Connect with us

Tabloids

Membaca Fiksi | Donald Hall (1928-2018)

Photo by Gary Knight / Getty Image
mm

Published

on

Ketika kita membaca kesusastraan yang hebat, ada sesuatu yang berubah di dalam diri kita, sesuatu yang memang tetap berubah. Kesusastraan menjadi material yang diingat untuk berpikir. Tidak ada seorang pun yang telah membaca The Death of Ivan Ilyich dengan baik akan menjadi sungguh-sungguh sama seperti semula.

Ketika kita belajar membaca fiksi, kita memperoleh semacam kesenangan dan kekayaan yang tidak akan pernah bisa kita hilangkan. Meski di satu sisi studi kesusastraan bukan kegiatan keseharian—beberapa orang membuat buku-buku mereka sebagai bacaan yang hidup—pada sisi yang lainnya studi kesusastraan hampir seperti kegiatan praktik, sama halnya seperti kita bernafas.

Rekam jejak kesusastraan dan perwujudannya selama berabad-abad dari pikiran dan perasaan manusia, mengawetkan bagi kita pikiran-pikiran manusia, yang hidup sebelum kita, manusia-manusia yang sama seperti kita dan juga tidak serupa dengan kita, yang dapat menentang siapa pun, yang bisa kita ukur berdasar pada kesamaan kemanusiaan dan perbedaan historis. Dan ketika kita membaca cerita-cerita dari orang-orang kontemporer, cerita-cerita itu menerangi dunia kita semua, dunia yang kita bagi.

Ketika kita membaca kesusastraan yang hebat, ada sesuatu yang berubah di dalam diri kita, sesuatu yang memang tetap berubah. Kesusastraan menjadi material yang diingat untuk berpikir. Tidak ada seorang pun yang telah membaca The Death of Ivan Ilyich dengan baik akan menjadi sungguh-sungguh sama seperti semula. Membaca menambahkan perangkat, yang dengannya kita mengobservasi, mengukur, dan menilai orang-orang dan kekayaan alam semesta, kita memahami perbuatan dan motif-motif orang lain dan diri kita sendiri.

Di dalam cerita fabel semut dan belalang, semut yang bijak membangun gudang bagi dirinya untuk menghadapi musim dingin dan dia berhasil dengan baik; belalang yang pandir tidak menyimpan apa-apa dan dia binasa. Siapa pun yang menampik studi kesusastraan dengan dasar bahwa itu tidak berfaedah—bagi ahli kimia atau pun seorang insinyur, bagi kepala tukang atau pun teknisi X-ray—jelas membebek sang belalang.

Ketika kita menutup hidup kita dari segala sesuatu, terkecuali makanan dan tempat bernaung, ada sebagian dari diri kita yang kelaparan sampai mati. Makanan untuk rasa kelaparan yang demikian itu adalah musik, lukisan, film, drama, sajak, cerita, dan novel.

Banyak tulisan di surat kabar, majalah, dan novel populer bukan merupakan kesusastraan, jika kita menyimpan kata tersebut bagi karya berkualitas tinggi. Pembacaan yang demikian itu memberikan kita sedikit makanan sebagaimana kebanyakan televisi dan makanan cepat saji. Selama musim dingin yang panjang dan musim panas yang enerjik, kita tentunya memerlukan makanan kesusastraan.

Baca Juga:

Membaca fiksi lama dan baru—membawa kita kepada karya-karya sastra Rusia abad sembilan belas, sastra Inggris kontemporer, Irlandia, terutama tukang cerita Amerika—kita bangun sebuah gudang ilmu pengetahuan dan kita mengentertain diri kita dengan sebaik-baiknya. Tetapi untuk memperoleh kesenangan dan pemahaman dari fiksi, kita harus belajar bagaimana cara membacanya. Tidak ada seorang pun yang berharap untuk mendatangi satu pun komputer dan memprogramnya tanpa terlebih dulu mempelajari sesuatu mengenai komputer tersebut. Untuk beberapa alas an—bisa jadi lantaran kita telah familiar dengan kata-kata dari masa kecil kita dan mengambil kata-kata tersebut dengan begitu saja—kita cenderung untuk berpikir bahwa pandangan yang cepat terhadap kata-kata yang telah ditulis mestilah memberikan ganjaran kepada kita dan bahwa jika kita tidak mendapatkan kepuasan yang instan, maka karya itu ada di luar kita, atau tidak layak, tidak relevan atau pun menjemukan. Tetapi di dalam seluruh kehidupan kita, di dalam keterampilan yang lain, kita membutuhkan instruksi dan latihan—untuk mampu menunggang sepeda, mengendarai mobil, bermain gitar, menembakkan bola ke dalam keranjang basket, mengetik dan berdansa.

Sampul Buku “Memikirkan Kata” Panduan Menulis Untuk Semua. Akan Terbit secara ekseklusif oleh Galeri Buku Jakarta, (Maret, 2019)

Pengetahuan yang kita peroleh dari kesusastraan dapat terlihat membingungkan. Terkadang karya-karya yang hebat bisa saling berkontradiksi di dalam penggeneralisasian dari apa yang bisa kita ambil dari karya-karya tersebut. Satu karya dapat merekomendasikan kesendirian, karya yang lain—pergaulan masyarakat. Satu karya bisa menyarankan kita untuk menangkap momen, karya yang lain—untuk menjalani kehidupan kontemplasi. Atau, dua orang pembaca dapat tidak bersepakat mengenai implikasi dari sebuah karya dan keduanya saling berbantahan dengan meyakinkan, dengan referensi yang detail terhadap tulisan, untuk memberikan dukungan pada interpretasi yang bertentangan. Karya fiksi yang kompleks tidak dapat direduksi menjadi bermakna simpel dan benar. Di dalam teks aritmatika yang elementer, jawaban bisa saja dicetak pada bagian belakang buku. Tetapi tidak ada jawaban yang dicetak di bagian belakang buku apa saja dari koleksi kesusastraan.

Ketidakjelasan dan kerawanan yang mudah terperosok dalam ambiguitas yang demikian mengganggu beberapa pembaca sastra. Setelah diskusi dalam forum-forum sastra mengenai cerita pendek sepanjang satu jam dengan beragam interpretasi yang ditawarkan, mereka, kita, ingin mengetahui: “Tetapi apakah artinya itu?” Kita harus mengakui bahwa kesusastraan bukanlah sesuatu yang eksak dan kebenarannya tidak gampang untuk diverifikasi. Kemungkinannya, sebuah cerita dapat memaksudkan beberapa hal dengan sekaligus, bukan hanya benar-benar satu hal saja. Masalah yang demikian ini tidak untuk dikatakan, tetapi, ini memaksudkan apa pun, yang di dalamnya bisa ditemukan oleh siapa pun. Meskipun pendapat berbeda dan secara adil dapat dipertahankan, hal itu merupakan sesuatu yang umum, tetapi kesalahan lebih umum terjadi. …

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading
Advertisement

Tabloids

Puisi Selalu Menemukan Jalannya Sendiri

mm

Published

on

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Pertanyaan yang muncul setelah The Dream Songs adalah bilamana aku akan berusaha menulis sebuah puisi yang panjang lagi, dan kupikir itu tidak mungkin, jadi aku tidak berharap untuk menulis bait-bait lagi.

Tapi tiba-tiba suatu hari di musim dingin tahun lalu aku menuliskan satu baris: “I fell in love with a girl.” Aku memerhatikannya, dan aku tak dapat menemukan ada yang salah dengan baris itu. Aku berpikir, “Sial, hal itu nyata” Aku merasa, seperti seorang temanku mengatakan, “merasa nyaman dengan hal itu.” Dan aku memerhatikannya sampai aku memikirkan sebuah baris kedua, dan kemudian baris ketiga, dan kemudian baris keempat, dan jadilah sebuah stanza. Tak berima. Dan semakin kuperhatikan, semakin aku menyukainya, jadi aku menulis stanza kedua. Dan kemudian aku menulis lebih banyak stanza, dan tahukah kau? Aku memliki sebuah lirik sajak, dan itu sangat bagus. Aku tak pernah tahu aku memilikinya dalam diriku! Jadi, ketika hari berikutnya aku menggubah sebuah stanza, mengubah beragam baris, disana sini, tapi segera setelahnya hal itu terlihat klasik.

Seklasik salah satu dari puisi-puisi Rubaiyat-tanpa keniscayaan rima dan matra, tetapi dengan keniscayaan-keniscayaannya sendiri. Kukira itu sebagus puisi-puisi awalku, dan beberapa dari mereka sangatlah bagus; kebanyakan dari mereka tidak, tapi beberapa memang bagus. Lebih jauh, baris-baris itu tidak mempunyai kemiripan dengan bait manapun yang pernah kutulis seumur hidupku, dan lebih jauh lagi, subjeknya sama sekali baru, benar-benar dan hanya tentang diriku sendiri. Tak ada yang lain. Sebuah subjek dimana aku adalah seorang ahlinya. Tak ada seorang pun yang bisa membantahku.

Aku percaya dengan teguh atas otoritas dari pembelajaran. Alasan mengapa Milton merupakan penyair terbesar Inggris kecuali untuk Shakespeare adalah karena otoritas dari pembelajarannya. Aku sarjana di bidang-bidang tertentu, tetapi subjek yang aku mempunyai otoritas penuh atasnya adalah diriku, jadi aku menghapus semua kepura-puraan dan mulai bekerja. Dalam lima atau enam minggu aku memiliki sesuatu yang tampak jelas sebagai sebuah buku berjudul Love & Fame.

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku sebelumnya sudah mengirimkan puisi pertama kepada Arthur Crook di Times Literary Supplement. Dia senang membacanya dan mengirimkanku sebuah contoh cetakan. Aku, sebaliknya, merasa senang bahwa dia menyukainya, jadi aku mengoreksi contoh cetakannya dan mengirimkannya lima puisi lagi-Aku tidak ingin puisi itu tampil sendirian. Jadi dia mencetak keenamnya, yang mengisi satu halaman penuh-sangat indah secara tipografi-dan ini semakin membesarkan hati.

Tapi aku masih tak yakin. Sementara itu, aku sedang berada di rumah sakit. Aku seorang pencemas. Aku telah kehilangan sembilan belas pon dalam lima minggu dan minum-minum banyak sekali-satu quart per hari. Jadi aku meminta penerbitku di New York, Giroux, mengkopi selusin salinan, yang aku kirimkan kepada teman-temanku diseluruh negeri untuk mendapatkan opini mereka. Itu adalah hal yang aneh untuk dilakukan-Aku tak pernah mendengar orang lain melakukannya-tapi aku melakukannya, mencari penguatan diri, konfirmasi, menginginkan kritik, dan seterusnya, dan aku mendapat sejumlah kritik yang sangat baik. Dick Wilbur memilih “Shirley & Auden”, salah satu lirik yang paling penting di bagian pertama-beberapa sajak yang lain begitu ringan, dan yang lainnya sangat ambisius- dan menjadikannya sengsara. Dan aku setuju-aku mengadopsi hampir semua saran.

Aku juga mendapat sejumlah konfirmasi dan penguatan diri, akan tetapi ada opini-opini yang lain juga. Edmund Wilson, yang pendapatnya sangat aku hargai, mendapati buku itu tak punya harapan. Dia mengatakan terdapat beberapa baris yang baik dan bait-bait yang menohok. Bagaimana kau menyukainya? Itu seperti mengatakan kepada seorang perempuan cantik, “Aku menyukai kuku kelingkingmu yang sebelah kiri; itu benar-benar manis,” sementara perempuan itu berdiri telanjang bulat tampak seperti Venus. Aku sangat terluka karena surat itu. Dan kemudian respon-respon yang lain sangatlah aneh. Mark Van Doren, guruku, seorang teman lama dan seorang hakim yang luar biasa bagi puisi, juga menulis. Aku lupa tepatnya yang dia katakan, tapi dia sangat serius dengan buku itu. Dia mengatakan hal-hal seperti “orisinil,” dan “akan berpengaruh”, dan “akan menjadi populer,” dan seterusnya, tapi “juga akan ditakuti dan dibenci.”

Sungguh surat yang sangat mengejutkan! Aku membutuhkan berhari-hari hingga aku terbiasa dengan surat itu, dan aku membutuhkan lebih banyak hari lagi untuk memahami maksudnya. Tapi sekarang aku mengerti apa yang yang dia maksud.

Sejumlah puisinya mengancam, sangat mengancam untuk sebagian pembaca, tak ada keraguan untuk itu. Sebagaimana beberapa orang menganggapku mengancam-berada dalam satu ruangan denganku membuat mereka gila. Dan kemudian ada cukup banyak kecabulan dalam sajak-sajak itu juga. Dan ada begitu banyak belas kasihan dalam sajak-sajak terakhir, yang akan mengganggu banyak orang.

Kau tahu, negeri ini penuh dengan para ateis, dan mereka benar-benar akan merasa diri mereka terancam oleh puisi-puisi itu. Majalah The Saturday Review mencetak lima dari puisi-puisi itu, dan aku menerima banyak sekali surat tentang itu- lagi-lagi menyampaikan opini yang sangat beraneka ragam.

Beberapa orang setulusnya hanya berterimakasih karena aku memberitahu mereka bagaimana menempatkan apa yang mereka rasakan selama bertahun-tahun. Dan ada orang-orang lain yang membencinya—mereka tak menyebutnya tak tulus, tapi mereka hanya tak bisa memercayainya.

*) John Berryman

Continue Reading

Tabloids

Saat Ide Menulis Macet dan Pengarang Putus Asa

mm

Published

on

Ya, itu bisa berwujud apa saja. Bisa saja sebuah suara, sebuah gambar; bisa jadi sebuah momen terdalam dari keputusasaan diri. Misalnya, dengan Ragtime aku sedang sangat putus asa untuk menulis, aku menghadap dinding ruang kerjaku di rumahku yang berada di New Rochelle dan jadilah aku mulai menulis tentang dinding itu. Itu salah satu jenis hari yang terkadang kita alami, sebagai penulis. Kemudian aku menulis tentang rumah yang menempel dengan dinding itu. Rumah itu dibangun tahun 1906, kau paham, jadi aku memikirkan tentang era itu dan bagaimana Broadview Avenue terlihat pada masa itu: mobil-mobil trem listrik berjalan melalui jalan raya yang berada dibawah bukit itu; orang-orang mengenakan baju berwarna putih pada musim panas agar tetap sejuk.

Waktu itu Teddy Roosevelt seorang presiden. Satu hal menuntun ke hal lain dan begitulah buku itu dimulai, melalui keputusasaan menuju gambaran-gambaran itu. Dengan Loon Lake, sangat berbeda, itu hanya sebuah perasaan yang kuat tentang sebuah tempat, perasaan yang membuncah ketika aku menemukan diriku sendiri di Adirondacks setelah bertahun-tahun pergi jauh…dan semua ini sampai pada titik dimana aku melihat sebuah tanda, sebuah penanda jalan: danau Loon. Jadi itu bisa apa saja… aku menyukai bunyi dari dua kata yang bergandengan-danau Loon. Aku memiliki bayangan-bayangan pembuka itu tentang sebuah kereta dengan rel pribadi di atas trek tunggal di malam hari menanjak melalui Adirondacks dengan sekelompok gangster di dalamnya, dan seorang gadis cantiK berdiri, telanjang, memegangi sebuah busana berwarna putih tepat di hadapan cermin untuk mengetahui apakah dia harus mengenakannya.

Aku tak tahu darimana para gangster itu berasal. Aku tahu kemana mereka akan pergi-ke kamp seorang lelaki kaya. Bertahun-tahun lalu orang yang sangat kaya raya menemukan alam liar di pegunungan paling timur Amerika. Mereka membangun kamp yang sangat luar biasa itu-C. W. Post. Harriman, Morgan-mereka menjadikan alam liar itu kemewahan bagi mereka sendiri. Jadi aku membayangkan sebuah kamp semacam ini, dengan para gangster itu, orang-orang kelas bawah itu pergi ke atas menumpang sebuah kereta dengan rel pribadi. Itulah yang membuatku memulai. Aku mempublikasikan materi ini di Kenyon Review, tetapi aku tidak terpuaskan.

Aku terus berpikir tentang bayangan-bayangan itu dan merasa heran darimana hal itu berasal. Latar waktunya adalah tahun 1930an, benar-benar saat terakhir seseorang dapat memiliki jalur kereta mobil pribadi, seperti halnya saat ini orang-orang memiliki jalur jet pribadi. Terjadi sebuah krisis ekonomi saat itu, jadi orang yang menyaksikan kereta yang mengagumkan ini pastilah seorang tunawisma, seorang pejalan kaki. Lalu aku mendapatkan karakterku, Joe, diluar sana dalam kedinginan cuaca seperti ini, kegelapan semacam ini, melihat lampu utama mesin itu menuju kelokan dan membutakannya, dan kemudian selagi kereta itu berlalu menyaksikan orang-orang itu di meja-meja dengan tabir hijau disuguhi minuman-minuman dan gadis itu berdiri di sebuah kamar kompartemen menggenggam gaunnya. Dan pada saat fajar, dia mengikuti lintasan ke arah kereta itu berlalu. Dan dia pergi dan berlari, dan begitu pun diriku.

*) E. L. Doctorow

Continue Reading

Tabloids

Cara Terbaik agar Tidak Gagal Menulis Novel

mm

Published

on

Kecuali jika kau seorang Henry James, hal tersuit adalah memikirkan kalimat pertama.

Apa yang sulit dengan kalimat pertama hingga kau terjebak dengan itu. Segala hal yang lainnya akan mengalir dari kalimat itu. Dan saat kau sudah menuliskan dua kalimat pertama, pilihan-pilihanmu sudah menghilang.

Benar sekali, dan kalimat terakhir dalam sebuah karya adalah sebuah petualangan lain. Kalimat itu harus membuka ceritanya. Ia harus membuatmu kembali dan mulai membaca dari halaman pertama. Begitulah seharusnya, tapi itu tak selalu berhasil. Aku berpikir tentang menuliskan sesuatu apa pun itu sebagai semacam tindakan yang berisiko tinggi. Saat kau mulai membubuhkan kata-kata di atas kertas kau sedang menghapus kemungkinan-kemungkinan.

Kecuali jika kau seorang Henry James.

Kukira itu bagian dari dinamikanya. Aku memulai sebuah buku dan aku ingin membuatnya sempurna, ingin buku itu menghasilkan semua warna, ingin buku itu menjadi dunia itu sendiri. Sepuluh halaman berlalu, aku sudah menghancurkannya, membatasinya, membuatnya lebih sempit, merusaknya. Hal itu sangat mengecilkan hati. Aku membencinya pada saat itu. Setelah beberapa waktu aku tiba pada sebuah kesepakatan: baiklah, itu bukan buku yang ideal, itu bukan objek sempurna yang ingin kubuat, tetapi mungkin saja-jika aku terus melanjutkan dan menyelesaikannya-aku dapat memperbaikinya lain waktu. Mungkin aku bisa mendapatkan kesempatan lain.

*) Joan Didion

Continue Reading

Trending