Connect with us

Kolom

`Pembebasan Manusia  dari Penderitaan (1)

mm

Published

on

Oleh: Johannes Miller

 Pembebasan Manusia Dari Penderitaan[1]

Pada permulaan tahun 1980 telah diterbitkan laporan dari “Komisi Utara-Selatan” yang diketuai oleh Willy Brandt, yang membicarakan kepentingan-kepentingan bersama dari negara industry dan negara berkembang.[2] Gambaran yang dilukiskan mengenai keadaan Dunia Ketiga jauh dari cerah. Diperkirakan bahwa dewasa ini sekitar 800 juta orang hidup dalam kemiskinan absolute.[3] Dua “dasawarsa Pembangunan” yang telah berlalu ternyata tidak membawa hasil yang diharapkan.Teori-teori dan kebijaksanaan-kebijaksanaan politik pembangunan sampai sekarang belum berhasil menunjuk jalan keluar dari kemelut ini. Maka dari itu, laporan tersebut sekali lagi mengusulkan sejumlah tindakan politik yang perlu diambil kalau hendak dihindari bahwa jutaan umat manusia akan mati, tertimpa oleh musibah kelaparan dan kekurangan lain.

Masalah pembangunan di Indonesia tidak amat berlainan. Dua Repelita telah berakhir dan Repelita Ketiga sedang dijalankan. Sekalipun sudah tercapai  banyak hasil yang melegakan, namun tetap dihadapi banyak persoalan yang memprihatinkan. Menurut Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, di Indonesia pun masih terdapat puluhan juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Begitu pula, jumlah penganggur jauh melebihi sepuluh juta orang, kalau dihitung secara realistis.[4] Kongres Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIS) ke-III pada akhir tahun 1979 di Malang, yang membahas tema “Jalur Pemerataan dan Kemiskinan Struktural”, juga digugah oleh massalah ini.[5] Dengan perkataan lain kaum cendekiawan dan politisi di Indonesia pun mulai meninjau kembali serta memikirkan alternatif-alternatif politik pembangunan. Salah satu hasilnya adalah “Trilogi Pembangunan” dan terutama penjabarannya dalam “delapan jalur pemerataan”, yang tercantum dalam GBHN dan bab pertama dari Repelita Ketiga.

Di tengah-tengah segala keresahan dan masalah itu, satu hal menjadi semakin jelas. Suatu politik pembangunan yang hendaknya sungguh manusiawi tidak bisa dijalankan lepas dari suatu etika politik. Ilmu-ilmu sosial entah ekonomi, sosiologi, atau politologi, dalam arti empiris yang sempit saja tidak mencukupi. Masalah-masalah pembangunan yang menantikan pemecahannya akhirnya menghadapkan kita sebagai makhluk manusiawi pada pilihan nilai-nilai etis: Tujuan pokok dari segala usaha pembangunan itu sebenarnya apa? Ukuran-ukuran mana yang ingin diandalkan untuk menilai keberhasilan maupun kegagalan usaha tersebut? Manakah implikasi-implikasi bagi kebijaksanaan politik?

Piramida Kurban Manusia

            Kiranya sangat tepat waktunya untuk menerbitkan terjemahan bahasa Indonesia dari buku yang berjudul Pyramids of Sacrifice, karangan Peter L. Berger, seorang ahli sosiologi dan pemikir sosial yang terkenal, yang dalam bahasa Inggris telah terbit pada tahun 1974. Judul kedua buku ini, yaitu Political Ethics and Social Change, sudah mengisyaratkan apa yang menjadi topik utama dan pusat perhatian pengarangnya, yaitu melukiskan secara garis besar suatu etika politik di tengah-tengah perubahan sosial yang dewasa ini sedang berlangsung di seluruh dunia, khususnya di negara-negara berkembang sebagai akibat usaha pembangunan mereka.

Susunan buku ini sudah menarik perhatian. Uraian pokok yang terdiri atas delapan bab diselingi oleh enam kisah singkat dan didahului oleh dua puluh lima tesis. Intisari dari kesimpulan-kesimpulan seluruh buku dijabarkan ke dalam dua puluh lima tesis itu yang merupakan semacam imperatif-imperatif etis-politis. Dengan demikian, pembaca langsung memperoleh sekadar gambaran menyeluruh yang hampir pasti akan berhasil memancingnya untuk membaca lebih lanjut dalam buku ini. Alangkah baiknya andai kata buku-buku lain mau meniru contoh ini yang begitu bermanfaat bagi pembaca.

Buku Piramida Kurban Manusia Karya Peter L. Berger

Lebih khas lagi adalah enam kisah singkat yang mendahului, menyelingi, dan menutup uraian pokok buku ini. Kalau tidak salah, maka keenam kisah tersebut dimaksudkan untuk mengungkapkan latar belakang pikiran dan keterlibatan si pengarang, yaitu kepekaan dan keprihatinannya akan penderitaan begitu banyak orang, yang melarat, tertindas, dan tak bersuara. Suatu pengalaman yang barangkali hanya bisa diungkapkan dalam gaya cerita pendek atau perumpamaan yang lebih bersifat empatis.

Menelusuri uraian pokok buku ini, maka kedelapan babnya kiranya bisa sibagikan menurut tiga lingkaran tematis yang utama. Dalam lingkaran tematis yang pertama, Berger mempertanayakan dan menyoroti secara kritis pengertian dan akibat-akibat pokitik pembangunan (bab 1) yang dewasa ini dicekam oleh konflik dan persaingan antara dua kutub ideologis dan politis yang besar, yaitu kapitalisme di satu pihak (bab 2) dan sosialisme di pihak lain (bab 3). Dengan bertitik tolak dari penderitaan manusiawi sebagai ukuran penilaian sebagaimana sudah disinggung di atas tadi, maka ia sampai pada kesimpulan bahwa kedua-duanya harus dianggap gagal, sekalipun masing-masing mempunyai keunggulan dan keberhasilan tertentu. Namun, keunggulan dan keberhasilan tersebut harus dibayar dengan terlalu mahal, yaitu dengan kelaparan dalam kapitalisme dan dengan teror dalam sosialisme. Sebagai tanda bukti diajukan dua contoh dari Dunia Ketiga, yaitu Brazil dan RRC (bab 5).

            Kata kunci dalam argumentasi Berger adalah “biaya-biaya manusiawi” (human costs). Pengertian rumusan ini dibahas dan diselami dalam lingkaran tematis kedua. “Biaya-biaya manusiawi” pertama-tama berarti bahwa manusia tidak boleh dijadikan korban fisik demi kemajuan (bab 5). Namun, bukan saja itu. Manusia juga memiliki hak dasariah atas suatu dunia yang “bermakna” baginya (bab 6) serta atas “partisipasi kognitif” dalam mengartikan dan mengatur dunia itu (bab 4). Dalam hubungan ini pun, tak jarang ada “biaya-biaya manusiawi” yang terlalu tinggi.

Dalam lingkaran tematis yang ketiga, Berger menarik beberapa kesimpulan, baik sehubungan dengan peranan Amerika Serikat di gelanggang politik dunia (bab 7), maupun dalam rangka usahanya meletakkan dasar bagi suatu etika politik baru yang bersifat “realistis-utopis” (bab 8).

Premis-premis Nilai dalam Ilmu-ilmu Sosial

  1. Seluruh buku Pyramids of Sacrifice berkisar di sekitar suatu etika politik pembangunan yang baru. Dengan demikian, buku ini mengandaikan dan mengandalkan nilai-nilai etis tertentu, sebagaimana memang sudah dalam kata pengantar ditegaskan oleh Berger. Ia mencoba mengaitkan analisis ilmiah dengan kepekaan etis. Dengan perkataan lain, uraian buku ini tidak bersifat “bebas nilai”, bertentangan dengan suatu tuntutan klasik dalam ilmu-ilmu sosial. Walaupun Berger pada pokoknya mendukung tuntutan itu sejauh menyangkut analisis sosial dalam arti ilmu murni, namun ia menyadari bahwa tuntutan itu tak mungkin diterapkan pada kebijaksanaan politik. Setiap kebijaksanaan politik, apalagi kalau diarahkan pada perubahan tujuan tertentu yang hendak dicapai. Penentuan tujuan-tujuan tersebut selalu merupakan pilihan antara pelbagai nilai yang juga bersifat etis. Jadi berupa suatu keputusan etis, entah apakah diambil secara sadar ataupun tidak sadar. Penalaran ini kiranya sulit dibantah, sungguhpun terdapat cukup banyak ilmuwan sosial yang enggan akan atau bahkan menolak penggabungan semacam itu.
  2. Dengan demikian, Berger menyentuh suatu masalah yang sangat dasariah dan kontraversial dalam teori ilmu pengetahuan (epistemologi) mengenai ilmu-ilmu sosial, yaitu masalah sejauh mana ilmu-ilmu sosial bisa dan harus bersifat “bebas nilai”, artinya netral dipandang dari sudut nilai-nilai. Masalah yang bisa disebut abadi ini dirumuskan dan dibahas dengan sangat cermat oleh Max Weber, yang dalam karangan yang termasyhur menuntut pembedaan yang setajam mungkin antara analisis sosial dalam arti ilmiah-obyektif yang harus bersifat “bebas nilai” di satu pihak dan keputusan politik yang selalu bersifat etis dan oleh karena itu tak mungkin “bebas nilai” di pihak lain.[6] Pendirian ini pada pokoknya juga diikuti oleh Berger.

Namun demikian, sejak semula terdapat juga banyak ilmuwan sosial yang berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial serta analisis sosial yang ilmiah pun selalu mengandung nilai-nilai tertentu sehingga mestahil bersifat “bebas nilai”. Dalam buku termasyur yang berjudul The Sociological Imagination, C. Wright Mills mengutarakan dengan cermat bagaimana baik teori sosial maupun penyelidikan sosial yang empiris selalu dipengaruhi dan diresapi oleh pengandaian-pengandaian etis politis tertentu. Ia bahkan berpendapat bahwa ilmu-ilmu dan analisis sosial yang hendaknya sungguh relevan dan tidak mengawang perlu mengambil sikap, terutama dengan memperhatikan penggunaannya dalam kebijaksanaan politik dan tindakan praktis kemudian.[7]

Seluruh masalah ini dperbincangkan dengan paling sengit dalam perdebatan yang terkenal sebagai “Pertengkaran Positivisme dalam Sosiologi Jerman”.[8] Perbedaan itu terjadi antara aliran “Kritischer Rationalismus” yang dicap neopositivistis dan dipelopori oleh Karl P. Popper di satu pihak dan aliran “Kritische Theorie” yang dicap neomarxistis dan dipelopori oleh Theodor W. Adorno dan “mazhab Franksfurt” di pihak lain. Suatu perdebatan yang sampai sekarang belum kunjung habisnya.

  1. Bagaimana masalah yang berbelit-belit dan rumit ini bisa dipecahkan? Kalau tidak salah, maka bisa ditempuh semacam jalan tengah. Kiranya sangat tepatlah tuntutan Weber agar dibedakan dengan sejelas mungkin antara fakta yang obyektif dan penilaian yang subyektif. Tuntutan itu paling tidak merupakan cita-cita yang selalu perlu diperjuangkan, mengingat bahaya bahwa si ilmuwan sosial begitu terjerat oleh nilai-nilai kesayangannya atau bahkan suatu pendirian ideologis yang apriori sehingga tidak mampu lagi untuk melihat dan menyelidiki kenyataan sebagaimana adanya. Dalam hal ini, seluruh “ilmu”nya akan semata-mata bertujuan untuk membenarkan pendiriannya. Suatu legitimasi semu yang mengorbankan cita-cita kebenaran yang seharusnya mendasari segala usaha ilmiah.

Masalah dan bahaya itu dikupas oleh Berger dengan mempergunakan istilah “mitos”,. “Mitos” sebagai suatu keyakinan kepercayaan buta yang tidak boleh dipertanyakan. Suatu “fideiisme” yang tidak mengacuhkan kenyataan dan enggan memakai akal budi.[9] Dalam tiga bab pertama dari Pyramids of Sacrifice, ide “pertumbuhan” dalam ideologi kapitalisme dan ide “revolusi” dalam ideologi sosialisme dikecam sebagai “mitos” semacam itu. Kedua ideologi tersebut berlagak bagaikan tukang ramal. Mereka menjanjikan suatu masa depan yang cerah yang harus dilunasi sekarang ini dengan banyak korban manusiawi. Namun, bagi masa mendatang itu tak ada bukti sama sekali. Suatu “mitos” atau ideologi belaka yang hanya bisa dipercayai. Berger berpendapat bahwa “kedua mitos tersebut harus dibongkar kepalsuan-kepalsuannya” (tesis 2). Usaha “demitologisasi” itu akan memberi cara penglihatan yang baru dan dengan demikian memungkinkan suatu pendekatan yang “realistis” dalam kebijaksanaan politik.

  1. Namun demikian, tetap perlu diitanyakan sejauh mana cita-cita “bebas nilai” dalam ilmu-ilmu sosial, yaitu pembedaan yang tajam antara fakta dan penilaian, sungguh-sungguh bisa dicapai dalam kenyataannya. Sungguhpun cita-cita itu selalu harus dikejar, akan tetapi perlu diinsyafi dan diperhitungkan pula adanya batas-batas obyektivitas dalam ilmu-ilmu sosial, sebagaimana dikemukakan dengan tepat oleh para kristisi pendekatan tersebut.

Dari sosiologi ilmu pengetahuan diketahui bahwa karya ilmiah setiap ilmuwan mau tak mau diwarnai oleh riwayat hidup, lingkungan sosial, dan lingkaran kebudayaannya. Minat pribadi, kepentingan politis, pendirian dari pihak yang menyediakan dana, semua faktor serupa itu pun ikut berpengaruh dan mustahil diletakkan sama sekali sekalipun sering kurang disadari atau bahkan disangkal. Sudah barang tentu dalam pemilihan obyek telaahan ilmiah. Begitu pula berkenaan dengan penggunaan hasil karya ilmiah itu. Si ilmuwan paling tidak kurang bertanggung jawab kalau bersikap acuh tak acuh terhadap akibat-akibat karyanya. Namun, bukan saja itu. Teori sosial yang diandalkan, metode ilmiah yang diandalkan, peristilahan yang dipakai, semua itu pun tak pernah bisa “bebas nilai” sepenuhnya. Pendek kata, cara pendekatan ilmiah, apa yang dilihat dan juga tidak dilihat, bagaimana kenyataan didefinnisikan dan ditafsirkan, kesimpulan-kesimpulan apa yang ditarik, semua itu dipengaruhi dan diwarnai oleh premis-premis nilai si ilmuwan.

            Batas-batas obyektivitas ilmu-ilmu sosial  itu barangkali paling tampak dan menyolok sehubungan dengan penelitian dan analisis sosial di negara-negara berkembang. Kiranya sulit untuk membantah tuduhan yang semakin tenar bahwa sebagian besar karya ilmiah tentang Dunia Ketiga terlalu diwarnai oleh cara penglihatan dan kepentingan-kepentingan negara-negara industri, sehingga kurang sesuai dengan kenyataan di negara-negara berkembang sendiri dan oleh karena itu juga kurang obyektif.[10]  Orang yang sangat berjasa dalam menunjuk dan membongkar ketimpangan metodologis yang sering terselubung itu adalah Gunnar Myrdal[11], seorang ekonom kawakan, yang dalam sebuah karyanya selama hampir lima puluh tahun senantiasa menaruh perhatian istimewa pada masalah premis-premis nilai dalam ilmu-ilmu sosial itu.[12]

Lantas, bagaimana dengan cita-cita obyektivitas dalam ilmu-ilmu sosial yang diutarakan tadi? Kiranya perlu suatu modifikasi dalam pengertian tentang ukuran “obyektif”. Sebagaimana ditunjukkan dengan sangat jelas oleh Myrdal, maka obyektivitas dalam ilmu-ilmu sosial tidak berarti tidak adanya premis-premis nilai yang diandalkan, tetapi bahwa premis-premis nilai tersebut, yang harus bersifat relevan, signifikan, logis dan realistis, dirumuskan secara eksplisit dan dipertanggungjawabkan secara rasional.[13] Dengan demikian, premis-premis nilai itu terbuka untuk umum sehingga bisa dikupas secara ilmiah-kritis dan dikoreksi seperlunya. Alternatif lain, menurut Myrdal, tidak ada lantaran alasan logis. Malah sebaliknya, justru sikap yang menganggap diri “bebas nilai” sangat berbahaya karena mengelabui pendirinya, sehingga lebih mudah diperalatkan oleh bermacam-macam kepentingan yang tak jarang sangat timpang. Jadi, semacam penipuan diri sendiri.[14] Keunggulan Myrdal dalam hubungan ini terletak pada penalaran metodologinya dan bukan pada premis-premis nilai yang ia andalkan sendiri yang tentu saja bisa dipertanyakan secara kritis, justru berdasarkan metodologinya sendiri.[15] Perbedaan ini sering diabaikan oleh para kritisinya.

  1. Sebagaimana sudah disinggung, Berger pada pokoknya mengikuti aliran “bebas nilai” sejauh menyangkut analisis sosial dalam arti ilmu murni. Jadi, dalam hal ini rupa-rupanya cukup berbeda dari apa yang diuraikan di atas ini. Tinggal ditanyakan bagaimana pendirian Berger itu harus ditafsirkan. Berdasarkan buku Pyramids of Sacrifice, kiranya tak bisa diberi jawaban yang pasti. Namun didalamnya terdapat suatu petunjuk sangat menarik yang mengisyaratkan bahwa paham Berger itu tidak begitu berlainan.

Dalam kisah pembuka yang berjudul “Piramida Raksasa di Cholula”, dilukiskan bagaimana bangunan piramida yang patut dikagumi itu didirikan di atas pundak-pundak ribuan orang yang dikorbankan. Dengan demikian, kisah itu mengungkapkan bahwa kebudayaan dan peradaban umat manusia sepanjang sejarahnya dibayar sangat mahal dengan penderitaan manusia yang tak terbilang jumlahnya. Dan apa yang dibanggakan sebagai kemajuan dan pembangunan pada zaman sekarang juga tidak luput dari bahaya itu. Dari kisah itu pula, Berger mengambil judul buat seluruh bukunya, yaitu Pyramids of Sacrifice. Sebuah judul yang mengandung arti yang berganda. Di satu pihak, piramida sebagai hasil pengorbanan banyak orang, di pihak lain, sebagai lambang jumlah korban yang bertumpuk-tumpuk bagaikan suatu piramida.

Kalau kisah itu serta maksudnya direnungkan lebih lanjut, maka si pembaca hampir pasti akan terbentur akan suatu hal yang sebenarnya agak memalukan. Kalau kita sekarang ini mengagumi warisan kebudayaan kita ataupun menikmati kemakmuran yang diciptakan nenek moyang kita, maka kita akan teringat akan para tokoh sejarah yang membangun dan menghasilkan semua itu. Demikian sekurang-kurangnya menurut kebanyakan buku sejarah. Yang hampir pasti akan dilupakan ialah jutaan orang kecil yang dengan jerih payah dan tak jarang darah mereka sebenarnya membangun dan menghasilkan semua itu, seringkali karena dipaksa dengan kejam. Sejarah umat manusia memang merupakan “sejarah mereka yang menang” dan bukan “sejarah mereka yang dikalahkan”.

Mengingat itu, tak bisa dielakkan pertanyaan mengenai obyektivitas ilmiah dalam historografi semacam itu. Apakah ilmu sejarah, yang tak lepas dari ilmu-ilmu sosial, semacam itu pantas disebut “bebas nilai”?[16] Entah dengan sengaja atau tidak, kisah yang diajukan Berger itu memberi suatu contoh gemilang bahwa tuntutan “bebas nilai” dalam arti sempit kata ini tidak hanya mustahil, tetapi tak jarang bahkan munafik.

 

Memperhitungkan “Biaya-biaya Manusiawi”[17]

  1. Berdasarkan latar belakang metodologis itu, maka timbul pertanyaan mengenai pendirian dan premis-premis nilai dari buku Pyramids of Sacrifice dan bagaimana pilihan itu dipertanggungjawabkan oleh Berger. Kata kunci dalam hubungan ini adalah “biaya-biaya manusiawi” (human costs). Dalam tesis ketujuh belas dirumuskan dengan sangat jelas dan padat apa yang dimaksudkan dengan ungkapan ini:

“Biaya-biaya manusiawi yang paling menekan adalah yang berkenaan dengan kekurangan dan penderitaan fisik. Tuntutan moral yang paling mendesak dalam pengambilan kebijaksanaan politik adalah suatu perhitungan kesengsaraan.”

Jadi, yang selalu harus diperhitungkan ialah penderitaan yang harus dipikul manusia. Bentuk yang paling mengerikan adalah penderitaan atau kesengsaraan fisik, entah karena kelaparan atau teror, entah karena alasan lain. Penderitaan atau “biaya-biaya manusiawi” itulah yang harus dihindari dan bagaimanapun juga tidak bisa dibenarkan. Itulah imperatif utama dalam etika politik yang diajukan oleh Berger. Itulah pula ukuran penilaian utama yang mendasari dan meresapi seluruh bukunya, seperti sudah kentara dalam judulnya.

Ciri khas yang menarik perhatian dalam pendekatan Berger itu  adalah titik tolaknya yang bersifat “negatif”. “Negatif” dalam arti kata bahwa Berger tidak  bertitik tolak dari nilai-nilai positif yang diperoleh secara apriori, tetapi dari apa yang dirasakan sebagai negatif dan oleh karena itu tidak bisa diterima. Baru dari penolakan ini timbullah imperatif-imperatif etis, akan tetapi selalu dalam perumusan “jangan”. “Memberi pangan” dalam pendekatan ini diartikan sebagai “jangan membiarkan orang kelaparan”. Sejauh mana pendekatan ini bermanfaat dan apa implikasi-implikasinya, lebih-lebih kalau dihubungkan dengan masalah pembangunan?

  1. Dalam hubungan ini, orang teringat akan buku termasyhur yang berjudul Negative Dialektik, karangan Theodor W. Adorno[18] salah seorang tokoh dari “mazhab Frankfurt” yang berkecimpung baik di bidang filsafat maupun sosiologi, yang banyak mempengaruhi diskusi sosial dalam dasawarsa terakhir ini. Salah satu inti buku itu, yang membahas teori ilmu pengetahuan berkenaan dengan ilmu-ilmu sosial, dapat disingkat secara sangat sederhana sebagai berikut.[19]

Manusia sebenarnya hanya bisa mengungkapkan dan merumuskan apa yang membuat ia menderita. Jadi, titik pangkal segala pemikiran dan penilaian manusiawi adalah keadaan yang negatif. Akan tetapi, bukan keadaan negatif itu pada dirinya sendiri, melainkan sebagai suatu kategori pengalaman. Pengalaman sebagai sesuatu yang selalu bersifat langsung dan spontan dan baru sesudahnya dirumuskan dan dipikirkan lebih lanjut. Pengalaman negatif yang berbentuk penderitaan itu adalah pada kita semua. Ciri khas pengalaman tersebut adalah bahwa penderitaan pada dirinya sendiri (secara intrinsik) mengandung tuntutan supaya diubah dan diatasi. Tuntutan ini pun bersifat langsung dan spontan. Artinya, mendahului segala penalaran kita dan pada pokoknya tidak disangsikan oleh siapa pun. Adorno menyebut tuntutan itu “penilaian dari peniadaan” (negatio negationis). Kenyataan sendiri sebenarnya sudah berupa suatu “peniadaan” karena sarat dengan penderitaan. Didalamnya tidak terdapat apa yang seharusnya ada . Sesuatu yang seakan-akan dirampas atau kehilangan. Kenyataan adalah penuh dengan pertentangan dalam arti itu. “Keadaan yang  negatif” atau penderitaan itulah yang harus “ditiadakan” atau diubah.

Dengan perkataan lain, dalam keadaan penderitaan menjadi  nampak secara dialektis apa yang harus ditujukan dan diusahakan. Sementara cakrawala cita-cita yang memberi arah pada tindakan dan langkah kita, walaupun tetap jauh dan tak kelihatan penuh, mengingat bentuk  dan p erumusannya yang bercorak negatif. Apa  yang didamba-dambakan dan oleh karena itu menjadi ukuran penilaian tidak bisa ditemukan secara apriori dan langsung, melainkan hanya melalui “dialektika negatif” itu, yang mengungkapkan diri daalam perumusan “jangan”.

Kalau tidak salah, maka pendekatan Adorno itu agak mirip dan sesuai dengan pemikiran Berger, yang dalam tesis terakhir (kedua puluh lima) dari bukunya menganjurkan suatu “utopianisme realistis”. “Untuk itu diperlukan mengawinkan dua sikap yang biasanya terpisah – sikap analisis yang realistis dan sikap imajinasi yang utopis”. Kalau menelusuri seluruh uraian dan jalan pikiran bukunya, maka agak jelas bahwa utopia itu harus ditemukan dalam realitas. “Biaya-biaya manusiawi”  memperlihatkan secara “dialektis negatif” tujuan dan cita-cita yang harus diperjuangkan.

  1. Pendekatan “dialektika negatif” itu bisa diterapkan pada masalah pembangunan. Dalam menentukan tujuan dan sekaligus ukuran penilaian segala usaha pembangunan, kita harus beritik pangkal pula pada segala apa yang kita alami sebagai tidak beres di negara-negara berkembang.  Ketidak beresan itu menampakkan diri sebagai   penderitaan dalam aneka ragam bentuk, umpamanya sebagai kelaparan, penyakit, penggusuran, diskriminasi, upah tak adil, atau penindasan. Dalam menghadapi penderitaan itu, kita hampir pasti akan terkena dan tersentuh dalam arti bahwa kita tidak bisa menerima dan membenarkan keadaan itu, melainkan menghendaki perubahannya, sungguhpun belum tentu bisa atau mau berbuat sesuatu.

Berpijak pada pengalaman itu, tujuan serta dasar penilaian segala usaha pembangunan dapat dirumuskan sebagai: membebaskan manusia dari penderitaan. Atau dalam perkataan Berger: memperhitungkan “biaya-biaya manusiawi”. Segala politik dan upaya pembangunan seharusnya bertujuan mengatasi atau paling tidak membatasi penderitaan manusiawi dalam semua bentuk dan dimensinya. Semua premis nilai lebih lanjut dan terperinci akhirnya hanya menjabarkan pengertian dasariah ini, yang bisa disebut landasan bagi etika politik pembangunan.

Pendekatan yang agak umum ini tentu saja perlu diterjemahkan lebih lanjut ke dalam analisis sosial yang ilmiah serta tindakan-tindakan politik. Analisis sosial yang ilmiah mempunyai fungsi menelaah dan membongkar sebab-musabab dan kaitan-kaitan politis, ekonomis, dan sosio-budaya yang terdapat di belakang keadaan penderitaan itu, serta mencari dan menawarkan jalan-jalan keluar yang barangkali bisa ditempuh oleh kebijaksanaan politik atau usaha-usaha praktis yang lain. Dengan demikian, analisis sosial malah akan memperkuat dan mempertajam kepekaan terhadap penderitaan itu. Selain itu, perlu pula bahwa setiap teori maupun usaha praktis dalam rangka politik pembangunan tetap diamat-amati dan disoroti secara kritis sejauh mana barangkali menimbulkan penderitaan baru, agar secepat mungkin dan seperlunya bisa diperbaiki ataupun diubah. Itulah tugas ilmu-ilmu sosial dalam hubungan ini.

  1. Bahwa pendekatan “dialektika negatif” itu tidak hanya merupakan semacam permainan intelektual saja, tetapi mempunyai relevansi yang cukup praktis, bisa dilihat dari contoh berikut ini. Kalau dalam suatu diskusi dengan orang biasa diajukan pertanyaan mengenai apa itu keadilan sosial, maka pada umumnya mereka tidak mampu menjawab dan akan diam saja. Lain sekali, kalau mereka ditanyakan tentang pengalaman konkret mereka dengan ketidakadilan sosial. Dengan meluap-luap, mereka akan menceriterakan pengalaman pahit mereka atau keluarga mereka sendiri, peristiwa yang sedang dibahas dengan hangat dalam lingkungan hidup atau kerja mereka, ataupun kasus-kasus yang baru mengisi halaman muka koran. Apa itu keadilan sosial rupa-rupanya hanya bisa diungkapkan secara “dialektis-negatif”. Kalau dirumuskan secara positif, malah tidak jelas dan hanya mengambang artinya.

 

[1] Pertama kali diterbitkan dalam edisi Indonesia, Agustus 1982 (Prisma, LP3ES).

 

[2] Bericth der Nord-Sud-Kommission. Das Uberleben sichern, (Kol: Kiepenheuer & Witsch, 1980). Edisi Inggris: Independent Commission on International Development Issues, North-South: A Programme for Survival.

[3] Ibid., hal. 66 (bab2).

[4] “Prof. Sumitro Djojohadikusumo Tentang Pembangunan: Banyak Kemajuan di Samping kelemahan dan Ketimpangan”, Kompas, Senin, 28 Januari 1980, hal. I + XII.

[5] Manuel Kaisiepo, “Menyambut Kongres HIPIS ke III/Seminar Ilmiah Nasional di Malang: Menghitung-hitung Kemiskinan”, Kompas, 15 November 1979, hal. IV.

[6] M. Weber, Gesammelte Aufsatze zur Wissenschaftslehre, (Tubingen: J.C.B. Mohr, 1922). Bandingkan pula: E.A.Shils/H.A.Finch (eds), Max Weber on the Methodology of the Social Science, (Glencoe, III: The Free Press, 1949).

 

[7] C.W. Mills. The Sociological Imagination, (New York: Oxford UP, 1959).

[8] Th.W.Adorno u.a., Der Positivismusstreit in der deutschen Soziologie, (Neuwied/Berlin: Luchterhand, 1969). Edisi Inggris: The Positivist Dispute in Grman Sociology, (New York etc.: Harper Torchbooks, 1976).

[9] Istilah “mitos” disini dipakai dalam arti kritik ideology ataupun dalam arti sehari-hari. Dalam antropologi kebudayaan, istilah tersebut mempunyai arti yang berbeda sekali dan jauh lebih positif. Bandingkan pada: V.W.Turner, “Myth and Symbol”. International Encyclopedia of the Social Sciences (IESS), (New York/London: Macmillan/Free Press, 1972), vol. 10, hal.576-582.

 

[10] Bandingkan misalnya: Mahbub ul Haq, The Poverty Curtain: Choices for the Third World, (New York: Columbia UP, 1976).

[11] G. Myrdal, Asian Drama: An Inquiry into the Poverty of Nations, (Harmondsworth: Penguin Books, 1968). Vol. I, hal. 5-35; id., The Challenge of World Poverty, (Harmondsworth: Penguin Books, 1971), hal. 21-45; id., Bangsa-bangsa kaya dan Miskin, (Jakarta: Gramedia, 1976).

[12] G. Myrdal, Value in Social Theory: A Selection of Essays on Methodology, ed. By P. Streeten, (London: Routledge & Kegan Paul, 1958): id., Objektivitat in der Sozialforschung, (Frankfurt/M.: Suhkamp, 1971); edisi Inggris: Objectivity in Social Research.

[13] G. Myrdal, The Challenge of World Poverty, op,cit., hal.17.

[14] G. Myrdal, Asian Drama, op,cit., vol. I, hal. 31-34.

[15] Bandingkan misalnya: ibid, hal. 49-69, dimana Myrdal menguraikan “cita-cita modernisasi” yang diandalkannya dalam buku itu. Cita-cita tersebut, pada hemat saya, memang berat sebelah dan perlu dikritik.

 

[16] Bandingkan artikel “History”, IESS, op,cit., vol. 6 hal. 428-480. Sehubungan dengan metodologi ilmu sejarah perlu diperhatikan bahwa dalam dua dasawarsa terakhir ini telah terjadi perubahan yang cukup berarti. ‘Terutama dampak ilmu-ilmu social semakin terasa dan dianggap penting. “Sejarah social” mendapat semakin banyak perhatian. Buku tentang sejarah Indonesia yang dalam hal ini agak menarik adalah: W.F. Wertheim, Indonesian Society in Transition, (The Hague: W. van Hoeve, 1964, 2nd edisi  revisi). Lihat juga: Onghokham, “Peranan Rakyat dalam Politik”, dalam Prisma VIII (1979), No. 8, hal. 35-47.

[17] Beberapa gagasan pokok yang diutarakan berikut ini sudah pernah saya kupas dalam karangan “pembangunan sebagai Usaha Pemberantasan Penderitaan Manusia”, Kompas, Sabtu, 4 Agustus 1979, hal. IV+X.

 

[18] Th, W, Adirbim Negative Dialektik, (Frankfurt/M.: Suhrkamp, 1966). Edisi Inggris: Negative Dialectics, (New York: The Seabury Press, 1973).

[19] Ibid, terutama hal. 11-64, `35-205. Dari buku Adorno tersebut, yang memang sangat berbelit-belit baik isi maupun bahasanya, di sini hanya dipetik beberapa gagasan dasariah, tanpa mengikuti jalan pikirannya dalam segala hal.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kolom

Baik dan Buruk

mm

Published

on

Oleh: Ignas Kleden

Memang harus dikatakan bahwa kontradiksi adalah suatu pengertian filsafat pengetahuan dan bukan suatu pengertian filsafat keindahan. Dalam pengetahuan diandaikan bahwa kita bisa menetapkan salah benarnya suatu pengetahuan, berdasarkan criteria-kriteria yang telah disepakati bersama, sekalipun criteria itu bersifat sementara. Dalam filsafat keindahan atau estetika, kontradiksi tidak dimungkinkan, karena de gustibus non est disputandum (tidak mungkin kita berdebat tentang selera). Sudah jelas bahwa baik dalam ilmu pengetahuan maupun dalam kesenian selalu terdapat subyektivitas. Namun, sementara ilmu menuntut agar subyektivitas itu dikontrol dan dibatasi, seni membiarkan subyektiitas itu berkembang dan bahkan digalakkan. Tidak mungkin mendapatkan kontradiksi antara indah dan tidak indah, seperti halnya kontradiksi di antara benar dan tidak benar (kontradiksi epistemologis) atau antara ada dan tidak ada (kontradiksi ontologism).

Selama dua millennium, filsafat etika masih juga berdebat tentang satu masalah yang sama, yaitu apakah etika itu berurusan dengan soal baik dan buruk (etika teleologis) atau berurusan dengan soal benar dan salah (etika deontologist). Pertimbangan tentang baik dan buruk selalu didasarkan pada sesuai tidaknya suatu tindakan dengan tujuan.Eduard Spranger, psikolog yang menjadi rujukan dan pujaan Sutan Takdir Alisjahbana, akan mengatakan bahwa tujuan setiap orang masih akan ditentukan oleh tipologinya. Untuk seorang homo oeconomicus, baik adalah tindakan yang mendatangkan kerugian. Sebaliknya, seorang homo politicus akan melihat suatu tindakan menjadi barik kalau mendatangkan kekuasaan, dan buruk kalau membuat kekuasaan berkurang atau hilang sama sekali. Kritik umum terhadap etika teleologis bahwa dia pada dasarnya bersifat terlalu pragmatis atau serba ontologism (misalnya, bahwa baik adalah tindakan yang sessuai dengan kodrat manusia).

Etika deontologist menunjukkan peranan manusia dalam menetapkan apa yang dianggap sebagai benar dan salah (bukan berdasarkan tujuan yang bersifat pragmatis atau  ontologism, tetapi berdasarkan persetjujuan dan ksnsensus bersama). Hukum positif adalah contoh suatu etika deotologis. Mengatakan hahwa negara RI merupakan negara hukum adalah menerima bahwa kehidupan bersama dalam negara ini didasarkan pada berbagai peraturan yang telah ditetapkan berdasarkan persetujuan bersama dank arena itu mengikat semua yang terlibat dalam persetujuan tersebut. Etika ini mempunyai dua kelebihan. Pertama, memberi peran aktif kepada anggota masyarakat untuk menetapkan sendiri apa yang benar dan salah berdasarkan criteria yang disepakati. Kedua, antara benar dan salah dimungkinkan munculnya kontradiksi yang tegas dan jelas. Tidak mungkin perbuatan membunuh orang yang berbeda pendirian politik itu sekalgus benar dan salah. Sebaliknya, secara teleologis, membunuh orang mungkin sesuatu yang baik karena dapat mengurangi kepadatan penduduk misalnya.

Debat teoritis itu kedengarannya amat mengawang, tetapi mempunyai konsekuensi yang amat konkret untuk kehidupan politik dalam suatu negara hukum seperti Indonesia. Kalau mengadili mantan Presiden Soeharto dianggap tindakan yang tidak baik karena membahayakan integrasi bangsa atau tidak menghormati orang tua yang sakit-sakitan, kita terjebak lagi dalam etika teleologis yang pragmatis. Dengan pragmatism seperti ini tidak bisa diputuskan apakah mengadili mantan Presiden Soeharto sesuatu yang baik atau buruk. Masalahnya, baik dan buruk selalu tergantung dari suatu tujuan, sedangkan selalu bisa diciptakan tujuan baru untuk membuat tindakan kita menjadi baik karena sesuai dengan tujuan baru tersebut.

Demikian pun kalau hukum didasarkan kepada etika teleologis ini maka asas hukum positif justru menjadi kabur. Sistem hukum positif baru efektif kalau kontradiksi antara salah dan benarnya suatu tindakan dibuat sejelas-jelasnya secara normative, sekalipun dalam penerapannya perlu memperhitungkan sikumstansi empiris di mana suatu tindakan dilakukan. Pada titik itu terjadi pertarungan antara suatu peristiwa politik dan peristiwa hukum. Moralitas politik adalah moralitas telelogis yang bergantung pada tujuan suatu perbuatan. Moralitas hukum merupakan moral deontologist, yang bergantung pada peraturan hukum yang telah disepakati bersama. Dalam politik kontradiksi menjadi tidak jelas, karena tujuan selalu bisa diubah sehingga suatu tindakan dapat dibenarkan berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan baru itu. Dalam hukum peraturan yang berlaku tak dapat diubah sesuka hati, dank arena itu kontradiksi dimungkinkan. Kalau moralitas salah-benar ini tidak ditegakkan, perubahan structural yang paling revolusioner pun tidak akan membawa banyak kemajuan kualitatif, justru karena kita tidak bisa memutuskan apa yang salah yang harus ditinggalkan dan apa yang benar yang harus ditegakkan.

Tanpa menerima kontradiksi ilmu pengetahuan, juga tidak akan dimungkinkan. Pada prinsipnya, ilmu pengetahuan berkembang karena pengetahuan yang salah disingkirkan untuk memberi tempat bagi pengetahuan yang lebih teruji kebenarannya. Tentu dalam praktek hal ini tidak selalu mudah, karena penentuan salah-benar masih akan bergantung pada metode dan teori yang dianut oleh masing-masing mazhab. Namun, demikian prinsip kontradiksi itu diterima secara umum, bahwa tidak mungkin suatu pengetahuan itu bersifat salah dan benar sekaligus. Kontradiksi logis dalam pengetahuan adalah parallel dengan kontradiksi empiris dalam ilmu, dan juga parallel dengan kontradiksi etis dalam moralitas dan hukum.

Tentu tidak kurang orang Indonesia yang telah menghayati moral deontologist ini, barangkali tanpa banyak peduli tentang teori yang mendasari. Bulan Desember 1999, seorang intelegensia muda Indonesia, Soe Hok Gie, genap 30 tahun meninggal dunia di puncak Gunung Semeru. Berdasarkan perjuangannya dan teks-teks yang ditinggalkan, Soe Hok Gie adalah prototype moral deontologist ini atas cara yang hampir untuh dan sempurna. Dasar pertimbangan untuk semua tindakannya adalah kontradiksi antara salah dan benar, bukan keadaan tanpa kontradiksi antara baik dan buruk.

Dengan mudah bisa disebutkan apa yang menjadi “teori kebenaran” pada tokoh ini. Untuk dia, tindakan benar adalah tindakan yang sesuai dengan hati nurani (keberanian dan kejujuran bukan sekadar pembawaan prikologis, melainkan hasil kesimpulan filosofis), yang menyesuaikan perbuatan dengan keyakinan dan ucapan (karena itu, dia amat membenci kemunafikan), yang membela pihak lemah terhadap mereka yang lebih kuat (karena itu, penting mengenal masyarakat keicl dari dekat dengan banyak berjalan dan mendaki gunung), yang menolakk tunduk kepada ketakutan (baik ketakutan terhadap kekuasaan maupun ketakutan terhadap penyingkiran social oleh teman-teman sendiri), yang tidak mendiamkan kejahatan atau ketidak-adilan yang ada di depan mata (karena dengan itu melakukan the crime of silence), dan yang menolak kebenaran resmi yang ditawarkan tanpa menguji terlebih dahulu (entah kebenaran yang ditawarkan oleh doktrin politik atau yang diberikan oleh doktrin agama).

            Pilihan seperti itu yang oleh John F. Kennedy dinamakan keberanian, yaitu kesediaan secara sadar untuk mengabaikan akibat suatu pilihan dan tindakan karena hendak berpegang teguh kepada prinsip dan nilai yang diyakini. Keberanian dalam pengertian ini merupakan kebajikan manusia yang oleh John F. Kennedy dianggap paling tinggi dan paling mulia.

Dengan mengutip Hemingway, dia mengatakan bahwa keberanian adalah grace under pressure, yaitu semacam keagungan yang tetap bermartabat dan tidak hilang keanggunannya sekalipun berada di b awah tekanan dan represi. Dengan kata lain, kesediaan untuk menghadapi kontradiksi antara keadaan nyata dan prinsip yang diyakini.

Kehidupan politik memang bukan dua bidang hitam putih yang terpisah oleh satu garis lurus. Seperti juga spectrum cahaya, warna-warna yang muncul dalam suatu prisma hanya mungkin timbul kalau ada kontradiksi antara warna putih dan warna gelap. Rahasia kebudayaan barangkali terletak di sana, bahwa bersikap jelas dengan mempertegas kontradiksi, justru memudahkan kita melihat aneka warna yang muncul di antara ujung spectrum yang satu ke ujung yang lain. Sebaliknya, menghilangkan kontradiksi justru akan membuat segala sesuatunya tunggal-makna, seragam, dengan nuansa yang buyar karena kehilangan tenaga yang diberikan oleh dua titik yang tadinya tentang-menentang dan tarik-menarik. Ketakutan terhadap kontradiksi merupakan kecenderungan prosaic yang tak sanggup memahami bahwa kata-kata dalam sajak tidak sekadar bunyi bahasa yang dituliskan, tetapi suatu rancang-bangun dunia potensial yang belum ada  sekarang dan mungkin selamanya tak pernah ada, tetapi bukan sesuatu yang tak mungkin. Sebaliknya, menghormati kontradiksi akan memungkinkan seseorang melihat makna dari daun yang luruh, terbawa angin lalu menjelma dalam sajak. Pada saat itu, politik sebagai seni kemungkinan menemukan diri kembali dari puisi sebagai dunia kemungkinan. (*)

_________________________

IGNAS KLEDEN:

Atau Dr. Ignas Kleden, M.A. (lahir di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 19 Mei 1948; umur 68 tahun) adalah sastrawan, sosiolog, cendekiawan, dan kritikus sastra berkebangsaan Indonesia. Dia merupakan salah satu penerima Penghargaan Achmad Bakrie tahun 2003 karena dinilai telah mendorong dunia ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan tajam melalui esai dan kritik kebudayaannya.

Ignas Kleden lahir dan besar di Waibalun, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 19 Mei 1948. Sempat bersekolah di sekolah calon pastor berkat lulus dengan predikat terbaik di sekolah dasar. Namun keluar dari sekolah tersebut lantaran tidak dapat berkhotbah dengan baik. Lalu ia memilih menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi/STFT Ledalero, Maumere, Flores (1972), meraih gelar Master of Art bidang filsafat dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman (1982), dan meraih gelar Doktor bidang Sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman (1995). Ketika masih di tinggal Flores, ia sudah mengenal majalah Basis Yogyakarta dan rutin mengirimkan tulisannya ke majalah itu. Dia juga menulis artikel di majalah Budaya Jaya Jakarta, dan menulis artikel semipolemik untuk majalah Tempo. Ignas juga pernah bekerja sebagai penerjemah buku-buku teologi di Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores.

Setelah hijrah ke Ibu Kota, tahun 1974, Ia makin aktif menulis, baik di majalah maupun jurnal, dan menjadi kolumnis tetap majalah Tempo. Sempat pula bekerja sebagai editor pada yayasan Obor Jakarta (1976-1977), Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta (1977-1978), dan Society For Political and Economic Studies, Jakarta.Tahun 2000 turut mendirikan Go East yang kini menjadi Pusat Pengkajian Indonesia Timur, yang mengkaji penguasaan beberapa bahasa asing, teologi, filsafat, dan sosiologi banyak membantu peningkatan kariernya. Esainya mengenai sastra dimuat di majalah Basis, Horison, Budaya Jaya, Kalam, harian Kompas, dan lain-lain. Buku Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Cerpen Pilihan Kompas 1997) juga memuat esainya, Simbolis Cerita Pendek. Tahun 2003, bersama sastrawan Sapardi Djoko Damono, menerima Penghargaan Achmad Bakrie. Ia dinilai telah mendorong dunia ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tajam lewat essai dan kritik kebudayaannya. (*)

Continue Reading

Editor's Choice

Ki Hadjar Dewantoro: Permainan Kanak-kanak

mm

Published

on

 

Pendidikan Diri dari Kodrat ke Arah Adab Bentuk dan Isi Alam Kanak-kanak

PERMAINAN kanak-kanak itu sebenarnya sudah lama menarik dan menjadi pusat perhatian para ahli pendidik diseluruh dunia. Sebelum Friedrich Firobel memasukan permainan kanak-kanak di dalam “Kindergarten”-nya, sebagai anasir mutlak dalam pendidikan anak-anak di bawah umur 7 tahun, sebelum itu sudah ada perhatian terhadap soal tersebut. Mungkin karena Pestolozzi – “bapak” dari pada “sistem sekolah” (yang “modern” pada jamannya pertengahan dan akhir abad XVIII, jadi jaman hidupnya Frobel juga) – dengan tegas menganjurkan pengembalian sistem pendidikan yang tatkala itu membeku dalam bentuk, isi dan lakunya, ke arah “natuurlijkheid,” yaitu kodrat keadaan dalam umumnya dan kodrat hidup tubuh kanak-kanak pada khususnya. Sebetulnya pelopor pembaharuan hidup, pelopor “revolte” Jean Jacques Rousseau (yang berhasrat membebaskan hidup manusia dari segala ikatan adat yang mati), pun di dalam dunia pendidikan pula dianggap pelopor, ialah pelopor pendidikan merdeka. Salah satu tuntutan Rousseau ialah kemerdekaan jiwa kanak-kanak, membebaskan dia dari kekangan dan mengemukakan kodrat hidup kanak-kanak. Dan kodrat jiwa kanak-kanak. Itulah yang terkandung dalam bentuk dan isi segala macam permainan kanak-kanak.

Apabila kita meninjau segala gerak-gerik kanak-kanak, menilik segala sikapnya, kesedihan dan kesenangannya, langkah-lakunya, maka dapatlah kita lihat, bahwa semua itu nampak di dalam berbagai permainan-permainannya. Ini disebabkan anak-anak itu selama mereka tidak tidur atau sedang melakukan sesuatu pekerjaan yang penting (dan ini biasanya terlaksana secara sambil-lalu) tentulah mereka itu bermain-main. Boleh dikatakan, bahwa permainan itu mengisi sepenuhnya hidup kanak-kanak, mulai ia bangun pada waktu pagi-pagi, sampai ia tidur lagi pada malam hari; sehari terus. Beristirahat ….. hanya kadang-kadang bila ia sungguh lelah – dan ini keharusan untuk makan atau minum, untuk mengasingkan diri sebenar, atau dipanggil ayah ibunya. Persayalah, bahwa semua pemutusan waktu bermain itu oleh anak-anak sendiri dianggap sebagai “gangguan” yang mengecewakan. Biasanya kalau anak itu sungguh lelah, ia berganti bermain yang serba ringan; dan ini berlalu secara “spontan” dengan sendiri.

Jumlah dan Jenis Permainan

Jumlah permainan kanak-kanak itu banyak sekali dan boleh dibilang tak terhitung banyaknya. Ini disebabkan, selain permainan-permainan yang lama, senantiasa dan tambahan permainan-permainan baru, yang dibawa oleh kanak-kanak, baik anak-anak yang berasal dari tempat lain, maupun oleh anak-anak setempat, yang meniru permainan-permainan yang berasal dari golongan-golongan lain. Kadang-kadang permainan-permainan baru tadi timbul karena spontanitas kanak-kanak, atau merupakan ciptaan pihak orang tua, yang bisanya  dengan segala senang hati diterima oleh anak-anak. Pendek kata, segala permainan baru dari manapun asalnya, selalu diterima oleh kanak-kanak sebagai tambahan yang sangat dihargai; barang tentu asalkan sesuai dengan jiwa kanak-kanak.

Permainan-permainan yang lama biasanya tidak dilepaskan oleh kanak-kanak, yang dalam hal itu seringkali menunjukkan sikap konservatif. Kerapkali kejadian pula anak-anak memperbaharui permainan lama, yaitu sifat permainan lama masih nampak, tetapi dengan bentuk yang agak baru, atau bentuknya tak berubah, namun isinyalah yang baru. Dengan begitu maka di samping permainan-permainan lama selalu timbul permainan-permainan baru, hingga jumlahnya banyak sekali. Barang tentu di sesuatu tempat dan dalam sesuatu waktu ada juga permainan-permainan yang akan dilakukan lagi oleh kanak-kanak, akan tetapi pada lain waktu timbullah dengan sendiri permainan-permainan, yang tadinya sudah tak pernah dimainkan oleh kanak-kanak.

Kalau kita menengok bentuk dan isi permainan-permainan itu, maka banyak sekali terdapat anasir-anasir atau bahan-bahan, yang berasal dari hidup kemasyarakatan yang mengelilingi hidup kanak-kanak. Segala pengaruh alam dan jaman, yang memperbaharui masyarakat, dalam instansi kedua memperbaharui pula bentuk dan isi permainan kanak-kanak. Berhubungan dengan itu hendaknyalah diingat bahwa konservatisme kanak-kanak, seperti telah disebut di muka, menyebabkan terus hidupnya permainan-permainan kuno, seolah-olah terhindar dari pengaruh alam dan jaman baru. Keadaan ini nampak dalam hidup kanak-kanak kita, yang masih mempunyai peremainan-permainan berasal dari jaman feodal, jaman permainan primitif, di zamannya masih ada perdagangan anak-anak dan lain sebagainya. Hal ini tidak saja amat berhubungan dengan sifat “statis” daripada masyarakat kita (dan ini berhubungan pula dengan tidak adanya hidup tumbuh secara bebas dan merdeka dalam sejarah kebudayaan kita sejak adanya penjajahan asing), tetapi ada lagi pertaliannya dengan sifat activisme, yang antara lain diuraikan dalam teori atavisme oleh seorang ahli ilmu-jiwa Amerika Stanley Hall.

Sifat permainan kanak-kanak

Sejak timbulnya “paedalogy”, ilmu pengetahuan tentang hidup kanak-kanak pada umumnya dan khususnya sebagai akibat perkembangan ilmu pendidikan (paedagogy), maka para ahli biologi menaruh minat dan perhatian pula terhadap soal permainan kanak-kanak, terpandang dari sudut ilmu-ilmu yang luas. Stanley Hall, yang baru kita sebut tadi, menghubungkan dengan sifat-sifat permainan kanak-kanak dengan “hukum biogenese,” pelajaran Ernst Haeckel, mengenai asalnya segala gerak-gerik di dalam hidup manusia, yang dikatakan: selalu mempunyai sifat ulangan pendek dari hidupnya jenis manusia dalam jaman-jaman yang lampau, mulai jaman purbakala. Hidup tumbuhnya “ontogenese,” adalah ulangan singkat dari kemajuan “phylogenese.” Begitu segala tingkah laku kanak-kanak bermain-main dengan batu, dengan tanah, dengan air, dengan hewan atau permainan perang-perangan, pertanian, perdagangan, beradu kekuatan, dll, sebagainya menurut Haeckel tadi boleh dipandang sebagai ulangan jaman batu, jaman pertanian, pelajaran, penggembalaan, keprajuritan dan sebagainya, yang terdapat di seluruh dunia. Inilah sebabnya, menurut Stanley Hall, segala permainan kanak-kanak itu di segala pelosok di seluruh dunia mempunyai sifat yang sama dalam pokoknya ialah ulangan atavistis.

Baiklah di sini diingat adanya sikap manusia, yang “onbewust” biasanya, untuk mengganti atau mengubah sifat-sifat “keinginan instinctif” (berasal dari teori atavisme dari Stanley Hall tadi) dengan sifat-sifat yang untuk jaman yang berlaku sekarang ini tidak diharamkan, atau bertentangan dengan syarat-syarat kesusilaan dalam jalan ini. Sikap inilah yang menurut Karl Groos dan Dr. Maria Montessori disebut “katharsis,” yang sebenarnya berarti; “memurnikan,” yaitu menghilangkan sifat-sifatnya yang kasar atau tak senonoh. Katharsis itu sebenarnya, “permainan” yang dilakukan oleh orang-orang dewasa, untuk menuruti dorongan-dorongan dari macam-macam insting, hanya saja diberi bentuk yang sesuai atau dibolehkan oleh moralnya jaman yang berlaku. Contoh-contohnya misalnya; perjudian, menyembelih hewan dan menanam kepalanya di bawah bangunan-bangunan yang didirikan, lain-lain macam bersaji, dsb.; untuk orang-orang muda misalnya mengadakan pesta dengan berdansa-dansa, berdarmawisata dan melakukan sport bercampur, laki-laki dan perempuan, dsb. Demikian teori atavisme tentang permainan kanak-kanak (dan orang dewasa) menurut Stanley Hall.

Sifat-sifat biologis

Ada pandangan lain tentang permainan kanak-kanak yagn disandarkan pada spontanitas dalam hidupnya kanak-kanak. Dibuktikan oleh Montessori, secara eksperimental, bahwa tumbuhnya jasmani kanak-kanak itu menimbulkan keinginan-keinginan yang kuatnya dorongan atau tuntutan jiwa, yang sering kali berlau secara tiba-tiba atau “spontan” (tak dengan dipikir-pikir sebelumnya). Anak-anak kecil suka merangkak, suka bersandar pada tongkat atau barang lain, merambat pagar dan lain sebagainya, itu adalah tuntutan jasmani, guna mendapat gambaran kekuatan atau pengurangan beban, yang perlu untuk berjalannya serta segala gerak-gerik badan kanak-kanak yang menurut kodratnya masih kekurangan kekuatan. Permainan kanak-kanak pada umumnya boleh dipandang sebagai tuntutan jiwanya yang menuju ke arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani. Lihatlah caranya kanak-kanak bermain-main.

            Banyak permainan-permainan itu merupakan tiruan gerak-gerik orang tua; misalnya permainan yang meniru orang bercocok tanam, berdagang, menerima tamu, mengejar pencuri dsb. “Meniru” ini sangat berguna, karena mempunyai sifat mendidik diri pribadi dengan jalan orientasi serta mengalami, walaupun hanya secara khayal atau fantasi. Dalam hal ini sama faedahnya dengan sandiwara.

Kerapkali permainan kanak-kanak itu bersifat mencoba kekuatan atau kepandaian (kecerdikan, kecakapan dan sebagainya). Ia selalu berhasrat mengalahkan temannya, merasa amat senang kalau menang, susah kalau kalah; sama dengan semangat orang-orang yang bertanding dalam keolahragaan. Ini mendidik kanak-kanak pula, tidak saja untuk selalu memperbaiki kecakapannya, tetapi juga untuk menebalkan tekadnya, kepercayaannya atas dirinya sendiri. Dalam hubungan ini ada baiknya disebutkan pula, bahwa kanak-kanak seringkali mematahkan atau memcahkan barang-barang itu karena keinginan mencoba kekuatannya. Menyakiti hewan atau anak lain boleh termasuk dalam pandangan ini.

Mencoba kekuatan atau kepandaian itu jika tidak dengan beradu, yaitu dilakukan sendirian, lalu bersifat “demonstrasi” memperlihatkan kejadiannya, dan ini adalah salah satu corak perangai manusia yang umum, yang dapat pula dianggap ada faedahnya, misalnya berhubungan dengan tumbuhnya rasa diri, rasa bertanggung-jawab, rasa tidak “minderwaardig” (kurang berharga), dan sebagainya.

Permainan kanak-kanak itu umumnya sama dengan caranya anak-anak belajar melatih diri, berupa persiapan untuk hidupnya kelak. Anak-anak kucing gemar bermain-main dengan segala barang yang mudah digerakkan, dan sesudah digerakkan sendiri, lalu ditubruk-tubruk, secara kucing tua menubruk tikus. Karena inilah Montessori menetapkan pula, bahwa permainan kanak-kanak itu semata-mata latihan daripada segala laku, yang kelak perlu bagi hidup manusia. Caranya kanak-kanak terus menerus mengulangi sesuatu permainan. Tidak dengan bosan-bosan, menunjukkan sifatnya latihan itu pada umumnya.

Sebabnya Kanak-kanak Gemar Bermain

Bahwa kanak-kanak itu gemar sekali akan segala permainan, tak usah diterangkan dengan panjang lebar. Kita semua dapat menyaksikannya sendiri. Apabila ada seorang anak tidak suka bermain-main, bolehlah dipastikan bahwa anak itu sedang sakit, jasmaninya ataupun rohaninya. Di muka sudah diterangkan, bahwa sehari terus, mulai bangun pagi-pagi sampai tidur pula pada waktu malam, anak-anak itu tentu bermain-main. Anak yang tak berbuat apa-apa, dalam bahasa Jawa “nganggur”, boleh dikatakan tidak ada. Apakah kitanya yang menyebabkan terus menerus bergeraknya anak-anak itu? Jawab pertanyaan ini kita serahkan kepada Herbert Spencer, seorang ahli ilmu-ilmu jiwa dan filsuf bangsa Inggris. Sepencer mengajarkan, bahwa sifat dinamis dalam hidup tumbuhnya kanak-kanak itu adalah akibat dari adanya sisa kekuatan (krachtoverschot) di dalam jiwa dan tumbuhnya kanak-kanak, yang sedang ada dalam keadaan bertumbuh itu. Produksi kekuatan dalam kanak-kanak, lahir dan batin, sehingga lalu ada “sisa” tadi. Dan sisa kekuatan ini menuntut secara organis, agar dipakainya, supaya lalu ada imbangan lagi antara kekuatan lahir dan batin di dalam hidupnya anak-anak, imbangan mana bersifat rasa enak, semuanya karena danya “penyaluran.” Sisa kekuatan itulah yang mengakibatkan anak-anak secara spontan terus bergerak, dinamis lahir dan batin, tak berhenti secara istirahat. Dalam keadaan begitu maka anak-anak yang terpaksa diam, merasa terhukum, kadang-kadang menyebabkan terganggunya kesehatan jasmaninya, karena “overspanning.” Alangkah baiknya, bila tiap-tiap orang tua menginsyafi kebenaran pelajaran Spencer ini, dan memberi kesempatan sebanyak-banyaknya dan sebebas-bebasnya kepada anak-anaknya, untuk bermain-main dan bergerak badan, yang sangat perlu bagi kesehatan roh dan badannya. Untuk kepentingan ini tak usah diterangkan, bahwa permainan-permainan yang bersfiat “sport” (barang tentu disesuaikan dengan kekuatan kanak-kanak), patut diperhatikan secukupnya.

Latihan Panca Indra

Salain kepentingan fisiologis, yang bertali dengan kesehatan badan (yang sangat perlu untuk tumbuhnya jasmani dengan sebaik-baiknya), ada pula kepentingan yang mengenai kemajuan hidup rohaninya kanak-kanak. Permainan kanak-kanak yang dalam bentuk dan isinya boleh dikata semuanya mempunyai sifat latihan panca-panca indera” ala Montessori. Dan sebagai diketahui maka latihan panca-indra itu oleh Montessori dimaksudkan sebagai gerak lahir secara teratur, yang besar pengaruhnya kepada tumbuh serta yang bermacam-macam, seperti menggambar, mengancam, melempar barang ke arah jarak yang tertentu, mengatur tertibnya urutan-urutan barang ke arah jarak yang tertentu, mengatur tertibnya urut-urutan suatu atau barang-barang menurut panjangnya, besarnya atau beratnya, dan lain sebagainya, maka rasa dan pikiran kanak-kanak, pula kemauannya, dapat terdidik dengan sendiri. Di sinilah dengan tegas dibuktikan adanya hubungan yang amat erat antara kemajuan jasmani dengan rohani, dan teranglah bahwa permainan kanak-kanak, juga yang spontan keluar dari kemauannya sendiri, jadi tidak ditatur oleh gurunya (atau “pembantu”-nya menurut istilah Montessori) benar-benar mengandung faktor psychologis.

Dengan sendiri kita di sini pada nama Frobel, yang sangat mementingkan permainan kanak-kanak bagi “kindergardfen”-nya. Pokok perbedaan antara Montessori dengan Frobel ialah, karena pencipta Kindergarden yang terkenal di seluruh dunia itu memandang kanak-kanak dari sudut totalitet kejiwaan dan memandang permainan tadi sebagai gerak kondratnya kanak-kanak. Kegembiraan kanak-kanak tadi sebagai gerak kodratnya kanak-kanak. Kegembiraan kanak-kanak dan segarnya jiwa serta semangatnya, yang menggetar dan berseri-seri, selama kanak-kanak bermain di dalam “taman kanak-kanak,” itulah syarat mutlak menurut Frobel, guna memupuk perkembangan jiwa kanak-kanak. “Taman” dalam nama perguruan Frobel itu, bukan perkataan hampa, bukan hanya perlambang pula, tetapi memang dimaksudkan oleh si pencipta harus bersatunya jiwa kanak-kanak dengan tumbuh-tumbuhan pula, yang harus dipelihara menurut syarat-syarat keindahan. Demikianlah anjuran Frobel.

Montessori menunjukkan corak lain, ialah corak yang “zakelijk,” yang jauh dari maksud “puisi” atau “romantik.” Seperti nampak dalam sistem “Kindergartden,” Montessori menciptakan untuk sekolahnya pelbagai “permainan” yang bertujuan memasukan pancaindera pada instansi pertama, sedangkan menyenangkan kanak-kanak itu jatuh nomor dua. Itulah sebabnya para pegikut Frobel secara mengejek menamakan “Montessorischool” itu bukan ruang pendidikan, melainkan “laboratoriun” untuk meng”ekkerimentir” penyeleidikan “analitis psikologis” berasal dari doktor medika Montessori. Anak-anak yang menjadi “proefkonijn”-nya (alat percobaan).

            Bagaimanapun juga nyatalah, bahwa permainan kanak-kanak itu sungguh besar sekali paedahnya terhadap hidup tumbuhnya jasmani dan rohani kanak-kanak, karena sangat sesuai dengan dasar kodratnya kanak-kanak, baik dipandang biologis, psikologis maupun pedagogis.

Permainan dalam Kebudayaan Kita

Apabila kita pada waktu senja suka meninjau ke dalam kampung-kampung atau desa-desa, maka pastilah tertangkap dalam telinga kita bermacam-macam nyanyian-nyanyian kanak-kanak. Jika kebetulan terang bulan, maka sampai agak malam suara lagu-lagu itu terdengar, biasanya berbarengan dengan suara “gejong,” yaitu permainan memukul-mukul “lesung” (penumbuk padi) yang dilakukan dengan penuh irama. Pula pembacaan buku dengan “lagu-lagu” macapat di sana sini masuk ke dalam pendengaran kita. Di Pasundan kerapkali suara seruling atau kecapi mengisi suasana desa. Semuanya itu membuktikan adanya “musikalitas” pada bangas kita, yaitu adanya dasar seni-suara dalam hidup kebudayaan kita. Bukan itulah kini yang kita bicarakan. Yang sekarang menarik perhatian kita ialah kedudukan permainan kanak-kanak dalam hidup kebudayaan kita. Dalam pada itu bolehlah di sini diketahui, bahwa sebagian besar daripada permainan-permainan kanak-kanak kita itu disertai nyanyian-nyanyian yang membuktikan adanya “musikalitas” tadi juga pada anak-anak kita.

Pada permulaan karangan ini sudah saya kemukakan, bahwa jumlah permainan kanak-kanak itu besar sekali; ada yang timbul dari spontanitas kanak-kanak sendiri, ada yang rupa-rupanya ciptaan orang tua yang berbudi seniman. Dalam buku besar karangan dan himpunan H. Overbeck, penerbit “Java Institut” (Javaansche meisjesspelen en kinderliedjes) dapatlah kita menghintung 690 permainan dan nyanyian. Ini hanya permainan anak-anak perempuan saja. Rangkaian perkataan “permainan dan nyanyian” menunjukkan adanya hubungan yang erat antara kedua-duanya. Ada yang pokonya berwujud “permainan” tetapi dengan diantar lagi, ada pula yang pokoknya “nyanyian” tetapi disertai gerak-gerik yang berirama.

Barang tentu kita semua tahu adanya siaran-siaran radio, yang menyebutkan acara: permainan kanak-kanak (dolanan anak). Dan kita mengerti, bahwa kita akan mendengar nyanyian-nyanyian, yang dilagukan biasanya untuk mengantar permainan-permainan kanak-kanak. Juga dalam acara “klenengan” atau “uyon-uyon”, yang berati konser-gamelan, kadang-kadang diberitahukan adadnya “dolanan kanak-kanak.” Ini berarti para “niaga” akan memainkan dan “pesinden” akan melagukan nyanyian-nyanyian kanak-kanak. Bukti pula bersatunya permainan dan nyanyian. Tidak itu saja; dimainkannya lagu permainan kanak-kanak menunjukkan pula, bahwa lagu-lagu dolanan itu banyak yang cukup baik, cukup bernilai kesenian, hingga patut untuk didengarkan dan diraskan merdunya oleh orang-orang tua, sebagai seni-suara. (*)

Mimbar Indonesia No. 2-25 Desember 1948.

————————————-

Ki Hadjar Dewntoro adalah tokoh peletak dasar pendidikan nasional. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Pada tanggal 25 Desember 1912 dia bersama dr. Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo mendirikan Indische Partij. Setelah aktif di bidang politik dan sempat dibuang Pemerintah Kolonial Belanda, sekembalinya di tanah air pada tahun 1918, ia mencurahkan perhatiannya di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Bersama rekan-rekan seperjuanganya ia mendirikan National Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa, 3 Juli 1922. Dalam zaman pendudukan Jepang, kegiatannya di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hadjar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur, jabatan yang pernah dipegang setelah Indonesia merdeka ialah sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Tokoh dan pahlawan pendidikan ini tanggal kelahirannya 2 Mei oleh bangsa Indonesia dijadikan hari Pendidikan Nasional. Selain itu, melalui surat keputusan Presiden RI no. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959 Ki Hadjar ditetapkan sebagai Pahwalan Pergerakan Nasional. Penghargaan lainnya yang diterima oleh Ki Hadjar Dewantara adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada di tahun 1957. Dia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta.

Sumber: Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan Taman Siswa, Jogyakarta, 1962.

Continue Reading

Editor's Choice

Roehana Koedoes: Gerakan Kesukaan Perempuan di Zaman Ini

mm

Published

on

 

KALAU dilihat dan diperhatikan beberapa orang yang pintar-pintar atau orang yang belum terpelajar betul, seperti orang Eropa, orang Jawa, Melayu, Papua atau orang-orang huluan sekalipun, tiadalah selalu hari siang dan malam bekerja mencari penghidupan saja, akan tetapi terkadang-kadang sesudah bekerja pergilah ia melepaskan lelahnya waktu perhentian itu; kebanyakan ada pula yang disertai dengan beberapa gurau dan pekerjaan lain-lain yang meriangkan hatinya; dinamai kepelesiran, artinya kesukaan.

Misalnya bagi setengah bangsa Eropa pergilah ia ke sociteit main bola dan lain-lain, setengahnya pergi main tenis dan ada pula tempo-tempo yang pergi berburu, tentulah menurut keadaan atau keramaian negeri kebiasaan dan kesukaan masing-masing jua. Begitu jua pada bangsa kita Melayu bermacam-macam pula kesukaan kita; misalnya oleh orang laki-laki, main bambung, sepa’rago (sepak raga/sepak takraw, ed.), main layang-layang, basuling basarunai (bersuling berserunai, ed.), berabab bakucapi (bermain rebab dan kecapi, ed.) basilek bamanca (bermain pencak-silat, ed.) dengan bermacam-macam tari, main piring manca pedang (tari piring dan tari pedang, ed.), tari sewa (sejenis tari persembahan, ed.), mahadu balam bakatitiran (lomba kicauan burung balam dan ketitiran, ed.) dan lain-lain. Pada kita perempuan bacece bamomongan, bahagung batalempong babarmonika (beragam permainan musik; bercece bermomongan, bergong, bertelempong, berharmonika, ed.) dan lain-lain.

Selainnya dengan bunyi-bunyian lagu dan nyanyi, kepelesiran kita perempuan boleh dikata, selama ini masih kurang benar yang menuju jalan keselamatan, mengingat diri yang akan memberi faidah atau kesehatan badan; kalau saya tak salah terutama hanyalah baralek-alek memakai-makai pakaian yang indah-indah serta dengan beberapa emas dan intan, itulah saja kebanyakan kesukaan kita perempuan; hingga berniat berkaullah kita mudah-mudahan ninik mamak sanak saudara kita yang laki-laki dapat kekayaan akan pembeli barang yang indah-indah emas dan intan yang tersebut, dan bukanlah diniatkan untuk pembela bangsa dan tanah air.

Jadi orang kita melakukan kesukaan itu dengan perkakas perhiasan ada pula dengan perkataan kelakukan dan lain-lain menurut hati haluan kemauan dan maksud hidup jua, ada yang bersamaan dan banyak pula yang berlainan, agaknya menurut keadaan hidup pula, misalnya: seorang pesawah atau peladang kesukaannya memangkur (mencangkul, ed.) atau membajak, mengasah-asah pangkur dan bajaknya; melihat apabila padinya sudah berumbut atau kacangnya sudah mulai berisi-memupuk menghulangi dan menyiangi tanamannya itulah kepelesiran baginya.

Cerita orang laut setengah mendayung sampan atau menangkap ikan, berdayung waktu hari badai kena angin ribut hujan rintik-rintik, itulah kesukaan baginya.

Kesukaan seorang bahil lain pula macamnya: si bahil itu selalu hari memikirkan bagaimana harta bendanya – baik harta apa sekalipun, jangan hendaknya barang kepunyaanya itu didapat orang lain – walaupun harta benda yang tak berfaidah baginya atau yang tak berharga sekalipun; begitu juga kalau ia mempunyai uang itu selalu hari disimpannya di dalam peti, pergilah ia menghitung-hitung jangan hendaknya uang simpanannya di itu rusak, walau untuk pembeli makan-makanan yang berguna atau pakaian dan perhiasan yang akan membungakan hatinya, padahal baginya berpakaian sekedar untuk menutup badannya saja sedang makan-makanan sekedar penghilangkan lapar dahaganya saja – meskipun ia berkacinan (berkeinginan, ed.) memakan makanan yang agak lezat dan pakaian yang agak indah sedikit pada pemandangan mata dilawaninyalah nafsunya itu, dikatakannya pekerjaan itu sia-sia, takasir (mubazir, ed.), malah merugikan saja.

Demikianlah pula kesukaan orang yang suka memajukan bangsanya, nan sayang pada tanah airnya, selalu hari-hari duduk mengikhtiarkan bak mana (bagaimana, ed.) hendaknya supaya bertambah-tambah keuntungan atau perlahan bangsanya dan supaya terlepas dari pada bahaya kemiskinan, dan kepapaan, dan lagi supaya bangsanya mulai di mata bangsa asing.

Orang yang berhaluan demikian tiada lagi diperdulikannya jerih payahnya; baik dengan uang, baik dengan kesiksaan jiwanya; hanyalah siang malam beramal ia agar maksud dan niat hatinya lekas sampai. Besar hatinya melihat dan mendengar bangsanya bertambah keuntungan dan mulia dipandang orang meskipun jerih payahnya tak akan dibalas orang dengan uang dan lain-lain; karena kata dalam hatinya, haluannya adalah diturut orang, itulah upah yang berharga baginya; demikianlah pula kebalikannya orang “kaum kibir”, yang jadi kesukaan olehnya menghambat-hambat kemajuan bangsanya.

          Dan ada pula orang yang katanya “cinta akan bangsa dan tanah air”; kesukaannya “menggagahkan diri” hendak naik tangga sekali melangkah dua-dua atau tiga-tiga anak jenjang dan hendak membuat kapal terbang di Alam Minang Kabau akan menjadi tontonan bahwa Alam Minang kabau sudah berangsur-angsur bergerak menuju tingkat kemajuan yang diperlomba-lombakan oleh beberapa bangsa di zaman ini; sampai di sini saya kelokkanlah pena saya ke pada kesukaan pakaian.

Kalau ditilik dan diperhatikan bagaimana dan betapa bangsa Eropa berpakaian dengan perhiasan emas dan intan, sungguhlah amat bagus dan sederhana bagi pemandangan beberapa di antara kita bangsa Melayu nan telah ke-Orlando-orlandoan; bila diperhatikan prijs-prijs courant, dari tahun ke tahun tak puas-puasnya nafsu kesukaan bangsa Eropa itu tukar menukar model dan gunting bentuk tampan pakainnya.

Begitu juga bagi bangsaku Melayu, dari tahun ke tahun bertambah-tambah jua banyaknya bilangan orang yang menyukai dan menyerupa-nyerupai langgam pakaian orang Eropa itu.

Di bandar yang ramai di dekat kantor di ibu-ibu negeri atau di negeri-negeri yang telah mempunyai sekolah, banyaklah pula yang telah menukar-nukar kesukaan perhiasan pakaian itu; hal ini kebanyakan semakin bertambah kekayaan bangsaku, semakin lebih sukalah mereka itu hendak meniru perhiasan langgam cara Eropa itu; pun adalah bertambah bagus dan manis pula bagi pemandangan kebanyakan kita yang telah menyukai.

Ada pula beberapa di antara kita yang pada perhiasan bangsa dan tanah air, hingga memperkokoh mempertahankan dan memuliakan langgam pakaian lama itu; kasihan iba hati mereka itu, sama sekali akan diputar haluan perhiasan itu oleh kaum yang menyukai menyerupa-nyerupai langgam pakaian cara Eropa tadi; karena adalah pula seolah-olah kesukaan bagi mereka itu senang hatinya merasakan, melihat dan mencermini dadanya terhias dengan beberapa perhiasan emas dan intan grenteng-penteng dan lengannya terlingkar dengan beberapa buah marjan dan gelang emas yang bertahtakan delima dan intan berlian.

Sekarang sudah nyatalah bagi kita bahwa segala manusia di muka bumi ini, tiadalah sama hal kesukaannya yang menyenangkan hatinya, sebagai yang telah hamba rawikan di atas tadi. Jadi kalau dipikir dan diheningkan nyatalah segala orang di muka bumi ini amat susah akan ditarik kesamaan kesukaannya kalau segala orang, baik laki-laki baik perempuan belum sama kepandaiannya, perasaannya, penghidupannya, kecampuran hidupnya (omgang), kekayaannya, tempat tinggalnya dan lain-lain.

Karena kata setengah begini kata setengah begitu yang baik, yang lain pula berkata serupa ini yang bagus.

Ingatlah, meskipun si bahil itu kesukaannya seakan-akan menganiaya dirinya dan setengah si penghisap candu itu selalu hari mendapat kesiksaan tubuhnya menghisap di tempat yang kelam dengan kotorannya, semalah kesenangan hatinya dengan yang dirasai oleh seorang milioner yang setiap hari pelesir dan bersuka-sukaan di rumah besar atau di istana yang dihampari permadani dengan memakan berbagai makanan yang lezat-lezat.

Sepanjang pikiran saya, tiadalah akan dapat kesamaan kesukaan itu, hanyalah berharap kita kepada sekalian bangsaku perempuan di beberapa negeri nan suka memikirkan kemelaratan dan kesengsaraan bangsa kita, akan teguh-teguh memegang pedoman berusaha mengangkat bangsa kita dari lembah kerendahan dengan hati yang tetap, supaya kemanusiaan bangsa kita dipandang orang; apalagi bekal menantang musuh yang kesukaannya menghambat-hambat kemajuan yang baik. (*)

————————————-

Roehana Koedoes: adalah jurnalis dan pemimpin redaksi perempuan pertama di Indonesia. Lahir pada tanggal 20 Desember 1884, bersama Ratna Djoewita ia mendirikan surat kabar Soenting Melajoe setahun setelah ia mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia. Meskipun tidak sepopuler R.A. Kartini, cita-cita dan kerja kerasnya dalam memajukan dan menyadarkan kaum perempuan di Sumatra Barat tak kalah hebatnya. Ia meninggal pada tanggal 17 Agustus 1972. Roehana Koesdoes adalah kakak Sutan Sjahrir.

Sumber: Soenting Melajoe, Soerat Chabar Perempoen, Tahoen kedkoea, No. 28, hari Djoema’at 4 Joeli 1913, Padang.

 

 

 

Continue Reading

Trending