Connect with us

Buku

Mengatasi Ketimpangan, Mewujudkan Kapitalisme dan Demokrasi Progresif

mm

Published

on

Professor Joseph Stiglitz at Columbia University / via commons.wikimedia.org

Celakanya, ketidakpuasan justru dimanfaatkan oleh para politisi sebagai objek untuk mendulang suara. Cherian George (2016) menyatakan, politisi tak segan untuk memelintir kebencian, mengagitasi massa, dan membuat polarisasi di masyarakat.

by Virdika Rizky Utama *)

Tak ada yang memungkiri bahwa abad ke-21 merupakan abad penuh dengan kemajuan. Baik di bidang ekonomi, kesehatan, maupun teknologi. Demi membuktikan hal tersebut, Steven Pinker (2018) membandingkan data-data tersebut selama 200 tahun. Hasilnya, Pinker menyatakan bahwa bumi tengah mengalamai abad pencerahan terbaru.

Kendati demikian, ada satu hal yang terlewatkan oleh Pinker yakni ketimpangan. Hal tersebut yang ingin diungkapkan oleh Joseph E. Stiglitz dalam buku terbarunya ini. Berdasarkan data yang diteliti oleh peraih nobel di bidang ekonomi pada 2001, jika pada abad ke-20, 1 persen populasi manusia menguasai bumi, maka saat ini hanya 0,1 persen populasi manusia yang menguasai bumi (hlm. 38).

Bahkan majalah Forbes pada 2018 mengungkapkan bahwa saat ini ada “Individu-individu dengan kekayaan bersih sangat tinggi” – istilah industri manajemen kekayaan untuk orang-orang yang bernilai lebih dari USD30 juta – memiliki bagian yang sangat tidak proporsional dari kekayaan global. Pemilik kekayaan ini—kapitalis— memiliki 11,3 persen dari total kekayaan global, namun hanya mewakili sebagian kecil (0,003%) dari populasi dunia.

Sedangkan di Indoneisa, World Bank pada 2015 sudah memberikan peringatan. Pasalnya, sejak tahun 2000, ketimpangan ekonomi di Indonesia meningkat pesat. Pertumbuhan ekonomi yang ada lebih dinikmati oleh 20 persen penduduk terkaya daripada masyarakat umum lainnya. Meskipun, Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018 merilis data rasio gini Indonesia selama periode September 2017 hingga Maret 2018. BPS mencatat rasio gini sebesar 0,389, dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni 0,391. Ini merupakan rasio gini terendah dalam tujuh tahun terakhir.

Judul Buku: People, Power, and Profits | Penulis : Joseph E. Stiglitz Penerbit: WW Norton and Company | Tebal: xxvii+ 366 halaman, ISBN 978-1324004219 Tahun Terbit : Cetakan I, April 2019

Stiglitz berargumen bahwa ketimpangan terjadi karena dua aspek yang tak dapat dipisahkan yakni ekonomi dan politik. Di bidang ekonomi, Stiglitz menyatakan bahwa ada yang salah dalam praktik kapitalisme yang tengah berlangsung. Mengutip Adam Smith (1776) Ia menjelaskan bahwa kapitalisme yang menyerahkan sistem ekomnomi kepada pasar—meminimalisasi serta mengeleminasi peran pemerintah— dan terjadinya persaingan akan menghasilkan kompetisi yang sehat diiringi dengan adanya inovasi.

Dua hal ini diyakini akan membawa kesejahteraan bagi manusia. Sayangnya, kesejahteraan itu tak terjadi. Pada kenyataannya, para kapitalis tak senang dengan adanya persaingan. Sebagai contoh, Facebook mengakuisisi Whatsapp dan Instagram (hlm.73). Dengan kata lain, yang terjadi adalah monopoli. Konsekuensi logisnya adalah modal terkonsentrasi pada satu tempat saja. Alhasil, tidak ada distribusi kemakmuran dari adanya persaingan yang sehat. Padahal, tolok ukur kesejateraan suatu negara adalah adanya kemampuan untuk mendistribusikan standar hidup yang tinggi bagi seluruh rakyat (hlm.9). Hal ini dapat diprediksi, sebab kemajuan ekonomi diraih bukan melalui inovasi, melainkan dengan eksploitasi.

Sedangkan, tak adanya peran negara dalam mekanisme pasar justru malah kekacauan. Stiglitz bersikukuh bahwa peran pemerintah mesti diperkuat. Musababnya, pemerintah dapat membuat regulasi yang bisa memproteksi ekonomi rakyat kecil dan mendistirbusikan kesejahteraan. Tak hanya itu, semestinya pemerintah juga dapat mendorong tumbuh kembangnya ekonomi rakyat. Hal yang paling penting, kata Stiglitz, adalah penerapan pajak yang adil bagi para konglomerat.

Pajak dinilai penting untuk mengurangi ketimpangan dan menjamin program-program sosial yang banyak diperuntukan bagi rakyat miskin. Ia mencontohkan, di negara-negara Skandinavia—yang terkenal sejahtera, pemerintahnya tak segan menerapkan pajak tinggi. Sebab, pemerintah berhasil membuat kesadaran baik pemilik modal maupun rakyat pun sadar bahwa pajak akan diperuntukan untuk menjalankan program-program sosial pemerintah (hlm.100).

Sekilas, gagasan Stiglitz mirip dengan ide-ide sosialisme yang menekankan pentingnya peran pemerintah dan jaminan sosial bagi rakyat. Akan tetapi, Stiglitz tetap bersikukuh bahwa kritiknya untuk menyelamatkan kapitalisme kepada fitrahnya yang ia sebut kapitalisme progresif (hlm.247). Bukan tanpa sebab Stiglitz bersikukuh pada pendiriannya, pasalnya kapitalisme dianggap sejalan dengan nilai-nilai demokrasi yang menjamin hak-hak individu. Satu hal yang tak diakui dalam sistem sosialis.

Besarnya ketimpangan, juga diakibatkan dengan praktik politik demokrasi, kata Stiglitz, ditekan oleh para kapitalis yang tak ingin adanya persaingan. Akibatnya, sifat monopolistik menginternalisasi ke dalam politik. Sebuah sifat yang tentu tidak sejalan dengan demokrasi dan cenderung totaliter. Stiglitz mencontohkan terpilihnya Donald Trump sebagai bukti nyata dari internalisasi sifat monopolistik ekonomi dan politik.

Hal itu disebabkan karena demokrasi yang berjalan sangat liberal dan transaksional, kekuatan ekonomi dapat mengintervensi ranah politik. Para kapitalis biasanya berperan sebagai pendonor calon presiden atau anggota legisliatif. Ketika calon mereka terpilih, maka si calon akan menyiapkan segudang aturan untuk mempermudah bisnisnya. Alhasil, rakyat tak pernah mendapatkan “kue kesejahteraan” dari negara. Hal ini yang menimbulkan ketidakpuasan.

Celakanya, ketidakpuasan justru dimanfaatkan oleh para politisi sebagai objek untuk mendulang suara. Cherian George (2016) menyatakan, politisi tak segan untuk memelintir kebencian, mengagitasi massa, dan membuat polarisasi di masyarakat.

Lantas bagaimana apakah kita mesti percaya pemerintah akan berperan untuk menyejahterakan rakyat seperti yang diungkapkan Stiglitz di atas?

Stiglitz berkeyakinan bahwa hal itu masih sangat dapat terjadi. Banyak politisi yang memiliki program dan gagasan bagus tapi tak terpilih karena kalah modal dalam kampanye. Oleh sebab itu, kata Stiglitz, medan pembuktian kekuatan rakyat terjadi saat pemilu berlangsung (hlm.246). Karena mencapai kesejateraan bukan hanya sekadar masalah moral atau bagusnya ekonomi, melainkan juga tentang memperjuangkan demokrasi. Maka tak heran bila Stiglitz memercayai bahwa sebelum mereformasi ekonomi, yang harus dilakukan adalah mereformasi politik.

Selain itu, pemerintah punya segala perangkat untuk mencapai kemajuan. Salah satunya memberikan banyak investasi dalam riset. Sebab, kemajuan dunia selama 200 tahun dapat terjadi karena banyaknya penemuan dan inovasi berdasarkan riset yang besar. Maka tak dapat tidak, jika pemerintah wajib mendanai riset (hlm.141). Sebab, kesejahteraan tak bisa terus menerus diwujudkan dari praktik ekonomi yang bersifat eksploitasi, tapi harus berbasis pada produktivitas, kreativitas, dan kekuatan rakyat.

Buku yang terdiri dari 11 Bab ini layak oleh dibaca oleh semua kalangan—terutama para pebisnis dan pemerintah. Agar mewujudkan kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia benar-benar terjadi. Bukan hanya mewujudkan kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia yang mampu menjangkaunya. Sebab, seperti dikatakan Bung Karno bahwa Indonesia didirikan bukan untuk golongan tertentu, melainkan untuk semua. (*)

 __________

*) Virdika Rizky Utama–Peneliti di Narasi.TV

Continue Reading
Advertisement

Buku

Fahrenheit 451: Membakar Buku di Hari Buku

mm

Published

on

Oleh: Faris Ibrahim *)

Cerita bagus memikat sejak kalimat pertama. Penulis- penulis bagus membuat kita jatuh cinta pada pandangan yang pertama. Mereka tidak akan menunggu sampai kalimat kedua, paragraf kedua, halaman kedua, apalagi bab kedua untuk bisa menarik perhatian kita. Itulah yang dilakukan Ray Bradbury saat menulis Fahrenheit 451. Ia memulai mahakaryanya itu dengan provokasi menarik sejak kalimat pertama: “membakar sungguh menyenangkan.” 


Sixty years after its originally publication, Ray Bradbury’s internationally acclaimed novel Fahrenheit 451 stands as a classic of world literature set in a bleak, dystopian future. Today its message has grown more relevant than ever before. Guy Montag is a fireman. His job is to destroy the most illegal of commodities, the printed book, along with the houses in which they are hidden. Montag never questions the destruction and ruin his actions produce, returning each day to his bland life and wife, Mildred, who spends all day with her television “family.” But when he meets an eccentric young neighbor, Clarisse, who introduces him to a past where people didn’t live in fear and to a present where one sees the world through the ideas in books instead of the mindless chatter of television, Montag begins to question everything he has ever known.

Menyenangkan apanya? Seasyik- asyiknya membakar kembang api, tetap saja akhirnya gemerlapnya menghilang. Membakar pastilah berujung: kehilangan. kehilangan tidak menyenangkan, kehilangan menyedihkan. Makanya kita sering mendengar orang tua kita bilang: jangan bakar- bakaran, jangan main- main dengan api. Orang tua, takut kehilangan kita, itu sebabnya mungkin mereka selalu berat hati meretui hubungan kita dengan api.

Mereka tahu hubungan kita dengannya kadangkala tanpa pemahaman. Yang tidak paham, biasanya terjeremus dalam petaka. Api terbiasa menyulut petaka. Itulah kenapa setan sering disimbolkan dengan api. Main api artinya main- main dengan setan: memancing kedatangan mala- petaka. Api memang bukan mainan, api hadir ke dunia untuk dikendalikan. Dengan api Aang menjadi Avatar, dengan api pula ia melukai lengan Katara, gadis yang paling ia cintai.

Lewat Fahrenheit 451, Bradbury ingin mengajak kita membayangkan itu: keadaan di mana api sudah tidak lagi terkendali, kemudian membakar sesuatu yang paling kita cintai. Setiap tahun kita merayakan Hari Buku karena semua orang mencintai buku, namun apa jadinya kalau kita hidup di zaman di mana semua orang membenci buku? itulah Fahrenheit 451. Tokoh utamanya, Montag, sangat menikmati pekerjaannya: “Senin bakar Millay, Rabu Whitman, Jum’at Faulkner.”

Sejak rumah- rumah sudah kebal dari kebakaran, mereka- mereka yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran terancam pengangguran. Rezim berpikir keras, akhirnya munculah sebuah alternatif profesi: petugas kebakaran. Tugas Montag bukan lagi memadamkan, tugasnya membakar. Ia dan teman- teman butuh sesuatu untuk dibakar, sesuatu yang dibenci oleh semua orang sehingga kehilangannya sangat diharap- harapkan. Tersebutlah satu benda bernama: buku.

“Buku adalah peluru,” kata kapten Beatty. Orang bisa saling membunuh gara- gara buku. Buku menyulut kemarahan. Kulit putih tidak pernah gembira saat membaca Uncle Tom’s Cabin, kulit hitam naik pitam saat membaca Little Black Sambo. Buku hanya memecah belah masyarakat. Dengan mempercayai maksim itu, petugas kebakaran sepenuh hati melakoni kerjaannya membakar buku. Kebencian masyarakatlah yang jadi pembenaran.

“Bakar sampai menjadi abu, lalu bakar lagi abunya,” kalimat itu bukan hanya slogan petugas kebakaran. Dari slogan itu kita bisa menjejak kebencian masyarakat terhadap buku yang bencinya sampai ke tulang- tulang. Buku adalah penjahat. “Kata- kata bodoh, kata- kata bodoh, yang jahat dan menyakiti,” begitu kata Mrs. Bowles yang menangis bukan karena keindahan puisi Dover Beach, puisi Matthew Arnold itu jahat karena membuatnya menangis saat mendengarnya.

Itulah yang kita temukan saat membaca paruh awal Fahrenheit 451. Seakan kita dituntun lewat premis- premis logis tokoh- tokohnya untuk mengangguk setuju berakhir membenci buku, menjadikannya penjahat, lantas membakarnya.Namun, beruntungnya memang, Bradbury tidak menceburkan kita begitu saja dalam kekeliruan, tanpa pelampung. Lewat Montag, si tokoh utama, kita diajak pelan- pelan bertobat pernah serampangan meyakini buku sebagai penjahat.

Buku tidaklah jahat, yang jahat kita saja manusia, Bradbury paham betul maksud dari perkataan itu. Usianya masih 15 tahun saat mendengar Hitler memanggang buku- buku di jalanan Berlin. Masa remajanya juga ia habiskan dengan menonton Stalin memenjarakan para pujangga, membakar buku- bukunya. Dan puncaknya adalah pada tahun 1950, saat Senator McCarthy menangkapi teman- teman penulisnya dengan dalih pemberantasan Komunisme.

Sebagai seorang anak yang tumbuh dengan kecintaan melahap buku, hatinya terbakar menyaksikan pembakaran buku dari masa ke masa.  Alhasil dengan kumulasi pengalaman kelam itu, terkumpulah semua alasan untuknya menuliskan Fahrenheit 451, sebuah pledoi terhadap hak asasi buku yang selalu didakwa sebagai penjahat yang nyatanya selalu jadi korban kejahatan para penjahat. Buku dibabat demi melanggengkan kekuasaan, padahal ia hanyalah alat.

Sebagaimana motor yang bisa dipakai pergi sholat, motor juga bisa dipakai menyiram air keras ke orang sehabis sholat. Alat terggantung penggunanya, buku tergantung pembacanya. Kitalah yang salah baca, bukan salah buku. Fahrenheit 451 boleh jadi maksudnya bukan suhu terbakarnya buku, melainkan suhu panasnya kepala kita yang terbakar kebencian saat membaca. Kita membaca untuk mencari pembenaran, bukan kebenaran, di sanalah letak salahnya.

Jika ada seribu rujukan yang mengatakan Covid- 19 benar- benar tragedi, dan hanya satu yang bilang itu konspirasi, maka kita berapi- api menyomot yang satu itu sebagai pembenaran, benar- salah itu urusan belakangan. Saat kita pilih- pilih bacaan, pilih- pilih buku, pilih- pilih tontonan saat itulah sebenarnya kita mulai bersalah, mulai jadi penjahat. Jahat karena menutup seluruh kemungkinan yang benar jadi salah, yang salah jadi benar.

Terkadang dalam membaca kita tidak siap membaca hal- hal‒ yang seperti kata Faber: “memperlihatkan pori- pori di wajah kehidupan,” alias memperlihatkan kenyataan bahwa kita sedang meyakini sesuatu yang salah. Kesalahan terkadang seperti jerawat di sela pori- pori wajah kita. Kita tidak mau itu terlihat, kita berusaha mengaburkan wujudnya dengan bedak, menutup- nutupinya dengan plester luka, kita halalkan segala cara untuk menutupi kesalahan kita.

Ketika kita menutup- nutupi kesalahan, mengingkari kebenaran, sebenarnya itulah cara termudah untuk menyimpulkan kepribadian kita yang anti buku: anti pengetahuan. Setiap Hari Buku, rasanya kita semakin menjelema jadi sosok yang anti buku: kita masih saja memilah- milah pengetahuan, menonton siaran dari kanal pemuja pilihan politik kita saja, dan mencampakkan yang bukan. Bukankah itu sama saja dengan perilaku membakar buku: melenyapkan pengetahuan?


Ray Bradbury (1920–2012) was the author of more than three dozen books, including Fahrenheit 451The Martian ChroniclesThe Illustrated Man, and Something Wicked This Way Comes, as well as hundreds of short stories. He wrote for the theater, cinema, and TV, including the screenplay for John Huston’s Moby Dick and the Emmy Award–winning teleplay The Halloween Tree, and adapted for television sixty-five of his stories for The Ray Bradbury Theater. He was the recipient of the 2000 National Book Foundation’s Medal for Distinguished Contribution to American Letters, the 2007 Pulitzer Prize Special Citation, and numerous other honors.

Kita membayangkan Fahrenheit 451 begitu tak tergapai sebagai distopia, padahal peristiwanya sangat lekat dengan keseharian kita saat membaca. Kita dimanfaatkan oleh mereka- mereka yang tidak membaca namun berkuasa untuk membenci yang mereka benci, menyukai yang mereka sukai. Kita dikotak- kotakkan, demi kepentingan. Semakin kita jauh dari pengetahuan, semakin malas kita membaca, mereka semakin senang; jerawat kekuasaan semakin samar terlihat.

Ketika kekuasaan semakin terbit benderang, pengetahuan semakin menunduk terbenam. Istana akhirnya mendikte kampus. Presiden membakar buku- buku di halaman. Kita yang sadar hanya bisa berteriak- teriak di balik pagar sambil sesekali menggoyang- goyang. Ban- ban mengepul di jalanan berhari- hari terpanggang, sampai akhirnya kita benar- benar lapar dan kelelahan. Akhirnya kita membenarkan apa kata Faber sang kordinator lapangan: “sekarang, sudah terlambat.”

Keesokan harinya kita masih turun ke jalanan ramai- ramai, hanya saja kali ini bukan untuk membakar ban dan menggoyang- goyang pagar istana, hari ini kita ingin membersamai presiden membakar buku- buku yang tersisa. Kita sangsikan nasehat orang tua untuk tidak bakar- bakaran. Kita aminkan perkataan Montag: “membakar, sungguh menyenangkan.”Hari itu Hari Buku, untuk pertama kalinya dalam sejarah kita memperingatinya dengan membakar buku. (*)

*) Penulis buku Diary Azhari, mahasiswa Akidah- Filsafat Universitas al- Azhar, Kairo.

Continue Reading

Buku

Pertanyaan Seorang Pembeli Buku yang Membaca

mm

Published

on

Oleh: F Daus AR *)

Apa manfaat mengunjungi tempat di masa lalu di mana kita dulu pernah akrab dengan sesuatu di sana. Jika rentang waktunya sudah terpaut jauh, bukankah kita tidak mendapati apa-apa. Karena, misalnya, sesuatu yang diakrabi sudah tidak ada dan tergantikan sesuatu yang baru.

Lalu, itu salah siapa. Bisakah kita mengajukan protes pada pemerintah karena telah memugar sejumlah bangunan lama di tempat itu. Kita marah karena pemerintah yang memegang otoritas sama sekali tidak memedulikan bangunan tua yang menjadi memori kenangan kita di masa lalu.

Berthold Brecht adalah seorang penyair dan penulis naskah drama yang berasal dari Jerman yang menuntut ilmu di bidang alam. Pada saat Nazi berkuasa di Jerman, Brecht melakukan perlawanan dalam hal pemikiran untuk menentang ideologi Nazi.

Tidakkah pemerintah memiliki data dan membaca populasi kunjungan manusia di tempat yang telah dipugar itu. Pemerintah kemudian berdalih kalau tugas bangunan lama sudah selesai untuk menautkan kenangan pada manusia masa lalu. Kini, manusia baru membutuhkan bangunan baru untuk fungsi yang sama.

Serupa dengan itu, menelusuri peristiwa lampau dengan kelakuan manusianya menyisakan beribu tanya. Apa fungsi kisah manusia di masa lalu bagi kehidupan manusia saat ini. Cukupkah dengan mengetahuinya saja. Jika iya, tidakkah itu terlampau interpretatif. Itu baru satu periode. Bagaimana dengan periode tempat kejadian yang terpisah laut, daratan dan juga kebudayaan melingkupinya. Apakah itu bukan hal asing.

Namun, yang jauh–juga asing itu sekaligus dekat sebagai perangkat manusia kini mempelajari kalau perilaku manusia di masa silam betapa saling berhubungan dan berulang. Replika manusia macam Martin Gair rasa-rasanya ada di sekitar kita. Sosok manusia bersifat bajingan bila mengikuti alur cerita di cerpen berjudul Bajingan Tengik. Laila Qadria selaku penerjemah tentu menyandarkan pada realitas sesuai konteks yang sudah menjadi resonansi fenomenologi pembaca Indonesia.

Cerpen ini masuk di tema Kisah-Kisah Bavaria 1920-1924. Pembagian ini dimaksudkan sebagai penanda tahun pembuatan. Bertolt Brecht belumlah berusia 30 tahun ketika menuliskan kisah di periode tahun itu. Ada tiga pembagian, kedua merentang dari 1924-1933 dan terakhir bertarikh 1933-1948. Satu kisah lagi dijadikan lampiran karena dianggap belum lengkap. Di bagian pengantar cukup jelas penjelasan mengenai riwayat kisah tersebut untuk menjelaskan posisi Bertol Brecht.

Bertol Brecht, utamanya sekali, lebih awal dikenal pembaca Indonesia sebagai dramawan dan penyair. Judul ulasan ini menyandarkan pada puisinya yang terkenal: Pertanyaan Seorang Buruh yang Membaca. Kumcer ini menghadirkan beragam kisah manusia di masa lalu selingkaran pergulatan hidup yang dijalani. Sebuah jarak yang begitu jauh.

Mengarungi kisah yang ditawarkan serasa mengeja jejak hidup Bertol Brecht sendiri. Terlibat dalam perang, anggota partai sosialis, hingga persentuhannya dengan gagasan kelas yang didapat dari pemikiran Karl Marx. Manusia-manusia yang dihadirkan bergerak seiring perjalanan waktu dan wawasannya melihat perubahan yang dialami orang Jerman dan manusia Eropa ketika hidup dalam pengasingan.

Kisah yang ditawarakan Bertol Brecht menempatkan tokohnya sebagai pusat. Latar peristiwa melingkari hidup si tokoh menjadi jalur latar topik yang dibahas.

“Dengan sangat gelisah Socrates teringat percakapannya semalam dengan seorang lelaki muda modis yang pernah dijumpainya di belakang layar. Lelaki muda itu seorang perwira pasukan berkuda.” (Hal. 209).

Petikan di atas dijumpai dalam cerpen Luka Socrates yang dijadikan gabungan judul dengan cerpen Bajingan Tengik.  Pemilihan judul edisi terjemahan bahasa Indonesia ini tentu memiliki maksud tertentu. Sangat jauh berbeda dari judul asli yang ditampilkan di halamam kredit titel: The Collected Short Stories of Bertolt Brecht.

Mengacu pada penjelasan di halaman pengantar yang juga bagian dari terjemahan edisi bahasa Inggrisnya, sudah dijelaskan runut oleh Marc Silbermann. Sebagai karya terjemahan, buku ini, menurut saya telah memenuhi pemenuhan informasi dasar yang ditujukan kepada sasaran pembaca terjemahan.

“Terjemahan itu sakral.” Ucap seorang tokoh dalam film Okja garapan Bong Joon-ho. Terkait karya terjemahan saya pernah mengalami hasil buruk sehingga belakang hari menjadi lup ketika ingin membaca karya terjemahan. Jika sedang di toko buku, sebisa mungkin saya menanyakan kepada penjualnya apakah ada contoh buku serupa yang bisa diperiksa halaman keterangan. Namun, sayang, hal demikian sulit didapat.

Ketika melihat buku ini di Fanpage Basabasi Store dengan harga pre order, mulanya ada sedikit keraguan. Siapa gerangan yang menerjemahkan. Ada baiknya nama penerjemah ditampilkan di sampul depan agar pembaca sudah punya sedikt garansi. Prosedur ini diterapkan oleh penerbit Mooi Pustaka yang didirikan novelis, Eka Kurniawan.

Brecht yang Lain

Membaca ke 38 cerpen Brect dalam kumcer ini, sebagaimana dituliskan Silbermann dalam pengantarnya memberikan resonansi berbeda bagi yang pernah menyuntuki drama dan puisinya. Sedangkan yang baru mengenal Brecht lewat cerpen bakal menjumpai sosok pendongeng hebat.


Judul: Bajingan Tengik, Luka Socrates, dan Kisah-Kisah Lain | Penulis: Bertolt Brecht | Penerjemah: Laila Qadria | Penerbit: Basabasi | Tahun: 2019 | Tebal: 326 hlm

Menurut saya, ungkapan Silbermaan tentu bukan bagian pemanis saja mengenalkan Brecht. Kisahnya linier dan bergerak maju dan menjadi panduan di cerpen berikutnya dengan prosedur yang sama.

Di cerpen yang menjadi lampiran, Kisah Petinju Samson-Korner, terlepas kalau kisah ini dianggap belum selesai, dijumpai lompatan peristiwa antar negara. Dari negara bagian Utah di Amerika Serikat hingga ke Capé Town di Afrika Selatan.

Jelajah Brech memberikan sinyal betapa laku manusia menemukan jejak di tempat yang lain. Ini mengingatkan kalau gerak manusia sepertinya sama dan berulang. Manusia di masa lampau dan kini tak jauh berbeda dalam bertindak.

Kisah demikian menjadi kesahihan tentang mengapa kisah lalu manusia sekali itu rekaman dalam fiksi akan selalu menemukan konteksnya di hari selanjutnya. Brecht yang meninggal 64 tahun silam telah mewariskan kisah kusut manusia.

Hampir semua tokoh Brecht adalah manusia biasa dengan kompleksitasnya masing-masing. Meski demikian, dengan kusutnya kisah itu di atas tirani moralitas. Brecht menawarkan kepolosan dan kejujuran.

Sejauh mengeja teks, sejauh itu kita berpindah tempat ke dunia Brecht di masa lalu. Ini kedengaran klise. Jika pengalaman itu personal, maka klise itu terlampau istimewa. Brecht tidak memberikan jawaban dari ragam pertanyaan di kepala pembaca. Ia hanya menghamparkan realitas. (*)

*) F Daus AR, narablog dan mengelola penerbitan indie, Rumah Saraung di Pangkep. Sulawesi Selatan.

Continue Reading

Buku

Memanfaatkan Kesedihan Demi Menyelamatkan Bumi

mm

Published

on

Virdika Rizky Utama *)

“Buat apa kami sekolah dan mempersiapkan masa depan. Namun, pada masa depan, bumi yang kita tempati saat itu sudah tak bisa lagi untuk ditempati,” ujar Greta Thunberg, pada awal melakukan aksi mogok sekolah pada 2018 lalu.

Ucapan gadis berusia 17 tahun itu bukan tanpa dasar atau sekadar menakut-nakuti. Pasalnya, perubahan iklim sedang berlangsung. Sayangnya, masih banyak orang yang tak mau tahu dan peduli tentang masalah serius itu, kendati diakibatkan oleh aktivitas manusia.

Judul: The Future We Choose | Penulis: Christiana Figueres dan Tom Rivett-Carnac
Penerbit: KNOPF | Tahun Terbit: Cetakan I, Maret 2020 | Tebal: xxvi+210 halaman, ISBN 978-0-525—65835-1
_
Climate change: it is arguably the most urgent and consequential issue humankind has ever faced. How we address it in the next thirty years will determine the kind of world we will live in and will bequeath to our children and to theirs.

In The Future We Choose, Christiana Figueres and Tom Rivett-Carnac–who led negotiations for the United Nations during the historic Paris Agreement of 2015–have written a cautionary but optimistic book about the world’s changing climate and the fate of humanity.

Pada 2019, sebuah survei yang dilakukan YouGov-Cambridge Globalism Project menunjukkan, Indonesia menjadi negara dengan masyarakat yang paling banyak tidak percaya bahwa perubahan iklim terjadi akibat ulah manusia. Indonesia berada di peringkat pertama dari 23 negara, dengan persentase 18 persen. Sementara, posisi kedua dan ketiga ditempati Arab Saudi (16 persen) dan Amerika Serikat (13 persen).

Padahal, dalam sebuah pertemuan Intergovernmental Panels on Climate Change (IPCC) 2015, para ilmuwan di seluruh dunia sepakat bahwa katastrofe pemanasan yang terjadi disebabkan oleh manusia (hlm. 6-7). Bahkan, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa 1 juta spesies tumbuhan dan hewan akan menghadapi kepunahan karena perilaku manusia.

Kemudian, para ilmuwan juga menyepakati untuk menahan kenaikan suhu di bawah 1,5 derajat celcius setiap tahunnya sebagai upaya menyelamatkan bumi. Namun pada kenyataannya, suhu global telah meningkat selama lebih dari seabad. Suhu melaju dalam beberapa tahun terakhir dan saat ini sudah menyentuh rekor tertinggi.

Laporan perubahan cuaca dan pemanasan global  PBB mengungkapkan, 2019 menjadi tahun ‘terpanas’ dalam periode lima tahun terakhir. Ini tentu menyebabkan dampak negatif, seperti mencairnya es di Kutub Utara akibat gelombang panas yang berkepanjangan, sehingga permukaan air laut menaik.

Hal itu makin diperparah dengan aktivitas manusia yang banyak melepaskan karbon dioksida ke atmosfer, dengan membakar bahan bakar fosil untuk energi, pertanian, dan menghancurkan hutan secara berkepanjangan. Emisi karbon ini menyebabkan efek rumah kaca, memerangkap panas, dan membuat bumi memanas lebih cepat daripada yang diperkirakan.

Konsekuensi logisnya, pola cuaca, iklim, dan lingkungan alami berubah lebih cepat daripada yang dapat diadaptasi oleh tumbuhan, satwa liar, dan manusia. Padahal saat ini, manusia juga sedang banyak menghadapi tantangan besar lainnya seperti kelaparan, wabah, dan peperangan. Hal itu semakin sulit untuk diatasi karena adanya perubahan iklim.

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Besikap tidak peduli, sedih meratapi keadaan, atau optimis dapat melakukan perubahan?

Dari berbagai pilihan itu, sudah sepatutnya manusia bersedih tapi juga optimis. Dua hal itu yang menjadi salah satu pembahasan yang menarik dalam buku yang ditulis oleh Christiana Figueres dan Tom Rivett-Carnac ini.

Dua mantan penggagas Paris Agreement 2015 itu mengungkapkan, kesedihan bisa menjadi pengalaman yang kuat dan transformatif bagi sebagian orang. Rasa itu pun bisa menjadi alasan utama mengapa perubahan iklim terus berlanjut dan cenderung tak terkendali. Penulis bahkan tak malu untuk mengakui bahwa kita semua telah gagal untuk merasakan apa arti dan dampaknya perubahan iklim (hlm. xix).

Menurut mereka, penting bagi kita semua untuk memberi cukup waktu dan ruang bagi diri kita sendiri untuk merasakan kesedihan kita. Lalu menyatakan dan mengorganisasi kesedihan ini secara terbuka. Tujuannya adalah membangun kesadaran publik, saling terhubung, dan bertanggung jawab (hlm. 75).

Oleh sebab itu, penulis berpendapat, perubahan iklim seharusnya menjadi kepedulian utama manusia di seluruh dunia. Bahkan bagi mereka yang hanya peduli pada stabilitas ekonomi dan investasi—yang selama ini dianggap tak sejalan dengan penjagaan alam (hlm. xxv).

Penulis mencontohkan industri batu bara yang saat ini telah kehilangan nilai jualnya di sebagian besar dunia. Dari risetnya, bahan bakar ini tidak dapat lagi bersaing dengan operasi energi terbarukan yang lebih murah dan lebih bersih, seperti panas bumi atau tenaga surya. Secara global, banyak tambang batu bara dan pabrik batu bara ditutup. Ini harus jadi momentum peningkatan dalam gerakan divestasi batu bara, kemungkinan akan diikuti oleh divestasi dari bahan bakar fosil lainnya (hlm. 22-23).

Melalui contoh itu, penulis ingin mengungkapkan sudah seharusnya ada pergeseran paradigma di masyarakat—termasuk pebisnis. Ungkapan penulis ini berangkat dari adanya desakan kesedihan dari masyarakat atas semakin menipisnya cadangan energi tak terbarukan dan sumbangsih buruknya bagi alam.


CHRISTIANA FIGUERES: It is the intent, it is the decision, it is the willpower and frankly, the stubborn optimism of individuals that is going to get us onto a path of change.

Sebab, krisis yang kita alami saat ini membutuhkan perubahan total dalam pemikiran kita. Kita perlu memperbesar pendirian kita tentang diri kita sendiri dan hubungan kita dengan orang lain, serta hubungan kita dengan alam, agar bisa melanjutkan kehidupan manusia di bumi (hlm. 39).

Ketika pergeseran paradigma sedang terjadi atau bahkan belum terjadi sekalipun, kita tetap harus optimis bahwa kita bisa menghadapi masalah serius ini. Bukan apa-apa, dalam sejarah umat manusia, manusia mampu menghadapi berbagai masalah besar yang mengadang (hlm. 53).

Salah satu alat yang mampu membuat kita optimis adalah ilmu pengetahuan atau sains (hlm. 41). Bukan ilmu pengetahuan yang hanya menguntungkan praktik ekonomi yang eksploitatif warisan era industrialisasi (Fred Magdoff dan John Bellamy Foster: 2018).

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Joseph Stiglitz (2019), kemajuan ekonomi pada abad ini dan seterusnya bertumpu pada riset, inovasi, dan menjaga keselerasan dengan alam. Tentu hal itu hanya dapat dilakukan jika adanya kolaborasi dari berbagai pihak, yakni pemerintah, pebisnis, ilmuwan, dan masyarakat.

Akan tetapi, Christiana dan Tom lebih menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat. Bukan mereka tak percaya pada pemerintah. Mereka justru mengakui pemerintah memiliki kekuatan yang besar untuk menggerakan seluruh elemen itu.

Namun, hal itu tergantung pada praktik politik dan ekonomi yang ada di suatu negara, yang lebih sering berselingkuh untuk mengeksploitasi alam. Kondisi itu membuat masyarakat hilang konsentrasi karena mengawasi politik dan ekonomi, daripada fokus pada agenda-agenda perubahan iklim (hlm. 152).

Buku yang terdiri dari tiga bab ini sangat penting untuk semua orang, terutama aktivis lingkungan hidup. Sebab, buku ini menyajikan beragam data yang lengkap dan memberikan perhitungan serta prediksi dari setiap langkah yang kita pilih untuk menjaga bumi.

Terlepas dari itu, sudah semestinya perubahan iklim harus menjadi perhatian bagi semua,  karena ini juga menyangkut keadilan antargenerasi. Sejatinya kita bukan mewarisi bumi untuk generasi mendatang, melainkan meminjam bumi yang kita tempati dari generasi mendatang. Oleh sebab itu, memastikan kehidupan yang layak bagi generasi masa depan adalah tanggung jawab moral kita yang mendalam kepada mereka. (*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending