Connect with us

Tabloids

Octavio Paz: Mencari Masa Kini

mm

Published

on

Hal terakhir di rumusan gegabah ini adalah keruntuhan semua hipotesa filosofis dan historis yang mengklaim menemukan hukum yang mengatur jalannya sejarah. Banyak orang dengan percaya diri meyakini bahwa mereka menentukan jalannya sejarah dengan membangun negara kuat di atas piramida mayat. Pendirian arogan tersebut, yang didasarkan pada teori pembebasan manusia, dengan cepat ternyata berubah menjadi penjara raksasa. Hari ini kita telah melihat mereka jatuh, digulingkan bukan oleh musuh ideologis mereka, tetapi oleh ketidaksabaran dan keinginan generasi baru untuk menghirup udara kebebasan.

[In Search of the Present] (p) Addi Midham (e) Sabiq Carebesth

Saya ingin memulai pidato ini dengan dua kata yang sudah diucapkan semua orang sejak awal mula kemanusiaan: terima kasih. Kata ‘terima kasih’ memiliki padanan dalam semua bahasa, dan pada setiap pengucapannya, ada cakupan makna yang berlimpah. Dalam rumpun bahasa Roman, keluasan makna kata ini mencakup aspek spiritual sekaligus lahiriah: dari rahmat ilahi yang diberikan kepada manusia sehingga selamat dari kesesatan dan kematian, hingga anugerah gemulainya tubuh untuk gadis penari atau kucing yang melompat ke semak-semak. Bersyukur selalu berarti pengampunan, pemaafan, bantuan, kebaikan, inspirasi; sebuah bentuk sapaan, gaya bicara atau ungkapan yang menyenangkan, kesopanan, singkatnya, tindakan yang mengungkapkan kebaikan rohani. Bersyukur itu gratis; sebuah karunia. Orang yang menerima sebuah kebaikan akan mengucapkan rasa syukur; jika bukan orang tercela, dia pasti bersyukur. Itulah yang saya lakukan sekarang, mengucapkan kata-kata tanpa maksud buruk ini. Saya harap perasaan saya demikian pula. Jika masing-masing kata ialah setetes air, Anda akan paham apa yang saya rasakan dengan melihatnya: rasa syukur, pengakuan. Dan, dengan cara yang sulit dijelaskan, perasaan itu muncul bersama kegentaran, rasa hormat serta keterkejutan bahwa saya saat ini berada di hadapan Anda sekalian, tempat yang menjadi rumah kaum terpelajar Swedia, sekaligus sastra dunia.

Bahasa adalah realitas luas yang melampaui entitas politik dan historis, yang kita sebut negara. Bahasa Eropa yang kami gunakan di Amerika menggambarkan hal ini. Yang membuat sastra kami [Amerika Latin-red] istimewa jika dibandingkan dengan karya dari Inggris, Spanyol, Portugal, ataupun Perancis, adalah karena fakta bahwa: sastra kami ditulis dengan bahasa hasil transplantasi. Bahasa yang lahir dan tumbuh dari tanah aslinya, lalu dikembangbiakkan oleh sejarah. Bahasa-bahasa Eropa berakar dari tanah dan tradisi asalnya, kemudian ditanam di dunia antah berantah yang tidak bernama: berakar di tanah baru, dan ketika tumbuh di dalam masyarakat Amerika, bahasa itu berubah. Seolah-olah bahasa itu masih tanaman yang sama, tapi sekaligus juga berbeda. Sastra kami tidak menerima perubahan bahasa hasil transplantasi itu secara pasif: sastra kami terlibat dalam proses perubahannya dan bahkan mempercepatnya. Sastra kami segera beralih dari sekedar refleksi trans-atlantik: sastra kami menjadi negasi dari sastra Eropa, seringkali juga menjadi sebuah jawaban atasnya.

Kendati ada proses osilasi seperti ini, keterpautan sastra kami dengan Eropa tidak pernah putus. Masa lalu saya adalah bahasa saya. Sebagaimana semua penulis Spanyol, saya pun masih merasa menjadi keturunan dari Lope [Lope de Vega-red] dan Quevedo [Francisco de Quevedo-red]. Namun, saya bukan orang Spanyol. Saya kira, sebagian besar penulis Amerika-Hispanik, Amerika Serikat, Kanada, maupun Brasil, akan mengatakan hal yang sama tentang keterpautan mereka dengan tradisi Inggris, Portugis serta Prancis. Untuk memahami dengan lebih jernih posisi istimewa penulis Amerika, kita perlu membedakannya dengan dialog antara para penulis Jepang, Cina, atau Arab dengan beragam sastra Eropa. Dialog yang ini [Asia dengan Eropa-red] melintasi beragam bahasa dan peradaban. Di sisi lain, dialog kami dengan Eropa berlangsung dalam bahasa yang sama. Kami adalah orang Eropa, tetapi kami sekaligus bukan orang Eropa. Lalu siapa kami? Sulit untuk mendefinisikannya, tetapi karya-karya kami berbicara mengenai hal itu.

Artikel Lengkap “Octavio Paz: Mencari Masa Kini” bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Klik untuk Pre Order.

Di bidang sastra, berita besar abad ini adalah kemunculan sastra Amerika. Yang pertama muncul ialah sastra Amerika berbahasa Inggris. Kemudian, pada paruh kedua abad ke-20, muncul sastra Amerika Latin dengan dua cabang utamanya: sastra Amerika-Hispanik dan sastra Brasil. Meski masing-masing memiliki perbedaan mencolok, tiga jenis sastra ini punya kesamaan corak: konflik yang lebih ideologis daripada sastra sendiri, yakni kecenderungan kosmopolitan melawan tendensi nativis, antara Eropaisme vs Amerikanisme. Apa yang diwariskan perselisihan ini? Perdebatan sudah tiada, yang tersisa adalah karya. Di luar soal kesamaan tersebut, ketiga jenis sastra ini memiliki banyak perbedaan yang mendalam. Salah satunya karena posisinya sebagai bagian dari sejarah yang jauh lebih besar daripada sastra. Perkembangan sastra Anglo-Amerika bertepatan dengan kebangkitan Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia. Sedangkan kebangkitan sastra kami bersamaan dengan terjadinya petaka sosial-politik dan pergolakan nasional. Fakta ini sekaligus membuktikan keterbatasan teori determinisme sosial dan historis: kemunduran imperium dan gejolak sosial terkadang bertepatan dengan momen lahirnya kemegahan tradisi artistik dan sastra. Li-Po dan Tu Fu [pujangga besar Cina abad 8 Masehi-red] menyaksikan jatuhnya Dinasti Tang; Velázquez [Diego Velázquez, pelukis Spanyol abad 17 masehi-red] melukis untuk Felipe IV [Raja Spanyol-red]; Seneca dan Lucan hidup di masa yang sama sekaligus menjadi korban Kaisar Romawi, Nero. Sementara perbedaan lain di antara ketiga jenis sastra ini terkait dengan asal usul kesusastraan, yang lebih banyak terlihat pada sejumlah karya ketimbang dalam karakternya masing-masing. Namun, apakah bisa sastra-sastra itu disebut memiliki karakter khusus? Apakah sastra-sastra itu memiliki satu unsur umum yang membedakannya dari sastra yang lain? Saya meragukan itu ada. Sastra tidak bisa didefinisikan dengan menunjukkan sejumlah karakter aneh yang tidak berwujud; sebab ia sekumpulan karya unik yang disatukan oleh relasi oposisi sekaligus afinitas.

Perbedaan mendasar pertama antara sastra Amerika Latin dan Anglo-Amerika terletak pada keragaman asal-usul mereka. Keduanya berawal dari proyeksi Eropa. Proyeksi dari sebuah pulau dalam kasus Amerika Utara. Sementara dalam kasus kami [Amerika Latin-red], Proyeksi dari sebuah semenanjung. Dua kawasan ini memiliki kondisi geografis, historis dan budaya eksentrik. Asal-usul Amerika Utara adalah Inggris dan reformasi protestan; sementara asal usul kami ialah Spanyol, Portugal dan Katholik. Untuk kasus Amerika-Hispanik, saya perlu menyebut apa yang membedakan Spanyol dengan negara-negara Eropa lainnya, untuk menunjukkan identitas historis kami yang unik. Spanyol tidak kalah eksentrik dari Inggris, tetapi keunikan keduanya bertolakbelakang. Tradisi Inggris eksentrik karena berakar di pulau yang mengisolasi diri: eksentrik yang eksklusif. Adapun tradisi Spanyol eksentrik karena tumbuh di semenanjung dan menyerap unsur dari pelbagai peradaban yang pernah ada di masa lalu: eksentrik yang inklusif. Di dalam tradisi Spanyol ada unsur Katholik, yang didahului awalnya oleh pengaruh kerajaan Visigoth pemeluk bidah arianisme, kemudian dominasi peradaban Arab selama berabad-abad dan masuknya tradisi Yahudi, era Reconquesta serta warna-warna khusus lainnya. Karakter eksentrik inklusif pada tradisi Spanyol itu direproduksi secara berlipat ganda di benua Amerika, terutama di Meksiko dan Peru: wilayah tempat peradaban kuno yang megah pernah ada. Di Meksiko, orang-orang Spanyol berjumpa dengan sejarah dan wilayah peradaban kuno. Sejarah yang masih hidup itu adalah sebuah anugerah, bukan masa lalu. Kuil-kuil dan para dewa Meksiko pra-Kolombia memang telah menjadi tumpukan reruntuhan, tetapi jiwanya yang memberi nafas kehidupan tidak lenyap; tradisi itu berbicara kepada kami dengan bahasa abadi berupa mitos, legenda, koeksistensi sosial, seni populer dan adat istiadat. Menjadi penulis di Meksiko berarti harus mendengarkan suara-suara yang terus hadir itu. Mendengarkannya, berdialog dengannya, menafsirkannya: mengekspresikannya. Paparan singkat, yang agak menyimpang dari pembahasan di awal, ini semoga bisa memberikan pemahaman soal relasi ganjil yang mengikat sekaligus memisahkan kami dari Eropa.

Kesadaran akan keterpisahan dari Eropa menjadi bagian dari perjalanan spiritual kami. Terkadang, perpisahan membikin luka yang membekas, rasa sakit yang mendorong kritik-diri; sementara di lain waktu ia memunculkan tantangan, dorongan untuk bertindak, maju, serta bertemu yang liyan dan dunia luar. Perasaan tercerabut dari akar itu memang universal dan tak hanya dirasakan orang-orang Amerika-Hispanik. Perasaan itu muncul tepat saat kelahiran kita: ketika kita direnggut dari yang utuh dan terdampar di tanah asing. Pengalaman seperti ini menjadi luka yang tidak pernah sembuh. Perasaan ini kedalaman yang paling sulit dipahami pada setiap orang; semua upaya, perbuatan, tindakan dan mimpi kita menjadi jembatan yang terancang untuk menghadapi perpisahan sekaligus penyatuan kembali dengan dunia dan sesama manusia. Dengan demikian, kehidupan semua orang dan sejarah kolektif umat manusia bisa dilihat sebagai upaya merekonstruksi apa yang asali. Sebuah pengobatan tak berujung untuk menyembuhkan keterbelahan manusia. Namun, saya tidak bermaksud memberikan deskripsi lain tentang perasaan ini. Saya hanya menegaskan fakta bahwa, bagi kami, kondisi eksistensial seperti ini mengekspresikan bentuknya di sepanjang sejarah. Artinya, hal itu menjadi kesadaran dalam sejarah kami. Bagaimana dan kapan perasaan itu muncul dan bertransformasi menjadi kesadaran? Jawaban atas pertanyaan bermata dua ini dapat dijelaskan dalam bentuk teori maupun testimoni pribadi. Saya lebih suka yang terakhir: sebab ada banyak teori dan tidak ada yang sepenuhnya meyakinkan.

Perasaan keterpisahan selalu terikat dengan ingatan saya yang paling awal dan samar: tangisan pertama, ketakutan pertama. Seperti bayi lainnya, saya pun membangun jembatan emosional dalam imaji agar dapat terhubung dengan dunia dan orang lain. Saya tumbuh di kota pinggiran Mexico City, menempati rumah tua bobrok, yang memiliki kebun seperti hutan, dan sebuah ruangan besar dipenuhi buku. Permainan pertama sekaligus menjadi pelajaran pertama. Kebun itu segera menjadi pusat dunia saya; sementara perpustakaan adalah gua yang menyenangkan. Saya biasa membaca dan bermain dengan sepupu dan teman sekolah. Di kebun itu ada kuil vegetasi: pohon ara, empat pohon pinus, tiga pohon abu, sebuah tanaman nighthade, pohon delima, rumput liar, dan tanaman berduri. Dinding-dinding batu bata. Waktu saat itu terasa elastis; ruang terlihat seperti roda yang berputar. Di setiap saat, pada masa lalu atau masa depan, dalam kenyataan maupun imajinasi, menjadi sebuah kehadiran murni. Ruang mengubah dirinya tanpa henti. Yang ada di luar ada di sini, semuanya di sini: sebuah lembah, gunung, negara yang jauh, teras tetangga. Buku-buku bergambar, terutama bertema sejarah, secara sepenuhnya membuka dan menyediakan gambaran tentang gurun dan hutan, istana dan gubuk, prajurit dan putri, pengemis dan raja. Kami ‘karam’ bersama Sinbad dan Robinson. Kami ‘bertarung’ bersama d’Artagnan. Kami ‘menaklukkan’ Valencia bersama El Cid. Saya pun pernah sangat ingin tinggal selamanya di Pulau Calypso! Di musim panas, cabang-cabang hijau pohon ara akan berayun seperti layar sebuah kafilah atau kapal bajak laut. Dan di atas tiang kapal, sambil terhuyung oleh angin, saya berkhayal bisa melihat pulau dan benua: daratan yang segera lenyap begitu mereka menjadi nyata. Dunia tidak terbatas namun selalu dalam jangkauan; waktu seakan lentur dan memberikan kebahagiaan tak ada habisnya.

Kapan pesona itu bubar? Prosesnya bertahap, tidak tiba-tiba. Sulit untuk menerima dikhianati teman, ditipu wanita yang kita cintai, atau memahami bahwa ide soal kebebasan sebenarnya topeng seorang tiran. Apa yang disebut “mengetahui” adalah proses yang lambat dan rumit, karena kita sendiri menjadi kaki-tangan dari kesalahan dan muslihat kita. Meski demikian, saya dapat mengingat dengan jelas sebuah insiden yang merupakan pertanda awal dari situasi itu, satu kejadian yang sebenarnya cepat terlupakan. Saya masih berusia enam tahun ketika seorang sepupu yang berumur sedikit lebih dewasa menunjukkan sebuah majalah dari Amerika Utara berisi foto tentara berbaris di sepanjang jalan besar, mungkin di New York. “Mereka kembali dari perang,” kata sepupu saya. Kata-kata itu menggelisahkan, sebagaimana ramalan soal akhir dunia atau kehadiran Kristus yang kedua. Semula, saya menganggap bahwa di suatu tempat nun jauh, perang berakhir pada beberapa tahun sebelumnya, dan prajurit telah berbaris merayakan kemenangannya. Bagi saya, perang terjadi di waktu yang lain, bukan di sini dan sekarang. Foto di majalah itu membantahnya. Saya pun merasa benar-benar terpisah dari masa kini.

Sejak saat itu, waktu mulai retak dan semakin retak. Ruang pun terlihat semakin beragam. Pengalaman seperti itu terulang bertambah sering. Berita apa pun, frasa yang biasa sekalipun, berita utama di surat kabar: semua membuktikan keberadaan dunia luar dan ketidaktahuan saya. Saya merasa dunia seakan-akan terbelah dan saya tidak mendiami ‘masa kini’. Pemahaman saya soal kekinian rontok: waktu nyata ada di tempat lain. Waktu saya, yakni saat berada di kebun, bersama pohon ara, bermain dengan teman-teman, rasa kantuk di bawah pepohonan ketika berteduh dari terik mentari pada pukul tiga sore, melihat buah ara terbelah (warnanya hitam dan merah seperti batu bara menyala, tetapi rasanya manis dan segar): adalah waktu yang fiktif. Terlepas dari apa yang dikatakan oleh akal sehat saya, sejak saat itu, waktu milik yang liyan, terasa lebih nyata karena benar-benar menunjukkan ‘yang kini’. Saya pun menerima sesuatu yang tak terhindarkan: menjadi dewasa. Begitulah awal mula saya terusir dari kekinian.

Mungkin tampak paradoks saat mengatakan bahwa kami terusir dari ‘masa kini’, tetapi itu adalah perasaan yang kami semua memilikinya pada suatu saat. Beberapa dari kami mungkin pertama kali mengalaminya sebagai kutukan, kemudian berubah menjadi kesadaran dan tindakan. Pencarian terhadap ‘yang kini’ bukanlah pencarian surga duniawi atau keabadian: ini adalah pencarian terhadap realitas nyata. Bagi kami, sebagai orang Amerika-Hispanik, masa kini tidak berada di negara kami: sebab itu adalah waktu yang dijalani orang lain di Inggris, Perancis dan Jerman. Masa kini adalah waktu untuk New York, Paris dan London. Kami harus pergi dan mencarinya untuk membawanya pulang. Tahun-tahun itu juga merupakan masa saat saya menemukan sastra. Saya mulai menulis puisi. Saya tidak tahu apa yang membuat saya menulis puisi: Saya hanya terdorong oleh kebutuhan batin yang sulit didefinisikan. Baru sekarang saya mengerti, bahwa ada relasi rahasia antara apa yang saya sebut ‘terusir dari masa kini’ dengan penulisan puisi. Puisi adalah cinta sesaat yang berusaha hidup kembali dalam sajak, sehingga terpisah dari urutan waktu, dan menjadi kekinian yang utuh. Tetapi, pada saat itu saya menulis tanpa bertanya-tanya mengapa saya melakukannya. Saya sedang mencari gerbang ke masa kini: Saya ingin menjadi bagian dari waktu dan abad saya. Beberapa saat kemudian, obsesi ini menjadi ide kokoh: Saya ingin menjadi penyair modern. Pencarian saya terhadap modernitas pun dimulai.

Apa itu modernitas? Pertama-tama ini adalah istilah yang ambigu: ada banyak jenis modernitas, seperti halnya terdapat beragam masyarakat. Masing-masing memiliki modernitasnya sendiri. Arti kata modernitas tidak pasti dan sewenang-wenang, seperti nama periode yang mendahuluinya: Abad Pertengahan. Jika kita merasa bagian dari masa modern, karena membandingkan saat ini dengan situasi di abad pertengahan, mungkinkah kita ada di masa abad pertengahan dari modernitas di masa depan? Apakah ada nama yang berubah karena waktu menunjukkan nama aslinya? Modernitas adalah kata yang mencari artinya. Apakah modernitas adalah sebuah gagasan, fatamorgana atau momen sejarah? Apakah kita anak-anak modernitas atau malah penciptanya? Tidak ada yang tahu pasti soal ini. Namun, itu tidak menjadi masalah: kami mengikutinya, kami mengejarnya. Bagi saya pada saat itu, modernitas menyatu dengan kekinian atau lebih tepatnya memproduksinya: kekinian adalah bunga paling indah dari modernitas. Kasus saya tidak unik dan bukan pengecualian: sejak era Simbolisme, semua penyair modern mengejar sosok magnetis yang sulit dipahami sekaligus mempesona ini. Charles Pierre Baudelaire adalah sang pemula. Baudelaire juga yang pertama menyentuh istilah modernitas dan menemukan bahwa ia hanyalah remahan waktu di genggaman seseorang. Saya tidak akan menceritakan petualangan saya dalam mengejar modernitas: kisahnya tidak jauh berbeda dari para penyair abad ke-20 lainnya. Modernitas telah menjadi hasrat universal. Sejak 1850, modernitas menjadi dewi sekaligus iblis kita. Dalam beberapa tahun terakhir, ada sejumlah upaya untuk mengusirnya sehingga muncul wacana “postmodernisme”. Tapi apa itu postmodernisme, bukankah itu modernitas yang bahkan lebih modern?

Bagi kami, orang Amerika Latin, pencarian terhadap modernitas dalam puisi secara historis paralel dengan upaya berulang-ulang untuk memodernisasi negara kami. Kecenderungan ini mulai muncul pada akhir abad ke-18, dan juga terjadi di Spanyol. Amerika Serikat dilahirkan di era modern, dan sebagaimana pengamatan de Tocqueville, pada 1830 telah menjadi rahim masa depan. Sedangkan negara kami dilahirkan pada saat Spanyol dan Portugal bergerak menjauh dari modernitas. Inilah sebabnya sering ada pembicaraan tentang “Eropaisasi” di negara kami: modernisme ada di luar dan harus diimpor. Dalam sejarah Meksiko, proses ini dimulai tepat sebelum perang kemerdekaan. Kemudian menjadi debat ideologis dan pertikaian politik hebat yang membelah masyarakat Meksiko selama abad ke-19. Salah satunya tidak terkait dengan apakah perlu ada reformasi, melainkan bagaimana menjalakannya: Revolusi Meksiko. Tidak seperti mitranya di abad ke-20, revolusi Meksiko bukanlah ekspresi ideologi utopis yang samar-samar, melainkan ledakan realitas yang secara historis dan psikologis telah ditindas. Revolusi itu tidak dilahirkan kelompok ideologis yang hendak menerapkan prinsip-prinsip berdasarkan teori politik. Revolusi itu merupakan pemberontakan populer yang membuka tabir apa yang selama ini disembunyikan. Oleh karena itu, lebih tepat disebut pencerahan daripada revolusi. Meksiko mencari kekinian di luar hanya untuk menemukannya di dalam: yang terkubur tetapi hidup. Pencarian terhadap modernitas membuat kami menemukan masa lampau, wajah bangsa yang tersembunyi. Saya tidak yakin apakah pelajaran sejarah tak terduga ini telah dipelajari semua: ada jembatan antara tradisi dan modernitas. Ketika keduanya saling menutup diri, tradisi mandek dan modernitas menguap. Ketika keduanya saling terhubung, modernitas menghidupi tradisi, meski yang terakhir memberikan jawaban lebih mendalam dan berbobot.

Pencarian terhadap modernitas dalam puisi adalah sebuah ‘pencarian’ [Quest] dalam arti kiasan dengan rasa kekesatriaan di era abad ke-12. Saya tidak menemukan Cawan meskipun sudah melintasi banyak daratan tak berpenghuni, mengunjungi istana cermin dan berkemah dengan suku-suku hantu. Namun, saya menemukan tradisi modern. Sebab, modernitas bukanlah mazhab puisi melainkan garis keturunan, sebuah keluarga yang tersebar ke banyak benua selama dua abad dan mampu bertahan di tengah perubahan dan kemalangan: pengabaian, isolasi dan penghakiman atas nama ortodoksi agama, politik, akademik dan seksual. Oleh karena memiliki tradisi modern, dan bukan doktrin, mereka mampu bertahan sekaligus berubah pada saat yang sama. Hal ini juga membuat modernitas dalam puisi beragam: setiap petualangan dalam puisi berbeda-beda dan masing-masing penyair menanam tanaman yang beragam di hutan ajaib tempat pohon-pohon bisa berbicara. Namun, jika karya-karya puisi beragam dan masing-masing menempuh jalan berbeda, apakah yang menyatukan seluruh penyair? [Jawabannya-red] Bukan estetika, melainkan pencarian.

Pencarian yang saya lakukan tidak fantastis meski menemukan bahwa gagasan modernitas adalah fatamorgana, sebundel refleksi belaka. Sebab, suatu hari, saya justru kembali ke titik awal, alih-alih bergerak maju: pencarian terhadap modernitas adalah jalan menuju asal usul. Modernitas menuntun saya kepada akar asal usul saya, kepada peradaban kuno bangsa saya. Perpisahan akhirnya berubah menjadi rekonsiliasi. Saya pun kemudian memahami bahwa penyair adalah denyut nadi yang mengalun ritmis di banyak generasi.

*
Bersambung..
Artikel Lengkap “Octavio Paz: Mencari Masa Kini” bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Klik “Pre Order Buku Memikirkan Kata” untuk pemesanan.

Tabloids

Bagaimana Perpustakaan Dapat Meredam Populisme?

mm

Published

on

“Setelah pemilihan umum tahun 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.” Ia membuka sebuah rahasia dan inilah faktanya: “Jika Anda ingin tahu jenis infrastruktur sosial yang benar-benar dihargai oleh para pemimpin industri teknologi, lihatlah dengan seksama bangunan-bangunan yang didirikan di Silicon Valley: Kantor-kantor yang didesain untuk pertemuan-pertemuan tak sengaja antara anggota dari tim-tim yang berbeda. Kafetaria-kafetaria dengan meja bersama dan makanan gratis. Lapangan-lapangan olahraga, jalan-jalan setapak, taman-taman di atap bangunan, ruang-ruang untuk pesta. Mengapa? Karena mereka ingin pekerjanya merasa begitu senang di kantor hingga mereka tak ingin pergi. Dan, seperti yang Mr Zuckerberg ketahui lebih dari siapa pun, cara untuk melakukannnya bukanlah dengan membiarkan para pekerja menghabiskan waktu dengan sosial media lebih lama.

 

Oleh: Sabiq Carebesth & Marlina Sophiana *)
(Redaktur dan Editor Utama Galeri Buku Jakarta)

Dunia abad kita hari ini membutuhkan infrastruktur sosial jika ingin kemanusiaan dan perdamaian dunia terus bisa dijaga dan dimajukan. Infrastruk sosial yang nyata, difasilitasi oleh instrumen penentu kebijakan pubik dan pada saat sama sedikit mengabaikan utopia maya tentang komunitas bersama seperti di janjian sosial media. Kenapa?

Di tengah gejala bahkan telah faktual berkembangnya populisme di banyak negara di dunia dan telah menyebabkan dampak-dampak mengerikan yang nyata, dunia membutuhkan infrastruktur sosial untuk menampung kohesi bersama dan mewujudkan kemanusiaan yang diimpikan seluruh manusia. Ketika banyak pemimpin pemerintah di dunia membangunan insfrastruktur dalam logika pembangunanisme, infrastruktur sosial kerap kali terabaikan, sementara dunia digital terutama sosial media yang diklaim mampu menghubungkan semua dan berbagi kebaikan untuk semua terbukti gagal memenuhi janji kemanusiaanya. Infrastruktur pembangunan dan sosial media justeru berkontribusi paling besar pada makin tinggi dan kokohnya tembok pembatas yang kian memisahkan manusia dari sesamanya dan dari kemanusiaan. Sementara dalam keterasingan yang terus memuncak itu, populisme merebak seperti jamur di musim pancaroba keadilan ekonomi dan politik.

Itulah pesan menarik dari buku terbaru karya Eric Klinenberg, seorang sosiolog di New York University dan pengarang “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018) mengungkapkan gagasan menarik tentang sosiologi kenapa populisme khususnya di barat menjadi begitu mengerikan. Buku itu memulai wacananya dengan fakta di mana tahun-tahun ini beragam gagasan telah dikemukakan untuk menjelaskan bangkitnya populisme di Barat: dari mulai ketidakamanan ekonomi, reaksi negatif dari persoalan imigran dan berita palsu. Hal lain yang masuk daftar itu mungkin kurangnya ruang-ruang bersama di mana orang dari berbagai dimensi kehidupan dapat bertemu dan bergaul.

Secara spesifik Eric Klinenberg juga menyatakan jika politik menuju semangat kesukuan, mungkin hal itu akibatnya jika orang-orang diberikan tembok pemisah satu sama lain-dalam beberapa kasus tembok betulan-mengikis perasaan kesamaan dan komunitas.

Krisis infrastruktur sosial dinilai menjadi salah satu pemicu utama krisis global yang melanda dunia saat ini. Bagi Klinenberg, infrastruktur sosial merupakan ruang-ruang publik yang membawa orang-orang bersama sehingga dapat terbentuk suatu ikatan. Dalam bukunya, dia mencatatkan bagaimana hal tersebut memberikan manfaat mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga laku pemerintahan yang lebih baik, di masa di mana sosial media tampak mendorong orang untuk saling menjauh.

Sosial Media dan Kesemuannnya

Perkembangan dunia digital terutama ditandai oleh lahirnya era sosial media pernah menjanjikan kemajuan global sekaligus perdamaian umat manusia yang cemerlang. Tetapi kenyataanya justeru sebailiknya.

Melalui Program Inisiatif Open Future, The Economist, Eric Klinenberg dalam satu sesi wawancara bahkan menuding sosial media menjadi perkakas utama masifnya kebencian dan populisme menyebar seperti virus mematikan yang endemik.

“Setelah pemilihan umum tahun 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.”

Ia membuka sebuah rahasia dan inilah faktanya: “Jika Anda ingin tahu jenis infrastruktur sosial yang benar-benar dihargai oleh para pemimpin industri teknologi, lihatlah dengan seksama bangunan-bangunan yang didirikan di Silicon Valley: Kantor-kantor yang didesain untuk pertemuan-pertemuan tak sengaja antara anggota dari tim-tim yang berbeda. Kafetaria-kafetaria dengan meja bersama dan makanan gratis. Lapangan-lapangan olahraga, jalan-jalan setapak, taman-taman di atap bangunan, ruang-ruang untuk pesta. Mengapa? Karena mereka ingin pekerjanya merasa begitu senang di kantor hingga mereka tak ingin pergi. Dan, seperti yang Mr Zuckerberg ketahui lebih dari siapa pun, cara untuk melakukannnya bukanlah dengan membiarkan para pekerja menghabiskan waktu dengan sosial media lebih lama. Caranya adalah dengan mendesain dan membangun infratruktur sosial terbaik yang dapat disediakan.”

Peran Pemerintah dan “Minus”nya Philantropi

Pemerintah dinilai tetap menjadi aktor kunci yang harus memfasilitasi dan membangun infrastruktur sosial. Klinenberg meragukan hal semacam itu bisa diatasi sendirian oleh misalnya gerakan philantropi yang memiliki beban watak dasarnya untuk memiliki kecenderungan untuk tidak adil pada semua komunitas. Philantropi selalu memihak, pilih-pilih, dan tidak terdistribusi secara merata. Satu-satunya cara kita mendapatkkan infrastruktur sosial yang komprehensif adalah jika sarana publik itu disediakan oleh pemerintah.

Perpustakaan Modern Aleksandria di kota Aleksandria, Mesir. | Perpustakaan ini dalam sejarahnya merupakan salah satu perpustakaan terbesar dan terpenting pada zaman kuno. Perpustakaan ini merupakan bagian dari sebuah lembaga penelitian yang lebih besar, Mouseion, yang dipersembahkan untuk para Musai.

Sebagai gantinya ia menandaskan kerjasama pemerintah-swasta sealu memainkan peran penting dalam pembangunan infrastruktur sosial—menggaris bawahi peran pemerintah dalam hal inisitif politik dan dana pengelolaan-perawatannya.

Sebagai contoh, untuk kasus Amerika. Andrew Carnegie, bagaimanapun, menyumbangkan uang untuk membangun hampir 1700 perpustakaan umum di Amerika, dengan syarat bahwa pemerintah lokal menanggung semua biaya untuk operasional dan perawatannya. Kemurah hatian Carnegie muncul di saat tidak ada pajak penghasilan negara bagian. Bayangkan berapa banyak “palaces for the people” yang dapat dibangun di Amerika jika negara membebankan pajak yang adil padanya dan para pelaku industri sukses lainnya.

Jadi tidak efektif sama sekali untuk misalnya memberikan kebijakan memotong pajak bagi orang-orang yang paling kaya dan berharap kedermawanan mereka dapat meolong persoalan-persoalan pubik, apakah itu berkaitan dengan keadilan ekonomi dan kesejahteraan atau pun infratruktur sosial.

Infrastuktur Sosial dan Perpustakaan

Kesadaran pembangunan infrastrutur fisik pada saat bersaa harus diimbangi dengan investasi sama besar pada infrastruktur sosial menjadi hajat kesadaran kita bersama dan menyorongkannya terutama pada pengambil kebijakan publik.

Untuk dijadikan contoh, beberapa negara telah mengembangan porsi adil akan hal itu dan terbukti mampu menyelamatkaan kota dan generasinya dengan lebih baik.

Belanda disebut Klinenberg sebagai pelopor dan merupakan rujukan utama dalam pengintegrasian infrastuktur sosial ke dalam strategi-strategi  adaptasi dan mitigasi iklim. Orang Belanda telah belajar membangun taman-taman, plaza dan taman bermain yang berfungsi ganda sebagai sistem manajemen banjir, jadi investitasi keamanan ekologis juga menigkatkan kulaitas kehidupan sosial sehari-hari.

Jepang telah memasukkan infrastruktur sosial ke dalam infrastruktur sistem transitnya. Stasiun-stasiun di Tokyo berupa bangunan bawah tanah yang luas dan terlindungi dari bahaya banjir yang dialami kota New York selama badai Sandy. Stasiun-stasiun di sana juga bersih, dirawat dengan baik dan dihidupkan dengan berbagai aktivitas komersil. Beberapa stasiun kini menjadi destinasi sosial-sangat jauh dibandingkan dengan apa yang kita alami di New York, di mana kegiatan transit menjadi perang antar semua.

Dalam kasus yang lebih umum infrastruktur sosial sangat terkait dengan ruang bersama untuk memajukan penalaran dan pikiran kritis publik dengan pada saat bersamaan kohesi dan empati kemanusiaan ditumbuhkan. Ruang publik semcam itu paling mungkin dan mudah dibayangkan dalam bentuk perpustakaan.

Perpustakaan

Ketika The Economist menanyakan apa relasi langsung dan lebih mendalam infratruktur sosial dalam menjawab persoalan populisme, otoritarianisme, post-truth dan masyarakat terbuka—bukan sekadar kohesi sosial, yang merupakan efek langsung… –wujud paling konkrit yang bisa diterapkan dengan konstan, Klinenberg menjawab lugas: Perpustakaan.

Baginya, perpustakaan memainkan peran yang begitu penting dalam mempromosikan budaya demokrasi-dan menantang otoritarianisme-karena cara mereka diisi oleh pegawai-pegawai, dikelola, dan deprogram. Mereka sangat inklusif. Mereka diatur oleh professional yang patuh pada norma-norma kejuruan: mengejar pengetahuan dengan peralatan terbaik yang kita punya; tak menghakimi; menghargai martabat setiap orang; menjaga privasi; memperlakukan semua orang secara setara, tak peduli kelas sosial, ras, etnsitas, usia, kemampuan atau pun status kependudukan. Jika di sisi lain peperangan ini, para demagog dan jawara teknologi mendorong kita kepada era post-truth, di sisi lain, para pustakawan menarik kita kembali.

This slideshow requires JavaScript.

[Photos: Identity is celebrated at Katikati’s new library in its sculptural building design and the vibrant colours woven through its double-height interior. Serving a population of just over 4600, the Katikati library and adjacent community hub must cater for a wide range of age groups and interests. With a vibrant local artistic community and the Kaimai Range nearby, First Principles Architects has developed an architectural and interior design language to celebrate local identity.]

Sebaliknya, penelantaran persputakaan bisa menjadi preseden buruk tidak hanya tampaknya tapi juga dalam relasi ekonomi dan sosial politik yang lebih luas.

Kenyataanya justeru menyedihkan bahwa abad kita sekarang justeru cenderung menelantarkan perpustakaan-perpustakaan justru di saat kita sangat membutuhkannya.

Di New York, mayor Bill De Blasio yang dikenal “progresif” ingin memotong jutaan dolar dari anggaran perpustakaan, yang berarti dapat menutup beberapa cabang penting di akhir pekan. Di Ontario, Kanada, pemerintahan kota Doug Ford memotong anggaran layanan perpustakaan hingga setengahnya. Jika kamu tak menganggap hal ini penting, coba kunjungi perpustakaan lokalmu minggu ini dan lihat hal-hal luar biasa yang terjadi di sana. Tiap kali perpustakaan ditutup masyarakat kita menjadi agak kurang terbuka, demokrasi kita sedikit lebih rapuh. Jika kita tidak berinvestasi ulang pada perpustakaan, dan pada infrastruktur sosial secara umum, apa yang akan menjaga kita dari zaman kegelapan yang ditakuti banyak orang itu?

Kita tidak perlu menalar dan membayangkan rumit bagaimana hal itu bisa dilangsungkan. Dalam buku “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018) Klinenberg telah memberikan laporan pandanan matanya:

“Saya sudah melihatnya, dalam kunjungan saya ke Oodi Library di Helsinki. Itu merupakan perpustakaan yang terasa seperti sebuah kapal luar angkasa di tengah-tengah kesibukan metropolis. Perpustakaan itu punya ruang-ruang yang terbuka, terang, dan berangin untuk membaca dan menulis. Perpustakaan itu punya ruangan untuk berbagai jenis kegiatan kolaborasi, dari video gaming hingga pembuatan podcast dan menjahit. Tempat itu punya ruangan untuk pertemuan-pertemuan komunitas, sebuah teater, makanan terjangkau dan beragam program. Lebih hebat lagi, tempat itu buka setiap hari, dari jam 8 pagi hingga 10 malam di hari kerja, dan hampir dengan jam kerja yang sama di akhir pekan.

Tapi tempat seerti Oodi ada juga di luar negara-negara Skandinavia. Kota-kota di penjuru bumi telah berinvestasi pada perpustakaan-perpustakaan modern baru yang didesain sesusai kebutuhan abad 21. Lihatlah perpustakaan baru di Austin, Texas, yang menyediakan ruang khusus bagi pelaku teknologi lokal dan banyak sekali ruang terbuka untuk anak-anak dan orang dewasa. Atau yang lebih kecil, perpustakaan di sururban Cuyahoga County, Ohio yang disibukkan dengan aktivitas siang dan malam-pembacaan buku oleh pengarang, 3D printing, waktu bercerita untuk keluarga, pertemuan-pertemua komunitas terkait isu-isu lokal yang perlu disiarkan. Sementara di Kanada, deskripsi tersebut mungkin mengingatkanmu dengan perpustakaan baru di Calgary. Di tiap-tiap kota itu, penduduk secara kolektif memutuskan bahwa investasi publik pada infrastruktur sosial akan membawa beragam manfaat. Di Columbus, Ohio, voter memutuskan untuk membebani diri dengan pajak untuk mendapatkan keistimewaan dari perpustakaan yang lebih baik.”

Begitulah dunia di sana mengabarkan pentinganya infrastruktur sosial khususnya perpustakaan, bahkan orang-orang, kelompok milenial, membebani dirinya sendiri untuk pajak demi terbangunnya ruang perpustakaan yang lebih baik. Di sini? Perpustakaan yang lebih megah di bangun, di pusat kota sementara di kota-kota lain yang lebih kecil? Peran pemerintah daerah?

Di sisi lain komunitas-komunitas baca tumbuh meski malah terlihat menyedihkan dengan tidak adanya dukungan dari lebih banyak orang sekitar bahkan pemerintah sendiri, kegiatan mereka kerap dilarang dan dicurigai. Bisa kita bayangkan sendiri situasinya, anggaran yang… pelarangan.. pembiaran terhadap aksi-aksi brutal terhadap buku dan komunitas baca. Tidakkah itu hal mengerikan yang seharusnya meminta perhatian lebih dari kita semua? (*)

_________
*) Ditulis oleh Sabiq Carebesth & Marlina Sophiana: disarikan dari interview Eric Klinenberg dengan The Economist dalam program Open Future dan ihtisar dari Buku “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018)

 

Continue Reading

Inspirasi

Etos Kepengarangan Pramoedya Ananta Toer

mm

Published

on

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

Oleh Hasan Aspahani *)

TIAP pengarang punya cara kerja sendiri. Tapi ada etos dasar yang harus dimiliki oleh siapa saja yang ingin menjadi pengarang yang bersungguh-sungguh. Kita bisa menemukan teladan itu pada Pramoedya Ananta Toer (1925-2006).

Sebagian masa hidupnya dihabiskan di dalam penjara. Tapi ia tak pernah berhenti mengarang. Banyak pengarang dibuang bersamanya dan 800 tapol lain yang dibawa ke Pulau Buru, tapi sepertinya hanya dari Pramoedya kita mendapatkan karya yang monumental.

Banyak tapol yang jatuh dan rusak mentalnya, sakit fisiknya, bahkan meninggal di Pulau Buru. Tapi Pram tidak. Ia bertahan sebagai manusia. Saya yakin kepengarangannyalah yang mengguatkan dia. Dia tegar karena dia – sesulit apapun – masih bisa menulis.

Bagaimanakah etos kepengarangan seorang Pram? Banyak sisi yang bisa kita teladani. Saya membaca “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” (Hasta Mitra, 2000), dan dari situ, saya butirkan empat hal yang menurut saya adalah yang terpokok dan terpenting:

  • Menulis dalam Keadaan Apapun

Ketika rombongan wartawan datang ke Pulau Buru, pada 1973, dan diberi kesempatan mewawancarai para tahanan politik, Rosihan Anwar dan sejumlah sastrawan lain bertanya jawab dengan Pramoedya Ananta Toer. Rosihan bertanya, “Pram, Jij masih menulis?”

Jawab Pram, “Ya, baru-baru ini hampir separoh dari roman tentang periode kebangkitan nasional telah aku selesaikan.”

Dalam tahanan, dalam buangan dan pengasingan, dengan harga diri yang direndahkan, dengan akses pada bacaan bahkan alat tulis yang terbats, serta diperlakukan dengan tak manusiawi, Pram tetap menulis.

  • Tulis Hanya Apa yang Ingin Kita Tulis

Dalam kesempatan yang sama, Gayus Siagian bertanya pada Pram. Ia menanggapi jawaban Pram atas pertanyaan Mochtar Lubis tentang kenapa Pram menulis cerita berlatar sejarah. Pram bilang ia muak dengan hal-hal yang tidak menyenangkan kala itu.

“Bukankah justru yang memuakkan itu yang harus ditulis?” tanya Gayus.

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

  • Bertekadlah untuk Menghasilkan Karya Besar

Roman Tetralogi Pulau Buru adalah karya yang lahir dari tekad itu. Pram menuliskannya dengan hasrat untuk menghasilkan karya yang abadi. Tak pernah berhenti dibaca, tak pernah kehilangan relevansi.

Ia menulis: … Aku ingin menulis roman besar dalam hidupku, dan setiap pengarang bercita-cita menghasilkan karya abadi, dibaca sepanjang abad, dan lebih baik lagi: dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia sepanjang zaman.

  • Bangun Dokumentasi dan Arsip Pribadi

Pramoedya adalah penulis yang mengandalkan riset. Ia percaya bahwa inspirasi adalah produk dari pemikiran, bacaan, serta pengalaman. Karena itu baginya sumber bacaan itu sangat penting.

Rangkaian roman Bumi Manusia dan tiga serialnya, sudah ia rancang sebelum ia ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru, 1965. Ia memulai dengan riset dan mengumpulkan bahan sejarah.

Ia menghimpun data-data otentik, wawancara, membaca buku, dan menyiarkan bahan-bahan yang didapat itu sedikit demi sedikit, untuk memancing masukan.

Ia juga menyalin bahan dari perpustakaan museum. Ia membayar tenaga pembantu untuk pekerjaan itu. Memang, perlu biaya dan kerja keras untuk menghasilkan karya besar.

Dokumentasi adalah tulang punggung bagu kerja seorang pengarang. Juga “…kekuatan, pedoman kenyataan di tangan, yang dengannya suatu kerja cipta dibangun.”

  • Kesempurnaan Dicapai dengan “Rasa Tidak Puas”

Pram adalah pengarang yang kritis pada diri dan karyanya sendiri. Ia melayani idenya. Ketika ia merasa harus berhenti dahulu menulis “Bumi Manusia”, roman tentang kebangkitan nasional itu, ia merasa perlu  menulis tentang masa-masa “kejatuhn Nusantara”, agar pemahamannya tentang kebangkitan nasional lebih utuh.

Maka ia pun menulis roman lain, yaitu “Arus Balik”.  Ia selesaikan karya itu dengan perasaan tak puas. Karena tak tersedi pustaka yang cukup.  Kalaupun roman itu akhirnya selesai, dia menganggap itu sebagai “naskah belum sempurna”.

__

CTI, Depok, 2019 

Hasan Aspahani
Lahir, di Handil Baru, Samboja Kutai Kartanegara, 1971. Jurnalis di grup Jawa Pos, penyair dengan sejumlah buku dan penghargaan, penulis nonfiksi dan fiksi antara lain ‘Biografi Chairil Anwar” (Gagasmedia, 2016), “Ya, Aku Lari” (DivaPress, 2018).
Continue Reading

Buku

Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

mm

Published

on

Adania Shibli via https://lithub.com

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta.

___
Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012. (p) Marlina Sopiana (e) Sabiq Carebesth

 

Jika novel pertamanya Touch tak cukup meyakinkanmu, karya kedua Adania Shibli We Are All Equally Far from Love membuktikan talentanya yang langka dan menantang. Buku ini bukanlah karya yang mudah ataupun menyenangkan untuk dibaca, tapi merupakan karya yang luar biasa yang menjalin bersama melankolia, keindahan, kekerasan, dan penggambaran fisik yang kasar dalam renungan yang panjang tentang cinta dan kesepian.

Bahkan lebih ekstrem dari Touch, buku ini bisa dikatakan sebagai novel hanya dalam klasifikasi yang sangat lemah. Buku ini tak memiliki narasi ataupun plot yang umum; cerita-cerita pendek dan sketsa-sketsa di dalamya hampir tak berkaitan satu sama lain kecuali dalam beberapa momen yang mengisyaratkan kesinambungan. Satu nama karakter kurang favorit yang menjadi korban, misalnya, muncul dalam percakapan-percakapan santai di beberapa cerita yang mengungkapkan bahwa dia telah bunuh diri.

Sejumlah referensi lainnya bahkan lebih samar; apakah pohon kenari yang menggantung pada dinding di mana sesosok karakter jalan melewatinya merupakan pohon yang sama dengan pohon kenari yang tumbuh di kebun milik orang lainnya? Pembaca pasti terus bertanya-tanya tentang pertautan antar orang dalam kisah-kisah ini, apakah mereka menggambarkan sejumlah aspek kehidupan dalam satu komunitas yang saling berkaitan ataukah sepnuhnya terpisah, kecuali tentang pengalaman mereka tentang penderitaan. Di mana kisah ini terjadi juga tak begitu jelas; hanya sebuah cerita menunjukkan hal ini, mengingat pekerjaan seorang karakter di sebuah kantor pos yang berkaitan dengan menangani “surat-surat yang dialamatkan ke … ‘Palestina,’ yang alamatnya mesti dia hapus dan menggantinya dengan ‘Israel,’”(20). Satu catatan tentang keluarga sang karakter yang mengatakan “meskipun Kakeknya merupakan pejuang revolusi, dan terbunuh tahun 1948, Ayahnya seorang kolaborator” (10).

We Are All Equally Far From Love| ISBN: 9781566568630 | Paperback: 148 pages | Publisher: Clockroot Books, 2011 | Language English. Adania Shibli, born in 1974 in Palestine, is two-time winner of the Qattan Foundation s Young Writer s Award for this and her acclaimed novel Touch. ‘We Are All Equally Far From Love’ revolves around a young woman who begins an enigmatic but passionate love affair conducted entirely in letters. But suddenly the letters no loners arrive. Perhaps they are not reaching their intended recipient? Only the teenage Afaf, who works at the local post office, would know. Her favorite duty is to open the mail and inform her collaborator father of the contents until she finds a mysterious set of love letters, apparently returned to their sender.

Suasana yang menguasai We Are All Equally Far from Love bukanlah perasaan yang menggembirakan. Sebab bagi satu karakter, “semuanya dalam hidupku terasa monoton. Aku tak lagi peduli tentang apa pun… Semuanya menuju kematian, tanpa ada yang bisa menghentikannya” (3,9). Karakter lain meratapi hidupnya sebagai “pecundang,” menyembunyikan kegagalan-kegagalan dari keluarganya. Sebab yang lain-lainnya, ketakterhubungan meluap menjadi kekerasan, baik yang berupa fantasi-“Aku akan membunuhnya. Tanpa membunuh Ayahku. Sehingga dia akan sama menderitanya seperti aku dibuatnya…Dia selalu saja begitu, Ibuku. Apapun yang kulakukan akan mendorongnya ke batas di mana dia berharap tak pernah melahirkanku” (94,98) – ataupun yang nyata, seorang Ayah dengan santai melempar sepatu ke kepala anak perempuannya saat sang anak melawan perkataannya.

Yang paling mengerikan, sebuah pertunjukkan pelecehan oleh seorang yang ditolak cintanya memuncak pada mesin penjawab pesannya yang berbunyi: “Suaranya tenang, dalam, jelas, dan mungkin dia tersenyum … Dia berujar bahwa dia akan memperkosanya, dan dengan suara yang makin dalam dia menambahkan bahwa inilah satu-satunya cara agar dia bisa memuaskan nafsunya” (76).

Realitas yang mengherankan

Sebagaimana dengan novel pertamanya, pengamatan tajam Shibli atas detail-detail fisik yang minor menimbulkan keheranan, kadangkala membuat mual, itulah realitas dunia bagi karakter-karakternya. Seorang perempuan berkubang dalam bau yang muncul dari tubuhnya dan dari muntahan yang mengering di lantai, menggambarkan kehancuran moral dan emosional dari keluarganya yang terfragmentasi (103), sementara “bunyi berderit dari kakinya yang memakai sandal plastik memenuhi telingaku. Suaranya mengingatkanku akan bunyi-bunyian yang muncul pada saat berhubungan seksual, yang membuatku menghapus gagasan untuk masturbasi dari agenda hari ini” merefleksikan ambivalensi status seks dalam dunia Shibli (99).

Penggambaran tajam yang menyakitkan ini berlanjut ke dalam dunia internalnya, mengakui sejumlah pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan memalukan yang seringkali menyertai kekacauan emosional, mulai dari pengakuan blak-blakan “baru kemudian aku mengerti bahwa aku melihat semuanya agar dapat menulis padanya tentang hal itu” (1) hingga kehampaan seorang perempuan yang mencoba melepaskan dirinya dari hubungan yang tak diinginkan: “Dia ingin perjumpaannya menjadi seperti perkawinan yang sembunyi-sembunyi” (71).

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta. Mandi dan mencintai, memasak dan mencintai. Mengemudikan mobil dan mencintai” (33). Seorang pria yang terperdaya berkisah tentang kekasihnya “punggungnya seperti buah peach di puncak musim panas” (62) dan bahkan salah satu peristiwa yang paling menakutkan dalam buku ini terjadi dalam latar “malam yang hangat dan kegelapan yang pekat, terutama di balik pohon-pohon zaitun” (77).

Baca Juga: Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

Kecerdikan yang tak biasa

Senjata lain Shibli untuk menghindari kesengsaraan yang berlebih-lebihan adalah kecerdikannya yang tak biasa, seringkali diperuntukkan – sebagai pasangan sebuah buku yang kejujurannya begitu blak-blakan- pada apa saja, menghantam segala kedangkalan dan kepura-puraan. Di dinding sebuah kantor pos dia mendeskripsikan “sebuah lukisan kepala negara, yang tak lebih kotor dari benderanya, karena demokrasi memaksanya mengganti mereka dari waktu ke waktu” (19). Dari layanan pos yang sama: “Sangatlah wajar bagi penduduk lokal bahwa surat-surat mereka sampai di tangannya dalam keadaan terbuka. Jika sebuah surat sampai dalam keadaan tersegel, mereka mengatakan itu karena kantor pos masih memiliki lem perekat, yang sebentar lagi pasti habis” (20). Tentang seorang pemuda yang mencari pasangan pengantin, dia mengamati “bergandengan, dia dan mangsanya memulai perjalanan tak berkesudahan menuju kebosanan” (18), sementara melalui penggambaran yang sangat mengena tentang sebuah keluarga yang hidup dengan perasaan saling membenci, dia mendeskripsikan “belantara furnitur-furnitur tak terpakai yang digunakan kakak iparku untuk menghidupi dunianya” (112).

Di tangan pengarang yang tak lebih berbakat dari Shibli dan penerjemah yang kurang terlatih dari Paul Starkey, buku ini bisa saja menjadi sebuah nyanyian penguburan penuh kecemasan. Tetapi melalui ketangkasannya dalam menangkap keindahan dan lelucon bersamaan dengan penderitaan dan isolasi, coraknya yang beragam dan perubahan suasananya, buku ini menjadi sebuah eksplorasi kedalaman jiwa manusia yang suram, sukar, melelahkan tapi tentu saja melegakan.

*) Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending