Connect with us

Interview

Menulis dan Jalan Hidup Isabel Allende

mm

Published

on

Hidup. Menulis cerita, adalah satu-satunya hal yang ingin Saya lakukan. Menulis itu seperti bernafas. Sastra telah memberi Saya suara, memberi arti pada hidup Saya

Dari wawancara Alison Beard dengan Isabel Allende | Judul asli “Life’s Work” |

Harvard Business Review Edisi Mei 2016 | (p) Addi Midham | (e) Sabiq Carebesth

 

Novel pertama Isabel Allende, yakni “The House of the Spirits,” bermula dari surat yang ia tulis untuk kakeknya yang sedang menghadapi hari-hari terakhir sebelum wafat. Novel ini telah menjadi best seller internasional. Namun, Isabel tampaknya masih berambisi menulis karya yang jauh lebih sukses lagi sebelum memutuskan untuk pensiun. Daftar karyanya sekarang sudah mencakup lebih dari 20 judul, termasuk “The Japanese Lover” yang dirilis tahun lalu. Berikut ini wawancara dengan Isabel Allende.

Apa arti ‘menulis’ bagi Anda?

Hidup. Menulis cerita, adalah satu-satunya hal yang ingin Saya lakukan. Menulis itu seperti bernafas. Sastra telah memberi Saya suara, memberi arti pada hidup Saya dan menghubungkan Saya dengan jutaan pembaca di seluruh dunia.

Menerbitkan buku itu susah, bagaimana Anda bertemu Carmen Balcells?

Novel pertama Saya, “The House of the Spirits” ditolak beberapa penerbit. Suatu hari resepsionis di salah satu perusahaan penerbitan mengatakan bahwa buku Saya tidak akan bisa terbit tanpa perantara agensi yang baik dan dia menyebutkan nama Carmen Balcells. Kemudian, Tomas Eloy Martinez, penulis Argentina, memberi Saya alamat Carmen Balcells di Spanyol dan merekomendasikannya sebagai agen terbaik untuk sastra Amerika Latin.

Di salah satu wawancara, Anda mengaku memiliki visi sinematografi ketika menulis. Teknologi baru mengubah hidup kita saat ini, banyak orang berkomunikasi lewat facebook atau twitter setiap hari dan kemudian ada juga revolusi e-book: Bagaimana Anda berkomunikasi dengan kebanyakan orang, baik sebagai penulis dan sebagai pribadi? Apa pendapat Anda tentang e-book?

Saya tidak punya facebook dan Saya tidak bermain twitter, karena Saya tidak punya waktu. Saya terlalu sibuk menulis. Setiap malam ada setumpuk buku di meja yang menunggu giliran untuk Saya baca. Saya suka menyentuh dan mencium buku. Meski demikian, Saya lebih suka membaca E-book saat dalam perjalanan, karena Saya bisa membawanya sebanyak mungkin yang Saya mau dengan iPad. Saya memperkirakan, tak lama lagi, buku cetak akan menjadi barang langka, hanya menjadi simpanan para kolektor dan perpustakaan, karena kita akan membaca semua tulisan lewat layar.

Anda mulai menulis setiap buku pada tanggal yang sama ketika Anda mulai menulis “The House of the Spirits.” Mengapa?

Pada awalnya, sebenarnya itu takhayul saja, karena buku pertama Saya sangat beruntung. Kalau sekarang, itu soal disiplin. Jadwal Saya padat, jadi Saya perlu menyediakan waktu beberapa bulan dalam setahun untuk retret. Saya butuh waktu dan kesunyian, atau Saya tidak akan pernah bisa menulis. Memiliki kebiasaan mulai menulis di tanggal tertentu baik untuk Saya dan semua orang di sekitar Saya. Mereka tahu bahwa pada setiap tanggal 8 Januari, Saya tidak punya waktu selain untuk menulis.

Apakah Anda selalu memikirkan konsep terlebih dahulu sebelum menulis buku?

Seringkali—tetapi sangat samar-samar. Saya tidak pernah punya rancangan naskah. Saya mungkin punya waktu dan tempat sebagai obyek penelitian. Misalnya, ketika Saya menulis sebuah cerita tentang pemberontakan budak di Haiti pada 200 tahun yang lalu, Saya mempelajari peristiwa tersebut terlebih dahulu. Akan tetapi, setelahnya Saya tidak memiliki karakter, alur cerita, maupun akhir kisah. Sementara di lain waktu, Saya duduk di depan komputer dan membiarkan kalimat pertama keluar. Itulah kalimat pembuka untuk sebuah cerita, tetapi Saya sempat tidak tahu tentang apa itu.

Bagaimana Anda melanjutkannya?

Perlahan. Beberapa pekan awal seringkali mengerikan karena Saya tidak kunjung menemukan narasi, nuansa dan alur cerita. Ini menyebalkan, karena Saya cemas bahwa semua halaman yang sudah Saya tulis akan berakhir di tempat sampah. Tapi ini biasanya hanya pemanasan: Saya harus menemukan bentuk cerita dulu. Setelah beberapa minggu, karakter-karakter mulai muncul dan menceritakan kisah mereka kepada Saya. Kemudian Saya merasa berada di jalur yang tepat.

Apa yang Anda lakukan ketika ide cerita tak kunjung muncul?

Terkadang, Saya merasa mungkin tidak seharusnya menulis cerita itu. Tetapi, setelah lama saya terus berupaya menemukan cerita tanpa henti, cepat atau lambat semuanya terjadi. Saya sudah belajar untuk meyakini kemampuan Saya, tetapi memang itu butuh waktu lama. Semula, Saya kira setiap buku seperti hadiah dari langit, namun sekarang tidak lagi — karena setelah 35 tahun menulis, Saya tahu bahwa jika Saya mencurahkan cukup waktu untuk mendalami sebuah topik, Saya dapat menulis hampir tetang apa pun. Hal ini memberi Saya kepercayaan diri sehingga Saya bisa dengan santai menikmati proses menulis.

Anda pernah mengaku punya bakat sebagai pendongeng alami. Menurut Anda, bakat atau latihan yang lebih penting dalam mengarang?

Saya pernah mengajar menulis kreatif di beberapa perguruan tinggi. Saya bisa mengajari mahasiswa tentang cara menulis cerita, tetapi tidak mungkin mengajari mereka cara mendongeng. Mendongeng itu seperti memiliki telinga untuk mendengarkan musik. Anda memilikinya, atau tidak. Jadi, semacam insting mengetahui apa yang harus dikatakan, apa yang sebaiknya disimpan lebih dulu, lalu bagaimana menciptakan ketegangan dan membangun karakter dalam tiga dimensi hingga cara memainkan bahasa—Saya pikir hal itu bakat sejak lahir.

Saya memiliki gen pendongeng yang tidak dimiliki semua orang. Namun, saya pernah kesulitan untuk menulis. Saya mampu mendongengkan cerita secara lisan, tetapi tidak bisa menulisnya. Sampai akhirnya Saya berlatih dan terus berusaha sehingga bisa menguasai keterampilan itu. Saya malah merasa menguasai keterampilan itu baru-baru ini saja.

Anda bekerja sebagai jurnalis, pembawa acara TV dan pengelola sekolah sebelum menjadi penulis di usia 39 tahun. Bagaimana prosesnya hingga Anda memutuskan menjadi penulis?

Saya tidak merasa telah membuat pilihan. Saya tidak pernah mengatakan, “Saya akan menjadi seorang penulis.” Itu terjadi begitu saja. Jadi, ketika saya tinggal di Venezuela sebagai pelarian politik setelah kudeta militer di Chili, Saya tidak dapat menemukan lowongan pekerjaan sebagai jurnalis. Lalu, Saya bekerja di sekolah, dan Saya merasa memiliki banyak cerita di dalam diri Saya, tetapi tidak ada jalan keluar bagi mereka. Dan kemudian pada 8 Januari 1981, Saya menerima kabar bahwa kakek Saya sedang sekarat di Chili, dan Saya tidak bisa kembali untuk mengucapkan selamat tinggal. Maka, Saya mulai menulis surat untuk memberi tahu kakek bahwa Saya ingat semua yang pernah dia ceritakan kepada Saya. Kakek adalah pendongeng yang hebat.

Sampai meninggal dunia, kakek tidak pernah menerima surat itu. Tetapi, Saya terus menulis di dapur setiap malam setelah bekerja, dan dalam setahun, Saya merampungkan 500 halaman, sesuatu yang jelas bukan surat. Tulisan itu kemudian menjadi novel “The House of  The Sprits.” Novel itu terbit dan sangat sukses, sehingga membuka jalan bagi buku-buku Saya yang lain. Namun, Saya tidak langsung melepas pekerjaan saya, karena saya sempat mengira menulis bukan karir yang tepat. Semua seperti keajaiban yang terjadi secara kebetulan.

Apa yang akhirnya membuat Anda memutuskan berkarier sebagai penulis?

Saya mendapat penghasilan lumayan. Buku-buku Saya diterjemahkan ke 35 bahasa dan laris seperti kacang goreng. Setelah itu, Saya mulai meyakini, jika terus menulis maka Saya dapat mencari nafkah untuk keluarga.

Pernahkah Anda benar-benar berusaha membuat buku-buku Anda, yang paling banyak mendapat pengakuan, menjadi karya yang sukses?

Ketika agensi Saya, Carmen Balcells—ibu baptis dari setiap buku Saya, yang Sayangnya meninggal belum lama ini—menerima naskah “The House of the Spirits” di Spanyol, dia menghubungi Saya yang sedang di Venezuela dan berkata, “Semua orang bisa menulis buku pertama yang bagus, karena mereka mencurahkan segala yang mereka miliki ke dalamnya—masa lalu, ingatan, harapan, segalanya. Kemampuan seorang penulis dibuktikan di buku kedua.”

Oleh karena itu, Saya mulai menulis buku kedua pada 8 Januari di tahun berikutnya, untuk membuktikan kepada Carmen Balcells, bahwa Saya bisa menjadi seorang penulis. Novel “The House of the Spirits” sukses di Eropa, dan pada saat Saya mengetahuinya, Saya sudah menyelesaikan buku yang kedua. Tentu saja, setiap buku membawa tantangan yang berbeda. Cara bercerita di dalamnya juga berlainan. Saya pernah menulis memoar, novel sejarah, fiksi, novel remaja, bahkan novel kriminal. Namun, Saya tidak pernah membandingkan, atau bilang, “Apakah ini lebih baik atau lebih buruk daripada ‘The House of the Spirits’?” Setiap buku adalah sebuah persembahan. Anda cukup meletakkannya di atas meja dan melihat siapa yang akan membacanya.

Interview selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata”

yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta (2019)

 

Continue Reading
Advertisement

Interview

Haruki Murakami tentang Bagaimana Memori Dapat Memantik Sebuah Cerita

mm

Published

on

Saya cenderung tertarik pada hal-hal yang hilang. Kau menemukan sesuatu hilang, secara tiba-tiba, ketika kau tidak menduganya-seperti, kau berjalan melintasi ladang dan jatuh ke dalam sebuah sumur kering. Saya tidak tahu mengapa, tapi saya tertarik pada situasi semacam itu.

By Deborah Treisman/ The New Yorker | (p) Marlina Sopiana (ed) Sabiq Carebesth


Haruki Murakami, Sastrawan Jepang kelahiran 1964 ini namanya menjadi salah satu paling sering dijagokan menjadi penerima Nobel Sastra. Meski kesempatan mewah tersebut belum kunjung hadir padanya, pembaca setianya seakan tak peduli lagi apakah dia menerima penghargaan sastra tersebut atau tidak. Apa boleh dikata kalau sudah jatuh cinta, karya Murakami memang salah satu paling menakjubkan. Dapurnya sederhana, kenyataan bahwa Murakami tak memiliki aturan khusus dalam dapur produksi menulisnya adalah salah satu rahasia penting untuk dipelajari. Meski tanpa aturan khusus, bukan berarti dia bekerja dengan sembarangan. 

Karyamu dalam terbitan minggu ini, “With the Beatles.” berkisah tentang seorang pria yang mengenang dua gadis dari masa sekolahnya, satu gadis yang hanya ia temui satu kali dalam sekilas pandang, dan gadis lainnya adalah benar-benar kekasih pertamanya. Ia mengenang yang pertama sebagai sebuah jalan membangkitkan gairah-cara gadis itu memeluk sebuah rekaman Beatles LP di dadanya “seolah rekaman itu adalah benda yang sangat berharga.” Ia mengenang yang lainnya sebagai gadis yang “manis,” namun, meski mereka berkencan selama beberapa tahun, gadis itu tidak pernah menjadi pilihannya. Mengapa kau pikir gadis pertama, yang hanya dilihatnya satu kali, sangat membekas, dan tidak untuk gadis yang ia kenal bertahun-tahun?

Bagi naratornya, gadis pertama itu, yang hanya ia temui satu kali di lorong sekolah, merupakan sejenis simbol. Dalam hal ini, simbol akan kerinduan atas sesuatu. Dia sangat mirip dengan simbol yang muncul pada permulaan cerita “My Lost City” karya F. Scott Fitzgerald yang dinamainya “the girl.”

Sejujurnya, saya memiliki memori yang hampir serupa. Saat saya di sekolah menengah atas, saya berpapasan dengan seorang gadis di lorong sekolah, gadis yang namanya tidak saya ketahui, gadis itu memegang erat sebuah rekaman “With the Beatles” seolah itu merupakan benda berharga. Pemandangan itu tertoreh di kepala saya dan bagi saya, mejadi simbol masa remaja. Terkadang, kepingan memori seperti itu bisa menjadi pemantik yang akan mewujudkan sebuah cerita.

Akan tetapi, realitas yang kita hadapi berbeda dengan simbol. Dan terkadang tidak ada yang bisa menjembatani antara keduanya-antara simbol dan realitas. Cerita ini tentu saja sebuah fiksi, tapi saya kira hampir semua orang pernah mengalami hal yang serupa.

Yang menjadi pusat dalam ceritanya adalah jam-jam yang dihabiskan sang narator dengan kakak laki-laki dari kekasihnya. Kakak laki-laki dari gadis itu menceritakan pada sang narator bahwa ia mengidap penyakit yang menyebabkan kehilangan memori total. Bagaimana bisa ide tentang waktu yang hilang-tentang bagian kehidupan sang kakak laki-laki yang lenyap, seolah dia melompat dari bagian tengah simfoni Mozart movement ke-2 ke bagian tengah movement ke-3 -menghubungkan keseluruhan ceritanya?

Sang narator tidak benar-benar tahu apakah yang diceritakan kakak dari kekasihnya itu hal yang nyata, atau bagaimana dia harus menanggapinya secara serius. Namun, anehnya, dia seperti tersedot ke arah sang kakak, dan hal yang sama terjadi pada penulisnya. Dalam fiksi, kau membutuhkan pihak ketiga yang secara aneh menarikmu ke arahnya. Sang kakak merupakan karakter pendukung, tapi saya juga mendapat kesan seolah dia lah sang tokoh utama yang memainkan plotnya. (Tentu saja ini sepenuhnya kesan yang saya alami sendiri.)

Ketika bersama dengan tokoh kakak dari kekasihnya, sang narator membacakan keras-keras satu bagian dari cerita “Spinning Gears,” karya Akutagawa, sebuah cerita yang ditulis sesaat sebelum Akutagawa melakukan bunuh diri. Di akhir cerita (awas spoiler!), kekasihnya lah, bukan sang kakak, yang melakukan bunuh diri. Apakah kau sudah memikirkan akhir gadis itu saat kau mulai menullis ceritanya?

Ceritanya tak pernah menjelaskan mengapa Sayako bunuh diri. Saya kira tak ada yang akan benar-benar tahu apa yang menjadi alasannya. Bahkan saya, penulisnya, tidak tahu. Biasanya, kegelapan yang orang-orang miliki dalam dirinya tidak tampak. Kegelapan itu memuncak di saat yang tidak kau duga, dalam bentuk dan di tempat yang tidak bisa kau antisipasi, dan dalam banyak kasus, saat hal itu menjadi tampak nyata, sudah terlambat untuk memperbaikinya.

Kakak laki-laki Sayoko (mungkin) berhasil melalui krisis semacam itu dalam hidupnya, tetapi Sayoko tidak. Atau mungkin saja, semakin sang kakak membaik, semakin memburuk keadaan Sayoko. Bertahun-tahun kemudian, sang narator hanya mengetahui hasil akhir dari kejadian-kejadian ini. Dapatkah seseorang menyelamatkan Sayoko? Tidak ada yang bisa menjawab. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyelamatkan orang-orang di sini dan di masa ini.

Sang narator mengaku bahwa ia tak pernah benar-benar tertarik pada the Beatles. Karya musik mereka hanya serupa wallpaper yang mengiringi masa mudanya, dan ia tak benar-benar berusaha untuk menikmatinya. Apakah kau memilki perasaan yang sama dengan sang narator?

Saya sangatlah tinggi hati ketika remaja, dan saya sangat menggilai jazz dan musik klasik. Benar adanya bahwa karya the Beatles bisa dikatakan musik penghias. Saya seringkali mendengar lagu-lagu mereka di radio tapi selalu seperti setengah mendengarkan. Dan saya tak membeli rekaman mereka. Tidak sampai saya tinggal di sebuah pulau di Yunani di tahun 1980’an, saat saya pergi menuju pantai dan mendengarkan White Album dari awal hingga akhir dari Walkman saya. Saya mendengarnya berulang-ulang dan terpana akan musiknya untuk pertama kali.

Dalam karya terakhirmu yang diterbitkan di majalah ini, “Cream,” seorang gadis mengundang anak laki-laki ke sebuah resital piano. Ketika ia tiba, tidak ada tanda-tanda dilaksanakannya sebuah resital dan tidak ada penampakan dari gadis tersebut. Dalam “With the Beatles,” kekasih sang narator mengundangnya untuk datang ke rumah, dan, ketika sang narator tiba, gadis itu lenyap. Apa yang membuat skenario semacam ini menarik bagimu sebagai seorang penulis?

Saya cenderung tertarik pada hal-hal yang hilang. Kau menemukan sesuatu hilang, secara tiba-tiba, ketika kau tidak menduganya-seperti, kau berjalan melintasi ladang dan jatuh ke dalam sebuah sumur kering. Saya tidak tahu mengapa, tapi saya tertarik pada situasi semacam itu. Sesuatu yang seharusnya ada di sana, tak ada, seseorang yang seharusnya berada di sana, tak ada. Dan saat itulah ceritanya dimulai. (*)

*) Jawaban Haruki Murakami diterjemahkan dari bahas Jepang oleh Philip Gabriel.

Continue Reading

Interview

Virginia Woolf: Profesi Untuk Perempuan

mm

Published

on

Kesadaran atas apa yang akan dikatakan laki-laki tentang seorang perempuan yang bicara sejujurnya soal gairah telah membangunkannya dari keadaan tidak sadarkan dirinya sebagai seniman. Dia tidak bisa menulis lagi. Kesurupan telah berakhir. Imajinasinya tidak bisa bekerja lagi. Ini saya yakini sebagai pengalaman yang sangat umum terjadi pada penulis perempuan

From Professions for Women by Virginia Woolf | (p) Regina N. Helnaz (ed) Sabiq Carebesth

Begitu saya meletakkan pena di atas kertas, Anda tidak dapat mengulas sebuah novel tanpa memiliki pikiran Anda sendiri, tanpa mengungkapkan apa yang Anda pikir sebagai kebenaran tentang hubungan manusia, moralitas, seks. Dan semua pertanyaan ini, menurut Malaikat di Rumah, tidak dapat diselesaikan secara bebas dan terbuka oleh perempuan; perempuan haruslah memikat, mereka harus berdamai, mereka harus.. [j]adi, setiap kali saya merasakan bayangan sayapnya atau pancaran lingkaran cahayanya di atas halaman saya, saya mengambil bak tinta dan melemparkan benda itu ke arahnya. Dia mati dengan cara yang keras.

“Profesi untuk Para Perempuan” adalah versi singkat pidato Virginia Woolf yang disampaikan di depan cabang National Society for Women’s Service pada 21 Januari 1931; diterbitkan secara anumerta di The Death of the Moth dan Other Essays. Pada hari sebelum pidato, dia menulis di buku hariannya: “Saya memiliki momen ini, saat mandi, menyusun seluruh buku baru— sekuel A Room of One’s Own—tentang kehidupan seksual perempuan: yang disebut Profesi untuk Para Perempuan (Professions for Women) mungkin— Tuhan, betapa menariknya!” Lebih dari satu setengah tahun kemudian, pada 11 Oktober 1932, Virginia Woolf mulai menulis buku barunya: “THE PARGITERS: An Essay based upon a paper read to the London/National Society for women’s service.” “The Pargiters” berevolusi menjadi The Years dan diterbitkan pada tahun 1937. Buku yang akhirnya menjadi sekuel A Room of One’s Own adalah Three Guineas (1938), dan judul orisinal pertamanya adalah “Profesi untuk Para Perempuan”.

           Esai yang dicetak di sini berkonsentrasi pada hantu Victoria yang dikenal sebagai Malaikat di Rumah/The Angel in the House (dipinjam dari puisi Coventry Patmore yang merayakan kebahagiaan domestik)– perempuan pada abad kesembilan belas yang tidak mementingkan diri dan banyak berkorban yang satu-satunya tujuan hidupnya adalah menenangkan, menyanjung, dan menghibur separuh populasi laki-laki di dunia. “Membunuh Malaikat di Rumah,” tulis Virginia Woolf, “adalah bagian dari pekerjaan seorang penulis perempuan.” Pernyataan itu terbukti sebagai prediksi yang tepat untuk saat ini, tidak hanya dalam dunia kepenulisan, tetapi di seluruh dunia profesional, perempuan masih terlibat dalam kontes maut perihal perjuangan mereka untuk kesetaraan sosial dan ekonomi.

                                                                        –Mitchell A. Leaska

Ketika sekretaris Anda mengundang saya untuk datang ke sini, dia memberi tahu saya bahwa Masyarakat Anda peduli dengan pekerjaan perempuan dan dia menyarankan agar saya memberi tahu Anda sesuatu tentang pengalaman profesional saya sendiri. Memang benar saya seorang perempuan; memang benar saya bekerja; tetapi pengalaman profesional apa yang saya miliki? Sulit untuk mengatakannya. Profesi saya adalah sastra; dan dalam profesi itu hanya ada sedikit pengalaman untuk perempuan daripada profesi lain, dengan pengecualian pada pentas panggung – sedikit, maksud saya, yang khusus perempuan. Karena jalurnya telah terputus bertahun-tahun yang lalu–oleh Fanny Burney, oleh Aphra Behn, oleh Harriet Martineau, oleh Jane Austen, oleh George Eliot–banyak perempuan terkenal, dan banyak lagi yang tidak dikenal dan dilupakan, telah ada sebelum saya, membuat jalan ini terasa semakin lancar, dan mengatur langkah-langkah saya. Jadi, ketika saya mulai menulis, hanya ada sedikit saja kendala materi di jalan saya. Menulis adalah pekerjaan yang memiliki reputasi dan tidak berbahaya. Kedamaian keluarga tidak terganggu oleh goresan pena. Tidak pula membutuhkan banyak pengeluaran rumah tangga. Dengan sejumlah penny, seseorang bisa membeli kertas yang cukup untuk menulis semua drama Shakespeare–jika dia memiliki pemikiran seperti itu. Piano dan model, Paris, Wina, dan Berlin, tuan dan simpanan, tidak diperlukan oleh seorang penulis. Murahnya menulis, tentu saja, adalah alasan mengapa perempuan telah sukses sebagai penulis sebelum mereka sukses dalam profesi lain.

Tetapi jika menceritakan kisah saya kepada Anda–sederhana saja. Anda hanya perlu membayangkan sendiri seorang gadis di kamar tidur dengan pena di tangannya. Dia hanya harus memindahkan pena itu dari kiri ke kanan–dari jam sepuluh ke satu. Kemudian terpikir olehnya untuk melakukan apa yang terasa sederhana dan cukup murah–menyelipkan beberapa halaman itu ke dalam amplop, memperbaiki stempel satu sen di ujung, dan memasukkan amplop ke dalam kotak merah di persimpangan jalan. Dengan demikian saya menjadi jurnalis; dan usaha saya dihargai pada hari pertama bulan berikutnya–hari yang sangat mulia bagi saya–dengan surat dari editor yang berisi cek sejumlah satu pound sepuluh shilling dan enam penny. Jika saya tunjukkan kepada Anda betapa sedikitnya saya layak disebut sebagai perempuan profesional, betapa sedikit yang saya ketahui tentang pergulatan dan kesulitan hidup seperti itu, saya harus mengakui, bahwa alih-alih menghabiskan uang itu untuk roti dan mentega, biaya sewa, sepatu dan stoking, atau membeli daging, saya keluar dan membeli kucing – kucing cantik, kucing Persia, yang segera setelahnya melibatkan saya dalam perselisihan pahit dengan tetangga saya.

Apa lagi yang lebih mudah selain menulis artikel dan membeli kucing Persia dengan profit yang didapat? Tapi tunggu sebentar. Artikel harus bicara tentang sesuatu. Punya saya, seingat saya, adalah tentang novel karya seorang laki-laki terkenal. Dan ketika saya sedang menulis ulasan ini, saya menemukan bahwa jika saya akan mengulas buku, saya harus berperang dengan hantu tertentu. Dan hantu itu adalah seorang perempuan, dan ketika saya mengenalnya dengan lebih baik, saya menjulukinya dengan nama tokoh utama perempuan dari sebuah puisi terkenal, Malaikat di Rumah. Dialah yang dulu datang di antara saya dan kertas saya ketika saya sedang menulis ulasan. Dialah yang mengganggu saya dan menyia-nyiakan waktu saya dan begitu menyiksa hingga akhirnya saya membunuhnya. Anda yang berasal dari generasi yang lebih muda dan lebih bahagia mungkin belum pernah mendengarnya–Anda mungkin tidak tahu apa yang saya maksud dengan Malaikat di Rumah.

Saya akan menggambarkannya sesederhana mungkin. Dia sangat simpatik. Dia sangat menawan. Dia sama sekali tidak egois. Dia unggul dalam seni kehidupan keluarga yang sulit. Dia mengorbankan dirinya setiap hari. Jika ada ayam, dia mengambil kakinya; jika ada suatu draf tulisan dia mendudukinya–singkatnya dia dibentuk sehingga dia tidak pernah memiliki pikiran atau keinginannya sendiri, tetapi lebih memilih untuk bersimpati selalu dengan pikiran dan keinginan orang lain. Di atas segalanya–saya mesti katakan–dia murni. Kemurniannya seharusnya menjadi kecantikan utamanya–wajahnya memerah, rahmatnya yang luar biasa. Pada masa itu– yang terakhir adalah Ratu Victoria–setiap rumah memiliki Malaikatnya sendiri. Dan ketika saya mulai menulis, saya bertemu dengannya sejak kata-kata pertama. Bayangan sayapnya jatuh di halaman saya; saya mendengar gemerisik roknya di kamar. Saya mengambil pena di tangan saya untuk mengulas novel karangan seorang laki-laki terkenal itu, seketika, dia menyelinap di belakang saya dan berbisik: “Sayangku, kamu adalah seorang wanita muda. Kamu sedang menulis tentang sebuah buku yang telah ditulis oleh seorang laki-laki. Bersikaplah simpatik; lembut; menyanjung; memperdaya; gunakan semua seni dan tipu muslihat dari jenis kelamin kita. Jangan pernah biarkan orang menebak bahwa kamu memiliki pikiranmu sendiri. Yang terpenting, jadilah murni.” Dan dia seolah-olah ingin memandu pena saya.

Sekarang, saat ini, saya mencatat satu tindakan yang juga menjadi penghargan bagi diri saya sendiri, meskipun penghargaan itu semestinya milik beberapa leluhur saya yang luar biasa yang meninggalkan saya sejumlah uang–mungkin bisa kita katakan lima ratus poundsterling setahun? –sehingga saya tidak perlu bergantung hanya pada pesona diri untuk kelangsungan hidup saya. Saya berbalik ke arahnya dan mencengkam lehernya. Saya melakukan yang terbaik untuk membunuhnya. Jika saya dibawa ke pengadilan, dalih saya adalah tindakan pembelaan diri. Jika saya tidak membunuhnya, dia akan membunuh saya. Dia akan mencabut hati dari tulisan saya. Karena, seperti yang saya temui, begitu saya meletakkan pena di atas kertas, Anda tidak dapat mengulas sebuah novel tanpa memiliki pikiran Anda sendiri, tanpa mengungkapkan apa yang Anda pikir sebagai kebenaran tentang hubungan manusia, moralitas, seks. Dan semua pertanyaan ini, menurut Malaikat di Rumah, tidak dapat diselesaikan secara bebas dan terbuka oleh perempuan; perempuan haruslah memikat, mereka harus berdamai, mereka harus–jika kita blak-blakan–berbohong jika mereka ingin sukses. Jadi, setiap kali saya merasakan bayangan sayapnya atau pancaran lingkaran cahayanya di atas halaman saya, saya mengambil bak tinta dan melemparkan benda itu ke arahnya. Dia mati dengan cara yang keras…

*) Selengkapnya bisa dibaca di majalah “Book Coffee and More” Edisi Khusus Virginia Woolf yang tengah disiapkan penerbitannya oleh Galeri Buku Jakarta. Maret-April 2020.

Continue Reading

Inspirasi

Buku Harian Steinbeck dan Proses Kreatifnya

mm

Published

on

Dia, Steinbeck, sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

 

From “How Steinbeck Used the Diary as a Tool of Discipline, a Hedge Against Self-Doubt, and a Pacemaker for the Heartbeat of Creative Work” by BY MARIA POPOVA | www.brainpickings.org |  (p) Virdika R Utama (ed) Sabiq Carebesth

____

Bagaimana Steinbeck Menggunakan Buku Harian sebagai Alat mendisiplinkan diri? membebaskan dirinya dari keraguan dan menjadikan hal itu sebagai alat pacu bagi detak jantung kreatifnya? “Cukup atur pekerjaan satu hari di depan pekerjaan hari terakhir. Begitulah caranya. Dan itulah satu-satunya cara.”

Banyak penulis terkenal telah memperjuangkan manfaat kreatif dari membuat buku harian, tetapi tidak ada yang menempatkan buku harian itu untuk penggunaan praktis yang lebih mengesankan dalam proses kreatif daripada John Steinbeck (27 Februari 1902 – 20 Desember 1968).

Pada musim semi 1938, tak lama setelah melakukan salah satu aksi keberanian artistik terbesar—yaitu mengubah pikiran seseorang ketika sebuah proyek kreatif berjalan dengan baik, seperti yang dilakukan Steinbeck ketika dia meninggalkan sebuah buku yang dia rasa tidak sesuai dengan tugas kemanusiaannya.—dia memulai pengalaman menulis paling intens dalam hidupnya. Buah publik dari kerja ini akan menjadi karya utama tahun 1939, The Grapes of Wrath—sebuah judul yang disetujui isterinya, seorang politisi radikal, Carol Steinbeck, setelah membaca The Battle Hymn of Republic oleh Julia Howe. Novel ini menghasilkan Hadiah Pulitzer Steinbeck pada tahun 1940 dan merupakan landasan bagi Hadiah Nobelnya dua dekade kemudian. Tetapi buah pribadinya dalam banyak hal setidaknya sama pentingnya dan instruktif secara moral.

Bersamaan dengan novel, Steinbeck juga mulai membuat buku harian, akhirnya diterbitkan sebagai Hari Kerja: Jurnal The Grapes of Wrath.

Jurnal The Grapes of Wrath (perpustakaan umum)—buku harian Steinbeck, berisi catatan hidup yang luar biasa dari perjalanan kreatifnya. Hal utama dari buku harian itu adalah pemandangan ambigu: di mana penulis yang luar biasa ini berselisih dengan keraguan diri yang luar biasa bertubi, terkadang penderitaan dan juga kesepian—tetapi ia tetap maju ke depan, dengan semangat dan putaran antusiasme yang setara, didorong oleh tekad yang teguh untuk melakukan yang terbaik dan mungkin. Buku harian menjadi praktik baik penebusan dan bagaimana pun, tampak sebagai sesuatu yang juga transenden.

Steinbeck hanya memiliki dua permintaan untuk buku harian itu—bahwa itu tidak akan dipublikasikan pada masa hidupnya, dan bahwa itu harus dibuat tersedia untuk kedua putranya sehingga mereka dapat “melihat ke belakang mitos dan desas-desus dan sanjungan dan fitnah seorang pria yang hilang menjadi dan untuk mengetahui sampai batas tertentu seperti apa manusia ayah mereka. ”Ia berdiri, di atas segalanya, sebagai bukti tertinggi akan fakta bahwa satu-satunya substansi kejeniusan adalah tindakan harian yang muncul.

Steinbeck in 1959

Steinbeck menangkap ini dengan sempurna dalam catatannya yang berlaku juga untuk bidang usaha kreatif apa pun:

Dalam menulis, kebiasaan tampaknya menjadi kekuatan yang jauh lebih kuat daripada kemauan atau inspirasi. Akibatnya harus ada sedikit kualitas keganasan sampai pola kebiasaan sejumlah kata ditetapkan. Tidak ada kemungkinan, setidaknya dalam diriku, untuk mengatakan, “Aku akan melakukannya jika aku menginginkannya.” Seseorang tidak pernah merasa seperti bangun setiap hari. Bahkan, mengingat alasan terkecil, seseorang tidak akan bekerja sama sekali. Sisanya adalah omong kosong. Mungkin ada orang yang bisa bekerja seperti itu, tetapi saya tidak bisa. Saya harus menurunkan kata-kata saya setiap hari apakah itu ada gunanya atau tidak.

*

Jurnal itu kemudian menjadi alat disiplin diri (dia bersumpah untuk menulis di dalamnya setiap hari kerja, dan melakukannya, menyatakan dalam salah satu catatan pertama: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”), Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak. Dia menangkap ini dalam salah satu catatan yang paling pedih, tak lama sebelum menyelesaikan paruh pertama novel:

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Memang, setelah memulai buku harian itu, Steinbeck memiliki tujuan jelas, pendisiplinan dan perannya sebagai pengingat kemajuan kerjanya saban harian yang semakin meningkat, sering lambat dan kecil, justru yang menghasilkan keseluruhan yang lebih besar. Dalam salah satu catatan pertamanya pada awal Juni, ia menulis:

“Ini adalah buku harian terpanjang yang pernah saya simpan. Tentu saja bukan buku harian tetapi upaya untuk memetakan hari dan jam kerja novel yang sebenarnya. Jika satu hari dilewati maka akan terlihat mencolok pada catatan ini dan akan ada beberapa alasan yang diberikan untuk hal seperti kekeliruan..”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.”

Tetapi menurut Dani Shapiro, ada perbedaan tajam antara keyakinan dan keberanian, ini adalah pernyataan yang terakhir, kebajikan yang lebih benar—Steinbeck sangat menyadari segala sesuatu yang mungkin menggagalkan usahanya, kekesalan baik eksternal maupun internal, namun ia tetap memutuskan untuk mengerahkan dirinya, untuk sepenuh hati tentang upaya, meskipun kurangnya kepercayaan diri yang mendalam. Inilah keberanian, hidup yang berdenyut, dari catatan awal lainnya:

“Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Menulis kadang seperti sebuah tujuan yang puncak, dalam satu catatan ia menyatakan:

Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir.

Dan di tempat lain:

Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir.

Tetapi beberapa hari, tekadnya nyaris mengalahkan keraguan dirinya:

“Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa:

Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja.

Pada orang lain, ia bisa mengenali keraguan tetapi tidak setuju:

Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

John and Elaine Steinbeck in 1950

Di satu sisi, ini adalah kualitas jurnal (Catatan Harian) yang paling berani—hampir merupakan tulisan suci Buddhis, beberapa dekade sebelum Bradbury’s Zen dalam Seni Menulis, ketika Steinbeck menghadapi pasang surut dan aliran pengalaman. Dia merasakan perasaan keraguannya sepenuhnya, membiarkannya melewatinya, namun mempertahankan kesadaran yang lebih tinggi bahwa mereka hanya: perasaan, bukan Kebenaran.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis:

Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang.

Dia sangat keras pada dirinya sendiri, sampai-sampai membiarkan kecurigaannya atas keberhasilannya sendiri membengkak menjadi kecurigaan terhadap keberanian pribadinya dan kebaikan dasar karakternya: Saya harus yakin untuk memilih mana yang cinta dan yang menyesal. Saya bukan orang yang sangat baik. Terkadang murah hati dan baik dan baik dan lain kali berarti dan pendek.

Seperti kebanyakan seniman, ia berulang kali mempertanyakan validitas seni dan kualifikasinya. Bahkan ketika dia hampir menyelesaikan novel yang kelak akan memenangkan Pulitzer dan membawanya mendapatkan Hadiah Nobel, dia masih tidak percaya pada kelebihan dan bakatnya: “Buku ini menjadi kesengsaraan bagiku karena ketidakmampuanku”.

Tak lama sebelum memulai The Grapes of Wrath, Steinbeck menangkap dalam jurnal lain sifat penyelamatan diri yang palsu. “Saya bosan dengan perjuangan melawan semua kekuatan yang telah membawa kesuksesan yang menyedihkan ini terhadap saya. Saya tidak tahu apakah saya bisa menulis buku yang layak sekarang. Itu adalah ketakutan terbesar dari semua. Saya sedang mengerjakannya tetapi saya tidak bisa mengatakannya.”

Dia sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

Memang, ia mengukur kesuksesannya bukan dari pendapatan atau pujian tetapi dari pekerjaan hari itu. “Inilah buku harian sebuah buku dan akan menarik untuk melihat bagaimana hasilnya. Saya telah mencoba untuk menulis buku harian sebelumnya tetapi mereka tidak berhasil karena keharusan untuk jujur. Dalam hal-hal di mana tidak ada kebenaran yang pasti, saya condong ke arah yang sebaliknya. Kadang-kadang di mana ada kebenaran yang pasti, saya merasa jijik dengan keangkuhannya dan melakukan hal yang sama. Namun dalam hal ini, saya akan mencoba hanya untuk menyimpan catatan hari kerja dan jumlah yang dilakukan di masing-masing dan keberhasilan (sejauh yang saya tahu) hari itu.”

Steinbeck sama-sama tidak terganggu oleh prospek komersial, pekerjaanya adalah sebagai kebutuhan moral: “Tidak tahu siapa yang akan menerbitkan buku saya. Tidak tahu sama sekali. Tidak ada alasan untuk membiarkannya. Harus terus melakukannya. Perlu.”

Proses itu, baginya, didorong oleh apa yang oleh Anne Lamott disebut pendekatan “burung demi burung” untuk ditulis beberapa dekade kemudian. Jurnal kemudian menjadi mekanisme mondar-mandir. Steinbeck menulis:

“Saya bertanya-tanya apakah saya akan pernah menyelesaikan buku ini. Dan tentu saja saya akan menyelesaikannya. Hanya bekerja dalam jangka waktu tertentu dan poco a poco akan selesai. Lakukan saja pekerjaan hari itu.”

__
Selengkapnya dalam Majalah “Book Coffee and More” by Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending