“Saya tinggal di Sofino[4] dan sudah lama mengurus pertanian,” Alyokhin memulai, “sejak menamatkan universitas. Berdasarkan pada pendidikan, saya orang yang menghindari pekerjaan kasar. Berdasarkan pada kehendak hati, mestinya saya jadi orang kantoran. Akan tetapi, di perkebunan, ketika saya datang ke sini ada tagihan yang cukup besar ditujukan pada saya, karena ayah saya sebagian besar berhutang untuk membiayai kuliah saya yang agak mahal, maka saya memutuskan untuk tidak pergi dari sini dan akan bekerja selama saya belum bisa membayar hutang tersebut. Saya memutuskan begitu dan mulai bekerja di sini, terus terang, bukannya tanpa rasa yang menjijikkan. Tanah di sini tak begitu layak menghasilkan, maka agar pertanian tidak jatuh pailit, semestinyalah mempekerjakan petani dengan sistem persahayaan atau sistem kontrak yang maksudnya hampir sama-sama juga, atau, bekerja membanting tulang, seperti yang dilakukan para petani, yaitu pergi sendiri ke ladang dengan seluruh anggota keluarga. Di sini tidak ada tanah tengah. Akan tetapi pada waktu itu, saya tidak bermaksud sampai pada hal-hal yang remeh seperti itu. Saya tidak membiarkan sejumput tanah pun dalam ketenangan, saya mengerahkan semua petani laki-laki dan perempuan dari desa sebelah. Pekerjaan saya di sini berkembang pesat; saya sendiri pun membajak, menyemai, memotong dan manakala saya merasa jemu, saya mengernyitkan dahi dengan rasa mual: bagai kucing kampung, yang karena saking laparnya makan ketimun di sebuah kebun; badan saya berasa nyeri dan saya tidur di atas kaki. Pada kali yang pertamalah tampak bagi saya, bahwa saya mampu secara mudah mensenyawakan kehidupan bekerja ini dengan kewajaran kultural; untuk itu yang berharga hanyalah, pikir saya, bertumpu pada hidup dengan aturan eksplisit yang dikenal. Di sini saya berdiam pada bagian atas, di kamar yang depan dan mengharuskan begini: bahwa sesudah makan pagi dan siang, saya mestilah diberi kopi dengan liker manis dan sambil berbaring tidur saya membaca Vestnik Europy[5]pada malam harinya. Namun entah mengapa muncul pendeta kita yang tua, bapak Ivan, dan dalam sekali teguk meminum semua liker manis saya, sedang Vestnik Europy pun melayang ke anak perempuannya, karena pada musim panas, terutama pada saat memotong jerami, saya tidak lagi sempat berbaring di tempat tidur dan sayapun tidur di lumbung di atas kereta salju atau di suatu tempat di gardu penjaga hutan: bagaimana saya bisa benar-benar membaca di sini? Berangsur-angsur saya pindah ke bawah, mulai makan siang di dapur umum dan hanya seorang pelayan yang tinggal pada saya dari kemewahan masa lalu, yang dulunya melayani ayah saya dan saya tak sampai hati untuk memberhentikannya.

Di sini pada tahun-tahun pertama pula saya dipilih ke pertemuan an honorary justice of the peace[6]. Kadang-kadang memang ada kesempatan untuk pergi ke kota dan mengambil bagian dalam sidang-sidang a convention of magistrates[7]dan district court[8]; ini menghibur hati saya. Jika engkau tinggal di sini selama kira-kira dua-tiga bulan tanpa pernah beristirahat, apalagi pada musim dingin, maka engkau pada akhirnya akan mulai merasa rindu terhadap black frock coat. Dan frock coat[9] itu, full-dress coat[10] dan tail coats galore[11], semua ahli hukum, orang-orang yang mendapat pendidikan umum yang baik, yakni orang-orang, yang dengan siapa kita berbicara; berkumpul di dalam district court. Dibanding sesudah tidur di atas kereta salju, sesudah makan di dapur umum di atas bangku, maka duduk dengan memakai baju bersih, sepatu tipis, dengan rantai di atas dada, itu adalah sungguh-sungguh suatu kemewahan!

Di kota saya diterima dengan penuh keramahan, dengan suka hati saya berkenalan. Akan tetapi dari semua kenalan yang paling kokoh dan memang yang paling menyenangkan bagi saya adalah berkenalan dengan Luganovich, kepala district court. Anda berdua mengenalnya: manusia berkepribadian elegan. Itu terjadi tepat sesudah selesainya kasus pembakaran rumah yang termasyur, yakni setelah pemeriksaan pengadilan yang berlangsung selama dua hari, kami berdua ketika itu sama-sama sudah penat. Luganovich menatap saya dan berkata:

“Anda tahu tidak? Marilah ke rumah saya untuk makan siang.”

Itu terjadi secara spontan, karena dengan Luganovich saya tidak seberapa kenal, kecuali hanya yang bertalian dengan hal resmi dan saya tidak sekali pun pernah ke rumahnya. Hanya sebentar saya masuk ke dalam hotel, tempat saya menginap; berganti pakaian dan sesudah itu berangkat untuk makan siang. Dan di sana saya diperkenalkan dengan Anna Alekseevna, istri Luganovich. Waktu itu dia masih sangatlah muda, usianya tidak lebih tua dari 22 tahun, setengah tahun sebelum masa itu dia sudah melahirkan anaknya yang pertama. Suatu kejadian yang sudah lalu dan sekarang saya merasa sukar untuk memastikan, apakah saya benar-benar sangat menyukai keluarbiasaan yang ada padanya, namun pada waktu itu juga, saat makan siang, segalanya bertambah nyata; saya melihat perempuan, yang cemerlang, baik budi, cerdas, memikat hati, seorang wanita, yang dulu belum pernah saya jumpai dan sekelebatan saya merasakan sesuatu yang dekat, sesuatu yang pernah dikenal, tepatnya profil wajah itu, sifat-sifat yang ramah tamah, mata yang kelihatan cerdik, yang suatu ketika, pada masa kanak-kanak pernah saya lihat, di dalam album, yang ditaruh pada lemari laci milik ibu saya.

            Di dalam kasus pembakaran rumah,empat orang laki-laki Yahudi didakwa. Mereka lantas dinyatakan sebagai gerombolan penjahat, tetapi, menurut saya, itu sama sekali tidak adil. Selama makan siang saya sangat gelisah, saya benar-benar tidak ingat, apa yang telah saya katakan. Anna Alekseevna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata kepada suaminya:

“Dmitry[12], bagaimana hal semacam itu bisa terjadi?”

Luganovich adalah seorang yang baik hati, salah satu dari orang-orang yang berjiwa lurus, yang dengan gigih berpegang pada opini, bahwa jika ada orang diseret ke muka pengadilan, maka ia memang jadi bersalah juga dan pengungkapan suatu kesangsian di dalam hukum kebenaran tidak boleh lewat cara yang lain, seperti halnya di dalam sistem yuridis, tertera di atas kertas dan agaknya bukanlah pada waktu makan siang serta bukan pula dalam sebuah perbincangan yang bercorak pribadi.

“Saya dan kamu tidak membakar rumah,” katanya dengan lunak, “dan begitu pun juga, kita tidak diadili, tidak dipenjarakan ke dalam bui.”

Dan keduanya, suami istri itu, berupaya agar saya makan dan minum lebih banyak lagi, melalui beberapa hal yang remeh, misalnya bagaimana mereka berdua bersama-sama menyeduh kopi dan bagaimana mereka satu sama lainnya saling cepat memahami tanpa mengatakan apa-apa, saya dapat menyimpulkan, bahwa mereka berdua hidupnya rukun, bahagia dan menyukai tamu. Setelah makan siang mereka bermain piano dengan berpasangan, kemudian setelah langit jadi gelap, saya kembali ke penginapan. Itu terjadi di awal musim semi. Kemudian saya menghabiskan musim panas tanpa henti-henti di Sofino, bahkan saya tidak pernah memikirkan kota, namun ingatan mengenai seorang wanita dengan rambut pirang terawat rapih tertinggal pada saya di sepanjang hari, saya tidak memikirkannya, tetapi bayangan tipisnya seolah-olah bersemayam di dalam jiwa saya.

Pada musim gugur yang panjang, di kota diadakan sebuah pertunjukkan dengan tujuan amal. Saya masuk ke dalam ruang kegubernuran (saya diundang ke sana saat istirahat), saya melihat, Anna Alekseevna di dekat istri gubernur dan sekali lagi perasaan yang paling tak bisa dibantah mengaliri kecantikan yang mengesankan dan biji mata yang lembut serta manis.

Kami duduk bersebelahan, kemudian menuju serambi.

“Anda tampaknya kurusan,” katanya, “Anda sakit?”

“Ya. Rasanya pundak saya kedinginan dan buruknya saya tidur di udara berhujan.”

“Kelihatannya Anda tidak bersemangat. Saat itu, pada musim semi, ketika Anda datang berkunjung untuk makan siang, Anda tampak lebih muda, lebih segar. Anda waktu itu penuh semangat dan banyak bicara, begitu menarik dan terus terang, saya bahkan sedikit terpikat. Entah mengapa di sepanjang tahun Anda sering muncul di dalam ingatan dan hari ini, justru waktu saya berniat pergi ke teater, saya merasa, bahwa saya akan bertemu dengan Anda.”

Dan dia tertawa.

“Akan tetapi sekarang Anda tidak bersemangat,” ia mengulangi, “itu menjadikan Anda tampak lebih tua.”

Keesokkan harinya saya makan pagi di rumah Luganovich, setelah itu mereka pergi ke vila untuk mengatur segala yang menyangkut musim dingin dan saya pun bersama mereka. Saya kembali ke kota dengan mereka dan pada pertengahan malam saya minum teh di rumah mereka dalam suasana yang sepi, penuh kekeluargaan, ketika tempat pembakaran menyala dan seorang ibu muda yang berjalan-jalan melihat, apakah anak perempuannya sudah tidur. Dan sesudah itu pada setiap kunjungan, saya pasti mampir ke rumah Luganovich. Mereka membiasakannya pada saya dan saya jadi terbiasa. Saya biasanya masuk tanpa perlu melapor, seperti layaknya orang rumah.

“Siapa di sana?” terdengar sebuah suara yang bagi saya terasa begitu indah dari kamar yang agak jauh.

“Itu Pavel Konstantinich[13],” jawab perempuan pelayan kamar atau mungkin pengasuh sang anak.

Anna Alekseevna keluar menghampiri saya dengan wajah yang prihatin dan setiap kali ia bertanya:

“Mengapa Anda begitu lama tidak mampir? Apa terjadi sesuatu?”

Sinar matanya, tangannya yang elegan dan halus: yang dia angsurkan kepada saya, pakaian rumahnya, gaya rambut, bunyi suara dan langkah-langkah kakinya setiap saat memancarkan pada saya segala kesan mengenai sesuatu yang baru, yang luar biasa di kehidupan saya dan yang bersifat fundamental. Kami lama berbincang-bincang dan lama juga berdiam-diam sambil memikirkan masing-masing mengenai diri sendiri atau dia memainkan piano pula untuk saya. Seandainya di rumah tidak ada seorang pun, saya akan tetap tinggal dan menanti, bercakap-cakap dengan si pengasuh, bermain-main dengan anak Anna Alekseevna ataupun rebahan di kamar di atas dipan buatan Turki dan membaca surat kabar dan jika Anna Alekseevna kembali, maka saya akan menjumpainya di ruang depan, mengambil alih segala belanjaannya dan entah mengapa saya membawa semua belanjaan itu setiap kali dengan rasa cinta yang sangat, dengan rasa gembira yang sangat: seperti bocah saja.

Maka ada pepatah: jika perempuan tidak memiliki kesibukan, maka ia akan membeli anak babi. Jika keluarga Luganovich tidak memiliki kesibukan, maka mereka akan berkawan dengan saya. Seandainya saya lama tidak berkunjung ke kota, maka saya tentunya sedang sakit atau sesuatu sedang menimpa saya dan mereka berdua begitu khawatir. Mereka khawatir, bahwa saya seorang yang berpendidikan, yang mengetahui beberapa bahasa asing dan selain itu mempelajari ilmu pengetahuan atau karya-karya susastra, tinggal di desa, bagai seekor bajing di atas putaran roda, banyak bekerja, namun selalu tidak mempunyai uang sepeser pun. Bagi mereka kelihatannya, saya menderita dan bila saya berbicara, tersenyum, makan, maka semua itu hanya untuk menyelimuti penderitaan saya, bahkan di saat-saat yang gembira, ketika saya merasa sedang senang, saya merasakan tatapan mata mereka yang menyelidik. Mereka luar biasa pilunya, manakala kesulitan benar-benar menimpa saya, manakala penagih apa saja menekan saya atau jumlah uang yang tidak mencukupi untuk menutupi pembayaran yang waktunya telah ditetapkan dengan segera; keduanya, suami istri itu, berbisik-bisik di dekat jendela, kemudian Luganovich menghampiri saya dan dengan wajah yang terlihat serius berkata:

“Jika Anda, Pavel Konstantinich, sekarang-sekarang ini memerlukan uang, saya dan istri saya memohon pada Anda, agar tidak usah merasa sungkan dan memakainya dari kami.”

Dan kedua kupingnya jadi memerah, karena gelisah. Namun kembali terjadi, persis sama dengan yang tadi, mereka berbisik-bisik di dekat jendela, Luganovich menghampiri saya dengan kuping berwarna merah dan berkata:

“Saya dan istri saya dengan amat sangat meminta Anda, agar mau menerima pemberian kami ini.”

Dan dia memberikan mata rantai manset, selepah atau lampu meja dan untuk semua itu dari desa, kepada mereka, saya mengirimkan unggas, mentega dan kembang-kembang. Harus dikatakan, secara sambil lewat, mereka berdua adalah orang-orang berpunya. Pada saat pertama kalinya saya sering meminjam dan saya bukan orang yang begitu suka pilih-pilih, saya meminjam hanya di tempat mana yang memungkinkan, akan tetapi tidak ada kekuatan apa pun juga yang dapat memaksa saya untuk meminjam pada keluarga Luganovich. Ya, apa yang bisa dikatakan mengenai hal ini!

Saya adalah orang yang kurang beruntung. Baik di rumah, di ladang, maupun di lumbung saya masih memikirkan Anna Alekseevna, saya berusaha memaklumi rahasia seorang wanita muda, yang cantik dan pintar, yang menikahi seseorang yang kurang menarik, nyaris sudah seperti lelaki tua (usia suaminya lebih dari 40 tahun), dan punya anak darinya. Saya berusaha memaklumi rahasia seorang laki-laki yang kurang begitu menarik, seseorang yang bersifat penuh kebajikan, seseorang yang berjiwa sederhana, yang berhitung dengan pikiran sehat yang menjemukan; di pesta-pesta dansa dan pesta malam laki-laki yang tak bersemangat dan tidak berguna itu bergaul di sekitaran orang-orang berwibawa dengan air muka tunduk dan bersikap tidak pedulian, seperti seekor domba yang di bawa ke sana untuk di jual, meskipun demikian, dia meyakini hak-haknya sendiri untuk bahagia dan memperoleh anak dari Anna Alekseevna dan saya berusaha memahami mengapa Anna Alekseevna justru berjumpa dengan Luganovich, bukan dengan saya dan buat apa ini mesti terjadi, adalah untuk suatu kesalahan yang begitu mengerikan, yang muncul di dalam perikehidupan kami.

Dan setiap kali saya ke kota, setiap melalui sinar matanya, saya melihat, bahwasanya dia menanti; dia sendiri mengakuinya kepada saya: sedari pagi dia memiliki sesuatu rasa yang istimewa, dia telah menduga, bahwa saya akan datang. Kami berbicara lama-lama, berdiam lama-lama, namun kami tidak saling mengaku cinta dan menyembunyikannya dengan rasa takut-takut, dengan rasa cemburu. Kami merasa takut, kalau semua itu akan membuka rahasia kami masing-masing terhadap diri sendiri, untuk apakah cinta kami mampu berjalan seandainya kami tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk memperjuangkannya; kelihatannya bagi saya jadi tidak masuk akal, bahwa cinta saya yang muram dan sunyi dengan tiba-tiba membungkam secara kasar kebahagiaan yang mengaliri hidup suaminya, sang anak, segala isi rumah itu, tempat saya merasa begitu dicintai dan begitu dipercayai. Apakah itu jujur? Seandainya dia mau turut dengan saya, ke mana? Ke manakah saya bisa membawa dia? Itu akan menjadi lain masalah, sekiranya saya memiliki kehidupan yang indah dan menarik, seandainya saya, misalnya, berjuang untuk membebaskan negeri sendiri atau menjadi seorang sarjana ternama, aktor, pelukis, tetapi, kalian tahu, saya bukanlah orang yang seperti itu. Jadi saya hanya akan membawanya dari satu kehidupan yang membosankan ke dalam kehidupan lain yang sama-sama membosankan atau bahkan lebih buruk dari itu. Dan berapa lamakah kebahagiaan kami akan berlangsung? Apakah yang akan terjadi dengannya, jika saya jatuh sakit, meninggal dunia atau yang paling sederhana kalau kami tidak saling mencintai lagi satu sama lainnya?

Dan Anna Alekseevna, rupa-rupanya, mempertimbangkan perihal yang sama. Dia memikirkan tentang suaminya, anaknya dan ibunya yang menyukai suaminya seperti anaknya sendiri. Apabila dia mencurahkan perasaannya sendiri, maka itu menjadikan ia berdusta atau juga berkata yang benar, tetapi di dalam posisinya yang sekarang kedua-duanya sama-sama mengerikan dan tidaklah pantas. Dan dia disiksa oleh pertanyaan: apatah cintanya membawa kebahagiaan bagi saya, apatah dia tidak mempersulit hidup saya dan apatah tanpa rasa bahagia, hidup saya menjadi susah, dipenuhi segala kemalangan? Tampaknya Anna Alekseevna merasa, bahwa dia sudah tidak cukup muda lagi untuk saya, tidak cukup lagi rajinnya dan enerjiknya untuk memulai kehidupan yang baru dan dia berbicara dengan suaminya, bahwa saya mestilah kawin dengan seorang wanita yang pintar dan sepadan, yang akan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, yang merupakan partner. Dan dengan secepatnya dia menambahi, bahwa di seluruh pelosok kota wanita yang begitu itu sulit sekali dijumpai.

Tahun-tahun terus berlalu. Anna Alekseevna telah mempunyai dua orang anak. Ketika saya berkunjung ke rumah Luganovich, seorang pelayan tersenyum dengan ramahnya, anak-anak menjerit meneriakkan, bahwasanya paman Pavel Konstantinich datang berkunjung dan mereka bergelayutan pada leher saya; keduanya merasa gembira. Mereka tidak mengerti, apakah yang berkecamuk di dalam jiwa saya; mereka pikir, saya gembira juga. Keduanya melihat sifat-sifat insan berbudi pada saya. Anak-anak yang mulai akil baliq itu merasa, bahwa di sepanjang kamar berjalan insan yang mulia dan sifat mulia ini memunculkan suatu daya tarik yang spesifik pada sikap mereka terhadap saya, persisnya terhadap keberadaan saya dan perikehidupan mereka yang menjadi lebih bersih dan indah. Saya dan Anna Alekseevna bersama-sama pergi ke teater, selalu berjalan kaki; kami duduk bersebelahan di atas bangku, pundak kami bersentuhan, dengan diam-diam saya mengambil binokel[14] dari tangannya, pada saat itu pula saya merasakan, bahwa dia teramat dekat dengan saya, bahwa dia adalah milik saya, bahwa kami tidaklah mungkin hidup tanpa satu sama lainnya, akan tetapi, lantaran adanya suatu bentrokan yang aneh, sekeluarnya dari teater, kami saling mengucapkan selamat jalan dan bersimpangan, bagai orang lain. Sementara di kota orang-orang sudah membicarakan kami entah mengenai apa, namun dari semuanya, tidak satu pun kata yang mengandung kebenaran.

Pada tahun-tahun belakangan ini Anna Alekseevna jadi lebih sering berkunjung, kadang kepada ibunya, kadang ke saudara perempuannya; perasaan tidak suka tengah menerpa hatinya, kesadaran terhadap hidup yang berakhlak busuk dan tidak memuaskan sedang menghampirinya, manakala ia tidak mempunyai keinginan untuk melihat pada, baik suaminya maupun anak-anaknya. Dia sudah melakukan terapi lantaran rasa gelisah yang sangat.

Kami berdiam diri dan berdiam, sebaliknya saat seperti orang asing dia merasakan suatu kejengkelan yang aneh untuk menentang saya; apa pun hal yang saya katakan, dia sudah tidak lagi setuju dan jika saya berdebat, maka dia akan mengambil sudut yang berlawanan dengan saya. Kalaulah saya menjatuhkan sesuatu barang, maka dengan dingin dia berkata:

“Saya katakan selamat untuk Anda.”

Jika saat pergi ke teater, saya lupa membawa binokel, maka dia kemudian berkata:

“Saya sudah tahu, bahwa Anda memang akan lupa.”

Beruntung atau tidak beruntung, pada kehidupan kami tidak terjadi apa-apa, tidak berakhir dengan pasti. Waktu berpisah datang, karena Luganovich diangkat menjadi seorang kepala di guberniya[15] bagian barat. Dengan demikian segala barang furniture, kuda-kuda dan vila mestilah dijual. Ketika kami pergi mengunjungi vila dan kemudian pulang kembali, kami menoleh untuk melihat taman dan atap berwarna hijau buat penghabisan kalinya, maka segalanya jadi menyedihkan dan saya mengerti, bahwa waktunya sudah tiba untuk mengucapkan selamat jalan bukan hanya dengan sebuah vila. Keputusan telah diambil, bahwa pada Agustus akhir kami akan mengantarkan Anna Alekseevna ke Krim, ke tempat mana dokter-dokter mengirimnya dan sebentar lagi Luganovich akan pergi dengan anak-anak ke guberniya bagian barat.

Kami mengantarkan Anna Alekseevna di dalam kerumunan yang padat. Ketika dia telah berpamitan dengan suami dan anak-anaknya, maka tinggallah waktu sesaat sampai bunyi lonceng yang ketiga, saya berlari masuk menjumpainya di kompartemen[16] untuk meletakkan ke atas rak penyimpanan salah satu dari tas-tasnya, yang hampir-hampir dia lupakan dan saya harus mengucapkan selamat jalan. Saat di sana, di dalam kompartemen, sinar mata kami saling berjumpa, daya kehidupan di dalamnya sudah meninggalkan kami berdua, saya mendekapnya, dia menjatuhkan wajahnya ke dada saya dan airmata mulai mengalir dari kedua matanya; menyelimuti wajahnya, pundak, tangan, yang jadi basah lantaran airmata. O, betapa malangnya dia dan saya! Saya mengungkapkan cinta kepadanya dan dengan kepedihan yang ada di dalam hati, saya mengerti, bahwa ketika engkau mencintai, maka segala pertimbangan mengenai cinta haruslah berasal dari sesuatu yang lebih tinggi, lebih fundamental, dari sekedar bahagia ataukah tidak bahagia, berdosa ataukah bermoral di dalam pola berpikir kita, atau tidak perlu mempertimbangkannya sama sekali.

Saya menciumnya untuk yang terakhir kali, menggenggam tangannya dan kami pun berpisah: buat selama-lamanya. Kereta sudah berangkat. Saya duduk di kompartemenyang sebelah, kompartemen itu kosong dan sampai di stasiun yang pertama saya duduk di sana dan menangis. Kemudian saya pulang ke Sofino dengan berjalan kaki.

Selama Alyokhin bercerita, hujan telah berhenti dan matahari mulai tampak. Burkin dan Ivan Ivanich keluar menuju ke balkon; dari sana terlihat suatu pemandangan yang indah ke arah taman dan bentangan sungai, yang sekarang berkilauan di bawah sinar matahari, bagaikan sebuah cermin. Mereka berdua sama-sama kagum pada hamparan pemandangan tersebut dan pada saat yang bersamaan mereka menyayangkan, bahwa laki-laki dengan mata yang memancarkan kebaikan dan kecerdasan itu, yang bercerita kepada mereka dengan hati yang begitu tulus, sesungguhnya di sini, di perkebunan yang sangat luas ini, berjungkir-balik, bagaikan seekor bajing di atas putaran roda dan dia tidak mempelajari ilmu pengetahuan atau sesuatu yang lain, yang akan membuat hidupnya jadi menyenangkan dan mereka juga, rupanya, memikirkan mengenai, bagaimana berdukanya wajah seorang perempuan muda, manakala Alyokhin mengucapkan selamat jalan kepadanya di dalam sebuah kompartemen dan kemudian menciumnya di wajah dan di pundaknya. Di kota mereka berdua pernah melihatnya, Burkin bahkan berkenalan dengannya dan dia berpendapat, bahwasanya Anna Alekseevna adalah seorang wanita yang memang cantik. (*)

 

1898

 

Sumber            : Iz russkoy khudozhestvennoy prozy, Russky Yazyk Publishers, Moscow, 1989

Judul asli         : O lyubvi (dibaca A lyubvi)

Penerjemah      : Ladinata, staf pengajar jurusan bahasa dan sastra Rusia FIB Unpad

*Foto Cover    : kawanku.magz

[1] Makanan khas Rusia yang terbuat dari daging cacah halus sebagai bahan utama dan dibentuk seperti perkedel, oval kepipihan

[2] Ibukota Rusia sekarang. Kota ini dikenal pertama kali dari manuskrip tahun 1147. Yury Dolgoruky dianggap sebagai pendirinya. Anggapan terbaru mengemukakan, bahwa seseorang bernama Kuzma, yang sebenarnya mendirikan kota tersebut

[3] Ukuran berat Rusia kuno, setara dengan 405,5 gram

[4] Terletak di Boksitogorsky rayon, Leningradskaya oblast(region)

[5] European Herald. Jurnal bulanan mengenai masalah sosial-politik dan sastra, terbit di Saint Petersburg (1866-1918)

[6] Peradilan kehormatan setempat: berdasarkan reformasi pengadilan tahun 1864, di dalam setiap Uyezd, selain ada hakim yang mengurus kasus minor sipil dan kriminal, terdapat juga jabatan hakim kehormatan yang menjalankan fungsi-fungsi hakim yang tidak hadir

[7] Pertemuan para hakim, yang diberi wewenang untuk merevisi keputusan hakim-hakim atas permintaan salah satu pihak yang bersengketa

[8] Pengadilan distrik: pada masa sebelum revolusi Rusia merupakan pengadilan pertama untuk kasus sipil dan kriminal

[9] Jenis jas panjang berkancing ganda, biasanya sampai ke pinggang

[10] Pakaian seragam sipil

[11] Jas panjang berbuntut lancip

[12] Dmitry Luganovich

[13] Pavel Konstantinich Alyokhin

[14] Semacam teropong berlensa, untuk melihat jauh lebih jelas di dalam teater

[15] Provinsi, divisi teritorial dan administratif utama di Rusia (1708-1929). Sekarang diubah menjadi oblast (region) dan kray (territory)

[16] Ruang duduk tersendiri bagi penumpang kereta api

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Gao Xingjian: Bayangan Kematian

mm

Published

on

Getty Images/ google

Kau tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal-hal aneh, dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andaikan kau menginginkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya rasa takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.

Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal di masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar dari kini. Kesedihan sepele membuatmu begitu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.

Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan sebuah keajaiban. Tak cukupkah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?

Ketakutanmu pada kematian muncul saat kau rapuh jiwa dan raga. Kau merasa sesak dan cemas, khawatir keburu mati sebelum sempat menghela napas berikutnya. Seolah-olah kau terlempar ke dasar jurang, perasaan keterpurukan ini sering muncul dalam mimpi-mimpi masa kecilmu dank au akan terbangun dengan napas terengah-engah, ketakutan. Saat itu ibumu akan membawamuke rumah sakit, namun kini, sebuah permintaan dokter untuk melakukan pemeriksaan pun kau tunda berkali-kali.

Jelas sekali bagimu kehidupan berakhir dengan sendirinya dan saat akhir itu tiba rasa takutmu memudar, karena rasa takut itu sendiri adalah perwujudan kehidupan. Saat kehilangan kesadaran dan keinsyafan, hidup tiba-tiba berakhir tanpa menyisakan makna dan pemikiran.

Penderitaanmu adalah pencarian makna bagimu. Saat kau mulai membincangkan arti kesejatian hidup manusia dengan teman-teman masa mudamu, kau hidup dengan susah payah, seolah-olah kini kau telah menikmati segala kesemuan hidup dank au menertawakan kesia-siaanmu dalam pencarian makna. Yang terbaik adalah mengalami keberadaan dan menjaganya.

Kau merasa melihat makna hidup dalam kehampaan, cahaya samar yang muncul dari antah berantah. Ia tak berdiri di tempat tertentu di atas bumi. Ia seperti dahan pohon tanpa bayangan, sementara ufuk yang memisahkan langit dan bumi telah lenyap. Atau, ia bagaikan seekor burung di sebuah tempat berselimut salju yang memandang berkeliling. Terkadang, ia menatap ke depan, menghunjam dalam pikiranmu, walaupun tak jelas benar apa yang ia renungi. Itu hanyalah isyarat tubuh sederhana, isyarat tubuh yang indah. Keberadaan pun senyatanya adalah sebuah isyarat tubuh, mencoba mencari rasa nyaman, merentangkan lengan, menekuk lutut, berbalik, memandang ke belakang di atas relung kesadaran. Dari situ ia mampu menggapai kebahagiaan sekejap. Tragedi, komedi, dan lelucon. Penghakiman atas keindahan hidup manusia yang berbeda bagi masing-masing orang, waktu, dan tempat. Perasaan pun mungkin seperti ini. Kesedihan yang timbul di saat ini di waktu yang lain bisa jadi sebuah kekonyolan dan penyucian diri. Hanya isyarat tubuh yang tenang bisa memperpanjang hidup ini dan bersusah payah menyimpulkan misteri kekinian di saat kebebasan tercapai. Menyendiri, meneliti pendapat diri melalui kekalahan-kekalahan orang lain.

Kau tak tahu apa lagi yang akan dilakuan, apa pun yang bisa kau lakukan tak penting lagi. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Tapi tak kau lakukan pun tak jadi soal. Dan kau tak perlu ngotot melakukan sesuatu jika kau merasa lapar dan haus, lebih baik kau makan dan minum. Tentu saja kau bebas berpendapat, menafsir apapun, punya keinginan, dan bahkan marah, biarpun kau telah sampai pada usia di mana tenagamu tak cukup lagi untuk marah. Secara alamiah, kau bisa naik darah, namun tanpa gairah amarah. Perasaan dan inderamu tetap bekerja, namun tak seperti dulu. Tak akan ada lagi penyesalan. Penyesalan itu sia-sia dan merusak diri.

Bagimu hanyalah kehidupan yang bernilai. Kau telah melekat dan terserap padanya seolah-olah masih ada hal menakjubkanyang bisa kau temukan di dalamnya. Seolah-olah hanya kehidupan yang bisa membuatmu senang. Bukankah itu yang kau rasakan? (*)

Gao Xingjian (高行健, pinyin: Gāo Xíngjiàn, lahir di Ganzhou, Jiangxi, Republik Rakyat Tiongkok, 4 Januari 1940; umur 77 tahun), ialah penulis seorang novelis, dramawan, dan kritikus Tiongkok seberang lautan. Ia juga seorang penerjemah, sutradara, dan pelukis terkenal.

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Cerpen

Chingiz Aitmatov: Mankurt

mm

Published

on

Ini terjadi pada berabad-abad yang lalu. Di antara suku-suku nomaden, yang hidup di tanah Kazakhstan, berlangsung perang yang permanen. Para pemenang perang mengubah orang-orang taklukan menjadi budak. Zhuanzhuan, yang pada suatu waktu menguasai sebagian besar tanah Kazakhstan, merupakan orang-orang yang terutama sangat keji. Mereka mengubah para tawanan menjadi mankurt, manusia yang kehilangan ingatan. Untuk itu ke kepala para tawanan dilekatkan kulit unta yang lembab dan mereka ditinggal  tanpa air, tanpa roti, dalam beberapa hari di atas tanah lapang terbuka. Matahari memanaskan kulit unta yang lembab dan kulit itu pun menjadi mengkerut, dan manusia bisa mati lantaran rasa sakit atau bisa menjadi gila, kehilangan ingatan. Baru pada hari ke lima Zhuanzhuan datang melihat, siapakah di antara tawanan yang bertahan hidup. Biasanya yang bertahan hidup hanyalah 1-2 orang dari lima. Mereka merupakan budak-mankurt, yang harganya sangat mahal, karena mereka adalah manusia tanpa ingatan, manusia, yang melupakan ayah dan ibunya dan hanya mengetahui tuannya. Budak yang demikian tidak memimpikan kebebasan, dia mampu mengerjakan pekerjaan yang paling hitam dan berat, dan tidak menginginkan apa-apa. Dan tidak ada seorang dari para kerabat atau kawan yang berupaya membebaskan mankurt, manusia, yang melupakan segala.

Tetapi ada seorang ibu, bernama Naiman-Ana, tidak mampu berdamai dengan hal tersebut. Anak laki-lakinya, yang ikut di dalam pertempuran dengan Zhuanzhuan, jatuh ke dalam tawanan. Naiman-Ana ingin menemukan anaknya. Dia memimpikan hanya satu hal: semoga anaknya masih hidup, meskipun menjadi seorang mankurt, yang kehilangan ingatan, tetapi anaknya tetap hidup, tetap hidup! Naiman-Ana mengambil selembar selendang putih dan mulai berjalan ke padang stepa. Begitu lama dia berjalan di atas padang stepa dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda rupawan dan dia mengetahui, bahwa itu adalah anaknya.

“Anakku, anak kandungku! Aku mencarimu!” teriaknya, “aku ibumu!” Dan dengan seketika Naiman-Ana memahami semuanya dan dia pun mulai menangis, dan dia memandangi wajah anaknya yang beku, yang berdiri di sampingnya. Tetapi anaknya bahkan tidak bertanya, siapakah dia dan mengapa juga dia menangis. Kedua mata anaknya tampak kosong dan wajahnya tidak pedulian.

“Kau tidak mengenalku?” tanya sang ibu, akhirnya.

“Tidak,” jawab mankurt.

“Siapakah namamu?”

“Mankurt.”

“Begitulah sekarang kau dipanggil. Dan bagaimanakah dulunya kau dipanggil? Ingatlah namamu sendiri!”

Mankurt terdiam.

“Dan siapakah nama ayahmu? Dan kau sendiri siapa, dari mana, di manakah kau dilahirkan? Kau ingatkah?”

Tidak, anaknya tidak ingat apa-apa dan dia tidak mengenali.

“Apakah yang mereka lakukan terhadapmu!” kata sang ibu dengan lirih. “Kau dengar? Namamu Zholaman. Ayahmu bernama Donenbai. Kau ingat ayahmu? Dialah yang mengajari kau memanah. Dan aku adalah ibumu, kau dengar?”

Akan tetapi semua, apa yang dikatakan sang ibu, tidaklah menarik baginya.

“Marilah aku lihat, apa yang mereka lakukan dengan kepalamu?” kata Naiman-Ana.

“Tidak,” jawab mankurt dan dia tidak ingin lebih jauh lagi berbicara dengan Naiman-Ana. Dan Naiman-Ana memutuskan untuk membawa pulang anaknya. Lebih baik anaknya tinggal di rumah sendiri, dibandingkan di padang stepa, menjadi budak Zhuanzhuan.

Naiman-Ana dengan begitu lama meminta anaknya untuk pulang ke rumah, tetapi anaknya tidak memahami, bagaimanakah harus pergi, jika sang tuan tidak mengijinkan. Dan kembali, dan kembali lagi Naiman-Ana mengulangi:

“Ayahmu Donenbai, dan namamu bukan Mankurt, tetapi Zholaman. Ketika kau dilahirkan di dalam keluarga kita ada perayaan yang demikian besar.”

Dan tiba-tiba saja Naiman-Ana melihat seseorang, yang berjalan ke arah mereka di atas seekor unta.

“Siapakah dia?” tanyanya.

“Itu sang tuan.”

Naiman-Ana mestilah pergi.

“Jangan katakan apa-apa kepadanya, aku akan segera datang kembali.” Kata Naiman-Ana. Anaknya tidak menjawab. Baginya semua sama saja.

Tetapi sang tuan telah melihat sang perempuan tersebut. “Siapakah dia?” tanyanya kepada mankurt.

“Dia berkata, bahwa dia adalah ibuku.”

“Dia bukan ibumu! Kau tidak punya ibu! Kau tahu, apa yang dia inginkan? Dia ingin mengambil kepalamu!” teriak Zhuanzhuan.

Mankurt ketakutan. Wajahnya menjadi suram.

“Jangan khawatir!” kata sang tuan, “bukankah kau bisa memanah? Nah, ambillah!” Dan dia memberikan mankurt busur beserta anak panahnya.

Ketika Zhuanzhuan pergi, Naiman-Ana menghampiri anaknya. Dia tidak melihat, bahwa anaknya, mankurt, telah bersiap-siap memanah. Sinar matahari mengganggu mankurt, dan dia menantikan momen yang tepat.

“Zholaman, anakku!” panggil Naiman-Ana kepada anaknya. Tetapi terlambat: anak panah telah menghantam tepat di jantung Naiman-Ana. Itu adalah hantaman yang mematikan. Naiman-Ana pelan-pelan terjatuh, tetapi dari bagian kepalanya selendang putih terlebih dulu jatuh, berubah menjadi seekor burung dan terbang dengan teriakan: “Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai! Donenbai!”

Orang-orang mengatakan, bahwa sekarang pejalan yang berjalan di padang stepa masih bisa mendengar, bagaimana burung tersebut berteriak:

“Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai!” (*)

 

*Biografi Chingiz Aitmatov

Chingiz Torekulovich Aitmatov lahir pada tanggal 12 Desember 1928, di Sheker, Kyrgyzstan dan meninggal pada tanggal  10 Juni 2008, di Nürnberg, Jerman. Karyanya antara lain: “Jamila” (1958), “Farewell, Gulsary” (1966), “The White Ship” (1970), “The Day Last More Than a Hundred Years” (1980), “Mother Earth and Other Stories” (2011). Chingiz Aitmatov juga pernah berkaris sebagai ambassador Uni Soviet dan kemudian Kyrgyzstan untuk European Union, NATO, UNESCO dan negara-negara Benelux. Karya-karya Chingiz Aitmatov memiliki elemen-elemen yang unik, khususnya pada proses kreatifnya dan karya-karyanya menggambarkan folklore, bukan dalam cita  rasa kuno, tetapi Chingiz berupaya mengkreasi kembali dan mensintesiskan karya-karya lisan ke dalam kehidupan kontemporer.

Dalam arti kiasan, kata mankurt digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang telah kehilangan kontak dengan akar sejarah dan kenasionalan mereka, dan melupakan hubungan mereka. Kata mankurt telah menjadi identik dan telah digunakan di dalam jurnalisme. Di Rusia muncul neologisme: mankurtismmankurtizatsiya, dan  demankurtizatsiya.

Kata mankurt bisa jadi diderivasi dari bahasa Mongolia мангуурах (manguurah, yang bermakna bodoh), atau mungkin bahasa Turki mengirt (manusia yang memorinya dirampas) atau man kort (suku yang jelek, buruk atau jahat).

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Trending