Connect with us

Tabloids

Octavio Paz: Mencari Masa Kini

mm

Published

on

Hal terakhir di rumusan gegabah ini adalah keruntuhan semua hipotesa filosofis dan historis yang mengklaim menemukan hukum yang mengatur jalannya sejarah. Banyak orang dengan percaya diri meyakini bahwa mereka menentukan jalannya sejarah dengan membangun negara kuat di atas piramida mayat. Pendirian arogan tersebut, yang didasarkan pada teori pembebasan manusia, dengan cepat ternyata berubah menjadi penjara raksasa. Hari ini kita telah melihat mereka jatuh, digulingkan bukan oleh musuh ideologis mereka, tetapi oleh ketidaksabaran dan keinginan generasi baru untuk menghirup udara kebebasan.

[In Search of the Present] (p) Addi Midham (e) Sabiq Carebesth

Saya ingin memulai pidato ini dengan dua kata yang sudah diucapkan semua orang sejak awal mula kemanusiaan: terima kasih. Kata ‘terima kasih’ memiliki padanan dalam semua bahasa, dan pada setiap pengucapannya, ada cakupan makna yang berlimpah. Dalam rumpun bahasa Roman, keluasan makna kata ini mencakup aspek spiritual sekaligus lahiriah: dari rahmat ilahi yang diberikan kepada manusia sehingga selamat dari kesesatan dan kematian, hingga anugerah gemulainya tubuh untuk gadis penari atau kucing yang melompat ke semak-semak. Bersyukur selalu berarti pengampunan, pemaafan, bantuan, kebaikan, inspirasi; sebuah bentuk sapaan, gaya bicara atau ungkapan yang menyenangkan, kesopanan, singkatnya, tindakan yang mengungkapkan kebaikan rohani. Bersyukur itu gratis; sebuah karunia. Orang yang menerima sebuah kebaikan akan mengucapkan rasa syukur; jika bukan orang tercela, dia pasti bersyukur. Itulah yang saya lakukan sekarang, mengucapkan kata-kata tanpa maksud buruk ini. Saya harap perasaan saya demikian pula. Jika masing-masing kata ialah setetes air, Anda akan paham apa yang saya rasakan dengan melihatnya: rasa syukur, pengakuan. Dan, dengan cara yang sulit dijelaskan, perasaan itu muncul bersama kegentaran, rasa hormat serta keterkejutan bahwa saya saat ini berada di hadapan Anda sekalian, tempat yang menjadi rumah kaum terpelajar Swedia, sekaligus sastra dunia.

Bahasa adalah realitas luas yang melampaui entitas politik dan historis, yang kita sebut negara. Bahasa Eropa yang kami gunakan di Amerika menggambarkan hal ini. Yang membuat sastra kami [Amerika Latin-red] istimewa jika dibandingkan dengan karya dari Inggris, Spanyol, Portugal, ataupun Perancis, adalah karena fakta bahwa: sastra kami ditulis dengan bahasa hasil transplantasi. Bahasa yang lahir dan tumbuh dari tanah aslinya, lalu dikembangbiakkan oleh sejarah. Bahasa-bahasa Eropa berakar dari tanah dan tradisi asalnya, kemudian ditanam di dunia antah berantah yang tidak bernama: berakar di tanah baru, dan ketika tumbuh di dalam masyarakat Amerika, bahasa itu berubah. Seolah-olah bahasa itu masih tanaman yang sama, tapi sekaligus juga berbeda. Sastra kami tidak menerima perubahan bahasa hasil transplantasi itu secara pasif: sastra kami terlibat dalam proses perubahannya dan bahkan mempercepatnya. Sastra kami segera beralih dari sekedar refleksi trans-atlantik: sastra kami menjadi negasi dari sastra Eropa, seringkali juga menjadi sebuah jawaban atasnya.

Kendati ada proses osilasi seperti ini, keterpautan sastra kami dengan Eropa tidak pernah putus. Masa lalu saya adalah bahasa saya. Sebagaimana semua penulis Spanyol, saya pun masih merasa menjadi keturunan dari Lope [Lope de Vega-red] dan Quevedo [Francisco de Quevedo-red]. Namun, saya bukan orang Spanyol. Saya kira, sebagian besar penulis Amerika-Hispanik, Amerika Serikat, Kanada, maupun Brasil, akan mengatakan hal yang sama tentang keterpautan mereka dengan tradisi Inggris, Portugis serta Prancis. Untuk memahami dengan lebih jernih posisi istimewa penulis Amerika, kita perlu membedakannya dengan dialog antara para penulis Jepang, Cina, atau Arab dengan beragam sastra Eropa. Dialog yang ini [Asia dengan Eropa-red] melintasi beragam bahasa dan peradaban. Di sisi lain, dialog kami dengan Eropa berlangsung dalam bahasa yang sama. Kami adalah orang Eropa, tetapi kami sekaligus bukan orang Eropa. Lalu siapa kami? Sulit untuk mendefinisikannya, tetapi karya-karya kami berbicara mengenai hal itu.

Di bidang sastra, berita besar abad ini adalah kemunculan sastra Amerika. Yang pertama muncul ialah sastra Amerika berbahasa Inggris. Kemudian, pada paruh kedua abad ke-20, muncul sastra Amerika Latin dengan dua cabang utamanya: sastra Amerika-Hispanik dan sastra Brasil. Meski masing-masing memiliki perbedaan mencolok, tiga jenis sastra ini punya kesamaan corak: konflik yang lebih ideologis daripada sastra sendiri, yakni kecenderungan kosmopolitan melawan tendensi nativis, antara Eropaisme vs Amerikanisme. Apa yang diwariskan perselisihan ini? Perdebatan sudah tiada, yang tersisa adalah karya. Di luar soal kesamaan tersebut, ketiga jenis sastra ini memiliki banyak perbedaan yang mendalam. Salah satunya karena posisinya sebagai bagian dari sejarah yang jauh lebih besar daripada sastra. Perkembangan sastra Anglo-Amerika bertepatan dengan kebangkitan Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia. Sedangkan kebangkitan sastra kami bersamaan dengan terjadinya petaka sosial-politik dan pergolakan nasional. Fakta ini sekaligus membuktikan keterbatasan teori determinisme sosial dan historis: kemunduran imperium dan gejolak sosial terkadang bertepatan dengan momen lahirnya kemegahan tradisi artistik dan sastra. Li-Po dan Tu Fu [pujangga besar Cina abad 8 Masehi-red] menyaksikan jatuhnya Dinasti Tang; Velázquez [Diego Velázquez, pelukis Spanyol abad 17 masehi-red] melukis untuk Felipe IV [Raja Spanyol-red]; Seneca dan Lucan hidup di masa yang sama sekaligus menjadi korban Kaisar Romawi, Nero. Sementara perbedaan lain di antara ketiga jenis sastra ini terkait dengan asal usul kesusastraan, yang lebih banyak terlihat pada sejumlah karya ketimbang dalam karakternya masing-masing. Namun, apakah bisa sastra-sastra itu disebut memiliki karakter khusus? Apakah sastra-sastra itu memiliki satu unsur umum yang membedakannya dari sastra yang lain? Saya meragukan itu ada. Sastra tidak bisa didefinisikan dengan menunjukkan sejumlah karakter aneh yang tidak berwujud; sebab ia sekumpulan karya unik yang disatukan oleh relasi oposisi sekaligus afinitas.

