Connect with us

Inspirasi

Menjadi Wartawan (Kayakanya) Enak Ya..

mm

Published

on

Menjadi wartawan kayaknya enak ya? Bisa ‘mobile’ ke sana ke mari; ketemu banyak orang dari kalangan akar rumput sampai yang elit dan juga artis; apalagi kalau nonton wartawan yang cakep dan komitmennya kaya ‘wartawan bawel’ dalam film republik twitter yang diperankan Laura Basuki!? Ah nyaris sempurna masa muda di dunia ini… dan tentu saja wartawan dalam kesan masyarakat kita hari ini masih jelas sosok atau pribadi yang pekerja keras, cerdas, dan seru! Kurang apa coba??

Nyatanya, sebelum melihat enak dan serunya menjadi wartawan, mari kita melihat hal tidak mudahnya, setidaknya hal itu diamini oleh dua senior dalam bidang ini, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Mereka berdua dalam bukunya yang nyaris jadi kitab wajib baca bagi setiap calon reporter atau wartawan Elemen-Elemen Jurnalisme (Pantau, 2006) telah menunjukan betapa tidak mudahnya mnejadi seorang jurnalis.

Kedua wartawan senior tersebut menekankan sepuluh hal yang harus diperhatikan oleh seorang wartawan. Kesepuluh komponen itu adalah pemahaman mendasar kegunaan jurnalisme; obyek utama jurnalisme adalah kebenaran, loyalitas jurnalisme adalah pada warga/rakyat, intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi, menjaga independensi, menjadi pemantau independen terhadap kekuasaan, jurnalisme sebagai forum publik membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan, menulis komprehensif dan proporsional, serta bertanggung jawab kepada nurani.

Inilah yang menjadi pembeda dengan misalnya jurnalisme warga (citizen journalism), di samping menjadi jurnalis harus patuh kepada kode etik jurnalistik dan UU Pokok Pers, jurnalis juga harus memegangi diktum, jangan mudah percaya! Untuk memperoleh kebenaran, lakukanlah cross check dan verifikasi. Ah lelah?

Buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” karya Bill Kovach & Tom Rosenstiel. Menurut sejarawan dan sosiolog Michael Stephens, dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, manusia mempunyai kebutuhan naluriah untuk mengetahui apa yang terjadi di luar pengalaman langsung diri sendiri. Mengetahui peristiwa yang tidak bisa kita saksikan dengan mata kepala sendiri, ternyata menghadirkan rasa aman, perasaan mengontrol dan percaya diri.

Verifikasi harus menjadi dewa junjungan seorang wartawan profesional. Hal ini pula yang kerap ditengarai menjadi kelemahan dalam jurnalisme warga, dimana warga pewarta sangat lemah dalam verifikasi dan penulisan yang komprehensif dan proporsional. Contoh dari ini adalah blog keroyokan seperti Kompasiana atau indonesianatempo dimana banyak tulisan dimuat tanpa editing (tahun-tahun sekarang keduanya tampak memiliki komitmen editing yang lebih kuat dan ada wartawan khusus yang menangani dan memverifikasi); tetapi masih kerap hanya unggul secara isu tapi sangat lemah dalam struktur, syarat-syarat laporan jurnalistik, dan abai dalam tata bahasa. (lihat artikel Emanuel Dapa Loka, dalam “Citizen Journalist” bukan wartawan: Kompas 7 April 2013)

Mari kita melompat ke produk jurnalistiknya. Inti dari “kayaknya enak” dari kerja wartawan (utamanya cetak) adalah kerja menulisnya. Lalu apa beda menulis untuk beragam bentuk karya jurnalistik?

Ada pameo untuk melukiskan wartawan seperti dikatakan wartawan senior serba bisa Rosihan Anwar: wartawan itu seorang generalis, bisa menulis apa saja walau pun tidak mendalam. Dia penulis editorial atau tajuk rencana jika telah mencapai peringkat pemimpin redaksi. Dia reporter dan penulis berita bila masih bertugas di lapangan menurut bidang yang ditentukan. Dia menulis kolom dan jadi kolumnis setelah punya cukup pengalaman sebagai reporter. Dia menulis mengenai resensi film, konser musik, lakon drama atau pun membedah buku.

Pelajaran terbaik tentang ragam menulis ini justeru penulis dapatkan dari—secara tidak sengaja justeru dalam buku yang “berlabel” buku sejarah ketimbang buku panduan tentang jurnalisme—Rosihan Anwar dalam Petitie Historie Indonesia Jilid 4, menuangkan dalam prolog dari setiap karya jurnalistik yang dibuatnya, tentang pengalaman menulis sebagai Kolumnis, menulis sebagai ahli resensi, menulis sebagai reporter; menulis sebagai pengarang editorial, menulis sebagai wartawan tabloid sampai menulis sebagai sastrawan dan sejarawan, beberapa contohnya saya salinkan di sini:

Menulis Sebagai Kolumnis

Kolumnis menurut kamus besar baha indonesia (1988) berarti: orang yang secara tetap menulis artikel si surat kabar atau majalah. Topiknya beraneka ragam. Mulai dari hal-hal ringan-ringan, hiburan kepada pembaca sampai kepada analisis di bidang politik , ekonomi dan kultural.

Menulis Sebagai Reporter

Melakukan tugas sebagai reporter ternyata lebih meyenangkan dari pada misalnya menulis kolom atau tugas menulis tajuk rencana. Sebab, sebagai reporter, kita menjumpai aneka ragam bahan di  lapangan dan tergantung pada daya cipta atau kreatifitas kita untuk menyajikan tulisan menarik. Kadang-kadang tampaknya seperti lahan kering yang kita hadapi, tidak ada yang bisa dituliskan, maka dalam keadaan demikian kita memerlukan imajinasi. Kita bersikap bak bunyi peribahasa: tak ada rotan akar pun jadi. Yang penting tulisan ada. Intinya, reporter harus mengembangkan kemampuan menjadi story teller. Bahkan jika bahan yang ditemukan hanya perkara sehari-hari dari suatu masyarakat yang sama sekali baru dan asing, pengamatan atas yang sehar-hari itu sebagai kehidupan harus di ceritakan oleh reporter; teknik persembahan tidak bertele-tele. Bahasa mudah dimengerti. Itulah yang harus diperhatikan seorang reporter.

Menulis Untuk Tabloid; Names “Make News”

Surat kabar dan majalah terdiri dari berbagai jenis. Di barat orang membeda-bedakan antara koran serius, intelektual (serious-intellectual papers) di satu pihak dengan koran-koran jalanan (boulevard papers) di pihak lain. Pembaca yang di hadapi berlainan pula. Yang satu di baca oleh golongan terpelajar yang satu lagi oleh rakyat biasa. Di Prancis terdapat Le Figaro sebagai contoh  boulevard papers.  Di Inggris The Daily Miror dianggap koran pupuler. The london times surat kabar intelektual, seperti the new york times di Amerika atau Frankfurter Allgemeine Zeitung  di Jerman. Di negeri Belanda juga ada De telegraf bacaan rakyat biasa, di Indonesia koran Kompas di golongkan ke dalam pers serius, berbeda dengan pos kota yang di baca wong cilik. Sementara penerbitan yang mengkhususkan diri pada hiburan, gosip, sensasi yang di beri nama infotaimen tidak di anggap pers serius.

Untuk yang berjenis tabloid/infotainmen, Rosihan Anwar yang juga pernah menulis untuk C&R punya kiat dan metode: tak usah pergi jauh-jauh, tak perlu melambung tinggi-tinggi. Tetaplah berada di lingkungan yang dikenal banyak orang. Tetaplah berpijak di bumi nyata.

Dalam menyusun tulisan ingatlah adagium jurnalistik: names make news. Nama-nama bikin berita. Tidak hanya seleb atau pesohor, tapi juga insan biasa akan senang membaca namanya ditulis dalam konteks yang baik. Mari kita usahakan, “sana senang, sini senang.” Demikian Rosihan Anwar.

Demikian catatan pendek ini penulis salin dari catatan tangan dalam buku harian tertanggal 5 Agustus 2012, lima tahun yang lalu. Dengan kian banyaknya media dan ragam platform medinya serta perkembangan masyarakat hari ini tentu banyak yang bisa direvisi di sana sini. Tetapi semoga catatan kecil ini bermanfaat sekedar sebagai pembangkit minat menulis, atau menginspirasi untuk menjadi penulis bahkan wartawan profesional. Menulis adalah.. seru dan enak ! (*)

*Sabiq Carebesth, pembaca buku dan penulis buku harian.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Inspirasi

Joyce Cary: Dari Mana Datangnya Ide Menulis?

mm

Published

on

Seringkali aku tidak mengetahui asal mulanya. Belakangan aku mempunyai pengalaman aneh yang memberiku pandangan sekilas atas prosesnya, sesuatu yang tak pernah kusangka.

Aku sedang berkeliling Manhattan menaiki kapal uap dengan seorang teman dari Amerika, Elizabeth Lawrence dari majalah Harper. Dan aku menyadari seorang gadis duduk sendirian di ujung lain geladak-seorang gadis berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan rok yang lusuh. Dia sedang menikmati kesendiriannya. Sebuah ekspresi yang bagus, dengan dahi yang berkerut, kerutan yang banyak sekali. Aku mengatakan pada temanku, “Aku dapat menulis tentang gadis itu—menurutmu dia itu siapa?”

Elizabeth mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu seorang guru yang sedang berlibur, dan menanyakanku mengapa aku ingin menulis tentang gadis itu. Aku menjawab sebenarnya aku tak tahu-aku membayangkan gadis itu seorang yang peka dan cerdas, dan mengalami kesulitan karenanya. Mempunyai hidup yang sulit tetapi juga menghasilkan sesuatu darinya. Pada saat-saat seperti itu aku sering membuat catatan. Tapi aku tidak melakukannya—dan aku melupakan seluruh peristiwa itu.

Lalu, kira-kira tiga minggu setelah itu, di San Fransisco, aku bangun di tengah malam, kupikir, dengan sebuah cerita dikepalaku. Aku membuat uraian ceritanya saat itu juga—cerita itu tentang seorang gadis Inggris di negerinya—sebuah dongeng Inggris murni. Hari berikutnya sebuah pertemuan dibatalkan dan aku memiliki sehari penuh yang kosong.

Aku menemukan catatanku dan menuliskan ceritanya-itu adalah peristiwa-peristiwa utama dan sejumlah garis penghubung. Beberapa hari kemudian, di dalam pesawat-waktu yang ideal untuk menulis-aku mulai mengerjakannya, merapikannya, dan aku berpikir, ada apa dengan kerutan-kerutan di wajah itu, itu ketiga kalinya mereka muncul. Dan aku tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

*) Joyce Cary: Novelis Irlandia

Continue Reading

Inspirasi

Jhon Barth: Bagaimana Saya memulai Menuils?

mm

Published

on

Buku yang berbeda dimulai dengan cara-cara yang berbeda. Aku terkadang berharap bahwa aku semacam penulis yang memulai dengan ketertarikan yang bergairah dengan sesosok karakter dan kemudian, sebagaimana kudengar penulis-penulis lain mengatakan, berikan saja karakter itu sedikit ruang dan lihat apa yang ingin dia lakukan.

Aku bukan penulis semacam itu. Lebih sering aku memulai dengan sebuah bentuk atau wujud, bisa jadi sebuah gambar. Perahu yang mengambang, sebagai contoh, yang menjadi tokoh sentral dalam The Floating Opera, merupakan photo dari sebuah kapal pertunjukkan sesungguhnya yang aku ingat pernah melihatnya saat masih kecil. Namanya ternyata Captain Adams’ Original Unparalleled Floating Opera, dan ketika alam, dengan cara yang tak menyenangkan, menghadiahimu gambar itu, satu-satunya hal mulia yang harus dilakukan adalah menulis sebuah novel tentangnya.

Ini mungkin bukan pendekatan yang paling mulia. Aleksandr Solzhenitsyb, sebagai contoh, hadir dalam media fiksi dengan sebuah tujuan moral yang tinggi; dia ingin, dunia literatur, mencoba untuk mengubah dunia melalui media seperti novel. Aku menghormati dan mengagumi maksud itu, tetapi seringnya seorang penulis besar akan menuliskan novelnya dengan tujuan yang tidak lebih mulia dibandingkan dengan upaya mengecilkan pemerintahan Soviet.

Henry James ingin menulis sebuah buku dalam bentuk sebuah jam pasir. Flaubert ingin menulis sebuah novel tentang nothing. Apa yang kupelajari adalah bahwa keputusan dari inspirasi-inspirasi untuk bernyanyi atau tidak bukan didasarkan pada keluhuran dari tujuan moralmu—mereka akan menyanyi atau tidak, apapun keadaannya.

*) John Barth: Penulis Amerika, dikenal dengan karyanya  “Postmodernist” dan “Metafictional”. 

Continue Reading

Inspirasi

John Ashbery: Menulis Berarti Mengikuti Pergerakan Ide-Ide

mm

Published

on

“Sebenarnya, seringkali saat merevisi; aku akan menghilangkan ide yang merupakan penggagas awalnya. Kukira aku lebih tertarik pada pergerakan di antara ide-ide daripada ide-ide itu sendiri, cara sebuah ide bergerak dari satu titik ke titik yang lain ketimbang tujuannya atau asal mulanya”.

Sebuah ide bisa saja datang padaku, sesuatu yang sangat banal—sebagai contoh, tidakkah aneh rasanya untuk dapat berbicara dan berpikir pada saat yang sama? Itu bisa menjadi ide untuk sebuah puisi. Atau bisa saja kata-kata atau frasa-frasa tertentu menarik perhatianku dengan sebuah makna yang tidak kusadari sebelumnya. Begitu juga, aku sering menyimpan sesuatu yang kudengar orang lain ucapkan, di jalan misalnya.

Sebenarnya, ada sebuah contoh soal itu; di sebuah toko buku aku tak sengaja mendengar seorang bocah laki-laki mengatakan baris terakhir ini pada seorang gadis: “It might give us– what? – some flower soon?”. Aku tidak tahu apa konteksnya, tapi secara tak terduga itu terasa seperti jalan untuk menutup sajakku.

Aku seorang yang yakin pada kebetulan-kebetulan yang tak disengaja. Penutup sajakku yang berjudul “Clepsydra,” dua baris terakhir, datang dari sebuah buku catatan yang kusimpan beberapa tahun sebelumnya, selama kunjungan pertamaku ke Italia. Sesungguhnya aku menulis beberapa sajak selama aku bepergian, yang mana tak biasa kulakukan, tetapi saat itu aku sangat bersemangat atas kunjungan pertamaku disana. Hingga beberapa tahun kemudian, ketika aku sedang berusaha menutup “Clepsydra” dan merasa sangat gugup, aku tiba-tiba saja membuka buku catatan itu dan mememukan kedua baris itu yang telah benar-benar kulupakan; “while morning is still and before the body/ Is changed by the faces of evening.”

Mereka benar-benar apa yang kubutuhkan saat itu. Tapi tak teralu penting seperti apa contoh tunggal ini. Seringkali aku akan mencatat ide-ide dan frasa-frasa, dan kemudian ketika aku siap untuk menulis aku tidak dapat menemukannya. Tapi itu pun tak membuat banyak perbedaan, karena apapun yang muncul pada saat itu akan memiliki kualitas yang sama. Apapun yang ada disana dapat tergantikan. Sebenarnya, seringkali saat merevisi aku akan menghilangkan ide yang merupakan penggagas awalnya. Kukira aku lebih tertarik pada pergerakan di antara ide-ide daripada ide-ide itu sendiri, cara sebuah ide bergerak dari satu titik ke titik yang lain ketimbang tujuannya atau asal mulanya.

*) John Ashbery: Penyair Amerika, meraih hadiah Pulitzer Prize pada 1976

Continue Reading

Classic Prose

Trending