Connect with us

Tabloids

Octavio Paz: Mencari Masa Kini

mm

Published

on

Hal terakhir di rumusan gegabah ini adalah keruntuhan semua hipotesa filosofis dan historis yang mengklaim menemukan hukum yang mengatur jalannya sejarah. Banyak orang dengan percaya diri meyakini bahwa mereka menentukan jalannya sejarah dengan membangun negara kuat di atas piramida mayat. Pendirian arogan tersebut, yang didasarkan pada teori pembebasan manusia, dengan cepat ternyata berubah menjadi penjara raksasa. Hari ini kita telah melihat mereka jatuh, digulingkan bukan oleh musuh ideologis mereka, tetapi oleh ketidaksabaran dan keinginan generasi baru untuk menghirup udara kebebasan.

[In Search of the Present] (p) Addi Midham (e) Sabiq Carebesth

Saya ingin memulai pidato ini dengan dua kata yang sudah diucapkan semua orang sejak awal mula kemanusiaan: terima kasih. Kata ‘terima kasih’ memiliki padanan dalam semua bahasa, dan pada setiap pengucapannya, ada cakupan makna yang berlimpah. Dalam rumpun bahasa Roman, keluasan makna kata ini mencakup aspek spiritual sekaligus lahiriah: dari rahmat ilahi yang diberikan kepada manusia sehingga selamat dari kesesatan dan kematian, hingga anugerah gemulainya tubuh untuk gadis penari atau kucing yang melompat ke semak-semak. Bersyukur selalu berarti pengampunan, pemaafan, bantuan, kebaikan, inspirasi; sebuah bentuk sapaan, gaya bicara atau ungkapan yang menyenangkan, kesopanan, singkatnya, tindakan yang mengungkapkan kebaikan rohani. Bersyukur itu gratis; sebuah karunia. Orang yang menerima sebuah kebaikan akan mengucapkan rasa syukur; jika bukan orang tercela, dia pasti bersyukur. Itulah yang saya lakukan sekarang, mengucapkan kata-kata tanpa maksud buruk ini. Saya harap perasaan saya demikian pula. Jika masing-masing kata ialah setetes air, Anda akan paham apa yang saya rasakan dengan melihatnya: rasa syukur, pengakuan. Dan, dengan cara yang sulit dijelaskan, perasaan itu muncul bersama kegentaran, rasa hormat serta keterkejutan bahwa saya saat ini berada di hadapan Anda sekalian, tempat yang menjadi rumah kaum terpelajar Swedia, sekaligus sastra dunia.

Bahasa adalah realitas luas yang melampaui entitas politik dan historis, yang kita sebut negara. Bahasa Eropa yang kami gunakan di Amerika menggambarkan hal ini. Yang membuat sastra kami [Amerika Latin-red] istimewa jika dibandingkan dengan karya dari Inggris, Spanyol, Portugal, ataupun Perancis, adalah karena fakta bahwa: sastra kami ditulis dengan bahasa hasil transplantasi. Bahasa yang lahir dan tumbuh dari tanah aslinya, lalu dikembangbiakkan oleh sejarah. Bahasa-bahasa Eropa berakar dari tanah dan tradisi asalnya, kemudian ditanam di dunia antah berantah yang tidak bernama: berakar di tanah baru, dan ketika tumbuh di dalam masyarakat Amerika, bahasa itu berubah. Seolah-olah bahasa itu masih tanaman yang sama, tapi sekaligus juga berbeda. Sastra kami tidak menerima perubahan bahasa hasil transplantasi itu secara pasif: sastra kami terlibat dalam proses perubahannya dan bahkan mempercepatnya. Sastra kami segera beralih dari sekedar refleksi trans-atlantik: sastra kami menjadi negasi dari sastra Eropa, seringkali juga menjadi sebuah jawaban atasnya.

Kendati ada proses osilasi seperti ini, keterpautan sastra kami dengan Eropa tidak pernah putus. Masa lalu saya adalah bahasa saya. Sebagaimana semua penulis Spanyol, saya pun masih merasa menjadi keturunan dari Lope [Lope de Vega-red] dan Quevedo [Francisco de Quevedo-red]. Namun, saya bukan orang Spanyol. Saya kira, sebagian besar penulis Amerika-Hispanik, Amerika Serikat, Kanada, maupun Brasil, akan mengatakan hal yang sama tentang keterpautan mereka dengan tradisi Inggris, Portugis serta Prancis. Untuk memahami dengan lebih jernih posisi istimewa penulis Amerika, kita perlu membedakannya dengan dialog antara para penulis Jepang, Cina, atau Arab dengan beragam sastra Eropa. Dialog yang ini [Asia dengan Eropa-red] melintasi beragam bahasa dan peradaban. Di sisi lain, dialog kami dengan Eropa berlangsung dalam bahasa yang sama. Kami adalah orang Eropa, tetapi kami sekaligus bukan orang Eropa. Lalu siapa kami? Sulit untuk mendefinisikannya, tetapi karya-karya kami berbicara mengenai hal itu.

Artikel Lengkap “Octavio Paz: Mencari Masa Kini” bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Klik untuk Pre Order.

Di bidang sastra, berita besar abad ini adalah kemunculan sastra Amerika. Yang pertama muncul ialah sastra Amerika berbahasa Inggris. Kemudian, pada paruh kedua abad ke-20, muncul sastra Amerika Latin dengan dua cabang utamanya: sastra Amerika-Hispanik dan sastra Brasil. Meski masing-masing memiliki perbedaan mencolok, tiga jenis sastra ini punya kesamaan corak: konflik yang lebih ideologis daripada sastra sendiri, yakni kecenderungan kosmopolitan melawan tendensi nativis, antara Eropaisme vs Amerikanisme. Apa yang diwariskan perselisihan ini? Perdebatan sudah tiada, yang tersisa adalah karya. Di luar soal kesamaan tersebut, ketiga jenis sastra ini memiliki banyak perbedaan yang mendalam. Salah satunya karena posisinya sebagai bagian dari sejarah yang jauh lebih besar daripada sastra. Perkembangan sastra Anglo-Amerika bertepatan dengan kebangkitan Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia. Sedangkan kebangkitan sastra kami bersamaan dengan terjadinya petaka sosial-politik dan pergolakan nasional. Fakta ini sekaligus membuktikan keterbatasan teori determinisme sosial dan historis: kemunduran imperium dan gejolak sosial terkadang bertepatan dengan momen lahirnya kemegahan tradisi artistik dan sastra. Li-Po dan Tu Fu [pujangga besar Cina abad 8 Masehi-red] menyaksikan jatuhnya Dinasti Tang; Velázquez [Diego Velázquez, pelukis Spanyol abad 17 masehi-red] melukis untuk Felipe IV [Raja Spanyol-red]; Seneca dan Lucan hidup di masa yang sama sekaligus menjadi korban Kaisar Romawi, Nero. Sementara perbedaan lain di antara ketiga jenis sastra ini terkait dengan asal usul kesusastraan, yang lebih banyak terlihat pada sejumlah karya ketimbang dalam karakternya masing-masing. Namun, apakah bisa sastra-sastra itu disebut memiliki karakter khusus? Apakah sastra-sastra itu memiliki satu unsur umum yang membedakannya dari sastra yang lain? Saya meragukan itu ada. Sastra tidak bisa didefinisikan dengan menunjukkan sejumlah karakter aneh yang tidak berwujud; sebab ia sekumpulan karya unik yang disatukan oleh relasi oposisi sekaligus afinitas.

Perbedaan mendasar pertama antara sastra Amerika Latin dan Anglo-Amerika terletak pada keragaman asal-usul mereka. Keduanya berawal dari proyeksi Eropa. Proyeksi dari sebuah pulau dalam kasus Amerika Utara. Sementara dalam kasus kami [Amerika Latin-red], Proyeksi dari sebuah semenanjung. Dua kawasan ini memiliki kondisi geografis, historis dan budaya eksentrik. Asal-usul Amerika Utara adalah Inggris dan reformasi protestan; sementara asal usul kami ialah Spanyol, Portugal dan Katholik. Untuk kasus Amerika-Hispanik, saya perlu menyebut apa yang membedakan Spanyol dengan negara-negara Eropa lainnya, untuk menunjukkan identitas historis kami yang unik. Spanyol tidak kalah eksentrik dari Inggris, tetapi keunikan keduanya bertolakbelakang. Tradisi Inggris eksentrik karena berakar di pulau yang mengisolasi diri: eksentrik yang eksklusif. Adapun tradisi Spanyol eksentrik karena tumbuh di semenanjung dan menyerap unsur dari pelbagai peradaban yang pernah ada di masa lalu: eksentrik yang inklusif. Di dalam tradisi Spanyol ada unsur Katholik, yang didahului awalnya oleh pengaruh kerajaan Visigoth pemeluk bidah arianisme, kemudian dominasi peradaban Arab selama berabad-abad dan masuknya tradisi Yahudi, era Reconquesta serta warna-warna khusus lainnya. Karakter eksentrik inklusif pada tradisi Spanyol itu direproduksi secara berlipat ganda di benua Amerika, terutama di Meksiko dan Peru: wilayah tempat peradaban kuno yang megah pernah ada. Di Meksiko, orang-orang Spanyol berjumpa dengan sejarah dan wilayah peradaban kuno. Sejarah yang masih hidup itu adalah sebuah anugerah, bukan masa lalu. Kuil-kuil dan para dewa Meksiko pra-Kolombia memang telah menjadi tumpukan reruntuhan, tetapi jiwanya yang memberi nafas kehidupan tidak lenyap; tradisi itu berbicara kepada kami dengan bahasa abadi berupa mitos, legenda, koeksistensi sosial, seni populer dan adat istiadat. Menjadi penulis di Meksiko berarti harus mendengarkan suara-suara yang terus hadir itu. Mendengarkannya, berdialog dengannya, menafsirkannya: mengekspresikannya. Paparan singkat, yang agak menyimpang dari pembahasan di awal, ini semoga bisa memberikan pemahaman soal relasi ganjil yang mengikat sekaligus memisahkan kami dari Eropa.

Kesadaran akan keterpisahan dari Eropa menjadi bagian dari perjalanan spiritual kami. Terkadang, perpisahan membikin luka yang membekas, rasa sakit yang mendorong kritik-diri; sementara di lain waktu ia memunculkan tantangan, dorongan untuk bertindak, maju, serta bertemu yang liyan dan dunia luar. Perasaan tercerabut dari akar itu memang universal dan tak hanya dirasakan orang-orang Amerika-Hispanik. Perasaan itu muncul tepat saat kelahiran kita: ketika kita direnggut dari yang utuh dan terdampar di tanah asing. Pengalaman seperti ini menjadi luka yang tidak pernah sembuh. Perasaan ini kedalaman yang paling sulit dipahami pada setiap orang; semua upaya, perbuatan, tindakan dan mimpi kita menjadi jembatan yang terancang untuk menghadapi perpisahan sekaligus penyatuan kembali dengan dunia dan sesama manusia. Dengan demikian, kehidupan semua orang dan sejarah kolektif umat manusia bisa dilihat sebagai upaya merekonstruksi apa yang asali. Sebuah pengobatan tak berujung untuk menyembuhkan keterbelahan manusia. Namun, saya tidak bermaksud memberikan deskripsi lain tentang perasaan ini. Saya hanya menegaskan fakta bahwa, bagi kami, kondisi eksistensial seperti ini mengekspresikan bentuknya di sepanjang sejarah. Artinya, hal itu menjadi kesadaran dalam sejarah kami. Bagaimana dan kapan perasaan itu muncul dan bertransformasi menjadi kesadaran? Jawaban atas pertanyaan bermata dua ini dapat dijelaskan dalam bentuk teori maupun testimoni pribadi. Saya lebih suka yang terakhir: sebab ada banyak teori dan tidak ada yang sepenuhnya meyakinkan.

Perasaan keterpisahan selalu terikat dengan ingatan saya yang paling awal dan samar: tangisan pertama, ketakutan pertama. Seperti bayi lainnya, saya pun membangun jembatan emosional dalam imaji agar dapat terhubung dengan dunia dan orang lain. Saya tumbuh di kota pinggiran Mexico City, menempati rumah tua bobrok, yang memiliki kebun seperti hutan, dan sebuah ruangan besar dipenuhi buku. Permainan pertama sekaligus menjadi pelajaran pertama. Kebun itu segera menjadi pusat dunia saya; sementara perpustakaan adalah gua yang menyenangkan. Saya biasa membaca dan bermain dengan sepupu dan teman sekolah. Di kebun itu ada kuil vegetasi: pohon ara, empat pohon pinus, tiga pohon abu, sebuah tanaman nighthade, pohon delima, rumput liar, dan tanaman berduri. Dinding-dinding batu bata. Waktu saat itu terasa elastis; ruang terlihat seperti roda yang berputar. Di setiap saat, pada masa lalu atau masa depan, dalam kenyataan maupun imajinasi, menjadi sebuah kehadiran murni. Ruang mengubah dirinya tanpa henti. Yang ada di luar ada di sini, semuanya di sini: sebuah lembah, gunung, negara yang jauh, teras tetangga. Buku-buku bergambar, terutama bertema sejarah, secara sepenuhnya membuka dan menyediakan gambaran tentang gurun dan hutan, istana dan gubuk, prajurit dan putri, pengemis dan raja. Kami ‘karam’ bersama Sinbad dan Robinson. Kami ‘bertarung’ bersama d’Artagnan. Kami ‘menaklukkan’ Valencia bersama El Cid. Saya pun pernah sangat ingin tinggal selamanya di Pulau Calypso! Di musim panas, cabang-cabang hijau pohon ara akan berayun seperti layar sebuah kafilah atau kapal bajak laut. Dan di atas tiang kapal, sambil terhuyung oleh angin, saya berkhayal bisa melihat pulau dan benua: daratan yang segera lenyap begitu mereka menjadi nyata. Dunia tidak terbatas namun selalu dalam jangkauan; waktu seakan lentur dan memberikan kebahagiaan tak ada habisnya.

Kapan pesona itu bubar? Prosesnya bertahap, tidak tiba-tiba. Sulit untuk menerima dikhianati teman, ditipu wanita yang kita cintai, atau memahami bahwa ide soal kebebasan sebenarnya topeng seorang tiran. Apa yang disebut “mengetahui” adalah proses yang lambat dan rumit, karena kita sendiri menjadi kaki-tangan dari kesalahan dan muslihat kita. Meski demikian, saya dapat mengingat dengan jelas sebuah insiden yang merupakan pertanda awal dari situasi itu, satu kejadian yang sebenarnya cepat terlupakan. Saya masih berusia enam tahun ketika seorang sepupu yang berumur sedikit lebih dewasa menunjukkan sebuah majalah dari Amerika Utara berisi foto tentara berbaris di sepanjang jalan besar, mungkin di New York. “Mereka kembali dari perang,” kata sepupu saya. Kata-kata itu menggelisahkan, sebagaimana ramalan soal akhir dunia atau kehadiran Kristus yang kedua. Semula, saya menganggap bahwa di suatu tempat nun jauh, perang berakhir pada beberapa tahun sebelumnya, dan prajurit telah berbaris merayakan kemenangannya. Bagi saya, perang terjadi di waktu yang lain, bukan di sini dan sekarang. Foto di majalah itu membantahnya. Saya pun merasa benar-benar terpisah dari masa kini.

Sejak saat itu, waktu mulai retak dan semakin retak. Ruang pun terlihat semakin beragam. Pengalaman seperti itu terulang bertambah sering. Berita apa pun, frasa yang biasa sekalipun, berita utama di surat kabar: semua membuktikan keberadaan dunia luar dan ketidaktahuan saya. Saya merasa dunia seakan-akan terbelah dan saya tidak mendiami ‘masa kini’. Pemahaman saya soal kekinian rontok: waktu nyata ada di tempat lain. Waktu saya, yakni saat berada di kebun, bersama pohon ara, bermain dengan teman-teman, rasa kantuk di bawah pepohonan ketika berteduh dari terik mentari pada pukul tiga sore, melihat buah ara terbelah (warnanya hitam dan merah seperti batu bara menyala, tetapi rasanya manis dan segar): adalah waktu yang fiktif. Terlepas dari apa yang dikatakan oleh akal sehat saya, sejak saat itu, waktu milik yang liyan, terasa lebih nyata karena benar-benar menunjukkan ‘yang kini’. Saya pun menerima sesuatu yang tak terhindarkan: menjadi dewasa. Begitulah awal mula saya terusir dari kekinian.

Mungkin tampak paradoks saat mengatakan bahwa kami terusir dari ‘masa kini’, tetapi itu adalah perasaan yang kami semua memilikinya pada suatu saat. Beberapa dari kami mungkin pertama kali mengalaminya sebagai kutukan, kemudian berubah menjadi kesadaran dan tindakan. Pencarian terhadap ‘yang kini’ bukanlah pencarian surga duniawi atau keabadian: ini adalah pencarian terhadap realitas nyata. Bagi kami, sebagai orang Amerika-Hispanik, masa kini tidak berada di negara kami: sebab itu adalah waktu yang dijalani orang lain di Inggris, Perancis dan Jerman. Masa kini adalah waktu untuk New York, Paris dan London. Kami harus pergi dan mencarinya untuk membawanya pulang. Tahun-tahun itu juga merupakan masa saat saya menemukan sastra. Saya mulai menulis puisi. Saya tidak tahu apa yang membuat saya menulis puisi: Saya hanya terdorong oleh kebutuhan batin yang sulit didefinisikan. Baru sekarang saya mengerti, bahwa ada relasi rahasia antara apa yang saya sebut ‘terusir dari masa kini’ dengan penulisan puisi. Puisi adalah cinta sesaat yang berusaha hidup kembali dalam sajak, sehingga terpisah dari urutan waktu, dan menjadi kekinian yang utuh. Tetapi, pada saat itu saya menulis tanpa bertanya-tanya mengapa saya melakukannya. Saya sedang mencari gerbang ke masa kini: Saya ingin menjadi bagian dari waktu dan abad saya. Beberapa saat kemudian, obsesi ini menjadi ide kokoh: Saya ingin menjadi penyair modern. Pencarian saya terhadap modernitas pun dimulai.

Apa itu modernitas? Pertama-tama ini adalah istilah yang ambigu: ada banyak jenis modernitas, seperti halnya terdapat beragam masyarakat. Masing-masing memiliki modernitasnya sendiri. Arti kata modernitas tidak pasti dan sewenang-wenang, seperti nama periode yang mendahuluinya: Abad Pertengahan. Jika kita merasa bagian dari masa modern, karena membandingkan saat ini dengan situasi di abad pertengahan, mungkinkah kita ada di masa abad pertengahan dari modernitas di masa depan? Apakah ada nama yang berubah karena waktu menunjukkan nama aslinya? Modernitas adalah kata yang mencari artinya. Apakah modernitas adalah sebuah gagasan, fatamorgana atau momen sejarah? Apakah kita anak-anak modernitas atau malah penciptanya? Tidak ada yang tahu pasti soal ini. Namun, itu tidak menjadi masalah: kami mengikutinya, kami mengejarnya. Bagi saya pada saat itu, modernitas menyatu dengan kekinian atau lebih tepatnya memproduksinya: kekinian adalah bunga paling indah dari modernitas. Kasus saya tidak unik dan bukan pengecualian: sejak era Simbolisme, semua penyair modern mengejar sosok magnetis yang sulit dipahami sekaligus mempesona ini. Charles Pierre Baudelaire adalah sang pemula. Baudelaire juga yang pertama menyentuh istilah modernitas dan menemukan bahwa ia hanyalah remahan waktu di genggaman seseorang. Saya tidak akan menceritakan petualangan saya dalam mengejar modernitas: kisahnya tidak jauh berbeda dari para penyair abad ke-20 lainnya. Modernitas telah menjadi hasrat universal. Sejak 1850, modernitas menjadi dewi sekaligus iblis kita. Dalam beberapa tahun terakhir, ada sejumlah upaya untuk mengusirnya sehingga muncul wacana “postmodernisme”. Tapi apa itu postmodernisme, bukankah itu modernitas yang bahkan lebih modern?

Bagi kami, orang Amerika Latin, pencarian terhadap modernitas dalam puisi secara historis paralel dengan upaya berulang-ulang untuk memodernisasi negara kami. Kecenderungan ini mulai muncul pada akhir abad ke-18, dan juga terjadi di Spanyol. Amerika Serikat dilahirkan di era modern, dan sebagaimana pengamatan de Tocqueville, pada 1830 telah menjadi rahim masa depan. Sedangkan negara kami dilahirkan pada saat Spanyol dan Portugal bergerak menjauh dari modernitas. Inilah sebabnya sering ada pembicaraan tentang “Eropaisasi” di negara kami: modernisme ada di luar dan harus diimpor. Dalam sejarah Meksiko, proses ini dimulai tepat sebelum perang kemerdekaan. Kemudian menjadi debat ideologis dan pertikaian politik hebat yang membelah masyarakat Meksiko selama abad ke-19. Salah satunya tidak terkait dengan apakah perlu ada reformasi, melainkan bagaimana menjalakannya: Revolusi Meksiko. Tidak seperti mitranya di abad ke-20, revolusi Meksiko bukanlah ekspresi ideologi utopis yang samar-samar, melainkan ledakan realitas yang secara historis dan psikologis telah ditindas. Revolusi itu tidak dilahirkan kelompok ideologis yang hendak menerapkan prinsip-prinsip berdasarkan teori politik. Revolusi itu merupakan pemberontakan populer yang membuka tabir apa yang selama ini disembunyikan. Oleh karena itu, lebih tepat disebut pencerahan daripada revolusi. Meksiko mencari kekinian di luar hanya untuk menemukannya di dalam: yang terkubur tetapi hidup. Pencarian terhadap modernitas membuat kami menemukan masa lampau, wajah bangsa yang tersembunyi. Saya tidak yakin apakah pelajaran sejarah tak terduga ini telah dipelajari semua: ada jembatan antara tradisi dan modernitas. Ketika keduanya saling menutup diri, tradisi mandek dan modernitas menguap. Ketika keduanya saling terhubung, modernitas menghidupi tradisi, meski yang terakhir memberikan jawaban lebih mendalam dan berbobot.

Pencarian terhadap modernitas dalam puisi adalah sebuah ‘pencarian’ [Quest] dalam arti kiasan dengan rasa kekesatriaan di era abad ke-12. Saya tidak menemukan Cawan meskipun sudah melintasi banyak daratan tak berpenghuni, mengunjungi istana cermin dan berkemah dengan suku-suku hantu. Namun, saya menemukan tradisi modern. Sebab, modernitas bukanlah mazhab puisi melainkan garis keturunan, sebuah keluarga yang tersebar ke banyak benua selama dua abad dan mampu bertahan di tengah perubahan dan kemalangan: pengabaian, isolasi dan penghakiman atas nama ortodoksi agama, politik, akademik dan seksual. Oleh karena memiliki tradisi modern, dan bukan doktrin, mereka mampu bertahan sekaligus berubah pada saat yang sama. Hal ini juga membuat modernitas dalam puisi beragam: setiap petualangan dalam puisi berbeda-beda dan masing-masing penyair menanam tanaman yang beragam di hutan ajaib tempat pohon-pohon bisa berbicara. Namun, jika karya-karya puisi beragam dan masing-masing menempuh jalan berbeda, apakah yang menyatukan seluruh penyair? [Jawabannya-red] Bukan estetika, melainkan pencarian.

Pencarian yang saya lakukan tidak fantastis meski menemukan bahwa gagasan modernitas adalah fatamorgana, sebundel refleksi belaka. Sebab, suatu hari, saya justru kembali ke titik awal, alih-alih bergerak maju: pencarian terhadap modernitas adalah jalan menuju asal usul. Modernitas menuntun saya kepada akar asal usul saya, kepada peradaban kuno bangsa saya. Perpisahan akhirnya berubah menjadi rekonsiliasi. Saya pun kemudian memahami bahwa penyair adalah denyut nadi yang mengalun ritmis di banyak generasi.

*
Bersambung..
Artikel Lengkap “Octavio Paz: Mencari Masa Kini” bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Klik “Pre Order Buku Memikirkan Kata” untuk pemesanan.

Tabloids

Sublim Imajinasi Perempuan

mm

Published

on

Letter From The Editor

Akan tetapi memahami karakter seseorang merupakan tugas yang rumit—sebab saat kita mencoba untuk memahami seseorang seutuhnya, kita berisiko memampatkan orang itu ke dalam bayangan kita tentang orang itu, daripada melihat dia sebagaimana dirinya sendiri.

__

Perempuan harus memiliki sisi maskulinnya, lelaki juga sebaliknya. Hanya dengan kemampuan menyelami identitas pada masing-masing yang digaris berbeda itu, empati mungkin ditumbuhkan. Sekaligus pengetahuan dimungkinkan tercipta. Bahwa berbeda mestinya bukan penghalang untuk membangun jembatan hubung tanpa harus memaksakan saling mengatasi dan mengalahkan. Wacana semacam itu datang dari pemikiran dan permenungan Virginia Woolf.

“Kesalahan yang fatal untuk menjadi laki-laki atau perempuan yang utuh dan sederhana, seseorang haruslah perempuan yang kelaki-lakian atau laki-laki yang keperempuan-perempuanan…Perkawinan antar yang bertolak belakang itu harus terjadi” (A Room of One’s Own).

“.. [m]engadu jenis kelamin satu dengan lainnya, kualitas melawan kualitas; segala hal yang mengklaim superioritas dan menuduhkan inferioritas, [peran-peran tersebut yang] berasal dari panggung pendidikan privat dalam eksistensi manusia di mana terdapat ‘pihak-pihak,’ dan sangatlah penting bagi pihak yang satu untuk mengalahkan pihak yang lain, dan betapa pentingnya untuk berjalan menuju panggung dan menerima pot ornamental yang bernilai itu langsung dari tangan sang kepala sekolah.” Tulis Woolf Dalam risalah anti-perangnya Three Guineas.

Pertanyaan kecil lalu melesat: kenapa pengetahuan penting dan mendasar semacam itu tidak datang dari pemikiran laki-laki? Alih-alih bahwa hal besar selama ini diklaim hanya mungkin dilahirkan dari batok kepala laki-laki?

Saya rasa itu pula halnya, imajinasi yang menyublim dari perempuan menembus ke dalam wilayah-wilayah mendalam yang kerap enggan diselami pemikir laki-laki. Arenanya di dalam, mungkin tenggelam dan selain melelahkan, menyelam juga menjauhkan dari euforia daratan yang ramai dan gegap.

Pada imajinasi semacam itu—dan bukan sebuah klaim pembenar, dapat ditemukan dan dihadirkan bagaimana imajinasi perempuan menyublim dalam—dan kecuali karena suatu konvensi sosial yang entah sejak kapan menjadi dominatif, imajinasi kaum perempuan melesat jauh kedalam, sisi-sisi gelap manusia baik laki-laki mau pun perempuan, dan melalui karya-karyanya mereka, tidak sedikit bahkan menjadi pondasi kokoh bagi banyak aras pengetahuan menyangkut ihwal publik yang tidak hanya untuk kepentingan identias salah satunya baik laki-laki atau perempuan, tetapi pada hal lebih mendasar: manusia dan kemanusiaan.

Tidak dalam upaya membandingkan atau mencari celah persamaan. Bahwa sulit untuk mengugkapkan kejelasan atas gagasan semacam itu. Tetapi saya ingin mengutipkan frasa terakhir penyair perempuan Oka Rusmini dalam prolog untuk kumpulan sajaknya “Warna Kita” (2007): “bukankah kembang sepatu masih berbeda dengan kamboja, sekalipun mereka sama bernama bunga?”. Selengkapnya catat Oka begini:

“Kalau sajak-sajak saya banyak menyuarakan perempuan, itu bukan karena soal “gender” semata-mata. Bagi saya, bahasa laki-laki dan perempuan tetap beda. Masing-masing wilayahnya tak mungkin bisa dimasuki dengan mudah. Bukankah kembang sepatu masih berbeda dengan kamboja, sekali pun sama bernama bunga?”

Dan kiranya jembatan untuk memasuki wilayah keduanya adalah suatu empati. Yang oleh Woolf dikatakan sebagai:  dorongan untuk memahami “karakter” seseorang, dorongan itu merupakan gapaian ke arah kehidupan batin orang lain yang memungkinkan adanya relasi.

“Tidaklah mungkin untuk hidup setahun tanpa bencana kecuali kita berlatih membaca karakter dan punya sedikit kemampuan dalam seni itu. Relasi pernikahan kita, relasi persahabatan kita bergantung padanya, relasi bisnis kita terutama bergantung pada kemampuan itu; setiap hari muncul pertanyaan yang hanya bisa diselesaikan dengan bantuannya” (“Mr. Bennett and Mrs. Brown”).

Akan tetapi memahami karakter seseorang merupakan tugas yang rumit—sebab saat kita mencoba untuk memahami seseorang seutuhnya, kita berisiko memampatkan orang itu ke dalam bayangan kita tentang orang itu, daripada melihat dia sebagaimana dirinya sendiri.

Begitulah kiranya edisi ini memilih “Sublim” sebagai edisi pembuka dan perdana hadirnya majalah ini. Sublim tidak hanya kedalaman, kemurnian, tetapi juga keluasan. Sebagaimana “Imajinasi Perempuan”.

___

Sabiq Carebesth–Pemimpin Redaksi 

*) Edisi Perdana Majalah “Book Review and More” akan rilis perdana pada Akhir Desember atau awal Januari 2020.

Continue Reading

Tabloids

Joker dan Review Yang Sama Ambigunya—dan tidak lucu!

mm

Published

on

getty image | https://durangoherald.com

Sementara ia berharap orang tertawa pada leluconnya, yang ia dapat hanya; ia ditertawakan dengan menjijikkan karena kegagalan selera humornya untuk diterima masyarakatnya! Orang-orang berkata: Itu tidak lucu—tapi menyedihkan! —Dia bukan pahlawan tentu saja—mengingat kita telah biasa memahami pahlawan sebagai “Super” dan mentalnya ditampilkan tidak sakit. Ya meski pahlawan sesempurna itu barangkali memang hanya ada di dunia fiksi?

__

Bayangkan, anda duduk di Kereta KRL khas peradaban urban abad 21. Dalam perjalanan petang menuju pulang yang rentan karena buruknya keadaan. Terpinggirkan oleh sistem dan miskin. Dilecehkan karena sakit mental yang nyaris tak bisa dipahami. Sementara anda harus menerima kenyataan bahwa ibu yang pesakitan di rumah bergantung dengan jerih payah anda di luar, sebagai badut kota (Kota Gotham, red).

Sementara baru saja, anda menjadi korban dari buruknya moral warga kota. Kekerasan, nir empati, dan sejarah menempatkan anda terus, seperti selalu, secara terhubung dan acak: sebagai korban kerasnya kehidupan kota.

Dalam kecamuk beban personal yang tampak tak bisa lagi diakrabi, malah seperti musuh dalam selimut yang menjadikan waham dan implus seperti menyerbu pikiran nyaris tanpa jeda, tanpa kategori dan mengeroyok akal sehat anda yang memang telah sakit.

Lalu di depan anda, dalam gerbong sebuah kereta dalam perjalanan petang yang melelahkan: tiga orang pekerja mapan membuat keributan, menyatroni dengan tindakan sexis pada perempuan yang duduk manis sendiri di dalam kereta sambil membaca buku—batin anda terguncang, muak pada tatanan, hasrat membuat kategori “watak sebagian mewakili keseluruhan” membuncah: beginikah adab orang kaya? Kenapa orang-orang tak peduli? Kosong empati bahkan pada orang yang sakit secara mental seperti anda, yang tak bisa menahan tawa sendiri meski anda menginginkan untuk membisu!

Image via Warner Bros.Maka dor dor dor.. Joker si lemah yang sakit dan terguncang bereaksi di luar kendali sadarnya sendiri. Kesadaran hanya waham dan implus yang tak pernah terang dalam rasionalitas yang tersisa dalam benaknya. Petang itu ia telah jadi pembunuh, sengaja atau tidak, sadar atau alpa!

Apa yang telah dimulai lalu hanya punya satu hasrat, dituntaskan. Dendam pribadi berganti rupa dalam wujud ambigu sebagai dendam (kelas) sosial. Dor dor dor! Tiga lelaki kelas menengah mapan yang bekerja di kantor bursa saham Wall Street mati terkapar—tuntas dan impas terasa! Semua berlangsung dengan cara brutal dan mengerikan. Sisi lain dari kenekatan manusia pun tergambar dengan konstan!

*

Selanjutnya waktu seperti berjalan tanpa jeda, tak pernah ada lagi rasa lega. Memupuk pikiran dengan begitu banyak kegelisahan dan kecewa. Implus implus kekecewaan, dikebiri, berkecamuk bersama rasa takut sekaligus frustasi, memupuk sakit yang kian dalam. Tak ada jeda tidur atau makan dengan pelan dan penuh perhatian, percintaan atau rumitnya asmara. Waktu habis dalam protes mersepsi ketidakadilan, keterkucilan dan “nasib sial”.

Dendam kian tak tertahan—meski bimbang. Resepsi berjalan lambat tapi pasti segera menjadi perlawanan, “rebellion” pada hidup yang tidak hanya absurd tapi sial.—sementara dendam kian meminta dituntaskan sejak keberanian yang berujud kenekatan kesadaran mengendap seperti morfin. Membuatnya kecanduan pada kehendak bebas untuk bertindak dengan pembenaran moral subjektif. Berharap bahwa memang sudah bagiannya menjadi martir. Menuntaskan tugas yang datang dari ketiadaan kebahagiaan sepanjang hayat!

*

Sementara di luar sana terus berlangsung, normal dan tampak tanpa beban; orang-orang kaya mengambil ruang publik untuk memoles kemunafikan menjadi hal wajar (sebagaimana Brett Cullen—diperankan Thomas Wayne yang kaya, rajin sedekah, tapi tak pernah mau rugi dan selalu tampak jijik dengan segala yang kumal dari kemiskinan jalanan).

Orang-orang sepertinya menampilkan pesona juru selamat sementara tak ada hal nyata yang dibuat untuk membantu sesama. Mereka menghancurkan semesta sosial dengan cara yang ditutupi oleh aristokrasi, fashion, kesopanan dan hal-hal mulia yang disepakati dunia modern yang kapitalistik. Dunia di luar telah mengambil hak begitu banyak orang yang dengan hayalannya, Joker jadikan mereka “kawan” sependeritaan meski tanpa persetujuan. Orang-orang yang terdampak deregulasi, pencabutan subsidi, pajak tinggi dan hal lain dari kongsi aneh kapitalisme dan birokrasi rente dan korup—yang dalam kasusnya telah menghilangkan kesempatannya untuk melakukan terapi psikiatri yang selama ini sedikit meredam penyakitnya yang membuncah! Tapi “sory”, setelah ini tidak ada lagi !

Apa yang bisa ia katakan kepada sistem yang tidak memihak? Pada modal dan regulasi  yang tidak ada wujudnya tetapi terus eksploitatif tanpa bisa dikendalikan? Pada dimensi yang sama, ia mendapati kegagalannya sendiri yang makin akut. Dipecat dari pekerjaan. Menyadari dirinya hanya Anak tanpa bapak yang mau mengakui meski telah ia perjuangkan. Sakit mental yang kian menakutkan dan membebani. Ia benar-benar tak lebih dari komedian yang gagal membuat satu lelucon pun!

Sementara ia berharap orang tertawa pada leluconnya, yang ia dapat hanya; ia ditertawakan dengan menjijikkan karena kegagalan dari selera humornya untuk diterima masyarakat sekitar! Orang-orang berkata: Itu tidak lucu—tapi menyedihkan!

Ia segera melampaui kemanusiannya sendiri. Terasing dari diri sendiri, dari manusia lain dan juga kemanusiaan. Dan bisa diduga, pilihannya bertahan di kolong langit yang ia gambar sendiri sebagai kelam kelabu hanya mungkin ia tinggali jika ia memutuskan untuk terjerembab lebih dalam ke dalam standar moral dari hayalannya sendiri tentang nilai-nilai. Meski ia menentang, tapi ia tak sanggup berhadapan dengan kecamuk yang dibuat otaknya sendiri. Betapa berbahayanya otak!

Frances Conroy sebagai Penny Fleck, ibu Arthur

Pembunuhan demi pembunuhan pun berlangsung dengan kian tidak terimanya ia pada keadaan. Dendam telah dimulai dilangsungkan dan akan terus meminta korban! Ia lalu membunuh ibunya (Penny Fleck, diperankan dengan kaku dan menjengkelkan oleh Frances Conroy—karena memang sebaiknya ia berperan demikian) yang tidak hanya telah merepotkannya tapi kemudian juga ia ketahui menelantarkan masa kecilnya. Dan penelantaran adalah kejahatan yang layak mendapat pelunasan dendam. Ia membekap ibunya yang terbaring di rumah sakit, mati!

Terapis yang disangkanya hanya menjalankan formalitas kerja tapi tak pernah benar benar mendengarkannya sebagai pasien kecuali mengatakan hal-hal sama setiap kalinya dan monoton—adalah penipu yang juga layak mendapat penuntasan dendam. Tuntas! Murray Franklin (diperankan sangat lambat dan apik oleh Robert de Niro) tak ubahnya, ia telah bernasib buruk dengan keyakinan pada kebaikannya sendiri terhadap seorang yang tampak polos dan penuh harap juga rasa kagum seperti Arthur padanya—tapi ia lupa, ia melanggar hak personal Arthur sang Joker, sebab menayangkan lelucon dan pengebiran terhadapnya tanpa izin. Dan ia juga layak…

Nihilistik

Nihil, semua nihil. Joker menjadi moralis bebas yang tak memerlukan konfirmasi masyarakatnya tentang tindakannya benar atau salah. Baik atau buruk—semua ditentukan oleh dirinya sendiri. Sebagai manusia bebas kehendak. Ingat Nietzsche tentang Übermensch? Manusia super yang digambarkan bebas kehendak, tak memerlukan konfirmasi moral selain dirinya sendiri.

Image via Warner Bros.

Todd Phillips—sutradara, produser, sekaligus penulis naskah film ini—3000 % berhasil membuat Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) memainkan adegan merokok dengan sangat elegan dan luwes! Nyaris sepanjang film berlangsung! (merokok tampak sangat nikmat untuk mereka yang menghirupnya bagai menghirup penderitaan dan aroma hidup yang kian payah). Lebih dari itu film ini memberi gambaran ambigu lain bagi narasi tentang pahlawan dan manusia super!

Psikososial Karl Jung mendeklarasikan gagasanya dengan intim dalam film ini, kegelisahan kolektif atau akumulasi dari sakit sosial individual untuk melampaui gagasan Freud tentang neurosis. Film ini menempatkan Karl Jung dengan teori psikososial dan neurosis dalam proses individuasi dengan lebih tinggi ketimbang Freud. Anda harus membaca kedua pemikiran tersebut untuk menikmati kepulan asap kegelisahan yang dibakar film ini.

Demikianlah Joker—lelucon yang tak pernah sekali pun lucu! Komedi hidup yang selalu lahir dari kegetiran yang memuncak menjadi frustasi sosial. Tanpa nilai—nihilis—tetapi sebagaimana banyak nihilis, ia tak sempat memeriksa kembali nilai nilai sebagaimana dimandatkan Nietzsche. Mereka hampir semuanya, baru pada tahap meruntuhkan nilai-nilai tanpa pernah meniliknya kembali untuk melahirkan nilai nilai baru yang diharapkan menjadikan kehidupan ini sembuh dari sakit sosialnya.

Ambiguitas Moral

Lalu mari ajukan pertanyaan untuk menilai apakah Joker dan personifikasi atas penokohannya baik atau buruk? Dia salah, atau sistem sosial yang sakit telah melahirkan pribadi seperti Joker? Pertanyaan itu kita pinjam dari tesis pokok pemikiran Erich Fromm: mana yang anda pilih—masyarakat (sistem) yang sakit atau individu yang sakit? Yang membuat peradaban kita dalam sakit?

Dalam istilah masyarakat Prancis awal abad 19 yang juga dipinjam Formm sendiri;  la maladie du siècle—masyarakat yang sakit. Tirani oleh negara kapitalis atau tirani anarkisme oleh kaum tertindas? Serentetan pertanyaan (masalah) khas abad 21 atau bahkan persis sejak setelah renaisance mendeklarisakan diri dan pencerahannya melahirkan kapitalisme sebagai anak haram yang enggan diakui bapak humanisme di muka bumi ini.

Dan kita sekarang pun rasanya belum bisa menjawab pertanyaan semacam. Bahkan keadaanya jauh lebih rumit dan sulit. Meski dari kerumitannya terus menghasilkan kegemilangan dalam filsafat, kemajuan teknologi, seni dan psikologi—tak terkecuali film Joker sendiri. Adalah buah dari masalah masalah abad kita!

Film ini memberi kita gambaran, bahwa kesadaran, perlawanan, rupanya memiliki banyak wajah dan motif, tak terkecuaki ekspresi yang lahir dari ketertekanan, rasa cemas, takut dikebiri dan takut terasing dari manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Dan Joker menunjukkan salah satunya—dengan eksperesi memuncak; dendam harus dituntaskan, tak seperti rindu, dendam melahirkan anarki, menjadikan sejarah buta sehingga bisa memakan korban siapa saja tak peduli ia baik atau buruk. Kaya tau miskin.

Dendam membuat sejarah tak pernah memiliki tujuan pasti sehingga membuat kita sebagai mahluk sejarah seperti terus terkutuk dalam ambiguitas, kebingungan! dan keterlambatan mereka para bijak bestari untuk menyedikan jawaban (sementara) bagi kebingungan umatnya bisa berakibat fatal pada segala rupa praktik ekspolitasi, kolonialisme, diskriminasi, yang darinya setiap kali akan melahirkan penderitaan dan kegetiran baru, Joker-Joker baru,—yang tak pernah bisa menertawakan dirinya sendiri apalagi menghibur orang lain.

Dunia yang kita tinggali mungkin memang dunia yang sakit. Dan kebahagiaannya hanya ilusi yang bergantung pada kemampuan imajinasi. Kenyataan tak pernah benar-benar membahagiakan terutama bagi mereka yang papa dan dipinggirkan oleh kita yang sesekali merasa sanggup berbahagia.

Maka solidaritas dan empati sosial harus dibangun, hukum yang adil, kekuasaan yang bermoral pada landasan kemanusiaan harus tegak sebagai kapal di tengah dunia kita yang tak ubahnya laut bergelombang Tsunami—dan lebih mengerikannya; kita tak pernah benar-benar persis tahu ke mana kapal sejarah ini hendak menuju.

Seperti film Joker yang konstan, menerkam kita sejak mulai sampai akhir, nyaris tanpa jeda dan acuan, tulisan ini dibuat naratif dengan pola alur yang sama. Lantaran saya sendiri memiliki ketakutan dan beban psikis yang sama tak lucunya.

*

Lalu apa moral film ini? Tidak ada. Sebagaiamana nihilisme Nietzsche, ia hanya bertugas mengguncang, meledakan dinamit, merangsek dengan kegelisahan sampai nilai nilai kemapanan runtuh. Kita diharapkan “menilai kembali nilai nilai—semua nilai tanpa kecuali.” Untuk menghadirkan wajah dunia yang lebih baik dan humanis, jika saja itu mungkin. Sungguh tugas berat yang tak pernah dikerjakan para nihillis dan memang demikian adanya.

Kesimpulan? Saya kutipkan saja langsung dari pemeran dan rumah produksi film ini—yang dilontarkan paska heboh di negara asalnya, mengingat film ini sampai memaksa Departemen keamanan nasional AS, Department of Homeland Security, Kepolisian Los Angels dan bahkan FBI, menerbitkan memo khusus peringatan keamaan kota akibat protes yang berlangsung setelah rilis film ini karena khwatir kekerasan akan ditiru di dunia nyata. Atau yang sebenarnya film ini meniru dunia nyata? Entahlah.

Sang sutrada mengatakan bahwa kekhawatiran semacam itu berlebihan, mengingat ini hanya fiksi. “It’s just a movie about a character that’s going through a transformation. To me, it just feels like, I don’t know how to put it into words, it’s just not a big deal.”

Sementara pemeran utama film ini, Joaquin Phoenix, mengajukan pembelaan senada: “I think it’s really good … when movies make us uncomfortable or challenge us or make us think differently.”

Saya kira dia tidak akan mendapatkan Piala Oscar meski layak—tetapi seperti Nietzsche yang melahirkan hologan supernya sendiri, Phoenix akan memiliki pengagumnya—yang mungkin berbuat lebih jauh dari yang bisa ia kira sebagaimana Nietzsche memiliki pengagum seperti Hitler. Jadi wajar saja sebagian penduduk di US khawatir. Semoga saja tidak..

WarnerMedia selaku rumah produksi film ini menyatakan dalam rilis medianya, sebagaimana dikutip CNN, “the movie does not aim to hold this character up as a hero.”

Dia bukan pahlawan tentu saja—mengingat kita telah biasa memahami pahlawan sebagai “Super” dan mentalnya ditampilkan tidak sakit. Ya meski pahlawan sesempurna itu barangkali memang hanya ada di dunia fiksi?

Jadi sudahkan Anda hari ini berhasil menghibur diri sendiri dengan lelucon yang nyaris sama sekali tidak lucu? Saya sendiri tampaknya hari ini berhasil—dengan menulis ulasan yang sama sekali tidak lucu ini!

It’s not a Joke (R)

*) Sabiq Carebesth—Penulis lepas, editor Galeri Buku Jakarta–yang baru kali pertama nonton film seri Joker—dan belum pernah nonton film Batman di Bioskop. Lantaran lebih menyukai genre film cowboy—

Continue Reading

Tabloids

Ruang Untuk Kata Kata, Ruang Untuk Kita

mm

Published

on

Kemajuan teknologi membutuhkan ruang imajiner dalam logika yang dikembangkan, peradaban politik lahir tak lepas dari fase memuncak bagaimana kehalusan dan kejujuran sublim sastra telah memberikan inspirasi bagi kondisi-kondisi memprihatinkan abad kita dari krisis iklim, konflik etnik, krisis pangan, atau ketimpangan dalam keadilan gender—wacana politik kerap kaku dan terlalu keras dalam upayanya memahamkan kepada kita, tetapi sastra dan buku-buku ia berhasil menkonversinya menjadi suatu analogi dan metafora intim tentang krisis kepada nalar dan logika kemanusiaan kita yang dari sana orang-orang terdorong untuk bergerak dan menemukan bentuk-bentuk nyata kebaikan.

Inilah dunia yang kita inginkan—mungkin juga anda, ruang yang kita rindukan di tengah begitu rupa urusan saling silang kepentingan atas nama politik, kekuasaan, atau modal dalam kompetisi primitif perebutan kuasa kapital—yang di dalam bangsa kita sendiri mau pun dunia secara global tengah berkembang dalam pusaran konflik entah untuk bentuk peradaban yang mana lagi.

Dalam ruang bincang buku, mendialogkan kehidupan bagi pikiran dan batin seperti ini—tampak nyata dunia dalam ekosistem yang akrab (untuk kembali menebalkan kepercayaan) bahwa sastra dan buku buku, dunia kreatif, hadir sebagai penerimaan kepada sesama dan sesiapa saja untuk suatu usaha memahami dan menerima bahkan hal hal yang individualitas kita memang berangkat dan dasariahnya berbeda.

Ruang di mana buku dan sastra dibincangkan, nyata menciptakan sebuah dunia yang diletakkan dalam tautan untuk memahami kehendak diri dan penemuan atas “individuasi” tiap tiap individu, ruang semacam itu telah memberi bekal dan pondasi kokoh untuk eksosistem yang lebih luas, di mana kita mungkin berkontribusi bagi kehidupan baik sebagai pribadi bebas mau pun solider.

Apa yang kerap tidak kita pahami dari dauni buku dan sastra adalah kemampuannya untuk mengejewantahkan empati kemanusiaan dengan cara yang metaforik, tampak bahwa ia seperti omong kosong menghabiskan waktu, tetapi di sana berangsung keseluruhan upaya yang mungkin bagi penebalan rasa kemanusiaan, pencerahan bagi nalar kritis, sebab di sana berlangsung suatu kerja mengingat, mendedah dan akhirnya upaya memahami rupa rupa hidup dalam perbedaanya yang khas.

Dunia buku, dunia menulis dan sastra khususnya, memang tidak dihadirkan sebagai perangkat dan perkakas langsung untuk suatu hal yang secara konstan tampak hasil dan agenda perubahan yang revolutif. Tetapi siapa bisa memungkiri tautan empatik, spirit, kematangan dan suatu persuasi kepada kejujuran kemanusiaan yang bisa diberikan buku dan sastra? Suatu ambang kejujuran dalam kemanusiaan kita yang mulai kering di sana sini. Dunia secama itu, nyata telah mendorong orang orang dalam penciptaan kemajuan secara lebih nyata dalam banyak rupa dari zaman dan kemanuisaan yang kita butuhkan dalam kondisi politik apa pun.

Kemajuan teknologi membutuhkan ruang imajiner dalam logika yang dikembangkan, peradaban politik lahir tak lepas dari fase memuncak bagaimana kehalusan dan kejujuran sublim sastra telah memberikan inspirasi bagi kondisi-kondisi memprihatinkan abad kita dari krisis iklim, konflik etnik, krisis pangan, atau ketimpangan dalam keadilan gender—wacana politik kerap kaku dan terlalu keras dalam upayanya memahamkan kepada kita, tetapi sastra dan buku-buku ia berhasil menkonversinya menjadi suatu analogi dan metafora intim tentang krisis kepada nalar dan logika kemanusiaan kita yang dari sana orang-orang terdorong untuk bergerak dan menemukan bentuk-bentuk nyata kebaikan.

This slideshow requires JavaScript.

Buku buku dan sastra memberi kita tidak hanya imajinasi yang membuat nalar dan logika tidak membebaskan diri secara otonom dari intuisi dan individuasi yang bagamana pun—apalagi di zaman milenial sekarang dimana determinisme atas totalitas apa pan menjadi menakutkan; tak terkecuali pada fanatisme atas sekterianisme dan nilai nilai pengetahuan ideologis abad modern ini. Ambisi totalitias dengan pananda fanatisme selama abad modern semacam itu, tercatat telah melahirkan banyak tragedi dan korban dan sekarang abad kita tengah bergerak mencari bentuk bentuk baru sebagai alternative, disadari pun tidak—meski juga terasa prosesnya gelap kelabu—dan sastra, buku buku, sangat mungkin melepangkan kesempitan dan kemuraman demikian.

Ruang dan pertautan, kehendak merasa dan memahami kondisi zaman dan kehidupan hari ini, di mana kita berharap tumbuh harapan di atas tumpukan kerumitan dan kejumudan kita pada masalah masalah abad kita, berlangsung dalam ruang diskusi dan dialog, seperti berlangsung (21/11) dalam momen peluncuran buku “Memikirkan Kata”. Ruang semacam itu, sekali lagi, sedikit atau banyak menebalkan kembali kepercayaan kita dan mungkin juga anda, kalian yang hadir sore itu, tentang bahasa bahasa universal dari kemampuan manusia untuk saling bersolidaritas, suatu upaya saling memahami dunia dan proses penemuan, suatu jejak individuasi yang puspa ragam pada tiap individu, memberi dorongan kepada diri sendiri dan energi yang membuncah darinya telah menciptakan kesadaran kolektif pada banyak kemungkinan penciptaan dan alternatif bagi kerumitan dan krisis zaman kita—kita lalu merasa, meski mungkin hanya untuk sejenak, mampu merobohkan ambang egoisme, sekterianisme, narsisme, kemayaan, kepalsuan dunia internet dan hal semacam itu yang kita keluhkan diam diam dari dunia kita hari ini meski dan sebab kita satu dimensi di dalamnya—dan mengambil dari momen sejenak itu kepercayaan dasar akan kemanusiaan dan kemampuan kreatif manusia untuk menjadi pendorong dan pencipta keindahan bumi ini. Untuk suatu persahabatan universal dan kreatifitas di mana kerja termasuk kerja kreatif adalah eksistensial dan material dalam proses dari gerak menyejarah.

Kami percaya, semakin banyak ruang semacam ini dicipta, semakin kecil pula peluang bagi sakit sosial abad kita untuk berkembang dan mengendemikkan diri—memungkinkan hal semcam itu ditekan dan dinetralisir, dan dengan begitu sebuah upaya kecil merawat abad kita, zaman dan manusia manusia konkrit di dalamnya yang adalah kita dan generasi yang kita lahirkan kelak dari proses hari ini, petang tadi telah dilangsungkan.

Maka kami akan mencatat acara petang itu, paling tidak bagi Galeri Buku Jakarta sendiri dan semua yang ada di dalamnya, sebagai sebuah moment istimewa, historis dalam banyak sisi dan harapannya.

Terimakasih kami sampaikan untuk semua, selamat untuk tim kerja dan sukses selalu untuk kita semua. Sekali lagi selamat memikirkan kata—kata kata yang dipikirkan, tautan ambigu dunia di dalam diri kata-kata sendiri dan dunia penciptaan yang kita ciptakan dari bahan baku kata kata, sangat mungkin dan terbukti telah merubah begitu rupa dunia dulu dan nanti. Percaya atau tidak, itu kenyataanya.

Jadi kenapa kita memikirkan kata? Atau kenapa kita tidak memikirkan kata sebelum kita menggunakannya? Alih-alih hanya menjadikan kata kata sebagai bahan baku tanpa memahami gelap terang dalam pribadi kata-kata sendiri? (*)

___

Jakarta, 21 September 2019

Sabiq Carebesth—editor “Memikirkan Kata”

Dan pendiri Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending