Connect with us

Buku

Mochtar Lubis, Antara Maut, Cinta dan Harimau

mm

Published

on

Pengarang ini dilahirkan di Padang tanggal 7 Maret 1922. Pendidikan HIS; Sekolah Ekonomi Kayutanam, Sumatera Barat; kemudian mendapat Jefferson Fellowship pertama di East and West Centre, University of Hawaii. Sejak tahun 1945 bekerja sebagai wartawan di kantor berita “Antara”, Jakarta. Pada tanggal 29 Desember 1949 bersama kawan-kawannya mendirikan surat kabar Indonesia Raya, kemudian mendirikan harian berbahasa Inggris pertama di Indonesia, yakni Times of Indonesia. Kini menjabat sebagai anggota Akademi Jakarta, Ketua Yayasan Indonesia, penanggung jawab majalah sastra Horison, anggota pengurus Yayasan Pembina Pers Indonesia, presiden Press Foundation of Asia, anggota panitia Unesco untuk masalah-masalah komunikasi, anggota dewan pimpinan International Press Institute. Beberapa kali Mochtar Lubis mendapat penghargaan atas prestasinya.

Jelas bahwa Mochtar Lubis sebenarnya orang yang sibuk dengan jabatannya yang banyak. Ia dikenal sebagai wartawan dan sastrawan di dunia internasional. Meskipun kesibukannya luar biasa ia masih sempat juga menulis beberapa novel tebal dalam decade 1970-an ini. Mochtar Lubis adalah salah satu dari pengarang kita yang bertahan menulis terus sejak tahun 1950-an.

Sebagai sastrawan ia bisa dikelompokkan ke dalam Angkatan 45, karena tema dan gaya pengungkapannya yang berbeda dengan kelompok Angkatan majalah Kisah dan Sastra. Ia telah menulis fiksi sejak penghujung decade 1940-an. Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam dua buku, yaitu Si Djamal (1950) dan Perempuan (1956). Novelnya Tak Ada Esok terbit tahun 1950 dan disusul oleh novelnya yang terkenal Jalan Tak Ada Ujung tahun 1952. Tahun 1963 ia menerbitkan novelnya yang lain Senja di Jakarta yang antara lain mendapat pujian dari Anthony Burgess, karena mula-mula novelnya itu terbit dalam bahasa Inggris. Novelnya yang terbit dalam dekade itu juga adalah Tanah Gersang.

Di samping menulis cerpen dan novel Mochtar juga menulis buku-buku pengetahuan dasar mengenai tehnik mengarang fiksi dan kewartawanan. Ia juga menterjemahkan beberapa cerita pendek yang dikumpulkannya dalam beberapa buku, antara lain Tiga Cerita Negeri Dollar (1950), Kisah-Kisah dari Eropa (1952), Cerita-Cerita Tiongkok (1953) dan banyak lagi yang lain.

Ciri kepengarangan Mochtar Lubis yang menonjol adalah perhatiannya yang besar dalam masalah-masalah sosial dan politik bangsanya. Cerpen-cerpennya dalam Djamal sejak tahun 1950 sudah menunjukkan kritik-kritik sosial dan politik demikian. Juga dalam novel tentang revolusi, Tak Ada Esok, ia sempat mengkritik Bung Karno misalnya. Dan ini berlanjut terus dengan Senja di Jakarta (tentang kehidupan orang-orang partai tahun 1960-an). Tanah Gersang, dan Harimau! Harimau! serta Maut Dan Cinta. Barangkali pengaruh kerja kewartawanannyalah yang membuat novel-novel dan cerpennya berisi kritik sosial politik. Mochtar juga pernah menulis sebuah drama yang kurang berhasil, Tumenggung Wiraguna, yang berisi kritik terhadap kepemimpinan Indonesia.

Obsesi Mochtar terutama dalam karakter kepemimpinan Indonesia. Pemimpin-pemimpin Indonesia yang kuat karakternya, disiplin diri, penuh pengorbanan dan dedikasi, bersih, jujur, itulah yang diharapkannya. Kenyataannya tidak demikian. Banyak pemimpin rakyat yang dilihatnya otoriter dan selalu menyalahgunakan kekuasaan buat kepentingannya sendiri. Penglihatannya ini bisa ditelusur mulai dari novel-novelnya tahun 1950 sampai tahun 1970-an ini.

Nampaknya kritik-kritik Mochtar Lubis dalam novel-novelnya itu cukup keras dan langsung, hanya dalam novel Harimau! Harimau! kritik pimpinan yang otoriter dan korup itu agak terselubung dalam symbol pencari dammar di rimba. Kritik-kritiknya yang nampak telanjang itu didasari oleh pengetahuannya yang luas dalam praktek politik di Indonesia, karena ia pemimpin redaksi sebuah surat kabar yang amat terkenal ekslusif di Indonesia. Karena lewat pers sudah tak mungkin berkutik, karena dilarang terbit baik dalam Orde Lama maupun Orde Baru, maka kegelisahan sosial politiknya dia tuangkan dalam bentuk fiksi.

Amat menarik untuk meneliti karya-karya satra Mochtar Lubis dari segi hubungan sastra dan politik di Indonesia. Salah satu karyanya, Jalan Tak Ada Ujung, pernah dibahas oleh kritikus M.S.Hutagalung, tetapi lebih banyak meninjau dari segi estetiknya, dan pula novelnya ini memang salah satu yang tidak banyak mengandung kritik politik.

Vitalitas kerja Mochtar Lubis dalam bidang kebudayaan hanya bisa ditandingi oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Jarang kesusasteraan Indonesia menyaksikan sastrawan yang terus menulis lebih dari masa 15 tahun. Tetapi dua tokoh ini, dan beberapa yang lain lagi, mampu berkarya terus melewati begitu banyak generasi.

Sebagai sastrawan penting di Indonesia setiap karyanya yang baru selalu mendapat perhatian yang luas. Begitu pula novel-novelnya yang mutakhir. Harimau! Harimau! dan Maut dan Cinta, memperoleh banyak tanggapan kritikus yang hampir semuanya memuji. Bahkan Harimau! Harimau! mendapat hadiah dari P dan K sebagi bacaan remaja terbaik.

Dalam buku ini dibicarakan kedua bukunya tersebut.

Harimau! Harimau!

Novel ini mengambil setting di daerah hutan rimba Sumatra. Daerah cerita yang rupanya amat dikenal baik oleh pengarangnya. Dalam bagian pertama novel ini secara panjang lebar Mochtar Lubis melukiskan suasan dan topografi hutan rimba Sumatra secara meyakinkan. Kemudian dimulailah kisahnya dengan memunculkan tujuh orang pendamar yang memulai perjalanan pulang mereka dari hutan ke kampung halaman. Tujuh pendamar tersebut dipimpin oleh seorang yang bernama Wak Katok, orang yang tertua di antara mereka. Yang lain terdiri anak muda dan orang sebayanya. Terror perjalanan dimulai ketika seekor harimau tua yang sangat besar menguntit mereka dan bertubi-tubi menerkam salah satu dari rombongan yang dicengkam ketakutan ini. Teror dan kepanikan ini menimbulkan berbagai konflik sosiologis, psikis dan moral. Ia melontarkan masalah dosa dan hukumanya kepada para tokohnya. Harimau itu menerkam mereka yang menanggung banyak dosa. Akhirnya harimau itu sendiri berhasil dibunuh. Namun muncul kenyataan baru bahwa masih ada “harimau” lain yang lebih berbahaya, yakni pemimpin mereka sendiri, Wak Katok. Pemimpin yang tiran, sakti dan besar ini ternyata hanyalah seorang pengecut dan palsu.

Memang Mochtar Lubis menekankan makna simbolik dalam novelnya ini. Ia menceritakan kebuasan seekor harimau yang sesungguhnya dan yang simbolik. Teror harimau besar yang kelaparan dan selalu memangsa para pendamar satu-satu tadi, hanyalah gambaran untuk menunjukkan kebuasan yang sama dalam diri seorang pemimpin bangsa. Harimau yang sesungguhnya ialah Wak Katok. Dan dengan cara ini jelas sekali bahwa Mochtar Lubis bermaksud melukiskan kondisi sosial-politik Indonesia. Dalam hal ini nampak sekali sasaran kritiknya adalah para pemimpin Indonesia yang kelihatan gagah, sewenang-wenang, namun kenyataanya pengecut dan hanya mementingkan diri mereka sendiri. Wak Katok dan Pak Haji adalah type tokoh yang mudah sekali dikenali dalam masyarakat Indonesia. Wak Katok adalah pemimpin yang bermantera palsu (pidato-pidato), berjimat palsu, munafik, lalim dan menindas. Sedang Pak Haji adalah type pemimpin yang intelektual tetapi takut membela kebenaran. Type pemimpin intelektual ini biasanya tak berani bersuara menentang kezaliman, mengasingkan diri dari masalah bangsanya, dan lebih baik memikirkan keselamatan dirinya.

Sedangkan tokoh Buyung, tokoh yang muda usia, rupanya dipasang sebagai simbolik kaum muda Indonesia. Buyung adalah tokoh yang masih murni, bersemangat dan penuh idealism. Dan rupanya pengarang ada do fihak kaum muda ini. Dengan demikian jelas terlihat bahwa Mochtar secara sengaja mengambil setting rimba untuk memaparkan dan sekaligus mengecam tingkah laku pemimpin Indonesia. Dengarkan kutipan dari halaman 214 ini: “Seiap orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang yang memencilkan diri dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang menimpa orang lain . . . . besar kecilnya kezaliman, atau ada dan tak adanya kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya terjadi dari diri seseorang. Manusia di mana pun juga di dunia harus mencintai manusia, dan untuk menjadi manusia haruslah orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam dirinya”. Kata-kata yang sebenarnya merupakan ungkapan tema pokok novel ini menunjukkan maksud sebenarnya novel ini. Dan tudingan factual yang melahirkan novel ini saya kira corak kepemimpinan Orde Lama di bawah pimpinan presiden Sukarno. Dalam beberapa hal sifat Wak Katok menyerupai presiden itu: bermantera, berjimat, kharismatis. Sedangkan kelaliman dan penindasannya tentu saja sempat dirasakan oleh musuh-musuh politiknya, misalnya menahan bertahun-tahun tanpa proses pengadilan.

Sebagai cerita remaja (buku ini pernah terpilih sebagai Buku Remaja terbaik oleh Kementerian P dan K) tentu saja kisah tegang pengintaian harimau terhadap rombongan pendamar itu cukup menarik. Mochtar Lubis, sebagai pengarang berpengalaman, mampu menghidupkan ceritanya, membangunkan suasana misteri hutan dan raja rimba yang dahsyat itu. Dan bagi politik mudah diperoleh. Namun makna ganda dari novel ini masih kurang tergarap secara wajar. Pengarang terlalu kentara memasukkan “Pesan-pesan kota” rasa sekali dalam dialog para tokohnya. Tokoh Pak Balam, dalam sakit dan menjelang kematiannya dalam hutan, berkata dengan kalimat-kalimat panjang dan penuh pesan yang kadang-kadang sempat menciptakan “Kata-kata mutiara”. Dari dialog semacam inilah pembaca lalu diarahkan pada cerita bertendens politik, jelasnya kritik pimpinan di Indonesia. Lantas tiba-tiba suasana tegang dan misteri kehidupan hutan ditinggalkan. Dan kita dibawa ke arah kehidupan kota dengan tata nilai sosialnya.

Tema sentralnya novel ini lantas nampak tersisih dan buku asyik dengan tema sampingan tentang kepemimpinan. Pada saya integrasi antara tema, penokohan dan setting cerita kurang menyatu. Tema nyelonong keluar dari setingginya. Dengan suasana tegang penuh ancaman bahaya dari sudut mana pun dalam rimba, diramu dengan ilmu sihir, tahayul dan terkaman harimau jadi-jadian pembaca mengharapkan untuk disuguhi kehidupan masyarakat rimba Sumatra yang masih terbelenggu tahayul. Misteri hutan rimba, tahayul dan kegaiban-kegaiban tidak muncul secara murni dalam novel ini. Nampak adanya tendensi yang dipaksanakan pengarangnya dalam novel ini. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengaruh kehidupan pengarangnya yang memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial dan politik bangsanya. Kemurnian, keprimitifan, kedahsyatan hidup rimba, misteri alam yang perawan tidak muncul secara penuh dalam dirinya. Meskipun dengan penggambaran itu sebenarnya pembaca bisa mengambil makna simbolik yang dimaui oleh pengarangnya.

Bagaimana pun ini novel Mochtar Lubis yang tergolong bagus dari novel-novel terbit pada pemulaan dasawarsa 1970-an. Memang sulit untuk dianggap bagus dari karya-karya Mochtar sebelumnya, misalnya kalau dibandingkan dengan Jalan Tak Ada Ujung. Struktur novel ini juga agak kurang utuh. Adegan perzinahan Buyung atas Siti Rubiyah yang diduga akan merupakan antiklimaks ini akhir kisah ternyata hanya jebakan saja. Buyung memang berdosa dan dengan demikian juga dalam ancaman bahaya disergap harimau. juga pelukisan hutan rimba Sumatra yang agak kepanjangan dalam permulaan novel. Sebenarnya bisa disebarkan dalam bagian-bagian lain sehingga nampak terlalu deskriptif.

Maut Dan Cinta

Novel ini merupakan karyanya yang paling tebal, yakni meliputi 306 halaman. Tebalnya novel ini lebih banyak ditentukan oleh adanya perenungan-perenungan tentang segala macam ide dan revolusi itu sendiri yang berjalan lewat dialog tokoh-tokohnya di samping ketelitian pengarangnya untuk menggambarkan semua kejadian secara cermat. Plot cerita itu sendiri tidak terlalu kompleks. Novel ini tidak memiliki cerita yang panjang dan berbelit. Ia menceritakan kisah seorang mayor intelijen Republik Indonesia bernama Sadeli yang diberi tugas oleh atasannya Kolonel Suroso untuk menyelidiki penyelewengan yang dilakukan oleh agennya di Singapura, dan untuk menyusun kegiatan baru untuk penyelundupan perlengkapan peran RI.

Cerita dimulai dengan keberangkatan Sadeli membawa gula dengan perahu layar ke Singapura. Pelayaran itu selamat. Sadeli memulai tugasnya dengan menyelidiki kebenaran desas-desus bahwa agen R.I. di Singapura, Umar Junus, banyak menyelewengkan uang negara yang dipercayakan padanya untuk membeli perlengkapan perang pada R.I. Ternyata Umar Junus memang menyeleweng dan hidup penuh kemewahan.

Sadeli sebagai atasannya memperingatkan agar uang negara itu dikembalikan. Namun Umar Junus menolak dan menyatakan keluar dari dinas intelijen R.I. Sementara itu Sadeli telah aktif pula mengadakan kontak-kontak rahasia dengan para “pedagang senjata” untuk membeli perlengkapan perang itu buat dikirim ke daerah R.I.

Begitu pula Sadeli telah berhasil menghubungi beberapa penerbang asing untuk diajak bekerja sama menyelundupkan obat-obatan dan persenjataan ke wilayah R.I. Pada waktu Sadeli berusaha menyelundupkan persenjataan itulah ia menculik Umar Junus untuk dibawa ke Indonesia dan diadili menurut hukum militer.

Tetapi penyelundupan atau usaha menembus blokade Belanda ini kepergok patrol, dan terjadi kontak senjata. Dalam kontak senjata inilah Umar Junus menyadari kembali kesalahannya dan beritikad mau mengembalikan hutang-hutangnya pada negara. Umar Junus diterima karena menunjukkan jasanya dalam mempertahankan persenjataan yang diselundupkan ke wilayah R.I. Ia diturunkan menjadi letnan satu. Kemudian cerita ini penuh dengan gambaran usaha mencari pesawat dan penerbang asing untuk diikutkan dalam operasi Sadeli untuk memasukkan alat-alat perlengkapan perang yang diperlukan R.I. Cerita berakhir bahagia, yakni Umar Junus hidup “lurus” dan berbahagia dengan isterinya yang molek Rita Lee, dan Sadeli sendiri hidup bahagia dengan isterinya yang cantik dari Macao. Hanya mungkin Ali Nurdin yang tidak bahagia. Kekasihnya tewas ditembak pesawat udara Belanda di Magelang.

Tema novel ini adalah “untuk apa bangsa Indonesia merebut kemerdekaan”, seperti diutarakan oleh pengaranganya dalam bab Pengantar. Mochtar Lubis berusaha memberikan jawabannya lewat novel ini. “Penyelewengan –penyelewengan yang dilakukan oleh resim Sukarno dan demikian banyak orang Indonesia di kala itu yang telah mengkhianati cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa kita, mendorong saya menulis buku ini, untuk tidak saja menjelaskan kembali pada diri saya sendiri untuk apa bangsa kita berjuang merebut kemerdekaan, tetapi juga untuk menyatakan kembali pengabdian pada cita-cita kemerdekaan bangsa kita.”

Novel ini mencoba mengevaluasi lagi revolusi Indonesia. Dan jarak yang begitu jauh (lebih dari 20 tahun) telah memungkinkan melihat kejadian itu secara lebih jernih meskipun tidak obyektif. Dan Mochtar Lubis secara jitu telah memilih setting cerita itu di luar negeri. Seluruh cerita ini sebagian besar terjadi di Singapura, Hongkong, Bangkok, dan Macao. Tempat Mochtar Lubis berdiri pada dekade ini telah diproyeksikannya pada orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri dalam memperjuangkan kemenangan revolusi Indonesia. Dengan demikian penilaian pengarang ini dalam posisi yang sama dengan para tokoh cerita yang berada dalam “jarak” dengan revolusi. Para tokoh seperti Sadeli dan Umar Junus serta Ali Nurdin, begitu pula tokoh seperti Dave Wayne dapat melihat revolusi yang pada waktu itu sedang berkecamuk “dari luar” dan dengan demikian diharapkan dapat menilai secara lebih jernih dan dingin. Para tokoh itu kerap kali terlibat dalam dialog yang menyoroti revolusi yang sedang berkecamuk di Indonesia. Juga dalam perjalanannya sebagai seorang mayor intel, Sadeli seringkali membandingkan keadaan setempat dengan revolusinya.

Tetapi nyata benar bahwa Mochtar Lubis memang berusaha menjawab hakekat revolusi dengan membandingkannya dengan kenyataan pada tahun 1960-an yang memang merupakan kelanjutan dari revolusi itu sendiri. Dengarkanlah beberapa kutipan ini:

“Di mana-mana, Eddy, jika pemimpin-pemimpin memperkaya diri sendiri, berdusta, memuaskan napsu perempuan dan kemewahan, menyia-nyiakan kepentingan rakyat, itu artinya mereka menanam benih kehancuran mereka sendiri”. Dan ini: “Betapa partai-partai di Indonesia akan berebutan kekuasaan. Betapa pemimpin yang berkuasa akan memamerkan kemewahan, tanpa memperdulikan kemiskinan orang-orang di sekitarnya. Politik adu domba akan mengamuk . . . . Rakyat akan diperas . . . . Orang-orang yang berani mengeritik mereka akan diteror, ditangkap dan disekap dalam penjara tanpa diadili. Tidak. Tak mungkin ada pemimpin Indonesia yang dapat jadi iblis dan bajingan serupa itu”.

Di samping itu dalam novel ini tematis. Pengarangnya mencoba menganalisa arti dan hakekat revolusi. Karakter yang ada di dalamnya nampak seperti symbol, meskipun Mochtar Lubis juga berhasil mengangkat mereka sebagai manusia nyata dan berpribadi sendiri. Sadeli mewakili golongan idealis yang mendewakan revolusi di atas segalanya. Pengarang rupanya cenderung menilai bahwa para pejuang revolusi pada waktu itu (permulaan 1947 sampai akhir 1948) adalah idealis-idealis tulen. Hal ini dinampakkan dalam diri Sadeli yang baru saja keluar dari kancah revolusi dan muncul di Singapura. Ia mempercayai segalanya dalam revolusi. Mempercayai tujuannya yang murni, mempercayai pemimpin-pemimpinnya yang sederhana dan benar-benar tanpa pamrih kecuali buat membahagiakan rakyat, mempercayai pemimpin-pemimpinnya yang sederhana dan benar-benar tanpa pamrih kecuali buat membahagiakan rakyat, mempercayai kerelaan berkoban mereka dan sebagainya. Inilah sebabnya ia mengutuk keras Umar Junus yang menyleweng. Tetapi Sadeli, akhirnya menyadari realitas, ia butuh dunia ini, butuh perempuan, butuh cinta, butu kehidupan yang layak. Dan inilah sebabnya ia mengampuni Umar Junus. Dan Umar Junus sendiri adalah lambang dari para pemimpin yang korup. Ia adalah proyeksi dari “kehidupan mewah para pemimpin” sesudah revolusi. Umar Junus telah jauh meninggalkan revolusi. Telah terlalu lama hidup di Singapura.

Sedang Ali Nurdin adalah type idealis murni yang akhirnya menjadikan revolusi sebagai alat membalas dendam pribadi. Para penerbang seperti Dave Wayne dan Pierre de Koonig adalah tipe pejuang idealis murni. Mereka tidak memandang bangsa, tetapi manusia.

Sedang Maria, isteri Sadeli, adalah lambang kemerdekaan. Wanita yang cantik, berbakat dan baik hati ini adalah buah revolusi yang diidamkan seperti dikatakan pada akhir novel ini: “Dia cinta pada Maria seperti juga dia cinta pada kemerdekaan bangsanya.”

Bagaimana pun novel ini menarik. Ia enak dibaca meskipun terlalu banyak monolog panjang dan dialoh perdebatan. Segi yang menarik dari novel ini mungkin kecermatan  Mochtar Lubis dalam melukiskan setting ceritanya. Ia memiliki pengetahuan yang luas dan “menguasai medan” daerah yang diceritakannya : Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Macao, Mochtar Lubis mampu menghadirkan suasana daerah itu dalam novelnya. Kita bertubi-tubi dihadapkan pada beberapa watak yang amat beragam. Orang tak mudah melupakan gambaran tentang Dave Wayne, Sheila Scott, Tan Ciat Tong, Inspektur Hawkins dan sebagainya. Mereka ini berbicara dan bertindak sesuai dengan perwatakannya. Dan dengan demikian ia jelas menggariskan karakternya pada kita.

Meskipun mungkin dengan alasan melihat revolusi “dari luar secara obyektif” namun setting yang dipilih Mochtar Lubis buat menuturkan ceritanya dan dengan demikian juga menuangkan ide-idenya, bukanlah secara kebetulan di Singapura dan sekitarnya. Setting ini baru Mochtar Lubis yang mengerjakannya. Ia bercerita tentang peranan orang-orang yang berdiri di belakang kemelut revolusi di tanah air. Tentang orang-orang yang sering kita lupakan jasa mereka bagi revolusi kita. Tentang penembusan blokade Belanda baik di darat maupun di laut dan udara. Tentang revolusi di luar tanah airnya sendiri.

Mochtar Lubis membawa kita kepada mereka setelah sekian banyak cerita pendek dan novel Indonesia bercerita tentang revolusi dengan asap dan mesiu. Kini orang menilai kembali revolusi: hakekatnya, persoalannya, tujuannya semula, bahayanya. Novel ini ibarat retreat batin bagi kita semua. Juga bagi mereka yang pernah aktif menyumbangkan darma baktinya buat kemerdekaan, apakah mereka tetapi di jalan lurus kemerdekaan. Apakah mereka telah menjadi “Umar Junus”. (*)

*Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Matinya Demokrasi dan Alternatifnya

mm

Published

on

David Runciman/ getty image/ Trinity Hall, Cambridge

Ada jarak antara pemerintah dan rakyat yang kian tak terjembatani di banyak negara demokrasi. Bagaimana jika Demokrasi mati, adakah alternatif?

By Virdika Rizky Utama

Pegiat Literasi di Galeri Buku Jakarta

___________

Tak dapat dimungkiri bahwa politik identitas sedang marak digunakan oleh para politisi hampir di seluruh dunia. Masifnya gerakan politik identitas disinyalir akan membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidup demokrasi di suatu negara. Pertanyannya, salahkah politik identitas hadir di tengah demokrasi? Apakah politik identitas merupakan faktor utama akan matinya demokrasi? Lantas, apakah kita harus khawatir kalau demokrasi benar-benar berakhir?

David Runciman mengungkapkan bahwa politik identitas merupakan sebuah konsekuensi yang tak dapat dihindari dalam demokrasi. Dosen Oxford University ini menyebut, politik identitas sesungguhnya merupakan suatu upaya pengakuan akan eksistensi sebuah kelompok yang frustrasi dalam suatu negara.

Kenapa frustrasi? Karena demokrasi dianggap gagal mewujudkan dua fase tujuannya. Pertama, fase jangka pendek yaitu pengakuan martabat atau hak-hak individu. Kedua, fase jangka panjang yaitu memiliki kesempatan untuk berbagi stabilitas, kemakmuran, dan kedamaian atau disebut martabat kolektif (hlm. 169-170).

Politik identitas menjadi kekuatan politik riil karena hak-hak pribadinya sebagai warga negara, tergerus oleh tujuan kolektif kelompok dominan yang berkuasa. Dalam politik identitas, sebenarnya individu-individu hanya mencari pengakuan atas eksistensi keberadaannya. Padahal, politik pengakuan merupakan perpanjangan dari daya tarik demokrasi dan bukan sebagai antitesisnya (hlm.175). Mestinya, ini dapat diwadahi dan diselesaikan dengan demokratis, tapi urung terjadi.

Musababnya, negara adalah representasi kelas dominan baik secara ekonomi maupun politik dalam masyarakat (Antonio Gramsci: 1971). Akibatnya, sistem demokrasi yang representatif suatu negara dianggap tak efektif karena mewadahi kelompok dominan. Kebutuhan mayoritas rakyat tak pernah benar-benar terwakili oleh para politisi dan penyelenggara negara. Kendati sudah mengadakan pemilihan umum (pemilu) untuk memilih politisi yang mewakili aspirasi rakyat dari berabagai macam golongan.

Pemilu pun, akhirnya, dianggap sekadar bagi-bagi kue kelas dominan di suatu negara. Terlebih pemilu hanya menjadikan rakyat sebagai objek. Runciman meyakini, meningkatnya politik identitas adalah sebuah indikasi bahwa terlibat dalam sebuah pemilihan umum tak lagi memuaskan (hlm.177).

Kenapa hal itu dapat terjadi? Runciman meyakini arus politik modern yang terjadi di dunia saat ini sangat mekanis dan artifisial. Akibatnya, kita sangat bergantung pada kesenangan-kesenangan dan kenyamanan artifisial yang menandai gagalnya sebuah peradaban politik.

Runciman mengutip Mahatma Gandhi yang mengungkapkan kecemasannya akan teknologi yang mengambil alih kehidupan seluruh kehidupan, khususnya politik. Gandhi mengkhawatirkan kesalahan yang terjadi pada sistem demokrasi representatif modern yang amat mirip cara kerjanya dengan mesin.

Men will not need the use of their hands and feet. They will press a button and they will have their clothing by their side.  They will press another and they will have their newspaper. A third and a motorcar will be waiting for them. They will have a variety of delicately dished up food. Everything will be done by machinery (hlm.121).

Ini layaknya sebuah sistem yang mempasrahkan diri pada sebuah pemerintahan terpilih yang akan mengambil keputusan atas nama rakyat, tapi tak pernah bisa menyelamatkan rakyat dari eksistensi artifisial. Rakyat tak ubahnya penghamba dihadapan mesin.

Politik dijalankan melalui mesin partai, mesin birokrasi, dan mesin uang. Rakyat hanya menjadi konsumen pasif dari cita-cita atau harapan politiknya. Rakyat hanya mencoblos atau layaknya menekan tombol dan rakyat berharap pemerintah akan merespons. Sebenarnya jika pemerintah tak merespons, maka demokrasi sungguh memungkinkan bagi rakyat untuk mengganti politisi atau pemerintah. Namun, cara itu juga tak membuat demokrasi menjadi lebih baik.

Judul Buku : How Democracy Ends Penulis : David Runciman Penerbit : Profile Book Ltd Tahun Terbit : Cetakan I, Desember 2018 Tebal : 249 Halaman, ISBN 978 1-78125-9740

Ada jarak antara pemerintah dan rakyat yang tak terjembatani. Selain itu, terdapat ketidakadilan akses untuk mendapatkan informasi antara rakyat dan politisi. Semakin rakyat menginginkan keterbukaan, semakin banyak juga informasi yang coba ditutupi oleh politisi.

Sebaliknya, politisi dapat dengan mudah “bertemu” dan mencari tahu apa yang sedang digemari oleh rakyat. Politisi dapat dengan mudah membeli dan mengakses seluruh data-data manusia. Contohnya nyata penjualan data manusia dalam sebuah pemilu adalah kemenangan Donald Trump pada pemilu 2016 dan Referendum Brexit (hlm.159).

Itu semua dapat terpenuhi dengan cepat dan mudah melalui perusahaan teknologi seperti Facebook. Facebook dan perusahaan sejenisnya merekam semua kegiatan dan perhatian rakyat termasuk apa yang disukai dan tidak disukai. Disadari atau tidak, hal itu menunjukkan bahwa manusia sedang dan terus dikontrol oleh teknologi yang terus berjejaring dan terakumulasi dalam Big Data.

Data menjadi komoditas penting dalam kapitalisme abad ke-21. Seperti dijelaskan oleh Tim Wu (2016) dngan data yang terkumpul, Facebook akan tahu apa keinginan penggunanya, mereka lantas membuat produk yang diinginkan oleh pengguna, dan terus mengulangi fase itu. Jadi, tak salah kalau saat ini demokrasi layaknya sebuah kompetisi di antara tim sales untuk mendapatkan pemilih untuk membeli produk mereka (hlm.158).

Hal-hal artifisial dalam demokrasi dan didukung dengan kuasa teknologi diyakini Runciman sebagai penyebab dan cara bagaimana demokrasi mati. Namun, bukan kematian demokrasi dan bukan pula kematian manusia. Sebab, demokrasi hanya alat bagi manusia untuk merealisasikan harapan-harapannya.

Adakah alternatif?

Runciman mengungkapkan setidaknya ada tiga alternatif sistem politik yang dapat digunakan apabila demokrasi benar-benar mati. Pertama, adalah otoritariansime representatif. Sistem ini merupakan sebuah sistem antara otoriter dan demokrasi representatif. Sistem ini dianggap berhasil dijalankan oleh Tiongkok. Mereka terbukti berhasil menurunkan angka kemiskinan, memajukan pendidikan, dan menjadi raksasa ekonomi dunia. Konsekuensinya, hak-hak rakyatnya dibatasi dan diawasi. Sistem ini jauh lebih baik daripada India yang menjamin hak rakyat, tapi gagal membangun martabat kolektif (hlm. 172).

Kedua, epistokrasi. Ini adalah sebuah sistem oleh orang-orang tahu yang terbaik, tapi bukan teknokrasi. Dasarnya adalah tak menyetujui one man, one vote untuk seluruh kalangan masyarakat. Mesti ada perbedaan jumlah hak suara antara seorang ahli atau professional dan orang awam. (hlm.181).

Ketiga, anarkisme. Terkesan aneh karena dianggap sangat utopis akan gagasannya tentang kesetaraan yang ingin tak ada subjek dan objek sesama manusia. Tapi, gagasan ini berkembang kembali di abad ke-21 karena sistem masyarakat saat ini dinilai tak lagi menawarkan harapan baru (hlm.193).

Buku yang terdiri dari empat bagian ini sangat penting untuk siapa saja yang tertarik dengan politik. Runciman berhasil menawarkan sudut pandang baru tentang perkembangan demokrasi dunia. Tak hanya itu, risetnya pun lebih mengglobal daripada yang dilakukan dan ditulis oleh dan Steven Levitsky dalam bukunya How Democracy Dies (2018) yang sangat Amerika-sentris.

Kematian demokrasi bukan kematian manusia. Analogi antara kehidupan manusia dan kehidupan sebuah sistem politik merupakan sebuah kekeliruan. Kita tak bisa untuk terus menyibukkan diri tentang kematian demokrasi. Politik demokratis sedang dihambat oleh kepalsuan-kepalsuan yang sudah mulai terdeteksi.

Merasa percaya diri akan masa depan mungkin akan terlihat konyol pada tahap krisis demokrasi saat ini. Sebab, kita memiliki lebih banyak rasa takut daripada rasa takut itu sendiri. Tetapi kita juga harus mengakui, selagi demokrasi masih berkutat pada masalah-masalahnya, ia tetap harus dijalani. Jika pada sampai tahap akhir kita masih habiskan untuk mengkhawatirkan akhir demokrasi, maka waktu hanya akan berlalu dengan sia-sia.

Kita hanya memiliki dua pilihan. Kita bisa pesimis, menyerah, dan membantu keberlangsungan yang terburuk akan terjadi. Kita juga bisa optimis, menangkap kesempatan yang masih ada, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik. Dengan atau pun tanpa demokrasi. (*)

 

Continue Reading

Buku

Kerajaan Nusantara dan Monumen Ingatan Bersama

mm

Published

on

Oleh: Triyo Handoko

Dalam buku dan pelajaran sejarah yang sudah saya tempuh dari jenjang SD hingga SMA, tidak pernah saya dengar apa yang sudah ditulis Linda Christanty. Buku berjudul “Para Raja dan Revolusi” mengatarkan saya pada: ada banyak peran dan bantuan yang diberikan para raja kerajaan kecil untuk kemerdekan Indonesia. Kerajaan dan nama rajanya sulit sekali kita temui di buku pelajaran sejarah, lebih-lebih perannya.

Dalam buku pelajaran sejarah yang ada hanya periodesasi kerajaan nusantara. Itu pun kerajan-kerajaan besar. Isinya hanya hafalan-hafalan kosong tanpa analisa sejarah yang bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi generasi kini untuk menata Indonesia dikemudian hari.

Misalnya, siapa saja raja kerajaan Sriwijaya, bercorak kerajaan Hindu atau Budha kerajaan Majapahit, atau pada tahun kapan kerajaan Kutai Kartanegara berdiri dan berakhir. Semua itu penting jika kemudian diimbangi dengan analisa sejarah. Lebih-lebih ada banyak analisis sejarah yang ditawarkan. Sehingga tidak ada narasi tunggal atas sejarah kita.

Buku ini dikerjakan atas dasar tersebut. Menjadi wacana tanding atas sejarah yang sudah mapan. Sejarah yang ditulis oleh sang pemenang menihilkan yang kalah.

Linda Christanty menuliskan wacana tanding atas sejarah dengan sederhana tetapi mengasikan sekali untuk disimak. Jauh lebih menyenangkan dari buku pelajaran sejarah sekolah kita. Ia menjadikan peristiwa sejarah sepertihalnya kisah yang menyenangkan untuk disimak terus hingga selesai. Barangkali ini karena ia juga seorang cerpenis.

Dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, Linda Christanty memulai wacana tandingnya. Yaitu keluarga, perempuan kelahiran Pulau Bangka, 18 Maret 1970 dalam buku ini banyak menyingung keluarganya. Bagaimana sewaktu ia kecil banyak dikisahkan soal perjuangan kemerdekaan  masyarakat Bangka oleh pamannya yang juga guru mengajinya. Orang itu adalah Usataz Zakaria yang kerap dipanggil Linda dengan Pak We.

Dalam esai berjudul “Panglima Hasan Badi dan Haji Mahmud”, Linda Christanty menjelaskan bagaimana Bangka sewaktu meghadapi penjajah Belanda. Terutama peran dari kakek buyutnya, Hasan Badi. Cerita itu ia dengar dari Pak We yang merupakan cucu Hasan Badi. Seseorang panglima rakyat Bangka yang dengan berani—juga kekuatan mistiknya—melawan Belanda.

Linda Christanty menulis sejarah Bangka melalui tokoh Hasan Badi dari sumber primer dengan sangat mengesankan. Ia membumbui cerita sejarah tersebut dengan kisah mistik. Kisah yang didengarnya dari kesehariannya sewaktu kecil. Hingga ia meyakini kisah tersebut nyata dan barangkali berkat hal tersebut ingatannya tentang bagaimana Bangka melawan Belanda tetap hidup.

Dokumen sejarah keluarga Linda Christanty tersebut ada di Universitas Leiden. Sebagian lainnya ditulis oleh seorang peneliti LIPI. Dari situ kita dapat belajar bahwa sejarah keluarga adalah sejarah lokal tertentu. Bahkan juga bagian dari sejarah nasional.

Sejarah Keluarga Sejarah Politik

Judul: Para Raja dan Revolusi Penerbit: IRCiSoD Tahun Terbit: 2016 Tebal: 212 halaman Bahasa: Indonesia ISBN: 978-602-769-618-1

Dalam buku ini dibuka dengan sebuah esai berjudul “Sejarah Keluarga adalah Sejarah Politik”. Esai yang menceritakan usaha Reggie Baay mencari kebenaran atas keluarga masing-masing. Reggie Baay adalah seorang Belanda yang mencari tahu siapa sebenarnya nenek kandungnya.

Selama hidupnya, ia tidak pernah mengetahui nenaknya karena ditutup-tutupi oleh keluarganya sendiri. Lantaran kakek Raggie adalah pegawai pemerintahan Belanda di Nusantara dan mengawini seorang pribumi. Menjadi sebuah aib di Belanda bila mempertontonkan seorang pribumi sebagai bagian keluarga.

Tidak mendapatkan apa yang diinginkannya karena hanya berbekal foto lusuh dan keterangan alamat yang sebatas nama kota, yaitu Solo. Reggie cukup berbahagia karena menemukan tempat yang dianggapnya sebagai rumah. Tidak hanya itu ia juga membawa pulang hasil petualangannya di Indonesia. Oleh-oleh tersebut adalah cerita pendek dan novel. Cerita pendeknya tentang orang-orang di Solo. Novelnya tentang nyai, seorang gundik simpanan para pejabat kolonial yang barangkali novelnya tersebut menampar Belanda

Linda Christanty juga membuka wacana baru soal sejarah pemberontakan PRRI-Permesta pimpinan Kahar Muzakar dengan silsilah keluarga. Melalui tokoh Kolonel Zulkifli Lubis. Seorang tokoh militer dalam bidang intelejen.

Zulkifli yang menikahi Ratu Jainab, adik dari Sultan Nurus Cirebon. Lewat Zulkifli dan hubungannya dengan Kasultanan Cirebon, Linda membawa satu pemahaman bahwa pemberontakan  PRRI-Permesta dipicu oleh kekecewaan. Adalah Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang Republik Indonesia sebuah program yang diinisiasi Mohamad Hatta dan AH Nasution. Untuk merampikan angkatan perang hanya dengan tentara profesional.

Zulkifli kecewa lantaran banyak pasukannya dimasa genting menghadapi kembalinya Belanda di Indonesia harus diistirahatkan. Tidak hanya Zulkifli, tetapi pasukannya yang masih bergelora melawan penjajah Belanda dipaksa harus lepas senjata. Kekecewaan dan ketidakpercayaan masa-laskar tersebut masuk akal menjadi pemantik pemberontakan di beberapa daerah.

Padahal mereka loyal membela kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Termasuk Zulkifli yang setia sekali dengan Presiden Sukarno. Hal ini dibuktikannya dengan membuat, yang kini disebut: Paspampres untuk Sukarno kala itu. Bahkan Zulkifli sendiri meminta ijin Sukarno ketika ia ingin menikahi Ratu Jainab.

Sultan Nurus dan Kasultanan Cirebon sendiri banyak berperan atas terwujudnya persatuan Nusantara dalam Indonesia. Dimana kala itu banyak bermunculan kerajaan-kerajaan nusantara memprokamirkan wilayahnya sebagai negara merdeka. Bumi pasundan misalnya, dimana mayoritas kesultanannya menginginkan mendirikan negara pasundan, kecuali Cirebon. Dan Sultan Nurus merelakan keselamatan nyawanya agar bumi pasundan tetap masuk dalam Indonesia.

Hal-hal semacam itu yang jarang kita temui di buku sejarah arus utama. Linda Christanty berhasil membangun monumen ingatan bersama kita, betapa ada banyak orang di masa lalu yang berperan untuk hari ini. Namun, nama mereka jarang sekali disebut. (*)

Continue Reading

Buku

Bagaimana Bisa Menulis Itu Indah

mm

Published

on

Bagi Umberto Eco, penulis akan selalu mengambil bagian-bagian yang bertentangan. Kontrdiksi dalam kata akan selalu ditempuh untuk mencapai kata sepakat. Kemudian dalam perkembangan peradaban, Virginia Wolf menyatakan bahwa tugas setiap penulis pada setiap zaman berbeda-beda.

Oleh: Triyo Handoko

Buku “Menulis Itu Indah: Penglaman Para Penulis Dunia” menjawab beberapa perkara yang menjadi pertanyaan saya soal menulis. Namun juga membuka banyak pertanyaan atas jawaban yang sudah diberikan. Dari pertanyaan: apakah menulis itu sepertihalnya aktivitas maturbasi, sampai pertanyaan teknis: apakah buku-buku terjemahan para penulis dunia dalam bahasa Indonesia tidak mengubah maksud penulisnya.

Pertanyaan tersebut terjawab namun juga membuka banyak pertanyaan lagi. Pertanyaan bagaimana hasil terjemahan par penulis dunia yang dialahkian dalam bahasa lain dijawab oleh tulisan Edward Said dan Milan Kundera. Edward Said mengomentari karya Naguib Mahfouz yang diterjemahkan dalam berbagai bahaa. Milan Kundera menulis kekecewaanya atas karyanya yang diterjemakan secara serampangan.

Milan Kundera menyayangkan terjemahan karyanya yang menurutnya mengubah makna yang ingin ia sampaikan. Selain itu, banyak karya terjemahannya mengandung kaya kepenulisan yang tidak digunakannya. Dari kekecewaan tersebut, ia memberikan penjelasan kunci bagi sapa saja yang ingin menerjemahkan karyanya.

Edward Said, orang yang membangun orientalisme, menilai karya  Naguib Mahfouz dalam bahasa Arab mempunyai nilai estitika ketimuran. Kemudian setelah diterjemahkan nilai estitikanya hilang. Nilai sastrawi Arab, bagi Edward dalam karya  Naguib Mahfouz, tergantikan oleh nilai komersil.

Hal yang sama juga saya dapati dibeberapa karya terjemahan bahasa Indonesia. Selain tidak mudah, proses penerjemahaan adalah proses yang bisa digolongkan politis. Memainan kata, sependapat dengan Subcomandante Marcos, adalah tindakan politik.

Buku ini sendiri adalah buku terjemahan esai pengalaman menulis 23 penulis dunia. Adhe Maruf, penerjemah esai tersebut, memilih 23 penulis dunia dan tindakan tersebut boleh dikatakan politis. Ia ingin mengenalkan bagaimana pengalaman 23 penulis, yang menurut saya banyak penulis pembangkang, pada pembaca Indonesia. Bagaimana ia menolak kekuasaan dan membuat wacana tanding dengan menulis.

Gao Xingjian adalah contohnya. Rezim totalitarian komunis di China, negeri kelahiran Gao Xingjian, memaksanya menjadi warga negara dunia. Tidak diberi tempat di tempat kelhirannya. Hal ini disampaikannya dalam esainya dalam buku ini. Gao Xingjian juga menyampaikan bahwa proses penulisan Soul Mountain, ia maksudkan sebagai bentuk eksplorasi bahasa di mana individu mengekspresikan dirinya dengan kebebasan menyeluruh.

Umberto Eco bahkan dalam esainya di buku ini mengganjar seorang penulis kewajiban. Kewajiban itu ialah kewajiban moral. Bukan karena klaim atas keilmiahan, kata Umberto Eco, tetapi karena moralnya sebagai bagian dari masyarakat.

Umberto Eco menambahkan bahwa penulis akan selalu mengambil bagian-bagian yang bertentangan. Kontrdiksi dalam kata akan selalu ditempuh untuk mencapai kata sepakat. Kemudian dalam perkembangan peradaban, Virginia Wolf menyatakan bahwa tugas setiap penulis pada setiap zaman berbeda-beda.

Bagian yang Indah

Judul Buku : Menulis Itu Indah—Pengalaman Para Penulis Dunia Penulis : Albert Camus, dkk. Penyunting dan Penerjemah : Adhe Tahun Terbit : 2016 Jumlah Halaman : xiv + 258 Penerbit : Octopus

Menurut Virginia Wolf, penulis sekarang harus meninggalkan harapan bisa membuat pernyataan lengkap yang kita sebut mahakarya. Ia harus puas menjadi penerus “catatan-catatan” yang telah ditinggalkan pendahulunya. Tentu saja dengan mempertanyakan ulang atas peninggalan tersebut dengan penyelidikan-penyelidikan mendalam. Untuk kemudian diwariskan pada generasi berikutnya.

Serupa dengan pertnyataan Virginia Wolf, Salman Rushdie seorang penulis timur tengah yang difatwa halal darahnya oleh otoritas Iran. Menyatakan dalam esainya dibuku ini bahwa, penulis sepertihalnya seniman. Ia menangkap realitas yang diubahnya dalam karya. Sedangkan realitas itu terus bergerak.  Sehingga tak ada yang berakhir dan sempurna, semuanya berbicara tentang perubahan dan perkembangan.

Sastra sebagai salah satu bentuk laporan, menurut Salman Rushdie, dibuat pada batas antara diri dan dunia. Juga pada tindakan kreasi sang penulis sehingga batasan itu melemah dan dapat ditembus. Konekuensinya adalah mempersilahkan dunia mengaliri sang penulis dan sang penulis mengaliri dunia.

Buku ini tidak melulu soal bagaimana 23 penulis mengartikulasi bagaimana tugas dan seharusnya penulis menulis. Banyak juga soal bagaimana memulai menulis. Carlos Fuentes, misalnya, memulai menulis dengan membuat terbitan majalah yang semua prosesnya ia kerjakan sendirian. Pada usia yang masih dini tersebut, Carlos Fuentes mendapati kekecewaan dari kerja-kerja penerbitannya. Majalahnya tidak dibaca oleh siapapun.

Lain hal pengalaman Bertrand Russell memulai menulis. Awalnya ia berharap gaya tulisannya bisa seperti John Stuart Mill, sorang filsuf empiris dari Inggris. Ia menyukai struktur kalimat dan cara mengembangkan pokok permasalahannya. Dalam proses pencariannya, ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari cara menulis kalimat terpendek untuk mengatakan sesuatu tanpa ambiguitas.

Pada akhirnya Bertrand Russell lebih tertarik dengan gaya penulisan kakak iparnya sendiri, Logan Pearsall Smith. Gabriel Garcia Marquez dalam proses pencariannya juga berguru dengan dua pengarang besar: William Faulkner dan Ernest Hemingway. Dua gurunya mengajarkan hal yang berbeda satu sama lain. Kebingungan jelas mengawali proses pencarian gaya kepenulisan  Marquez.

George Orwel juga melakukan pengakuan atas pengalamannya memulai menulis. Hingga ia menemukan bahwa seiring dengan berjalannya waktu, maka kita dapat menyempurnakan berbagai gaya menulis, kita selalu bisa menguasainya. Kegagalan itu wajar. Setiap buku adalah kegagalan.

Nama-nama diatas, kecuali dua nama, sudah tiada tetapi namanya masih terus diperbincangkan. Dua nama yang masih hidup adalah Salman Rushdie dan  Gao Xingjian, pun masih hidup mereka tetap diburu kematian oleh otoritas.

Mereka yang menulis dengan berani saya kira akan terus abadi. (*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending