Connect with us

Tips Menulis

Pengarang dan Gaya Penulisannya

mm

Published

on

Banyak penulis pemula yang menekuni penulisan sastra kerap terjebak pada motivasi membentuk gaya tulisan indah. Padahal, ide soal gaya penulisan, bisa jadi adalah mitos. Pemenuhan ambisi itu tak menjamin para penulis pemula akan menjadi pengarang besar.

Nasihat terbaik kepada setiap pemula dengan ambisi seperti itu adalah: “Kalau mau menulis dengan baik, tulis saja kalimat yang lengkap diawali huruf kapital dan diakhiri tanda titik. Jika ingin tulisan berkualitas maka sampaikanlah sesuatu, ungkapkan sebuah gagasan!”

Tidak pernah ada cerita bagus di dunia ini tanpa membawa ide segar dan otentik. Jadi, gaya penulisan buruk bukan datang dari karakter penulisan yang membosankan. Tapi, karena sang pengarang memang hanya punya sedikit gagasan untuk diungkapkan.

Kisah-kisah dari masa silam, seperti Mahabharata atau Seribu Satu Malam, mampu langgeng dan memikat pembaca di zaman-zaman berbeda tentu bukan karena ditulis dengan bahasa indah, melainkan karena memuat ide dan gagasan otentik mengenai siapa itu manusia.

Ketika anda menemukan seorang penulis dengan gaya penulisan menawan, pasti dia adalah pengarang yang menawarkan gagasan besar untuk pembaca. Ia punya sesuatu yang layak diketahui dunia, sesuatu yang mungkin membuat setiap pembaca menemukan suluh untuk melihat ujung kegelapan.

Banyak kritikus sebenarnya enggan menyebut tulisan Pramoedya Ananta Toer indah dan menawan. Bahkan, sebagian menilai tetralogi buru dipenuhi melodrama. Karya bung Pram memikat justru karena sang pengarang menyampaikan “sesuatu” tentang nasionalisme yang begitu menggetarkan, hasrat melawan penindasan kolonial dan pembelaan pada kemanusian yang meluap-luap. Sebelum bung Pram, tak ada pengarang mengungkapkan gagasan nasionalisme Indonesia dengan daya dobrak sekuat tetralogi buru.

Contoh lain, banyak pembaca sastra di awal abad 20 memuja gaya penulisan Joseph Conrad (1857-1924). Tentu saja dia memiliki gaya luar biasa. Tetapi, ini bukan karena Conrad lihai menyulap bahasa. Itu karena dia memiliki banyak hal untuk dikatakan dan jarang diungkapkan pengarang lain.

Conrad mampu dengan saksama mengamati apa yang terjadi pada pikiran saat manusia berada di laut maupun tempat terpencil. Conrad juga menyampikan hal ini ke pembaca dengan cara sesederhana yang dia tahu.

Di Novel Nostromo (terbit pertama 1904), Conrad bercerita soal tempat terpencil sekaligus keserakahan dan intrik politik untuk memperebutkan tambang di negara imajiner bernama Republik Costaguana. Di sini, ia bercerita ke pembaca soal kekelaman jiwa, saat manusia beradab menjadi beringas karena terputus dari hubungan dengan sesama manusia.

Saya berani menyatakan, bahwa ketika menulis, Conrad tidak memikirkan bahasa, tetapi malah berkonsentrasi pada fakta, episode, adegan yang akan dipaparkan ke pembacanya. Dan, dia pun berhasil mengatakan “sesuatu” kepada kita.

Bisa jadi ketika penulis muda disarankan membentuk gaya bahasa, yang sebenarnya dimaksudkan, adalah cara menyampaikan gagasan. Mungkin pula yang dimaksud dengan cara menyampaikan dan gaya penulisan adalah satu hal yang sama. Namun, cara penyampaian kata-kata menentukan kesan bagi pembaca.

Perlu diingat, cerita sebagaimana juga orang, lebih disukai jika apa adanya. Analoginya, lebih baik mendengar cerita seorang pengemis dengan kisah nyata berisi luka dan duka daripada ocehan diplomat hebat yang bertopeng.

Soal gaya penulisan ini, mungkin nasihat yang bisa bermanfaat bagi penulis pemula ialah: “Jangan berpikir panjang tentang bagaimana mengatakan sesuatu, tapi berfokuslah memilih hal yang tepat untuk diceritakan.”

Banyak penulis berpengalaman tentu saja pernah berlama-lama serius belajar tata bahasa, sintaksis dan etimologi, dan biasanya kemudian lupa hal-hal seperti itu, karena fokus terbesarnya ialah: mengungkapkan gagasan. Ini sama seperti petinju yang mungkin berlatih keras mempelajari cara Muhammad Ali atau Mike Tyson saat bertanding, tapi ketika di atas ring, yang dia ingat hanya satu: bagaimana menjatuhkan lawan.

Pengarang berkualitas akan terus menerus berfokus menyeleksi dan menghapus paragraf atau kalimat dalam cerita, jika tidak mengatakan apa-apa, tanpa peduli betapa indah bahasanya. Sebab, kalimat atau paragrap “tanpa isi” adalah penyusup yang bisa menghancurkan minat pembaca dan tujuan utama penulis untuk menyampaikan gagasan.

Percayalah, setiap pembaca akan melihat hal-hal tak perlu atau pengulangan karya lain. Mereka pasti berharap menemukan “sesuatu” yang segar dan baru. (*)

*) diterjemahkan dari “The Author and his style” Karangan Louis Dodge, oleh Addi M Idham, di editori oleh Sabiq Carebesth.

Continue Reading
Advertisement

Tips Menulis

Caroline Webb : Dari mana saya belajar nilai presisi dan kejelasan dalam menulis non-fiksi

mm

Published

on

Setelah berhubungan kembali dengan kecintaan saya dalam menulis, saya mengambil setiap kesempatan untuk menulis kalimat nyata daripada mengandalkan slide PowerPoint. Dan setelah saya menulis beberapa artikel untuk McKinsey Quarterly, saya menyadari bahwa sudah waktunya untuk meletakkan menulis kembali ke pusat kehidupan saya. Saat itulah saya mulai mengerjakan buku, menulis ikhtisar empat halaman tentang sesuatu yang tidak akan saya selesaikan dalam empat tahun ke depan.

From” Writing Tips from Caroline Webb” | by Penguin Random House

(p) Affan Firmansyah | (e) Sabiq Carebesth

 

Pekerjaan bidang ekonomi menuntutnya menulis sama banyak dan penting. Ia adalah penulis laporan Inflasi Bank of England. Bagaimana hal itu membantunya saat menjadi penulis non-fiksi handal? Moment saat Caroline Webb menyadari sudah waktunya meletakkan dunia menulis ke pusat kehidupannya.

 

Setelah mengembangkan ide, apa yang pertama anda lakukan ketika mulai menulis?

Tulisan saya umumnya menjalin tiga helai ide. Ada informasi penelitian ilmiah yang menurut saya menarik dan berguna—mungkin penelitian yang baru saja saya baca, atau sesuatu yang sejak lama ingin saya tulis. Kemudian, saya juga memasukkan dengan jelas saran praktis yang disarikan dari penelitian ilmiah tersebut. Ada juga cerita atau contoh yang mengilustrasikan topik tersebut. Dan rute masuk saya ke dalam artikel atau bab baru bisa salah satu dari ketiganya; Saya mulai dengan bagian yang terasa paling mudah dan paling menarik untuk ditaruh di atas kertas. Jika yang saya tulis adalah anekdot, pertama saya biasanya fokus pada bahasa lugas yang digunakan orang atau klien yang saya wawancara untuk menggambarkan suatu hal yang sulit. Untuk tulisan tentang sains dan saran, saya biasanya menulis dalam butir-butir terlebih dahulu—yang oleh kolega saya biasa disebut “dot-dash”—untuk melihat alur argumen dan ide sebelum saya mulai mengisi jenjang dan rasa dari Bahasa yang saya gunakan.

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Tentu saja. Satu hal yang sangat membantu saya adalah dengan menggunakan headphone yang besar. Headphone dapat meredam kebisingan dari luar dan mengurangi gangguan, memungkinkan saya untuk berpikir lebih jernih. Bagi saya headphone sudah jadi penanda bahwa saya akan masuk ke mode pemikiran mendalam. Jadi cukup dengan menggunakannya bisa memberikan sinyal yang jelas kepada saya bahwa saya akan fokus pada pekerjaan saya—membuat saya lebih mudah untuk terjun ke dalam kegiatan menulis. Dan saya memiliki tiga soundtrack menulis dalam beberapa tahun terakhir. Ada periode di mana satu-satunya musik yang saya dengarkan adalah kuartet string Haydn. Untuk waktu yang lama, saya bekerja dengan musik “deep house” yang instrumental dan sederhana (Saya pikir kedua genre itu memiliki banyak kesamaan). Tetapi kadang-kadang keheningan pun bisa membantu.

Apakah dari awal anda memang tertarik menulis? Bagaimana Anda memulai karir Anda sebagai seorang penulis?

Saya selalu suka menulis sejak kecil—terutama fiksi ilmiah, yang saya rasa adalah kejutan bagi guru bahasa Inggris saya di tahun 1970-an—dan saya adalah editor buku tahunan dan buletin kuliah saya. Saya sempat menjauh dari menulis karena saya membangun karier di bidang ekonomi. Tetapi setelah beberapa tahun, saya memiliki pekerjaan yang kegiatan menulisnya sama penting dan sama banyaknya dengan kegiatan berpikir: menulis Laporan Inflasi Bank of England. Hasilnya adalah publikasi yang menganalisis dan menggambarkan keadaan ekonomi, sehingga tulisannya kering—namun saya tetap menyukainya. Dan saya belajar banyak hal yang telah membantu saya sebagai penulis non-fiksi. Sebagai contoh, publikasi tersebut sangat berpengaruh sehingga sintaksis yang buruk dalam sebuah kalimat kunci dapat berakhir pada pergerakan pasar keuangan ke arah yang salah—jadi saya belajar nilai presisi dan kejelasan, dan saya belajar apa yang membuat kalimat mudah atau sulit dibaca. (Kami bahkan harus memasukkan tulisan kami ke dalam program komputer untuk menguji usia pembaca yang diperlukan untuk memahaminya.)

Setelah berhubungan kembali dengan kecintaan saya dalam menulis, saya mengambil setiap kesempatan untuk menulis kalimat nyata daripada mengandalkan slide PowerPoint. Dan setelah saya menulis beberapa artikel untuk McKinsey Quarterly, saya menyadari bahwa sudah waktunya untuk meletakkan menulis kembali ke pusat kehidupan saya. Saat itulah saya mulai mengerjakan buku, menulis ikhtisar empat halaman tentang sesuatu yang tidak akan saya selesaikan dalam empat tahun ke depan.

Apa saran terbaik yang pernah anda terima?

Lynda Gratton (Profesor Praktik Manajemen di London Business School, dan penulis 8 buku yang sukses) mengatakan kepada saya di awal proses penulisan buku saya bahwa pada akhirnya saya harus menjadikan kegiatan menulis sebagai pekerjaan penuh waktu—setidaknya untuk beberapa bulan. Dia benar; akan datang masa di mana anda harus berhenti melakukan segalanya, dan berkata “sekarang, saya seorang penulis, dan tugas saya adalah menulis.” Dan sarannya membantu saya mengenali ketika tiba waktunya untuk menghilang ke dalam bunker menulis.

Sementara itu, Matt Lieberman (profesor neurosains di UCLA dan penulis Social) mengatakan kepada saya untuk menjaga diri saya secara fisik saat menulis, mengingatkan saya untuk melihat latihan sebagai investasi untuk ketajaman mental dan emosional saya.

Apa tiga atau empat buku yang memengaruhi tulisan Anda, atau memiliki pengaruh yang mendalam pada diri Anda?

Setidaknya ada empat buku yang mendorong saya menulis How to Have a Good Day.

Predictably Irrational, oleh Dan Ariely. Melihat sebuah buku menangkap imajinasi orang-orang seperti itu membuat saya bersemangat melihat perilaku ekonomi sebagai prediksi. Selain itu, saya melihat bahwa mungkin untuk membuat materi akademis menjadi menarik dan menyenangkan.

The Happiness Hypothesis by Jonathan Haidt. Saya menyukai pendekatan lintas disiplin dari buku ini, diambil dari psikologi, neurosains dan bahkan filsafat kuno. Juga, suamiku membujukku dengan itu—ya itu adalah hadiah pertama yang dia belikan untukku. (AF)

Continue Reading

Tips Menulis

Saran Mengarang Dari Fiona Davis: Tentang Mengatasi Draf Pertama

mm

Published

on

Saat Anda terbiasa menulis setiap hari, mudah untuk mengendalikan saat-saat menyakitkan dalam membuat draf pertama, mengetahui bahwa Anda dapat merapihkannya nanti.

Apa rekomendasi anda dalam menciptakan dan memahami karakter-karakter yang anda buat?

Tugas yang paling penting adalah menentukan apa tujuan, sejarah, dan kebiasaan karakter Anda—apa yang paling mereka inginkan dari kehidupan, dan mengapa. Dan untuk karakter yang hidup di periode waktu klasik, ada tugas tambahan untuk menggambarkan seperti apa kehidupan saat itu. Karena sebagian dari buku saya berlatar belakang awal 1950-an, saya pergi ke perpustakaan dan membaca koran dan majalah tua, meneliti iklan serta artikel-artikelnya. Saya juga mendengarkan musik periode itu, dari bebop hingga Rosemary Clooney, untuk merasakan tren popular yang ada saat itu.

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Museum Met di New York adalah tempat yang tepat untuk merasa terinspirasi. Saya cukup beruntung untuk bisa hadir dalam pameran perancang Charles James saat mengerjakan The Dollhouse, bahan yang digunakan serta gayanya dengan sempurna menangkap esensi fashion tahun 1950-an. Berlari mengelilingi reservoir di Central Park dapat membantu saya ketika mencoba menyelesaikan masalah alur atau memvisualisasikan adegan selanjutnya. Biasanya saya bermalas-malasan selama berjam-jam sebelum terjun menulis. Kegiatan bermalas-malasan saya termasuk mencuci, memeriksa email, dan membaca koran, sampai rasa bersalah yang ada menjadi tidak terhindarkan. Tetapi begitu saya mulai menulis, saya jatuh ke dalam arus yang mengalir dan tidak sadar akan berlalunya waktu. Saya suka perasaan itu.

Fiona Davis

Apakah Anda selalu ingin menulis? Bagaimana Anda memulai karir Anda sebagai seorang penulis?

Saya mendapat gelar master dalam bidang jurnalisme dari Columbia University, yang mengajarkan saya cara meneliti dan melakukan wawancara dan menulis dalam tenggat waktu, dan semua keterampilan itu berguna dalam penulisan fiksi. Saat Anda terbiasa menulis setiap hari, mudah untuk mengendalikan saat-saat menyakitkan dalam membuat draf pertama, mengetahui bahwa Anda dapat merapihkannya nanti. Hal itu bukan proses yang berharga, tapi sebuah bentuk kerja.

Klise atau kebiasaan buruk apa yang ingin Anda sampaikan kepada penulis pemula untuk dihindari?

Saya memiliki Post-it di papan buletin di atas meja saya dengan tajuk “Kata-Kata Buruk” tertulis di atasnya: isinya termasuk “menyadari, bertanya-tanya, merasa, melihat, berpikir, dan mendengar.” Setelah saya selesai dengan draf pertama, saya mencari setiap kata buruk buruk itu dan menggantinya dengan menggunakan sudut pandang yang mendalam. (Misalnya, mengganti “Dia mendengar kucing itu mengeong,” dengan “Kucing itu mengeong.”) Membuat tulisan saya lebih sederhana dan lebih kuat. Untungnya, saya sampai pada titik di mana saya biasanya menahan diri saya sebelum menggunakannya, tetapi Anda tidak pernah bisa terlalu yakin.

Apa tiga atau empat buku yang mempengaruhi tulisan Anda, atau memiliki pengaruh yang mendalam pada diri Anda?

The Perfume Collector oleh Kathleen Tessaro berlatar belakang dua dekade, 1950-an dan 1920-an, dan perhatiannya terhadap detail dan deskripsi sangat menakjubkan. The Lottery oleh Shirley Jackson, yang diterbitkan tahun 1948, adalah mahakarya abadi, sama seperti People of the Book oleh Geraldine Brooks. Saya bersumpah Brooks menjelajah waktu kembali ke masa lalu untuk menulis buku itu, sangat kaya dalam penggambaran kondisi dan karakter. Di sekolah menengah, saya memiliki seorang guru yang menanamkan kecintaan awal saya pada Shakespeare, dan musikalitas Macbeth jelas melekat pada diri saya.

Continue Reading

Tips Menulis

Tentang Cerpen—dan Penulisannya

mm

Published

on

Oleh: Sabiq Carebesth *)

Saya baru saja membaca cerita pendek (cerpen) Kanzuburo Oe—Kekasih Himiko—mungkin untuk keempat kalinya atau lebih. Saya menyukai cerpen itu tidak hanya karena paragraph pembukanya yang penuh hasrat, tapi juga metafora yang kaya dalam membuat penggambaran menjadi begitu hidup. Singkatnya romansa aneh yang dibentangkan dalam keseluruhan rasa sakit yang diam-diam telah membius mata saya, perasaan saya, pikiran dan debar!

Sebenarnya tidak hanya karya Oe yang mengesankan saya sedemikian rupa, paling tidak ada empat cerpen lain yang bisa saya katakan sebagai cerita pendek paling mengesankan dan saya sukai dari cerpen karya penulis lain. Empat cerpen itu adalah: “Kisah Cinta” karya Chekov; Monolog Isabel Memandangi Hujan di Macondo karya Marquez, Tegak Lurus Dengan Langit karya Iwan Simatupang, Sukab dan Sepatu milik Seno Gumira, dan—saya lupa judulnya, tentang pemabuk di kafe dan kesunyiannya, mungkin berjudul “Kafe yang bersih dan Nyaman” milik Hemingway.

Tentu saja ada beberapa judul lain yang mengesankan mata baca saya, seperti misalnya cerita tentang seorang yang berusaha mencintai kata-kata/ membuat sajak milik Budi Darma—saya benar-benar lupa judulnya, cerpennya ada dalam kumpulan cerpennya di buku “Orang-Orang Bloomington” dan penulis Jepang lainnya yang berkisah tentang penyair kecil yang tersihir kata-kata yang didapatnya sendiri untuk puisinya—ah saya lupa nama pengarangnya—tapi bagaimana pun, cerpen-cerpen yang terakhir saya sebut berada di tangga kedua daftar cerpen favorit saya untuk beberapa alasan yang tentu saja sangat subjektif dan personal.

Dari cerpen-cerpen yang saya sebutkan, tentu bisa ditengarai cita rasa selera saya atas sebuah cerpen; mengangkat tema dan kisahan absurd, tragis, dan disajikan dalam bahasa yang mengandung ironi, kaya metafora, langsung ke inti kehidupan yang indah tapi berakhir dalam ketiadaan pilihan berhadapan dengan realitas diluar segala kebahagiaan yang diinginkan para tokohnya.

Saya merasa itu semua mewakili sublim rasa dari semua rahasia yang bisa kita sembunyikan sebagai anak manusia—dan cerpen-cerpen yang saya sebut di atas mengeluarkannya dari persembunyian batin yang bisa kita upayakan!

*

 

Oleh karenanya catatan “tentang cerpen—cerpen menurut pengalaman membaca saya–ini, dan bagaimana sebaiknya cerpen ditulis dan disajikan untuk pembaca (yang seleranya seperti saya; berdasar prolog dan latar belakang di atas) sekali lagi bersifat subjektif ketimbang mengacu pada teknika penulisan cerpen yang lebih umum.

Jadi apakah cerpen itu? sekali lagi dalam bahasa, nuansa dan cita rasa selera pribadi saya? Dan mungkin berkesesuaian dengan anda, atau semoga mampu memberi pertimbangan buat anda yang ingin menulis cerpen?

Saya  akan menyusun point-pointnya dalam list, dan sambil lalu mengabaikan struktur relasi antar paragraph, koherensi dan konjungsinya—sebab saya hanya menyalinnya dari catatan dalam buku harian. Saya persilakan anda memungut sari patinya sendiri—jika memang ada:

  • Cerpen adalah berhenti mempercayai kehidupan normal—hidup itu tidak normal!
  • Cerpen adalah rasa “kecut”, masam, terlampau getir dari kuburan rahasia dan masa silam yang ingin dihilangkan jejaknya sama sekali oleh banyak manusia. Maka menulis cerpen seperti menggali kuburan rahasia dan mengeluarkan isinya dengan telanjang bulat!
  • Cerpen adalah keindahan yang meregang tragis untuk pada akhirnya harus diterima sebagai kenyataan—meski memuakkan tapi pada dasarnya wajar—kecuali kita hendak menepis realitasnya.
  • Cerpen adalah hasrat “binatangisme” yang terpendam; terjadilah dalam dunia rekaan—sambil berharap—jangan dalam kehidupan nyata.
  • Cerpen adalah kehidupan yang ingin kita pungkiri—tapi nafsu kita menghasrati salah satu sisinya.
  • Ia bergerak oleh metafora yang dipilih sebagai satu-satunya cara ungkap—sebab deskripsi gagal mengatakannya dengan lebih tepat dan berisi—kareannya metafora yang dipakai haruslah sangat terpilih dan tepat!
  • Cerpen adalah keberanian menerima hidup yang pahit agar sakit sosial kita memiliki penawar.
  • Kadang-kadang cerpen juga sebuah dunia “tanpa pengharapan” dan memang berakhir “nyaris” tanpa harapan.
  • Atau dunia yang tampak normal, nikmat, tetapi memendam ironi dan rasa tragis.
  • Ia menyengat, konstan dan menghentak sejak kalimat pembuka tapi tidak akan membuat “mati” pembaca sampai paragfar penutupnya.
  • Metafora—sekali lagi, memudahkan kerja penggambaran/ deksripsi—juga sekalian memberi rasa nikmat yang mengesankan lebih dari sekedar enak dibaca dari sebuah narasi.
  • Cerpen adalah tentang orang-orang yang “tidak berdaya” menghadapi kenyataan yang tidak ia inginkan terjadi—tapi nyatanya terus berlangsung, menimpa, dan tokohnya mencari jalan untuk mampu menjalani dan menerima; dengan sikap-sikap yang absurd, penuh frustasi—hal itulah yang menggerakkan cerita, plot; suatu konflik kesadaran tentang kenyataan dunia yang memuncak dan pada akhirya, menusia tetap kalah/ dikalahkan.
  • Terakhir, cerpen adalah bahasa batin, rahasia yang ingin dipendam—dan fiksi mewujudkannya sebagai “kenyataan cerita”.

Di atas semua itu saya bukan penulis cerpen, saya belum pernah sekali pun berhasil menulis satu cerpen pun, dan dengan menyusun catatan bebas ini saya mungkin akan mulai belajar menulis cerita pendek. Mulai tahun depan, hehe.

*) Sabiq Carebesth, penyair, editor galeribukujakarta.com dan penulis lepas.

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending