Connect with us

Art & Culture

Membuat Sajak, Melihat Lukisan

mm

Published

on

Oleh: Chairil Anwar

Sajak terbentuk dari kata-kata, seperti juga sebuah lukisan dari cat dan sehelai kain, atau sebuah patung dari pualam, lempung dsb. Tapi mereka yang mengalami keterharuan ketika melihat suatu lukisan atau sebuah patung, tidak akan menganggap kualitas cat & kain atau batu pualam sebagai soal yang penting, soal yang pokok. Bukanlah bahan-bahan yang dipakai yang penting, yang penting adalah hasil yang dicapai.

“Hasil” ini pada umumnya “terbagi” dalam bentuk dan isi. Tetapi “pembatasan” yang sangat nyata dan terang antara bentuk dan isi  ini tidak pula bisa dikemukakan, sebab dalam kesenian bentuk da nisi ini tidak hanya rapat berjalan sama, mereka gonta-ganti tutup-menutupi. Karena hanyalah perasaan-perasaan si seniman yang benar-benar jadi bentuk dan caranya menyatakan yang istimewa, tersendiri yang sanggup membikin si penglihat, pembaca atau pendengar terharu – melambung atau terhenyak.

Jika dua orang pelukis sama-sama melukiskan suatu bagian dari kota, bisa kejadian yang lukisan satu mengagumkan kita, sedangkan lukisan yang lain kita rasa jelek. Perbedaan bukanlah jadinya terletak pada “pokok”, karena di sini pokok adalah sama. Perbedaan tereletak dalam perasaan-perasaan yang mengiringi pemandangan di kota tadi, dan dalam cara bagaimana perasaan-perasaan itu mencapai pernyataannya.

Sebagaimana suatu pokok biasa mengesan pada dua orang pelukis, begitu juga sebaliknya dua bagai pokok bisa meninggalkan keterharuan yang sama pada seorang pelukis. Lukisan yang sederhana darii sepasang sepatu tua bisa “sebagus” lukisan satu pot kembang yang berbagai warna. Karena yang tampak oleh kita bukanlah semata-mata sepatu tua itu, tapi adalah sepatu tua yang “terasa bagus” – dan karena si seniman sanggup menyatakan sepenuhnya dengan garis dan bentuk, karena itu pula maka bisa jadi memaksa kita mengakui hasil keseniannya.

Jadi yang penting adalah: si seniman dengan caranya menyatakan harus memastikan tentang tenaga perasaan-perasaannya. Perkakas-perkakas yang bisa dipakai oleh si penyair untuk menyatakan, adalah bahan-bahan bahasa, yang dipakainya dengan cara intuitif. Dengan “memakaikan” tinggi-rendah dia bisa mencapai suatu keteraturan, dan dalam keteraturan ini diusakannya variasi: irama dari sajaknya dipakainya sebagai perkakas untuk menyatakan. Lagu dari kata-katanya bisa pula dibentuknya sehingga bahasanya menjadi berat dan lamban atau menjadi cepat dan ringan. Dia bisa memilih kata-kata yang hubungan kata-kata yang tersendiri, ditimbang dengan saksama atau kata-kata ini menyatakan apa yang dimaksudnya. Bentuk kalimatnya bisa dibikinnya menyimpang dari biasa, dengan begitu mengemukakan dengan lebih halus, lebih pelik apa yang hidup dalam jiwanya. Dengan irama dan lagu, dengan bentuk kalimat dan pilihan kata yang tersendir dan dengan perbandingan-perbandingan si penyair menciptakan sajaknya dan hanya jika di pembaca sanggup memperhatikan dengan teliti “keistimewaan” yang dicapai oleh si penyair, bissalah si pembaca mengartikan dan merasakan sesuatu sajak dengan sepenuhnya. Merasa sebuah sajak bagus tidaklah harus didasarkan atas suatu atau beberapa dari “perkakas” bahasa yang disebut tadi, tapi harus didasarkan atas kerja sama dan perhubugannya yang sama dengan “pokok”.

Bahwasanya pokok tidak menentukan nilai hasil kesenian, bukanlah berarti bahwa semua pokok bisa membawa keterharuan yang sama pada penyair. Sebaliknya malahan: sudah tentu saja bahwa berbagai peristiwa dalam alam dan dalam kehidupan manusia tidak kita hiraukan, karena dia tidak menduduki tempat yang “penting” dalam kehidupan kita. Percintaan, kelahiran, kematian, kesepian, matahari dan bulan, ketuhanan-inilah pokok-pokok yang berulang-ulang telah mengharukan si seniman. (Dalam Buku “Pulanglah Dia Si Anak Hilang/ Arsip PDS. HB. Jassin, Jakarta)

Continue Reading

Editor's Choice

Batik, Riwayat Identitas Yang Mencari Generasi

mm

Published

on

“Sudah semestinya kecintaan terhadap batik mulai ditumbuhkan sedari dini, bukan hanya sekedar sebagai laku fashion and style, atau suatu komoditas ekonomis, tapi sebagai dokumen sejarah dan pakain identitas kebudayaan. Apa jadinya bangsa besar yang mengabaikan identitas budaya dan sejarahnya bahkan malah tak mengenalnya?”

| Oleh: Gui Susan*

Tiga orang perempuan sedang tekun dengan kain putih di hadapannya. Tangan mereka sesekali turun ke bawah, dan canting pun memulai sihirnya yang mengesankan.

Bau khas malam langsung tercium seketika kaki kita menginjakkan langkah pertama di depan pintu. Ruangan ini dipenuhi dengan kain-kain yang akan dibatik, banyak diantaranya sudah di berikan gambar motif, seperti motif Bokong Semar, Ayam Jago, Ikan Etong, Kereta Kencana, atau pun Pentil Kuista.

Ruangan ini tidak besar, seperti industri rumahan batik pada umumnya, hanya berukuran 4×3 dan diisi oleh empat orang perempuan “seniman” batik. Mata saya melirik ke sana ke mari, jeli dan kagum melihat warna-warni di atas kain, melihat ketekunan 3 orang seniman pembatik tengah bekerja. Melihat pemandangan itu saya langsung merasa beruntung bisa berada di sini. Lebih-lebih satu dari perempuan lantas bergegah ramah menyambut saya sebagai tamu. Keberuntungan saya datang lantaran ia mengiyakan untuk ngobrol-ngobrol lebih dalam. Ibu Esih namanya, dialah pemimpin produksi sekaligus empunya usaha batik industri “Paoman” yang saya singgahi malam itu (7/4) di Indramayu.

Aktifitas perempuan buruh pembatik sendiri disebut Ngobeng, mereka duduk di atas dingklik dan sesekali mereka berbagi cerita tentang politik, gosip artis dan tentu saja harga beras.

Sambil terus mengobrol saya mengamati dengan antusias sekeliling ruangan; di samping ruangan membatik terdapat ruangan kecil berukuran 3×2, jendelanya berukuran kecil dan berada di bagian atas. Ruangan itu digunakan sebagai tempat mewarnai kain batik, terdapat dua meja besar dengan kotak besar dan pewarna batik. Bau menyengat tercium, biasanya ada dua orang yang mengerjakan pewarnaan. Namun sudah beberapa bulan terakhir, ibu Esih, pemilik home industry Batik tulis di Indramayu, menuturkan ia kesulitan mendapatkan orang baru untuk membantu mewarnai batik.

Home Industry Batik itu diberi nama Batik Silva. Penamaan batik Silva diambil dari anak pertama ibu Esih, ia percaya pemberian nama anaknya akan memanggil rezeki baik untuk keluarganya.

Corak Pesisir

Batik Silva berada di keluarahan Paoman, Indramayu, Jawa Barat. Paoman merupakan daerah pesisir Pantai Utara, tidak heran jika motif dari batik Paoman didominasi dengan corak pesisiran. Sama halnya seperti Cirebon yang terkenal dengan batik Trusmi, Indramayu pun dikenal dengan batik Paoman.

Batik Paoman juga dikenal dengan nama batik Dermayon, banyak juga yang mengenalnya dengan batik pesisir.  Perempuan-perempuan di Paoman biasanya membatik ketika nelayan tidak bisa melaut karena cuaca buruk. Hal inilah yang menjadi kendala dari pemasaran batik Paoman, masalah kontinuitas dan promosi menjadi tantangan bagi para industri rumahan yang ingin mengembangkan batik Paoman.

Batik Paoman pun beradaptasi dengan perkembangan zaman, tidak sedikit industri rumahan yang mengembangkan batik cap dan batik print. Proses panjang membuat batik tulis menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang masih memilih cara konvensional.

Setidaknya ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh batik tulis. Diawali dengan Nyoret atau menggambar pola batik di atas kain mori. Sebagian orang yang mendengar kata mori mungkin sedikit bertanya-tanya, apakah yang dimaksud adalah kain mori yang sering digunakan untuk membungkus mayat. Terdapat banyak jenis kain mori, dalam membatik biasanya jenis kain mori yang digunakan adalah Prima dan Primis. Pola dasar dari batik dibuat di atas kain mori dengan menggunakan pinsil.

Pada tahapan kedua, perempuan-perempuan mulai Nglowongi yaitu melukis pola batik menggunakan malam/lilin. Tahapan ini merupakan tahapan yang paling panjang, biasanya akan memakan waktu kurang lebih 1  minggu untuk satu kain. Jika satu kain ingin punya lebih dari satu warna dasar, seperti warna merah dan biru maka satu bagian harus ditutupi oleh malam terlebih dulu. Para pembatik menyebut proses ini dengan istilah nembok yaitu memberikan blok pada bagian tertentu untuk kemudian lanjut pada proses pewarnaan.

Tahapan ketiga adalah mewarnai kain batik. Terdapat dua teknik mewarnai, yaitu Teknik Soga dimana kain batik akan dicelup di dalam bak besar berbentuk kotak yang telah diberi pewarna. Teknik mewarnai lainnya adalah Teknik Colet, yaitu dengan cara kain batik dibentangkan dan dicolet pewarna menggunakan kuas atau alat lainnya. Adapun pewarnaan kain batik dengan teknik Colet banyak dilakukan oleh pengrajin yang ingin kain batiknya dirancang dengan banyak warna.

Terakhir, pengrajin harus melewati proses Ngelorod malam yang ada di kain batik. Malam tidak tahan dengan panas, untuk itu kain batik direndam di kuali besar berisi air yang mendidih. Malam di atas kain batik akan luntur ke bawah, dan untuk itulah disebut Melorot/Melorod.

Lintas Batas Muasal Batik

Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Penemuan seni pewarnaan kain dengan menggunakan malam berasal dari Mesir Kuno/Sumeria pada abad ke-4 SM, yaitu dengan ditemukannya kain pembungkus mumi yang dilapisi oleh malam dan membentuk pola tertentu. Sedangkan di Asia, perkembangan yang serupa dengan batik ditemukan di Tiongok, yaitu semasa Dinasi T’ang (618-907) dan di India serta Jepang semasa Periode Nara (645-794).

Batik di Indonesia erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan sejarah, batik dikembangkan pada zaman kesultanan Mataram dan berlanjut pada zaman Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Namun, seorang arkeolog Belanda bernama J.L.A.Brandes dan F.S Sutjipto seorang sejarawan Indonesia percaya bahwa tradisi batik adalah asli berasal dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Daerah-daerah tersebut merupakan wilayah yang tidak dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki traidisi kuno membuat batik.

Batik tulis terus berkembang hingga pada abad ke-20. Sedangkan batik cap baru mulai diperkenalkan setelah perang dunia 1 berakhir atau sekitar tahun 1920. Di Indonesia, kegiatan membatik merupakan aktifitas yang terbatas dalam lingkup keraton saja.

Batik yang dibuat pun digunakan sebagai pakaian raja dan keluarga raja, pemerintahan dan keluarganya. Seiiring dengan perkembangan zaman, banyaknya pembesar dan pejabat pemerintahan yang tinggal di luar keraton maka aktifitas batik pun dibawa keluar dari keraton. Semenjak saat itu, kesenian membatik mulai dilakukan di rumah masing-masing dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat.

Perempuan Membatik

Dalam industri rumahan Batik Silva, rata-rata pengrajin adalah perempuan. Ibu Esih sendiri memiliki lebih dari 3 orang pengrajin perempuan yang datang ke rumahnya setiap hari. Perempuan menjadi dekat dengan aktifitas membatik, karena perempuan memiliki ketekunan dan ketelitian yang tinggi.

Para Pembatik di rumah batik “Silva” Indramayu. (foto by; Gui Susan)

Di Paoman, akfititas membuat batik merupakan pekerjaan sampingan perempuan nelayan selagi menunggu suami pulang dari melaut. Pada saat bersamaan, membatik merupakan salah satu upaya meneruskan tradisi yang telah dijalankan oleh warga Paoman dari turun temurun.

Namun, batik pesisir memiliki ciri khas tersendiri. Berdasarkan beberapa catatan bahwa di daerah pesisir, laki-laki pun membatik. Hal tersebut dapat dilihat dari garis maskulin dan tegas yang terdapat di corak “Mega Mendung”, artinya pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum laki-laki di daerah pesisir.

Di masa lampau, perempuan-perempuan Jawa menjadikan membatik sebagai keterampilan sekaligus mata pencaharian. Hal inilah yang membuat membatik menjadi pekerjaan ekslusif perempuan. Hingga akhirnya ‘Batik Cap’ mulai ditemukan pada tahun 1920 dan membuka peluang bagi laki-laki masuk ke dalam bidang ini. Tidak ada catatan yang mengungkap sejak kapan pekerjaan membatik menjadi pekerjaan untuk perempuan.

Riwayatmu Kini

Munculnya batik cap sejak tahun 1920 perlahan merubah tradisi dari batik tulis. Batik cap yang dinilai lebih cepat diproduksi dengan harga yang murah menyebabkan batik tulis mulai terkikis perlahan-lahan.

Untuk memproduksi satu kain batik, para pengrajin membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan agar warna dan hasilnya memuaskan. Panjangnya proses yang dilewati membuat harga batik tulis lebih mahal. Di Paoman harga satu lembar kain batik tulis berkisar Rp 300.000 sampai dengan Rp 350.000 dengan menggunakan kain dari Mori Primis dan Rp 200.000 sampai dengan Rp 300.000 untuk kain Mori Prima.

Sedangkan untuk batik cap, harga satu lembar kain berkisar Rp 50.000 sampai dengan Rp 100.000. Perbedaan harga yang cukup tinggi membuat banyak konsumen lebih memilih membeli batik cap.

“Orang yang membeli batik tulis biasanya mereka yang mengerti bahwa batik tulis itu adalah bentuk karya seni tinggi dan biasanya yang membeli itu sudah masuk dalam kolektor.” Tutur Ibu Esih.

Hari ini batik tulis menghadapi masalah besar, regenerasi merupakan masalah utama yang dihadapi oleh industri batik tulis. Para Pengrajin di desa Paoman rata-rata adalah perempuan di atas 35 tahun. Pun jika ada yang muda, jumlahnya bisa terhitung dengan jari.

Di Paoman sendiri, anak-anak muda banyak yang memilih bekerja sebagai buruh di luar daerah. Pengembangan sentra batik dirasa masih terkendala dengan modal dan pemasaran yang kreatif. Batik Paoman dianggap masih belum mengimbangi Batik Trusmi di Cirebon, untuk itulah Ibu Esih mengharapkan semua pihak mau bersama-sama mengembangkan batik Paoman.

Batik merupakan identitas masyarakat Indonesia. Hampir semua wilayah negeri ini memiliki ciri khas batiknya, sebagai pengejewantahan nilai masyarakat dan sejarah yang dikandung dan telah melahirkan peradaban masyarakat itu sendiri. Maka sudah semestinya kecintaan terhadap batik mulai ditumbuhkan sedari dini, bukan hanya sekedar sebagai laku fashion and style, atau suatu komoditas ekonomis, tapi sebagai dokumen sejarah dan pakain identitas kebudayaan. Apa jadinya bangsa besar yang mengabaikan identitas budaya dan sejarahnya bahkan malah tak mengenalnya? (*)

———————–

*Susan Gui, Pecinta Batik.

Continue Reading

Milenia

Memulung Inspirasi di Pasar Santa

mm

Published

on

Pasar identik dengan kesan kumuh, becek, berantakan, dan bau. Tapi tidak dengan Pasar Santa yang terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pasar Santa ini bersih, rapi, dan well organized. Asyiknya lagi, pasar yang dibangun sejak tahun 1971 itu dihuni stand-stand unik nan kreatif. Sampai sekarang, lebih dari 100 kios di lantai satu diisi berbagai macam stand modern. Mulai dari stand makanan, kudapan, fesyen, musik (vinyl, CD, dan kaset), jasa cuci sepatu, pangkas rambut, toko buku, hingga tukang jahit.

Sebagian besar kios-kios itu dikelola oleh entrepreneur muda. Sehingga produk-produknya pun inovatif. Misalnya, kios DOG (Dudes of Gourmet) yang berada tepat di depan tangga utama. Di sana, kita bisa merasakan sensasi hotdog hitam yang lezat. Ada juga kios Substore yang menyediakan koleksi piringan hitam. Keunikan stand-stand itulah yang membuat Pasar Santa selalu ramai dikunjungi kawula muda. Apalagi ketika weekend, Pasar Santa pasti berjubel dengan pengunjung yang ingin nongkrong sembari ngemil atau pengunjung yang ingin sekaadar berbelanja.

Suasana di dalam Pasar Santa. di Kafe-kafe dalamnya banyak generasi muda Jakarta melangsungkan agenda seni dan budaya seperti membaca puisi dan diskusi buku.

 

Meski dihuni stand modern, Pasar Santa tidak mengubah fungsi utamanya sebagai pasar tradisional. Pihak pengelola pasar tetap memertahankan pedagang konvensional di lantai dasar. Pengunjung pasar bisa tetap membeli kebutuhan sehari-hari seperti sembako, alat-alat rumah tangga, di Pasar Santa. Sebelum direnovasi setahun lalu, Pasar Santa nyaris menjadi pasar yang mati. Kehadiran stand-stand unik dari berbagai komunitas diharapkan bisa mendongkrak pula penjualan di toko-toko konvensional.

Konsep tradisional dan modern yang ditawarkan Pasar Santa terbilang sangat unik. Sebetulnya, perpaduan konsep tersebut telah banyak diaplikasikan di pasar-pasar Australia dan beberapa negara di Eropa. Kehadiran Pasar Santa diharapkan mengubah mindset masyarakat terutama kalangan anak muda supaya mau datang ke pasar. Hal itu sangat bagus untuk menghidupkan kembali denyut perekonomian pengusaha kecil dan menengah yang ada di pasar.

Oh ya, setiap minggunya Pasar Santa selalu menggelar acara yang asyik. Kalau tidak ingin ketinggalan infonya, silakan cek Instagram Pasar Santa. Selamat bersenang-senang di Pasar Santa!!

—————————————-

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Milenia

Ke Taman Ismail Marzuki Yuk…

mm

Published

on

Kamu menggemari seni dan budaya? Sudah pernah berkunjung ke Taman Ismail Marzuki (TIM)? Jika belum pernah, maka kamu belum resmi mendapat gelar anak artsy. Berlokasi di Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, TIM merupakan salah satu pusat kesenian ternama di Jakarta. Sejak diresmikan pada tahun 1968, TIM menjadi kiblat para seniman di Indonesia. Dari dulu hingga sekarang, para seniman berbondong-bondong untuk menggelar pertunjukan di tempat yang dulunya bernama Taman Raden Saleh (TRS) itu.

Segala jenis kesenian mulai dari seni rupa, seni tari, drama, musik, dan cabang seni lainnya mendapatkan tempat istimewa di TIM. Ragam seninya pun bervariasi dari yang tradisional hingga kontemporer. Asyiknya lagi, kita tidak hanya menonton tetapi juga bisa mempelajari jenis seni yang kita minati. Sebab. ada puluhan sanggar seni yang rutin menggelar workshop di sana.

Jika ditilik dari sisi historisnya, TIM merupakan ruang ekspresi yang pembangunannya diinisiasi oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin atau karib disapa Bang Ali. Sebelum menjadi pusat kesenian, TIM merupakan Kebun Binatang Jakarta yang sudah dipindahkan daerah Ragunan. Pemberian nama Ismail Marzuki tidak lain juga sebagai bentuk apresiasi terhadap komponis legendaris yang telah menciptakan lebih dari 200 lagu tersebut.

Di dalam TIM ada berbagai macam galeri pertunjukan. Mulai dari skala kecil hingga besar. Selain itu ada juga gedung Planetarium dan Obeservatorium Jakarta.  Di sana, kita bisa melihat pertunjukan Teater Bintang dan multimedia atau citra ganda. Jika beruntung, kita juga bisa melihat fenomena di atas langit yang menakjubkan seperti gerhana, komet, dan lainnya. Untuk yang mencintai sastra, harus mampir ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jasin. Ada sekitar 50 ribu dokumentasi sastra Indonesia yang disimpan di sana.

Salah satu sudut ruang pamer dan instalasi di TIM, Jakarta

Di sekitar area seluas sembilan hektare itu pula dibangun sebuah sekolah seni yang termasyhur di Indonesia yakni, Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tak terhitung, jumlah sineas dan seniman hebat dan kreatif yang lahir dari IKJ. Sebut saja seperti Slamet Rahardjo, Didi Petet, Garin Nugroho, Mira Lesmana, Naif, White Shoes and The Couples Company dan masih banyak lagi.

Setiap minggunya, TIM selalu menyajikan penampilan para seniman berkualitas. Jadi, pengunjung tidak akan bosan datang ke TIM. Menariknya lagi, di TIM juga ada bioskop 21 Cineplex yang memutarkan film-film terkini. Namun bagi yang suka film indie atau film-film festival yang tidak diputar di bioskop mainstream, jangan kuatir! Ada Kineforum! Apa itu Kineforum? Kineforum merupakan bioskop mini berkapasitas kurang lebih 30 penonton yang sering memutarkan film indie. Letaknya di belakang persis 21 Cineplex.

Saya sendiri paling suka dengan gedung Teater Jakarta yang megah. Jika Australia punya Sydney Opera House dan Inggris punya Royal Albert Hall, maka saya bangga dengan gedung Teater Jakarta. Kendati tidak seluas gedung di luar negeri, Teater Jakarta mampu menampung 1200 penonton dan sudah didukung dengan teknologi mutakhir yang memungkinkan perhelatan akbar digelar di sini.

Komplek TIM memang menyajikan ruang hiburan dan edukasi seni budaya terlengkap di Jakarta. Jadi, kalau mampir ke Jakarta, jangan lupa mampir di TIM, ya!! (*)

——————————————–

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Classic Prose

Trending