Connect with us

Interview

Octavio Paz, Puisi Panjang dan tanda (resmi) perpuisian

mm

Published

on

Dia salah satu penyair Meksiko terbesar, bahkan salah satu yang terbesar dan otoriatif yang dimiliki dunia perpuisian modern. Alam pikiran dan pengalamannya mengembara melampaui ruang dan waktu, secara fisik dan juga metafisik—ia Octavio Paz,  seorang yang sukses sebagai penyair, juga dalam karirnya sebagai diplomat untuk negaranya.

Menjelajah peradaban Amerika sebagai salah satu korp diplomatik Meksiko pada 1941-1945, mengembara ke India juga sebagai duta besar negaranya dari 1962-1968—seni dan filsafat timur pun diserapnya. Sebagai warga negara selatan ia memahami sosialisme dan ‘budaya’ revolusi meski ia juga tak gentar mengkritik realisme-sosialis dalam medan kasustraan; ia tinggal dan menyerap paham kapitalisme ala Amerika selama tinggal di sana—dan ia pun tak kalah galaknya dalam melabrak cara pandang kebudayaan dan sastra Amerika yang selalu berbau Anglocentrik.

Kesastrawannya memang tiidak terburu-buru, meski ia telah menulis dan mempelajari puisi sejak masih muda belia, namun ia baru menandai kesastrawannya dalam terbitan kumpulan sajaknya pada tahun 1949. Setahun kemudian, ia menerbitkan esai tentang Meksiko “Labirin Kesunyian” (1950) yang lantas diterjemahkan ke hampir semua bahasa Eropa. Kedalaman visi pengetahuan dan ketegasan sikap politiknya tak diragukan, ia mengundurkan diri menjadi diplomat negara untuk India sebagai bentuk protes atas pembantain brutal yang dilakukan negaranya pada kaum pelajar di Mexico City. Ia mendirikan majalah kebudayaan yang pedas dalam kritik, Plural, (1971), Vuelta (1976)—kedunya dibredel penguasa.

Berkat kerja nyata dan siasat kebudayaan yang dikerjakannya dalam membela kemanusiaan ia diganjar berbaai penghargaan, dan yang paling bergengsi tentu saja adalah beroleh Nobel Sastra pada 1990. Pada 19 April 1998 Paz wafat karena kanker.

Sebelum meninggalnya karena kanker, dunia mencatat tujuh esai Paz paling monumental tentang sastra, dunia kita hingga relasinya dengan revolusi yang demamnya melanda bangsa-bangsa di dunia pada masa hidupnya. Tujuh esai yang lantas bertajuk “The Other Voice” tersebut merupakan “investasi” pemikirannya sejak esai pertama yang ditulisnya pada 1941—berisi pandangan meditatif Paz yang dimulai dari permenungannya tentang dunia puisi dari romantisme hingga simbolisme dan gerakan avant Grade. Salah astu pertanyaan terpenting esai tersebut adalah pertanyaan yang ia ajukan sendiri: “Dimana kira-kira tempat puisi pada waktu yang akan datang?”

Meski dimulai dari permenungan tentang puisi, buku “The Other Voice”, sebagaimana dicatat Helen Lane dalam pengantar untuk buku tersebut, berbicara juga tentang kondisi masyarakat kontemporer, filsafat, ideologi, revolusi dan tentang Paz sendiri, diri sang penyair—seorang modernis dan dan visioner. Seorang pemikir yang terus reasah-gelisah dan prihatin namun optimis terhadap perkembangan zaman.

Dalam tulisan berbentuk interview imajiner ini, penulis hanya akan meringkas pemikiran Paz tentang dunia puisi—atau dari sudut pandang puisi-penyair atas realitas dunia kontemporer (dalam bagian kedua interview). Ringkasan jawaban Paz secara utuh bisa didapati dalam bukunya “The Other Voice” (Suara Lain):

INTERVIEWER

Apa Puisi buat Anda, atau bagaimana ungkapan itu (puisi) memiliki artinya bagi Anda?

OCTAVIO PAZ

Pertama izinkan saya mengutip Antonio Machado untuk menjawab pertanyaan tersebut, Machado menulis: “Sejarah yang hidup dinyanyikan dengan memadahkan alun nadanya”.

Saya mulai menulis puisi pada waktu masih muda belia dan sejak itu pula saya membayangkan tentang bagaimana menulisnya. Puisi adalah suatu pekerjaan yang paling ambigu: suatu tugas dan sebuah misteri, suatu masa lalu dan suatu sakramen, sebuah profesi, dan suatu hasrat atau nafsu.

Saya ingin katakan hal itu pada mulanya seperti sebuah meditasi (barangkali kata itu lebih tepat karena keserampangannya, untuk menyebutnya sebagai suatu penyimpangan yang tidak beraturan) tentang perbedaan-perbedaan besar puitik dan pengalaman manusia: kesunyian, komuni, communion. Saya melihat hal itu dalam personifikasi dua orang penyair yang saya baca dengan penuh gairah; Quevedo dan Saint Jhon the Cross dalam buku karya mereka Lagrimas de un penitente dan Cantico spiritual.

INTERVIEWER

Dalam beberapa esai yang Anda tulis, anda tampak mengagumi puisi panjang dan memberi penilian tinggi atasnya ketimbang puisi pendek. Bagaimana Anda menilai dan menjelaskan hal tersebut?

OCTAVIO PAZ

Saya mambahas secara khusus mengenai “extensive poem”, puisi panjang—di mana itu adalah bentuk puitik yang telah memperoleh nasib baik dalam abad XX. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa puisi-puisi modern yang terbaik adalah puisi-puisi yang panjang. Sebaliknya malah lebih mendekati kebenaran: intensitas dari puisi yang terdiri dari atas tiga atau empat baris sering mampu menembus tembok waktu. Tetapi, puisi panjang—yang ditulis oleh T.S. Eliot, Saint John Perse, dan Juan Ramon Jimenez, saya berikan tiga contoh yang terkenal—merupakan ekspresi era kita, dan telah meninggalkan jejaknya tentang hal itu.

Jadi dapat dikatakan bahwa extensive poem adalah sebuah puisi yang panjang. Selama dalam pengertian itu kata-kata datang berurutan satu sama lain, suatu puisi yang ekstensif dengan demikian bisa berarti sebuah puisi yang terdiri dari banyak baris dan pembacaanya membutuhkan waktu tertentu. Ruang dan waktu.

INTERVIEWER

Namun berapa panjang sebuah puisi dapat dipandang sebagai sebuah puisi ekstentif? Terdiri dari berapa banyak baris?

OCTAVIO PAZ

Mahabharata terdiri lebih dari dua ratus ribu sajak, sementara bagi orang Jepang, sau Uta—sebagai puisi panjang—terdiri dari tiga puluh sampai empat puluh sajak; Soledades karya Gongora berisi dua ribu sajak; Primero Sueno karya Sor Juana Ines de la Cruz kira-kira seribu sajak dan Divina Comedia karya Dante terdiri dari lima belas ribu sajak. Sebaliknya puisi The Waste Land hanya terdiri dari empat ratus tiga puluh empat sajak. Jadi dalam hal ini panjang pendek adalah realtif. Ia berupa istilah yang bersifat variable bebas, tidak tetap. Jumlah persajakan (verses) bukan masalah sama sekali, kita membutuhkan factor-faktor lain untuk menjelaskan hal ini.

Saya ambil Paul Valery yang pernah berkata bahwa sebuah puisi panjang, merupakan mengembangan dari suatu ekslamasi, suatu seruan. Yakni suatu formula singkat dan jelas namun toh masih membutuhkan suatu pengembangan. Dalam puisi pendek awal dan akhir berpadu, menyatu hingga jarang kita dapati pengembangan apa pun. Awal dan akhir dengan gamblang dapat dibedakan, terang, jelas, setiap persajakannya memiliki fisiogno-minnya sendiri-sendiri tetapi pada waktu yang bersamaan semuanya tak dapat dipisahkan. Pada puisi panjang, bagian-bagiannya bersifat nyaris otonom, benar-benar ada seagai bagian-bagian (dari keseluruhan). Contohnya, episode Paolo dan Francesca daam Inferno karya Dante, atau episode Dante dan Matilda pada ahkhir penggambarannya melewati purgatory.

INTERVIEWER

Mari kita detailkan, inti dari pembeda puisi panjang dan puisi pendek, dan mengapa ada cenderung pada yang pertama?

OCTAVIO PAZ

Perpuisian ditentukan oleh prinsip keanekaan dalam kesatuan yang bersifat ganda. Dalam puisi-puisi yang pendek, keanekaan dikorbankan demi kesatuan; pada puisi-puisi panjang, puisi itu mencapai kesempurnaan sebagai puisi tanpa mengorbankan atau merusak kesatuan (unity). Jadi, boleh dibilang, pada puisi panjang kita bukan hanya menemukan perpanjangan atau perluasan yang sebenarnya merupakan suatu dimensi yang relatif, tetapi juga keanekaan yang maksimum.

Tambahan lagi, puisi ekstensif memenuhi persyaratan ganda lain yang rapat hubungannya dengan hukum keanekaan dalam kesatuan: pengulangan dan kejutan. Pengulangan merupakan prinsip utama dalam perpuisian. Matra dan aksen-aksennya, rima (rhyme), julukan (epithet) dalam karya-karya Homerus dan penyair-penyair lainnya; frase dan insiden berulang seperti motif-motif musical yang tersedia sebagai tanda-tanda untuk memberi tekanan pada kesinambungan. Perbedaan lain yang lebih besar lagi adalah jeda atau penghentian, pergantian, penemuan—singkatnya, ketakterdugaan.

Bila kita reduksi sampai ke bentuk paling sederhana dan esensial, puisi adalah sebuah madah, alias nyanyian. Nyanyian bukanlah suatu diskursus atau penjelasan. Pada puisi pendek, latar belakang dan hampir semua keadaan yang mengitarinya, yang merupakan sebab atau objek nyanyian, dihilangkan atau diabaikan. Yang saya maksud adalah: pada gilirannya nyanyian menjadi cerita, dan akhirnya cerita menjadi nyanyian—seperti dalam puisi ekstensif.

INTERVIEWER

Ada yang hendak Anda tambahkan lagi?

OCTAVIO PAZ

Sebuah puisi ekstensif harus memuaskan suatu kebutuhan rangkap: keanekaan dalam kesatuan dan kombinasi dari pengulangan dan kejutan. Hal itu mengembangkan dan bukan sekedar mengakumulasi.

Sebutlah dalam Soledades saya tidak menemukan pengembangan, melainkan hanya akumulasi—yang seringkali membosankan dan bertele-tele dari fragmen dan detil-detilnya. Soledades adalah suatu tatahan potongan-potongan yang memang indah tapi tidak berarti. Puisi-puisi itu tidak memiliki aksi, taka da cerita, dan dipenuhi dengan penjelasan tambahan yang panjang dan berbelit-belit serta pemakain kata yang terlalu banyak yang sebenarnya tidak perlu.

Anda harus memahami hal ini; apakah kita membaca sebuah puisi dengan penuh gairah? Antusiasme—hiruk pikuk dan kegila-gilaan yang bersifat ketuhanan—merupakan tanda (resmi) perpuisian. (*)

*) Sabiq Carebesth, penyair, editor in chief Galeri Buku Jakarta.

Interview

Jokpin Yang Tak Pernah Lelah Menghisap Bahasa

mm

Published

on

Yogyakarta, saat itu mungkin tahun 2004 atau 2005, di kamar kos teman saya di daerah Papringan, menjelang petang teman saya datang, kemudian dengan antusiasme yang mencolok menyeru pada saya “Ada puisi, lucu ! coba baca!”

Dia menyodorkan saya koran Kompas, hanya beberapa lembar, halaman-halamannya sudah lusuh dan tidak utuh. Saya tidak tahu dia memungut di mana, yang pasti bukan beli karena harga koran itu mahal saat itu, dan juga hanya ia bawa separuhnya. Dan tentu saja itu koran edisi beberapa hari atau beberapa pekan yang lalu atau mungkin tahun lalu..

Saya malas, saat itu bahkan saya bukan pembaca rutin halaman Puisi harian kompas, saya tidak menyukai puisi. Teman saya memaksa, dengan mambacakan kutipan puisi “lucu” tadi dengan cergas seingat bait yang ada dalam benaknya; “Celananya pas, paksah celananya?”. Saya merespon biasa saja, “Maksudnya, Bung..” katanya lebih antusias, “Paskah—perayaan paskah ditakoni Yesus celananya pas tidak?”

Oh sialan! Dibuat lucu begitu bab agama! Saya lekas merasa tertarik karenanya. Saya pun duduk dan membaca sendiri puisi itu—puisi berjudul “Celana Ibu”.

Begitulah ingatan saya pada penyair Joko Pinurbo atau yang kini akrab dengan sapaan “Jokpin” mudah dibentangkan; puisinya lucu !

Lucu memang idiom konyol bagi sebagian orang, tapi banyak dari kita juga paham, hanya orang dengan kapasitas intelektual tertentu bisa menghasilkan hal lucu—terlebih dalam wahana yang memang bukan komedi seperti halnya puisi.

Jokpin dan puisi-puisinya memang tidak bisa disebut sebagai “puisi lucu” atau “penyair yang lucu”—jelas itu salah besar lebih-lebih jika dipahami secara literal saja. Puisi Jokpin bagaimana pun kaya dengan bobot yang bahkan memendam tragedi manusia yang sublim; sosoknya juga tak ada penampakan seorang yang lucu, garis pipinya kaku, matanya tajam, malah lebih terkesan seperti seorang perenung yang memikirkan terlalu banyak untuk diketetahui muasal atau realitas asalinya—seperti seorang filsuf. Hanya saja dia menuangkannnya dalam sajak dan puisi.

Subjektifitas yang demikian menuntun rasa ingin tahu saya, apa dan bagaimana laki-laki kelahiran Sukabumi 11 Mei 1962 itu sebagai penyair. Sesederhanakah hal itu seperti penampilannya sehari-hari? Saya ingin tahu bagaimana dia menghasilkan puisi, bagaimana dia menulis dan dengan dunia seperti apa dia menghimpun peluru untuk untuk ditembakkan ke dunia kita melalui puisi-puisinya itu.

Dalam proses kreatifnya berpuluh tahun hingga kini, Joko Pinurbo telah diganjar berbagai penghargaan seperti Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta. Hadiah Sastra Lontar, Sih Award, juga Tokoh sastra versi majalah TEMPO. Dan yang terpenting adalah penghargaan dari pembaca berupa rasa hormat dan menjadi penyair penting zaman ini bagi begitu banyak pembaca dan penikmat sastra indonesia.

Saya tak terkecuali, sebagai penikmat puisi, saya memupuk rasa penasaran untuk bertanya pada sang penyair tentang dunianya. Saya mengajukan beberapa pertanyaan untuk keperluan penerbitan buku “Memikirkan Kata” ini, dan itu terbalas dengan antusiasme! Tentu hal itu suatu keberuntungan, mengingat bagaimana sibuknya ia sekarang, harus membagi waktu dengan keinginannya untuk terus tinggal dalam ruang batin kreatifnya tapi dunia kini meminta waktunya lebih banyak, untuk mengisi kelas menulis, diskusi, bedah buku, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya ajukan kepadanya.

Dan Berikut wawancara dengan penyair yang bagi saya, seperti seorang yang tak pernah lelah menghisap bahasa dari kebakaran yang melanda rumahnya.

Apakah dari awal anda memang tertarik menulis? Dan menulis Puisi?

Saya tertarik menulis sejak di bangku SMA. Awalnya karena suka membaca. Kebetulan koleksi perpustakaan sekolah/asrama saya mengagumkan. Banyak koleksi bacaan sastra yang bagus-bagus. yang membuat saya tergerak untuk belajar menulis. Di samping itu, tradisi penerbitan majalah di sekolah/asrama saya juga sangat hidup. Saya beruntung tumbuh di sekolah/asrama yang budaya baca dan budaya tulisnya berkembang subur.

Kapan pertama kali puisi-puisi anda dipublikasikan media?

Akhir tahun 1970-an. Tahun 1978 kalau tak salah. Saat di SMA puisi saya sudah dimuat di media (majalah) luar.

Bagaimana Anda menulis? Dengan pensil atau perangkat seperti laptop?

Pada mulanya dengan bolpoin, lalu dengan mesin ketik, lalu dengan komputer (PC), dan terakhir dengan laptop.

Apakah Integritas struktural dan nada sangat penting

dalam puisi-puisi Anda? Atau lebih bebas?

Tentu. Saya termasuk penulis yang sangat memperhatikan ketertiban dan keteraturan berbahasa. Koherensi dan logika, misalnya, sangat penting.

Meskipun banyak puisi saya yang cair dan “bebas”, saya tetap menjaga nada dan irama supaya kata-kata mengalir lancar dan enak.

Apakah anda membuat draft pertama dan banyak draft untuk satu buah puisi sampai Anda mengatakan “ya, ini final” dan mempublikasikannya?

Pada mulanya adalah draf, kemudian disunting puluhan kali sampai tersusun bentuk yang “final”. Bagian terberat dan menyita waktu adalah penyuntingan.

Apakah secara bombastis anda pernah atau bahkan seriang marah tentang titik koma yang digunakan secara buruk?

Sering. Saya sangat memperhatikan gramatika dan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Titik koma pun tak luput dari perhatian saya karena bisa menentukan logika dan makna.

Dengan penyair siapa Anda pernah duduk santai dan berbicara  apa saja kemudian anda mengenang dari satu dua obrolan yang sangat penting meskipun tampak remeh?

Saya pernah duduk santai dan mengobrol dengan banyak penyair: Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Hasan Aspahani, Aan Mansyur, dan banyak lainnya. Salah satu yang paling saya kenang adalah pembicaraan tentang akik dengan Acep. Kebetulan Acep penggemar dan kolektor akik. Dia mengumpamakan pekerjaan mengolah dan mengasah kata seperti menggosok batu akik sedemikian rupa sampai diperoleh sebutir akik yang halus, cemerlang dan memancarkan “aura”. Perlu kesabaran, ketelatenan, dan ketelitian.

Apakah mungkin untuk mengajar seseorang, atau belajar, bagaimana menulis dengan baik?

Sangat mungkin. Banyak hal teknis yang bisa dipelajari, dilatihkan,  dan “diajarkan”. Menulis toh bukan klenik atau ilmu gaib.

Ngomong-ngomong, pernah dengar afrizal mengatakan berhenti menulis puisi? Atau pertanyaanya apakah penyair bisa dan bijak pada titik tertentu memutuskan berhenti menulis puisi? Anda Punya rencana berhenti menulis puisi?

Saya pernah dengar itu. Kenyataannya, sampai saat ini Afrizal masih menulis dan masih terus bereksplorasi. Memang ada kalanya seorang penulis merasa jenuh dan bingung harus menulis apa dan bagaimana lagi. Saya pun pernah mengalami situasi seperti itu. Tak ada cara lain selain bahwa seorang penulis harus mampu memotivasi dirinya sendiri. Biasanya, setelah membaca karya orang lain, motivasi itu akan hidup kembali.

Bisakah Anda menggambarkan hari rutin Anda? Bagaimana Anda menghabiskan hari?

Tak ada yang istimewa dengan hari-hari saya. Saya menjalani hidup seperti manusia (dan warga negara) pada umumnya. Yang pasti, setiap hari saya pasti bergaul dengan kata-kata—antara lain untuk menjaga hubungan batin dengan kata-kata.

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Saya orang yang “gampangan”. Saya tidak punya kiat dan ritual khusus untuk itu. Cukup dengan kopi/teh dan rokok.

Apa saran menulis terbaik yang pernah anda terima? Dari siapa dan bagaimana ceritanya?

Saran terbaik saya terima dari Aristoteles: “Akar pendidikan itu pahit, tapi buahnya manis.” Saya mengalami sendiri bagaimana bersabar, berjuang, dan berjerih payah untuk dapat menghasilkan karya yang baik. Setiap kali menulis saya memperlakukan diri saya sedang belajar dan berlatih menulis.

Buku-buku yang paling anda gemari dan dalam benak anda sangat penting karena memberi pondasi bagi karya-karya Anda?

Injil, karya-karya Budi Darma, Iwan Simatupang, Sapardi Djoko Damono, Anthony de Mello, Carlos Maria Dominguez.

Yang terakhir, 1 judul puisi milik anda yang paling berkesan bagi anda pribadi?

Ha-ha-ha…. Sulit. Enggak nemu.

Continue Reading

Interview

Gabriel Garcia Márquez: Sastra dan Jurnalisme Kita

mm

Published

on

Garcia Márquez menganggap bahwa jurnalisme cetak adalah “sebuah bentuk karya sastra”. Dia juga suka meyakinkan para penerbit koran untuk lebih sedikit berinvestasi di teknologi dan lebih banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan personel.

Geram dengan apa yang dia lihat melanda jurnalisme di Amerika Latin, Gabriel Garcia Márquez, peraih Hadiah Nobel lewat novel One Hundred Years of Solitude, yang juga mantan reporter koran, pada Maret 1995 memulai gerakan “sekolah tanpa dinding”–Fondasi Jurnalisme Ibero-Amerika Baru. Tujuannya, menyegarkan kembali jurnalisme di kawasan itu lewat workshop keliling. Dia yakin bahwa yang selama ini diajarkan dan dipraktikkan perlu diperbaiki; dan dia mengeluhkan para jurnalis yang lebih tertarik untuk memburu breaking news–dengan kebanggaan dan privilese yang diberikan oleh selembar kartu pers—daripada mengasah kreativitas dan etika. Mereka membanggakan diri bisa membaca keseluruhan isi sebuah dokumen rahasia, tapi tulisan mereka penuh dengan kesalahan tata bahasa serta ejaan, dan tidak punya kedalaman. “Mereka abai terhadap pijakan bahwa artikel terbaik bukanlah yang paling dahulu memberitakan sebuah kejadian, tapi yang penyajiannya paling baik,” dia menuliskan kata-kata inagurasinya.

Garcia Márquez mengkritisi cara berbagai universitas dan penerbit media di Amerika Latin memperlakukan profesi ini–yang dia sebut sebagai pekerjaan paling baik di dunia. Tak sepakat dengan sikap kalangan kampus bahwa jurnalis bukanlah seniman, Garcia Márquez menganggap bahwa jurnalisme cetak adalah “sebuah bentuk karya sastra”. Dia juga suka meyakinkan para penerbit koran untuk lebih sedikit berinvestasi di teknologi dan lebih banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan personel.

Dengan dukungan dari UNESCO, yayasan Garcia Márquez–yang berbasis di Barrangquilla, Kolombia—selama kurang dari dua tahun mengorganisasikan dua puluh delapan workshop yang dihadiri tiga ratus dua puluh jurnalis. Tema lokakarya-lokakarya itu: pengajaran tentang teknik-teknik naratif reportase di media cetak, radio, dan televisi hingga berbagai diskusi tentang etika, kebebasan pers, peliputan di tempat berbahaya, dan tantangan-tantangan teknologi baru yang menghadang profesi ini. Pelatihan dalam workshop diberikan para profesional yang cakap dan ditujukan untuk jurnalis dari angkatan yang lebih muda, lebih disukai yang di bawah 30 tahun, dengan pengalaman lapangan setidaknya tiga tahun. Kendati berbasis di Kolombia, workshop itu juga dilaksanakan di Ekuador, Venezuela, Meksiko, dan Spanyol. Bagian utama dari kurikulum yang dimiliki yayasan ini adalah workshop tiga hari yang dipimpin langsung oleh Gabriel Garcia Márquez tentang reportase.

Sebagai jurnalis yang menulis tentang Amerika Latin dalam bahasa Inggris, aku mendaftar dan diterima untuk mengikuti workshop-nya yang kelima. Saking girangnya bakal bertemu dengannya, aku –yang biasanya tukang telat dalam segala hal—menjadi peserta yang datang paling awal di Pusat Kebudayaan Spanyol di Cartagena, Kolombia, sebuah bangunan berlantai dua yang direnovasi dengan indah, dihiasi tanaman begonia merah dan air mancur di selasarnya, yang dimiliki oleh pemerintah Spanyol. Latar ini sudah sangat pas. Cartagena adalah rumah bagi Garcia Márquez, dan banyak tokoh-tokoh dalam karya fiksinya berseliweran di jalanan beton kerikil di seputaran area kolonial kota ini. Di situlah, beberapa blok dari Pusat Kebudayaan Spanyol, di alun-alun Katedral, Florentina Ariza mengamati cara berjalan Fermina Daza, si remaja sekolah menengah itu, yang tak lagi seperti sebelumnya. Sierva Maria los Todos, bocah sebelas tahun yang rambutnya terus tumbuh setelah meninggal, tinggal di Biara Santa Clara yang letaknya tak jauh dari situ. Berhampiran dengan tembok-tembok yang melindungi Cartagena dari para bajak laut Inggris, rumah Garcia Márquez terletak sangat dekat dengan biara itu –yang sekarang berubah menjadi hotel bintang lima di mana para tamunya bisa leluasa memandangi rumah sang penulis. “Bikin malu saja,” kata seorang tamu hotel kepadaku. “Saya bisa melihat dia sarapan setiap pagi. Akhirnya saya tutup saja tirainya.”

Senin, 8 April 1996, pukul 09.00 malam

Aku adalah satu di antara dua belas jurnalis yang duduk mengelilingi meja besar berbentuk oval. Kami sangat hening, laksana sekumpulan murid sekolah Jesuit yang menunggu pelajaran dimulai. Gabriel Garcia Márquez membuka pintu dan masuk, memandangi kami dengan tatapan usil, seolah tahu betapa gugupnya kami. Garcia Márquez –banyak dipanggil dengan Gabo—berpakaian serba putih. Di pantai Karibia Kolombia, para pria memang sering mengenakan pakaian serba putih, bahkan sampai sepatu-sepatu mereka. Dia mengucapkan selamat pagi, dan seketika kami berdiri, membungkuk, dan secara bersamaan mengucapkan: “Buenos dias, profesor.”

*

Itu adalah prolog dari naskah panjang Silviana Paternoso yang ditulis pada Musim Dingin 1996 untuk kerja-kerja sastra dan jurnalisme Marquez. Artikel lengkapnya hampir 20 halaman sedang dikerjakan oleh tim editorial Galeri Buku Jakarta untuk terbir bersama artikel lainnya dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbitkan tahun ini.

Dan tahukah Anda..

Para presiden, menteri, politisi, penerbit koran, dan pemimpin gerilya berkonsultasi dengannya, berkirim surat kepadanya, mengajaknya bertemu. Apa pun yang dia katakan, tentang subjek apa saja, selalu menjadi headline. Tahun lalu, sekelompok gerilyawan di Kolombia menculik saudara kandung seorang mantan presiden. Tuntutan mereka adalah agar Garcia Márquez mau menjadi presiden. Dalam surat tuntutannya, mereka menulis: “Nobel, selamatkan tanah airmu.”Buat kami orang Kolombia, menyebut Garcia Márquez dengan nama panggilan Gabo berarti membuat sukses yang dia raih lebih dekat kepada kami, dan–layaknya sebuah keluarga yang bangga—menjadikan kehebatan dia sebagai milik kami. Di sebuah wilayah yang carut-marut oleh aksi kekerasan, kemiskinan, penyelundupan narkoba, dan korupsi, dia adalah putra kebanggaan yang bisa dipamer-pamerkan–bahkan oleh mereka yang tak menyetujui kedekatannya dengan Fidel Castro.

Di Barranquilla, kampung halaman kami, kota tempat dia bekerja sebagai reporter pada 1950 dan bertemu dengan bakal istrinya, Mercedes, su mujer de siempre, namanya benar-benar melekat. Dia bukan saja dipanggil Gabo melainakan Gabito–panggilan akrab oleh para orangtua, kekasih, atau sahabat kepada kesayangan mereka.

Namanya disebut oleh para peserta berbagai kontes kecantikan sesering nama Paus. Jawaban para kontestan pun repetitif: Siapa penulis favoritmu? Garcia Márquez. Siapa yang paling Anda kagumi? Ayah, Paus, dan Garcia Márquez. Siapa sosok yang Anda ingin temui? Garcia Márquez dan Paus. Jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada para jurnalis Amerika Latin, jawabannya bisa jadi sama–mungkin tanpa ada Paus-nya. Buat kami, para jurnalis Amerika Latin yang berada di tahap awal karier kami, dia adalah tokoh panutan. Kami suka berucap bahwa dia sebelum menjadi novelis adalah seorang jurnalis. Dia sendiri bilang, dia tak pernah berhenti menjadi wartawan.

*

Sementara itu menjadi pendongeng, Gabo katakan, adalah bawaan dari lahir, bukan dibentuk. “Seperti penyanyi, menjadi pencerita itu sesuatu yang diberikan oleh alam kepadamu. Tak bisa dipelajari. Soal teknik iya memang bisa dipelajari, tapi bisa menyampaikan sebuah cerita itu berhubungan dengan sesuatu yang Anda bawa dari lahir. Mudah untuk membedakan antara pencerita yang baik dan buruk: mintalah mereka bercerita tentang film terakhir yang mereka lihat.”

Lalu dia memberikan penekanan, “Yang paling sulit adalah menyadari bahwa diri Anda bukan pencerita yang baik lalu punya keberanian untuk melupakannya dan mengerjakan sesuatu yang lain.” Cesar Romero belakangan bilang kepadaku bahwa dari semua statemen Gabo, inilah yang paling menohok buatnya.

Dia memberikan contoh, Beberapa saat setelah dia menerima Hadiah Nobel, seorang jurnalis muda di Madrid menghampirinya ketika dia hendak keluar dari hotel, untuk meminta wawancara. Gabo, yang tak suka diwawancara, pun menolaknya, tapi mengundangnya untuk ikut dengan dia serta istrinya selama seharian. “Dia menghabiskan waktu seharian dengan kami. Kami berbelanja, istri saya menawar-nawar barang, kami makan siang, kami berjalan, kami bebincang-bincang; dia bersama kami di mana-mana.” Ketika mereka kembali ke hotel dan Gabo hendak mengatakan sampai jumpa, dia memintanya untuk wawancara. “Saya bilang kepadanya, dia mesti pindah pekerjaan,” kata Gabo. “Dia kan sudah punya bahan tulisan lengkap, dia sudah mereportase.”

Dia melanjutkan dengan bicara tentang perbedaan antara wawancara dan reportase–kesalahan pengertian yang senantiasa dilakukan para jurnalis.  “Wawancara dalam jurnalisme cetak selalu berupa dialog antara si jurnalis dan seseorang yang mengungkapkan sesuatu atau berpendapat tentang sebuah kejadian. Reportase adalah rekonstruksi sebuah kejadian yang dilakukan dengan sangat cermat dan jujur.

*
Kami rasa begitu kaya dan begitu banyak pengalaman yang bisa dipetik, dan tentu saja kami merasa buku “Memikirkan Kata” benar-benar layak anda nantikan dan miliki ! 🙂

Continue Reading

Interview

Jacinda Ardern, Keberanian dan Kemanusiaan yang Dibutuhkan Zaman Kita

mm

Published

on

Keamanan berarti bebas dari ketakukan akan kekerasan. Tetapi itu juga berarti bebas dari ketakutan atas sentimen-sentimen rasis dan kebencian yang menciptakan tempat bagi kekerasan untuk tumbuh. Dan setiap orang dari kita mampu mengubahnya.

And that is why you will never hear me mention his name. He is a terrorist. He is a criminal. He is an extremist. But he will, when I speak, be nameless. And to others I implore you: speak the names of those who were lost, rather than name of the man who took them. He may have sought notoriety, but we in New Zealand will give him nothing. Not even his name.

[.. A] nd in this role, I wanted to speak directly to the families. We cannot know your grief, but we can walk with you at every stage. We can. And we will, surround you with aroha, manaakitanga and all that makes us, us. Our hearts are heavy but our spirit is strong.

Dua paragraf tersebut adalah Pidato resmi Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern (37) atas tragedi Christchurch yang menyebabkan banyak korban dari komunitas Muslim di negaranya. Kita seketika mendengar suara yang sungguh manampilkan empati sekaligus keberanian, ketabahan sekaligus ketulusan. Dan terutama kekuatan seorang pemimpin—perempuan pemimpin.

Pidato yang lirih tapi suaranya menggema ke seluruh dunia dan menyadarkan, seharunya, banyak manusia untuk mengutuk terror dalam bentuk apa pun, mengakhiri kebencian dan segala yang melemahkan kemanusiaan kita. Ia sungguh layak memimpin sebuah bangsa dengan 200 etnis dan lebih dari 160 bahasa di dalamnya—bangsa yang mengucapkan selamat datang dan membuka pintu lebar untuk orang lain—dan kini akan tertutup rapat bagi mereka yang datang dengan kebencian dan membawa ketakutan; saya benar-benar kagum padanya sebagai manusia dan terutama sebagai seorang perempuan.

Keberanianannya menyala di tengah banyak opini minor tentang perempuan dan pemimpin atau inetelektual perempuan yang kerap dipandang rentan. Matanya memperlihatkan betapa kuat dan sama dengan siapa saja dari para pemberani yang jiwanya bebas memabela kemanusian, kebenaran dan cinta kasih. Seorang yang beriman dan memahami nilai kemanusiaan.

Lihat matanya yang tabah, ketabahan yang juga sama dengan keberanian, dia bicara dengan hatinya—We can. And we will, surround you with aroha, manaakitanga and all that makes us, us. Our hearts are heavy but our spirit is strong—Dunia memang mudah menghancurkan kita, tapi mestinya kita belajar, untuk memiliki hati yang lapang dan kuat, yang dipenuhi empati dan pandangan jernih pada cinta kasih sesama, harus ditegakkan dengan kokoh dan masing-masing kita belajar, harus belajar untuk memiliki hati dan ketabahan juga keberanian semacam itu.

Kita telah lama berada dalam habitat moral dan psikologis yang cenderung menganggap mereka tidak memiliki keberanian lebih dari lelaki, tidak ada nyali untuk bicara tentang kebenaran dan berdiri tegap melawan teror dan kebencian yang kini makin menghawatirkan.

Sekarang kita sadar kita butuh lebih banyak pemimpin dan intelektual perempuan untuk membesarakan hati peradaban dari krisis kepedulian atau bahkan (krisis) sikap pemberani yang tengah melanda dunia kita secara global sebab egoisme identitas dari ketimpangan ekonomi yang terus kita sembunyikan.

Dan berikut adalag pidato lengkap Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, seharusnya kita terinspirasi dan bertambah keberanian untuk menjadi tulus dan menyayangi sesama:

 

Al salam Alaikum

Damai bagimu. Dan damai bagi kita semua.

Jumat tengah hari yang sunyi itu menjadi hari terkelam kita. Tetapi bagi para keluarga mereka, lebih daripada itu. Itu adalah hari di mana kegiatan ibadah yang sederhana-mempraktikkan keyakinan dan agama mereka sebagai muslim-berujung pada kehilangan orang-orang terkasih.

Orang-orang terkasih itu merupakan saudara laki-laki, para ayah, dan anak-anak.

Mereka warga New Zealand. Mereka adalah kita. Dan karena mereka adalah kita, kita sebagai sebuah bangsa, kita menangisinya.

Kita mengemban beban kepedulian yang besar terhadap mereka. Dan tuan dewan, kita punya banyak sekali yang harus dikatakan dan harus dilakukan.

Dan dalam peran ini, saya ingin berbicara langsung kepada para keluarga. Kami tidak bisa memahami kesedihanmu seutuhnya, tapi kami akan berjalan bersamamu dalam tiap langkah. Kita bisa. Dan kami akan mengelilingimu dengan aroha, manaakitanga dan segala yang membuat kita satu. Hati kita bersedih tetapi jiwa kita kuat.

*

Seorang pemuda 28 tahun-seorang warga Australia-telah dituntut dengan satu dakwaan pembunuhan. Tuntutan lain akan menyusul. Dia akan menghadapi seluruh kekuatan hukum New Zealand. Keluarga para korban akan mendapatkan keadilan.

Dia mengincar banyak hal dengan aksi terornya, tapi satu di antaranya adalah ketenaran.

Dan itulah mengapa anda tidak akan pernah mendengar saya menyebutkan namanya. Dia seorang teroris. Seorang kriminal. Seorang radikal. Tetapi dia, ketika saya bicara, tak bernama. Dan kepada kalian semua saya menghimbau anda: sebut nama-nama mereka yang menjadi korban, ketimbang dia yang mengambil nyawa mereka. Dia mungkin menginginkan ketenaran, tetapi kita di New Zealand tidak akan memberinya apa-apa. Tidak bahkan namanya.

*

Saya telah ucapkan berulang kali tuan dewan, kita adalah sebuah bangsa dengan 200 etnis, 160 bahasa. Kita membuka pintu bagi bangsa lain dan menyambutnya. Dan satu-satunya hal yang harus berubah usai kejadian Jumat itu adalah bahwa pintu ini harus ditutup bagi mereka yang mengamini kebencian dan ketakutan.

Benar, pelaku yang melakukan tindakan itu tidak berasal dari sini. Dia tidak dibesarkan di sini. Dia tidak menemukan ideologinya di sini, akan tetapi itu tidak berarti bahwa pandangan hidup yang sama tidak ada di sini.

Saya yakin bahwa sebagai sebuah bangsa, kita ingin menyediakan segala kenyamanan yang bisa kita tawarkan bagi komunitae Muslim kita di saat-saat terkelam ini. Dan itu benar. Tumpukan bunga di depan pintu-pintu masjid di seluruh negeri, nyanyian-nyanyian spontan di luar gerbangnya. Itu semua merupakan cara mengekspresikan luapan cinta dan empati. Namun kita ingin bertindak lebih jauh.

Kita ingin setiap orang di komunitas ini juga merasa aman. Keamanan berarti bebas dari ketakukan akan kekerasan. Tetapi itu juga berarti bebas dari ketakutan atas sentimen-sentimen rasis dan kebencian yang menciptakan tempat bagi kekerasan untuk tumbuh. Dan setiap orang dari kita mampu mengubahnya.

Mari kita nyatakan duka mereka sebagaimana mereka melakukannya.

Mari kita dukung mereka saat mereka berkumpul kembali untuk berdoa.

Kita adalah satu, mereka adalah kita.

Perdana Menteri Jacinda Ardern

Continue Reading

Trending