Connect with us

Buku

Nasib Sunyi Seorang Penyendiri

mm

Published

on

Shinta Maharani *)

Bartleby terbaring meringkuk di dekat dinding dengan lutut menekuk, dengan kepala menyentuh batu yang dingin. Tak ada bagian tubuhnya yang bergerak. Dia hidup tanpa makan dan kemudian menutup matanya.

Dan Herman Melville, pengarang Amerika Serikat dalam bukunya “Bartleby; Si Juru Tulis” pun mengakhiri cerita pendeknya: “Bartleby Si Juru Tulis. Bartleby di Wall Street, jantung uang New York, Amerika Serikat. Tempat para pialang saham bersaing di pinggiran kota Manhattan. Surga para kapitalis yang tak pernah sepi.”

Sepanjang cerita, Bartleby menjadi tokoh yang keras kepala. Dia selalu membuat jengkel pengacara yang menjadi bosnya. Bartleby seorang pemuda yang pucat dan mengundang iba. Dia jenis orang yang kalem dan berkepala dingin.

Penolakan, Apa Artinya? 

Sebagai juru tulis, ia pendiam dan senang mengurung diri, Bartleby menikmati pekerjaannya menyalin dokumen. Ia sama sekali tak beristirahat menulis. Semalaman penuh, dengan bantuan cahaya matahari di kala siang dan lilin di saat hari gelap. Wajahnya pucat bagai mesin dan ia tak berkata-kata.

Suatu hari sang pengacara meminta Bartleby untuk membantunya memeriksa dokumen. Tapi, Bartleby menolak “Saya tak mau,” kata dia.

Herman Melville

Si pengacara mengulang lagi perintahnya dan Bartleby bersikukuh menolak. Sejak itu hari-hari pengacara dan Bartleby diwarnai ketegangan. Bartleby selalu menolak perintah si bos.

Bartleby yang tenang dan dingin terus saja bekerja di dalam ruangannya. Tak mau keluar dari pertapaannya. Si pengacara tak tahu harus berbuat apa lagi. Hingga suatu hari dia mengusir Bartleby dan dia tidak mau pergi dari ruangannya.

Pengacara sangat jengkel dengan sikap Bartleby yang sekeras batu. Tapi, ia juga kasihan pada Bartleby yang malang.

Bartleby tak mau pergi dari kantor itu. Rekan-rekan pengacara yang datang ke sana pun tak mampu menyuruh Bartleby melakukan keinginan mereka. Ketegangan, mungkin juga frustasi dari kedua pihak mengemuka, terus berlangsung dan memuncak.

Bartleby sekonyong-konyong jadi momok dan setan. Pengacara kehilangan akal. Mau lapor polisi tapi ia kasihan karena di penjara Bartleby akan menjemput kesuraman.

Keputusan pun didapat! Akhirnya pengacara menempuh jalan tak semestinya, ia mengalah, bukan mengusir, ia sendiri yang pindah meninggalkan kantor itu. Si pengacara mengosongkan kantor. Semua perabot dibawa. Bartleby tak merespon, ia tetap berdiri di balik sekat biliknya yang akan dibongkar.

Dia mengucapkan selamat tinggal kepada Bartleby. Sepekan kemudian ia datang ke kantor lamanya. Bartleby tetap berada di gedung di Wall Street. Dia duduk di pegangan tangga di siang hari dan tidur di pintu masuk di malam hari. Dia tak mau beranjak meski diusir berkali-kali. “Saya suka diam tak bergerak,” kata Bartleby.

Hingga suatu hari, pemilik baru kantor lama pengacara memberi tahu kalau dia melaporkan Bartleby ke polisi sebagai gelandangan. Si juru tulis tak melawan ketika digiring polisi. Beberapa pejalan kaki iba terhadap Bartleby. Dia berjalan tenang melewati panas dan riuh jalanan.

Di penjara dia tak mau menyentuh makanan. Ia senang menyendiri di lapangan kompleks penjara dengan dinding tinggi yang mengelilingi. Tak semua tahanan boleh ke lapangan.

Bartleby menghembuskan napasnya di lapangan yang senyap. Pemakamannya sepi.

*

Setelah membaca cerpen ini ingatan saya seakan terus bangkit di jalan-jalan, saat saya melintasi jalanan tengah malam hingga subuh menjelang. Melihat gelandangan di pasar-pasar, tidur di emperan toko-toko. Mereka melawan dinginnya malam, serbuan nyamuk, dan tikus yang mondar mandir.

