Connect with us

Tabloids

Octavio Paz: Mencari Masa Kini

mm

Published

on

Hal terakhir di rumusan gegabah ini adalah keruntuhan semua hipotesa filosofis dan historis yang mengklaim menemukan hukum yang mengatur jalannya sejarah. Banyak orang dengan percaya diri meyakini bahwa mereka menentukan jalannya sejarah dengan membangun negara kuat di atas piramida mayat. Pendirian arogan tersebut, yang didasarkan pada teori pembebasan manusia, dengan cepat ternyata berubah menjadi penjara raksasa. Hari ini kita telah melihat mereka jatuh, digulingkan bukan oleh musuh ideologis mereka, tetapi oleh ketidaksabaran dan keinginan generasi baru untuk menghirup udara kebebasan.

[In Search of the Present] (p) Addi Midham (e) Sabiq Carebesth

Saya ingin memulai pidato ini dengan dua kata yang sudah diucapkan semua orang sejak awal mula kemanusiaan: terima kasih. Kata ‘terima kasih’ memiliki padanan dalam semua bahasa, dan pada setiap pengucapannya, ada cakupan makna yang berlimpah. Dalam rumpun bahasa Roman, keluasan makna kata ini mencakup aspek spiritual sekaligus lahiriah: dari rahmat ilahi yang diberikan kepada manusia sehingga selamat dari kesesatan dan kematian, hingga anugerah gemulainya tubuh untuk gadis penari atau kucing yang melompat ke semak-semak. Bersyukur selalu berarti pengampunan, pemaafan, bantuan, kebaikan, inspirasi; sebuah bentuk sapaan, gaya bicara atau ungkapan yang menyenangkan, kesopanan, singkatnya, tindakan yang mengungkapkan kebaikan rohani. Bersyukur itu gratis; sebuah karunia. Orang yang menerima sebuah kebaikan akan mengucapkan rasa syukur; jika bukan orang tercela, dia pasti bersyukur. Itulah yang saya lakukan sekarang, mengucapkan kata-kata tanpa maksud buruk ini. Saya harap perasaan saya demikian pula. Jika masing-masing kata ialah setetes air, Anda akan paham apa yang saya rasakan dengan melihatnya: rasa syukur, pengakuan. Dan, dengan cara yang sulit dijelaskan, perasaan itu muncul bersama kegentaran, rasa hormat serta keterkejutan bahwa saya saat ini berada di hadapan Anda sekalian, tempat yang menjadi rumah kaum terpelajar Swedia, sekaligus sastra dunia.

Bahasa adalah realitas luas yang melampaui entitas politik dan historis, yang kita sebut negara. Bahasa Eropa yang kami gunakan di Amerika menggambarkan hal ini. Yang membuat sastra kami [Amerika Latin-red] istimewa jika dibandingkan dengan karya dari Inggris, Spanyol, Portugal, ataupun Perancis, adalah karena fakta bahwa: sastra kami ditulis dengan bahasa hasil transplantasi. Bahasa yang lahir dan tumbuh dari tanah aslinya, lalu dikembangbiakkan oleh sejarah. Bahasa-bahasa Eropa berakar dari tanah dan tradisi asalnya, kemudian ditanam di dunia antah berantah yang tidak bernama: berakar di tanah baru, dan ketika tumbuh di dalam masyarakat Amerika, bahasa itu berubah. Seolah-olah bahasa itu masih tanaman yang sama, tapi sekaligus juga berbeda. Sastra kami tidak menerima perubahan bahasa hasil transplantasi itu secara pasif: sastra kami terlibat dalam proses perubahannya dan bahkan mempercepatnya. Sastra kami segera beralih dari sekedar refleksi trans-atlantik: sastra kami menjadi negasi dari sastra Eropa, seringkali juga menjadi sebuah jawaban atasnya.

Kendati ada proses osilasi seperti ini, keterpautan sastra kami dengan Eropa tidak pernah putus. Masa lalu saya adalah bahasa saya. Sebagaimana semua penulis Spanyol, saya pun masih merasa menjadi keturunan dari Lope [Lope de Vega-red] dan Quevedo [Francisco de Quevedo-red]. Namun, saya bukan orang Spanyol. Saya kira, sebagian besar penulis Amerika-Hispanik, Amerika Serikat, Kanada, maupun Brasil, akan mengatakan hal yang sama tentang keterpautan mereka dengan tradisi Inggris, Portugis serta Prancis. Untuk memahami dengan lebih jernih posisi istimewa penulis Amerika, kita perlu membedakannya dengan dialog antara para penulis Jepang, Cina, atau Arab dengan beragam sastra Eropa. Dialog yang ini [Asia dengan Eropa-red] melintasi beragam bahasa dan peradaban. Di sisi lain, dialog kami dengan Eropa berlangsung dalam bahasa yang sama. Kami adalah orang Eropa, tetapi kami sekaligus bukan orang Eropa. Lalu siapa kami? Sulit untuk mendefinisikannya, tetapi karya-karya kami berbicara mengenai hal itu.

Artikel Lengkap “Octavio Paz: Mencari Masa Kini” bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Klik untuk Pre Order.

Di bidang sastra, berita besar abad ini adalah kemunculan sastra Amerika. Yang pertama muncul ialah sastra Amerika berbahasa Inggris. Kemudian, pada paruh kedua abad ke-20, muncul sastra Amerika Latin dengan dua cabang utamanya: sastra Amerika-Hispanik dan sastra Brasil. Meski masing-masing memiliki perbedaan mencolok, tiga jenis sastra ini punya kesamaan corak: konflik yang lebih ideologis daripada sastra sendiri, yakni kecenderungan kosmopolitan melawan tendensi nativis, antara Eropaisme vs Amerikanisme. Apa yang diwariskan perselisihan ini? Perdebatan sudah tiada, yang tersisa adalah karya. Di luar soal kesamaan tersebut, ketiga jenis sastra ini memiliki banyak perbedaan yang mendalam. Salah satunya karena posisinya sebagai bagian dari sejarah yang jauh lebih besar daripada sastra. Perkembangan sastra Anglo-Amerika bertepatan dengan kebangkitan Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia. Sedangkan kebangkitan sastra kami bersamaan dengan terjadinya petaka sosial-politik dan pergolakan nasional. Fakta ini sekaligus membuktikan keterbatasan teori determinisme sosial dan historis: kemunduran imperium dan gejolak sosial terkadang bertepatan dengan momen lahirnya kemegahan tradisi artistik dan sastra. Li-Po dan Tu Fu [pujangga besar Cina abad 8 Masehi-red] menyaksikan jatuhnya Dinasti Tang; Velázquez [Diego Velázquez, pelukis Spanyol abad 17 masehi-red] melukis untuk Felipe IV [Raja Spanyol-red]; Seneca dan Lucan hidup di masa yang sama sekaligus menjadi korban Kaisar Romawi, Nero. Sementara perbedaan lain di antara ketiga jenis sastra ini terkait dengan asal usul kesusastraan, yang lebih banyak terlihat pada sejumlah karya ketimbang dalam karakternya masing-masing. Namun, apakah bisa sastra-sastra itu disebut memiliki karakter khusus? Apakah sastra-sastra itu memiliki satu unsur umum yang membedakannya dari sastra yang lain? Saya meragukan itu ada. Sastra tidak bisa didefinisikan dengan menunjukkan sejumlah karakter aneh yang tidak berwujud; sebab ia sekumpulan karya unik yang disatukan oleh relasi oposisi sekaligus afinitas.

Perbedaan mendasar pertama antara sastra Amerika Latin dan Anglo-Amerika terletak pada keragaman asal-usul mereka. Keduanya berawal dari proyeksi Eropa. Proyeksi dari sebuah pulau dalam kasus Amerika Utara. Sementara dalam kasus kami [Amerika Latin-red], Proyeksi dari sebuah semenanjung. Dua kawasan ini memiliki kondisi geografis, historis dan budaya eksentrik. Asal-usul Amerika Utara adalah Inggris dan reformasi protestan; sementara asal usul kami ialah Spanyol, Portugal dan Katholik. Untuk kasus Amerika-Hispanik, saya perlu menyebut apa yang membedakan Spanyol dengan negara-negara Eropa lainnya, untuk menunjukkan identitas historis kami yang unik. Spanyol tidak kalah eksentrik dari Inggris, tetapi keunikan keduanya bertolakbelakang. Tradisi Inggris eksentrik karena berakar di pulau yang mengisolasi diri: eksentrik yang eksklusif. Adapun tradisi Spanyol eksentrik karena tumbuh di semenanjung dan menyerap unsur dari pelbagai peradaban yang pernah ada di masa lalu: eksentrik yang inklusif. Di dalam tradisi Spanyol ada unsur Katholik, yang didahului awalnya oleh pengaruh kerajaan Visigoth pemeluk bidah arianisme, kemudian dominasi peradaban Arab selama berabad-abad dan masuknya tradisi Yahudi, era Reconquesta serta warna-warna khusus lainnya. Karakter eksentrik inklusif pada tradisi Spanyol itu direproduksi secara berlipat ganda di benua Amerika, terutama di Meksiko dan Peru: wilayah tempat peradaban kuno yang megah pernah ada. Di Meksiko, orang-orang Spanyol berjumpa dengan sejarah dan wilayah peradaban kuno. Sejarah yang masih hidup itu adalah sebuah anugerah, bukan masa lalu. Kuil-kuil dan para dewa Meksiko pra-Kolombia memang telah menjadi tumpukan reruntuhan, tetapi jiwanya yang memberi nafas kehidupan tidak lenyap; tradisi itu berbicara kepada kami dengan bahasa abadi berupa mitos, legenda, koeksistensi sosial, seni populer dan adat istiadat. Menjadi penulis di Meksiko berarti harus mendengarkan suara-suara yang terus hadir itu. Mendengarkannya, berdialog dengannya, menafsirkannya: mengekspresikannya. Paparan singkat, yang agak menyimpang dari pembahasan di awal, ini semoga bisa memberikan pemahaman soal relasi ganjil yang mengikat sekaligus memisahkan kami dari Eropa.

Kesadaran akan keterpisahan dari Eropa menjadi bagian dari perjalanan spiritual kami. Terkadang, perpisahan membikin luka yang membekas, rasa sakit yang mendorong kritik-diri; sementara di lain waktu ia memunculkan tantangan, dorongan untuk bertindak, maju, serta bertemu yang liyan dan dunia luar. Perasaan tercerabut dari akar itu memang universal dan tak hanya dirasakan orang-orang Amerika-Hispanik. Perasaan itu muncul tepat saat kelahiran kita: ketika kita direnggut dari yang utuh dan terdampar di tanah asing. Pengalaman seperti ini menjadi luka yang tidak pernah sembuh. Perasaan ini kedalaman yang paling sulit dipahami pada setiap orang; semua upaya, perbuatan, tindakan dan mimpi kita menjadi jembatan yang terancang untuk menghadapi perpisahan sekaligus penyatuan kembali dengan dunia dan sesama manusia. Dengan demikian, kehidupan semua orang dan sejarah kolektif umat manusia bisa dilihat sebagai upaya merekonstruksi apa yang asali. Sebuah pengobatan tak berujung untuk menyembuhkan keterbelahan manusia. Namun, saya tidak bermaksud memberikan deskripsi lain tentang perasaan ini. Saya hanya menegaskan fakta bahwa, bagi kami, kondisi eksistensial seperti ini mengekspresikan bentuknya di sepanjang sejarah. Artinya, hal itu menjadi kesadaran dalam sejarah kami. Bagaimana dan kapan perasaan itu muncul dan bertransformasi menjadi kesadaran? Jawaban atas pertanyaan bermata dua ini dapat dijelaskan dalam bentuk teori maupun testimoni pribadi. Saya lebih suka yang terakhir: sebab ada banyak teori dan tidak ada yang sepenuhnya meyakinkan.

Perasaan keterpisahan selalu terikat dengan ingatan saya yang paling awal dan samar: tangisan pertama, ketakutan pertama. Seperti bayi lainnya, saya pun membangun jembatan emosional dalam imaji agar dapat terhubung dengan dunia dan orang lain. Saya tumbuh di kota pinggiran Mexico City, menempati rumah tua bobrok, yang memiliki kebun seperti hutan, dan sebuah ruangan besar dipenuhi buku. Permainan pertama sekaligus menjadi pelajaran pertama. Kebun itu segera menjadi pusat dunia saya; sementara perpustakaan adalah gua yang menyenangkan. Saya biasa membaca dan bermain dengan sepupu dan teman sekolah. Di kebun itu ada kuil vegetasi: pohon ara, empat pohon pinus, tiga pohon abu, sebuah tanaman nighthade, pohon delima, rumput liar, dan tanaman berduri. Dinding-dinding batu bata. Waktu saat itu terasa elastis; ruang terlihat seperti roda yang berputar. Di setiap saat, pada masa lalu atau masa depan, dalam kenyataan maupun imajinasi, menjadi sebuah kehadiran murni. Ruang mengubah dirinya tanpa henti. Yang ada di luar ada di sini, semuanya di sini: sebuah lembah, gunung, negara yang jauh, teras tetangga. Buku-buku bergambar, terutama bertema sejarah, secara sepenuhnya membuka dan menyediakan gambaran tentang gurun dan hutan, istana dan gubuk, prajurit dan putri, pengemis dan raja. Kami ‘karam’ bersama Sinbad dan Robinson. Kami ‘bertarung’ bersama d’Artagnan. Kami ‘menaklukkan’ Valencia bersama El Cid. Saya pun pernah sangat ingin tinggal selamanya di Pulau Calypso! Di musim panas, cabang-cabang hijau pohon ara akan berayun seperti layar sebuah kafilah atau kapal bajak laut. Dan di atas tiang kapal, sambil terhuyung oleh angin, saya berkhayal bisa melihat pulau dan benua: daratan yang segera lenyap begitu mereka menjadi nyata. Dunia tidak terbatas namun selalu dalam jangkauan; waktu seakan lentur dan memberikan kebahagiaan tak ada habisnya.

Kapan pesona itu bubar? Prosesnya bertahap, tidak tiba-tiba. Sulit untuk menerima dikhianati teman, ditipu wanita yang kita cintai, atau memahami bahwa ide soal kebebasan sebenarnya topeng seorang tiran. Apa yang disebut “mengetahui” adalah proses yang lambat dan rumit, karena kita sendiri menjadi kaki-tangan dari kesalahan dan muslihat kita. Meski demikian, saya dapat mengingat dengan jelas sebuah insiden yang merupakan pertanda awal dari situasi itu, satu kejadian yang sebenarnya cepat terlupakan. Saya masih berusia enam tahun ketika seorang sepupu yang berumur sedikit lebih dewasa menunjukkan sebuah majalah dari Amerika Utara berisi foto tentara berbaris di sepanjang jalan besar, mungkin di New York. “Mereka kembali dari perang,” kata sepupu saya. Kata-kata itu menggelisahkan, sebagaimana ramalan soal akhir dunia atau kehadiran Kristus yang kedua. Semula, saya menganggap bahwa di suatu tempat nun jauh, perang berakhir pada beberapa tahun sebelumnya, dan prajurit telah berbaris merayakan kemenangannya. Bagi saya, perang terjadi di waktu yang lain, bukan di sini dan sekarang. Foto di majalah itu membantahnya. Saya pun merasa benar-benar terpisah dari masa kini.

Sejak saat itu, waktu mulai retak dan semakin retak. Ruang pun terlihat semakin beragam. Pengalaman seperti itu terulang bertambah sering. Berita apa pun, frasa yang biasa sekalipun, berita utama di surat kabar: semua membuktikan keberadaan dunia luar dan ketidaktahuan saya. Saya merasa dunia seakan-akan terbelah dan saya tidak mendiami ‘masa kini’. Pemahaman saya soal kekinian rontok: waktu nyata ada di tempat lain. Waktu saya, yakni saat berada di kebun, bersama pohon ara, bermain dengan teman-teman, rasa kantuk di bawah pepohonan ketika berteduh dari terik mentari pada pukul tiga sore, melihat buah ara terbelah (warnanya hitam dan merah seperti batu bara menyala, tetapi rasanya manis dan segar): adalah waktu yang fiktif. Terlepas dari apa yang dikatakan oleh akal sehat saya, sejak saat itu, waktu milik yang liyan, terasa lebih nyata karena benar-benar menunjukkan ‘yang kini’. Saya pun menerima sesuatu yang tak terhindarkan: menjadi dewasa. Begitulah awal mula saya terusir dari kekinian.

Mungkin tampak paradoks saat mengatakan bahwa kami terusir dari ‘masa kini’, tetapi itu adalah perasaan yang kami semua memilikinya pada suatu saat. Beberapa dari kami mungkin pertama kali mengalaminya sebagai kutukan, kemudian berubah menjadi kesadaran dan tindakan. Pencarian terhadap ‘yang kini’ bukanlah pencarian surga duniawi atau keabadian: ini adalah pencarian terhadap realitas nyata. Bagi kami, sebagai orang Amerika-Hispanik, masa kini tidak berada di negara kami: sebab itu adalah waktu yang dijalani orang lain di Inggris, Perancis dan Jerman. Masa kini adalah waktu untuk New York, Paris dan London. Kami harus pergi dan mencarinya untuk membawanya pulang. Tahun-tahun itu juga merupakan masa saat saya menemukan sastra. Saya mulai menulis puisi. Saya tidak tahu apa yang membuat saya menulis puisi: Saya hanya terdorong oleh kebutuhan batin yang sulit didefinisikan. Baru sekarang saya mengerti, bahwa ada relasi rahasia antara apa yang saya sebut ‘terusir dari masa kini’ dengan penulisan puisi. Puisi adalah cinta sesaat yang berusaha hidup kembali dalam sajak, sehingga terpisah dari urutan waktu, dan menjadi kekinian yang utuh. Tetapi, pada saat itu saya menulis tanpa bertanya-tanya mengapa saya melakukannya. Saya sedang mencari gerbang ke masa kini: Saya ingin menjadi bagian dari waktu dan abad saya. Beberapa saat kemudian, obsesi ini menjadi ide kokoh: Saya ingin menjadi penyair modern. Pencarian saya terhadap modernitas pun dimulai.

Apa itu modernitas? Pertama-tama ini adalah istilah yang ambigu: ada banyak jenis modernitas, seperti halnya terdapat beragam masyarakat. Masing-masing memiliki modernitasnya sendiri. Arti kata modernitas tidak pasti dan sewenang-wenang, seperti nama periode yang mendahuluinya: Abad Pertengahan. Jika kita merasa bagian dari masa modern, karena membandingkan saat ini dengan situasi di abad pertengahan, mungkinkah kita ada di masa abad pertengahan dari modernitas di masa depan? Apakah ada nama yang berubah karena waktu menunjukkan nama aslinya? Modernitas adalah kata yang mencari artinya. Apakah modernitas adalah sebuah gagasan, fatamorgana atau momen sejarah? Apakah kita anak-anak modernitas atau malah penciptanya? Tidak ada yang tahu pasti soal ini. Namun, itu tidak menjadi masalah: kami mengikutinya, kami mengejarnya. Bagi saya pada saat itu, modernitas menyatu dengan kekinian atau lebih tepatnya memproduksinya: kekinian adalah bunga paling indah dari modernitas. Kasus saya tidak unik dan bukan pengecualian: sejak era Simbolisme, semua penyair modern mengejar sosok magnetis yang sulit dipahami sekaligus mempesona ini. Charles Pierre Baudelaire adalah sang pemula. Baudelaire juga yang pertama menyentuh istilah modernitas dan menemukan bahwa ia hanyalah remahan waktu di genggaman seseorang. Saya tidak akan menceritakan petualangan saya dalam mengejar modernitas: kisahnya tidak jauh berbeda dari para penyair abad ke-20 lainnya. Modernitas telah menjadi hasrat universal. Sejak 1850, modernitas menjadi dewi sekaligus iblis kita. Dalam beberapa tahun terakhir, ada sejumlah upaya untuk mengusirnya sehingga muncul wacana “postmodernisme”. Tapi apa itu postmodernisme, bukankah itu modernitas yang bahkan lebih modern?

Bagi kami, orang Amerika Latin, pencarian terhadap modernitas dalam puisi secara historis paralel dengan upaya berulang-ulang untuk memodernisasi negara kami. Kecenderungan ini mulai muncul pada akhir abad ke-18, dan juga terjadi di Spanyol. Amerika Serikat dilahirkan di era modern, dan sebagaimana pengamatan de Tocqueville, pada 1830 telah menjadi rahim masa depan. Sedangkan negara kami dilahirkan pada saat Spanyol dan Portugal bergerak menjauh dari modernitas. Inilah sebabnya sering ada pembicaraan tentang “Eropaisasi” di negara kami: modernisme ada di luar dan harus diimpor. Dalam sejarah Meksiko, proses ini dimulai tepat sebelum perang kemerdekaan. Kemudian menjadi debat ideologis dan pertikaian politik hebat yang membelah masyarakat Meksiko selama abad ke-19. Salah satunya tidak terkait dengan apakah perlu ada reformasi, melainkan bagaimana menjalakannya: Revolusi Meksiko. Tidak seperti mitranya di abad ke-20, revolusi Meksiko bukanlah ekspresi ideologi utopis yang samar-samar, melainkan ledakan realitas yang secara historis dan psikologis telah ditindas. Revolusi itu tidak dilahirkan kelompok ideologis yang hendak menerapkan prinsip-prinsip berdasarkan teori politik. Revolusi itu merupakan pemberontakan populer yang membuka tabir apa yang selama ini disembunyikan. Oleh karena itu, lebih tepat disebut pencerahan daripada revolusi. Meksiko mencari kekinian di luar hanya untuk menemukannya di dalam: yang terkubur tetapi hidup. Pencarian terhadap modernitas membuat kami menemukan masa lampau, wajah bangsa yang tersembunyi. Saya tidak yakin apakah pelajaran sejarah tak terduga ini telah dipelajari semua: ada jembatan antara tradisi dan modernitas. Ketika keduanya saling menutup diri, tradisi mandek dan modernitas menguap. Ketika keduanya saling terhubung, modernitas menghidupi tradisi, meski yang terakhir memberikan jawaban lebih mendalam dan berbobot.

Pencarian terhadap modernitas dalam puisi adalah sebuah ‘pencarian’ [Quest] dalam arti kiasan dengan rasa kekesatriaan di era abad ke-12. Saya tidak menemukan Cawan meskipun sudah melintasi banyak daratan tak berpenghuni, mengunjungi istana cermin dan berkemah dengan suku-suku hantu. Namun, saya menemukan tradisi modern. Sebab, modernitas bukanlah mazhab puisi melainkan garis keturunan, sebuah keluarga yang tersebar ke banyak benua selama dua abad dan mampu bertahan di tengah perubahan dan kemalangan: pengabaian, isolasi dan penghakiman atas nama ortodoksi agama, politik, akademik dan seksual. Oleh karena memiliki tradisi modern, dan bukan doktrin, mereka mampu bertahan sekaligus berubah pada saat yang sama. Hal ini juga membuat modernitas dalam puisi beragam: setiap petualangan dalam puisi berbeda-beda dan masing-masing penyair menanam tanaman yang beragam di hutan ajaib tempat pohon-pohon bisa berbicara. Namun, jika karya-karya puisi beragam dan masing-masing menempuh jalan berbeda, apakah yang menyatukan seluruh penyair? [Jawabannya-red] Bukan estetika, melainkan pencarian.

Pencarian yang saya lakukan tidak fantastis meski menemukan bahwa gagasan modernitas adalah fatamorgana, sebundel refleksi belaka. Sebab, suatu hari, saya justru kembali ke titik awal, alih-alih bergerak maju: pencarian terhadap modernitas adalah jalan menuju asal usul. Modernitas menuntun saya kepada akar asal usul saya, kepada peradaban kuno bangsa saya. Perpisahan akhirnya berubah menjadi rekonsiliasi. Saya pun kemudian memahami bahwa penyair adalah denyut nadi yang mengalun ritmis di banyak generasi.

*
Bersambung..
Artikel Lengkap “Octavio Paz: Mencari Masa Kini” bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Klik “Pre Order Buku Memikirkan Kata” untuk pemesanan.

Tabloids

Memikirkan Kata?

mm

Published

on

Layout isi buku "Memikirkan Kata" | Photo by Sabrina Puisi AZ

Editor’s Note

Memikirkan Kata?

Menulis dan buku-buku adalah sebuah seni. Melampaui keliteraturan—dalam arti kenikmatan yang dikandung di dalamnya memerlukan hampir seluruh dari diri kita, menghabiskan nyaris semua waktu yang kita miliki jika ingin mencecap nikmatnya.

Seorang bisa saja memiliki kenikmatan itu—dengan membeli buku-buku terbaik karya para pengarang. Seorang juga bisa memasak untuk dirinya sendiri, atau menghidangkan kreasi final masakannya bagi yang lain agar bisa turut mencecap kenikmatan puncak yang bisa dicapainya.

Apa pun pilihannya meski tidak semua harus menjadi Chef, setiap orang harus bisa memasak—bisa menulis. Paling tidak untuk memberi makan batinnya sendiri.

Buku “Memikirkan Kata” dikerjakan salah satunya dengan motif semacam itu. Agar setiap kita, para pembaca, bisa memasak, menulis paling tidak untuk diri sendiri. Sebab bagaimana pun membaca dan juga menulis adalah aktivitas yang memberi pengayaan batin dan intelektual. Jika kita percaya lebih dari itu, bahwa dengan menulis seorang bisa berkontribusi bagi kebaikan dan majunya peradaban, maka motif yang tampaknya sederhana tersebut mungkin juga mengandung motif politik (kebudayaan).

Sementara itu untuk bisa memasak, orang butuh tahu ragam bumbu-bumbu yang pada setiap masakan yang dikehendaki, berbeda pula rupa bumbu maupun teknik mengolahnya; juga kapan memasukkan masing-masing bumbu, kapan mengurangi atau membesarkan apinya, semua itu butuh dipelajari dan hasilnya selalu khas, unik dan personal—bahkan dengan bumbu sama, bisa menghasilkan rupa dan rasa hidangan yang berbeda-beda—juga penikmat yang khas dan berbeda pula.

Dalam andaian semacam itu, teknik memasak, teknik menulis, pengetahuan akan bumbu-bumbu, cara mengolah dan cara menghidangkan perlu dipelajari dan dimiliki, meski hasil akhir, dan pada tahapan “pengalaman dan jam tempuh”, semua fase kaidah dan pelajaran teknik itu boleh dilanggar dan dilampaui. Tak terkecuali dalam seni menulis, berlaku juga hal serupa.

Seperti para pendaki menuju puncak, ia sudah lagi berjalan dengan spirit, ketenangan, serta kematangan batin yang didapat tak lain dari semua proses tidak mudah dan tidak sebentar dalam melampaui kaidah-kaidah teknis tersebut. Ia telah menempa diri dengan kejujuran, komitmen dan kesadaran malampui pencapaian subjektif semata. Hemingway suatu kali berujar: “Hal tersulit yang harus dilakukan penulis adalah menuliskan prosa dengan sejujur-jujurnya. Pertama, ia harus tahu subjek yang hendak diceritakkan, lalu tahu caranya menulis—keduanya butuh latihan seumur hidup.”

Sementara Natalie Goldberg pada puncaknya menyeru hal senada: “Soalnya akan seperti seorang master Zen yang mengajarkan kepadamu tentang bermeditasi selama setahun, dan pada tahun berikutnya dia berkata, ‘Abaikan rasa iba kasihan. Berdiri dengan kepala kita sendiri itu juga termasuk ke dalam meditasi’.”

Meski demikian buku “Memikirkan Kata” bukan pertama-tama disusun untuk menjadi “buku panduan” ia dikerjakan untuk membuat kita memiliki kesadaran akan pentingnya dunia buku, membaca dan juga menulis. Juga segala kemungkinan kemajuan yang bisa dibuat dengan “berpikir” dan “kata”.

Ia adalah awalan dan pondasi: pikiran yang kritis, logis, sebab luasnya wasasan dan berlimpahnya pengalaman, bisa menjadi bahan baku utama bangunan peradaban yang kita harapkan—tetapi ia membutuhkan perangkat, dan “kata” adalah bahan baku utamanya, ia disusun menjadi kata-kata, menjadi kalimat, sehingga memiliki makna dan dengan cara itu ia memperlihatkan eksistentinya untuk dipahami, memberi harapan dan sekalian menghadirkan keindahan. Saya rasa itu juga maksud dari judul yang dipilih untuk buku ini—Memikirkan Kata.

*

Sementara itu  mari kita bicara realitas faktual. Tetapi tidak dalam bahasan tentang angka dan pencapaian memerangi buta huruf, tinggi dan rendahnya minat baca, angka perpustakaan dan toko buku yang bangsa ini meiliki, atau kualitas pendidikan dan penyelenggaraanya, itu terlampau besar untuk bisa diwacankan dengan pengerjaan buku ini.

Faktualitas yang menjadi pijakan keinginan menghadirkan buku ini adalah faktualitas kultural: bahwa nyaris tanpa perdebatan untuk menyebut budaya literasi, khususnya “budaya menulis” masyarakat kita belum lagi memadai, atau terfasilitasi dalam kaitannya dengan kebijakan publik, atau untuk mengatakan secara lebih konstan: membaca dan menulis belum menjadi budaya bangsa ini. Pada tahap budaya artinya ia menjadi cara hidup masyarakat—bukan sekadar kebutuhan praktis misalnya karena soal pekerjaan atau sekolah barulah seseorang menulis. Budaya menulis itu penting, tetapi harus dimulai juga dari kesadaran bahwa membaca dan menulis adalah begitu penting bagi kemajuan peradaban kita.

Secara praktis, pentingnya kemampuan menulis sebenarnya tidak hanya baik dan diperlukan mereka yang butuh berkembang dalam dunia sastra dan menulis buku-buku, tapi juga dunia industri, iklan, film, kampanye lembaga sosial, kebutuhan dalam ruang pendidikan, benar dan hoaks dalam relatifitas dunia politik, bahkan juga kebutuhan personal branding di era serba digital saat ini.  Di sisi lain perkembangan dunia digital dan teknologi informasi saat ini butuh diimbangi dengan kemampuan literasi dalam artinya yang luas. Dan menulis adalah salah satu pokok yang bisa menjadi pondasi penting khususnya bagi generasi muda dalam peningkatan kapasitas dan perkembangan logika berpikirnya sehingga dapat berkompetisi dan memahami dinamika sosial yang bergerak kian lekas—disruptive. Kemampuan dan kemajuan budaya literasi semacam itu tidak hanya memberi dampak kemajuan tapi juga sekaligus penangkal yang diharpkan mampu mengalahkan lubang hitam puritanisme dan radikalisme. Karenanya yang terpenting dari hal itu adalah terawatnya kemanusiaan dan empati sosial.

*

Buku “Memikirkan Kata” sendiri terdiri dari 9 bab utama, yaitu:  (1) Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis. (2) Voice of Editor; Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan (3) The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan (4) Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu  (5) Tentang Inspirasi: Bagaimana ide bekerja—dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez (6) Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah (7) Artist at Work—Bagaimana Pengarang itu Begitu Keras Bekerja. (8) Interview—Merayakan Obrolan Tentang Semesta Seni. (9) Nasihat Mengarang dari Penulis Buku Best Seller Dunia.

Kesembilan bab tersebut ditujukan untuk tiga pondasi utama yaitu; Pertama: melalui bab 1-2 para pembaca disuguhi “spirit” dunia buku, dunia menulis, bahwa menulis bukan pekerjaan mudah dan untuk menjadi penulis bermutu para penulis dunia telah melalui proses yang tidak satu pun gampang dan instan, bahkan memerlukan waktu belajar seumur hidupnya. Kedua; melalui bab 3-5 pembaca akan mendapatkan dasar teknikal bagaimana menullis baik dan bermutu, bahwa menulis bukan sekedar “mengarang”, ia membutuhkan kapasitas, wawasan pengetahuan, dan pendidikan teknis yang tuntas tentang bahasa, tentang tema, tentang ide dan teknik yang dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis lainnya. Ketiga: melalui bab 6 pembaca mendapat “bonus” berupa tips atau panduan untuk menjadikan kerja menulisnya efektif. Dan Keempat: melalui bab 7-8 pembaca akan mendapatkan keluasan perspektif bahwa menulis bukan hanya soal teknik, kemampuan bagus dan tujuan menjadi penulis besar, tapi dunia menulis memiliki tanggung jawab moral sebagaimana pengakuan puncak yang ditulis para peraih nobel dalam bab tersebut. Terakhir adalah bonus bagaimana para penulis dunia terkini, umumnya penulis best seller dunia menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini melalui ulasan atas karyanya, penerjemahan dan juga wawancara atas proses kreeatifnya. Semua untuk membantu kita hidup dalam seni, hidup dalam kata-kata; untuk menjadi pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas.

*

Dalam ruang editor’s note yang sempit dan terbatas ini, izinkan saya—dan sekalian saya meminta maaf untuk menjadikan paragraf ini menjadi begitu pribadi—tapi saya harus menyampaikan rasa terimakasih mendalam kepada para “penyumbang” tulisan dalam buku ini melalui karya penerjemahan yang dikerjakan: Ladinata, Virdika R Utama, Susan Gui, Marlina Sopiana, Regina N. Helnaz, Addi M Idham, Fleur d Nufus, Agus Teguh—mereka orang-orang dengan bertumpuk-berlimpah pekerjaan pribadi dalam profesinya masing-masing—sebagai pengajar/ dosen, jurnalis, editor penerbitan dan pimpinan lembaga, begitu rupa kesibukan dan padatnya jadwal tapi dedikasinya untuk penerjemahan bagi buku ini dengan sigap mereka “singsingkan lengan baju !”—meski kita berjalan begitu lambat, tapi itu semua sepadan dengan hasilnya! Nama yang tidak bisa ditinggalkan adalah Aldia Putra, tanpa dia buku ini tidak bisa hadir dengan perwajahan yang telah diupayakan membuat anda menyukainya, untuk berkenan membawanya ke dalam kamar dan menempatkannya di tempat layak. Aldi untuk empat bulan lebih menemani saya duduk bekerja menggarap desain dan layout isi buku ini, sigap bekerjasama untuk ide yang kadang berubah saban jam bahkan menit, menggeser dan memindah, membuang dan menambahkan apa yang berkelebat dan terasa lebih bagus, itu selalu dengan gairah seorang berusia cukup lanjut dan tiap kali sesak nafas untuk melewati pukul sebelas malam. Kepada Genta dan Ndari, terimakasih untuk mengerjakan sampul buku ini degan sangat mendalam! Begitulah buku ini melibatkan orang-orang dedikatif, ceria dan tanpa batas dalam bekerja untuk hal yang mereka pikir baik dan akan bermanfaat. Tanpa mereka semua, buku ini dengan segala kekurangannya tidak akan di tangan anda saat ini. Hampir satu tahun lebih pengerjaan buku ini, semoga bermanfaat untuk  generasi indonesia dan terutama kemanusiaan kita.

Pada ujungnya, saya ingin menutup dengan keyakinan Virginia Wolf yang pemikirannya tentang kata-kata dan seni menulis juga tertuang dalam buku ini: “Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Kata-kata, menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Selamat membaca, selamat memikirkan kata…

*) Sabiq Carebesth, editor dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

 

Continue Reading

Tabloids

Rekomendasi Buku Klasik dari editor “Book Review” Galeri Buku Jakarta: Dari Hamlet Hingga Animal Farm

mm

Published

on

photo by Toby Melville / via Today

Classic books recommended by the editors of galeribukujakarta.com Book Review: Frankenstein, by Mary Shelley: Sebenarnya agak mengagetkan, saat orang-orang yang hanya menonton filmnya, memiliki anggapan kurang lebih sama soal monster di novel ini. Padahal, sebenarnya tidak begitu. Film menggambarkan monster itu sebagai binatang buas yang bisu dan berjalan lamban. Sementara di dalam novel, makhluk itu (namanya bukan Frankenstein, itu nama dokter) dikisahkan secara berbeda —Novel ini dipecah menjadi beberapa bagian berbeda, dengan beberapa pencerita. Makhluk itu dikisahkan mengatakan hal-hal seperti, “Hidup, meskipun itu mungkin hanya akumulasi kesedihan, sangat berharga bagiku, dan aku akan mempertahankannya.” Gambaran soal monster ini di dalam novel jauh lebih menarik dan puitis serta jauh lebih kompleks ketimbang sekadar adanya beberapa baut di lehernya. | Heart of Darkness by Joseph Conrad | Novel yang menginspirasi film Apocalypse Now (1979) tersebut sebenarnya lebih dari sekadar kata-kata si aktor Marlon Brando yang bergumam, “Kengerian … kengerian.” Novel ini bercerita tentang kisah perjalanan dengan perahu menyusuri sebuah sungai tidak bernama di Afrika untuk mencari pedagang gading jahat bernama Kurtz. “Seorang utusan dari belas kasihan, sains dan kemajuan” merupakan istilah bagus untuk menyebut bahwa Kurtz mungkin agak gila. Novel ini sebenarnya berkisah soal horor yang dibawa imperalisme, dan bagaimana “orang-orang liar” sebenarnya tidak seperti yang dinarasikan peradaban modern kepada kita.| Anna Karenina, by Leo Tolstoy: Novel ini setebal 864 halaman. Karenanya tidak banyak siswa sekolah menengah yang secara disiplin menandaskan seluruh isinya. Hal itu sebuah kerugian bagi mereka. Novel klasik Karya Tolstoy ini, di mana semua orang jatuh cinta dengan seseorang yang tidak mencintai mereka kembali, seperti film komedi romantis terbaik yang tidak pernah diproduksi. Dikisahkan, Konstantin ingin menikahi Kitty Shtcherbatsky, yang hanya terpikat dengan Count Vronsky, yang lebih tertarik pada Nyonya Karenina. Ada banyak pelajaran penting yang bisa Anda dapatkan, termasuk contoh kasus soal jangan terburu-buru menjalin hubungan. Dan, mengutip parafrase Rolling Stones: “Anda tidak selalu bisa mendapatkan apa yang Anda inginkan” — tetapi jika Anda berusaha, Anda mungkin menemukan kekasih yang Anda inginkan. | The Diary of a Young Girl, by Anne Frank: Adalah tidak mungkin membaca buku harian, yang ditulis seorang gadis muda saat bersembunyi dari Nazi bersama keluarga mereka di sebuah loteng rumah di Amsterdam, ini dan tidak terpengaruh olehnya. Dengan banyak pelajaran untuk masa depan dan wawasan soal bagaimana manusia dapat menjadi sangat mengerikan sekaligus baik terhadap satu sama lain, buku ini akan mengubah Anda dengan cara yang bahkan tidak dapat Anda pahami. Jika Anda sekarang menjadi orangtua, bersiaplah untuk bercucuran air mata saat membaca buku ini. | Their Eyes Were Watching God, by Zora Neale Hurston | Salah satu topik penting di novel inovatif ini — tentang kemauan keras seorang perempuan yang ingin lari dari harapan masyarakat kulit hitam di awal tahun 1900-an—adalah bahwa Anda hanya bisa menemukan kepuasan sejati jika mau melihat ke luar diri Anda. Tidak mudah bagi remaja untuk menghargai pelajaran ini. Lebih penting lagi, buku ini, yang ditulis oleh seorang wanita yang disebut “Faulkner kulit hitam,” memiliki lebih banyak humor subtil daripada yang mungkin anda temui saat pertama kali membacanya. | Sun Also Rises by Ernest Hemingway: Sekelompok ekspatriat Amerika berpesta pora di Paris karena mereka begitu kecewa dan bosan dan kemudian mereka pergi ke Spanyol untuk menonton adu banteng dan minum-minum lagi. Apakah itu yang disebut the Lost Generation berkelana tanpa tujuan, ataukah itu termasuk liburan terbaik? (Juga, mencoba memahami misteri “luka perang” Jake yang membuatnya impoten jelas lebih menyenangkan bagi orang dewasa yang mengerti anatomi.) | Great Expectations by Charles Dickens: Di pertengahan abad 19 di Inggris, seorang anak yatim miskin bernama Pip meyakini bahwa entah bagaimana dia akan keluar dari penderitaan, hidup miskin dan menjadi seorang pria berharta, dan akhirnya meyakinkan perempuan idamannya, Estella, agar jatuh cinta padanya dan menikah. Lalu seorang dermawan yang tak diketahui identitasnya menjadikannya kaya, dan tak mengejutkan bahwa hal itu tidak membuatnya bahagia, dan pada akhirnya dia kehilangan segalanya. Buku ini seperti 500 halaman yang mengingatkan mengapa kau tak seharusnya bermain lotre. | The Invisible Man by Ralph Ellison: Saat pertama kali membacanya di masa sekolah menengah, kau mungkin kecewa karena bukunya sama sekali tak mendekati film dengan judul yang sama, karena kisahnya tidak melibatkan seorang pria tak terlihat yang berbalut plester sungguhan. Mem-bosankan! Tapi saat dewasa, kau bisa memahami simbolismenya dengan lebih baik bahwa Ellison dengan sangat cerdas menyelipkan ke dalam ceritanya, sebuah penggambaran bukan hanya soal seorang pria yang merasa dirampas haknya oleh negeri yang dia usahakan dengan keras untuk beradaptasi, tapi tentang goresan-goresan luka rasisme yang bergelayut di bawah permukaan, dan bagaimana orang kulit hitam bisa merasa tak terlihat di tengah masyarakat Amerika. | Catcher in The Rye by J. D. Salinger: Holden Caulfied mungkin terlihat seperti karakter yang hanya dapat dipahami oleh reamaja yang penuh kekecewaan. Tapi saat kau menjauh dari masa itu, kau menyadari betapa mudahnya melihat dunia lewat pandangan Holden, mencemooh kepalsuan dan siapa pun yang tidak hidup sesuai dengan standar moralmu, dan kau mulai memahami bagaimana pemberontakkan remaja tak selalu layak ditiru, dan sebagian dari mereka mungkin hanya anak orang kaya manja yang butuh diabaikan. “Semua orang dungu tak suka saat kau memanggilnya dungu,” kata Holden, yang mungkin saja dirinya dungu. | Fahrenheit 451 by Ray Bradbury: Jika adaptasi terbarunya (diperanan Michael Shannon dan Michael B. Jordan) tak membangkitkan seleramu untuk memungut salinan kumal distopia klasik Bradbury milikmu, kami hanya akan berasumsi bahwa kamu tak tahu itu berasal dari sebuah buku. Benar, itu dari buku. Dan dongeng mengerikan tentang masa depan distopia di mana buku-buku tak diizinkan dan dibakar oleh “petugas pemadam kebakaran”-dan satu-satunya hiburan yang legal adalah menonton televisi raksasa sebesar dinding, menyetir sangat kencang, dan mendengarkan “Seashell Radio” dengan alat-alat yang menempel di telinga-mungkin terlihat sedikit lebih familiar dengan kehidupan nyata sekarang dibanding saat kau di sekolah menengah dulu. | To Kill a Mockingbird by Harper Lee: Novel pemenang hadiah Pulitzer ini baru saja terpilih sebagai “Novel Amerika yang paling disukai” sebagai bagian dari seri PBS “Great American Read”, dan rasanya tak mungkin para fans Mockingbird hanya membacanya satu kali saat mereka ada di kelas dua sekolah menengah. Hal yang menakjubkan dari melihat kembali kisah ini adalah sebesar apa risiko yang dihadapi Atticus Finch, yang bukan hanya bisa menerima kekalahan dalam satu kasus hukum. Membela seorang pria kulit hitam dengan tuduhan palsu di Alabama tahun 40an merupakan simbol dari pekerjaan yang sia-sia, tetapi Atticus berjuang dengan kesungguhan moral dari seseorang yang tahu bahwa hal yang benar tidak selalu berarti hal yang mudah atau aman. | Animal Farm by George Orwell: “Hadapilah,” kata salah satu karakter dalam satir brutal karya Orwell, “hidup kita menyedihkan, melelahkan, dan pendek.” Tentu saja, dia merujuk pada binatang-binatang di peternakan Manor yang terlalu keras bekerja dan disiksa, yang pada akhirnya memutuskan untuk memberontak terhadap penindas dan mendirikan pemerintahan baru yang mirip sekali dengan Soviet Union di masa kekuasaan Komunis tetapi dengan lebih banyak tapal kuda. Kisah ini merupakan sebuah alegori tentang kodrat kekuasaan, dan penurunan moral bahkan dalam hal-hal baik, dan meskipun kisah itu ditulis sesuai pada masanya, diyakini di dalamnya terdapat tanda-tanda mengenai totalitarianisme modern yang membuat buku itu terasa semakin relevan. The Divine Comedy by Dante Alighieri: “Tak ada kesedihan yang lebih besar dibanding mengenang kebahagiaan di saat kau menderita.” Tunggu, benarkah kalimat itu ada di dalam buku Dante, yang mungkin kau ingat sebagai puisi yang ditulis dengan aneh tentang seorang pria yang berjalan-jalan di kehidupan setelah mati, tempat penyucian, dan surga, dan kemudian menulis cerita tentangnya? Ada banyak sekali penggalan seperti ini-yang terdengar seperti ditulis oleh seorang lelaki paruh baya yang terbangun dengan perasaan sedih-seperti kau telah melewatkan babak pertama kekhidupanmu.| The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald: Wajar saja untuk melebih-lebihkan simbolisme dalam karya besar Fitzgerald. Ya, cahaya hijau di ujung dok rumah Daisy mungkin mewakili harapan-harapan dan aspirasi Gatsby tentang masa depan. Atau mungkin saja itu hanya cahaya hijau. Dan Jay Gatsby yang memesona dan kaya raya mungkin contoh nyata American Dream, dengan segala kelemahannya dan ideal-idealnya dan jiwa muda yang gelisah untuk kehidupan yang lebih baik. Atau dia mungkin hanya seorang bajingan yang kaya. Apa pun jadinya, buku ini benar-benar mengagumkan. | Beloved by Toni Morrison: Buku ini tak selalu mudah dibaca-terutama jika kau masih muda, dan mempelajari kapasitas manusia untuk menghadirkan penderitaan bagi manusia lain terasa seperti beban yang berat di bahumu-tapi ini kisah yang penting untuk diingat, terutama dalam dunia masa kini, di mana luka dari rasisme tak pernah sebegitu terang benderang seperti sekarang. Berlatar pasca-perang sipil di Ohio, buku ini mengisahkan seorang bekas budak yang meyakini hantu dari anaknya yang meninggal-yang mati demi melindungi calon bayi dari pemilik budak yang menangkap mereka – bereinkarnasi menjadi seorang gadis muda bernama Beloved. Buku ini juga menciptakan kosa kata baru untuk mendeskripsikan sebuah respon emosional “rememory,” yang berarti mengenang masa lalu sekaligus dengan berani menolak untuk kembali ke masa itu. | Hamlet by William Shakespeare: Mungkin pikiran kami saja, tapi saat kami pertama kali membaca Shakespeare, kami tak mengerti separuhnya. Kami biasanya berpura-pura bahwa kami mengerti apa yang dikatakan karakter-karakternya. Kami tahu intinya: Hantu dari mendiang ayah Hamlet memberitahu dia telah dibunuh oleh pamannya, Claudius, jadi Hamlet membunuhnya dan sekelompok orang lain, dan kemudian bunuh diri. Tapi keindahan dari Hamlet bukan soal pembantaianya; tapi bahasa Shakespeare yang puitis. “To be, or not to be: that is the question,” Hamlet berkata dalam monolognya yang paling terkenal; “Whether ’tis nobler in the mind to suffer the slings and arrows of outrageous fortune, or to take arms against a sea of troubles, and by opposing end them? To die: to sleep.” | Brave New World by Aldous Huxley: Teknologi bukanlah sahabat kita di dunia yang menakutkan dalam ramalan masa depan ini, di mana cloning telah menggantikan reproduksi manusia dan ada pil yang berfungsi menghilangkan beragam jenis emosi buruk manusia. Pemerintah telah mengubah penduduknya menjadi budak virtual dengan menjaga merka berada dalam kebahagian yang abadi. Tapi ketika amukan salah satu karakter, dia menginginkan hak untuk tak bahagia, “Tak perlu disebutkan hak untuk menua dan buruk rupa dan impoten; hak untuk merasakan kelaparan; hak untuk menjadi ceroboh; hak untuk hidup dalam ketakutan terus-menerus atas apa yang akan terjadi esok.” Kisah ini pengingat yang baik bahwa kegembiraan sepanjang waktu mungkin terdengar seperti ide yang bagus secara teori, akan tetap kebebasan selalu lebih baik dibanding euforia yang terkondisi. | I Know Why The Caged Bird Sings by Maya Angelou: Diterbitkan saat Angelou baru berusia 40an, memoar ini-yang pertama dari seri dengan tujuh bagian-hanya mengisahkan 17 tahun awal hidupnya di pedesaan Arkansas, tapi kekuatan dan kegigihannya di hadapan begitu banyak kebencian rasial mengejutkan. Seorang gadis muda dengan inferiority complex menemukan kepercayaan dirinya, dan di usia saat kita biasanya hanya memikirkan tentang pasangan prom dan pekerjaan rumah, dia belajar menemukan jalannya lewat “teka-teki ketidaksetaraan dan kebencian.” | The Odyssey by Homer: Kenapa bersusah payah membaca ulang puisi Homer yang sangat sangat sangat panjang tentang perjalanan Odysseus yang sangat sangat sangat panjang menuju pulau kampung halamannya Ithaca, di mana dia bertemu dengan monster laut, cyclops, pemakan teratai, dan banyak lagi makhluk yang mengancam raganya? Hanya saja, meski ditulis 2800 tahun lalu dan mengandung 12.110 bait dacrylic hexameter (apapun artinya itu), orang-orang terus terpukau oleh Odysseus. | Mrs. Dalloway by Virginia Woolf: Setidaknya di permukaan, novel modern ini terlihat benar-benat simple. Kita mengikuti kisah Clarissa Dalloway di musim panas kota London seperti biasanya, selagi dia melakukan hal-hal tak biasa-biasa saja seperti berjalan di taman atau mengobrol dengan teman lama atau membeli bunga atau berpapasan dengan pengagum lamanya yang masih mengira dia mempunyai pernikahan yang bahagia. Akan tetapi keindahan narasi ini terletak dalam detail-detail yang tak disebutkan, seperti keangguhan kelas atas Clarissa dan kebiasannnya “menggali secara berlebihan atas apa pun itu yang merusak,” dan kesan umum bahwa ada sesuatu yang lebih serius bersembunyi di bawah permukaan, sesuatu yang tak pernah benar-benar kita lihat tetapi selalu di sana. | Waiting for Godot by Samuel Beckett: Buku ini terlihat tak berarti sama sekali saat pertama kali kita membacanya semasa remaja. Tanpa kita sadari bahwa dongeng Beckett tentang dua pria dengan topi bowler, Vladimir dan Estragon, menunggu seorang kawan bernama Godot-yang jelas-jelas tak punya niat untuk datang-sebenarnya merupakan metaphor besar bagi krisis eksistensial manusia modern. | The Bell Jar by Sylvia Plath: Cerita tentang seorang penyair yang mencoba mengakhiri hidupnya, ditulis oleh penyair yang mengakhiri hidupnya, hanya sebulan setelah penerbitan The Bell Jar, mengandung cukup banyak ironi untuk memenuhi seribu esai bahasa Inggris anak sekolah menengah. Akan tetapi alasan buku ini layak dibaca ulang bukan karena banyaknya bagian dari satu-satunya novel Plath ini yang berupa autobiografi. Mulai dari ekspektasi atas perempuan dalam masyarakat sampai bagaimana hidup di kota besar bisa membuatmu merasa terisolasi, ada banyak hal dalam 234 halaman ini yang akan membuatmu mengangguk setuju. | Metamorphosis by Franz Kafka: Seorang sales keliling bernama Gregor Samsa terbangun pada suatu pagi dan mendapati dirinya dengan tak masuk akan telah bertransformasi “menjadi seekor serangga raksasa.” Buku ini mengandung keangkuhan yang luar biasa, akan tetapi cepat membuat bosan jika kamu tak cukup tua untuk mengapresiasi kisahnya. Bukan karena remaja tak punya imajinasi yang kuat, tapi karya agung Kafka yang mengerikan ini sebenarnya bukan tentang keganjilan seorang manusia yang berubah menjadi hama. Seperti kita ketahui, Samsa seorang yang gila kerja, menjerumuskan dirinya sendiri pada kematian muda lewat stress yang berkelanjutan dan komitmen yang tak berujung. Kerangka luar tubuhnya bukan hanya aneh, itu juga merepresentasikan sebagaimana Kafka tunjukkan, seorang lelaki yang “telah terpenjara oleh pekerjaan dan hutang-hutang orang tuanya.” | The Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain: Huck Finn lari dari ayahnya yang pemabuk, menyusuri sungai Mississippi menggunakan rakit bersama temannya Jim, seorang budak pelarian. Buku ini dianggap salah satu novel terbaik Amerika, dan sekaligus buku yang tak seharusnya kau baca lagi karena terlalu banyak penggunaan julukan-julukan rasial. Bisa dikatakan bahwa Twain hanya menggunakan rasisme yang menyolok sebagai satir untuk zamannya. Atau mungkin apa yang dianggap rasisme di tahun 1884 tidak sama dengan apa yang dikenal di tahun 2018. Apa pun pendapatmu, novel itu layak dibaca ulang, dan biarkan ia mendorongmu untuk mengikuti langkah Huck dan mengutuk keyakinan terbelakang dan beritahu mereka yang ingin menakutimu soal perbuatan immoral untuk memeriksa diri mereka sendiri. | Moby-Dick by Herman Melville: Bahkan jika kamu tak membacanya saat sekolah, kamu mungkin sudah tahu cerita tentang Kapten Ahab dan si paus putih. Lalu untuk apa membacanya, apalagi kalau butuh waktu lama untuk sampai ke bagian menariknya, dan ada satu bab penuh yang membahas kehidupan laut? Secara spesifik karena bukunya berisi momen yang bikin garuk-garuk kepala seperti ini. Moby Dick bukan hanya novel tentant paus, akan tetapi buku yang menantang keseluruhan ide tentang penulisan narasi literatur. Sebagai pengarang Nathaniel Philbrick menjelaskan dalam eksplorasinya atas karya klasik yang tak lekang waktu, Why Read Moby-Dick?, Melville “menarik tabir fiksi dan memasukkan cuplikan yang tampaknya tak relevan atas dirinya saat menyusun komposisi.” | Jane Eyre by Charlotte Brontë: Dibuang oleh satu-satunya keluarga yang pernah ia kenal, Jane Eyre bertahan dan bahkan berprestasi di sekolah asrama, menjadi seorang tutor, jatuh cinta pada bosnya, dan akhirnya menikahi cinta sejatinya. Tapi dia melakukan semua itu tanpa sedikit pun kehilangan integritasnya atau kemandiriannya. Ini yang membuat Jane menjadi sosok yang luar biasa dalam literatur; dia bukanlah gadis sengsara, yang menunggu untuk diselamatkan, tapi seorang pahlawan perempuan yang sangat mampu mengurus dirinya sendiri, bahkan ketika dia gagal atau membuat kesalahan, karena dia ingin mendefinisikan hidupnya dengan caranya sendiri. “Aku bukan burung; dan tak ada sarang yang mejerat diriku,” Jane berkata pada suatu kali. “ Aku manusia bebas dengan kehendak yang merdeka.”. (by Marlina Sopiana, Addi M Idham, Sabiq Carebesth)

 

__
Lebih banyak rekomendasi buku lainnya, baca selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata”, terbit Agustus 2019.

 

Continue Reading

Tabloids

Ini yang Dituntut Para Editor Atas Cerpen Anda

mm

Published

on

Kriteria fiksi macam apa yang dianggap ‘menjual’? juga bagaimana cara penulis bersaing dengan satu sama lain demi menarik perhatian pembaca? Para editor fiksi dunia—Anthony Varallo, Editor Fiksi, CRAZYHORSE, Susan Burmeister-Brown, Co-Editor, GLIMMER TRAIN STORIES, Susan Mase, Editor Fiksi, NIMROD—membocorkan sedikit tips tentang cerita pendek macam apa yang menurut mereka pantas untuk diterbitkan. Selengkapnya:

  • Pentingnya Gramatikal dan Ejaan

“Pertama-tama, cek ejaan, tanda baca dan penggunaan kalimat dalam tulisanmu…dan kalau kau ingin menulis fiksi, kau juga harus banyak membaca fiksi. Kalau berniat menjadi penulis cerita pendek, maka kau harus membaca cerita pendek sebanyak mungkin. Setelah itu, baca hasil tulisanmu keras-keras. Kalau ada kalimat yang terdengar ‘aneh’—segera cabut dari tulisanmu. Dan jangan pernah mengirim draft pertama tulisanmu kepada editor, karena itu adalah tulisan yang belum selesai. Kenapa kau harus melakukan semua ini? Karena semua poin-poin yang saya sebutkan menyimpulkan bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan. Kalau kau ingin ceritamu dibaca banyak orang, maka kau harus bekerja keras. Semua cerita yang ingin kau kirimkan ke editor majalah atau buku harus terbaca rapi, bersih, padat dan jelas. Setiap kalimat yang ada dalam ceritamu harus menunjukkan bahwa kau telah bekerja keras menghasilkan tulisan tersebut. Sebuah karya bisa dikatakan bagus, tapi bagus saja tidak cukup. Untuk meraih pembaca seluas mungkin, diperlukan karya yang luar biasa. Kami menerima banyak sekali kiriman cerita pendek yang bagus, tapi kami hanya menerbitkan cerita-cerita yang menurut kami luar biasa. Cerita-cerita yang tidak terlupakan, yang menyentuh kami, yang sangat kami sukai. Standar ‘cerita bagus’ terlalu rendah untuk kami. Cerita yang luar biasa akan selalu teringat di kepala pembacanya.” ~ Anthony Varallo, Editor Fiksi, CRAZYHORSE

 

  • Baca Artikel serupa dalam buku “Memikirkan Kata” akan terbit Agustus, 2019. Info pemesanan klik gambar.

    Detail yang menguatkan Karakter

“Pembaca sangat peduli terhadap karakter dan bahkan setelah cerita selesai, mereka tetap memikirkan karakter yang mereka temui di dalam cerita tersebut. Cerita harus memiliki detail yang bisa dibayangkan jelas oleh pembaca, serta menjadi pegangan si pembaca. Dan bila ada dialog dalam cerita itu, maka dialog tersebut harus terdengar nyata, dan tidak dibuat-buat atau berlebihan. Selain itu, cerita yang kami cari harus bisa menawarkan pandangan hidup yang segar dan mendalam. Sesuatu yang punya arti serta nilai resonansi terhadap pembaca. Dan, di akhir cerita, pembaca merasa puas. Bukan berarti cerita itu harus berakhir bahagia, tapi ada perasaan bahwa sebagian dari perjalanan si karakter telah tiba di penghujung jalan.” ~ Susan Burmeister-Brown, Co-Editor, GLIMMER TRAIN STORIES

  • Mengejutkan Sejak Pembukaan

“Cerita yang kami inginkan adalah cerita yang bisa mengangkat dirinya di atas cerita-cerita lain—yang menarik perhatian kami dengan cepat, bahkan di kalimat pertama, serta membuat kami terbuai setelah membaca satu, dua paragraf. Cerita yang kami inginkan akan membuat kami terpaku pada setiap kata dan kalimat hingga cerita itu selesai, dan seluruh indera kami terpicu karena begitu senang menemukan cerita yang luar biasa. Cerita seperti ini adalah cerita yang bisa kami cerna, dan juga membuat kami terpukau dan terhubung pada manusia lain. Kami mencari cerita yang bisa menarik perhatian kami lewat ritme, penggunaan kalimat serta kepribadian karakter di dalamnya. Semua karakter harus terasa hidup. Selain itu, detail yang kuat akan membuat suara si penulis dan para karakternya lebih terdengar, hingga membawa pembaca ke bawah permukaan interior atau eksterior cerita. Namun, semua elemen ini juga tidak boleh bertabrakan dengan alur narasi cerita.” Susan Mase, Editor Fiksi, NIMROD.

___

Baca Artikel serupa tentang Tips dan Saran menulis lainnya dalam buku “Memikirkan Kata” akan terbit Agustus, 2019. Info pemesanan Whatsapp 082 111 450 777. Info detail buku klik Order Buku Memikirkan Kata 

 

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending