© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Oka Rusmini dan Tempurung Tradisi

Damhuri Muhammad*

Jika Bali diibaratkan dengan tubuh perempuan, maka tubuh itu pasti molek dan seksi. Bukan saja kecantikan badani yang dapat dipandang dari segala sudut pengamatan, tapi juga eksotisme yang membersit dari dalam. Anggun, ramah,  menentramkan. Demikian citra Pulau Dewata yang telah menjadi artefak dalam kepala banyak orang, baik yang sudah kerap berkunjung, maupun yang masih menggantungnya dalam angan-angan.

Namun, tidak demikian suasana Bali dalam karya-karya Oka Rusmini. Ia menyingkap “dunia dalam” masyarakat Bali yang jarang menyeruak ke permukaan. Sebagaimana judul novelnya Tempurung (2017)–dicetak ulang oleh penerbit Grasindo bersamaan dengan Kenanga dan Sagra (kumpulan cerpen)–”dunia dalam” orang Bali adalah dunia keras yang mengungkung, seperti ruang sempit dalam tempurung kelapa, dengan “lembaga kepatuhan” sebagai langit-langitnya. Lembaga kepatuhan yang dibangun oleh tradisi itu  membawa ketakmujuran, terutama bagi kaum perempuan. Perempuan bernama Jero Kemuning  dalam novel Kenanga, mesti mengorbankan perasaan selama ia berkhidmat sebagai istri bagi suami yang tak dicintainya. Pernikahan Kemuning bermula dari perjodohan guna mengangkat martabat sebuah keluarga. Suaminya berasal dari keluarga berkasta Brahmana, sementara Kemuning bersidik jari Sudra–dengan nama asli Luh Putri Arimbi. Setelah dipersunting lelaki berdarah biru, aturan adat memberinya gelar Jero (orang luar). Perkawinan itu juga mewajibkan Arimbi meninggalkan leluhur, kerabat, bahkan tubuh Sudranya. Ia adalah manusia baru yang selamanya akan menjadi milik keluarga suaminya.

Nestapa Kemuning selanjutnya adalah kerelaan untuk memadamkan api cintanya pada Rahyuda, yang tak lain adalah keponakan dari suaminya. Aib besar bagi Kemuning jika menyuarakan perasaannya pada Rahyuda, meski sepeninggal suaminya, Kemuning dan Rahyuda tinggal di rumah yang sama. Dengan segenap ketulusan Kemuning melayani macam-macam kebutuhan Rahyuda sepulang bekerja. Kemuning tak mungkin menistai martabatnya sebagai mantan istri seorang Brahmana. Pun Rahyuda, meski ia seorang intelektual berpredikat Guru Besar, lembaga kepatuhan yang kokoh menancap di lingkungan griya (rumah hunian keluarga kasta Brahmana) mustahil ia terabas. Rahyuda berhutang budi pada mendiang pamannya. Akibatnya, Rahyuda membujang sampai mati, dan Kemuning bertahan sebagai janda hingga ajalnya tiba. Dalam gumpalan asap dari api pembakaran jenazah Kemuning, lewat percakapan antara Kenanga dan Bhuana, pengarang dengan sinis menulis; “Apa yang kau lihat dalam gumpalan asap itu, Bhuana?” Dengan tangkas Bhuana menjawab; “Kekalahan.”

Bila Kemuning adalah gambaran “orang luar” griya  yang menanggung petaka akibat lembaga kepatuhan, maka Kenanga dan Luh Intan–dalam novel yang sama–dapat dipandang sebagai “orang dalam” yang sama-sama tergeletak sebagai korban akibat kepatuhan yang tak dapat ditawar-tawar. Di lingkungan griya, Intan mesti pasrah menerima derajatnya sebagai pesuruh sekaligus pelayan bagi anak-anak berdarah biru seusianya. Betapa tidak? Intan tiada lebih dari anak pungut yang tak jelas asal-usulnya. Hanya Kenanga yang riang menyambut kedatangannya. Ayah-ibu, adik perempuan Kenanga (Kencana) dan karib-kerabat memandang Intan sebagai potensi besar yang kelak bakal mencoreng keterpandangan keluarga Brahmana itu.

Padahal Intan adalah “legenda hidup” yang dirahasiakan oleh Kenanga. Anak itu adalah hasil hubungan gelapnya dengan Bhuana, lelaki berkasta Brahmana, yang kemudian harus ia relakan menjadi suami Kencana–adik perempuan yang disayanginya. Kedatangan Intan ke griya itu mengingatkan saya pada sosok Eliza dalam novel The Daughter of Fortune (1999), karya Isabel Allende. Gadis tak bersilsilah, yang tumbuh dalam keluarga aristokrat asal Inggris di Valparaiso, Chili. Bayi Eliza ditemukan di depan pintu rumah Rose, dalam kardus, diselimuti sweater usang. Semula, Jeremy (kakak Rose) keberatan menerima bayi itu. Tapi karena Rose bersikukuh hendak merawatnya, Jeremy mengalah. Saudara Rose yang lain, John Sommers, malah menyambut Eliza dengan suka-cita. Ia berharap, bayi berwajah Indian itu dapat menghibur Rose, setelah hatinya remuk akibat pengkhianatan seorang lelaki di masa silam.  Sejatinya Eliza bukan orang asing, ia putri John Sommers. Sweater yang membungkus bayi Eliza saat ditemukan adalah milik John. Maklum, John seorang pelaut, di setiap pelabuhan yang disinggahinya, selalu ada perempuan yang berlabuh di pangkuannya.

Begitu pula dengan Kenanga, ia menyayangi Intan melebihi perhatiannya pada urat lehernya sendiri. Sebab, gadis kecil dengan kecantikan yang  menggetarkan seisi griya itu adalah darah-dagingnya. Bagi Kenanga, tak ada laki-laki yang bisa menaklukkan hatinya selain Bhuana. Tapi karena Kencana telah berlabuh di pangkuan Bhuana, cintanya menjadi tabu. Demikian pula dengan beban yang mesti dipikul Bhuana. Kapan saja ia dapat berjumpa dengan Kenanga dan Intan, dua perempuan di dunia kelamnya, tapi laki-laki bernama depan Ida Bagus itu tak mungkin menabrak tempurung tradisi. Menyingkap rahasia antara dirinya, Kenanga dan Intan, sama saja dengan meletupkan bencana yang bakal memporakporandakan kehormatan keluarga besar kedua belah pihak.

Oka Rusmini

Sekali lagi Oka Rusmini menggunakan karakter kaum terdidik seperti Kenanga (dosen berpredikat master) dan Bhuana (dokter), tapi rasionalitas yang menyangga alam pikir keduanya tak berdaya menabrak tempurung tradisi yang keras itu. Alih-alih berupaya, Kenanga dan Bhuana justru semakin jauh bersembunyi. Ketakberdayaan mereka setali tiang uang dengan lemahnya perlawanan Rahyuda atas lembaga kepatuhan yang telah menyengsarakan hidupnya.

Perlawanan sengit justru ditampakkan Oka Rusmini melalui Ni Luh Nyoman Glatik dalam novel Tempurung, perempuan yang sangat membenci burung, sekaligus anti laki-laki. Lima orang perempuan (termasuk Glatik) di rumahnya tersia-sia lantaran bapaknya penggemar burung kelas berat. Lelaki itu tega membiarkan anak-istrinya kelaparan demi burung. Setiap hari kerjanya hanya memberi makan burung atau keliling pasar guna melihat koleksi burung baru. Tempat tinggal Glatik lebih tepat disebut “kandang” ketimbang “rumah.” Itulah yang menyebabkan ibunya mati digasak TBC. Kematian yang disusul oleh tiga kakak perempuannya.

Glatik bangkit menjadi perempuan tangguh. Selain bekerja sebagai akademisi, ia merintis usaha Bunga Potong yang kemudian merambah hotel-hotel bintang lima di Nusa Dua. Kekayaan Glatik melimpah. Karyawannya mulai dari tukang potong bunga, antarbunga, hingga sopir, semuanya perempuan. Glatik melawan adat yang berpihak pada laki-laki dengan cara membenci laki-laki selamanya. Perlawanan yang juga dilakoni Songi, Sipleg, dan Ni Luh Putu Saring (perempuan-perempuan bukan bangsawan), sesuai level dendam dan trauma masing-masing pada makhluk bernama laki-laki. Dalam Sagra, ada resistensi terhadap tempurung tradisi dari bangsawan Pidada. Orang terpelajar dengan setumpuk pengalaman luar negeri, tapi ia gagal. Pidada tetap merahasiakan hubungan ganjilnya dengan Made Jegog (laki-laki Sudra), dan bersandiwara menerima Ida Bagus Baskara sebagai suami sahnya.

Ikhtiar paling nyata bagi saya adalah pilihan Dayu–singkatan Ida Ayu–di bagian pembuka Tempurung, yang saya curigai sebagai Oka Rusmini. Ia bukan terjun bebas bersama laki-laki Sudra, tapi berani menerima lamaran laki-laki non-Bali, berbeda agama pula. Dayu percaya cintanya lebih tinggi dari martabat kebangsawanannya.Tempurung itu pecah berkeping-keping setelah dihantam oleh kekuatan cintanya… (*)

_______________

Damhuri Muhammad | esais dan kolumnis

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT