© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Oedipus Dalam Kabut

I

Aku tumbuh untuk tak menjadi diriku, di tengah hutan terjauh—dalam bayang-bayang kesunyian. Aku, yang kau panggil Oedipus, sekarang tak ingin melihat apa pun selain yang kucintai; adalah segalah hal yang telah kutaklukkan! Tetapi terambil dariku dengan kengerian yang lebih pilu dari dosaku pada masa lalu.

Aku merindukan nyanyian dari rakyatku yang padanya mereka telah kubebaskan—yang dengan kebebasannya aku terkutuk untuk menanggung semua penderitaannya—sudah takdirku untuk menjauh dari takdirku sendiri, dan segala yang kucintai.

Gambar-gambar dosa pada wajah Jocasta, pada Laius, telah menyergap mataku dengan api sehingga kebutaanku sungguh tak berguna untuk menghindarkan penderitaan yang telah kupilih sendiri; inilah yang kutahu—adalah jiwaku yang membatu, membimbingku pada nafsu kepahlawanan, dan ketika cinta dan dendam hilang batas, dewa-dewa mulai menuntunku pada kehendaknya agar aku jadi sekutu dewa; membebaskan yang papa, lalu menarikku dalam takdir sunyi kepahlawanan. Tapi semua itu tak berakhir pada kebahagiaanku—sebaliknya aku adalah penanda bagi zaman baru di mana aku dikenang dan dilupakan. Apa yang lebih memiliukan dari dipaksa berlalu?

Bukan karena sesalku atas dosa harus kutinggalkan tanah lahirku, tapi harus kusadari bahwa aku harus turut pada dewa dan tidak lagi berkehendak. Sungguh malang diriku dihadapan takdir yang dibawakan Tiresias.

Ceritaku telah berakhir ketika aku direnggut kesunyian yang jiwaku tak pernah menginginkannya. Dalam kabut suci perjalananku—sewaktu kutanggalkan semua yang dulu kutaklukkan, tak satu pun dari kalian mau tahu; aku memulai perjalananku, jalan cerita yang telah berakhir bagimu. Tapi permulaan bagiku.

*

O biar kukisahkan ini untuk Jocasta dan Antigone, untuk tubuh yang sekarat, untuk jiwa yang mengembara.

Di gerbang kota tanpa senja dan rembulan pada hari ketika kulupakan diriku sendiri: pertama-tama jiwaku menanggung kehancuran; aku tidak akan lagi melihat tanah kelahiranku, nyanyian rakyat juga anak-anakku—segala ikatan dilepaskan, semua jembatan dirobohkan, segala yang menghubungkanku pada masa lalu luruh, tak pernah ada jalan untuk kembali pulang pada kejayaan masa silam.

Hidupku baru, di kota tanpa senja dan rembulan, tanpa kuda-kuda atau rajawali, tak ada ranjang, istana atau payudara, tak ada siapa-siapa tak ada hidup milik sesiapa; hidup adalah hidupku, tanah adalah jengkal langkahku—depanku kabut, di belakangku gulita, di atasku mendung di bawahku tak kutahu. Kehidupan seperti hanya bertumpu pada keberadaanku, tanpa nafsu dan gairah, dan jawablah pertanyaanku: ke mana aku hendak mengembara? Ke mana mencari penaklukan? Atau belas kasihan? Setelah itu tak ada yang kuingat atau kulupakan; harapan adalah kabut besar yang harus kusingkap selangkah demi selangkah. O bagaimana jika abadi?

Aku mencari dewa tapi mataku buta? Hanya selubung rasa yang kupunya; itu pun jika tak menipuku.

Aku lalu mengira dewa-dewa ada dalam diriku, tapi bagaimana aku melihat diriku sendiri? Jiwaku gelap dan sia-sia. Sekarang Antigone tak di sisiku lagi. Barangkali ia tersesat di dalam kabut lalu mendapati dirinya di antara penderitaan dan bencana rakyatku, di sana ia mengingatku sebagai manusia menderita; dan ketika hujan menderas ia melupakanku, raib ditelah suara jeritan-jeritan, penderitaan oleh perang dan kebencian.

Berabad yang tak lagi terhitung oleh waktu, aku tak lagi bisa mengingat Antigone melebihi gerbang kota terakhir di mana aku kehilangan diriku dan tuntunan tangannya—itulah perasaan terakhir yang kupunya.

Sekarang aku masih dalam kabut yang sama, tanpa cinta atau penaklukkan. Jiwa dan nafsuku entah di mana… O lalu bagaimana kau akan menemukanku? Bagaimana aku akan mencari jalan padamu?

O sungguh malang manusia sampai ia dibebaskan dari segala hubungan—sampai ia kembali pulang ke dalam dirinya sendiri.

II

O jika masih bisa kutulis surat padamu, setelah segala derita yang kulihat, ingin kukatakan padamu wahai Jocasta:

Siapa yang harus kucintai, ranjang dan tubuhmu bukan milikku. Setelah sekian lama kau biarkan aku berlindung di antara lekuk leher dan payudaramu, bersandar pada lembah halus punggungmu, di sana kudengar nyanyian dan kelembutan—kukira tak akan pernah berakhir.

Oh tidak bahwa aku harus kehilangan setelah selama ini kau biarkan aku menyusu sebagai anakmu dan kukira payudarmu kejelitaan seorang kekasih! Tak ada penderitaan yang lebih berat dari melepaskan diriku untuk menjauh dari segala yang kukira surga.

Jocasta kekasihku dan ibu dari jiwaku yang kanak-kanak… Aku abadi dalam cintamu, dan terluka setiap kali harus melepaskan diri darimu—inilah kelemahan terbesarku, untuk membunuh monster dalam diriku yang amukannya tak pernah sebanding bahkan dengan Sphinx? Aku talah kau kutuk dengan kematianmu di tali gantungan; dan jiwaku yang tergantung, mati kehausan.

Bukan keselamatan yang kuharapkan, tapi pengampunan dari jiwaku yang kanak-kanak; yang tak pernah bisa merangkak—berjalan menemukan kebenaran bahwa aku harus terima atas segala nasib yang dikabarkan burung-burung untuk takdirku.

Jocasta jelitaku, aku sekarang bukan kanak-kanak lagi. Aku pergi dalam kembara jiwaku, mencari waktu yang memungkinkan kita seranjang kembali—sebagai bayi suci dalam rahimmu.

III

Suara-suara,  seperti nyanyian, suara Atigone—seperti biasa terdengar merdu, lirih dan jauh: “O, Oedipus yang malang… jika tidak Jocasta dalam ranjang dan kau tersesat ke dalam jiwanya—bagaimana aku akan ada? Bukankah sekarang kau tahu, bukan Tiresias yang menuntunmu dalam kesunyian—membawamu menjauh dari segala beban dan penaklukkan, juga bukan Ismene atau Creon, tapi aku, Antigone kesayanganmu.”

Oedipus tertatih, berdiri dalam kabut, sejengkal demi sejengkal berjalan mengikuti suara-suara Antigone:

“Oedipus yang malang… penyesalanmu dari segala dosa meniadakanku dari segala takdir untukmu. Tidakkah kau memahami? Sungguh bukan lantaran dosa-dosa itu membimbingmu pada dirimu sendiri, tapi penerimaanmu atas segala, juga atas dosa dan kepahlawananmu—bahwa kau bahkan tak kuasa atas dirimu sendiri!”

“Dan padaku, Oedipus sayangku, kuterima nasib dari takdirku, untuk melepaskanmu sendirian, mengantarkanmu ke kembara kesunyian: kuterima takdirku untuk melihat semua penderitaan dan kemalangan pada nasib dari takdirmu… ini lah penderitaanku yang lebih dalam dari deritamu. Betapa kanak-kanaknya jiwamu, dan karenannya kau mungkin diselematkan”. (*)

——————————————————————–

*Terinspirasi dari naskah drama “Oedipus” Karangan André Paul Guillaume Gide

 Jakarta, 23 November 2016

@sabiqcarebesth

Written by

Sabiq Carebesth is a freelance writer, author and chief editor Galeri Buku Jakarta. @sabiqcarebesth

No comments

LEAVE A COMMENT