Connect with us

Persona

Mengenang Arief Budiman

mm

Published

on



Kuskridho Ambardi—Pakar Komunikasi dan Analis Politik Universitas Gadjah Mada (UGM). Kolega dan Karib alm. Arief Budiman

Perjalanan itu akhirnya sampai pada batas. Dua belas tahun terakhir Arief Budiman terdera Parkinson, yang pelahan menurunkan kemampuan fisiknya. Kemarin ia meninggalkan kita.

Sepuluh tahun lalu, saya ingat, senior Saur Hutabarat meminta saya menghubungi Arief Budiman untuk memintanya menulis sepenggal naskah sebagai bingkisan untuk seorang sahabatnya, Ashadi Siregar, yang akan memasuki masa pensiun.

“Saya ingat Ashadi, teman lama yang bareng melakukan protes pembangunan TMII dan aktif dalam gerakan anti korupsi. Tapi saya lupa banyak detil yang saya perlukan untuk menulis,” jawabnya ketika permintaan itu saya ajukan ke dia. Mereka berdua bersobat dalam gerakan moral yang muncul awal 1970an yang diinisiasi Arief Budiman bersama kawan-kawannya dan membetot perhatian media.

Namun fisiknya tetap kokoh saat itu, hanya tangan kanannya kadang terlihat bergetar karena deraan Parkinson. Ia masih rutin berjalan kaki di pagi hari melangkahi perbukitan di sekitar rumahnya di Salatiga. Sesekali saya ikut ketika mengantar sahabat yang ingin mengunjunginya, dan lantas diajaknya sekalian berjalan pagi. Sesekali pula bersama istrinya, Leila Ch Budiman, mereka mengajak dua anaknya, Adrian Budiman dan Susanti Kusumasari, serta cucu dan menantunya untuk menyusuri busur-busur bukit dan deretan pepohonan yang diselingi bangunan dan deret rumah perkampungan.

Di rumah, yang lanskapnya bertakik di sebuah lereng itu, Leila secara rutin mengajak suaminya untuk bergerak menjaga kebugaran. Takikan halaman timur yang landai dan lebih rendah dari lantai rumah hunian berbahan kayu itu disulap menjadi lapangan badminton dengan garis batas potongan bambu. Bukan ukuran standar, tetapi lapangan itu cukup bagi Leila untuk mengajak Arief Budiman menampelkan raket. Bahkan, ketika lengan kanan Arief Budiman tak lagi seluwes sebelumnya, Leila mengajak suaminya untuk menampelkan raket dengan lengan kiri. 

Sekitar tiga tahun lalu, gerak fisik Arief Budiman makin terbatas. Dia berjalan kaki di halaman rumah saja, dan itu sering diakhiri dengan obrolan ringan dan senda gurau keluarga di sekeliling meja makan. Saya kerap membawa cerita di meja itu tentang perjumpaan saya dengan teman-teman lamanya. Saya bercerita tentang Goenawan Mohammad yang bersibuk di Salihara, Nono Anwar Makarim yang masih terlihat segar dalam sebuah pertemuan makan siang, atau bercerita tentang Rahman Tolleng yang saat itu masih aktif dengan lingkaran yuniornya: Rocky Gerung, Robertus Robet, dan Bagus Takwin di bilangan Menteng.

Banyak nama lain yang saya ceritakan karena saya bertemu mereka sepintas di berbagai kesempatan: Daniel Dhakidae, Ignas Kleden, Mohtar Mas’oed, Bill Liddle, Salim Said, Ichlasul Amal, Emha Ainun Najib, Gus Mus (yang saya dengar kabarnya dari Yahya Cholil Staquf), Butet Kartarejasa – sampai dengan yang lebih yunior lagi Rizal Mallarengeng, Saiful Mujani, dan Stanley. Kadang saya mengobrolkan juga anak-anak sahabat lamanya yang kebetulan saya berjumpa dan berkenalan, seperti Sati putri Bur Rasuanto dan Erman Rahman putra Rahman Tolleng.

Cerita-cerita ringan tentang pertemuan dengan mereka saya sampaikan ke Arief Budiman dengan maksud membawanya ke lingkaran sosial yang belakangan susah untuk didatanginya akibat keterbatasan fisik.

Tapi cerita pergaulan itu tak semuanya cerah. Saya mengabarkan juga Fikri Jufri yang sedang sakit, Dawam Raharjo, Johan Effendi, dan Rahman Tolleng yang telah meninggalkannya lebih dulu. Matanya berubah berkaca-kaca setelah mendengar cerita dan kabar itu, dan kadang wajahnya seolah menerawang ke masa silam yang jauh.

Biasanya saya membelokkannya ketika cerita itu terasa mengharu-biru perasaan Arief Budiman, dan menggantinya dengan cerita ringan lain yang saya peroleh dari berbagai kalangan. Antara lain, dari teman-teman UIN Ciputat yang membagi pengalaman mereka di jaman mahasiswa dengan Arief Budiman.

Di tahun 1990an, teman-teman Ciputat itu mengundang Arief Budiman untuk menjadi salah satu pembicara di seminar yang mereka selenggarakan. Untuk menghormatinya, mereka menyediakan jemputan mobil bagi Arief Budiman yang berangkat dari Salatiga dan berhenti di Terminal Pulogadung. Dari terminal, seraya mengobrol ringan, mereka melaju menuju Ciputat.

“Apa mau dikata,” kata salah seorang teman itu, “mobil tua itu mogok di tengah jalan.” Alhasil, teman yang menyopir diminta tetap duduk di belakang stang kemudi, mengatur persneling, dan melepas kopling saat dorongan mobil itu telah dirasa cukup lajunya. Sementara, teman-teman lainnya beramai-ramai mendorong mobil itu. Saat itulah mereka terkejut: Arief Budiman bersebelahan dengan mereka ikut mendorong mobil mogok itu. “Arief Budiman kok mendorong mobil …”, teriak teman itu sambil terbahak. Ketika saya konfirmasi, Arief Budiman hanya tersenyum saja mengingat pengalaman itu.

Situasi yang membersitkan humor kadang ditimpali cerita dari istrinya. Salah satunya, tentang sepenggal kisah mereka sebelum pernikahan. Saat opname di rumah sakit, Leila membawakan Arief Budiman sepaket masakannya dengan lauk ikan goreng di dalamnya. Ketika kembali ke ruang opname, Leila merasa senang karena melihat semua masakan terhabiskan. Tapi, satu hal, Leila bertanya-tanya, kemana sisa duri ikan yang akan dibuangnya ke tempat sampah di luar? Leila sempat sedikit jengkel saat mendengar jawaban Arief Budiman, “Kasihan ikan itu, tadi saya kubur di belakang …”

Sela-sela humor juga muncul dalam pengalaman paroh akhir 1980an, saat saya dengan teman-teman mahasiswa di Fisipol UGM mengundangnya untuk sebuah diskusi buku yang diterjemahkan dari disertasinya – Jalan Demokratis Menuju Sosialisme: Pengalaman Chile di Bawah Allende, yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan.

Dengan dua pembicara, Arief Budiman sang penulis buku, duduk di samping kiri dan Mohtar Mas’oed sebagai pembahas di sebelah kanan, dan sang moderator Yahya Cholil Staquf berada di tengah – seraya memberikan pengantar singkat untuk membuka diskusi:

“Teman-teman sekalian, penempatan posisi duduk ini bukanlah sebuah kesengajaan. Yang di kiri saya adalah Arief Budiman yang bukunya akan kita diskusikan. Kita semua tahu, Pak Arief itu selalu di kiri …”

Ledakan tawa memenuhi Ruangan E Gedung Fisipol yang memuat sekitar 150 peserta diskusi. Rupanya, sebagian besar peserta diskusi itu menangkap humor pendek yang dilontarkan sang moderator. Arief Budiman memang dikenal publik sebagai ilmuwan sekaligus pemikir dan tokoh gerakan kiri dalam perdebatan dan diskusi isu-isu sosial-politik-budaya jaman itu. Kiri kerap diasosiasikan dengan pembangkangan terhadap segala yang mapan. Dan Arief Budiman, sejak kepulangannya dari Amerika Serikat tahun 1981, tampil di gelanggang publik sebagai salah satu tokoh barisan pembangkang Jaman Orde Baru.

Seraya tersenyum, Arief Budiman merespon ledekan kiri itu, “Moderator ini nampaknya keliru membaca. Dari sudut tempat duduk anda semua yang berada di depan saya, saya masih terlihat sangat kanan …”

Cerita humor itu sama banyaknya dengan cerita teror yang dialaminya bersama anggota keluarganya, karena Arief Budiman kerap mengorganisir dan menaungi demonstrasi, menulis banyak kolom kritik, dan memberikan komentar lugas di media. Di awal 1990an, ia memberikan komentar di sebuah koran atas karir melesat seorang jendral. Pelesatan karir itu, menurutnya, tidak cocok dengan prestasi sang jendral yang sebenarnya biasa-biasa saja. Besoknya, rumahnya disatroni intel, dan keluarga menemukan bangkai angsa piaraan dan benda-benda asing lainnya di halaman rumah sepanjang seminggu.

Arief Budiman melawan seorang jendral di masa Orde Baru?

Saya teringat tanda-tangannya yang memvisualisasi nama lengkapnya. Istrinya, Leila, suatu saat nyeletuk, “Tanda-tangan Arief itu ujung tiap hurufnya tajam dan runcing. Mungkin itu mewakili satu sisi kepribadiannya.”

Di saat yang sama, saya teringat dengan sikap rileksnya. Ketika mendaftar undangan pernikahan untuk anaknya yang kedua, ia mengatakan, “Gus Dur itu orang sibuk, nanti malah menyusahkannya kalau dia diundang.” Tak dinyana, di hari pernikahan itu berlangsung, Gus Dur, yang kebetulan melewati Salatiga dalam perjalanan daratnya mendengar kabar pernikahan itu, memutuskan untuk mampir. Sama rileksnya, keduanya tersenyum dan saling berpelukan di halaman rumah Salatiga, dan Gus Dur segera disalami sahabat-sahabat lainnya yang melingkar di teras rumah itu. Sorenya, reriungan antarsahabat itu berkembang menjadi kumpulan aktivis senior yang meneriakkan sebuah kritik publik ke pemerintah … (sedikit gerutu keluar dari istrinya, Leila Budiman, “Acara keluarga kok bisa jadi acara politik ya?”).

Sekarang, saya hanya bisa mengenang keseharian Arief Budiman yang memiliki banyak sisi: kerap berhumor, menyenangi kesetaraan, menghidupi intelektualisme dan aktivisme, dan gemar melakukan pembangkangan.

Saya teringat juga kenangannya saat dari Semeru mengangkut jenazah Soe Hok Gie, adiknya, yang termuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran. Seraya mendeskripsikan “kesepian” Hok Gie yang menjadi intelektual publik dan pengritik gigih ketidakadilan, ia menutup pengantarnya: “Saya terbangun dari lamunan saya ketika dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik ‘Gie, kamu tidak sendirian’. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.”

Kini Arief Budiman pergi menjumpai adiknya, Soe Hok Gie. Saya tak tahu, apakah kenangan saya ini akan sampai kepadanya. Selamat jalan, Pak Arief Budiman, Al-Fatihah untukmu. Kita semua akan menjumpaimu lagi, kelak. (*)

Continue Reading
Advertisement

Persona

Toto Sudarto Bachtiar tentang Menulis dan Mencipta Puisi

mm

Published

on

Dari pengalaman itu ia membedakan antara “penciptaan sajak” dan “penulisan sajak”. Baginya membedakan dua hal itu penting. Nilai sebuah sajak, bagi Toto, tergantung pada penampilan sosok dan kepribadian penyair yang tertuang dalam sajak itu. Karena itu, baginya, proses penciptaan sajak itu sangat penting. Menciptakan sajak bagi Toto, adalah proses penalaran menempuh dua tahap. Pertama melahirkan gagasan dan khayalan. Dengan kata lain membentuk ide dan memainkan imajinasi. Lalu kedua, menilai gagasan dan khayalan tersebut.

Toto Sudarto Bachtiar tentang Menulis dan Mencipta Puisi | Menyambut 90 Tahun Penyair ‘Pahlawan Tak Dikenal”
Oleh Hasan Aspahani *)

KITA harus mempertimbangkan kembali sumbangan dan tempat bagi Toto Sudarto Bachtiar (1929-2007) dalam sejarah sastra Indonesia. Tahun ini jika masuh hidup ia berusia 90 tahun.  Kesimpulan-kesimpulan yang selama ini diletakkan atas dirinya bisa dilepaskan kembali. Apakah dia penerus Chairil Anwar atau dia membawa warna yang sama sekali lain? Apakah dia terbelenggu oleh kebesaran bayang-bayang Chairil Anwar yang menjulang tepat di awal tahun-tahun kemunculannya?  Apakah dia cukup dikenang dan dikenal lewat “Pahlawan Tak Dikenal” atau “Ibukota Senja” saja?  Apakah pengaruhnya masih ada hingga hari ini? Atau apa yang bisa diambil dari persajakannya untuk mengembangkan sajak kita ke hadapan masa depan puisi Indonesia?

Esai ini adalah pemantik untuk upaya pembacaan dan pertimbangn ulang itu. Upaya yang dimulai dengan meninjau sikap dasar kepenyairannya dan apa yang dianggap telah ia sumbangkan bagi puisi Indonesia.

Kata-kata, bagi penyair kita Toto Sudarto Bachtiar, adalah lambang yang mati tak berdaya. Sama seperti angka bagi seorang ahli ilmu pasti. Sama seperti garis dan warna bagi perupa. Atau nada bagi komponis.

Menulis sajak, baginya, berarti memberi sentuhan pada kata untuk memembuat kata itu menjadi hidup. Bukan hanya menghidupkan kata, tapi menghidupkan sebuah dunia dengan kata-kata itu.

Bukan juga sekadar dunia, tapi sebuah dunia baru yang memaknakan sebuah dunia lain, yang mempunyai ufuk yang lebih luas dan lebih besar.

Dunia baru itu tercipta atau ditemukan setelah si penyair menempuh perjalanan yang tiada putus, menjelajahi berbagai wilayah yang dikenal maupun yang tak dikenal, pun telah melalui berbagai pergulatan lahir dan benturan batin.

“Dunia itu adalah sebuah dunia yang utuh dan semesta,” ujar Toto.

Toto tak banyak meninggalkan catatan pemikirannya tentang puisi. Apa yang saya tuliskan kembali di atas adalah esai pendeknya di sisipan Kaki Langit, majalah Horison, Juni 1997. Tampaknya tulisannya ditujukan kepada pembaca muda, kalangan yang disasar oleh sisipan itu.

Esai pendek berjudul “Proses Mencipta Sajak Berbeda dengan Proses Menulis Sajak” itu dimuat kembali di buku kumpulan sajak lengkapnya “Suara, Etsa, Desah” (Grasindo, 2001), dengan sejumlah penyuntingan. Judulnya pun menjadi “Proses Kreatif Sebagai Pengalaman Penyair”.

Saya percaya, upaya kita untuk memahami kepenyairan seorang penyair, selain dengan membaca seluruh karyanya, juga terbantu banyak dengan menyelami pemikiran atau konsepsinya tentang sajak. Karena itu, esai Toto di atas bagi saya penting.

Sayang, Toto bukan penyair yang banyak menulis esai tentang puisi. Mungkin tak terarsip, tapi kalau kita percaya pada kelengkapan arsip PDS HB Jassin, maka esainya yang di atas adalah satu-satunya.

*

Dengan berpedoman pada konsepsinya tentang sajak dan proses penciptaan sajak yang seperti ia rumuskan itu, maka kita bisa paham kenapa Toto tidak menjadi seorang penyair yang produktif.

Ia juga boleh dikatakan terlambat muncul. Usianya lebih muda tujuh tahun dari Chairil Anwar. Ia lahir di Palimanan, Cirebon, 12 Oktober 1929. Ia sekolah HIS di kota kelahirannya, lalu pindah ke Bandung. Rencana masuk MULO tak terlaksana sebab pendudukan Jepang. Ia masuk sekolah pertanian di Tasikmalaya, lulus tahun 1944.

Hingga tahun itu, dia tampak belum tertarik pada puisi. Di masa revolusi fisik, setelah proklamasi, Toto kembali ke Cirebon, melanjutkan sekolah SMP. “Diterima di kelas tiga,” ujarnya seperti ia kisahkan kepada majalah Mangle, No. 1032, 20-26 Februari 1986.

Saat-saat SMP itulah dia bergabung dalam Corps Pelajar Siliwangi. Teman sekelasnya antara lain tokoh militer Yogie S Memet, yang kelak menjadi gubernur Jawa Barat.  “Tugas kami waktu itu menjaga Pak Nasution,” kenang Toto.

 

Kemudian, Toto bergabung dengan Detasemen Polisi Tentara 312, hingga tahun 1948. Ketika seluruh tentara hijrah ke Yogya, Toto diperintah oleh atasannya untuk kembali ke Bandung. Menamatkan SMP, lalu melanjutkan ke SMA. Mula-mula jurusan B, lalu pindah ke A, akhirnya jurusan C. Bukan karena minatnya berubah-ubah, tapi karena tidak ada guru yang mengajar. Ia lulus SMA, pada usia 21, pada tahun 1950.

*

DI DALAM esainya, Toto menceritakan proses kreatifnya menulis sajak “Ibukota Senja” yang rawan-sendu dan “Pahlawan Tak Dikenal” yang amat terkenal itu.

Sajak “Pahlawan tak Dikenal” ia tulis pada tahun 1955. Bulan November. Sajak itu, katanya, adalah rekaman dari pengentalan dan perenungan selama sepuluh tahun.

Artinya ia mulai memikirkan sajak itu sejak tahun 1945. “… saya turut memanggul senjata sebagai anak muda yang terpanggil untuk turut serta dalam perjuangan kemerdekaan tahun 1945,” ujar Toto.

Proses menulisnya sendiri tidak lama. Dari pengalaman itu ia membedakan antara “penciptaan sajak” dan “penulisan sajak”. Baginya membedakan dua hal itu penting.

Pengalaman yang sama ia contohkan pada proses lahirnya sajak “Ibukota Senja’. Sajak itu ia pikirkan sejak 1950, ketika ia pertama kali datang ke Jakarta untuk kuliah di Fakultas Hukum, UI, ikut nongkrong di Pasar Senen, dan menuliskannya pada 1951.

Nilai sebuah sajak, bagi Toto, tergantung pada penampilan sosok dan kepribadian penyair yang tertuang dalam sajak itu. Karena itu, baginya, proses penciptaan sajak itu sangat penting.

Menciptakan sajak bagi Toto, adalah proses penalaran menempuh dua tahap. Pertama melahirkan gagasan dan khayalan. Dengan kata lain membentuk ide dan memainkan imajinasi. Lalu kedua, menilai gagasan dan khayalan tersebut.

“Kedua tahap itu berkelindan,” kata Toto. Prosesnya terus-menerus, mondar-mandir, maju-mundur, keluar masuk dari gagasan ke khayalan, dan sebaliknya. Pada titik ini saya melihat pertautan etos kepenyairan Toto dengan Chairil. Keduanya tak percaya pada ilham. Keduanya percaya pada kerja keras.

Dan keduanya menghasilkan sajak yang kuat.

*

TOTO memang tak bisa menghindar untuk tak dibandingkan dengan Chairil. Ia muncul pertama kali di tahun 1950, tepat setahun setelah kematian Chairil. Sajaknya mula-mula muncul di Majalah Mutiara (diasuh Mochtar Lubis), lalu di Mimbar Indonesia (diasuh Jassin). Hingga pemuatan sajak-sajak pertamanya itu, Toto menerima penolakan yang banyak. “Sajak saya yang ditolak Jassin lebih dari seratus,” katanya.

Kenapa Toto menulis? Dan kenapa menulis puisi? Ia sudah mempunyai keinginan itu sejak kanak-kanak. Sejak itu pula ia suka membaca. Jika di rumah kurang buku ia akan berkunjung ke  rumah teman yang punya banyak buku.

Ketika SMP, Toto mulai rajin kutrat-kotret menulis. Asal tulis saja. Ada seorang guru yang mendorong minatnya. Namanya Pak Sumarjo. Di SMA, minatnya terhadap bacaan dan kegiatan menulis makin meningkat. Tapi, ia benar-benar serius menulis setelah tinggal untuk kuliah di Jakarta.

Toto punya minat besar pada bahasa. Dua bahasa asing yang sangat ia kuasai adalah Bahasa Inggris dan Belanda. Penguasaannya atas dua bahasa itu membuatnya kelak menjadi penerjemah buku yang sangat produktif. Ia sempat juga jadi penerjemah tentara Jepang, padahal itu bahasa ia pelajari secara otodidak.

Berada di Jakarta. Bergaul di Pasar Senen, pusat tongkrongan seniman penting pada masanya, tampaknya memberi momen bagi Toto untuk mengembangkan minat dan bakat menulisnya. Ia kira-kira pada tahun-tahun itulah mulai mengembangkan sajak-sajaknya. Ia menulis banyak sajak, ratusan yang ditolak Jassin itu.

Orang bicara soal Chairil, peninggalannya dan pengaruhnya pada penyair kemudian. Toto jelas juga membaca Chairil. Ia mengambil dan mengolah pengaruh Chairil pada persajakannya.

Pada tahun 1955, artinya lima tahun setelah mulai serius menyajak dan berhasil menyiarkan banyak sajak, Toto menulis sebuah sajak yang ia persembahkan untuk Chairil Anwar.

Pernyataan

Aku makin menjauh

Dari tempatmu berkata kesekian kali

Laut-laut makin terbuka

Di bawah langit remaja biru pengap melanda

 

Apakah cinta tinggal cinta, kuyup

Tanpa kehendak biar sayup?

Berkata tentang diri sendiri

Berkaca dan kembali berlari?

 

Belai malam yang gugup

Menjadi saksi kita berdua

Terhadap makna dan kata-kata

Yang hidup dalam hidup terasa berdegup

 

Kita bisa menangkap banyak hal tentang Toto, sajaknya, kepenyairannya, dan apa arti Chairil baginya dalam sajak ini.

Chairil adalah ‘kawan’, sama-sama penyair (Menjadi saksi kita berdua), yang ia pertanyakan dan tak sepenuhnya ia setujui sikapnya (Berkata tentang diri sendiri / Berkaca dan kembali berlari?), yang ingin dan berhasil ia lepaskan pengaruhnya (Aku makin menjauh / Dari tempatmu berkata kesekian kali), tetapi toh t etap bertemu dan berada di tempat yang sama (Laut-laut makin terbuka / Langit remaja biru), dan dipersatukan kembali oleh pencarian dan penemuan makna kehidupan yang universal (terhadap makna kata-kata / yang hidup dalam hidup terasa berdegup).

Jassin mengendus pengaruh Chairil pada Toto. Misalnya, ia katakan, pengaruh liku lekuk jalan pikiran Chairil Anwar terbaca pada proses pelontaran apa yang terpendam dalam sajak Toto.

“Sesuatu sajak mulai begitu saja dengan lontaran pikiran yang merupakan suatu kesimpulan dari pemikiran yang panjang sebelumnya,” kata Jassin dalam ulasan panjangnya – yang tampaknya ia tulis dengan gembira – “Toto Sudarto Bachtiar – Penyair Ibukota Senja” dalam buku “Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai” (PT Gunung Agung, Jakarta, 1967).

Yang juga serupa pada kedua penyair itu, kata Jassin, adalah kesukaan memakai perlompatan baris, membikin napas sajak mengalun dari baris ke bari dengan licin. Lalu ada hentakan tiba-tiba, yang seakan membendung aliran itu kemudian mengalirkannya kembali.

Akan tetapi Toto adalah Toto dan Chairil adalah Chairil. Pengaruh Chairil pada Toto tidak membuat Toto menjadi epigon. Pada Toto, kata Jassin, ada pencernaan dan ada pematangan yang membikin ia jelas berdiri di panggung sastra Indonesia sebagai Toto.

Toto berbeda dengan Chairil dalam hal sikap terhadap hidup. Esai panjang Subagio Sastrowardoyo dengan jernih memaparkan perbedaan itu. Toto bukan seorang pemberontak seperti terasa pada Chairil yang berjiwa gerah dan tegang menghadapi nasib. Toto dengan sabar menerima nasib. Dengan sikap itu ia mengolah tema dan persoalan hidup.

*

DUNIA baru dalam sajak yang berhasil, kata Toto, tidaklah semata mengandung tambahan pengetahuan, peningkatan kedalaman dan pengentalan serta keserbanekaan, namun ia juga memiliki kesegaran, keseksamaan, kebenaran, kejujuran dan dampak perasan. Toto dengan demikian bicara soal estetik, etika, logika, dan emosi dalam puisi.

Toto telah paham benar apa itu puisi. Ia punya standar tinggi tentang bagaimana puisi yang baik. Itu sebabnya mungkin, kenapa ia tak banyak menulis. Ia tak produktif. Atau ia memang sangat selektif menyiarkan sajak-sajaknya.

Toto menyiarkan buku puisi pertamanya pada tahun 1956. “Suara” (diterbitkan BMKN), memuat sajak yang ia tulis sepanjang 1950-1955. Lalu menyusul “Etsa” (Pembangunan, 1959). Ada banyak sajak lain yang ditulis pada tahun-tahun itu yang tak ia bukukan. Jassin mencatat, sajak-sajak yang tak terbukukan itu dimuat di Mimbar Indonesia, Zenith, Siasat, Indonesia, Pujangga Baru, dan Kisah.

Dua buku itu, ditambah sajak lain yang ditulis pada 1997-2001 (diberi subjudul “Desah”) dikumpulkan dalam satu buku yang bisa disebut sebagai sajak lengkapnya, “Suara, Etsa, Desah”.

*

ADA masa panjang ketika Toto menghilang, berhenti menulis, sama sekali tak menyiarkan sajak. Orang pun mencari dan bertanya.  Selepas kuliah, 1955, ia menetap di Bandung. Menjadi pegawai negeri. Juga bekerja di beberapa majalah yang ia ikut dirikan. Juga menerjemahkan buku.

Kemana saja Toto?

Ayatrohaedi menyebutnya sebagai “pahlawan orang-orang kecil”.

APA sumbangan Toto pada persajakan Indonesia? Menurut Subagio, Toto adalah perintis pencarian ilham pada sumber-sumber kejiwaan Indonesia dengan tidak meninggalkan tingkat kelembutan ekspresi persajakan yang pernah tercapai di alam sastra modern Indonesia.

“Toto telah membuka jalan perkembangan baru yang kemudian ditempuh oleh penyair-penyair yang kemudian, seperti Ajib Rosidi, Rendra, dan Ramadhan K.K.,” ujar Subagio dalam esainya “Hati Sabar Toto Sudarto Bachtiar” dalam buku “Sosok Pribadi dalam Sajak (Balai Pustaka, 1997).

*

TOTO meninggal di rumah seorang kerabatnya Cisaga, Ciamis, sepuluh menit menjelang pukul 6 pagi, 9 Desember 2007. Kabar kematiannya terasa mengejutkan. Ia tidak sakit. Pagi itu ia bersiap hendak kembali ke bandung. Di kecamatan Cisaga itu, dulu ayahnya pernah menjadi camat.

Di situ pula ia di masa tuanya menjadi penyuluh pertanian tanpa bayaran.  Usianya mencapai 76 tahun.  Ia pernah terkena serangan jantung pada 1998. Ia meninggalkan dua orang istri, seorang anak, dua orang cucu, dan sejumlah karya yang abadi. (*)

 

Jakarta, September 2019

Continue Reading

Persona

Mata Kesunyian

mm

Published

on

Itu tidak masuk akal, mencoba untuk mengubah segalanya di dunia atau pun di dalam hidup; banyak hal yang cukup buruk sekali pun tidak dicampur. Segala sesuatu yang hati dan pikirannya telah mengutuk atas apapun yang telah ia pertahankan—ayahnya, pernikahan, kapitalisme. Karena salah satu letak kesalahannya tidak hanya dari sebuah institusi, tetapi dari dalam diri kita sendiri (mengada). Kita harus merenung di sebuah sudut dan membuat diri kita sekecil mungkin. Lebih baik untuk menerima segala sesuatu daripada membuat sebuah usaha tapi gagal, bahwa kita telah ditakdirkan dari awal untuk menghadapi kegagalan.

“Ya, formula tersebut merupakan dasar dari semua teori… itu artinya sangat sederhana, bahwa menjadi seorang perempuan bukan sebagai takdir yang alami. Hal tersebut merupakan hasil dari perjalanan sejarah. Tidak ada tujuan, baik secara biologi dan psikologi yang menjelaskan bahwa perempuan sebagai…bayi perempuan yang diproduksi untuk menjadi seorang perempuan.”― Simone de Beauvoir

This slideshow requires JavaScript.

Continue Reading

Inspirasi

Riwayat Kepengarangan Ahmad Tohari

mm

Published

on

Nama Ahmad Tohari baru muncul setelah pertengahan tahun 1970-an. Mula-mula hanya dikenal lewat sebuah cerpen yang memenangkan penghargaan Kincir Emas dari Radio Hilversum, Belanda. Kemudian naskah novelnya mendapatkan rekomendasi untuk diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Juga sebuah novelnya memenangkan salah satu nomor dalam sayembara yang serupa.

Munculnya nama baru dalam sastra Indonesia lewat sayembara DKJ rupanya merupakan gejala baru dalam periode 1970-an ini. Sayembara semacam itu memang banyak diikuti oleh para pendatang baru. Dan meskipun bukan keluar sebagai pemenang utama, asal di deretan pemenang, atau direkomendasikan buat diterbitkan tanpa nomor, biasanya karyanya cepat mengorbit. Dan itu merupakan dorongan yang baik bagi pengarang. Ia tinggal meneruskan dengan karya-karyanya yang lain. Sayembara roman DKJ adalah pintu gerbang memasuki sastra Indonesia.

Ahmad Tohari adalah contoh dari sastrawan hasil sayembara demikian itu. Riwayat munculnya tak lepas dari beberapa sayembara demikian itu. Dimulai dengan Kincir Emas dan berakhir di DKJ.

Ahmat Tohari adalah kelahiran Banyumas 13 Juni 1948. Menulis sejak SMA dan kini bekerja sebagai wartawan sebuah majalah. Novelnya yang pertama adalah Kubah dan disusul kemudian dengan Di Kaki Bukit Cibalak serta Ronggeng Dukuh Paruk yang keduanya pernah dimuat secara bersambung dalam surat kabar Kompas.

Rupanya pengarang muda yang baru muncul ini menjawab stimulasi sayembaranya. Ia aktif menulis dan punya bobot. Ini merupakan harapan. Pengambilan tema yang bermacam ragam selama ini setidak-tidaknya ia tidak “mabuk” pada hasil sebelumnya. Ia tidak jatuh ke dalam arus penulisan novel populer.

Namun pembentukannya sebagai seorang sastrawan masih harus dibuktikan dengan karya-karyanya yang lain. Sayang bahwa kedua novelnya yang telah pernah dimuat secara bersambung itu belum dibukukan.

Kubah

Pada karya pertama biasanya terlihat kekuatan-kekuatan seorang pemula. Dan pada Tohari tanda-tanda itu juga nampak. Ia memiliki “sesuatu” yang bisa dikembangkan. Sikapnya yang sederhana dalam mengolah materi ceritanya dan kedalaman serta kesungguhannya dalam menilai kehidupan ini merupakan salah satu yang pantas dipelihara dan dikembangkan.

Tidak nampak adanya sikap “aneh-aneh” pada karyanya yang pertama ini. Ia lugu berkisah, apa adanya, bahkan juga tanpa kembang kata-kata. Hanya usahanya untuk menggali lebih dalam materi kisahnya kurang dijalankan. Novelnya ini nampak terlalu tergesa-gesa ditulis. Untuk materi cerita yang penuh dengan pergolakan emosi dan krisis yang diramu oleh sebuah peristiwa sosial besar semacam G-30-S rasanya buku ini terlalu kecil takarannya. Untuk mengabadikan sebuah peristiwa besar dalam ukuran Keluarga Gerilya. Namun untuk seorang pendatang baru harapan yang demikian agak terlalu berlebihan. Untuk mencapai taraf itu saya kira diperlukan suatu usaha besar-besaran di pihak pengarangnya, menilik karyanya yang sekarang ini.

Kubah menceritakan pembebasan Karman dari tahanan selama 12 tahun di pulau B. Ia ragu-ragu untuk pulang. Sebab tak ada keluarga yang ditujunya. Ia memang punya isteri yang manis dan anak-anak yang dilahirkannya, tetapi itu semua bukan lagi miliknya. Isterinya telah kawin lagi. Dan setelah akhirnya Karman sampai di rumah kakaknya diketahuilah bahwa ia disambut secara ramah oleh penduduk dan tetangganya, bahkan juga salah seorang anaknya dan keluarganya sendiri. Bahkan ia menyaksikan anak gadisnya menikah dengan pemuda yang berasal dari keluarga berpengaruh di desanya, Haji Bakir.

Tanda dari penerimaan yang tulus ikhlas dari penduduk desa ini adalah kepercayaan yang diberikan pada Karman untuk membangun kubah mesjid desanya. Ini lambang dan sekaligus kenyataan sosial yang berarti Karman bekas tahanan politik PKI itu telah diterima kembali oleh masyarakatnya.

Tetapi lebih dari separoh buku ini justru mengisahkan secara sorot balik riwayat Karman mengapa ia sampai menjadi tahanan politik. Semula Karman adalah pemuda desa yang rajin sembahyang, bahkan hampir kawin dengan anak Haji Bakir sendiri. Tetapi kesulitan mencari pekerjaan menyebabkan ia jatuh ke tangan agen-agen partai komunis untuk dibina masuk partai. Karman diberi pekerjaan yang baik dan kegagalannya mencintai gadis anak haji Bakir diganti oleh “orang-orang partai” dengan menyodorkan gadis Marni yang kelak jadi isterinya dan melahirkan tiga orang anaknya. Setelah menjadi orang partai (Karman masuk Partindo) Karman harus menerima kenyataan pula ketika partai komunis gagal dalam melakukan kudetanya. Ia diburu-buru. Ia tinggalkan keluarganya dan bersembunyi di sebuah kuburan lebih dari satu bulan. Hanya karena ia sakit perut terpaksa keluar dari sarangnya dan akhirnya ditangkap penduduk. . . .

Nampaknya kisah ini berdasarkan kisah nyata. Artinya ada riwayat yang demikian yang didengar oleh pengarangnya. Kejadian-kejadian yang dipaparkan di dalamnya benar-benar jelas dan teliti. Posisi masing-masing tokoh begitu teguh seperti sebuah biografi. Ada banyak tokoh yang bermain di dalamnya. Hanya sayang pengarang tidak berhasil mengolahnya secara luas. Peristiwa-peristiwa yang kuat kedudukannya dalam cerita, setting cerita yang sangat jelas dan amat dikenal oleh pengarangnya menunjukkan bahwa cerita ini bukan hanya sekedar fiksi mentah belaka. Ada sumber kejadiannya yang dengan sendirinya tak perlu persis seperti kejadian sebenarnya.

Tema utama novel ini adalah kesadaran kembalinya seorang muslim ke dalam agama dan masyarakatnya. Tobat yang penuh dan bersih. Tetapi tema ini seperti saya katakan kurang dikerjakan secara luas. Pengarang hanya terpikat pada plotnya yang memang bagus.

Bagaimana Karman yang ditahan begitu lama di pulau B dapat begitu saja bertobat 100%. Meskipun dalam kenyataan kehidupan kejadian semacam itu ada, tetapi tak cukup hanya dikisahkan belaka. Yang penting pengarang bisa meyakinkan pembaca bahwa kejadi semacam itu secara logis bisa terjadi. Dan pembuktian inilah yang rasanya tak tergarap. Juga jatuhnya Karman ke kelompok orang –orang partai seperti Margo dan Triman kurang mendapat penerangan yang cukup baik. Meskipun pengarang berhasil menuturkan sistimatika komunuis dalam menggarap kader-kadernya, tetapi pergolakan batin Karman sendiri kurang digarap. Bagaimana seorang muslim yang taat, meskipun masih sangat muda yakni berusia sekitar 20 tahun, tiba-tiba bisa beralih pada faham Marxis. Ini tentnya soal pergolakan batin. Dala roman Atheis gejala ini dengan baik sekali dikupas secara panjang lebar. Kita memahami emngapa si tokoh yang santri bisa berubah menjadi seorang atheis. Tetapi pada Kubah penekanan semacam itu tak hadir. Yang ditonjolkan justru taktik orang partai bagaimana menggarap seorang calon korban.

Taktik ini bisa mempan bagi seseorang tetapi juga tidak mempan bagi orang lain. Tetapi rupanya pengarang percaya bahwa pendekatan seperti itu bisa berhasil bagi tiap orang. Alasan memang cukup kuat: Karman masih muda, habis putus cinta dan dendam pada ulama bekas mertuanya yang tak jadi, dan berhutang budi pada partai. Namun pengingkaran Karman yng semula rajin sembahyang dan kini belot kurang terjelaskan secara psikologis.

Yang menonjol dari novel ini adalah nilai informasinya. Kita diberi banyak keterangan “tangan pertama” tentang tragedy G-30-S di desa-desa. Bagaimana orang-orang PKI diciduk dan dihabisi oleh rakyat dan bagaimana mayat banyak dibuang di sungai-sungai. Bagian tentang pengejaran Karman merupakan bagian yang amat bagus dan menegangkan dalam novel ini.

Juga “kearifan” pengarang muda ini dalam menilai kejadian kemanusiaan di dalam ceritanya cukup matang. Tak ada kesan bahwa pengarang ada semangat menggurui atau sok pamer filsuf. Semua aporisma kebijaksanaan muncul begitu wajar dan sederhana seperti layaknya terjadi pada pengarang-pengarang besar.

Saya kira ketekunan dan kesabaran mengolah materi kisah akan mampu mengangkat karyanya ini menjadi karya yang cukup berarti dari jenisnya. Sayang novel ini terlalu pendek dan singkat untuk sebuah tragedy di keluarga yang cukup hebat. Bagaimana seorang suami ditinggalkan oleh isterinya yang setia dan masih dicintai, bagaimana hancur seorang suami mendapatkan bekas isterinya dan bekas anak-anaknya yang masih dirindukannya, bagaimana sebuah jiwa menjadi begitu bersih diterima oleh lingkungan yang dahulu hampir membinasakannya dan sebagainya. Itu semua bisa menggoncangkan jiwa besar bagaimana pun. Dan kejadian-kejadian semacam itu akan mampu melahirkan karya-karya yang monumental pula. (GBJ)

Continue Reading

Trending