Seperti Bartleby, nestapa menyusup di antara gemerlap bintang dan kerlap kerlip lampu kota.

Untuk perempuan yang menjulurkan tubuhnya di emperan penjual kembang mawar-melati tengah malam: selamat tidur. Kesendirian tak kalah sepi dari kesunyian, aku tak pernah benar-benar tahu.

*) Shinta Maharani, penulis lepas dan jurnalis.

 

Continue Reading
Advertisement

Buku

Anis Hidayah dan Memoar Gelap Buruh Migran Indonesia

mm

Published

on

Sejumlah Buruh Migran Wanita berada di penampungan Tenaga Kerja Indonesia di KBRI, Kuala Lumpur, Malaysia, 30 Juni 2016. / Photo by TEMPO

Mayoritas tulisan dalam buku “Di Balik Remitansi: Realitas Pelanggaran HAM terhadap Buruh Migran Indonesia” ini merupakan respon terhadap kasus-kasus buruh migran yang masih terus terjadi dengan jutaan korban yang tak terhitung, sementara di sisi lain respon pemerintah seringnya bak pemadam kebakaran sembari menyalahkan korban. Macetnya proses pengambilan kebijakan terus berlaku, sementara kasus-kasus terus berjatuhan dan memakan korban. Inisiatif menyongsong hadirnya inisiatif baru dari berbagai daerah, terutama dari desa serta kebijakan baru  hadir dengan proses berkelok-kelok dan meletihkan. Sampai kapan?

Buku “Di Balik Remitansi: Realitas Pelanggaran HAM terhadap Buruh Migran Indonesia” merupakan karya terbaru aktivis buruh migran indonesia, Anis Hidayah. Buku terbitan KPG (2019) tersebut bersumber dari kumpulan artikel Anis Hidayah di berbagai media massa seperti Seperti Kompas, Jawa Pos, Koran Sindo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Koran Tempo dan Majalah Tempo.

Dipengantari Yuniyanti Chuzaifah dan mba Lia Sciortino Sumaryono, dilengkapi komentar singkat dari beberapa tokoh seperti Menlu Retno Marsudi dan mba Eva Kusuma Sundari, buku ini menjadi salah satu yang paling otoritatif dalam membincang persoalan buruh migran indonesia khususnya dari perspektif HAM. Buku ini akan memberi kontribusi pada wawasan yang lebih lapang dan mendalam karena ditulis oleh Anis Hdayah yang berpuluh tahun bekerja mendampingi dan mengadvokasi masalah-masalah buruh migran indonesia.

Tulisan-tulisan pada keseluruhan bab dalam buku ini merupakan ekspresi kegelisahan, amarah, geregetan, desakan melihat korban dan tingkah polah pemilik otoritas yang tak kunjung menunjukkan komitmennya untuk menyelesaikan persoalan dari akarnya.

*

Penulis buku ini telah bekerja untuk buruh migran sejak tahun 1996 ketika masih kuliah di Universiatas Jember. Ia tergugah melihat berita koran tentang PRT migran asal Jember yang menjadi korban perkosaan di Saudi Arabia yang tidak mendapatkan keadilan. Kisah itu seperti melempar Anis ke masa kecil, dimana ia bermain dengan anak-anak sebaya yang mayoritas orang tuanya ke Malaysia dan Saudi Arabia. Mereka diasuh oleh kakek neneknya.

Di Kampung halamanya, dusun Bendo desa Sidorejo Kec Kedungadem Bojonegoro, merupakan desa sangat miskin, mayoritas petani dan buruh migran.

“Tetangga dekat saya semuanya buruh migran. Rumah-rumah mereka terbuat dari rakitan bambu dan berlantai tanah, Malaysia dan Saudi menjadi tumpuan kehidupan mereka, karena panen padi di kampung hanya bisa sekali setahun (sawah tadah hujan). Mengingat itu semua, rasanya berkemacuk semua perasaan. Dan itu menjadi dorongan kuat bagi saya kala itu untuk bergabung dalam Solidaritas Perempuan di Jawa Timur pada tahun 1998.” Ungkap Anis Hidayah.

Memoar Luka Buruh Migran

Ketika Migrant CARE didirikan pada tahun 2004, Anis menjadi salah satu pendirinya. Ia mempunyai mimpi besar untuk memperbaiki nasib buruh migran, terutama buruh migran perempuan.

Nirmala Bonat adalah kasus pertama yang ditangani Migrant CARE pada tahun 2004. Pada medio Mei 2004, masyarakat Indonesia terguncang dengan kabar seorang gadis yang hampir tidak bisa dikenali karena luka menganga di seluruh tubuhnya, kedua payudaranya, kedua pahanya, punggunya penuh luka dengan gambar setrika.

Peristiwa tragis dan memilukan itu membuat shock, terlebih penulis buku ini ketika itu berkesempatan untuk mendampingi secara langsung di Kualalumpur.

“Saya tidak bisa lupa aroma lukanya, lekat dalam jiwa saya. Manusia semacam apa Yim Pek Ha (majikan Nirmala) yang tega menganiaya manusia lainnya. Air mata saya bahkan menetes di keyboard komputer saat mengetik kalimat ini. Saat mendampingi Nirmala Bonat, saya juga memanfaatkan untuk melihat secara lebih dekat kasus-kasus lain yang ada di shelter KBRI kala itu, tepatnya gudang bukan shelter. Ratusan gadis ada di beberapa kamar belakang KBRI, aroma anyir menyengat. Saya dekati satu-satu, tidak hanya memasang telinga, tapi jiwa saya juga berlabuh bersama mereka. Banyak yang sakit kelamin karena menjadi korban trafficking yang dijadikan pekerja seks, namun tidak memperoleh perawatan signifikan. Banyak yang sakit kuning dan bahkan ada yang meninggal karena sakit tak kunjung diobati.” Kenang Anis Hidayah.

Anis bersama pak Alex ( Migrant CARE Malaysia) kala itu menuliskan semua yang lihat dan dengar, ia mengirim surat ke menteri kesehatan Malaysia, ke Parlemen Malaysia dan konferensi pers.

Rusdi Hardjo, Duta Besar RI untuk Malaysia kala itu marah besar dan mengatakan bahwa KBRI bukan puskesmas. Namun Tuhan berkata lain, KPK akhirnya membawanya dua tahun penjara karena menerima suap perpanjangan paspor buruh migran. Majikan Nirmala Bonat akhinya di vonis 12 tahun setelah proses hukum selama 8 tahun, entah berapa kali Migrant CARE berdemo di depan Keduataan Malaysia di Jakarta.

Tak berselang lama, Ceriyati juga mengalami hal serupa di negeri Jiran, ditemukan bergelantungan di lantai 7 setelah mencoba lari dari lantai 23 dengan kain yang diikat, namun nyangkut di lantai 7. Muka dan bibir Ceriyati luka menganga karena, setiap majikannya selesai menyiksa, selalu dilumuri garam. Tak bisa dibayangkan perihnya. Mendampingi  Ceriyati menjalani proses hukum di Malaysia kala itu setiap malam membuat Anis menangis, “saya simpan air mata saya untuk malam hari, karena siang harinya bersama Ceriyati dan keluarganya (anak sulungnya autis, anak bungsunya perempuan 4 tahun).” Kenangnya.

 

Tak terhitung, berapa kasus yang telah ditangani Anis bersama kolega di lembaga Migrant CARE yang ia ikut dirikan, dan selalu, dalam situasi tidak mudah. Marah, sedih, dan harus bicara dengan pengambil kebijakan yang bebal.

Menulis adalah salah satu cara untuk mengeskpresikan semua rasa yang berkecamuk ketika mendampingi para korban. Pun demikian saat menemukan secarik kertas di pinggir jalan di Kualalumpur yang bertuliskan “ Indonesain maid now on sale” (Pekerja Indonesia di obral) dan menteri tenaga kerja waktu hanya mengatakan bahwa itu iklan iseng seperti ikaln sedot WC di Indonesia.

Hingga buku ini ditulis, Anis masih tak secuil pun menyerah dan lelah. Ia masih berada dalam ruang buruh migran yang cenderung gelap dan suram. Maka ia tak berhenti bekerja.

Direktur Eksekutif Migrant Care dan Penulis Buku di “Di Balik Remitansi” saat menerima penghargaan pada Kamis (22/1). Anis Hidayah meraih penghargaan Yap Thiam Hien 2014 karena dianggap gigih dalam memperjuangkan hak-hak pekerja migran . | ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.

Selain menangani kasus, Migrant CARE juga sangat aktif mendorong lahirnya kebijakan, antara UU Nomor 18/2017 dan ratifikasi konvensi PBB tentang perlindungan buruh migran. Berbagai upaya dilakukan, terutama bagimana membawa data-data kasus yang kami tangani kepada mereka untuk memperkuat desakan. Tak berhenti di tingkat nasional, advokasi di PBB dan ILO juga kita tempuh dengan mengangkat kasus-kasus buruh migran di forum dunia.

Buku Di Balik Remitansi

Kembali kepada buku ini, Bab I dalam buku ini bertema tentang PRT Migran, Pekerja yang Tak Pernah Dianggap, berisikan tentang potret perempuan pekerja rumah tangga migran yang selama ini tak pernah dianggap pekerja, namun realitas menunjukkan mereka yang tak nampak di balik kokohnya dinding rumah majikan sesungguhnya adalah penentu nasib dari berjuta kehidupan keluarga di berbagai penjuru dunia, termasuk para presiden, menteri dan pejabatan negara lainnya. Di banyak negara, termasuk di Indonesia masih banyak yang menyebutnya sebagai “Pembantu”, maka lahirlah tulisan “Pekerja Rumah Tangga bukan Pembantu”.

Sebagai pembuka dalam bab I. Selanjutnya dalam sub bab I, Nasib Malang PRT Migran masih mengupas tentang tak kunjungnya negara ini mengambil sikap yang tegas untuk segera melindungi PRT, tak hanya menghentikan penempatan mereka ketika ada diantara mereka yang dianaya majikan. Pun demikian dalam “Perdagangan Orang di bulan Ramadhan”, bulan yang suci dan sakral di banyak negara. Namun nun jauh di sebuah negeri yang diangagap sebagai holly land (tanah suci), bulan suci Ramadhan selama ini justeru jadi momentum untuk eksploitasi para pekerja rumah tangga migran mereka dengan modus ibadah umroh.   Begitu juga tulisan “PRT Tak berhak mudik”, “Berlindung di Hutan”, “Sesat Nalar Roadmap Penghentian PRT Migran” mengeksplorasi ironis para penyumbang devisa yang mencari perlindungan di hutan.

Sementara dalam Bab Bab II, Kematian yang Mengancam, memaparkan informasi tentang masih banyaknya buruh migran terancam hukuman mati di berabgai negara, bahkan beberapa diantara mereka yang telah di eksekusi mati, seperti Ruyati. Termasuk tingginya angka kematian buruh migran yang tiap tahun lebih dari seribu nyawa yang mati sia-sia, sebagian tercatat, sebagian lagi langsung di larung ke laut. Ini khusus yang menimpa ABK (anak Buah Kapal). Tulisan-tulisan di bab II “Bermain dengan Nyawa”,

“Realitas Ruyati di balik pidato SBY”,  “Menghindarkan Ancaman Hukuman Mati”, dan “Berpijak Di atas Ombak” semuanya mengisahkan tentang nyawa yang tak lagi bermakna meski konstitusi menjaminnya sebagai hak hidup warga negara. Dalam tulisan Relaitas Ruyati di Balik Pidato SBY, sesungguhnya merupakan ekspresi kegeraman saya dimana di ILO Geneva, dalam forum perburuhan internasional yang terhormat, retorikan tentang upaya-upaya perlindungan pemerintah Indonesia kontras dengan Ruyati yang di pancung di Saudi.

Melanjutkan bab selanjutnya, dalam bab III, tentang Diplomasi Setengah Hati, ada empat artikel tentang gambaran diplomasi kita dengan negara lain. Masih terkait dengan tulisan dalam bab sebelumnya tentang Ruyati, tak lama setelah kabar duka pasca Ruyati di pancung di negeri onta, Universitas negeri terkemuka di Indonesia obral gelar doktor honoris causa untuk sang raja dari negeri tersebut. Tentu sikap itu menimbulkan pertanyaan besar: bukankah mestinya kita mengibarkan bendera setengah tiang? Kemarahan saya yang semoga juga mewakili ekspresi sebagian masyarakat Indonesia tercermin dalam tulisan

“Gelar Sang Raja dan Tragedi Buruh Migran”. Masih dalam bab III, tragedi api di KJRI Jeddah saat ribuan buruh migran tidak berdokumen berdesakan dari pagi hingga pagi karena ingin memanfaatkan amnesti (pengampunan) berujung pada nestapa karena layanan pemerintah yang kurang memadahi. “Api di KJRI Jedah” memcoba menjelaskan cerita di balik tragedi tersebut. Di akhir bab III, berusaha mengakabrkan kabar gembira tentang perjuangan panjang untuk ratifikasi konvensi buruh migran yang setelah 13 tahun akhirnya diratifikasi. Saya ingat, malam sebelum DPR mengesahkan dalam sidang paripurna, saya nyaris tidak bisa memejamkan mata, menangis bahagia, mengingat masa-masa bagaimana proses itu berlangsung dan jelang subuh, lahirlah tulisan “Jalan Panjang Ratifikasi” yang di muat harian Kompas pada tahun 2012.

Sampul Buku “Di Balik Remitansi” | No. ISBN 9786024811648 | Mei, 2019

Bab IV yang berjudul Mengembalikan Makna Perlindungan, berisikan lima tulisan saya;  Ada TKI di Sebrang Lautan, Bukan Sekedar Menambal Genteng Bocor, Perlindungan Tanpa Evaluasi, Mimpi Perlindungan TKI dan Arah Baru Perlindungan Buruh Migran Indonesia.

Dua artikel diantara lima tulisan dalam bab ini, yaitu  Bukan Sekedar Menambal Genteng Bocor dan Arah Baru Perlindungan Buruh Migran Indonesia membahas tentang lama dan berlikunya proses revisi UU Nomor 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI. “Ibarat rumah, UU ini fondasinya rapuh, gentengnya bocor di sana sini dan terancam ambruk yang dapat membahayakan keselamatan penghuninya. Sehingga renovasinya tidak sekedar membenahi gentengnya yang bocor, tetapi harus dimulai dengan membangun kembali fondasinya yang kuat untuk menjadi sebuah rumah yang kokoh dan memberikan keamanan, kenyamanan dan keselamatan bagi penghuninya”. Itu adalah kutipan dalam tulisan Bukan sekedar menambal genteng bocor.

Memungkasi bab dalam buku ini, bab V tentang peran masyarakat dan daerah,  memberikan apreasiasi dan pesan bahwa dibalik sengkarut masalah buruh migran, sudah ada secercah cahaya dari desa, sebuah area dimana merupakan pintu pertama bagi buruh migran (DESBUMI) yang akan menginjak kaki keluar rumah untuk mengadu nasib ke negeri impian. Desa Peduli buruh migran yang mulai lahir pada tahun 2014 semakin menujukkan bahwa perlindungan sesungguhnya harus dimuali dari hulu. Inovasi itu juga akhirnya dilihat dan dicatat oleh pengambil kebijakan, sehingga dalam UU Nomor 18/2017 tentang perlindungan pekerjha migran Indonesia, desa dalam pasal 41 diberikan kewenangan untuk melindungi warganya dari bahaya trafficking dan kejahatan lainnya yang mengancam buruh migran. DESBUMI juga sudah di dengar oleh PBB, baik melalui laporan bayangan Migrant CARE yang dikirimkan pada saat sesi 27 komite Pekerja Migran PBB berlangsung di Geneva 5-6 September 2017 dan dibawa langsung oleh salah satu kades DESBUMI Dukuhdempok Jember ke Geneva pada sesi tersebut. Selain itu, pada bulan Maret 2018, saya juga berkesempatan menyampaikan DESBUMI dalam UN Migration Dialogue di Markas Besar PBB di New York.

Cerita-cerita itu dapat di baca dalam sub bab “Desentralisasi Perlindungan Buruh Migran”, “Dari Desa, Peduli Buruh Migran” dan  “Catatan untuk laporan PBB”.

Dua puisi yang merupakan epilog dalam buku ini; Buruh migran perempuan dan PRT itu adalah aku, merupakan puisi yang lahir karena dua situasi yang berbeda. Puisi “PRT itu adalah aku” lahir karena saya marah setelah menghadiri sebuah pertemuan dengan pemerintah dimana dalam pertemuan tersebut, pengambil kebijakan menyebut PRT migran sebagai babu dan ingin menghentikan mereka ke luar negeri karena banyak masalahnya. Sementara puisi “Buruh migran perempuan” adalah ekspresi dari kontradiksi kasus yang menimpa buruh migran seperti Ruyati, Ceriyati dll dengan ambisi ketua DPR yang punya drama bakpau dan akhirnya di beku KPK.

Selamat membaca. (*)

 

Continue Reading

Journal

Gunawan Wiradi: Konsepsi Tentang Ilmu dalam Penelitian Masalah Agraria

mm

Published

on

“Ilmu (science) bukanlah masalah isi pengetahuan itu sendiri, melainkan suatu ‘metode pendekatan’, yaitu metode yang menghasilkan temuan yang dapat diuji kebenarannya, melalui penelitian.”

___

Oleh: DrHC. Ir. Gunawan Wiradi M.Sos.Sc

Di dalam membicarakan konsepsi tentang ilmu, maka sekedar sebagai titik tolak, akan disampaikan pandangan yang berasal dari aliran positivisme. Menurut kaum positivist, ilmu merupakan usaha untuk memperoleh bangunan pengetahuan yang dapat meramal dan menjelaskan berbagai fenomena di dunia ini. Untuk itu, harus disusun teori-teori, yaitu pernyataan-pernyataan yang sangat umum sifatnya mengenai keteraturan hubungan-hubungan segala yang terdapat di dunia ini, yang memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat meramal dan menjelaskan berbagai fenomena yang kita temukan melalui observasi dan eksperimen secara sistematis (Keat and Urry, 1980: 4).

Tujuan ilmu adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul sebagai akibat dari adanya “puzzles” (kejutan, keterheranan) yang dihadapi manusia (Kuhn, 1970). Dengan kalimat lain, tujuan ilmu adalah mencari kebenaran (truth), dalam hal ini adalah kebenaran ilmiah. Adapun yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah adalah kebenaran obyektif-positif, bukan kebenaran normatif. Jadi, bukan masalah right or wrong, tetapi masalah true or false. Untuk ini, semua kegiatan ilmiah dalam rangka mencari kebenaran dalam arti ini haruslah didasarkan pada suatu sikap berpikir secara ilmiah (scientific attitude of mind), dan bukan pada sikap dogmatis, misalnya.

Ada beberapa prinsip di kalangan ilmuwan yang biasanya dijadikan pegangan di dalam bersikap ilmiah ini, walaupun di antara prinsip-prinsip itu ada yang masih selalu menjadi perdebatan di antara mereka, bahkan memecah para ilmuwan menjadi dua atau lebih kelompok-kelompok yang saling silang pendapat atau sikap. Beberapa prinsip itu adalah sebagai berikut (Bierstedt, 1970):

  1. Obyektivitas (tetap menjadi debat, terutama secara filsafat).
  2. Netralitas etik atau “bebas nilai” (tetap menjadi debat, bahkan dalam hal ini ilmuwan terbelah menjadi dua kelompok).
  3. Relativisme, yakni bahwa “kebenaran ilmiah” itu sifatnya sementara. Artinya, sesuatu itu dianggap benar (setelah diuji dengan metode ilmiah), sepanjang belum ada bukti-bukti ilmiah yang lain uang membantahnya.
  4. Parsimony, maksudnya adalah “hemat” atau “secukupnya”. Artinya, cara menguraikan sesuatu itu jangan sampai berlebihan. Ini bukan soal panjang pendeknya uraian, melainkan bahwa menguraikannya jangan melebihi yang diperlukan.
  5. Skepstisime, maksudnya suatu sikap kritis, dengan selalu bertanya “benarkah begini”, “salahkah begitu”, “mengapa”, dan seterusnya.
  6. Kerendahan hati (humility).

Selain berpijak pada prinsip-prinsip sikap ilmiah di atas, kebenaran ilmiah lebih lanjut juga didasarkan atas kriteria tertentu. Ada berbagai teori tentang kriteria kebenaran ilmiah ini, tetapi pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua teori; dan pada umumnya kedua-duanya ini adalah aturan yang harus ditaati oleh semua cabang ilmu, yaitu teori koherensi dan teori korespondensi.

Teori Koherensi. Kriterium koherensi menyatakan bahwa “sesuatu pernyataan itu dianggap benar apabila pernyataan itu ‘koheren’ dan konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar”. Hal ini didasarkan atas anggapan bahwa sumber kebenaran adalah rasio (reason). Pola pikir yang demikian ini biasa disebut sebagai pola deduktif-rasional.

Teori Korespondensi. Teori ini menyatakan bahwa “suatu pernyataan itu dianggap benar apabila materi yang dikandung oleh pernyataan itu ‘bersesuaian’ (corresponds) dengan obyek faktual yang dituju oleh pernyataan itu”. Artinya, isi pernyataan itu harus mempunyai manifestasi empiris (artinya, bersifat nyata dalam pengalaman atau pengamatan). Di sini yang dianggap sebagai sumber kebenaran adalah fakta. Pola berfikir ini bersifat induktif-empiris (faktual).

*) Gunawan Wiradi, adalah pakar politik agraria indonesia, Guru Besar IPB dan penasihat di berbagai organisasi penelitian dan jurnal.

Unduh Makalah Lengkpanya di sini 

Continue Reading

Buku

Memungut Welas Asih dari “The Adventures of Huckleberry Finn”  karya Mark Twain

mm

Published

on

Shinta Maharani *)

Sosok Finn istimewa karena ia digambarkan sebagai cerdik yang kemampuannya menggunakan akal begitu menonjol.Dia digambarkan selalu menggugat sesuatu yang tidak masuk akal buat dia. Misalnya suatu hari keluarga angkatnya, janda Douglas mengeluarkan buku dan mengajari Finn tentang Musa dan pengrajin rotan. Tubuh Finn mengucurkan keringat dingin karena ia takut bertemu dengan Musa. Janda Douglas kemudian mengatakan bahwa Musa telah lama mati. Finn lalu tak takut lagi karena dia tidak percaya kepada orang yang sudah mati.

Sementara Tom Sawyer sendiri identik dengan heroisme. Dia digambarkan ingin mengumpulkan semua budak, mengajak mereka berdansa, dan mengaraknya ke kota dengan iringan kelompok musik tiup. Dengan begitu dia akan menjadi pahlawan.

Mereka berdua sahabat karib yang tidak tahan berada di rumah. Mereka gemar berpetualang ke hutan, menyusuri lembah, berkumpul di gua, dan bermain-main.

“Aku merasa sangat kesepian dan nyaris berharap mati saja. Bintang-bintang berkilauan di langit, dan desau daun-daun di hutan terdengar begitu memilukan. Aku mendengar suara burung hantu di kejauhan, mengabarkan ada seseorang yang sedang mendekati ajalnya,” kata Finn.

Dia anak yang malang. Ayahnya suka memukuli Finn dalam kondisi mabuk berat. Finn terbiasa hidup susah dengan pakaian compang camping, penuh lumpur. Janda Douglas kemudian menjadi keluarga angkatnya. Dia tak tahan dikurung dan aturan rumah keluarga angkatnya.

Finn suka mengendap-endap keluar rumah menemui Tom. Suatu hari Tom mengajaknya pergi ke gua bersama rombongan anak-anak lainnya. Mereka merencanakan merampok orang-orang, menjarah barang-barang berharga, dan membunuh orang yang dirampok. Tentu saja ini cuma main-main.

Di dalam gua, mereka membikin janji sumpah setia sebuah geng berandalan. Melukai tangan dengan peniti lalu menggoreskan darah sebagai bentuk sumpah setia geng. Ketua geng si Tom Sawyer.

Kenakalan-kenakalan mereka semakin menjadi-jadi. Suatu hari mereka ingin berpetualang menggunakan rakit menyusuri sungai Mississippi bersama budak Jim.

Tapi, Jim budak yang dirantai oleh tuannya. Sebagian orang ingin menggantungnya untuk dijadikan contoh buat semua budak agar tidak coba-coba melarikan diri. Orang-orang memaki Jim sebagai tawanan. Tapi, Jim tidak membalas sedikitpun.

Tom dan Finn berusaha membebaskan Jim. Merencanakan pelarian Jim. “Mereka tak berhak mengurung dia. Bertindaklah, jangan buang-buang waktu lagi. Bebaskan dia. Dia bukan budak, dia bebas seperti makhluk lain yang hidup di atas bumi,” kata Tom.

The Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain

Finn lalu berusaha membebaskan Jim. Alasan dia ingin membebaskan Jim karena ingin berpetualang bersama Jim di atas rakit menyusuri sungai Mississippi.

Jim dikurung di sebuah pondok dengan rantai pada pergelangan kakinya yang terluka dan nyaris membusuk. Finn mencuri kunci rantai. Mereka lari dikejar sejumlah orang dan anjing.

Finn yang tengil kemudian menyuruh Jimm melepas bajunya. Dia mengalihkan perhatian anjing pengendus. Sedangkan Jim berenang ke tengah sungai. Finn menaruh baju Jim di semak-semak. Dia memanjat pohon.

Jim bebas. Suatu hari Tom mengajak Finn pergi berpetualang. Tapi, Finn sedang memikirkan ayahnya yang menghabiskan uangnya untuk mabuk-mabukan. Kepada Finn, Jim berkata ayah Finn tidak akan kembali (mati).

“Kau ingat rumah yang hanyut di sungai itu, yang di dalamnya ada seorang laki-laki terjebak? Waktu itu aku masuk untuk melihatnya dan melarangmu ikut masuk,” kata Jim.

*

Apa yang terjadi berikutnya? Mereka merantai kedua tangan dan kakinya. Setelah kejadian itu, mereka bilang Jim hanya akan mendapatkan roti dan air hingga majikannya datang. Dia akan dijual ke pelelangan jika majikannya tidak datang dalam kurun waktu tertentu.

Kutipan yang ada dalam dua bab terakhir “The Adventures of Huckleberry Finn” itu karangan sastrawan penting Amerika Serikat Mark Twain. Karya sastra modern yang diterbitkan pertama kali pada 1884. Usia karya yang berkali-kali difilmkan itu sekarang 135 tahun.

Novel penuh petualangan seru bocah bandel ini berlatar perang sipil Amerika Serikat tahun 1860. Perbudakan, rasisme, segregasi kulit putih dan kulit hitam merajalela. Tragedi kemanusian yang mengerikan.

Mark Twain adalah nama pena dari Samuel Langhorne Clemens, yang meninggal pada 1910 dalam usia 74 tahun. Dia dilahirkan sebagai anak dengan kondisi tubuh yang lemah. Ayah Mark Twain meninggal karena pneumonia saat dia berumur 13 tahun. Mark Twain meninggalkan bangku sekolah dan bekerja di bidang percetakan.

“The Adventures of Huckleberry Finn” tak lepas dari karya lainnya berjudul “The Adventures of Tom Sawyer”. Keduanya saling bertautan, mengisahkan dua bocah panjang akal dan karenanya mungkin “bandel”. Finn yang istimewa karena akalnya, dan Tom yang heroik.

*

Karya ini membawa pesan mendalam tentang persahabatan Finn dengan budak Jim, pencarian kebebasan, dan melawan prasangka rasial. Saya ingin menekankan soal rasialisme yang kini jadi masalah kemanusian akut. Saya teringat beberapa masalah berlatar rasialisme yang menghentak jagad mental kewargaan kita akhir-akhir ini. Di Yogyakarta misalnya, praktik rasialisme gagah menjulang di tengah yogya yang damai dan istimewa.

Hanya gara-gara beragama Katolik, seorang seniman ditolak mengontrak di sebuah kampung dengan aturan hanya Muslim yang bisa tinggal di kampung itu. Alasannya kearifan lokal. Belum lagi masalah yang terjadi sebelumnya, nisan bersimbol Katolik dipotong dengan alasan itu kuburan kampung Muslim. Rasialisme lainnya juga menimpa orang-orang yang dianggap separatis (Papua Barat) dan orang-orang yang dilabeli sebagai preman. Betapa mudah menjalar rasialisme seperti urat syaraf manusia yang tak putus.

Dari The Adventures of Huckleberry Finn, kita bisa belajar kepada bocah yang sekuat tenaga melawan prasangka rasial dan arti kemanusiaan. Finn bocah bandel, miskin, gembel, pemberontak, tidak menyukai dunia sekolah, tapi pintar, dan suka menolong. Dia patut jadi inspirasi buat orang-orang dewasa untuk keberaniannya menolak rasisme. Kapan terakhir kita belajar dari dunia kanak-kanak yang bebas dan begitu tulus pada rasa kasih kemanusiaan?

Oh ya di negeri Abang Sam, karya ini sempat dilarang di sekolah-sekolah karena kritiknya terhadap situasi sosial negeri itu. (*)

*) Shinta Maharani, penulis lepas dan jurnalis.

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending