Connect with us

Buku

Menyelami dan Melampaui Negativitas

mm

Published

on

Oleh: Ahmad Jauhari *)

Baru-baru ini, ledakan hebat mengguncang Kosambi di Tangerang. Pabrik petasan itu meledak. Di belahan Indonesia Timur, gunung Agung di Bali dalam situasi gawat. Ribuan orang mengungsi. Bila direnungkan, bangsa ini adalah tuan rumah fenomenologi peristiwa-peristiwa negatif: pembantaian tragis 1965, konflik bersenjata di Aceh, tragedi Mei 1998, bom Bali 2002, tsunami Aceh Desember 2004, gempa Yogyakarta Mei 2006, tenggelamnya KM Levina 1 2006, gempa Padang 2009, dan yang baru-baru ini, ledakan pabrik minyak di Lamongan, dan seterusnya. Peristiwa-peristiwa itu merupakan jejak-jejak dari negativitas pengalaman manusia.

Buku ini mendiskusikan  tentang “pengremangan kesadaran” sebagai sesuatu yang tidak nyaman untuk dibicarakan termasuk hal-hal negatif di dalam kehidupan bersama, yakni kehidupan yang hancur yang secara sosial-politis berarti runtuhnya solidaritas, pengejaran oposisi dan minoritas, merebaknya kekerasan massa, teror, terlantarnya rakyat dan luka-luka yang tetap basah tak tersembuhkan.

Hal-hal ini tetap tinggal sebagai hantu-hantu atau pengalaman-pengalaman negatif manusia. Buku ini berbicara secara fenomenologis tentang kerusakan-kerusakan sosial dan moral yang diwariskan oleh Orde Baru dari sudut pandang radikal, yaitu—dalam arti etimologis kata Latin itu—menelusuri sampai ke “radix” (akar) kerusakan-kerusakan itu. Di tengah-tengah lirihnya nasehat-nasehat moral, F. Budi Hardiman dalam buku ini lebih memilih pendekatan deskriptif (filsafat politik) dari pada analisis normatif (etika politik) untuk memahami kerusakan mental sampai ke palung terdalam dari relung-relung jiwa (psikologi politik).

JUDUL : Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma PENULIS : F. Budi Hardiman PENERBIT : Buku Kompas, Jakarta CETAKAN : 1, Oktober 2005 TEBAL : xIiv + 222 halaman

Sebelum memperjuangkan demokrasi, kiranya lebih bijaksanalah jika lebih dahulu diteliti kendala-kendala atau patologi-patologi mental menuju demokrasi. Massa, teror, dan trauma adalah pengalaman-pengalaman negatif yang selalu membayangi proses demokrasi, dan ancaman itu semakin besar seiring dengan bertambah banyaknya mereka yang termarginalisasi dalam proses globalisasi pasar dewasa ini. Dalam wacana demokrasi dan diskursus negara hukum modern, bertolak dari “pencerahan kesadaran” sebagai ekspresi kebebasan dan perbedaan individualitas manusia. Negativitas pengalaman manusia, mendasarkan diri pada wilayah “pengremangan kesadaran”, sebagai ancaman demokratisasi.

Istilah “negativitas” dalam buku ini dipakai sebagai “metafor” bagi semua deskripsi, analisis dan kritik dari keseluruhan gagasan. Kata “negativity”, dalam bahasa Inggris sebagai “negative attitude” atau “sikap negatif”, sementara  “negative” diartikan sebagai “hamful” atau “merusak” (hlm. xix). Sikap agresif dan destruktif jelas termasuk dalam kategori ini.

Namun, negativitas dipahami sebagai sesuatu yang melampaui “sikap atau “perilaku”, yaitu sebagai sesuatu yang memungkinkan sikap, perilaku dan pengalaman negatif itu sendiri.  Negativitas bukanlah sesuatu yang netral. Dia juga bukan ketiadaan atau titik nol melainkan sesuatu, yakni sesuatu yang tidak didefinisikan dari dirinya sendiri akan tetapi dari efek yang ditimbulkannya. Eksistensi negativitas dapat dipersepsi dalam kenyataan bahwa ia tidak membuat sesuatu itu “hilang”, melainkan “kurang”. Negativitas adalah sisi ‘yang lain’ (the other) dari jiwa manusia.

Akar Kekerasan Massa

Fenomena kekerasan massa yang semakin marak akhir-akhir ini menurut George Simmel, diproyeksikan oleh heterofobia (takut akan ‘yang lain’). Heterofobia berasal dari otofobia (takut akan diri sendiri). Dalam filsafat yang abnormal dirumuskan dalam konsep “the other” (Inggris), “l’ autri” (Prancis) atau “das Andere” (Jerman), dan “yang lain” dalam terjemahan bahasa Indonesia. Yang lain, menduduki posisi negativas, karena dianggap berbahaya dan harus diberangus. Sebab yang lain ditatap jauh diseberang sana.

Padahal “yang lain” itu justru mengeram di palung terdalam individualitas manusia. Tidak sekedar penampakan wajah (face) ‘yang lain’ sebagai ‘yang lain’ hadir dengan selubung tabir ideologi. Namun juga, wajah seram yang dihadapanku hadir secara terus-menerus. Kehadiran itu “mengharuskan” subyek mengelak dan berpaling bahkan kalau perlu ‘yang lain’ itu dimusnahkan, agar tidak menggerogoti eksistensi subyek. Maka pembrangusan dan pengejaran terhadap yang berlainan sebagai minoritas merupakan tanda keruntuhan solidaritas.

Di zaman Orde Baru (Orba) hancurnya solidaritas pada kehidupan bernegara berpengaruh terhadap masyarakat setelahnya. Maka negara bagi Hannah Arendt, dalam Vita Activa, 1996 (The Human Condition) adalah wadah ekspresi kemajemukan dari ketunggalan. Dalam kediktatoran tak ada lagi negara sebab represi, agresi dan dominasi (Herrschaft) akan menghancurkan kemajemukan dalam ketunggalan. Kediktatoran bukanlah sekedar intervensi publik ke dalam yang privat melainkan “kolonisasi” ruang publik oleh yang privat. Kolonisasi atas ruang publik itu terjadi manakala para konglomerat berkongkalikong dengan kekuasaan politis atau juga agama dalam komando kementrian agama. Republik dalam kondisi semacam itu kehilangan esensinya, dan teror justru bertolak dari penguasa sebagai ‘pelaku’ destruktif.

Histerisitas massa pada teror dan kekerasan massa disorot dari ‘prespektif pelaku’, meminjam ungkapan Hermann Broch dalam buku Massenwahntheorie, 1979 (teori kegilaan massa) ditimbulkan dari ketidakmampuan untuk menegaskan diri yang mendapatkan energi dengan cara tindakan kolektif yang dektruktif. Dalam kekerasan massa ‘pelaku’ kekerasan justru mengalami penumpulan tidak hanya perasaan melukai para korban tetapi juga sirna rasa bersalah atas perilaku kekerasan. Lenyaplah daya serap moralitas dan akal sehat kehilangan “otoritasnya”.

Secara struktural, akar-akar kekerasan massa dalam teori tindakan kolektif Veit Michael Bader (sosiolog Jerman) berpangkal dari disparitas sosial yang terbentuk lewat interaksi sosial. Negativitas dilihat sebagai signal dari kebuntuan komunikasi dan bentuk perjuangan untuk meraih kesamaan dan keadilan. Macetnya komunikasi merupakan resonansi perubahan manusia dari “personalitas” menjadi “massa”.

Disorot dari psikologi politik (mental), kebuntuan komunikasi yang memproduksi kekerasan secara epistemologis dimengerti sebagai proses pengenalan manusia. Artinya, tindakan kekerasan itu sudah terkondisi di dalam struktur pikiran manusia. Hal itu mengacu pada dua hal; pertama, pengenalan atas manusia berarti mengandung momen dominasi sebab mengenali berarti mendefinisikan. Kekerasan itu semakin melar eksistensinya jika yang didefinisikan tak mampu mendefinisikan dirinya sendiri dan tunduk pada “institusi” di luar dirinya. Kedua, pengenalan atas manusia lain diawali dengan stereotipikasi bahwa orang lain dimengerti sebagai kelompok dan bukan sebagai individu. Dalam situasi konflik stereotipikasi yang netral menjadi destruktif (George Simmel). Kekerasan massa pada taraf antropologis berpangkal dari rasa panik dan kebutuhan akan ekstasis (Hermann Borch), dan posisi sosiologis kekerasan massa itu dilahirkan dari proses atomisasi individu secara struktural dalam masyarakat kapitalis (Hannah Arendt).

Kekuasaan (dalam masyarakat kapitalis) menghasilkan kepatuhan. “Bila orang menelusuri sejarah umat manusia yang panjang dan kelabu,” demikian kata C.P. Snow, “orang akan menemukan bahwa lebih banyak kejahatan yang menjijikkan, dilakukan atas nama kepatuhan daripada atas nama pembangkangan”. (hlm. 115). Realitas kepatuhan inilah yang mengilhami Elias Canetti dalam Masse und Macht 1995, merumuskan konsep Verwandlung (metamorfosis\mimesis). Tubuh menampakkan egonya sebagai sesuatu yang meniru gerakkan mesin. Maka destruksi massa merupakan bentuk disiplinasasi tubuh. Disiplinisasi tubuh (docile bodies) adalah elemen penting pemerintahan otoriter sebab hal itulah tenaga praksis destruksi moral dan sosial.

Adalah Viktor E. Frankl dalam konsep logoterapi memandang negativitas dari ‘prespektif korban’. Ia bergumul dengan persoalan makna hidup yang dilontarkan pasiennya. Lebih jauh ia tidak hanya memasuki persoalan makna hidup melainkan juga mengais “makna penderitaan” (termasuk derita para korban). Manusia berbahagia dengan menemukan kehidupannya. Demi menemukan makna itulah, jika perlu, manusia siap untuk menderita. Manusia menurut Frankl memiliki “den Willen zum Sinn” (kehendak-untuk-makna). Konsep ini didasarkan atas pengalaman Frankl sendiri sebagai tawanan di tiga kamp konsentrasi (yaitu Dachau, Bauchenwald dan Auschwitz). Penderitaan akan bermakna jika fokus hidup kita tidak berpijak pada apa yang diharapkan dari hidup ini melainkan bertolak pada apa yang dapat diharapkan oleh kehidupan darinya. Berpindah dari yang bertanya menjadi yang ditanyai. Jadi, makna penderitaan itu tergantung pada sikap yang benar terhadap penderitaan.

Untuk melampaui mengingat dan melupakan negativitas, diakhir buku ini Hardiman menggunakan diskursus detraumatisasai. Detraumatisasi merupakan “tindak merelakan”. Sedang merelakan adalah melampaui mengingat dan melupakan. Memaafkan adalah bertindak, yang menurut Arendt “memulai sesuatu yang baru, lahir kembali”, yakni membiarkan lewat itu yang lewat. Detraumatisasi harus dimulai dengan “askese duniawi”. Fritz Leist memandainya dalam tiga latihan; diam (Schweigen), ketenangan hati (Sammlung) dan merelakan (Verzicht) (hlm. 174). Diam adalah “das Hören in der Stille” (mendengarkan dalam kesunyian).

Berpijak pada metafisika Martin Heidegger dalam buku Discourse on Thinking, 1969 (diskursus tentang berpikir) bahwa Gelassenheit (ketenangan) terjadi melalui berdiam dalam kesunyian. Namun, Heidegger memakai kata kuno Gelassenheit zu den Dingen yang mengacu pada Meister Eckhart tentang “membiarkan dunia berjalan dan menyerahkan diri kepada Allah”.  Sehingga askese untuk diam dan pengumpulan diri berkaitan dengan sesuatu yang dasariah yaitu kerelaan. Kerelaan berarti membiarkan sesuatu itu berjalan sebagai yang lewat.

Buku ini merupakan “resonansi” dari riset disertasi Hardiman tentang massa dan penaklukan totaliter yang diselesaikannya di München Jerman tahun 2001. Disertasi itu lengkapnya berjudul Die Herrschaft der Gleichen. Masse und totalitäre Herrschaft. Eine kritische Überprüfung der Texte von George Simmel, Hermann Broch, Elias Canetti und Hannah Arendt (Peter Lang Verlag, Frankfurt a.M., 2001). Buku yang anda baca ini adalah catatan refleksi tentang keringat dan darah para korban, kaum survivors di negeri ini.

Sayangnya, itu semua merupakan bunga rampai yang tersiar di beberapa media dan ceramah-ceramah Hardiman. Sebagaimana kata Taufik Abdullah menyebut bunga rampai tulisan sebagai “non- book book” (buku yang bukan buku). Tetapi itu tidak berarti mengurangi ketajaman Hardiman memotret setiap negativitas pengalaman manusia. Pembaca justru dibantu secara perlahan-lahan merefleksikan diri bahwa setiap kita memungkinkan satu roda gigi mesin raksasa penghancur bekerja. (*)

JUDUL            : Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma

PENULIS         : F. Budi Hardiman

PENERBIT      : Buku Kompas, Jakarta

CETAKAN      : 1, Oktober 2005

TEBAL            : xIiv + 222 halaman

______________________________________

*) Ahmad Jauhari,mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta; Founder Jivaloka Cakra Pustaka

 

Buku

Menggali Makam bagi Bangkai Puisi

mm

Published

on

Di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya?

Damhuri Muhammad *)

Saya agak terlambat membaca Kuburan Imperium (2019) buku puisi terkini Binhad Nurrohmat. Khusus pada Binhad, perlu saya tegaskan bahwa keterlambatan itu saya sengaja. Karena hingga saat ini, saya masih sukar menerima kegemaran baru dalam jelajah tematik puisinya; Kuburan.  Saya mengenal Binhad bukan sebentar belaka.  Kekariban kami sebagai sesama pengarang yang mengadu peruntungan di Jakarta,  telah berlangsung sejak 13 tahun silam. Rentang 2005-2011 adalah masa paling intens saya berinteraksi dengan Binhad. Obrolan tak sudah-sudah perihal sastra, yang tentu kami lakukan dalam ikhtiar mengasah keterampilan menulis esai, menggarap sekian banyak peristiwa diskusi, workshop penulisan, hingga survei pembaca sastra, di Komunitas Bale Sastra Kecapi. Termasuk di sela-selanya, membincang gosip-gosip di seputar politik sastra, dan tak ketinggalan tentang pengalaman-pengalaman Binhad bersama seorang biduanita, selepas ia berkunjung ke sebuah Bar Dangdut, di bilangan Jakarta barat.

Sebagai pendatang baru di Jakarta, saya kerap berkhidmat sebagai teknisi komputer dadakan yang siap sedia bila sewaktu-waktu Personal Computer (PC) jadul milik Binhad bermasalah. Kadang-kadang dari situlah obrolan kami bermula. Lantaran saat mengotak-otik  file system komputer Binhad, saya menemukan banyak draft puisi, esai telaah, termasuk paper yang pernah dipaparkan dalam banyak peristiwa bedah buku. Lantaran tak terlalu berdisiplin dengan data back-up, saya berkali-kali mendengar Binhad berdoa, agar PC-nya sembuh seperti sediakala¾tentu setelah disentuh oleh tangan dingin saya¾lalu semua tulisannya terselamatkan.  Dalam banyak obrolan kami di masa itu, kadang-kadang bergabung pula penyair Chavchay Saifullah, cerpenis produktif Teguh Winarsho AS, dan esais Imam Muhtarom. Tapi dari semua teman pengarang yang rata-rata seusia itu, kawan yang paling riang gembira hidupnya, adalah Binhad. Masa itu Binhad sibuk menguliti imaji ketubuhan dalam puisi-puisinya, hingga lahirnya kumpulan Kuda Ranjang (2004)  yang sempat menggemparkan itu, dan disusul oleh Bau Betina (2007).

Saya tahu betul bagaimana proses kreatif Binhad berlangsung. Betapa gandrungnya ia menggunakan tubuh sebagai perkakas puitik.  Tubuh yang jorok, tubuh yang berlendir, tubuh yang mengundang hasrat, hingga tubuh yang melawan dengan cara bertelanjang, yang digarap Binhad, bagi saya adalah sebuah pertanda dari sidik jari kepenyairan yang hedon alias bermewah-mewah dengan realitas keduniawian. Sikap kefilsafatan Binhad waktu itu adalah imanensi, dan dalam menggarap puisi ia sama sekali tak menyentuh ihwal transendensi. Tapi kemudian Binhad menghilang dari Jakarta, lalu suaranya terdengar dari kejauhan. Ia pindah ke Jombang, dan menegaskan sebuah kegemaran baru: Bermain di kuburan.

Penulis : Binhad Nurrohmat Penerbit : DIVA Press Tahun terbit : 2019 ISBN : 978-602-391-767-9 Halaman : 120

Saya sulit menerima kenyataan itu, karena saya membaca sebuah isyarat bahwa Binhad mungkin akan menjadi penyair yang berusia pendek, seperti Chairil Anwar. Saya ingat, sebelum Chairil meninggal, ia telah meramalkan kematiannya dengan puisi bertajuk Yang Terampas dan Yang Putus  (1949), di mana terselip sebuah kalimat berbunyi;  Di Karet, Karet, Daerahku yang Akan Datang. Sampai juga deru angin. Semua orang tahu, “Karet” adalah nama pemakaman yang beberapa waktu kemudian menjadi pusara Chairil Anwar. Saya ingin Binhad berumur panjang!

Maka, saya membaca Kuburan Imperium, bukan sebagai ikhtiar Binhad menggali kuburan bagi jenazahnya sendiri, tapi bermaksud hendak memakamkan bangkai-bangkai puisi. Seolah-olah, makhluk bernama puisi itu akan lebih mati saja,  dipancangkan sebagai situs, lalu kelak para pembaca akan rutin menziarahinya. Itulah sebabnya, buku Kuburan Imperium itu tersusun dari sub-sub bab yang dinamai dengan situs. Tak tanggung-tanggung, Binhad menggenapi bukunya dengan 5 Situs,  yang mengingatkan saya pada 5 Sila Pancasila¾semoga belum menjadi bangkai¾dengan corak puisi yang berbeda-beda.

Binhad membangun semacam amsal yang tak lazim tentang masa depan puisi dengan waktu kematian  yang selama ini dianggap sebagai titik henti pusaran tarikh manusia. Bila bagi banyak orang, mati adalah waktu yang khatam, bagi Binhad, kematian jutru masa depan. Dengan begitu, sebuah tarikh baru saja bermula. Masa silam tak hanya berhenti di belakang/masa depan menyimpan yang belum terjadi, demikian kutipan puisi berjudul  “Masa Depan Semua Orang.” Dalam frasa “masa depan” itu  saya merasa “kematian” atau katakanlah fase berpindahnya jasad dari alam lapang ke alam kubur, terkandung di dalamnya. Manusia selalu menunggu/dan lupa di sepanjang usia/yang berguguran dan pucat/di sebujur mayat. Demikian pula kiranya puisi, begitu ia terkapar sebagai bangkai, atau setidaknya diperlakukan sebagai bangkai yang selekasnya harus dikuburkan, itu bukan titik akhir dari riwayatnya, melainkan titik awal dari kedatangannya di masa datang. Itu sebabnya puisi perlu dianiaya, disiksa sedemkian rupa,  terbujur mati, dikuburkan, menjadi situs, kemudian hidup dalam upacara-upacara ziarah.

Para almarhum boleh tak diziarahi, atau kuburannya ditimpa kuburan baru, hingga tak dapat dikenali lagi di titik mana jenazahnya dikebumikan, tapi tidak begitu dengan puisi. Semakin dikuburkan,  semakin mungkin dikenang, semakin mungkin di-situs-kan. Banyak orang mungkin lupa dengan ciri-ciri fisik kekasih yang mati muda, tapi bahasa cinta yang pernah diungkapkannya akan menjadi situs di kepala orang yang pernah mendengarnya. Ia tidak bisa musnah, meskipun sudah berkali-kali dikhianati atau didustai. Dengan begitu, kuburan puisi sejatinya bukanlah di liang lahat, sebagaimana kuburan para penyair melahirkannya, melainkan di dalam liang kesadaran para penikmatnya.

Lalu, di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya? Bahasa akan membusuk dalam pikiran yang mati,  kata Binhad dalam puisi “Kuburan Bahasa.” Sepanjang bahasa bermukim dalam pikiran yang hidup, ia tak bisa mati! Pikiran yang hidup itu, salah satunya dapat ditemukan di ruang kepenyairan.

Buku yang terhimpun dalam 5 Situs ini mengandung obsesi penyair yang hendak menguburkan karya-karyanya, hingga kelak beralih-rupa menjadi situs-situs yang diziarahi. Tentang sikap kepenyairan seperti, saya ingat kisah pendek dalam khazanah sastra klasik Tiongkok. Adalah Yu Gong, atau yang kerap dijuliki “Si Kakek Dungu,”  yang terobsesi hendak memindahkan dua gunung di hadapan tempat tinggalnya, lantaran kedua gunung itu menghalangi keluarganya dan juga penduduk kampungnya untuk bepergian ke kota. Saban hari, ia bersama anak-cucunya, menggali tanah di sekitar gunung itu, dan berharap kelak kedua gunung itu bisa diangkat bersama-sama, dipindahkan ke tempat lain. Tak terhitung banyaknya orang yang melecehkan kedunguan Yu Gong, tapi kegigihannya menggali, dan kepiawaiannya meyakinkan orang-orang kampung untuk terus menggali dan menggali, akhirnya membuat para dewa terharu. Dua dewa turun ke bumi, lalu memindahkan dua gunung itu dalam sekejap mata.

Demikian pula kiranya kesulitan menggali pusara guna memakamkan puisi. Umat pembaca puisi yang makin lama makin berkurang jumlahnya, tentu kepayahan menggali liat lahat bagi timbunan bangkai-bangkai puisi, tapi berkat kegigihan penyair, dan upaya kerasnya dalam merawat pembaca buku-buku puisi, saya kira juga akan membuat dewa-dewi di kahyangan bakal terharu. Kelak, akan diturunkan pula dua dewi dari langit ketujuh. Binhad tentu akan sangat berbahagia, karena saya membayangkan, dua dewi yang kecantikannya sedemikian menakjubkan itu adalah reinkarnasi dari dua biduanita, spesialis goyang ngebor, di Café Dangdut idola masa lalu kami. Mari bergoyang, sambil menggali makam bagi puisi…  (*)

*) Damhuri Muhammad: Cerpenis dan Esais, Board of Editors Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Meneroka Cinta yang Dikomodifikasi

mm

Published

on

Oleh: Triyo Handoko

“Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari

Tanpa dicari kekasihnya.

Apabila kilat cinta menyambar hati yang ini

Ketahuilah bahwa cinta telah menyambar hati yang lain”—Rumi

Hidup adalah cinta itu sendiri. Tak heran kemudian banyak produk kebudayaan, seperti: musik, film, atau sastra membicarakan cinta. Eric Fromm menyadari karena hidup adalah cinta maka cinta mengikuti corak perkembangan hidup itu sendiri. Melalui pisau analisis psikoanalisis-marxis, Eric Fromm menghadirkan cinta yang abstrak “melangit” tak berbentuk menjadi “membumi” mudah dipahami sebagai seni.

Implikasi dari cinta sebagai seni adalah bisa dipelajari dan kemudian diperaktikan. Buku ini bukan buku seperti halnya buku panduan memasak, memperbaiki komputer atau memelihara hewan peliharaan. Cinta sebagai sesuatu yang hidup dan terus bergerak diperlukan pengahayatan yang jernih untuk memahaminya. (more…)

Continue Reading

Buku

Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

mm

Published

on

Adania Shibli via https://lithub.com

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta.

___
Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012. (p) Marlina Sopiana (e) Sabiq Carebesth

 

Jika novel pertamanya Touch tak cukup meyakinkanmu, karya kedua Adania Shibli We Are All Equally Far from Love membuktikan talentanya yang langka dan menantang. Buku ini bukanlah karya yang mudah ataupun menyenangkan untuk dibaca, tapi merupakan karya yang luar biasa yang menjalin bersama melankolia, keindahan, kekerasan, dan penggambaran fisik yang kasar dalam renungan yang panjang tentang cinta dan kesepian.

Bahkan lebih ekstrem dari Touch, buku ini bisa dikatakan sebagai novel hanya dalam klasifikasi yang sangat lemah. Buku ini tak memiliki narasi ataupun plot yang umum; cerita-cerita pendek dan sketsa-sketsa di dalamya hampir tak berkaitan satu sama lain kecuali dalam beberapa momen yang mengisyaratkan kesinambungan. Satu nama karakter kurang favorit yang menjadi korban, misalnya, muncul dalam percakapan-percakapan santai di beberapa cerita yang mengungkapkan bahwa dia telah bunuh diri.

Sejumlah referensi lainnya bahkan lebih samar; apakah pohon kenari yang menggantung pada dinding di mana sesosok karakter jalan melewatinya merupakan pohon yang sama dengan pohon kenari yang tumbuh di kebun milik orang lainnya? Pembaca pasti terus bertanya-tanya tentang pertautan antar orang dalam kisah-kisah ini, apakah mereka menggambarkan sejumlah aspek kehidupan dalam satu komunitas yang saling berkaitan ataukah sepnuhnya terpisah, kecuali tentang pengalaman mereka tentang penderitaan. Di mana kisah ini terjadi juga tak begitu jelas; hanya sebuah cerita menunjukkan hal ini, mengingat pekerjaan seorang karakter di sebuah kantor pos yang berkaitan dengan menangani “surat-surat yang dialamatkan ke … ‘Palestina,’ yang alamatnya mesti dia hapus dan menggantinya dengan ‘Israel,’”(20). Satu catatan tentang keluarga sang karakter yang mengatakan “meskipun Kakeknya merupakan pejuang revolusi, dan terbunuh tahun 1948, Ayahnya seorang kolaborator” (10).

We Are All Equally Far From Love| ISBN: 9781566568630 | Paperback: 148 pages | Publisher: Clockroot Books, 2011 | Language English. Adania Shibli, born in 1974 in Palestine, is two-time winner of the Qattan Foundation s Young Writer s Award for this and her acclaimed novel Touch. ‘We Are All Equally Far From Love’ revolves around a young woman who begins an enigmatic but passionate love affair conducted entirely in letters. But suddenly the letters no loners arrive. Perhaps they are not reaching their intended recipient? Only the teenage Afaf, who works at the local post office, would know. Her favorite duty is to open the mail and inform her collaborator father of the contents until she finds a mysterious set of love letters, apparently returned to their sender.

Suasana yang menguasai We Are All Equally Far from Love bukanlah perasaan yang menggembirakan. Sebab bagi satu karakter, “semuanya dalam hidupku terasa monoton. Aku tak lagi peduli tentang apa pun… Semuanya menuju kematian, tanpa ada yang bisa menghentikannya” (3,9). Karakter lain meratapi hidupnya sebagai “pecundang,” menyembunyikan kegagalan-kegagalan dari keluarganya. Sebab yang lain-lainnya, ketakterhubungan meluap menjadi kekerasan, baik yang berupa fantasi-“Aku akan membunuhnya. Tanpa membunuh Ayahku. Sehingga dia akan sama menderitanya seperti aku dibuatnya…Dia selalu saja begitu, Ibuku. Apapun yang kulakukan akan mendorongnya ke batas di mana dia berharap tak pernah melahirkanku” (94,98) – ataupun yang nyata, seorang Ayah dengan santai melempar sepatu ke kepala anak perempuannya saat sang anak melawan perkataannya.

Yang paling mengerikan, sebuah pertunjukkan pelecehan oleh seorang yang ditolak cintanya memuncak pada mesin penjawab pesannya yang berbunyi: “Suaranya tenang, dalam, jelas, dan mungkin dia tersenyum … Dia berujar bahwa dia akan memperkosanya, dan dengan suara yang makin dalam dia menambahkan bahwa inilah satu-satunya cara agar dia bisa memuaskan nafsunya” (76).

Realitas yang mengherankan

Sebagaimana dengan novel pertamanya, pengamatan tajam Shibli atas detail-detail fisik yang minor menimbulkan keheranan, kadangkala membuat mual, itulah realitas dunia bagi karakter-karakternya. Seorang perempuan berkubang dalam bau yang muncul dari tubuhnya dan dari muntahan yang mengering di lantai, menggambarkan kehancuran moral dan emosional dari keluarganya yang terfragmentasi (103), sementara “bunyi berderit dari kakinya yang memakai sandal plastik memenuhi telingaku. Suaranya mengingatkanku akan bunyi-bunyian yang muncul pada saat berhubungan seksual, yang membuatku menghapus gagasan untuk masturbasi dari agenda hari ini” merefleksikan ambivalensi status seks dalam dunia Shibli (99).

Penggambaran tajam yang menyakitkan ini berlanjut ke dalam dunia internalnya, mengakui sejumlah pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan memalukan yang seringkali menyertai kekacauan emosional, mulai dari pengakuan blak-blakan “baru kemudian aku mengerti bahwa aku melihat semuanya agar dapat menulis padanya tentang hal itu” (1) hingga kehampaan seorang perempuan yang mencoba melepaskan dirinya dari hubungan yang tak diinginkan: “Dia ingin perjumpaannya menjadi seperti perkawinan yang sembunyi-sembunyi” (71).

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta. Mandi dan mencintai, memasak dan mencintai. Mengemudikan mobil dan mencintai” (33). Seorang pria yang terperdaya berkisah tentang kekasihnya “punggungnya seperti buah peach di puncak musim panas” (62) dan bahkan salah satu peristiwa yang paling menakutkan dalam buku ini terjadi dalam latar “malam yang hangat dan kegelapan yang pekat, terutama di balik pohon-pohon zaitun” (77).

Baca Juga: Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

Kecerdikan yang tak biasa

Senjata lain Shibli untuk menghindari kesengsaraan yang berlebih-lebihan adalah kecerdikannya yang tak biasa, seringkali diperuntukkan – sebagai pasangan sebuah buku yang kejujurannya begitu blak-blakan- pada apa saja, menghantam segala kedangkalan dan kepura-puraan. Di dinding sebuah kantor pos dia mendeskripsikan “sebuah lukisan kepala negara, yang tak lebih kotor dari benderanya, karena demokrasi memaksanya mengganti mereka dari waktu ke waktu” (19). Dari layanan pos yang sama: “Sangatlah wajar bagi penduduk lokal bahwa surat-surat mereka sampai di tangannya dalam keadaan terbuka. Jika sebuah surat sampai dalam keadaan tersegel, mereka mengatakan itu karena kantor pos masih memiliki lem perekat, yang sebentar lagi pasti habis” (20). Tentang seorang pemuda yang mencari pasangan pengantin, dia mengamati “bergandengan, dia dan mangsanya memulai perjalanan tak berkesudahan menuju kebosanan” (18), sementara melalui penggambaran yang sangat mengena tentang sebuah keluarga yang hidup dengan perasaan saling membenci, dia mendeskripsikan “belantara furnitur-furnitur tak terpakai yang digunakan kakak iparku untuk menghidupi dunianya” (112).

Di tangan pengarang yang tak lebih berbakat dari Shibli dan penerjemah yang kurang terlatih dari Paul Starkey, buku ini bisa saja menjadi sebuah nyanyian penguburan penuh kecemasan. Tetapi melalui ketangkasannya dalam menangkap keindahan dan lelucon bersamaan dengan penderitaan dan isolasi, coraknya yang beragam dan perubahan suasananya, buku ini menjadi sebuah eksplorasi kedalaman jiwa manusia yang suram, sukar, melelahkan tapi tentu saja melegakan.

*) Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending