Connect with us

Tips Menulis

Mengapa Ribuan Karya Dibuang Editor ke Tong Sampah!

mm

Published

on

Setiap editor karya fiksi pasti menyadari bahwa ia memiliki tiga tanggung jawab. Dalam memilih naskah, dia harus menyenangkan pembaca. Tetapi dia juga harus menyenangkan para pemilik penerbit. Selain itu, dia juga akan mengikuti hasrat dirinya sendiri alias soal suka tidak suka.

Editor bekerja di bawah kontrak tidak tertulis untuk mengemban tanggung jawab memikirkan nasib pembaca. Dengan begitu, editor harus memahami siapa pembaca terbitan perusahaannya dan bagaimana membuat sebuah karya memenuhi kebutuhan mereka.

Tapi, perlu juga diakui, banyak editor lebih mengutamakan kepentingan penerbit sehingga lebih mementingkan aspek komersial dari sebuah karya. Padahal, karya fiksi jelas tidak bisa dinilai dengan harga setumpuk kertas atau barang pabrikan lainnya.

Editor juga harus diakui tak bisa melepas hasrat pribadinya saat menilai karya. Setiap penerbit atau terbitan majalah pasti memiliki karakter khas yang membedakannya dari semua pesaing. Nah, karakter khas ini dibentuk oleh para editor, yang tidak bisa melepas ketertarikan pribadinya untuk menyukai suatu karya tertentu. Editor pasti enggan mempublikasikan cerita yang dianggapnya sampah, meskipun penerbit lain menerbitkannya.

Para editor juga memiliki kiat berbeda saat menyeleksi karya. Misalnya, ada yang selalu membaca setiap karya yang ditawarkan penulis. Tapi, ada juga editor yang hanya membaca karya dari penulis yang sudah dia ketahui reputasinya. Cara lain, editor memilih karya berdasar tema yang sedang diinginkan oleh mayoritas pembaca. Meskipun demikian, banyak editor yang lebih memperhatikan kualitas karya saat menyeleksi cerita yang hendak diterbitkan.

Berikut ini, daftar enam alasan umum dari para editor saat menolak karya yang dikirimkan pengarang ke penerbit:

  • Meskipun suatu karya layak dibaca, isinya tidak sesuai dengan karakter penerbit buku atau media calon pemuat karangan penulis.
  • Isi cerita menyerupai dalam hal tema, plot maupun situasi di sejumlah cerita yang belakangan sudah dipublikasikan penerbit tempat editor bekerja. Hal ini tidak terkait dengan plagiarisme, melainkan lebih mengenai variasi karya terbitan sebuah penerbit. Tapi, plagiarisme tetap bisa menjadi alasan utama membuang sebuah karya ke tong sampah.
  • Karya terlalu panjang atau terlalu pendek. Atau isi karya terlalu bertele-tele. Untuk jumlah kata dalam sebuah karya, setiap penerbit biasanya memiliki ketentuan berbeda.
  • Karakter, plot, dan atmosfer sebuah karya lemah. Faktor yang paling penting dalam sebuah cerita adalah karakter, yakni orang-orang harus tampak nyata dan hidup. Plot juga harus menarik dan suasana tempat dalam cerita betul-betul menarik diceritakan.
  • Karya berisi propaganda. Perlu diingat, propaganda tak memiliki tempat dalam fiksi. Khotbah mengenai agama dan politik partisan adalah topik paling berbahaya untuk karya fiksi. Kalaupun, karya bercerita soal ideologi tertentu, sebaiknya penulis hanya menempatkannya sekedar sebagai komedi kehidupan dan bukan pusat cerita.
  • Karya ditulis secara sembarangan dan bahasa tak tertata rapi. Jadi, selain memperhatikan kualitas narasi dalam cerita, editor juga akan mempertimbangkan kisah-kisah yang ditulis dengan baik.

Tips terbaik bagi para penulis untuk memikat editor ialah membaca dengan seksama karya-karya yang sudah dipubikasikan oleh penerbit tujuannya.

Penulis memang tidak seharusnya patuh pada keinginan editor. Sebab karya fiksi berkualitas haruslah ekspresi kedirian yang bebas dari rasa takut pada kritikus atau editor.

Akan tetapi, penulis juga harus bersiasat agar tidak jatuh pada kesalahan tak perlu yang membuat editor menganggap karyanya terlalu jauh melanggar pakem. Misalnya, kesalahpahaman banyak penulis pemula bahwa fiksi yang menarik harus romantis dan memuat kisah mendebarkan. Atau, kisah yang memuat urutan kronik, tanpa plot.

Hal yang perlu mendapat perhatian lebih adalah soal puisi. Karya ini biasanya jauh lebih banyak dikirimkan ke penerbit ketimbang jenis fiksi lain. Tak heran, editor penerbit besar akan sangat selektif untuk memilih karya penyair terbaik. (*)

__________

*) diterjemahkan dari “WHY I REJECT TEN THOUSAND MANUSCRIPTS” Karangan Louis Dodge, oleh Addi M Idham, di editori oleh Sabiq Carebesth.

 

Tips Menulis

Write With Simplicity, Sesederhana Apa?

mm

Published

on

Tulislah dengan baik apa-apa yang anda ketahui. Jika anda tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang akrab dengan anda, bisa dipastikan satu juta persen anda juga tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang tidak anda ketahui.

Brander Matthews adalah orang paling bijak bestari yang pernah saya kenal. Saya beruntung pernah belajar di bawah bimbingannya selama tiga tahun di Universitas Columbia. Sebuah kehormatan pula bagi saya bisa dekat secara pribadi dan bersahabat dengan Matthews.

Suatu hari, ketika Matthews dan saya berbincang di dekat jendela ruang kerjanya, ia tiba-tiba menunjuk ke arah luar. Jarinya mengarah pada seorang pria paruh baya yang tampak berjalan santai.

“Jika aku bisa menulis kisah hidup lelaki itu,” kata Matthews, “Jika aku bisa mengisahkan perjalanan hidup laki-laki itu sejak kecil sampai tua renta, aku akan menulis sebuah buku yang lebih hebat dari semua literatur di dunia, kecuali Alkitab.”

Saya tentu heran dengan pernyataan Matthews yang diucapkan dengan begitu berapi-api itu. Semula saya melirik raut mukanya, memastikan ia sedang bercanda atau tidak. Ternyata, Matthews serius.

Lalu saya melongok ke luar jendela, tapi laki-laki yang dibicarakan Matthews terlihat layaknya orang biasa saja, tak ada istimewanya. Saya pun tak melihat ada hal khusus pada lelaki itu yang mungkin membuat kisah hidupnya akan membuat dunia gempar. Matthews sepertinya tahu saya meragukan ucapannya, ia pun kemudian berkata:

“Saya tidak kenal dia. Saya tidak tahu apa-apa tentang dia. Saya tidak pernah melihat dia sebelumnya. Saya hanya memilih laki-laki tua itu sebagai contoh, karena dia terlihat sangat biasa-biasa saja. Maksud saya adalah….”

“Tidak ada pria atau perempuan yang kisah hidupnya, jika secara jujur dan benar-benar diceritakan, tidak akan menjadi drama yang luar biasa. Tapi drama seperti itu tidak akan pernah benar-benar bisa ditulis.”

“Tak satu pun manusia memiliki visi yang sepenuhnya benar tentang kehidupannya sendiri dan betul-betul bisa melihat secara tepat episode kehidupannya yang merupakan drama sangat menyentuh.”

“Hal-hal dramatis bukan lah seperti perjuangan di bibir tebing atau kebahagiaan saat orang lolos dari masalah berat. Drama menarik yang membawa pesan luhur ada pada hal-hal yang terjadi setiap hari dan reaksi seseorang pada peristiwa seperti itu. ”

Karena saat itu saya masih muda, saya anggap nasihat dosen saya itu keliru. Bagi saya waktu itu, kisah-kisah hidup dan mati, kisah petualangan “Prisoner of Zenda”, cerita tentang detektif Hawkshaw, jauh lebih menarik. Menurut saya, kehidupan sehari-hari sama sekali tidak memuat unsur drama yang menarik sehingga tak berharga untuk ditulis.

Akan tetapi, 30 tahun kemudian, setelah saya lebih banyak belajar dan punya segudang pengalaman menulis, nasihat Brander Matthews terdengar sangat tepat. Jika saya mengikuti nasihat dosen saya itu sejak awal, mungkin saya menjadi penulis hebat sejak usia muda. Sayang sekali, saya sungguh terlambat menyadarinya.

Saya meyakini, jika banyak penulis pemula mau mengikuti nasihat Matthews, mereka mungkin bisa menghindari kekecewaan karena gagal menulis kisah yang menarik dan sukses memikat pembaca. Jadi, lebih baik mereka menulis hal-hal sederhana yang benar-benar diketahuinya, alih-alih menulis fiksi soal cerita yang tidak begitu mereka pahami.

Ray Long (editor salah satu majalah bergengsi di Amerika, “Cosmopolitan,” hidup 1878-1935) mengomentari “teori” Brander Matthews tadi, saat ia bertemu dengan saya dan kami sedang berdiskusi mengenai penyebab banyak penulis pemula gagal mengarang fiksi berkualitas. Ray Long berkata:

“Para pelajar mampu 50 kali lebih baik dalam mengisahkan kejadian biasa-biasa saja dengan cara yang luar biasa, daripada menggambarkan kejadian luar biasa dengan cara biasa-biasa saja!”

Silakan membaca lagi cerpen-cerpen terbaik kalian, saya yakin, anda semua akan menyadari betapa benar pendapat Ray Long itu.

Sebagai contoh: Guy de Maupassant (penulis hebat Perancis di abad ke-19 dan salah satu pencetus cerita pendek modern) adalah pengarang cerita pendek yang tak ada bandingannya. Apa tema dari cerpen-cerpennya yang paling populer?

Berikut adalah tema dari dua cerpen terbaiknya:

Pertama: “Seorang istri panitera yang miskin meminjam sebuah kalung berlian. Tapi, dia menghilangkan perhiasan itu. Dia pun menghabiskan sisa masa mudanya untuk menghemat uang agar bisa mengganti perhiasan yang hilang tadi; –di ujung kisah, ternyata kalung itu Cuma sepuhan, bukan berlian asli.”

Kedua: “Seorang warga desa yang sudah sepuh dan bongkok menemukan sebuah tas. Banyak orang menuduhnya telah mencuri tas itu. Tuduhan itu membebani pikiran orang tua tadi, sampai-sampai ia jatuh sakit.”

Itu adalah tema besar dari dua cerpen abadi Guy de Maupassant. Tak ada melodrama maupun kemewahan di kisah dalam “The Necklace” dan “A Piece of String.” Dan, di daftar karya-karya terbaik Guy de Maupassant, dua cerpen itu wajib ada di dalamnya.

Setiap orang memiliki pengetahuan mendalam tentang cerita kehidupan satu orang atau lebih, yang sangat ia pahami, dan layak menjadi bahan kisah-kisah menakjubkan.

Mungkin seorang penulis pemula itu hanya petugas pos, gadis penjaga toko, buruh tani atau pemulung sampah. Namun, selalu ada drama menarik dan narasi kuat di setiap ribuan detail soal pekerjaan itu; di cara mereka menjalaninya; di jalinan persahabatan yang terbentuk karena pekerjaan mereka; di karakter unik cara mereka menjalani hidup. Kisah-kisah yang ditulis oleh orang-orang seperti ini dapat menjadi luar biasa, jika mereka menjadikannya sebagai cermin kehidupan.

Apakah mereka bisa menuliskannya? Tidak, jika mereka justru menulis kisah soal kejahatan yang sesungguhnya tidak mereka pahami; cerita cinta yang konon romantis; dan topik lain yang sepenuhnya tidak mereka ketahui.

Artikel lengkap dapat dibaca di buku “Memikirkan Kata” (GBJ, 2019) yang akan diterbitkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta tahun depan.

Tak banyak orang mendapat pengalaman menghadapi kematian dalam pertarungan satu lawan satu; menumpangi kapal karam di laut; merebut cinta seorang putri dari pangeran jahat; menggagalkan pencurian permata oleh maling kaliber internasional; menyelamatkan anak perempuan dari jamahan seorang kaya yang tamak; memecahkan kode pada peta lokasi harta karun. Dan ketika kita mencoba menulis kisah-kisah petualangan seperti itu, kebanyakan dari kita gagal dan justru seolah-olah menceritakan kunjungan ke planet Mars!

Tetapi banyak orang, mungkin tahu betul bagaimana manajer kantor bersikap dan berbicara saat tahu si Smithers terlambat masuk kerja untuk ketiga kalinya dalam sepekan; bagaimana trotoar licin saat dilintasi; dan bagaimana angin fajar mengipasi wajah kita agar lekas bangun untuk berangkat bekerja pada pukul 6 pagi.

Ribuan orang lain mungkin juga tahu benar, bagaimana jawaban konyol para penunggak utang saat tagihan sudah jatuh tempo; bagaimana perbedaan karakter ratusan anak di sekolah tempat mereka mengajar; bagaimana obrolan hambar rekan-rekan kerja mereka atau orang-orang yang sedang bersuka ria; bagaimana sikap aneh tetangga apartemen mereka; hingga bagaimana sikap nyeleneh para petugas kebersihan.

Banyak orang tahu semua hal itu dengan sangat baik, karena menjadi bagian langsung dari kehidupan sehari-hari mereka, sehingga tidak berpikir cerita-cerita layak untuk menjadi bahan fiksi yang menarik. Hanya sebagian kecil saja yang menyadarinya dan menuai panen kesuksesan sebagai penulis fiksi.

Maka, tulislah dengan baik apa-apa yang anda ketahui. Jika anda tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang akrab dengan anda, bisa dipastikan satu juta persen anda juga tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang tidak anda ketahui.

Adegan, karakter, tema — semua sebenarnya sudah ada di tangan anda. Manfaatkan hal itu. Jangan justru memalingkan muka dan menyimpang jauh untuk menulis hal-hal yang tidak anda diketahui. (*)

______________

*) Albert Payson Terhune (1872-1942) adalah seorang penulis dan jurnalis asal Amerika Serikat. Ia juga peternak anjing collies di Sunnybank, New Jersey, AS. Terhune populer dengan novel-novelnya yang berkisah soal petualangan anjing-anjing kesayangannya.

Novel pertamanya ialah “Dr. Dale” (terbit 1900), disusun bareng ibunya yang juga seorang novelis. Tapi, yang membuat Terhune terkenal di publik sastra Amerika Utara ialah novel pertamanya soal kehidupan anjing collie miliknya, si Lad. Pada 1919, “Lad, A Dog” terbit dan terus dicetak ulang sebanyak 80an kali hingga Abad 21. Setelah “Lad, A Dog” terbit, Terhune menulis 30an novel soal kisah anjing semasa hidupnya.

Terhune lulus dari Universitas Columbia pada 1893. Di artikelnya ini, ia mengulas nasihat dalam menulis fiksi dari seorang dosennya, James Brander Matthews (1852-1929). Nama terakhir ini merupakan penulis sekaligus akademikus kawakan Amerika di Abad 19. Matthews punya peran signifikan dalam perkembangan studi teater di dunia akademik.

___
Diterjemahkan dari “Write With Simplicity”

By Albert Payson Terhune oleh Addi M Idham

Continue Reading

Tips Menulis

Pengarang dan Gaya Penulisannya

mm

Published

on

Banyak penulis pemula yang menekuni penulisan sastra kerap terjebak pada motivasi membentuk gaya tulisan indah. Padahal, ide soal gaya penulisan, bisa jadi adalah mitos. Pemenuhan ambisi itu tak menjamin para penulis pemula akan menjadi pengarang besar.

Nasihat terbaik kepada setiap pemula dengan ambisi seperti itu adalah: “Kalau mau menulis dengan baik, tulis saja kalimat yang lengkap diawali huruf kapital dan diakhiri tanda titik. Jika ingin tulisan berkualitas maka sampaikanlah sesuatu, ungkapkan sebuah gagasan!”

Tidak pernah ada cerita bagus di dunia ini tanpa membawa ide segar dan otentik. Jadi, gaya penulisan buruk bukan datang dari karakter penulisan yang membosankan. Tapi, karena sang pengarang memang hanya punya sedikit gagasan untuk diungkapkan.

Kisah-kisah dari masa silam, seperti Mahabharata atau Seribu Satu Malam, mampu langgeng dan memikat pembaca di zaman-zaman berbeda tentu bukan karena ditulis dengan bahasa indah, melainkan karena memuat ide dan gagasan otentik mengenai siapa itu manusia.

Ketika anda menemukan seorang penulis dengan gaya penulisan menawan, pasti dia adalah pengarang yang menawarkan gagasan besar untuk pembaca. Ia punya sesuatu yang layak diketahui dunia, sesuatu yang mungkin membuat setiap pembaca menemukan suluh untuk melihat ujung kegelapan.

Banyak kritikus sebenarnya enggan menyebut tulisan Pramoedya Ananta Toer indah dan menawan. Bahkan, sebagian menilai tetralogi buru dipenuhi melodrama. Karya bung Pram memikat justru karena sang pengarang menyampaikan “sesuatu” tentang nasionalisme yang begitu menggetarkan, hasrat melawan penindasan kolonial dan pembelaan pada kemanusian yang meluap-luap. Sebelum bung Pram, tak ada pengarang mengungkapkan gagasan nasionalisme Indonesia dengan daya dobrak sekuat tetralogi buru.

Contoh lain, banyak pembaca sastra di awal abad 20 memuja gaya penulisan Joseph Conrad (1857-1924). Tentu saja dia memiliki gaya luar biasa. Tetapi, ini bukan karena Conrad lihai menyulap bahasa. Itu karena dia memiliki banyak hal untuk dikatakan dan jarang diungkapkan pengarang lain.

Conrad mampu dengan saksama mengamati apa yang terjadi pada pikiran saat manusia berada di laut maupun tempat terpencil. Conrad juga menyampikan hal ini ke pembaca dengan cara sesederhana yang dia tahu.

Di Novel Nostromo (terbit pertama 1904), Conrad bercerita soal tempat terpencil sekaligus keserakahan dan intrik politik untuk memperebutkan tambang di negara imajiner bernama Republik Costaguana. Di sini, ia bercerita ke pembaca soal kekelaman jiwa, saat manusia beradab menjadi beringas karena terputus dari hubungan dengan sesama manusia.

Saya berani menyatakan, bahwa ketika menulis, Conrad tidak memikirkan bahasa, tetapi malah berkonsentrasi pada fakta, episode, adegan yang akan dipaparkan ke pembacanya. Dan, dia pun berhasil mengatakan “sesuatu” kepada kita.

Bisa jadi ketika penulis muda disarankan membentuk gaya bahasa, yang sebenarnya dimaksudkan, adalah cara menyampaikan gagasan. Mungkin pula yang dimaksud dengan cara menyampaikan dan gaya penulisan adalah satu hal yang sama. Namun, cara penyampaian kata-kata menentukan kesan bagi pembaca.

Perlu diingat, cerita sebagaimana juga orang, lebih disukai jika apa adanya. Analoginya, lebih baik mendengar cerita seorang pengemis dengan kisah nyata berisi luka dan duka daripada ocehan diplomat hebat yang bertopeng.

Soal gaya penulisan ini, mungkin nasihat yang bisa bermanfaat bagi penulis pemula ialah: “Jangan berpikir panjang tentang bagaimana mengatakan sesuatu, tapi berfokuslah memilih hal yang tepat untuk diceritakan.”

Banyak penulis berpengalaman tentu saja pernah berlama-lama serius belajar tata bahasa, sintaksis dan etimologi, dan biasanya kemudian lupa hal-hal seperti itu, karena fokus terbesarnya ialah: mengungkapkan gagasan. Ini sama seperti petinju yang mungkin berlatih keras mempelajari cara Muhammad Ali atau Mike Tyson saat bertanding, tapi ketika di atas ring, yang dia ingat hanya satu: bagaimana menjatuhkan lawan.

Pengarang berkualitas akan terus menerus berfokus menyeleksi dan menghapus paragraf atau kalimat dalam cerita, jika tidak mengatakan apa-apa, tanpa peduli betapa indah bahasanya. Sebab, kalimat atau paragrap “tanpa isi” adalah penyusup yang bisa menghancurkan minat pembaca dan tujuan utama penulis untuk menyampaikan gagasan.

Percayalah, setiap pembaca akan melihat hal-hal tak perlu atau pengulangan karya lain. Mereka pasti berharap menemukan “sesuatu” yang segar dan baru. (*)

*) diterjemahkan dari “The Author and his style” Karangan Louis Dodge, oleh Addi M Idham, di editori oleh Sabiq Carebesth.

Continue Reading

Milenia

Tradisi Puisi “Imagism”: Mencari yang Konkrit, Menyepuh yang Abstrak

mm

Published

on

Kelompok penyair Imagism  (gambar, visual—bukan dalam makna “imajinasi”/ “Imagination“) berbeda dengan kelompok penyair romantik. Yang terakhir disebut adalah lebih pendahulu. Kelompok penyair pertama, ‘terkesan’ menjadi konservatif dan tradisional pada awal abad 20—persisnya ketika semua seni dipolitisasi dan dipancarkan oleh revolusi—dengan slogan dan abstraksi-abstraksi. Kelompok penyair imagism (imajis)  ini kembali pada tradisi Yunani klasik, tradisi Roma, dan Prancis abad 15 untuk menyusun semacam “manifesto” yang mengungkapkan prinsip-prinsip kerja puitis mereka.

F.S. Flint adalah penulis esai utama gagasan puisi imagism (imaji) ini, meski kemudian Ezra Pound mengklaim bahwa dia, Hilda Doolittle dan suaminya, Richard Aldington, telah lebih dulu menuliskan gagasan tentang aliran puisi imagism ini.

Pada kesimpulan umumnya ada tiga standar yang dengannya puisi (imajis) harus diadili yaitu: (1) Perlakuan langsung terhadap “sesuatu”, apakah subjektif atau objektif, (2) Sama sekali tidak menggunakan kata yang tidak berkontribusi pada presentasi (citra), (3) Seperti tentang ritme: untuk menyusun urutan frase musik, tidak berurutan dari metronom.

Agaknya tiga rumusan tersebut terlalu “mengawang” khususnya bagi mereka yang kurang akrab dengan peristilahan dalam teknis dan teori penulisan puisi. Pembaca membutuhkan konsep lebih deskriptif terkait aturan dan model kerja puisi imajis ini. Aturan main yang dibutuhkan dalam detail puisi seperti pemilihan kata, aturan bahasa, matra dan rima. Ezra Pound sepertinya menyadari hal tersebut dan dia menyusun presentasi lebih detail untuk menjelaskan prinsip-prinsip puisi ala para penyair imagist seperti dirinya dan F.S. Flint.

Beberapa artikel tentang aliran imagism ini—jika tidak salah dan karena gegabah menyimpulkan, penulis ingin menyebut inti dari konsentrasi puisi imajis ini adalah: citra.

Catatan F.S. Flint dalam “A Few Don’ts by an Imagiste,”–“Sedikit Larangan oleh Imagiste,” yang hasil akhirnya juga ditandatangani oleh Ezra Pound sendiri, memulai dengan sebuah definisi berikut:

“Citra ‘adalah sesuatu yang menghadirkan kompleksitas intelektual dan emosional dalam sekejap waktu—secara konstan.”

Inilah tujuan utama  para penyair imajis—untuk membuat puisi yang memusatkan perhatian semua penyair pada komunikasi citra. Untuk menyaring pernyataan puitis menjadi gambar daripada menggunakan perangkat puitis seperti matra bahasa dan sajak-keprosaan untuk mengesankan sulit dalam menghias narasi. Seperti dikatakan Pound, “Lebih baik menyajikan satu gambar dalam seumur hidup daripada menghasilkan berjilid-jilid karya (antologi)”.

Untuk sampai pada konsentrasi “citra” di dalam menghasilkan puisi imajis, saran Ezra Pound berikut akan terdengar akrab bagi mereka yang telah membaca kaidah menulis puisi atau menekuni dunia puisi:

  • Potong puisi sampai ke tulang dan hilangkan setiap kata yang tidak perlu – “jangan gunakan kata yang tidak berguna dalam keutuhan puisi, jangan gunakan kata sifat, yang itu tidak mengungkapkan sesuatu pun… Gunakan ornamen atau hiasan yang bagus. “
  • Jadikan semuanya konkret dan khusus – “takutlah pada terjerumus dalam abstraksi”
  • Jangan mencoba membuat puisi dengan menghias prosa atau memotongnya menjadi garis puitis – “Jangan menceritakan kembali dalam puisi yang biasa-biasa saja apa yang telah dilakukan dengan sajak-prosa yang baik. Jangan berpikir ada orang yang cerdas yang akan tertipu saat Anda mencoba mengelak dari semua kesulitan seni prosa dengan cara memotong komposisi.”
  • Pelajarilah alat musik puisi untuk menggunakannya dengan keterampilan dan kehalusan, tanpa mengubah suara alam, gambar dan makna bahasa – “Biarkan orang tua mengetahui penyatuan dan ungkapan, sajak langsung dan tertunda, sederhana dan polifonik, seperti yang diharapkan musisi. tahu keharmonisan dan tandingan dan semua hal kecil dari keahliannya … struktur ritmis Anda seharusnya tidak menghancurkan bentuk kata-kata atau suara alami atau maknanya. “

“Manifesto” gerakan imagism  dan Antologinya

Antologi pertama penyair imagism, “Des Imagistes,” diedit oleh Ezra Pound dan diterbitkan pada tahun 1914, menampilkan puisi oleh Pound, Doolittle dan Aldington, serta Flint, Skipwith Cannell, Amy Lowell, William Carlos Williams, James Joyce, Ford Madox Ford, Allen ke atas dan John Cournos. Merekalah para aktor utama aliran puisi imagism ini.

Pada saat buku “Des Imagistes” terbit, Lowell (Amy Lowell)telah melangkah ke dalam peran “promotor” gagasan imagism—dan Pound, khawatir bahwa antusiasmenya akan memperluas gerakan di luar pernyataannya yang ketat, sehingga dikhawatirkan aliran imagism beralih dari apa yang sekarang dijuluki “Amygism” atau “Vortisisme.” Meski demikian Lowell kemudian menjabat sebagai editor serangkaian antologi, “Beberapa Penyair Imagist,” pada tahun 1915, 1916 dan 1917.

Dalam kata pengantar antologi yang pertama, Amy Lowell menawarkan garis besar prinsip-prinsip (puisi) imagism-nya:

  • “Untuk menggunakan bahasa ucapan umum tapi selalu menggunakan kata yang tepat, bukan kata yang hampir pasti, dan bukan dekoratif saja.”
  • “Untuk menciptakan ritme baru – sebagai ungkapan suasana hati yang baru – dan tidak menyalin ritme lama, yang hanya menggemakan suasana hati lama. Kami tidak menekankan ‘puisi bebas’ sebagai satu-satunya metode penulisan puisi. Kami memperjuangkannya seperti sebuah prinsip kebebasan. Kami percaya bahwa individualitas seorang penyair mungkin lebih baik diekspresikan dalam puisi bebas daripada bentuk konvensional. Dalam puisi, irama baru berarti sebuah gagasan baru.”
  • “… bukan hal buruk di dalam seni untuk menulis dengan baik tentang masa lalu. Kami percaya dengan penuh semangat nilai artistik kehidupan modern, tapi kami ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang begitu membosankan dan juga tidak kuno untuk misalnya menulis tentang pesawat terbang tahun 1911. “
  • “Untuk menyajikan sebuah gambar (maka namanya: ‘imagist’). Kami bukan sekolah pelukis, tapi kami percaya bahwa puisi harus memberi keterangan secara tepat dan tidak sesuai dengan generalitas yang kabur, betapapun luar biasa dan nyaring. Kami menentang penyair kosmik, yang tampak bagi kita seperti tengah menghindari kesulitan nyata dari seni. “
  • “Untuk menghasilkan puisi yang keras dan jernih, tidak kabur atau menjadi tidak pasti.”
  • “Akhirnya, kebanyakan dari kita percaya bahwa konsentrasi adalah inti dari puisi.”

Dalam sejarahnya volume ketiga adalah publikasi terakhir dari para penyair imagism—namun pengaruh dari gerakan para penyair imajis ini dapat ditelusuri dalam banyak jenis puisi sesudahnya pada abad ke-20, dari puisi bebas hingga ritmis (sajak)sampai penyair bahasa (keprosaan).

Menurut analisis Banua (2004) dan Abdul Wachid B.S. (2005:23), puisi-puisi yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono adalah salah satu contoh puisi imajis—lihat terutama pada puisi “Hujan Bulan Juni”. (*)

*) Ditulis oleh Sabiq Carebesth, dari berbagai sumber bacaan dan artikel. Makalah ini hanya bersifat catatan ringan dan pengantar saja. Demi mengisi ‘kekosongan’ waktu menjelang libur tahun baru 2017.

 

 

Continue Reading

Trending