© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

Sewaktu kuliah di fakultas ilmu pengetahuan budaya alias fakultas sastra UI, sesekali suara-suara merdu terdengar dari auditorium salah satu gedung. Mahasiswa sastra Indonesia sedang melantukan puisi dengan iringan musik. Terhibur, tapi tak sampai ingin mendengar utuh apalagi memasukkannya ke dalam playlist di gawai. Empat tahun berlalu dan puisi-puisi yang biasa bertebaran menghilang lenyap dikerumunan manusia dalam kereta. Hanya suara-suara orang mengaduh di dalam gerbong khusus wanita (perempuan) yang mungkin jika dibuatkan puisi elok juga.

Hampir lupa rasanya jentik-jentik melankoli ketika tak sengaja menemukan puisi di majalah dinding, di majalah, atau buku milik teman yang memang menyukai puisi-puisi Joko Pinurbo dan Aan Mansyur. Sampai suatu malam di bulan Mei 2016, setelah kecewa melihat pantai Losari yang ternyata cuma lapisan beton, kemilau cahaya warna-warni menarik perhatian ke arah Fort Rotterdam. Sedang ada acara besar rupanya, Makassar International Writer Festival (MIWF). Benteng yang seharusnya nampak menyeramkan di malam hari, berkilau dengan lampu-lampu dan dekorasi panggung warna-warni.

Seseorang sedang membacakan puisi dalam bahasa Inggris, di atas panggung dengan ketinggian rendah yang di depannya dipenuhi manusia. Sebagian duduk beralas rumput, sebagian berdiri saja menikmati gairah dalam intonasi pembaca puisi. Mungkin tak semua mengerti isinya karena dibacakan dalam bahasa asing, tetapi penyair di atas panggung itu seperti aktris dalam pantonim. Kami semua mengerti ada kritik yang disampaikan dalam jalinan kata-kata yang diberi judul Who am I?

Bingung ingin duduk atau pergi, melihatlah berkeliling stand-stand jualan. Ada yang menjual buku termasuk buku puisi Aan Mansyur yang sudah ludes karena hebohnya film Ada Apa dengan Cinta? Tidak Ada New York Hari Ini sudah tidak ada di Makassar. Selain buku-buku, ada stand yang menjual CD album, isinya musikalisasi puisi. Jadi teringat masa-masa kuliah di fakultas Sastra. Tapi masih belum tertarik untuk membeli.

Acara di panggung terus berlanjut. Tiba-tiba terdengar bunyi-bunyi merdu. Ada Hujan (di) Bulan Juni, dinyanyikan dengan musik yang memikat dan dua suara vocal yang merdu. Ari-Reda. Begitu mereka dipanggil, menyanyikan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Terpikat dengan suara, musik, dan suasana malam di benteng Fort Rotterdam dengan lampu warna-warni mencolok di kegelapan. Kembalilah ke stand penjualan, membeli satu album Ari-Reda dengan 12 lagu yang kebanyakan diambil dari puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Aku Ingin, Ketika Berhenti Di Sini, dan tentu saja Hujan Bulan Juni di kemudian hari masuk playlist dalam gawai dan menjadi teman di perjalanan sambil sekali lagi menyaksikan kerumunan manusia yang suara mengaduhnya tak lagi terdengar, tersumbat jalinan kata-kata Sapardi melalui suara merdu Ari.

Beruntung sebelum pulang, rasa haus membawa diri ke tempat nongkrong hits anak Makassar ‘Popsa’, tepat di seberang Fort Rotterdam. Sambil menunggu minuman diantar yang lamanya sebanding dengan sepuluh lagu dalam playlist, mata ini menangkap rombongan pengisi acara yang mungkin juga kehausan. Ari-Reda menyempatkan diri berfoto dan membubuhkan tanda tangan di album yang kupegang. Album manis berjudul Becoming Dew.

Share Post
Written by

Marlina Sopiana is a philosophy graduate. Loves to write very short stories. Enjoy any kind of literature and find amusement in reading. Associate Editors Galeri Buku Jakarta. Social media twitter only @marlinnfish

No comments

LEAVE A COMMENT