© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Menjadi Pembaca Kritis yang Berpikir Kritis

Oleh: Aprileny

Sepanjang tahun 2016 sebagai guru bahasa saya ditohok dengan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimanakah sebenarnya kegiatan membaca dan berpikir kritis. Dalam kemeriahan dan kemurahan jalan masuk menuju informasi di zaman sibernetika ini, semua orang berhak menemukan informasi yang dibutuhkan dan yang diinginkan. Akan tetapi, dari hak menemukan informasi itu, bagaimanakah sebenarnya proses membaca terjadi agar manfaat informasi tersebut dapat dinikmati sebesar-sebesarnya oleh sang pembaca? Tulisan ini saya maksudkan untuk menjawab kerisauan saya sebagai guru bahasa yang harus selalu mengolah informasi gagasan berbentuk bacaan. Beruntung, saya menemukan artikel di Internet berjudul, “Critical Reading v. Critical Thinking” yang menolong  saya keluar dari kegalauan di muka tahun 2017 ini.

Membaca kritis dan berpikir kritis bukanlah kegiatan yang sama. Membaca kritis berarti menemukan informasi dan gagasan di dalam sebuah bacaan. Membaca kritis berarti ketika seseorang membaca maka ia berhati-hati, bertindak aktif, menimbang segala kemungkinan dan mengelompokkan informasi atau gagasan yang ia dapati dari bacaannya. Sedangkan berpikir kritis bermakna menimbang atau menilai informasi dan gagasan dalam upaya untuk memutuskan apakah informasi atau gagasan itu dapat diterima dan dipercayai. Berpikir kritis adalah mempertanyakan keabsahan informasi atau gagasan yang diterima oleh sang pembaca dari bacaannya berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya terhadap dunia. Membaca kritis mirip seperti menjadi anjing pelacak dalam upayanya menemukan bom yang terkubur di bawah tanah, dan berpikir kritis mirip dengan menjadi seorang penjinak bom yang harus melakukan tindakan tertentu terhadap dugaan si anjing pelacak.

Membaca kritis meliputi serangkaian tindakan ketika seseorang membaca. Seorang pembaca harus memahami apa topik bacaannya, ia harus bertanggung jawab untuk dapat memahami peristilahan yang muncul dan ia harus melacak adanya bukti yang disodorkan  sang penulis bacaan. Selain itu sang pembaca harus mempersenjatai dirinya dengan pengetahuan umum sekaitan topik bacaan, lalu ketika ia menemukan kesenjangan antarinfomasi atau antargagasan maka ia wajib menemukan cara agar ia dapat menjembatani informasi atas gagasan itu. Pembaca juga berkeharusan menemukan alur sebab-akibat dalam bacaannya dan ia berkewajiban merumuskan simpulan bacaan yang ditarik secara logis dengan bantuan argumen dan bukti dari bacaannya.

Lalu, apakah membaca kritis sudah cukup bagi pembaca? Seseorang membaca karena perlu atau ingin. Berarti ada tindakan akhir yang harus dilakukan oleh seorang pembaca terhadap bacaannya. Jika X memerlukan informasi A maka tindakan akhirnya adalah menilai apakah ia dapat menerima dan memercayai informasi A yang ia temukan. Jika Y menginginkan gagasan B maka ia harus menimbang apakah gagasan B layak ia terima dan percayai. Pembaca X dan Y akan mengkonfrontasi informasi A dan gagasan B dalam usahanya menerima dan memercayai informasi atau gagasan itu. Tindakan menilai, menimbang, menerima dan mempercayai informasi atau gagasan itu adalah tindakan berpikir kritis.

Dan, bagaimanakah berpikir kritis itu bekerja? Seorang pembaca harus meletakkan bukunya atau kindle-nya dulu sejenak, atau jika ia membaca melalui laptop ia harus sedikit  menjauhkan benda  itu dari dirinya. Ia harus mengambil waktu agar ia dapat mengambil keputusan: terima atau tidak terima, percaya atau tidak percaya.

Berpikir kritis berarti sang pembaca harus rasional, memiliki kesadaran diri, kejujuran, berpikiran terbuka, disiplin, dan dapat mengambil keputusan. Pembaca yang rasional secara singkat berarti hanya mempertimbangkan bukti. Ia harus jujur bahwa ada dorongan emosional, tujuan untuk diri sendiri, tujuan jahat dan penipuan diri yang dapat memengaruhi pertimbangannya.

Pembaca yang berpikir kritis berarti berpikiran terbuka yaitu mampu mengenali dan memahami kadar tujuan, bias, anggapan, prasangka, dan sudut pandang diri sendiri. Seorang pembaca yang berpikiran terbuka akan mempertimbangkan pendapat, penjelasan, jalan keluar, sudut pandang yang berbeda dan tidak popular. Ia juga akan terbuka pada kemungkinan bahwa suatu fakta adalah benar berdasarkan informasi yang terkait dengan fakta itu.

Pembaca juga harus disiplin dalam pertimbangannya. Ia harus membaca informasi atau gagasan dengan tekun, teliti, tepat dan dalam. Sekaitan dengan kesadaran diri, pembaca yang disiplin harus mampu menahan diri dari dorongan emosional, tujuan untuk diri sendiri, tujuan jahat dan penipuan diri dan ia tidak boleh ceroboh menyimpulkan secara tiba-tiba.

Dan terakhir, pembaca yang berpikir kritis akan mengambil keputusan. Mengambil keputusan berarti ia harus dapat melihat relevansi, kebenaran dan keuntungan dari pandangan yang berbeda. Pembaca yang dapat mengambil keputusan adalah pembaca yang memilih berdasarkan kedalaman dan keluasan bukti.

Dan pada akhirnya, sebagai seorang guru bahasa saya menyadari satu hal. Di kelas membaca saya dan murid-murid memang sudah terbiasa dengan membaca kritis, tetapi tidak dengan berpikir kritis. Berpikir kritis adalah bersikap skeptis dan pembaca kritis yang meragukan keterkaitan nilai bacaannya dengan kehidupan sehari-hari adalah pembaca yang skeptis. Dan, alangkah menjengkelkannya memiliki murid yang bersikap skeptis di kelas membaca jika gurunya tidak terbiasa dengan dialog dan diskusi. Dan, yah, memalukan memang, tetapi, bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan? (*)

**Materi berpikir dan membaca kritis ini disadur dari:  http://www.criticalreading.com/critical_reading_thinking.htm

http://www.criticalreading.com/critical_thinking.htm

Aprileny: Penterjemah dan Guru bahasa dan koordinator kurikulum di HighScope Indonesia unit Alfa Indah.

 

 

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT