Connect with us

Milenia

Penyair, Identitas, dan Hal-hal yang Membuatnya Kembali Diperbincangkan

mm

Published

on

Ambisi meluap berbarengan dengan dorongan kuat untuk bisa diterima, tapi untuk membentuk suatu arus baru. “Bahkan jika kami semua sudah pernah memuat karya di The New Yorker, apakah itu menjadi tujuannya?” Namun, peralihan ke arus utama jarang terjadi tanpa adanya turbulensi.

___

JESSE LICHTENSTEIN | Diterjemahkan dari “How Poetry Came to Matter Again”, SEPTEMBER 2018 ISSUE | (p)  Gabriel (ed) Sabiq Carebesth

______

DUNIA PUISI agaknya bukan tempat ‘adu warna kulit’, atau ‘race row’ menurut koran The Guardian pada 2011, yang isinya lebih ke debat kusir mengenai klaim sastrawi. Seorang kritikus tersohor (dan berkulit putih), Helen Vendler, mencibir seorang penyair terkenal (dan berkulit gelap), Rita Dove, atas karya yang ia seleksi ke dalam seri terbaru Penguin Anthology of Twentieth Century American Poetry. Rita, kata Vendler, lebih mengutamakan “inklusifitas multikultur’ daripada kualitas. Dia disebut “mengubah haluan” dengan menampilkan terlalu banyak penyair dari latar belakang minoritas, dan meminggirkan penulis yang lebih baik (dan lebih dikenal). Puisi dalam antologi tersebut “umumnya pendek” dan “cenderung ditulis dengan perbendaharaan kata yang terbatas,” dakwa Vendler, si kritikus pengawal kanon sastra abad ke-20 ini.  Sementara itu di Boston Review, Marjorie Perloff, kritikus (yang juga berkulit putih) sekaligus ahli poetika avant-garde Amerika, juga tertarik beropini. Marjorie menyesalkan bahwa penyair baru terpaku pada suatu formula lirik yang pada tahun 1960 dan 70an saja sudah dianggap jadul – biasanya berupa memori pribadi yang “dipuitiskan,” yang memuncak pada “rasa mendalam atau semacam kabut kesadaran.” Dia mengambil contoh sebuah puisi dari penyair terkenal (dan berkulit hitam), Natasha Trethewey, yang menggambarkan rutinitas pelurusan rambut yang terpaksa dilakukan ibunya .

Di sisi lain, Rita menepis persoalan pola yang dikemukakan para kritikus terkenal yang berkulit putih itu. Apakah mereka, tanya dia, sedang mati-matian menyetop gerombolan penyair masa kini yang punya warna kulit dan kesipitan mata berbeda? Apakah kami – kaum Afro-Amerika, suku asli Amerika, Latino-Amerika, Asia-Amerika – harus menghadap para kritikus yang berjaga di depan pintu, yang memeriksa CV kami sebelum mereka mempersilakan kami masuk satu per satu?

Hal ini dimulai sejak dulu, dan sejak itu pula pintu depan itu berusaha dijebol lepas dari engselnya. Coba telusuri daftar isi jurnal sastra ternama, termasuk majalah puisi se-trendi Poetry, dan juga majalah mingguan yang topiknya lebih umum dan beroplah besar macam The New Yorker dan The New York Times Magazine. Lalu, tengoklah penerima berbagai hibah, penghargaan dan undangan mengajar, yang prestisius nan bernominal besar, yang diberikan setiap tahun kepada para penyair muda potensial di Amerika Serikat. Mereka adalah para imigran dan pengungsi dari Tiongkok, El Salvador, Haiti, Iran, Jamaika, Korea, Vietnam. Dari mereka ini ada para lelaki berkulit hitam dan wanita dari Oglala Sioux. Mereka terdiri dari para gay eksentrik, atau kita sebut queer, sekaligus para heteroseksual, dan keduanya bersikap sungguh-sungguh dalam memilih bagaimana mereka harus dipanggil. Wajah kepuisian di Amerika Serikat terlihat sangat berbeda saat ini ketimbang 10 tahun lalu, dan lebih mencerminkan demografi generasi millennial Amerika. Gampangnya, bakat-bakat penyair muda saat ini bakal menjadi wajah Amerika muda 30 tahun kelak.

Para pendatang ini, sejak awal karir mereka, sudah berada di dalam – dan mereka tidak semata tinggal di dalam kompleks pertapaan puisi yang mendengar namanya diberi hukuman mati setiap bulan April, ketika Bulan Puisi Nasional tiba. Di festival sastra, banyak dari para penyair ini menjadi magnet penonton dalam jumlah besar, seperti yang saya lihat November lalu ketika ratusan orang antri di bawah guyuran hujan untuk mendengar Danez Smith dan Morgan Parker berdiskusi tentang topik “New Black Poetry” di Portland Art.

Musim semi lalu, ketika saya ketemu dengan Danez, yang bersikeras dipanggil dengan kata sebut orang-ketiga jamak, ‘mereka’ (maksud saya, Danez) baru saja kembali dari Inggris untuk tur kumpulan puisi Don’t Call Us Dead, yang merupakan finalis National Book Award. Penerbit di Inggris terkesima pada karya puisi yang mendapat apresiasi kritis di The New Yorker dan ditonton 300.000 kali di Youtube. “Ada banyak cerita yang kami telah ceritakan, yang kini mulai diceritakan secara lebih terbuka di publik,” kata Danez, tanda ia menyadari energi kolektif generasi masa kini, juga para penyair dengan warna kulit gelap atau queer, secara lebih luas. Tiap buku baru dan apresiasi atasnya memantik kompetisi yang sehat untuk berkarya dengan lebih berani. “Aku nggak mau jadi satu-satunya bahan perbincangan,” lanjut Danez. “Kemenangan seseorang itu sebenarnya juga kemenangan untuk puisi, untuk para pembaca dan untuk orang-orang yang memiliki latar belakang yang sama.”

