Connect with us

Kolom

Pengaruh Kesusasteraan Asing dalam Kesusastraan Indonesia

mm

Published

on

Ketika kita membicarakan pengaruh kesusastraan asing dalam kesusasteraan Indonesia, kita harus melihat vista sastra Indonesia dari masa lalu hingga masa kini. Sebagai langkah awal, kita dapat melayangkan pandangan jauh ke belakang, ke masa Hamzah Fansuri mula bersyair dan bernazam atau ke zaman Nuruddin Ar-Raniry ketika melahirkan Bustanul Sallatin (Taman Raja-Raja) dan ketika Raja Ali Haji melahirkan Bustanul Katibin (Taman Para Penulis). Hasil kesusastraan di zaman itu lebih sering disebut oleh sarjana sastra Indonesia-Melayu sebagai bagian dari sastra lama Indonesia dan dilanjutkan dengan sastra baru (modern) Indonesia yang dimulai sejak munculnya percetakan di Hindia Belanda dan diramaikan oleh kelompok Pujangga Baru. Meskipun demikian, patut diketahui bahwa sastra baru Indonesia pun sudah dipelopori oleh penulis Tionghoa peranakan yang mula pertama memperkenalkan cerpen dalam kesusastraan Indonesia modern.

Karya sastra Indonesia (Nusantara) lama itu sudah dimulai sejak abad ke-16 pada zaman Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniry, dan Syamsuddin Al-Sumatrani hingga periode para wali di Jawa yang banyak menghasilkan suluk sebagai pengaruh budaya Islam. Namun, di Jawa jauh sebelum Islam masuk pun sudah memiliki karya sastra kakawin yang mendapat pengaruh dari India. Kesusastraan asing yang paling berpengaruh dalam kesusastraan Indonesia lama adalah kesusastraan Arab dan Parsi (Persia). Jejaknya itu dapat kita baca pada naskah lama yang ditulis dalam aksara Arab Melayu dan tersebar luas hingga ke seluruh wilayah Nusantara.  Karya sastra dari Arab dan Parsi itu banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu serta meninggalkan bentuk hikayat, syair, gazal, rubai, gurindam,  masnawi, dan barzanzi dalam khazanah sastra Indonesia lama.

Sesudah berlalunya tradisi pernaskahan di Indonesia, pengarang Indonesia modern, yang dimulai oleh penulis  Cina Peranakan, masih menulis syair dan pantun  dalam karya cetak. Pada tahun 1912, misalnya, sudah mulai ditemukan cerita pendek yang awal dalam buku cerita Warna Sari yang terbit di Surabaya. Cerita pendek yang dimuat itu berjudul “Si Marinem” karya H.F.R. Kommer dan ditulis dalam ragam bahasa Melayu rendah (Sastri, 2012).

Pada masa Angkatan Pujangga Baru perkenalan para penulis dan pembaca karya sastra dengan karya sastra Eropa, khususnya Belanda, semakin mudah diperoleh, baik melalui buku pelajaran di sekolah maupun melalui karya saduran. Jika sebelumnya karya sastra asing,  seperti Arab dan Parsi, diperoleh melalui hubungan perdagangan, karya sastra Eropa diperoleh melalui dunia pendidikan pada masa Hindia- Belanda.

Pada zaman Jepang, pengaruh kesusastraan asing, seperti Jepang, tidak terlalu banyak berarti dalam kesusastraan Indonesia. Hal itu disebabkan singkatnya masa pendudukan Jepang dan tidak adanya upaya penerjemahan karya sastra Jepang ke dalam bahasa Indonesia pada saat itu. Penerjemahan karya sastra Jepang ke dalam bahasa Indonesia dimulai pada tahun 1972 ketika Anas Ma’ruf menerjemahkan novel Yukiguni karya Yasunari Kawabata ke dalam versi Indonesia dengan judul Negeri Salju (Pustaka Jaya, 1972).

Sesudah kemerdekaan, sekitar tahun 1960-an, pengaruh kesusastraan asing dalam karya sastra Indonesia lebih disebabkan pengaruh ideologi, seperti komunisme dari Uni Soviet. Hal itu dapat kita temukan pada karya para penulis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang banyak menerjemahkan karya sastra Rusia yang beraliran kiri.

Jejak Kesusastraan Parsi dan India dalam Kesusastraan Indonesia Lama

Boleh dikatakan bahwa karya Hamzah Fansuri yang sangat terkenal, yakni Hikayat Burung Pingai, ditengarai oleh beberapa ahli mendapat pengaruh  dari karya sastra  Parsi yang berjudul Manttiq at-Tayr  (Percakapan Burung-Burung). Karya Hamzah Fansuri yang lain,  sebagaimana yang dicatat oleh Al-Attas (1970), memperlihatkan pengaruh puisi sufi dari Parsi. Di antara karya Hamzah yang terpenting itu adalah Syarab al-Asyiqin (Anggur Orang-Orang Pengasih), Asrar al-Arifin (Rahasia Orang-Orang Arif), dan Al-Muntahi (Sang Ahli Ma’rifat).  Karya yang terakhir itu merupakan kutipan dari lusinan penyair Parsi yang ternama,  seperti Attar, Rumi, Iraqi, Shabistari, Shah Ni’matullah, dan Maghribi.

Persinggungan negeri di bawah angin (istilah yang ditemukan di naskah Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu untuk menyebut wilayah Asia Tenggara dari Sumatra Utara sampai dengan Maluku) dengan pedagang Arab dan Parsi pada masa lampau yang berdagang hingga ke Pansur memungkinkan juga dibawanya karya sastra Arab dan Parsi ke wilayah Nusantara sehingga kita dapat pula melihat jejak kesusastraan Parsi itu pada puluhan karya sastra Indonesia lama lainnya. Braginsky (2009: 59–102) mencatat di antara karya Parsi yang sangat dikenal di Indonesia, antara lain, Hikayat-i Muhammad-i Hanafiyah, Qis-sai Amir Hamzah,  Hikayat Indraputra, Hikayat Isma Yatim, dan Hikayat Nur Muhammad. Sebelumnya, Djamaris (1983) menjelaskan pula bahwa Hikayat Nur Muhammad ditengarai terpengaruh salah satu bab kitab  Rauzat al-Ahbab (Taman Sorga Para Pengasih) karya Attaullah ibn Fazlullah dari Parsi. Selain itu, kita juga mengenal cerita berbingkai, seperti Hikayat Kalilah dan Dimnah (Kalila wa Dimna) dan Hikayat Bayan Budiman (Tuti-namah) yang semuanya berasal dari Parsi.

Pengaruh  kesusastraan India terhadap karya sastra Indonesia dapat kita temukan pada karya sastra Hikayat Seri Rama, Ramayana, Mahabarata, Hikayat Panji, Hikayat Cekel Weneng Pati, Barathayudha, dan Kakawin Arjunawiwaha. Bahkan, dalam tradisi pewayangan Jawa, kisah Mahabharata dan Ramayana sudah diadaptasi menjadi karya sastra Jawa dan merupakan kisah pewayangan yang sudah dianggap sebagai kebudayaan adiluhung dan  menjadi bagian dari sistem nilai orang Jawa.

Jejak Kesusastraan Eropa dalam Kesusastraan Indonesia Modern

Ketika percetakan mulai masuk ke Hindia Belanda, kesusastraan asing semakin mudah diakses oleh kaum terpelajar bumiputra. Kehadiran buku sastra dunia ditemukan dengan mudah dan menjadi bahan bacaan yang disampaikan di sekolah Belanda pada masa lalu. Sebelum periode Balai Pustaka, kita telah mengenal sebuah karya yang fenomenal dari Multatuli yang berjudul Max Havelaar (1860). Sastrowardojo (1989: 138) menyebutkan bahwa karya Multatuli itu pernah diakui mendapatkan ilham dan pengaruh setelah membaca Pondok Paman Tom (Uncles’s Tom Cabin, 1852) karya Harriet Beecher Stowe. Penerjemahan cerita pendek Eropa dalam surat kabar awal di Hindia Belanda, baik yang dilakukan oleh penulis Indo-Eropa maupun Cina Peranakan dan Pribumi, turut berkontribusi dalam masuknya pengaruh bacaan Eropa dalam kesusastraan Melayu-Indonesia pada masa itu. Salah satunya adalah masuknya genre cerpen, seperti yang telah disinggung di atas.

Pengaruh gerakan kesusastraan di Belanda sekitar tahun 1880, yang dikenal dengan  de Tachtigers atau Angkatan 1880, pada pengarang Pujangga Baru merupakan salah satu faktor yang memudahkan masuknya pengaruh karya sastra Eropa dalam kesusastraan Indonesia modern (Teeuw, 1980). Salah seorang penyair Pujangga Baru Indonesia yang sangat terpengaruh dan memuja penyair Angkatan 1880 itu adalah J.E Tatengkeng. Ia menulis sajak religiusnya dengan mengacu gaya kepenulisan Frederik van Eeden dan Willem Kloos dari Belanda, seperti sajaknya yang berjudul “KataMu Tuhan”. Bahkan, sebagai wujud kekagumannya kepada penyair Angkatan 1880 tersebut, Tatengkeng pernah menulis satu sajak yang khusus ditujukan kepada Willem Kloos (Sunarti, 2012). Jika Tatengkeng memuja penyair Belanda, Sanusi Pane adalah salah seorang pengarang angkatan Pujangga Baru yang mengagumi karya sastra pujangga India, Rabidranath Tagore. Ia pernah menulis adaptasi cerita Gitanjali ke dalam bahasa Indonesia. Merari Siregar juga melakukan hal yang sama, yakni pernah menyadur karya sastra Belanda ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tjerita Si Djamin dan Si Djohan (1918). Karya itu disadur dari roman Jan Smees karya Justus van Maurik (Teeuw,1994: 142–172). Teeuw pernah menjelaskan dengan panjang lebar mengenai kedua roman itu dan bagaimana cerita itu dapat disadur oleh Merari Siregar menjadi versi Indonesia dengan latar cerita dan nama para tokohnya disesuaikan dengan kondisi di Hindia-Belanda pada masa itu. Menurut Teeuw, pengaruh komisi bacaan rakyat (Balai Pustaka) juga ikut menjadi andil bagi penyaduran cerita itu.

Satu pengaruh negatif dari proses sadur-menyadur karya asing ke dalam bahasa Indonesia ini adalah munculnya polemik terhadap karya sastra hasil saduran itu dengan tudingan sebagai karya plagiat. Kasus itu muncul pada novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1938) karya Hamka. Sebagai pengarang yang banyak membaca karya sastra dalam bahasa Arab, Hamka sangat mengagumi karya seorang penulis Mesir yang bernama Mustafa Lutfi al-Manfaluthi yang hidup dari tahun 1876-1942. Penulis dari Mesir itu pernah menerbitkan sebuah novel saduran dari Prancis yang berjudul Sous Les Tilleuls karya Jean-Baptiste Alphonse Karr yang diberinya judul dalam bahasa Arab  Madjulin. Ketika novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck mengalami cetakan yang ketujuh, seorang penulis bernama Abdullah S.P. menulis tudingan bahwa karya Hamka menjiplak karya saduran Al-Manfaluthi. Karya saduran Al-Manfaluthi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan judul Magdalena. Berapa bagian dari karya itu setelah dibandingkan dengan karya Hamka ternyata memang memiliki persamaan. Akan tetapi, menurut Teeuw (1980: 105), persamaan itu dapat timbul karena penerjemahan ke dalam bahasa Melayu dan jelas karya Hamka memiliki isi yang sama sekali berbeda dengan karya saduran Al-Manfaluthi tersebut. Bahkan, ada kesan novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck merupakan semi autobiografi dari penulisnya yang berbeda sama sekali dengan akhir dari novel Madjulin yang disadur oleh Manfaluthi.

Masalah tuduhan plagiarisme juga pernah dihadapi oleh Chairil, yakni dituduh sebagai plagiat ketika melakukan penyaduran karya asing ke bahasa Indonesia. Hal itu disebabkan minat Chairil yang sangat tinggi terhadap karya penyair Eropa, seperti J. Slauerhoff (Belanda), Hendrik Marsman (Belanda), dan Rainer Maria Rilke (Jerman), sehingga amat memengaruhi sajaknya. Sajak J. Slauerhoff yang berjudul “Woning Looze” memengaruhi puisi Chairil Anwar yang berjudul “Rumahku”, kemudian “Karawang-Bekasi” dituduh plagiarisme dari The Young Dead Soldier karya Archibald Madeisch. Tudingan itu tidak dapat dibuktikan. Akan tetapi, karena tuntutan ekonomi, tindakan plagiarisme memang pernah dilakukan oleh Chairil pada beberapa tulisan yang lain, bukan pada sajak Karawang-Bekasi yang autentik milik Chairil. Pengucapan puitik Chairil dianggap memiliki nilai baru dalam struktur dan pilihan katanya yang sama sekali berbeda dan bahkan dianggap lebih baik dari sajak penyair Eropa, khususnya Belanda, yang disadurnya.

Pengaruh asing dalam sajak Chairil dapat juga kita temukan pada isi sajaknya,  misalnya pada kata ahasveros dan sisipus, yang menggambarkan pengetahuannya mengenai kebudayaan Eropa. Beberapa diksi dalam sajaknya juga tidak terlepas dari pengaruh kata Belanda, seperti baris sajaknya yang berbunyi: Hilang sonder pusaka, sonder kerabat. Semangat individualisme yang masih asing pada masa Chairil juga menjadi ciri pembeda sajaknya dengan pendahulunya, seperti Amir Hamzah, yang masih kuat terikat pantun  dan syair. Kedua sastrawan itu mewariskan syair dan pantun sebagai bagian puisi lama yang banyak dipakai pada awal kehadiran sastra Indonesia baru. Gaya itu kemudian ditinggalkan sama sekali oleh Chairil Anwar dalam sajaknya sehingga ia dianggap sebagai tokoh pendobrak zaman lama tersebut.

Keahlian Chairil melakukan penyaduran sajak-sajak asing ke dalam bahasa Indonesia juga diakui oleh kritikus sebagai karya saduran yang baik seperti yang dilakukannya pada sajak Huesca karya Rupert John Cornford dari Inggris dan pada tahun 1967 sajak yang sama diterjemahkan oleh Taslim Ali dengan judul Sajak.

Sesudah Chairil Anwar tiada, pengaruh kesusastraan asing pada karya sastra Indonesia semakin dipertajam melalui beberapa karya penyair Indonesia modern yang notabene mendapat pendidikan Barat. Sapardi (1983:5) menyebutkan beberapa nama pengarang Indonesia yang karyanya memperlihatkan pengaruh asing (sastra Barat), seperti Pramoedya Ananta Toer, Basuki Gunawan, Iwan Simatupang, Sitor Situmorang, Ajip Rosidi, W.S. Rendra, Mochtar Lubis, dan P. Sengodjo. Namun, penulis lebih cenderung memberikan pilihan lain yang tidak disinggung oleh Sapardi dalam tulisannya itu, di antaranya Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, Darmanto Jatman, W.S. Rendra, dan Sapardi Djoko Damono.

Pengaruh asing pada karya Subagio Sastrowardoyo terlihat, antara lain, dalam esai dan sajaknya. Karyanya itu memperlihatkan kuatnya nilai keagamaan dan kerohanian yang menjadi argumen dasar dalam tulisannya.

Pada Goenawan Mohamad, sajaknya memperlihatkan pergulatan untuk menjadi penyair yang hendak lepas dari nilai tradisi. Pengaruh asing pada karyanya terlihat lebih pada tataran ide, bukan pada bentuk. Isi sajaknya menggambarkan hubungan personal yang sangat luas dengan tokoh dan penyair dunia sehingga kita menemukan penggalan kisah yang menggambarkan pertemuan Goenawan dengan tokoh dunia dan tempat asing yang disinggahinya. Namun, berbeda dengan Chairil yang menulis puisi sebagai upaya pemberontakan terhadap bentuk dan struktur puisi Indonesia lama, Goenawan dengan sadar memanfaatkan rima pantun dalam sajaknya untuk memperlihatkan “pertemuan” tradisi dan budaya luar yang dikenalnya.

Semakin modern cara berpikir seseorang, seperti Goenawan, ternyata semakin sadar akan jati diri dan identitasnya sebagai penyair yang tidak mungkin melepaskan diri dari akar budayanya. Dari tangan Goenawan dilahirkan tafsiran baru atas nilai tradisi dalam wujud sajak modern, seperti “Gatoloco”, Pariksit”, dan “Persetubuhan Kunthi”.  Kita juga akan menemukan semangat dunia dan kosmopolitan dalam sajaknya yang memperlihatkan kecenderungannya pada persoalan sosial dan politik di Indonesia. Hal itu dapat kita lihat pada sajaknya yang berjudul “Internationale” dan sajak “Permintaan Seorang yang Tersekap di Nanking, Selama Lima Tahun” (untuk Agam Wispi). Sajak itu disampaikan dengan semangat puitika Barat yang tidak mudah dipahami oleh pembacanya di Indonesia.

Pernah  pada satu masa, penyair  W.S. Rendra, sangat menyukai menulis sajak dalam bentuk balada. Sebagai contoh, tulisan itu dapat kita temukan pada sajaknya yang berjudul “Bersatulah Para Pelacur Ibukota”, “Balada Terbunuhnya Atmo Karpo”, Balada Anak Mencari Bapa”, dan “Balada Suku Naga”. Bentuk balada atau ballade dalam sajak Rendra tersebut memperlihatkan pengaruh kesusastraan asing, khususnya pengaruh dari karya balada penyair Federico Garcia Lorca yang banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1950-an.

Pada Darmanto Jatman, pengaruh kesusastraan asing, terutama Inggris, terlihat dalam kumpulan sajaknya Bangsat. Darmanto telah mencapai gaya pribadi sendiri, tetapi ia tidak terlepas dari pengaruh sajak Inggris yang umumnya bercorak arif (sophisticated), cendikia (intellectual), dan jenaka (witty). Dengan mengambil gaya pengucapan yang demikian, Darmanto telah meninggalkan suasana romantik saja yang menjadi ciri umum persajakan Indonesia (Sastrowardoyo, 1989:206).

Dalam sajak Sapardi, pengaruh kesusastraan asing itu dapat dilihat bukan hanya pada struktur luar (bentuk), melainkan juga pada isi sajaknya. Pengaruh kesusastraan asing terekam dalam sajak awalnya yang memperlihatkan struktur haiku, ‘sajak pendek’ Jepang. Sweeney  dalam percakapan langsung dengan penulis pernah mengomentari bahwa Sapardi sesungguhnya menulis puisi barat, tetapi menggunakan bahasa Indonesia.  Sastrowardoyo (1989: 191) melihat sajak Sapardi, terutama dalam antologi Mata Pisau, secara keseluruhan boleh dikatakan bertolak dari pertanyaan tentang makna dan tujuan akhir dari hidup. Pertanyaannya itu bersentuhan dengan masalah dasar yang pernah dirumuskan oleh Paul Gauguin sewaktu melukis di Haiti. Di sebuah kanvas yang besar—yang disangkanya akan merupakan lukisannya yang terakhir sebelum pelukis Prancis itu berniat menghabisi nyawanya sendiri—dibubuhkan judul berupa pertanyaan “Dari mana kita datang? Siapakah kita? Ke mana kita pergi?” Kesadaran akan masalah hidup yang inti itu biasanya timbul dalam kemelut, suatu situasi krisis yang bisa dialami suatu kelompok masyarakat atau manusia orang-seorang. Pertanyaan yang menyangkut pangkal hidup yang pernah menghantui jiwa Gauguin itu telah melahirkan sajak Sapardi dalam Mata Pisau.

Penutup

Pengaruh asing dalam karya sastra Indonesia merupakan hasil sintesis pergaulan dan pergulatan sastrawan Indonesia dari masa ke masa. Hal itu juga menunjukkan keluasan pengetahuan dan minat penulis Indonesia terhadap karya sastra dunia. Pengaruh asing dalam kesusastraan Indonesia (Melayu Nusantara) dapat terjadi berkat adanya hubungan perdagangan, seperti yang terlihat dalam puisi lama/tradisional Melayu karya Hamzah Fansuri hingga Amir Hamzah. Pada masa Pujangga Baru pengaruh itu dimungkinkan terjadi melalui dunia pendidikan Hindia Belanda yang mengenalkan karya sastra Eropa dan Belanda khususnya. Sesudah perang kemerdekaan, pengaruh kesusastraan asing terjadi melalui indoktrinasi ideologi komunis, seperti yang terlihat dalam karya sastra zaman Lekra dan juga melalui pergaulan internasional, seperti yang diperlihatkan dalam karya WS. Rendra, sajak pendek (haiku) Sapardi, atau dalam pemikiran ajaran Kristen sebagaimana yang digambarkan oleh Darmanto Jatman dan Subagio Sastrowardoyo. (*)

*Sastri Sunarti (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) 

 

Daftar Pustaka

Braginsky, Vladimir. 2009. “Jalinan dan Khazanah Kutipan: Terjemahan dari Bahasa Parsi
dalam Kesusastraan Melayu, Khususnya yang Berkaitan dengan “Cerita-Cerita Parsi,”
hal. 59-111, dalam Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia. (ed) Henri Chambert-Loir. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Damono, Sapardi Djoko.1983. Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan. Jakarta.
Gramedia

Djamaris, Edwar. 1983. Hikayat Nabi Mikraj, Hikayat Nur Muhammad, dan Hikayat Darma
Tasiya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mohammad, Goenawan. 2001. Sajak-Sajak Lengkap: 1961-2001. Jakarta: Metaphor Publishing.

Sastrowardoyo, Subagio. 1989. Pengarang Modern Sebagai Manusia Perbatasan: Seberkas
Catatan Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.

Sunarti, Sastri. 2012. “Romantisisme Puisi-Puisi Indonesia tahun 1935-1939 dalam Majalah
Pujangga Baru” Jurnal Puitika, No.1.Volume 8. Februari 2012. hal. 19-40. Padang: FIB Universitas Andalas Padang.

Suyono dkk.  2008. “Cerita Pendek Indonesia”  Penelitian Tim Subbidang Pengkajian Sastra,    Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional,  Jakarta.

Teeuw. A. 1980. Sastra Baru Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.

———– 1983.  Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

———– 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya Girimukti Pasaka.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kolom

Kota-kota yang Ditelan Cahaya

mm

Published

on

Tatkala Tuhan menciptakan matahari sebagai sumber cahaya bagi bumi, lantas menyalurkan ke rembulan untuk meremangi malam, manusia ingin mengaburkan batas gelap-terang dengan menciptakan lampu. Manusia ingin cahaya yang nyaris abadi, dikendalikan, diciptakan, dan selalu hingar bingar. Tuhan pun tidak punya kuasa mematikan lampu yang menyala di setiap sudut bumi. Berita di Media Indonesia (9 Desember 2017) berkabar bumi semakin benderang oleh polusi cahaya di malam hari. Lampu LED yang dianggap menghemat, menjadi biang utama polusi cahaya. Semakin banyak lampu dinyalakan, semakin jam biologis manusia dan migrasi burung serta penyu laut terganggung. Ongkos ekonomi dan ekologi terlalu banyak dihabiskan jika lampu terus dipijar. Jurnal Science Advances melaporkan bahwa cahaya buatan di dunia meningkat 2% setiap tahun.

Di Indonesia, jejak cahaya lampu disahkan oleh kolonialisme. Penjajah membawa terang benderang bagi Hindia Belanda yang memiliki malam sebagai waktu yang religius dan kultural. Wilayah kelelapan malam dihentak dan dibangunkan dengan kedigdayaan seolah siang. Orang tidak lagi menakuti malam, melupakan batas-batas transendental. Tidak perlu lagi ada ketakutan pada hantu-hantu atau roh yang mungkin akan merasa silau juga bila berdekatan dengan malam.

Pada tahun 1931 di Paris, wajah kolonialisme di teras pameran kolonial se-dunia ditentukan oleh kilat lampu. Frances Gouda dalam Dutch Culture Overseas, Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942 (2007) mengatakan bahwa festival raya para penjajah itu menahbiskan Belanda sebagai pihak yang unik dan berbeda. Ramuan pelbagai kultur, etnis, dan agama yang berkecambah di Hindia Belanda, dipakai Belanda membangun kesatuan politik. Anjuangan Belanda di Paris menunjukkan bumi jajahan yang jauh dari derita dan kegelapan.

Namun, hanya kilatan cahaya lampu sebagai perangkat magis mampu memesona para pengunjung berkeliling dunia dalam sehari. Malam dikaburkan dalam pola-pola bayangan. Lampu mengemas nuansa misterius di antara kekaburan dan ketidakkaburan.

Modern

Kota atau negara yang ingin dianggap beradab dan modern harus memiliki lampu di setiap celah ruang dan peristiwa. Namun, kebenderangan yang membawa kekaguman juga menuai kegamangan. Leila Aboulela di cerita pendek Coloured Lights (2012) menuliskan perasaan yang antusias dan gamang saat berhadapan dengan lampu-lampu di London. Cerita ini bisa menjadi semacam memoar biografis Leila sebagai perempuan yang berpindah dari India ke Inggris. Leila bercerita, “Setiap jendela toko memamerkan pajangan yang sangat menarik dan ada lampu-lampu hias yang terpasang di dekat lampu-lampu jalan. lampu-lampu kecil dibelitkan pada pepohonan di trotoar, dipasang sepanjang kawat yang melintas di atas jalan. Lampu-lampu bulan Desember yang meriah. Biru, merah, hijau, lebih ramai daripada bohlam-bohlam sederhana yang kami gunakan di Khartoum untuk menghiasi rumah diselenggarakannya perkawinan.”

Lampu adalah kemewahan di tempat kelahiran sang aku, yang hanya akan dipakai untuk momentum khusus dan penting. Kekaguman pada lampu di kota dengan sederhana membandingkan pedesaan Khartoum yang gelap dan Kota London ditelan oleh banyak cahaya. Listrik di negara dunia ketiga tetaplah kemewahan seperti halnya makanan atau pendidikan, bahkan untuk menghidupkan sebuah lampu. Cerita Leila semakin ironis karena lampu (listrik) justru merenggut nyawa Taha, kakak si aku. Taha tersengat listrik saat memasang lampu-lampu untuk hari pernikahan. Lampu yang membawa cahaya justru mengantarkan ke kegelapan.

Paris sepertinya telah diagungkan sebagai kota cahaya. Andrew Hussey (2014) mengatakan bahwa sejak 1800, Paris mulai menapaki riwayat sebagai kota terindah dan terpenting di dunia. Proyek ambisius dijalankan untuk merancang kembali kota yang masih diwabahi kebanyakan masalah urban.

Di masa Louis-Napoleon, restorasi kota dijalankan oleh Georges-Eugene Haussmann menuju Paris yang modern setara dengan Roma. Haussmann meski amat kontroversial dikatakan, “Ia meninggalkan kota dengan sistem sanitasi yang baik (meminum air di Paris kini tak lagi memiliki risiko terjangkit penyakit kolera), dengan sistem lampu jalan yang terorganisasi dan kemampuan untuk menghadapi tuntutan teknologi abad itu.” Jika kita mendapati kota-kota masa kini yang gencar membangun taman, air mancur, lampu warna-warni, atau jalur pedestrian nan santai, semua itu memang gagasan membangun kota modern, bercermin pada cahaya di Kota Paris.

Kita sempat mengalami terminologi sinar atau cahaya sempat merujuk pada pertalian transendental atau kodrat alam. Seperti yang sering digunakan oleh para penyair sufistik, cahaya adalah Ilahi atau Tuhan. Cahaya yang memancar lampu perlahan menghilangkan yang puitis dalam biografi religiositas kita. Cahaya lebih mengingatkan pada lampu, tarif listrik, kabel, hemat, boros, polusi, atau perusahaan lampu berjargon “terang terus.” Lampu dan cahaya menjadi semacam obsesi menerangi.

Avianti Armand lewat puisi “Di Trotoar” (Buku Tentang Ruang, 2016) menyampaikan sebentuk kelupaan ganjil yang tentu nyaris mustahil diingat oleh orang-orang. Kita cerap, Menjelang malam, ia berangkat/ namun lupa mematikan lampu jalan./ Cahayanya membanjiri trotoar./ Aku melemparkan kail ke genangan yang tersisa,/ berharap ia kembali memakan umpan./ Matanya tercelup sedalam kaki./ Aku tak bisa melangkah./ Aku tak akan pergi. Kita yang selalu melewati jalan tidak akan pernah sempat berpikir mematikan lampu jalan. Lampu jalan sudah dianggap kemujaraban sebuat kota hidup dan masih ada. Tanpa lampu, kota-kota akan mati. Toh, manusia tidak merasa mati meski terus-terusan diserang polusi cahaya atau banjir lampu.

Agenda di dunia kita tidak bisa berjauhan dari lampu; perayaan diskon mahabesar, wisata akhir tahun, tahun baru, dan bahwa bahkan hari raya apa pun. Bumi harus selalu menyipitkan mata ketika ditelah cahaya. Cahaya hotel, cahaya lampu jalan, cahaya-ledakan kembang api, cahaya toko, cahaya mobil, cahaya kota, polusi cahaya naik 2% itu memang tampak kecil, tapi juga tampak besar untuk bisa diturunkan. (*)

*) Setyaningsih: Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016)

Continue Reading

Kolom

Potret Membaca Kita

mm

Published

on

Persoalan membaca kini mulai diresahkan oleh pemerintah. Pemerintah pun bergeliat membuat gerakan literasi. Ini sudah dimulai dari artikel Kemendikbud Rintis Gerakan Literasi di Sekolah (Republika, 8/8/ 2015),  menyatakan bahwa terdapat kegiatan membaca buku 15 menit sebelum belajar, maka gerakan literasi ini perlu dilakukan. Sekolah mulai mencoba mengawali gerakan ini. Sayang, aturan pemerintah ini memasygulkan murid dan gurunya. Boleh jadi, ini dikarenakan kita tidak terbiasa membaca sastra. Kita bisa berprasangka, kita hanya melek huruf, tidak melek membaca. Wajar bila yang terjadi sekolah ogah-ogahan dengan gerakan literasi.

Mungkin kita dapat membanding dulu dan sekarang. Dulu, adanya perasaan membaca dan menulis merupakan kebutuhan utama. Kita dapat melihatnya dari majalah kuncung, bobo, majalah teen, dan lain sebagainya. Dalam majalah, terlihatnya antusias anak-anak sampai orang tua gemar merangkai kata. Melalui surat-menyurat, kata digunakan untuk menuangkan semua keluh kesah. Biasanya surat di muat di rubrik surat pembaca.

Entah surat berisikan pemikirannya tentang politik, ekonomi, atau kehidupan rumah tangganya dituliskan. Barangkali surat juga menyuguhkan kata-kata heroik, pembangkit minat baca. Layaknya Asrul Sani, dalam buku Surat-surat Kepercayaan yang menyatakan bahwa buku memberi pengetahuan mengenai peninggalan dan pemikiran seluruh pelosok dunia. Dari ungkapan ini Asrul mengisyaratkan bahwa kegiatan membaca membuat jarak tidak berarti. Kita bahkan bisa membaca pemikiran apa pun di dunia, cukup dengan berhadapan dengan buku.

Mungkin, ini juga membuat orang akrab dengan perpustakaan.  Buku-buku seolah dianggap  teman. Bahkan, saat menjalani hukuman pengasingan ataupun di penjarakan orang lebih bisa membangkitkan dunia literasinya. Syahrir, Soekarno, Tan Malaka, Moh. Hatta,   atau Pramoedya, merupakan tokoh yang doyan membaca. Pemikiran dan kisah mereka pun, bisa kita ketahui dengan buku-buku sejarah dan cerita-cerita pendek.

Bukan hanya itu, beberapa dari mereka, mencontohkan untuk lebih mencintai buku. Boleh jadi kita dapat tengok Gerson Poyk di buku Nostalgia Flobamora, ia mewariskan buku-buku untuk anaknya. Dengan harapan buku dapat dijadikan harta yang paling berharga. Sebab, buku seolah menjadi identitas diri dalam membentuk pemikiran si pembaca. Refleksi dari kehidupan yang sudah tidak nyaman. Ketika segala hal terlihat buruk dalam keadaan yang sebenarnya, buku membawa mereka pada kisah-kisah nan menarik.

Bila kita kembali lagi ke masa kanak-kanak di tahun ‘90an, mungkin kita dapat disajikan majalah Bobo. Di dalamnya memuat rubrik kisah Nurmala dan Boni si gajah panjang. Cerita itu penuh peran moral yang disajikan. Tidak lupa soal-soal sekolah dasar diselipkan untuk mengasah kepandaian anak. Di majalah itu anak bebas membaca, bebas memilih, bahkan berkarya. Anak-anak pun bisa mengirim puisi, cerita pendek atau gambar kepada redaksi bobo. Sayang, kini majalah Bobo yang tidak lagi terlalu tenar dan diminati. Ia kini telah digantikan google, anak cukup mengasah bacaan dan bertanya lewat internet.

Saat teknologi seperti televisi dan gawai pintar belum ditemukan, satu-satunya hiburan adalah membaca. Membaca membuat imajinasi kita bermain dan bebas untuk menjelajah. Tak ayal, dunia literasi yang terbangun membicarakan pergaulannya dengan buku. Buku yang menjadi sahabat dalam mencurahan segala kepelikan hidup. Seolah dengan membaca kita dapat merefleksikan kembali pemikiran yang ada dalam kata.

Pembaca seolah dapat terbius dengan rangkaian kata dari penulis. Turut serta merasakan pemikiran yang tertuang dalam buku. Kita dapat mengetahui alurnya hingga dengan membaca seseorang makin terbebas dari dunia realitas. Sayangnya, ingatan tentang buku sebagai alat yang menyenangkan mulai hilang. Pelbagai tantangan hadir dalam menurunkan minat membaca buku.

Seiring dengan zaman yang serba canggih, kita malah sibuk dengan dunia maya. Semua mulai tenggelam dengan kegiatan di dunia media sosial. Kebanyakan remaja yang makin ketagihan dengan media sosial. Dikutip dari data kominfo di kominfo.go.id menuliskan bahwa pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.

Mirisnya, kita hanya aktif berselancar di dunia maya sambil memposting segala kegiatan. Bak artis yang ingin selalu diperhatikan penggemarnya. Waktu pun dibuang untuk berselancar di dunia maya. Seolah melupakan waktu untuk kegiatan yang lebih menggali ilmu pengetahuan. Cita-cita yang terbangun pun dapat menjadi viral dan artis di dunia maya. Atau lebih parahnya kita menjadi komentator untuk persoalan orang lain, yang belum tentu kebenarannya.

Kegiatan menjadi komentator ini memudahkan kita terbawa arus dan kurang mengontrol kometar. Bahkan, sering kali kita memberikan komentar suatu persoalan remeh temeh. Apalagi disokong dengan menjadi komentator yang miskin bacaan. Alhasil, komentar yang terlontar di media sosial kebanyakan bukan komentar yang berbobot. Hanya sekedar komentar yang ditulis dari kefanatikan. Tidak heran bila kemudian komentar hanya seputar memuji atau mencela. Kadang mencaci, saling menghujat dan menuding.

Tentu bila komentar masih seputar itu, akan berdampak pada daya nalar. Bila kita masih menjadi komentator yang miskin bacaan, tentu mudah tergiring dengan opini orang lain. Lebih dikhawatirkan lagi menjadi partisipan yang dimanfaatkan oleh kaum tidak bertanggung jawab. Maka dari itu, penting bagi kita untuk membaca dan mengkritisi pemikiran orang lain. Tidak hanya menuangkan komentar yang tidak berbobot.

Penting bagi kita untuk kembali berkaca diri dalam memanfaatkan teknologi. Dengan media sosial kita memang dimudahkan untuk dapat berkenalan dengan seluruh manusia di bumi. Ini dapat dimanfaatkan untuk bertukar pikiran. Mengenai persoalan politik, budaya atau lainnya. Bukan hanya curahan hati ungkapan kekesalan atau kesenangan. Kemudian batasi pemakaian media sosial dan manfaatkan waktu senggang.

Boleh jadi kita dapat menggugat diri sendiri, untuk menggunakan waktu senggang dengan lebih banyak membaca. Membaca membuat kita memahami pelbagai hal. Selain itu, segala perubahan dapat kita ikuti bila kita terus membaca. Laiknya Manusia memiliki otak yang setiap harinya harus diperbaharui pengetahuannya. Untuk itulah membaca menjadi perlu dan penting. (*)

*) Ayu Rahayu: Mahasiswi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

 

 

Continue Reading

Kolom

Bahasa di Tangan Komentator Bola

mm

Published

on

Pertandingan sepak bola yang ditayangkan di televisi selalu menyisakan keseruan yang menarik dibahas. Salah satunya adalah lontaran sang komentator. Komentator yang biasanya ditemani pemandu acara hadir di studio untuk memberikan ulasannya seputar pertandingan yang baru berlangsung. Komentar-komentar tersebut bisa juga disiarkan usai pertandingan berakhir. Kemunculan komentator bola kian meramaikan kompetisi di lapangan. Penonton di rumah pun pasti menantikan celoteh-celoteh yang lahir dari mulut komentator.

Publik yang menyenangi tayangan liga sepak bola tentu ingat dengan salah satu kata yang meluncur dari komentator bola, yakni kata jebret. Kata tersebut menjadi fenomenal dan melekat di telinga para pemirsa yang setia menyaksikan tayangan perlombaan antar tim sepak bola. Jebret pun seolah masuk dalam daftar kosakata baru.

Valentino Simanjutak, adalah pria yang secara spontan meneriakkan kata tersebut saat timnas U-19 bertarung melawan timnas Vietnam pada 22 September 2013. Kala itu, pria jebolan abang-none DKI Jakarta tersebut belum menjadi komentator, ia bertugas sebagai pembawa acara. Komentator yang berpasangan dengannya kala itu adalah Abdul Harris.

Kata jebret keluar saat Valentino memerhatikan pergerakan bola yang dibawa pemain Indonesia mengarah ke gawang Vietnam yang dijaga Le van Truong. Jagad media sosial pun langsung penuh dengan tagar jebret saat itu. Kata jebret kian menghiasi percakapan sehari-hari. Masyarakat menjadi akrab dengan kata hasil eksplorasi Valentino itu.

Seiring waktu, Valentino pun didapuk menjadi komentator bola. Ia tidak henti-hentinya menciptakan istilah-istilah baru untuk merujuk makna tertentu. Ia tidak bosan-bosannya menyegarkan pertandingan sepak bola lewat ujaran-ujaran komentar, yang kebanyakan justru membikin pemirsa yang mendengarnya terpingkal. Pembawaannya selama mengampu acara bola meninggalkan jejak baru dalam dunia kebahasaan.

Valentino mungkin tidak merencanakan kata-kata unik yang ia pakai untuk menyebut gerakan tertentu dalam pertandingan bola yang ia komentari. Pasalnya, perputaran bola di kaki pemain tidak bisa ditebak. Perpindahan bola dari satu posisi ke posisi lain sangat cepat. Tentu butuh kejelian dari komentator untuk mengamati setiap detil kejadian dalam pertandingan. Inilah yang membuat Valentino refleks mengeluarkan komentar unik.

Kamus Sepak Bola

Keunikan komentar bola tidak berhenti di jebret saja. Penggemar bola pasti familiar dengan kata-kata berikut; tendangan LDR, tendangan SLJJ, umpan manja, rumah tangga, umpan antar benua, umpan membelah lautan, Messi kelok 9, harmonisasi rumah tangga, gerakan 362, blusukan, peluang 24 karat, tendangan depresi, umpan membelai, aksi tipu daya, gocek keliling dunia, tendangan PHP, tendangan menepati janji, membuat retak hati, gerakan 378, bon jovi, menjaga koordinasi keutuhan rumah tangga, umpan cuek, umpan mubazir, gratifikasi umpan, umpan tega, dan gelandang penimba sumur. Pertandingan bola yang menegangkan berubah kendur dan kaya humor setelah mendengarkan komentar semacam itu. Penonton dibikin berkerut sekali menahan tawa ketika memikirkan arti dari komentar unik kreasi para komentator.

Kata yang digunakan para komentator sebagai perumpamaan gerakan para pemain adalah buah dari proses skema. Skema menurut Chaplin (1981) merupakan kumpulan ide yang tertata rapi dalam sebuah peta kognitif. Manusia menempatkan skema sebagai model. Peristiwa yang dialami manusia diolah untuk dijadikan acuan dalam melihat kejadian serupa pada lain kesempatan. Sebab skema merupakan kerangka dasar yang mengandung respon yang pernah disampaikan. Respon tersebut dirancang sebagai landasan dalam memberikan standar bagi respon selanjutnya. Chaplin menjabarkan definisi skema dalam Dictionary of Psychology.

Proses skema berlangsung ketika komentator bola menghubungkan konsep hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR) yang pernah ia dapatkan untuk mengibaratkan tendangan jarak jauh. Maka tercetuslah ungkapan tendangan LDR. Skema terancang karena adanya asosiasi yang terjadi. Kata unik yang diteriakan oleh komentator bola merepresentasikan pengalaman yang dipunyai.

Skema juga mempengaruhi penangkapan pesan yang disampaikan. Apabila pemirsa tidak memiliki latar pengalaman yang sejalan dengan yang dianut komentator bola, maka kata-kata unik tersebut sulit dipahami. Rekayasa dibutuhkan untuk mengecoh skema lama yang dipegang penonton. Tujuannya adalah memasukkan skema baru sesuai dengan yang diinginkan komentator. Ini bisa dilakukan lewat penjabaran setelah kata-kata unik terpekikan. Pemandu acara yang mendampingi juga bisa mengarahkan pertanyaan ke komentator untuk mengorek jawaban atas makna dari kata-kata baru yang unik buah kreasi.

Kamus bola perlu disusun supaya skema antara penonton dan komentator tidak saling tumpang tindih. Penonton yang minim pengalaman hanya akan merasakan hambarnya pertandingan bola karena terbebani dengan meraba-raba mencari definisi kata unik. Masing-masing pihak sebaiknya saling memperkaya skema supaya komunikasi terjalin dua arah. Skema yang kurang menjadi penghalang dalam membaca pemahaman.

Keraf menyebutkan, usaha untuk menemukan makna yang sesuai dengan konteks dari ujaran membutuhkan komunikasi. Tuturan kehilangan maknanya tatkala para pembaca atau pendengarnya tidak mampu menerjemahkan maksud yang ada. Makna dianggap penting sebab ia merupakan arti yang melekat pada sebuah kata. Interaksi antara kata dengan makna leksem lain dalam sebuah aturan memunculkan makna itu sendiri. Penjabaran ini memuat deskripsi yang bisa dipergunakan untuk mengkaji kata-kata unik komentar bola.

Kata dan bahasa yang dipilih komentator bola melibatkan emosi penonton. Rasa yang terbangun dibiarkan terus hidup supaya pertandingan tidak monoton. Kata unik yang melejit berkat komentator bola harus ditinjau dari makna konotatif, bukan makna denotatif. Landasan utama makna konotatif adalah perasaan atau pikiran yang tercipta atau diciptakan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Selanjutnya dimanfaatkan sebagai pijakan untuk memaknai kata. Rasa yang tersemat dalam kata unik menjadi syarat kata tersebut digolongkan makna konotatif. Makna konotatif mengandung tambahan makna. Dengan demikian, makna yang sebenarnya tertutupi.

Makna kiasan dan majas turut melengkapi pemaknaan komentar dari komentator bola. Pergeseran dan perbedaan makna tak terhindarkan dari ujaran komentator bola. Metafora melingkupi setiap ujaran yang disampaikan komentator bola. Metafora membantu komentator mengkomparasi hal yang ingin dikatakan dengan objek lain. Metafora adalah cara untuk mengutarakan pesan secara terselubung dengan membandingkan topik abstrak dengan hal yang konkret. Komentator bola menyebut pemain jangkar atau gelandang bertahan dengan frasa gelandang penimba sumur. Penautan ini mempertimbangkan dengan analogi yang seimbang menurut komentator.

Kata-kata unik yang dipakai komentator bola turut menerapkan disfemia. Komentator bola mengubah kata yang bermakna biasa dengan kata yang bermakna kasar. Disfemia yang dilakukan komentator bola diklasifikasi dalam kata, frasa, dan ungkapan. Masing-masing merupakan bentuk satuan gramatik. Komentator bola memainkan nilai rasa dari sebuah makna kata. Disfemia terbentuk akibat membuncahnya rasa kecewa, frustasi, kesal, dan tidak suka yang diluapkan melalui kata-kata. Pangkal dari semua itu bisa ditelusuri dari konteks kejadian atau kalimat yang mendahului. (*)

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Classic Prose

Trending