Connect with us

Buku

Oka Rusmini dan Tempurung Tradisi

mm

Published

on

Damhuri Muhammad*

Jika Bali diibaratkan dengan tubuh perempuan, maka tubuh itu pasti molek dan seksi. Bukan saja kecantikan badani yang dapat dipandang dari segala sudut pengamatan, tapi juga eksotisme yang membersit dari dalam. Anggun, ramah,  menentramkan. Demikian citra Pulau Dewata yang telah menjadi artefak dalam kepala banyak orang, baik yang sudah kerap berkunjung, maupun yang masih menggantungnya dalam angan-angan.

Namun, tidak demikian suasana Bali dalam karya-karya Oka Rusmini. Ia menyingkap “dunia dalam” masyarakat Bali yang jarang menyeruak ke permukaan. Sebagaimana judul novelnya Tempurung (2017)–dicetak ulang oleh penerbit Grasindo bersamaan dengan Kenanga dan Sagra (kumpulan cerpen)–”dunia dalam” orang Bali adalah dunia keras yang mengungkung, seperti ruang sempit dalam tempurung kelapa, dengan “lembaga kepatuhan” sebagai langit-langitnya. Lembaga kepatuhan yang dibangun oleh tradisi itu  membawa ketakmujuran, terutama bagi kaum perempuan. Perempuan bernama Jero Kemuning  dalam novel Kenanga, mesti mengorbankan perasaan selama ia berkhidmat sebagai istri bagi suami yang tak dicintainya. Pernikahan Kemuning bermula dari perjodohan guna mengangkat martabat sebuah keluarga. Suaminya berasal dari keluarga berkasta Brahmana, sementara Kemuning bersidik jari Sudra–dengan nama asli Luh Putri Arimbi. Setelah dipersunting lelaki berdarah biru, aturan adat memberinya gelar Jero (orang luar). Perkawinan itu juga mewajibkan Arimbi meninggalkan leluhur, kerabat, bahkan tubuh Sudranya. Ia adalah manusia baru yang selamanya akan menjadi milik keluarga suaminya.

Nestapa Kemuning selanjutnya adalah kerelaan untuk memadamkan api cintanya pada Rahyuda, yang tak lain adalah keponakan dari suaminya. Aib besar bagi Kemuning jika menyuarakan perasaannya pada Rahyuda, meski sepeninggal suaminya, Kemuning dan Rahyuda tinggal di rumah yang sama. Dengan segenap ketulusan Kemuning melayani macam-macam kebutuhan Rahyuda sepulang bekerja. Kemuning tak mungkin menistai martabatnya sebagai mantan istri seorang Brahmana. Pun Rahyuda, meski ia seorang intelektual berpredikat Guru Besar, lembaga kepatuhan yang kokoh menancap di lingkungan griya (rumah hunian keluarga kasta Brahmana) mustahil ia terabas. Rahyuda berhutang budi pada mendiang pamannya. Akibatnya, Rahyuda membujang sampai mati, dan Kemuning bertahan sebagai janda hingga ajalnya tiba. Dalam gumpalan asap dari api pembakaran jenazah Kemuning, lewat percakapan antara Kenanga dan Bhuana, pengarang dengan sinis menulis; “Apa yang kau lihat dalam gumpalan asap itu, Bhuana?” Dengan tangkas Bhuana menjawab; “Kekalahan.”

Bila Kemuning adalah gambaran “orang luar” griya  yang menanggung petaka akibat lembaga kepatuhan, maka Kenanga dan Luh Intan–dalam novel yang sama–dapat dipandang sebagai “orang dalam” yang sama-sama tergeletak sebagai korban akibat kepatuhan yang tak dapat ditawar-tawar. Di lingkungan griya, Intan mesti pasrah menerima derajatnya sebagai pesuruh sekaligus pelayan bagi anak-anak berdarah biru seusianya. Betapa tidak? Intan tiada lebih dari anak pungut yang tak jelas asal-usulnya. Hanya Kenanga yang riang menyambut kedatangannya. Ayah-ibu, adik perempuan Kenanga (Kencana) dan karib-kerabat memandang Intan sebagai potensi besar yang kelak bakal mencoreng keterpandangan keluarga Brahmana itu.

Padahal Intan adalah “legenda hidup” yang dirahasiakan oleh Kenanga. Anak itu adalah hasil hubungan gelapnya dengan Bhuana, lelaki berkasta Brahmana, yang kemudian harus ia relakan menjadi suami Kencana–adik perempuan yang disayanginya. Kedatangan Intan ke griya itu mengingatkan saya pada sosok Eliza dalam novel The Daughter of Fortune (1999), karya Isabel Allende. Gadis tak bersilsilah, yang tumbuh dalam keluarga aristokrat asal Inggris di Valparaiso, Chili. Bayi Eliza ditemukan di depan pintu rumah Rose, dalam kardus, diselimuti sweater usang. Semula, Jeremy (kakak Rose) keberatan menerima bayi itu. Tapi karena Rose bersikukuh hendak merawatnya, Jeremy mengalah. Saudara Rose yang lain, John Sommers, malah menyambut Eliza dengan suka-cita. Ia berharap, bayi berwajah Indian itu dapat menghibur Rose, setelah hatinya remuk akibat pengkhianatan seorang lelaki di masa silam.  Sejatinya Eliza bukan orang asing, ia putri John Sommers. Sweater yang membungkus bayi Eliza saat ditemukan adalah milik John. Maklum, John seorang pelaut, di setiap pelabuhan yang disinggahinya, selalu ada perempuan yang berlabuh di pangkuannya.

Begitu pula dengan Kenanga, ia menyayangi Intan melebihi perhatiannya pada urat lehernya sendiri. Sebab, gadis kecil dengan kecantikan yang  menggetarkan seisi griya itu adalah darah-dagingnya. Bagi Kenanga, tak ada laki-laki yang bisa menaklukkan hatinya selain Bhuana. Tapi karena Kencana telah berlabuh di pangkuan Bhuana, cintanya menjadi tabu. Demikian pula dengan beban yang mesti dipikul Bhuana. Kapan saja ia dapat berjumpa dengan Kenanga dan Intan, dua perempuan di dunia kelamnya, tapi laki-laki bernama depan Ida Bagus itu tak mungkin menabrak tempurung tradisi. Menyingkap rahasia antara dirinya, Kenanga dan Intan, sama saja dengan meletupkan bencana yang bakal memporakporandakan kehormatan keluarga besar kedua belah pihak.

Oka Rusmini

Sekali lagi Oka Rusmini menggunakan karakter kaum terdidik seperti Kenanga (dosen berpredikat master) dan Bhuana (dokter), tapi rasionalitas yang menyangga alam pikir keduanya tak berdaya menabrak tempurung tradisi yang keras itu. Alih-alih berupaya, Kenanga dan Bhuana justru semakin jauh bersembunyi. Ketakberdayaan mereka setali tiang uang dengan lemahnya perlawanan Rahyuda atas lembaga kepatuhan yang telah menyengsarakan hidupnya.

Perlawanan sengit justru ditampakkan Oka Rusmini melalui Ni Luh Nyoman Glatik dalam novel Tempurung, perempuan yang sangat membenci burung, sekaligus anti laki-laki. Lima orang perempuan (termasuk Glatik) di rumahnya tersia-sia lantaran bapaknya penggemar burung kelas berat. Lelaki itu tega membiarkan anak-istrinya kelaparan demi burung. Setiap hari kerjanya hanya memberi makan burung atau keliling pasar guna melihat koleksi burung baru. Tempat tinggal Glatik lebih tepat disebut “kandang” ketimbang “rumah.” Itulah yang menyebabkan ibunya mati digasak TBC. Kematian yang disusul oleh tiga kakak perempuannya.

Glatik bangkit menjadi perempuan tangguh. Selain bekerja sebagai akademisi, ia merintis usaha Bunga Potong yang kemudian merambah hotel-hotel bintang lima di Nusa Dua. Kekayaan Glatik melimpah. Karyawannya mulai dari tukang potong bunga, antarbunga, hingga sopir, semuanya perempuan. Glatik melawan adat yang berpihak pada laki-laki dengan cara membenci laki-laki selamanya. Perlawanan yang juga dilakoni Songi, Sipleg, dan Ni Luh Putu Saring (perempuan-perempuan bukan bangsawan), sesuai level dendam dan trauma masing-masing pada makhluk bernama laki-laki. Dalam Sagra, ada resistensi terhadap tempurung tradisi dari bangsawan Pidada. Orang terpelajar dengan setumpuk pengalaman luar negeri, tapi ia gagal. Pidada tetap merahasiakan hubungan ganjilnya dengan Made Jegog (laki-laki Sudra), dan bersandiwara menerima Ida Bagus Baskara sebagai suami sahnya.

Ikhtiar paling nyata bagi saya adalah pilihan Dayu–singkatan Ida Ayu–di bagian pembuka Tempurung, yang saya curigai sebagai Oka Rusmini. Ia bukan terjun bebas bersama laki-laki Sudra, tapi berani menerima lamaran laki-laki non-Bali, berbeda agama pula. Dayu percaya cintanya lebih tinggi dari martabat kebangsawanannya.Tempurung itu pecah berkeping-keping setelah dihantam oleh kekuatan cintanya… (*)

_______________

Damhuri Muhammad | esais dan kolumnis

Continue Reading

Buku

Pahlawan Dibalik Layar

mm

Published

on

Foto: Koleksi foto ANTARA

Oleh: Umar Fauzi Ballah *)

Dalam situasi bernegara dan berbangsa yang diliputi laku korupsi dan kolusi sebagian besar elit politik, bahkan kerawanannya telah menjangkau sakit kebudayaan—membangunkan sosok anutan dari tidur sejarahnya bisa menjadi upaya baik dalam mencarikan jalan ingatan; bahwa bangsa ini dibangun oleh pribadi berintegritas dan orang-orang jujur. Sosok Djohan Sjahroezah, adalah salah satunya.

Usaha Riadi Ngasiran—penulis buku “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah  Tanah” untuk mengumpulkan renik kehidupan seorang Djohan Sjahroezah dalam buku biografi karyanya patut diapresiasi dengan kegembiraan, terutama karena usaha kerasnya mengingat sosok yang ditulis tidak setenar Bung Karno atau Bung Hatta. Usaha memperkenalkan sosok Djohan Sjahroezah yang dikenal sebagai tokoh pergerakan dan politikus adalah momentum tepat di tengah kondisi korup elite di negara ini.

Nama Djohan memang tidak setenar Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Hatta, Soekarno, maupun Adam Malik, teman seangkatannya, serta mertuanya, H. Agus Salim. Ia juga tidak setenar sosok reaksioner, bung Tomo, walaupun pada saat meletus peristiwa 10 November 1945, bung Djohan juga sedang berada di Surabaya untuk melindungi Tan Malaka (hlm. 147).

Djohan adalah pahlawan dalam kapasitasnya dan perannya sebagai organisator yang disegani di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Ia bukan pahlawan yang dikenang namanya dengan mengangkat senjata. Ia juga bukan pahlawan yang disegani karena kelihaian berpidato, tetapi ia adalah satu-satunya tokoh yang paling dipercaya banyak kelompok dalam membangun jaringan-jaringan bawah tanah. Ia mengkader pemuda saat itu di berbagai daerah seperti Batavia, Bandung, Yogyakarta, maupun Surabaya yang pada saat itu ia menjadi buruh di perusahaan minyak Belanda, BPM (Bataafsche Petroleum Maatshappij).

Djohan Sjahroezah adalah tokoh kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan, 26 November 1912. Ia seakan menggenapi tokoh-tokoh lain dari trah Minangkabau yang juga berjibaku di panggung sejarah Indonesia seperti Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Tan Malaka, Hamka, Mohammad Natsir, H. Agus Salim, maupun Sutan Sjahrir, pamannya.

Dengan kelihaiannya membangun jaringan, dia bersama Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahuntar, dan Pandoe Kartawiguna mendirikan Kantor Berita Antara tahun 1937 yang sampai saat ini masih eksis. Kantor Berita Antara adalah perjuangan perdananya dalam rangka turut serta memperjuangan kebebasan bangsa Indonesia. Ia menyadari betul fungsi dan peranan pers sebagai alat perjuangan.

KB Antara bukanlah tempat pertama Djohan di bidang jurnalistik. Sebelumnya, dia bergabung dengan Arta News Agency, sebuah kantor berita milik Samuel de Heer, seorang Belanda. Ia memutuskan keluar dari Arta tahun 1937 dengan kesadaran bahwa dirinya harus mengembalikan komitmen aslinya: mengutamakan fungsi dan tanggung jawab kemasyarakatan. Masyarakat di bawah kekuasaan penjajah harus dibebaskan, demikianlah posisi dan peranan pers yang telah didefinisikannya. Djohan dan jurnalis sezaman merumuskan peranan pers sebagai pengantar masyarakat ke masa depan (hlm. 83).

Lingkaran Sjahrir

Ketika membincangkan kehidupan Djohan, tidak bisa terlepas dari sosok Sutan Sjahrir. Karena itu, sebagian besar buku ini berada dalam “alur” Sutan Sjahrir. Ketika membicarakan tindak-tanduk Djohan, muncul juga peran Sutan Sjahrir di dalamnya. Djohan adalah salah satu loyalis utama Sutan Sjahrir.

Ketika Sutan Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada 12 Februari 1948, Djohan adalah sosok yang masih setia mengikuti Sjahrir. Sebelumnya, pada 1 November 1945 Amir Sjarifuddin mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi), sedangkan Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis (Paras) pada 19 November 1945. Karena persamaan sikap antikapitalis dan antiimperialis, pada 16—17 Desember 1945 kedua partai tersebut bergabung menjadi Partai Sosialis (PS) yang di dalamnya juga ada kelompok komunis. PS tidak berumur lama karena ketegangan kelompok komunis dan kelompok sosialis di dalamnya yang puncaknya terjadi ketika Bung Hatta mengumumkan kabinetnya pada 29 Januari 1948 menggantikan Kabinet Amir Sjarifuddin. Sjahrir adalah pendukung penuh Kabinet Hatta, sedangkan Amir memutuskan menjadi oposisi bagi Kabinet Hatta. Hal itu membuat Sjahrir dan kelompoknya, termasuk Djohan keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Judul : Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah | Penulis : Riadi Ngasiran | Penerbit : Penerbit Buku Kompas | Tahun : cetakan pertama, Mei 2015 | Tebal : xlvi + 418 hlm. | ISBN : 978-979-709-918-3 | Harga : Rp99.000,00

Sebagai tokoh yang bergerak di dunia pergerakan, Djohan memiliki banyak kader yang tentunya diharapkan mengikutinya sebagai bagian dari lingkaran Sjahrir. Namun, kenyataannya berbeda. Tidak sedikit kader-kadernya berada di seberang jalan menjadi kader partai komunis. Dengan kemampuannya memahami ajaran Marxisme dan jurnalistik, Djohan menjadi corong untuk menjelaskan pandangan-pandangan kelompok sosialis secara tertulis dalam rangka menjawab “tuduhan-tuduhan” kelompok komunis.

Riadi Ngasiran, dengan pengalamannya di bidang jurnalistik dan sastra, berhasil mengolah biografi ini dengan baik. Pernik kehidupan Djohan memang tidak disampaikan secara dramatis sebab biografi ini adalah catatan politis tentang sosok Djohan Sjahroezah. Riadi menggambarkan sosok Djohan secara umum dalam tiga masa penting, yakni perannya sebagai tokoh pergerakan bawah tanah dalam usahanya mengkader pemuda; peran Djohan di dunia jurnalistik; dan perannya sebagai politikus Partai Sosialis Indonesia.

Djohan, sebagaimana manusia biasa, juga menjalani hidup sebagaimana kebanyakan masyarakat. Hal ini takluput dari catatan Riadi. Kisah Djohan dengan istrinya, Violet Hanifah, putri H. Agus Salim, pun digambarkan dengan hidup, seperti perjuangan masa-masa sulit bersama sang istri. Dalam biografi ini, Riadi menyuguhkan tempo tulisan yang dinamis. Di saat tertentu, ia menggambarkan secara naratif dan di saat yang lain secara argumentatif dengan memaparkan berbagai fakta tekstual.

Sebuah buku tidak lain adalah representasi ide-ide sang penulis. Kehadiran biografi ini menjadi wacana tandingan yang menampilkan tokoh dari golongan sosialis. Riadi Ngasiran sadar betul bahwa, selain karena peran Djohan sebagai tokoh jurnalis, menampilkan sosok Djohan adalah meneguhkan keberimbangan wacana tentang peran pergerakan yang dilakukan oleh kelompok sosialis, terutama kaitannya dengan konfrontasi golongan komunis.

Buku ini telah menandai keberadaan sosok yang tidak begitu populis di panggung sejarah Indonesia. Buku ini dihadirkan di waktu yang tepat. Keteladanan Djohan Sjahroezah dalam perjuangannya melalui berbagai pergerakan aktivis dan politis harusnya menjadi ruang refleksi bagi pergulatan politis Indonesia saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. (*)

*) Umar Fauzi Ballah penikmat buku di Komunitas Stingghil, Sampang tinggal di Sampang sebagai Kepala Rayon LBB Ganesha Operation Sampang.

 

 

Continue Reading

Buku

Cinta yang marah dan penuh luka itu

mm

Published

on

Mengenal M.Aan Mansyur tak bisa dilepaskan dari ikon Rangga dan Cinta dalam AADC(Ada Apa Dengan Cinta?) pasca Tiada Ada New York Ini yang melambungkan dirinya. Menengok kumpulan puisi yang berbeda dalam Cinta Yang Marah, puisi-puisi panjang yang menjamak menjadi prosa liris. Menceritakan kegetiran antara kau dan aku, sepasang kekasih saling mengomel tak kunjung bertemu dan memandu kasih.

Ada framen-framen potongan berita peristiwa reformasi 21 Mei 1998 yang menyesakkan bagi bangsa ini. Terpurukan ekonomi, lengsernya Soeharto sampai penjarahan berakibatkan eksodus etnis Tionghoa dari negeri  ini. Semua itu dipadukan dan direkam bersamaan dengan puisi-pusi Aan Mansyur. Mungkin terlalu tidak mencolok dan sedikit dikaburkan dalam kisah cinta yang tragis, Aan Mansyur menceritakan dengan absurd.

            “suara biola yang mengantar mayat kau dipemakaman: tangis aku

            Juga tentu saja aku menuliskan obituari singkat untuk aku dan dimuat di halaman koran persis di samping obituari aku sendiri” hal 11

Diksi-diksi dalamnya begitu halus hingga gampang dicerna, tak berbelit-belit dan selalu diakhiri dengan melankolis. Aan Mansyur menceritakan sebuah kisah romantis dengan satir bahwa semua berhubungan dengan cinta adalah luka, penderitaannya tiada akhir dan dibawa dalam kubur sekalipun.

            “sambil mengenang perpisahan aku dan kau, saat napas lepas dari tubuh kau dan masuk memenuhi tubuh aku.

            sambil mencari waktu yang tepat untuk merasakan bagaimana pisau melepas napas kau dari tubuh aku

            jika mungkin” hal 86

            Dialog-dialog yang tersaji sebagai kritikan dan umpatan terhadap peristiwa Mei terjadi. Aan melakukan kritik tidak secara meledak-ledak, umpatan yang tak mau didengar oleh siapapun. Aan mencoba membiaskan dalam kata-kata yang dilebur dalam puisi prosanya.

Judul : Cinta Yang Marah Penulis : M.Aan Mansyur Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan 1 : 2017 ISBN : 9786020355375 Hal : 93 hlm Harga : 55 ribu

Seperti halnya jargon Seno Gumira Ajidarma, “jika pers dibungkam, sastra yang berbicara”. Tugas penyair tidak hanya memberikan rayuan mendayu-mendayu tapi juga sumbangsih karyanya sebagai pengkritisi dan pembeda di lingkup sekitar kita. Ini tersaji semu di halaman 82.

“kadang-kadang aku dengar nama kau bergulir jadi munir. Kadang-kadang aku dengar tumbuh jadi thukul. Kadang-kadang terdiri dari sejumlah huruf aneh dan selalu salah disebutkan, kadang-kadang nama raja yang mati jatuh dari kursi”

Aan merekam peristiwa Mei dengan kata-kata yang tidak riuh hanya simbol-simbol penanda jaman. Macam raja jatuh, menjadi munir dan thukul yang dimana mereka pasti paham abad apa yang mereka tinggali. Tahun dimana suara-suara represif yang segera dihilangkan dan yang tertinggal hanyalah istirahatlah kata-kata.

Aan memang tidak gamblang dalam menceritakan cuplikan-cuplikan Mei itu tapi core dari Cinta Yang Marah ini adalah cinta dan selalu cinta. Cinta yang sederhana menjadi rumit karena manusia itu sendiri dalam pikiran dan perasaan, dua hal yang tak mudah dipahami. Dari puisi-puisi Aan ini, ada saya sukai dan mungkin favorit diantara semuanya.

            “jika aku betul-betul menikah dengan lelaki yang tidak mampu membuat aku berhenti mencintai kau itu, bolehkan aku menuliskan tato, nama kecil kau, dipayudara aku?” hal 74

            Buku ini tidak sarankan untuk yang patah hati atau kasmaran karena Aan sepertinya menyuruh kita menjauhi cinta, jangan masuk jika bukan pemain. Hal yang kau temui hanyalah luka. (*)

*) Peresensi: Ferry Fansuri

Continue Reading

Buku

Oligarki dan Monopoli dalam Ekonomi Politik Indonesia Paska Reformasi

mm

Published

on

Indonesia pasca reformasi selalu diidentikkan dengan negara yang sedang menikmati demokratisasi dengan kekuatan masyarakat sipil yang kuat untuk menentang otoritarianisme. Banyak teori-teori barat konvensional yang menganggap Indonesia telah menjadi negara yang matang dalam berdemokrasi dan patut di contoh oleh negara lain di dunia ketiga. Teori-teori tentang masyarakat sipil di Indonesia ternyata tidak dapat menjawab mengapa setelah reformasi kondisi perpoolitikan nasional tidak banyak yang berubah?  Mengapa elit-elit Orde Baru yang dulunya sangat tidak demokratis kemudian berubah menjadi seorang demokrat yang baik dan menjadi elit penting dalam mengurus kebijakan Negara? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dijawab oleh Prof. Vedi Hadiz dalam bukunya ini.

Prof. Vedi dengan jeli menunujukkan kelemahan-kelemahan tesis masyarakat sipil yang selama ini diagung-agungkan oleh politisi, dan akademisi di Indonesia yang tidak memperhatikan dialektika kekuaaan ekonnomi-politik dan hanya bersaandar pada bangunan kokoh kebebasan berekspresi dan berbicara.

Di dalam buku ini Prof. Vedi dengan terang-terangan menunjukkan bahwa masyarakat sipil di Indonesia itu terdiri dari banyak kepentingan ekonomi-politik yang bersaing untuk mendapatkan kue dari kekuasaan politik para elit oligarki. Tumbuh suburnya milisi-milisi sipil yang dibentuk oleh elit lama yang menyerang berbagai kelompok masyarakat sipil yang bersandar pada kebebasan berekspresi, menunjukkan dinamika politik Indonesia yang sangat rumit bila hanya dijelaskan dengan teori-teori demokratisasi konvensional.

Elit-elit Orde Baru dengan cepat mere-orgaisasikan dirinya dan beradaptasi dengan sistem yng berubah untuk tetap berkuasa dan menggunakan kemampuan ekonomi-politiknya untuk membangun jaringan-jarngan kekuasaan baru di pelbagai lembaga Negara dan pemerintah daerah. Otonomi daerah yang dirancang sedemikian rupa untuk meuwujudkan kesejahteraan sosial masyarakat ternyata direbut oleh kelompok orang kaya/elit oligarki yang membangun kekuatan partai politik untuk memonopoli kekuasaan.

Pentingnya buku ini untuk di baca oleh akademisi dan ilmuan sosial adalah gejala menguatnya faksi oligarki di Negara yang demokratis. Prof. Vedi sendiri menganalisis dengan tajam dan didukung dengan data yang akurat dalam mengungkapkan siapa saja orang-orang kaya di Indonesia yang memonopoli kekuasaan politik dan ekonomi di Indonesia.

Judul Buku: Dinamika Kekuasaan Ekonomi Politik Indonesia Pasca-Soeharto Tahun Terbit: 2005 Penerbit: LP3ES Penulis: Vedi R. Hadiz Tebal Halaman: 331 halaman

Tesis oligarki sebenarnya sudah pernah dibahas oleh Prof. Jefrey Winters dan Prof. Richard Robison. Keduanya bersepakat bahwa para oligark di Indonesia dengan jeli memanfaatkan era Reformasi untuk menguasai sumber daya alam di indonesia melalui kebijakan-kebijakan politik yang dibaut melalui instrument partai politik.

Sementara Prof. Vedi lebih jauh menganalisa terkait pelbagai kepentingan-kepentiingan masyarakat sipil Indonesia yang saling bertarung satu sama lain karena ingin mendapatkan akses untuk mendekat ke faksi oligark. Situasi politik Indonesia saat ini pasca aksi 212 pada tahun 2016 yang lalu bisa membuat kita memikirkan ulang mengapa pada saat reformasi milisi-milisi sipil ini tumbuh subur di tengah iklim demokratis? Anehnya mereka mendapatkan banyak sponsor dari elit politik yang menduduki kekuasaan yang strategis. Sebut saja Fadli Zon dan Fahri Hamzah keduanya adalah elit partainya masing-masing, mengapa mereka bisa bergabung dan berkolaborasi dengan organisasi sipil yang cenderung konservatif untuk melawan kekuasaan?

Namun disinilah kekurangan analisa politik kontemporer di Indonesia – selalu saja disebut bahwa kelompok oposisi dan kelompok pemerintah padahal sebenarnya tidak ada seperti itu. Tapi mengapa pada saat momen tertentu faksi oposisi dan pemerintah bisa saling bekerjasama untuk memuluskan agenda bersama? Disitulah buku dari Prof. Vedi dapat membuka dengan lebar apa yang tidak diketahui masyarakat awam mengenai elit oligarki di Indonesia dan jaringan kekuasaannya. Indonesia pasca reformasi adalah Negara yang sedang diperebutkan oleh kepentingan ekonomi-politik faksi oligarki.

Bagaimana dengan perkembangan masyarakat sipil di Indonesia? Sejak tahun 1967-1998, Indonesia mengalami periode terburuk dalam berdemokrasi dan hal itu merupakan akibat dari kuatnya faksi oligarki dan miiter mencengkram kehidupan masyarakkat sipil. Akhirnya buku ini sangat menarik untuk dibaca dan diulas lebih dalam oleh akademisi yang konsen terhadap persoalan ekonomi dan poliik di Indonesia. Kelebihan buku ini adalah dengan jujur dan vulgar memberikan wacana alternatif terkait teori politik kontemporer yang menjelaskan Indonesia pasca reformasi.  (*)

*) Danang Pamungkas, lahir di Rembang 2 Desember 1994. Penulis paruh waktu untuk beberapa media online. twitter: @danangpnp, instagram: @danangpnp.

Continue Reading

Classic Prose

Trending