Connect with us

Buku

Menggeledah Misteri Kekerasan

mm

Published

on

JUDUL BUKU : Kambing Hitam Teori René Girard

PENULIS : Sindhunata

PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

TAHUN TERBIT : 1, 2006 TEBAL : xiii + 422 halaman

Oleh: Ahmad Jauhari*

“(Yang jahat) mampu mengulang dirinya, secara tak terampuni, tanpa penyesalan dan janji,” demikian kata Derrida. Ungkapan Derrida tersebut hendak menunjukkan bahwa kekerasan sungguh selalu menyelimuti hidup kita. Kesemuanya terjaring dalam selimut kekerasan. Ia bisa menghampiri siapa saja. Manusia yang lembut dan ramah, termasuk perempuan yang cantik, cerdas dan sopan, sekejab bisa berubah garang, geram, dan brutal, begitu kekerasan menghampiri mereka.

Lewat terang buku Sindhunata ini, berjudul Kambing Hitam teori René Girard, kita diajak mengelupasi kekerasan mulai dari kulit terluar sampai biji misterinya yang terdalam. Girard membuat banyak orang terperangah. Teorinya seakan adalah ramalan yang kebenarannya belakangan ini terbukti ketika dunia dilanda kekerasan tiada habisnya. Lewat analisis sastra, budaya, dan agama, Girard menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi menghancurkan dirinya sendiri dan kultur adalah bangunan yang amat rapuh.

René Girard adalah intelektual masyhur kebangsaan Prancis. Ia lahir persis di Hari Natal 1923. Ilmuwan besar abad ke-20 ini mengupas kekerasan dari perspektif korban. Dalam arti karyanya bukan melulu kajian teoritis, melainkan juga rasa empatik terhadap runtuhnya solidaritas, pengejaran oposisi dan minoritas, merebaknya kekerasan massa, teror, terlantarnya rakyat dan luka-luka yang tetap basah tak tersembuhkan.

Dalam buku ini, Sindhunata membagi teori René Girard kedalam tiga fase perkembangan. Pertama, teori hasrat mimesis yang terkait dengan bidang sastra. Teori ini didasarkan Girard berkat penelitiannya atas lima novelis besar dunia, yakni Miguel de Cervantes, Gustave Flaubert, Marcel Proust, Sthendhal, dan Fyodor Dostojevsky. Teori ini termaktub dalam Deceit, Desire, and the Novel. Self and Other in Literary Structure (1965).

Kedua, teori kambing hitam, yang terkait dengan bidang antropologi budaya. Teori ini bersumber dari penelusuran Girard atas mitos, ritus pengorbanan agama arkais dan tragedi besar Yunani di zaman antik. Penelitian ini disarikan dalam buku Violence and the Sacred (1972). Ketiga, telaah Kitab Suci dan teologi, khususnya interpretasi terhadap kristianitas. Kajian ini dibukukan dalam Things Hidden since the Foundation of the World (1987).

Gagasan Girard menyangkut kekerasan dapat dipadatkan demikian: Setiap hasrat mengandung ruas konflik oleh sebab berwatak mimesis. Wajah mimesis yang memperbudak kebebasan manusia, berbentuk kebencian dan kecemburuan, menghadirkan rivalitas.

Rivalitas memanggil-manggil eksistensi kekerasan. Kekerasan yang mulai bangkit membentuk mekanisme kambing hitam. Inilah yang disebut Girard sebagai hasrat segitiga, yang berarti suatu sistem metafisik, oleh sebab ia merupakan struktur dasar pengalaman manusia, kemudian menjelma dalam pengalaman konkret, yang satu sama lain itu sebenarnya seragam.

Teori kambing hitam René Girard, menurut Sindhunata, memberi nuansa baru hubungan agama dan kekerasan. Kata Girard, Religions is always against violence. Bangunan kultur masyarakat, termasuk juga agama yang dianggap barang suci sekalipun, meneguk juga darah kekerasan. Kekerasan dalam agama itu paling nampak ketika menjalankan ritus korbannya, entah dengan persembahan manusia maupun binatang. Praktek kekerasan yang dibungkus ritus seolah dan justru dianggap puncak kesucian. Untuk itu ia tak habis-habisnya menelanjangi agama. Maka Girard sampai pada kesimpulan yang cukup mengejutkan: Violence is the heart and secret soul of the sacred (hlm. 205).

Kultur, bahkan juga agama, adalah institusi manusia yang dihantui rivalitas dan kekerasan yang bermuara pada pembunuhan kambing hitam. Girard menelanjangi muslihat dan tata karma kultural maupun religius yang kelihatannya amat luhur. Ia meramalkan ‘akan datang saat di mana agama tidak mampu lagi meredam kekerasan’. Ramalan itu seolah sungguh-sungguh terjadi. Kekerasan meledak bagai letusan gunung berapi. Inilah yang terjadi pada tragedi berdarah 1965 maupun peristiwa 11 September 2001.

Titik lengah agama dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengelola kekerasan (the economic violence) membuat dunia tak kunjung padam akan bara api krisis korbani. Krisis korbani tak selalu lahir berkat lunturnya ritual keagamaan, melainkan juga disebabkan oleh tipisnya garis batas antara kekerasan ‘suci’ dan kekerasan jahat. Agama mestinya berfungsi, kata Girard, “untuk menunjukkan kekerasan, dan menjaga supaya kekerasan itu tidak liar” (hlm. 211).

Di zaman globalisasi, agama mengalami kegagalan menjalankan fungsinya sebagai economic of violence. Hal itu muncul, kata Girard, oleh sebab krisis diferensiasi. Budaya, komunitas dan etnik akan terancam rusak akibat mengerutnya diferensiasi dalam proses interaksi antar manusia. Mimetis dan rivalitas cenderung membawa pada situasi yang seragam. Kondisi tanpa ada diferensiasi memungkinkan pendulum menuju muara kekerasan.

Demistifikasi

Selangkah lebih maju, Sindhunata mengurai kekerasan justru memungkinkan demistifikasi. Sebab, sambil mengutip Girard, demistifikasi diri sesungguhnya adalah suatu pertobatan. Bahwa, an experience of demystification, if radical enough, is very close to an experience of conversion. I think this has been the case with a number of great writers (hlm xi). Pengalaman pertobatan itu, diperoleh Girard, saat menulis karyanya yang pertama, Deceit, Desire, and the Novel, Self and Other in Literary Structure (London, 1965). Di buku tersebut, Girard menjelajahi novel-novel karya penulis terkenal: Miguel de Cervantes, Guatave Flaubert, Stendhal, Marcel Proust, termasuk juga Fyodor Mikhailovitsy Dostojevsky.

Girard sendiri bahkan terkaget-kaget, bagaimana novelis-novelis klasik itu mampu menuliskan pergulatan tokoh-tokohnya melawan segala kesia-siaan diri, sampai akhirnya mereka dapat meninggalkan segala kehampaan itu, kemudian menerima dirinya, apa adanya.

Marcel Proust, misalnya dalam karyanya tentang The Past Recaptured, tentang kisah kenangan dengan tokohnya Mme de la Fayette, melantunkan “kematian adalah keharusan. Ia melihat keharusan itu sudah sangat mendekat. Karena itu, ia terbiasa untuk menarik diri dan sakitnya yang lama membuat penarikan diri itu kebiasaan… Ia melihat nafsu dan kegiatan duniawi dengan penglihatan seperti penglihatan orang-orang yang bervisi lebih dalam dan luas” (hlm. 83). Visi yang dalam dan luas itu hanyalah dimiliki oleh mereka yang secara literer lahir dari kematian.

Kisah pertobatan yang serupa itu muncul lagi dengan sangat terang-terangan dalam karya Dostojevsky tentang Notes from Underground. Novel itu membisikkan suara manusia yang telah menarik diri dari lingkungan masyarakat setelah mengorbankan cinta dan bakatnya. Karya ini pada dasarnya menyoroti relung-relung kejiwaan secara filosofis ini, menampilkan tokoh seorang pemuda yang peka, yang mampu merasakan penolakan dari lingkungan kehidupannya, padahal ia merasa lebih unggul dalam intelegensia. Karena kehilangan daya untuk mencintai dan dicintai, ia pun mengobarkan cita-citanya dengan tujuan despotisme. Kemudian mengalami keterlemparan dalam hidup, lalu melakukan demistifikasi diri.

Bagi Girard, pertobatan para tokoh itu sesungguhnya adalah pengalaman diri para novelis sendiri. Mereka mengalami suatu kejatuhan diri, di mana mereka dipaksa untuk meninggalklan segala anggapan dirinya selama ini. Kejatuhan memang menyakitkan. Tapi justru dengan kejatuhan itulah mereka memperoleh prespektif baru. Mereka tak terdorong lagi untuk membuat pembenaran diri, dan tak menggoreskan lagi kisah yang bercerita tentang dikotomi hitam dan putih dari tokoh-tokohnya. Tidak ada yang baik di atas yang jelek.

Para novelis itu bahkan merasakan, yang jelek, yang sia-sia, yang artifisial, yang suka meniru itu bukanlah orang lain atau pun tokoh yang mereka ciptakan, melainkan diri mereka sendiri. Terhadap segala kesia-siaan itu, para novelis ingin bersimpuh dan bertobat. Girard mengatakan, “So the career of the great novelist is dependent upon a conversion and even if it is not made completely explicit, there are symbolic allusions to it at the end of the novel. These allusions are at least implicitly religious” (xii).

Pengalaman para novelis ternyata telah mampu membimbing Girard untuk bersimpuh pada an intellectual-literary conversion. Sehingga, pada hari Kamis Putih, Girard mengikuti ibadat yang telah lama ditinggalkannya. Lalu dengan suara lirik berkata, “So on Holy Thursday I went to Mass after going to confession. I took the Eucharist. I felt that God liberated me just in time for me to have a real Easter experience, a death and resurrection experience.” (hlm. xii).

Buah karya Sindhunata ini ditulis ke dalam lima bagian, yang ditutup dengan 2 ekskursus. Pertama, mengupas dan mengkritisi Kultur Batara Kala yang diperlihatkan bahwa dalam mitos Jawa, mimesis, sudah mulai tampak dalam teogoni (kisah mengenai asal-usul dewa), rivalitas, dalam kisah Sugriwa & Subali, kemudian kambing hitam dalam nasib anak-anak Sukerta. Ekskursus kedua, bertutur mengenai Kesedihan Putri Cina. Orang-orang Cina yang selalu menjadi kambing hitam ketika terjadi pergolakan atau gesekan sosial.

Di akhir buku ini, Sindhunata menggoreskan esai yang cukup menyentuh mengenai wajah Cina yang selalu menjadi “cermin kecurigaan dan kebencian”. Karya ini merupakan refleksi Sindhunata sebagai Cina peranakan untuk membebaskan diri dari jeratan karma kambing hitam. Ia juga membisikkan pada kita untuk juga menyapa manusia secara personal, agar mendemistifikasi diri, sebab demistifikasi sesungguhnya adalah suatu pertobatan. (*)

____________________________

*) Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Sembari Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Milenia

Marlina dan Perlawanan Perempuan

mm

Published

on

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, film yang masih tayang di bioskop ini menghadirkan perempuan dan penindasan. Tokoh perempuan yang diceritakan dalam film ini merupakan sebuah upaya pembuat film dalam menyebarkan pesan keberanian. Film ini memuat semangat juang para perempuan yang akhirnya keluar dari penindasan yang mereka alami selama ini. Perempuan yang acap kali dicap sebagai sosok yang lemah berhasil dipatahkan lewat adegan demi adegan di film ini.

Marsha Timothy sukses memainkan karakter Marlina. Ini dibuktikan dengan penghargaan tingkat dunia yang berhasil ia gondol. Marlina digambarkan sebagai perempuan yang tidak cuma diam membisu saat dirinya diopresi oleh sekelompok laki-laki. Ia dengan gagah melawan perlakuan semena-mena dari para lelaki. Tidak mudah bagi Marlina untuk lepas dari cengkeram kuasa jahat para lelaki.

Marlina, seorang janda yang ditinggal mati suami dan anaknya harus rela rumahnya didatangi sekawanan pria. Gerombolan laki-laki itu menyatroni rumahnya dengan maksud mengambil hewan ternak kepunyaan Marlina sebagai pengganti hutang yang belum terbayar. Pada awalnya, Marlina menuruti permintaan demi permintaan para perampok dari mulai menyuruh dibuatkan minum, makan, hingga pasrah ketika sapi, babi, dan binatang lain miliknya digiring naik ke atas truk. Namun ia sangat cerdik rupanya. Ia telah membubuhi racun ke dalam makanan yang akan disajikan kepada para laki-laki tak tahu diri itu. Satu persatu para laki-laki itu tumbang dan tak berdaya dengan racun yang merasuki tubuh.

Tersisa tiga dari tujuh laki-laki yang belum meregang nyawa. Salah satunya Markus, pria berumur separuh abad ini merupakan yang tertua di antara rekan-rekan perampok. Markus tak sampai teracuni sup ayam buatan Marlina karena mangkuk supnya jatuh dan pecah. Peran pria uzur ini diperagakan oleh Egi Fedly. Nafsu birahi Markus tersalurkan dengan memperkosa Marlina. Sayangnya nasib malang tak dapat ditolak. Kepuasan Markus harus ditukar dengan hilang nyawanya. Marlina terus memberontak saat disetubuhi, hingga parang pun melayang menebas kepala Markus.

Perwujudan Perempuan yang Tampil Bertindak

Alur kisah dalam film ini pun berlanjut. Marlina yang mencari keadilan segera menuju ke kantor polisi. Kepala Markus yang sudah terpenggal ia tenteng ke mana-mana. Marlina tak gentar menuntut hukuman setimpal bagi para bandit yang masih hidup atas apa yang menimpa dirinya. Potongan tubuh Markus yang kadang kala membuntutinya pun tidak menyurutkan niat Marlina.

Marsha Timothy, Pemeran Utama Film “Marlina the Murderer in Four Acts”

Marlina sukses melampaui anggapan dari aliran feminism eksistensialis. Feminisme eksistensialis memandang perempuan sebagai jenis kelamin kedua atau the second sex yang mendefinisikan dirinya liyan. Sedangkan laki-laki melabeli dirinya sebagai Sang Diri. Ia ada untuk dirinya. Liyan bertugas melayani Sang Diri. Wanita disimbolkan sebagai objek yang dikuasi Diri atau subjeknya. Ada relasi kuasi superioritas dan inferioritas.

Marlina unggul pada tamatnya cerita, meski di permulaan sempat beradu dan tunduk sementara pada laki-laki. Penggiat feminism eksistensialis, Simone de Beauvoir menegaskan, dalam dunia patriarki, perempuan tidak bisa lepas dari jerat dunia laki-laki, perangkap ini merupakan tanda penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Para bandit-bandit sepertinya menerapkan pemikiran itu.

Bentang alam Sumba menjadi latar perjalanan Marlina ke polsek terdekat dari rumahnya. Film ini juga menggambarkan betapa ketersediaan sarana transportasi masih jarang di Sumba. Untuk mendapat tumpangan bus truk, warga harus menanti selama satu jam. Begitu pula Marlina. Bahkan ia harus menyambung perjalanannya dengan menunggangi kuda.

Fakta tersebut sangat kontras dengan mudahnya akses komunikasi, yang ditunjukkan dengan adanya interaksi antar tokoh yang sedang berkomunikasi lewat telepon seluler. Film ini pun tak sepenuhnya menikam penonton dengan terus-menerus meneror lewat bayangan seram dan berdarah-darah. Kejadian-kejadian menggelitik mengundang tawa dimunculkan lewat dialog khas Sumba.

Lagi-lagi, pemahaman mengenai perempuan  punya kekuatan untuk menantang sekaligus menentang ketakberpihakan yang menimpa ingin ditularkan kepada penonton dari film ini. Tokoh Mama dan Novi turut mengokohkan film ini sebagai propaganda agar perempuan jangan mau diinjak nasibnya oleh laki-laki.

Mama di sini diperankan sebagai wanita yang tak menampakkan rasa takut sama sekali meski melihat Marlina membawa kepala Markus tanpa dibungkus kain. Berbeda dengan penumpang lelaki yang justru ketakutan dan berusaha menghindar dari Marlina. Mama juga memiliki andil besar dalam perkawinan keponakannya. Ia ditugasi untuk segera mengirim tambahan kuda sebagai semacam mahar bagi ponakan laki-lakinya yang akan menikahi seorang perempuan. Adegan ini merefleksikan bagaimana laki-laki seolah-olah bisa menebus perempuan dengan harta sebagai penggantinya.

Novi, teman Marlina ikut menambah gambaran betapa kuatnya perempuan Sumba. Novi yang tengah mengandung 10 bulan ikut membantu Marlina dalam mengatasi kisruh dengan para bandit laki-laki. Novi bahkan tanpa ragu-ragu memenggal kepala Frans yang memerkosa Marlina pada babak akhir. Kondisinya yang sedang hamil besar tidak menghalangi langkahnya dalam menghadapi ulah para lelaki yang semena-mena, termasuk Umbu, suaminya. Setiap detil percakapan atau laku dalam film ini benar-benar mencerminkan usaha untuk memberi panduan kepada masyarakat tentang bagaimana memandang perempuan dan laki-laki secara setara. Status janda, kemiskinan, kehamilan, harta, pernikahan, pemerkosaan, dan aparat hukum merupakan sedikit dari banyak hal yang coba ditonjolkan lewat film ini.

Kehamilan perempuan begitu diatur sedemikian rupa oleh konstruksi pikiran masyarakat. Novi menanggung akibat dari masyarakat yang terlalu menyetir urusan reproduksi perempuan itu. Suami Novi menyimpan rasa ketidakpercayaan kepada Novi yang konon hamil sungsang, tak kunjung melahirkan. Umbu termakan hasutan masyarakat dan orang lain, daripada memilih yakin dengan istrinya.

Novi menyepakati kepercayaan yang dipegang para penganut paham feminism radikal. Feminisme radikal libertarian berprinsip bahwa orang lain tidak perlu mencampuri urusan reproduksi perempuan. Seksualitas adalah ranah pribadi yang tak usah diganggu oleh omongan masyarakat. Dominasi atas lingkup privat berarti pelanggaran yang lebih luas dan berbahaya hingga ke wilayah publik. Novi tak mengambil pusing dengan desas-desus orang-orang mengenai kehamilannya yang tak kunjung lahir. Baginya, tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Perempuan bebas menentukan apapun yang berhubungan dengan raganya termasuk urusan reproduksi dan kesehatan.

Marlina terpaksa mendapat kesialan yakni diperkosa karena status jandanya. Markus bahkan berujar, Marlina akan menjadi perempuan paling beruntung karena akan tidur bergilir dengan para lelaki. Kehebatan Marlina pun terpapar, ia tidak diam dan sanggup menampik perkataan Markus. Menyandang status janda sangat riskan saat hidup di masyarakat. Apalagi diperparah dengan perkosaan yang dilakukan Markus dan Frans. Penderitaan Marlina sungguh bertumpuk.

Aparat hukum pun lemah dan tak kunjung menyelesaikan aduan pemerkosaan yang dilaporkan Marlina. Polisi justru sibuk bermain ping-pong. Aparat kepolisian malah mengutarakan berbagai alasan seperti tidak ada kendaraan operasional, dan ketiadaan fasilitas kesehatan saat Marlina membutuhkan penuntasan dan pengusutan kasusnya segera.

Apa yang disuguhkan dalam film ini menunjukkan sebuah kegagalan dari sistem patriarki dan dampak buruk dari dominasi laki-laki. Perempuan yang terkena masalah kekerasan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga tampak dibiarkan saja. Perempuan dinilai pantas memeroleh itu semua dan tak berhak protes karena seperti itu garis hidupnya. Gejala yang mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat apabila praktik penindasan diabaikan tanpa penyelesaian.

Film ini juga mengulas secara satir bagaimana sarana sanitasi masih minim di daerah pedalaman. Novi dan Marlina terlihat dalam secuil adegan tengah kencing di padang sabana. Mereka seakan lumrah dengan kebiasaan tersebut karena memang terbatas fasilitas.

Akting para artis dalam film ini sangat memukau dan berkesan. Diputarnya film ini, diharapkan bisa mengembalikan kejayaan dunia sineas Indonesia. Dan semoga opresi terhadap perempuan bisa terhenti. Baik perempuan dan laki-laki sama-sama menyadari kedudukan mereka setara, tidak ada yang tinggi atau rendah. (*)

 

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Buku

Melawan Klise, Menghampiri Kesegaran

mm

Published

on

Simon Dentith dalam bukunya tentang Bakhtinian Thought: Antroductory Reader (1995) mengatakan sebuah kamus adalah sebentuk makam bagi bahasa. Temuan Dentith ini sungguh mengejutkan, mengingat definisi kamus pada umumnya merupakan penanda (kata/frase/idiom) secara sangat general, terlepas dari konteks sosial saat penanda itu diungkapkan atau dipakai.

Dengan pemahaman tersebut berarti sebuah kamus malah seringkali menjadi sarana untuk meringkus dan membatasi makna suatu penanda, dan bukan justru dijadikan wadah atau penampung ketakterbatasan kemungkinan makna sebuah penanda dalam konteks-konteks sosial tertentu. Akibatnya, justru kamuslah yang menjadikan suatu (makna) bahasa menjadi terhimpit dan terbelenggu oleh serangkaian daftar istilah yang termaktub dalam sebuah kamus.

Namun, maklumat Dentith di atas nampaknya kurang tepat—untuk tidak mengatakan tidak berlaku—bagi Tesaurus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Eko Endarmoko ini. Kamus bukannya menjadi makam bagi bahasa sebagaimana dikhawatirkan Dentith, tetapi justru kamus-kamus sinonim semacam ini memungkinkan bisa menjadi sarana yang amat penting bagi siapapun, khususnya mereka yang setiap hari bergulat dengan bahasa atau dunia tulis-menulis sebagai wahana untuk memperkaya dan menghidupkan (makna) bahasa.

Dalam dunia tulis-menulis sesungguhnya bukan sekedar menyusun kata, kalimat, paragraf lantas menjadi tulisan yang utuh. “Dalam menulis”, begitu kata Goenawan Mohamad dalam sampul belakang, “saya selalu ingin menghindari satu kata yang sama berulang dalam satu kalimat—bahkan kalau mungkin dalam satu paragraf. Bagi saya”,  begitu lanjut Mas Goen biasa disapa, “tiap karya tulis yang bersungguh-sungguh ibarat sebuah ukiran. Prosesnya memerlukan kreativitas dan ketekunan, inovasi terus-menerus, dan kemauan meneliti pelbagai anasir untuk memasukkan yang ‘baru’ itu”. Itulah dunia tulis-menulis. Ia membutuhkan kecergasan dan ketangkasan mengunyah kata-kata.

JUDUL : Tesaurus Bahasa Indonesia PENULIS : Eko Endarmoko PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta TAHUN TERBIT : Pertama, 2006 TEBAL : xxii + 715 halaman

Dalam bahasa Inggris, misalnya avontur dalam merangkai kata-kata semacam itu mungkin tidaklah terlalu sulit. Seorang penulis siap dibantu oleh “kamus” seperti Merriam-Webster’s Collegiate Thesaurus (1993), Collins English Thesaurus in A-Z Form (1993) atau The Concise Roget’s International Thesaurus (2003). Di sana kekayaan sinonim bahasa didaftar dengan begitu rapi dan tangkas.

Dalam bahasa Indonesia, paling tidak sudah ada dua kamus sinonim yang menjadi umum dikenal publik. Pertama, Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (1988) karya Harimurti Kridalaksana. Kedua, Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia (2000) disusun oleh Nur Arifin Chaniago dkk. Namun, keduanya kurang begitu lengkap dalam menyusun lema atau entri, dan nampak cara penyajiannya pun belum sungguh-sungguh digarap secara sistematis.

Menjadi penting untuk disadari, seperti dalam bahasa lain juga, bahwa tidak ada kesamaan makna yang mutlak dalam bahasa Indonesia. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dialek regional (contoh: menurut dan manut), dialek sosial (contoh: kebatinan, mistik dan tasawuf), dialek temporal (contoh: abdi dan pelayan), nuansa makna (contoh: dongkol, geram, dan marah), serta perbedaan ragam bahasa (contoh: mampus dan meninggal). Semua perbedaan itu menegaskan bahwa makna kata senantiasa ditentukan atau terkait oleh konteksnya dalam kalimat (hlm. viii). Inilah satu kelebihan Tesaurus garapan Eko Endarmoko ini. Pembaca bisa leluasa memilih makna kata-kata yang sesuai bersama konteksnya.

Di samping itu, Tesaurus ini juga sungguh membantu bagi orang-orang yang setiap saat berjibaku dengan bahasa atau tulisan. Hal ini dimungkinkan untuk menghindari klise dalam penggunaan suatu kata, frase, dan idiom tertentu dalam satu kalimat atau sebuah ungkapan. Penggunaan sebuah kata, frase, atau idiom akan menjadi tumpul, kurang segar, dan nampak kehilangan makna, jika sudah amat sangat sering digunakan, sehingga tanpa disadari sebenarnya mereka sudah terjerembab dalam klise.

Bagi orang yang berhasrat membahasakan pikiran atau perasaannya dengan tepat, cermat atau elok dan santun, Tesaurus ini merupakan tambang emas kata yang sangat diperlukan. Buku inilah yang saya kira dinanti-nantikan oleh para penulis, penyair, pengajar, dan pelajar untuk memperagakan serta memperkaya bahasa Indonesia yang narum dan bernas. Sungguh kita dapat menimba dari karya Eko Endarmoko ini sebagai sebuah hasil dari ikhtiar yang patut dicatat sejarah.***

 

*)Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

 

Continue Reading

Buku

Duka dan Nestapa Para Pencinta

mm

Published

on

Oleh Arif Yudistira*)

Membaca cerita selalu membuat kita sadar, bahwa hidup yang kita jalani adalah kenyataan, bukan fiksi. Meski begitu, cerita selalu mengajak kita menjelajahi berbagai kemungkinan-kemungkinan yang tak terbayangkan dalam hidup. Sesekali cerita punya kemiripan dengan hidup kita itu sendiri. Karena itulah, cerita selalu membuat manusia lebih hidup. Ada kebutuhan yang tak bisa dinafikkan dari hidup manusia yang singkat ini, barangkali karena itulah, sastrawan tak lelah untuk mengisahkan ceritanya, mendongengkan cerita pada kita.

25 cerita dari para peraih nobel sastra di buku ini mampu menyuguhkan kisah-kisah cinta yang awet. Ditulis oleh para cerpenis dunia yang piawai, cerita-cerita di buku ini meninggalkan kesan yang dalam di mata pembaca. Cerita dimulai dari cerpen berjudul Ayah dan Anak karya Bjornstjerne Bjornson. Cerpen ini menceritakan betapa Ayah yang kaya raya pun tak bisa berkutik dan tiada berdaya saat ia harus dihadapkan oleh satu keinginan membahagiakan anaknya. Dan saat sang anak tiada, ia merasa tak lagi memerlukan hartanya, hingga ia menjadi seorang yang lebih dermawan. Di cerita ini nampak sekali kasih sayang seorang Ayah yang sama hebatnya dengan seorang ibu.

Selain menggambarkan kasih sayang seorang Ayah, cerpen di buku ini juga menceritakan bagaimana gambaran kisah-kasih seorang manusia. Di cerpen berjudul Kesetiaan karya Rabrindanath Tagore kita bakal menemukan kisah sepasang anak manusia yang begitu setia. Dikisahkan ada seorang suami yang begitu posesif melindungi istrinya, hingga di luar nalar kita. Akibatnya, sang istri pun risih, merasa dicurigai. Akhirnya, sang istri pun lelah dengan sikap suami. Tapi ia begitu kaget, saat melihat betapa cemburunya suaminya itu sebagai satu perasaan yang tulus. Kisah pun diakhiri dengan tragisme saat sang suami ayan melihat surat yang disembunyikan istrinya. Suaminya pun mati karena ayan. Lalu sang istri pun ikut bunuh diri dengan minum racun. Kesetiaan suami istri di cerita ini menjadi kisah yang tragis sekaligus menyayat. Meski nampak fiktif, namun cerita tentang kesetiaan ini kadangkala menjadi fakta di dalam keseharian hidup manusia. Seorang lelaki biasanya susah untuk mengekspresikan “kesetiaan”. Sementara, seorang perempuan bisa kesulitan saat menghadapi seorang lelaki mengekspresikan cintanya. Cerpen ini tentu menjadi gambaran heroic bagaimana “kesetiaan” begitu agung dalam sebuah kisah cinta.

Judul Buku : Maut Lebih Kejam daripada Cinta Penyusun dan Penerjemah : Anton Kurnia Penerbit : BasaBasi Tahun : Agustus 2017 Halaman : 280 Halaman ISBN : 978-602-6651-04-4

Bila di cerita Tagore kita mendapati kisah kesetiaan, kita bakal disuguhi kisah cinta seorang pelayan di kedai makan dengan pemilik toko besi. Jim, pemilik toko besi ini sedang diincar oleh Liz pelayan kedai makan. Di cerita berjudul Bila Dara Jatuh Cinta karya Ernest Hemingway ini kita bakal disuguhi drama cinta yang barangkali terlampau picisan. Tapi barangkali disanalah perangai wanita bisa kita lihat saat ia jatuh cinta. Ada penggambaran malu-malu, terkesima, kagum, tapi sekaligus perasaan senang saat perempuan jatuh cinta. Cerita ini barangkali akan menjadi cerita terkesan tentang bagaimana seorang perempuan jatuh cinta. Tentu saja cerita ini bakal tak disukai oleh para perempuan atau sebaliknya diakui sebagai penggambaran paling gampang dari seorang perempuan ketika jatuh cinta.

Yang menarik dari 25 cerita ini, kita bisa mendapati cerita surealisme. Cerita ditulis oleh Oktavio Paz dengan cerpen berjudul Kisah Cintaku Dengan Ombak. Paz berhasil menghidupkan sosok ombak sebagai sosok manusiawi. Ia bak manusia yang hidup wajar sebagai seorang perempuan di kehidupan si tokoh. Tapi kisah ini diakhiri dengan tragisme saat ombak itu pun akhirnya  dijual dan dipotong-potong menjadi pendingin botol-botol minuman.

Pembaca juga disuguhi cerita tentang kesedihan, kesepian, dan derita seorang pencinta di cerpen berjudul Aib karya J.M. Coetzee. Di cerita ini kita akan mendengar bagaimana sosok lelaki tua digambarkan sebagai seseorang yang merindukan kasih sayang menemukan kebahagiaan dengan Soraya, seorang pekerja seksual. Semula, kebahagiaan yang ia nikmati bersama Soraya mampu menyembuhkan kesepian yang hinggap di dadanya. Akan tetapi, kejadian menjadi berubah saat Soraya menghadapi ujian ibunya sakit. Disitulah lelaki ini menyadari, bahwa ia telah kehilangan Soraya, sosok perempuan yang dicintainya. Ketika agen menawarkan perempuan lain, ia merasakan betapa sakit, betapa perih kesedihan yang hinggap di hatinya kembali.

Cerita diakhiri dengan cerita agak sadis tentang seorang Ayah yang mengajak anaknya untuk mencari obat bagi neneknya yang terkena katarak. Konon, luka itu hanya bisa disembuhkan dengan membedah jantung manusia dan mencari kantung empedunya. Ayah dan anak lelakinya itu harus menghadapi kisah pembunuhan orang baik dengan penuh jantung dan dada berdebar. Di cerita ini, kita menemukan kepiawaian Mo Yan. Ia hendak menyentuh nurani kita bahwa tak selamanya obat mujarab itu harus dicari ketika ia harus mengorbankan nyawa, dan menyayat nurani kita.

Di 25 cerita ini, kita bakal disuguhi kisah tentang pengorbanan, luka, keluguan, hingga hal yang mustahil dari tokoh-tokoh yang dilanda cinta. Ada cerita tentang kesetiaan, daya juang, hingga kesepian yang menyayat yang dirasakan seorang pencinta. Apapun itu, buku kumpulan cerita ini memberikan gambaran pada pembaca, meski nampak mustahil dan musykil, cinta tetap tak bisa dihindari dari kehidupan manusia.

 

*) Penulis adalah Tuan Rumah Pondok FIlsafat Solo, Kontributor bukuonlinestore.com

Continue Reading

Classic Prose

Trending