Tidak sedikit dari garda depan generasi ini yang pertama kali menemukan puisi melalui pentas pertunjukan, atau yang tumbuh dalam komunitas di mana “bahasa lisan” dan “puisi” adalah dua sejoli. Beberapa penyair telah menunjukkan bakat dalam membangun basis penonton lewat cara-cara yang lebih subtil. Sebelum Kaveh Akbar menerbitkan koleksi debutnya pada tahun 2017, Calling a Wolf a Wolf, dia sudah dikenal lewat seri wawancara di situs web Divedapper, di mana ia menawarkan perkenalan secara dekat dan mendalam tentang para penyair Amerika mutakhir. Dia juga tak kenal lelah dalam berbagi bahan bacaannya ke 28,000 pengikut Twitter-nya. Dia rutin mengunggah tangkapan layar dari halaman buku yang membuat dia terkesan.

Penyair baru dari generasi digital ini siap mengupayakan agar karya dan nama mereka dikenal luas. Mereka memiliki agensi dan juru bicara (dalam sejarahnya, ini bahkan tidak lazim!). Beberapa orang berkarya lintas-genre, melawan keterasingan puisi. Saced Jones (Prelude to Bruise, 2014) sudah dikenal luas sebagai host dari acara BuzzFeed News. Fatimah Asghar (If They Come for Us, 2018). Ia juga menulis dan turut memproduksi web series berjudul Brown Girls, yang sedang diadaptasi ke HBO. Ada pula Eve L Ewing (Electric Arches, 2017), seorang sosiolog dan komentator isu tentang ras yang sangat dikenal di media sosial.

Para penyair yang lebih uzur mungkin akan menggerutu soal membangun jejaring dan menampilkan diri, namun, para junior mereka tanpa ragu menggamit aktivitas ini. Mereka yakin bahwa puisi, lewat kanal yang tepat, mampu “masuk ke arus utama dalam wacana nasional terkini,” seperti kata Saced. Mereka sadar satu hal: sebuah survey terkini dari National Endowment for the Arts mengungkapkan bahwa jumlah pembaca puisi meningkat 2x lipat di antara masyarakat usia 18-34 tahun selama lima tahun terakhir.

Energi yang terlihat ini lebih dari sekadar marketing jitu atau kehebohan sesaat. “Menurut pandanganku,” kata Jeff Shoots, editor utama Graywolf Press yang menyunting tiga dari 10 antologi yang berhasil masuk ke long list National Book Award 2017 bidang puisi, ”ini tanda munculnya suatu renaisans.” Dan yang paling mencolok dari para pelopor kebaruan ini adalah kembalinya puisi liris orang-pertama – suatu hal yang pada era 1970an dianggap ketinggalan jaman oleh para “pujangga bahasa”. Dakwaan-dakwaan tajam – puisi yang terlalu pribadi, terlalu sentimentil, terlalu gampang dipahami, tak cukup ‘cerdas’ untuk menstimulasi budaya postmodern yang tersaturasi media – ditujukan ke generasi avant-garde yang menanggalkan “si Aku” demi poetika yang buram dan hanya dipahami grup kecil pembaca yang lebih eksklusif lagi. Namun, generasi baru ini – sambil menggandeng teknik avant-garde (lewat penggunaan kolase dan inkoherensi radikal beserta gado-gado acuan budaya “tinggi” dan “rendah” sekaligus) – tidak serta-merta mengusung pesan yang sama. Muncul di tengah suburnya politik identitas, para penyair terkemuka, yang karakternya berlainan, saat ini tengah mengklaim lagi “Aku-yang-demokratis”, seturut ungkapan penyair Edward Hirsch

Si “Aku” ini, yang diasuh dalam berbagai bahasa dan dialek, tak bisa dikatakan terdera perbendaharaan kata yang terbatas, kata Helen Vendler. Puisi liris, bagi generasi ini, tak perlu selalu pendek. Muncul pertama kali lewat kehadiran karya laris Claudia Rankine, Citizen: An American Lyric (2014), para penyair dengan berani mematahkan tren kebanyakan buku, lewat nuansa historis dan bentuk hibrida, sejak awal mula. Si “Aku”, menyadari betapa tersisihkannya “kita” di mana ia berada, menautkan sisi personal ke sisi yang kelewat politis. Kemunculannya memantik pertanyaan puitis yang menggairahkan mengenai identitas.

Para penyair muda yang berhasil mengemuka, telah turut menjadikan ras, seksualitas dan gender sebagai episentrum kepuisian saat ini, dan mereka memperlebar sebanyak mungkin batas-batas. Mereka sungguh-sungguh dalam mengubah gagasan soal kedirian dan keberadaan seseorang dalam sebuah kelompok. Belajar dari berbagai jenis tradisi, mereka menggali kompleksitas laten dari sisi lirik “Aku”. Pada dasarnya, hal terakhir yang diinginkan si “Aku” adalah pada pengejawantahan dirinya secara utuh.

UPAYA KERAS untuk melepas engsel pintu seleksi ini sebenarnya sudah dimulai sejak puluhan dekade lalu. Ketika para pujangga bahasa sedang memperluas batas kepenyairan Amerika di akhir abad ke-20 – upaya pembalikan konstelasi kuasa dengan mengangkangi adat kesusastraan- penyair-penyair kecil juga sedang mencoba menghubungkan dunia sastra dan kanon sastra, sembari terus mengedepankan cara-cara baru dalam berekspresi. The Black Arts Movement di era 1960an dan ‘70an, dan sejumlah organisasi yang dipantiknya, memperjuangkan kanal penerbitan tersendiri bagi seniman kaum kulit hitam, Asia-Amerika, dan Latino. Namun, mulai era ‘80an, dorongan telah merambah ke permintaan akan jatah kursi yang lebih banyak bagi kaum tersebut.

Itu tidak mudah terjadi di dalam budaya kepuisian yang lebih merepresentasikan kulit putih, baik sekarang maupun di masa lalu, dan yang tak terlalu niat untuk mempertanyakan fakta tersebut. Di tahun 1988, setelah lelah menjadi sebatas pemandangan ganjil di berbagai workshop penulisan puisi, dua mahasiswa Harvard dan seorang komposer membentuk The Dark Room Collective di sebuah gedung bergaya Victoria di kota Cambridge, yang kelak menjadi ruang untuk memajukan karya penyair-penyair muda kulit hitam. Selama 10 tahun berikutnya, sejumlah bakat menemukan rumahnya di sana, mulai dari Natasha Trethewey dan Tracy K. Smith (keduanya kelak menjadi poet laureate Amerika Serikat), Kevin Young, Carl Phillips dan Major Jackson. Ambisi meluap berbarengan dengan dorongan kuat untuk bisa diterima, tapi untuk membentuk suatu arus baru. “Bahkan jika kami semua sudah pernah memuat karya di The New Yorker, apakah itu menjadi tujuannya?” Kevin, saat itu masih menjadi mahasiswa semester akhir di Harvard, berkata pada koran The Harvard Crimson  di tahun 1992. “Anda tak menangkap maksud kami jika Anda menyangka kami sekadar sopir baru yang mengendarai truk yang lama.”

Dalam beberapa tahun kemudian, wajah-wajah baru ini bila bukan menjadi orang berpengaruh, telah lebih dikenal dan diterima di dunia puisi. DI tahun 1993, Rita Dove menjadi poet laureate Amerika Serikat. Di tahun yang sama, dalam pembukaan antologi The Open Boat, karya yang berisi kumpulan puisi Asia-Amerika pertama yang disunting oleh seorang keturunan Asia-Amerika, Garrett Hongo mengarahkan perhatian pada penerimaan dari arus utama: “Saat ini, beberapa dari kami berkarya di sejumlah yayasan dan panel Hibah Seni Nasional, menjadi juri penghargaan tingkat nasional, mengajar dan membimbing program penulisan kreatif, dan menyunting majalah sastra.”

Di lanskap kepuisian yang saat itu didominasi program M.F.A (Master of Fine Arts, magister seni), sebuah jaringan dari berbagai institusi kemudian menawarkan workshop dan pelatihan gratis bagi para penyair muda dari kelompok terpinggirkan. Cave Canem, yang dibentuk pada 1996 untuk mendukung penyair kulit hitam, kemudian diikuti oleh Kundiman (bagi penulis Asia-Amerika) dan CantoMundo (bagi penyair Latino). Yayasan Sastra Lamda sampai sekarang menyediakan dukungan serupa bagi penyair LGBTQ. Penjaga tradisi dunia puisi – jurnal ternama, penerbit tersohor (baik besar maupun kecil), komite penghargaan – kini tahu ke mana mereka bisa menemukan spektrum yang lebih kaya, yang berisikan karya-karya yang telah menjalani suatu proses saringan sebelumnya.

Namun, peralihan ke arus utama jarang terjadi tanpa adanya turbulensi. Alumni The Dark Room mendapat kritikan tajam setelah mereka duduk kursi mengitari meja yang telah diperluas, hanya saja, masih di ruangan yang didirikan oleh era sebelumnya. Inklusi ke dalam makna dominan dari “kita” memunculkan tekanan untuk mencipta dan mendukung karya yang lebih mudah diakses dan telah di-depolitisasi. Antologi The Open Boat segera didapuk untuk mewakili kepenyairan Asia-Amerika melalui lensa narasi imigrasi dan asimilasi yang tidak asing di telinga. Kemunculan Kevin Young sebagai penyunting puisi di The New Yorker di usianya yang ke-47 memunculkan pertanyaan: bakal sebaru apa truk yang mereka kendarai ini?

Suasana tegang mulai mengusik bahkan di tempat paling nyaman, paling terbuka di antara berbagai zona minoritas, dimulai dari The Dark Room dan kemudian: mereka menggandeng sapaan “kita” yang telah dipakai dunia luar, beserta narasinya, sambil menyertakan sejumlah tekanan. Para penyair telah merasa kesal, dan berhasil melampaui, seluruh tekanan itu. Tentu saja: Bagaimana lagi agitasi puitik akan terjadi? Belakangan Carl Phillips menulis tentang perasaan bahwa ia telah benar-benar diasingkan dari The Dark Room karena ia “tidak menulis puisi ‘kulit hitam’ sejati.” Di esai berjudul “A Politics of Mere Being,” dia bertanya-tanya mengenai dampak dari keharusan untuk benar secara politik, namun juga “tekanan untuk politis secara benar” – yaitu dengan berkarya mengenai “isu identitas, pengasingan, ketidakadilan.” Tidakkah seharusnya, kata dia, “penyair yang terlempar ke luar, dalam konteks apapun,” menolak pandangan bahwa sekadar “resistensi” saja bisa mendefinisikan apa hal-hal yang politis?

Penyair Iran-Amerika, Solmaz Sharif, dua-puluh lima tahun lebih muda dari Phillips – yang buku puisi pertamanya, Look (2016) menjadi finalis National Book Award – juga melihat nilai dari suara “yang terus-menerus berada di luar, mempertanyakan dan menanggapi apapun yang dimaksudkan dari kata ‘di sini’ atau ‘kita’ atau ‘sekarang’.” Idealisme puitisnya adalah semacam “keadaan nomaden, atau pikiran yang terus-menerus terpacu dan mencegah momen politis ini membatu.” Sebagai upaya untuk merangkum si “Aku” yang terus berubah dan mengundang tanya, sangatlah susah untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Upaya untuk mewadahi seluruh keberagaman – untuk meneliti berbagai wajah kedirian (protean self) dan masyarakat yang membentuk dan mengubahnya – dalam suatu bentuk liris yang koheren masihlah sebuah eksperimen yang radikal. (*)

________

Selengkapnya dalam Majalah “Book Review and More”

 

Milenia

Memaknai Nilai Ekofeminisme Dalam Gerakan Kendeng

mm

Published

on

Pengarusutamaan ekofeminisme kian banyak dikaji, baik oleh akademisi maupun mahasiswa di Indonesia, degradasi lingkungan serta konflik ekologi yang terjadi hari ini menjadi latar belakang munculannya kajian-kajian terkait ekofeminisme. Term ekofeminisme kerap digunakan sebagai pisau analisa dalam menilik permasalahan ekologi yang terjadi di Indonesia. Ekofeminisme pertama kali dipopulerkan oleh seorang Feminis Perancis Françoise d’Eaubonne pada tahun 1970-an melalui bukunya yang berjudul Le Feminisme ou La Mort (Feminisme atau Mati), ia menyatukan dua konsep dasar, yaitu ekologi dan feminisme. Term ekofeminisme ini melihat hubungan antara penindasan terhadap alam juga terjadi pada perempuan.

Studi mengenai ekofeminisme sangat melekat dengan pengandaian bahwa perempuan dan alam merupakan objek yang layak dieksploitasi. Dalam tulisan ini saya ingin melihat ekofeminisme melalui kacamata yang sedikit berbeda. Adalah Gun Retno seorang petani dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang juga merupakan bagian dari masyarakat adat sedulur sikep yang menolak pendirian pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng. Pada umumnya masyarakat sikep memiliki cara hidup yang berfokus pada ajaran Saminisme. Ajaran ini dicetuskan oleh leluhurnya Samin Surosentiko, seorang petani pada masa kolonial Belanda yang menolak untuk membayar pajak karena sistem yang mengopresi dan mengeksploitasi petani pada saat itu. Ajaran saminisme memiliki prisip mulia seperti belajar hidup dari alam. Hal tersebutlah yang kemudian mengakar pada keseharian masyarakat sedulur sikep, yang memilih untuk hidup melalui bertani. Yang unik dari kehidupan masyarakat sikep adalah, mereka tidak mengikuti sekolah formal, tidak berdagang, dan lebih banyak berguru pada alam.


Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam
by Saras Dewi
 
Gerakan ekologi dan etika lingkungan telah dengan tepat menunjukkan berbagai kerusakan alam dan kemerosotan lingkungan hidup akibat aktivitas-aktivitas manusia yang mengutamakan kepentingannya sendiri. Pandangan dunia yang antroposentrik dituding sebagai pangkal ketimpangan relasi antara manusia dengan alam sekitarnya.

Namun baik ekologi maupun etika lingkungan ditengarai masih terjebak dalam dikotomi antara ekosentrisme dengan antroposentrisme. Dikotomi ini membuat kedua gerakan tersebut kerap kesulitan dalam menjelaskan kepentingan manusia di dalam kerangka hidup bersama alam, misalnya dalam menjelaskan soal teknologi.

Dengan memakai pendekatan fenomenologi yang bersumber dari filsafat Husserl, Merleau-Ponty, dan Heidegger, buku ini hendak meneliti hubungan ontologis manusia dengan alam secara lebih mendalam dan radikal. Sebuah perangkat baru hendak dibangun guna memahami alam secara substansial, yang bukan sekadar gejala kerusakannya atau hal-hal lain yang bersifat deskriptif, statistik, maupun etis belaka.

Sejak tahun 2007, Gun Retno beserta Masyarakat Kendeng telah melakukan penolakan terhadap pabrik semen yang masuk ke wilayah Pati. Masuknya PT. Semen Gresik kala itu membuat Gun Retno menginisiasi JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng). Masuknya industri semen membuat petani dan masyarakat sekitar Pegunungan Kendeng khawatir, karena Pegunungan Kendeng merupakan daerah resapan yang menampung air selama musim hujan agar tidak terjadi bencana alam seperti banjir longsor.

Polemik panjang terjadi karena industri semen tidak hanya memasuki wilayah Pati, namun meluas hingga ke wilayah Rembang dan mulai mengerogoti wilayah-wilayah di sekitaran Pegunungan Kendeng. Tentu saja permasalahan Kendeng menjadi permasalahan yang begitu kompleks, mengingat begitu banyak lahan yang akan dimasuki industri, masalah yang terjadi pun menyangkut banyak hal terkait eksploitasi alam, perampasan lahan, ketimpangan gender, dan krisis iklim.

Penolakan terhadap pembangunan pabrik semen ini telah melewati babak yang sangat panjang, berbagai perlawanan telah dilakukan oleh masyarakat, mulai dari gugatan melalui jalur hukum hingga aksi-aksi yang dilakukan di depan kantor Gubernur Jawa Tengah dan di depan Istana Negara, aksi tersebut terbilang ekstrem karena Masyarakat Kendeng termasuk ibu-ibu petani yang dipimpin Sukinah mengecor kakinya dengan semen.

Pada pertengahan bulan maret 2020 lalu, saya berkesempatan tinggal di kediaman Gun Retno, plesiran tersebut saya lakukan berkaitan dengan pengumpulan data untuk naskah skripsi saya. Kurang lebih selama dua minggu saya menjalani kehidupan di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Selama hidup di Kendeng, saya belajar banyak hal terkait perjuangan masyarakat sekitar Pegunungan Kendeng yang mempertahankan ruang hidupnya dari industri semen.