Perbedaan mendasar pertama antara sastra Amerika Latin dan Anglo-Amerika terletak pada keragaman asal-usul mereka. Keduanya berawal dari proyeksi Eropa. Proyeksi dari sebuah pulau dalam kasus Amerika Utara. Sementara dalam kasus kami [Amerika Latin-red], Proyeksi dari sebuah semenanjung. Dua kawasan ini memiliki kondisi geografis, historis dan budaya eksentrik. Asal-usul Amerika Utara adalah Inggris dan reformasi protestan; sementara asal usul kami ialah Spanyol, Portugal dan Katholik. Untuk kasus Amerika-Hispanik, saya perlu menyebut apa yang membedakan Spanyol dengan negara-negara Eropa lainnya, untuk menunjukkan identitas historis kami yang unik. Spanyol tidak kalah eksentrik dari Inggris, tetapi keunikan keduanya bertolakbelakang. Tradisi Inggris eksentrik karena berakar di pulau yang mengisolasi diri: eksentrik yang eksklusif. Adapun tradisi Spanyol eksentrik karena tumbuh di semenanjung dan menyerap unsur dari pelbagai peradaban yang pernah ada di masa lalu: eksentrik yang inklusif. Di dalam tradisi Spanyol ada unsur Katholik, yang didahului awalnya oleh pengaruh kerajaan Visigoth pemeluk bidah arianisme, kemudian dominasi peradaban Arab selama berabad-abad dan masuknya tradisi Yahudi, era Reconquesta serta warna-warna khusus lainnya. Karakter eksentrik inklusif pada tradisi Spanyol itu direproduksi secara berlipat ganda di benua Amerika, terutama di Meksiko dan Peru: wilayah tempat peradaban kuno yang megah pernah ada. Di Meksiko, orang-orang Spanyol berjumpa dengan sejarah dan wilayah peradaban kuno. Sejarah yang masih hidup itu adalah sebuah anugerah, bukan masa lalu. Kuil-kuil dan para dewa Meksiko pra-Kolombia memang telah menjadi tumpukan reruntuhan, tetapi jiwanya yang memberi nafas kehidupan tidak lenyap; tradisi itu berbicara kepada kami dengan bahasa abadi berupa mitos, legenda, koeksistensi sosial, seni populer dan adat istiadat. Menjadi penulis di Meksiko berarti harus mendengarkan suara-suara yang terus hadir itu. Mendengarkannya, berdialog dengannya, menafsirkannya: mengekspresikannya. Paparan singkat, yang agak menyimpang dari pembahasan di awal, ini semoga bisa memberikan pemahaman soal relasi ganjil yang mengikat sekaligus memisahkan kami dari Eropa.

Kesadaran akan keterpisahan dari Eropa menjadi bagian dari perjalanan spiritual kami. Terkadang, perpisahan membikin luka yang membekas, rasa sakit yang mendorong kritik-diri; sementara di lain waktu ia memunculkan tantangan, dorongan untuk bertindak, maju, serta bertemu yang liyan dan dunia luar. Perasaan tercerabut dari akar itu memang universal dan tak hanya dirasakan orang-orang Amerika-Hispanik. Perasaan itu muncul tepat saat kelahiran kita: ketika kita direnggut dari yang utuh dan terdampar di tanah asing. Pengalaman seperti ini menjadi luka yang tidak pernah sembuh. Perasaan ini kedalaman yang paling sulit dipahami pada setiap orang; semua upaya, perbuatan, tindakan dan mimpi kita menjadi jembatan yang terancang untuk menghadapi perpisahan sekaligus penyatuan kembali dengan dunia dan sesama manusia. Dengan demikian, kehidupan semua orang dan sejarah kolektif umat manusia bisa dilihat sebagai upaya merekonstruksi apa yang asali. Sebuah pengobatan tak berujung untuk menyembuhkan keterbelahan manusia. Namun, saya tidak bermaksud memberikan deskripsi lain tentang perasaan ini. Saya hanya menegaskan fakta bahwa, bagi kami, kondisi eksistensial seperti ini mengekspresikan bentuknya di sepanjang sejarah. Artinya, hal itu menjadi kesadaran dalam sejarah kami. Bagaimana dan kapan perasaan itu muncul dan bertransformasi menjadi kesadaran? Jawaban atas pertanyaan bermata dua ini dapat dijelaskan dalam bentuk teori maupun testimoni pribadi. Saya lebih suka yang terakhir: sebab ada banyak teori dan tidak ada yang sepenuhnya meyakinkan.

Perasaan keterpisahan selalu terikat dengan ingatan saya yang paling awal dan samar: tangisan pertama, ketakutan pertama. Seperti bayi lainnya, saya pun membangun jembatan emosional dalam imaji agar dapat terhubung dengan dunia dan orang lain. Saya tumbuh di kota pinggiran Mexico City, menempati rumah tua bobrok, yang memiliki kebun seperti hutan, dan sebuah ruangan besar dipenuhi buku. Permainan pertama sekaligus menjadi pelajaran pertama. Kebun itu segera menjadi pusat dunia saya; sementara perpustakaan adalah gua yang menyenangkan. Saya biasa membaca dan bermain dengan sepupu dan teman sekolah. Di kebun itu ada kuil vegetasi: pohon ara, empat pohon pinus, tiga pohon abu, sebuah tanaman nighthade, pohon delima, rumput liar, dan tanaman berduri. Dinding-dinding batu bata. Waktu saat itu terasa elastis; ruang terlihat seperti roda yang berputar. Di setiap saat, pada masa lalu atau masa depan, dalam kenyataan maupun imajinasi, menjadi sebuah kehadiran murni. Ruang mengubah dirinya tanpa henti. Yang ada di luar ada di sini, semuanya di sini: sebuah lembah, gunung, negara yang jauh, teras tetangga. Buku-buku bergambar, terutama bertema sejarah, secara sepenuhnya membuka dan menyediakan gambaran tentang gurun dan hutan, istana dan gubuk, prajurit dan putri, pengemis dan raja. Kami ‘karam’ bersama Sinbad dan Robinson. Kami ‘bertarung’ bersama d’Artagnan. Kami ‘menaklukkan’ Valencia bersama El Cid. Saya pun pernah sangat ingin tinggal selamanya di Pulau Calypso! Di musim panas, cabang-cabang hijau pohon ara akan berayun seperti layar sebuah kafilah atau kapal bajak laut. Dan di atas tiang kapal, sambil terhuyung oleh angin, saya berkhayal bisa melihat pulau dan benua: daratan yang segera lenyap begitu mereka menjadi nyata. Dunia tidak terbatas namun selalu dalam jangkauan; waktu seakan lentur dan memberikan kebahagiaan tak ada habisnya.

Kapan pesona itu bubar? Prosesnya bertahap, tidak tiba-tiba. Sulit untuk menerima dikhianati teman, ditipu wanita yang kita cintai, atau memahami bahwa ide soal kebebasan sebenarnya topeng seorang tiran. Apa yang disebut “mengetahui” adalah proses yang lambat dan rumit, karena kita sendiri menjadi kaki-tangan dari kesalahan dan muslihat kita. Meski demikian, saya dapat mengingat dengan jelas sebuah insiden yang merupakan pertanda awal dari situasi itu, satu kejadian yang sebenarnya cepat terlupakan. Saya masih berusia enam tahun ketika seorang sepupu yang berumur sedikit lebih dewasa menunjukkan sebuah majalah dari Amerika Utara berisi foto tentara berbaris di sepanjang jalan besar, mungkin di New York. “Mereka kembali dari perang,” kata sepupu saya. Kata-kata itu menggelisahkan, sebagaimana ramalan soal akhir dunia atau kehadiran Kristus yang kedua. Semula, saya menganggap bahwa di suatu tempat nun jauh, perang berakhir pada beberapa tahun sebelumnya, dan prajurit telah berbaris merayakan kemenangannya. Bagi saya, perang terjadi di waktu yang lain, bukan di sini dan sekarang. Foto di majalah itu membantahnya. Saya pun merasa benar-benar terpisah dari masa kini.

Sejak saat itu, waktu mulai retak dan semakin retak. Ruang pun terlihat semakin beragam. Pengalaman seperti itu terulang bertambah sering. Berita apa pun, frasa yang biasa sekalipun, berita utama di surat kabar: semua membuktikan keberadaan dunia luar dan ketidaktahuan saya. Saya merasa dunia seakan-akan terbelah dan saya tidak mendiami ‘masa kini’. Pemahaman saya soal kekinian rontok: waktu nyata ada di tempat lain. Waktu saya, yakni saat berada di kebun, bersama pohon ara, bermain dengan teman-teman, rasa kantuk di bawah pepohonan ketika berteduh dari terik mentari pada pukul tiga sore, melihat buah ara terbelah (warnanya hitam dan merah seperti batu bara menyala, tetapi rasanya manis dan segar): adalah waktu yang fiktif. Terlepas dari apa yang dikatakan oleh akal sehat saya, sejak saat itu, waktu milik yang liyan, terasa lebih nyata karena benar-benar menunjukkan ‘yang kini’. Saya pun menerima sesuatu yang tak terhindarkan: menjadi dewasa. Begitulah awal mula saya terusir dari kekinian.

Mungkin tampak paradoks saat mengatakan bahwa kami terusir dari ‘masa kini’, tetapi itu adalah perasaan yang kami semua memilikinya pada suatu saat. Beberapa dari kami mungkin pertama kali mengalaminya sebagai kutukan, kemudian berubah menjadi kesadaran dan tindakan. Pencarian terhadap ‘yang kini’ bukanlah pencarian surga duniawi atau keabadian: ini adalah pencarian terhadap realitas nyata. Bagi kami, sebagai orang Amerika-Hispanik, masa kini tidak berada di negara kami: sebab itu adalah waktu yang dijalani orang lain di Inggris, Perancis dan Jerman. Masa kini adalah waktu untuk New York, Paris dan London. Kami harus pergi dan mencarinya untuk membawanya pulang. Tahun-tahun itu juga merupakan masa saat saya menemukan sastra. Saya mulai menulis puisi. Saya tidak tahu apa yang membuat saya menulis puisi: Saya hanya terdorong oleh kebutuhan batin yang sulit didefinisikan. Baru sekarang saya mengerti, bahwa ada relasi rahasia antara apa yang saya sebut ‘terusir dari masa kini’ dengan penulisan puisi. Puisi adalah cinta sesaat yang berusaha hidup kembali dalam sajak, sehingga terpisah dari urutan waktu, dan menjadi kekinian yang utuh. Tetapi, pada saat itu saya menulis tanpa bertanya-tanya mengapa saya melakukannya. Saya sedang mencari gerbang ke masa kini: Saya ingin menjadi bagian dari waktu dan abad saya. Beberapa saat kemudian, obsesi ini menjadi ide kokoh: Saya ingin menjadi penyair modern. Pencarian saya terhadap modernitas pun dimulai.

Apa itu modernitas? Pertama-tama ini adalah istilah yang ambigu: ada banyak jenis modernitas, seperti halnya terdapat beragam masyarakat. Masing-masing memiliki modernitasnya sendiri. Arti kata modernitas tidak pasti dan sewenang-wenang, seperti nama periode yang mendahuluinya: Abad Pertengahan. Jika kita merasa bagian dari masa modern, karena membandingkan saat ini dengan situasi di abad pertengahan, mungkinkah kita ada di masa abad pertengahan dari modernitas di masa depan? Apakah ada nama yang berubah karena waktu menunjukkan nama aslinya? Modernitas adalah kata yang mencari artinya. Apakah modernitas adalah sebuah gagasan, fatamorgana atau momen sejarah? Apakah kita anak-anak modernitas atau malah penciptanya? Tidak ada yang tahu pasti soal ini. Namun, itu tidak menjadi masalah: kami mengikutinya, kami mengejarnya. Bagi saya pada saat itu, modernitas menyatu dengan kekinian atau lebih tepatnya memproduksinya: kekinian adalah bunga paling indah dari modernitas. Kasus saya tidak unik dan bukan pengecualian: sejak era Simbolisme, semua penyair modern mengejar sosok magnetis yang sulit dipahami sekaligus mempesona ini. Charles Pierre Baudelaire adalah sang pemula. Baudelaire juga yang pertama menyentuh istilah modernitas dan menemukan bahwa ia hanyalah remahan waktu di genggaman seseorang. Saya tidak akan menceritakan petualangan saya dalam mengejar modernitas: kisahnya tidak jauh berbeda dari para penyair abad ke-20 lainnya. Modernitas telah menjadi hasrat universal. Sejak 1850, modernitas menjadi dewi sekaligus iblis kita. Dalam beberapa tahun terakhir, ada sejumlah upaya untuk mengusirnya sehingga muncul wacana “postmodernisme”. Tapi apa itu postmodernisme, bukankah itu modernitas yang bahkan lebih modern?

Bagi kami, orang Amerika Latin, pencarian terhadap modernitas dalam puisi secara historis paralel dengan upaya berulang-ulang untuk memodernisasi negara kami. Kecenderungan ini mulai muncul pada akhir abad ke-18, dan juga terjadi di Spanyol. Amerika Serikat dilahirkan di era modern, dan sebagaimana pengamatan de Tocqueville, pada 1830 telah menjadi rahim masa depan. Sedangkan negara kami dilahirkan pada saat Spanyol dan Portugal bergerak menjauh dari modernitas. Inilah sebabnya sering ada pembicaraan tentang “Eropaisasi” di negara kami: modernisme ada di luar dan harus diimpor. Dalam sejarah Meksiko, proses ini dimulai tepat sebelum perang kemerdekaan. Kemudian menjadi debat ideologis dan pertikaian politik hebat yang membelah masyarakat Meksiko selama abad ke-19. Salah satunya tidak terkait dengan apakah perlu ada reformasi, melainkan bagaimana menjalakannya: Revolusi Meksiko. Tidak seperti mitranya di abad ke-20, revolusi Meksiko bukanlah ekspresi ideologi utopis yang samar-samar, melainkan ledakan realitas yang secara historis dan psikologis telah ditindas. Revolusi itu tidak dilahirkan kelompok ideologis yang hendak menerapkan prinsip-prinsip berdasarkan teori politik. Revolusi itu merupakan pemberontakan populer yang membuka tabir apa yang selama ini disembunyikan. Oleh karena itu, lebih tepat disebut pencerahan daripada revolusi. Meksiko mencari kekinian di luar hanya untuk menemukannya di dalam: yang terkubur tetapi hidup. Pencarian terhadap modernitas membuat kami menemukan masa lampau, wajah bangsa yang tersembunyi. Saya tidak yakin apakah pelajaran sejarah tak terduga ini telah dipelajari semua: ada jembatan antara tradisi dan modernitas. Ketika keduanya saling menutup diri, tradisi mandek dan modernitas menguap. Ketika keduanya saling terhubung, modernitas menghidupi tradisi, meski yang terakhir memberikan jawaban lebih mendalam dan berbobot.

Pencarian terhadap modernitas dalam puisi adalah sebuah ‘pencarian’ [Quest] dalam arti kiasan dengan rasa kekesatriaan di era abad ke-12. Saya tidak menemukan Cawan meskipun sudah melintasi banyak daratan tak berpenghuni, mengunjungi istana cermin dan berkemah dengan suku-suku hantu. Namun, saya menemukan tradisi modern. Sebab, modernitas bukanlah mazhab puisi melainkan garis keturunan, sebuah keluarga yang tersebar ke banyak benua selama dua abad dan mampu bertahan di tengah perubahan dan kemalangan: pengabaian, isolasi dan penghakiman atas nama ortodoksi agama, politik, akademik dan seksual. Oleh karena memiliki tradisi modern, dan bukan doktrin, mereka mampu bertahan sekaligus berubah pada saat yang sama. Hal ini juga membuat modernitas dalam puisi beragam: setiap petualangan dalam puisi berbeda-beda dan masing-masing penyair menanam tanaman yang beragam di hutan ajaib tempat pohon-pohon bisa berbicara. Namun, jika karya-karya puisi beragam dan masing-masing menempuh jalan berbeda, apakah yang menyatukan seluruh penyair? [Jawabannya-red] Bukan estetika, melainkan pencarian.

Pencarian yang saya lakukan tidak fantastis meski menemukan bahwa gagasan modernitas adalah fatamorgana, sebundel refleksi belaka. Sebab, suatu hari, saya justru kembali ke titik awal, alih-alih bergerak maju: pencarian terhadap modernitas adalah jalan menuju asal usul. Modernitas menuntun saya kepada akar asal usul saya, kepada peradaban kuno bangsa saya. Perpisahan akhirnya berubah menjadi rekonsiliasi. Saya pun kemudian memahami bahwa penyair adalah denyut nadi yang mengalun ritmis di banyak generasi.

*
Bersambung..
Selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta (2019)

Continue Reading
Advertisement

Tabloids

Orhan Pamuk: Koper Milik Ayah

mm

Published

on

Saya percaya sastra adalah harta karun paling berharga, hasil jerih payah umat manusia dalam memahami kediriannya. Banyak masyarakat, suku dan komunitas akan semakin cerdas, bertambah kaya sekaligus berkemajuan ketika mau menggubris kata-kata pelik dari para penulis.

Dari “My Father’s Suitcase” | Maureen Freely | The Nobel Foundation 2006 | (p) Addi Midham | (e) Sabiq Carebesth

 

Dua tahun sebelum tutup usia, Ayah memberikan koper kecil berisi naskah, manuskrip, dan catatannya kepada Saya. Lagaknya bercanda sekaligus sinis, saat meminta Saya membaca isi koper itu setelah ‘kepergiannya’. Maksudnya setelah dia meninggal.

“Coba kau lihat-lihat,” katanya agak malu-malu. “Mungkin saja ada yang berguna. Barangkali setelah aku ‘pergi’ kamu bisa menyeleksi dan mempublikasikannya.”

Saat itu, kami hanya berdua di ruang studi Saya dan dikelilingi buku. Ayah sempat kebingungan mencari tempat buat menaruh kopernya. Ia mondar-mondir layaknya orang yang kebelet melepas beban berat. Akhirnya, di salah satu sudut ruangan, ia menemukan tempat bagi koper itu. Peristiwa itu memalukan, tapi tak terlupakan.

Setelah momen itu, kami kembali seperti biasa, berbincang santai, menganggap semua masalah ringan dengan bercanda dan mencemooh. Kami bercakap soal remeh-temeh, masalah politik Turki yang tak ada habisnya, hingga bisnis Ayah yang kerap gagal. Soal yang terakhir, kami tak terlalu menyesalinya.

Setelah pertemuan itu, sempat berhari-hari Saya melintas dekat koper Ayah tanpa sekali pun menyentuhnya. Barang ini sebenarnya tak asing. Saya familier dengan bentuk mungil, kulit hitam, model kunci dan sudut-sudut lengkungnya. Ayah kerap membawanya untuk perjalanan singkat atau membawa  dokumen kerja. Saat masih kecil, begitu Ayah pulang dari bepergian, Saya suka membuka koper ini, merogoh isinya sembari menghirup bau kolon dan aroma negeri-negeri asing. Namun, meski sudah karib sejak kanak-kanak, Saya sempat ragu menyentuh koper itu. Kenapa? Karena Saya anggap isinya misterius.

Saya mau jelaskan mengapa isinya misterius. Karena isinya adalah sesuatu yang diciptakan ketika seseorang mengurung diri di dalam kamar, duduk di depan meja, menyepi dari ingar bingar dunia dan kemudian mencurahkan pemikirannya — inilah laku untuk sastra.

Saat Saya mulai berani menyentuh koper Ayah, untuk membukanya pun masih ragu. Begini, Saya benar-benar tak tahu isi tulisan di dalamnya. Saya memang pernah melihat Ayah menulis sejumlah naskah. Sejak lama, Saya juga tahu koper itu menyimpan sesuatu yang berbobot. Ayah pun punya perpustakaan besar. Di masa mudanya, sekitar akhir 1940-an, Ayah bahkan sempat bercita-cita menjadi penyair. Dia pernah menerjemahkan karya Valéry [Paul Valéry] ke bahasa Turki. Namun, Ayah enggan menjalani hidup singkat ini dengan menjadi penyair di negara miskin dan jumlah pembacanya segelintir. Kakek [Ayah dari Ayah Saya] adalah pengusaha kaya. Makanya, Ayah menjalani masa kecil hingga beranjak muda dengan berkelimpahan. Mungkin, karena itu ia ogah hidup susah demi sastra, demi menulis. Ayah menyukai kehidupan yang nyaman. Saya bisa memahaminya.

Semula, Saya menjaga jarak dari koper itu sebab khawatir tak menyukai tulisan di dalamnya. Apalagi, Ayah sudah memberi sinyal saat berlagak seolah-olah naskah di kopernya tidak penting dan serius. Tentu saja sikap Ayah ini menyakitkan bagi Saya yang saat itu sudah 25 tahun berkarier sebagai penulis. Akan tetapi, Saya kemudian menyadari, Saya tidak kecewa dengan sikap Ayah yang mengabaikan sastra. Karena penyebab utama Saya terus ragu membuka koper itu sesungguhnya ketakutan untuk mengetahui kemungkinan, bahwa Ayah sebenarnya pengarang hebat. Dan yang paling Saya cemaskan, Saya mungkin tak bisa mengakuinya. Sebab, jika benar ada karya besar di dalam koper itu, berarti ada kedirian lain dalam diri Ayah. Kedirian liyan itu tentu jauh berbeda dari pribadi Ayah yang Saya kenal. Kemungkinan ini mengerikan, karena meski sudah dewasa, Saya tetap ingin Ayah tetap menjadi Ayah seperti dulu — bukan seorang pengarang.

Menurut Saya, pengarang adalah orang yang tekun, selama bertahun-tahun, berupaya menemukan ‘diri’ yang kedua, sekaligus memahami dunia pembentuk dirinya yang aktual. Saat bicara soal mengarang, yang Saya maksud bukan novel, puisi ataupun tradisi sastra, melainkan orang yang mengurung diri di kamar, duduk di depan meja, menyendiri, merenung, dan di antara bayang-bayang, membangun dunia baru dengan kata-kata. Si pengarang bisa memakai mesin tik, komputer, atau seperti yang Saya lakukan selama 30 tahun terakhir, menulis dengan pena. Saat menulis, ia bisa minum teh atau kopi, mungkin pula sambil merokok. Setelah sekian lama, mungkin ia akan bangkit dari duduknya, melongok keluar jendela untuk menyaksikan anak-anak bermain di jalanan serta pepohonan dan sepotong pemandangan, atau mungkin malah menatap dinding hitam. Ia mungkin telah mengarang puisi, naskah drama, atau seperti Saya, menulis novel. Semua itu terjadi usai ia melakukan kerja amat penting: duduk di depan meja dan menyelami batin.

Mengarang ialah mengubah perenungan mendalam ke kata-kata, serta menyigi dunia yang ditinggalkan saat menyepi. Semua itu dilakukan dengan sabar, tegar sekaligus gembira. Ketika duduk di depan meja selama berhari-hari hingga bertahun-tahun, tekun mengisi kertas kosong dengan kata-kata, Saya merasa seperti sedang membangun dunia baru. Seolah-olah Saya sedang menunjukkan eksistensi ‘diri Saya yang kedua’. Sebagaimana membangun jembatan atau kubah bata demi bata, di urusan mengarang, bata itu kata-kata. Saat menggenggam kata-kata dan menelisik bagaimana setiap rangkaiannya saling terhubung, pengarang terkadang memandangnya dari kejauhan, mendekapnya dengan jari dan ujung pena, menimbang bobotnya, menggeser posisinya. Dan, seiring waktu berjalan, dengan sabar serta optimistis, pengarang membangun dunia baru.

Andalan utama pengarang bukanlah inspirasi — karena tak jelas dari mana barang ini datang —  melainkan kesabaran dan keteguhan. Bagi Saya, pepatah Turki “menggali sumur dengan jarum” adalah kredo dalam menulis. Di kisah si Ferhat [legenda Anatolia], Saya menyukai sekaligus berempati pada kesabarannya menggerus gunung-gunung demi cinta. Di novel “My Name is Red”, saat menuliskan kisah para seniman kuno Persia, yang bertahun-tahun membuat miniatur kuda berbentuk sama persis disertai gairah tak berubah, sampai mengingat betul setiap detail goresan, sehingga mereka bisa menciptakan gambar kuda yang indah dengan mata tertutup, Saya sedang menceritakan cara kerja pengarang, sekaligus Saya sendiri. Jika pengarang ingin mengisahkan ceritanya sendiri — menuturkannya perlahan, seolah-olah itu kisah orang lain —, merasakan kekuatan cerita bangkit dari dirinya, dan duduk di depan meja bersama ketekunan melakoni kerja seni ini, maka semua perlu diawali dengan harapan.

Malaikat pemberi inspirasi [yang rutin menyambangi sebagian orang, tapi jarang hinggap ke yang lain] biasa bermurah hati memberikan harapan dan kepercayaan diri, ketika si pengarang sedang di puncak kesepian, sangat meragukan hasil jerih payahnya, mimpi-mimpinya, nilai karyanya — saat ia berpikir karangannya sekedar kisah biasa. Pada saat-saat inilah, malaikat membukakan mata si pengarang terhadap kisah-kisah, citra-citra, dan mimpi-mimpi soal dunia baru yang akan ia bangun. Kala merenungkan kembali buku-buku yang untuknya Saya menyerahkan segalanya, yang mengherankan, Saya menyadari bahwa kalimat-kalimat, mimpi-mimpi, halaman-halaman di dalamnya, yang membawa Saya ke puncak kepuasan, tidak berasal dari imajinasi Saya sendiri — seolah-olah ada kekuatan lain yang menemukan mereka dan bermurah hati menghadiahkannya kepada Saya.

Penyebab Saya tak kunjung membuka koper itu mulanya adalah kekhawatiran bahwa Ayah bukan tipe orang yang mampu menerima beban seperti yang Saya tanggung saat mengarang. Bahwa bukan kesunyian yang Ayah sukai, melainkan teman-teman, kerumunan, tempat meriung, lelucon dan gaul. Namun, belakangan cara pandang itu berubah. Saya menyadari, ideal mengenai laku sunyi dan soliter berasal dari pengalaman Saya pribadi sebagai penulis. Padahal, banyak pengarang brilian tetap aktif berkarya dengan menjalani hidup meriah bersama banyak teman dan keluarga, lengkap dengan pergaulan dan interaksi menyenangkan. Belum lagi, Ayah pun pernah melepas hidup monoton bersama keluarga, ia meninggalkan kami yang masih belia untuk menuju Paris, dan—seperti  banyak pengarang lainnya— berdiam di kamar hotel, menulis. Saya yakin, tulisan-tulisan itu ada di koper Ayah. Sebab, beberapa tahun menjelang koper itu diberikan ke Saya, Ayah sempat bercerita soal kehidupannya di masa itu. Ayah menceritakan yang dijalaninya di tahun-tahun itu, termasuk saat Saya masih bocah. Akan tetapi, Ayah tidak bilang tentang kekalutan, mimpi menjadi pengarang, maupun perenungan soal identitas yang membuat dirinya menyepi di kamar hotel. Ayah malah berkisah tentang perjumpaannya dengan Sartre di Paris, buku-buku dan film-film kesukaannya. Semua ia ceritakan, dengan keseriusan yang sungguh-sungguh, bahwa semua itu penting. Makanya, saat sudah menjadi pengarang, Saya tak pernah lupa bersyukur memiliki Ayah yang gemar menceritakan dunia para penulis, jauh lebih sering daripada membahas para pasha atau ulama. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang mungkin mendorong Saya membaca tulisan-tulisan Ayah di koper itu, sekaligus untuk mengenang betapa Saya berhutang budi pada perpustakaannya. Saya harus ingat, seperti Saya, Ayah pun pernah gemar menyendiri bersama buku-buku dan gagasan — tanpa melulu memikirkan kualitas sastrawi tulisannya.

Namun, ketika kembali menatap koper Ayah, Saya justru kembali terbebani pikiran lain. Saya teringat, Ayah kadang terlentang di ranjang bersama koleksi pustakanya, mengabaikan majalah atau buku yang sedang ia pegang,  seperti tenggelam dalam mimpi, ia lama berpikir mendalam. Di kala seperti itu, raut muka Ayah jauh berbeda dari biasanya. Tidak seperti saat ia bercanda, mengolok-olok maupun cekcok soal masalah keluarga. Pada momen seperti itulah — awal mula Saya memahami makna tatapan batin — Saya, terutama saat masih kecil dan remaja, melihat dengan perasaan gentar bahwa Ayah sedang kecewa.

Bertahun-tahun kemudian, Saya tahu kekecewaan seperti itulah pelatuk utama yang medorong seseorang menjadi pengarang. Ketabahan dan kerja keras saja tak cukup untuk bekal menjadi penulis: karena sejak awal kita harus terdorong untuk lari dari kerumunan, pergaulan, hidup yang biasa-biasa saja dan normal, sehingga memutuskan untuk menyepi di kamar. Dengan penuh harap dan ketekunan, kita mesti berupaya menemukan kedalaman hidup di goresan pena. Hanya dengan mengurung diri di kamar, kita mendapatkan kekuatan. Contoh penulis kawak dengan kemerdekaan seperti ini — yang membaca demi kepuasan batin, hanya mendengarkan nuraninya sekaligus menentang suara-suara lain, serta bersama buku-buku membangun gagasan dan dunianya sendiri — adalah Montaigne. Penulis dari masa paling awal sastra modern itu rujukan utama Ayah. Penulis yang ia rekomendasikan kepada Saya.

Saya pun merasa menjadi bagian dari tradisi para penulis yang di mana pun berada, Timur atau Barat, terpisah dari masyarakat dan mengurung diri bersama buku-buku di kamar mereka. Bagi Saya, titik mula sastra adalah mengurung diri di kamar bersama buku-buku. Meski begitu, ketika menyepi, kesadaran bahwa kita sebenarnya tak benar-benar sendiri segera muncul. Kita akan ditemani oleh kata-kata yang lahir jauh sebelumnya, kisah-kisah, buku-buku dan kalimat milik orang lain. Itulah yang selama ini kita sebut tradisi sastra.

Saya percaya sastra adalah harta karun paling berharga, hasil jerih payah umat manusia dalam memahami kediriannya. Banyak masyarakat, suku dan komunitas akan semakin cerdas, bertambah kaya sekaligus berkemajuan ketika mau menggubris kata-kata pelik dari para penulis. Sebaliknya, sudah lazim diketahui, pembakaran buku dan penistaan terhadap para penulis adalah pertanda era kegelapan serta zaman sia-sia sedang datang. Namun, sastra juga bukan perkara di lingkup batas-batas nasional saja. Pengarang yang menyepi di kamar dan berpetualang ke alam batinnya akan menemukan hukum abadi dalam sastra: dia harus bisa menceritakan kisahnya seolah-olah itu milik orang lain, dan sebaliknya, mengisahkan cerita orang lain seakan-akan itu kisahnya sendiri. Demikianlah menulis sastra. Kita mesti mengawalinya dengan menjelajahi kisah dan buku karya banyak penulis lain.

Interview selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata”

yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta (2019)

Continue Reading

Tabloids

Tentang Chekhov

mm

Published

on

Seseorang hanya perlu mengujarkan dua atau tiga kata, dan matanya akan menengadah melewati pince-nez dengan jalan yang benar dan cerdas. Begitulah Anton Chekhov…

Oleh: Ivan Bunin

1

Saya bertemu Chekhov di Moskow pada akhir tahun 1895. Saat itu kami hanya bertemu sejenak. Rasanya saya bahkan tidak akan membahas pertemuan itu kecuali karena ingatan pada obrolan ringan dan melompat-lompat tapi lalu terasa sangat penting.

“Apakah kau banyak menulis?” Ia bertanya kepada saya.

Saya menjawab bahwa saya menulis baru sedikit.

“Apa yang kau lakukan itu salah,” katanya, suara baritonnya yang dalam dan berat membersitkan udara yang hampir-hampir suram. “Kau harus bekerja, kau tahu—bekerja tanpa henti, pada sepanjang hidupmu.”

Chekhov terdiam. Kemudian, dengan tanpa hubungan yang jelas, obrolan yang acak, dia menambahkan: “Menurut saya, setelah seseorang menyelesaikan sebuah cerita, dia harus mencoret awal  dan akhirnya. Di sanalah kita, semua penulis, hampir selalu berbohong.”

Setelah pertukaran beberapa kata yang singkat itu, kami tidak bertemu lagi hingga musim semi 1899. Setelah datang ke Yalta untuk beberapa hari, saya pada suatu malam bertemu Chekhov, yang berjalan di sepanjang embankment, jalanan permanen di pinggiran laut.

“Mengapa kau tidak datang menemuiku?” katanya. “Kunjungi aku besok, jangan sampai tidak.”

“Jam berapakah?” tanya saya.

“Di pagi hari, sekitar pukul delapan.”

Melihat keterkejutan di wajah saya, dia menjelaskan, “aku bangun pagi-pagi.”

“Saya juga,” kata saya.

“Kalau begitu datanglah sesegera setelah kau bangun. Kita akan minum kopi. Apakah kau minum kopi? ”

“Setiap waktu.”

“Minumlah setiap hari. Itu adalah hal yang luar biasa. Setiap kali aku bekerja, aku hanya minum kopi dan bouillon (kaldu) sampai malam. Kopi di pagi hari, bouillon di tengah hari. Kalau tidak, aku tidak dapat bekerja sama sekali.”

Saya mengucapkan terima kasih atas undangan dan bagaimana ia mengajak. Kami berjalan di sepanjang embankment dalam keheningan; lalu kami duduk di sebuah bangku di sebuah square, taman publik yang tidak begitubesar.

“Apakah kau menyukai laut?” tanya saya.

“Ya,” jawabnya. “Tapi hanya ketika keadaan benar-benar sepi.”

“Saat itulah, memang yang sungguh baik,” saya setuju.

2

Anton Chekhov dan Ivan Bunin

“Dear Ivan (Bunin) Alekseyevich!” Chekhov menulis kepada saya pada tanggal 8 Januari 1904, ketika saya sedang berada di Nice. “Happy New Year! Every new happiness! Berikanlah salam dariku kepada matahari yang hangat dan lautan yang tenang. Hiduplah di dalam kesenangan yang sempurna, dan jalani penghiburan itu. Tidaklah perlu berpikiran mengenai ketidaksehatan, dan menulislah sedikit lebih sering bagi kawan-kawanmu. Tetap bahagialah dan tetap baik-baik sajalah, dan jangan kau lupakan kompatriot utara-mu, yang sedang bertemperamental dan menderita lantaran gangguan pencernaan dan depresi. Yours sincerely, Anton Chekhov.”

“Berikan rasa hormatku kepada matahari yang hangat, dan laut yang tenang.”

Saya ingat satu malam di awal musim semi. Malam itu sudah larut, tetapi mendadak saya dibuat menghampiri telepon. Saya mengambil gagang telepon dan mendengar suara berat Chekhov: “Manusia muda, dapatkan kereta kuda sewaan yang baik, datang dan jemput aku. Mari kita jalan-jalan ke suatu tempat.”

“Jalan-jalan? Malam hari begini?”kataku dengan terkejut. “Apa yang sedang terjadi, Anton Pavlovich?”

“Aku jatuh cinta.”

“Saya sangat senang mendengarnya, tetapi sudah lewat jam sepuluh. Dan Anda, Anton Pavlovich, mungkin saja, akan kedinginan. ”

“Manusia muda, berhentilah memberikan argumen!”

Saya kemudian sampai di Autka dalam hitungan sepuluh menit. Rumah, yang menjadi tempat Chekhov menghabiskan waktu musim dingin, hanya ditinggali bersama ibunya saja, dan seperti biasanya, dibekap oleh kesenyapan yang sangat senyap dan begitu gulita. Satu-satunya cahaya yang datang, berasal dari rekahan pintu kamar Yevgenia Yakovlevna, ibunya, juga dari dua lilin kecil yang menyala sayup di dalam ruang kerja Chekhov. Seperti biasanya, hatiku jadi berasa sakit kala melihat kamar kerjanya itu, yang sunyi, yang menjadi tempat bagi Chekhov untuk melewati banyak malam musim dingin yang lengang, yang mungkin dipenuhi dengan pikiran getir mengenai takdir, yang telah memberinya begitu banyak hal, tetapi yang juga mengejek kehidupannya.

3

Chekhov tiba-tiba berpaling kepada saya dan berkata, “Apakah kau mengetahui, berapa lamakah orang-orang akan terus membaca karya-karya saya? Tujuh tahun, sewaktu itu saja.”

“Mengapa juga hanya tujuh tahun?” tanya saya.

“Baiklah, jika demikian, tujuh setengah tahun.”

“Tidak,” kata saya kepadanya. “Persajakan Anda, Anton Pavlovich, bakal hidup lama dari setelahnya, dan semakin lama dia hidup, semakin dia jadi jauh lebih kuat lagi.”

Chekhov tidak mengatakan apa-apa, tetapi ketika kami duduk di atas sebuah bangku dan sekali lagi memandang ke lautan yang bercahaya oleh sinar bulan,

“Hari ini Anda kelihatan sedih, Anton Pavlovich,” kata saya. Wajahnya menyiratkan sesuatu yang baik, sederhana, megah, dan sedikit pucat lantaran terpaan sinar bulan.

Pada sepanjang waktu kami mengobrol, Chekhov memandang dengan mata yang merunduk dan dengan agak menekur meruyak kerikil-kerikil kecil dengan ujung ranting. Akan tetapi ketika saya mengatakan kepadanya bahwa dia kelihatan sedih, dia melemparkan pandangan kepada saya dan dengan berkelakar dia menjawab, “Kau yang bersedih, Ivan Alekseyevich, karena kau yang membuang uang untuk membayar tukang sais kereta kuda sewaan.”

Dia kemudian menambahkan dengan suara yang serius, “Tidak, orang-orang akan membaca karya-karya saya hanya selama kurun waktu tujuh tahun lagi, dan aku hanya memiliki waktu enam tahun saja untuk hidup. Akan tetapi tidak perlu juga mengatakan soal yang demikian ini kepada para juru berita di Odessa.”

Akan tetapi kali ini dia keliru: dia hidup lebih sedikit dari waktu yang dia perkirakan.

Chekhov wafat dengan tenang, tanpa penderitaan, di tengah-tengah keindahan dan kesenyapan fajar musim panas, waktu yang sangat dia cintai. Dan ketika dia wafat, ekspresi kebahagiaan muncul di wajahnya yang kelihatan jadi lebih muda. (*)

Jakarta, 6 April 2019

Ladinata, penerjemah ke dalam bahasa Indonesia

*) Selengkapnya dalam Buku “Memikirkan Kata”

yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta, 2019.

Continue Reading

Tabloids

Truman Capote Bertemu Idola

mm

Published

on

Dotson Rader | Truman Capote Meets an Idol

(p) Affan Firmansyah | (e) Sabiq Carebesth

Kemudian sesuatu terjadi, hal yang sering saya sadari dari Truman… dia akan bertemu seseorang, mengejek mereka, walaupun mereka tidak sadar, dan kemudian mereka akan mengatakan sesuatu yang mengungkapkan kerentanan. Sakit hati atau kekecewaan, dan tiba-tiba sikap Truman akan berubah. Salah satu alasan kenapa dia bisa akrab dengan banyak orang karena meraka cenderung terbuka di depannya, bukan bertahan. Saya rasa salah satu alasan kenapa dia benci kaum kaya karena—dengan pengecaualian beberapa taman baiknya seperti Babe—mereka tidak pernah terbuka dengannya, mereka tidak pernah rentan di depannya. Kecuali dia tau kerentanan anda, dia tidak akan pernah merasa aman ada di sekitar anda.

Truman adalah penggemar berat Jazz. adalah salah satu penyanyi favoritnya. Jadi saya menelepon Peggy yang juga teman saya, “Saya sedang bersama dengan Truman saat ini dan kami sangat ingin mengajak Anda untuk makan malam, apakah Anda ada waktu besok?”

Dia menjawab, “Ya, kenapa kalian tidak datang kesini untuk minum sekitar jam enam?” Tipikal LA, mereka makan seperti petani.

Dia mengirimkan mobilnya untuk menjemput kami. Rumah itu berada di Bel Air dan memiliki pintu depan yang sangat besar—salah satu dari rumah-rumah modern itu dengan banyak kaca dan batu. Ada masalah ketika membuka pintu jadi kami berdiri di depan pintu selama beberapa waktu. Kemudian kami masuk dan di situ terdapat ruang tamu terbesar yang pernah saya lihat dalam hidup saya dan juga sofa terpanjang.

Sofanya lebih panjang dari ruangan ini. Tipikal  rumah plafon dua lantai ala Hollywood. Peggy Lee bisa menekan tombol di sebuah konsol dan layar pun turun, proyektor menyala, hal-hal semacam itu.

Rumah itu luar biasa besar, dramatis, teatrikal seperti Hollywood. Di satu sisi ada pintu geser kaca besar berbatasan dengan tamannya. Peggy memakai gaun sifon putih yang sangat tipis. Peggy tidak terlalu sehat; dia bergerak dengan lambat karena dia membawa tabung oksigen. Truman melihatnya satu kali dan mengatakan “Ya Tuhan, saya berdiri di depan malaikat.” Dia menghampirinya. Peggy tidak beranjak. Truman mengambil tangan Peggy dan mencium satu jarinya. Peggy mengatakan, “Bisa saya mengambilkan minuman untuk anda?” Truman menjawab dia mau vodka, dan saya mengatakan mau minuman yang sama. Dia memanggil seorang laki-laki untuk mengambilkan minuman untuk kami. Truman terlihat kaget karena Peggy tidak menyimpan alkohol di rumahnya. Laki-laki tadi membawakan kami air Perrier. Itu membuat Truman kesal. Dia ingin minum. Peggy bertanya padanya, “Well, Truman, mau kah kamu melihat tamanku?” jadi dia menjawab, “Well, baiklah. Tunjukan tamannya, tapi setelah itu kami harus pergi.” Dia benar-benar ingin minum. Peggy berjalan menuju pintu geser kaca dan dia tidak bisa membukanya. Jadi Truman mengatakan, “Biar saya bantu.”

Jadi mereka, Peggy yang tidak terlalu stabil dan laki-laki bertubuh kecil ini menarik dan mendorong pintu dengan sedikit tendangan. Kami tidak pernah bisa membukanya. Jadi kami pergi ke Le Restaurant, yang merupakan salah satu restoran paling megah di Amerika, sangat populer di LA.

Hujan mulai turun. Hujannya sangat deras. Sesampainya di Le Restaurant, Truman dan Saya memesan minuman dan Peggy memesan sebotol air Evian, yang saya bayar $50 sebotol. Air botolan itu datang dengan wadah sampanye perak, ya kan? Kami mencoba berbicara di dalam ruangan dengan atap seng, jadi anda akan merasa seperti berada di garis depan di Perang Dunia I dan Jerman sedang menembaki anda dengan senapan mesin. Kami hampir tidak bisa mendengar apa-apa. Truman dan Peggy saling berteriak, mencoba mengobrol. Tiba-tiba Peggy mengatakan pada Truman, “Apakah anda percaya pada reinkarnasi?”

Truman menjawab, “Well, Saya tidak tahu. Apakah anda percaya?”

Dia mengatakan, “Oh, ya. saya sudah direinkarnasi beberapa kali. Di beberapa kehidupan saya sebelumnya saya adalah seorang pelacur, puteri, ratu Abyssinia…”

Truman seperti memandangnya dan mengatakan, “Well, bagaimana kamu tau semua ini?”

Dia Menjawab, “Saya bisa membuktikannya. Saya ingat menjadi pelacur di Yerusalem ketika Yesus masih hidup.”

Truman mengatakan, “Oh benarkah? apa lagi yang anda ingat?”

“Oh,” dia bilang, “Saya ingat penyaliban dengan jelas.”

Truman mengatakan, “Oh?”

Dia mengatakan, “Ya, saya tidak akan pernah lu

Peggy Lee

pa mengambil Jerusalem Times dan melihat judul Yesus Kristus Disalib.”

Disitu Peggy berdiri dan pergi ke kamar mandi dan Truman melihat saya dan mengatakan, “Dia benar-benar gila…” Anda harus ingat semua ini dilakukan dengan saling teriak karena tembakan senapan mesin itu.

Dia kembali dan dan mereka mulai berbicara soal penyanyi. Truman bertanya kapan dia memulainya. Kemudian sesuatu terjadi, hal yang sering saya sadari dari Truman… dia akan bertemu seseorang, mengejek mereka, walaupun mereka tidak sadar, dan kemudian mereka akan mengatakan sesuatu yang mengungkapkan kerentanan. Sakit hati atau kekecewaan, dan tiba-tiba sikap Truman akan berubah. Salah satu alasan kenapa dia bisa akrab dengan banyak orang karena meraka cenderung terbuka di depannya, bukan bertahan. Saya rasa salah satu alasan kenapa dia benci kaum kaya karena—dengan pengecaualian beberapa taman baiknya seperti Babe—mereka tidak pernah terbuka dengannya, mereka tidak pernah rentan di depannya. Kecuali dia tau kerentanan anda, dia tidak akan pernah merasa aman ada di sekitar anda.

Kemudian, ketika mereka sedang berbicara tentang penyanyi tahun 40-an dan Peggy mulai berbicara tentang ibunya yang bobotnya 360 pon dan biasa memukuli ayahnya sepanjang waktu, dan memukulinya juga. Ketika dia berumur 11 tahun, ibunya mengambil pisau daging dan menusukannya di bagian perut. Dia bilang bekas lukanya masih ada. Dia mulai menyanyi di umur 14 atau 15 di sebuah stasiun radio di Fargo, Dakota Utara, dan saya lupa siapa yang dengar, salah satu pemimpin grup musik, Jimmy atau Tommy Dorsey, yang kemudian membawanya ke Chicago untuk tampil di Pump Room di Ambassador East. Dia tiba beberapa hari lebih awal dengan teman perempuannya. Mereka hanya memiliki sedikit uang; dia takut dengan kota itu. Mereka menginap di sebuah motel. Dia sangat naif sampai tidak tahu bahwa tempat busuk yang mereka inapi adalah rumah bordil. Dia bilang, “Semua gadis yang dilukis itu turun naik sepanjang waktu dan tidak pernah terpikirkan oleh saya orang-orang itu melakukan hal semacam itu.”

Ketika mereka muncul di Ambassador East, Tuan Dorset menempatkan mereka di sebuah kamar hotel. Selama seminggu, sampai dia mendapatkan bayaran pertamanya, dia dan teman perempuannya akan bangun sampai sekitar jam sebelas atau dua belas malam sampai orang-orang meletakkan baki layanan kamar hotelnya di luar kamar, jadi mereka bisa mengumpulkan roti dan menteganya. Mereka tidak tahu kalau mereka bisa meminta layanan kamar.

Kisah ini menyentuh Truman. Dia tiba-tiba menjadi sangat protektif terhadapnya. Sikapnya berubah total dan dia bertanya apakah Peggy ingin menyanyikan sesuatu.

Disini kita berada di restoran yang tagihannya tiga ratus lima puluh dan beberapa dollar hanya untuk semua air sialan ini. Truman dan Peggy Lee duduk selama tiga puluh atau empat puluh menit betul-betul tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, bernyanyi. “Bye-Bye Blackbird,” “I’ll Be Seeing You,” dan lagu-lagu lama lain seperti ini. Sampai di mobil mereka masih membicarakan musik dan sesekali mereka berdua mulai bernyanyi. Itu adalah malam yang sangat indah. (AF)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending