Connect with us

Article

Mochtar Lubis, Antara Maut, Cinta dan Harimau

mm

Published

on

Pengarang ini dilahirkan di Padang tanggal 7 Maret 1922. Pendidikan HIS; Sekolah Ekonomi Kayutanam, Sumatera Barat; kemudian mendapat Jefferson Fellowship pertama di East and West Centre, University of Hawaii. Sejak tahun 1945 bekerja sebagai wartawan di kantor berita “Antara”, Jakarta. Pada tanggal 29 Desember 1949 bersama kawan-kawannya mendirikan surat kabar Indonesia Raya, kemudian mendirikan harian berbahasa Inggris pertama di Indonesia, yakni Times of Indonesia. Kini menjabat sebagai anggota Akademi Jakarta, Ketua Yayasan Indonesia, penanggung jawab majalah sastra Horison, anggota pengurus Yayasan Pembina Pers Indonesia, presiden Press Foundation of Asia, anggota panitia Unesco untuk masalah-masalah komunikasi, anggota dewan pimpinan International Press Institute. Beberapa kali Mochtar Lubis mendapat penghargaan atas prestasinya.

Jelas bahwa Mochtar Lubis sebenarnya orang yang sibuk dengan jabatannya yang banyak. Ia dikenal sebagai wartawan dan sastrawan di dunia internasional. Meskipun kesibukannya luar biasa ia masih sempat juga menulis beberapa novel tebal dalam decade 1970-an ini. Mochtar Lubis adalah salah satu dari pengarang kita yang bertahan menulis terus sejak tahun 1950-an.

Sebagai sastrawan ia bisa dikelompokkan ke dalam Angkatan 45, karena tema dan gaya pengungkapannya yang berbeda dengan kelompok Angkatan majalah Kisah dan Sastra. Ia telah menulis fiksi sejak penghujung decade 1940-an. Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam dua buku, yaitu Si Djamal (1950) dan Perempuan (1956). Novelnya Tak Ada Esok terbit tahun 1950 dan disusul oleh novelnya yang terkenal Jalan Tak Ada Ujung tahun 1952. Tahun 1963 ia menerbitkan novelnya yang lain Senja di Jakarta yang antara lain mendapat pujian dari Anthony Burgess, karena mula-mula novelnya itu terbit dalam bahasa Inggris. Novelnya yang terbit dalam dekade itu juga adalah Tanah Gersang.

Di samping menulis cerpen dan novel Mochtar juga menulis buku-buku pengetahuan dasar mengenai tehnik mengarang fiksi dan kewartawanan. Ia juga menterjemahkan beberapa cerita pendek yang dikumpulkannya dalam beberapa buku, antara lain Tiga Cerita Negeri Dollar (1950), Kisah-Kisah dari Eropa (1952), Cerita-Cerita Tiongkok (1953) dan banyak lagi yang lain.

Ciri kepengarangan Mochtar Lubis yang menonjol adalah perhatiannya yang besar dalam masalah-masalah sosial dan politik bangsanya. Cerpen-cerpennya dalam Djamal sejak tahun 1950 sudah menunjukkan kritik-kritik sosial dan politik demikian. Juga dalam novel tentang revolusi, Tak Ada Esok, ia sempat mengkritik Bung Karno misalnya. Dan ini berlanjut terus dengan Senja di Jakarta (tentang kehidupan orang-orang partai tahun 1960-an). Tanah Gersang, dan Harimau! Harimau! serta Maut Dan Cinta. Barangkali pengaruh kerja kewartawanannyalah yang membuat novel-novel dan cerpennya berisi kritik sosial politik. Mochtar juga pernah menulis sebuah drama yang kurang berhasil, Tumenggung Wiraguna, yang berisi kritik terhadap kepemimpinan Indonesia.

Obsesi Mochtar terutama dalam karakter kepemimpinan Indonesia. Pemimpin-pemimpin Indonesia yang kuat karakternya, disiplin diri, penuh pengorbanan dan dedikasi, bersih, jujur, itulah yang diharapkannya. Kenyataannya tidak demikian. Banyak pemimpin rakyat yang dilihatnya otoriter dan selalu menyalahgunakan kekuasaan buat kepentingannya sendiri. Penglihatannya ini bisa ditelusur mulai dari novel-novelnya tahun 1950 sampai tahun 1970-an ini.

Nampaknya kritik-kritik Mochtar Lubis dalam novel-novelnya itu cukup keras dan langsung, hanya dalam novel Harimau! Harimau! kritik pimpinan yang otoriter dan korup itu agak terselubung dalam symbol pencari dammar di rimba. Kritik-kritiknya yang nampak telanjang itu didasari oleh pengetahuannya yang luas dalam praktek politik di Indonesia, karena ia pemimpin redaksi sebuah surat kabar yang amat terkenal ekslusif di Indonesia. Karena lewat pers sudah tak mungkin berkutik, karena dilarang terbit baik dalam Orde Lama maupun Orde Baru, maka kegelisahan sosial politiknya dia tuangkan dalam bentuk fiksi.

Amat menarik untuk meneliti karya-karya satra Mochtar Lubis dari segi hubungan sastra dan politik di Indonesia. Salah satu karyanya, Jalan Tak Ada Ujung, pernah dibahas oleh kritikus M.S.Hutagalung, tetapi lebih banyak meninjau dari segi estetiknya, dan pula novelnya ini memang salah satu yang tidak banyak mengandung kritik politik.

Vitalitas kerja Mochtar Lubis dalam bidang kebudayaan hanya bisa ditandingi oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Jarang kesusasteraan Indonesia menyaksikan sastrawan yang terus menulis lebih dari masa 15 tahun. Tetapi dua tokoh ini, dan beberapa yang lain lagi, mampu berkarya terus melewati begitu banyak generasi.

Sebagai sastrawan penting di Indonesia setiap karyanya yang baru selalu mendapat perhatian yang luas. Begitu pula novel-novelnya yang mutakhir. Harimau! Harimau! dan Maut dan Cinta, memperoleh banyak tanggapan kritikus yang hampir semuanya memuji. Bahkan Harimau! Harimau! mendapat hadiah dari P dan K sebagi bacaan remaja terbaik.

Dalam buku ini dibicarakan kedua bukunya tersebut.

Harimau! Harimau!

Novel ini mengambil setting di daerah hutan rimba Sumatra. Daerah cerita yang rupanya amat dikenal baik oleh pengarangnya. Dalam bagian pertama novel ini secara panjang lebar Mochtar Lubis melukiskan suasan dan topografi hutan rimba Sumatra secara meyakinkan. Kemudian dimulailah kisahnya dengan memunculkan tujuh orang pendamar yang memulai perjalanan pulang mereka dari hutan ke kampung halaman. Tujuh pendamar tersebut dipimpin oleh seorang yang bernama Wak Katok, orang yang tertua di antara mereka. Yang lain terdiri anak muda dan orang sebayanya. Terror perjalanan dimulai ketika seekor harimau tua yang sangat besar menguntit mereka dan bertubi-tubi menerkam salah satu dari rombongan yang dicengkam ketakutan ini. Teror dan kepanikan ini menimbulkan berbagai konflik sosiologis, psikis dan moral. Ia melontarkan masalah dosa dan hukumanya kepada para tokohnya. Harimau itu menerkam mereka yang menanggung banyak dosa. Akhirnya harimau itu sendiri berhasil dibunuh. Namun muncul kenyataan baru bahwa masih ada “harimau” lain yang lebih berbahaya, yakni pemimpin mereka sendiri, Wak Katok. Pemimpin yang tiran, sakti dan besar ini ternyata hanyalah seorang pengecut dan palsu.

Memang Mochtar Lubis menekankan makna simbolik dalam novelnya ini. Ia menceritakan kebuasan seekor harimau yang sesungguhnya dan yang simbolik. Teror harimau besar yang kelaparan dan selalu memangsa para pendamar satu-satu tadi, hanyalah gambaran untuk menunjukkan kebuasan yang sama dalam diri seorang pemimpin bangsa. Harimau yang sesungguhnya ialah Wak Katok. Dan dengan cara ini jelas sekali bahwa Mochtar Lubis bermaksud melukiskan kondisi sosial-politik Indonesia. Dalam hal ini nampak sekali sasaran kritiknya adalah para pemimpin Indonesia yang kelihatan gagah, sewenang-wenang, namun kenyataanya pengecut dan hanya mementingkan diri mereka sendiri. Wak Katok dan Pak Haji adalah type tokoh yang mudah sekali dikenali dalam masyarakat Indonesia. Wak Katok adalah pemimpin yang bermantera palsu (pidato-pidato), berjimat palsu, munafik, lalim dan menindas. Sedang Pak Haji adalah type pemimpin yang intelektual tetapi takut membela kebenaran. Type pemimpin intelektual ini biasanya tak berani bersuara menentang kezaliman, mengasingkan diri dari masalah bangsanya, dan lebih baik memikirkan keselamatan dirinya.

Sedangkan tokoh Buyung, tokoh yang muda usia, rupanya dipasang sebagai simbolik kaum muda Indonesia. Buyung adalah tokoh yang masih murni, bersemangat dan penuh idealism. Dan rupanya pengarang ada do fihak kaum muda ini. Dengan demikian jelas terlihat bahwa Mochtar secara sengaja mengambil setting rimba untuk memaparkan dan sekaligus mengecam tingkah laku pemimpin Indonesia. Dengarkan kutipan dari halaman 214 ini: “Seiap orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang yang memencilkan diri dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang menimpa orang lain . . . . besar kecilnya kezaliman, atau ada dan tak adanya kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya terjadi dari diri seseorang. Manusia di mana pun juga di dunia harus mencintai manusia, dan untuk menjadi manusia haruslah orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam dirinya”. Kata-kata yang sebenarnya merupakan ungkapan tema pokok novel ini menunjukkan maksud sebenarnya novel ini. Dan tudingan factual yang melahirkan novel ini saya kira corak kepemimpinan Orde Lama di bawah pimpinan presiden Sukarno. Dalam beberapa hal sifat Wak Katok menyerupai presiden itu: bermantera, berjimat, kharismatis. Sedangkan kelaliman dan penindasannya tentu saja sempat dirasakan oleh musuh-musuh politiknya, misalnya menahan bertahun-tahun tanpa proses pengadilan.

Sebagai cerita remaja (buku ini pernah terpilih sebagai Buku Remaja terbaik oleh Kementerian P dan K) tentu saja kisah tegang pengintaian harimau terhadap rombongan pendamar itu cukup menarik. Mochtar Lubis, sebagai pengarang berpengalaman, mampu menghidupkan ceritanya, membangunkan suasana misteri hutan dan raja rimba yang dahsyat itu. Dan bagi politik mudah diperoleh. Namun makna ganda dari novel ini masih kurang tergarap secara wajar. Pengarang terlalu kentara memasukkan “Pesan-pesan kota” rasa sekali dalam dialog para tokohnya. Tokoh Pak Balam, dalam sakit dan menjelang kematiannya dalam hutan, berkata dengan kalimat-kalimat panjang dan penuh pesan yang kadang-kadang sempat menciptakan “Kata-kata mutiara”. Dari dialog semacam inilah pembaca lalu diarahkan pada cerita bertendens politik, jelasnya kritik pimpinan di Indonesia. Lantas tiba-tiba suasana tegang dan misteri kehidupan hutan ditinggalkan. Dan kita dibawa ke arah kehidupan kota dengan tata nilai sosialnya.

Tema sentralnya novel ini lantas nampak tersisih dan buku asyik dengan tema sampingan tentang kepemimpinan. Pada saya integrasi antara tema, penokohan dan setting cerita kurang menyatu. Tema nyelonong keluar dari setingginya. Dengan suasana tegang penuh ancaman bahaya dari sudut mana pun dalam rimba, diramu dengan ilmu sihir, tahayul dan terkaman harimau jadi-jadian pembaca mengharapkan untuk disuguhi kehidupan masyarakat rimba Sumatra yang masih terbelenggu tahayul. Misteri hutan rimba, tahayul dan kegaiban-kegaiban tidak muncul secara murni dalam novel ini. Nampak adanya tendensi yang dipaksanakan pengarangnya dalam novel ini. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengaruh kehidupan pengarangnya yang memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial dan politik bangsanya. Kemurnian, keprimitifan, kedahsyatan hidup rimba, misteri alam yang perawan tidak muncul secara penuh dalam dirinya. Meskipun dengan penggambaran itu sebenarnya pembaca bisa mengambil makna simbolik yang dimaui oleh pengarangnya.

Bagaimana pun ini novel Mochtar Lubis yang tergolong bagus dari novel-novel terbit pada pemulaan dasawarsa 1970-an. Memang sulit untuk dianggap bagus dari karya-karya Mochtar sebelumnya, misalnya kalau dibandingkan dengan Jalan Tak Ada Ujung. Struktur novel ini juga agak kurang utuh. Adegan perzinahan Buyung atas Siti Rubiyah yang diduga akan merupakan antiklimaks ini akhir kisah ternyata hanya jebakan saja. Buyung memang berdosa dan dengan demikian juga dalam ancaman bahaya disergap harimau. juga pelukisan hutan rimba Sumatra yang agak kepanjangan dalam permulaan novel. Sebenarnya bisa disebarkan dalam bagian-bagian lain sehingga nampak terlalu deskriptif.

Maut Dan Cinta

Novel ini merupakan karyanya yang paling tebal, yakni meliputi 306 halaman. Tebalnya novel ini lebih banyak ditentukan oleh adanya perenungan-perenungan tentang segala macam ide dan revolusi itu sendiri yang berjalan lewat dialog tokoh-tokohnya di samping ketelitian pengarangnya untuk menggambarkan semua kejadian secara cermat. Plot cerita itu sendiri tidak terlalu kompleks. Novel ini tidak memiliki cerita yang panjang dan berbelit. Ia menceritakan kisah seorang mayor intelijen Republik Indonesia bernama Sadeli yang diberi tugas oleh atasannya Kolonel Suroso untuk menyelidiki penyelewengan yang dilakukan oleh agennya di Singapura, dan untuk menyusun kegiatan baru untuk penyelundupan perlengkapan peran RI.

Cerita dimulai dengan keberangkatan Sadeli membawa gula dengan perahu layar ke Singapura. Pelayaran itu selamat. Sadeli memulai tugasnya dengan menyelidiki kebenaran desas-desus bahwa agen R.I. di Singapura, Umar Junus, banyak menyelewengkan uang negara yang dipercayakan padanya untuk membeli perlengkapan perang pada R.I. Ternyata Umar Junus memang menyeleweng dan hidup penuh kemewahan.

Sadeli sebagai atasannya memperingatkan agar uang negara itu dikembalikan. Namun Umar Junus menolak dan menyatakan keluar dari dinas intelijen R.I. Sementara itu Sadeli telah aktif pula mengadakan kontak-kontak rahasia dengan para “pedagang senjata” untuk membeli perlengkapan perang itu buat dikirim ke daerah R.I.

Begitu pula Sadeli telah berhasil menghubungi beberapa penerbang asing untuk diajak bekerja sama menyelundupkan obat-obatan dan persenjataan ke wilayah R.I. Pada waktu Sadeli berusaha menyelundupkan persenjataan itulah ia menculik Umar Junus untuk dibawa ke Indonesia dan diadili menurut hukum militer.

Tetapi penyelundupan atau usaha menembus blokade Belanda ini kepergok patrol, dan terjadi kontak senjata. Dalam kontak senjata inilah Umar Junus menyadari kembali kesalahannya dan beritikad mau mengembalikan hutang-hutangnya pada negara. Umar Junus diterima karena menunjukkan jasanya dalam mempertahankan persenjataan yang diselundupkan ke wilayah R.I. Ia diturunkan menjadi letnan satu. Kemudian cerita ini penuh dengan gambaran usaha mencari pesawat dan penerbang asing untuk diikutkan dalam operasi Sadeli untuk memasukkan alat-alat perlengkapan perang yang diperlukan R.I. Cerita berakhir bahagia, yakni Umar Junus hidup “lurus” dan berbahagia dengan isterinya yang molek Rita Lee, dan Sadeli sendiri hidup bahagia dengan isterinya yang cantik dari Macao. Hanya mungkin Ali Nurdin yang tidak bahagia. Kekasihnya tewas ditembak pesawat udara Belanda di Magelang.

Tema novel ini adalah “untuk apa bangsa Indonesia merebut kemerdekaan”, seperti diutarakan oleh pengaranganya dalam bab Pengantar. Mochtar Lubis berusaha memberikan jawabannya lewat novel ini. “Penyelewengan –penyelewengan yang dilakukan oleh resim Sukarno dan demikian banyak orang Indonesia di kala itu yang telah mengkhianati cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa kita, mendorong saya menulis buku ini, untuk tidak saja menjelaskan kembali pada diri saya sendiri untuk apa bangsa kita berjuang merebut kemerdekaan, tetapi juga untuk menyatakan kembali pengabdian pada cita-cita kemerdekaan bangsa kita.”

Novel ini mencoba mengevaluasi lagi revolusi Indonesia. Dan jarak yang begitu jauh (lebih dari 20 tahun) telah memungkinkan melihat kejadian itu secara lebih jernih meskipun tidak obyektif. Dan Mochtar Lubis secara jitu telah memilih setting cerita itu di luar negeri. Seluruh cerita ini sebagian besar terjadi di Singapura, Hongkong, Bangkok, dan Macao. Tempat Mochtar Lubis berdiri pada dekade ini telah diproyeksikannya pada orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri dalam memperjuangkan kemenangan revolusi Indonesia. Dengan demikian penilaian pengarang ini dalam posisi yang sama dengan para tokoh cerita yang berada dalam “jarak” dengan revolusi. Para tokoh seperti Sadeli dan Umar Junus serta Ali Nurdin, begitu pula tokoh seperti Dave Wayne dapat melihat revolusi yang pada waktu itu sedang berkecamuk “dari luar” dan dengan demikian diharapkan dapat menilai secara lebih jernih dan dingin. Para tokoh itu kerap kali terlibat dalam dialog yang menyoroti revolusi yang sedang berkecamuk di Indonesia. Juga dalam perjalanannya sebagai seorang mayor intel, Sadeli seringkali membandingkan keadaan setempat dengan revolusinya.

Tetapi nyata benar bahwa Mochtar Lubis memang berusaha menjawab hakekat revolusi dengan membandingkannya dengan kenyataan pada tahun 1960-an yang memang merupakan kelanjutan dari revolusi itu sendiri. Dengarkanlah beberapa kutipan ini:

“Di mana-mana, Eddy, jika pemimpin-pemimpin memperkaya diri sendiri, berdusta, memuaskan napsu perempuan dan kemewahan, menyia-nyiakan kepentingan rakyat, itu artinya mereka menanam benih kehancuran mereka sendiri”. Dan ini: “Betapa partai-partai di Indonesia akan berebutan kekuasaan. Betapa pemimpin yang berkuasa akan memamerkan kemewahan, tanpa memperdulikan kemiskinan orang-orang di sekitarnya. Politik adu domba akan mengamuk . . . . Rakyat akan diperas . . . . Orang-orang yang berani mengeritik mereka akan diteror, ditangkap dan disekap dalam penjara tanpa diadili. Tidak. Tak mungkin ada pemimpin Indonesia yang dapat jadi iblis dan bajingan serupa itu”.

Di samping itu dalam novel ini tematis. Pengarangnya mencoba menganalisa arti dan hakekat revolusi. Karakter yang ada di dalamnya nampak seperti symbol, meskipun Mochtar Lubis juga berhasil mengangkat mereka sebagai manusia nyata dan berpribadi sendiri. Sadeli mewakili golongan idealis yang mendewakan revolusi di atas segalanya. Pengarang rupanya cenderung menilai bahwa para pejuang revolusi pada waktu itu (permulaan 1947 sampai akhir 1948) adalah idealis-idealis tulen. Hal ini dinampakkan dalam diri Sadeli yang baru saja keluar dari kancah revolusi dan muncul di Singapura. Ia mempercayai segalanya dalam revolusi. Mempercayai tujuannya yang murni, mempercayai pemimpin-pemimpinnya yang sederhana dan benar-benar tanpa pamrih kecuali buat membahagiakan rakyat, mempercayai pemimpin-pemimpinnya yang sederhana dan benar-benar tanpa pamrih kecuali buat membahagiakan rakyat, mempercayai kerelaan berkoban mereka dan sebagainya. Inilah sebabnya ia mengutuk keras Umar Junus yang menyleweng. Tetapi Sadeli, akhirnya menyadari realitas, ia butuh dunia ini, butuh perempuan, butuh cinta, butu kehidupan yang layak. Dan inilah sebabnya ia mengampuni Umar Junus. Dan Umar Junus sendiri adalah lambang dari para pemimpin yang korup. Ia adalah proyeksi dari “kehidupan mewah para pemimpin” sesudah revolusi. Umar Junus telah jauh meninggalkan revolusi. Telah terlalu lama hidup di Singapura.

Sedang Ali Nurdin adalah type idealis murni yang akhirnya menjadikan revolusi sebagai alat membalas dendam pribadi. Para penerbang seperti Dave Wayne dan Pierre de Koonig adalah tipe pejuang idealis murni. Mereka tidak memandang bangsa, tetapi manusia.

Sedang Maria, isteri Sadeli, adalah lambang kemerdekaan. Wanita yang cantik, berbakat dan baik hati ini adalah buah revolusi yang diidamkan seperti dikatakan pada akhir novel ini: “Dia cinta pada Maria seperti juga dia cinta pada kemerdekaan bangsanya.”

Bagaimana pun novel ini menarik. Ia enak dibaca meskipun terlalu banyak monolog panjang dan dialoh perdebatan. Segi yang menarik dari novel ini mungkin kecermatan  Mochtar Lubis dalam melukiskan setting ceritanya. Ia memiliki pengetahuan yang luas dan “menguasai medan” daerah yang diceritakannya : Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Macao, Mochtar Lubis mampu menghadirkan suasana daerah itu dalam novelnya. Kita bertubi-tubi dihadapkan pada beberapa watak yang amat beragam. Orang tak mudah melupakan gambaran tentang Dave Wayne, Sheila Scott, Tan Ciat Tong, Inspektur Hawkins dan sebagainya. Mereka ini berbicara dan bertindak sesuai dengan perwatakannya. Dan dengan demikian ia jelas menggariskan karakternya pada kita.

Meskipun mungkin dengan alasan melihat revolusi “dari luar secara obyektif” namun setting yang dipilih Mochtar Lubis buat menuturkan ceritanya dan dengan demikian juga menuangkan ide-idenya, bukanlah secara kebetulan di Singapura dan sekitarnya. Setting ini baru Mochtar Lubis yang mengerjakannya. Ia bercerita tentang peranan orang-orang yang berdiri di belakang kemelut revolusi di tanah air. Tentang orang-orang yang sering kita lupakan jasa mereka bagi revolusi kita. Tentang penembusan blokade Belanda baik di darat maupun di laut dan udara. Tentang revolusi di luar tanah airnya sendiri.

Mochtar Lubis membawa kita kepada mereka setelah sekian banyak cerita pendek dan novel Indonesia bercerita tentang revolusi dengan asap dan mesiu. Kini orang menilai kembali revolusi: hakekatnya, persoalannya, tujuannya semula, bahayanya. Novel ini ibarat retreat batin bagi kita semua. Juga bagi mereka yang pernah aktif menyumbangkan darma baktinya buat kemerdekaan, apakah mereka tetapi di jalan lurus kemerdekaan. Apakah mereka telah menjadi “Umar Junus”. (*)

*Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog Pembaca

Virdika: Buku-Buku Mempertajam Rasa Kemanusian Kita

mm

Published

on

Membaca buku-buku membuat kita bertemu dan mengalami banyak kisah, cerita, perasaan manusia dalam beragam bentuknya. Kita mengetahui penderitaan, penindasan dan peminggiran atau tentang jiwa manusia yang kalut—hal itu secara konstan membuat kita memiliki kemampuan untuk melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia.

Paling tidak itulah salah satu makna dan arti mendalam dari buku dan membaca buku-buku menurut Virdika Rizky Utama. Pekerjaannya sebagai wartawan Majalah GATRA membuatnya terus memiliki kesempatan menggali lebih dalam makna-makna yang bisa ia dapat dari interaksi dengan buku dan tentu saja, banyak ragam manusia.

Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat, adalah buku penting yang membuatnya benar-benar menjadi pembaca buku. LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) DIDAKTIKA di UNJ yang memeng terkenal menjadi ruang diskursus dan penjaman naluri kemanusiaan mahasiswa di UNJ membuatnya kian memiliki dunia yang mendekatkannya dengan buku-buku dan akhirnya, menjadi penulis, sebagai seorang wartawan.

Buku apa yang paling penting dan telah merubah cara berpikir dan menentukan dalam kehidupannya kini? Jawabannya: buku “Di bawah bendera revolusi” dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat. Dia memiliki alasan kuat atas jawaban itu. Simak kisah menarik selengkapnya dari Virdika dan dunia buku dalam wawancara Galeri Buku Jakarta dengannya berikut ini:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Bagi saya, Buku merupakan kawan paling setia yang sangat mudah ditemui. Buku melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Momen pertama kali bertemu dengan dunia membaca (buku) terutama saat belajar membaca yang diajarkan oleh ibu dan ayah saya. Pertama dibacakan cerita, belajar membaca apa pun bukan hanya buku, termasuk papan reklame saat saat saya dan keluarga saya bepergian di akhir pekan.

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Minat membaca saya semakin menguat dan akhirnya menjadi seorang pembaca adalah pada saat ikut dalam Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika, Universitas Negeri Jakarta. Di didaktika punya kegiatan acara bedah buku—seminggu biasanya 3 kali—momen bedah buku pertama saya sangat berkesan. Buku pertama yang saya bedah adalah Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat—kebetulan saya sangat hobi baca buku sejarah dan politik.

Ketika membedah buku itu, saya kaget bukan main, karena saya pikir hanya akan membahas aspek apa, siapa, dan kapan, layaknya pelajaran sejarah di SMA. Namun nyatanya, segala aspek sosial, politik, ekonomi, dan kontekstualisasi ke masa kini juga jadi pembahasan. Kita harus bisa membaca konteks dalam setiap teks. Saat itu, saya merasa gagal dalam hal membaca buku. Tapi, itu bukan jadi satu alasan untuk saya tidak membaca buku, justru sebaliknya. Saya semakin giat membaca. Membaca buku membuat kita peka dengan permasalahan kehidupan.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Selama ini, tempat paling nyaman saya membaca buku adalah rumah, terurama ruang keluarga. Biasanya baca buku sambil tengkurap, ditemani bantal seebagai penyangga, dan teh hangat yang tak terlalu manis—sebab saya tidak suka kopi, hehe.

Saya pikir di bus dan kereta sama saja. saya pernah membaca di kedua tempat tersebut. Tapi jangan harap anda bisa membaca saat jam sibuk—berangkat atau pulang kerja. Bisa menjejakkan kaki seutuhnya di dalam bus atau kereta saja sudah sebuah kebanggan, hehe. Saya biasanya butuh bantuan musik, saat membaca di dalam transportasi umum. Ketika tangan mulai membuka tiap halaman dan telinga disumbat oleh suara musik, saya bisa langsung bisa fokus.

Tapi itu hanya bisa saya lakukan pada buku berbahasa Indonesia. Saat membaca buku bahasa inggris saya sangat butuh suasana tenang. Sebab saya perlu mempelajari tata bahasa, arti kalimat, kosa kata, dan konteks bacaan.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang sangat sulit. Selama ini, setiap buku yang saya baca selalu memengaruhi pola pikir dan hidup saya. Saya rasa buku tersebut adalah buku Soekarno. Di bawah bendera revolusi dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat.

Alasannya, siapa yang tak bergetar mendengar nama Soekarno? Apalagi saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya langsung terbayang Soekarno memperjuangkan sebuah bangsa baru bernama Indonesia—bukan berarti saya mendeskreditkan perjuangan pendiri bangsa yang lain.

Di kedua buku itu, kita diajak menyelami pemikiran, ide tentang bagaiamana Indonesia akan dibentuk, dengan cara apa, dan tentu tujuannya seperti apa. Soekarno sangat paham kondisi Indonesia. Oleh sebab itu, ia tidak menelan mentah-mentah teori atau pemikiran dari Eropa atau negara mana pun.

Ia tahu kondisi rakyatnya, ia merumuskan keadaan sendiri rakyatnya, ia tidak mabuk teori dan metode, baginya semua pengethauan yang ia miliki harus bisa menjawab segala persoalan kehidupan rakyat Indonesia. Akibatnya, pemikirannya selalu kontekstual dengan zaman, tak lekang oleh waktu.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Tetralogi Pulau Buru—Pramoedya Ananta Toer dan Dan Damai di Bumi! (Karl May). Untuk tetralogi Pulau Buru, kita tak hanya disuguhkan dengan cerita yang luar biasa. Sosok Minke yang menjadi pembaru gerakan perlawanan Indonesia terhadap pemerintah kolonial melalui tulisan. Cerita di balik penulisan tetralogi Pulau Buru pun sangat menggetarkan dunia.

Buku Karl May yang satu ini, lebih mengedepankan sisi psikologis dibandingkan fisik seperti dalam buku Karl May lainnya. Di sini juga ide Karl May tentang konsep humanismenya. Ada satu sajak yang tak akan pernah saya lupa dalam novel tersebut:

“Bawalah warta gembira ke seantero dunia

Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,

Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,

Jadikanlah ia perlambang damai antarumat.

Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah hanya cinta,

Segala lainnya tinggalkan di rumah.

Justru karena ia pernah berkorban nyawa,

Dalam dirim, kini ia hidup selamanya”.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Saya sudah sebutkan ini berikut jawabannya di pertanyaan sebelumnya, hehe. Otobiografi Soekarno, Bumi Manusia, dan Dan Damai Di Bumi!

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Menulis fiksi itu sangat sulit. Bagi saya, penulis fiksi—novelis atau apapun sebutannya— merupakan sebuah tahap tertinggi bagi seorang penulis. Saya tidak mau main-main dalam menulis.

Oleh sebab itu, saya akan menulis nonfiksi. Ya, tentang sejarah pastinya. Menulis tentang perjalanan demokrasi di Indonesia. Sebab, demokrasi di Indonesia sedang berkembang dan mencari format terbaik.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang maha dahsyat, haha. Saya kira, kita harus melibatkan semua pihak dalam mengatasi krisis literasi. Tidak bisa parsial, satu lembaga misalnya Kementerian Pendidikan Budayaan (kemendikbud). Pun kalau ini hanya menjadi tugas kemendikbud, tidak bisa hanya satu pihak yang membaca.

Kita ambil contoh, Saya pernah PKL di SMAN 30 Jakarta. Ada jam literasi bagi siswa. Pada saat itu, siswa diharuskan membaca buku—genre nya bebas. Sayangnya, ini hanya buat siswa saja. gurunya tidak membaca. Ini kan jadi semacam bentuk hipokrit. Menyuruh siswa membaca, tapi gurunya tidak membaca.

Oleh sebab itu, apabila pemerintah serius ingin mengatasi krisis literasi. Maka, kebijakan harus tersruktur, masif, dan melibatkan semua pihak. (*)

Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Proses Kreatif

Mendengarkan Puisi

mm

Published

on

Sewaktu kuliah di fakultas ilmu pengetahuan budaya alias fakultas sastra UI, sesekali suara-suara merdu terdengar dari auditorium salah satu gedung. Mahasiswa sastra Indonesia sedang melantukan puisi dengan iringan musik. Terhibur, tapi tak sampai ingin mendengar utuh apalagi memasukkannya ke dalam playlist di gawai. Empat tahun berlalu dan puisi-puisi yang biasa bertebaran menghilang lenyap dikerumunan manusia dalam kereta. Hanya suara-suara orang mengaduh di dalam gerbong khusus wanita (perempuan) yang mungkin jika dibuatkan puisi elok juga.

Hampir lupa rasanya jentik-jentik melankoli ketika tak sengaja menemukan puisi di majalah dinding, di majalah, atau buku milik teman yang memang menyukai puisi-puisi Joko Pinurbo dan Aan Mansyur. Sampai suatu malam di bulan Mei 2016, setelah kecewa melihat pantai Losari yang ternyata cuma lapisan beton, kemilau cahaya warna-warni menarik perhatian ke arah Fort Rotterdam. Sedang ada acara besar rupanya, Makassar International Writer Festival (MIWF). Benteng yang seharusnya nampak menyeramkan di malam hari, berkilau dengan lampu-lampu dan dekorasi panggung warna-warni.

Seseorang sedang membacakan puisi dalam bahasa Inggris, di atas panggung dengan ketinggian rendah yang di depannya dipenuhi manusia. Sebagian duduk beralas rumput, sebagian berdiri saja menikmati gairah dalam intonasi pembaca puisi. Mungkin tak semua mengerti isinya karena dibacakan dalam bahasa asing, tetapi penyair di atas panggung itu seperti aktris dalam pantonim. Kami semua mengerti ada kritik yang disampaikan dalam jalinan kata-kata yang diberi judul Who am I?

Bingung ingin duduk atau pergi, melihatlah berkeliling stand-stand jualan. Ada yang menjual buku termasuk buku puisi Aan Mansyur yang sudah ludes karena hebohnya film Ada Apa dengan Cinta? Tidak Ada New York Hari Ini sudah tidak ada di Makassar. Selain buku-buku, ada stand yang menjual CD album, isinya musikalisasi puisi. Jadi teringat masa-masa kuliah di fakultas Sastra. Tapi masih belum tertarik untuk membeli.

Acara di panggung terus berlanjut. Tiba-tiba terdengar bunyi-bunyi merdu. Ada Hujan (di) Bulan Juni, dinyanyikan dengan musik yang memikat dan dua suara vocal yang merdu. Ari-Reda. Begitu mereka dipanggil, menyanyikan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Terpikat dengan suara, musik, dan suasana malam di benteng Fort Rotterdam dengan lampu warna-warni mencolok di kegelapan. Kembalilah ke stand penjualan, membeli satu album Ari-Reda dengan 12 lagu yang kebanyakan diambil dari puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Aku Ingin, Ketika Berhenti Di Sini, dan tentu saja Hujan Bulan Juni di kemudian hari masuk playlist dalam gawai dan menjadi teman di perjalanan sambil sekali lagi menyaksikan kerumunan manusia yang suara mengaduhnya tak lagi terdengar, tersumbat jalinan kata-kata Sapardi melalui suara merdu Ari.

Beruntung sebelum pulang, rasa haus membawa diri ke tempat nongkrong hits anak Makassar ‘Popsa’, tepat di seberang Fort Rotterdam. Sambil menunggu minuman diantar yang lamanya sebanding dengan sepuluh lagu dalam playlist, mata ini menangkap rombongan pengisi acara yang mungkin juga kehausan. Ari-Reda menyempatkan diri berfoto dan membubuhkan tanda tangan di album yang kupegang. Album manis berjudul Becoming Dew.

Continue Reading

Editor's Choice

Tips Utama Menulis sebuah Ulasan

mm

Published

on

Tujuan penulisan sebuah ulasan adalah untuk mengevaluasi dan menilai sesuatu. Kita menilai segala hal setiap hari. Misalnya, kamu punya band atau pertunjukkan televisi kesukaan, dan kamu menyukai satu supermarket dibanding yang lainnya. Semua itu merupakan penilaian. Ketika kamu menulis sebuah ulasan, tugasmu adalah menyatakan pendapatmu atau penilaianmu dan menyokongnya. Kamu melakukannya dengan memberikan alasan-alasan dan bukti.

  1. Menonton, membaca, atau mendengarkan karya itu lebih dari satu kali

Pertama kali kamu membaca atau menonton sesuatu, rasakan keseluruhan sensasi dari karya itu. Lalu pikirkan tentang kekuatan karya itu dan kelemahannya. Baca atau tonton karya itu lagi untuk mrngonfirmasi kesan pertamamu. Kali ini, buatlah catatan dengan hati-hati. Bersiaplah untuk mengubah pikiranmu jika pengamatan yang lebih seksama membawamu ke arah yang berbeda.

  1. Sediakan informasi pokok

Beritahu pembaca judul lengkap dari karya itu dan nama pengarangnya atau penciptanya. Tambahkan nama penerbit, tanggal penerbitan, dan informasi lain tentang kapan karya itu diciptakan dan dimana pembaca atau penonton dapat menemukannya. Periksa fakta-faktamu. Rincian dalam ulasan haruslah akurat.

  1. Pahami subjek pembacamu

Ulasan hadir di berbagai tempat. Kamu akan menemukannya di penerbitan lokal atau nasional, online, dan juga di jurnal-jurnal khusus dan surat kabar di tempat tinggalmu. Pelajari tempat dimana kamu ingin menerbitkan ulasanmu, dan menulislah berdasarkan itu. Pikirkan tentang apa yang perlu kamu jelaskan. Pembaca umum akan membutuhkan lebih banyak informasi latar dibandingkan pembaca untuk penerbitan yang menargetkan para ahli.

  1. Tentukan posisi

Nyatakan pendapatmu tentang karya yang sedang kamu evaluasi. Ulasanmu bisa berbentuk negatif, positif, atau campuran keduanya. Tugasmu adalah mendukung pendapat itu dengan perincian dan bukti. Bahkan ketika pembaca tidak setuju denganmu, mereka tetap perlu mengetahui bagaimana kamu mencapai kesimpulan.

  1. Jelaskan cara kamu menilai karya itu

Putuskan kriteriamu, standar yang kamu gunakan untuk menilai buku, pertunjukkan, atau film. Kamu mungkin percaya sebuah novel sukses saat ia memiliki karakter-karakter yang kamu sukai dan sebuah alur yang membuatmu terus ingin membaca. Nyatakan kriteria-kriteria tersebut sehingga pembacamu mengerti apa yang kamu percaya.

  1. Perlihatkan bukti untuk mendukung kriteriamu

Sokong penilaianmu dengan kutipan-kutipan atau deskripsi-deskripsi adegan dalam sebuah karya. Juga berkonsultasilah pada sumber-sumber lain. Adakah kritikus lain sependapat denganmu tentang karya ini? Kamu mungkin bisa menyebutkan ulasan-ulasan itu juga. Pastikan selalu mengutip hasil kerja penulis lain dengan tepat, jika digunakan.

  1. Kenali kaidah-kaidah dalam genre nya

Setiap jenis tulisan atau seni memiliki elemen-elemen tententu. Sebuah misteri harus memiliki ketegangan, sementara roman harus memiliki karakter-karakter yang kamu percaya akan tertarik satu sama lain. Pertimbangkan tema, struktur, karakter, latar, dialog, dan faktor-faktor terkait lainnya. Pahami kaidah-kaidah itu dan masukkan sebagai bagian dari kriteriamu.

  1. Bandingkan dan bedakan

Perbandingan dapat menjadi cara yang baik untuk mengembangkan evaluasimu. Seumpama kamu mengklaim bahwa sebuah film memilki dialog yang sangat bagus, orisinil. Tonjoikan hal ini dengan membagi sejumlah dialog dari film lain yang memiliki dialog yang sulit, kaku, atau klise. Gunakan perbedaannya untuk memperlihatkan maksudmu.

  1. Jangan merangkum keseluruhan isi cerita

Buku-buku, film, dan pertunjukkan-pertunjukkan televisi memiliki bagian permulaan, pertengahan, dan akhir. Orang membaca dan menonton karya-karya itu sebagian karena mereka ingin mengetahui apa yang terjadi. Biarkan mereka menikmati ceritanya. Sediakan gagasan umun tentang apa yang terjadi, tetapi jangan memberikan rahasia-rahasia penting, terutama akhir ceritanya.

————————–

Diterjemahkan Marlina Sopiana dari Top tips for writing a review. Oxforddictionaries.com

Continue Reading

Trending