Hal menarik yang dapat dipotret selama saya hidup di Kendeng adalah kesempatan untuk membela lingkungan terbuka bagi semua kalangan, baik itu perempuan, laki-laki, maupun anak-anak. Kesempatan yang terbuka bagi siapapun untuk memperjuangkan hak dan ruang hidupnya membuktikan bahwa visi ekofeminisme yang juga berpegang pada inklusifitas sejalan dengan apa yang terjadi di Kendeng. Masyarakat kendang saling bahu membahu membangun gerakan ini agar tetap kuat dan solid, lampauan dikotomi tentang apakah perempuan atau laki-laki yang lebih berhak membela alam pun sudah bukan menjadi permasalahan.

Berkaca dari hal tersebut, saya melihat bahwa spirit ekofeminisme seharusnya tidak hanya dibebankan kepada perempuan hanya karena perempuan diidentikan dengan alam melalui kerja domestik yang kerap dilakukan. Pengandaian tersebut cenderung patriarkis, karena perempuan dianggap berhak membela alam hanya karena ia bersinggungan dengan alam melalui kerja domestik. Padahal, lebih dari itu perempuan seharusnya dapat didengarkan suaranya di ruang publik, sebab ia memiliki hak yang sama seperti laki-laki.

Spirit ekofeminisme seharusnya dimiliki oleh siapa pun, tidak tergantung pada gender yang dimiliki. Prasyarat tersebut tentu menitip harapan bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara. Dalam kacamata ekofeminisme tidak ada salah satu gender yang berhak atas satu hal. Selain itu, term ekofeminisme tidak boleh digunakan untuk mengatakan bahwa tugas membela alam hanyalah tugas perempuan, karena perempuan yang paling sering berurusan dengan alam. Sementara kita menyadari bahwa tanggung jawab membela alam adalah tugas bersama.

Saya pun melihat semangat ekofeminisme sebagai sebuah pegangan yang dapat digunakan untuk memberantas dikotomi antara kerja domestik dan publik. Karena dalam kaitannya dengan Gerakan Kendeng, dikotomi tersebut telah hilang, perempuan telah menyuarakan kegelisahannya melalui ruang publik, pun sama halnya dengan laki-laki yang juga ikut menunaikan kewajibannya dalam membela alam.

Menurut saya peran Gun Retno dalam perjuangannya dengan Masyarakat Kendeng menyiratkan secercah harapan, barangkali menyadarkan kita bersama, bahwa masih ada potret laki-laki pejuang lingkungan yang juga concern terhadap kesetaraan dan keadilan entah bagi alam maupun perempuan. Satu hal yang dapat saya pelajari adalah, musuh bersama yang sedang kita hadapi bukanlah laki-laki, namun sistem kapitalis-patriarkal yang menghimpit segala lini dan permasalahan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Maka, sudah seharusnya kita menyadari tugas membela alam bukan hanya milik salah satu gender, sebab semua manusia bertanggung jawab atas kelestarian alam.

Pengajaran Gun Retno selama saya hidup di Kendeng meninggalkan memori indah tentang perjuangan dan keberaniannya membela alam. Penghormatannya terhadap alam patut diceritakan di sini, dalam hari-hari kelam yang masih dihadapi Masyarakat Kendeng, dirinya selalu menyisipkan semangat perjuangan dan mengatakan kepada saya bahwa “menanam adalah melawan” “sebelum Pegunungan Kendeng hijau, maka kami belum menang” dan ungkapan tanda kasihnya pada alam melalui kalimat “saya melihat pohon sebagai sebuah kehidupan, maka ia harus dijaga dengan baik”.

*Ayu Pawitriadalah mahasiswa Ilmu Politik tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi di Bali. Sesekali menulis, ia dapat ditemui di media sosialnya (twitter/Instagram) @sayupawitri

Continue Reading

Milenia

GM dan SDD: Saling Meresensi

mm

Published

on

Oleh: Bandung Mawardi *)

Dua halaman, tiga belas puisi. Di majalah Horison edisi Februari 1969, pembaca disuguhi puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono. Ia di babak awal ketenaran sebagai penulis lirik. Pujangga di tahun-tahun benderang, “terlihat” dan “terbaca” oleh umat sastra bakal sebagai tokoh dan pokok berpengaruh dalam kesusastraan di Indonesia. Pada masa 1960-an, puisi-puisi “keras” melanda akibat situasi politik dan saling-serbu ideologi, bermula dari politik menjangkiti ke sastra. Sapardi Djoko Damono bergerak menjauh dari “politis”, menggubah puisi-puisi di keredaan malapetaka memuncak pada 1965. Ia pun berlirik.

Pujangga kurus itu memberi puisi berjudul “Pada Suatu Hari Nanti”. Dulu, orang-orang membaca dengan tenang agak terasa mencekam: Begini: kita mesti berpisah. Sebab/ sudah terlampau lama bertjinta, sebab anak-anak/ kita telah mengusir ibu-bapanja,/ dan sebab takada rumah lagi/ jang masih terbuka./ Mula-mula airmata, jang tjepat mendingin,/ kitapun pergi seperti apa kta kitab-kitab itu,/ sehabis makan malam./ Siapa jang mengantarkan kita? Puisi belum usai dalam pengutipan. Kita sejenak merasakan situasi pengusiran dan kepergian. Diksi-diksi lembut tapi mampu memedihkan, mengandung percik-percik kemarahan dan duka tak kentara.

Di gubahan berjudul “Dua Sadjak Dibawah Satu Nama”, pembaca diajak membuka atau kembali ke kitab suci: membaca manusia dan Tuhan di sejarah berwaktu. Puisi tentang masa permulaan-penciptaan dan tragedi terselenggara oleh manusia. Sapardi Djoko Damono menulis: kalau Kaupun bernama Kesunjian, baiklah/ tengah-hari kita bertemu kembali: sehabis/ kaubunuh anak itu. Ditengah ladang aku tinggal sendiri/ bertahan menghadapi Matahari/ dan Kaupun disini. Pandanglah duabelah tanganku/ berlumur darah saudaraku sendiri/ pohon-pohon masih tegak, mereka pasti mengerti/ dendam manusia jang setiap tetapi tersisih ketepi. Sekian puisi tak membuat kegirangan. Pedih, duka, gamang, sengsara, kehilangan, dan segala hal kemuraman.

Sapardi Djoko Damono (tengah) bersama Goenawan Mohamad (kiri) dan Subagio Sastrowardoyo. / Foto Koleksi Lontar Fooundation

Kita berpindah ke esai-resensi panjang, enam halaman buatan Goenawan Mohamad. Publik mula-mula menghormati Goenawan Mohamad sebagai esais tangguh di majalah Sastra dan Horison tapi ia juga penggubah puisi. Di Horison, enam halaman itu mendahului dua halaman memuat puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono. Kita mulai membaca tulisan berjudul “Njanji Sunji Kedua: Sadjak-Sadjak Sapardi Djoko Damono 1967-1968”. Di situ, Goenawan Mohamad berlaku sebagai kritikus sastra dan redaksi majalah Horison.

Awalan menjelaskan dan ingatan: “Masa lalu itu adalah, seperti jang kita ingat, periode tahun-tahun terachir dari pertengahan pertama dekade 60-an: suatu periode jang membajangkan desakan kuat pengaruh kesusastraan realisme-sosialis, baik dalam diri pengikutnja maupun para penentangnja. Ia dimulai dengan penulisan sadjak-sadjak ‘berdjoang’ oleh hampir siapa sadja, dan diachiri dengan sadjak-sadjak pergolakan tahun 1966 – dimana kepahlawanan, nasib sosial, prinsip-prinsip besar, pemudjaan kepada tanah air dan rakjat banjak serta optimisme sedjarah menjusun satu-satunja perbendaharaan tema milik bersama.”  

Penggubahan dan publikasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono ingin “berjarak” dari babak “memanas” di kalangan sastra 1960-an. Penulisan pada 1967-1968 memang dekat dengan keamburadulan politik dan perubahan kiblat sastra gara-gara malapetaka 1965. Terbitlah buku berjudul dukaMu abadi, berisi 42 puisi gubahan Sapardi Djoko Damono disebut oleh Goenawan Mohamad bukti “pembebasan dan penemuan kembali” dari latar sastra dan politik masa 1960-an.

Pilihan puisi mendapat ulasan: “Djarak”, “Ziarah”, “Pada Suatu Hari”, “Gerimis Ketjil Didjalan Djakarta, Malang”, “Dua Sadjak Dibawah Satu Nama”, “Sonet X”, “Prologue”, “Sadjak Putih”, “Haripun Tiba”, “Gerimis Djatuh”, “Dalam Doa II”, “Saat Sebelum Berangkat”, “Tiba-Tiba Malampun Risik”, “Kupandang Kelam Merapat Keposisi Kita”, dan “Solitude”. Goenawan Mohamad membaca: jeli dan mencatat. Ia berdurasi lama di hadapan puisi-puisi. Penghormatan atas puisi, sebelum menulis kalimat-kalimat untuk tanggapan. Ketenangan membaca dan kemauan di jeda-sejenak menghasilkan kesan mendalam: “Puisi Sapardi Djoko Damono adalah suara-suara kegelisahan dan kesenjapan, lirik jang lahir dari posisi kejatim-piatuan. Manusia tidak sebatang kara, tetapi ia ditinggalkan tanpa testamen jang tjukup. Manusia berada dalam sedjarah, tapi arah dan djawaban jang diberikan kepadanja ternjata belum pernah memadai untuk mengerti tekateki hidup dan kematian itu.”

Tulisan panjang Goenawan Mohamad bertanggal 25 Desember 1968. Suasana religius di pembacaan puisi dan penulisan kritik. Di akhir, ia berpendapat: “Sadjak-sadjak dukaMu abadi membajangkan itu. Orang bisa mengatakan bahwa Sapardi Djoko Damono tidak teramat orisinil dalam mengutjapkannja, orang bisa melihat adanja pengaruh jang kuat dari penjair-penjair lain dalam puisinja…. Sikap itulah jang terutama menarik hati saja dalam menulis kritik ini, sebab saja beranggapan, bahwa sikap itu lahir setjara sah dari masa kita sekarang.” Puluhan tahun berlalu, esai-resensi itu tetap teranggap penting menandai pengukuhan pesona puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono.

Sampul Buku “Hujan Bulan Juni”–Grasindo, 1994. Di celah kata-kata dalam sajak Hujan Bulan Juni, nama Sapardi abadi.

Pada masa 1990-an, Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono masih rajin menggubah puisi dan mengerjakan kritik sastra. Dua orang teranggap besar dan berpengaruh. Mereka pun terus “bercakap” dan saling bertaut di kesusastraan. Di Tempo, 9 Januari 1993, Sapardi menulis resensi berjudul “Kritik Sosial Puisi Gumam”. Ulasan untuk buku puisi berjudul Asmaradana. Buku berisi puisi-puisi “terseleksi” gubahan Goenawan Mohamad (1961-1991). Di Tempo, Goenawan Mohamad adalah pemimpin redaksi dan rutin memberi esai atau sejenis puisi panjang dinamakan “catatan pinggir”. Posisi bergantian: Sapardi Djoko Damono di hadapan buku puisi Goenawan Mohamad. Tulisan cuma sehalaman. Pendek.  

Penilaian serius: “Dalam puisinya, Goenawan Mohamad mempergunakan berbagai muslihat agar yang disindir merasa tersindir. Menyindir orang lain tentu membutuhkan wahana konvensional. Ini menjadi sangat pelik jika tujuan sindiran adalah diri sendiri. Muslihat yang dipikih bisa bersifat pribadi.” Sapardi Djoko Damono telah kukuh sebagai pembaca dan pengajar sastra berpengaruh. Di hadapan buku puisi, ia merasa “enteng” untuk memuji ketimbang bertele-tele memasang sangkaan dan argumentasi. Pujian diberikan ke Goenawan Mohamad sebagai “penyair lirik terkemuka”. Resmilah dua orang itu saling memuji berkiblat lirik (1968 dan 1991). Kita mendapati dua tulisan itu membuktikan dua pujangga dalam perhitungan “saling” selama puluhan tahun.

Kini, Sapardi Djoko Damono telah pamitan dari dunia. Goenawan Mohamad memasuki babak tua tapi tetap keranjingan menulis puisi. Ia beranggapan belum ada penentuan “pensiun” atau leren di kesusastraan telah berabad XXI. Ulasan dari masa lalu itu mengingatkan kita bahwa Goenawan Mohamad pembaca serius puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono. Ulasan itu pun teringat saat kita menghormati kepergian tokoh berpengaruh dalam sastra di Indonesia. Begitu. (*)

*) Esais

Continue Reading

Milenia

Kritik Absurdis

mm

Published

on

by Sabiq Carebesth

Pertama-tama saya harus mencintainya sebelum mengkritiknya. Dan saya telah mencintai Albert Camus dan gagasan absurditasnya sejak waktu cukup lama. Bentuk cinta yang juga absurd, lambat dan penuh penyangkalan, tapi tekun dan terus menerus.

Maka demikianlah saya sejak awalnya untuk mengatakan bahwa gagasan absurditas Anda itu tidak bermakna—meski mungkin berguna—bahwa gagasan itu tidak ada kesimpulannya, atau kebenaran yang bisa dijadikan pedoman hidup atau pun jika hanya terbatas untuk sekadar memandu mengantisipasi rasa frsutasi dalam beberapa peristiwa sejarah yang telah dan akan datang.

Tetapi jelas itu tidak cukup. Bahwa setelah mencintai—sebelum saya membunuh cinta saya pada gagasan-gagasan absurdis milik Anda, yang dengan aneh tetap harus saya bunuh meski saya mencintai Anda dan gagasan yang anda telah susah payah gambarkan—adalah pertama-tama, hal itu sebagai bentuk cinta saya; sekalian keinginan membunuh cinta saya yang tekun itu–demi untuk mengungkapkan kerja penalaran dan kontribusi saya dengan mendeskripsikan gagasan-gagasan tidak masuk akal anda itu.

Sebab sebagaimana Anda siratkan bahwa “kesadaran” (akan mencinta) adalah tindak penerapan perhatian, dan bila menggunakan gambaran yang juga anda ambil dari Bregson, kesadaran mirip dengan pesawat proyektor yang setiap saat terpaku pada satu gambar. Perbedaanya adalah bahwa tidak ada skenario, melainkan suatu gambaran yang berturutan dan tidak bersambungan. Semua gambar itu adalah istimewa. Kesadaran menjadikan objek-objek perhatiannya menggantung dalam pengalaman. Dengan cara ajaib kesadaran memilah-milah obyek-obyek itu dan karena itu pula, obyek-obyek itu berada di luar segala penilaian. Dan dengan cara demikian pula saya akan memberikan perhatian kepada Anda sebagai objek yang saya cintai—sekaligus untuk saya sangkal karena tindakan perhatian itu hanya bersifat topografis.

Lagi pula Anda juga mengatakan bahwa “tidak ada lagi satu ide tunggal yang menjelaskan semuanya, melainkan esensi-esensi yang tak terbatas jumlahnya yang memberikan makna kepada obyek-obyek yang tak terbatas jumlahnya pula. Dunia berhenti bergrak pada moment itu tetapi menjadi terang”. Suatu realisme platonik yang intuitif dan anda kritik. Yang meski anda kritik, tapi anda katakan bahwa itu realisme juga. Bahwa bagi anda, bagi manusia absurd, “terdapat kebenaran dan sekaligus kegetiran dalam pendapat yang semata-mata bersifat psikologis, bahwa semua wajah di dunia ini adalah istimewa. Bahwa saat semua istimewa sama artinya dengan bahwa semua mempunyai nilai sama”. Dengan keyakinan dan penilain Anda yang demikian anda kira saya bisa mendapatkan apa dengan mencintai Anda?

Tapi meski demikian, keanehan dan keabsurdan itu harus saya katakan sebagai “wajar”, sebab itu pula yang mula-mula dan perlahan-lahan saya temukan dalam kurun mencintai Anda. Maksud saya adalah, bahwa saya tidak untuk mengatakan Anda adalah seorang yang wajar, justeru sebaliknya gagasan-gagasan absurd Anda itu yang memberikan nilai kewajaran bagi Anda sebagai penciptanya.

Bahwa Anda sebagai seorang filsuf, tetap lebih senang–jika pun harus mendapat label—sebagai seniman saja. Sebab apa yang anda lakukan adalah kerja seorang seniman; anda menjelaskan akibat-akiibat dengan menggambarkannya, menata gambaran-gambaran sebagai tanda dan teka-teki, tetapi sama sekali tidak untuk mencari kesimpulan apa-apa sebagaimana biasa dikerjakan para filsfuf.

Saya akan mengatakan kepada orang-orang tentang Anda dengan apa yang saya kenali selama waktu mencintai anda ini: bahwa tampakanya Anda, Albert Camus yang absurd, yang seniman, sungguh-sungguh tidak bertanggung jawab—tetapi saya juga akan katakan pada orang-orang bahwa gerak kerja seni semacam itu memang berguna untuk menjelaskan dan mungkin menginspirasi lahirnya sikap kehati-hatian dan juga penyangkalan-penyangkalan manusia pada bahaya-bahaya penyesalan dan rasa frustasi yang akan mendorong manusia memilih bunuh diri. Bahwa hal itu berguna justeru untuk mengatasi kehendak bunuh diri dan menggantinya dengan suatu bentuk “pemberontakan”—supaya manusia tidak diperdaya oleh harapan dan makna. Oleh kesimpulan-kesimpulan yang tak bisa digenggam sekarang atau tidak bisa dinalar akal budi. Bahwa semua yang di luar jangkau akal budi adalah ilusi—yang juga berarti tidak untuk mengatakan “tidak ada dan tidak benar”, tetapi itu “tidak nyata”, tidak sekarang, dan karenanya tidak bisa dinalar. Tetapi saat nalar menemukan titik nadir jangkaunnya, suatu kesadaran keterbatasan yang tak menyediakan jalan keluar,  tidak lantas berarti batas tanpa jalan keluar itu untuk membuat menyerah dan menyerahkan semua usaha pemaknaan pada apa-apa yang di luar nalar—dan demikianlah absurdnya absurdis?

Tampaknya pertanyaan itu membuat saya mulai melakukan kritik? Tunggu dulu.

Saya akan mengatakan lebih dulu bahwa tampaknya Anda, Albert Camus, dalam kekosongan dan ketiadaan pegangan semacam itu, gagasan absurditas memandu kesadaran justeru untuk menemu hidup dan menghidupi dengan penuh; dengan membayangkan penerimaan akan ketiadaan makna-makna dan juga kekosongan harapan-harapan—Bahwa anda mengatakan hidup adalah (barangkali akhirnya) untuk “menghayati absurditas”. Dan dalam penghayatan itulah terlihat seberapa jauh pengalaman absurd berbeda dengan bunuh diri. “Kita mungkin menduga bahwa pemberontakan diikuti oleh bunuh diri. Tetapi itu keliru. Karena bunuh diri tidak merupakan penyelesaian yang logis. Bunuh diri adalah kebalikannya, karena justeru memerlukan persetujuan si pelaku. Bunuh diri seperti halnya loncatan, adalah penerimaan akan batasnya”. Anda berkata demikian, baiklah. Bisa dipahami bahwa penggambaran demikian itu akan membuat tindakan-tindakan konkrit di dalam kekosongan dan ketiadaan sepenuhnya menjadi kesadaran dan bentuk tanggung jawab manusiawi untuk melibatkan diri, dan hakikatnya adalah suatu pemberontakan—yang mesti menuntut solidaritas tetapi berlangsung dengan suatu kesadaran mekanis yang soliter. Dan dari situ saya paham anda tidak ingin disamakan dengan eksistensialis yang memandu kesadaran akan diri otentik untuk mula mula menempuh jalan “menidak” liyan seperti Sartre; anda tampaknya juga tak ingin menjadi nihilis seperti Nietzsche yang memilih berlaku sebagai psikolog otonom di depan semua yang menyakiti dan tanpa harapan—dan Nietzsche sebagai psikolog ia konsisten mengambil jarak tetapi tidak menolak karena alasan untuk mengetahui. Sementara anda melibat untuk alasan pemberontakan dan menyaksi.

Tetapi sekali lagi, sebagai bentuk rasa cinta, saya harus menguji cinta itu dan karenanya saya harus mempertanyakan gambaran-gambaran yang anda lakukan dan telah membuat saya jatuh cinta itu—supaya saya juga tidak terperdaya oleh absurditas Anda.

Maka pertama-tama saya akan bertanya tentang “niat” seorang absurdis. (rupa pertanyaanya belum saya susun saat ini), pertanyaan berikutnya terkait dengan anjuran “membayangkan” perkara kebahagiaan dalam ketiadaan dan kekosongan itu. Apa Absurdis rupanya juga mencari kebahagiaan hidup yang terdengar sebagai hal ambisius untuk pemaparan panjang dan aneh yang selalu bernada pesimistis? Pertanyaan berikutnya belum saya siapkan, begitu juga pertanyaan berikutnya lagi juga belum saya siapkan. Saya masih terlalu mencintai Anda.

Pertanyaan-pertanyaan itu akan saya susun dan paparkan kemudian—mengingat sekarang saya belum meyakini atau belum punya mode epistemik yang terasa pas untuk membuat pertanyaan-pertanyaan. Juga karena saya, begitulah, masih terlalu mencintai Anda.

Lagi pula Tuan, tulisan pada bagian ini saya rencanakan sebagai tulisan penutupan—suatu epilog, dan sementara ini prolog dan pokok bahasannya malah belum saya mulai tuliskan kecuali secara gradual, random dan serampangan. Namanya juga menulis tentang absurditas—kiranya tidak mengapa bila juga dilakukan atau dikerjakan dengan cara-cara yang juga sama absurdnya—dan tidak mengapa juga bila akhirnya tidak untuk diselesaikan. Oh ya, paragraph terakhir ini tidak saya tujukan untuk Anda, Albert Camus—tapi untuk pembaca tulisan saya di facebook, blog atau kemayaan lain, mereka orang-orang absurd untuk sukarela membuang waktu membaca omong-kosong begini. (*)

Jakarta, 21 Mei 2020

Sabiq Carebesth

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending