Connect with us

Cerpen

Panggilan Masuk Untuk Orang Mati

mm

Published

on

“Mohon maaf, Bapak tidak ada. Bapak sudah mati, 40 hari yang lalu. Kalau Anda ingin bertemu, silakan pergi ke San Diego Hills.” Tak kudengar suara apa-apa di seberang.

Oleh: Inas Pramoda *)

Bapak mati. Tak perlu aku memperhalus kata. Meninggal, wafat, berpulang, jasadnya sama-sama terkubur satu depa di bawah tanah. Seribu hari lagi juga bakalan menyusul jadi tanah. Dan kalau pusaranya ditanami rumput teki, bakalan tumbuh subur, sebab tanahnya peroleh nutrisi dari daging bapak hingga jadi humus. Dua kali ibu menelepon dari rumah selepas bapak mati. Pertama buat mengabari kalau bapak mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati. Kali keduanya panggilan masuk dari ibu, untuk sebuah pertanyaan singkat, “Marian, kamu ingat pin ATM Bapak?”

Untung saja aku ingat. Tak lain tanggal lahir Ras, adik bontotku. Sementara pin ATM ibu juga aku hafal betul, yang merupakan tanggal lahirku. Mengapa juga mereka berdua senang sekali bikin pin pakai tanggal lahir anaknya? Padahal seumur-umur aku buat pin, dan Ras juga sepertinya, tak pernah kepikiran pakai tanggal lahir mereka.

Bapak mati tanggal 14 bulan 5. Mungkin satu hari nanti ini bisa kugunakan jadi pin, atau kode gembok koper. Hari itu, aku tak bisa mengantar keranda bapak sampai ke San Diego Hills. Dan stok baju setelan hitamku tertinggal di rumah semua. Jadi saat hari berkabung, aku tetap mengenakan jaket hodie hijauku. Foto terakhir bapak saat masih terbaring di ICU tampak kurus, pipinya agak cekung, dan garis tulang rahangnya terlihat tegas. Yang di pikiranku adalah, itu bakal mengurangi beban bagi para penggotong kerandanya, juga orang-orang yang ikut menurunkan badan kaku bapak ke lantai tanah.

Om Hendra, adik bapak, ia yang meluruskan mayat bapak dan melepas ikatan kafannya mulai kepala. Sebelum lahadnya bakal ditutupi papan kayu yang hanya berjarak sekilan dari badannya yang lambat-lambat membusuk. Om Hendra jadi kerabat bapak paling dekat hari itu, sebab om-om yang lain sudah lebih dulu mati. Sementara Ras, putra kandung bapak, tak ada di rumah. Mungkin juga nanti kalau aku mati, dan suamiku sedang dinas keluar kota, maka Ras yang bakal turun merebahkan jasadku ke lubang kubur.

Berita bapak mati bisa jadi kabar buruk, tapi ada juga baiknya. Sewaktu bapak masih dirawat, aku masygul untuk ikut wisuda. Sebab khawatir kalau nunggu sampai wisuda keburu bapak mangkat. Kalau terlanjur begini, sudah barang tentu toga yang masih anteng di lemari itu bakalan kupakai. Setidaknya setelah bapak mati, ada beberapa hal yang jadi terang, ada beberapa keputusan yang bisa segera diputuskan. Hanya ada satu yang sempat kepikiran, bagaimana sebetulnya prosesi salat gaib yang layak?

Aku cukup rajin salat lima waktu, kubilang cukup karena ada yang terpotong libur bulanan. Namun salat gaib, kukira ini yang perdana. Aku mesti cari tahu dulu keterangannya di internet, dan karena dulu bapak pernah berpesan jangan percaya bulat-bulat apa yang terpampang di situ, aku meminjam buku yasin tahlil milik teman. Dan dari temanku itu, berita kematian bapak merembes dari kuping ke kuping. Hingga akhirnya banyak temanku merasa iba. Sebagian lagi kikuk bagaimana menghadapi orang yang sedang berduka. Kebanyakan adalah orang-orang golongan kedua ini.

Gambar kuburan bapak yang masih basah lalu beredar di media sosial, sambil beberapa menandai nama bapak, juga menyebut namaku dan Ras. Kebanyakan diunggah oleh sepupu dan tante yang datang melayat. Satu yang kusadari ketika orang yang kamu sayangi mati adalah, teleponmu akan lebih ramai dari hari-hari yang lain. Seperti euforia yang sesaat. Sebelum kemudian ingatan orang-orang disibukkan dengan perkara kecil lain yang tak boleh mereka luputkan. Dan perkara kecil itu tak termasuk kematian bapak.

Bagiku setelah bapak mati, itu hanya akan menambah alasan untuk melawat San Diego Hills. Aku bisa sekalian gelar tikar dan mengadakan piknik kecil-kecilan di sana. Pemakaman swasta itu memang dipermak sedemikian rupa hingga para peziarah tak perlu merasa takut, walau harus datang menjelang malam, atau malam sekali pun. Kalau saja tak ada tanda pengenal orang mati, tempat itu serupa taman kota, atau alun-alun. Sepertinya memang bagus kalau pemakaman jadi tempat yang menyenangkan. Meski di bawah tanah tetap dingin, dan cacing berkelindan dengan belulang. Dan bapak mungkin berbagi daging dengan cacing-cacing yang menggemburkan tanah di peraduan Om Rupawan. Toh nisan mereka bersebelahan.

Ternyata sepetak tanah itu sudah dibeli bapak jauh-jauh hari. Sejak kanker mulai menggerayangi tubuh kecilnya yang kian musim kian ceking. Bahkan orang mati masih ingin dikumpulkan bersama orang-orang terdekatnya, aku membatin. Dan sempat terpikir di tempurung kepalaku, apa perlunya begitu? Walau kubur berdempetan juga, kalau sudah jadi mayat tak mungkin kelayapan. Namun ibu potong, “Biar yang ziarah bisa sekalian ngunjungin kerabat.” Itu alasan yang bagus, dan tak perlu ditampik-tampik lagi. Aku harus belajar untuk mengarang alasan semacam itu, agar tak melulu diteror dengan pesan masuk berpuluh-puluh dari seorang lelaki yang menyangka kita pernah demikian dekatnya, dulu.

Ibu baru saja mendarat tadi sore. Hanya menenteng satu koper kecil yang isinya kastangel dan putri salju, juga rok batik yang ia pesan untuk kukenakan saat wisuda besok. Namun sial betul, hingga menjelang tengah malam, hujan tak kelar. Yang berarti esok bakal becek-becekan. Itu masih mending kalau bukan hujan lagi. Kampus pintar sekali menjadwalkan wisuda saat minggu basah begini, dan lebih pintar lagi karena menyiapkan tempat di lapangan. Serampungnya cari makan malam tadi, ibu langsung lemas terlelap. Kalau ada bapak, semestinya ia ikut terlelap di samping ibu sekarang. Karena bapak sudah mangkat, ia hanya datang lewat cerita-cerita ibu seharian tadi. Meski tanpa air mata, cerita ibu malah terdengar lebih menyayat lagi. Bisa kudengar getir kesepiannya saat mulai bercerita Kartu Keluarga yang baru telah dicetak, dan ibu kini jadi kepala keluarganya.

“Sekarang anak-anak gak boleh pulang malem-malem lagi, nanti ibu kunci dari dalem. Tidur di luar.”

Aku susah sekali tidur, padahal tujuh menit ke depan sudah bakal jam tiga. Dan nanti sebelum genap jam delapan kudu berkumpul di kampus. Mataku bergantian melirik layar hpku, lalu layar hp bapak. Itu dibawa ibu dari rumah, dan dibiarkan menyala. Sengaja kata ibu hp bapak tak dimatikan, bukan karena alasan sentimental misalnya banyak tertimbun foto mereka berdua di sana, tapi karena banyaknya langganan dan tagihan yang memakai akun bapak, nomor bapak. Jadi nomor hp bapak dibiarkan aktif, meski itu berarti pesan-pesan masuk ke nomor tadi terus berdatangan, dan terus mengganggu.

Ibu menepuk-nepuk pahaku, tak sampai menyakiti tapi cukup untuk membangunkan. Kelopak mataku rasanya berat, seperti ada kepompong yang memaksa bergelantungan di sana dan enggan jatuh, jadi aku hanya bisa membukanya perlahan, demikian pelannya. “Marian, kamu mau terus tidur apa wisuda?” begitu saja tanya ibu.

Wisuda itu aku membopong sepatu cantikku alih-alih mengenakannya seperti tuan putri. Dan terlihat jelas sendi-sendi jemari kakiku yang bulat-bulat. Sandal jepitku anggun sekali diapit dua jari yang biasa kugunakan untuk menyubit paha temanku saat bermain-main itu. Hari ini tepat 40 hari bapak mati. Kalau langit hujan karena menangisi bapak, akan lebih baik kalau ia diam saja, dan aku tak perlu menenteng-nenteng sepatu sambil menunggu rangkaian acara wisuda kelar. Belum lagi pakai jas hujan tembus pandang yang disiapkan kampus, agar toganya masih kelihatan. Sempurna.

Seharian yang melelahkan, dan menyenangkan, melihat orang-orang di sekitarku merayakan hari ini. Bagiku, dua perayaan. Perayaan kelulusan, dan 40 hari bapak mati. Dipikir-pikir, dengan matinya bapak, itu juga mengurangi biaya tiket pulang-pergi. Mungkin yang satu itu harus disyukuri. Namun tetap saja, semua jadi sepi. Ibu mengumpulkan aku dan Ras untuk membaca doa selepas isya. Bukan artinya kami hanya berdoa sekali waktu itu, tapi ini sedikit istimewa saja. Aku lelah. Ibu dan Ras juga mungkin lelah, tapi Ras habis dapat sepatu baru, dan ibu beli termos tenteng baru. Kedua-duanya itu, sepatu dan termos, bisa dibeli di rumah, kenapa mesti jauh-jauh ke China, protesku.

“Yang di rumah juga made in China Mar, sama aja toh,” tungkas ibu.

Malam itu aku habiskan dengan merapikan ponsel bapak. Aku meninggalkan obrolan-obrolan grup tak penting biar tak bikin ribut. Mungkin menurut bapak itu penting, tapi menurutku tidak, dan tak ada sangkut-pautnya dengan tagihan, jadi aku keluarkan. Aku membuka email-email masuk yang belum sempat dibaca, membalasnya bila perlu dibalas, dan memastikan tak ada sisa dari kotak masuk yang belum terjamah. Aku rasanya berperan menjadi bapak, sedikit. Ibu sudah jadi kepala keluarga baru. Ras? Anak yatim. Kalau dipikir seperti ini, makin yakin aku bapak betul-betul telah mati.

Lalu sesaat saja setelah aku menggeletakkan ponsel bapak di samping lampu meja, ia berdering. Panggilan whatsapp dari nomor tak dikenal. Padahal lampu sudah kumatikan, dan tinggal aku yang terjaga.

“Halo, malam.”

“Malam.” Suara wanita.

“Ini dengan siapa ya?”

“Betul ini nomornya Pak Nugros?”

“Iya, betul, dengan siapa ya?”

“Baik kalau begitu, Bapak ada?”

“Ini dengan siapa ya?”

“Bilang saja, ini dengan istrinya.”

Aku melihat ibu agak menggigil di sebelah. Kunaikkan sedikit selimut hingga ke tengkuknya. Lalu kumeraba-raba meja di samping kasur buat menggapai remot ac, dan menaikkan suhu di kamar. Selama jeda itu panggilan belum terputus. Untunglah.

“Mohon maaf, Bapak tidak ada. Bapak sudah mati, 40 hari yang lalu. Kalau Anda ingin bertemu, silakan pergi ke San Diego Hills.” Tak kudengar suara apa-apa di seberang. “Dan mohon, setelah ini, jangan menghubungi nomor Bapak lagi. Bapak sudah mati.” Baru kemudian aku yang menutup panggilan duluan. Aku mengelus kepala ibu, dengan alasan yang sentimental. Ibu sudah jadi kepala keluarga, Ras anak yatim, dan aku baru saja menerima panggilan atas nama bapak. Jadi benar, bapak sungguh-sungguh telah mati. (*)

Rabat, 8 Juli 2019

_______

*) Inas Pramoda lahir di Jakarta, 11 Agustus 1996. Merantau ke Singosari—bekas kerajaan yang menyisakan candi-candi—selepas sd. Bergabung dengan teater Sajadah Senja sewaktu sma, memilih jurusan bahasa dan sastra. Kuliah di Maroko sejak 2014, terhitung sampai 2019 ini sedang menempuh master perbandingan agama di Univ. Hassan II Casablanca. Inas Pramoda—meminjam istilah Seno—seorang Homo Jakartensis. Penulis antologi puisi “Purnama Merah” dan “Kasus Rindu”. Bisa disapa di ig: @inaspramoda

 

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

William B Yeats: Tidak Ada Apa Pun Selain Tuhan

mm

Published

on

KEPALA BIARA pastor Malathgeneus, Pastor Dove, Pastor Bald Fox, Pastor Peter, Pastor Patrik, Pastor Bittern, Pastor Fair Brows, duduk mengelilingi api. Salah seorang sibuk menjahit jaring untuk menangkap belut di sungai. Seorang lagi mengatur perangkap burung, seorang membetulkan pegangan sekop yang rusak, yang lain tengah menulis di buku besar, dan seorang lagi tengah memaku kotak emas di pojok yang digunakan untuk mengikat buku. Dan di antara semak-semak sekat api, berbaring seorang pelajar yang pada suatu hari telah menjadi saudara mereka. Dia seorang anak berusia 8-9 tahun beranama Olioll, terbaring sambil menerawang bintang yang muncul-hilang di awan. Dia beralih ke pastor yang sedang menulis di buku besar, yang memang tugasnya sebagai guru Olioll. Olioll berkata, “Pastor Dove, bintang itu terikat pada apa?”

Pastor Dove senang mendengar keingintahuan muridnya yang terkenal bodoh itu. Sambil meletakkan pulpennya dia berkata, “Ada sembilan bola yang terdiri dari kristal; bulan terikat pada yang pertama, kedua Planet Merkurius, ketiga Planet Venus, keempat matahari, kelima Planet Mars, keenam Plane Jupiter, ketujuh Planet Sartunus. Itulah bintang-bintang yang berkeliling, dan pada yang kedelapan terikat bintang tetap, tetapi bola yang kesembilan adalah bola yang termuat dari substansi pertama.”

“Apa yang ada di jauh sana?” tanya anak itu.

“Tidak ada lagi, kecuali Tuhan.”

Kemudian mata anak itu tertuju pada kotak emas, dan berkata, “Mengapa Pastor Peter menaruh batu delima besar di sebelah kotak itu?”

“Batu delima adalah simbol kecintaan pada Tuhan. Karena batu delima itu merah seperti api dan api membakar apa saja, dan bila sudah tidak ada apa-apa, Tuhan itu tetap ada.”

Olioll hanyut dalam kesunyian, tapi tiba-tiba dia bangkit dan berakata, “Ada orang di luar.”

“Tidak ada,” jawab Pastor Dove. “Itu hanya  serigala; aku sering mendengar mereka berkeliaran di salju beberapa kali. Mereka sangat liar, dan sekarang musim dingin membuat mereka keluar dari gunung. Kemarin malam mereka mengganggu biri-biri, dan bila kita tidak hati-hati, mereka akan merusak apa saja.”

“Bukan, itu langkah-langkah manusia, karena langkahnya berat; saya bisa membedakannya dengan suara langkah serigala. Saya akan membuka pintu, karena mereka pasti kedinginan.”

“Jangan buka pintu, karena mungkin itu manusia serigala dan mereka akan menyerang kita!”

Tetapi anak itu sudah membuka pintu; seseorang terlihat pucat ketika pintu terbuka.

“Dia pasti bukan manusia serigala,” kata Olioll, karena bahu orang itu terletak dekat perut. Orang itu lalu masuk dan menatap semua orang secara perlahan, berdiri mengambil jarak dekat api; dan akhirnya tertuju pada Pastor Malathgeneus, dia berkata:

“Yang Mulia, saya mohon izin ikut menghangatkan diri dekat api, agar saya tidak mati kedinginan karena kemarahan Tuhan.”

“Mendekatlah ke api,” kata Pastor Malathgeneus. “Adalah hal yang menyedihkan jika ada orang Kristen mati dalam keadaan menderita seperti Anda.”

Laki-laki itu duduk di dekat api dan Olioll menghidangkan daging, roti, dan anggur di hadapannya. Tetapi dia hanya mau rotinya saja dan menolak anggur, lalu meminta air. Ketika jangut dan rambutnya mulai kering, ia mulai bicara lagi:

“Beri saya pekerjaan, mungkin pekerjaan yang paling berat, karena saya adalah orang termiskin di antara makhluk Tuhan yang miskin.”Para Pastor itu pun berunding membahas pekerjaan apa yang pantas diberikan pada lelaki itu, karena saat itu tidak ada pekerjaan yang kekurangan tenaga. Tetapi akhirnya mereka ingat pada usaha Pastor Bald Fox yang bisnisnya beralih ke perumahan, sehingg ia bisa pergi ke sana di pagi hari, karena ia tak mampu dan terlalu tua untuk mengerjakan yang lain.

Musim dingin berlalu, berganti musim semi dan beralih ke musim panas, dan para pekerja tidak berpangku tangan; tidak ada yang enggan, juga jika ada peminta-minta yang menyanyikan lagu. Penyebab kemurungan Olioll di waktu lalu, sehingga ia kerap terpisah dari saudara-saudaranya, adalah karena dari dulu ia bodoh dan tidak bisa diajar atau belajar. Tetapi sekarang kemurungan itu telah berlalu, karena dia berubah menjadi pintar dan adalah “keajabian” tatkala kepintaran itu datang secara tiba-tiba. Suatu hari bahkan ia pernah lebih tolol dari biasanya dan diancam akan diturunkan ke kelas di bawahnya bila ia tetap tidak bisa mengerti pelajaran-pelajarannya, dan tentu ia akan ditertawakan oleh anak-anak lain. Tetapi ia telah melewati perjalanan penuh deraian air mata itu. Akhirnya dia naik kelas, dan menjadi pelajar yang terpintar.

Pada mulanya Pastor Dove mengira ini adalah jawaban dari doa-doanya, sehingga ia merasa bangga. Tetapi setelah ia mencoba mendoakan hal-hal yang penting, dia gagal. Dia meyakinkan dirinya, bahwa anak itu adalah petunjuk adanya sihir. Dia menceritakan pemikirannya pada Kepala Biara, yang menyuruh datang ketika dia diminta membuktikan kebenarannya. Pada hari berikutnya, di hari Minggu, pastor Dove berdiri di jalan setapak. Ketika Kepala Biara dan pastor-pastor lain datang dari kebaktian malam dengan ditandu oleh para pelayan, ia berkata:

“Peminta-minta itu adalah orang yang paling suci dari orang-orang suci dan pekerja yang ajaib. Baru saja saya mengikuti Olioll, sampai dia tiba di hutan kecil dekat perumahan pekerja. Saya tahu karena ada jalan setapak yang rusak, dan dari bekas-bekas kaki di tempat berlumpur di mana dia telah melalui jalan itu berkali-kali.

William Butler Yeats
Yeats  adalah sastrawan pertama Irlandia yang memperoleh penghargaan nobel sastra, persisnya pada 1923. Ia Lahir di Sandymount, Irlandia tahun 1865 dan meninggal tahun 1939. Yeats adalah penyair yang sangat dihormati di negaranya, sekaligus menjadi panutan bagi penyair-penyair yang lebih muda, karena kemampuannya menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan makin mendekati usia tua, puisi-puisinya main matang. Yeats lebih dikenal sebagai penyair, meskipun ia juga menulis drama dan esai. Kumpulan puisi pertamanya The Wondering of Oisin and Otehr Poems (1889) menandai eksistensinya di dunia sastra, kemudian disusul dengan buku-buku lain. Tetapi ia paling dikenal berkat kumpulan-kumpulan puisinya yang terbit kemudian, The Tower (1928), The Winding Stair (1933), dan Last Poems (1940).



“Saya bersembunyi di semak-semak, di mana ada jalan setapak di tempat yang miring dan saya tahu, dari deraian air matanya, bahwa kebodohannya sudah terlalu lama dan kecerdasannya datang terlalu cepat. Ketika dia di perumahan para pekerja, saya pergi ke jendela dan melihat ke dalam; burung-burung datang dan hinggap di kepala dan bahu saya, karena mereka malu-malu di tempat suci itu. Dan seekor serigala lewat, kaki kanannya mengentak semak-semak. Olioll membuka bukunya dan melihat pada halaman yang saya suruh untuk dipelajarinya.

“Tetapi ia menangis; pengemis tua yang duduk di sampingnya lalu menenangkannya sampai Olioll tertidur. Ketika dia sudah tertidur lelap, pengemis itu bersujud dan berdoa dengan keras, katanya, “Tuhan yang menguasai seluruh bintang dan segalanya, kepunyaan-Mu adalah awal dari segala kekuatan; berikanlah pengetahuan setelah dia bangun dari tidurnya nanti, pengetahuan yang tidak ada di dunia ini.’ Kemudian sebuah cahaya berkobar di udara dan tercium semerbak bunga mawar. Pengemis itu beralih melihat pada saya, lalu membungkuk dan berkata, ‘O, Pastor Dove, bila saya telah melakukan kesalahan, maafkan saya, dan saya akan melakukan penebusan dosa. Kebodohan saya yang membawa saya kemari, tapi saya takut dan berlari, dan terus berlari sampai saya datang kemari.’”

Kemudian semua pastor berbicara bersama-sama; salah satu mengatakan bahwa dia sosok orang suci, yang lain mengatakan yang suci bukan dia tapi yang lain, yang satu mengatakan bahwa ia bukan orang suci, dan perbincangan itu hampir mendekati pertengkaran karena semua mengklaim orang suci karena asalnya. Pada akhirnya Kepala Biara berkata, “Dia bukanlah salah satu dari yang kalian bicarakan; saya ucapkan terima kasih pada semuanya. Dia Aengus, seorang pengembara yang tak punya tujuan. Sepuluh tahun lalu dia pergi ke hutan dan kerjanya hanya memuji Tuhan; banyak kabar tentang kesuciannya yang membawa banyak berkah. Sembilan tahun lalu dia hanya mengenakan kain buruk, dan sejak hari itu tak seorang pun yang melihatnya, karena dia menjauh dari manusia dan hidup dengan serigala di hutan. Dia hanya makan rumput-rumput yang tumbuh di ladang. Mari kita menghadap dia dan memberi hormat padanya, karena setelah mengalami pencarian diri yang lama, dia tidak menemukan apa pun kecuali Tuhan!” (*)

Continue Reading

Cerpen

Perempuan Bermata Merah

mm

Published

on

“Yang merasa kawanku, angkat tangan! Yang merasa selingkuhanku, angkat bicara! Yang merasa mantanku, angkat kaki!”

Oleh: Syukur Budiardjo[1]

Demikian update status terbaru yang ditulis oleh perempuan bermata merah di akun facebooknya. Perempuan bermata merah? Ya! Karena setiap malam ia selalu membunuh waktunya shingga menjelang subuh dengan menulis status di dinding beranda facebooknya atau chatting dengan siapa pun yang disukainya. Karena kurang tidur, matanya terlihat merah. Sangat merah.

Malam-malam panjangnya selalu ia gunakan untuk curhat dan berbicara dengan lelaki yang menjadi kekasihnya di dunia maya. Sementara itu, putri semata wayangnya telah tidur pulas, Ia berbicara apa saja yang berkelebat di dalam kepala atau hatinya. Tanpa beban. Juga mendengarkan keluh kesah yang disampaikan kekasihnya. Dengan bahasa yang mbeling. Atau barangkali malah vulgar!

Namun, pertemanan perempuan bermata merah itu dengan lelaki kekasihnya, selalu berumur pendek. Ia merasa bosan. Ia akhiri pertemanan itu. Ia kemudian mencari kekasih lagi. Ia berbicara dan mendengar lagi dengan kekasih barunya. Ia bosan lagi. Ia putuskan cintanya. Ia mencari kekasih baru lagi. Ia berbicara dan mendengar lagi. Ia sudahi lagi karena bosan. Hingga tak terhitung dengan jari tangan mantan kekasihnya di dunia maya. Mangsanya bertumbangan.
                                                         

                                                                   ***

Perempuan bermata merah itu masih duduk menghadap laptop ketika nyanyian jengkerik di tengah malam masih terdengar. Lolong anjing liar tak membuatnya takut, kemudian berhenti mencari mangsa. Ia tak peduli. Karena malam hari baginya adalah waktu kebahagiaan itu bersemayam di dalam hatinya. Meski diwarnai dengan kata-kata tak sedap didengar. Ia masih juga chatting dengan kekasihnya yang baru.

Perempuan bermata merah itu adalah perempuan yang kesepian jiwanya, juga raganya. Karena suaminya pergi meninggalkannya begitu saja. Tanpa alasan yang jelas. Pergi tanpa kabar. Dengan meninggalkan anak perempuan yang masih bersekolah di kelas satu sekolah dasar.

                                                               ***

Perempuan bermata merah itu mengambil tempat duduk di dalam kamarnya setelah meletakkan majalah kesukaannya ke atas meja. Sesaat kemudian ia menyeruput teh hangat. Sinar matahari pagi menerobos masuk ke dalam kamarnya. Putri semata wayangnya telah diantarkannya ke sekolah.

Ia lalu membuka laptopnya, kemudian menyalakan akun facebooknya. Ia terperanjat. Karena ada delapan pesan yang masuk ke dalam kotak pesan. Padahal, setiap hari ia menerima paling banyak tiga pesan inboks. Itu pun rata-rata berisi ucapan terima kasih karena perempuan muda itu telah mengabulkan permohonan pertemanan. Tak lebih dari itu.

Perempuan bermata merah itu selalu memosting statusnya setiap hari. Tak pernah henti. Di atas dua ratusan orang yang menyukai, setiap kali postingan statusnya muncul di beranda facebookinya. Komentar atas statusnya pun kebanyakan memujinya. Itu entah karena foto profilnya atau isi statusnya. Bisa keduanya atau bisa salah satunya.

Wajah yang menghiasi foto profilnya memang cantik! Wajah Asia khas Melayu. Alis matanya legam berbentuk bulan sabit. Matanya mampu menyihir siapa pun yang melihatnya, bagaikan mata elang yang sangat awas menemukan mangsanya. Hidungnya menyerupai hidung yang dimiliki oleh bangsa-bangsa asli di Timur Tengah atau Eropa. Bibirnya tipis merah merekah seolah hendak membisikkan pesan rahasia nan terselubung. Rambutnya yang hitam panjang terbelah dua di sebelah kiri dan kanan, menutupi wajahnya yang putih bersih.

                                                               ***

“Ah, cuma ucapan terima kasih!” Ia berkata lirih. Sudah enam pesan di kotak pesan dibukanya. Semuanya berasal dari laki-laki dan semuanya berisi ucapan terima kasih.

“Ha!” Ia terbelalak ketika membaca pesan ketujuh. Ia mulai membaca perlahan dan mencermati kata demi kata.

“Hai! Apa kabar sayang? Maukah kau menjadi pacarku di facebook? Aku menyukai bibirmu yang tipis, juga alis matamu yang hitam bagaikan celurit. Tapi yang membuatku menjadi tak bisa tidur adalah matamu yang menerkamku!”

“Hahahaha …. Picisan! Dasar lelaki buaya! Cuma pandai merayu di facebook! Gombal! Pret!” Ia mencemooh. Ia tak membalas pesan itu. Ia tak menggubrisnya.

Ia kemudian membuka pesan terakhir. Ia terpekik. Menahan napas. Matanya menembak kata per kata yang tertulis di kotak pesan.

“Dasar wanita peselingkuh! Kau tak lebih dari musang berbulu domba. Karena kau telah merebut suamiku. Dengan modal status yang kau posting di facebook kau racuni suamiku dengan kata-kata yang memabukkan. Dasar wanita pelakor!”

“Memang, kau sangat pintar merakit pesan rayuan yang kau kemas dengan kata-kata mutiara! Benar-benar menyakitkan! Coba bayangkan, jika posisimu ditukar dengan posisiku! Pasti kau juga akan marah! Dasar wanita berakhlak comberan!”

Sesaat perempuan bermata merah  itu terkesima. Belum sempat ia menjawab pesan terakhir yang menusuknya,, pintu rumahnya diketuk tamu.

“Kring! Kring! Kring!” Telepon genggamnya juga berdering. Ia hanya mematung.

Sesaat kemudian perempuan bermata merah itu mematikan telepon genggamnya. Kemudian ia membuka pintu. Namun, tak ada siapa pun. 

                                                                ***

Malam hari perempuan bermata merah itu kembali membuka akun facebooknya. Kemudian ia melihat-lihat kabar berita di beranda facebooknya. Ia lalu chatting dengan kekasih mayanya.  

Menjelang subuh ia mengakhiri perbincangan dengan kekasihnya. Akan tetapi, ia tak menyadari ada sepasang mata selalu mengawasinya. Ketika lengking muazin tepat waktu subuh terdengar, sepasang tangan kekar bertato kupu-kupu di lengan kanan, membekap mulutnya. Ia memberontak, tetapi tak berhasil. Perempuan bermata merah itu kehabisan napas. Lemas. Lunglai.

Cibinong, Oktober 2020


[1] *) Syukur Budiardjo, Penulis dan Pensiunan Guru ASN di DKI Jakarta. Alumnus Fakultas pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Jakarta. Menulis artikel, cerpen, dan puisi di media cetak, media daring, dan media sosial. Kontributor sejumlah antologi puisi. Menulis buku kumpulan puisi Mik Kita Mira Zaini dan Lisa yang Menunggu Lelaki Datang (2018), Demi Waktu (2019), Beda Pahlawan dan Koruptor (2019), buku kumpulan esai Enak Zamanku, To! (2019), dan buku nonfiksi Straegi Menulis Artikel Ilmiah Populer di Bidang Pendidikan Sebagai Pengembangan Profesi Guru (2018). Tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Continue Reading

Cerpen

Gabriel Garcia Marquez: Monolog Isabel Memandangi Hujan di Macondo

mm

Published

on

Gabriel Garcia Marquez*

Musim dingin jatuh pada suatu Minggu saat orang keluar dari gereja. Sabtu malam udara sudah terasa menyesakkan. Namun, hingga Minggu pagi tak seorang pun menduga akan turun hujan. Seusai misa, sebelum kami kaum wanita sempat menemukan gagang payung kami, angin tebal gelap berhembus dengan pusaran luas menyapu debu dan sampah berat bulan Mei. Seseorang di sebelahku berucap: “Ini angin basah.” Dan itu sudah kuketahui sebelum terjadi. Saat kami berjalan keluar, di tangga gereja kurasakan mual menggoncang perutku. Para pria berlarian ke perumahan terdekat dengan satu tangan memegang topi dan tangan lainnya memegang sapu tangan, berlindung diri dari debu dan angin. Lalu hujan turun. Dan langit bagaikan zat kental kelabu yang mengepakkan sayap-sayapnya setengah depa di atas kepala kami.


One Hundred Years of Solitude mengisahkan tentang naik turunnya, kelahiran dan kematian kota mitos Macondo melalui sejarah keluarga Buend. Penuh dengan kehidupan, menghibur, magnetis, sedih, dan berkisah tentang hidup pria dan perempuan yang tak terlupakan—penuh dengan kebenaran, kasih sayang, dan sihir liris yang menyerang jiwa—novel ini adalah mahakarya seni fiksi.

Sepanjang sisa pagi itu aku dan ibu tiriku duduk dekat pagar, merasakan bahagia bahwa hujan akan menyegarkan lagi kuntum-kuntum rosemary dan nard yang dahaga di pot-pot bunga, setelah tujuh bulan menjalani musim terik dan debu membakar. Pada tengah hari gaung bumi berhenti dan aroma tanah yang berganti, tetumbuhan yang bangkit dan hidup kembali, bergabung dengan hawa sejuk dan segar dari hujan yang jatuh di kuntum-kuntum rosemary. Sewaktu makan siang ayahku berkata: “Hujan di bulan Mei adalah suatu pertanda akan datang masa yang baik.” Sambil tersenyum, dilintasi berkas cahaya musim baru, ibu tiriku berkata padaku: “Itulah yang kudengar dalam khotbah.” Dan ayahku tersenyum. Ia makan dengan lahap dan mengunyah makanan perlahan-lahan di samping pagar, diam, mata terpejam, namun bukan tidur, seakan ia membayangkan sedang bermimpi saat jaga. Hujan turun sepanjang sore dalam nada tunggal. Engkau dapat mendengar air jatuh dalam kekerapan yang seragam dan damai, seperti yang dapat engkau dengar saat engkau bepergian sore hari dengan kereta api. Namun, tanpa kami perhatikan, hujan merasuk terlampau jauh ke dalam perasaan kami. Senin dini hari, ketika kami menutup pintu untuk menghindari angin dingin menusuk yang berhembus dari halaman, perasaan kami sudah dipenuhi hujan. Dan Senin pagi air sudah meluap. Aku dan ibu tiriku menuju belakang rumah untuk melihat taman. Tanah kasar bulan Mei yang kelabu telah berubah dalam semalam menjadi zat hitam becek seperti sabun murahan. Tetesan air mulai meninggalkan pot-pot bunga. “Kukira pot-pot bunga itu telah mendapat air lebih dari cukup sepanjang malam,” gumam ibu tiriku. Dan kuperhatikan senyumnya sirna dan kesenangannya di hari sebelumnya telah berubah malam itu menjadi keseriusan yang memelas dan menjemukan. “Kukira engkau benar,” kataku. “Lebih baik menyuruh orang-orang Indian itu menaruh pot-pot itu di beranda sampai hujan berhenti.” Dan itulah yang mereka lakukan, ketika hujan menderas seperti pohon raksasa di atas pepohonan lainnya. Ayahku memandangi tempat ia berada pada Minggu sore, namun ia tak bicara soal hujan. Ia berkata: “Tadi malam aku pasti tak nyenyak tidur sebab aku bangun dengan punggung terasa pegal.” Dan ia ada di sana, duduk di samping pagar dengan kaki di atas kursi dan kepala menghadap ke taman yang kosong. Baru pada petang hari, setelah ia menolak makan siang ia berucap: “Kelihatannya langit takkan pernah cerah lagi.” Dan aku ingat bulan-bulan yang panas. Aku teringat bulan Agustus, tidur siang yang panjang dan gundah di mana kami merebahkan tubuh untuk mati di bawah beratnya hawa panas, pakaian lengket ke tubuh, mendengar hiruk-pikuk di luar yang terus-menerus dan dungu dari waktu yang tak pernah berlalu. Kulihat dinding-dinding basah kuyup, sambungan-sambungan balok memuai oleh air. Aku melihat ke taman kecil, kosong mula-mula, dan rumpun melati pada dinding, yang setia pada kenangan akan ibuku. Kulihat ayahku duduk di kursi goyang, punggung sakitnya bersandar pada sebuah bantal, dan mata dukanya tersesat ke dalam labirin hujan. Aku teringat malam-malam bulan Agustus, keheningannya yang menakjubkan, tak sesuatu pun terdengar selain suara ribuan tahun bumi, yang berputar pada porosnya yang berkarat dan tak berpelumas. Tiba-tiba aku merasa dicengkam nestapa tak terperi.

Hujan turun sepanjang Senin, sebagaimana hari Minggu. Tapi, kini seakan hujan turun dengan cara lain, sebab sesuatu yang berbeda dan getir terjadi dalam hatiku. Pada petang hari sehembus suara di samping kursiku berkata: “Hujan ini sungguh menjemukan.” Tanpa menoleh, kukenali suara Martin. Aku tahu ia berkata di kursi sebelah, dengan ungkapan dingin yang sama dan menggiriskan yang belum berubah, bahkan belum berubah sejak fajar Desember yang muram, saat ia mulai menjadi suamiku. Lima bulan telah berlalu semenjak itu. Kini aku akan mempunyai seorang anak. Dan Martin di situ, di sampingku, berkata bahwa hujan membuatnya jemu. “Bukan menjemukan,” kataku. “Bagiku terasa menyedihkan, melihat taman yang kosong dan pohon-pohon ranggas yang tak bisa berlindung dari hujan.” Lalu aku menoleh ke arahnya dan Martin tak lagi di sana. Hanya sebersit suara berkata padaku: “Tampaknya takkan pernah cerah lagi,” dan ketika kutoleh ke arah suara itu hanya kudapati kursi kosong.


No One Writes to the Colonel
Ditulis dengan realisme dan kecerdasan welas asih, kisah-kisah dalam koleksi yang memikat ini menggambarkan perbedaan kehidupan kota dan desa di Amerika Selatan, tentang kenangan dan ilusi akan ruang antara yang sangat miskin dan terlampau kaya, serta peluang yang hilang dan kegembiraan saat ini. Jumat selalu berbeda. Setiap hari dalam seminggu, Kolonel dan istrinya yang sakit berjuang terus-menerus melawan kemiskinan dan kehidupan yang monoton,  mereka mengumpulkan sisa-sisa tabungan mereka untuk makanan dan obat-obatan yang membuat mereka tetap hidup. Tetapi pada hari Jumat, tukang pos datang – dan itu memberi gelombang harapan yang sekilas mengalir melalui hati Kolonel yang menua.

Selasa pagi kami temukan seekor lembu di taman. Tampak bagai sebongkah lempung dari tanah semenanjung dalam kekerasan dan kelembamannya yang meronta. Kukunya membenam ke dalam lumpur dan kepalanya merunduk. Sepanjang pagi itu orang-orang Indian berusaha mengusirnya dengan tongkat dan batu. Namun, ia tetap bertahan di sana, tak terusik di tengah taman, keras, tak tergugat, kukunya masih membenam di lumpur dan kepalanya yang besar seakan dipermalukan oleh hujan. Orang-orang Indian itu mengusiknya hingga kesabaran ayahku menyuntuk batas. “Tinggalkan saja,” katanya. “Ia akan pergi sebagaimana ia datang.”

Saat matahari tenggelam di hari Selasa, air terasa menegang dan melukai, seperti selembar kafan di atas hati. Kesejukan awal pagi mulai berubah menjadi kelembaban yang panas dan lengket. Suhu tidak panas atau dingin; suhu panas-dingin. Kaki berkeringat di dalam sepatu. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih menggeresahkan, kulit telanjang atau baju yang lekat pada kulit. Di rumah semua kegiatan sudah berhenti. Kami duduk di beranda, namun kami tak lagi memperhatikan hujan seperti pada hari pertama. Kami tak lagi merasakan hujan turun. Kami tak melihat apa pun selain sketsa pepohonan di tengah kabut, dengan sebuah mentari terbenam yang murung dan terasing yang meninggalkan di bibirmu rasa seperti ketika engkau terbangun dari sebuah mimpi tentang orang asing. Aku tahu waktu itu Selasa, dan aku ingat si kembar asuhan Santo Jerome, dua gadis buta yang datang ke rumah tiap pekan dan menyanyikan untuk kami lagu-lagu sederhana. Aku tergetar oleh kegetiran dan keagungan yang rawan dari suara mereka. Di atas hujan kudengar nyanyian kecil si kembar buta, dan aku membayangkan mereka berada di rumah, berkumpul, menunggu hujan reda hingga mereka bisa pergi dan bernyanyi. Kukira si kembar Santo Jerome tak bisa datang hari itu. Juga perempuan pengemis yang datang tiap Selasa takkan berada di beranda usai waktu tidur siang untuk meminta cabang baka jeruk balsam.

Hari itu kami kehilangan selera makan. Pada jam tidur siang ibu tiriku menghidangkan sepiring sup hambar dan sepotong roti basi. Meski sebenarnya kami belum makan sejak terbenam matahari pada hari Senin, dan kukira sejak itu kami berhenti berpikir. Kami lunglai, terbius hujan, menyerah pada amuk alam dengan sikap pasrah dan damai. Hanya lembu itu yang bergerak di sore hari. Tiba-tiba semacam suara garau menggoncang jeroannya, dan kuku-kukunya menghunjam ke lumpur dengan tenaga lebih dahsyat. Lalu ia diam berdiri selama setengah jam, seakan sudah mati, tapi tak terjerembab sebab kebiasaan untuk bertahan hidup mencegahnya, kebiasaan untuk bertahan dalam satu posisi di tengah hujan, sampai kebiasaan itu menjadi lebih lemah ketimbang berat tubuhnya. Lalu ia menggandakan tenaga pada kaki depannya (pangkal pahanya yang hitam dan berkilap masih tegak dalam upaya terakhir yang sangat menyiksa) dan moncongnya yang berliur menyungkur ke dalam lumpur. Dan akhirnya ia menyerah pada berat tubuhnya sendiri, dalam sebuah upacara maut yang sunyi, bertahap, dan bermartabat. “Ia telah berusaha sampai sejauh itu,” seseorang berucap di belakangku. Dan aku berpaling untuk melihat: di ambang pintu masuk kulihat perempuan pengemis hari Selasa telah datang menerobos badai untuk meminta cabang jeruk balsam.

Mestinya pada hari Rabu aku sudah terbiasa dengan suasana mengharu biru itu seandainya di ruang tamu tak kujumpai meja yang dipepetkan ke tembok, dengan perabotan bertumpuk di atasnya, dan pada bagian lain, di atas dinding pembendung yang dibuat sepanjang malam, teronggok kopor dan kotak perkakas rumah tangga. Pemandangan itu menghadirkan di hatiku perasaan kosong yang memiriskan. Sesuatu telah terjadi sepanjang malam itu. Rumah berantakan; orang-orang Indian Guajiro, tak berbaju dan telanjang kaki, celana digulung hingga lutut, mengangkati perabotan ke ruang makan. Pada air muka mereka, pada kerapian kerja mereka, orang dapat melihat kebengisan pemberontakan mereka yang sia-sia, dari kenistaan yang niscaya dan memalukan di tengah hujan itu. Aku bergerak tanpa tujuan, tanpa kemauan. Aku merasa bagaikan sehamparan padang rumput terpencil bersemai ganggang dan lelumutan, dengan jamur payung yang lembut, lengket, dan subur oleh tetumbuhan menjijikkan yang muncul dari kelembaban dan kegelapan. Di ruang tamu aku sedang merenungi pemandangan gurun perabotan rumah yang berantakan ketika kudengar suara ibu tiriku mengingatkanku dari kamarnya bahwa aku bisa terserang radang paru-paru. Saat itu barulah kusadari bahwa air telah naik ke mata kakiku, bahwa rumah kebanjiran, lantai tertutup tebal permukaan air pekat yang menggenang.

Rabu tengah hari, fajar belum berlalu. Dan sebelum pukul tiga sore, malam telah hadir sempurna, mendahului waktu dan kuyu, dengan kelambanan yang sama, menjemukan, diiringi irama bengis hujan di halaman. Sebentang petang yang hadir sebelum waktunya, lembut dan murung, hadir di tengah kesunyian orang-orang Guajiro, yang berjongkok di atas kursi-kursi menghadap tembok, kalah dan tak berdaya melawan amuk alam. Itulah yang terjadi saat berita mulai tiba dari luar. Tak seorang pun membawanya ke rumah ini. Tiba begitu saja, tepat, sendiri, seolah dihanyutkan oleh lempung cair yang menyusuri jalan-jalan dan menyeret segala perkakas rumah tangga bersamanya, benda-benda dan kian banyak benda, sisa-sisa dari sebuah bencana yang jauh, sampah dan bangkai binatang. Berita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Minggu, ketika hujan masih dianggap sebagai pertanda musim keberuntungan, perlu dua hari untuk sampai di rumah kami. Dan hari Rabu berita itu tiba, seakan didorong oleh tenaga inti badai itu. Kemudian terkabar bahwa gereja terlanda banjir dan diperkirakan runtuh. Seseorang yang tak berkepentingan untuk mengetahui berkata malam itu: “Kereta api tak bisa melewati jembatan sejak Senin. Tampaknya sungai itu menghanyutkan rel.” Dan terdengar berita bahwa seorang wanita yang sedang sakit hilang dari ranjangnya, dan sore harinya ditemukan terapung di halaman.

Terbelit rasa ngeri, yang muncul dari jeri dan air bah, aku duduk di kursi goyang dengan kaki terlipat dan mata terpaku pada gelap kabut yang penuh isyarat suram. Ibu tiriku muncul di ambang pintu dengan lampu diangkat tinggi dan kepala tegak. Ia tampak seperti hantu penghuni rumah yang sama sekali tak membuatku takut sebab aku pun merasa gaib seperti dirinya. Ia berjalan menghampiriku. Kepalanya masih tegak dengan lampu menggantung di udara; dan ia mencipratkan air ke beranda. “Sekarang kita harus berdoa,” katanya. Dan kuperhatikan wajahnya yang kering dan keriput, seakan baru bangkit dari kubur atau seakan ia tercipta dari zat yang berbeda dengan tubuh manusia. Ia di seberangku dengan rosario di tangannya, berkata: “Sekarang kita harus berdoa. Air bah telah membongkari kuburan dan mayat-mayat malang kini mengapung di atasnya.”

Aku mungkin baru sebentar tidur malam itu ketika hawa anyir seperti bau bangkai menyentakku bangun. Kugoncang tubuh Martin yang mendengkur di sampingku. “Tidakkah kau rasakan?” tanyaku padanya. Dan ia berucap: “Apa?” Aku berkata: “Bau itu. Pasti mayat-mayat yang mengambang di sepanjang jalan.” Aku giris dengan pikiran itu, tapi Martin hanya memalingkan muka ke dinding dan dengan suara serak setengah tidur ia berkata: “Itu cuma pikiranmu sendiri. Wanita hamil memang selalu membayangkan macam-macam.”

Pada fajar hari Kamis bau itu lenyap, pemahaman tentang jarak sirna. Pengertian tentang waktu, yang mulai kacau sejak hari sebelumnya, telah hilang sama sekali. Lalu hari Kamis itu pun raib. Apa yang mestinya adalah hari Kamis kini menjelma sesuatu yang wadag, bahan lentuk-kenyal yang dapat dipisah-pisah menggunakan tangan demi memunculkan hari Jumat. Tak ada lelaki atau perempuan di sana. Ibu tiriku, ayahku, orang-orang Indian itu adalah tubuh-tubuh gemuk dan ganjil yang bergerak di rawa-rawa musim dingin. Ayahku berkata padaku: “Jangan pergi dari sini sampai kamu diberi tahu apa yang harus dilakukan,” suaranya jauh dan samar, dan seakan bukan untuk dicerap lewat telinga tapi lewat sentuhan, satu-satunya indera yang masih bekerja.


Leaf Storm
‘Tiba-tiba, bak puyuh menerjang di tengah-tengah kota, perusahaan pisang itu tiba, dikejar oleh badai daun’
Dibasahi hujan, kota itu mulai membusuk sejak perusahaan pisang pergi. Penduduknya menjengkelkan dan dingin, sehingga saat dokter itu – orang asing yang berakhir sebagai orag paling dibenci di kota – mati, tak ada seorang pun yang menangisinya. Tapi juga hidup di sana seorang Kolonel, yang terpaksa harus melaksanakan janji yang dibuat bertahun-tahun lalu. Sang Kolonel dan keluarganya harus mengubur dokter itu, kendati harapan para warga tetangganya agar mayat dokter itu terlupakan dan dibiarkan membusuk.

Namun, ayahku tak kembali. Ia tersesat di tengah cuaca. Karenanya saat malam tiba kuminta ibu tiriku menemaniku tidur di ranjang. Aku tidur pulas dan damai, menghabiskan malam itu. Hari berikutnya suasana masih sama, tak berwarna, tak beraroma, dan tanpa panas sedikit pun. Ketika terbangun, segera saja aku melompat ke kursi dan termangu diam di sana, sebab sesuatu mengatakan padaku bahwa masih ada satu wilayah kesadaranku yang belum sepenuhnya terjaga. Lalu kudengar kereta api melengking. Lengkingan panjang dan pilu kereta api yang lolos dari badai. Kukira, di mana-mana cuaca pasti sudah cerah. Dan sekelebat suara di belakangku seperti menjawab pikiranku. “Di mana?” katanya. “Siapa di situ?” aku bertanya sembari mencari-cari. Dan kulihat ibu tiriku dengan lengannya yang kurus panjang pada arah dinding. “Ini aku,” katanya. Dan kubertanya padanya: “Apa engkau dapat mendengarnya?” Dan ia menjawab ya. Mungkin cuaca sudah cerah di daerah pinggiran dan mereka akan memperbaiki rel. Lalu ia menyodoriku sebuah baki dengan sarapan pagi yang masih mengepul. Tercium aroma saus bawang putih dan mentega yang dididihkan. Sepiring sup. Masih nanar, kutanya ibu tiriku sudah jam berapa sekarang. Dan ia, dengan tenang, suara terasa pasrah tanpa daya, berkata: “Mestinya sekitar jam dua lewat tiga puluh. Kereta api toh tidak terlambat setelah semua ini.” Aku berkata: “Dua lewat tiga puluh! Bagaimana aku bisa tidur begitu lama?” Dan katanya: “Kamu tidur belum terlalu lama. Belum lagi lewat jam tiga.” Gemetar, aku merasa piring itu tergelincir dari tanganku. “Dua lewat tiga puluh hari Jumat,” kataku. Dan ia, dengan ketenangan yang menggiriskan: “Dua lewat tiga puluh hari Kamis, nak. Masih dua lewat tiga puluh hari Kamis.”

Aku tak tahu berapa lama aku berjalan-jalan dalam keadaan tidur di mana indera kehilangan nilai. Aku hanya tahu bahwa setelah rentang waktu yang tak terukur itu, terdengar suara di kamar sebelah, berkata: “Sekarang engkau dapat menggulung kasur itu ke sebelah sini.” Sebuah suara yang lelah, tapi bukan suara orang yang sedang sakit, lebih mirip suara orang yang mulai sembuh dari sakitnya. Lalu kudengar kemericik air. Aku masih terbujur kaku sebelum kusadari bahwa aku dalam posisi mendatar. Lalu kurasakan kekosongan yang teramat langut. Kurasakan di rumah ini kesunyian yang rawan dan bengis, kediaman yang menyeramkan, yang memengaruhi segalanya. Dan tiba-tiba kurasakan hatiku berubah menjadi sekepal batu beku. Kukira aku mati. Ya Tuhan, aku mati. Aku melompat ke ranjang. Aku berteriak: “Ada! Ada!” Martin dengan suara garau menjawab dari bagian lain. “Mereka tak dapat mendengarmu. Mereka sudah di luar sekarang.” Baru kusadari kini bahwa cuaca sudah cerah dan di sekitar kami hamparan kesunyian membentang, sehampar ketenangan, kekudusan yang wingit dan dalam, sebentuk suasana yang sempurna, menyerupai kematian. Sesaat terdengar di beranda langkah-langkah kaki. Suara hentakan kaki yang nyata dan hidup. Lalu sehembus angin dingin mengayun daun pintu, gagang pintu berderit, dan sesosok tubuh padat dan besar, senampak buah yang masak, jatuh membenam ke dalam kolam di halaman. Di udara menyeruak sesosok manusia gaib yang tersenyum dalam kegelapan. Ya Tuhan, pikirku, bingung oleh kekacauan waktu. Kini aku takkan terkejut lagi jika mereka datang mengajakku pergi ke Misa Minggu yang lalu.(*)

____

*) Gabriel Garcia Marquez: adalah Penulis peraih Nobel Kesusastraan asal Kolombia. Ia meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Kamis 17 April 2014 ia telah meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Karya Marquez yang paling terkenal adalah One Hundred Years of Solitude yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia. Novel yang ditulisnya pada tahun 1967 itu sudah terjual lebih dari 30 juta buku di seluruh dunia dan meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Beberapa novel lainnya yang juga mendunia antara lain Love in the Time of Cholera, Chronicle of a Death Foretold, dan The General in His Labyrinth. Gaya bertuturnya yang hidup dengan cerita mencampurkan kenyataan serta gaib menempatkan dia menjadi pelopor aliran sastra yang disebut realisme magis. Dia tinggal di Meksiko selama 30 tahun belakangan sampai wafatnya. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, menyampaikan penghormatan kepadanya melalui Twitter. “One Hundred Years of Solitude dan kesedihan atas kematian warga agung Kolombia sepanjang masa.”

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending