Connect with us

Buku

Pancasila dan Pedagogik Kritis Indonesia

mm

Published

on

Oleh: Wahyu Arifin*

Dalam sebuah seminar tahun 1983, dua ahli pendidikan Indonesia yakni Prof. Tilaar dan Prof. Mochtar Buchori (alm) menyatakan ilmu pendidikan di Indonesia sudah mati. Hal ini ditegaskan lagi oleh mantan Rektor IKIP Jakarta (Sekarang UNJ), Prof. Winarno Surachmad saat forum pertemuan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) se-Indonesia di Bukit Tinggi, Sumatera Barat tahun 2005.

Ketiga pedagog ini bersepakat, meskipun pendidikan di tanah air terus berlangsung, tapi berjalan dalam situasi Pendidikan tanpa Ilmu Pendidikan (Pentip). Selama ini praktik yang berlangsung diberbagai jenjang pendidikan hanyalah praktik pengajaran, bukan praktik pendidikan. Pasalnya, sekolah maupun kampus hanya mereproduksi teori-teori usang dan menumpuk bermacam-macam pengetahuan serta keterampilan.

Alhasil dunia pendidikan kita hanya bisa menghasilkan ‘tukang’ insinyur atau tenaga administratif. Selain itu, teori-teori pedagogik yang terus dipertahankan hingga kini hampir seluruhnya berasal dari barat yang sama sekali tidak menyentuh persoalan kebutuhan lokal kita. Padahal, secara teori saja baik geografis maupun kultur, kondisi kita berbeda dengan negara-negara barat.

Lebih parahnya lagi, hasil konkret dari dunia pendidikan kita adalah menguatnya persaingan antar individu maupun sosial yang diperlihatkan dalam perlombaan peringkat di sekolah atau universitas. Akibatnya, pendidikan nasional kita justru memuja-muja keunggulan atau kompetisi antar sesama yang merupakan falsafah hidup berdasarkan Darwinisme sosial dan jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila (HAR Tilaar, 2005).

Hasil pengadopsian falsafah Darwinisme sosial ini menggerus falsafah Pancasila sebagai alat pemersatu kehidupan masyarakat dan berbangsa yakni Solidaritas, Gotong royong dan Nasionalisme positif. Selain itu, Darwinisme sosial dalam paradigma pendidikan nasional kita melahirkan kastanisasi pendidikan (sekolah bertaraf nasional, internasional dan sebagainya) yang justru telah meremehkan kekayaan budaya Indonesia.

Dalam posisi kedua itulah Buku berjudul Pedagogik Teoritis untuk Indonesia ini menempatkan dirinya. Bagi Tilaar, sudah saatnya degup jantung pedagogik tanah air kembali dihidupkan, bukan lagi mengekor atau meneruskan tradisi pedagogik yang telah usang, di mana di tempat asalnya, yakni Eropa dan Amerika justru sudah sangat berkembang pesat. Salah satu contohnya adalah pedagogik kritis yang bukan hanya berkembang di Eropa dan Amerika saja, tapi juga Asia dan Australia.

Pendidikan Karakter Pancasila

Dalam dunia yang bergerak dengan sangat cepat, Indonesia tentu tidak dapat mengisolasikan dirinya. Persoalannya, bagaimana Indonesia menghadapi dunia yang berlari kencang ini? Soal ini, Tilaar memberikan dua posisi. Pertama, hanyut dalam perubahan global dan kita kehilangan identitas diri. Kedua, melalui Pancasila yang merupakan identitas nasional, Weltanschauung atau pandangan hidup bangsa kita menghadapi globalisasi.

Sejak awal pendiriannya, para Founding Father-Mother republik ini sudah menginsyafi Indonesia sebagai suatu nation state dibangun atas dasar kesetaraan, keadilan dan kemanusiaan serta kesejahteraan bersama. Dasar-dasar itu tidak akan terwujud jika hanya dalam bentuk kemerdekaan politik semata, tapi juga perlu disempurnakan dengan kemerdekaan kebudayaan.

Untuk mewujudkan itu semua, siasat kebudayaan yang dirumuskan para pendiri bangsa adalah membangun sistem pendidikan nasional yang bisa menggolkan tujuan kemerdekaan nasional; mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi, sudah sangat jelas pendidikan mendapatkan kedudukan yang sangat penting di awal pembentukan republik ini.

Menurut Tilaar, pedagogik atau ilmu pendidikan merupakan filsafat terapan yang berfungsi sebagai ilmu praksis. Merujuk pada Paulo Freire, Tilaar melihat praksis pendidikan sebagai refleksi dan tindakan sadar diri dalam hidup mendunia dan mentransformasikannya. Melalui praksis pendidikan ini, peserta didik bisa ditumbuhkan kesadarannya akan kemerdekaan, martabat dan potensi diri yang dimilikinya serta bisa mengembangkannya untuk meningkatkan taraf hidupnya di dunia (hal7).

Praksis pendidikan Indonesia mendasarkan diri pada Pancasila yang merupakan pandangan hidup bangsa. Melalui strategi pendidikan dan kebudayaan nasional bernafaskan Pancasila, para Founding Father-Mother kita mencoba membangun manusia Indonesia yang mempunyai harga diri serta bangga atas keindonesiaan-nya (hal 61). Pancasila menetralisir kebudayaan barat versi kekuasaan kolonial yang mendestruktifkan identitas kebudayaan Nusantara menjadi  kebudayaan inferior.

Oleh karena itu, peran lembaga pendidikan untuk dapat mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam habitus sekolah sangatlah penting. Peran ini justru bisa membuat penerima (peserta didik) menafsirkan Pancasila bukan hanya semata-mata doktrin, melainkan nilai-nilai yang sesuai dengan kehidupan nyata peserta didik. Melalui internalisasi, secara sadar diri kekayaan alam dan budaya kita akan dikelola untuk kesejahteraan hidup bersama. Manusia Indonesia berkarakter seperti itulah modal kita untuk bisa setara dalam pergaulan bangsa-bangsa.

Pedagogik Transformatif Pancasila

Sebagai salah seorang penganut sekaligus perintis pedagogik kritis di Indonesia, Tilaar menekankan pada persoalan ketidakbebasan nilai pada berbagai disiplin ilmu. Melalui analisa poskolonial, Tilaar mengatakan negara-negara bekas jajahan seperti Indonesia sadar atau tidak sadar masih dihinggapi sisa-sisa pendidikan kolonial. Politik etis di bidang pendidikan menyisakan sikap subordinatif yang melihat tujuan pendidikan hanya untuk menjadi bagian dari birokrat atau meningkatkan status sosial di masyarakat.

Sikap ini terus membudaya dalam sendi kehidupan masyarakat kita. Orang tua berbondong-bondong menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah atau kampus ternama demi masa depan yang terjamin; bisa bekerja di perusahaan bonafit atau menjadi PNS serta hidup mapan. Tentunya hal ini sah-sah saja dalam kehidupan yang harus kita akui sedang dalam situasi serba sulit.

Namun, perlu juga kita sadari sikap yang menjadi wajar itu sebenarnya merupakan keberhasilan dari pendidikan kolonial yang berupaya mendidik bangsa jajahannya untuk memiliki sikap subordinatif sehingga mereka tetap menjadi objek eksploitasi dari sang penjajah. Dengan kata lain pendidikan pada masa kolonial pada hakikatnya merupakan suatu proses pembodohan dan pengekangan terhadap kesadaran manusia untuk berpikir kritis, demikian pendapat Paulo Freire.

Untuk hal ini, sebenarnya pendiri bangsa kita sudah berpikir lebih maju dari Freire. Saat memproklamirkan kemerdekaan, pendiri bangsa ini secara sadar sudah mencetuskan suatu sistem pendidikan yang mengakhiri sistem pendidikan kolonial. Sistem pendidikan nasional yang berdasar Pancasila dan dirumuskan melalui UUD 45 merupakan pendidikan yang bersifat transformatif, yakni proses pendidikan yang membawa anak Indonesia dari ketidakberdayaannya (terjajah) secara berangsur dengan akal budinya akan memaksimalkan potensinya dalam alam kemerdekaannya.

Pedagogik transformatif atawa proses pendidikan yang menekankan pada kesadaran kritis dan tindakan perubahan ke arah yang lebih baik, sejalan dengan ide entrepreneur. Pertemuan pedagogik transformatif dengan entrepreneur berada pada titik cara berpikir, yakni kesadaran berpikir kritis, kreatif dan transformatif.

Tilaar percaya, pola berpikir yang menghasilkan entrepreneur atau pelaku pedagogik transformatif akan muncul apabila lembaga pendidikan bisa melepaskan diri dari mabuknya dogma-dogma darwnisme sosial yang mengagung-agungkan persaingan dan melestarikan kekuatan politik yang dominan. Pendidikan yang memerdekakan haruslah menjadikan peserta didik sebagai subjek atau inti perubahan itu sendiri.

Di buku ini, Tilaar mencoba mengajukan tawaran bahwasanya Entrepreneurship dalam dunia pendidikan nasional harus sejalan dengan agenda pembangunan lokal. Artinya, proses pendidikan, sesunguhnya diterapkan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan sumberdaya manusia yang (minimal) sanggup menyelesaikan persoalan lokal yang melingkupinya dan signifikan dengan kebutuhan masyarakat. Bukan hanya pada persoalan global yang justru jauh dari realita masyarakat.

Ajakan guru besar emiritus UNJ agar kita menggali kembali Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia perlu disambut dengan sukacita. Sebagai seorang pedagog yang menempuh pendidikan di Barat, Tilaar tidak begitu saja hanyut dan tenggelam dalam gulungan alam pikir kebudayaan barat. Justru, dirinya merasa menemukan pencerahan bagaimana membangun manusia Indonesia yang kritis dan kreatif melalui Pancasila. (*)

DATA BUKU:

 

Judul Buku      : Pedagogik Teoritis untuk Indonesia

Penulis             : H.A.R Tilaar

Cetakan           : Pertama, April 2015

Penerbit           : Buku Kompas

Tebal               : xii + 276 hlm

 

*Wahyu Arifin: Mahasiswa STF Driyarkara. Wartawan, bekerja untuk kantor Sindo/ MNC  

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Elit vs Massa: Pandangan Sejarah W.F. Wertheim

mm

Published

on

Getty Images/ Google

Wertheim Stichting adalah sebuah Yayassan Belanda yang didirikan 4 Oktober 1998 melalui suatu akte notaris dan sejak itu menjadikan emansipasi bangsa Indonesia sebagai usahanya dengan memberikan Wertheim Award bagi karya emansipatoris teladan bagi orang-orang Indonesia yang masih hidup.

Orang-orang Indonesia yang telah menerima Wertheim Award adalah penyair Rendra dan Widji Thukul, penulis Pramoedya Ananta Toer, penerbit Joesoef Isak, jurnalis Goenawan Mohamad dan penulis Benny G. Setiono.

Dengan emansipasi yang kami maksudkan ialah proses sejarah kememrdekaan negeri-negeri oleh warganegara mereka, dari ketidaksetaraan, keterbelakangan pendidikan dan penindasan, dari partisipasi yang tak mencukupi di bidang pengadaan hukum dan dalam pengambilan keputusan.

Rekan lama dan sahabat-sahabat professor Wertheim hadir pada lahirnya stichting, seperti a.l. Profesor Jan Breman dan professor Jan Pluvier. Bahwa di Indonesia terdapat lebih banyak karya ilmiah Profesor Wertheim, merupakan pertanda baik. Penulis erat hubungannya dengan revolusi Indonesia dan mengenal banyak tokoh-tokoh terkemuka dari masa sebelum peran dan dari generasi 1945 yang telah ambil bagian dalam pembangunan negeri. Beliau juga mencurahkan tenaga dan fikiran untuk dieksposnya rezim Suharto sebagai suatu system penindasan yang tak berperikemanusiaan.  Kami tegaskan bahwa Wertheim Stichting sendiri pada prinsipnya tidak menerbitkan buku dan juta tidak memberikan sokongan dana.

Diterbitkannya Elite versus Massa bagi orang-orang dan kaum muda di negeri-negeri yang  sedang berkembang dan bagi Indonesia khususnya, begitu menarik kakrena ia bersangkutan dengan dua periode sejarah yang sedang berjuang, yang dua-duanya berasal dari sumber Eropa dan melalui kolonisasi telah sampai di negeri-negeri yang sedang berkembang.

Yang dimaksudkan disini ialah gerakan elite yang mempeeroleh sumbernya terutama dari filsuf Yunani  Plato dan terutama sesudah Revolusi Perancis memperoleh pengikut yang semakin bertambah dari kalangan aristokrasi Eropa dan gereja Katolik yang amat menderita oleh revolusi dan dari peperangan Napoleonistis yang menyusul kemudian.

Mereka kehilangan posisi berhak-istimewa melalui cara berdarah serta ingin memulihkannya dengan seruan tentang keharusan adanya suatu elite bagi masyarakat dan kehidupan bersama.

Bukankah, berhadapan dengan elite terdapat massa yang bodoh, yang memberikan reaksi dari bawah dan menantikan kesempatan untuk menyingkirkan elite. Pendeknya, tanpa elite tak ada kehadiran manusiawi. Gerakan massa berkembang di bawah pengaruh kapitalisme industridi abad ke-19 serta menemukan didalam karya Karl Marx dan Friederich Engels protagonist-protagonis penting.

Buku Profesor Wertheim, Elite versus Massa oleh penerbit LiBRA dan Resist Book

Bagi mereka analisa mengenai hubungan massa dengan elite kapitalis kaum industrialis, mereka mengembangkan pengertian klas dan teori perjuangan klas, dan teori perjuangan klas, yang harus menggantikan pertentangan antara industry dengan massa buruh yang tak berpendidikan dan masa buruh tak berpunya, dengan suatu masyarakat samarata-samarasa yang damai. Membangun terus atas karya filsuf Pencerahan Perancis Comte de Saint Simon mereka melihat berakhirnya orde lama dan dimulainya orde baru sebagai suatu masyarakat yang terdiri dari pekerja yang berpendidikan yang sesuai dengan pendidikan dan prestasinya akan mendapatkan kedudukan yang adil.

Sampai dewasa ini proses pembentukan kenegaraan komunis dan sosialis gagal karena pada prinsipnya mereka punya dasar kelas, dimana hubungan hubungan lama dengan sederhana dijungkir-balikkan. Perjuangan kelas dan revolusi, komunisme dan sosialisme di dalam sejarah mutakhir Eropa dan Asia merupakan sumber dari alat kesewenang-wenangan dan kekerasan Negara, dan dari pertumpahan darah dan genosida, sebagaimana halnya elitisme dalam fasisme, nasionalisme dan naziisme.

Poin terpenting Wertheim dalam diskusi ini ialah bahwa emansipasi sebagai suatu proses sejarah masyarakat dapat menghilangkan pertentangan antara elite dan gerakan massa, dengan prasyarat konteks masyarakat memberikan syarat-syarat yang diperlukan. Untuk itu diperlukan sejarah pembentukan sosial dan politik, dari suatu pembentukan kepengurusan yang partisipatif dan dari suatu pendidikan sekolah yang tinggi. Demokrasi bukanlah sesuatu yang dengan sendirinya merupakan  pilihan. Semata-mata adalah demokrasi dimana kepentingan umum dan pribadi selalu dipertimbangkan di parlemen dan publisitas tanpa membedakan mengenai siapa pun, satu sama lainnya dipertimbangkan, adalah suatu emansipasi yang merupakan bentuk yang dapat diterima.

Sentralisme demokratis sebagaimana yang dimiliki oleh sosialisme dan komunisme, dan demokrasi terpimpin yang dikelola oleh Sukarno dan Suharto sewaktu diberlakukannya rezim keadaan darurat, tidak lain dari pada suatu politik survival, suatu kontigensi yang ditujukan untuk bisa selamat dari kekacauan (chaos).

Masalahnya juga ialah bahwa pengertian emansipasi tidak hanya interesan bagi banyak aliran politik yang memperjuangkan emansipasi bagi elektoratnya sendiri, tapi juga bagi negera yang punya tujuannya sendiri. Setiap dari partai-partai ini dapat secara implisit menggunakan konsep emansipasi sebagai instrument bagi tujuannya sendiri, dengan melampaui kepentingan umum, yang menyebabkan emansipasi menjadi alat perjuangan pribadi dan sebagai alat untuk saling menyisihkan.

Jadi ada kemunduran juga pengembangan hal-hal yang dicapai dan ada kemajuan. Dinamika yang terdapat menurut Wertheim adalah dialektis dan maju menurut spiral dari kepentingan pribat menuju ke kepentingan Negara dan kembali lagi. Warga yang teremansipasi yang menjadi buah fikiran Wertheim Stichting bila hal itu menyangkut penganugrahan Wertheim Award, merupakan figure yang tak dapat ditiadakan.

Di dalam bukunya Third World Whence and Wither, yang dalam pada itu, juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Wertheim mendalami hubungan antara Negara dan emansipasi, sejak praktek Eropa sesudah perang dari negara kepentingan bersama yang beramal dan dilindungi. Dengan itu ia mencoba untuk memastikan sampai dimana konsep tersebut palsu atau benar sebagai permulaan untuk spiral emansipasi berikutnya.

Adalah harapan Wertheim Stichting bahwa Elite versus massa di Indonesia dapat membantu kembali menempatkannya di dalam agenda dan pada suatu penelitian baru menuju pada kondisi yang terdapat di Indonesia pada jalan-jalan emansipasi yang bebas ideology. Dan dimana selalu dicurahkan perhatian terhadap dampak noda-noda buta (blinde vlekken) yang selalu mengikuti setiap kebijakan. Demikianlah, elite versus Massa mempunyai noda-noda hitamnya sendiri, tetapi hal itu juga terdapat di dalam emansipasi, sebagaimana halnya bahaya pada sukses emansipatoris, dimana ketidak adilan tak dihiraukan, seperti umpamanya toleransi terhadap penguapan etnis dan religious. Selalu diperlukan keseimbangan antara perjuangan hal-hal yang diinginkan, dengan menghapuskan apa yang tak diinginkan, dan bagi cara-cara damai berpartisipasi, pengembangan dan stimulasi rohaniah yang cocok untuk itu atau yang harus dikembangkan. (*)

Amsterdam, Juni 2009. | Coen Hltzappel (Ketua Wertheim Stichting) | Ibrahim Isa (Sekretaris)

*Tulisan ini adalah pengantar untuk penterjemahan buku Profesor Wertheim, Elite versus Massa oleh penerbit LiBRA dan Resist Book.

Continue Reading

Buku

The Plague karya Albert Camus: Sebuah Kisah Untuk Kita Semua

mm

Published

on

“Sampar” fasis yang menjadi inspirasi novel ini mungkin sudah menghilang, akan tetapi 55 tahun setelah kematiannya, banyak jenis wabah lain yang menjadikan buku ini sangat relevan.

Sedikit sekali penulis yang menjadikan karyanya begitu dekat dengan kematian seperti yang dilakukan Albert Camus, salah satu penulis novel dan penulis esai terbesar abad 20, yang menemui ajalnya sendiri dalam kecelakaan lalu lintas pada minggu ini 55 tahun yang lalu, di rute Nasionale 6 dari Lyon-Paris.

Dari semua novel karya Camus, tak ada yang mendeskripsikan konfrontasi-dan kohabitasi manusia-dengan kematian secara begitu jelas dan pada skala luar biasa seperti Le Peste, diterjemahkan menjadi The Plague. Kebanyakan dari kita membaca The Plague saat remaja, dan kita semua harus membacanya lagi. Dan lagi: bukan hanya karena segala respon manusia tentang kematian direpresentasikan di dalamnya, tetapi sekarang-dengan berkembangnya Ebola-buku ini berfungsi dalam tataran harfiah dan juga metaforis.

Cerita milik Camus adalah tentang sekelompok laki-laki, digambarkan dengan persinggungan dan perlawanan mereka terhadap wabah sampar itu. Di dalamnya kita menemukan keberanian, ketakutan dan perhitungan yang kita baca dan dengar dari setiap cerita tentang upaya-upaya Afrika Barat untuk mengurangi dan menghadapi Ebola; melalui naratornya, Dr Rieux, kita dapat identikkan dengan ratusan dokter Kuba yang terjun langsung ke pusat penyebaran wabah itu, dan begitu pula dengan seorang perawat Skotlandia yang saat ini sedang berjuang untuk hidupnya di Royal Hospital di kota London.

Kukira Camus menginginkan pembacaan yang harfiah-juga alegoris semacam itu. Telah diakui secara luas bahwa wabah yang ia deskripsikan menandai Third Reich. Ditulis pada tahun 1947, selagi dunia meneriakkan kemenangan dan “Tak Akan Terulang Lagi”, Camus berkeyakinan bahwa sampar berikutnya “akan membangunkan tikus-tikusnya lagi” demi “kutukan dan pencerahan manusia”.

Namun, Camus juga mengetahui terjadinya epidemik hebat kolera di Oran, Aljazair-dimana novel itu mengambil latar-pada tahun 1849, dan di tempat lainnya di distrik tempatnya berasal di Mondovi dalam wilayah Aljazair.

Tetapi ada alasan lain mengapa kita perlu membaca kembali La Peste (lebih baik dalam bahasa Prancis atau dalam terjemahan bahasa Inggris karya Stuart Gilbert, sebuah karya literatur tersendiri). Seperti semua karya metaforis atau karya alegoris yang baik, ia dapat merepresentasikan hal-hal diluar yang dimaksudkan; termasuk wabah-wabah baik moral dan metaforis yang terjadi setelah masa kehidupan Camus sendiri. Kritik dari John Cruikshank yang bersikeras bahwa La Peste juga merupakan sebuah refleksi atas “kelalaian metafisis manusia di dunia”, yang mana penggunaannya tak berhingga, dan terserah pada kita. Jadi layak direfleksikan pada hari peringatan kematiannya ini: apa yang akan ditandai sampar itu sekarang?

Sekarang ini, kukira, La Peste dapat menceritakan kisah tentang satu jenis wabah yang berbeda: yaitu tindakan destruktif, terlalu materialis, kapitalisme-turbo; dan dapat berlaku sebagaimana penjelasan-penjelasan kontemporer yang diterima sekarang. Sebetulnya, sangat bisa begitu, karena satu alasan ini: Keabsurdan. Masyarakat kita adalah kelompok yang absurd, dan novel Camus memeriksa-diantara banyak hal lainnya, dan untuk semua upaya moralnya-relasi kita dengan absurditas cara keberadaan modern. Buku ini dapat mendeskripsikan dengan sangat baik sampar di dalam masyarakat yang menggaungkan fantasmagorianya ke penjuru dunia sehingga jutaan orang datang, menaiki kapal-kapal kuburan atau menyebrangi gurun-gurun mematikan, dalam pencarian janji-janji palsunya; dan yang bahkan menghancurkan konstanta yang dihadapkan Camus untuk mengukur mortalitas manusia: alam.

Sangat penting bagi isolasi eksistensial Camus yaitu ketegangan antara kekuatan dan keindahan dari alam, dan kesedihan hidup manusia. Sejak masa mudanya, dia menyukai laut dan gurun-gurun, dan memahami mortalitas manusia melalui keluasannya yang acuh tak acuh.

Sang ahli keabsurdan abad 20, Samuel Beckett, lahir tujuh tahun sebelum Camus, tetapi aktif dalam perlawanan Prancis pada kurun waktu yang sama. Dalam Happy Days karya Beckett, Winnie merenungkan bahwa “Terkadang semuanya berakhir pada hari itu, semuanya terselesaikan, semuanya sudah dikatakan, semua siap untuk menyambut malam, dan hari itu belum berakhir, jauh dari berakhir, malam belum siap, jauh dari siap”. Di tempat ini, seperti sedang menunggu Godot (sesuatu atau seseorang yang tidak akan pernah terjadi atau tidak akan pernah datang. pener), tak ada agen manusia yang memiliki tujuan.

Di dalam La Peste, bagaimanapun, absurditas merupakan sumber nilai, nilai-nilai dan bahkan tindakan. Sekelompok orang yang berkumpul dalam narasi itu merepresentasikan, ia merasakan, semua respon manusia terhadap bencana. Setiap orang mengambil bagiannya untuk menceritakan hal itu, meskipun sebenarnya dokter itu, Rieux-narator tersembunyi-yang melawan wabah dengan karyanya, yaitu obat, seperti Camus mencoba melawan pertama-tama ketidakadilan, lalu fasisme, dengan kerja kerasnya melalui kata-kata.

Perbedaannya dengan Beckett adalah: sebagaimana pemburu karakter Molloy dalam buku Beckett menyimpulkan:”Lalu aku kembali ke rumah dan menulis. Saat itu tengah malam. Hujan menghujam jendela. Itu bukan tengah malam. Saat itu tidak turun hujan”-jadi, bahkan narasinya saling menegasikan. Namun, karakter-karakter Camus dalam La Peste mengilustrasikan bahwa, meskipun mereka tahu bahwa mereka tak berdaya melawan sampar, mereka mampu menjadi saksi atas peristiwa itu, dan hal ini dengan sendirinya bernilai. Ketika dia menerima hadiah Nobel dalam bidang literatur pada tahun 1957, pidato mengagumkan Camus menyampaikan bahwa hal itu merupakan kehormatan dan beban bagi penulis “untuk melakukan hal yang lebih besar dari sekadar menulis”.

Camus tidak melihat adanya dikotomi antara kekosongan yang menjadi pusat dalam L’Etranger, dan upaya-upaya keras dalam La Peste. Dia pernah sekali menulis tentang “anggur dari keabsurdan dan roti dari ketidakacuhan yang akan menutrisi keagungan (manusia)”. Fakta atas ketidakberdayaan yang absurd bukanlah alasan untuk tidak bertindak; Camus, dengan segala kesan mendalamnya tentang keabsurdan, mendorong kita untuk mengambil tindakan.

Akan tetapi tak ada posisi moral bagi manusia di alam. Jarak antara kekuatan dan keindahan alam hampir merupakan sebuah siksaan: di dalam novel hebat pertama Camus, La Mort Heureuse, Mersault memenungkan “keindahan pagi hari di bulan April yang tidak manusiawi”. Hanya satu huruf yang membedakan nama Mersault dengan penggantinya yang lebih kompleks dan ambigu, Meursault, kebalikan pahlawan dalam L‘Etranger: dia adalah seorang lelaki yang mempunyai begitu banyak pertanyaan tapi tak mempunyai jawaban. Tapi bahkan Meursault menyimpulkannya saat membunuh seorang Arab di pantai: “Aku tahu bahwa aku telah merusak harmoni di hari ini”.

Tapi mengapa La Peste berbicara begitu keras pada kita saat ini? Camus dulu pernah menulis, dalam sebuah esai yang diberi judul Le Desert, tentang “materialisme yang menjijikan”. Dia menjejakkan makna yang vital bagi kita saat ini, di dalam dunia dimana materialisme begitu menjijikan ia telah menjadi sebentuk sampar. Semua yang umat manusia lakukan di era kapitalis-turbo, dengan pembinasaannya terhadap alam, “menghancurkan harmoni pada hari ini”.

Tiap embikan dari para politikus senada dengan penguasa pada era sampar khayalan Camus di Oran: “Tidak ada tikus di dalam gedungnya”, seru penjaga gedung selagi tikus-tikus itu mati di sekelilingnya. Surat kabar-surat kabar mengumpulkan massa dengan berita bahwa wabah telah terkendali padahal tidak.

Camus menawarkan kita sebuah cara untuk menanggalkan pencarian tanpa tujuan atas “keutuhan” dengan diri kita sendiri, tetapi tetap berjalan bagaimanapun keadaannya, berjuang: demi sejumlah keadilan moral yang didefinisikan dengan buruk, meskipun kita sudah tidak mampu mendefinisikannya. Pada kesimpulan dalam La Peste, Rieux-yang istrinya telah meninggal karena sakit di tempat yang lain, tak berhubungan dengan wabahnya-menyaksikan keluarga-keluarga dan para kekasih bersatu kembali ketika gerbang Oran akhirnya dibuka. Dia merasa heran-dalam keadaan begitu banyak penderitaan dan perjuangan yang tanpa tujuan-akankah ada kedamaian jiwa ataupun pemenuhan tanpa harapan, dan menyimpulkannya ya, mungkin saja bisa, bagi mereka “yang sekarang mengetahui bahwa bila ada satu hal yang bisa seseorang dambakan selalu, dan terkadang mereka capai, adalah kasih sayang manusia”.

Mereka adalah orang-orang “yang hasrat-hasratnya terbatas pada manusia, dan kasih sayangnya yang sederhana namun begitu hebat” dan mereka yang “harus masuk, sekarang dan seterusnya, ke dalam hadiah mereka”. Tetapi Rieux telah mengualifikasikan kata-kata itu sebelum dia menuliskannya, beberapa baris sebelumnya. “Tetapi untuk mereka yang lain”, dia mengatakan, “yang mencitakan hal melampaui dan di atas individu manusia menuju sesuatu yang bahkan tak bisa mereka bayangkan, tidak ada jawaban untuk itu”.

Tidak ada jawaban. Tidak ada deskripsi, bahkan, atas kemungkinan seperti apa “sesuatu” yang lain itu. Dan meski begitu ia mengomel, ia membuat tuntutan-tuntutan pada kita, dan mereka yang mengenal Rieux tahu tentangnya, meskipun kita telah menanggalkan sebuah definisi. Tanpa tujuan, tetapi imperatif; politis hingga taraf tertentu, tetapi tak sabar dengan politik; bermoral tentu saja, tetapi dengan gelisah-dan dengan penghormatan yang serius terhadap keluasan alam tempat mortalitas kita mengukur dirinya sendiri, tetapi yang kali ini kita bunuh.

Satu hal untuk dipertimbangkan lebih jauh, kemudian-sebagaimana yang kulakukan selagi aku mengemudi pada hari Minggu ke jalan yang sekarang bernama Autoroute 6 antara Lyon dan Paris dengan sedikit kegentaran atas hari peringatan itu sendiri, melewati Villeblevin, tempat dimana mobil sport Facel Vega yang dikendarai oleh teman Camus, Michel Gallimard menubrukkan kedua lelaki itu hingga mati. (*)

Diterjemahkan dari Albert Camus’ The Plague: a story for our, and all, times karya Ed Vulliamy dalam theguardian.com, 5 Januari 2015.
__________________________________________________________________________________________________________________

Penterjemah:  Marlina Sophiana | Editor: Sabiq Carebesth | Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com

Continue Reading

Buku

Huruf-Huruf Yang Tenggelam di Jerman

mm

Published

on

Getty Images/ Frankfurt Book Fair

Mereka tak hanya membaca tentang Indonesia, tetapi  juga sejarah sastra Indonesia. Mereka merasa, puisi itu lah yang tepat menggambarkan sebuah masa dalam sejarah Indonesia; saat penulis sastra bisa ditangkap dan dipenjara bahkan dibuang atas karya mereka.

By: Miranti Hirschmann*

Tak terasa, hampir dua tahun berlalu sejak Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair pada 14 – 18 Oktober 2015 lalu di Jerman.  Saat itu,  media Indonesia maupun Jerman terfokus pada hadirnya para penulis Indonesia, buku-buku, juga beragam pementasan seni budaya Indonesia di kota Frankfurt am Main.

Ada beberapa hal yang nampaknya terlewat—yang tak kalah menarik dengan buku-buku yang dipamerkan di hall hall utama. Dalam tulisan ini saya ingin membagikannya untuk Anda.

Buku Antik

Saya menggunakan kesempatan di hari hari terakhir expo buku akbar sejagad itu untuk blusukan di hall-hall yang kurang mendapat perhatian, seperti halnya di Hall 4. Di hall 4 lantai 1 ini, disebut menampilkan buku-buku antik dari berbagai belahan dunia. Selain itu, hall ini juga menampilkan karya  juara juara lomba poster buat Frankfurt Book Fair. Semuanya bertema Indonesia dan kebanyakan pemenangnya adalah siswa-siswa sekolah menengah.  Poster-poster ini, sebagian dijadikan kartu pos,  dibagikan pada stand tamu kehormatan.

Tapi, siapa yang mau melihat buku tua dan karya di hall 4? Toh, ada 600 event dari Indonesia yang berlangsung di berbagai venue di pekan yang luar biasa itu. Dari wawancara dengan penulis Indonesia oleh stasiun TV Jerman, bedah buku, diskusi politik hingga demo masak, yang tentunya menampilkan buku-buku masakan khas Indoesia. Persekutuan masakan, buku-buku terbaru dan diskusi politik memang gampang membuat hal antik terlewatkan kan?

Makin dalam saya blusukan, makin menarik apa yang saya dapatkan.  Saya menemukan sebuah stand kecil, berukuran tak lebih dari 2×1 meter persegi.

Diatas satu-satunya meja pamer, dipajang sebuah buku berukuran A4 berjudul “Ertrunkene Buchstaben“ (dalam bahasa Indonesia artinya Huruf huruf yang tenggelam).

Saya terhenti di stand itu. Yang menarik buat saya, entah mengapa,  adalah gambar ilustrasinya yang menggunakan litografi nukilan kayu. Kepala manusia dengan mata besar nanar, hidung yang bulat dan juga besar,  kuping yang kecil, namun bermahkota. Buku apa ini?

Saya bolak balik buku itu. Hard cover, buatannya sangat rapi.  Buku ini hanya terdiri dari 4 lembar halaman. Kertasnya mungkin 160 gram. Isinya tak lebih dari  5 ilustrasi kepala manusia bermahkota dan 1 puisi yang terdiri dari 3 bait dalam bahasa Jerman, Indonesia dan Inggris.  Puisi berjudul Ertrunkene Buchstaben ini merupakan karya budayawan Jerman, yang lahir di pedalaman Bavaria, Ingo Cesaro.

Cover depan dan cover belakang menampilkan ilustrasi kepala manusia. Pada halaman pertama, puisi asli berbahasa Jerman ini diberi ilustrasi litografi bernuansa  hijau.  Halaman keduanya istimewa karena memiliki extra wing sehingga bila dibuka ada 3 halaman. Di halaman ini ditampilkan berbagai style huruf yang bila di padukan berbunyi Huruf huruf yang tenggelam.  Halaman berikutnya puisi tersebut yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia:

Huruf huruf yang tenggelam

Agak terlampau lembap

mungkin

nyaris tenggelam sang huruf

opaya penghidupan kembali

di ujung lidah

 

mengipas- ngipas udara sejuk

sayap sayap setinggi manusia

terhindar dari kematian

kata kata menari nari

diatas temali tinggi

menarik riang tak kenal kabut

 

suara malaikat sepatutnya dipuji

namun malaikat manakah

pada masa kini yang masih

bersedia jadi

pembawa  berita kematian

 

Penterjemahan  dari bahasa Jerman kedalam bahasa Indonesia tersebut dilkerjakan oleh seorang penterjemah yang tinggal di Jerman, ibu Hedy Holzwarth.

Berharganya Indonesia

Pada halaman terakhir, puisi yang sama,  ditulis dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh Dr. Lawrence Guntner.  Ilustrasinya tak berubah: kepala manusia juga dengan mata, hidung dan mulut yang besar, seram. Mirip tokoh Buto dalam pewayangan.

Kebetulan saya sempat berbincang dengan kakak beradik Guido dan Johannes Haefner, seniman dan juga pemilik penerbitan buku itu. Rupanya buku itu adalah proyek mereka bersama. Mereka hanya mencetak 150 eksemplar. Keduanya menerangkan bahwa mereka bertekad mencetak buku itu dan ikut FBF,  setelah mendengar Indonesia menjadi Tamu Kehormatan.  Mereka tak hanya membaca tentang Indonesia, tetapi  juga sejarah sastra Indonesia. Mereka merasa, puisi itu lah yang tepat menggambarkan sebuah masa dalam sejarah Indonesia; saat penulis sastra bisa ditangkap dan dipenjara bahkan dibuang atas karya mereka.

Mereka mengakui bahwa ilustrasi kepala manusia bermahkota disitu didapat dari buku buku seni budaya Indonesia , “Ya, ilustrasi itu memang  mengambil ide dari wayang,“ aku Guido.

Keduanya adalah pemilik percetakan ICHverlag Häfner und Häfner, yang kebetulan lagi, berlokasi di kota yang sama dimana saya tinggal, Nürnberg, Jerman.

150 buku ini mereka kerjakan dengan cara manual. Dari nukil kayu, mencetak hingga menjilid buku buku itu dikerjakan dengan tangan. Hand made. Sementara diluar sana jutaan buku yang dipamerkan di expo itu dikerjakan oleh mesin. Luar biasa bukan? Sungguh saya terharu.

Keduanya sebetulnya berharap mereka dapat bertemu langsung dengan para penulis dan budayawan Indonesia yang saat itu hadir di Frankfurt dan menghadiahkan buku itu pada delegasi  Indonesia . Harapan mereka,  masa-masa buruk itu tidak akan kembali. Namun sayang sekali dengan padatnya acara, mereka tidak sempat bertemu dengan  delegasi Indonesia, tidak seorangpun.

Karena sudah mendekati waktu berakhirnya pameran (dimana dari pengeras suara sudah beberapa kali diumumkan bahwa sebentar lagi hall itu harus tutup),  kami pun terpaksa mengakhiri bincang bincang itu.  Mereka menghadiahi saya satu exemplar buku itu dengan nomer 61/150.

Sampai sekarang, tiap kali saya melihat buku itu, tiap kali saya tersentuh, begitu besarkah perhatian orang-orang di negara lain atas sejarah dan sastra Indonesia? Bagaimana dengan kita sendiri terhadap sastra Indonesia?

Selamat Hari Literasi Sedunia. Tahukah Anda betapa berharganya sejarah dan literasi indonesia di mata dunia? Semoga kita semua memahami ini. (*)

8 September 2017

*Miranti HirschmannNürnberg, Germany.  Koresponden di Jerman untuk Salah Satu TV Swasta Nasional.

Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Trending