Connect with us

Editor's Choice

Pemikiran Filsafat Claude Levi-Strauss

mm

Published

on

Claude Levi-Strauss lahir dalam sebuah keluarga Yahudi-Belgia pada tahun 1908. Kedua orang tuanya adalah seniman sehingga saat ia belajar membaca dan menulis di tangannya selalu terdapat kuas atau krayon.

Meskipun ia mendapatkan agregation dalam bidang filsafat di Sorbonne pada awal tahun 1930-an, keinginan untuk melepaskan diri dari ortodoksi filosofis yang saat itu sedang populer di Paris (neo-Kantianisme, Bergsonisme, fenomenologi, dan kemudian eksistensialisme) mendorong Levi-Strauss untuk menerima jabatan profesor antropologi di Universitas Sao Paulo, Brasil. Kemudian, setelah mengikuti tugas kemiliteran di Prancis, untuk menghindari pengejaran, Levi-Strauss melarikan diri ke Amerika Serikat. Sejak tahun 1941 sampai tahun 1945, ia mengajar di New School for Social Research, New York. Pada tahun 1941 ia bertemu dengan Roman Jakobson yang berpengaruh besar dalam membentuk pandangan linguistik dan strukturalis yang ada pada pemikiran antropologi Levi-Strauss pada zaman sesudah perang.

Levi-Strauss tidak hanya mengambil jarak terhadap filsafat Prancis pada masanya, ia juga mengambil jarak terhadap interpretasi ortodoks tentang Durkheim, yang membentuk aspek-aspek positivistik dan evolusionistik pemikirannya. Walaupun begitu, faktor yang memainkan peranan penting dalam membentuk alur pergulatan intelektualitas Levi-Strauss adalah penafsiran ulang terhadap karya dan pemikiran Mauss, yang adalah hasil didikan Dukheim.

Dalam karya klasik tentang kaitan antara kekerabaan dan pertukaran – The Elemtary Structures of Kinship (1949) – Levi-Structures menguraikan kebiasaan seperti berikut. Dalam sebuah restoran sederhana di Prancis bagian Selatan, khususnya di daerah pertanian anggur, satu hidangan makan biasanya disertai dengan satu botol kecil anggur. Jumlah dan kualitas untuk setiap hidangan selalu sama: satu gelas kecil anggur dengan kualitas terendah. Pemilik anggur ini tidak menuangkan anggur ke dalam gelasnya, tetapi ke gelas temannya. Jika terjadi sebaliknya (balas menjamu), maka jumlah yang diberikan selalu sama.[1] Pertukaran anggur menjadi cara untuk membentuk hubungan sosial. Selain itu, dalam mikrokosmos ini, kaitan antara pertukaran dan “fakta sosial total” dibukakan, karena yang penting itu bukanlah yang dipertukarkan, melainkan fakta adanya pertukaran itu sendiri, yaitu kenyataan yang tidak bisa dipisahkan dari tatanan kehidupan sosial.

Di sini akan diperkenalkan dua aspek penting antropologi Levi-Strauss. Yang pertama adalah prinsip yang mengatakan bahwa kehidupan sosial dan kultural tidak bisa dijelaskan secara unik oleh satu versi fungsionalisme; kehidupan kultural tidak bisa diterangkan dalam kerangka sifat-sifat intrinsik gejala yang terkait dengan kehidupan itu. Ia juga tidak bisa dijelaskan secara empiris dengan menggunakan fakta yang diharapkan bisa berbicara sendiri. Singkatnya, meskipun penelitian empiris merupakan bagian penting dari karyanya, Levi-Strauss bukanlah seorang empirisis. Namun demikian, ia selalu berpandangan bahwa ia adalah seorang ahli antropologi struktural. Sebagai yang diilhami oleh Saussure, secara umum antropologi struktural menitikberatkan perhatian pada bagaimana unsur-unsur dari suatu sistem bergabung bersama-sama, bukannya pada nilai-nilai intrinsik mereka. Pengertian penting di sini adalah “perbedaan” dan “hubungan”. Selain itu gabungan unsur-unsur ini akan membangkitkan pertentangan dan kontradiksi yang membangkitkan dinamisme kehidupan sosial.

            “Lingkup” adalah aspek penting lain dalam pendekatan Levi-Strauss. Bila banyak peneliti sosial lain membatasi penafsiran tentang kehidupan sosial pada masyarakat tertentu yang mereka teliti, maka Levi-Strauss menggunakan pendekatan universalis. Ia berteori  berdasarkan data yang diperolehnya sendiri dan yang diperoleh dari peneliti lain.

Dari semua kritik yang pernah dilayangkan kepada Levi-Strauss, kritik yang mengatakan bahwa teori yang disusunnya itu dibuat berdasarkan pengamatan lapangan yang kurang memadai kebanyak datang dari negara-negara yang berbahasa Inggris. Negara-negara ini memang memiliki tradisi empiris yang sangat kuat.

Yang dipertaruhkan oleh karya Levi-Strauss itu secara umum cukup besar. Mereka terkait dengan upaya untuk menunjukkan bahwa jika data sudah ada di tangan, mereka tidak bisa dijadikan landasan untuk membentuk suatu hierarki masyarakat, baik itu dalam kerangka kemajuan ilmiah maupun dalam kerangka evolusi kultural. Akan tetapi, setiap masyarakat atau kultur menampilkan ciri-ciri yang juga terdapat, banyak atau sedikit, dalam masyarakat atau kultural lainnya. Levi-Strauss berpendapat demikian karena ia yakin bahwa yang membentuk manusia itu adalah dimensi kultural (yang didominasi bahasa), bukan alam atau yang “alami”. Struktur simbolik kekerabatan, bahasa, dan pertukaran barang menjadi kunci pemahaman tentang kehidupan sosial, bukan biologi. Memang sistem kekerabatan membuat alam berada pada posisi defensif; sistem kekerabatan adalah gejala kultural yang didasarkan atas larangan terhadap hubungan incest, dan hubungan ini bukanlah suatu gejala alami. Hal-hal ini memungkinkan masuknya yang alami ke dalam kultur, yaitu ke dalam lingkungan yang sepenuhnya  manusiawai. Untuk memahami hal ini, lebih lanjut akan kita tinjau pengertian struktur menurut Levi-Strauss.

            Bagi Levi-Strauss, “struktur” itu tidak identik dengan struktur empiris (apakah itu berbentuk kerangka atau arsitektur) suatu masyarakat tertentu seperti yang ada dalam karya Radeliffe Brown. Dengan demikian, struktur itu tidak ada dalam realitas yang tampak tetapi merupakan hasil dari paling sedikit tiga unsur, dan tiga unsur inilah yang memberinya dinamika.

Selain itu, kita harus akui bahwa dalam oeuvre Levi-Strauss terdapat kemenduaan antara jenis strukturalisme yang melihat struktur sebagai suatu model abstrak yang dihasilkan dari analisis terhadap suatu fenomena. Fenomena yang dimaksudkan disini adalah yang terlihat sebagai sistem perbedaan yang bersifat statis – yang mengutamakan dimensi sinkronis – dengan pengertian tentang struktur sebagai yang bersifat terner, yaitu yang secara inheren mengandung aspek dinamis. Unsur ketiga dalam struktur terner ini selalu kosong, dan bisa mengambil makna apa pun juga. Ini bisa berupa suatu unsur diakronis, yaitu unsur sejarah dan kekontingenan, aspek-aspek yang bertanggungjawab demi berlangsungya gejala-gejala kultural dan sosial. Kendatipun penjelasan Levi-Strauss tentang yang “struktural” dalam analisis struktural[2] cenderung menitikberatkan perhatian pada dimensi-dimensi sinkronis, ternyata karyanya jelas-jelas cenderung melihat struktur sebagai yang bersifat terner dan dinamis. Hal ini bisa kita lihat dalam tulisan-tulisan pokok Levi-Strauss tentang kekerabatan, mitos, dan seni.

Karya Levi-Strauss, Introduction to the Work of Marcel Mauss,[3] yang diterbitkan setelah munculnya The Elementary Structures of Kinship menunjukkan bawah walaupun pertukaran yang ada dalam karya Mauss, Essay on Gift, setara dengan “fakta sosial total”, Mauss lupa menyadari bahwa pertukaran itu juga merupakan kunci untuk memahami gejala mana. Meskipun Mauss melihat bahwa pertukaran itu merupakan suatu konsep yang dibangun oleh para antropolog dan tidak memiliki kandungan instrinstik, ia memperlakukan mana secara berbeda. Seperti Durkheim. Mauss memberinya makna seperti yang ada dalam masyarakat asli, makna yang melihat mana sebagai yang memiliki kandungan instrinsik dan suci.

Di sisi lain, Levi-Strauss berpendapat bahwa  keanekaragaman kandungan yang dianggap ada dalam mana berarti ia haruslah dilihat sebagai simbol kosong, seperti simbol aljabar,[4] dan bisa memiliki banyak makna – seperti kata “thing” dalam bahasa Inggris. Singkatnya, mana adalah suatu penanda yang “mengambang” atau murni dengan nilai simbolk pada dirinya sendiri berharga nol. Selain itu, ia ada secara umum (setiap kultur memiliki contoh-contoh penanda yang mengambang) karena banyak terdapat penanda yang dalam kaitannya dengan yang ditandakan, juga karena bahasa harus dipikirkan sebagai yang muncul secara serentak (ia adalah suatu sistem perbedaan dan dengan demikian secara mendasar bersifat relasional), sedangkan pengetahuan (yang ditandakan) hanya muncul secara perlahan-lahan.

Di sini, aspek struktural pendekatan Levi-Strauss lebih bersifat implisit daripada eksplisit. Pertama, ia menunjukkan bahwa penekanan tidak diberikan pada kandungan (hipotesis) mana, tetapi pada potensinya dalam membentuk berbagai macam makna. Ini adalah suatu penanda kosong, seperti juga bagi Lacan, falus itu tidak memiliki makna intrinsik, tetapi merupakan suatu penanda. Kedua – dan mungkin lebih penting – dalam penafsiran Levi-Strauss, mana adalah sebuah unsur ketiga yang melakukan intervensi pada penanda dan yang ditandakan, dan unsur ini memberi kesinambungan dan dinamika pada bahasa. Jika ada “kecocokan” sempurna antara tingkatan penanda dengan tingkatan  yang ditandakan, maka tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, dan bahasa akan selesai. Oleh sebab itu, secara umum penanda yang mengambang adalah ciri struktural bahasa, unsur yang membawanya ke aspek tak simetris, dan generatif; aspek kekontingenan, waktu, dan – dalam istilah Saussure – aspek parole.

Meskipun dari judulnya terbaca adanya pengaruh linguistik Saussurian, namun tidak terdapat satu pun referensi eksplisit terhadap linguistik Saussurian dalam The Elementary Structures of Kiinship. Alasannya jelas, yaitu bahwa karya pokok pertama dalam antropologi struktural ini ditulis di New York dalam tahun 1940-an, yang berarti sebelum kembalinya minat terhadap karya-karya Saussure di Eropa – juga di,  Amerika. Dalam The Elementary Structures of Kinship, perkawinan (hasil dari pelarangan universal terhadap hubungan incest) dalam kultur-kultur non-industri direduksikan menjadi dua bentuk pertukaran dasar: pertukaran terbatas dan pertukaran yang disamaratakan (generalised exchange). Yang pertama bisa ditunjukkan dalam Gambar I berikut’

Gambar I Pertukaran terbatas

X à Y    Y à X

Di sini hubungan timbal balik  (resiprok) mensyaratkan bahwa jika seorang laki-laki X mengawini seorang wanita Y, harus mengawini seorang wanita X. Dengan cara yang sama pertukaran yang disamaratakan bisa ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2 Pertukaran yang dirampatkan

(generalised exchange)

A        B

C        D

Sumber: Levi-Strauss, The Elementary Structures of Kinship, hlm. 178.

Jadi, jika seorang pria A mengawini seorang wanita B, maka seorang pria B mengawini seorang wanita C; sedangkan jika seorang pria C mengawini seorang wanita D, maka seorang pria D mengawini wantia A. Hampir dari semua yang muncul dalam The Elementary Structures of Kinship merupakan perkembangan pada varian dari bentuk-bentuk pertukaran hubungan perkawinan ini.

Bagi pengamat yang tak terlatih sekalipun akan segera melihat bahwa yang menarik dalam dua bentuk pertukaran ini adalah bahwa hubungan timbal balik tampak mensyaratkan adanya suatu struktur simetris (satu-satunya perbedaan antara pertukaran terbatas dan pertukaran yang disamaratakan adalah bahwa yang kedua ini memiliki unsur dua kali lebih banyak, yang berarti tetap simetris seluruhnya). Sebagaimana kemudian disadari oleh Levi-Strauss, masalahnya adalah apakah suatu struktur simetris bisa ada secara permanen; karena kelompok-kelompok X dan Y yang ada dalam pertukaran terbatas melalui perkawinan akan bergabung membentuk suatu kelompok tunggal. Demikian juga, bahkan dalam pertukaran yang disamaratakan – karena bentuk strukturnya yang simetris – akhirnya muncullah suatu kelompok tunggal. Dengan  kata lain, pertukaran yang digerakkan oleh hubungan terlarang atau incest akan menjumpai batas yang tidak bisa diatasinya, batas yang membahayakan kesinambungan hubungan-hubungan sosial.

Agar pertukaran ini tetap bisa bertahan sebagai suatu lembaga, kehadiran unsur ketiga yakni unsur heterogenitas selalu dibutuhkan. Ini memang menjadi tema dua artikel penting – yang pertama terbit pada tahun 1945,[5] dan yang kedua pada tahun 1956,[6] – yang menjelaskan tentang hal ini. Dalam artikel pertama, Levi-Strauss menunjukkan bahwa anak-anak adalah suatu unsur dinamis dan asimetris dalam struktur kekerabatan:

Kita harus pahami bahwa anak-anak itu adalah unsur yang tidak bisa dihilangkan dalam mengabsahkan sifat dinamis dan teleologis pada langkah-langkah awal yang memapankan hubungan kekerabatan dalam dan melalui perkawinan. Kekerabatan itu bukanlah hubungan yang statis; ia hanya dalam upaya pengkalan diri. Yang kita pikir di sini bukan keinginan untuk mengekalkan ras manusia, melainkan pada fakta bahwa dalam sebagian besar hubungan kekerabatan, ketidakseimbangan awal antara kelompok yang memberikan sang wanita dan kelompok yang menerimanya hanya bisa distabilkan oleh langkah sebaliknya yang berlangsung di masa depan.[7]

Dalam artikelnya tentang organisasi ganda, Levi-Strauss menegaskan bahwa setiap pembagian kelompok menjadi dua, sebenarnya secara tidak langsung menghendaki adanya tiga unsur karena persyaratan pengekangan diri. Setiap struktur ganda (yaitu simetris) mengakibatkan hancurnya kelompok-kelompok yang ada. Oleh sebab itu, di sini harus ada unsur ketiga – baik nyata maupun khayalan – yang memasukkan ketidaksimetrisan dan dinamika ke dalam situasi ini. Sebagai akibatnya, lembaga yang memiliki nilai nol merupakan unsur yang harus ada dalam masyarakat manapun. Seperti mana, lembaga-lembaga ini “tidak memiliki sifat intrinsik selain dari pemenuhan prasyarat yang diperlukan demi eksistensi sistem sosial di mana mereka berada; keberadaan mereka – yang dalam dirinya sendiri tidak terdapat makna – memungkinkan keberadaan sistem sosial sebagai satu kesatuan”.[8]

Telaah tentang mitos membawa Levi-Strauss pada upaya memperbaiki pendekatan strukturalisnya. Pengungkapan prinsip bahwa unsur-unsur mitos mendapatkan maknanya dari cara mereka bersatu dan bukan dari nilai-nilai intrinsiknya, membawa Levi-Strauss pada pemikiran bahwa mitos merupakan representasi dari pikiran yang membentuknya, bukan beberapa realtias eksternal. Mitos menentang sejarah mitos itu abadi. Bahkan, berbagai versi berbeda dari suatu mitos tidak boleh dipikirkan sebagai pengeliruan dari satu versi yang autentik, melainkan menjadi suatu aspek esensial dari struktur mitos itu sendiri. Sebaliknya, versi-versi berbeda yang menjadi bagian dari suatu mitos adalah karena mitos itu tidak bisa direduksikan ke suatu isi yang seragam, karena mitos itu sebenarnya memiliki suatu struktur yang dinamis. Dengan demikian, semua versi (aspek-aspek diakronis) dari suatu mitos harus dipertimbangkan agar stukturnya bisa menjadi jelas. Dari Perspektif lain, mitos selalu merupakan hasil dari kontradiksi – sebagai contoh “keyakinan bahwa kemanusiaan itu autochthonous”, “sedangkan manusia dibentuk dari persatuan antara pria dan wanita”.[9] Sebagai akibatnya, kontradiksi, sebagai aspek masyarakat manusia yang tidak bisa diasimilasikan, membangkitkan mitos. Mitos datang dari ketidaksimetrisan antara keyakinan dan realitas, antara yang satu dan banyak, antara kebebasan dan keniscayaan, antara identitas dan perbedaan, dan sebagainya. Menurut Levi-Strauss, bila dilihat dari kerangka bahasa, mitos adalah “bahasa yang berfungsi dalam tataran khusus yang sangat tinggi”.[10] Selain itu, jika langue – unsur sikronis dari bahasa – disamakan dengan waktu yang dapat balik, sedangkan parole dengan aspek diakronis, kontingen, atau historis, maka mitos membentuk tingkatan bahasa yang ketiga.[11] Mitos adalah sintesis (tak mungkin) antara aspek-aspek sinkronis dan diakronis dari bahasa. Ia adalah upaya tak berkesudahan untuk menyatukan hal-hal yang tidak bisa dipersatukan:

Karena tujuan mitos adalah memberikan suatu model logis yang mampu mengatasi kontradiksi (suatu capaian yang tak mungkin jika kontradiksi ini memang nyata), akan muncul berbagai versi teoretis dengan jumlah tak berhingga dan masing-masing berbeda satu sama lain.[12]

Oleh sebab itu, mitos menjadi dimensi ketiga bahasa: di dalamnya berlangsung upaya kontinyu untuk menyatukan kedua dimensi bahasa lainnya (langue dan parole). Karena penyatuan lengkap itu tidak mungkin maka “mitos berkembang secara spiral sampai dorongan intelektual yang membangkitkannya hilang”.[13] Jadi , mitos itu tumbuh karena secara struktural kontradiksi (ketidaksimetrisan) yang menghidupkannya tidak bisa diatasi.

Seperti mitos, lukisan wajah pada suku Indian Caduveo dari Amerika Selatan yang ditinjau dalam karya autobiografis Levi-Strauss, Tristes Tropiques,[14] memberikan gambaran lain tentang struktur sebagai gejala terner yang dinamis. Di sini rancangan lukis wajah merupakan suatu pola rumit yang tidaksimetris – suatu struktur terner yang diatur untuk membentuk rancangan lebih lanjut. Suatu rancangan yang sepenuhnya simetris, di samping sulit untuk pas dengan wajah seseorang, juga tidak bisa memenuhi tugas yang dibebaskan kepadanya. Tujuan seperti ini (yang simetris) terdapat pada gambar-gambar kartu bridge. Setiap gambar yang ada pada kartu ini harus memenuhi suatu fungsi konteingen, yakni unsur yang ada dalam permainan khusus di antara para pemain kartu tersebut, dan tempat ini selalu tetap. Lukis wajah pada suku Caduveo berusaha menangkap simetri fungsi (status di dalam kelompok), dan ketidaksimetrisan peranan yang dimainkan (kekontingenan),

Dengan cara membentuk suatu komposisi yang simetris tetapi mengacu pada sumbu yang miring, sehingga menghindari perumusan yang sepenuhnya tidak simetris, yang bisa memenuhi tuntutan peranan tetapi berlawanan dengan fungsinya, serta pada perumusan yang berlawanan dan sepenuhnya simetris, yang memberikan akibat yang berlawanan.[15]

Kerumitan lukis wajah (lukisan pada wajah) memberi pemahaman yang semakin tajam pada dua konsep tentang struktur. Levi-Strauss menulis seolah karyanya lebih dititikberatkan pada pengertian tentang struktur yang statis, simetris, dan bersifat ganda, sedangkan analisisnya yang sebenarnya mengenai gejala sosial dan struktural mengungkapkan bahwa pandangan tentang struktur kedua yang bersifat terner-lah yang memiliki kekuatan penjelas dan makna metodologis yang lebih besar.

Kemenduaan yang terkait dengan landasan kerangka teoretisnya ini sering membawa kesalahpahaman. Secara khusus, para kritikus mengklaim bahwa sejarah diabaikan dalam antropologi struktural karena Levi-Strauss tidak menyukai Eksistensialisme Sartre, yaitu doktrin yang melihat bahwa setiap langkah itu bersifat historis (yaitu kontingen).[16] Selain itu, pandangan Levi-Strauss yang terus bersikeras tentang status ilmiah dari ilmu antropologi (jelas untuk membela kemungkinan terlepasnya ilmu sosial dari perdebatan politik pada suatu saat) menjadi janggal bila dikaitkan dengan pandangannya bahwa sains tidak bisa sepenuhnya bebas dari sifat mitis, dan berbagai kultur itu secara hermetsi tidak terpisah satu sama lain, tetapi membentuk sejumlah transformasi yang tak berhinngga jumlahnya. Dengan demikian, jika ilmu berpikir tentang yang konkret, maka pemikiran alamiah justru berpikir dengan yang konkret. Selain itu, saat Levi-Strauss menulis “Overture” dalam The Raw and the Cooked[17] bahwa buku tentang mitos itu adalah juga mitos itu sendiri, maka kemungkinan kemandirian ilmu yang sudah lazim dalam pengertian Barat, menjadi dipertanyakan. Walaupun begitu, Levi-Strauss sering tidak suka memikirkan hal ini.

Tidak seperti Julia Kristeva, atau tokoh-tokoh lain yang mendapatkan ilhamnya dari wacana Lacan tentang Freud, dalam oeuvre Levi-Strauss, subjektivitas tidak terlalu banyak ditemui. Ini seolah-olah menunjukkan keyakinannya bahwa perjuangan Durkheim untuk memisahkan psikologi dari antropologi memang harus dimenangkan, dan konsesi apa pun pada teori tentang subjektivitas berarti menyerahkan kekuatan penjelas psikologi kepada antropologi. Akan tetapi, pertarungan ini masih harus dimenangkan, dan karya para ahli antropologi masih mengalami masalah karena tidak pernah ada usaha memasukkan teori tentang subjek ke dalamnya.

Walaupun begitu, seperti yang disebutkan di atas, pentingnya teori antropologi Levi-Strauss tidak bisa dibatasi pada kandungan analitisnya karena masih banyak yang harus dipertaruhkan. Ini karena Levi-Strauss menunjukkan kerumitan kultur-kultur non-industri yang bagi pihak Barat – sering melalui para ahli antropologinya (seperti Levi-Bruhl dan Malinowsky) – dianggap setara dengan masa kanak-kanak kemanusiaan, dan dari sini dianggap memiliki pemikiran yang lebih primitif dan lebih sederhana daripada pemikiran Barat (masyarakat primitif memiliki mitos, masyarakat Barat memiliki ilmu dan filsafat, dan sebagainya). Oleh sebab itu, di sini universalisme Levi-Strauss harus dipahami dalam pengertian bahwa transformasi dari satu mitos yang sama (seperti dalam mitos oedipus) ke dan di seluruh dunia menujukkan bahwa umat manusia menjadi milik suatu kemanusiaan yang tunggal; akan tetapi, keberadaan orang lain sangat penting agar kita bisa memahami perbedaan kita.

 

***

 

 

[1] Claude Levi-Strauss, The Elementary Structures of Kinship, terjemahan James Bell dan John van Sturmer, Boston, Beacon press, edisi revisi, 1969, hlm. 58-60.

[2] Sebagai contoh lihat karya Claude Levi-Strauss ‘Structural analysis in linguistics and anthropoloby’ dalam Structural Anthropology, terjemahan Clair Jacobson dan Brooke Grundfest Schoepf, Harmondsworth, Penguin Books, 1972, hlm. 31-54 khususnya hlm. 33.

[3] Claude levi-Strauss, Introduction to the Work of Marcel Mauss, terjemahan Felicity Baker, Routledge & Kegan Paul, 1987.

[4] Ibid., hlm. 55. Untuk melihat pembahasan tentang mana sebagai suatu penanda ‘mengambang’ lihat hlm. 31-54.

[5] Levi-Strauss, ‘Structural analysis in linguistics and anthropology’, hlm. 31-54.

[6] Levi-Strauss, ‘Do dual organisation exist?’, dalam Structural Anthropology, hlm. 132-163.

[7] Levi-Strauss, ‘Structural analysis in linguistics and anthropology’ hlm. 47.

[8] Levi-Strauss, ‘Do dual organisation exist?’, hlm. 159.

[9] Levi-Strauss, ‘The structural study of myth’ dalam Structural Anthropology, hlm. 216.

[10] Ibid., hlm. 210.

[11] Ibid., hlm. 209.

[12] Ibid., hlm. 229.

[13] Ibid.

[14] Claude Levi-Strauss, Tristes Tropiques, terjemahan John dan Doreen Weightman, Atheneum, New York, 1974, hlm. 178-179.

[15] Ibid., hlm. 194.

[16] David Pace, Claude Levi-Strauss, The Bearer of Ashes, Boston, Routledge & Kegan Paul, 1983, hlm. 183-184 dan Bab 6.

[17] Claude Levi-Strauss, Introduction to a Science of Mythology, Volume I: The Raw and the Cooked, terjemahan John dan Doreen Weightman, New York dan Evanston, Harper Torch-books, 1970, hlm. 7

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Membangun (Kembali) Republik

mm

Published

on

Judul Buku: Membangun Republik
Editor: Baskara T. Wardaya
Penerbit: Galang Press
Tahun Terbit: Juli 2017
Tebal: xxviii+286 halaman,

ISBN 978-602-8174-19-0
Harga: Rp.80.000,-

 

Meningkatnya gerakan intoleransi dan sentimen Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA)  di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, membuat kita mesti menghidupkan kembali tentang diskursus keindonesiaan kita. Setidaknya ada beberapa pertanyaan untuk menghidupkan kembali diskursus tersebut. Pertama, apa raison d’etre Indonesia? Kedua, apakah konsensus berdirinya Republik ini sebagai sebuah negara bangsa benar-benar sudah final? Ketiga, Quo Vadis Indonesia?

Melalui buku yang disunting oleh Baskara T. Wardaya ini, pembaca diajak kembali untuk berdialog mengenai jalannya Republik Indonesia sejak masa prakemerdekaan hingga akhir 1990-an. Buku yang sejatinya kumpulan wawanacara dengan enam indonesianis dan dua intelektual Indonesia yakni Takashi Shiraishi, Bennedict Anderson, George Kahin, Clifford Geertz, Daniel Lev, Bill Liddle, Sartono Kartodirdjo dan Goenawan Mohammad ini setidaknya menyoroti tiga poin penting dalam perjalanan Indonesia yakni politik, budaya, dan hukum.

Dalam konteks politik, setiap kekuasaan memiliki dinamikanya sendiri yang cukup menarik. Selalu ada patahan sejarah di dalam proses menjadi Indonesia, mulai dari kekuasaan Hindu, Budha, Islam, Kolonialisme, hingga menjadi Republik (Parakitri Simbolon: 1995). Sayangnya, tiap fase kekuasaan tersebut dianggap tidak memiliki hubungan satu sama lain.

Salah satunya contohnya adalah ketika para pendiri bangsa bermufakat bahwa bentuk negara Indonesia adalah republik. Padahal, dalam geneaologi kekuasaan di nusantara, tidak pernah ada sekali pun yang memakai bentuk republik. Bahkan, Belanda yang menjajah Indonesia pun merupakan sebuah negara monarki. Semua kepemimpinan di nusantara tidak dibentuk atas kehendak rakyat atau wakil-wakilnya, melainkan hampir selalu berada di tangan sang penguasa tunggal beserta para kerabat dan pendukungnya (hlm.xvii-xviii). Hal ini yang terus terjadi hingga masa kepresidenan Soeharto.

Pemilihan bentuk negara republik merupakan hasil pergulatan intelektual para pendiri bangsa, bukan dari pengalaman empiris seperti yang dituliskan oleh Tan Malaka dalam Naar de Republiek (1925). Konsekuensi dari tidak adanya pengalaman empiris tersebut, sudah pasti memiliki banyak kendala dalam upaya membangun republik. Sebab, Indonesia tidak memiliki preseden yang baik dalam membangun sebuah negara dan bagaimana cara menghadapi masalah.

Hal lain yang tidak dapat dikesampingkan dalam proses politik Indonesia adalah pemuda. Ben Anderson dalam buku Revolusi Pemuda (1988), “Saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda.” Hal itu terus berlanjut saat mengakhir kekuasaan Soekarno pada 1966 dan Soeharto pada 1998. Sayangnya, pemuda sering kali dijadikan alat politik tertentu oleh pimpinan politik dalam pergulatan untuk berkuasa (hlm.57).

Dalam konteks budaya, Indonesia merupakan salah satu negara dan paling masyarakat yang paling kompleks di dunia. Banyaknya perbedaan dalam sebuah masyarakat, memerlukan persatuan untuk mengelolanya. Hal itu berhasil dibuktikan pada 1945, persatuan menjadi alat ampuh untuk meraih kemerdekaan.

Menurut Clifford Geertz, kemajemukan tersebut bisa melebur hanya dalam konteks tertentu, misalnya revolusi 1945. Lantas, setelah bersatu, ikatan-ikatan pengelompokan dan primordial kembali terjadi. Sebab, sifat-sifat primordial merupakan hasil sebuah proses sejarah, bukan sebuah nasib (hlm.147).

Oleh sebab itu setelah kemerdekaan, di dalam masyarakat, sifat-sifat primordial tersebut tetap ada dan kadang saling bersinggungan, hanya saja memerlukan waktu lama untuk menghasilkan gejolak. Dalam masyarakat, kata Geertz, kita akan selalu memikirkan: apa tujuan negara itu? Siapa yang mendapatkan untung dari negara itu? Untuk apa masyarakat berkumpul membuat negara itu?

Dengan demikian, Geertz melihat banyaknya peristiwa politik di Indonesia yang sekaligus merupakan persoalan budaya. Termasuk masalah agama dan sentimen ras (hlm.159). Baik menjelang runtuhnya Soekarno maupun saat menjelang lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan.

Berkenaan dengan budaya, sifat-sifat feodal seperti pola kekerabatan— membangun oligarki politik dalam sebuah daerah atau partai politik—masih berlaku hingga saat ini menjadi penghambat dalam proses membangun. Ini tentu sebuah paradoks ketika para pendiri bangsa memutuskan membangun republik dan meninggalkan bentuk kekuasaan monarki, tapi tidak bisa menghilangkan sifat-sifat feodal yang kontra produktif dengan demokrasi. Soekarno dalam Sarinah (1947) menyatakan Indonesia merupakan sebuah negara yang dijajah oleh dua kekuatan yakni kolonial dan feodal. Oleh karenanya, setelah revolusi nasional, diperlukan revolusi sosial untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang baru.

Di ranah hukum, Indonesia masih belum bisa menjadikan hukum sebagai panglima. Hal ini ditambah buruk dengan banyaknya korupsi yang melibatkan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Hal tersebut semakin mempersulit republik untuk mewujudkan cita-citanya yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Terkait hukum dengan membangun republik mestinya, menurut Daniel Lev, membangun lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat. Dalam sebuah republik yang baik, lembaga pemerintahan mesti dikontrol oleh lembaga-lembaga dalam masyarakat. Elite-elite dalam setiap lembaga memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri dan ini pun harus dikontrol (hlm.156).

Sebenarnya, tidak ada masalah dan atau kesalahan yang baru dalam membangun republik. Hanya saja, kita selalu mengulangi kesalahan yang sama. Seolah-seolah kesalahan itu menjadi sebuah preseden yang layak ditiru. Pengalaman masa lalu tersebut semestinya bisa jadi pijakan dalam membangun republik di masa depan, itulah sebabnya sejarah menjadi penting. Bukankah hanya keledai yang mengulangi kesalahan yang sama?

Peristiwa atau pengalaman dari setiap periode perjalanan bangsa Indonesia selalu terputus. Seolah-olah setiap fase sejarah Indonesia tidak memiliki hubungan dengan fase sebelumnya. Maraknya aksi intoleransi dan sentimen antargolongan pun sudah terjadi sejak 1960-an dan 1990-an. Tinggal bagaimana kita memahami pemahaman sejarah yang baik untuk melalui proses tersebut dengan baik.

Oleh sebab itu, pewarisan ingatan sejarah menjadi sangat penting bagi generasi muda. Sebab, tonggak estafet membangun Indonesia terletak di tangan pemuda. Seperti Ben Andrson katakan, pemuda adalah penggerak sejarah. Namun, tentu dengan cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sebab, semangat zamannya pasti berbeda.

Buku ini menarik untuk dibaca sebagai pengantar untuk memahami persoalan Indonesia dari berbagai sudut pandang. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi pengantar untuk memahami karya-karya utuh para tokoh yang terlibat dalam wawancara ini.

Indonesia memang bangsa yang belum selesai, ia masih dalam tahap proses menjadi sebuah bangsa yang kokoh. Namun, bukan berarti Indonesia tidak akan bisa menyelesaikan masalah dan mewujudkan cita-citanya menjadi sebuah bangsa. Apa pun masalahnya, bila dalam upayanya menyelesaikan masalah-masalah besar pascarevolusi rakyat Indonesia mampu menunjukkan yang sama seperti yang telah mereka perlihatkan dalam perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan politik, peluang sukses mereka tampak kuat (Kahin: 2013). (*)

| Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

 

Continue Reading

Blog Pembaca

Suraji: Buku-Buku Melapangkan Jiwa

mm

Published

on

Buku-buku melapangkan jiwa, tidak hanya karena ia memberi pengetahuan dan banyak kisah, tapi buku dan pembacanya sendiri sudah menyimpan kisah. Satu orang dengan yang lain memiliki keunikan kisahnya sendiri karena pengalaman dan ceritanya berbeda-beda. Kisah Suraji dengan buku-buku, adalah salah satu yang layak kita simak. Suraji adalah aktivis gerakan sosial yang punya benyak pengalaman perlawanan; memperjuangkan kebebasan dan demokrasi sejak era 90-2000an. Bagaimana buku-buku merubah hidupnya adalah cerita yang unik dan menginspirasi sebagaimana Anda tentu juga memiliki kisah Anda sendiri.

“Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati. Suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu. Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku lagi.” Tutur Suraji yang kini menjadi Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW) dan aktif di komunitas Jaringan Gusdurian.

Suraji, Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW)

“Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto yang dibacanya ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah buku yang menurutnya merubah hidupnya—buku itu memberinya keberanian untuk menulis dan hal itu membuatnya memiliki banyak gagasan, mimpi, dan dengan cara keras menggali inspirasi untuk ditungkan dalam bentuk tulisan.

Ketika kuliah di IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang UIN Sunan Kalijaga) bekal itu membawanya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah ARENA, majalah mahasiswa yang sempat dalam waktu lama disebut sebagai “anak kandung majalah TEMPO” karena liputannya yang cerdas dan berani. Ketika kantor ARENA diserang terkait penerbitan edisi majalah yang mengkritik keras Orde Baru, Suraji adalah pemimpin redaksi dan salah satu aktor utamanya.

Kami berkesempatan mengajukan beberapa pertanyaan seputar buku dan dunia membaca kepadanya, percayalah wawancara pertama dalam program #MencintaiBuku—Merayakan Indahnya Membaca Buku—yang digagas Galeri Buku Jakarta ini memberi kita begitu banyak memoar dan inspirasi. Seperti kata Suraji, berkah terbesarnya adalah buku-buku melapangkan jiwa kita melewati begitu banyak pengalaman kehidupan. Selamat membaca…

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

SURAJI

Buku adalah teman bijak yang selalu mengajak kita memandang cakrawala, memandu kita melewati lorong-lorong ruang dan waktu dengan jiwa yang selalu lapang.

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

SURAJI

Perkenalan saya dengan buku sejak tahu kosakata “perpustakaan”. Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati, suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu.

Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku. Biasanya, saya memanfaatkan waktu istirahat kelas, atau kalau ada jam kosong, saya manfaatkan untuk membaca di perpus. Banyak buku-buku cerita rakyat seperti: cerita Bawang Putih dan Bawang Merah, Legenda Rawa Pening, Malin Kundang, Tangkuban Parahu, Legenda Banyuwangi. Ada juga cerita kepahlawanan seperti: Hikayat Hang Tuah, Untung Suropati, Gajahmada, dan masih banyak lagi.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

SURAJI

Saya termasuk orang yang bisa baca di mana saja dan kapan saja. Tapi selama yang pernah saya alami, saya merasakan paling nikmat membaca buku itu sewaktu kecil di sawah. Biasanya kalau musim kemarau, tak ada tanaman di sawah-sawah kampung kami. Hamparan sawah dibiarkan membera. Saat itulah, biasanya di sore hari kami menggiring sapi-sapi piaraan kami ke sawah untuk makan rerumputan. Kami yang masih anak-anak menunggui gembalaan di bawah pohon atau di balik semak-semak, hingga matahari tenggelam dan mengajak pulang sapi-sapi ke kandang. Saya biasanya menyelipkan buku pinjaman dari sekolah, di celana, untuk dibaca sambil menunggu sapi-sapi itu kenyang.

Jika musim penghujan, anak-anak di kampung kami biasanya menyabit rumput di pematang-pematang sawah, atau agak jauhan lagi ke hutan-hutan jati terdekat, tempat rumput-rumput itu tumbuh bebas, lalu kami memasukkannya ke keranjang untuk di bawa pulang. Saya pun biasanya membawa buku di sawah atau hutan, meskipun hanya sempat membacanya beberapa halaman.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

SURAJI

Buku yang mengubah hidup saya, salah satunya adalah buku yang berjudul “Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto. Saya membacanya ketika saya sudah usia SMP tahun 1991, juga saya baca waktu di sawah. Buku itu tentang kiat-kiat membuat karangan yang dikemas dalam model tanya-jawab. Buku ini yang menggugah saya untuk berani belajar menulis, mengeksplorasi ide-ide, berimajinasi, dan berpikir bebas. Setelah membacanya saya mulai membuat catatan harian, menuliskan pengalaman, dan memberanikan diri untuk ikut lomba membuat karangan di sekolah, dan juara. Membaca buku itu semakin membuat asyik lagi untuk membaca buku-buku yang lebih tebal; novel atau roman seperti “Siti Nurbaya” dan “Salah Asuhan”. Saya juga jadi gemar memburu majalah-majalah loakan untuk mengenal model tulisan bentuk laporan atau berita. Dari dulu sampai sekarang, di kampung kami belum pernah masuk koran atau majalah. Saya biasanya menabung untuk beli majalah atau tabloid bekas, ketika ada kesempatan pergi ke kota. Majalah seperti Tempo dan Intisari saya dapatkan di warung kertas bekas, yang biasanya dipakai untuk bungkus belanjaan bumbu dapur di pasar, dan itu dijual kiloan. Biasanya majalah-majalah yang sudah tahunan lalu terbitnya. Tapi saya merasa dapat informasi banyak. Jadi buku Arswendo ini membuat saya lebih banyak mencintai buku.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

SURAJI

Naskah epik Bugis, “La Galigo”, ini termasuk sastra kuno yang layak kita kenal. Naskah ini penting untuk dibaca, agar kita juga mengenali mitologi yang berkembang di masyarakat lokal Nusantara sebagai sumber pengetahuan dan peradaban. Jadi, sumber pengetahuan tidak hanya science yang bersumber akal saja, tapi juga rasa. Seperti di Barat, Yunani itu juga mengenal mitologi tentang dewa-dewa yang turut mempengaruhi lahirnya pengetahuan-pengetahuan baru.

“Arus Balik” karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini sangat kuat dalam membangkitkan imajinasi tentang manusia dalam peradaban maritim yang terbuka, egaliter, mendukung kemajuan, dan tidak mudah ditaklukkan. Kita sekarang ini perlu membangun mental bangsa maritim seperti itu.

Novel “Harimau-harimau” karya Mochtar Lubis, mewakili karya sastra dengan tema kebebasan, kemerdekaan, dan keberanian. Novel ini perlu dibaca bagi anak muda, supaya tidak gampang takut atau tunduk karena tekanan situasi.

Novel karya AA. Navis, “Robohnya Surau Kami”. Novel ini sangat sarkastik tapi elegan, sangat kuat melakukan kritik sosial terhadap pandangan keagamaan yang mendukung kemapanan dan melanggengkan penindasan atau ketidak-adilan. Penting untuk dibaca bagi orang Indonesia, yang kebanyakan menganut agama, agar nilai-nilai universal agama seperti kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan tidak semakin tergerus oleh sistem sosial yang koruptif dan manipulatif.

Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Novel ini menampilkan sisi humanisme dari masyarakat Indonesia, dengan setting masyarakat pedesaan. Latar cerita dalam novel adalah prahara konflik yang disebabkan oleh pergolakan politik setengah abad yang lalu, yang memakan korban jutaan manusia tidak berdosa. Novel ini mengajak kita kembali merenung, bahwa di atas politik masih ada kemanusiaan.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

SURAJI

Buku berjudul “Waras di Zaman Edan” karangan Mas Supriyanto (Prie GS). Saya membacanya dengan penuh perenungan sambil tersenyum-senyum. Ini buku kumpulan kolom, setiap kolom biasanya mengangkat tema hal-hal yang sepele, remeh-temeh, tapi renungannya dalam. Dan di setiap akhir tulisan kita tersenyum puas karena mendapatkan pencerahan. Buku ini membantu mengurai keruwetan dan kerumitan yang diciptakan sendiri oleh manusia akibat cenderung menganut rutinitas tertentu, atau pola pikir tertentu yang membelenggu.

Novel “Crime and Punishment” karya Vyodor Dostoyevski, sudah diterjemahkan penerbit Obor dengan Judul “Kejahatan dan Hukuman”. Buku ini sangat kuat pesan sosialnya, bahwa kemiskinan atau kesenjangan ekonomi yang sangat lebar dapat menyuburkan tindak kejahatan atau situasi anomali dalam masyarakat. Cerita ini mengetengahkan dilema antara penegakan hukum, moralitas, dan kemanusiaan dalam meghadapi situasi kejahatan akibat kemiskinan akut. Novel ini merupakan kombinasi yang kokoh antara jenis novel yang menyelami sisi kejiwaan (psikologis) dan jenis novel tentang perburuan seorang kriminal (detektif).

Buku kumpulan esai-esainya Gus Dur yang berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Buku ini sering saya buka, dan saya baca bagian-bagian yang saya pilih. Banyak topik tentang demokrasi, dan keagamaan diulas. Ulasan Gus Dur membantu mencairkan ketegangan hubungan antara agama dan negara. Intinya, Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas warga Indonesia bukan hanya kompatibel terhadap demokrasi, namun prinsip demokrasi itu sendiri merupakan bagian dari ajaran agama. Tema-tema yang pernah ditulis Gus Dur dalam buku ini masih sangat kuat relevansinya dan tetap aktual.

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

SURAJI

Saya akan menulis tentang kampung tempat saya dilahirkan. Kampung ini termasuk prototipe desa yang miskin, masyarakatnya hidup bercocok tanam di lahan tadah hujan, dan itu satu-satunya sumber penghasilan utama. Kampung yang susah air. Ibarat penduduk yang tinggal hanya berjuang untuk bertahan hidup sambil menunggu usia tua atau datangnya kematian. Layaknya masyarakat kampung, hubungan kekerabatan masih dijaga, masih mengamalkan ritual-ritual slametan dan kenduri. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah degradasi lingkungan pertanian dan makin bertambahnya penduduk. Motivasi menulis buku ini hanya untuk memotret dan mendokumentasikan perikehidupannya saja agar jadi pengetahuan generasi baru nanti. Saya akan menulis layaknya sebuah laporan antropologi atau etnografi yang melihat perubahan budaya masyarakatnya. Saya akan kasih judul buku itu: “Yang Beranjak dan Bertahan” Dari judul buku ini saya ingin menggambarkan bahwa ada perubahan di kampung saya, baik lambat atau cepat, tapi juga ada yang seperti tidak berubah atau bertahan dalam kurun waktu yang lama.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

SURAJI

Di setiap kampung musti ada ruang atau tempat bagi anak-anak untuk membaca dan berdiskusi, belajar menulis dan mengembangkan nalar kritis. Idealnya ada perpustakaan di kelurahan-kelurahan yang itu bisa diakses oleh warga, petani bisa berkumpul mengembangkan pengetahuannya melalui sumber-sumber literatur buku. Di taman-taman kota bagus sekali kalau ada tempat nongkrong buat remaja sekaligus ada perpustakaannya. Di sekolah-sekolah, siswa-siswi difasilitasi untuk membentuk dan mengembangkan klub membaca (reading club). Tersedia buku-buku di kedai dan warung-warung. Perlu menciptakan budaya baca dan menulis dari mulai lingkungan keluarga. Membaca itu termasuk ibadah, sedangkan menulis adalah sedekah. (*)

SURAJI Lahir di Rembang, Agustus 1980. Minat di bidang jurnalisme dan sosial keagamaan. Sekarang aktif di komunitas Jaringan Gusdurian. Ia juga Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW). Menyukai kopi dan wayang kulit.

__________________________________________________________________________________________________________________________

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

 

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Trending