Connect with us

Buku

Oka Rusmini dan Tempurung Tradisi

mm

Published

on

Damhuri Muhammad*

Jika Bali diibaratkan dengan tubuh perempuan, maka tubuh itu pasti molek dan seksi. Bukan saja kecantikan badani yang dapat dipandang dari segala sudut pengamatan, tapi juga eksotisme yang membersit dari dalam. Anggun, ramah,  menentramkan. Demikian citra Pulau Dewata yang telah menjadi artefak dalam kepala banyak orang, baik yang sudah kerap berkunjung, maupun yang masih menggantungnya dalam angan-angan.

Namun, tidak demikian suasana Bali dalam karya-karya Oka Rusmini. Ia menyingkap “dunia dalam” masyarakat Bali yang jarang menyeruak ke permukaan. Sebagaimana judul novelnya Tempurung (2017)–dicetak ulang oleh penerbit Grasindo bersamaan dengan Kenanga dan Sagra (kumpulan cerpen)–”dunia dalam” orang Bali adalah dunia keras yang mengungkung, seperti ruang sempit dalam tempurung kelapa, dengan “lembaga kepatuhan” sebagai langit-langitnya. Lembaga kepatuhan yang dibangun oleh tradisi itu  membawa ketakmujuran, terutama bagi kaum perempuan. Perempuan bernama Jero Kemuning  dalam novel Kenanga, mesti mengorbankan perasaan selama ia berkhidmat sebagai istri bagi suami yang tak dicintainya. Pernikahan Kemuning bermula dari perjodohan guna mengangkat martabat sebuah keluarga. Suaminya berasal dari keluarga berkasta Brahmana, sementara Kemuning bersidik jari Sudra–dengan nama asli Luh Putri Arimbi. Setelah dipersunting lelaki berdarah biru, aturan adat memberinya gelar Jero (orang luar). Perkawinan itu juga mewajibkan Arimbi meninggalkan leluhur, kerabat, bahkan tubuh Sudranya. Ia adalah manusia baru yang selamanya akan menjadi milik keluarga suaminya.

Nestapa Kemuning selanjutnya adalah kerelaan untuk memadamkan api cintanya pada Rahyuda, yang tak lain adalah keponakan dari suaminya. Aib besar bagi Kemuning jika menyuarakan perasaannya pada Rahyuda, meski sepeninggal suaminya, Kemuning dan Rahyuda tinggal di rumah yang sama. Dengan segenap ketulusan Kemuning melayani macam-macam kebutuhan Rahyuda sepulang bekerja. Kemuning tak mungkin menistai martabatnya sebagai mantan istri seorang Brahmana. Pun Rahyuda, meski ia seorang intelektual berpredikat Guru Besar, lembaga kepatuhan yang kokoh menancap di lingkungan griya (rumah hunian keluarga kasta Brahmana) mustahil ia terabas. Rahyuda berhutang budi pada mendiang pamannya. Akibatnya, Rahyuda membujang sampai mati, dan Kemuning bertahan sebagai janda hingga ajalnya tiba. Dalam gumpalan asap dari api pembakaran jenazah Kemuning, lewat percakapan antara Kenanga dan Bhuana, pengarang dengan sinis menulis; “Apa yang kau lihat dalam gumpalan asap itu, Bhuana?” Dengan tangkas Bhuana menjawab; “Kekalahan.”

Bila Kemuning adalah gambaran “orang luar” griya  yang menanggung petaka akibat lembaga kepatuhan, maka Kenanga dan Luh Intan–dalam novel yang sama–dapat dipandang sebagai “orang dalam” yang sama-sama tergeletak sebagai korban akibat kepatuhan yang tak dapat ditawar-tawar. Di lingkungan griya, Intan mesti pasrah menerima derajatnya sebagai pesuruh sekaligus pelayan bagi anak-anak berdarah biru seusianya. Betapa tidak? Intan tiada lebih dari anak pungut yang tak jelas asal-usulnya. Hanya Kenanga yang riang menyambut kedatangannya. Ayah-ibu, adik perempuan Kenanga (Kencana) dan karib-kerabat memandang Intan sebagai potensi besar yang kelak bakal mencoreng keterpandangan keluarga Brahmana itu.

Padahal Intan adalah “legenda hidup” yang dirahasiakan oleh Kenanga. Anak itu adalah hasil hubungan gelapnya dengan Bhuana, lelaki berkasta Brahmana, yang kemudian harus ia relakan menjadi suami Kencana–adik perempuan yang disayanginya. Kedatangan Intan ke griya itu mengingatkan saya pada sosok Eliza dalam novel The Daughter of Fortune (1999), karya Isabel Allende. Gadis tak bersilsilah, yang tumbuh dalam keluarga aristokrat asal Inggris di Valparaiso, Chili. Bayi Eliza ditemukan di depan pintu rumah Rose, dalam kardus, diselimuti sweater usang. Semula, Jeremy (kakak Rose) keberatan menerima bayi itu. Tapi karena Rose bersikukuh hendak merawatnya, Jeremy mengalah. Saudara Rose yang lain, John Sommers, malah menyambut Eliza dengan suka-cita. Ia berharap, bayi berwajah Indian itu dapat menghibur Rose, setelah hatinya remuk akibat pengkhianatan seorang lelaki di masa silam.  Sejatinya Eliza bukan orang asing, ia putri John Sommers. Sweater yang membungkus bayi Eliza saat ditemukan adalah milik John. Maklum, John seorang pelaut, di setiap pelabuhan yang disinggahinya, selalu ada perempuan yang berlabuh di pangkuannya.

Begitu pula dengan Kenanga, ia menyayangi Intan melebihi perhatiannya pada urat lehernya sendiri. Sebab, gadis kecil dengan kecantikan yang  menggetarkan seisi griya itu adalah darah-dagingnya. Bagi Kenanga, tak ada laki-laki yang bisa menaklukkan hatinya selain Bhuana. Tapi karena Kencana telah berlabuh di pangkuan Bhuana, cintanya menjadi tabu. Demikian pula dengan beban yang mesti dipikul Bhuana. Kapan saja ia dapat berjumpa dengan Kenanga dan Intan, dua perempuan di dunia kelamnya, tapi laki-laki bernama depan Ida Bagus itu tak mungkin menabrak tempurung tradisi. Menyingkap rahasia antara dirinya, Kenanga dan Intan, sama saja dengan meletupkan bencana yang bakal memporakporandakan kehormatan keluarga besar kedua belah pihak.

Oka Rusmini

Sekali lagi Oka Rusmini menggunakan karakter kaum terdidik seperti Kenanga (dosen berpredikat master) dan Bhuana (dokter), tapi rasionalitas yang menyangga alam pikir keduanya tak berdaya menabrak tempurung tradisi yang keras itu. Alih-alih berupaya, Kenanga dan Bhuana justru semakin jauh bersembunyi. Ketakberdayaan mereka setali tiang uang dengan lemahnya perlawanan Rahyuda atas lembaga kepatuhan yang telah menyengsarakan hidupnya.

Perlawanan sengit justru ditampakkan Oka Rusmini melalui Ni Luh Nyoman Glatik dalam novel Tempurung, perempuan yang sangat membenci burung, sekaligus anti laki-laki. Lima orang perempuan (termasuk Glatik) di rumahnya tersia-sia lantaran bapaknya penggemar burung kelas berat. Lelaki itu tega membiarkan anak-istrinya kelaparan demi burung. Setiap hari kerjanya hanya memberi makan burung atau keliling pasar guna melihat koleksi burung baru. Tempat tinggal Glatik lebih tepat disebut “kandang” ketimbang “rumah.” Itulah yang menyebabkan ibunya mati digasak TBC. Kematian yang disusul oleh tiga kakak perempuannya.

Glatik bangkit menjadi perempuan tangguh. Selain bekerja sebagai akademisi, ia merintis usaha Bunga Potong yang kemudian merambah hotel-hotel bintang lima di Nusa Dua. Kekayaan Glatik melimpah. Karyawannya mulai dari tukang potong bunga, antarbunga, hingga sopir, semuanya perempuan. Glatik melawan adat yang berpihak pada laki-laki dengan cara membenci laki-laki selamanya. Perlawanan yang juga dilakoni Songi, Sipleg, dan Ni Luh Putu Saring (perempuan-perempuan bukan bangsawan), sesuai level dendam dan trauma masing-masing pada makhluk bernama laki-laki. Dalam Sagra, ada resistensi terhadap tempurung tradisi dari bangsawan Pidada. Orang terpelajar dengan setumpuk pengalaman luar negeri, tapi ia gagal. Pidada tetap merahasiakan hubungan ganjilnya dengan Made Jegog (laki-laki Sudra), dan bersandiwara menerima Ida Bagus Baskara sebagai suami sahnya.

Ikhtiar paling nyata bagi saya adalah pilihan Dayu–singkatan Ida Ayu–di bagian pembuka Tempurung, yang saya curigai sebagai Oka Rusmini. Ia bukan terjun bebas bersama laki-laki Sudra, tapi berani menerima lamaran laki-laki non-Bali, berbeda agama pula. Dayu percaya cintanya lebih tinggi dari martabat kebangsawanannya.Tempurung itu pecah berkeping-keping setelah dihantam oleh kekuatan cintanya… (*)

_______________

Damhuri Muhammad | esais dan kolumnis

Continue Reading
Advertisement

Journal

Gunawan Wiradi: Konsepsi Tentang Ilmu dalam Penelitian Masalah Agraria

mm

Published

on

“Ilmu (science) bukanlah masalah isi pengetahuan itu sendiri, melainkan suatu ‘metode pendekatan’, yaitu metode yang menghasilkan temuan yang dapat diuji kebenarannya, melalui penelitian.”

___

Oleh: DrHC. Ir. Gunawan Wiradi M.Sos.Sc

Di dalam membicarakan konsepsi tentang ilmu, maka sekedar sebagai titik tolak, akan disampaikan pandangan yang berasal dari aliran positivisme. Menurut kaum positivist, ilmu merupakan usaha untuk memperoleh bangunan pengetahuan yang dapat meramal dan menjelaskan berbagai fenomena di dunia ini. Untuk itu, harus disusun teori-teori, yaitu pernyataan-pernyataan yang sangat umum sifatnya mengenai keteraturan hubungan-hubungan segala yang terdapat di dunia ini, yang memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat meramal dan menjelaskan berbagai fenomena yang kita temukan melalui observasi dan eksperimen secara sistematis (Keat and Urry, 1980: 4).

Tujuan ilmu adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul sebagai akibat dari adanya “puzzles” (kejutan, keterheranan) yang dihadapi manusia (Kuhn, 1970). Dengan kalimat lain, tujuan ilmu adalah mencari kebenaran (truth), dalam hal ini adalah kebenaran ilmiah. Adapun yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah adalah kebenaran obyektif-positif, bukan kebenaran normatif. Jadi, bukan masalah right or wrong, tetapi masalah true or false. Untuk ini, semua kegiatan ilmiah dalam rangka mencari kebenaran dalam arti ini haruslah didasarkan pada suatu sikap berpikir secara ilmiah (scientific attitude of mind), dan bukan pada sikap dogmatis, misalnya.

Ada beberapa prinsip di kalangan ilmuwan yang biasanya dijadikan pegangan di dalam bersikap ilmiah ini, walaupun di antara prinsip-prinsip itu ada yang masih selalu menjadi perdebatan di antara mereka, bahkan memecah para ilmuwan menjadi dua atau lebih kelompok-kelompok yang saling silang pendapat atau sikap. Beberapa prinsip itu adalah sebagai berikut (Bierstedt, 1970):

  1. Obyektivitas (tetap menjadi debat, terutama secara filsafat).
  2. Netralitas etik atau “bebas nilai” (tetap menjadi debat, bahkan dalam hal ini ilmuwan terbelah menjadi dua kelompok).
  3. Relativisme, yakni bahwa “kebenaran ilmiah” itu sifatnya sementara. Artinya, sesuatu itu dianggap benar (setelah diuji dengan metode ilmiah), sepanjang belum ada bukti-bukti ilmiah yang lain uang membantahnya.
  4. Parsimony, maksudnya adalah “hemat” atau “secukupnya”. Artinya, cara menguraikan sesuatu itu jangan sampai berlebihan. Ini bukan soal panjang pendeknya uraian, melainkan bahwa menguraikannya jangan melebihi yang diperlukan.
  5. Skepstisime, maksudnya suatu sikap kritis, dengan selalu bertanya “benarkah begini”, “salahkah begitu”, “mengapa”, dan seterusnya.
  6. Kerendahan hati (humility).

Selain berpijak pada prinsip-prinsip sikap ilmiah di atas, kebenaran ilmiah lebih lanjut juga didasarkan atas kriteria tertentu. Ada berbagai teori tentang kriteria kebenaran ilmiah ini, tetapi pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua teori; dan pada umumnya kedua-duanya ini adalah aturan yang harus ditaati oleh semua cabang ilmu, yaitu teori koherensi dan teori korespondensi.

Teori Koherensi. Kriterium koherensi menyatakan bahwa “sesuatu pernyataan itu dianggap benar apabila pernyataan itu ‘koheren’ dan konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar”. Hal ini didasarkan atas anggapan bahwa sumber kebenaran adalah rasio (reason). Pola pikir yang demikian ini biasa disebut sebagai pola deduktif-rasional.

Teori Korespondensi. Teori ini menyatakan bahwa “suatu pernyataan itu dianggap benar apabila materi yang dikandung oleh pernyataan itu ‘bersesuaian’ (corresponds) dengan obyek faktual yang dituju oleh pernyataan itu”. Artinya, isi pernyataan itu harus mempunyai manifestasi empiris (artinya, bersifat nyata dalam pengalaman atau pengamatan). Di sini yang dianggap sebagai sumber kebenaran adalah fakta. Pola berfikir ini bersifat induktif-empiris (faktual).

*) Gunawan Wiradi, adalah pakar politik agraria indonesia, Guru Besar IPB dan penasihat di berbagai organisasi penelitian dan jurnal.

Unduh Makalah Lengkpanya di sini 

Continue Reading

Buku

Memungut Welas Asih dari “The Adventures of Huckleberry Finn”  karya Mark Twain

mm

Published

on

Shinta Maharani *)

Sosok Finn istimewa karena ia digambarkan sebagai cerdik yang kemampuannya menggunakan akal begitu menonjol.Dia digambarkan selalu menggugat sesuatu yang tidak masuk akal buat dia. Misalnya suatu hari keluarga angkatnya, janda Douglas mengeluarkan buku dan mengajari Finn tentang Musa dan pengrajin rotan. Tubuh Finn mengucurkan keringat dingin karena ia takut bertemu dengan Musa. Janda Douglas kemudian mengatakan bahwa Musa telah lama mati. Finn lalu tak takut lagi karena dia tidak percaya kepada orang yang sudah mati.

Sementara Tom Sawyer sendiri identik dengan heroisme. Dia digambarkan ingin mengumpulkan semua budak, mengajak mereka berdansa, dan mengaraknya ke kota dengan iringan kelompok musik tiup. Dengan begitu dia akan menjadi pahlawan.

Mereka berdua sahabat karib yang tidak tahan berada di rumah. Mereka gemar berpetualang ke hutan, menyusuri lembah, berkumpul di gua, dan bermain-main.

“Aku merasa sangat kesepian dan nyaris berharap mati saja. Bintang-bintang berkilauan di langit, dan desau daun-daun di hutan terdengar begitu memilukan. Aku mendengar suara burung hantu di kejauhan, mengabarkan ada seseorang yang sedang mendekati ajalnya,” kata Finn.

Dia anak yang malang. Ayahnya suka memukuli Finn dalam kondisi mabuk berat. Finn terbiasa hidup susah dengan pakaian compang camping, penuh lumpur. Janda Douglas kemudian menjadi keluarga angkatnya. Dia tak tahan dikurung dan aturan rumah keluarga angkatnya.

Finn suka mengendap-endap keluar rumah menemui Tom. Suatu hari Tom mengajaknya pergi ke gua bersama rombongan anak-anak lainnya. Mereka merencanakan merampok orang-orang, menjarah barang-barang berharga, dan membunuh orang yang dirampok. Tentu saja ini cuma main-main.

Di dalam gua, mereka membikin janji sumpah setia sebuah geng berandalan. Melukai tangan dengan peniti lalu menggoreskan darah sebagai bentuk sumpah setia geng. Ketua geng si Tom Sawyer.

Kenakalan-kenakalan mereka semakin menjadi-jadi. Suatu hari mereka ingin berpetualang menggunakan rakit menyusuri sungai Mississippi bersama budak Jim.

Tapi, Jim budak yang dirantai oleh tuannya. Sebagian orang ingin menggantungnya untuk dijadikan contoh buat semua budak agar tidak coba-coba melarikan diri. Orang-orang memaki Jim sebagai tawanan. Tapi, Jim tidak membalas sedikitpun.

Tom dan Finn berusaha membebaskan Jim. Merencanakan pelarian Jim. “Mereka tak berhak mengurung dia. Bertindaklah, jangan buang-buang waktu lagi. Bebaskan dia. Dia bukan budak, dia bebas seperti makhluk lain yang hidup di atas bumi,” kata Tom.

The Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain

Finn lalu berusaha membebaskan Jim. Alasan dia ingin membebaskan Jim karena ingin berpetualang bersama Jim di atas rakit menyusuri sungai Mississippi.

Jim dikurung di sebuah pondok dengan rantai pada pergelangan kakinya yang terluka dan nyaris membusuk. Finn mencuri kunci rantai. Mereka lari dikejar sejumlah orang dan anjing.

Finn yang tengil kemudian menyuruh Jimm melepas bajunya. Dia mengalihkan perhatian anjing pengendus. Sedangkan Jim berenang ke tengah sungai. Finn menaruh baju Jim di semak-semak. Dia memanjat pohon.

Jim bebas. Suatu hari Tom mengajak Finn pergi berpetualang. Tapi, Finn sedang memikirkan ayahnya yang menghabiskan uangnya untuk mabuk-mabukan. Kepada Finn, Jim berkata ayah Finn tidak akan kembali (mati).

“Kau ingat rumah yang hanyut di sungai itu, yang di dalamnya ada seorang laki-laki terjebak? Waktu itu aku masuk untuk melihatnya dan melarangmu ikut masuk,” kata Jim.

*

Apa yang terjadi berikutnya? Mereka merantai kedua tangan dan kakinya. Setelah kejadian itu, mereka bilang Jim hanya akan mendapatkan roti dan air hingga majikannya datang. Dia akan dijual ke pelelangan jika majikannya tidak datang dalam kurun waktu tertentu.

Kutipan yang ada dalam dua bab terakhir “The Adventures of Huckleberry Finn” itu karangan sastrawan penting Amerika Serikat Mark Twain. Karya sastra modern yang diterbitkan pertama kali pada 1884. Usia karya yang berkali-kali difilmkan itu sekarang 135 tahun.

Novel penuh petualangan seru bocah bandel ini berlatar perang sipil Amerika Serikat tahun 1860. Perbudakan, rasisme, segregasi kulit putih dan kulit hitam merajalela. Tragedi kemanusian yang mengerikan.

Mark Twain adalah nama pena dari Samuel Langhorne Clemens, yang meninggal pada 1910 dalam usia 74 tahun. Dia dilahirkan sebagai anak dengan kondisi tubuh yang lemah. Ayah Mark Twain meninggal karena pneumonia saat dia berumur 13 tahun. Mark Twain meninggalkan bangku sekolah dan bekerja di bidang percetakan.

“The Adventures of Huckleberry Finn” tak lepas dari karya lainnya berjudul “The Adventures of Tom Sawyer”. Keduanya saling bertautan, mengisahkan dua bocah panjang akal dan karenanya mungkin “bandel”. Finn yang istimewa karena akalnya, dan Tom yang heroik.

*

Karya ini membawa pesan mendalam tentang persahabatan Finn dengan budak Jim, pencarian kebebasan, dan melawan prasangka rasial. Saya ingin menekankan soal rasialisme yang kini jadi masalah kemanusian akut. Saya teringat beberapa masalah berlatar rasialisme yang menghentak jagad mental kewargaan kita akhir-akhir ini. Di Yogyakarta misalnya, praktik rasialisme gagah menjulang di tengah yogya yang damai dan istimewa.

Hanya gara-gara beragama Katolik, seorang seniman ditolak mengontrak di sebuah kampung dengan aturan hanya Muslim yang bisa tinggal di kampung itu. Alasannya kearifan lokal. Belum lagi masalah yang terjadi sebelumnya, nisan bersimbol Katolik dipotong dengan alasan itu kuburan kampung Muslim. Rasialisme lainnya juga menimpa orang-orang yang dianggap separatis (Papua Barat) dan orang-orang yang dilabeli sebagai preman. Betapa mudah menjalar rasialisme seperti urat syaraf manusia yang tak putus.

Dari The Adventures of Huckleberry Finn, kita bisa belajar kepada bocah yang sekuat tenaga melawan prasangka rasial dan arti kemanusiaan. Finn bocah bandel, miskin, gembel, pemberontak, tidak menyukai dunia sekolah, tapi pintar, dan suka menolong. Dia patut jadi inspirasi buat orang-orang dewasa untuk keberaniannya menolak rasisme. Kapan terakhir kita belajar dari dunia kanak-kanak yang bebas dan begitu tulus pada rasa kasih kemanusiaan?

Oh ya di negeri Abang Sam, karya ini sempat dilarang di sekolah-sekolah karena kritiknya terhadap situasi sosial negeri itu. (*)

*) Shinta Maharani, penulis lepas dan jurnalis.

 

Continue Reading

Buku

Nasib Sunyi Seorang Penyendiri

mm

Published

on

Shinta Maharani *)

Bartleby terbaring meringkuk di dekat dinding dengan lutut menekuk, dengan kepala menyentuh batu yang dingin. Tak ada bagian tubuhnya yang bergerak. Dia hidup tanpa makan dan kemudian menutup matanya.

Dan Herman Melville, pengarang Amerika Serikat dalam bukunya “Bartleby; Si Juru Tulis” pun mengakhiri cerita pendeknya: “Bartleby Si Juru Tulis. Bartleby di Wall Street, jantung uang New York, Amerika Serikat. Tempat para pialang saham bersaing di pinggiran kota Manhattan. Surga para kapitalis yang tak pernah sepi.”

Sepanjang cerita, Bartleby menjadi tokoh yang keras kepala. Dia selalu membuat jengkel pengacara yang menjadi bosnya. Bartleby seorang pemuda yang pucat dan mengundang iba. Dia jenis orang yang kalem dan berkepala dingin.

Penolakan, Apa Artinya? 

Sebagai juru tulis, ia pendiam dan senang mengurung diri, Bartleby menikmati pekerjaannya menyalin dokumen. Ia sama sekali tak beristirahat menulis. Semalaman penuh, dengan bantuan cahaya matahari di kala siang dan lilin di saat hari gelap. Wajahnya pucat bagai mesin dan ia tak berkata-kata.

Suatu hari sang pengacara meminta Bartleby untuk membantunya memeriksa dokumen. Tapi, Bartleby menolak “Saya tak mau,” kata dia.

Herman Melville

Si pengacara mengulang lagi perintahnya dan Bartleby bersikukuh menolak. Sejak itu hari-hari pengacara dan Bartleby diwarnai ketegangan. Bartleby selalu menolak perintah si bos.

Bartleby yang tenang dan dingin terus saja bekerja di dalam ruangannya. Tak mau keluar dari pertapaannya. Si pengacara tak tahu harus berbuat apa lagi. Hingga suatu hari dia mengusir Bartleby dan dia tidak mau pergi dari ruangannya.

Pengacara sangat jengkel dengan sikap Bartleby yang sekeras batu. Tapi, ia juga kasihan pada Bartleby yang malang.

Bartleby tak mau pergi dari kantor itu. Rekan-rekan pengacara yang datang ke sana pun tak mampu menyuruh Bartleby melakukan keinginan mereka. Ketegangan, mungkin juga frustasi dari kedua pihak mengemuka, terus berlangsung dan memuncak.

Bartleby sekonyong-konyong jadi momok dan setan. Pengacara kehilangan akal. Mau lapor polisi tapi ia kasihan karena di penjara Bartleby akan menjemput kesuraman.

Keputusan pun didapat! Akhirnya pengacara menempuh jalan tak semestinya, ia mengalah, bukan mengusir, ia sendiri yang pindah meninggalkan kantor itu. Si pengacara mengosongkan kantor. Semua perabot dibawa. Bartleby tak merespon, ia tetap berdiri di balik sekat biliknya yang akan dibongkar.

Dia mengucapkan selamat tinggal kepada Bartleby. Sepekan kemudian ia datang ke kantor lamanya. Bartleby tetap berada di gedung di Wall Street. Dia duduk di pegangan tangga di siang hari dan tidur di pintu masuk di malam hari. Dia tak mau beranjak meski diusir berkali-kali. “Saya suka diam tak bergerak,” kata Bartleby.

Hingga suatu hari, pemilik baru kantor lama pengacara memberi tahu kalau dia melaporkan Bartleby ke polisi sebagai gelandangan. Si juru tulis tak melawan ketika digiring polisi. Beberapa pejalan kaki iba terhadap Bartleby. Dia berjalan tenang melewati panas dan riuh jalanan.

Di penjara dia tak mau menyentuh makanan. Ia senang menyendiri di lapangan kompleks penjara dengan dinding tinggi yang mengelilingi. Tak semua tahanan boleh ke lapangan.

Bartleby menghembuskan napasnya di lapangan yang senyap. Pemakamannya sepi.

*

Setelah membaca cerpen ini ingatan saya seakan terus bangkit di jalan-jalan, saat saya melintasi jalanan tengah malam hingga subuh menjelang. Melihat gelandangan di pasar-pasar, tidur di emperan toko-toko. Mereka melawan dinginnya malam, serbuan nyamuk, dan tikus yang mondar mandir.

Seperti Bartleby, nestapa menyusup di antara gemerlap bintang dan kerlap kerlip lampu kota.

Untuk perempuan yang menjulurkan tubuhnya di emperan penjual kembang mawar-melati tengah malam: selamat tidur. Kesendirian tak kalah sepi dari kesunyian, aku tak pernah benar-benar tahu.

*) Shinta Maharani, penulis lepas dan jurnalis.

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending