Connect with us

COLUMN & IDEAS

Mh. Rustandi Kartakusuma: Kesusastraan Modern Kita

mm

Published

on

Sekitar tahun 1930 lahirlah Pujangga Baru ke atas bumi Pertiwi. Dengan mereka mulailah Kesusasteraan Indonesia. Yang ada sebelumnya hanya kesusasteraan daerah: Jawa (Ronggowarsito), Sunda (Hasan Mustapa), Melayu (Abdul Muis).

Udara sastra Indonesia terngiang-ngiang dengan semboyan mereka: Kita harus dinamis! Tradisi kita telah usang dan lapuk! Kita harus menggantinya dengan cara Hidup Baru! Dan apa itu yang disebut cara hidup baru! Tiada lain tidak bukan: Barat; cara hidupnya dan pandangan hidupnya.

Semboyan mereka mengujung pada teriakan Takdir Alisjahbana yang serak parau: Kita harus ke Barat! Kita harus jadi individualis, bahkan … egois!

Memang semboyan-semboyan itu tidak disetujui oleh mereka semua. Sanusi Pane malahan menentangnya. Juga Amir Hamzah, yang menerjemahkan Bhagavad Gita dan membakar Setanggi Timur.

Akan tetapi suara mereka dikalahkan oleh teriakan Takdir. Takdir yang berkumandang dan Takdir yang didengarkan!

Ke Barat! Ke Barat! Serunya. Kemudian dia kibarkan panji-panji. Bergerombol-gerombol kita turun dari bukit tradisi dan gunung kepribadian, lalu berbaris, lalu berbaris di belakang Takdir dan kibaran panjinya. Kita bernyanyi: Ex Occidente Lux! (Cahaya datangnya dari Barat). Yaitu nyanyian yang kita sadur dari pemeo orang Barat sendiri: Ex Oriente Lux! (Dari Timurlah datangnya cahaya).

Kita naik tongkang. Kemudian dengan “Layar Terkembang” kita melaut. Bermula berembuslah Angin Timur dan Angin Barat kedua-duanya sekali, berlawanan. Tapi Takdir lalu membaca mantera dari buku Pearl S. Buck yang diterjemahkan oleh kawan seperjuangannya Saadah Alim: East Wind, West Wind. Maka redalah Angin Timur, hingga tinggal Angin Barat, yang anehnya tidak meniup kita ke Timur, melainkan datang menjemput kemudian membawa kita ke tempat asalnya.

“Setanggi Timur” telah tiada tercium. “Madah Kelana” telah tiada lagi kedengaran. Semuanya itu kita rasakan sebagai “Belenggu.” Kita telah terlepas kini, “Layar Terkembang” semua! Kita menuju “Buah Rindu” kita yang baru: Barat! (Bagi orang yang tidak-tahu: Setanggi Timur dan Buah Rindu buku-buku terjemahan dan karangan Amir Hamzah, Madah Kelana karangan Sanusi Pane, Belenggu karangan Armijn Pane, Layar Terkembang karangan St. Takdir Alisjahbana).

Pada tahun 30-an itu sampaikah kita di barat?

Sebagaimana telah kita lihat dalam karangan yang terdahulu dari rangkaian karangan “Ciliwung” ini, “internasionalisasi” yang kita maksudkan dengan sungai dan sebagainya. Tidak sampai pada tujuannya, hanyalah sampai pada “Belanda-nisasi,” yang pada gilirannya bermuara pada “Indo-nisasi.” Begitulah pula halnya dengan Pujangga Baru sayap Takdir. Merekapun hanya sampai pada Indo dan Belanda-nisasi. Artinya: di atas bidang serbacipta inipun, bidang kesusasteraan, bangsa Indonesia tidak ubahnya dengan para walikota kita yang dengan resmi merayakan Sint Nicolaas, suatu kebiasaan Belanda, dengan maksud “modern” dan “internasionaalte zijn” (Lihat “Internasionalisasi Ciliwung”).

Kesusasteraan Barat (atau dalam istilah kita dahulu “internasional”) bagi mereka bukannya puncak-puncak kesusasteraan Perancis, Jerman, Inggris, Rusia, Spanyol dst., melainkan tiada lain tiada bukan kesusasteraan … Belanda.

Mereka tidak membaca Victor Hugo, Balzac, Stendhal, Beaudelire, Flaubert, Andre Maurois, Romain Rolland, Jules Romains, Roger Martin du Gard, Francois Mauriac, Andre Malraux, Paul Claudel, Verlaine, Rimbaud, Apollinaire, dst.!

Mereka tidak membaca John Galsworthy, Somerset Maugham, T.S. Elliot, G. Hauptmann, Hofmannsthal, Hermann Hesse, RainerMaria Rilke, Franz Werfel, dan lain-lain pengarang-pengarang sebagainya.

Barang tentu mereka tidak tahu menahu tentang: Miguel de Unamono, Manuel dan Antonio Machado, Juan Ramon Jimenez, Slavador de Madariaga, Manuel de Gongora, dst.

Bahkan raksasa-raksasa sastra Barat itupun tidak nampak kepada mereka: Tolstoy, Dostojewski, Pusjkin, Tjekov dsb.

Yang nampak kepada mereka, yang mereka baca dan kaji ialah: Jacques Perk, Willem Kloos, Lodewijkk van Dijssel, dsb, yaitu … sastrawan Belanda.

Yaitu … sastrawan Belanda yang disebut Angkatan 80, Angkatan tahun 1880, de Tachtigers.

Pujangga Baru sayap Takdir menghirup udara tahun 1930, tapi memuja sastrawan Belanda tahun 1880, sastrawan dari abad yang lalu.

Nama-nama sastrawan Perancis, Inggris, dst. yang kita terangkan di atas adalah nama-nama sastrawan yang seangkatan dengan de Tachtigers itu. Jadi, jika Takdir dan kawan-kawan memang terikat oleh waktu, dan karenanya tidak sanggup melihat Paul Valery, Andre Gide, dsb. dari abad sekarang, kenapa mereka tidak melihat sastrawan-sastrawan dari abad yang lalu, tapi yang betul-betul “internasional”?

Dan kalau mereka terikat pula kepada tempat, dan karenanya hanya bisa memandang kepada Belanda, kenapa tidak memuja sastrawan Belanda sesudah Angkatan 80 itu?

Dengan bahana genderang dan kibaran panji mereka bertolak menuju Barat (dunia internasional), tapi hanya sampai di negeri Belanda. Itupun negeri Belanda abad yang silam.

*

“Umur Pujangga baru tidak panjang. Beberapa tahun sesudah lahir, mereka meninggal dunia. Arwahnya berkeluyuran sebagai jailangkung yang tak dipangil di bidang politik, keilmuan, perguruan, organisasi-organsiasi dan kemasyarakatan”.

Lahirlah angkatan baru, yang menamai diri “Angkatan 45.” Di antara dentaman mortir dan howitser mereka membacakan surat kepercayaannya kepada bangsa Indonesia yang sedang terlibat dalam suatu pergaulan yang menentukan hidup matinya sebagai bangsa:

“Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia!”

Kebudayaan dunia! Kata mereka; bukan kebudayaan Belanda.

Memang mereka telah insyaf, bahwa Pujangga Baru telah tersesat. Mereka Pujangga Baru, memandang dirinya ahli waris kebudayaan Belanda. Padahal apa hubungan kekeluargaan mereka dengan bangsa keturunan Franken dan Batavieren itu?

Angkatan 45 menguakkan Pujangga Baru (Tiga Menguak Takdir), sambil berkata dengan tegas: “Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang yang disebabkan suara-suara yang dilontarkan dari segala sudut dunia!”

Dari segala sudut dunia, katanya. Tertandas kembali kehendak mereka meluaskan pandangannya sampai ke luar batas-batas sebuah negeri kecil yang bernama Belanda.

Jadi, adakah kemajuan mereka dibandingkan dengan Pujangga Baru?

Ada!

Sungguh ada!

Kemajuan itu sungguh-sungguh kemajuan!

Angkatan 45 lebih jauh jalannya di jalan … yang telah dirambah Pujangga Baru dahulu. Lebih jauh, tapi samasekali tidak menyimpang dari jalan tsb. Atau sama sekali tidak memilih jalan baru.

Angkatan 45-pun lari-lari anjing ke … Barat!

Jika Sanusi Pane dan St. Takdir Alisjahbana dulu masih serang-menyerang karena berbeda faham tentang Barat dan Timur, maka bagi Angkatan 45 soal tsb. tidak merupakan soal lagi. Mereka telah bulat-bulat sefaham dan sepengertian: ke Barat! Sans phrase!. Tanpa cincong!

Mereka tidak berbincang-bincang tentang Timur-Barat, karena Timur tidak ada bagi mereka. Yang ada hanya Barat. Pengertian “dunia” bagi mereka adalah “Barat!”

Kami ahli waris kebudayaan dunia, berarti, kami ahli waris kebudayaan Barat.

Suara yang dilontarkan dari segala sudut dunia, berarti, suara-suara yang dilontarkan dari segala sudut Barat.

“Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kata Angkatan 45 dalam surat kepercayaanya selanjutnya “kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan”.

Tidak, mereka tidak menggosok Borobudur, memalu gamelan, mendalang, melagukan Kinanti, Degung dsb. itu hasil kebudayaan beratus-ratus tahun ke belakang. Lap untuk menggosok semua itu dan membanggakannya di antero dunia, mereka serahkan dengan ikhlas hati kepada orang yang underdeveloped dan kepada orang-orang asing semacam Prof. Krom, Jaap Kunst, John Coast, dst,dst.

Akan tetapi aneh seribu kali aneh, mereka menggosok (turut menggosok) Acropolle Forum Romanum, Sophocles, Seneca, Jeanne d’Arc (menggosok Jeanne ini bersama dengan Schiller, Bernard Shaw, Jean Anoulin, Paul Claudel), komponis Honegger, menyetel radionya untuk mendengarkan kecapi Biola, musik Palestina, Monteverdi Beethoven (terutama simfoni pastoralnya) dst. dst. Dan mereka memaksa-maksa dirinya supaya terharu.

Akan tetapi itu semuanya hasil kebudayaan beratus-ratus tahun ke belakang pula, persis seperti Borobudur, persis seperti Degung. Yang satu mereka lap-lap sampai berlinang air matanya saking terharu; yang lainnya dengan sebelah matanya sipit itupun tidak mereka pandang.

Beda antara keduanya ialah yang satu hasil cipta nenek moyang bangsa yang tidak sipit matanya, yang lainnya hasil cipta nenek moyang sendiri yang matanya sama-sama sipit, hidungya sama-sama penyek, kulitnya sama-sama sawo matang.

(“Kebudayaan Indonesia kami,” kata surat kepercayaan itu, “tidak semata-mata karena kulit kami sawo matang, rambut kami yang hitam, atau tulang pelipis yang menjorok ke depan”)

Mata spipit, rambut hitam, kulit sawo matang dst. hendak mereka ganti dengan mata bundar, rambut pirang (blonde), kulit putih dst. Karena itu mereka rebut panji-panji dari tangan St. Takdir Alisjahbana yang jalannya terasa oleh mereka terlalu lamban.

Mendengunglah, membelah udara komando Jenderal, Bapa, Bapa: Putih kuda yang paling liar, pacu laju!

Maka tanpa minta izin, tanpa minta maaf mereka ambil semua kuda dan kuda-kuda mereka panjati dan mereka pacu laju. Dalam “Deru dan Debu” mereka sebut lari mendua.

Ke mana? Pada teorinya mereka ingin ke Barat, Sans phrase! Akan tetapi jalan “Deru dan Debu” tiada lain hanya menuju ke “Schuim en Asch” (“Busa dan Abu”)

Dan ternyata “Schulm en Asch” adalah kepunyaan Slauerhoff, penyair Belanda.

Mereka lari dari Willem Kloos dan de Tachtigers lainnya. Mereka tertawa mengejek melihat Tatengkeng ngiler ngabulaeh (kwijlen) membaca soneta-soneta Willem Kloos tersebut. Mereka lari, tapi larinya tidak ke luar dari daerah sekitar muara sungai Maas dan Rijn. Mereka hanya sampai kepada Slauerhoff, kepada Marsmann, Du Peron dan Ter Braak, yakni sastrawan-sastrawan …. Belanda.

Sekali merdeka tetap merdeka! Sekali Belanda, tetap Belanda! Ternyata juga bagi Angkatan 45 “Internasionalisasi” Ciliwung baru berarti “Belandanisasi (dan kemudian “Indo-nisasi”) Ciliwung. (*)

______________________________________________

Mh. Rustandi Kartakusuma lahir di Ciamis, Jawa Barat, 27 April 1921. Nama lengkapnya: Mohammad Rustandi Kartakusuma(h). Dikenal sebagai sastrawan prolifik. Menulis drama, esai, cerita pendek, novel, puisi, baik dalam bahasa Indonesia maupun daerah (Sunda). Karya-karyanya: Prabu dan Puteri (1950); Heddie dan Tuti (1951); Merah Semua Putih Semua (1958); Prosa dalam Bahasa Sunda; Mercedes 190 (1993); Indonesia; Daut (1976); Rekaman dari Tujung Daerah (1951).

Sumber: E. Ulrich Kratz (ed.), Sumber Terpilih Sastra Indonesia Abad XX, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2000.

 

***

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Lapangan Menteng ke Taman Menteng: Pengingatan dan Pelupaan

mm

Published

on

Pengalihan Lapangan Menteng menjadi taman tentu mengubah ingatan publik, terutama bagi mereka yang pernah bersentuhan dengan Lapangan Menteng—yang juga berarti terhadap Jakarta di masa lalu—seperti pada Pak Paijan dan Pak Yusuf. Proses ini berlangsung melalui pengingatan dan pelupaan (Kusno, 2009); suatu peristiwa diseleksi untuk diingat; peristiwa lain diseleksi untuk dilupakan. Pak Paijan mengingat Lapangan Menteng, tetapi tentang kekumuhannya, lalu secara tidak langsung mengusulkan taman saat ini sebagai ingatan baru, sebagai tempat bermain.

Moh Alie Rahangiar *)

Minggu sore, 21 Oktober 2018, Taman Menteng telah ramai pengunjung sebelum kami tiba. Saya langsung mengitari taman, bermaksud lakukan scanning agar dapat gambaran umum taman ini. Baru setengah jalan, saya bertemu Ayu (19) dan Rudi (19), sepasang kekasih yang sedang menikmati leasure time. Ayu tampak malu-malu saat saya meminta izin untuk memotret mereka berdua. Sambil tertawa, kedua tangannya diangkat menutupi wajahnya lalu menolah ke kiri, menghindari kamera. Rudi duduk tenang menatap kamera. Senyumnya sedikit mengembang, seolah tak terganggu. Keduanya duduk di atas kursi besi berwarna hijau tua berukuran tiga orang dewasa yang dibuat mengelilingi lapangan berlantai semen. Jarak satu kursi dengan kursi berikutnya kira-kira empat atau lima meter.

Di hadapan mereka penggunjung lain sedang sibuk berolahraga. Ada anak-anak yang bermain futsal, orang dewasa yang sedang bermain voli, dan beberapa remaja perempuan yang berlatih tarian modern (dance) diiringi musik disko. “Ini pertama kali kami ke sini, mas” kata Ayu. “Ya ke taman kan gratis, nggak perlu keluar duit, paling buat bensin di motor sama jajan di sini”, jelas Ayu. Keduanya menempuh jarak kira-kira 6,1 km dari Pejompongan, tempat tinggal mereka, ke Taman Menteng. Jarak yang tidak terlalu jauh untuk ukuran Jakarta. “Kadang ke Monas juga, tapi kan agak jauh kalau Monas, makanya ke sini aja. Taman ini bagus, rame, lumayanlah buat refresing”, kata Rudi ketika diminta berkomentar.

Selang dua kursi dari tempat duduk Rudi dan Ayu, duduk Pak Paijan (42) bersama tiga anak perempuannya yang masih kecil-kecil. Usia anak-anaknya kira-kira usia TK nol besar atau kelas satu SD. Pak Paijan sering ke Taman Menteng bersama anak-anaknya itu. “Kalau di rumah paling mereka nonton tivi, makanya sengaja dibawa ke sini biar bisa leluasa bermain”, jelas Pak Paijan. “Kadang saya ajak ke museum, ke Lapangan Banteng juga kadang-kadang, kalau nggak ya ke Monas”, kata Pak Paijan.

Di seberang lapangan, seorang bapak tua sedang memikul beberapa tikar anyaman daun pandan yang diikat jadi satu. Ia berjalan menuju air mancur di sisi lapangan, dekat jalan Jl. Prof Moh Yamin, lalu duduk di atas tembok yang mengelilingi air mancur. Namanya Yusuf (61). Ia penjual tikar keliling yang tiap seminggu sekali mampir ke Taman Menteng. Selain Taman Menteng, Taman Suropati dan Masjid Tangkuban Perahu adalah tempat yang kerap ia sambangi. Keramaian adalah hal yang membuatnya mampir ke tempat-tempat tersebut. Bagi Pak Yusuf, di mana ada keramaian, ke situlah langkahnya ditujukan. Tak peduli mereka yang datang tujuannya beda-beada. “Yang penting kan kita usaha, laku nggaknya tergantung rejeki”, kata Pak Yusuf. Harga satu tikar yang ia tawarkan antara Rp 120.000 Rp sampai 150.000. “Ya kadang laku kadang enggak, kadang laku satu atau dua, kadang kosong”, katanya lagi.

Saat saya sedang ngobrol bersama Pak Yusuf, seorang pedagang kopi bersepada mendekat lalu menawarkan minum. Dia adalah Zaeni (37), sehari-hari pekerjaannya bolak-balik Taman Menteng dan Taman Suropati, mejajakan minumannya. “Kopi pak, kopi, mau yang dingin, panas?” Tanya Pak Zaeni. Bagian depan sepedanya dipenuhi minuman instant sachet (kopi, nutrisari dsb) yang bergelantungan. Bagian belakang (sadel) dibuat kotak segi empat. Dua termos air panas, beberapa botol air mineral ukuran satu liter dan beberapa bungkus pop mie ditempatkan di kotak segi empat itu. Orang Jakarta menyebut pedagang keliling seperti Pak Zaeni sebagai starling, akronim dari starbuck keliling. Plesetan kreatif ini agaknya mengandung sentilan terhadap raksasa bisnis kopi asal Amerika, Starbucks co.

Pak Zaeni tak sendiri. Ia bersama enam rekan lainnya mondar-mandir menghampiri pengunjung taman, seolah sedang berkompetisi. Setelah Pak Zaeni pergi, kawannya yang lain datang menawarkan minuman, seperti tak mau tahu bahwa kawannya baru saja pergi dari sini. “Sudah, pak, sudah”, kata saya sambil mengangkat gelas plastik berisi minuman dingin.

***

Taman Menteng diresmikan pada tahun 2007 oleh Gubernur DKI Jakarta ketika itu, Fauzi Bowo. Pengerjaannya telah dimulai sejak tahun 2004 melalui suatu sayembara di bawah Gubernur DKI, Sutioyoso. Sebelum diubah jadi taman, tanah seluas  3,4 ha tersebut merupakan lapangan sekaligus markas klub Persatuan Sepak Bola Jakarta (PERSIJA). Lapangan tersebut telah berdiri sejak Hindia Belanda, dibangun tahun 1921 oleh dua arsitek Belanda, F.J Kubatz dan P.A.J Moojen. Desain lapangan dibuat mengikuti desain pemukiman Menteng yang diperuntukan bagi pembesar kolonial.

Lapangan bernama Voetbalbon Indische Omstreken Sport itu pada mulanya dimaksudkan sebagai tempat bermain bola orang-orang Belanda kala itu (Yunanto, 2008). Di masa Presiden Sukarno, lapangan tersebut diubah namanya menjadi Stadion Menteng (ibid), lalu diserahakan kepada PERSIJA. Dari lapangan inilah, beberapa nama besar seperti Yudo Hadiyanto, Surya Lesmana, Djamiat Kaldar, Iswadi Idris, Oyong Lisa, Sofyan Hadi, Ronny Pattinasarani hingga Bambang Pamungkas lahir (Yunanto, 2008; jakonline.asia, 2015).

Pada tahun 2006, ketika lapangan tersebut akan dialihfungsikan menjadi taman, protes pun berdatangan. Berbagai alasan dikemukakan, mulai dari alasan hukum, lingkungan, hingga alasan sejarah lapangan. Meski diprotes, pemerintah DKI tetap mengalihfungsikan. Pemprov DKI ketika itu berdalih, Lapangan Menteng kumuh! Kata “kumuh” memang menjadi musuh sebagian besar pemerintah daerah di Indonesia. Karena itu harus dihindari. Jadilah lapangan tersebut apa yang saat ini kita kenal sebagai Taman Menteng.

Terletak di persimpangan Jl. HOS Cokroamonito dan Jl. Prof. Moch Yamin, taman ini ramai dikunjungi warga tiap akhir pekan. Pengalaman saya beberapa kali datang ke taman ini di akhir pekan memang tidak pernah sepih. Aktivitas warga di Taman Menteng dapat dibagi dalam empat kategori: menikmati leasure time, bermain, olah raga dan aktivitas ekonomi.

Jika taman bagi pasangan muda-mudi seperti Ayu dan Rudi adalah tempat menikmati leasure time, buat Pak Paijan, taman adalah ruang bermain alternatif bagi anak-anaknya di belantara metropolitan yang kian padat. “Taman ini penting buat anak-anak, mereka bisa main, lari ke sana-ke mari, itu perlu buat mereka, apalagi di Jakarta yang begini padat kan, tempat beramain paling di mall”, urai Pak Paijan. Sedangkan di mata Pak Yusuf dan Pak Zaeni cs, Taman Menteng adalah tempat mencari nafkah. Pak Yusuf, misalnya, meski dagangannya anakronis, keramaian baginya adalah kemungkinan yang harus ia sambut. Dibeli atau tidak, usaha adalah kunci.

***

Ayu dan Rudi tak pernah tahu bahwa taman yang sedang mereka sambangi adalah bekas markas PERSIJA. Mereka mungkin tidak memiliki keterikatan khusus dengan tempat ini sebelum menjadi taman. Berbeda dengan Ayu dan Rudi, Pak Paijan, Pak Yusuf dan Pak Zaeni tahu bahwa taman tersebut adalah bekas lapangan PERSIJA. Tapi hal itu telah menjadi masa lalu. “Iya, dulu taman ini memang lapangan PERSIJA, terus diubah jadi taman”, kata Pak Paijan. “Tapi sekarang ini juga bagus lah, daripada dulu itu kan kumuh juga, nggak terurus. Ini kan lebih bagus, jadi taman, anak-anak bisa main juga di sini”, kata Pak Paijan, menerangkan. Sedangkan Pak Yusuf maupun Pak Zaeni seperti tidak peduli dengan perubahan dari lapangan menjadi taman. “Itu sih urusan pemerintah, mereka mau ngapain ya bisa aja. Yang penting tidak menyusahkan kita di bawah”, kata Pak Yusuf saat diminta pandangannya.

Pengalihan Lapangan Menteng menjadi taman tentu mengubah ingatan publik, terutama bagi mereka yang pernah bersentuhan dengan Lapangan Menteng—yang juga berarti terhadap Jakarta di masa lalu—seperti pada Pak Paijan dan Pak Yusuf. Proses ini berlangsung melalui pengingatan dan pelupaan (Kusno, 2009); suatu peristiwa diseleksi untuk diingat; peristiwa lain diseleksi untuk dilupakan. Pak Paijan mengingat Lapangan Menteng, tetapi tentang kekumuhannya, lalu secara tidak langsung mengusulkan taman saat ini sebagai ingatan baru, sebagai tempat bermain.

Taman ini kelihatanya memang terbuka bagi semua kalangan, termasuk bagi Kantor KORAMIL yang entah untuk alasan apa ditetempatkan di taman ini. (*)

*) Moh Alie Rahangiar Mahasiswa sebuah Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta; peminat studi perkotaan. 

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Golput Otonom Dan Tantangan Demokratisasi

mm

Published

on

Golput (Golongan Putih) di Indonesia bukanlah hal baru. Ia adalah gerakan sosial dalam artinya yang paling populis (kerakayatan) sekaligus politik (demokrasi) warga dalam upaya kritisisme dan upaya memajukan demokratisasi di indonesia berhadapan dengan ancaman politik totalitarianisme dan fasisme sebagai bentuk monopoli kapitalisme atas keadilan ekonomi .

Dalam sejarah pesta demokrasi di indonesia, Golongan Putih (Golput) telah berlangsung sejak pemilu pertama era Orde Baru pada pemilu tahun 1971. Gerakan Golput pada masa itu terorganisir sebagai bentuk perlawanan yang dimotori mahasiswa dan pemuda dalam rangka melawan “Golongan Karya”.

Gerakan Golput sebagai alternatif kembali mengemuka sebagai sikap politik kritis mahasiswa dan pemuda pada periode paska reformasi 1998. Pada era reformasi 98 Golput dimotori oleh organisasi mahasiswa-pemuda dalam mengusung isu kerakyatan sebagai alternatif wacana politik kekuasaan yang oligarkis.

Golput sendiri adalah hak politik warga dan sifatnya konstitusional. UU No 39/1999 tentang HAM Pasal 43, selanjutnya UU No 12/2005 tentang Pengesahan Kovenan Hak Sipil Politik yaitu di Pasal 25 dan dalam UU No 10/2008 tentang Pemilu disebutkan di Pasal 19 ayat 1 bahwa “WNI yang pada hari pemungutan suara telah berumur 17 tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih.

Moralitas Politik

Golput dalam sejarah gerakannya merupakan gerakan moral. Dalam arti tidak ada maksud politis terkait memenangkan salah satu pasangan tertentu dalam suatu momen Pemilihan Umum (Pemiu). Ketimbang sebagai gerakan politik dengan tujuan kekuasaan, golput sejatinya adalah sikap politis masyarakat sipil yang ingin mendorong supaya kekuasaan yang dihasilkan oleh suatu Pemilu pada akhirnya benar-benar ditujukan guna politik kerakyatan di mana hak-hak rakyat yang terabaikan mendapat perhatian dan dipenuhi.

Dalam pemahaman semacam itu, Golput bisa dikatakan memiliki sifat-sifat umum: Pertama: Golput adalah gerakan kritik. Sebagai gerakan ia tidak dilangsungkan otonom oleh individu-individu melainkan suatu konsolidasi yang organis, memiliki bentuk dan tujuan politik berupa daya tawar masyarakat di hadapan politik kekuasaan—siapa pun penguasanya.

Kedua: Golput mengandaikan suatu organisasi massa yang ideologis dalam arti memiliki nilai gerakan yang melampaui suka dan atau tidak suka, kecewa dan atau tidak kecewa yang sifatnya personal belaka. Nilai yang dibangun dalam gerakan ini adalah nilai kerakyatan di mana golput diharapkan mampu mendorong isu-isu kerakyatan seperti soal agraria dan HAM supaya menjadi isu politik kalangan elit.

Ketiga: Golput merupakan langkah taktis dari suatu gerakan politik yang sifatnya strategis. Tujuan akhirnya memang bertaut dengan politik kekuasaan tetapi ia diandaikan sebagai jalan panjang pendidikan politik masyarakat agar tidak tergerus arus politik lima tahunan di mana masyarakat hanya dijadikan pundi suara tanpa kepastian terpenuhi hak dan makin baiknya pemenuhan hak-hak sosial politiknya.

Melampaui Individualitas Politis 

Penulis berharap, dalam situasi di mana proses evolusi nilai kebangsaan indonesia yang Bhineka Tunggal Ika nyata tengah diuji kematangannya, partisipasi dan kontribusi terutama mereka yang hari ini berpotensi memilih untuk tidak memilih (golput), di mana umumnya merupakan kalangan melek politik bahkan intelektual, untuk merenungkan kembali manfaat kolektif sikap politiknya bagi bangsa ini ketimbang sekedar mengedepankan otonomi politik masing-masing atas nama kekecewaan individual.

Pun jika kedua pasangan Capres dan Cawapres dianggap tidak cukup memberi harapan bagi perbaikan kewargaan kita, alangkah lebih baik untuk mengambil sikap aktif dalam mengawal proses demokrasi—yang bagaimana pun sedang dalam proses menjadi lebih baik meski masih banyak kekurangan di sana sini.

Justeru inilah waktu yang menentukan, apakah kebaikan yang tengah berlangsung akan digantungkan hanya sebagai prestasi pada suatu momen lima tahunan, atau disorongkan menjadi pondasi kokoh bagi keberlanjutan pembangunan dan demokrasi indonesia di masa depan.

Lagi pula, kondisi dan prasyarat perubahan hari ini telah berbeda dari abad 20 lalu, kita berada dalam komunitas dunia abad 21 dengan peta demografis yang berbeda, juga bentuk-bentuk gerakan yang telah lain pula, seperti di katakan Noam Chomsky dalam bukunya “Optimism Over Despair” akan selalu ada ruang untuk “optimisme kehendak” (hlm.133) di tengah terus berkembangnya hegemoni kapitalisme dalam merampas hak-hak warga.

Optimisme yang dimaksud Chomsky adalah persekutuan warga dalam jejaring komunitas yang memiliki kekuatan dalam menekan negara guna memenuhi hak-hak warga. Sebab, kata Chomsky, kita masih kekurangan asosiasi dan organisasi yang memungkinkan publik untuk berpartisipasi dalam hal yang berarti seperti diskursus politik, sosial, dan ekonomi (hlm165).

Saya kira optimisme lebih dibutuhkan dalam dunia kita hari ini ketimbang suatu sikap pesimistis dan menyerah seperti halnya Golput yang tidak terorganisir sebagai alat pendidikan politik untuk tujuan politik kerakyatan.

Sebab apa yang kita perjuangkan melalui partisipasi aktif politik kewargaan kita bukanlah semata-mata untuk memenangkan salah satu pasangan calon Capres dan Cawapres, melainkan lebih jauh dari itu adalah terbebasnya kehendak nasional indonesia dari jerat dan ancaman sistem ekonomi politik global yang kapitalistik dan mengabaikan kewarganegaraan dan nasionalisme apalagi peduli dengan kepentingan rakyat.

Sebagai penutup penulis ingin mengajak semua pihak merenungkan bahwa politik hari ini bukan sama sekali soal individu-individu semata, melainkan seperti disebut Martin Luther King Jr: “There comes a time when one must take a position that is neither safe, nor politic, nor popular, but he must take it because conscience tells him it is right”.

Bagi penulis inilah momentum seluruh elemen rakyat indonesia untuk “berpolitik”!. Politik berbasis kesadaran untuk memastikan kian majunya praktik kebudayaan dari kebhinekaan indonesia dan politik mendorong agenda “keadilan sosial” menjadi lebih mengejewantah dalam praktik mau wacana politik kekuasaan khususnya di kalangan elit. (*)
_____________

*) Sabiq Carebesth, Penyair dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

**) Tulisan ini sebelumnya dimuat di kolom Geotimes (27/9)

 

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Memantapkan Niatan Nasional Kita

mm

Published

on

Niatan nasional kita untuk Indonesia harus kembali diikhtisarkan. Pertamakarena kian menguatnya gejala gagap kebangsaan. Ditandai oleh kian merumitnya cara pandang sebagian rakyat atas Indonesia, baik dalam ideologinya dalam hal ini Pancasila, mau pun dalam ihwal kebudayaannya dalam hal ini kebhinekaan nusantara dan realitas ekonomi politik kepulauan yang kerap dianggap sederhana.

Kedua, situasi politik yang kian menampakkan diri sebagai politik elitis, dalam arti diktum dan rasionalitas politik didikte oleh kecenderungan para elit politik khususnya dari Jakarta. Politik elitis merugikan terutama karena ia tak memiliki kecenderungan pada cita-cita politik nasional, hanya berorientasi pada keuntungan material dan politis tapi mengabaikan spritulitas dan solidartias kerakyatan dan kebangsaan.

Gagap kebangsaan dan politik elitis menjadi tantangan kultural yang berakibat pada kekaburan dan kemunduran terhadap paling tidak tiga hal: (1) ketidakjelasan cita-cita dan niatan politik (kekuasaan) dalam pembangunan Indonesia. (2) kosongnya kepemimpinan kultural yang berfungsi memandu spiritualitas bangsa dalam upaya membangun dan menuju Indonesia yang modern dan berkemajuan dalam prinsip kekeluargaan dan gotong-royong. (3) Lazimnya Praktik pengaburan agenda kesejahteraan rakyat menjadi seluruhnya agenda politik kekuasaan.

Hal tersebut menjadi persoalan yang tidak sepele, lantaran masih banyak masalah ekonomi politik seperti masalah agraria, kemiskinan dan ketimpangan lamban penanganannya. Masalah tersebut justeru kalah gegap gempita oleh semata-mata bagaima berkuasa; menjadi legislatif, mendukung capres ini dan capres itu.

Selain masalah di atas ada hal krusial yang meminta kita semua—yang sadar dan peduli pada Indonesia, untuk mengingatkan dan memantapkan kembali “niatan nasional” kita. Jika penulis boleh mencatatkan untuk dijadikan bahan permenungan bersama, maka niatan nasional itu dapat dinyatakan dan ditujukan pada lapangan sosial politik dan ekonomi politik berikut:

Di lapangan sosial politik, niatan nasional kita adalah, pertama: kita bersama meniatkan diri untuk menjadi warga bangsa Indonesia dengan kesadaran kebhinekaan dan kebangsaan luhur berupa perasaan sebangsa dan setanah air. Dalam konteks tersebut berarti, kita bersedia menjadi masyarakat yang bertanggung jawab pada nasionalisme Indonesia, tanggung jawab untuk tidak melemahkan dan membuat bangsa ini rugi dan tidak mandiri.

Semua itu dilandasi kesedian untuk menerima perbedaan baik dalam paham ideologi, politik mau pun identitas lainnya selagi tidak bertentangan dengan Pancasila dan konstitusi. Maka kedua: kita  bertekad dan meniatkan untuk tidak korupsi, kolusi dan melakukan nepotisme.

Ketiga: Kita bertekad bersikap toleran dan tidak rasial. Sebab toleransi dan kesadaran kebhinekaan merupakan pondasi kokoh solidaritas sosial dan akhirnya kedaulatan bangsa dalam sistem yang demokratis. Keempat: Kita memantapkan diri kembali, untuk menjadi warga beragama yang berketuhanaan yang maha esa dan menjamin-melindungi seluruh umat beragama dalam melangsungkan ibadah dan beramal baik sesuai dengan takaran dan ajaran keyakinan agamanya masing-masing.

Sementara itu dilapangan ekonomi politik kita sudah seharusnya memantapkan kembali “niat nasional” kita untuk (1) Kita meniatkan diri untuk menuju kemandirian dan kedaulatan Indonesia secara politik dan dalam ekonomi. Kunci dari kemandirian dan kedaulatan sekali lagi adalah menguatnya solidaritas sosial dan bukan sebaliknya, meruncingnya perselisihan.

(2) Kita meniatkan diri untuk menyambut persaingan global dalam ranah kemajuan teknologi. Dalam hal ini keunggulan demografis harus bersama didorong dengan penguatan sumber daya manusia Indonesia khususnya bagi alangan muda milenial dan perempuan melalui reforma (perubahan mendasar) khususnya di ranah pendidikan dan literasi.

(3) kita memantapkan niat untuk menjadi bagian dari warga dunia dengan menjunjung tinggi pesan moral perdamaian dunia dan keadilan bagi semua dengan prinsip dasar meniadakan kemiskinan dalam segala rupa bentuknya di mana saja di dunia ini. (4) Kita harus bersama meniatkan diri untuk menjamin proses ekonomi rakyat, melindungi dari sistem kapitalisme global yang semata mengedepankan kompetisi tapi sekaligus mengabaikan prinsip keadilan.

Niatan nasional ini akan menolong bangsa ini dari potensi “geger” terutama akibat panggung politik yang akhir-akhir lebih tegak berdiri di atas kubangan kesadaran alienatif—yang ironisnya justeru kerap dijadikan bahan bakar utama sandiwara. (*)

*) Sabiq Carebesth, Penyair dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

**) Tulisan ini sebelumnya dimuat di kolom Geotimes (27/9)

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending