Connect with us

Milenia

Memulung Inspirasi di Pasar Santa

mm

Published

on

Pasar identik dengan kesan kumuh, becek, berantakan, dan bau. Tapi tidak dengan Pasar Santa yang terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pasar Santa ini bersih, rapi, dan well organized. Asyiknya lagi, pasar yang dibangun sejak tahun 1971 itu dihuni stand-stand unik nan kreatif. Sampai sekarang, lebih dari 100 kios di lantai satu diisi berbagai macam stand modern. Mulai dari stand makanan, kudapan, fesyen, musik (vinyl, CD, dan kaset), jasa cuci sepatu, pangkas rambut, toko buku, hingga tukang jahit.

Sebagian besar kios-kios itu dikelola oleh entrepreneur muda. Sehingga produk-produknya pun inovatif. Misalnya, kios DOG (Dudes of Gourmet) yang berada tepat di depan tangga utama. Di sana, kita bisa merasakan sensasi hotdog hitam yang lezat. Ada juga kios Substore yang menyediakan koleksi piringan hitam. Keunikan stand-stand itulah yang membuat Pasar Santa selalu ramai dikunjungi kawula muda. Apalagi ketika weekend, Pasar Santa pasti berjubel dengan pengunjung yang ingin nongkrong sembari ngemil atau pengunjung yang ingin sekaadar berbelanja.

Suasana di dalam Pasar Santa. di Kafe-kafe dalamnya banyak generasi muda Jakarta melangsungkan agenda seni dan budaya seperti membaca puisi dan diskusi buku.

 

Meski dihuni stand modern, Pasar Santa tidak mengubah fungsi utamanya sebagai pasar tradisional. Pihak pengelola pasar tetap memertahankan pedagang konvensional di lantai dasar. Pengunjung pasar bisa tetap membeli kebutuhan sehari-hari seperti sembako, alat-alat rumah tangga, di Pasar Santa. Sebelum direnovasi setahun lalu, Pasar Santa nyaris menjadi pasar yang mati. Kehadiran stand-stand unik dari berbagai komunitas diharapkan bisa mendongkrak pula penjualan di toko-toko konvensional.

Konsep tradisional dan modern yang ditawarkan Pasar Santa terbilang sangat unik. Sebetulnya, perpaduan konsep tersebut telah banyak diaplikasikan di pasar-pasar Australia dan beberapa negara di Eropa. Kehadiran Pasar Santa diharapkan mengubah mindset masyarakat terutama kalangan anak muda supaya mau datang ke pasar. Hal itu sangat bagus untuk menghidupkan kembali denyut perekonomian pengusaha kecil dan menengah yang ada di pasar.

Oh ya, setiap minggunya Pasar Santa selalu menggelar acara yang asyik. Kalau tidak ingin ketinggalan infonya, silakan cek Instagram Pasar Santa. Selamat bersenang-senang di Pasar Santa!!

—————————————-

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Milenia

Ke Taman Ismail Marzuki Yuk…

mm

Published

on

Kamu menggemari seni dan budaya? Sudah pernah berkunjung ke Taman Ismail Marzuki (TIM)? Jika belum pernah, maka kamu belum resmi mendapat gelar anak artsy. Berlokasi di Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, TIM merupakan salah satu pusat kesenian ternama di Jakarta. Sejak diresmikan pada tahun 1968, TIM menjadi kiblat para seniman di Indonesia. Dari dulu hingga sekarang, para seniman berbondong-bondong untuk menggelar pertunjukan di tempat yang dulunya bernama Taman Raden Saleh (TRS) itu.

Segala jenis kesenian mulai dari seni rupa, seni tari, drama, musik, dan cabang seni lainnya mendapatkan tempat istimewa di TIM. Ragam seninya pun bervariasi dari yang tradisional hingga kontemporer. Asyiknya lagi, kita tidak hanya menonton tetapi juga bisa mempelajari jenis seni yang kita minati. Sebab. ada puluhan sanggar seni yang rutin menggelar workshop di sana.

Jika ditilik dari sisi historisnya, TIM merupakan ruang ekspresi yang pembangunannya diinisiasi oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin atau karib disapa Bang Ali. Sebelum menjadi pusat kesenian, TIM merupakan Kebun Binatang Jakarta yang sudah dipindahkan daerah Ragunan. Pemberian nama Ismail Marzuki tidak lain juga sebagai bentuk apresiasi terhadap komponis legendaris yang telah menciptakan lebih dari 200 lagu tersebut.

Di dalam TIM ada berbagai macam galeri pertunjukan. Mulai dari skala kecil hingga besar. Selain itu ada juga gedung Planetarium dan Obeservatorium Jakarta.  Di sana, kita bisa melihat pertunjukan Teater Bintang dan multimedia atau citra ganda. Jika beruntung, kita juga bisa melihat fenomena di atas langit yang menakjubkan seperti gerhana, komet, dan lainnya. Untuk yang mencintai sastra, harus mampir ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jasin. Ada sekitar 50 ribu dokumentasi sastra Indonesia yang disimpan di sana.

Salah satu sudut ruang pamer dan instalasi di TIM, Jakarta

Di sekitar area seluas sembilan hektare itu pula dibangun sebuah sekolah seni yang termasyhur di Indonesia yakni, Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tak terhitung, jumlah sineas dan seniman hebat dan kreatif yang lahir dari IKJ. Sebut saja seperti Slamet Rahardjo, Didi Petet, Garin Nugroho, Mira Lesmana, Naif, White Shoes and The Couples Company dan masih banyak lagi.

Setiap minggunya, TIM selalu menyajikan penampilan para seniman berkualitas. Jadi, pengunjung tidak akan bosan datang ke TIM. Menariknya lagi, di TIM juga ada bioskop 21 Cineplex yang memutarkan film-film terkini. Namun bagi yang suka film indie atau film-film festival yang tidak diputar di bioskop mainstream, jangan kuatir! Ada Kineforum! Apa itu Kineforum? Kineforum merupakan bioskop mini berkapasitas kurang lebih 30 penonton yang sering memutarkan film indie. Letaknya di belakang persis 21 Cineplex.

Saya sendiri paling suka dengan gedung Teater Jakarta yang megah. Jika Australia punya Sydney Opera House dan Inggris punya Royal Albert Hall, maka saya bangga dengan gedung Teater Jakarta. Kendati tidak seluas gedung di luar negeri, Teater Jakarta mampu menampung 1200 penonton dan sudah didukung dengan teknologi mutakhir yang memungkinkan perhelatan akbar digelar di sini.

Komplek TIM memang menyajikan ruang hiburan dan edukasi seni budaya terlengkap di Jakarta. Jadi, kalau mampir ke Jakarta, jangan lupa mampir di TIM, ya!! (*)

——————————————–

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Buku

Buku-Buku Terbaik karya Virginia Woolf

mm

Published

on

Virginia Woolf hanya menuliskan 9 novel,  beberapa cerita non fiksi, cerita pendek dan sebuah karya biografi yang luar biasa. Dan itu semua tak mengurangi ‘takdirnya’ untuk menjadi klasik dan terus dikenang dunia. 

Dalam kehidupan pribadi yang penuh guncangan, ia tetap seorang penulis prempuan yang produktif, nyatanya ia bisa menghasilkan banyak esai, yang tak terhitung jumlah dan tinjauan atasya. Apa saja buku terbaik karya Woolf? Kami telah merangkumnya kedalam daftar 10 teratas buku-buku karya Vignia Woolf dengan beberapa fakta menarik tentang masing-masing novel. Apa rekomendasi pribadi Anda untuk karya terbaik buku Virginia Woolf?

9/ The Years (1937) buku ini merupakan buku karya Woolf yang paling populer selama hidupnya. The Years terkenal hampir setengah abad yaitu dari tahun 1880 sampai 1930an, novel ini menyajikan kronologi tentang kehidupan sebuah keluarga Pargiters. Novel ini menyesuaikan ide-ide Woolfs yang dieksplorasi kedalam beberapa novel sebelumnya, seperti Mr. Dalloway yang merupakan novel pertama karya Woolf dan Novel To the Linghthouse. Disini, setiap bagian (Novel ini berfokus pada suatu tahun tertentu selama rentang waktu 50 tahun) berpusat pada satu hari di tahun tersebut. Edisi Rekomendasi : The years (Classic Oxford Dunia)

8/ Flush ; A Biography (1933). Ini bukanlah sebuah Novel, melainkan sebuah Biografi seperti Biografi Orlando karya Woolf. Biografi ini bukan cerita non-fiksi yang baik. Namun, subjek dalam bentuk nyata: seperti Puisi seorang Victorian berjudul Elizabeth Barret Browning’s pet dog. Flush, yang di miliki oleh Berrett Browning dan cerita yang diambil dari perdesaan, London.

7/ A Room of One’s Own (1929). Berdasarkan beberapa pembelajaran yang diberikan oleh Woolf di Universitas Camridge, A Room of One’s Own sendiri dipandang sebagai saluran sastra feminis. Woolf berpendapat bahwa penulis terbaik adalah mereka yang “berkelamin ganda” dalam arti bahwa mereka memiliki impuls maskulin, feminin, dan simpati. Woolf juga membahas bagaimana, Shakespeare yang memiliki adik yang berbakat bernama “Judith” Shakespeare ( Woolf memilih untuk menyebut ini sebagai fiski saudara kandung) yang tidak akan pernah berhasil sebagai seorang penyair nan dermawan selama di era Elizabeth, ini dikarenakan ia tidak memiliki peluang dalam hal pendidikan yang seperti saudara laki-lakinya. Kemudian , Woolf menerbitkan sekuel karya ini, Three Guineas (1938)- ide yang datang ketika ia sedang merenung di kamar mandi.

6/ Monday or Tuesday (1921).  Koleksi cerita pendek bersejarah Woolf  yang ditandai dengan daerah aliran sungai dalam pengembangan ide kreatifnya. Setelah dua novel yang sedikit konvensional, The Voyage Out (1915) dan Night and Day (1919), Woolf mulai bereksperimen dengan cerita pedek atau sketsa sebagai cara baru untuk melakukan percobaan impresionistik menulis. Hasilnya adalah beberapa sketsa klasik dengan beberapa halaman yang cukup panjang, seperti “The Mark on the Wall”, “Kew Gandens”, dan “A haunted House, (dua halaman yang menceritakan tentang hantu).

5/ Jacob’s Room (1922). Setelah sukses dalam cerita pendek berjudul Monday or Tuesday, Woolf menuliskan novel ketiganya berjudul, Jacob’s Room, untuk melihat bagaimana mereka menunjukan gaya impresionistk kedalam ke kanvas besar. Meskipun ringkasan plot cerita “Jacob’s Room” sedikit konvensional—karena hal ni mengikuti alur kehidupan awal seorang anak muda bernama Jacob Flanders dari masa kanak-kanak hingga tua, cara woolf menceritakan kehidupan Jacob adalah “sangat” dirinya. Kami tidak pernah mendapatkan wawasan dari karakter Jacob, sebaliknya dalam cerita ini hanya sebuah hubungan dengan sekilas pria yang tertangkap oleh orang lain, tayangan sekilas ini terjadi di kereta atau di meja sebelah restaurant. Untuk karya satu ini sebaiknya anda tidak berharap menemukan ending cerita, karena Wolf mungkin sengaja tak menuliskannya.

Virginia Wolf/ Getty Image/ www.1843magazine.com

4/ The Waves (1931). Novel ini mungkin yang paling liris dan puitis dari semua novel karya Woolf, The Waves awalnya berjudul “The Moths” dan terdiri dari enam monolog atau ‘suara-suara’, yang longgar dihubungkan bersama oleh narator-sosok yang lebih konvensional yang menggambarkan jalannya hari dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Dalam surat November 1928, Woolf disebut buku yang abstrak  dan bermata gaib: playpoem a’, bukan sebuah novel.

3/ Orlando (1928) berjudul ‘A Biography’ novel ini semacam novel versi fantasi dan beberapa abad sejarah Inggris, melalui tituler Orlando- tokoh ini beralih menjadi seorang bohemian dengan penuh suka cita. Teman Woolf Vita Sackville-West, dan sebagai respon pembaca menyatakan ini adalah novel tentang sejarah sastra inggris.

2/ To the lighthouse (1927). Dibagi menjadi tiga bagian – mungkin penghormatan ironis ke Victoria Novel ‘triple-decker’ klasik – To the Lighthouse, novel kelima Woolf, berfokus pada keluarga Ramsay dan liburan mereka di Isle of Skye di awal abad kedua puluh. Namun, Woolf menggambar juga kenangan liburan masa kecilnya ada tahun 1890; Mr Ramsay, mengingatkan ayah Woolf sendiri, orang Victorian Man of Letter Sir Leslie Stephen. Tinggal dengan Ramsays juga beberapa karakter lainnya termasuk artis wanita Lily Briscoe, yang dalam banyak hal adalah seperti Woolf, pribadi yang artistik..

1/ Mrs Dalloway (1925). Seperti yang kami ungkapkan dalam postingan mengenai novel ini, karakter Clarissa Dalloway memulai didebutnya didalam cetakan pertama novel karya woolf, The Voyage Out (1915). Tetapi sepuluh tahun kemudian Woolf kembali memunculkan karakter seperti ini, her fourth – and, for our money, greatest. Memuat dalam waktu selama satu hari di bulan Juni 1923, novel cerdik dan puitis mampu menggabungkan berbagai kesadaran yang berbeda, yaitu judul karakter, cinta lamanya Peter Walsh, dan Perang Dunia ke I, veteran dan penderita ganguan saraf karena pertempuran Septimus Smith. Bagaimana pun kami sangat merekomendasikan  Mrs. Dalloway didalam kerja-kerja kesustraan modern yang layak anda baca.

————————————————————–

Dari berbagai sumber: Eliza Amalia/ Susan Gui/ GBJ

 

Continue Reading

Editor's Choice

5 Tanda Seorang Pencinta Buku dari Rumah Kertas

mm

Published

on

Anda seorang pembaca buku? Tapi, apakah Anda juga seorang pencinta buku? Apakah Anda memiliki bertumpuk-tumpuk buku yang mengisi ruangan? Apakah Anda menghabiskan sebagian pendapatan untuk membeli buku? Pernah merasa bersalah ketika memasuki toko buku lalu keluar tanpa mengantongi setidaknya satu buku? Lalu, bagaimana jika Anda diberi hadiah buku dari seseorang? Apakah Anda menyimpannya lebih-lebih membacanya? Atau Anda menggeletakkannya begitu saja? Pertanyaan selanjutnya adalah: kenapa harus terus bertanya? Apa esensinya?

Tak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas jika Anda tidak ingin. Mereka hanya sebagai bahan kontemplasi ecek-ecek saja. Penyebutan pencinta buku alih-alih penimbun buku atau pencandu buku pun sebenarnya hanya agar lebih dramatis. Bukankah orang-orang menyukai hal-hal yang berkenaan tentang cinta? Rumah Kertas karya Carlos María Domínguez memberikan inspirasi melalui tokoh utamanya yang—seperti sinopsis pada sampul belakang buku—memasuki semesta para pencinta buku. Sehingga seusai membacanya, pembaca diberikan informasi tersirat tentang kriteria seorang pencinta buku sejati. Apa saja itu?

1. Sedikit Banyak Tahu Tentang Perkembangan Buku

Apa yang akan Anda lakukan ketika mendengar penulis favorit Anda menerbitkan buku teranyar? Lalu, apakah Anda merasa harus segera memesan terlebih dahulu tanpa memikirkan berapa harga bukunya? Intinya, Anda harus mendapatkan buku itu bagaimanapun caranya. Mengetahui penulis favorit Anda menerbitkan buku saja sudah termasuk mengetahui perkembangan buku. Setidaknya Anda tahu apa yang terjadi pada lingkup perbukuanmu sendiri; favoritmu. Lebih-lebih jika Anda mengetahui lebih luas tentang perkembangan buku sehingga Anda akan lebih banyak tahu tentang judul-judul buku yang akan berdampak Anda akan membeli dan mencintai buku.

Rumah Kertas memberikan penjelasannya pada halaman 16. Ketika tokoh utama berada di Buenos Aires, ia menjabarkan kondisi perbukuan kala itu. Di sana, buku menjadi sumber perang strategi yang halusinatif, bakat menjadi soal keterkenalan dan kekuasaan belaka. Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?

2. Bangga dengan Koleksi Bukunya

Setiap pencinta buku pasti pernah mengalaminya sendiri. Saat seseorang berkunjung ke rumah atau kediamannya, ia akan memberitahukan tumpukan buku yang dimilikinya dengan bangga. Ia akan bertanya kepada mereka apakah memilikinya juga. Setelahnya, ada sedikit rasa jemawa yang menyelimuti kecintaannya terhadap timbunannya tersebut. Ini seperti orang tua yang memiliki anak dan sedang berada di sebuah pertemuan. Orang tua tersebut tentu akan menceritakan perkembangan si anak, apalagi jika si anak punya bakat, potensi, atau prestasi yang membanggakan.

Ada adegan ketika tokoh utama Rumah Kertas berkunjung ke rumah Delgado pada awal bab tiga. Ia begitu takjub saat mengetahui sang empunya rumah memiliki sekitar 18.000 buku dan membuatkan ruangan tersendiri di lantai bawah. Hanya terpancing pertanyaan ‘berapa banyak buku yang Anda punya?’, Delgado menjabarkan panjang lebar tentang perpustakaan di rumahnya itu. “Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan,” ujar Delgado. Dan setelahnya pembaca akan tahu bahwa Delgado begitu bangga dengan koleksi bukunya; perpustakaannya.

3. Perlakukan Buku dengan Caranya Sendiri

Poin ini disarikan dari Rumah Kertas halaman 32. Delgado bercerita kepada tokoh utama bahwa Brauer—si pengirim buku—memperlakukan koleksi bukunya dengan tidak patut. Ia selalu merusak edisi-edisi berharga dengan tulisan ceker ayamnya. Ia mengaku bisa lebih menangkap makna dari buku yang dibacanya bila menulisi marjin-marjinnya dan menggarisbawahi kata-kata, kerap kali dengan warna berbeda-beda yang mengandung sandi tertentu. Sedangkan Delgado memperlakukan koleksi bukunya dengan hati-hati bak kitab suci.

Pencinta buku selalu memperlakukan koleksi bukunya dengan caranya sendiri. Ada yang memberikan stiker pembatas atau stampel tanggal selesai dibaca pada halaman pertama atau terakhir buku-bukunya. Ada juga yang membiarkannya utuh dan menyampulnya.

Namun ada juga yang brutal seperti Brauer bahwa buku dapat “dicorat-coret” sesuai dengan bagian yang disukainya. Mereka yang seperti ini beralasan agar memberikan sisi personal pada buku yang telah dibacanya.

4. Kalap, Kalap, dan Kalap

Pencinta buku akan selalu lupa diri dengan tumpukan buku yang dimilikinya. Ia berpedoman bahwa lebih baik memilikinya lebih dulu daripada menyesal karena tidak bisa mendapatkannya lagi. Apalagi jika ada diskon obralan di toko buku, ia selalu datang ke sana untuk memuaskan rasa kalapnya itu. Saking cintanya pada buku, ia akan merelakan uang tabungannya demi buku yang ingin cepat-cepat dimiliki. Walaupun terkadang ia akan menyesal karena toh buku yang baru dibelinya tidak langsung dibaca.

Rumah Kertas halaman 33 menjabarkan perilaku kalap seorang pencinta buku yang diwakili oleh Brauer. “Alih-alih pengelana, Brauer jadi lebih mirip penakluk. Dan seperti itulah ia jadinya. Maksud saya: urat malunya sudah putus di pelelangan. Beberapa rekannya tersinggung karena kalah dalam banyak buku yang sudah mereka incar sedemikian lama, sebab Brauer terus menawarnya dan mereka tidak sanggup menaikkannya lagi,” ujar Delgado kepada tokoh utama.

5. Buku Adalah Belahan Jiwa

Ini yang sangat krusial. Pencinta buku akan melakukan apa pun agar buku yang dimilikinya tetap sebagaimana mestinya. Ia akan merasa berat ketika harus melepaskan koleksi bukunya. Banyak alasan untuk ini sebenarnya, kebanyakan karena ruang yang dimilikinya tidak lagi memadai. Ia akan begitu kehilangan jika meminjamkan bukunya kepada seseorang namun tidak kembali. Seperti belahan jiwa yang terpaut jauh namun tak bertemu lagi.

Hal ini jugalah yang menjadi inti cerita Rumah Kertas. Pertemuan tokoh utama untuk menyelidiki pencinta buku telah terjawab ketika ia mengetahui kisah Brauer. Brauer tak lagi bisa mengenali semua koleksi bukunya akibat ulahnya sendiri. Ia membawa buku-buku tersebut ke pengasingan dan menjadikan mereka sebagai bahan bangunan untuk membangun sebuah rumah.

Rumah yang menjadi tempat berteduhnya untuk sementara waktu. Rumah yang nantinya ia hancurkan lagi karena harus mencari satu buku untuk dikembalikan kepada si empunya.

***

Mungkin benar kata teman-teman pengulas bahwa buku ini sangat merepresentasikan para pencinta buku. Buku yang begitu dekat dengan kehidupan para pencinta buku sehingga merasa nyaman dengan ceritanya yang sebenarnya cukup sederhana. Buku ini terbit pada 2002 namun dibawakan layaknya buku klasik yang sudah terbit puluhan tahun lalu. Pembaca akan dibawa menikmati kisah seorang pencinta buku dari sisi paling tragis yang pernah dibayangkan.

Lalu, bagaimana dengan Anda?

Continue Reading

Trending