Connect with us

Buku

Menyelami dan Melampaui Negativitas

mm

Published

on

Oleh: Ahmad Jauhari *)

Baru-baru ini, ledakan hebat mengguncang Kosambi di Tangerang. Pabrik petasan itu meledak. Di belahan Indonesia Timur, gunung Agung di Bali dalam situasi gawat. Ribuan orang mengungsi. Bila direnungkan, bangsa ini adalah tuan rumah fenomenologi peristiwa-peristiwa negatif: pembantaian tragis 1965, konflik bersenjata di Aceh, tragedi Mei 1998, bom Bali 2002, tsunami Aceh Desember 2004, gempa Yogyakarta Mei 2006, tenggelamnya KM Levina 1 2006, gempa Padang 2009, dan yang baru-baru ini, ledakan pabrik minyak di Lamongan, dan seterusnya. Peristiwa-peristiwa itu merupakan jejak-jejak dari negativitas pengalaman manusia.

Buku ini mendiskusikan  tentang “pengremangan kesadaran” sebagai sesuatu yang tidak nyaman untuk dibicarakan termasuk hal-hal negatif di dalam kehidupan bersama, yakni kehidupan yang hancur yang secara sosial-politis berarti runtuhnya solidaritas, pengejaran oposisi dan minoritas, merebaknya kekerasan massa, teror, terlantarnya rakyat dan luka-luka yang tetap basah tak tersembuhkan.

Hal-hal ini tetap tinggal sebagai hantu-hantu atau pengalaman-pengalaman negatif manusia. Buku ini berbicara secara fenomenologis tentang kerusakan-kerusakan sosial dan moral yang diwariskan oleh Orde Baru dari sudut pandang radikal, yaitu—dalam arti etimologis kata Latin itu—menelusuri sampai ke “radix” (akar) kerusakan-kerusakan itu. Di tengah-tengah lirihnya nasehat-nasehat moral, F. Budi Hardiman dalam buku ini lebih memilih pendekatan deskriptif (filsafat politik) dari pada analisis normatif (etika politik) untuk memahami kerusakan mental sampai ke palung terdalam dari relung-relung jiwa (psikologi politik).

JUDUL : Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma PENULIS : F. Budi Hardiman PENERBIT : Buku Kompas, Jakarta CETAKAN : 1, Oktober 2005 TEBAL : xIiv + 222 halaman

Sebelum memperjuangkan demokrasi, kiranya lebih bijaksanalah jika lebih dahulu diteliti kendala-kendala atau patologi-patologi mental menuju demokrasi. Massa, teror, dan trauma adalah pengalaman-pengalaman negatif yang selalu membayangi proses demokrasi, dan ancaman itu semakin besar seiring dengan bertambah banyaknya mereka yang termarginalisasi dalam proses globalisasi pasar dewasa ini. Dalam wacana demokrasi dan diskursus negara hukum modern, bertolak dari “pencerahan kesadaran” sebagai ekspresi kebebasan dan perbedaan individualitas manusia. Negativitas pengalaman manusia, mendasarkan diri pada wilayah “pengremangan kesadaran”, sebagai ancaman demokratisasi.

Istilah “negativitas” dalam buku ini dipakai sebagai “metafor” bagi semua deskripsi, analisis dan kritik dari keseluruhan gagasan. Kata “negativity”, dalam bahasa Inggris sebagai “negative attitude” atau “sikap negatif”, sementara  “negative” diartikan sebagai “hamful” atau “merusak” (hlm. xix). Sikap agresif dan destruktif jelas termasuk dalam kategori ini.

Namun, negativitas dipahami sebagai sesuatu yang melampaui “sikap atau “perilaku”, yaitu sebagai sesuatu yang memungkinkan sikap, perilaku dan pengalaman negatif itu sendiri.  Negativitas bukanlah sesuatu yang netral. Dia juga bukan ketiadaan atau titik nol melainkan sesuatu, yakni sesuatu yang tidak didefinisikan dari dirinya sendiri akan tetapi dari efek yang ditimbulkannya. Eksistensi negativitas dapat dipersepsi dalam kenyataan bahwa ia tidak membuat sesuatu itu “hilang”, melainkan “kurang”. Negativitas adalah sisi ‘yang lain’ (the other) dari jiwa manusia.

Akar Kekerasan Massa

Fenomena kekerasan massa yang semakin marak akhir-akhir ini menurut George Simmel, diproyeksikan oleh heterofobia (takut akan ‘yang lain’). Heterofobia berasal dari otofobia (takut akan diri sendiri). Dalam filsafat yang abnormal dirumuskan dalam konsep “the other” (Inggris), “l’ autri” (Prancis) atau “das Andere” (Jerman), dan “yang lain” dalam terjemahan bahasa Indonesia. Yang lain, menduduki posisi negativas, karena dianggap berbahaya dan harus diberangus. Sebab yang lain ditatap jauh diseberang sana.

Padahal “yang lain” itu justru mengeram di palung terdalam individualitas manusia. Tidak sekedar penampakan wajah (face) ‘yang lain’ sebagai ‘yang lain’ hadir dengan selubung tabir ideologi. Namun juga, wajah seram yang dihadapanku hadir secara terus-menerus. Kehadiran itu “mengharuskan” subyek mengelak dan berpaling bahkan kalau perlu ‘yang lain’ itu dimusnahkan, agar tidak menggerogoti eksistensi subyek. Maka pembrangusan dan pengejaran terhadap yang berlainan sebagai minoritas merupakan tanda keruntuhan solidaritas.

Di zaman Orde Baru (Orba) hancurnya solidaritas pada kehidupan bernegara berpengaruh terhadap masyarakat setelahnya. Maka negara bagi Hannah Arendt, dalam Vita Activa, 1996 (The Human Condition) adalah wadah ekspresi kemajemukan dari ketunggalan. Dalam kediktatoran tak ada lagi negara sebab represi, agresi dan dominasi (Herrschaft) akan menghancurkan kemajemukan dalam ketunggalan. Kediktatoran bukanlah sekedar intervensi publik ke dalam yang privat melainkan “kolonisasi” ruang publik oleh yang privat. Kolonisasi atas ruang publik itu terjadi manakala para konglomerat berkongkalikong dengan kekuasaan politis atau juga agama dalam komando kementrian agama. Republik dalam kondisi semacam itu kehilangan esensinya, dan teror justru bertolak dari penguasa sebagai ‘pelaku’ destruktif.

Histerisitas massa pada teror dan kekerasan massa disorot dari ‘prespektif pelaku’, meminjam ungkapan Hermann Broch dalam buku Massenwahntheorie, 1979 (teori kegilaan massa) ditimbulkan dari ketidakmampuan untuk menegaskan diri yang mendapatkan energi dengan cara tindakan kolektif yang dektruktif. Dalam kekerasan massa ‘pelaku’ kekerasan justru mengalami penumpulan tidak hanya perasaan melukai para korban tetapi juga sirna rasa bersalah atas perilaku kekerasan. Lenyaplah daya serap moralitas dan akal sehat kehilangan “otoritasnya”.

Secara struktural, akar-akar kekerasan massa dalam teori tindakan kolektif Veit Michael Bader (sosiolog Jerman) berpangkal dari disparitas sosial yang terbentuk lewat interaksi sosial. Negativitas dilihat sebagai signal dari kebuntuan komunikasi dan bentuk perjuangan untuk meraih kesamaan dan keadilan. Macetnya komunikasi merupakan resonansi perubahan manusia dari “personalitas” menjadi “massa”.

Disorot dari psikologi politik (mental), kebuntuan komunikasi yang memproduksi kekerasan secara epistemologis dimengerti sebagai proses pengenalan manusia. Artinya, tindakan kekerasan itu sudah terkondisi di dalam struktur pikiran manusia. Hal itu mengacu pada dua hal; pertama, pengenalan atas manusia berarti mengandung momen dominasi sebab mengenali berarti mendefinisikan. Kekerasan itu semakin melar eksistensinya jika yang didefinisikan tak mampu mendefinisikan dirinya sendiri dan tunduk pada “institusi” di luar dirinya. Kedua, pengenalan atas manusia lain diawali dengan stereotipikasi bahwa orang lain dimengerti sebagai kelompok dan bukan sebagai individu. Dalam situasi konflik stereotipikasi yang netral menjadi destruktif (George Simmel). Kekerasan massa pada taraf antropologis berpangkal dari rasa panik dan kebutuhan akan ekstasis (Hermann Borch), dan posisi sosiologis kekerasan massa itu dilahirkan dari proses atomisasi individu secara struktural dalam masyarakat kapitalis (Hannah Arendt).

Kekuasaan (dalam masyarakat kapitalis) menghasilkan kepatuhan. “Bila orang menelusuri sejarah umat manusia yang panjang dan kelabu,” demikian kata C.P. Snow, “orang akan menemukan bahwa lebih banyak kejahatan yang menjijikkan, dilakukan atas nama kepatuhan daripada atas nama pembangkangan”. (hlm. 115). Realitas kepatuhan inilah yang mengilhami Elias Canetti dalam Masse und Macht 1995, merumuskan konsep Verwandlung (metamorfosis\mimesis). Tubuh menampakkan egonya sebagai sesuatu yang meniru gerakkan mesin. Maka destruksi massa merupakan bentuk disiplinasasi tubuh. Disiplinisasi tubuh (docile bodies) adalah elemen penting pemerintahan otoriter sebab hal itulah tenaga praksis destruksi moral dan sosial.

Adalah Viktor E. Frankl dalam konsep logoterapi memandang negativitas dari ‘prespektif korban’. Ia bergumul dengan persoalan makna hidup yang dilontarkan pasiennya. Lebih jauh ia tidak hanya memasuki persoalan makna hidup melainkan juga mengais “makna penderitaan” (termasuk derita para korban). Manusia berbahagia dengan menemukan kehidupannya. Demi menemukan makna itulah, jika perlu, manusia siap untuk menderita. Manusia menurut Frankl memiliki “den Willen zum Sinn” (kehendak-untuk-makna). Konsep ini didasarkan atas pengalaman Frankl sendiri sebagai tawanan di tiga kamp konsentrasi (yaitu Dachau, Bauchenwald dan Auschwitz). Penderitaan akan bermakna jika fokus hidup kita tidak berpijak pada apa yang diharapkan dari hidup ini melainkan bertolak pada apa yang dapat diharapkan oleh kehidupan darinya. Berpindah dari yang bertanya menjadi yang ditanyai. Jadi, makna penderitaan itu tergantung pada sikap yang benar terhadap penderitaan.

Untuk melampaui mengingat dan melupakan negativitas, diakhir buku ini Hardiman menggunakan diskursus detraumatisasai. Detraumatisasi merupakan “tindak merelakan”. Sedang merelakan adalah melampaui mengingat dan melupakan. Memaafkan adalah bertindak, yang menurut Arendt “memulai sesuatu yang baru, lahir kembali”, yakni membiarkan lewat itu yang lewat. Detraumatisasi harus dimulai dengan “askese duniawi”. Fritz Leist memandainya dalam tiga latihan; diam (Schweigen), ketenangan hati (Sammlung) dan merelakan (Verzicht) (hlm. 174). Diam adalah “das Hören in der Stille” (mendengarkan dalam kesunyian).

Berpijak pada metafisika Martin Heidegger dalam buku Discourse on Thinking, 1969 (diskursus tentang berpikir) bahwa Gelassenheit (ketenangan) terjadi melalui berdiam dalam kesunyian. Namun, Heidegger memakai kata kuno Gelassenheit zu den Dingen yang mengacu pada Meister Eckhart tentang “membiarkan dunia berjalan dan menyerahkan diri kepada Allah”.  Sehingga askese untuk diam dan pengumpulan diri berkaitan dengan sesuatu yang dasariah yaitu kerelaan. Kerelaan berarti membiarkan sesuatu itu berjalan sebagai yang lewat.

Buku ini merupakan “resonansi” dari riset disertasi Hardiman tentang massa dan penaklukan totaliter yang diselesaikannya di München Jerman tahun 2001. Disertasi itu lengkapnya berjudul Die Herrschaft der Gleichen. Masse und totalitäre Herrschaft. Eine kritische Überprüfung der Texte von George Simmel, Hermann Broch, Elias Canetti und Hannah Arendt (Peter Lang Verlag, Frankfurt a.M., 2001). Buku yang anda baca ini adalah catatan refleksi tentang keringat dan darah para korban, kaum survivors di negeri ini.

Sayangnya, itu semua merupakan bunga rampai yang tersiar di beberapa media dan ceramah-ceramah Hardiman. Sebagaimana kata Taufik Abdullah menyebut bunga rampai tulisan sebagai “non- book book” (buku yang bukan buku). Tetapi itu tidak berarti mengurangi ketajaman Hardiman memotret setiap negativitas pengalaman manusia. Pembaca justru dibantu secara perlahan-lahan merefleksikan diri bahwa setiap kita memungkinkan satu roda gigi mesin raksasa penghancur bekerja. (*)

JUDUL            : Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma

PENULIS         : F. Budi Hardiman

PENERBIT      : Buku Kompas, Jakarta

CETAKAN      : 1, Oktober 2005

TEBAL            : xIiv + 222 halaman

______________________________________

*) Ahmad Jauhari,mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta; Founder Jivaloka Cakra Pustaka

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Budaya

Mengembalikan Kedigdayaan Maluku

mm

Published

on

Tak ada yang memungkiri, Tiongkok merupakan penguasa ekonomi awal abad XXI. Bahkan, tingkat pertumbuhan Tiongkok merupakan yang tertinggi kedua di dunia. Tiongkok dapat mengancam kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat (AS). Padahal, hingga akhir abad XX AS merupakan penguasa ekonomi dunia, jauh meninggalkan Tiongkok.

Tak pelak, pencapaian yang diraih Tiongkok menimbulkan persaingan dengan AS. Bahkan, untuk menahan laju perekonomian Tiongkok, AS membangun jalur perdagangan transpasifik Trans Pacific Partnership (TPP) pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama 2009 lalu. Sedangkan, Tiongkok, membangkitkan kembali jalur sutera yang pernah dirintis oleh pedagang-pedagangnya pada awal masehi, untuk kembali menguasai perekonomian dunia.

Lalu di manakah posisi Indonesia? Sebagai negara yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia dapat masuk dalam kedua kutub persaingan dua jalur perekonomian dunia. Tapi apakah Indonesia harus memilih salah satu diantaranya atau Indonesia dapat membuat poros baru perdagangan dunia?

Melalui buku ini, Komarudin Watubun mencoba menawarkan sebuah gagasan agar Indonesia untuk dapat membuat poros perekonomian dunia yang baru? Di mana, bagaimana, dan mengapa, Indonesia mesti membangun poros perekonomian itu?

Komarudin menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad XXI. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa harus Maluku? Kenapa poros perdagangan dunia tidak dimulai di bagian Barat Indonesia yang sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dibandingkan wilayah Timur Indonesia seperti Maluku?

Secara umum, buku ini terdiri atas tiga bagian yakni kondisi Maluku dan Indonesia saat ini, sejarah Maluku, dan strategi untuk mewujudkan Maluku sebagai pusat perekonomian Indonesia dan dunia. Penulis mengungkapkan empat tesis untuk memperkuat alasan pemilihan Maluku menjadi titik perdagangan Indonesia dan dunia.

Pertama, tentu nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara sejak abad XII hingga abad XX. Layaknya Tiongkok yang membangkitkan kembali jalur sutera, sejarah semestinya tidak menjadi benda mati dan hanya menjadi pelajaran menghafal di sekolah. Sebab, dalam perjalanan sejarah nusantara, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri. Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya.

Dalam catatam sejarah, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI. Bahkan, selama abad XVI—XVIII Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritim dunia, inovasi, dan revolusi sistem keuangan dan korporasi global pertama kali di dunia (hlm.247).

Bahkan, karena kekayaannya, Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut bahkan  menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

Judul Buku : Maluku, Staging Point RI Abad ke-21 Penulis : Komarudin Watubun Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Tahun Terbit : Cetakan I, November 2017 Tebal : vi + 431 halaman Harga : Rp.120.000

Namun, tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah Maluku, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa (hlm.274) Hal itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku.

Kedua, Geostrategis Maluku dan Indonesia. Posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura (hlm.129).

Ketiga, faktor mineral strategis Maluku. Maluku memiliki kekayaan alam selain rempah-rempah yaitu ladang gas Blok Masela. Blok Masela merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan. Cadangan gasnya mencapai 10,73 triliun cubic feet (tcf).

Selain itu, produk dari gas dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan (hlm.74). Bahkan, Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

Keempat, seleksi alam dan segitiga arus alam Maluku selama ini pada tiga tingkat global.  Secara historis ratusan tahun sejak pramasehi, kebutuhan masyarakat dunia dapat dipasok dari kawasan arus alam Papua, Maluku, dan Nusa tenggara Timur (NTT). Zona tersebut merupakan satu garis alam (hlm.395).

Pola hubungan alam zona-zona tersebut saling terkait, saling mendukung, dan saling melindungi. Oleh sebab itu, penerapan strategi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada zona tersebut akan perubahan signifikan dan bersamaan pada seluruh sektor yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan, dan perhubungan baik secara nasional maupun internasional.

Posisi Indonesia—terutama Maluku—yang sangat strategis semestinya dapat dijadikan untuk membangun poros perekonomian baru, bukan harus memilih antara jalur transpasifik AS dan jalur sutera Tiongkok. Tentu saja, pembangunan Maluku menjadi poros ekonomi baru Indonesia harus dapat menyejahterahkan rakyat Maluku dan Indonesia.

Sebab, hingga saat ini, dibalik kekayaan alam yang melimpah, Provinsi Maluku menjadi salah satu provinsi miskin di Indonesia. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang atau naik 10 ribu orang dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,03 juta. Dengan demikian, Provinsi Maluku menjadi daerah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi (TPT) dengan persentasi 9,29 persen.

Oleh sebab itu, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama pemerintah dan rakyat Indonesia khususnya Maluku. Bagi pemerintah, buku ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk membangun perekonomian yang berpihak pada rakyat. Sedangkan, bagi rakyat Maluku, buku ini mengingatkan agar kita tak lengah atau terlena dengan kekayaan alam yang dimiliki. Kita tentu tak ingin mengulangi kesalahan pengelolaan kekayaan alam yang kita miliki di Papua yang tak memberi dampak bagi rakyat Indonesia. Selain itu, buku ini banyak memiliki data-data yang sangat lengkap, baik data sejarah maupun data ekonomi dan geostrategis politik dunia.

Kita tentu tak ingin terus membenarkan sebuah adagium bahwa kekayaan alam suatu negara adalah kutukan. Kekayaan alam hanya menghasilkan konflik dan kemiskinan bagi sebuah negara. Kita tentu ingin membuktikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, sila kelima dalam pancasila bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah realitas dan keniscayaan bagi rakyat Indonesia.

*) Virdika Rizky Utama, Penulis dan Wartawan Majalah GATRA

Continue Reading

Milenia

Marlina dan Perlawanan Perempuan

mm

Published

on

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, film yang masih tayang di bioskop ini menghadirkan perempuan dan penindasan. Tokoh perempuan yang diceritakan dalam film ini merupakan sebuah upaya pembuat film dalam menyebarkan pesan keberanian. Film ini memuat semangat juang para perempuan yang akhirnya keluar dari penindasan yang mereka alami selama ini. Perempuan yang acap kali dicap sebagai sosok yang lemah berhasil dipatahkan lewat adegan demi adegan di film ini.

Marsha Timothy sukses memainkan karakter Marlina. Ini dibuktikan dengan penghargaan tingkat dunia yang berhasil ia gondol. Marlina digambarkan sebagai perempuan yang tidak cuma diam membisu saat dirinya diopresi oleh sekelompok laki-laki. Ia dengan gagah melawan perlakuan semena-mena dari para lelaki. Tidak mudah bagi Marlina untuk lepas dari cengkeram kuasa jahat para lelaki.

Marlina, seorang janda yang ditinggal mati suami dan anaknya harus rela rumahnya didatangi sekawanan pria. Gerombolan laki-laki itu menyatroni rumahnya dengan maksud mengambil hewan ternak kepunyaan Marlina sebagai pengganti hutang yang belum terbayar. Pada awalnya, Marlina menuruti permintaan demi permintaan para perampok dari mulai menyuruh dibuatkan minum, makan, hingga pasrah ketika sapi, babi, dan binatang lain miliknya digiring naik ke atas truk. Namun ia sangat cerdik rupanya. Ia telah membubuhi racun ke dalam makanan yang akan disajikan kepada para laki-laki tak tahu diri itu. Satu persatu para laki-laki itu tumbang dan tak berdaya dengan racun yang merasuki tubuh.

Tersisa tiga dari tujuh laki-laki yang belum meregang nyawa. Salah satunya Markus, pria berumur separuh abad ini merupakan yang tertua di antara rekan-rekan perampok. Markus tak sampai teracuni sup ayam buatan Marlina karena mangkuk supnya jatuh dan pecah. Peran pria uzur ini diperagakan oleh Egi Fedly. Nafsu birahi Markus tersalurkan dengan memperkosa Marlina. Sayangnya nasib malang tak dapat ditolak. Kepuasan Markus harus ditukar dengan hilang nyawanya. Marlina terus memberontak saat disetubuhi, hingga parang pun melayang menebas kepala Markus.

Perwujudan Perempuan yang Tampil Bertindak

Alur kisah dalam film ini pun berlanjut. Marlina yang mencari keadilan segera menuju ke kantor polisi. Kepala Markus yang sudah terpenggal ia tenteng ke mana-mana. Marlina tak gentar menuntut hukuman setimpal bagi para bandit yang masih hidup atas apa yang menimpa dirinya. Potongan tubuh Markus yang kadang kala membuntutinya pun tidak menyurutkan niat Marlina.

Marsha Timothy, Pemeran Utama Film “Marlina the Murderer in Four Acts”

Marlina sukses melampaui anggapan dari aliran feminism eksistensialis. Feminisme eksistensialis memandang perempuan sebagai jenis kelamin kedua atau the second sex yang mendefinisikan dirinya liyan. Sedangkan laki-laki melabeli dirinya sebagai Sang Diri. Ia ada untuk dirinya. Liyan bertugas melayani Sang Diri. Wanita disimbolkan sebagai objek yang dikuasi Diri atau subjeknya. Ada relasi kuasi superioritas dan inferioritas.

Marlina unggul pada tamatnya cerita, meski di permulaan sempat beradu dan tunduk sementara pada laki-laki. Penggiat feminism eksistensialis, Simone de Beauvoir menegaskan, dalam dunia patriarki, perempuan tidak bisa lepas dari jerat dunia laki-laki, perangkap ini merupakan tanda penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Para bandit-bandit sepertinya menerapkan pemikiran itu.

Bentang alam Sumba menjadi latar perjalanan Marlina ke polsek terdekat dari rumahnya. Film ini juga menggambarkan betapa ketersediaan sarana transportasi masih jarang di Sumba. Untuk mendapat tumpangan bus truk, warga harus menanti selama satu jam. Begitu pula Marlina. Bahkan ia harus menyambung perjalanannya dengan menunggangi kuda.

Fakta tersebut sangat kontras dengan mudahnya akses komunikasi, yang ditunjukkan dengan adanya interaksi antar tokoh yang sedang berkomunikasi lewat telepon seluler. Film ini pun tak sepenuhnya menikam penonton dengan terus-menerus meneror lewat bayangan seram dan berdarah-darah. Kejadian-kejadian menggelitik mengundang tawa dimunculkan lewat dialog khas Sumba.

Lagi-lagi, pemahaman mengenai perempuan  punya kekuatan untuk menantang sekaligus menentang ketakberpihakan yang menimpa ingin ditularkan kepada penonton dari film ini. Tokoh Mama dan Novi turut mengokohkan film ini sebagai propaganda agar perempuan jangan mau diinjak nasibnya oleh laki-laki.

Mama di sini diperankan sebagai wanita yang tak menampakkan rasa takut sama sekali meski melihat Marlina membawa kepala Markus tanpa dibungkus kain. Berbeda dengan penumpang lelaki yang justru ketakutan dan berusaha menghindar dari Marlina. Mama juga memiliki andil besar dalam perkawinan keponakannya. Ia ditugasi untuk segera mengirim tambahan kuda sebagai semacam mahar bagi ponakan laki-lakinya yang akan menikahi seorang perempuan. Adegan ini merefleksikan bagaimana laki-laki seolah-olah bisa menebus perempuan dengan harta sebagai penggantinya.

Novi, teman Marlina ikut menambah gambaran betapa kuatnya perempuan Sumba. Novi yang tengah mengandung 10 bulan ikut membantu Marlina dalam mengatasi kisruh dengan para bandit laki-laki. Novi bahkan tanpa ragu-ragu memenggal kepala Frans yang memerkosa Marlina pada babak akhir. Kondisinya yang sedang hamil besar tidak menghalangi langkahnya dalam menghadapi ulah para lelaki yang semena-mena, termasuk Umbu, suaminya. Setiap detil percakapan atau laku dalam film ini benar-benar mencerminkan usaha untuk memberi panduan kepada masyarakat tentang bagaimana memandang perempuan dan laki-laki secara setara. Status janda, kemiskinan, kehamilan, harta, pernikahan, pemerkosaan, dan aparat hukum merupakan sedikit dari banyak hal yang coba ditonjolkan lewat film ini.

Kehamilan perempuan begitu diatur sedemikian rupa oleh konstruksi pikiran masyarakat. Novi menanggung akibat dari masyarakat yang terlalu menyetir urusan reproduksi perempuan itu. Suami Novi menyimpan rasa ketidakpercayaan kepada Novi yang konon hamil sungsang, tak kunjung melahirkan. Umbu termakan hasutan masyarakat dan orang lain, daripada memilih yakin dengan istrinya.

Novi menyepakati kepercayaan yang dipegang para penganut paham feminism radikal. Feminisme radikal libertarian berprinsip bahwa orang lain tidak perlu mencampuri urusan reproduksi perempuan. Seksualitas adalah ranah pribadi yang tak usah diganggu oleh omongan masyarakat. Dominasi atas lingkup privat berarti pelanggaran yang lebih luas dan berbahaya hingga ke wilayah publik. Novi tak mengambil pusing dengan desas-desus orang-orang mengenai kehamilannya yang tak kunjung lahir. Baginya, tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Perempuan bebas menentukan apapun yang berhubungan dengan raganya termasuk urusan reproduksi dan kesehatan.

Marlina terpaksa mendapat kesialan yakni diperkosa karena status jandanya. Markus bahkan berujar, Marlina akan menjadi perempuan paling beruntung karena akan tidur bergilir dengan para lelaki. Kehebatan Marlina pun terpapar, ia tidak diam dan sanggup menampik perkataan Markus. Menyandang status janda sangat riskan saat hidup di masyarakat. Apalagi diperparah dengan perkosaan yang dilakukan Markus dan Frans. Penderitaan Marlina sungguh bertumpuk.

Aparat hukum pun lemah dan tak kunjung menyelesaikan aduan pemerkosaan yang dilaporkan Marlina. Polisi justru sibuk bermain ping-pong. Aparat kepolisian malah mengutarakan berbagai alasan seperti tidak ada kendaraan operasional, dan ketiadaan fasilitas kesehatan saat Marlina membutuhkan penuntasan dan pengusutan kasusnya segera.

Apa yang disuguhkan dalam film ini menunjukkan sebuah kegagalan dari sistem patriarki dan dampak buruk dari dominasi laki-laki. Perempuan yang terkena masalah kekerasan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga tampak dibiarkan saja. Perempuan dinilai pantas memeroleh itu semua dan tak berhak protes karena seperti itu garis hidupnya. Gejala yang mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat apabila praktik penindasan diabaikan tanpa penyelesaian.

Film ini juga mengulas secara satir bagaimana sarana sanitasi masih minim di daerah pedalaman. Novi dan Marlina terlihat dalam secuil adegan tengah kencing di padang sabana. Mereka seakan lumrah dengan kebiasaan tersebut karena memang terbatas fasilitas.

Akting para artis dalam film ini sangat memukau dan berkesan. Diputarnya film ini, diharapkan bisa mengembalikan kejayaan dunia sineas Indonesia. Dan semoga opresi terhadap perempuan bisa terhenti. Baik perempuan dan laki-laki sama-sama menyadari kedudukan mereka setara, tidak ada yang tinggi atau rendah. (*)

 

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Buku

Melawan Klise, Menghampiri Kesegaran

mm

Published

on

Simon Dentith dalam bukunya tentang Bakhtinian Thought: Antroductory Reader (1995) mengatakan sebuah kamus adalah sebentuk makam bagi bahasa. Temuan Dentith ini sungguh mengejutkan, mengingat definisi kamus pada umumnya merupakan penanda (kata/frase/idiom) secara sangat general, terlepas dari konteks sosial saat penanda itu diungkapkan atau dipakai.

Dengan pemahaman tersebut berarti sebuah kamus malah seringkali menjadi sarana untuk meringkus dan membatasi makna suatu penanda, dan bukan justru dijadikan wadah atau penampung ketakterbatasan kemungkinan makna sebuah penanda dalam konteks-konteks sosial tertentu. Akibatnya, justru kamuslah yang menjadikan suatu (makna) bahasa menjadi terhimpit dan terbelenggu oleh serangkaian daftar istilah yang termaktub dalam sebuah kamus.

Namun, maklumat Dentith di atas nampaknya kurang tepat—untuk tidak mengatakan tidak berlaku—bagi Tesaurus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Eko Endarmoko ini. Kamus bukannya menjadi makam bagi bahasa sebagaimana dikhawatirkan Dentith, tetapi justru kamus-kamus sinonim semacam ini memungkinkan bisa menjadi sarana yang amat penting bagi siapapun, khususnya mereka yang setiap hari bergulat dengan bahasa atau dunia tulis-menulis sebagai wahana untuk memperkaya dan menghidupkan (makna) bahasa.

Dalam dunia tulis-menulis sesungguhnya bukan sekedar menyusun kata, kalimat, paragraf lantas menjadi tulisan yang utuh. “Dalam menulis”, begitu kata Goenawan Mohamad dalam sampul belakang, “saya selalu ingin menghindari satu kata yang sama berulang dalam satu kalimat—bahkan kalau mungkin dalam satu paragraf. Bagi saya”,  begitu lanjut Mas Goen biasa disapa, “tiap karya tulis yang bersungguh-sungguh ibarat sebuah ukiran. Prosesnya memerlukan kreativitas dan ketekunan, inovasi terus-menerus, dan kemauan meneliti pelbagai anasir untuk memasukkan yang ‘baru’ itu”. Itulah dunia tulis-menulis. Ia membutuhkan kecergasan dan ketangkasan mengunyah kata-kata.

JUDUL : Tesaurus Bahasa Indonesia PENULIS : Eko Endarmoko PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta TAHUN TERBIT : Pertama, 2006 TEBAL : xxii + 715 halaman

Dalam bahasa Inggris, misalnya avontur dalam merangkai kata-kata semacam itu mungkin tidaklah terlalu sulit. Seorang penulis siap dibantu oleh “kamus” seperti Merriam-Webster’s Collegiate Thesaurus (1993), Collins English Thesaurus in A-Z Form (1993) atau The Concise Roget’s International Thesaurus (2003). Di sana kekayaan sinonim bahasa didaftar dengan begitu rapi dan tangkas.

Dalam bahasa Indonesia, paling tidak sudah ada dua kamus sinonim yang menjadi umum dikenal publik. Pertama, Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (1988) karya Harimurti Kridalaksana. Kedua, Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia (2000) disusun oleh Nur Arifin Chaniago dkk. Namun, keduanya kurang begitu lengkap dalam menyusun lema atau entri, dan nampak cara penyajiannya pun belum sungguh-sungguh digarap secara sistematis.

Menjadi penting untuk disadari, seperti dalam bahasa lain juga, bahwa tidak ada kesamaan makna yang mutlak dalam bahasa Indonesia. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dialek regional (contoh: menurut dan manut), dialek sosial (contoh: kebatinan, mistik dan tasawuf), dialek temporal (contoh: abdi dan pelayan), nuansa makna (contoh: dongkol, geram, dan marah), serta perbedaan ragam bahasa (contoh: mampus dan meninggal). Semua perbedaan itu menegaskan bahwa makna kata senantiasa ditentukan atau terkait oleh konteksnya dalam kalimat (hlm. viii). Inilah satu kelebihan Tesaurus garapan Eko Endarmoko ini. Pembaca bisa leluasa memilih makna kata-kata yang sesuai bersama konteksnya.

Di samping itu, Tesaurus ini juga sungguh membantu bagi orang-orang yang setiap saat berjibaku dengan bahasa atau tulisan. Hal ini dimungkinkan untuk menghindari klise dalam penggunaan suatu kata, frase, dan idiom tertentu dalam satu kalimat atau sebuah ungkapan. Penggunaan sebuah kata, frase, atau idiom akan menjadi tumpul, kurang segar, dan nampak kehilangan makna, jika sudah amat sangat sering digunakan, sehingga tanpa disadari sebenarnya mereka sudah terjerembab dalam klise.

Bagi orang yang berhasrat membahasakan pikiran atau perasaannya dengan tepat, cermat atau elok dan santun, Tesaurus ini merupakan tambang emas kata yang sangat diperlukan. Buku inilah yang saya kira dinanti-nantikan oleh para penulis, penyair, pengajar, dan pelajar untuk memperagakan serta memperkaya bahasa Indonesia yang narum dan bernas. Sungguh kita dapat menimba dari karya Eko Endarmoko ini sebagai sebuah hasil dari ikhtiar yang patut dicatat sejarah.***

 

*)Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending