Connect with us

Tabloids

Orhan Pamuk: Koper Milik Ayah

mm

Published

on

Saya percaya sastra adalah harta karun paling berharga, hasil jerih payah umat manusia dalam memahami kediriannya. Banyak masyarakat, suku dan komunitas akan semakin cerdas, bertambah kaya sekaligus berkemajuan ketika mau menggubris kata-kata pelik dari para penulis.

Dari “My Father’s Suitcase” | Maureen Freely | The Nobel Foundation 2006 | (p) Addi Midham | (e) Sabiq Carebesth

 

Dua tahun sebelum tutup usia, Ayah memberikan koper kecil berisi naskah, manuskrip, dan catatannya kepada Saya. Lagaknya bercanda sekaligus sinis, saat meminta Saya membaca isi koper itu setelah ‘kepergiannya’. Maksudnya setelah dia meninggal.

“Coba kau lihat-lihat,” katanya agak malu-malu. “Mungkin saja ada yang berguna. Barangkali setelah aku ‘pergi’ kamu bisa menyeleksi dan mempublikasikannya.”

Saat itu, kami hanya berdua di ruang studi Saya dan dikelilingi buku. Ayah sempat kebingungan mencari tempat buat menaruh kopernya. Ia mondar-mondir layaknya orang yang kebelet melepas beban berat. Akhirnya, di salah satu sudut ruangan, ia menemukan tempat bagi koper itu. Peristiwa itu memalukan, tapi tak terlupakan.

Setelah momen itu, kami kembali seperti biasa, berbincang santai, menganggap semua masalah ringan dengan bercanda dan mencemooh. Kami bercakap soal remeh-temeh, masalah politik Turki yang tak ada habisnya, hingga bisnis Ayah yang kerap gagal. Soal yang terakhir, kami tak terlalu menyesalinya.

Setelah pertemuan itu, sempat berhari-hari Saya melintas dekat koper Ayah tanpa sekali pun menyentuhnya. Barang ini sebenarnya tak asing. Saya familier dengan bentuk mungil, kulit hitam, model kunci dan sudut-sudut lengkungnya. Ayah kerap membawanya untuk perjalanan singkat atau membawa  dokumen kerja. Saat masih kecil, begitu Ayah pulang dari bepergian, Saya suka membuka koper ini, merogoh isinya sembari menghirup bau kolon dan aroma negeri-negeri asing. Namun, meski sudah karib sejak kanak-kanak, Saya sempat ragu menyentuh koper itu. Kenapa? Karena Saya anggap isinya misterius.

Saya mau jelaskan mengapa isinya misterius. Karena isinya adalah sesuatu yang diciptakan ketika seseorang mengurung diri di dalam kamar, duduk di depan meja, menyepi dari ingar bingar dunia dan kemudian mencurahkan pemikirannya — inilah laku untuk sastra.

Saat Saya mulai berani menyentuh koper Ayah, untuk membukanya pun masih ragu. Begini, Saya benar-benar tak tahu isi tulisan di dalamnya. Saya memang pernah melihat Ayah menulis sejumlah naskah. Sejak lama, Saya juga tahu koper itu menyimpan sesuatu yang berbobot. Ayah pun punya perpustakaan besar. Di masa mudanya, sekitar akhir 1940-an, Ayah bahkan sempat bercita-cita menjadi penyair. Dia pernah menerjemahkan karya Valéry [Paul Valéry] ke bahasa Turki. Namun, Ayah enggan menjalani hidup singkat ini dengan menjadi penyair di negara miskin dan jumlah pembacanya segelintir. Kakek [Ayah dari Ayah Saya] adalah pengusaha kaya. Makanya, Ayah menjalani masa kecil hingga beranjak muda dengan berkelimpahan. Mungkin, karena itu ia ogah hidup susah demi sastra, demi menulis. Ayah menyukai kehidupan yang nyaman. Saya bisa memahaminya.

Semula, Saya menjaga jarak dari koper itu sebab khawatir tak menyukai tulisan di dalamnya. Apalagi, Ayah sudah memberi sinyal saat berlagak seolah-olah naskah di kopernya tidak penting dan serius. Tentu saja sikap Ayah ini menyakitkan bagi Saya yang saat itu sudah 25 tahun berkarier sebagai penulis. Akan tetapi, Saya kemudian menyadari, Saya tidak kecewa dengan sikap Ayah yang mengabaikan sastra. Karena penyebab utama Saya terus ragu membuka koper itu sesungguhnya ketakutan untuk mengetahui kemungkinan, bahwa Ayah sebenarnya pengarang hebat. Dan yang paling Saya cemaskan, Saya mungkin tak bisa mengakuinya. Sebab, jika benar ada karya besar di dalam koper itu, berarti ada kedirian lain dalam diri Ayah. Kedirian liyan itu tentu jauh berbeda dari pribadi Ayah yang Saya kenal. Kemungkinan ini mengerikan, karena meski sudah dewasa, Saya tetap ingin Ayah tetap menjadi Ayah seperti dulu — bukan seorang pengarang.

Menurut Saya, pengarang adalah orang yang tekun, selama bertahun-tahun, berupaya menemukan ‘diri’ yang kedua, sekaligus memahami dunia pembentuk dirinya yang aktual. Saat bicara soal mengarang, yang Saya maksud bukan novel, puisi ataupun tradisi sastra, melainkan orang yang mengurung diri di kamar, duduk di depan meja, menyendiri, merenung, dan di antara bayang-bayang, membangun dunia baru dengan kata-kata. Si pengarang bisa memakai mesin tik, komputer, atau seperti yang Saya lakukan selama 30 tahun terakhir, menulis dengan pena. Saat menulis, ia bisa minum teh atau kopi, mungkin pula sambil merokok. Setelah sekian lama, mungkin ia akan bangkit dari duduknya, melongok keluar jendela untuk menyaksikan anak-anak bermain di jalanan serta pepohonan dan sepotong pemandangan, atau mungkin malah menatap dinding hitam. Ia mungkin telah mengarang puisi, naskah drama, atau seperti Saya, menulis novel. Semua itu terjadi usai ia melakukan kerja amat penting: duduk di depan meja dan menyelami batin.

Mengarang ialah mengubah perenungan mendalam ke kata-kata, serta menyigi dunia yang ditinggalkan saat menyepi. Semua itu dilakukan dengan sabar, tegar sekaligus gembira. Ketika duduk di depan meja selama berhari-hari hingga bertahun-tahun, tekun mengisi kertas kosong dengan kata-kata, Saya merasa seperti sedang membangun dunia baru. Seolah-olah Saya sedang menunjukkan eksistensi ‘diri Saya yang kedua’. Sebagaimana membangun jembatan atau kubah bata demi bata, di urusan mengarang, bata itu kata-kata. Saat menggenggam kata-kata dan menelisik bagaimana setiap rangkaiannya saling terhubung, pengarang terkadang memandangnya dari kejauhan, mendekapnya dengan jari dan ujung pena, menimbang bobotnya, menggeser posisinya. Dan, seiring waktu berjalan, dengan sabar serta optimistis, pengarang membangun dunia baru.

Andalan utama pengarang bukanlah inspirasi — karena tak jelas dari mana barang ini datang —  melainkan kesabaran dan keteguhan. Bagi Saya, pepatah Turki “menggali sumur dengan jarum” adalah kredo dalam menulis. Di kisah si Ferhat [legenda Anatolia], Saya menyukai sekaligus berempati pada kesabarannya menggerus gunung-gunung demi cinta. Di novel “My Name is Red”, saat menuliskan kisah para seniman kuno Persia, yang bertahun-tahun membuat miniatur kuda berbentuk sama persis disertai gairah tak berubah, sampai mengingat betul setiap detail goresan, sehingga mereka bisa menciptakan gambar kuda yang indah dengan mata tertutup, Saya sedang menceritakan cara kerja pengarang, sekaligus Saya sendiri. Jika pengarang ingin mengisahkan ceritanya sendiri — menuturkannya perlahan, seolah-olah itu kisah orang lain —, merasakan kekuatan cerita bangkit dari dirinya, dan duduk di depan meja bersama ketekunan melakoni kerja seni ini, maka semua perlu diawali dengan harapan.

Malaikat pemberi inspirasi [yang rutin menyambangi sebagian orang, tapi jarang hinggap ke yang lain] biasa bermurah hati memberikan harapan dan kepercayaan diri, ketika si pengarang sedang di puncak kesepian, sangat meragukan hasil jerih payahnya, mimpi-mimpinya, nilai karyanya — saat ia berpikir karangannya sekedar kisah biasa. Pada saat-saat inilah, malaikat membukakan mata si pengarang terhadap kisah-kisah, citra-citra, dan mimpi-mimpi soal dunia baru yang akan ia bangun. Kala merenungkan kembali buku-buku yang untuknya Saya menyerahkan segalanya, yang mengherankan, Saya menyadari bahwa kalimat-kalimat, mimpi-mimpi, halaman-halaman di dalamnya, yang membawa Saya ke puncak kepuasan, tidak berasal dari imajinasi Saya sendiri — seolah-olah ada kekuatan lain yang menemukan mereka dan bermurah hati menghadiahkannya kepada Saya.

Penyebab Saya tak kunjung membuka koper itu mulanya adalah kekhawatiran bahwa Ayah bukan tipe orang yang mampu menerima beban seperti yang Saya tanggung saat mengarang. Bahwa bukan kesunyian yang Ayah sukai, melainkan teman-teman, kerumunan, tempat meriung, lelucon dan gaul. Namun, belakangan cara pandang itu berubah. Saya menyadari, ideal mengenai laku sunyi dan soliter berasal dari pengalaman Saya pribadi sebagai penulis. Padahal, banyak pengarang brilian tetap aktif berkarya dengan menjalani hidup meriah bersama banyak teman dan keluarga, lengkap dengan pergaulan dan interaksi menyenangkan. Belum lagi, Ayah pun pernah melepas hidup monoton bersama keluarga, ia meninggalkan kami yang masih belia untuk menuju Paris, dan—seperti  banyak pengarang lainnya— berdiam di kamar hotel, menulis. Saya yakin, tulisan-tulisan itu ada di koper Ayah. Sebab, beberapa tahun menjelang koper itu diberikan ke Saya, Ayah sempat bercerita soal kehidupannya di masa itu. Ayah menceritakan yang dijalaninya di tahun-tahun itu, termasuk saat Saya masih bocah. Akan tetapi, Ayah tidak bilang tentang kekalutan, mimpi menjadi pengarang, maupun perenungan soal identitas yang membuat dirinya menyepi di kamar hotel. Ayah malah berkisah tentang perjumpaannya dengan Sartre di Paris, buku-buku dan film-film kesukaannya. Semua ia ceritakan, dengan keseriusan yang sungguh-sungguh, bahwa semua itu penting. Makanya, saat sudah menjadi pengarang, Saya tak pernah lupa bersyukur memiliki Ayah yang gemar menceritakan dunia para penulis, jauh lebih sering daripada membahas para pasha atau ulama. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang mungkin mendorong Saya membaca tulisan-tulisan Ayah di koper itu, sekaligus untuk mengenang betapa Saya berhutang budi pada perpustakaannya. Saya harus ingat, seperti Saya, Ayah pun pernah gemar menyendiri bersama buku-buku dan gagasan — tanpa melulu memikirkan kualitas sastrawi tulisannya.

Namun, ketika kembali menatap koper Ayah, Saya justru kembali terbebani pikiran lain. Saya teringat, Ayah kadang terlentang di ranjang bersama koleksi pustakanya, mengabaikan majalah atau buku yang sedang ia pegang,  seperti tenggelam dalam mimpi, ia lama berpikir mendalam. Di kala seperti itu, raut muka Ayah jauh berbeda dari biasanya. Tidak seperti saat ia bercanda, mengolok-olok maupun cekcok soal masalah keluarga. Pada momen seperti itulah — awal mula Saya memahami makna tatapan batin — Saya, terutama saat masih kecil dan remaja, melihat dengan perasaan gentar bahwa Ayah sedang kecewa.

Bertahun-tahun kemudian, Saya tahu kekecewaan seperti itulah pelatuk utama yang medorong seseorang menjadi pengarang. Ketabahan dan kerja keras saja tak cukup untuk bekal menjadi penulis: karena sejak awal kita harus terdorong untuk lari dari kerumunan, pergaulan, hidup yang biasa-biasa saja dan normal, sehingga memutuskan untuk menyepi di kamar. Dengan penuh harap dan ketekunan, kita mesti berupaya menemukan kedalaman hidup di goresan pena. Hanya dengan mengurung diri di kamar, kita mendapatkan kekuatan. Contoh penulis kawak dengan kemerdekaan seperti ini — yang membaca demi kepuasan batin, hanya mendengarkan nuraninya sekaligus menentang suara-suara lain, serta bersama buku-buku membangun gagasan dan dunianya sendiri — adalah Montaigne. Penulis dari masa paling awal sastra modern itu rujukan utama Ayah. Penulis yang ia rekomendasikan kepada Saya.

Saya pun merasa menjadi bagian dari tradisi para penulis yang di mana pun berada, Timur atau Barat, terpisah dari masyarakat dan mengurung diri bersama buku-buku di kamar mereka. Bagi Saya, titik mula sastra adalah mengurung diri di kamar bersama buku-buku. Meski begitu, ketika menyepi, kesadaran bahwa kita sebenarnya tak benar-benar sendiri segera muncul. Kita akan ditemani oleh kata-kata yang lahir jauh sebelumnya, kisah-kisah, buku-buku dan kalimat milik orang lain. Itulah yang selama ini kita sebut tradisi sastra.

Saya percaya sastra adalah harta karun paling berharga, hasil jerih payah umat manusia dalam memahami kediriannya. Banyak masyarakat, suku dan komunitas akan semakin cerdas, bertambah kaya sekaligus berkemajuan ketika mau menggubris kata-kata pelik dari para penulis. Sebaliknya, sudah lazim diketahui, pembakaran buku dan penistaan terhadap para penulis adalah pertanda era kegelapan serta zaman sia-sia sedang datang. Namun, sastra juga bukan perkara di lingkup batas-batas nasional saja. Pengarang yang menyepi di kamar dan berpetualang ke alam batinnya akan menemukan hukum abadi dalam sastra: dia harus bisa menceritakan kisahnya seolah-olah itu milik orang lain, dan sebaliknya, mengisahkan cerita orang lain seakan-akan itu kisahnya sendiri. Demikianlah menulis sastra. Kita mesti mengawalinya dengan menjelajahi kisah dan buku karya banyak penulis lain.

Interview selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata”

yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta (2019)

Continue Reading
Advertisement

Tabloids

Bagaimana Perpustakaan Dapat Meredam Populisme?

mm

Published

on

“Setelah pemilihan umum tahun 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.” Ia membuka sebuah rahasia dan inilah faktanya: “Jika Anda ingin tahu jenis infrastruktur sosial yang benar-benar dihargai oleh para pemimpin industri teknologi, lihatlah dengan seksama bangunan-bangunan yang didirikan di Silicon Valley: Kantor-kantor yang didesain untuk pertemuan-pertemuan tak sengaja antara anggota dari tim-tim yang berbeda. Kafetaria-kafetaria dengan meja bersama dan makanan gratis. Lapangan-lapangan olahraga, jalan-jalan setapak, taman-taman di atap bangunan, ruang-ruang untuk pesta. Mengapa? Karena mereka ingin pekerjanya merasa begitu senang di kantor hingga mereka tak ingin pergi. Dan, seperti yang Mr Zuckerberg ketahui lebih dari siapa pun, cara untuk melakukannnya bukanlah dengan membiarkan para pekerja menghabiskan waktu dengan sosial media lebih lama.

 

Oleh: Sabiq Carebesth & Marlina Sophiana *)
(Redaktur dan Editor Utama Galeri Buku Jakarta)

Dunia abad kita hari ini membutuhkan infrastruktur sosial jika ingin kemanusiaan dan perdamaian dunia terus bisa dijaga dan dimajukan. Infrastruk sosial yang nyata, difasilitasi oleh instrumen penentu kebijakan pubik dan pada saat sama sedikit mengabaikan utopia maya tentang komunitas bersama seperti di janjian sosial media. Kenapa?

Di tengah gejala bahkan telah faktual berkembangnya populisme di banyak negara di dunia dan telah menyebabkan dampak-dampak mengerikan yang nyata, dunia membutuhkan infrastruktur sosial untuk menampung kohesi bersama dan mewujudkan kemanusiaan yang diimpikan seluruh manusia. Ketika banyak pemimpin pemerintah di dunia membangunan insfrastruktur dalam logika pembangunanisme, infrastruktur sosial kerap kali terabaikan, sementara dunia digital terutama sosial media yang diklaim mampu menghubungkan semua dan berbagi kebaikan untuk semua terbukti gagal memenuhi janji kemanusiaanya. Infrastruktur pembangunan dan sosial media justeru berkontribusi paling besar pada makin tinggi dan kokohnya tembok pembatas yang kian memisahkan manusia dari sesamanya dan dari kemanusiaan. Sementara dalam keterasingan yang terus memuncak itu, populisme merebak seperti jamur di musim pancaroba keadilan ekonomi dan politik.

Itulah pesan menarik dari buku terbaru karya Eric Klinenberg, seorang sosiolog di New York University dan pengarang “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018) mengungkapkan gagasan menarik tentang sosiologi kenapa populisme khususnya di barat menjadi begitu mengerikan. Buku itu memulai wacananya dengan fakta di mana tahun-tahun ini beragam gagasan telah dikemukakan untuk menjelaskan bangkitnya populisme di Barat: dari mulai ketidakamanan ekonomi, reaksi negatif dari persoalan imigran dan berita palsu. Hal lain yang masuk daftar itu mungkin kurangnya ruang-ruang bersama di mana orang dari berbagai dimensi kehidupan dapat bertemu dan bergaul.

Secara spesifik Eric Klinenberg juga menyatakan jika politik menuju semangat kesukuan, mungkin hal itu akibatnya jika orang-orang diberikan tembok pemisah satu sama lain-dalam beberapa kasus tembok betulan-mengikis perasaan kesamaan dan komunitas.

Krisis infrastruktur sosial dinilai menjadi salah satu pemicu utama krisis global yang melanda dunia saat ini. Bagi Klinenberg, infrastruktur sosial merupakan ruang-ruang publik yang membawa orang-orang bersama sehingga dapat terbentuk suatu ikatan. Dalam bukunya, dia mencatatkan bagaimana hal tersebut memberikan manfaat mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga laku pemerintahan yang lebih baik, di masa di mana sosial media tampak mendorong orang untuk saling menjauh.

Sosial Media dan Kesemuannnya

Perkembangan dunia digital terutama ditandai oleh lahirnya era sosial media pernah menjanjikan kemajuan global sekaligus perdamaian umat manusia yang cemerlang. Tetapi kenyataanya justeru sebailiknya.

Melalui Program Inisiatif Open Future, The Economist, Eric Klinenberg dalam satu sesi wawancara bahkan menuding sosial media menjadi perkakas utama masifnya kebencian dan populisme menyebar seperti virus mematikan yang endemik.

“Setelah pemilihan umum tahun 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.”

Ia membuka sebuah rahasia dan inilah faktanya: “Jika Anda ingin tahu jenis infrastruktur sosial yang benar-benar dihargai oleh para pemimpin industri teknologi, lihatlah dengan seksama bangunan-bangunan yang didirikan di Silicon Valley: Kantor-kantor yang didesain untuk pertemuan-pertemuan tak sengaja antara anggota dari tim-tim yang berbeda. Kafetaria-kafetaria dengan meja bersama dan makanan gratis. Lapangan-lapangan olahraga, jalan-jalan setapak, taman-taman di atap bangunan, ruang-ruang untuk pesta. Mengapa? Karena mereka ingin pekerjanya merasa begitu senang di kantor hingga mereka tak ingin pergi. Dan, seperti yang Mr Zuckerberg ketahui lebih dari siapa pun, cara untuk melakukannnya bukanlah dengan membiarkan para pekerja menghabiskan waktu dengan sosial media lebih lama. Caranya adalah dengan mendesain dan membangun infratruktur sosial terbaik yang dapat disediakan.”

Peran Pemerintah dan “Minus”nya Philantropi

Pemerintah dinilai tetap menjadi aktor kunci yang harus memfasilitasi dan membangun infrastruktur sosial. Klinenberg meragukan hal semacam itu bisa diatasi sendirian oleh misalnya gerakan philantropi yang memiliki beban watak dasarnya untuk memiliki kecenderungan untuk tidak adil pada semua komunitas. Philantropi selalu memihak, pilih-pilih, dan tidak terdistribusi secara merata. Satu-satunya cara kita mendapatkkan infrastruktur sosial yang komprehensif adalah jika sarana publik itu disediakan oleh pemerintah.

Perpustakaan Modern Aleksandria di kota Aleksandria, Mesir. | Perpustakaan ini dalam sejarahnya merupakan salah satu perpustakaan terbesar dan terpenting pada zaman kuno. Perpustakaan ini merupakan bagian dari sebuah lembaga penelitian yang lebih besar, Mouseion, yang dipersembahkan untuk para Musai.

Sebagai gantinya ia menandaskan kerjasama pemerintah-swasta sealu memainkan peran penting dalam pembangunan infrastruktur sosial—menggaris bawahi peran pemerintah dalam hal inisitif politik dan dana pengelolaan-perawatannya.

Sebagai contoh, untuk kasus Amerika. Andrew Carnegie, bagaimanapun, menyumbangkan uang untuk membangun hampir 1700 perpustakaan umum di Amerika, dengan syarat bahwa pemerintah lokal menanggung semua biaya untuk operasional dan perawatannya. Kemurah hatian Carnegie muncul di saat tidak ada pajak penghasilan negara bagian. Bayangkan berapa banyak “palaces for the people” yang dapat dibangun di Amerika jika negara membebankan pajak yang adil padanya dan para pelaku industri sukses lainnya.

Jadi tidak efektif sama sekali untuk misalnya memberikan kebijakan memotong pajak bagi orang-orang yang paling kaya dan berharap kedermawanan mereka dapat meolong persoalan-persoalan pubik, apakah itu berkaitan dengan keadilan ekonomi dan kesejahteraan atau pun infratruktur sosial.

Infrastuktur Sosial dan Perpustakaan

Kesadaran pembangunan infrastrutur fisik pada saat bersaa harus diimbangi dengan investasi sama besar pada infrastruktur sosial menjadi hajat kesadaran kita bersama dan menyorongkannya terutama pada pengambil kebijakan publik.

Untuk dijadikan contoh, beberapa negara telah mengembangan porsi adil akan hal itu dan terbukti mampu menyelamatkaan kota dan generasinya dengan lebih baik.

Belanda disebut Klinenberg sebagai pelopor dan merupakan rujukan utama dalam pengintegrasian infrastuktur sosial ke dalam strategi-strategi  adaptasi dan mitigasi iklim. Orang Belanda telah belajar membangun taman-taman, plaza dan taman bermain yang berfungsi ganda sebagai sistem manajemen banjir, jadi investitasi keamanan ekologis juga menigkatkan kulaitas kehidupan sosial sehari-hari.

Jepang telah memasukkan infrastruktur sosial ke dalam infrastruktur sistem transitnya. Stasiun-stasiun di Tokyo berupa bangunan bawah tanah yang luas dan terlindungi dari bahaya banjir yang dialami kota New York selama badai Sandy. Stasiun-stasiun di sana juga bersih, dirawat dengan baik dan dihidupkan dengan berbagai aktivitas komersil. Beberapa stasiun kini menjadi destinasi sosial-sangat jauh dibandingkan dengan apa yang kita alami di New York, di mana kegiatan transit menjadi perang antar semua.

Dalam kasus yang lebih umum infrastruktur sosial sangat terkait dengan ruang bersama untuk memajukan penalaran dan pikiran kritis publik dengan pada saat bersamaan kohesi dan empati kemanusiaan ditumbuhkan. Ruang publik semcam itu paling mungkin dan mudah dibayangkan dalam bentuk perpustakaan.

Perpustakaan

Ketika The Economist menanyakan apa relasi langsung dan lebih mendalam infratruktur sosial dalam menjawab persoalan populisme, otoritarianisme, post-truth dan masyarakat terbuka—bukan sekadar kohesi sosial, yang merupakan efek langsung… –wujud paling konkrit yang bisa diterapkan dengan konstan, Klinenberg menjawab lugas: Perpustakaan.

Baginya, perpustakaan memainkan peran yang begitu penting dalam mempromosikan budaya demokrasi-dan menantang otoritarianisme-karena cara mereka diisi oleh pegawai-pegawai, dikelola, dan deprogram. Mereka sangat inklusif. Mereka diatur oleh professional yang patuh pada norma-norma kejuruan: mengejar pengetahuan dengan peralatan terbaik yang kita punya; tak menghakimi; menghargai martabat setiap orang; menjaga privasi; memperlakukan semua orang secara setara, tak peduli kelas sosial, ras, etnsitas, usia, kemampuan atau pun status kependudukan. Jika di sisi lain peperangan ini, para demagog dan jawara teknologi mendorong kita kepada era post-truth, di sisi lain, para pustakawan menarik kita kembali.

This slideshow requires JavaScript.

[Photos: Identity is celebrated at Katikati’s new library in its sculptural building design and the vibrant colours woven through its double-height interior. Serving a population of just over 4600, the Katikati library and adjacent community hub must cater for a wide range of age groups and interests. With a vibrant local artistic community and the Kaimai Range nearby, First Principles Architects has developed an architectural and interior design language to celebrate local identity.]

Sebaliknya, penelantaran persputakaan bisa menjadi preseden buruk tidak hanya tampaknya tapi juga dalam relasi ekonomi dan sosial politik yang lebih luas.

Kenyataanya justeru menyedihkan bahwa abad kita sekarang justeru cenderung menelantarkan perpustakaan-perpustakaan justru di saat kita sangat membutuhkannya.

Di New York, mayor Bill De Blasio yang dikenal “progresif” ingin memotong jutaan dolar dari anggaran perpustakaan, yang berarti dapat menutup beberapa cabang penting di akhir pekan. Di Ontario, Kanada, pemerintahan kota Doug Ford memotong anggaran layanan perpustakaan hingga setengahnya. Jika kamu tak menganggap hal ini penting, coba kunjungi perpustakaan lokalmu minggu ini dan lihat hal-hal luar biasa yang terjadi di sana. Tiap kali perpustakaan ditutup masyarakat kita menjadi agak kurang terbuka, demokrasi kita sedikit lebih rapuh. Jika kita tidak berinvestasi ulang pada perpustakaan, dan pada infrastruktur sosial secara umum, apa yang akan menjaga kita dari zaman kegelapan yang ditakuti banyak orang itu?

Kita tidak perlu menalar dan membayangkan rumit bagaimana hal itu bisa dilangsungkan. Dalam buku “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018) Klinenberg telah memberikan laporan pandanan matanya:

“Saya sudah melihatnya, dalam kunjungan saya ke Oodi Library di Helsinki. Itu merupakan perpustakaan yang terasa seperti sebuah kapal luar angkasa di tengah-tengah kesibukan metropolis. Perpustakaan itu punya ruang-ruang yang terbuka, terang, dan berangin untuk membaca dan menulis. Perpustakaan itu punya ruangan untuk berbagai jenis kegiatan kolaborasi, dari video gaming hingga pembuatan podcast dan menjahit. Tempat itu punya ruangan untuk pertemuan-pertemuan komunitas, sebuah teater, makanan terjangkau dan beragam program. Lebih hebat lagi, tempat itu buka setiap hari, dari jam 8 pagi hingga 10 malam di hari kerja, dan hampir dengan jam kerja yang sama di akhir pekan.

Tapi tempat seerti Oodi ada juga di luar negara-negara Skandinavia. Kota-kota di penjuru bumi telah berinvestasi pada perpustakaan-perpustakaan modern baru yang didesain sesusai kebutuhan abad 21. Lihatlah perpustakaan baru di Austin, Texas, yang menyediakan ruang khusus bagi pelaku teknologi lokal dan banyak sekali ruang terbuka untuk anak-anak dan orang dewasa. Atau yang lebih kecil, perpustakaan di sururban Cuyahoga County, Ohio yang disibukkan dengan aktivitas siang dan malam-pembacaan buku oleh pengarang, 3D printing, waktu bercerita untuk keluarga, pertemuan-pertemua komunitas terkait isu-isu lokal yang perlu disiarkan. Sementara di Kanada, deskripsi tersebut mungkin mengingatkanmu dengan perpustakaan baru di Calgary. Di tiap-tiap kota itu, penduduk secara kolektif memutuskan bahwa investasi publik pada infrastruktur sosial akan membawa beragam manfaat. Di Columbus, Ohio, voter memutuskan untuk membebani diri dengan pajak untuk mendapatkan keistimewaan dari perpustakaan yang lebih baik.”

Begitulah dunia di sana mengabarkan pentinganya infrastruktur sosial khususnya perpustakaan, bahkan orang-orang, kelompok milenial, membebani dirinya sendiri untuk pajak demi terbangunnya ruang perpustakaan yang lebih baik. Di sini? Perpustakaan yang lebih megah di bangun, di pusat kota sementara di kota-kota lain yang lebih kecil? Peran pemerintah daerah?

Di sisi lain komunitas-komunitas baca tumbuh meski malah terlihat menyedihkan dengan tidak adanya dukungan dari lebih banyak orang sekitar bahkan pemerintah sendiri, kegiatan mereka kerap dilarang dan dicurigai. Bisa kita bayangkan sendiri situasinya, anggaran yang… pelarangan.. pembiaran terhadap aksi-aksi brutal terhadap buku dan komunitas baca. Tidakkah itu hal mengerikan yang seharusnya meminta perhatian lebih dari kita semua? (*)

_________
*) Ditulis oleh Sabiq Carebesth & Marlina Sophiana: disarikan dari interview Eric Klinenberg dengan The Economist dalam program Open Future dan ihtisar dari Buku “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018)

 

Continue Reading

Inspirasi

Etos Kepengarangan Pramoedya Ananta Toer

mm

Published

on

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

Oleh Hasan Aspahani *)

TIAP pengarang punya cara kerja sendiri. Tapi ada etos dasar yang harus dimiliki oleh siapa saja yang ingin menjadi pengarang yang bersungguh-sungguh. Kita bisa menemukan teladan itu pada Pramoedya Ananta Toer (1925-2006).

Sebagian masa hidupnya dihabiskan di dalam penjara. Tapi ia tak pernah berhenti mengarang. Banyak pengarang dibuang bersamanya dan 800 tapol lain yang dibawa ke Pulau Buru, tapi sepertinya hanya dari Pramoedya kita mendapatkan karya yang monumental.

Banyak tapol yang jatuh dan rusak mentalnya, sakit fisiknya, bahkan meninggal di Pulau Buru. Tapi Pram tidak. Ia bertahan sebagai manusia. Saya yakin kepengarangannyalah yang mengguatkan dia. Dia tegar karena dia – sesulit apapun – masih bisa menulis.

Bagaimanakah etos kepengarangan seorang Pram? Banyak sisi yang bisa kita teladani. Saya membaca “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” (Hasta Mitra, 2000), dan dari situ, saya butirkan empat hal yang menurut saya adalah yang terpokok dan terpenting:

  • Menulis dalam Keadaan Apapun

Ketika rombongan wartawan datang ke Pulau Buru, pada 1973, dan diberi kesempatan mewawancarai para tahanan politik, Rosihan Anwar dan sejumlah sastrawan lain bertanya jawab dengan Pramoedya Ananta Toer. Rosihan bertanya, “Pram, Jij masih menulis?”

Jawab Pram, “Ya, baru-baru ini hampir separoh dari roman tentang periode kebangkitan nasional telah aku selesaikan.”

Dalam tahanan, dalam buangan dan pengasingan, dengan harga diri yang direndahkan, dengan akses pada bacaan bahkan alat tulis yang terbats, serta diperlakukan dengan tak manusiawi, Pram tetap menulis.

  • Tulis Hanya Apa yang Ingin Kita Tulis

Dalam kesempatan yang sama, Gayus Siagian bertanya pada Pram. Ia menanggapi jawaban Pram atas pertanyaan Mochtar Lubis tentang kenapa Pram menulis cerita berlatar sejarah. Pram bilang ia muak dengan hal-hal yang tidak menyenangkan kala itu.

“Bukankah justru yang memuakkan itu yang harus ditulis?” tanya Gayus.

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

  • Bertekadlah untuk Menghasilkan Karya Besar

Roman Tetralogi Pulau Buru adalah karya yang lahir dari tekad itu. Pram menuliskannya dengan hasrat untuk menghasilkan karya yang abadi. Tak pernah berhenti dibaca, tak pernah kehilangan relevansi.

Ia menulis: … Aku ingin menulis roman besar dalam hidupku, dan setiap pengarang bercita-cita menghasilkan karya abadi, dibaca sepanjang abad, dan lebih baik lagi: dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia sepanjang zaman.

  • Bangun Dokumentasi dan Arsip Pribadi

Pramoedya adalah penulis yang mengandalkan riset. Ia percaya bahwa inspirasi adalah produk dari pemikiran, bacaan, serta pengalaman. Karena itu baginya sumber bacaan itu sangat penting.

Rangkaian roman Bumi Manusia dan tiga serialnya, sudah ia rancang sebelum ia ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru, 1965. Ia memulai dengan riset dan mengumpulkan bahan sejarah.

Ia menghimpun data-data otentik, wawancara, membaca buku, dan menyiarkan bahan-bahan yang didapat itu sedikit demi sedikit, untuk memancing masukan.

Ia juga menyalin bahan dari perpustakaan museum. Ia membayar tenaga pembantu untuk pekerjaan itu. Memang, perlu biaya dan kerja keras untuk menghasilkan karya besar.

Dokumentasi adalah tulang punggung bagu kerja seorang pengarang. Juga “…kekuatan, pedoman kenyataan di tangan, yang dengannya suatu kerja cipta dibangun.”

  • Kesempurnaan Dicapai dengan “Rasa Tidak Puas”

Pram adalah pengarang yang kritis pada diri dan karyanya sendiri. Ia melayani idenya. Ketika ia merasa harus berhenti dahulu menulis “Bumi Manusia”, roman tentang kebangkitan nasional itu, ia merasa perlu  menulis tentang masa-masa “kejatuhn Nusantara”, agar pemahamannya tentang kebangkitan nasional lebih utuh.

Maka ia pun menulis roman lain, yaitu “Arus Balik”.  Ia selesaikan karya itu dengan perasaan tak puas. Karena tak tersedi pustaka yang cukup.  Kalaupun roman itu akhirnya selesai, dia menganggap itu sebagai “naskah belum sempurna”.

__

CTI, Depok, 2019 

Hasan Aspahani
Lahir, di Handil Baru, Samboja Kutai Kartanegara, 1971. Jurnalis di grup Jawa Pos, penyair dengan sejumlah buku dan penghargaan, penulis nonfiksi dan fiksi antara lain ‘Biografi Chairil Anwar” (Gagasmedia, 2016), “Ya, Aku Lari” (DivaPress, 2018).
Continue Reading

Buku

Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

mm

Published

on

Adania Shibli via https://lithub.com

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta.

___
Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012. (p) Marlina Sopiana (e) Sabiq Carebesth

 

Jika novel pertamanya Touch tak cukup meyakinkanmu, karya kedua Adania Shibli We Are All Equally Far from Love membuktikan talentanya yang langka dan menantang. Buku ini bukanlah karya yang mudah ataupun menyenangkan untuk dibaca, tapi merupakan karya yang luar biasa yang menjalin bersama melankolia, keindahan, kekerasan, dan penggambaran fisik yang kasar dalam renungan yang panjang tentang cinta dan kesepian.

Bahkan lebih ekstrem dari Touch, buku ini bisa dikatakan sebagai novel hanya dalam klasifikasi yang sangat lemah. Buku ini tak memiliki narasi ataupun plot yang umum; cerita-cerita pendek dan sketsa-sketsa di dalamya hampir tak berkaitan satu sama lain kecuali dalam beberapa momen yang mengisyaratkan kesinambungan. Satu nama karakter kurang favorit yang menjadi korban, misalnya, muncul dalam percakapan-percakapan santai di beberapa cerita yang mengungkapkan bahwa dia telah bunuh diri.

Sejumlah referensi lainnya bahkan lebih samar; apakah pohon kenari yang menggantung pada dinding di mana sesosok karakter jalan melewatinya merupakan pohon yang sama dengan pohon kenari yang tumbuh di kebun milik orang lainnya? Pembaca pasti terus bertanya-tanya tentang pertautan antar orang dalam kisah-kisah ini, apakah mereka menggambarkan sejumlah aspek kehidupan dalam satu komunitas yang saling berkaitan ataukah sepnuhnya terpisah, kecuali tentang pengalaman mereka tentang penderitaan. Di mana kisah ini terjadi juga tak begitu jelas; hanya sebuah cerita menunjukkan hal ini, mengingat pekerjaan seorang karakter di sebuah kantor pos yang berkaitan dengan menangani “surat-surat yang dialamatkan ke … ‘Palestina,’ yang alamatnya mesti dia hapus dan menggantinya dengan ‘Israel,’”(20). Satu catatan tentang keluarga sang karakter yang mengatakan “meskipun Kakeknya merupakan pejuang revolusi, dan terbunuh tahun 1948, Ayahnya seorang kolaborator” (10).

We Are All Equally Far From Love| ISBN: 9781566568630 | Paperback: 148 pages | Publisher: Clockroot Books, 2011 | Language English. Adania Shibli, born in 1974 in Palestine, is two-time winner of the Qattan Foundation s Young Writer s Award for this and her acclaimed novel Touch. ‘We Are All Equally Far From Love’ revolves around a young woman who begins an enigmatic but passionate love affair conducted entirely in letters. But suddenly the letters no loners arrive. Perhaps they are not reaching their intended recipient? Only the teenage Afaf, who works at the local post office, would know. Her favorite duty is to open the mail and inform her collaborator father of the contents until she finds a mysterious set of love letters, apparently returned to their sender.

Suasana yang menguasai We Are All Equally Far from Love bukanlah perasaan yang menggembirakan. Sebab bagi satu karakter, “semuanya dalam hidupku terasa monoton. Aku tak lagi peduli tentang apa pun… Semuanya menuju kematian, tanpa ada yang bisa menghentikannya” (3,9). Karakter lain meratapi hidupnya sebagai “pecundang,” menyembunyikan kegagalan-kegagalan dari keluarganya. Sebab yang lain-lainnya, ketakterhubungan meluap menjadi kekerasan, baik yang berupa fantasi-“Aku akan membunuhnya. Tanpa membunuh Ayahku. Sehingga dia akan sama menderitanya seperti aku dibuatnya…Dia selalu saja begitu, Ibuku. Apapun yang kulakukan akan mendorongnya ke batas di mana dia berharap tak pernah melahirkanku” (94,98) – ataupun yang nyata, seorang Ayah dengan santai melempar sepatu ke kepala anak perempuannya saat sang anak melawan perkataannya.

Yang paling mengerikan, sebuah pertunjukkan pelecehan oleh seorang yang ditolak cintanya memuncak pada mesin penjawab pesannya yang berbunyi: “Suaranya tenang, dalam, jelas, dan mungkin dia tersenyum … Dia berujar bahwa dia akan memperkosanya, dan dengan suara yang makin dalam dia menambahkan bahwa inilah satu-satunya cara agar dia bisa memuaskan nafsunya” (76).

Realitas yang mengherankan

Sebagaimana dengan novel pertamanya, pengamatan tajam Shibli atas detail-detail fisik yang minor menimbulkan keheranan, kadangkala membuat mual, itulah realitas dunia bagi karakter-karakternya. Seorang perempuan berkubang dalam bau yang muncul dari tubuhnya dan dari muntahan yang mengering di lantai, menggambarkan kehancuran moral dan emosional dari keluarganya yang terfragmentasi (103), sementara “bunyi berderit dari kakinya yang memakai sandal plastik memenuhi telingaku. Suaranya mengingatkanku akan bunyi-bunyian yang muncul pada saat berhubungan seksual, yang membuatku menghapus gagasan untuk masturbasi dari agenda hari ini” merefleksikan ambivalensi status seks dalam dunia Shibli (99).

Penggambaran tajam yang menyakitkan ini berlanjut ke dalam dunia internalnya, mengakui sejumlah pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan memalukan yang seringkali menyertai kekacauan emosional, mulai dari pengakuan blak-blakan “baru kemudian aku mengerti bahwa aku melihat semuanya agar dapat menulis padanya tentang hal itu” (1) hingga kehampaan seorang perempuan yang mencoba melepaskan dirinya dari hubungan yang tak diinginkan: “Dia ingin perjumpaannya menjadi seperti perkawinan yang sembunyi-sembunyi” (71).

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta. Mandi dan mencintai, memasak dan mencintai. Mengemudikan mobil dan mencintai” (33). Seorang pria yang terperdaya berkisah tentang kekasihnya “punggungnya seperti buah peach di puncak musim panas” (62) dan bahkan salah satu peristiwa yang paling menakutkan dalam buku ini terjadi dalam latar “malam yang hangat dan kegelapan yang pekat, terutama di balik pohon-pohon zaitun” (77).

Baca Juga: Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

Kecerdikan yang tak biasa

Senjata lain Shibli untuk menghindari kesengsaraan yang berlebih-lebihan adalah kecerdikannya yang tak biasa, seringkali diperuntukkan – sebagai pasangan sebuah buku yang kejujurannya begitu blak-blakan- pada apa saja, menghantam segala kedangkalan dan kepura-puraan. Di dinding sebuah kantor pos dia mendeskripsikan “sebuah lukisan kepala negara, yang tak lebih kotor dari benderanya, karena demokrasi memaksanya mengganti mereka dari waktu ke waktu” (19). Dari layanan pos yang sama: “Sangatlah wajar bagi penduduk lokal bahwa surat-surat mereka sampai di tangannya dalam keadaan terbuka. Jika sebuah surat sampai dalam keadaan tersegel, mereka mengatakan itu karena kantor pos masih memiliki lem perekat, yang sebentar lagi pasti habis” (20). Tentang seorang pemuda yang mencari pasangan pengantin, dia mengamati “bergandengan, dia dan mangsanya memulai perjalanan tak berkesudahan menuju kebosanan” (18), sementara melalui penggambaran yang sangat mengena tentang sebuah keluarga yang hidup dengan perasaan saling membenci, dia mendeskripsikan “belantara furnitur-furnitur tak terpakai yang digunakan kakak iparku untuk menghidupi dunianya” (112).

Di tangan pengarang yang tak lebih berbakat dari Shibli dan penerjemah yang kurang terlatih dari Paul Starkey, buku ini bisa saja menjadi sebuah nyanyian penguburan penuh kecemasan. Tetapi melalui ketangkasannya dalam menangkap keindahan dan lelucon bersamaan dengan penderitaan dan isolasi, coraknya yang beragam dan perubahan suasananya, buku ini menjadi sebuah eksplorasi kedalaman jiwa manusia yang suram, sukar, melelahkan tapi tentu saja melegakan.

*) Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending