Connect with us

Inspirasi

Menjadi Wartawan (Kayakanya) Enak Ya..

mm

Published

on

Menjadi wartawan kayaknya enak ya? Bisa ‘mobile’ ke sana ke mari; ketemu banyak orang dari kalangan akar rumput sampai yang elit dan juga artis; apalagi kalau nonton wartawan yang cakep dan komitmennya kaya ‘wartawan bawel’ dalam film republik twitter yang diperankan Laura Basuki!? Ah nyaris sempurna masa muda di dunia ini… dan tentu saja wartawan dalam kesan masyarakat kita hari ini masih jelas sosok atau pribadi yang pekerja keras, cerdas, dan seru! Kurang apa coba??

Nyatanya, sebelum melihat enak dan serunya menjadi wartawan, mari kita melihat hal tidak mudahnya, setidaknya hal itu diamini oleh dua senior dalam bidang ini, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Mereka berdua dalam bukunya yang nyaris jadi kitab wajib baca bagi setiap calon reporter atau wartawan Elemen-Elemen Jurnalisme (Pantau, 2006) telah menunjukan betapa tidak mudahnya mnejadi seorang jurnalis.

Kedua wartawan senior tersebut menekankan sepuluh hal yang harus diperhatikan oleh seorang wartawan. Kesepuluh komponen itu adalah pemahaman mendasar kegunaan jurnalisme; obyek utama jurnalisme adalah kebenaran, loyalitas jurnalisme adalah pada warga/rakyat, intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi, menjaga independensi, menjadi pemantau independen terhadap kekuasaan, jurnalisme sebagai forum publik membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan, menulis komprehensif dan proporsional, serta bertanggung jawab kepada nurani.

Inilah yang menjadi pembeda dengan misalnya jurnalisme warga (citizen journalism), di samping menjadi jurnalis harus patuh kepada kode etik jurnalistik dan UU Pokok Pers, jurnalis juga harus memegangi diktum, jangan mudah percaya! Untuk memperoleh kebenaran, lakukanlah cross check dan verifikasi. Ah lelah?

Buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” karya Bill Kovach & Tom Rosenstiel. Menurut sejarawan dan sosiolog Michael Stephens, dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, manusia mempunyai kebutuhan naluriah untuk mengetahui apa yang terjadi di luar pengalaman langsung diri sendiri. Mengetahui peristiwa yang tidak bisa kita saksikan dengan mata kepala sendiri, ternyata menghadirkan rasa aman, perasaan mengontrol dan percaya diri.

Verifikasi harus menjadi dewa junjungan seorang wartawan profesional. Hal ini pula yang kerap ditengarai menjadi kelemahan dalam jurnalisme warga, dimana warga pewarta sangat lemah dalam verifikasi dan penulisan yang komprehensif dan proporsional. Contoh dari ini adalah blog keroyokan seperti Kompasiana atau indonesianatempo dimana banyak tulisan dimuat tanpa editing (tahun-tahun sekarang keduanya tampak memiliki komitmen editing yang lebih kuat dan ada wartawan khusus yang menangani dan memverifikasi); tetapi masih kerap hanya unggul secara isu tapi sangat lemah dalam struktur, syarat-syarat laporan jurnalistik, dan abai dalam tata bahasa. (lihat artikel Emanuel Dapa Loka, dalam “Citizen Journalist” bukan wartawan: Kompas 7 April 2013)

Mari kita melompat ke produk jurnalistiknya. Inti dari “kayaknya enak” dari kerja wartawan (utamanya cetak) adalah kerja menulisnya. Lalu apa beda menulis untuk beragam bentuk karya jurnalistik?

Ada pameo untuk melukiskan wartawan seperti dikatakan wartawan senior serba bisa Rosihan Anwar: wartawan itu seorang generalis, bisa menulis apa saja walau pun tidak mendalam. Dia penulis editorial atau tajuk rencana jika telah mencapai peringkat pemimpin redaksi. Dia reporter dan penulis berita bila masih bertugas di lapangan menurut bidang yang ditentukan. Dia menulis kolom dan jadi kolumnis setelah punya cukup pengalaman sebagai reporter. Dia menulis mengenai resensi film, konser musik, lakon drama atau pun membedah buku.

Pelajaran terbaik tentang ragam menulis ini justeru penulis dapatkan dari—secara tidak sengaja justeru dalam buku yang “berlabel” buku sejarah ketimbang buku panduan tentang jurnalisme—Rosihan Anwar dalam Petitie Historie Indonesia Jilid 4, menuangkan dalam prolog dari setiap karya jurnalistik yang dibuatnya, tentang pengalaman menulis sebagai Kolumnis, menulis sebagai ahli resensi, menulis sebagai reporter; menulis sebagai pengarang editorial, menulis sebagai wartawan tabloid sampai menulis sebagai sastrawan dan sejarawan, beberapa contohnya saya salinkan di sini:

Menulis Sebagai Kolumnis

Kolumnis menurut kamus besar baha indonesia (1988) berarti: orang yang secara tetap menulis artikel si surat kabar atau majalah. Topiknya beraneka ragam. Mulai dari hal-hal ringan-ringan, hiburan kepada pembaca sampai kepada analisis di bidang politik , ekonomi dan kultural.

Menulis Sebagai Reporter

Melakukan tugas sebagai reporter ternyata lebih meyenangkan dari pada misalnya menulis kolom atau tugas menulis tajuk rencana. Sebab, sebagai reporter, kita menjumpai aneka ragam bahan di  lapangan dan tergantung pada daya cipta atau kreatifitas kita untuk menyajikan tulisan menarik. Kadang-kadang tampaknya seperti lahan kering yang kita hadapi, tidak ada yang bisa dituliskan, maka dalam keadaan demikian kita memerlukan imajinasi. Kita bersikap bak bunyi peribahasa: tak ada rotan akar pun jadi. Yang penting tulisan ada. Intinya, reporter harus mengembangkan kemampuan menjadi story teller. Bahkan jika bahan yang ditemukan hanya perkara sehari-hari dari suatu masyarakat yang sama sekali baru dan asing, pengamatan atas yang sehar-hari itu sebagai kehidupan harus di ceritakan oleh reporter; teknik persembahan tidak bertele-tele. Bahasa mudah dimengerti. Itulah yang harus diperhatikan seorang reporter.

Menulis Untuk Tabloid; Names “Make News”

Surat kabar dan majalah terdiri dari berbagai jenis. Di barat orang membeda-bedakan antara koran serius, intelektual (serious-intellectual papers) di satu pihak dengan koran-koran jalanan (boulevard papers) di pihak lain. Pembaca yang di hadapi berlainan pula. Yang satu di baca oleh golongan terpelajar yang satu lagi oleh rakyat biasa. Di Prancis terdapat Le Figaro sebagai contoh  boulevard papers.  Di Inggris The Daily Miror dianggap koran pupuler. The london times surat kabar intelektual, seperti the new york times di Amerika atau Frankfurter Allgemeine Zeitung  di Jerman. Di negeri Belanda juga ada De telegraf bacaan rakyat biasa, di Indonesia koran Kompas di golongkan ke dalam pers serius, berbeda dengan pos kota yang di baca wong cilik. Sementara penerbitan yang mengkhususkan diri pada hiburan, gosip, sensasi yang di beri nama infotaimen tidak di anggap pers serius.

Untuk yang berjenis tabloid/infotainmen, Rosihan Anwar yang juga pernah menulis untuk C&R punya kiat dan metode: tak usah pergi jauh-jauh, tak perlu melambung tinggi-tinggi. Tetaplah berada di lingkungan yang dikenal banyak orang. Tetaplah berpijak di bumi nyata.

Dalam menyusun tulisan ingatlah adagium jurnalistik: names make news. Nama-nama bikin berita. Tidak hanya seleb atau pesohor, tapi juga insan biasa akan senang membaca namanya ditulis dalam konteks yang baik. Mari kita usahakan, “sana senang, sini senang.” Demikian Rosihan Anwar.

Demikian catatan pendek ini penulis salin dari catatan tangan dalam buku harian tertanggal 5 Agustus 2012, lima tahun yang lalu. Dengan kian banyaknya media dan ragam platform medinya serta perkembangan masyarakat hari ini tentu banyak yang bisa direvisi di sana sini. Tetapi semoga catatan kecil ini bermanfaat sekedar sebagai pembangkit minat menulis, atau menginspirasi untuk menjadi penulis bahkan wartawan profesional. Menulis adalah.. seru dan enak ! (*)

*Sabiq Carebesth, pembaca buku dan penulis buku harian.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog Pembaca

Icha Planifolia: Buku Memberi Saya Banyak Perjalanan Tanpa Batas

mm

Published

on

“Rumah saya berjarak sekitar 38 KM dari pusat kota. Dan orang tua saya tidak bisa mengajak saya terlalu sering berjalan-jalan ke pusat kota karena keterbatasan biaya. Itulah kali pertama saya memiliki buku  selain buku pelajaran sekolah. Kumpulan puisi “Aku” karya Chairil Anwar”. Cerita Icha Planifolia yang kini bekerja sebagai Biomarker Science Liaison.

Perempuan penggerak “Malam Puisi Bandung” yang kini tinggal di Yogya ini, memiliki banyak cerita lain dengan buku-buku dan dunia membaca. Buku baginya seperti anugerah perjalanan tanpa batas. Dengan buku-buku ia menjelajah perjalanan, dunia, tempat-tempat yang tak bisa ia jajaki sebelumnya.

Kini ia ingin menulis buku dan anda tahu buku apa yang ingin ditulis dan dikerjakannya dengan sangat keras? Simak sendiri jawabannya berikut: “Saya ingin menulis sebuah kumpulan cerpen, merangkum banyak peristiwa tentu saja. Tema besarnya adalah bagaimana jika Tuhan menghapus konsep evil dalam kehidupan? Kisah-kisah di dalam buku itu akan menggambarkan kemungkinan dan waktu berjalan paralel. Intinya sebetulnya tentang efek domino. ‘Jika A maka B’ dan di saat yang sama terjadi ‘jika C maka D’. Isu yang dibawa sendiri yang terpikirkan dibenak saya sekarang adalah kemanusiaan, kesetaraan gender, dan fanatisme beragama”.

Kami menayankan beberapa pertanyaan lain pada Icha. Dan setiap jawaban sungguh layak kita simak. Begitu kaya inspirasi dan kisah. Selengkapnya:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

ICHA PLANIFOLIA

Bagi saya yang berasal dari dusun dan keluarga yang biasa saja, pada mulanya buku adalah pengantar untuk mengenal apa pun yang tidak pernah saya bayangkan dalam kehidupan saya. Kejadian-kejadian yang tidak ada di sekitar saya.

Buku mengantar saya merasakan perjalanan-perjalanan yang tidak pernah saya tempuh. Mengunjungi tempat-tempat yang sejatinya belum pernah saya kunjungi. Memahami persoalan-persoalan yang mulanya bahkan tidak pernah melintas di kepala saya.

Karena itulah saya terus membaca. “Keep reading. It’s one of the most marvelous adventures that anyone can have.” (Lloyd Alexander)

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment berkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

ICHA PLANIFOLIA

Moment yang menjadi titik tolak saya berkenalan dengan buku adalah ketika usia 12 tahun, saya masuk sekolah menengah pertama. Pada masa orientasi siswa saya ditunjuk kakak kelas untuk maju menampilkan apa pun yang bisa saya tampilkan di hadapan seluruh siswa baru. Teman-teman lain ada yang bernyanyi, menari, bahkan pencak silat. Rasanya saya tidak punya keterampilan khusus semacam itu. Kakak pendamping saya mengusulkan pembacaan puisi. Ia bahkan berbaik hati meminjamkan puisi karyanya untuk saya bacakan, karena tentu saja saya tidak punya puisi karya saya sendiri sekaligus tidak hapal puisi karya penyair-penyair besar. Saya bahkan belum mengenal penyair kala itu.

Saya masih ingat puisi yang saya bacakan untuk pertama kalinya itu berjudul “Ziarah”, karya kakak kelas saya: Vincen Genera. Sejak hari itu, ada perasaan yang unik terhadap puisi. Semacam sebuah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Saya mulai mencari pinjaman bacaan yang berisi puisi. Majalah, buku, apa saja. Pelan-pelan saya menabung uang jajan saya. Waktu kenaikan kelas saya meminta Mama mengantar saya ke Gramedia. Betapa takjub saya, Gramedia itu besar sekali! Maklum rumah saya berjarak sekitar 38KM dari pusat kota. Dan orang tua saya tidak bisa mengajak saya terlalu sering berjalan-jalan ke pusat kota karena keterbatasan biaya. Itulah kali pertama saya memiliki buku  selain buku pelajaran sekolah. Kumpulan puisi “Aku” karya Chairil Anwar.

INTERVIEWER

Beri tahu kami dimana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit –yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari, atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

ICHA PLANIFOLIA

Dulu, saya selalu suka menghabiskan waktu membaca buku di kamar tidur. Di atas ranjang saya, sembari berbaring. Kini, saya sudah memiliki ruang baca khusus.

Di ruangan itu, sebuah karpet merah saya gelar, bantal-bantal berbagai ukuran saya letakan di sana, lengkap dengan lampu baca kekuningan. Dengan rak buku dari kayu yang dibuat kekasih saya membatasi sisi utara karpet itu. Beberapa rak buku lain dipasang menggantung di dinding. Jadi saya membaca dinaungi buku-buku dan cahaya kekuningan. Sebelum mulai membaca, saya akan menyalakan dupa. Perjalanan pun dimulai…

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

ICHA PLANIFOLIA

Jika pertanyaan ini tidak dibatasi jumlah: satu, saya akan menjawab semua buku yang saya baca memengaruhi saya. Namun jika harus memutuskan satu buku, saya kira jawabannya adalah Bumi Manusia. Saya menjadi begitu gelisah usai membaca buku itu. Bukan saja mengenal sejarah, saya menyelami kemanusiaan, harga diri, perjuangan, dan kesetaraan dengan pemaknaan yang berbeda.

INTERVIEWER

Menurut anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang Indonesia? Kenapa?

ICHA PLANIFOLIA

Sayang sekali saya tidak bisa memikirkan lima buku. Yang terlintas di benak saya hanya empat buku: Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Bagi saya, membaca buku-buku itu adalah mempelajari sejarah dengan cara yang sangat menyenangkan. Sebab gaya bertutur Pram yang ‘showing’ bukan ‘telling’ membuat saya membayangkan setiap detil peristiwa dan pergolakan di masa kolonial. Tetralogi Buru bisa menjadi pemantik untuk mencari kebenaran peristiwa sejarah. Bagaimanapun, karya tersebut merupakan fiksi. Untuk mencari kebenaran sejarah buku fiksi tidak dapat menjadi landasan, sehingga kita perlu membaca lebih banyak buku lain untuk mengetahui mana peristiwa yang benar-benar terjadi, mana yang merupakan imajinasi penulis.

Selain itu, kita memang memiliki sejarah kelam dalam hal intoleransi. Buku-buku ini –bagi saya- sungguh-sungguh menyadarkan saya bahwa pada dasarnya setiap manusia tidak layak disakiti atau direndahkan. Bahwa tidak ada pilihan lain dalam memperlakukan manusia kecuali memanusiakannya.

Berbicara peranan literasi, dalam buku itu kita dapat melihat bagaimana pergerakan perlawanan dapat dilakukan dengan menulis. Maka, membacanya menjadi sangat layak!

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

ICHA PLANIFOLIA

Saya coba jabarkan dalam kategori perubahan yang terjadi terhadap diri saya.

Pertama, yang begitu berpengaruh terhadap sisi kemanusiaan saya. Bumi Manusia. Selengkapnya sudah saya sampaikan pada jawaban nomor 4 dan 5.

Kedua, yang merangsang saya untuk berpetualang. Melihat Indonesia dan semua tempat lain lebih dekat. Berkenalan dengan masyarakat lokal. Belajar dari mereka. Belajar dari perjalanan. Belajar menjadi pemberani. Balada Si Roy karya Gol A Gong. Di kemudian hari, buku ini sungguh banyak mengubah saya. Mengantar saya menyambangi banyak tempat asing, mempelajari hidup di tempat-tempat yang jauh dari rumah.

Ketiga, yang mengubah persepsi saya tentang hal-hal yang demikian personal dan intim di hidup saya seperti ketuhanan, pernikahan, dan kesetaraan gender. Pengakuan Eks Parasit Lajang karya Ayu Utami. Banyak dialog muncul di kepala saya, antara saya dan diri saya sendiri. Saya lebih banyak mengajak diri saya berbicara usai membaca buku ini.

Sebenarnya perubahan dalam sisi ini juga sangat dipengaruhi oleh buku Tuhan Izinkan Aku menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan. Namun, saya membacanya ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, saya masih belum siap dengan keliaran isi kepala saya ketika itu. Sehingga banyak pemikiran yang saya tepis. Banyak kegelisahan saya abaikan ketika itu.

INTERVIEWER

Misalnya anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beritahu kami apa judul yang akan anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali anda memang akan memulai menulisnya!

ICHA PLANIFOLIA

Hahaha…pertanyaannya provokatif sekali! Pertanyaan cerdas! Barangkali setelah ini banyak dari orang yang telah berpartisipasi dalam interview ini sungguh-sungguh mulai menulis. Memberikan kontribusi untuk dunia literasi. Sungguh jeli!

Saya ingin menulis sebuah kumpulan cerpen, merangkum banyak peristiwa tentu saja. Tema besarnya adalah bagaimana jika Tuhan menghapus konsep evil dalam kehidupan? Kisah-kisah di dalam buku itu akan menggambarkan kemungkinan dan waktu berjalan paralel. Intinya sebetulnya tentang efek domino. ‘Jika A maka B’ dan di saat yang sama terjadi ‘jika C maka D’. Isu yang dibawa sendiri yang terpikirkan dibenak saya sekarang adalah kemanusiaan, kesetaraan gender, dan fanatisme beragama.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya Indonesia, dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir mengatasi ‘krisis’ literasi di Indonesia?

ICHA PLANIFOLIA

Saya begitu percaya bahwa semua berawal dari rumah. Kita bisa saja berkata apa pun tentang ‘kesalahan’ pemerintah atau siapa pun sehingga kita mengalami ‘krisis’ literasi. Tetapi saya selalu lebih suka membangun sesuatu daripada mengeluhkan apa yang ada. Maka, dimulai dari diri kita, rumah kita.

Menyuguhkan anak-anak dengan bacaan, mendampingi mereka membaca, mengajak mereka menulis buku harian sejak dini adalah hal-hal yang tampak sederhana namun saya yakin akan berdampak besar bagi diri anak yang suatu hari tumbuh menjadi manusia dewasa dan generasi penerus.

Sebab membaca dan menulis akan membuat setiap kita banyak berpikir, menganalisis, memahami setiap peristiwa tidak terbatas dari satu sudut pandang, dan paling penting tergerak membuat solusi untuk sesuatu hal yang dirasa sebagai sebuah persoalan. (*)

__________________________________________________________________________________________________________________

ICHA PLANIFOLIA: Karyawan swasta/ Biomarker Science Liaison. Menghabiskan masa kecil hingga meraih gelar apoteker di Bandung. Sempat tergabung dengan beberapa komunitas menulis, juga sempat menjadi penggerak Malam Puisi Bandung. Kini tinggal di Yogyakarta.

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Buku

Dari Achebe hingga Adichie: Sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria

mm

Published

on

Sastra juga milik mereka yang dari negeri jauh dan kerap dicap terbelakang untuk waktu yang bahkan tidak sebentar, tapi sastrawan mereka, karya sastra terbaik yang bisa mereka hasilkan memberi kita penadangan lain; rasa hormat dan empati yang lain, inilah mereka; sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria.

Chinua Achebe dan Wole Soyinka merupakan dua nama paling mewakilkan karya-karya fiksi Nigeria. Namun, karya-karya literatur dari negeri itu terus ditopang generasi baru sastra mereka, jauh lebih banyak dari dua nama besar tersebut. Disinilah kita melihat sepuluh pengarang yang kesuksesan internasionalnya menegaskan kemampuan mereka dan kedalaman literatur kontemporer Nigeria.

Chinua Achebe (1920-2013)

Chinua Achebe

Chinua Achebe merupakan salah satu penulis Afrika yang paling diakui secara international, dan kematiannya pada tahun 2013 mengundang banyak sekali penghormatan dari seluruh dunia. Meskipun dia seringkali disebut sebagai ‘Bapak literatur Afrika’, dia telah dua kali menolak pemerintah Nigeria yang ingin menjadikannya sebagai Komandan Republik Federal-pertama pada tahun 2004, dan kemudian lagi pada tahun 2011-dalam rangka protes melawan rezim politik di negerinya. Novel pertamanya Things Fall Apart (1958) adalah sebuah penggambaran yang intim atas pertikaian antara orang asli Afrika dari suku Igbo di bagian tenggara Nigeria dan pemerintah kolonial Eropa. Menenun bersama tradisi turun-temurun dengan kisah-kisah rakyat suku Igbo. Achebe menghamparkan permadani norma-norma budaya, perubahan nilai-nilai sosial, dan perjuangan individu untuk mendapatkan tempat dalam lingkungan ini.

Wole Soyinka (lahir tahun 1934)

Wole Soyinka

Ketika Wole Soyinka, seorang penulis sandiwara, penyair, dan penulis memenangkan hadiah nobel dalam bidang literatur pada tahun 1986, Achebe bergabung dengan seluruh rakyat Afrika untuk merayakan orang Afrika pertama yang menerima perhargaan tersebut. Tulisan-tulisan Soyinka sering berfokus pada opresi dan eksploitasi atas yang lemah oleh orang-orang kuat. Tak ada yang luput dari kritiknya, tidak para spekulan berkulit putih tidak pula eksploitor berkulit hitam, Wole Soyinka juga memainkan peranan penting dalam politik Nigeria, yang pada waktu itu menempatkannya pada bahaya besar sebagai pribadi. Pemerintahan Jenderal Sani Abacha (1993-1998) misalnya, menjatuhkan hukuman mati ‘in absentia’ kepada dirinya. Karya-karyanya termasuk novel seperti Ake: The Year of Childhood and Death and The King’s Horseman, You Must Set Forth at Dawn: A Memoir berisi pandangan-pandangan Soyinka sendiri atas hidupnya, pengalaman-pengalaman, dan pemikiran-pemikiran tentang Afrika dan Nigeria.

Femi Osofisan (lahir tahun 1946)

Seperti kebanyakan penulis-penulis Nigeria, seluruh bangunan karya milik Femi Osofisan-mencakup sandiwara, sajak-sajak dan novel-yang diisi oleh kenyataan kolonialisme dan warisan-warisannya, dan merupakan sebuah protes yang nyata melawan korupsi dan ketidakadilan. Meskipun demikian, eksplorasinya atas tema-tema yang melingkupi sejarah kompleks negaranya jarang sekali dituliskan secara harifiah. Sebaliknya, Osofisan menggunakan alegori dan metafora, dan tulisannnya seringkali mempunyai kecenderungan surealis. Novel pertamanya, Kolera Kolej (1975) menceritakan sebuah kampus Universitas Nigeria yang diberikan kemerdekaan dari dunia diluarnya untuk menghindari penyebaran wabah kolera. Drama pertunjukkannya yang paling terkenal, Women of Owu (2004) adalah penceritaan ulang dari The Trojan Woman milik Euripides. Osofisan menerjemahkan drama itu ke dalam perang Ijebe dan Ife yang menghancurkan kerajaan Owu dari tahun 1821-26.

Ben Okri (lahir tahun 1959)

Ben Okri

Ben Okri merupakan novelis yang termahsyur dan penyair yang karya-karya tulisannya menentang definisi. Dia seringkali dilabeli post-modern, namun jalinan terbukanya atas dunia arwah dalam cerita-cerita miliknya mengingkari genre ini. Pengarang ini juga menolak klaim bahwa karyanya jatuh ke dalam kategori ‘realisme magis’, memandang tulisannya bukan sebagai pengelanaan ke dalam dunia fantasi tetapi sebaliknya sebuah latar belakang kehidupan dimana di dalamnya mitos-mitos, para leluhur dan arwah-arwah merupakan komponen yang intrinsik. “Realitas setiap orang berbeda-beda,” dia suatu kali mengatakan. Karyanya yang paling terkenal The Famished Road (1991), membentuk sebuah trilogi dengan Songs of Enchantment dan Infinite Riches. Karya-karya itu mencatatankan perjalanan-perjalanan Azaro, narator yang merupakan arwah seorang anak.

Buchi Emecheta (lahir tahun 1944)

Buchi Emecheta

Lahir di Lagos dengan orangtua bersuku Igbo, Emecheta pindah ke London pada tahun 1960 untuk tinggal berama suaminya Sylvester Onwordi, yang pindah kesana untuk belajar. Pasangan itu telah bertunangan sejak berumur 11 tahun, dan meski pernikahannya menghasilkan lima orang anak, Onwordi merupakan pasangan yang suka melakukan kekerasan. Dia bahkan membakar naskah pertama istrinya, hal itu mendesak Emecheta untuk meninggalkannya dan menetapkan dirinya sebagai orangtua tunggal. Novel-novelnya mengambil contoh secara tajam dari kehidupannya sendiri dan memberi perhatian pada persoalan ketidakseimbangan gender dan perbudakan, dan bagaimana perempuan seringkali didefinisikan melalui kacamata yang sangat sempit tentang seksualitas dan kemampuan melahirkan anak. Karyanya yang paling diakui, The Joy of Motherhood (1979), memiliki protagonis seorang perempuan yang mendefinisikan dirinya sendiri melalui kehidupan seorang ibu dan memvalidasi hidupnya semata-mata melalui kesuksesan anak-anaknya. Emecheta dihadiahi sebuah OBE pada tahun 2005.

Sefi Atta (lahir tahun 1964)

Sefi Atta

Sefi Atta merupakan seorang penulis yang peka, yang memulai pembicaraan tema-tema polemik dengan sikap yang lembut dan penuh nuansa. Everything Good Will Come (2005), novel pertamanya, adalah kisah tentang Enitan, seorang gadis berusia 11 tahun yang sedang menunggu sekolah dimulai, dan persahabatannya dengan gadis tetangga, yang menerima sedikit bantuan dari ibu Enitan yang sangat religius. Disituasikan berhadapan dengan latarbelakang kekuasaan militer di Nigeria pada tahun 1970an, novel ini langsung menjadi buah bibir dan kampanye sunyi melawan korupsi politis dan represi atas perempuan. Atta dikenal secara luas untuk sandiwara-sandiwara radionya yang telah disiarkan di BBC, dan cerita-cerita pendeknya yang telah muncul di sejumlah jurnal termasuk Los Angeles Review of Books.

Helon Habila (lahir tahun 1967)

Setelah lulus dari University of Jos pada tahun 1995, Helon Habila bekerja sebagai seorang dosen muda di Bauchi, kemudian sebagai editor cerita untuk majalah Hints, sebelum pindah ke Inggris pada tahun 2002 untuk menjadi African Fellow di University of East Anglia. Pada tahun yang sama, novel pertamanya diterbitkan: Waiting for an Angel merupakan sebuah buku kompleks yang menjalin tujuh narasi, secara bersamaan berbicara tentang kehidupan dibawah kekuasaan pemerintahan diktator di Nigeria. Buku itu memenangkan Commonwealth Writer’s Prize di wilayah Afrika, membawa pengarangnya pada kesuksekan yang lebih besar. Dua novel berikutnya, Measuring Time (2007) dan yang terakhir, Oil on Water (2011) sama-sama mendapatkan sambutan yang baik, dan daftar hadiah dan penghargaan yang Habila telah dapatkan membuktikan ekspresi literaturnya yang canggih dan puitis.

Teju Cole (lahir tahun 1975)

Teju Cole

Lahir di Amerika Serikat dari orangtua berkebangsaan Nigeria, dibesarkan di Nigeria dan sekarang tinggal di Brooklyn, latar belakang kehidupan Cole begitu beragam begitu pula karirnya. Fotografer, sejarawan seni, dan penulis novel, dia juga merupakan penulis unggulan yang tinggal sementara di Bart College, New York. Open City (2011), novel pertamanya, dikisahkan di New York lima tahun setelah peristiwa 9/11, dan menelusuri kehidupan Julius, seorang lulusan psikiatri, saat dia berkeliling tanpa tujuan dipenjuru kota itu, kemudian ke Brussels, hidup tak menentu dan masih dalam masa pemulihan dari hubugan asmara yang lalu. Sementara lokasi-lokasi geografis memainkan peranan penting dalam novel itu, narasi tersebut dibaca sebagai sebuah peta atas dunia pribadi Julius, dengan pandangan yang berbeda-beda dan asosiasi-asosiasi yang berkelok-kelok menjalin kedalam cermin strukturnya yang seringkali merupakan proses-proses berpikir yang tak terjelaskan.

Adaobi Tricia Nwaubani (lahir tahun 1976)

Adaobi Tricia Nwaubani

Adaobi Tricia Nwaubani adalah seorang penulis novel, jurnalis, dan penulis esai yang sejak masih kecil telah mendemostrasikan ketertarikan pada dunia kepenulisan, memenangkan hadiah menulis pertamanya pada usia 13 tahun. Sebagai seorang jurnalis, dia telah memberikan kontribusi untuk New York Times, BBC, The Guardian, dan CNN, diantara banyak yang lainnya. Novel pertamanya I Do Not Come to You by Chance (2010) diceritakan dalam nada yang jenaka dan sedikit tak sopan yang menafikkan isu-isu fundamental yang dialamatkannya. Protagonis dalam buku itu Kingsley tidak dapat menemukan pekerjaan, dan beralih ke dunia gelap penipuan melalui email dengan cara mepermainkan kepercayaan seseorang. 419 scams (merujuk pada nomor aturan hukum pidana Nigeria.pener) ini sangat sering dikutip oleh orang-orang yang benci pada produk asing dan orang-orang rasis sebagai produk ekspor utama Nigeria, akan tetapi Adaobi menarik perhatian pada isu-isu yang penuh perdebatan ini dengan humor dan keringanan, menciptakan sebuah kisah keluarga, aspirasi dan pelajaran-pelajaran berharga yang datang seiring waktu.

Chimamanda Ngozi Adichie (lahir tahun 1977)

Chimamanda Ngozi Adichie

Adichie merupakan bagian dari sebuah generasi baru pengarang Nigeria yang dengan cepat menanjak reputasinya. Tiap-tiap dari tiga novelnya telah mendapatkan pengakuan universal dan penghargaan-penghargaan yang sangat banyak. Dua buku pertamanya secara garis besar mengandung atmosfir politik dari negara asalnya melalui kacamata pribadi dan hubungan-bungan kekeluargaan. Purple Hibiscus (2003), memenangkan Commonwealth Writer’s Prize untuk buku pertama terbaik, menceritakan kisah seorang anak Kambili berusia 15 tahun, yang ayahnya secara misterius terlibat dalam serangan mendadak militer yang mengguncang negaranya. Penerbitan Half of A Yellow Sun (2006) mengonfirmasi bahwa pengarangnya memiliki sebuah talenta yang unik. Dikisahkan ditengah-tengah perang Nigeria-Biafra, buku itu mencatatkan kengerian-kengerian yang terjadi setiap harinya melalui kehidupan-kehidupan berbeda dari keempat protagonisnya. Novel terbarunya, Americanah (2013) pada intinya merupakan sebuah kisah cinta yang begitu kuat antara Ifemulu dan Obinze, kekasih masa kecil yang dipisahkan ketika salah satunya pergi untuk belajar di Amerika. Meskipun begitu, buku itu masih mengangkat tema-tema seperti rasisme, imigrasi, dan globalisasi.

—————————————-

Diterjemahkan Marlina Sophiana dan Sabiq Carebesth (ed) dari From Achebe to Adichie by Rebecca Jagoe, www.theculturetrip.com.

 

Continue Reading

Inspirasi

Kemenangan Jurnalisme (Investigasi) Sekali Lagi…

mm

Published

on

Kesuksesan Spotlight meraih gelar Best Picture dalam ajang Academy Awards (Oscar) 2016 menjadi pembelajaran penting untuk dunia jurnalistik di Indonesia. Merebaknya isu senjakala media cetak dan semakin berkembangnya media berbasis daring tidak selayaknya menjadi suatu premis yang diperdebatkan. Isu-isu sentral seperti kualitas pemberitaan yang dimuat, penelusuran data, hingga teknik wawancara sejatinya tidak bergantung pada media apa yang digunakan, akan tetapi seperti apa metode yang diterapkan wartawan dalam memburu berita.

Film yang berangkat dari kisah nyata para reporter The Boston Globe ini seolah mengingatkan kembali akan pentingnya metode dalam penggalian data untuk berita. Film arahan sutradara Tom McCarthy tersebut secara gamblang menggambarkan betapa heroiknya Tim Spotlight – tim investigasi di koran The Boston Globe- membongkar kasus pedofilia yang melibatkan lebih dari 90 pastur di Gereja Katolik di sekitar Boston.

Pemberitaan yang dipublikasikan Tim Spotlight sejak tahun 2002 itu bukan hanya menggemparkan dunia, tetapi juga membuka fakta bobroknya sistem hukum dan agama di Boston yang ditutup-tutupi selama beberapa dekade. Tercatat, tim Spotlight telah menulis 600 artikel dalam kurun waktu setahun mengenai kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh pastur dari berbagai sudut pandang. Melalui metode jurnalisme investigasi serta mengedepankan jurnalisme data, tim reportase yang dimotori Marty Baron dkk ini menunjukkan bagaimana seharusnya media menyampaikan informasi secara akurat, jujur dan lengkap. Nilai-nilai itulah yang perlahan memudar di beberapa media-media Indonesia.

Tuntutan masyarakat akan kebutuhan konsumsi berita yang paling update disinyalir sebagai biang keladi terjadinya kompetisi antarmedia untuk menyajikan informasi secara cepat. Harus diakui, saat ini distribusi informasi relatif sangat mudah. Setiap orang bisa menjadi jurnalis untuk pengikutnya di portal media sosial atau website atau disebut mekanisme citizen journalism. Sayangnya, informasi yang super kilat itu tidak diimbangi dengan tingkat akurasinya. Bahkan, kerapkali terjadi media besar dan ternama menyebarkan informasi hoax atau yang belum tentu jelas kebenarannya.

Jurnalisme investigasi seperti apa yang dilakukan oleh tim Spotlight menjadi sangat urgen untuk diterapkan. Hanya saja dibutuhkan spirit yang lebih tinggi demi mendapatkan fakta-fakta yang peculiar. Hugo de Burgh dalam Investigative Journalism (2008) memaparkan peliputan investigasi sangat berisiko karena berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan, hal-hal yang sengaja disembunyikan, manipulasi laporan anggaran, serta sederet hal-hal yang bersifat memalukan.

Liputan investigasi tentu berseberangan dengan jargon jurnalisme kilat ‘yang penting cepat, biar salah nanti juga bisa diralat’. Seperti halnya ditunjukkan dalam film Spotlight, jurnalisme investigasi menekankan pada penguatan konsep berita serta kemampuan dalam analisis data. Oleh karena itu, sudah selayaknya para wartawan investigasi bekerja tanpa ada tekanan deadline. Wartawan investigasi seharusnya lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas sebuah berita. Akan tetapi bekerja di dunia media dengan berbagai dinamikanya, apakah mungkin profesi wartawan tidak dibebani deadline?

Mark Ruffalo (Michael Rezendes) dan Rachel McAdams (Sacha Pfeiffer) dalam adegan Spotlight. (getty image)

Merujuk pada Dandhy Laksono (2010), jurnalisme investigasi sebetulnya sudah familiar di Indonesia semenjak tahun 1949. Kala itu, harian Indonesia Raya menjadi pionir terbitnya tulisan bertema investigatif. Mereka mengangkat kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi di tengah masyarakat. Namun sayangnya, budaya peliputan investigasi itu luntur ketika memasuki zaman orde baru. Jurnalisme pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto mati suri lantaran dibungkam, media-media hanya menjadi kepanjangan tangan penguasa. Setelah tahun 1998, barulah kebebasan pers di Indonesia benar-benar bisa diraih. Media massa mulai berani mengabarkan carut marut pemerintahan pada masa itu.

Seiring dengan kecanggihan teknologi serta terbukanya akses informasi publik, maka seyogyanya proses investigasi berjalan lebih mudah. Keberadaan laporan investigasi ini sangat menarik karena menyajikan narasi yang bukan sekadar fakta tapi ada analisis dari berbagai aspek. Budaya investigasi inilah yang patut dipertahankan oleh media massa di Indonesia. Sebab seperti apa yang diutarakan Stephen Doig, jurnalisme investigasi menghindarkan para jurnalis dari anekdot serta menyandarkan jurnalis pada fakta dan data.

Di lain sisi, risiko dan tantangan untuk melakukan investigasi tetap tidak berubah dari masa ke masa. Mereka dihadapkan pada dilema akan adanya bahaya jika mengungkapkan sebuah kebenaran. Barangkali hal tersebut menjadi pertimbangan para pekerja media untuk tetap berada di zona nyaman. Belum lagi masih adanya invisible hand yang serta merta bisa memberikan rasa was-was bagi para pekerja media maupun orang-orang yang siap menjadi whistle blower. Beruntungnya, masih banyak wartawan media maupun jurnalisme warga yang berani berbicara menegakkan kebenaran. Maka apresiasi setinggi-tingginya patut disematkan bagi pekerja media yang menggeluti jurnalisme investigasi. (*)

———————————-

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Trending