Connect with us

Art & Culture

Meracik Akulturasi di Sepiring Makanan

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih
Penulis Kitab Cerita (2020)

Perseteruan sangat bisa terjadi karena makanan, tapi perdamaian yang manis juga hadir lewat makanan. Kolumnis dan pakar boga, Bondan Winarno, mengatakan (2005), “Makanan adalah sesuatu yang netral dan tidak mengandung prasangka, karena itu paling mudah diterima sebagai sajian atau hadiah yang bersahabat.” Di momentum Imlek, perayaan tidak hanya menunjukkan ketunggalan etnisitas yang tengah merayakan pergantian tahun. Perayaan membawa banyak pihak berbaur dalam keragamanan makanan.

Harian Kompas, 23 Januari 2020, mewartakan ikan jenis bandeng yang banyak dicari menjelang Imlek. Bandeng dianggap membawa keberuntungan. Di sini, para pembeli tidak saja warga keturunan Tionghoa. Mereka menjadikan bandeng di musim Imlek sebagai bagian dari tradisi makan bersama keluarga. Di Jakarta, menu pindang bandeng di warung-warung Betawi menjadi bukti akulturasi yang tenang. Olahan beragam jenis pindang dan semur tahu atau semur jengkol yang mafhum menggunakan kecap menunjukkan akulturasi hadir dalam kebutuhan santap keseharian.

Makanan memang mukjizat. Sejarah kolektif umat manusia dibentuk dan diramu oleh makanan. Dalam hal ini, pengemasan cerita makanan tidak pakem didominasi oleh para tetua lewat pesan bijak dan sakral. Di buku bacaan bergambar berjudul Cap Go Meh (2017) garapan Sofie Dewayani dan digambari oleh Eugenia Gina, hadir dua tokoh bocah mewakili dua etnisitas dan agama sekaligus. Nisa yang seorang Muslim mengatakan, “Lili, cobalah ini, makanan Lebaran buatan ayahku sendiri. Ada lontong, telur pindang opor ayam, sambal goreng ati, kelapa sangrai, bubuk kedelai dan sayur sambal goreng. Semua namanya Lontong Cap Go Meh.”

Lili, seorang peranakan Tionghoa, merasa tidak terima, “Lontong Cap Go Meh itu makanan Imlek, Nisa! Cap  itu sepuluh, Go artinya lima, Meh itu malam. Begitu, Nisa! Malam kelima belas di bulan pertama, setelah Tahun Baru Imlek. Jadi, perayaan tahun baru kami juga lama. Lima belas hari lamanya! Ada arak-arakan naga, kilin, dan barongsai keliling kota […] Kami memakai baju Cheongsam, menjinjing lampion dan turun ke jalan. Selain lontong Cap Go Meh, ada juga kacang, dan kue keranjang.” Perseteruan terjadi meski lekas reda. “Tapi, lontong Cap Go Meh itu makanan Lebaran. Makanan Imlek juga, Nisa! Imlek atau lebaran, makanan favorit kita ternyata sama.”

Justru, lontong Cap Go Meh tidak dikenal di perayaan di tanah leluhur Tiongkok. Aji ‘Chen’ Bromokusumo dalam buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara (2013) menduga bahwa lontong Cap Go Meh sama tuanya dengan imigran Tionghoa di Nusantara. Resep dari negeri asal bertemu dengan negeri baru disesuaikan dengan lidah, keragaman bumbu setempat, dan kultur, “Komunikasi yang paling gampang adalah komunikasi dengan universal language, yaitu bahasa makanan atau urusan mulut dan perut.”

Dalam proses panjang asimiliasi meski manusianya tumbuh dan berganti, makanan yang diciptakan akan terus awet, berubah, dan terbentuk sesuai kondisi sosial-kultural. Hal ini juga menunjukkan bahwa kebudayaan negeri yang baru bukanlah sesuatu yang pakem, seram, pasti, dan menolak keterbukaan untuk membentuk identitas kolektif orang-orang dari pelbagai latar.

Asin dan Manis

Di majalah Bobo edisi 11 Februari 2010, memuat tampil cerita berjudul “Kacang Imlek Mei-Mei” garapan Widya Suwarna. Demi menyambut Imlek, Mei-Mei mengusulkan menambah camilan kacang bawang dengan alasan sederhana, biar ada makanan asin karena Imlek lekat dengan makanan manis. Mei-Mei selalu dijamu kacang bawang setiap berkunjung Lebaran di rumah teman-temannya. Usulan menyuguhkan kacang bawang di saat Imlek pun disepakati, bahkan disambut dengan sukacita. Mei-Mei telah membawa tradisi baru. Asin dan manis tidak saja soal rasa, secara tersirat mewakili cara hidup berdampingan, penuh rasa, dan saling melengkapi.

Ada cerita alegoris ihwal perdamaian dan pembauran yang sangat bagus berjudul “Semangkuk Susu”, diceritakan kembali oleh David Self dengan ilustrasi oleh Christina Balit (The Lion Book of Wisdom Stories from Around the World, 2011). Dikisahkan, pengungsi dari Persia tiba di Sanjan, India, yang diperintah pangeran bijaksana, Jadi Rana. Jadi Rana ingin menolak para pengungsi dengan halus tanpa kekejaman karena ia khawatir negerinya tidak ada cukup tempat. Jadi Rana mengirimkan semangkuk penuh susu yang berarti, “isyarat bahwa tanah di sekeliling Sanjan sudah penuh: tak ada tempat bagi orang-orang Persia.”

Pemimpin orang Persia yang juga bijaksana tidak berkata-kata. Dia hanya mengambil gula dan membubuhkannya ke dalam susu. Gula pun larut tanpa harus meluapkan susu, dan susu menjadi manis. Jadi Rana mengerti bahwa, “Seperti halnya gula dapat mudah bercampur dengan susu tanpa tumpah, maka rakyatnya akan dapat berbaur dengan rakyat Sanjan. Mereka bisa hidup bersama dalam satu negeri—dan menjadikan negeri itu tempat yang lebih manis. Tak ada yang perlu ditakutkan.”

Serupa itulah pembauran warga Tionghoa dengan pelbagai etnis untuk hidup bersama sebagai orang Indonesia yang terangkum lewat makanan. Memang ada konflik tidak terelakkan dan bahkan tidak akan mudah dimaafkan. Tapi, ada perdamaian diramu dan dipertukarkan meski kata kerukunan tidak secara tersurat dikatakan, cukup dirawat serta dicecap dalam sepiring makanan.

Continue Reading
Advertisement

Art & Culture

Soekanto SA: Mengarus di Sastra Anak (Indonesia)

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih

“Cerita anak-anak lebih subtil dan esensial. Pantangan-pantangan dalam cerita anak-anak memaksa seorang pengarang untuk lebih kreatif. Hasil pencarian, eksplorasi hidup bisa disampaikan lebih tersaring. Di sinilah pesonanya!” inilah jawaban Soekanto SA ketika Agus Dermawan T. menyinggung pilihan berlabuh di dermaga cerita anak (Kompas, 16 Desember 1979). Berpindah dari Tegal ke Jakarta pada 1949, Pak Kanto kepincut sastra. Saat itu, ia mondok di rumah guru bahasa, Soeparto Dirdjowinoto, yang berlangganan majalah sastra Mimbar Indonesia. Di majalah ini, cerpen pertama dimuat. Pak Kanto mulai bergaul dengan para sastrawan-seniman, seperti Ajip Rodisi, Ramadhan KH, Trisnoyuwono. Pak Kanto juga menulis cerita untuk harian Pikiran Rakyat, majalah Kisah dan Siasat serta ngantor di Penerbit Indrapress dan Gaya Favorit.   

Soekanto SA

Usai 90 tahun nan panjang, Soekanto SA (18 Desember 1930-8 Juni 2020) berpulang. Pak Kanto memang lebih karib sebagai penulis cerita anak, pendongeng, pemikir kepustakaan anak-remaja. Terutama sejak 70-an, namanya tidak asing meriuhkan pertemuan mendongeng untuk anak-anak, kelas diskusi-penulisan cerita anak, seminar sastra anak, sampai forum perbukuan anak bersifat nasional dan internasional. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Pamusuk Eneste, ed., 1983) mencatat bahwa lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini pernah menjadi redaktur majalah Arus (1954) dan redaktur harian Jakarta Post (1995).

Disebutkan buku-buku garapan Pak Kanto, di antaranya Bulan Merah (1954-mengalami cetak ulang kedua pada 1964), Orang-orang Tercinta (1971), Sahabat dan Kembang (1971), Jayamada (1971, digarap bersama Toha Mochtar), Anak-anak Malam (1973). Tidak disinggung kontribusi di Femina (editor buku anak dan remaja penerbitan Femina Group), dan terkhusus majalah anak Si Kuncung (1956) didirikan Soedjati SA, sosok yang juga mengajurkan Pak Kanto bertungkus lumus di bacaan anak.    

Di tahun 70-an, menguat perbincangan identitas bacaan anak Indonesia bertaut dengan penulis cerita anak “dalam negeri”. Indonesia tidak saja mengalami masalah kemandirian dan politik impor pangan, tapi juga impor bacaan. Di majalah dua mingguan Mutiara, edisi 1-14 Juni 1988, pernah memuat liputan panjang tentang asupan bacaan bagi anak-anak Indonesia. Asupan rohani berwujud buku digelisahkan. Indonesia lebih didominasi bacaan impor (terjemahan). Anak-anak Indonesia masa itu lebih karib dengan serial Lima Sekawan, Tin Tin, Oshin, Asterix, Donald Bebek. Kepala Bidang Penerbitan Balai Pustaka saat itu, Sudibyo Z. Hadisutjipto, mengatakan masalahnya bukan krisis naskah masuk, tapi mutu cerita. Penulis seperti mengalami kegersangan ide karena cerita berkisar di kedurhakaan anak, gembala, atau dramatisasi kemiskinan.

Buku-buku garapan Pak Kanto, di antaranya Bulan Merah (1954-mengalami cetak ulang kedua pada 1964), Orang-orang Tercinta (1971), Sahabat dan Kembang (1971), Jayamada (1971, digarap bersama Toha Mochtar), Anak-anak Malam (1973). Tidak disinggung kontribusi di Femina (editor buku anak dan remaja penerbitan Femina Group)

Pak Kanto urun tulisan berjudul “Lintas Sejarah Bacaan Anak-anak”. Setiap tahun, lahir buku-buku dianggap sebagai “karya-karya asli”. Misal di akhir 40-an, makin bergaung nama Aman Dt. Majoindo pengarang cerita klasik Si Doel Anak Betawi. Ada juga Duapuluh Dongeng Anak-anak garapan Zuber Usman, atau Dari Anak untuk Anak garapan Ibu Munah. Selain berpredikat asli, cerita sanggup menggembirakan hati dan imajinasi anak-anak. Pak Kanto juga menandai upaya-upaya intelektual sekalipun birokratis untuk menyokong bacaan dan anak. Pada tahun 1973 di Bogor misalnya, diadakan “Makan Siang Bersama Presiden” sekaligus sebagai ajang menghimpun dana bagi Yayasan Buku Utama untuk menobatkan buku-buku fiksi dan nonfiksi terbaik. Buku-buku anak turut ditimbang sejak 1981.  

Pesta dan Gila Buku

Yang sangat seru sekalipun masih memusat di Jakarta, Indonesia pernah menghelat “Pesta Buku Anak-anak dan Remaja” I dan II (1984 dan 1985). Seperti dipercayai anak-anak bahwa buku itu membahagiakan, Pak Kanto mengatakan bahwa buku “memberikan kenikmatan kepada anak-anak dan bukan sebaliknya, membuat anak-anak lari darinya karena jemu.” Setidaknya pada 1993 dan 1994, anak-anak masih memiliki perayaan bacaan bernama “Pesta Buku Anak ’93” dan Pesta Buku Anak ‘94” yang melibatkan pelbagai penerbit; Gaya Favorit Press, Djambatan, Balai Pustaka, Indira, BPK Gunung Mulia, dan lainnya.

Kita bisa menyepakati jika laporan khusus bacaan anak di Prisma (Mursidi Musa, M. Ahmad Soemawisastra, dan Edward S. Simandjuntak, Mei 1987) menyebut anak-anak Indonesia mengalami “sakit gila baca”. Meski bukan indikator satu-satunya, kegilaan tampak dari serbuan anak sekolah dasar ke pameran buku yang dihelat Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Gunung Agung, toko buku berjaya di masa itu bahkan hampir mirip perpustakaan atau tempat penitipan anak saking lama dan sering pembaca belia singgah. Inilah peristiwa di masa-masa kejayaan asupan bacaan cetak sebelum globalisasi memasukkan televisi ke rumah ruang keluarga atau mukjizat internet lebih dikagumi daripada ilustrasi-ilustrasi apik sampul majalah Kawanku.

Namun, laporan khusus sekaligus membabarkan dampak aliran dana Inpres sejak 1973 yang membuat ribuan eksemplar buku dibeli dan disebar ke sekolah se-Indonesia. Penerbit yang awalnya emoh menerbitkan buku bacaan anak karena takut merugi, berbalik berburu naskah. Memang muncul penulis-penulis baru dengan jaminan finansial, tapi mutu terkadang tidak berbarengan dengan naskah-naskah yang digarap serba cepat dan banyak. Di luar sokongan pemerintah, penerbitan bacaan anak masih membawa beban sampingan sampai hari ini seperti pernah diungkap Pak Kanto; royalti, idealisme penulis dan penerbit, dan kualitas.

Kebijakan pemerintah dan politik perbukuan memang terlihat menonjol saat buku masuk masalah nasional. Perubahan kebijakan berdampak besar, tapi upaya-upaya “bawah” lebih menjanjikan dampak seismik. Inilah yang diingat dan dibagi Pak Kanto usai melakukan pelawatan ke Tokyo, Jepang, memenuhi undangan Asian Culture Centre for Unesco bersama Perhimpunan Penerbit Buku Jepang dalam acara “The Elevent Training Course/ Seminar on Book Production in Asia” pada 7 September-7 Oktober 1978 (Kompas, 27 November 1978). Asupan buku untuk anak di Jepang, salah satunya ditekuni oleh ibu-ibu yang merintis Katei Bunko atau rumah pustaka setingkat RT tanpa sponsor pemerintah. Katei Bunko tidak hanya menyediakan buku bacaan. Setiap bulan, diundang para ahli membuat pertimbangan dan saran tentang buku-buku. Hasilnya akan disebar lewat siaran pers. Katalog atau brosur buku anak juga diterbitkan untuk pegangan para ibu. Hal ini dilengkapi dengan tindakan 20 menit ibu dan anak membaca buku tanpa penjadwalan khusus. Serunya, ada majalah bulanan Japan Children Book Publishers yang mengabarkan buku-buku terbit bulan depan. Tentu ditegaskan Pak Kanto, Jepang adalah negeri yang bersemangat menerjemahkan dan menerbitkan buku.       

Jika ditimbang di Indonesia, potensi PKK bertahan sampai hari ini bisa saja menyejahterakan asupan buku anak. Tapi, sepuluh program pokok belum menyasar bacaan anak dan keluarga dengan tepat. Lalu, apa kabar “Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita untuk Anak?” Gerakan tidak menimbulkan dampak seismik karena diserukan dari “atas” sebagai program. Kita justru lebih bersemangat menyaksikan gairah mengantarkan buku ke setiap pelosok Indonesia oleh ibu, bapak, mas, dan mbak dengan gerobak, bronjong, kuda, perahu, bahkan noken. Mengantarkan buku berarti mengantarkan harapan dan kegembiraan kepada anak-anak.

Penulis sekaligus pernah wartawan Kompas, Maria Hartiningsih, dalam pengantar penerbitan ulang kumpulan cerita anak Pak Kanto berjudul Orang-orang Tercinta (Kompas, 2006) mengatakan bahwa Pak Kanto “tinggal dalam kenangan banyak anak yang sekarang sudah menjadi orang tua.” Suatu hari di kantor Si Kuncung, kedatangan anak bernama Gustini. Ia bertemu Pak Kanto sekaligus menghibur diri karena ikan-ikan peliharaannya megap-megap karena akuarium kena tendangan bola adik. Kedatangan Gustini membuat Pak Kanto menulis serial Hari-hari Bersama Gustini. Pertemuan pembaca kecil dengan Pak Kanto ini pasti istimewa. Bukan dari hal-hal muluk atau menggurui, Pak Kanto mencipta cerita-cerita hangat bagi jiwa anak-anak.

Saya membayangkan salah satu peristiwa di Lantai III Aldiron Plaza Blok M pada Sabtu sore, 20 Mei 1980 (Kompas, 20 Mei 1980). Para bocah berebut duduk paling depan menantikan Pak Kanto mendongeng dalam rangkaian acara pameran buku. Suara dan cerita itulah semesta yang dipanggil setiap anak di dalam kepala dan pendar matanya. Tidak boleh ada satu kata pun berkelit. Tiga tahun kemudian, bukan dari representasi pahlawan super, selebritas, tokoh militer, atau penguasaha sukses anak-anak memilih sosok lekat di tepian biografinya. Mereka menahbiskan Pak Kanto sebagai sang “Tokoh Favorit di Mata Anak-anak.”

Selamat jalan, Pak Kanto! Terima kasih untuk cerita-cerita bersahaja nan lembut..     

*) Esais dan penulis Kitab Cerita (2019)

Continue Reading

Art & Culture

Apa Yang Kreatif?—Melawan Suara-Suara Penyederhanaan

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth *)

Siapa orang kreatif atau mari bertanya lebih dulu apa (orang) yang kreatif itu? Apa bahaya-bahayanya untuk menjadi “siapa” sementara ruang reflektif meminta menuntaskan maksud dan tujuan dari “apa” penulis atau pribadi kreatif itu sendiri?

Orhan Pamuk dalam pidato untuk penerimaan hadiah nobel sastra yang diterimanya mengisahkan sosok ayahnya; sebagai pribadi yang menyendiri di dalam kamar, dengan buku-buku dan menulis. Merenungkan dunia dan, terus bertanya lalu apa? Tetapi pertanyaan itu hanya menghasilkan ruang lebih luas dan kemampuan menyendiri lebih jauh lagi—dan tidak selalu berarti keberuntungan—untuk katakan menjadi penulis atau pribadi kreatif yang berhasil. Camus menuliskan:

“Menurut Saya, pengarang adalah orang yang tekun, selama bertahun-tahun, berupaya menemukan ‘diri’ yang kedua, sekaligus memahami dunia pembentuk dirinya yang aktual. [o]rang yang mengurung diri di kamar, duduk di depan meja, menyendiri, merenung, dan di antara bayang-bayang, membangun dunia baru dengan kata-kata. [s]etelah sekian lama, mungkin ia akan bangkit dari duduknya, melongok keluar jendela untuk menyaksikan anak-anak bermain di jalanan serta pepohonan dan sepotong pemandangan, atau mungkin malah menatap dinding hitam. Ia mungkin telah mengarang puisi, naskah drama, atau seperti Saya, menulis novel. Semua itu terjadi usai ia melakukan kerja amat penting: duduk di depan meja dan menyelami batin. “

Mary Oliver, penyair perempuan yang dikasihi publik, memastikan bahwa dunia kreatif dihuni mereka yang memiliki kebernaian dan komitmen menuruti laku aliran batinnya, suatu panggilan jiwa yang berlaku sebagaimana kesetiaan air pada gaya gravitasi. Seseorang yang berjalan dengan susah payah melalui hutan belantara ciptaan, “mereka yang tidak mengetahui hal ini – yang tidak ‘menelan’ ini – akan hilang.”

Itulah yang dibutuhkan untuk menyelam dalam dunia kreatif dan mengambil dari dalamnya mutiara.

Maka seperti Pamuk, Oliver mengandaikan bahwa bagaimana pun [b] idang kreatif butuh kesendirian. Bidang kreatif membutuhkan konsentrasi tanpa interupsi. Itu membutuhkan seluruh langit untuk dituju, dan tak ada sorot mata melihat hingga sampai pada kepastian yang diinginkannya. Privasi. Sebuah tempat yang terpisah—untuk melangkah, untuk mengunyah pensil, untuk mencoret-coret dan menghapus kemudian mencoret-coret kembali. Tetapi sama seringnya, jika tidak lebih sering, interupsi tidak datang dari orang lain namun dari diri sendiri, atau diri lain di dalam diri.”

Suatu gagasan dari Keats tentang “kemampuan negatif,” Dani Shapiro mendesak bahwa seorang seniman, seorang pribadi kreatif, tak terhindarkan “untuk merangkul ketidakpastian, untuk diasah dan dikikir olehnya,”—untuk petualangannya yang tidak diketahui.

Pada kenyataannya, pekerjaan kreatif itu adalah bagian dari petualangan itu sendiri. Dan tidak ada seniman yang dapat mengerjakan pekerjaan ini, atau ingin melakukannya, dengan energi dan konsentrasi yang tidak utuh.

Halanya seperti laku kesendirian. Itu lebih seperti pengambil resiko (risk-taker) daripada pengambil tiket (ticket-taker). Bukannya itu akan mengecilkan arti sebuah kenyamanan, sosialitas, atau menetapkan rutinitas dunia, namun perhatiannya lebih mengarahkan ke tempat lain. Perhatiannya ada pada batas, dan pembuatan bentuk dari ketidakberwujudan yang melebihi batas.

Seperti pepatah Turki yang menjadi kredo menulis Pamuk, mereka para pribadi kreatif, para seniman dan penulis, dalam kesendirian dan kesunyiannya “menggali sumur dengan jarum”—maka tentu saja itu membutuhkan nyaris seluruhnya, dan lagi pula, tak selalu berhasil. Tetapi itu tetap tak mematahkan hidup yang memberinya perasaan berarti, untuk mengambil risiko dan memenuhi panggilan jiwa.

Panggilan jiwa yang memastikan mereka memahami, sebagaimana narasi Sontag yang menggugah, pekerjaan pertama para penulis atau bidang kreatif lainnya, adalah “untuk melawan suara-suara penyederhanaan.”

Dalam seni menulis khsusnya, Sontag menekankan bahwa; tugas penulis adalah mempersulit orang untuk memercayai para perampok batin. Tugas penulis adalah membuat kita melihat dunia apa adanya, penuh dengan berbagai klaim dan bagian, serta pengalaman. (*)

*) Sabiq Carebesth—Editor in Chief Galeri Buku Jakarta—Catatan ini adalah pengantar redaksi untuk Majalah “Book Coffee and More” yang akan dirilis perdana oleh Galeri Buku Jakarta pada Agustus 2020.

Continue Reading

Philoshopia

Panduan Menjadi Absurdis

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth *)

Albert Camus tidak dalam rangka melakukan pengadilan pengatahuan mau pun metode perolehan pengetahuan untuk membangun filsafatnya. Lain dari umumnya karakter filsafat (barat) modern yang terus bertumpu pada kritik dan dialektika, katakan seperti istilah dipakai penulis Argentina Jorge Luis Borges, bahwa setiap pengarang memiliki pendahulunya sendiri—Camus menempatkan kritik dan uji materi pengetahuan para pendahulunya hanya pada batas ia menemukan contoh sekaligus penyangkalan yang mungkin baginya untuk menerangkan ihwal absurditas.

Hal itu dimulai dari keyakinan tentang abusrditas itu sendiri—bahwa Camus sama ambigunya dalam menempatkan posisi dirinya; di satu sisi ia adalah penggagas dan pengujar genuine gagasan absurd, di satu sisi ia mengambil jarak dari kerangka absurditas yang dibangunnya untuk memastikan ia keluar sebagai pemenang tunggal; sebagai abusurdis sesungguhnya—keyakinannya itu bertumpu pada dua fakta pokok tentang absurditas yaitu: ambiguitas-paradoks dan keseimbangan untuk berdiri-di antara.


Saya  melihat banyak orang mati karena mereka merasa bahwa hidup ini tidak layak dijalani. Saya melihat pula orang-orang lain yang secaara paradoksal dibunuh demi gagasan atau ilusi yang justeru memberikan kepada mereka alasan untuk hidup (yang disebut alasan untuk hidup sekaligus merupakan alasan yang tepat untuk mati) jadi saya menilai bahwa makna hidup adalah pertanyaan yang paling mendesak.
Yang mencetuskan krisis batin itu hampir selalu tidak dapat dikendalikan. Surat kabar sering menyebut-nyebut keterangan kenapa orang-orang putus asa bunuh diri “kesedihan yang paling pribadi”, “penyakit yang tak dapat disembuhkan”—tapi saya kadang mengandaikan bahwa pada hari itu, sahabat dari orang yang putus as aitu berbicara kepada yang putus asa dengan nada acuh tak acuh—sikap acuh demikian tampaknya cukup untuk mengakibatkan memuncaknya semua dendam dan kejemuan yang sampai saat itu masih tertahan. Meski demikian saya tidak mengabaikan bahwa terkadang bunuh diri dapat saja terkait dengan pemikiran-pemikiran yang jauh lebih terhormat. Contohnya bunuh diri politik sebagai protes dalam Revolusi Cina.
-Albert Camus

Ambiguitas yang sekilugus inheren dalam paradoksalnya itu adalah pandangannya bahwa absurditas tidak terletak pada salah satu faktor antara manusia dengan rasionalitasnya atau dunia dengan bobot kemustahilannya yang sukar diterima oleh penalaran logis rasionalitas manusia.

Abusrditas berada pada batas keduanya dan bukan pada salah satunya. Sehingga tidak tepat untuk misalnya bertanya “yang absurd manusianya; atau dunia?” dalam pengandaian itu Camus telah menempatkan waktu sebagai yang kini dan di sini, waktu yang hadir dan siap dihadapi sebagai yang semata-mata konkrit, tidak ada kemungkinan nanti dan apa saja yang menarik ke dalam ketidaktahuan untuk dipahami nalar rasional sebagaimana hal itu telah berganti wilayah ke dalam waktu yang mistis dan transenden. Tak soal apakah orang menyebut hal itu agama, Tuhan, harapan, atau semacam itu. Ia hanya menyadari kemungkinan untuk melibati waktu yang kini dan di sini; yang datang untuk memintanya merangkul keseluruhannya termasuk bahwa ketidakmungkinan untuk memahami semuanya adalah realitas itu sendiri dan manusia tidak sebaiknya menyerah pada batas semacam itu, sebaliknya ia mesti memberontak—dengan apa caranya dan batas pengertiannya akan saya bahas lebih pada artikel lain—tetapi sementara untuk dikatakan bahwa pemberontakan itu adalah satu-satunya kemungkinan yang menempatkan eksistensi manusia pada dirinya sendiri dan dirinya sendiri itulah dengan segala kemungkinan tindakan yang bisa membuatnya terlibat di antara rasionalitasnya dan dunia yang mengutuknya, sebagai satu-satunya realitas. Dan demikianlah ia menerimanya sebagai suatu bentuk pemberontakan. Pemberontakan dengan mengatakan “ya” pada segala yang datang kini di sini dan untuk sekarang merupakan satu-satunya cara mengada yang mungkin dan bisa dibenarkan dalam nalar absurditas yang dibangun oleh Camus.

Nalar absurditas Camus ditegakkan dengan keseimbangan manusia untuk tidak perlu terburu-buru atau malah tidak perlu sama sekali mengambil kesimpulan, penegasan, nafsu menerangkan dan ihwal pemuncakan semacam itu sebagaimana hasrat pada penganut Hegelian untuk menemukan keutuhan atas semua seolah lompatan-lompatan kemungkinan realitas bisa ditakar secara anonim. Bahwa jika suatu menemukan faktor pendorongnya ia otomatis melompat ke sesuatu yang berbeda dengan pada saat sama mengugurkan kemungkinan sebelumnya dan kebaruan akan sampai pada puncak realitas utuh yang bentuknya—hanya menunggu dipenuhi oleh penemuan faktor-faktor penggeraknya.

Keseimbangan untuk tetap berada di dalam paradoks dan karenanya memunculkan realitas diri yang ambigu yang dijadikan pondasi membangun kerangka absurditas ala Camus, olehnya dimaknai sebagai hukuman—terkadang—tetapi pada saat bersamaan juga seperti berkah. Dinamika absurdis ditandai oleh kemampuan konsistensinya untuk menerima ambiguitas semacam itu, bahwa memang demikianlah dunia tetapi tidak demikian, soliter sekaligus solider, dan lagi pula, apa yang didapat dari upaya terburu-buru untuk menyimpulkan atau untuk memahamkan diri tentang realitas jika ternyata; realitas itu tak memiliki kesimpulan untuk dimaknai dan dicarikan alternatifnya kecuali di sini, sekarang dan sebagaimana ia melingkupi manusia dalam penalaran rasional seklaigus kemustahilannya.

Pada kerangka upaya pemaknaan filsafati Kierkegerad dan Leon Chestov kita akan menemukan bagaimana Camus menguji kerangka absurditasnya. Tetapi sebagaimana dikatakannya sendiri, itu hanya pada tahapan untuk mengatakan dan menemukan tentang prinsip-prinsip paradoksal dan keseimbangan yang dituntut dari absurdis sejati, dan baik Kierkegerad mau pun Leon Chestov menunjukkan kegagalannya—terutama karena nafsu keduanya untuk membuat kesimpulan akhir sebagai upaya penjelas pemikiran akan makna kehidupan.

Pada Kierkegerad kegagalan ditunjukkan Camus oleh kepastian akhir Kierkegerad untuk justeru di titik ia mendapati dunia ini absurd dan penalaran atasnya runtuh, ia justeru menemukan dan membebankan pada salah satu faktornya yaitu kehidupan itu sendiri. Sehingga kepasrahan harus dihadirkan karena ketidaksampain nalar memahami kekosongan makna kehidupan. Dan penyerahan pada kekosongan menempatkannya pada bentuk final transendensi iman Kristiani yang dianutnya.

Sementara pada Chestov Camus menunjukkan betapa filsuf Rusia itu hampir saja menjadi absurdis sejati, tetapi ia terjebak justeru di titik di mana seperti kata Camus sendiri “Ketika Chestov mencurahkan seluruh nafsunya untuk membuyarkan rasionalisme Spinoza dan betapa kesal ia pada Hegel, ia Justeru menarik kesimpulan mengenai kesia-siaan segala nalar. Ia melakukan pembalikan yang wajar tetapi tidak sah, ia kembali ke keunggulan hal irasional—dan katakanlah ia menjadi amat bersemangat menyanggah rasionalisme Aristotelian.”

Maka demikianlah bahwa Leon Chestov yang hampir saja, dengan keyakinan pada awal pemikirannya bahwa “nalar tidak ada gunanya, tetapi ada sesuatu nun di luar nalar. Bagi jiwa absurd, nalar adalah sia-sia, dan di luar nalar tidak ada sesuatu apa pun.” Bagi Camus persepsi semacam itu bisa dibenarkan dalam membangun logika absurd, sedikit lagi adalah hakikat absurd. Bahwa bagi Camus sendiri “absurditas hanya mempunyai nilai dalam suatu keseimbangan, absurditas terutama berada dalam perbandingan dan sama sekali bukan dalam masing-masing dari unsur perbandingan itu”.

Namun Chestov justeru meletakkan seluruh bobot absurditas pada salah satu unsurnya dan menghancurkan keseimbangannya. Kehauasan untuk mengerti, kerinduan pada yang mutlak, hasrat membuat segalanya menjadi jelas—padahal kita telah tahu hal semacam itu mustahil; nalar selalu efektif tapi pada saat sama irasionalitas senantiasa muncul kembali. Dan hasrat besar untuk menjelaskan dengan mutlak yang dilakukan Chestov maunpun Kierkegerad telah menempatkan keduanya dalam kacamata seorang juri yaitu Camus sendiri dengan buku pedoman “menjadi absurdis sejati” di tangannya—dan keduanya gagal menjadi seorang absurdis sejati.

Tetapi sementara ini penting untuk menutup artikel ini dengan kutipan dari Camus sendiri tentang buku pedoman yang dipegangnya: “Dapat saja dikira bahwa di sini saya mengabaikan masalahnya yang hakiki, yakni masalah iman. Tetapi saya tidak menelaah filsafat Kierkegerad, Chestov, atau lebih jauh lagi Husserl; saya hanya  meminjam sebuah tema dari mereka, dan saya menelaah apakah akibat-akibatnya sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan di depan (bunuh diri filosofis). Masalahnya hanyalah bertahan pada satu persoalan.

Apa persoalan terpenting dalam filsafat makna dalam gagasan Camus? Anda tentu sudah mendengarnya. (*)

18 Mei 2020

*) Sabiq Carebesth, penulis lepas, editor.

Continue Reading

Trending