© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Membaca Ulang ‘A Temporary Matter’ Karya Jhumpa Lahiri

Saya masih mengingat kalau Selasa itu saya datang ke kos seorang teman untuk menumpang istirahat ketika saya melihat buku berwarna oranye; Interpreter of Maladies di kamarnya. Warna seperti itu selalu saja merisak mata. Membuat ingin mengambil. Nama yang tertulis di sana, sungguh, saya tidak pernah mendengar sebelumnya. Jhumpa Lahiri. Sekali baca, saya tahu kalau penulis ini, perempuan ini, kemungkinan besar orang India atau daerah sekitar sana. Yang saya tidak tahu berikutnya; dia memberikan pengaruh besar pada apa dan bagaimana saya menulis. Yang saya syukuri berikutnya; saya mengambil buku oranye itu dan bukan buku yang ada di sebelahnya; Twilight Saga.

Tentang Twilight Saga, saya membeli juga keempat bukunya beberapa bulan kemudian, membaca semuanya sampai habis dalam waktu kurang satu pekan, dan sampai sekarang, sepuluh tahun kemudian, saya masih tidak punya apapun yang menarik untuk ditulis tentang buku itu.

Saya sudah menikah ketika itu, di tahun pertama—ketika semuanya masih indah dan saya masih tergila-gila. Masuk ke cerita pertama di buku itu, A Temporary Matter, membuat saya sedikit bertanya—sedikit saja karena sebagian besar dari apa yang terpikir ketika membacanya; pernikahan saya tidak akan pernah jadi seperti ini—tentang lawan dari jatuh cinta. Apa benar bahwa seiring waktu pernikahan akan hambar dan hubungan suami-istri itu lebih mirip teman yang berbagi rumah yang saling menghindari kecuali ketika di awal bulan dan harus duduk di satu meja untuk menghitung pengeluaran?

Saya bukan penggemar cerita tentang pernikahan. Sampai hari ini pun, saya menghindari menulis tentang hal itu karena, setelah sepuluh tahun lebih menikah, saya masih juga belum bisa memastikan bahwa saya menceritakan hal yang benar tentang itu semua. Jatuh cinta lebih mudah diceritakan. Pernikahan, tidak. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa di suatu pagi, ketika suamimu duduk di depanmu dengan cangkir kopi dan jari-jarinya mengetuk tepian luar cangkir itu dengan ujung jarinya beberapa kali, dan kamu merasa bahwa akan ada pertengkaran setelahnya? Yang besar—yang membuatmu mempertanyakan keputusan untuk menikah. Lalu malam harinya, ketika dia berkata padamu bahwa semua bisa diperbaiki, kamu melihat kerusakan dan juga menatap harapan di antaranya, kalian kemudian berbaikan lalu kamu seolah kembali jatuh cinta padanya. Hanya beberapa hari ke depan, memang. Tergila-gila seperti jatuh cinta pertama kali, tapi kali ini lebih rasional—rasanya. Bagaimana hal semacam itu dijelaskan?

Semalam, saya membaca ulang A Temporary Matter. Mengunjunginya kembali. Mencoba melihat apa kali ini saya membacanya dengan cara yang beda. Ternyata, benar. Saya menjadi lebih terhubung dengan cerita ini. Lebih dalam, lebih merasuk. Seperti judulnya, A Temporary Matter, semua dalam pernikahan itu sementara; cinta, nafsu, pertengkaran, bahkan mungkin pernikahan itu sendiri.

* * *

THE NOTICE INFORMED THEM that it was a temporary matter: for five days their electricity would be cut off for one hour, beginning at eight P.M. A line had gone down in the last snowstorm, and the repairmen were going to take advantage of the milder evenings to set it right. The work would affect only the houses on the quiet tree-lined street, within walking distance of a row of brick-faced stores and a trolley stop, where Shoba and Shukumar had lived for three years.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 1). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Cerpen ini dibuka dengan pemberitahuan bahwa akan ada pemadaman sementara di daerah rumah Shoba dan Shukumar karena kabel di sekitar sana perlu perbaikan setelah badai salju. Tidak lama, hanya lima hari. Sekarang saya baru melihat betapa pintarnya cerpen ini dibuka; dengan memberikan peringatan pada pembaca bahwa setelah tiga tahun pasangan itu tinggal di sana, akan ada hari di mana mereka mengalami sesuatu yang sementara. Saya kemudian membacanya seperti ini; bahwa setelah tiga tahun menikah, akan ada masa di mana pasangan ini terpaksa melewati gelap bersama. Mereka terpaksa karena tidak ada pasangan manapun yang ingin masa gelap dalam pernikahannya—kebanyakan lebih ingin benderang yang pura-pura.

Saya teringat lagi kalau dua hari lalu, saya menonton Big Little Lies, serial yang diangkat dari novel berjudul serupa karya Liane Moriarty. Eddie, salah satu karakter di sana bilang semacam; pernikahan itu akan bahagia kalau pasangan punya kemampuan berpura-pura. Berpura-pura baik-baik saja, berpura-pura—masih—saling mencintai, dan berpura-pura bahagia. Setengah dari pernyataan itu saya setuju. Lihatlah sosial media pasangan yang menikah kalau tidak percaya. Semua kelihatan bahagia. Sebagian dari itu, mungkin hanya pura-pura.

Shoba dan Shukumar pun demikian. Mereka bahagia. Tapi ada beberapa hal yang mereka sapu ke bawah karpet dan coba lupakan. Tidak pernah dibicarakan. Setelah anak mereka terlahir dalam keadaan mati, Shoba menjauh dari Shukumar. Shukumar pun demikian. Mereka jadi sangat ahli untuk saling menghindari di apartemen mereka. Mencoba mencari ruang di sama yang lainnya—mungkin—tidak akan ke sana. Lalu bicara dengan pasif-agresif yang sengaja ditekan tapi masih juga terasa.

“But they should do this sort of thing during the day.” “When I’m here, you mean,” Shukumar said.

Shukumar memperhatikan istrinya dan dia tahu bahwa Shoba selalu menyiapkan apapun. Dia bukan tipe perempuan yang spontan. Dia punya satu boks sikat gigi baru yang disimpan untuk tamu kalau tamu itu ingin menginap di saat-saat terakhir. Shoba tidak suka kejutan. Shukumar pun tahu itu.

She used to put her coat on a hanger, her sneakers in the closet, and she paid bills as soon as they came. But now she treated the house as if it were a hotel.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 6). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Beberapa tahun lalu, saya mendengar salah satu episod podcast Tyler Oakley, Psychobabble, dan di sana dia menjelaskan pendapatnya bahwa hubungan—apapun itu bentuknya—bisa diumpakan seperti tinggal di satu tempat yang sama dengan orang itu—siapapun orangnya. Dua orang yang punya hubungan seperti memindahkan barang-barang mereka ke rumah baru ketika mereka memulai hubungan. Ini bagian yang mudah. Semua orang antusias dengan rumah baru dan suasana baru. Tapi seriring dengan berjalannya waktu, rumah itu—bisa jadi—akan terasa sesak, suasana baru itu—bisa jadi—akan terlihat membosankan. Ketika itu, salah satu dari mereka mungkin mulai memindahkan satu-persatu boks berisi barang-barang ke tempat baru tanpa sepengatahuan yang satunya. Ini harusnya kelihatan. Banyak pertanda. Misalnya, ketika pembicaraan lebih banyak dijadikan sekedar tuntutan bertanya dan menjawab pertanyaan, bukan untuk saling mengerti isi hati satu dan lainnya. Karena itu, menjadi yang ditinggalkan di rumah yang sebagian barang-barangnya sudah dipindahkan, menjadi hal yang paling menyedihkan. Menjadi yang ditinggalkan tanpa pertanda. Yang harus keluar dari rumah itu sendirian. Yang terakhir menutup pintu dan pergi.

Ini yang terjadi di hubungan Shoba dan Shukumar. Shoba mulai memindahkan ‘boks barang-barangnya’ satu-persatu tanpa sepengetahuan Shukumar. Mungkin Shukumar merasakan hal itu, mungkin dia membaca pertanda, tapi dia tidak juga menjadikan itu bahan pembicaraan karena menghindar lebih mudah—lebih tidak menyakitkan untuk sementara waktu. Ketika datang hari di mana listri dimatikan, Shukumar heran karena dia tidak menemukan lilin di apartemen mereka. Dia heran Shoba yang penuh perhitungan dan persiapan tidak menyiapkan hal yang biasa terjadi seperti itu; Shoba tidak menyiapkan bahwa akan ada hari di mana pernikahan mereka tidak baik-baik saja—dan ini hal yang biasa, seharusnya.

It was typical of her. She was the type to prepare for surprises, good and bad.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 6). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Lalu mereka pun terpaksa duduk berhadapan, di depan lilin kecil yang biasa dipakai untuk ulang tahun. Terpaksa bicara. Sulit, sayangnya. Shoba lalu mulai bercerita tentang hal yang tidak pernah Shukumar tahu tentangnya. Lalu dia menawarkan permainan—sekadar untuk menghindari perasaan tidak nyaman duduk berhadapan selama makan malam—untuk menceritakan apa yang tidak diketahui masing-masing tentang salah satunya. Sesuatu yang jujur dan tersembunyi. Awalnya, permainan ini terasa tidak akan berbahaya sama sekali. Tapi di hari kedua, ketiga, dan keempat, mereka pun jadi mengetahui hal paling gelap dari pasangan mereka. Selama ini mereka saling menyembunyikan karena, sekali lagi, perlu kemampuan untuk berpura-pura dalam hubungan.

Somehow, without saying anything, it had turned into this. Into an exchange of confessions— the little ways they’d hurt or disappointed each other, and themselves. The following day Shukumar thought for hours about what to say to her.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 18). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Di dalam gelap, mereka bisa bercerita. Mencari tahu tentang apa tang hilang dalam hubungan mereka. Rasanya lebih mudah memang, untuk bicara tanpa melihat wajah orang yang kita ajak bicara—karena itu menyakiti orang lewat sosial media lebih ringan untuk tangan dan hati, kan?

Di hari kelima, ada pemberitahuan lagi bahwa listrik sudah selesai diperbaiki lebih cepat dari jadwal. Malam itu, yang seharusnya mereka masih makan malam dalam gelap, jadi tidak seperti yang direncanakan Shukumar. Dia pun dengan tidak bersemangat menyiapkan makan malam. Tapi malam itu, mereka tetap makan dalam gelap, dengan lilin. Shoba yang menganjurkan begitu. Lalu setelah makan malam itu berakhir, dia menyalakan lampu dan mengatakan pada Shukumar bahwa dia ingin Shukumar melihat dengan jelas wajahnya ketika dia mengatakan hal ini; dia sudah mendapat apartemen baru, membayar depositnya, dan akan pindah. Shukumar yang terluka, membalas dengan mengatakan bahwa dia tahu jenis kelamin anak mereka yang terlahir mati. Dia sempat menggendongnya—tidak seperti cerita yang selama ini dikatakan pada Shoba bahwa dia tidak sempat menemui jasad anak mereka. Hal itu membuat Shoba terluka.

Cerpen ini pun ditutup dengan mereka berdua duduk di meja makan, dalam gelap—setelah lampu di matikan kembali oleh Shoba—dan menangis. Menangis untuk sesuatu yang, pada akhirnya, mereka tahu.

Lebih mudah untuk berpura-pura, memang. Lebih tidak menyakitkan untuk tidak mengetahui apapun.

Saya pun mencari pertanda di sepanjang cerpen ini. Saya ingin tahu apakah mereka benar akan berpisah atau setelah gelap ini, mereka memperbarui hubungan mereka. Saya tidak punya jawabannya—penulisnya pun meninggalkan ruang untuk interpretasi. Tapi saya tahu bahwa Shoba benar ingin pergi dan Shukumar ingin mempertahankan. Shoba yang mulai memindahkan boks satu-persatu dan Shukumar yang akan terakhir menutup pintu.

They wept together, for the things they now knew.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 22). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

* * *

Seperti yang saya tulis di awal; menuliskan tentang jatuh cinta dan tergila-gila itu mudah. Menuliskan tentang pernikahan dan segala ketidakpastian di dalamnya, itu sulit. Pernikahan lebih banyak punya warna. Jatuh cinta sama saja; pelangi dari permen dan gulali.

Saya makin menyukai cerpen ini setelah membaca ulang. Saya suka dengan betapa elegan Lahiri menceritakan pernikahan Shoba dan Shukumar. Mereka menjauh dari satu dan lainnya tapi masih beradab dengan makan di meja makan yang sama dan masih juga santun—walaupun pasif-agresif. Mereka mencoba mencari apa yang bisa diselamatkan karena tidak ada pilihan lain. Gelap tentu saja membantu karena tidak perlu melihat bagaimana satu dan lainnya mengunyah pengakuan masing-masing. Bahwa jatuh cinta itu mudah dan tidak ada lawan dari jatuh cinta. Kebalikannya hanya tidak peduli. Kamu cuma perlu untuk tidak peduli sampai di satu titik, keberadaan orang itu tidak lagi menyakitimu.

Cerpen ini belum sampai ke sana karena semua ini, seperti judulnya, hanya a temporary matter, keadaan sementara. Sebelum akhirnya keputusan lebih permanen diambil, kemudian. (*)

—————-

Octaviani Nurhasanah: Freelance writer. Associate Editors Galeri Buku Jakarta. Twitter: @OctaNH / octavianinurhasanah.net

 

 

 

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT