Connect with us

Tabloids

Membaca Fiksi | Donald Hall (1928-2018)

Photo by Gary Knight / Getty Image
mm

Published

on

Ketika kita membaca kesusastraan yang hebat, ada sesuatu yang berubah di dalam diri kita, sesuatu yang memang tetap berubah. Kesusastraan menjadi material yang diingat untuk berpikir. Tidak ada seorang pun yang telah membaca The Death of Ivan Ilyich dengan baik akan menjadi sungguh-sungguh sama seperti semula.

Ketika kita belajar membaca fiksi, kita memperoleh semacam kesenangan dan kekayaan yang tidak akan pernah bisa kita hilangkan. Meski di satu sisi studi kesusastraan bukan kegiatan keseharian—beberapa orang membuat buku-buku mereka sebagai bacaan yang hidup—pada sisi yang lainnya studi kesusastraan hampir seperti kegiatan praktik, sama halnya seperti kita bernafas.

Rekam jejak kesusastraan dan perwujudannya selama berabad-abad dari pikiran dan perasaan manusia, mengawetkan bagi kita pikiran-pikiran manusia, yang hidup sebelum kita, manusia-manusia yang sama seperti kita dan juga tidak serupa dengan kita, yang dapat menentang siapa pun, yang bisa kita ukur berdasar pada kesamaan kemanusiaan dan perbedaan historis. Dan ketika kita membaca cerita-cerita dari orang-orang kontemporer, cerita-cerita itu menerangi dunia kita semua, dunia yang kita bagi.

Ketika kita membaca kesusastraan yang hebat, ada sesuatu yang berubah di dalam diri kita, sesuatu yang memang tetap berubah. Kesusastraan menjadi material yang diingat untuk berpikir. Tidak ada seorang pun yang telah membaca The Death of Ivan Ilyich dengan baik akan menjadi sungguh-sungguh sama seperti semula. Membaca menambahkan perangkat, yang dengannya kita mengobservasi, mengukur, dan menilai orang-orang dan kekayaan alam semesta, kita memahami perbuatan dan motif-motif orang lain dan diri kita sendiri.

Di dalam cerita fabel semut dan belalang, semut yang bijak membangun gudang bagi dirinya untuk menghadapi musim dingin dan dia berhasil dengan baik; belalang yang pandir tidak menyimpan apa-apa dan dia binasa. Siapa pun yang menampik studi kesusastraan dengan dasar bahwa itu tidak berfaedah—bagi ahli kimia atau pun seorang insinyur, bagi kepala tukang atau pun teknisi X-ray—jelas membebek sang belalang.

Ketika kita menutup hidup kita dari segala sesuatu, terkecuali makanan dan tempat bernaung, ada sebagian dari diri kita yang kelaparan sampai mati. Makanan untuk rasa kelaparan yang demikian itu adalah musik, lukisan, film, drama, sajak, cerita, dan novel.

Banyak tulisan di surat kabar, majalah, dan novel populer bukan merupakan kesusastraan, jika kita menyimpan kata tersebut bagi karya berkualitas tinggi. Pembacaan yang demikian itu memberikan kita sedikit makanan sebagaimana kebanyakan televisi dan makanan cepat saji. Selama musim dingin yang panjang dan musim panas yang enerjik, kita tentunya memerlukan makanan kesusastraan.

Baca Juga:

Membaca fiksi lama dan baru—membawa kita kepada karya-karya sastra Rusia abad sembilan belas, sastra Inggris kontemporer, Irlandia, terutama tukang cerita Amerika—kita bangun sebuah gudang ilmu pengetahuan dan kita mengentertain diri kita dengan sebaik-baiknya. Tetapi untuk memperoleh kesenangan dan pemahaman dari fiksi, kita harus belajar bagaimana cara membacanya. Tidak ada seorang pun yang berharap untuk mendatangi satu pun komputer dan memprogramnya tanpa terlebih dulu mempelajari sesuatu mengenai komputer tersebut. Untuk beberapa alas an—bisa jadi lantaran kita telah familiar dengan kata-kata dari masa kecil kita dan mengambil kata-kata tersebut dengan begitu saja—kita cenderung untuk berpikir bahwa pandangan yang cepat terhadap kata-kata yang telah ditulis mestilah memberikan ganjaran kepada kita dan bahwa jika kita tidak mendapatkan kepuasan yang instan, maka karya itu ada di luar kita, atau tidak layak, tidak relevan atau pun menjemukan. Tetapi di dalam seluruh kehidupan kita, di dalam keterampilan yang lain, kita membutuhkan instruksi dan latihan—untuk mampu menunggang sepeda, mengendarai mobil, bermain gitar, menembakkan bola ke dalam keranjang basket, mengetik dan berdansa.

Sampul Buku “Memikirkan Kata” Panduan Menulis Untuk Semua. Akan Terbit secara ekseklusif oleh Galeri Buku Jakarta, (Maret, 2019)

Pengetahuan yang kita peroleh dari kesusastraan dapat terlihat membingungkan. Terkadang karya-karya yang hebat bisa saling berkontradiksi di dalam penggeneralisasian dari apa yang bisa kita ambil dari karya-karya tersebut. Satu karya dapat merekomendasikan kesendirian, karya yang lain—pergaulan masyarakat. Satu karya bisa menyarankan kita untuk menangkap momen, karya yang lain—untuk menjalani kehidupan kontemplasi. Atau, dua orang pembaca dapat tidak bersepakat mengenai implikasi dari sebuah karya dan keduanya saling berbantahan dengan meyakinkan, dengan referensi yang detail terhadap tulisan, untuk memberikan dukungan pada interpretasi yang bertentangan. Karya fiksi yang kompleks tidak dapat direduksi menjadi bermakna simpel dan benar. Di dalam teks aritmatika yang elementer, jawaban bisa saja dicetak pada bagian belakang buku. Tetapi tidak ada jawaban yang dicetak di bagian belakang buku apa saja dari koleksi kesusastraan.

Ketidakjelasan dan kerawanan yang mudah terperosok dalam ambiguitas yang demikian mengganggu beberapa pembaca sastra. Setelah diskusi dalam forum-forum sastra mengenai cerita pendek sepanjang satu jam dengan beragam interpretasi yang ditawarkan, mereka, kita, ingin mengetahui: “Tetapi apakah artinya itu?” Kita harus mengakui bahwa kesusastraan bukanlah sesuatu yang eksak dan kebenarannya tidak gampang untuk diverifikasi. Kemungkinannya, sebuah cerita dapat memaksudkan beberapa hal dengan sekaligus, bukan hanya benar-benar satu hal saja. Masalah yang demikian ini tidak untuk dikatakan, tetapi, ini memaksudkan apa pun, yang di dalamnya bisa ditemukan oleh siapa pun. Meskipun pendapat berbeda dan secara adil dapat dipertahankan, hal itu merupakan sesuatu yang umum, tetapi kesalahan lebih umum terjadi. …

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading
Advertisement

Tabloids

Tentang Chekhov

mm

Published

on

Seseorang hanya perlu mengujarkan dua atau tiga kata, dan matanya akan menengadah melewati pince-nez dengan jalan yang benar dan cerdas. Begitulah Anton Chekhov…

Oleh: Ivan Bunin

1

Saya bertemu Chekhov di Moskow pada akhir tahun 1895. Saat itu kami hanya bertemu sejenak. Rasanya saya bahkan tidak akan membahas pertemuan itu kecuali karena ingatan pada obrolan ringan dan melompat-lompat tapi lalu terasa sangat penting.

“Apakah kau banyak menulis?” Ia bertanya kepada saya.

Saya menjawab bahwa saya menulis baru sedikit.

“Apa yang kau lakukan itu salah,” katanya, suara baritonnya yang dalam dan berat membersitkan udara yang hampir-hampir suram. “Kau harus bekerja, kau tahu—bekerja tanpa henti, pada sepanjang hidupmu.”

Chekhov terdiam. Kemudian, dengan tanpa hubungan yang jelas, obrolan yang acak, dia menambahkan: “Menurut saya, setelah seseorang menyelesaikan sebuah cerita, dia harus mencoret awal  dan akhirnya. Di sanalah kita, semua penulis, hampir selalu berbohong.”

Setelah pertukaran beberapa kata yang singkat itu, kami tidak bertemu lagi hingga musim semi 1899. Setelah datang ke Yalta untuk beberapa hari, saya pada suatu malam bertemu Chekhov, yang berjalan di sepanjang embankment, jalanan permanen di pinggiran laut.

“Mengapa kau tidak datang menemuiku?” katanya. “Kunjungi aku besok, jangan sampai tidak.”

“Jam berapakah?” tanya saya.

“Di pagi hari, sekitar pukul delapan.”

Melihat keterkejutan di wajah saya, dia menjelaskan, “aku bangun pagi-pagi.”

“Saya juga,” kata saya.

“Kalau begitu datanglah sesegera setelah kau bangun. Kita akan minum kopi. Apakah kau minum kopi? ”

“Setiap waktu.”

“Minumlah setiap hari. Itu adalah hal yang luar biasa. Setiap kali aku bekerja, aku hanya minum kopi dan bouillon (kaldu) sampai malam. Kopi di pagi hari, bouillon di tengah hari. Kalau tidak, aku tidak dapat bekerja sama sekali.”

Saya mengucapkan terima kasih atas undangan dan bagaimana ia mengajak. Kami berjalan di sepanjang embankment dalam keheningan; lalu kami duduk di sebuah bangku di sebuah square, taman publik yang tidak begitubesar.

“Apakah kau menyukai laut?” tanya saya.

“Ya,” jawabnya. “Tapi hanya ketika keadaan benar-benar sepi.”

“Saat itulah, memang yang sungguh baik,” saya setuju.

2

Anton Chekhov dan Ivan Bunin

“Dear Ivan (Bunin) Alekseyevich!” Chekhov menulis kepada saya pada tanggal 8 Januari 1904, ketika saya sedang berada di Nice. “Happy New Year! Every new happiness! Berikanlah salam dariku kepada matahari yang hangat dan lautan yang tenang. Hiduplah di dalam kesenangan yang sempurna, dan jalani penghiburan itu. Tidaklah perlu berpikiran mengenai ketidaksehatan, dan menulislah sedikit lebih sering bagi kawan-kawanmu. Tetap bahagialah dan tetap baik-baik sajalah, dan jangan kau lupakan kompatriot utara-mu, yang sedang bertemperamental dan menderita lantaran gangguan pencernaan dan depresi. Yours sincerely, Anton Chekhov.”

“Berikan rasa hormatku kepada matahari yang hangat, dan laut yang tenang.”

Saya ingat satu malam di awal musim semi. Malam itu sudah larut, tetapi mendadak saya dibuat menghampiri telepon. Saya mengambil gagang telepon dan mendengar suara berat Chekhov: “Manusia muda, dapatkan kereta kuda sewaan yang baik, datang dan jemput aku. Mari kita jalan-jalan ke suatu tempat.”

“Jalan-jalan? Malam hari begini?”kataku dengan terkejut. “Apa yang sedang terjadi, Anton Pavlovich?”

“Aku jatuh cinta.”

“Saya sangat senang mendengarnya, tetapi sudah lewat jam sepuluh. Dan Anda, Anton Pavlovich, mungkin saja, akan kedinginan. ”

“Manusia muda, berhentilah memberikan argumen!”

Saya kemudian sampai di Autka dalam hitungan sepuluh menit. Rumah, yang menjadi tempat Chekhov menghabiskan waktu musim dingin, hanya ditinggali bersama ibunya saja, dan seperti biasanya, dibekap oleh kesenyapan yang sangat senyap dan begitu gulita. Satu-satunya cahaya yang datang, berasal dari rekahan pintu kamar Yevgenia Yakovlevna, ibunya, juga dari dua lilin kecil yang menyala sayup di dalam ruang kerja Chekhov. Seperti biasanya, hatiku jadi berasa sakit kala melihat kamar kerjanya itu, yang sunyi, yang menjadi tempat bagi Chekhov untuk melewati banyak malam musim dingin yang lengang, yang mungkin dipenuhi dengan pikiran getir mengenai takdir, yang telah memberinya begitu banyak hal, tetapi yang juga mengejek kehidupannya.

3

Chekhov tiba-tiba berpaling kepada saya dan berkata, “Apakah kau mengetahui, berapa lamakah orang-orang akan terus membaca karya-karya saya? Tujuh tahun, sewaktu itu saja.”

“Mengapa juga hanya tujuh tahun?” tanya saya.

“Baiklah, jika demikian, tujuh setengah tahun.”

“Tidak,” kata saya kepadanya. “Persajakan Anda, Anton Pavlovich, bakal hidup lama dari setelahnya, dan semakin lama dia hidup, semakin dia jadi jauh lebih kuat lagi.”

Chekhov tidak mengatakan apa-apa, tetapi ketika kami duduk di atas sebuah bangku dan sekali lagi memandang ke lautan yang bercahaya oleh sinar bulan,

“Hari ini Anda kelihatan sedih, Anton Pavlovich,” kata saya. Wajahnya menyiratkan sesuatu yang baik, sederhana, megah, dan sedikit pucat lantaran terpaan sinar bulan.

Pada sepanjang waktu kami mengobrol, Chekhov memandang dengan mata yang merunduk dan dengan agak menekur meruyak kerikil-kerikil kecil dengan ujung ranting. Akan tetapi ketika saya mengatakan kepadanya bahwa dia kelihatan sedih, dia melemparkan pandangan kepada saya dan dengan berkelakar dia menjawab, “Kau yang bersedih, Ivan Alekseyevich, karena kau yang membuang uang untuk membayar tukang sais kereta kuda sewaan.”

Dia kemudian menambahkan dengan suara yang serius, “Tidak, orang-orang akan membaca karya-karya saya hanya selama kurun waktu tujuh tahun lagi, dan aku hanya memiliki waktu enam tahun saja untuk hidup. Akan tetapi tidak perlu juga mengatakan soal yang demikian ini kepada para juru berita di Odessa.”

Akan tetapi kali ini dia keliru: dia hidup lebih sedikit dari waktu yang dia perkirakan.

Chekhov wafat dengan tenang, tanpa penderitaan, di tengah-tengah keindahan dan kesenyapan fajar musim panas, waktu yang sangat dia cintai. Dan ketika dia wafat, ekspresi kebahagiaan muncul di wajahnya yang kelihatan jadi lebih muda. (*)

Jakarta, 6 April 2019

Ladinata, penerjemah ke dalam bahasa Indonesia

*) Selengkapnya dalam Buku “Memikirkan Kata”

yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta, 2019.

Continue Reading

Tabloids

Truman Capote Bertemu Idola

mm

Published

on

Dotson Rader | Truman Capote Meets an Idol

(p) Affan Firmansyah | (e) Sabiq Carebesth

Kemudian sesuatu terjadi, hal yang sering saya sadari dari Truman… dia akan bertemu seseorang, mengejek mereka, walaupun mereka tidak sadar, dan kemudian mereka akan mengatakan sesuatu yang mengungkapkan kerentanan. Sakit hati atau kekecewaan, dan tiba-tiba sikap Truman akan berubah. Salah satu alasan kenapa dia bisa akrab dengan banyak orang karena meraka cenderung terbuka di depannya, bukan bertahan. Saya rasa salah satu alasan kenapa dia benci kaum kaya karena—dengan pengecaualian beberapa taman baiknya seperti Babe—mereka tidak pernah terbuka dengannya, mereka tidak pernah rentan di depannya. Kecuali dia tau kerentanan anda, dia tidak akan pernah merasa aman ada di sekitar anda.

Truman adalah penggemar berat Jazz. adalah salah satu penyanyi favoritnya. Jadi saya menelepon Peggy yang juga teman saya, “Saya sedang bersama dengan Truman saat ini dan kami sangat ingin mengajak Anda untuk makan malam, apakah Anda ada waktu besok?”

Dia menjawab, “Ya, kenapa kalian tidak datang kesini untuk minum sekitar jam enam?” Tipikal LA, mereka makan seperti petani.

Dia mengirimkan mobilnya untuk menjemput kami. Rumah itu berada di Bel Air dan memiliki pintu depan yang sangat besar—salah satu dari rumah-rumah modern itu dengan banyak kaca dan batu. Ada masalah ketika membuka pintu jadi kami berdiri di depan pintu selama beberapa waktu. Kemudian kami masuk dan di situ terdapat ruang tamu terbesar yang pernah saya lihat dalam hidup saya dan juga sofa terpanjang.

Sofanya lebih panjang dari ruangan ini. Tipikal  rumah plafon dua lantai ala Hollywood. Peggy Lee bisa menekan tombol di sebuah konsol dan layar pun turun, proyektor menyala, hal-hal semacam itu.

Rumah itu luar biasa besar, dramatis, teatrikal seperti Hollywood. Di satu sisi ada pintu geser kaca besar berbatasan dengan tamannya. Peggy memakai gaun sifon putih yang sangat tipis. Peggy tidak terlalu sehat; dia bergerak dengan lambat karena dia membawa tabung oksigen. Truman melihatnya satu kali dan mengatakan “Ya Tuhan, saya berdiri di depan malaikat.” Dia menghampirinya. Peggy tidak beranjak. Truman mengambil tangan Peggy dan mencium satu jarinya. Peggy mengatakan, “Bisa saya mengambilkan minuman untuk anda?” Truman menjawab dia mau vodka, dan saya mengatakan mau minuman yang sama. Dia memanggil seorang laki-laki untuk mengambilkan minuman untuk kami. Truman terlihat kaget karena Peggy tidak menyimpan alkohol di rumahnya. Laki-laki tadi membawakan kami air Perrier. Itu membuat Truman kesal. Dia ingin minum. Peggy bertanya padanya, “Well, Truman, mau kah kamu melihat tamanku?” jadi dia menjawab, “Well, baiklah. Tunjukan tamannya, tapi setelah itu kami harus pergi.” Dia benar-benar ingin minum. Peggy berjalan menuju pintu geser kaca dan dia tidak bisa membukanya. Jadi Truman mengatakan, “Biar saya bantu.”

Jadi mereka, Peggy yang tidak terlalu stabil dan laki-laki bertubuh kecil ini menarik dan mendorong pintu dengan sedikit tendangan. Kami tidak pernah bisa membukanya. Jadi kami pergi ke Le Restaurant, yang merupakan salah satu restoran paling megah di Amerika, sangat populer di LA.

Hujan mulai turun. Hujannya sangat deras. Sesampainya di Le Restaurant, Truman dan Saya memesan minuman dan Peggy memesan sebotol air Evian, yang saya bayar $50 sebotol. Air botolan itu datang dengan wadah sampanye perak, ya kan? Kami mencoba berbicara di dalam ruangan dengan atap seng, jadi anda akan merasa seperti berada di garis depan di Perang Dunia I dan Jerman sedang menembaki anda dengan senapan mesin. Kami hampir tidak bisa mendengar apa-apa. Truman dan Peggy saling berteriak, mencoba mengobrol. Tiba-tiba Peggy mengatakan pada Truman, “Apakah anda percaya pada reinkarnasi?”

Truman menjawab, “Well, Saya tidak tahu. Apakah anda percaya?”

Dia mengatakan, “Oh, ya. saya sudah direinkarnasi beberapa kali. Di beberapa kehidupan saya sebelumnya saya adalah seorang pelacur, puteri, ratu Abyssinia…”

Truman seperti memandangnya dan mengatakan, “Well, bagaimana kamu tau semua ini?”

Dia Menjawab, “Saya bisa membuktikannya. Saya ingat menjadi pelacur di Yerusalem ketika Yesus masih hidup.”

Truman mengatakan, “Oh benarkah? apa lagi yang anda ingat?”

“Oh,” dia bilang, “Saya ingat penyaliban dengan jelas.”

Truman mengatakan, “Oh?”

Dia mengatakan, “Ya, saya tidak akan pernah lu

Peggy Lee

pa mengambil Jerusalem Times dan melihat judul Yesus Kristus Disalib.”

Disitu Peggy berdiri dan pergi ke kamar mandi dan Truman melihat saya dan mengatakan, “Dia benar-benar gila…” Anda harus ingat semua ini dilakukan dengan saling teriak karena tembakan senapan mesin itu.

Dia kembali dan dan mereka mulai berbicara soal penyanyi. Truman bertanya kapan dia memulainya. Kemudian sesuatu terjadi, hal yang sering saya sadari dari Truman… dia akan bertemu seseorang, mengejek mereka, walaupun mereka tidak sadar, dan kemudian mereka akan mengatakan sesuatu yang mengungkapkan kerentanan. Sakit hati atau kekecewaan, dan tiba-tiba sikap Truman akan berubah. Salah satu alasan kenapa dia bisa akrab dengan banyak orang karena meraka cenderung terbuka di depannya, bukan bertahan. Saya rasa salah satu alasan kenapa dia benci kaum kaya karena—dengan pengecaualian beberapa taman baiknya seperti Babe—mereka tidak pernah terbuka dengannya, mereka tidak pernah rentan di depannya. Kecuali dia tau kerentanan anda, dia tidak akan pernah merasa aman ada di sekitar anda.

Kemudian, ketika mereka sedang berbicara tentang penyanyi tahun 40-an dan Peggy mulai berbicara tentang ibunya yang bobotnya 360 pon dan biasa memukuli ayahnya sepanjang waktu, dan memukulinya juga. Ketika dia berumur 11 tahun, ibunya mengambil pisau daging dan menusukannya di bagian perut. Dia bilang bekas lukanya masih ada. Dia mulai menyanyi di umur 14 atau 15 di sebuah stasiun radio di Fargo, Dakota Utara, dan saya lupa siapa yang dengar, salah satu pemimpin grup musik, Jimmy atau Tommy Dorsey, yang kemudian membawanya ke Chicago untuk tampil di Pump Room di Ambassador East. Dia tiba beberapa hari lebih awal dengan teman perempuannya. Mereka hanya memiliki sedikit uang; dia takut dengan kota itu. Mereka menginap di sebuah motel. Dia sangat naif sampai tidak tahu bahwa tempat busuk yang mereka inapi adalah rumah bordil. Dia bilang, “Semua gadis yang dilukis itu turun naik sepanjang waktu dan tidak pernah terpikirkan oleh saya orang-orang itu melakukan hal semacam itu.”

Ketika mereka muncul di Ambassador East, Tuan Dorset menempatkan mereka di sebuah kamar hotel. Selama seminggu, sampai dia mendapatkan bayaran pertamanya, dia dan teman perempuannya akan bangun sampai sekitar jam sebelas atau dua belas malam sampai orang-orang meletakkan baki layanan kamar hotelnya di luar kamar, jadi mereka bisa mengumpulkan roti dan menteganya. Mereka tidak tahu kalau mereka bisa meminta layanan kamar.

Kisah ini menyentuh Truman. Dia tiba-tiba menjadi sangat protektif terhadapnya. Sikapnya berubah total dan dia bertanya apakah Peggy ingin menyanyikan sesuatu.

Disini kita berada di restoran yang tagihannya tiga ratus lima puluh dan beberapa dollar hanya untuk semua air sialan ini. Truman dan Peggy Lee duduk selama tiga puluh atau empat puluh menit betul-betul tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, bernyanyi. “Bye-Bye Blackbird,” “I’ll Be Seeing You,” dan lagu-lagu lama lain seperti ini. Sampai di mobil mereka masih membicarakan musik dan sesekali mereka berdua mulai bernyanyi. Itu adalah malam yang sangat indah. (AF)

Continue Reading

Tabloids

Inspirasi Rahasia Gabriel Garcia Marquez Akhirnya Mengungkapkan Dirinya

mm

Published

on

Itulah saat De Faria menyadari tentang siapa dia. “Aku memandangnya dan berteriak, aku mengatakan: “Aku tahu siapa kau. Kau adalah Gabriel Garcia Marquez! Ibuku memberiku Love in The Time of Cholera, dan ada gambarmu disana! Kenapa kau tidak mengatakan itu adalah kau?”

Gabriel Garcia Marquez percaya bahwa pertemuan yang paling singkat sekali pun mempunyai daya untuk mengubah kita. Hidup di Paris pada akhir 1950an, dia mendapati Ernest Hemingway dan tanpa berpikir panjang dia berseru “Emming-way!”. Orang Amerika itu tidak menoleh, hanya mengangkat tangannya. Akan tetapi penulis muda Kolombia itu menginterpretasikan gestur tesebut sebagai sebuah berkat, sebuah persetujuan untuk melangkah terus, dan pada akhirnya Gabo memberikan kita novel-novel paling berjaya yang akan terus demikian untuk berabad ke depan.

Salah satu tema karya Marquez adalah cinta pada pandangan pertama: “Cinta adalah subjek yang paling penting dalam sejarah manusia. Sebagian mengatakan kematian. Aku kira bukan itu, karena semuanya terhubung dengan cinta.” Meski demikian, Gabo terhadap kisah romantisnya sendiri dia memilih membisu.

Dia mengatakan kepada penulis biografinya Gerald Martin “dengan ekspresi bagaikan seseorang yang dengan seriusnya menutup rapat peti mati dia mengatakan “setiap orang mempunyai tiga kehdupan: kehidupan publik, kehidupan pribadi, dan kehidupan rahasia.” Saat Martin bertanya apakah Marquez akan memberinya akses pada dua kehidupan lainnya, dia menjawab: “Tidak, tak akan pernah.” Bilamana kehidupan rahasianya dapat ditemukan, dia mengisyaratkan, mereka berada di dalam buku-bukunya.

Inilah mengapa pertemuan singkat yang tergambar dalam koleksinya Strange Pilgrims layak ditilik kembali. Cerita “Putri Tidur dan Pesawat Terbang”—tentang sebuah pertemuan di Paris antara sang penulis dengan seorang perempuan Amerika Latin yang pada penghujung hari menjelma menjadi inspirasinya.

Cerita “Putri Tidur dan Pesawat Terbang” dimulai dengan deskripsi tak terlupakan berikut: “Dia seorang yang cantik dan luwes dengan kulit indah sewarna roti dan bermata hijau serupa almon, dan dia memiliki rambut hitam lurus hingga mencapai bahu, dan sebuah aura antik yang mungkin saja berasal dari Indonesia atau dari Andean. Dia berpakaian dengan gaya yang halus: sebuah jaket lynx, blus sutra kasar dengan bunga-bunga indah, celana linen alami, dan sepatu dengan segaris berwarna bogenvil. Aku berpikir, ‘Ini adalah perempuan tercantik yang pernah kutemui, ’ketika aku melihatnya berlalu dengan langkah hati-hati serupa seekor singa betina selagi kumenunggu di antrian check-in bandara Charles de Gaulle di Paris untuk penerbangan ke New York.”

Saya ingat membaca paragraf ini di tahun 1992 ketika bukunya diterbitkan dan saya diterpa pikiran yang mungkin sama dengan banyak orang lainnya, bahwa saya pun tak akan keberatan bertemu dengan kessempurnaan ini. Diluar dari yang lainnya, dia adalah penjelmaan dari setiap pahlawan wanita Marquez, tipe yang independen, tajam, namun sebenarnya perempuan tak berdosa yang kita temukan menyelinap dalam setiap karya fiksinya, bahkan dalam lembar-lembar novel terakhirnya Memories of My Melancholy Whores.

Lalu, pada musim panas tak lama setelah kematian Marquez, saya menerima sebuah surel dari seorang wanita yang tinggal di London. Dia tahu bahwa saya penggemar Marquez—dia telah membaca catatan pembuka yang saya tulis untuk Love in the Time of Cholera. Dia ingin menceritakan kepada saya tentang satu hari yang dia habiskan bersama sang pengarang dari Kolombia itu pada tahun 1990 di bandara Charles de Gaulle: Pengalaman yang dia percaya telah mengilhami “Putri Tidur dan Pesawat Terbang”.

Pada musim semi tahun 1990, Marquez yang berusia 63 tahun kembali ke Paris setelah lama menghilang. Dia telah mengerjakan kumpulan cerita pendek yang berlatar di Eropa sejak tahun 1976 tentang hal-hal aneh yang menimpa orang-orang Amerika Latin disana—yang menjadi satu-satunya buku karangannya yang tidak berlatar Amerika Latin. Ide ini bermula dari sebuah mimpi yang ia dapatkan di Barcelona pada tahun 1970an dimana dia menghadiri pemakamannya sendiri.

Itu adalah kesempatan yang indah, dia menghabiskan waktu dengan teman-teman yang tidak pernah dia temui selama 15 tahun, tetapi saat semuanya hendak beranjak pergi, dia diberitahu bahwa hanya dialah satu-satunya orang yang tidak boleh pergi.Kisah ini mengeksplorasi tema penting lain dari karya-karya fiksi Marquez-yang liyan dalam diri kita sendiri—dan dia bermaksud menjadikannya bagian ketiga dari Strange Pilgrims. Dalam setiap kesempatan, dia tak pernah menulisnya, dan tempatnya akan digantikan dengan “Putri Tidur dan Pesawat Terbang.”

Marquez menorehkan mimpi di Barcelona dan beberapa ide lainnya dalam buku catatan anak-anaknya selama masa 1976 sampai dengan tahun 1982, saat dia berjanji untuk tidak menerbitkan apapun sebelum Pinochet jatuh dari kekuasaan, dan kini setelah sekian lama bermain-main dan menderita karena “keraguan selama sebelas tahun… Aku ingin memverifikasi ketepatan dari ingatanku setelah 20 tahun dan aku melakukan perjalanan singkat untuk membiasakan lagi diriku dengan Barcelona, Jenewa, Roma, dan Paris.”

Pada penghujung perjalanan itu, di awal Oktober 1990, dia sedang menunggu di bandara Charles de Gaulle untuk terbang ke New York ketika seorang perempuan Brazil yang menggairahkan berusia 26 tahun duduk di sebelahnya.

Bertemu Sang Putri Tidur

Hari itu akhirnya terjadi, di sebuah kafe di gerbang Notting Hale, perempuan yang datang terlambat ini adalah seorang nenek berusia 50 tahun yang tinggal di London, Silvana de Faria. Dari dalam tas tangannya Silvana de Faria mengeluarkan sebuah paspor dan gambar-gambar dirinya di majalah-majalah Prancis, sepenuhnya menyanjungkan deskripsi kecantikan dirinya. Dia mengatakan “Pada saat itu aku seorang aktris”, “Aku adalah ratu kejanggalan, dan salah satunya saat bersama dia.”

De Faria saat itu hidup tak bahagia di dekat Paris dengan seorang sutradara film Prancis, Gilles Behat yang dengannya dia mempunya seorang anak perempuan berusia 7 bulan. Behat ternyata menyadari bahwa De Faria sangat tidak bahagia sehingga dia membiayai kedua orangtuanya untuk datang berkunjung dari Belem.

Pukul 9 pagi perempuan itu tiba di bandara untuk menunggu penerbangan dari Brazil. Saat itu bulan terasa dingin pada pagi di bulan Oktober dan perempuan itu telah kehilangan berat badan paska kehamilannya. “Aku sangat kurus saat itu—126 pon—dan aku khawatir dengan caraku berpakaian. Ibuku selalu mengkritikku karena bergaya terlalu provokatif… Itulah mengapa aku mengingat apa yang aku kenakan hari itu. Aku mengenakan sebuah jaket kulit, sebuah blus Kenzo berbunga-bunga, celana linen yang pucat, dan sepatu Kenzo berwarna merah dengan hak tipis-beberapa waktu kemudian aku memberikan semuanya ke lembaga amal Oxfam.

Tidak seperti biasanya, saat itu De Faria datang tepat waktu.  Dia berkata, “Aku berlari dan pergi menuju loket Air France untuk menanyakan penerbangannya.” Sebagaimana di dalam cerita, penerbangannya mengalami penundaan disebabkan cuaca buruk. “Sekarang aku bisa santai. Baru kemudian aku sadar bandara itu penuh dengan manusia. Banyak yang tidur di atas lantai. Tidak ada tempat duduk dimana-mana- hanya ada satu dan aku duduk di atasnya. Aku bersyukur, aku menemukan satu-satunya tempat duduk di bandara!”.

Saat itulah perempuan itu menyadari seorang laki-laki yang duduk disebelahnya, berusia sekitar 60 tahun, penampilannya menarik, elegan dalam balutan jaket wol, dengan rambut dan kumis yang tersisir rapi. “Laki-laki itu berkata, ‘Hallo’. Dia memiliki senyum yang sangat indah. Aku terobsesi dengan gigi. Hal pertama yang aku lihat adalah giginya. Giginya putih dan sempurna. Aku dapat mencium nafasnya yang segar karena tempat duduk kami berdekatan.”

“’Hai,’ Aku menjawab.

“Dia melihat ke arahku, mempesona, malu-malu, dan menggoda. ‘Apa kau menunggu untuk perjalanan?’ dia bertanya dalam bahasa Prancis.

“‘Tidak, aku sedang menunggu orangtuaku.’

“‘Darimana kau berasal?’

“‘Acre di Brazil.

“‘Apakah itu dekat dengan Andes?’

“‘Tidak, itu di Amazon.’

“Dia sangat tersentuh bertemu dengan seorang asli Amerika Latin di Paris, yang lahir di hutan Amazon. Aku mengatakan: ‘Jika kau lahir di hutan, kau dapat bertahan dimanapun. Hidup di kota modern hanyalah jenis lain dari hutan.’ Lalu aku berkata: ‘Dan kau, apakah kau akan melakukan perjalanan atau kau sedang menunggu seseorang?’

“Dia tidak menjawab dan aku menghargai itu. Aku berpikir: Dia orang yang privat.

Aku memintanya untuk menjaga tas, sementara aku membeli air mineral. “Saat aku kembali, aku menenggak sebuah pil, dan aku berkelakar bahwa aku seperti Elvis Presley dan aku menunjukkan pil-pilku, berkata betapa indah dan berwarnanya, mereka adalah… Pil untuk tidur, pil untuk terjaga, pil penghilang berat badan, pil untuk menaikkan berat badan, pil untuk bercinta, pil agar buang air besar, pil agar tidak buang air besar.

Dia tersenyum, “‘Mengapa begitu banyak?’

“Aku menceritakan padanya tentang sebuah kecelakaan mobil dimana aku hampir terbunuh, dan bagaimana dokterku memberikan obat-obatan untuk ‘menenangkanku’ dan bagaimana aku menjadi kecanduan, tapi aku hendak berhenti meminum pil-pilku karena orangtuaku datang untuk tinggal bersamaku. Lalu dia bertanya kenapa aku tinggal di Paris. Aku menjawab, ‘Kami orang Amerika Latin hanya bisa tinggal di Prancis ketika kami jatuh cinta.’

“Jatuh cinta pada Prancis?”

“Bukan, cinta pada pandangan pertama. Aku percaya itulah satu-satunya cinta yang ada.’ Inilah yang dia tulis di dalam cerita! Dia menghisap kata-kataku. [Di dalam cerita Marquez bertanya kepada petugas check-in “apakah dia percaya pada cinta pada pandangan pertama.”] Saat aku membacanya, aku bergidik. ‘Kau tidak orisinil. Kau sama saja dengan semua penulis. Kau adalah seorang vampir!’

“Dia menanyakan apa pekerjaanku. Aku sadar bahwa dia memandangi rambutku, wajahku, tangan-tangan, dan tubuhku. Kukira dia akan mencoba membawaku makan malam dan ke tempat tidur. Aku sangat mencurigai laki-laki. Kau minum kopi bersama, lalu mereka berkata bahwa dia jatuh cinta padamu. Bagaimana kau bisa jatuh cinta padaku jika kita hanya sebatas meminum kopi?

Aku katakan padanya: “Kau pikir hanya karena aku seorang Brazil, aku adalah seorang pelacur di Bois de Bologne”—Aku paranoid tentang hal semacam ini karena pada waktu itu seseorang dari Brazil yang tinggal di Paris tidak mungkin seorang pelajar.

“Aku tidak mengatakan begitu!”

“Tapi kau memikirkannya. Aku bisa membaca pikiranmu.“

*

Perempuan itu mengatakan padanya bahwa dia seorang aktris dan penyanyi, dan dia merasa dilema karena tidak menginginkan keduanya. “Aku ingin menjadi pelajar, tapi aku menemukan diriku di tengah-tengan bisnis pertunjukkan. Sesungguhnya aku tidak bisa bernyanyi, tapi orang-orang mengatakan aku bisa. Mereka berpikir aku aktris yang baik. Tapi aku bukan.”

Dia bertanya apakah perempuan itu mengenal Ruy Guerra, seorang sutradara Brazil.

Perempuan itu menjawab: “Aku baru saja menonton filmnya yang diambil dari cerita karangan Gabriel Garcia Marquez. “Judulnya The Beautiful Pigeon Fancier, salah satu dari tiga film dari karya Marquez. “Aku satu-satunya orang di ruangan bioskop saat itu, sangat mengejutkan, di dalam sebuah ruangan di Champs Elysees pukul 2 sore dan aku membencinya.”

“Dia mendengarkan dengan penuh perhatian dan terlihat sedikit tidak nyaman, dan aku tak tahu mengapa. Aku berkata: ‘Lihatlah, filmnya dibuat di Paraty, sebuah tempat yang aku kenal. Lagipula, tidak mungkin untuk mengadaptasi karya Gabriel Garicia Marquez ke dalam sebuah film. Itu akan membutuhkan kejeniusan lain. Maaf jika kau tidak setuju denganku.’ “

Ketertarikannya pada De Faria meningkat dengan cepat. Perempuan itu berkata: “Awalnya aku mengira dia berpikir bahwa aku gila. Lalu dia ingin tahu darimana aku berasal, tentang keluargaku, dan aku menceritakan semua omong kosong yang ingin dia dengar.”

Silvana yang Sesungguhnya

Di dalam cerita Marquez tidak ada percakapan antara dirinya dan perempuan muda berciri khas Andean kuno itu, yang berpakaian bergaya Jepang dan tentang obat-obatan yang dia minum untuk membuatnya tertidur, dan yang ternyata akan menduduki kursi disebelahnya dalam delapan jam penerbangan sebelum perempuan itu menghilang di belantara New York.

Namun, dalam dimensi lain Marquez tahu semuanya tentang perempuan itu karena sebelum penerbangannya dari pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore mereka berbicara tanpa henti, “tetap menjaga kontak mata”, perempuan itu mengatakan, “yang mana penting bagiku.” Dan apa yang Silvana de Faria ungkapkan padanya selama itu, tanpa menyadari identitas sang pengarang hingga saat-saat terakhir, adalah sebuah jaring yang memaksanya menulis tentang perempuan itu.

“Kupikir alasan mengapa dia dan aku menjadi banyak berbicara dan menjadi ‘dekat’ hari itu karena aku memberikan semua yang dia inginkan. Aku menjawab semua pertanyaan. Tanpa batasan.”

Perempuan itu lahir di Rio Branco, Acre, dia anak bungsu dari 10 bersaudara. Keluarga dari kedua orangtuanya berprofesi sebagai penanam karet. “Mereka menjadi kaya, kaya hingga mati. Pakaian mereka dicuci di Eropa karena sungainya terlalu gelap.”

Impiannya sejak berusia 7 tahun adalah pergi ke Paris. “Aku sadar satu-satunya jalan menuju Paris adalah melalui udara. Aku belajar tentang hukum di Belem dan kemudian mencari pekerjaan. Aku mendapatkan pekerjaan di Varig, sebuah kantor penerbangan. Di penghujung tahun aku dapat membeli tiket seharga 10 persen dari harga aslinya. Lalu suatu hari aku mendapat telepon, ‘Aku adalah sekretarisnya John Boorman.’

“Siapa dia?”

“‘Dia seorang sutradara film yang sangat terkenal. Asistennya datang untuk membeli tiket padamu. Dia sedang mencari perempuan dengan wajah sepertimu.’ Dia sedang melakukan pengambilan gambar The Emerald Forest. Tapi pada hari terakhir dia berubah pikiran dan mengambil gadis lain, dan aku membenci gadis ini hingga akhir hidupku, hingga aku mempunyai oksigen. Aku tidak ingin menjadi aktris. Aku mengiginkan uang. Aku menangis.

“John Boorman mengatakan: Kenapa kau menginginkan peran ini?’ ‘Karena aku ingin pergi ke Paris.’ ‘Mengapa?’ ‘Untuk belajar.’ ‘Baiklah, aku akan memberikanmu peran kecil di film ini.’ Aku berada di dalam film itu selama sekejap saja, seorang ibu tulen dengan bayinya. Pada 11 Juli 1984 filmnya selesai. Pada 14 Juli 1984 hari dimana revolusi Prancis terjadi aku menginjakkan kakiku di Paris, Vive la revolution!”

Mendapatkan kursi di Sorborne untuk belajar sejarah, De Faria menjadi model untuk bisa membiayai hidupnya. Suatu hari dia ditemukan oleh pencari bakat untuk Yves Saint Laurent—dia mempunyai tampilan yang pas untuk penjualan ke Jepang. Apakah dia bisa bernyanyi? “Seperti panci penekan,” perempuan itu menjawab. Dia diundang untuk mengikuti audisi dengan ratusan orang lainnya. “Aku berhasil! Tapi aku bukan seorang penyanyi! Aku melakukan rekaman untuk Coeur Bongo. Kau bisa menontonnya di Youtube.” Direkam pada tahun 1988, Couer Bongo menampilkan De Faria sebagai singa betina kecil dalam cerita Marquez. Dia menandatangani kontrak untuk membuat lima album pop, dilatih untuk berakting, dan berhenti kuliah.

“Aku tidak pernah lulus dari Sorbornne. Itu adalah hal yang menyakitkan dalam hidupku.”

Ditambah dia bertemu Giles Behat. Sutradara film itu mendatangi mobil manajernya di mana dia duduk untuk mendengarkan sebuah soundtrack. “Kami memandang satu sama lain dan kami jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama!”

Hubungan mereka dipenuhi dengan kekerasan dan gairah. “Kami bertengkar parah karena cemburu.” Setelah dua tahun mereka pindah ke rumah yang lebih besar di Richarville sekitar 25 mil dari Paris dengan 12 anjing dan seekor burung beo karena De Faria merindukan Amazon. “Dia memberiku seekor burung beo dan menamainya—Antoine. Teman-temanku mengatakan: ‘Burung beo bukanlah Amazon, beo itu adalah kau. Kau tinggal di dalam sangkar.’ Itulah saat aku mulai bermain dengan obat-obatan.”

Perempuan itu menceritakan semua hal ini kepada Marquez.

Cinta pada Pandangan Pertama

“Setelah satu atau dua jam terasa seperti kami berada di sekolah dasar bersama, mencampurkan Portugis dengan Prancis dan Spanyol. Kami bercengkrama, membuat lelucon, tertawa. Saat itu aku tidak melihat seorang laki-laki tua.”

Bagi Marquez ini terlihat dalam tulisannya kemudian—”dalam delapan bulan yang menggetarkan… untuk menyelesaikan satu volume cerita yang paling mendekati dengan apa yang paling ingin kutulis”—dia melihat, seperti yang ditulisnya, “perempuan tercantik yang pernah kutemui’.

De Faria mengatakan, “Aku terkejut dan aku masih terus terkejut bahwa aku dapat mengingat percakapan kami.”

Cinta pada pandangan pertama, gairah, dan kebetulan-kebetulan, bioskop, nilai-nilai keluarga, Paris, bahkan zodiak-dalam tujuh jam, itu menjangkau seluruhnya. “Aku katakan padanya aku berbintang Leo dengan pengaruh Taurus. Itulah mengapa aku cukup kuat untuk berjuang hidup di Paris. Dia mengatakan terkadang dia berharap bahwa dia berbintang Taurus. Dan dia mengatakan itu di dalam ceritanya!” [“Sial,” Aku katakan pada diriku sendiri dengan penuh kehinaan. “Kenapa aku tak terlahir Taurus?”] Dia sendiri berbintang Pisces. “Aku mengatakan Pisces selalu bermimpi, selalu dalam suasana imaginasi, selalu berenang—dan aku membuat mulut menyerupai ikan yang membuatnya tertawa.”

Saat itu pukul 4 sore, “Aku merasa khawatir dengan penerbangan orangtuaku. Bagaimana jika pesawatnya menghilang? Kami mulai berbicara tentang kematian, tentang orang-orang yang sudah mati.

“Dia bertanya: ‘Apa yang kau pikirkan akan terjadi ketika kau mati?’

“‘Aku akan menjadi hantu, bebas, dan aku akan datang dan menakutimu. Tapi kenapa sejak awal kau hanya bertanya tentangku?’

“Dia mengatakan: ‘Apa yang kau pikirkan tentangku, dan kenapa aku bepergian?’”

“Setahuku kau tengah berjalan-jalan ditubuhku, tapi aku tidak tahu di mana kau akan berhenti.’ Dia tertawa: ‘Aku terkejut dengan ketulusan yang datang dari mulutmu!”

Aku mengatakan, “Setidaknya aku tidak takut pada kata-kata”

“Aku seorang jurnalis.”

“Surat kabar yang mana?”

“Aku tidak bekerja untuk surat kabar.“

Itulah saat De Faria menyadari tentang siapa dia. “Aku memandangnya dan berteriak, aku mengatakan: “Aku tahu siapa kau. Kau adalah Gabriel Garcia Marquez! Ibuku memberiku Love in The Time of Cholera, dan ada gambarmu disana! Kenapa kau tidak mengatakan itu adalah kau?”

“Bagaimana gambarnya?”

“Laki-laki! Kalian semua sama. Semuanya adalah kesombongan.”

“Aku merasa malu, sedih dan terkhianati. Aku sadar itulah mengapa dia tidak ingin berbicara tentang dirinya—karena dia tidak mengatakan satu patah kata pun, bahkan ketika kami berbicara tentang Ruy Guerra dan filmnya. Dia tidak mengatakan, ‘Aku menulis cerita dan naskahnya.’ Aku merasa bingung dan ingin pergi.”

Pesawatnya telah mendarat, orangtuaku tiba. ‘Aku harus pergi.’ Tetapi dia menangkap lenganku dengan kuat dan menghentikanku. Dia meminta Filofax-ku dan menulis di dalamnya.

“’Untukmu, aku Gabo. Ini alamat, telepon, dan fax-ku.’”

Perempuan itu mengulur sebuah lembaran dari dalam tasnya dan disana dalam tinta merah: GABO. MEX. Fax 5686043 Tel 5682947. Ap Postal 20736. Mexico, 01000

“Dia mengatakan: ‘Kirimi aku surat,’ sambil melihat langsung ke dalam mataku.

“Aku harus pergi!”

“Kau akan mengirimkannya kan?” Kemudian berkata: “Aku bahkan tak tahu siapa namamu!”

“Apakah kau memberi tahu namamu? Kita menghabiskan sepanjang waktu ini bersama, kita kenal satu sama lain-dan kita tidak tahu nama masing-masing. Dan aku pergi.”

Setelah itu, De Faria mengatakan, dia langsung melupakannya. “Aku kehilangan kepercayaan dalam cara tertentu. Aku tidak pernah membaca bukunya lagi. Aku tidak pernah berhasrat untuk menelponnya atau menyuratinya.

“Lalu ketika dia meninggal, Aku menemukan cerita tentang bandara ini.”

“Dan saat kau membacanya?”aku bertanya.

“Aku merasakan intonasi dan suaranya. Aku mempunyai perasaan bahwa dia melihat ke arahku, menatap. Aku merasakannya untuk beberapa menit, dia memberiku sebuah pesan.” (*)

*) Diterjemahkan oleh Marlina Sopiana, dieditori Sabiq Carebesth dari “Gabriel García Márquez’s Secret Muse Finally Reveals Herself” By Nicholas Shakespeare. Pertama kali tayang di laman newsweek.

 

Continue Reading

Trending