Connect with us

Inspirasi

Merenda Rendra

mm

Published

on

Yogyakarta tahun 1974, bocah lelaki yang tengah menginjak dewasa itu mendengar suara-suara seperti jeritan, dan ia menulis sajaknya: Aku mendengar suara/ jerit hewan yang terluka../Orang-orang harus dibangunkan./Kesaksian harus diberikan. /Agar kehidupan terus terjaga..

Apa arti Rendra untuk manusia zaman sekarang? Pasti akan dikatakan bahwa pemberontak yang menentang dewa-dewa kekuasaan ini adalah model bagi manusia kontemporer, bahwa suara protesnya yang bangkit puluhan tahun yang lalu di Halaman ITB (Institut Teknologi Bandung) 19 Agustus 1977 ketika membacakan puisinya “Sajak Sebatang Lisong”, memuncak hari ini dalam sebuah ledakan sejarah yang tidak pararel. Namun pada saat yang sama, sesuatu mengatakan kepada kita bahwa korban penganiyaan zaman ini—jerit hewan yang terluka– masih berada di antara kita, dan bahwa kita masih tuli terhadap jeritan keras pemberontakan manusia yang memberi tanda kesepian; seperti potret pembangunan dalam puisi (1993).

Rendra adalah realitas akbar yang mentransendensikan kemurnian masa kanak-kanak, intelektualitas dan pemberontakan kedalam entitas politis dan historis yang kita sebut bahasa; yang menjelma menjadi realiat dalam sajak, prosa dalam drama dan cerita pendek serta esainya dan terutama realitas dalam puisi Rendra. Membaca puisi Rendra adalah mendengar bunyi dari kalimat pemberontakan yang tak tersusun dengan bahasa; tetapi sebuah jeritan panjang ribuan hewan terluka dalam sukma kenangannya yang telah menjadi mistik bagi pemberontakan jiwanya; Aku mendengar jerit hewan yang terluka.

Sejak kumpulan sajaknya yang pertama “Ballada orang-orang Tercinta” pada 1957, nada dasar puisi Rendra sudah jelas: pemberontakan pada pengangkangan akal sehat dan kemanusiaan. Orang-orang tercinta itu adalah sosok-sosok wanita memelas menyedihkan, ditinggal, tak dimengerti, disakiti, difitnah; penderitaan yang dikenal penyair sebagai jerit hewan yang terluka; atau mereka yang berujud aktivis yang dihilangkan, perempuan Tionghoa yang diperkosa dalam tragedi, ataupun tawanan-tawanan dari musuh yang kejam, yang membutuhkan kesaksian penyair.

Sajak dan dramanya adalah kesaksian demi keselamatan kehidupan dan pemberontakan terhadap apa yang mengancam kepunahan kehidupan—itulah nada dasar dari sajak-sajak dan drama karya Rendra.

Maka sudah sejak semula ketika Rendra masih kanak-kanak di Solo, si bocah yang tengah menginjak dewasa ini lah yang bangkit, memberontak terhadap orang tuanya, melawan tekanan dari ayah, R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, juga dramawan tradisional; (namun senantiasa ada Ibu yang pengampun dan setia dibelakangnya, Raden Ayu Catharina Ismadillah perempuan penari serimpi di keraton majapahit, sebagaimana tampak dalam puisinya “Sajak Ibunda”); tetapi si anak lelaki yang lahir pada 7 November 1935, kelana pengembara, betapa pun meluap rindu hatinya, tak mungkin kembali karena harga diri mencegah dia pulang ke rumah orang tuanya. Sejak itu ia harus menggenggam nasib ditangan sendiri dan tetangganya tak akan mengerti kenapa anak lelaki yang begitu manis dan baik bernama panjang Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang kemudian lebih akrab oleh teman-teman dekatnya dengan panggilan “Mas Willy” ini, tak pernah pulang kembali.

Sebuah sajak berjudul “rendra diares: lubang bahasa” yang ditulis penyair Afrizal Malna untuk Rendra mewakilakan atmosfir cerita itu dengan baik.“…seoarang ayah, dengan mata cemasnya, melihat anaknya berjalan di atas panggung. Melihat anaknya berjalan sebagai seorang penyair. Ayahnya menahan tangisnya. Dia tahu, seorang penyair hanya lahir dari sebuah atap kalimat yang terbakar. Ketika jeritan bahasa membuat sepasang lubang di matanya.”

***

Pada tahun 50-an, Rendra kemudian sangat dikenal masyarakat Solo karena puisi-puisinya di majalah Kisah, dan beberapa majalah lain di kawasan Joglosemar (Yogyakartam Solo, dan Semarang). Puisi-puisi ini kemudian dibukukan dalam antologi puisi “Balada Orang-Orang Tercinta” (1957).  Namun ketika lakon naskah teaternya “Orang-Orang di Tikungan Jalan” meraih hadiah pertama dalam lomba yang digelar Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Yogyakarta, masyarakat beralih mengenalnya sebagai seorang pekerja seni teater. Jadi siapakah Rendra?

Teeuw, pengamat Sastra Indonesia dan sahabat karib Rendra, mengaku bertemu Rendra pertama kali di Yogyakarta pada usia Rendra yang ke 19, yaitu pada bulan November 1954. Saat itu Rendra adalah murid SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo, dan bagi A. Teeuw pertemuan kali itu dengan Rendra jauh dari mengesankan. Berbeda setahun kemudian ketika saya terkejut membaca sajak-sajak permulaannya yang dimuat dalam majalah sastra yang terpenting ketika itu di Ibukota Jakarta “Gelanggang”, lampiran Kebudayaan Mingguan Siasat—terutama sajak berjudul ’Tahanan’, yang mengisahkan hukuman mati bagi pejuang kemerdekaan.”Puisi itu benar-benar membukakan mata saya lebar-lebar.”

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. “Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.”

Alur cerita dari Rendra yang bebas dan pemberontak muncul lebih kuat ketika ia pada masa-masa awalnya di panggung teater bersama Umar Kayam, mementaskan repertoar “Hanya Satu Kali” karya Jhon Galsworthy, Rendra mengatakan, “Wah saya malu. Ada hal-hal yang tidak mengenakkan saya, pertama, make-up itu dan menjadi orang lain itu. Kedua, layar yang harus dibuka dan ditutup itu.” (Rendra Berkisah Tentang Teaternya, 1983).

Semenjak itu Rendra menggagas kebaruan, menjauhi tradisi make-up, menjadi orang lain, maupun naik-turunnya layar. Lahirlah apa yang kemduian dikenal sebagai drama “mini kata” yang miskin dialog, menonjolkan aspek gerak, dan cenderung memberi ruang bagi beragam intrepretasi penontonnya.

Namun, sebagaimana lazimnya kebaruan gagasan, tak sama dengan kelahiran jabang bayi yang disambut dengan suka cita; kelahiran drama ala Rendra ditanggapi secara negatif. Almarhum Trisno Sumardjo pun meragukannya sebagai sebuah teater. Repertoar “Bip-Bop” oleh beberapa mahasiswa psikologi UI dianggap sebagai permainan orang gendheng, bahkan di Yogyakarta disambut dengan lemparan-lemparan batu.

Tahun-tahun kemudian lahirlah dari tangan Rendra muda “Sajak Malam Stanza”, juga sajak tentang perkawinan: ”Kakawin Kawin” yang menandai babak sajak Rendra yang lebih langsung kepada diri sendiri. Penemuan dirinya berkembang melalui bentuk lyris, dengan segala gapaian gelap dari bawah sadar, kecemasan pada maut, keterpencilan dan kesepian; juga penghayatannya yang ekstatis dari puncak-puncak eksistensi manusiawi tentang kebebasan. Tetapi mawas diri dan penemuan diri Rendra tidak pernah lepas dari kaitan dengan masyarakatnya, kaitan dunia dan kosmos, yang senantiasa menjiwai sajak-sajak Rendra sejak mulanya.

“Apalah artinya renda-renda kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. Kepadamu aku bertanya..?” (Sajak Sebatang Lisong)

Pemberontakan Rendra

Apa yang mengesakan dari Rendra adalah ia bersetia kepada dirinya sendiri. Ia tumbuh dan mengecap pengaruh dari sana-sini, ia mempunyai segi-segi dan saat-saat kelemahannya. Namun hampir setengah abad ini Rendra menjadi “ikon” utama perikemanusiaan di Indonesia. Dan “pemberontakan” bisa dikatakan sebagai tema dominan karyanya.

“Yang saya maksud dengan pemberontakan bukanlah pemberontak yang memperjuangkan kekuasaan pemerintahan atau lembaga lainnya. Pendeknya bukan mereka yang memberontak dengan orientasi politik atau kekuasaan. Melainkan mereka yang selalu memberontak terhadap keterbatasan keadaan dirinya. Jadi kaum pemberontak yang sejati akan mempunyai orientasi: mengulur batas-batas situasi manusia.” Demikian Rendra pernah menulis semasa hidupnya.

Dalam pengertian itu, Rendra sang penyair dan sang manusia adalah memang pemberontak; seorang yang selalu sibuk dengan melonggarkan kungkungan dan pembatasan-pembatasan keaadaan manusia, “dia ingin mengulurnya.”

Pemberontakan Rendra terus merangkak dari yang kedirian sampai kepada yang kemasyrakatan. Melibatkan kebebasan diri dalam solidaritas dengan sesama adalah politik kepenyairan Rendra.

Bagi Rendra, penghayatan eksistensi diri, kehidupan, masyarakat dan alam, kosmos dan Tuhan senantiasa merupakan suatu kesatuan. Tekanannya berbeda-beda dalam berbagai periode kehidupan Rendra, yang pasti pemutlakan dan pengisolasian aspek-aspek tersebut secara terpisah dalam kepenyairan Rendra adalah mustahil.

Sajak yang ditulisnya terutama sajak-sajak yang dibuat di Amerika dalam kumpulan “Blues untuk Bonnie” pada 1971 menkonfirmasi kemesraan yang kian mendalam dan menjadi satu dalam penghayatan lyris eksistensi Rendra  terutama lewat erotika, keterlibatan sosial serta kaitan kosmis. Inilah tahun-tahun yang menandai makin menguatnya pemberontakan Rendra, ia terus menggugat dan menyuarakan kesaksiannya.

Sajak berjudul Blues Untuk Bonnie sangat mengharukan, mengisahkan seorang negro tua dari Georgia yang menghabiskan sisa usinya dalam keadaan terasing dan terpencil dalam kesepian menyanyikan lagu-lagu di sebuh cafe di Boston: Sambil jari-jari galak gitarnya/ mencakar dan mencakar/menggaruki rasa gatal di sukmanya.

Namun dalam kurun yang sama tidak absen pula sajak-sajak cinta yang ekstatis, dimana keterhanyutan menemukan ekspresinya dalam simbol-simbol kosmis: “Kupanggili Namamu”: Sambil terus memanggili namamu/amarah pemberontakanku yang suci/bangkit dengan perkasa malam ini. Juga dalam sajak “Suto untuk fatimah”: duapuluh tiga matahari/bangkit dari pundakmu/tubuhmu menguapkan bau tanah/dan menyalalah sukmaku.

Dari Yogyakarta ke Amerika

Rendra yang gemar mendetakkan jantung moral generasinya, juga pernah berada pada fase saat jiwanya yang tadinya luhur jadi lunglai, bermuram durja dan terasing.

Perjalanannya ke beberapa negara di komunis (USSR, Cina dan Korea Utara) dalam tahun 1957, ternyata tidak meninggalkan bekas-bekas positif, baik pada puisi mau pun kegiatan kemasyarakatannya. Hal yang sama sekali berbeda dengan milsanya Sitor Sitomorang, yang sesudah suatu perjalanan ke Peking di tahun 1961, telah menungakan kesan-kesan dan emosi yang didapatnya di sana ke dalam sajak-sajak. Pada Rendra, dalam kumpulannya ”sajak-sajak sepatu tua”, 1972, kita tak menemukan gambaran dunia tersebut, melainkan dunia penyairnya sendiri yang terasing dalam suasana itu.

Pukulan batin yang pertama melandanya terjadi tahun 60-an awal. Saat itu, Lekra yang tengah menguasai ruang kebudayaan Indonesia kurang simpatik kepada gaya soliter Rendra, tak pelak serangan dan kritik tajam kepada Rendra sampai membuatnya tak bisa menulis dan tentu saja tidak punya uang. Padahal, saat itu, ia sudah memiliki tiga orang anak.

Untung, waktu itu juga, antara lain berkat bantuan Ipe Ma’ruf, Rendra yang rupanya lulusan Jurusan Sastra Inggris bisa mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 – 1967) ke Amerika dan dibolehkan membawa keluarga ke negeri Paman Sam ini. “Wah uang saya banyak, sebab saya bukan dihitung sebagai mahasiswa, tetapi sebagai penyair” ujarnya girang.

Di Amerika Rendra bertahan sampai tiga tahun, tetapi juga di sana ia merasa seperti seorang yang terpencil, berdiri dipinggiran kebudayaan resmi, ikut terlibat dalam subkultur artistik Greenwich Village. Potret dirinya yang dia kirimkan kepada sahabat karibnya AA. Teuw, menunjukan ia seorang diri di pojok bus Greyhound yang besar, laksana burung kecil yang sedang sakit dalam kurungan besar mengandung cerita berjilid-jilid. Dan ketika ia kembali ke Yogyakarta, Rendra yakin sekali apa yang dia inginkan dan apa yang harus dilakukan “kesaksian yang harus diberikan.” Demikian kata Rendra, “Indonesia harus kembali pada dirinya sendiri”.

Tahun sekitar 1968 itu Rendra tercatat menulis pula sajak-sajak yang berlatar Indonesia dan telah mengejutkan publik Indonesia lewat publikasi pertamanya sepulang dari Amerika. “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta”, “Pesan Pencopet pada Pacarnya, dan yang terutama “Nyanyian Angsa.”

Maka kendati terombang-ambing oleh suatu kurun yang tak menentu dari Surakarta, Yogyakarta sampai Amerika, benang merah kesenian Rendra tak pernah putus, kesaksian; dengan memperdengarkan pertanda-pertanda; tidak untuk membawakan pemecahan politik, namun untuk menunjukan jalan kearah pengertian dan harmoni. Hal yang tampak nyata dalam tokoh Jose Karosta, sang penyair dalam drama “Mastadon dan Burung Kondor” 1973. Dari drama inilah asal nyanyian “Sajak Burung-Burung Kondor” yang terkenal itu lahir; Burung-Burung Kondor itu sebagai roh-roh bangsa yang menderita, yang di malam hari menjauhkan diri ke atas gunung, mencari sepi dan mendapat hiburan darinya—“Karena hanya sepi mampu menghisap dendam dan sakit hati.”

Maka bagi Rendra, penemuan diri sendiri, pengenalan kembali diri, penghayatan dan ekspresi diri sebagai manusia-manusia pribadi, dengan kebebasannya masing-masing, namun senantiasa dalam solidaritas sosial dan kosmis yang besar dengan seluruh ciptaan adalah mimpi besar kesenian Rendra.

Dan bengkel teater di Yogyakarta yang ia dirikan sepulang dari Amerika, ia tujukan tidak lain untuk membantu bangsa Indonesia sampai kepada kesadaran diri seperti dikatakannya. Pementasan drama “Kisah Perjuangan Suku Naga” (1975) yang begitu pedas menkritik penguasa saat itu oleh korupsi dan dana pembangunan yang justeru menyengsarakan adalah salah satu puncak ekspresi kesaksian Rendra. Tak pelak radar “pembredelan” Orde Baru melanda sampai ke Citayem, markas Bengkel Teater Rendra. Maka Sejak tahun 1977 ketika ia sedang menyelesaikan film garapan Sjumanjaya, “Yang Muda Yang Bercinta” ia dicekal pemerintah Orde Baru. Semua penampilan di muka publik dilarang. Tapi Rendra tetaplah Rendra sang seniman dan sang pemberontak; menutup malam pidato penerimaan penghargaan dari Akademi Jakarta dengan keyakinan yang disuarakanya: Kemarin dan esok/adalah hari ini/Bencana dan keberuntungan/sama saja..

Narti dan “Tuhan Aku Cinta Padamu”

Badai kekuasaan kian keras menghantam karang jiwa Rendra yang telah memliki nama baru setelah ia menjadi seorang muslim; Wahyu Sulaiman Rendra, nama yang sempat dipakainya untuk sebuah karangan buku drama untuk remaja berjudul “Seni Drama Untuk Remaja”. Semenjak itu ia lebih sering menyederhanakan namanya menjadi Rendra saja terutama sejak 1975.

Tahun 1981 adalah tahun yang tak kalah berat bagi kehidupan Rendra, saat itu ia tidak dibenarkan mementaskan Lysistrata, padahal persiapannya sudah final. Peristiwa tahun 1981 itu sempat membuat dia frustrasi berat selama enam bulan. Ia nyaris lumpuh, kakinya kejang, tak bisa tidur, dan kulitnya mengelupas halus. “Menyebut Allah saja, mulut saya mengelurkan darah. Begitu juga menulis bismillah, dan apa saja, mulut saya mengeluarkan darah,” cerita Rendra.

Berbagai upaya pengobatan tak menyembuhkan sakitnya. Selama sakit itulah, dia dijaga siang malam oleh anggota Bengkel Teater dan sejumlah kerabat. Berkat bantuan seorang kenalan lama, dia kembali teringat meditasi. Tanpa buang waktu lagi, dia melakukan meditasi dan berhasil menghilangkan frustrasinya. “Masa saya begini hancur. Lalu saya coba menulis Allah, bismilah. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar kembali”.

Kupanggil kamu, kekasihku/ kubutuhkan kamu di meja makanku/ duduk di sisi dukaku/
membelai luka-luka dalam jiwa, Rendra, tentu saja tidak akan pernah bisa dilepaskan dari kehidupan istri tercintanya, Sunarti.

Sunarti, perempuan yang dinikahi Rendra pada 31 Maret 1959 di Gereja Bintaran Yogyakarta ketika Rendra berumur 24 tahun. Sayang sekali, hidup perkawinan mereka kemudian berantakan sesudah sempat membuahkan lima anak; Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta. Kemelut belum muncul sewaktu Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat hadir di tengah kehidupan mereka, bahkan Sunarti Suwandi dengan kebesaran jiwanya menemani Rendra melamar Raden Ayu Sitoresmi. Pada 12 Agustus 1970 Perkawinan keduanya dengan putri darah biru Keraton Yogyakarta itu pun berlangsung. Sastrawan senior Indonesia Taufik Ismail dan Ajip Rosidi hadir menjadi saksi perkawainan Rendra dengan Sito dan dengan keyakinan spritual baru Rendra sebagai seorang muslim.

Banyak yang mencibir hanya karena Sito Rendra menjadi muslim, tapi Rendra mencari Tuhan sepanjang hidupnya, mulai dari tiduran sampai berjongkok, mulai menggumam sampai berkumur akhirnya bersandar pada takbir. “Aku telah berhaji, aku menemukan Tuhan!” kata Rendra sepulang dari naik Haji. Tapi sepulangnya berhaji sebenarnaya tidak banyak yang berubah, Rendra tetap muslim abangan pada umumnya, tapi semenjak itu di padepokan Bengkel Teater tak lagi boleh “nyimeng”, dan tentunya tidak boleh “ngebir”.

Tapi Rendra adalah Rendra, bagi sahabat dekatnya, Rendra sungguh bertemu Tuhannya, teman-teman dekatnya seperti Emha Ainun Nadjib melihat itu dengan jelas. Rendra bahagia menjadi seorang muslim, dan kemudian sedikit tumpul sebagai penyair, bukan Islam yang membuatnya lembut tapi kebijaksanaan telah menghampirinya. Karyanya tidak lagi meradang dan penuh amarah, karyanya berisi ilmu yang menyejukkan. Kontemplasinya berbuah kata mutiara, mata pisaunya berkilat dalam suci, dalam nafas Illahi dan dalam kesendirian dunia.

Pergolakan batin dalam ekstase kehidupan Rendra menemu juga ujinya, bahtera perkawinan Sunarti dengan Rendra ternyata tak bisa lagi  dipertahankan ketika si burung merak (juga) menikahi Ken Zuraida; istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Mikriam Supraba.

Pernikahan dengan Ken Zuraida harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981. Kurun waktu yang jelas tak mudah bagi burung merak, pada saat itu hanya Tuhan yang bisa menenangkan sukmanya. Rendra mengaku saat bersama Ken Zuraida membawa pula ia lebih dekat pada jalan ketakwaan kepada Allah. Saat yang sejurus kemudian ia bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa. Kalimat dari sajaknya yang kini seperti menjadi idiom wajib bagi jiwa muda gelisah nan pemberontak; Kesadaran adalah matahari/Kesabaran adalah bumi/Keberanian menjadi cakrawala/Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata./ lahir pada kurun tersebut, 1984.

Burung Merak Yang Sederhana

Gelar Burung Merak yang sohor atasnya diberikan kepada Rendra tak lama setelah ia menikah dengan Ken Zuraida. Saat itu ia sedang mengajak berlibur sahabatnya dari Australia di kebun binatang Gembira Loka Yogyakarta, ia melihat seekor burung Merak jantan diikuti oleh dua betina. Ia ngakak sambil berkata “itu Rendra..” – dan sejak itu ia sohor dengan nama “Burung Merak”.

Burung Merak yang tak mewah, bahkan sangat sederhana dan kerap juga menderita. “Saya dididik keras untuk hidup sederhana. Selain itu, ibu saya senantiasa mengajarkan saya agar tahan menderita,” tutur Rendra semasa hidupnya.

Demikian lah Rendra, sejak menginjak dewasa sampai tua, tidak pernah punya tempat tidur. Dia hanya tidur beralaskan tikar. Meja tulis saja, baru dimilikinya setelah diberi oleh Hariman Siregar. Bahkan menjelang wafatnya, penyair sebesar Rendra kepada karibnya Emha Ainun Najib curhat ingin punya mobil Innova, hal yang tak pernah kesampaian sampai baris puisi terakhir yang ditulisanya pada 31 July 2009 di Rumah sakit Mitra Keluarga, “Tuhan aku cinta padamu.”  Puisi untuk terakhir kalinya itu tak sempat lagi terdengar seperti gelegar suara Rendra yang biasanya, sebab hari itu 6 Agustus 2009 Rendra meninggalkan Indonesia Raya menuju Tuhannya diusia ke 73 tahun.

Sepotong sajak Rendra tentang Ronin (samurai yang menganggur): “Akulah ronin yang mengembara/Air sawah minumanku/Dingin malam selimutku/Aku setia mengunjungimu” –sajak yang tidak pernah didokumentasikan, kecuali oleh Danarto, telah secara gamblang menampilkan sosok Si Burung Merak, seniman besar Indonesia yang merdeka yang tetap setia mengunjungi masyarakat Indonesia, mengabarkan kemerdekaan berpikir, berkehendak, dan melakukan segala sesuatu.

Rendra, aku menunggumu, di awal musim dingin, yang membuat November berwarna putih. Kita berjanji, tidak membawa Hamlet dan Amangkurat ke pesta itu. Pesta yang penuh dengan bau tangan ibumu. (*)

__________________________________________________________________________________________________________________

*Artikel ini pernah dimuat di majalah VOICE+ Jakarta (2014)

**Sabiq Carebesth, Pecinta Puisi, Penulis Buku “Memoar Kehilangan” (2012). “Seperti Para Penyair” (2017). Editor in Chief Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog Pembaca

Icha Planifolia: Buku Memberi Saya Banyak Perjalanan Tanpa Batas

mm

Published

on

“Rumah saya berjarak sekitar 38 KM dari pusat kota. Dan orang tua saya tidak bisa mengajak saya terlalu sering berjalan-jalan ke pusat kota karena keterbatasan biaya. Itulah kali pertama saya memiliki buku  selain buku pelajaran sekolah. Kumpulan puisi “Aku” karya Chairil Anwar”. Cerita Icha Planifolia yang kini bekerja sebagai Biomarker Science Liaison.

Perempuan penggerak “Malam Puisi Bandung” yang kini tinggal di Yogya ini, memiliki banyak cerita lain dengan buku-buku dan dunia membaca. Buku baginya seperti anugerah perjalanan tanpa batas. Dengan buku-buku ia menjelajah perjalanan, dunia, tempat-tempat yang tak bisa ia jajaki sebelumnya.

Kini ia ingin menulis buku dan anda tahu buku apa yang ingin ditulis dan dikerjakannya dengan sangat keras? Simak sendiri jawabannya berikut: “Saya ingin menulis sebuah kumpulan cerpen, merangkum banyak peristiwa tentu saja. Tema besarnya adalah bagaimana jika Tuhan menghapus konsep evil dalam kehidupan? Kisah-kisah di dalam buku itu akan menggambarkan kemungkinan dan waktu berjalan paralel. Intinya sebetulnya tentang efek domino. ‘Jika A maka B’ dan di saat yang sama terjadi ‘jika C maka D’. Isu yang dibawa sendiri yang terpikirkan dibenak saya sekarang adalah kemanusiaan, kesetaraan gender, dan fanatisme beragama”.

Kami menayankan beberapa pertanyaan lain pada Icha. Dan setiap jawaban sungguh layak kita simak. Begitu kaya inspirasi dan kisah. Selengkapnya:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

ICHA PLANIFOLIA

Bagi saya yang berasal dari dusun dan keluarga yang biasa saja, pada mulanya buku adalah pengantar untuk mengenal apa pun yang tidak pernah saya bayangkan dalam kehidupan saya. Kejadian-kejadian yang tidak ada di sekitar saya.

Buku mengantar saya merasakan perjalanan-perjalanan yang tidak pernah saya tempuh. Mengunjungi tempat-tempat yang sejatinya belum pernah saya kunjungi. Memahami persoalan-persoalan yang mulanya bahkan tidak pernah melintas di kepala saya.

Karena itulah saya terus membaca. “Keep reading. It’s one of the most marvelous adventures that anyone can have.” (Lloyd Alexander)

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment berkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

ICHA PLANIFOLIA

Moment yang menjadi titik tolak saya berkenalan dengan buku adalah ketika usia 12 tahun, saya masuk sekolah menengah pertama. Pada masa orientasi siswa saya ditunjuk kakak kelas untuk maju menampilkan apa pun yang bisa saya tampilkan di hadapan seluruh siswa baru. Teman-teman lain ada yang bernyanyi, menari, bahkan pencak silat. Rasanya saya tidak punya keterampilan khusus semacam itu. Kakak pendamping saya mengusulkan pembacaan puisi. Ia bahkan berbaik hati meminjamkan puisi karyanya untuk saya bacakan, karena tentu saja saya tidak punya puisi karya saya sendiri sekaligus tidak hapal puisi karya penyair-penyair besar. Saya bahkan belum mengenal penyair kala itu.

Saya masih ingat puisi yang saya bacakan untuk pertama kalinya itu berjudul “Ziarah”, karya kakak kelas saya: Vincen Genera. Sejak hari itu, ada perasaan yang unik terhadap puisi. Semacam sebuah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Saya mulai mencari pinjaman bacaan yang berisi puisi. Majalah, buku, apa saja. Pelan-pelan saya menabung uang jajan saya. Waktu kenaikan kelas saya meminta Mama mengantar saya ke Gramedia. Betapa takjub saya, Gramedia itu besar sekali! Maklum rumah saya berjarak sekitar 38KM dari pusat kota. Dan orang tua saya tidak bisa mengajak saya terlalu sering berjalan-jalan ke pusat kota karena keterbatasan biaya. Itulah kali pertama saya memiliki buku  selain buku pelajaran sekolah. Kumpulan puisi “Aku” karya Chairil Anwar.

INTERVIEWER

Beri tahu kami dimana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit –yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari, atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

ICHA PLANIFOLIA

Dulu, saya selalu suka menghabiskan waktu membaca buku di kamar tidur. Di atas ranjang saya, sembari berbaring. Kini, saya sudah memiliki ruang baca khusus.

Di ruangan itu, sebuah karpet merah saya gelar, bantal-bantal berbagai ukuran saya letakan di sana, lengkap dengan lampu baca kekuningan. Dengan rak buku dari kayu yang dibuat kekasih saya membatasi sisi utara karpet itu. Beberapa rak buku lain dipasang menggantung di dinding. Jadi saya membaca dinaungi buku-buku dan cahaya kekuningan. Sebelum mulai membaca, saya akan menyalakan dupa. Perjalanan pun dimulai…

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

ICHA PLANIFOLIA

Jika pertanyaan ini tidak dibatasi jumlah: satu, saya akan menjawab semua buku yang saya baca memengaruhi saya. Namun jika harus memutuskan satu buku, saya kira jawabannya adalah Bumi Manusia. Saya menjadi begitu gelisah usai membaca buku itu. Bukan saja mengenal sejarah, saya menyelami kemanusiaan, harga diri, perjuangan, dan kesetaraan dengan pemaknaan yang berbeda.

INTERVIEWER

Menurut anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang Indonesia? Kenapa?

ICHA PLANIFOLIA

Sayang sekali saya tidak bisa memikirkan lima buku. Yang terlintas di benak saya hanya empat buku: Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Bagi saya, membaca buku-buku itu adalah mempelajari sejarah dengan cara yang sangat menyenangkan. Sebab gaya bertutur Pram yang ‘showing’ bukan ‘telling’ membuat saya membayangkan setiap detil peristiwa dan pergolakan di masa kolonial. Tetralogi Buru bisa menjadi pemantik untuk mencari kebenaran peristiwa sejarah. Bagaimanapun, karya tersebut merupakan fiksi. Untuk mencari kebenaran sejarah buku fiksi tidak dapat menjadi landasan, sehingga kita perlu membaca lebih banyak buku lain untuk mengetahui mana peristiwa yang benar-benar terjadi, mana yang merupakan imajinasi penulis.

Selain itu, kita memang memiliki sejarah kelam dalam hal intoleransi. Buku-buku ini –bagi saya- sungguh-sungguh menyadarkan saya bahwa pada dasarnya setiap manusia tidak layak disakiti atau direndahkan. Bahwa tidak ada pilihan lain dalam memperlakukan manusia kecuali memanusiakannya.

Berbicara peranan literasi, dalam buku itu kita dapat melihat bagaimana pergerakan perlawanan dapat dilakukan dengan menulis. Maka, membacanya menjadi sangat layak!

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

ICHA PLANIFOLIA

Saya coba jabarkan dalam kategori perubahan yang terjadi terhadap diri saya.

Pertama, yang begitu berpengaruh terhadap sisi kemanusiaan saya. Bumi Manusia. Selengkapnya sudah saya sampaikan pada jawaban nomor 4 dan 5.

Kedua, yang merangsang saya untuk berpetualang. Melihat Indonesia dan semua tempat lain lebih dekat. Berkenalan dengan masyarakat lokal. Belajar dari mereka. Belajar dari perjalanan. Belajar menjadi pemberani. Balada Si Roy karya Gol A Gong. Di kemudian hari, buku ini sungguh banyak mengubah saya. Mengantar saya menyambangi banyak tempat asing, mempelajari hidup di tempat-tempat yang jauh dari rumah.

Ketiga, yang mengubah persepsi saya tentang hal-hal yang demikian personal dan intim di hidup saya seperti ketuhanan, pernikahan, dan kesetaraan gender. Pengakuan Eks Parasit Lajang karya Ayu Utami. Banyak dialog muncul di kepala saya, antara saya dan diri saya sendiri. Saya lebih banyak mengajak diri saya berbicara usai membaca buku ini.

Sebenarnya perubahan dalam sisi ini juga sangat dipengaruhi oleh buku Tuhan Izinkan Aku menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan. Namun, saya membacanya ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, saya masih belum siap dengan keliaran isi kepala saya ketika itu. Sehingga banyak pemikiran yang saya tepis. Banyak kegelisahan saya abaikan ketika itu.

INTERVIEWER

Misalnya anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beritahu kami apa judul yang akan anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali anda memang akan memulai menulisnya!

ICHA PLANIFOLIA

Hahaha…pertanyaannya provokatif sekali! Pertanyaan cerdas! Barangkali setelah ini banyak dari orang yang telah berpartisipasi dalam interview ini sungguh-sungguh mulai menulis. Memberikan kontribusi untuk dunia literasi. Sungguh jeli!

Saya ingin menulis sebuah kumpulan cerpen, merangkum banyak peristiwa tentu saja. Tema besarnya adalah bagaimana jika Tuhan menghapus konsep evil dalam kehidupan? Kisah-kisah di dalam buku itu akan menggambarkan kemungkinan dan waktu berjalan paralel. Intinya sebetulnya tentang efek domino. ‘Jika A maka B’ dan di saat yang sama terjadi ‘jika C maka D’. Isu yang dibawa sendiri yang terpikirkan dibenak saya sekarang adalah kemanusiaan, kesetaraan gender, dan fanatisme beragama.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya Indonesia, dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir mengatasi ‘krisis’ literasi di Indonesia?

ICHA PLANIFOLIA

Saya begitu percaya bahwa semua berawal dari rumah. Kita bisa saja berkata apa pun tentang ‘kesalahan’ pemerintah atau siapa pun sehingga kita mengalami ‘krisis’ literasi. Tetapi saya selalu lebih suka membangun sesuatu daripada mengeluhkan apa yang ada. Maka, dimulai dari diri kita, rumah kita.

Menyuguhkan anak-anak dengan bacaan, mendampingi mereka membaca, mengajak mereka menulis buku harian sejak dini adalah hal-hal yang tampak sederhana namun saya yakin akan berdampak besar bagi diri anak yang suatu hari tumbuh menjadi manusia dewasa dan generasi penerus.

Sebab membaca dan menulis akan membuat setiap kita banyak berpikir, menganalisis, memahami setiap peristiwa tidak terbatas dari satu sudut pandang, dan paling penting tergerak membuat solusi untuk sesuatu hal yang dirasa sebagai sebuah persoalan. (*)

__________________________________________________________________________________________________________________

ICHA PLANIFOLIA: Karyawan swasta/ Biomarker Science Liaison. Menghabiskan masa kecil hingga meraih gelar apoteker di Bandung. Sempat tergabung dengan beberapa komunitas menulis, juga sempat menjadi penggerak Malam Puisi Bandung. Kini tinggal di Yogyakarta.

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Buku

Dari Achebe hingga Adichie: Sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria

mm

Published

on

Sastra juga milik mereka yang dari negeri jauh dan kerap dicap terbelakang untuk waktu yang bahkan tidak sebentar, tapi sastrawan mereka, karya sastra terbaik yang bisa mereka hasilkan memberi kita penadangan lain; rasa hormat dan empati yang lain, inilah mereka; sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria.

Chinua Achebe dan Wole Soyinka merupakan dua nama paling mewakilkan karya-karya fiksi Nigeria. Namun, karya-karya literatur dari negeri itu terus ditopang generasi baru sastra mereka, jauh lebih banyak dari dua nama besar tersebut. Disinilah kita melihat sepuluh pengarang yang kesuksesan internasionalnya menegaskan kemampuan mereka dan kedalaman literatur kontemporer Nigeria.

Chinua Achebe (1920-2013)

Chinua Achebe

Chinua Achebe merupakan salah satu penulis Afrika yang paling diakui secara international, dan kematiannya pada tahun 2013 mengundang banyak sekali penghormatan dari seluruh dunia. Meskipun dia seringkali disebut sebagai ‘Bapak literatur Afrika’, dia telah dua kali menolak pemerintah Nigeria yang ingin menjadikannya sebagai Komandan Republik Federal-pertama pada tahun 2004, dan kemudian lagi pada tahun 2011-dalam rangka protes melawan rezim politik di negerinya. Novel pertamanya Things Fall Apart (1958) adalah sebuah penggambaran yang intim atas pertikaian antara orang asli Afrika dari suku Igbo di bagian tenggara Nigeria dan pemerintah kolonial Eropa. Menenun bersama tradisi turun-temurun dengan kisah-kisah rakyat suku Igbo. Achebe menghamparkan permadani norma-norma budaya, perubahan nilai-nilai sosial, dan perjuangan individu untuk mendapatkan tempat dalam lingkungan ini.

Wole Soyinka (lahir tahun 1934)

Wole Soyinka

Ketika Wole Soyinka, seorang penulis sandiwara, penyair, dan penulis memenangkan hadiah nobel dalam bidang literatur pada tahun 1986, Achebe bergabung dengan seluruh rakyat Afrika untuk merayakan orang Afrika pertama yang menerima perhargaan tersebut. Tulisan-tulisan Soyinka sering berfokus pada opresi dan eksploitasi atas yang lemah oleh orang-orang kuat. Tak ada yang luput dari kritiknya, tidak para spekulan berkulit putih tidak pula eksploitor berkulit hitam, Wole Soyinka juga memainkan peranan penting dalam politik Nigeria, yang pada waktu itu menempatkannya pada bahaya besar sebagai pribadi. Pemerintahan Jenderal Sani Abacha (1993-1998) misalnya, menjatuhkan hukuman mati ‘in absentia’ kepada dirinya. Karya-karyanya termasuk novel seperti Ake: The Year of Childhood and Death and The King’s Horseman, You Must Set Forth at Dawn: A Memoir berisi pandangan-pandangan Soyinka sendiri atas hidupnya, pengalaman-pengalaman, dan pemikiran-pemikiran tentang Afrika dan Nigeria.

Femi Osofisan (lahir tahun 1946)

Seperti kebanyakan penulis-penulis Nigeria, seluruh bangunan karya milik Femi Osofisan-mencakup sandiwara, sajak-sajak dan novel-yang diisi oleh kenyataan kolonialisme dan warisan-warisannya, dan merupakan sebuah protes yang nyata melawan korupsi dan ketidakadilan. Meskipun demikian, eksplorasinya atas tema-tema yang melingkupi sejarah kompleks negaranya jarang sekali dituliskan secara harifiah. Sebaliknya, Osofisan menggunakan alegori dan metafora, dan tulisannnya seringkali mempunyai kecenderungan surealis. Novel pertamanya, Kolera Kolej (1975) menceritakan sebuah kampus Universitas Nigeria yang diberikan kemerdekaan dari dunia diluarnya untuk menghindari penyebaran wabah kolera. Drama pertunjukkannya yang paling terkenal, Women of Owu (2004) adalah penceritaan ulang dari The Trojan Woman milik Euripides. Osofisan menerjemahkan drama itu ke dalam perang Ijebe dan Ife yang menghancurkan kerajaan Owu dari tahun 1821-26.

Ben Okri (lahir tahun 1959)

Ben Okri

Ben Okri merupakan novelis yang termahsyur dan penyair yang karya-karya tulisannya menentang definisi. Dia seringkali dilabeli post-modern, namun jalinan terbukanya atas dunia arwah dalam cerita-cerita miliknya mengingkari genre ini. Pengarang ini juga menolak klaim bahwa karyanya jatuh ke dalam kategori ‘realisme magis’, memandang tulisannya bukan sebagai pengelanaan ke dalam dunia fantasi tetapi sebaliknya sebuah latar belakang kehidupan dimana di dalamnya mitos-mitos, para leluhur dan arwah-arwah merupakan komponen yang intrinsik. “Realitas setiap orang berbeda-beda,” dia suatu kali mengatakan. Karyanya yang paling terkenal The Famished Road (1991), membentuk sebuah trilogi dengan Songs of Enchantment dan Infinite Riches. Karya-karya itu mencatatankan perjalanan-perjalanan Azaro, narator yang merupakan arwah seorang anak.

Buchi Emecheta (lahir tahun 1944)

Buchi Emecheta

Lahir di Lagos dengan orangtua bersuku Igbo, Emecheta pindah ke London pada tahun 1960 untuk tinggal berama suaminya Sylvester Onwordi, yang pindah kesana untuk belajar. Pasangan itu telah bertunangan sejak berumur 11 tahun, dan meski pernikahannya menghasilkan lima orang anak, Onwordi merupakan pasangan yang suka melakukan kekerasan. Dia bahkan membakar naskah pertama istrinya, hal itu mendesak Emecheta untuk meninggalkannya dan menetapkan dirinya sebagai orangtua tunggal. Novel-novelnya mengambil contoh secara tajam dari kehidupannya sendiri dan memberi perhatian pada persoalan ketidakseimbangan gender dan perbudakan, dan bagaimana perempuan seringkali didefinisikan melalui kacamata yang sangat sempit tentang seksualitas dan kemampuan melahirkan anak. Karyanya yang paling diakui, The Joy of Motherhood (1979), memiliki protagonis seorang perempuan yang mendefinisikan dirinya sendiri melalui kehidupan seorang ibu dan memvalidasi hidupnya semata-mata melalui kesuksesan anak-anaknya. Emecheta dihadiahi sebuah OBE pada tahun 2005.

Sefi Atta (lahir tahun 1964)

Sefi Atta

Sefi Atta merupakan seorang penulis yang peka, yang memulai pembicaraan tema-tema polemik dengan sikap yang lembut dan penuh nuansa. Everything Good Will Come (2005), novel pertamanya, adalah kisah tentang Enitan, seorang gadis berusia 11 tahun yang sedang menunggu sekolah dimulai, dan persahabatannya dengan gadis tetangga, yang menerima sedikit bantuan dari ibu Enitan yang sangat religius. Disituasikan berhadapan dengan latarbelakang kekuasaan militer di Nigeria pada tahun 1970an, novel ini langsung menjadi buah bibir dan kampanye sunyi melawan korupsi politis dan represi atas perempuan. Atta dikenal secara luas untuk sandiwara-sandiwara radionya yang telah disiarkan di BBC, dan cerita-cerita pendeknya yang telah muncul di sejumlah jurnal termasuk Los Angeles Review of Books.

Helon Habila (lahir tahun 1967)

Setelah lulus dari University of Jos pada tahun 1995, Helon Habila bekerja sebagai seorang dosen muda di Bauchi, kemudian sebagai editor cerita untuk majalah Hints, sebelum pindah ke Inggris pada tahun 2002 untuk menjadi African Fellow di University of East Anglia. Pada tahun yang sama, novel pertamanya diterbitkan: Waiting for an Angel merupakan sebuah buku kompleks yang menjalin tujuh narasi, secara bersamaan berbicara tentang kehidupan dibawah kekuasaan pemerintahan diktator di Nigeria. Buku itu memenangkan Commonwealth Writer’s Prize di wilayah Afrika, membawa pengarangnya pada kesuksekan yang lebih besar. Dua novel berikutnya, Measuring Time (2007) dan yang terakhir, Oil on Water (2011) sama-sama mendapatkan sambutan yang baik, dan daftar hadiah dan penghargaan yang Habila telah dapatkan membuktikan ekspresi literaturnya yang canggih dan puitis.

Teju Cole (lahir tahun 1975)

Teju Cole

Lahir di Amerika Serikat dari orangtua berkebangsaan Nigeria, dibesarkan di Nigeria dan sekarang tinggal di Brooklyn, latar belakang kehidupan Cole begitu beragam begitu pula karirnya. Fotografer, sejarawan seni, dan penulis novel, dia juga merupakan penulis unggulan yang tinggal sementara di Bart College, New York. Open City (2011), novel pertamanya, dikisahkan di New York lima tahun setelah peristiwa 9/11, dan menelusuri kehidupan Julius, seorang lulusan psikiatri, saat dia berkeliling tanpa tujuan dipenjuru kota itu, kemudian ke Brussels, hidup tak menentu dan masih dalam masa pemulihan dari hubugan asmara yang lalu. Sementara lokasi-lokasi geografis memainkan peranan penting dalam novel itu, narasi tersebut dibaca sebagai sebuah peta atas dunia pribadi Julius, dengan pandangan yang berbeda-beda dan asosiasi-asosiasi yang berkelok-kelok menjalin kedalam cermin strukturnya yang seringkali merupakan proses-proses berpikir yang tak terjelaskan.

Adaobi Tricia Nwaubani (lahir tahun 1976)

Adaobi Tricia Nwaubani

Adaobi Tricia Nwaubani adalah seorang penulis novel, jurnalis, dan penulis esai yang sejak masih kecil telah mendemostrasikan ketertarikan pada dunia kepenulisan, memenangkan hadiah menulis pertamanya pada usia 13 tahun. Sebagai seorang jurnalis, dia telah memberikan kontribusi untuk New York Times, BBC, The Guardian, dan CNN, diantara banyak yang lainnya. Novel pertamanya I Do Not Come to You by Chance (2010) diceritakan dalam nada yang jenaka dan sedikit tak sopan yang menafikkan isu-isu fundamental yang dialamatkannya. Protagonis dalam buku itu Kingsley tidak dapat menemukan pekerjaan, dan beralih ke dunia gelap penipuan melalui email dengan cara mepermainkan kepercayaan seseorang. 419 scams (merujuk pada nomor aturan hukum pidana Nigeria.pener) ini sangat sering dikutip oleh orang-orang yang benci pada produk asing dan orang-orang rasis sebagai produk ekspor utama Nigeria, akan tetapi Adaobi menarik perhatian pada isu-isu yang penuh perdebatan ini dengan humor dan keringanan, menciptakan sebuah kisah keluarga, aspirasi dan pelajaran-pelajaran berharga yang datang seiring waktu.

Chimamanda Ngozi Adichie (lahir tahun 1977)

Chimamanda Ngozi Adichie

Adichie merupakan bagian dari sebuah generasi baru pengarang Nigeria yang dengan cepat menanjak reputasinya. Tiap-tiap dari tiga novelnya telah mendapatkan pengakuan universal dan penghargaan-penghargaan yang sangat banyak. Dua buku pertamanya secara garis besar mengandung atmosfir politik dari negara asalnya melalui kacamata pribadi dan hubungan-bungan kekeluargaan. Purple Hibiscus (2003), memenangkan Commonwealth Writer’s Prize untuk buku pertama terbaik, menceritakan kisah seorang anak Kambili berusia 15 tahun, yang ayahnya secara misterius terlibat dalam serangan mendadak militer yang mengguncang negaranya. Penerbitan Half of A Yellow Sun (2006) mengonfirmasi bahwa pengarangnya memiliki sebuah talenta yang unik. Dikisahkan ditengah-tengah perang Nigeria-Biafra, buku itu mencatatkan kengerian-kengerian yang terjadi setiap harinya melalui kehidupan-kehidupan berbeda dari keempat protagonisnya. Novel terbarunya, Americanah (2013) pada intinya merupakan sebuah kisah cinta yang begitu kuat antara Ifemulu dan Obinze, kekasih masa kecil yang dipisahkan ketika salah satunya pergi untuk belajar di Amerika. Meskipun begitu, buku itu masih mengangkat tema-tema seperti rasisme, imigrasi, dan globalisasi.

—————————————-

Diterjemahkan Marlina Sophiana dan Sabiq Carebesth (ed) dari From Achebe to Adichie by Rebecca Jagoe, www.theculturetrip.com.

 

Continue Reading

Inspirasi

Kemenangan Jurnalisme (Investigasi) Sekali Lagi…

mm

Published

on

Kesuksesan Spotlight meraih gelar Best Picture dalam ajang Academy Awards (Oscar) 2016 menjadi pembelajaran penting untuk dunia jurnalistik di Indonesia. Merebaknya isu senjakala media cetak dan semakin berkembangnya media berbasis daring tidak selayaknya menjadi suatu premis yang diperdebatkan. Isu-isu sentral seperti kualitas pemberitaan yang dimuat, penelusuran data, hingga teknik wawancara sejatinya tidak bergantung pada media apa yang digunakan, akan tetapi seperti apa metode yang diterapkan wartawan dalam memburu berita.

Film yang berangkat dari kisah nyata para reporter The Boston Globe ini seolah mengingatkan kembali akan pentingnya metode dalam penggalian data untuk berita. Film arahan sutradara Tom McCarthy tersebut secara gamblang menggambarkan betapa heroiknya Tim Spotlight – tim investigasi di koran The Boston Globe- membongkar kasus pedofilia yang melibatkan lebih dari 90 pastur di Gereja Katolik di sekitar Boston.

Pemberitaan yang dipublikasikan Tim Spotlight sejak tahun 2002 itu bukan hanya menggemparkan dunia, tetapi juga membuka fakta bobroknya sistem hukum dan agama di Boston yang ditutup-tutupi selama beberapa dekade. Tercatat, tim Spotlight telah menulis 600 artikel dalam kurun waktu setahun mengenai kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh pastur dari berbagai sudut pandang. Melalui metode jurnalisme investigasi serta mengedepankan jurnalisme data, tim reportase yang dimotori Marty Baron dkk ini menunjukkan bagaimana seharusnya media menyampaikan informasi secara akurat, jujur dan lengkap. Nilai-nilai itulah yang perlahan memudar di beberapa media-media Indonesia.

Tuntutan masyarakat akan kebutuhan konsumsi berita yang paling update disinyalir sebagai biang keladi terjadinya kompetisi antarmedia untuk menyajikan informasi secara cepat. Harus diakui, saat ini distribusi informasi relatif sangat mudah. Setiap orang bisa menjadi jurnalis untuk pengikutnya di portal media sosial atau website atau disebut mekanisme citizen journalism. Sayangnya, informasi yang super kilat itu tidak diimbangi dengan tingkat akurasinya. Bahkan, kerapkali terjadi media besar dan ternama menyebarkan informasi hoax atau yang belum tentu jelas kebenarannya.

Jurnalisme investigasi seperti apa yang dilakukan oleh tim Spotlight menjadi sangat urgen untuk diterapkan. Hanya saja dibutuhkan spirit yang lebih tinggi demi mendapatkan fakta-fakta yang peculiar. Hugo de Burgh dalam Investigative Journalism (2008) memaparkan peliputan investigasi sangat berisiko karena berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan, hal-hal yang sengaja disembunyikan, manipulasi laporan anggaran, serta sederet hal-hal yang bersifat memalukan.

Liputan investigasi tentu berseberangan dengan jargon jurnalisme kilat ‘yang penting cepat, biar salah nanti juga bisa diralat’. Seperti halnya ditunjukkan dalam film Spotlight, jurnalisme investigasi menekankan pada penguatan konsep berita serta kemampuan dalam analisis data. Oleh karena itu, sudah selayaknya para wartawan investigasi bekerja tanpa ada tekanan deadline. Wartawan investigasi seharusnya lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas sebuah berita. Akan tetapi bekerja di dunia media dengan berbagai dinamikanya, apakah mungkin profesi wartawan tidak dibebani deadline?

Mark Ruffalo (Michael Rezendes) dan Rachel McAdams (Sacha Pfeiffer) dalam adegan Spotlight. (getty image)

Merujuk pada Dandhy Laksono (2010), jurnalisme investigasi sebetulnya sudah familiar di Indonesia semenjak tahun 1949. Kala itu, harian Indonesia Raya menjadi pionir terbitnya tulisan bertema investigatif. Mereka mengangkat kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi di tengah masyarakat. Namun sayangnya, budaya peliputan investigasi itu luntur ketika memasuki zaman orde baru. Jurnalisme pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto mati suri lantaran dibungkam, media-media hanya menjadi kepanjangan tangan penguasa. Setelah tahun 1998, barulah kebebasan pers di Indonesia benar-benar bisa diraih. Media massa mulai berani mengabarkan carut marut pemerintahan pada masa itu.

Seiring dengan kecanggihan teknologi serta terbukanya akses informasi publik, maka seyogyanya proses investigasi berjalan lebih mudah. Keberadaan laporan investigasi ini sangat menarik karena menyajikan narasi yang bukan sekadar fakta tapi ada analisis dari berbagai aspek. Budaya investigasi inilah yang patut dipertahankan oleh media massa di Indonesia. Sebab seperti apa yang diutarakan Stephen Doig, jurnalisme investigasi menghindarkan para jurnalis dari anekdot serta menyandarkan jurnalis pada fakta dan data.

Di lain sisi, risiko dan tantangan untuk melakukan investigasi tetap tidak berubah dari masa ke masa. Mereka dihadapkan pada dilema akan adanya bahaya jika mengungkapkan sebuah kebenaran. Barangkali hal tersebut menjadi pertimbangan para pekerja media untuk tetap berada di zona nyaman. Belum lagi masih adanya invisible hand yang serta merta bisa memberikan rasa was-was bagi para pekerja media maupun orang-orang yang siap menjadi whistle blower. Beruntungnya, masih banyak wartawan media maupun jurnalisme warga yang berani berbicara menegakkan kebenaran. Maka apresiasi setinggi-tingginya patut disematkan bagi pekerja media yang menggeluti jurnalisme investigasi. (*)

———————————-

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Trending