Connect with us

Art & Culture

Mengenang Meursault, Mengenang Camus dan Orang Asing

mm

Published

on

Para dewa telah menghukum Sisifus untuk terus menerus mendorong sebuah batu besar sampai ke puncak sebuah gunung, dari puncak gunung, batu itu akan jatuh kebawah oleh beratnya sendiri. Tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada pekerjaan yang tak berguna, dan tanpa harapan itu. (1) Sebuah kekonyolan repetitif yang bijaksana, atau sebuah kebijaksanaan konyol yang repetitif, atau mungkin perpaduan keduanya. Mungkin tidak ada istilah yang tepat selain absurd untuk memberikan definisi yang jelas.

Absurd is not reasonable, foolish and ridicoulus. (2) Dari bahasa Latin absurdus. Ab-surdus yang berarti tuli, atau bodoh. Menurut kamus, absurd berarti demikian dan terjemahannya sebagai berikut:

“Absurd is having no rational or orderly relationship to human life: meaningless (an absurd universe). Lacking order or value (an absurd existence). absurdism is a philosophy based on the believe that the universe is irrational and meaningless and that the search for order brings the individual into conflict with the universe”. (3)

(Dari sini absurd dapat diterjemahkan sebagai hal yang tidak rasional dalam hubungannya dengan kehidupan manusia: tiada artinya (alam/dunia absurd). Kurang bermakna atau tidak berharga (eksistensi absurd). Absurdisme adalah sebuah filosofi berdasarkan kepercayaan bahwa alam semesta adalah tidak rasional dan tidak berarti dan bahwa pencarian makna membawa seseorang ke dalam konflik dengan alam).

Dalam esai Albert Camus tentang Sisifus, Camus memperkenalkan filsafat Absurdisme dalam pencarian makna yang sia-sia oleh manusia, kesatuan dan kejelasan dalam menghadapi dunia yang tidak dapat dipahami, yang tidak memiliki Tuhan dan kekekalan. Apakah realisasi tentang yang absurd ini harus dijawab dengan bunuh diri? Camus menjawab: “Tidak”. Yang dibutuhkan adalah pemberontakan.” (4) Ia kemudian membentangkan sejumlah pendekatan terhadap kehidupan yang absurd. Bab terakhirnya membandingkan absurditas kehidupan manusia dengan situasi yang dialami Sisifus, tokoh dalam mitologi Yunani yang dikutuk untuk selama-lamanya mengulangi tugas yang sia-sia mendorong batu karang ke puncak gunung, namun pada akhirnya batu itu bergulir jatuh kembali. Esai ini menyimpulkan, “Perjuangan itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia. Kita harus membayangkan bahwa Sisifus berbahagia.” Esai filsafatnya terbit pada tahun 1942. Terdiri atas 120 halaman dan terbitan aslinya dalam bahasa Prancis dengan judul Le Mythe de Sisyphe, terjemahan bahasa Inggris oleh Justin O’Brien, terbit pada 1955. (5) Kisah Sisifus, sesuai esai dari Albert Camus, Le Mythe de Sysiphe merujuk dari mitologi yunani karya Homer, mendeskripsikan sifat-sifatnya yang bijaksana, selalu waspada, namun pada kisah lain ia cenderung menjadi perampok atau pembuat onar. Hubungannya tentang penculikan Egina, putri dari Aesop, yang membuat para dewa menjadi murka. Pertempuran dengan Dewa kematian. Tentang kesetiaan sang istri yang bertentangan dengan kodrat manusia untuk menguburkan jasadnya, sehingga membuat Pluto memberi ijin kepada Sisifus untuk kembali lagi ke dunia untuk menghukum sang istri, namun Sisifus memberontak pada Pluto Sang Dewa, karena kenikmatan dunia yang membuat Sisifus tidak ingin kembali ke alam suram neraka. Akhirnya Merkurius datang untuk mencabut nyawanya dan ia dihukum kembali di neraka untuk melakukan pekerjaan yang absurd. Mengangkat batu besar keatas gunung, kemudian menggelindingkannya kembali kebawah, untuk selamanya. Pekerjaan yang tidak berguna dan tanpa harapan. Namun pekerjaan yang tanpa harapan itu adalah kemenangannya atas pemberontakannya pada Dewa. Pada akhirnya kita harus membayangkan bahwa Sisifus bahagia, karena perjuangan itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia.

Diceritakan oleh Homer bahwa, Sisyphus was son of the king Aeolus of Thessaly and Enarete, and the founder and first king of Ephyra (Corinth). He was the father of Glaucus by the nymph Merope, and the grandfather of Bellerophon. (6). Menurut Homer Sisifus adalah putra dari raja Aeolus dari Thessaly dan Enarete, dan pendiri serta raja pertama dari Ephyra (Korintus). Ayah dari Glaucus dari seorang bidadari Merope dan kakek dari Bellerophon.

Yang membuat karya Albert Camus ini menjadi kuat dan bergema adalah karena karya ini ditulis oleh seorang autodidak, (pada saat itu Camus tidak dapat mendaftarkan diri untuk ujian akhir filsafat karena menderita tuberkulosa). (7) A metaphor for modern lives spent working at futile jobs in factories and offices. “The workman of today works every day in his life at the same tasks, and this fate is no less absurd. But it is tragic only at the rare moments when it becomes conscious”. (8)

Sisifus adalah mitologi yang merupakan metafora dari kehidupan modern saat ini, di mana buruh-buruh pabrik dan pekerja kantoran melakukan tugas yang sama sepanjang hari selama hidupnya. Melakukan tugas yang sama dan nasibnya ini tak kalah absurd. Namun ketragisannya hanya muncul di saat mereka sadar akan nasibnya.

Dalam karyanya “Orang Asing” (L’étranger) yang telah cukup masyhur bagi pembaca indonesia, Camus secara jitu bisa memperlihatkan sebuah filsafat absurditas. Intinya ialah bahwa manusia dan bukan Tuhan pada akhirnya bertanggung jawab akan segala keputusan dan pilihannya di dunia ini.

Bagian Pertama

Meursault, sang protagonis cerita ini, seorang warga kota Aljir berwarganegara Perancis (apa yang disebut pied noir), mendapat kabar bahwa ibunya meninggal dunia di sebuah rumah jompo yang terletak di luar kota. Lalu ia pergi dan melayatnya. Di sana ia ditanya apakah ia ingin melihat ibunya sebelum dikubur, ia menolak. Maka iapun mengunjungi upacara penguburan jenazah ibunya bersama-sama dengan teman ibunya, antara lain Perez yang kata orang adalah pacar ibunya. Maka setelah semua selesai iapun kembali ke Aljir. Keesokan harinya ia tetap melanjutkan kehidupan kembali seperti biasanya dan berjalan-jalan dengan pacarnya yang bernama Marie.

Maka sekali peristiwa ia bepergian dengan pacarnya Marie dan seseorang teman lainnya yang bernama Raymond ke pinggir pantai. Di sana cuaca sangat panas dan temannya si Raymond bertengkar dengan dua orang Arab Aljazair yang bersenjatakan pisau tajam dan pergi ke tempat Meursault. Kebetulan ia membawa sepucuk pistol dan Meursault mengambil senjata itu dari padanya. Lalu ia kembali ke tempat dua orang Arab tersebut dan salah satunya ditembak hingga mati.

Bagian Kedua

Meursault pun ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Maka ia segera diinterogasi oleh sang kepala penjara. Tetapi pertanyaannya berkisar antara hubungannya dengan ibunya. Ketika ia ditanya apakah ia sayang terhadap ibunya ia menjawab bahwa ia mencintainya tetapi kebutuhan tubuhnya seringkali menghalang-halangi perasaannya. Hal ini diungkapkannya dengan kalimat berikut: “Le jour où j’avais enterré maman, j’étais très fatigué, et j’avais sommeil” (dalam bahasa Indonesia: “Pada hari saya mengubur ibu, saya sangat capai dan saya mengantuk”). Tetapi sang kepala penjara ingin supaya Meursault merasa menyesal dan ia menunjukkan sebuah salib yang diambilnya dari laci. Tetapi Meursault tak peduli dan hanya terlihat bosan saja. Akhirnya sang kepala penjara tidak melanjutkan usahanya.

Ketika Meursault ditanya apakah ia menyesali perbuatannya, ia menjawab bahwa ia sebenarnya lebih merasakan rasa kesal daripada rasa sesal. Lalu sang kepala penjara menyebutnya sebagai seorang “Antikristus”.

Marie, pacarnya juga menjenguknya tetapi ia ingin melupakannya karena itu merupakan bagian dari hukumannya. Setelah beberapa lama ia tidur lebih baik dan membuang waktu dengan membaca sebuah kisah dari Cekoslovakia: seorang pria ketika masih muda pergi merantau untuk mencari uang dan kembali dengan seorang istri dan anak. Ketika pulang kembali ke kampung halamannya ia ingin memberikan kejutan kepada ibu dan saudari perempuannya yang memiliki sebuah hotel. Dalam melaksanakan hal ini, ia menitipkan istri dan anaknya di sebuah penginapan lainnya. Maka sebagai sebuah lelucon ia memesan kamar di hotel ibunya dan ingin membayarnya. Lalu pada malam hari ibunya dan saudarinya yang tak mengenalinya lagi membunuhnya karena ia dianggap seorang musafir yang kaya. Lalu mayatnya dibuang ke sungai. Keesokan harinya istrinya menemukan dan menguak jati diri suaminya. Kemudian ibu dan saudara perempuannya bunuh diri; ibu menggantung diri dan saudarinya menceburkan dirinya ke sebuah sumur. Meursault sendiri berpendapat bahwa itu memang sudah ganjaran sang musafir itu dan ia memang seyogyanya jangan bermain-main seperti itu. Maka hari-hari berlalu seperti itu.

Maka akhirnya ia diadili di pengadilan dan ia duduk di kursi terdakwa. Ia melihat kepala panti jompo, ‘pacar’ ibunya: Thomas Pérez, Raymond, Marie dan lain-lainnya. Hakim menginterogasinya tentang ibunya dan lalu tentang orang Arab yang dibunuhnya. Orang-orang dari panti jompo mengatakan bahwa Meursault tidak menjatuhkan tetesan mata sedikitpun jua ketika ibunya dikubur. Meursault merasa bahwa ia dibenci oleh semua orang dan ia merasa ingin menangis. Lalu jaksa menyerangnya secara berapi-api dengan antara lain mengatakan bahwa ia tidak sepantasnya minum-minum kopi di depan peti mati ibunya ketika ibunya meninggal meskipun ditawari demikian. Kemudian ia menyerangnya lagi bahwa Meursault tidak sepantasnya keesokan harinya setelah ibunya dikubur lalu pergi berpacaran dengan seorang wanita seperti Marie. Dan akhirnya jaksa berseru dengan mengatakan bahwa Meursault “telah mengubur ibunya dengan hati seorang kriminal.”

Meursault sendiri merasa bahwa pengacaranya kurang sekali dalam membelanya dan merasa pula bahwa mereka seakan-akan membicarakan kasusnya di luar dirinya. Lalu jaksa menyerangnya tentang si orang Arab yang dibunuhnya bahwa Meursault membunuhnya dengan keji dan dingin. Meursault membidikkan senjatanya lalu memicu pistolnya dan setelah orang Arab ini jatuh, Meursault masih menembakkan peluru tajam sebanyak empat kali kepada mayat yang tak bergerak lagi ini tentu secara sadar. Lalu jaksa mengatakan bahwa Meursault tidak menyatakan rasa sesal dan masyarakat umum harus dilindungi dari seorang insani seperti Meursault ini. Jaksa bahkan menuduh Meursault bahwa ia tidak memiliki jiwa.

Akhirnya Meursault ditanya sekali lagi akan motifnya lalu ia menjawab bahwa itu semua ia lakukan karena “pengaruh matahari.” Maka hadirin sekalian di dalam ruang sidang tertawa mendengarnya. Pengacara Meursault tidak mampu untuk membela di depan anggota juri dan jaksa sekali lagi mengatakan bahwa masyarakat ramai harus dilindungi dari seseorang seperti Meursault.

Hakim akhirnya menyatakan bahwa Meursault harus menerima hukuman mati dengan dipenggal kepalanya menggunakan guillotine. Ia menjatuhkan vonisnya atas nama ‘Rakyat Perancis’. Maka Meursault lalu mengingat akan kehidupan yang akan segera berakhir, yang bukan miliknya lagi. Ia mengingat kenangan-kenangan manis kecil seperti bau musim panas, langit yang baru dan senyum serta gaun pacarnya; Marie. Tetapi kemudian ia berpikir bahwa semuanya tidak ada gunanya, sidang ini semua dan apaun jua. Ia hanya merasakan ingin bergegas-gegas kembali ke selnya untuk tidur.

Maka menurut koran-koran ditulis bahwa Meursault harus membayar kembali hutangnya kepada masyarakat. Di sisi lain Meursault sendiri berpendapat bahwa itu semuanya tak ada maknanya, semuanya sama saja. Dan akhirnya ia berkata pada dirinya sendiri: “Ya sudahlah aku akan mati … Tetapi semua orang toh tahu bahwa hidup itu tak ada gunanya dijalani. Di dalam lubuk hatiku, aku tahu bahwa mati pada usia 30 tahun atau 70 tahun tidak ada bedanya. Pada kedua kasus ini orang-orang lain, pria dan wanita tetap hidup semua dan ini sudah terjadi selama ribuan tahun.

Pada saat-saat terakhirnya ia didatangi seorang pastor yang ingin memberinya sedikit bimbingan rohani, tetapi Meursault menolaknya dan bahkan memaki-makinya. Ia berkata kepadanya bahwa ia tidak ingin membuang saat-saat terakhirnya dengan perbincangan mengenai Tuhan atau agama. Ia mempercayakannya terhadap “ketidakpedulian dunia”.

Akhirnya Meursault menutup kisah ini dengan kalimat: “Supaya semuanya terlaksana dengan baik, supaya perasaan sepiku agak berkurang, tiada lain aku berharap semoga nanti pada hari aku di eksekusi akan ada banyak penontonnya di mana mereka akan menerimaku dengan jeritan kebencian.”

Roman ini mengambil tempat dalam sebuah trilogi yang diberi nama oleh Albert Camus “Lingkaran mustahil”. Trilogi ini juga mengandung sebuah essai filosofi dengan judul “Le Mythe de Sisyphe et la pièce de théâtre Caligula”.

Buku ini merupakan sebuah roman – dimana Camus pada suatu hari menuliskan: “Jika anda ingin menjadi seorang filsuf, tulislah sebuah roman” – yang mana karakter utama, misterius, yang tidak perduli dengan aturan norma sosial, layaknya seorang asing di bumi maupun kepada dirinya sendiri. Mersault dituliskan, dalam sebuah narasi pendek dalam sebuah catatan pribadi (menurut analisis), menjalani semua aksinya, keinginannya dan kegundahannya. Ia mewakili manusia yang tidak masuk akal sebagaimana digambarkan dalam “Le Mythe de Sisyphe”, seorang yang aneh “suatu perseteruan antara panggilan manusiawi dan keadaan dunia yang tidak masuk akal”

Penulisan roman ini, pada dasarnya netral dan putih, menjadi bagian dari sebuah kejadian lampau, dimana Sartre mengatakan bahwa ia “memberi kesan tersendiri pada setiap kalimat”. Gaya penulisan seperti ini menambahkan kesan kesendirian sang karakter dalam menghadapi keseharian (dunia) dan dirinya sendiri.

Di bawah ini disajikan dua fragmen dari buku dalam bahasa Perancis beserta alihbahasa Indonesia. Fragmen pertama di bawah ini diambil dari adegan terakhir bagian pertama, yaitu setelah Meursault menembak mati orang Arab yang sebelumnya mengancamnya dengan pisau belati. Sedangkan fragmen kedua diambil dari bagian akhir buku dan sekaligus bagian terakhir bagian kedua. :

“C’est là, dans le bruit à la fois sec et assourdissant, que tout a commencé. J’ai secoué la sueur et le soleil. J’ai compris que j’avais détruit l’équilibre du jour, le silence exceptionnel d’une plage où j’avais été heureux. Alors, j’ai tiré encore quatre fois sur un corps inerte où les balles s’enfonçaient sans qu’il y parût. Et c’était comme quatre coups brefs que je frappais sur la porte du malheur”.

“Di sana, di dalam suara gemuruh yang sekaligus tenang dan berisik, semuanya mulai. Aku mengibaskan keringat dan <cahaya> matahari. Aku mengerti bahwa aku telah menghancurkan keseimbangan hari, kesunyian istimewa sebuah pantai di mana aku sebelumnya merasa bahagia. Maka, aku pun menembak empat kali lagi di tubuh yang sudah tak bergerak, di mana bola-bola peluru menembusnya tanpa muncul. Dan itu bagaikan empat pukulan pendek yang kuketukkan pada pintu malapetaka.”

 

“Devant cette nuit chargée de signes et d’étoiles, je m’ouvrais pour la première fois à la tendre indifférence du monde. De l’éprouver si pareil à moi, si fraternel enfin, j’ai senti que j’avais été heureux, et que je l’étais encore. Pour que tout soit consommé, pour que je me sente moins seul, il me restait à souhaiter qu’il y ait beaucoup de spectateur le jour de mon exécution et qu’ils m’accableraient de haine”.

“Di depan malam ini yang penuh dengan pratanda dan bintang, aku membuka diriku untuk pertama kalinya kepada perasaan ketidakperdulian dunia. Mengakui bahwa semuanya sama saja, bahkan seakan saudaraku, maka aku pun merasakan bahwa aku dulu bahagia dan aku pun sekarang masih. Supaya semuanya terlaksana dengan baik, supaya perasaan sepiku agak berkurang, tiada lain aku berharap semoga nanti pada hari aku dieksekusi akan ada banyak penontonnya di mana mereka akan menerimaku dengan jeritan kebencian.”

Roman ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Orang Asing” oleh Penerbit Djambatan, pada tahun 1985. Penerbit Matahari dan beberapa penerbit lain juga telah menerjemahkan karya ini. (*)

 

(1) Camus, Mite Sisifus, Gramedia, Jakarta, 1999. hal 154.
(2) Hornby, A.S, Oxford Advanced Learners Dictionary, Oxford University Press, Oxford, 1995, hlm 8.
(3) www.universityofliverpool.com
(4) Albert Camus, 2004 The Plague, The Fall, Exile and the Kingdom, and Selected Essays, akses di http://id.wikipedia.org/
(5) http://id.wikipedia.org//wiki/Istimewa:Sumber_buku.
(6) http://id.wikipedia.org/ Sisyphus (dialogue), a dialogue ascribed to Plato.
(7) Albert Camus, Mite Sisifus, Gramedia, Jakarta, 1999. hlm ix.
(8) Camus, Albert, 2004 The Plague, The Fall, Exile and the Kingdom, and Selected Essays, akses di http://id.wikipedia.org/

 

*Diolah dari berbagai sumber oleh TIM Editorial Galeri Buku Jakarta. Editor: @sabiqcarebesth

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Essay

Relasi Perempuan dan Laki-Laki dalam Film Posesif

mm

Published

on

Adipati Dolken dan Putri Marino terbilang apik dalam memerankan karakter dalam film Posesif. Keduanya dipasangkan sebagai kekasih yang menjalani roman percintaan pada masa putih abu-abu. Adipati didapuk menjadi tokoh Yudhis Ibrahim, sedangkan Putri bermain sebagai Lala Anindita. Cinta yang terbangun antara Yudhis dan Lala bukan semata-mata cinta monyet anak SMA. Bumbu-bumbu relasi gender terbingkai dalam cerita yang berlatar di kota metropolitan, Jakarta. Setting waktu yang diambil menggambarkan zaman sekarang. Bisa dikatakan film ini adalah cerminan kejadian pada era kids zaman now.

Lala dikisahkan baru saja memenangkan penghargaan dalam Pekan Olahraga Nasional mewakili provinsi DKI Jakarta. Ia merupakan atlet lompat indah yang membanggakan. Yudhis sendiri merupakan murid baru di sekolah Lala. Pertemuan Lala dan Yudhis dimulai di lorong sekolah. Alur cerita di babak awal masih mudah ditebak. Lala dan Yudhis terjebak dalam hubungan pacaran anak remaja. Fase ini adalah pengalaman pacaran pertama kali bagi Lala.

Rupanya, film ini tidak mengumbar cinta menye-menye yang penuh drama kegalauan layaknya tren dalam ftv. Cinta yang dialami tokoh utama dalam film ini menemukan liku yang menantang. Penulis naskah piawai membawa penonton untuk merasa dekat dengan problem yang dihadapi Lala dan Yudhis. Isu yang diangkat sarat dengan fenomena yang memang lumrah dijumpai di masyarakat, yakni ketimpangan gender.

Yudhis pelan-pelan mulai menampakkan tabiat aslinya. Ia adalah sosok cowok yang sangat khawatir terhadap pasangannya. Kekhawatirannya tersebut sudah dalam tahap berlebihan. Statusnya yang masih dalam tahap pacar, sudah berani melarang-larang Lala untuk menghentikan aktivitas latihan lompat indah. Padahal, menekuni lompat indah merupakan cita-cita yang didamba dan dielu-elukan di keluarga Lala. Lala menuruti permintaan Yudhis, karena ia terpanggil menjadi atlet bukan dari kehendak hati.

Ketika Lala sudah meninggalkan atribut atletnya demi menemani Yudhis, perangai Yudhis justru semakin memburuk. Temperamen Yudhis yang kasar semakin membuat jalinan asmara yang dijalaninya bersama Lala menjadi tidak sehat. Yudhis hanya menginginkan Lala selalu berada di sampingnya. Ia tidak memperbolehkan Lala intens berinteraksi dengan teman-temannya. Rasa cemburu tingkat tinggi menguasai pikiran Yudhis setiap kali ada teman yang perhatian ke Lala. Hari-hari Lala kian tidak karuan. Ia mulai terkekang dan sulit melepaskan diri. Sebab Yudhis pandai mengombang-ambingkan perasaan Lala. Seusai bertengkar dan menyakiti Lala dengan tindak kekerasan seperti mencekik dan menjambak, Yudhis selalu memasang tampang memelas dan merengek minta maaf. Penonton lalu digiring pada suguhan relasi perempuan dan laki-laki yang dipengaruhi tekanan batin yang menimpa kedua tokoh sentral tersebut.

Gender, Cinta, dan Ketakutan

Komunikasi yang tercipta di antara Yudhis dan Lala menandakan adanya cinta yang tumbuh. Keduanya akan rela dan berani melakukan apapun demi pasangannya. Apa yang dilakoni Lala dan Yudhis juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan Knapp, Ellis, dan Williams (1980). Penelitian tersebut mengungkap, kebaikan pasangan akan lebih besar bobotnya, sementara kesalahan yang dibuat pasangan tidak akan dianggap oleh mereka yang tengah dimabuk cinta.

Panggilan sayang yang dilontarkan Lala dan Yudhis semakin mempertegas hubungan special di antara keduanya. Mereka juga menciptakan dan menggunakan idiom personal, kata-kata, frasa, dan gestur yang membawa makna hanya untuk hubungan tertentu.  Unsur-unsur tersebut mengantarkan penonton kepada pemahaman bahwa keduanya memiliki bahasa spesial yang menandakan ikatan mereka (Hopper, Knapp dan Scott 1981).

Relasi interpersonal yang dibangun Lala dan Yudhis menerapkan teori pertukaran sosial. Ketika pasangan memasuki relasi interpersonal yang menggunakan model pertukaran sosial, maka konflik yang timbul berasal dari ketidakseimbangan antara input dan outputyang didapat. Maksudnya di sini adalah apabila seseorang mencurahkan seluruh hidupnya kepada pasangan namun pasangan hanya bersikap cuek tanpa ada balasan yang setimpal hal ini rawan berujung konflik.

Yudhis tergolong dalam tipe cinta mania. Ia begitu tergila-gila dengan pasangannya. Tergila-gila dikarakteristikan dengan ketinggian ekstrem dan kerendahan ekstrem. Pecinta yang tergila-gila mencintai berlebihan dan pada waktu yang sama sangat khawatir kehilangan cintanya. Ketakutan ini sering mencegah pencinta yang tergila-gila mengalami penurunan rasa suka yang mungkin timbul dalam suatu hubungan. Dengan sedikit provokasi, pencinta yang tergila-gila kemungkinan berpengalaman untuk cemburu secara berlebihan. Yudhis bahkan meneror Lala dengan pesan pendek, telepon, hingga menanyakan keberadaan Lala ke temannya. Padahal Lala sudah izin bermain dengan teman-temannya. Yudhis berlebihan dalam menanggapi Lala yang tidak ada kabar.

Pencintayang tergila-gila itu obsesif (tergila-gila); pencinta yang tergila-gila harus menguasai/memiliki pasangannya seutuhnya secara sempurna. Sebaliknya, pencinta yang tergila-gila berharap untuk dimiliki, dicintai secara berlebihan. Pencinta yang tergila-gila adalah bayangan pribadi yang kasihan, melihat kemampuan berkembang hanya dari cinta; harga diri datang dari dicintai daripada perasaan puas yang timbul dari dalam diri. Karena cinta itu sangat penting, tanda bahaya di sebuah hubungan seringkali diabaikan; pencinta yang tergila-gila percaya bahwa jika ada cinta, kemudian lainnya itu bukan masalah.

Yudhis juga mengombinasikan tipe cinta mania dengan eros. Para penganut cinta eros ini sangat memperhatikan daya tarik fisik orang yang dicintai. Saat sudah menjalin hubungan asmara, mereka memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap orang yang dicintainya tersebut. Rasa cinta yang dimilikinya itu berdasarkan daya tarik fisik pada saat pertama jumpa. Cinta eros ini menggebu dan berani mengambil risiko. Saat sudah menjalin hubungan asmara, mereka menganggap penting ciuman dan pelukan.

Pernyataan-pernyataan yang disebutkan sebelumnya terwakili oleh kenekatan Yudhis melaser saingan Lala dalam lompat indah. Yudhis juga sama sekali tidak takut ketika sengaja menyerempet motor yang dikendarai teman cowok, sahabat Lala. Semua itu dengan dalih demi memperjuangkan cintanya ke Lala. Dia takut Lala direbut orang lain. Yudhis juga sangat mendewakan sentuhan dalam hubungannya dengan Lala. Adegan itu tergambar ketika ia lancang menyelinap masuk kamar Lala dengan kunci curian. Ia menciumi Lala.

Rupanya, ada faktor keluarga yang menyebabkan Yudhis bertingkah psikopat dalam merajut hubungan dengan Lala. Yudhis menjadi korban atas ketidakharmonisan hubungan sang ayah dan sang ibu. Sang ayah meninggalkan Yudhis dan ibunya sejak kecil. Ibunya menyimpan trauma. Ibunya memiliki emosi yang meledak-ledak dan selalu memaksakan kehendaknya ke Yudhis. Yudhis tidak punya kuasa untuk melawan sebab sang ibu adalah tipe yang ringan tangan, suka memukulinya. Meskipun setelah itu, sang ibu meminta maaf dan menyesal. Begitu terus dan berulang. Menurut ibunya, tidak ada orang yang memahami Yudhis selain ibunya. Rupanya sikap buruk itu turun ke Yudhis.

Lala yang terlalu tunduk pada Yudhis adalah akibat dari tekanan yang selama ini ia peroleh dari sang ayah. Ayahnya menaruh harapan besar kepada Lala untuk dapat meneruskan prestasi sang ibu yang telah meninggal, sebagai atlet lompat indah kenamaan. Lala juga berniat membantu Yudhis melepaskan diri dari jerat siksaan sang mama. Lala percaya, cinta bisa mengatasi semua masalah. Lala ingin Yudhis berubah, sebab ia tahu, Yudhis aslinya baik.

Apa yang menimpa Lala dan Yudhis bisa dijelaskan melalui feminism psikoanalitis. Pandangan ini berpatokan bahwa pengalaman seksualitas masa kanak-kanak hingga dewa mempengaruhi cara berpikir seseorang. Itulah mula lahirnya ketidaksetaraan gender. Laki-laki memandang dirinya sebagai maskulin, perempuan menganggap ia sebagai feminim. Masyarakat puun menilai demikian. Maskulinitas menduduki posisi superior, sedangkan feminism diletakkan sebagai inferior (Tong, 2006:190). Itulah yang membuat Lala mendengarkan perkataan Ega, sahabatnya. Ega melarang Lala putus dari Yudhis karena melepaskan Yudhis membuat rugi Lala. Mencari pacar setampan Yudhis tidak mudah.

Feminisme psikoanalitis turut menyoal tahapan oedipal yang dilalui anak-anak. Anak laki-laki mengerti bahwa ia dan ibunya tidak sama secara fisik. Perbedaan itu melatari timbulnya masalah. Anak laki-laki lalu terdorong mencari kekuasaan lewat identifikasi dirinya dengan laki-laki yakni ayahnya. Anak laki-laki tahu bahwa ia harus bebas dari ketergantungan terhadap ibunya. Sedangkan Yudhis mungkin tidak mendapati itu, sebab sang ayah pergi dan menelantarkannya.

Tahapan oedipal yang dijalani anak perempuan merumuskan hasil bahwa simboisis ibu dengan anak perempuan akan berkurang kekuatannya. Hasrat itu dialihkan kepada otonomi dan kemandirian yang dilambangkan lewat sang ayah. Lala tercurahi kemandirian yang terlalu besar sebab sang ibu telah meninggal. Ayahnyalah yang bertugas mengawal perkembangan Lala. Sang ayah bertindak sebagai orang tua tunggal yang harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu.

Lala dan Yudhis sama-sama korban atas pincangnya kasih sayang dari orang tua. Keluarga mereka sama-sama penganut prinsip protektif. Tipe ini umumnya condong dalam konformitas yang tinggi namun minim percakapan. Ada banyak peraturan yang harus ditaati anak namun tanpa adanya komunikasi. Orang tua merasa tidak ada gunanya berdiskusi apapun dengan anak. Anak dianggap tidak perlu tahu apa yang orang tua putuskan.

Film ini menampar penonton dengan cara meramu cinta, gender, cita-cita, dan ketakutan dalam satu paduan. Ada pelajaran yang bisa dipetik yakni cinta tidak mesti harus membahas untung rugi. Boleh berkorban untuk cinta asal tetap rasional. Selamat menertawakan diri atau pasangan yang posesif! (*)

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

 

 

 

Continue Reading

Essay

Setelah Edward Said

mm

Published

on

Nono Anwar Makarim *)

EDWARD Said meninggl pada 25 September 2003. Kanker darah yang menyiksa badannya sejak tahun 1991 akhirnya menang. Umurnya baru 67. Kofi Annan mengeluarkan pernyataan belasungkawa. Dia bilang bahwa Said berbuat banyak sekali dalam menjelaskan dunia Islam kepada dunia Barat, dan sebaliknya. Sekretaris Jenderal PBB itu tidak selalu setuju dengan pendapatnya, tetapi senantiasa suka berbincang dengan Said. Annan suka pada humor Said, dan kagum pada semangatnya memperjuangkan perdamaian antara Israel dan Palestina.

The New York, Beirut, menulis editorial yang menyebut Said sebagai orang besar yang, seperti figur-figur besar lain di dunia, kurang dihargai semasa hidupnya. Pada suatu ketika si pembela gigih nasib orang Palestina ini bahkan diusir Yasser Arafat dari Tepi Barat. Ediward Said terlalu keras mengecam korupsi di kalangan pemimpin Palestina. Arafat, si pengusir Said, sekarang berkata bahwa kematiannya membuat dunia kehilangan seorang jenius besar, seorang penyumbang kultur, intelek, dan daya-cipta universal.

N o s t a l g i  d i  E l a i n e ‘ s

Elaine’s, suatu restoran kecil di 2nd/88-89th Street, Manhattan adalah tempat pengarang, editor, profesor, seniman, dan intelektual berkumpul. Makanannya bernuansa Italia, harganya tidak semahal Daniel. Musim panas 1997. Kami berempat menanti kedatangan Edward Said untuk makan bersama. “Belum tentu dia bisa datang. Tapi, kalau serangan-serangan penyakitnya mereda, dia pasti datang!” kata temannya. Restoran kecil milik Elaine Kaufman cepat memenuh dengan orang dan suara orang diskusi sambil makan.

Tiba-tiba pintu dibuka dan Edward Said masuk. Seorang perempuan setengah baya dan tampak menarik bangun dari mejanya, menghampiri tamu yang terlambat datang, dan memeluknya erat-erat. “Itu Elaine, yang punya restoran ini!” bisik teman saya. Mereka berpelukan datang ke meja kami. Baru duduk, seorang perempuan lain bangun dari kursinya sambil berseru “Edward!” Sekali lagi teman saya berbisik, “Itu Joan Didion!” Sekali lagi Edward Said dipeluk dan dicium mesra.

Dua jam kami duduk, makan dan minum. Said hampir sepenuhnya bicara dengan seorang saja di antara kami, anak diplomat senior Inggris, kawan lama keluarga. Mereka berbicang tentang masa lalu. Memang begitu perangai orang yang sudah lama tak jumpa. Saya berupaya memutus dialog Inggris-Palestina yang terus berlangsung di meja kami. “Banyak orang di Indonesia mengira bahwa perjuangan Palestina itu adalah antara orang Islam dan orang Yahudi! Saya tahu itu tidak benar, akan tetapi, mengapa yang muncul di permukaan media hanya Hizbullah, Hamas, dan Fatah? Di mana Habbash sekarang?” Jawaban Said tidak memuaskan: “George (nama depan Habbash) sudah rusak! Tak ada yang bisa diharapkan lagi dari dia.” Said tidak menjelaskan mengapa hanya yang beragama Islam yang mengemuka di kalangan pejuang Palestina. Saya agak kesal menyaksikan konsentrasi perhatian Edward Said pada kenangan persahabatan di masa lalu. Tapi masa lalunya memang lebih menyenangkan daripada masa kininya. Anak orang kaya, hidup mewah, masuk sekolah terbaik di Palestina, Mesir, dan Amerika. Raja Hussein dan Omar Sharif adalah teman sekelasnya di Kairo. Bandingkan dengan masa kininya: Masuk dalam daftar orang yang harus dibunuh dari Liga Pembela Yahudi. Teror setiap hari melalui pos, telepon, faks yang ditujukan pada dirinya dan anggota keluarganya. Kemudian penyakit kronis yang enggan pergi, dan terus-menerus menciptakan penyakit sampingan: leukemia. Ia ditanya apakah ancaman akan dibunuh dan kanker darah tidak mengganggu semangat hidupnya. Said menjawab bahwa bahaya kelumpuhan semangat jauh lebih besar daripada leukemia dan ancaman pembunuhan. Karena itu ia berupaya tidak terlalu memikirkan nasib yang buruk itu. Tampang keren, otak cemerlang, latar belakang berduit, pekerjaan mengajar di universitas terkemuka di Amerika terjamin kesinambungannya sampai mati. Ketika saya tanyakan mengapa ia memilih tinggal di New York, metropolis yang begitu didominasi oleh orang yang mengancam akan membunuhnya, ia menjawab: “Apa ada kota lain?”

Konon, sebagai pribadi, Edward Said adalah orang yang sangat egosentris, memikirkan diri melulu, kurang pertimbangan akan orang-orang dekat yang mencitainya pun. Orang berbisik, “Tidak mudah hidup dengan jenius!” Lalu apa makna inti yang diwariskan almarhum pada kita? Di sini saya melihat dua unsur.

E s e n s i  E d w a r d  S a i d

Pada gelombang pasang nafsu perang di AS, jauh sebelum debakel Afganistan dan Irak yang kini sedang dialami negara adikuasa itu, saya bertanya kepada seorang cendekiawan Amerika: Kaum liberal Amerika kok tidak bersuara? Mengapa begitu sedikit orang menganut pandangan Chomsky dan Said? Jawabnya mengambang: Chomsky ekstrem. Orang tidak lagi mendengarkan suara dia. Edward Said sudah menggadaikan kecemerlangannya pada politik. Ia sudah menjadi partisan Palestina. Ia hanya mengkritik Israel dan Amerika. Ia berdiam ketika orang Palestina yang melakukan teror. Saya termenung mendengar jawaban itu. Kemudian mengingat kembali jauh ke masa lalu. Pada saat gelombang pasang suatu kampanye politik melanda masyarakat, intelektualnya kebanyakan cenderung menyesuaikan diri, atau berdiam. Mereka cemas akan tercampak keluar dari lingkungan masyarakatnya, terasing dari bangsanya. Ada juga pikiran: “Kalau begitu banyak orang setuju, jangan-jangan mereka benar: jangan-jangan pandangan saya keliru.” Periuk nasi sudah tentu paling keras membujuk agar mereka berpihak pada gelombang pasang, atau netral. Noam Chomsky dan Edward Said tegak berdiri di tengah badai kampanye perang George Bush. Mereka tidak menyesuaikan diri, mereka tidak berdiam. Mereka buka suara. Dan suaranya keras kedengarannya di seantero dunia.

Yang kedua ditinggalkan oleh almarhum adalah suatu penjernihan pikiran kita bahwa suatu teori besar yang diciptakan pemikir cemerlang tidak patut diuji pada setiap pernik keadaan konkret, buka mata. Teori orientalisme Edward Said digempur habis-habisan. Terlalu main pukul rata, terlalu gegabah, terlalu ekstrem. Akan tetapi suatu teori memang menyangkut garis besar, umum, abstrak, dan rrgeneralisasi. Yang perlu ditanyakan adalah apakah ia membuka mata.

Edward Said sudah pulang ke bukit-bukit hijau Palestina yang diimpikannya seumur hidup. Singkirkan karakternya yang egosentris; kesampingkan sulitnya orang hidup di sampingnya; maafkan sifat tak pedulinya pada perasaan orang lain, sebab dia bukan manusia biasa. Edward Said adalah orang luar biasa, orang abnormal. Lalu ambil sifat “intifadah” intelektualnya dan kecemerlangan bintangnya di langit pemikiran. Saya kehilangan seorang teladan lagi. (*)

*) Nono Anwar Makarim lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 25 September 1939. Pada 1960-an hingga 70-an ia dikenal sebagai wartawan dan pemimpin redaksi harian KAMI. Setelah keluar masuk Fakultas Hukum UI, ia memperdalam hukum hingga memperoleh gelar doctor of juridical science dari Harvard Law School, AS. Disertasinya berjudul Compainies and Business in Indonesia. Pendiri Kantor Konsultan Makarim & Taira ini hingga kini juga dikenal sebagai penulis kolom yang tajam.

Sumber: TEMPO, Edisi 29 September – 5 Oktober 2003, halaman 124-125.

Continue Reading

Essay

Ingatan, Sejarah, dan Mitos

mm

Published

on

Taufik Abdullah*)

Mengapakah demikian mudah suara saya menaik dan bergetar menahan marah, ketika beberapa orang mahasiswa dengan nada yang sinis menanyakan fungsi perayaan 50 tahun Kemerdekaan? Mula-mula memang saya bisa menjawab dengan tenang tentang makna simbolik dari perayaan ini. Bergaya sebagai seorang guru yang baik, saya menerangkan bahwa dalam usaha melangkah ke depan – ke masa yang tanpa peta itu – kita perlu juga sekali-sekali merenung dan mengingat lagi hasrat dan tekad yang pernah dipatrikan serta langkah-langkah yang telah diayunkan. Akan tetapi ketika seorang mahasiswa, lagi-lagi dengan suara sinis, malahan cenderung sarkastik, dengan gaya seorang oposan, berkomentar, “oh, sekedar merenung saja!” hampir saja kesabaran saya hilang. Suara saya menaik. Akan tetapi untunglah, kenakalan asli saya segera tampil dan saya pun bisa menjadikan jawabannya yang diiringi humor. Maka, semakin sadarlah saya bahwa saya bukan seorang pendidikan. Begitu mudah saya terkena provokasi.

Belum lama peristiwa itu terjadi. Baru beberapa hari berselang. Kalau saya pikir-pikir kembali peristiwa itu saya rasa tak pantas suara saya menaik dan bergetar menahan marah. Apa salahnya kalau hal yang dianggap “hebat” itu sekali-kali dihadapkan pada kesangsian akan keabsahannya? Bukankah dinamika dunia ilmu praktis ditentukan oleh letupan-letupan kesangsian terhadap apa yang telah diangap benar? Para mahasiswa itu memang memperlakukan saya sebagai seorang ilmuwan yang diharapkan dapat menjawab masalah keilmuan. Kebetulan saja masalah keilmuan itu, kali ini berkisar di sekitar perayaan Proklamasi Kemerdekaan. Akan tetapi, apa salahnya?

Masalah sesungguhnya bukan terletak pada pertanyaan mahasiswa yang sinis itu, tetapi pada diri saya. Saya pikir hal ini juga dirasakan sebagian mereka yang sebaya dengan saya dan yang lebih tua daripada saya. Seperti yang dialami mereka juga Proklamasi Kemerdekaan dan Revolusi Nasional adalah bagian dari otobiografi saya. Tak mungkin bagi saya untuk mengingat pertumbuhan kedirian saya di luar konteks itu. Revolusi Nasional adalah bagian dari otobiografi saya. Tak mungkin bagi saya untuk mengingat pertumbuhan kedirian saya di luar konteks itu. Revolusi Naional bagi saya bukanlah sesuatu “yang ada di sana,” yang dengan mudah bisa dilihat secara objektif, tanpa melibatkan perasaan. Saya tak mengatakan bahwa saya ikut ke medan perang menyambung nyawa demi tanah air dan saya pun tak bisa berbicara bahwa saya, dengan berbagai cara, ikut membantu perjuangan kita. Sama sekali tidak. Akan tetapi bagaimanakah saya bisa melupakan kesedihan yang saya rasakan karena tak bisa ikut melompat-lompat dan bersorak-sorak, seperti anak-anak lain ketika ulang tahun pertama proklamasi dirayakan di kota kecil saya? Baru beberapa hari sebelumnya saya dikhitan. Babagaimana pula saya tak akan ingat akan kegembiraan saya ikut berlari-lari di belakang para pemuda yang membawa Sutan Sjahrir di atas bahu mereka, ketika mantan Perdana Menteri itu berkunjung ke kota saya? Atau, melupakan perasaan yang mencekam ketika melihat mayat seorang pejuang yang tewas, setelah sebelumnya patroli tentara Belanda menembaki sekolah saya. Berbagai slide kenangan kadang-kadang tampil bergantian, jika saja gugatan terhadap masa lalu itu datang. Memang Revolusi Nasional bagi saya bukanlah “something out there” tetapi adalah sesuatu yang berbeda dalam diri saya. Tak bisa saya mengelak kehadirannya. Betapa pun mungkin saya ingin melupakannya, atau bisa juga, mengubah bentuknya yang sesuai dengan hasrat saya sekarang. Ia adalah kenangan saya. Ia adalah ingatan saya. Ia adalah bagian dari subjektivisme saya, betapa pun mungkin saya ingin menyembunyikannya. Saya pun tak bisa pula bersembunyi dari ingatan ini. Entah kalau amnesia telah menghidapi diri saya.

Jadi, suara saya yang menaik dan bergetar menahan marah semoga bisa juga dimaafkan. Mungkin para mahasiswa itu hanya bermaksud bertanya tentang sejarah yang konon objektif – “ sesuatu yang ada di sana,” di kelampauan – tetapi saya rasakan sebagai gugatan terhadap ingatan saya yang subjektif dan yang merupakan bagian dari kehadiran saya. Atau, barangkali pula mereka hanya menyangsikan keabsahan sebuah initos yang dirasakan semakin bercorak hegemonik. Bisa jadi demikian halnya, tetapi, mana mereka tahu bahwa yang langsung terkena adalah ingatan saya yang pribadi, bebas, dan otentik. Mereka mahasiswa itu, tak bisa mempertanyakan, apalagi menggugat, ingatan saya, yang riil pada diri dan kesendirian saya ini.

Harus saya akui, bahwa dalam suasana peringatan dan perayaan yang ketiganya – ingatan, yang pribadi sejarah, yang dihasilkan oleh pencarian akademis yang kritis, dan mitos, yang tumbuh dari sebuah corak keprihatinan atau kepentingan (entah kultural, kekuasaan, atau ideologi) – bisa saja bercampur baur menjadi satu lagi, di manakah sesungguhnya batas ketiganya? Bukankah sejarah bisa juga dianggap sebagai “rekaman ingatan kolektif” dan ingatan atau kenangan mungkin juga diperlukan sebagai “sejarah yang dialami sendiri”.

Dan mitos? Mitos boleh juga dianggap sebagai peristiwa “sejarah” yang harus selalu diingat dan diingatkan, sebagai pelajaran dan alat pemersatu.

Hanya saja, pencampuradukan dari ketiga kategori ini dengan mudah dapat menyebabkan kita kehilangan makna yang sesungguhnya dari peringatan peristiwa dramatis yang telah mengubah corak kehadiran kita sebagai bangsa itu. Sejarah tidaklah ada dengan sendirinya.  Sejarah adalah hasil dari sebuah usaha untuk merekam, melukiskan, dan menerangkan peristiwa di masa lalu. Bisa jadi sejarah adalah sebuah hasil yang sejujur mungkin ingin merekam dan “merekonstruksi” ingatan, baik yang kolektif maupun yang pribadi, tetapi mungkin juga sejarah bermaksud “menemukan kembali” peristiwa (apa, siapa, di mana, dan bila) yang telah terkibur impitan zaman. Sejarah adalah hasil yang didapatkan dengan sengaja ketika berbagai pertanyaan tentang masa lalu telah dirumuskan. Kalau demikian, bukankah “sejarah” sesungguhnya sangat ditentukan oleh jenis pertanyaan yang telah dirumuskan? Memang, demikian halnya dan inilah unsur yang paling subjektif dalam sejarah. Maka, dapat jugalah dibayangkan bahwa pertanyaan itu bukan saja beranjak dari rasa ingin tahu belaka, tetapi dapat pula dirangsang oleh kepentingan tertentu, apa pun mungkin coraknya.

Betapapun kejujuran adalah landasannya yang paling esensial, sejarah mau tak mau bersifat selektif. Tak semua kebenaran atau kenyataan historis bisa dan perlu dikatakan. Hanyalah yang penting dan yang relevan saja yang perlu dilukiskan. Kalau demikian, herankah kita karena yang sifatnya selektif ini, sejarah bisa juga memantulkan kisah atau pesan yang mempunyai tingkat penting dan relevan yang berbeda-beda? Bukan itu saja, tingkat penting dan relevan itu bisa pula ditentukan oleh golongan sosial yang berbeda-beda pula. Fungsi sosial sejarah malah ditentukan oleh pemahaman terhadap kisah dan pesan itu. Mungkin karena itulah, saya kira, pernah ada yang berkata,

“Sejarah tak memberikan pelajaran apa-apa, kitalah yang belajar dariapdanya”. Jadi kitalah – kita yang menghadapkan diri pada kisah sejarah – yang merupakan unsur yang aktif.

Begitulah, kadang-kadang kisah dan pesan tertentu kita perbesar-besar karena memberikan sesuatu yang bersifat integratif, inspiratif, atau apa saja yang dianggap berfaedah. Kadang-kadang kisah tertentu kita ulang-ulang, malah kita peringati dan kita rayakan, dengan berbagai macam corak ritual dan seremoni. Dari kisah tersebut kita mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Tetapi, pemilihan kisah atau pesan itu terjadi dalam proses kompetisi. Ketika pilihan akhirnya ditentukan, maka hal itu adalah akibat dari proses hegemonisasi yang telah dimenangkan. Dalam sistem kenegaraan yang sangat ideologis, seperti negara kita ini, sudah bisa dipahami bahwa kekuasaan mempunyai kecenderungan yang sangat tinggi melakukan hegemoni makna terhadap sejarah dan simbol. Dengan berbagai sistem rujukan dan informasi, serta pemakaian sistem kekuasaan, maka semakin membesarlah bentukan hasil pilihan itu dan semakin jauhlah ia dari sejarah yang pernah menghasilkannya. Analisis akademis mengatakan bahwa pilihan itu telah berubah menjadi sebuah mitos. Kalau ini telah terjadi, sejarah hampir tak berdaya untuk menuntutnya kembali ke pangkuannya – ke pangkuan dunia yang kritis dan “obyektif”. Mitos pun telah menjadi “realitas – sejarah”. Hanya saja ia bukan sesuatu yang “out there”, yang dingin dan yang telah berlalu, tetapi sesuatu yang ada “di sini”, hangat dan bagian dari kehidupan sosial. Kredibilitas mitos pun semakin menaik jika ia mendapat dukungan, apalagi kalau berawal dari ingatan, kolektif ataupun individual. Didukung oleh kecenderungan teologis, yang menjadikan situasi hari kini sebagai pembenaran dari keabsahan gambaran hari lalu, mitos pun semakin kokoh berdiri. Dengan begini, maka sistem hegemoni pun telah membentuk masa lalu berdasarkan skenario kepentingan hari kini.

Semua ikatan sosial memerlukan mitos, karena ia mengajukan jawaban bagi kemungkinan terdapatnya ketimpangan antara realitas dengan logika, memberi suasana kredibilitas bagi keberlakuan tata yang berlaku dan bisa pula merupakan unsur integratif yang diperlukan. Kalau saya tak salah, adalah Ernest Renan, yang mengatakan bahwa kehadiran “bangsa”, yang bermula dari “keinginan untuk hidup bersama”, bisa berlanjut jika komunitas itu bersedia “mengingat banyak hal” dan “melupakan hal”. Mengingat dan melupakan yang selektif inilah yang melahirkan mitos. Hanya saja seleksi yang hegemonik tidaklah sekedar berusaha menjauhkan kita dari sejarah yang dingin dan kritis, tetapi juga mengingkari keabsahan ingatan sendiri yang pribadi dan otentik.

Peristiwa besar, seperti Revolusi Nasional dan Perang Kemerdekaan kita, adalah lahan pengalaman yang dengan tajam menancapkan kehadirannya dalam ingatan, pribadi dan kolektif. Peristiwa ini adalah pula “sesuatu yang ada di sana”, yang bisa memberikan kisah tentang pergumulan sebuah bangsa mempertahankan kehadiranna dan kegelisahan manusia menghadapi hari-hari tanpa kepastian, selain harapan yang tak kunjung padam. Kekinian kita yang dihasilkannya – sebuah bangsa yang dulu berjuang kini telah mempunyai negara yang berdaulat – menjadikannya pula sebuah sumber inspirasi bagi tumbuhnya mitos.

Mitos bermain dalam wilayah publik. Ia adalah bagian dari kehidupan sosial. Kehadirannya membayangkan suasana integratif. Perayaan dan peringatan bisa pula dilihat sebagai peneguhan dari keberlakuan mitos. Dalam suasana perayaan – sebuah karnaval – siapa pun akan terlarut di dalamnya. Akan tetapi, sebuah pertanyaan kadang-kadang tertanyakan juga. “Siapakah yang menentukan corak mitos itu?” Kini, saya sadar, jangan-jangan pertanyaan sarkastis dan sinis dari mahasiswa yang saya ceritakan itu adalah pantulan dari penolakan mereka terhadap mitos integratif yang mereka anggap sebagai sesuatu yang hegemonik. Mungkin, demikianlah halnya tetapi andaipun bukan, mitos yang memperlihatkan wajahnya dalam wilayah publik, tidak saja mempunyai kemungkinan yang tinggi untuk memperteguh keakraban sosial dan sejarah, melainkan juga, dapat menjauhkan kita dari ingatan kita yang pribadi, murni, dan otentik. Yang tampil adalah wajah publik, bukan diri kita dalam kesendirian dan kepolosan yang tak bisa ditutupi.

Karena itulah saya kira pada saat kita mensyukuri kemerdekaan tanah air kita, semestinyalah kita menggali lagi ingatan yang pribadi dan otentik itu. Pengalaman apakah yang pernah dipatrikan ketika perjuangan dimasuki dan di saat antusiasme kemerdekaan dirasakan? Ingatan adalah penghadapan kita dengan kesendirian kita. Ia tak membiarkan kita untuk bertopeng dalam segala macam kepura-puraan. Dalam ingatan yang murni pribadi ini kita pun bisa mengingat dan mengenang kembali tangisan ibu yang meratapi kepergian abadi anak tercinta atau derai air mata sang istri melepas suami ke medan perang. Untuk apa? Kita mungkin bisa membohongi publik, tetapi tak bisa menghindar dari ingatan sendiri.

Kita rayakan hari kemerdekaan dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur, tetapi kita gali lagi ingatan dan kenangan dengan segala kepolosan yang hanya mungkin tampil dalam kesendirian kita masing-masing. Dalam kesendirian kita dengan ingatan ini, langkah yang telah diayunkan bisa dinilai lagi dan niat yang pernah dipatrikan dalam diri tinjauan kembali. Masihkah idealisme dan pengorbanan yang dipancarkan Proklamasi dan Revolusi Nasional menyinari kehidupan kita bernegara? Ataukah sesuatu yang lain – yang dulu tak terimpikan, malah dinista sebagai penyimpangan – telah menyelinap dalam kehidupan kita? Hanya ingatan kita dalam kesendirian kita masing-masing yang bisa menjawab. (*)

____________________________________

*)Taufik Abdullah lahir: Bukittinggi, Sumatra Barat, 3 Januari 1936, adalah ahli peneliti utama pada LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Ia lulus dari Jurusan sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (drs., 1961) dan Cornell University (M.A., 1967; Ph.D., 1970). Sejak  April 2000 ia menjadi ketua LIPI. Tulisan-tulisannya diterbitkan di dalam dan luar negeri; di antaranya “Adat dan Islam; An Examination of Conflicty in Minangkabau Indonesia” (1966); “Modernization in the Minangkabau World West Sumatra” dalam Claire Holt, et.al., (eds.); Culture and Politics in Indonesia (1972); Sejarah Lokal di Indonesia (1979, 1985); Islam dan Masyarakat, Pantulan Sejarah Indonesia (1987) ; “Islam and the Formation of Tradition in Indonesia A Comparative Perspective”, Itinerario (1989). Prof. Dr. Taufik Abdullah menjadi editor serta konsultan majalah Prisma, anggota dewan redaksi jurnal Sejarah, editor Ensiklopedi Islam Indonesia dan Ensiklopedi Indonesia. Pengalaman akademiknya dimulai dengan menjadi asisten pengajar Sejarah barat (1959-61) di Universitas Gadjah Mada, Fulbright Visiting Professor di University Wisconsin (1975), Post-Doctoral Fellow di University of Chicago (1977), Visiting Professor di Cornell University (1985), University of Kyoto (1989-90), Australian National University 91990), Mc Gill University, Montreal (1991-92) dan Thammasat University (1997). Aktivitas profesionalnya antara lain menjadi Member of Council for the Study of Malay Culture UNESCO (1971), Presiden International Association of Historians of Asia (IAHA) (1996-98); Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Pusat (dari 1995), Ketua Himpunan Indonesia Untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (1974-1978), anggota KITLV (1968-1978). Dari lembaga yang disebut terakhir ia juga memperoleh penghargaan sebagai anggota kehormatan.

Sumber: Taufik Abdullah, Nasionalisme dan Sejarah, Satya Historika, Bandung, 2001.

***

Continue Reading

Classic Prose

Trending