Connect with us

Buku

Memasukkan Karya ke Dalam Zamannya

mm

Published

on

Oleh : Sabiq Carebesth*

Sejak kapan seorang di sebut sebagai seniman? Tentu saja setiap orang (dan setiap seniman) boleh turut menjawab sesuai dengan kadar horizon pengalamannya atas realitas diri dan realitas kehidupan-seni masing-masing. Demikian karenanya tulisan ini tidak berpretensi untuk memberikan jawaban baku atas pertanyaan itu. Karena toh memang tidak akan bisa—inspirasi—yang menjiwai kesenian hendak di institusikan dalam kebakuan.

Hal yang pasti layak kita renungkan salah satunya adalah gagasan Albert Camus tentang kesenian. Menurutnya, “seni bukanlah penolakan total bukan pula penerimaan total terhadap sesuatu seperti apa adanya.” Yang pertama dimaksud Camus sebagai rujukan pada pengertian “Nihilisme”, sedangkan yang kedua pada pengertian atas “realisme” kalau tidak boleh menyebut konsep “mimesis” Aristoteles yang acap kali diintrpretasi sebagai semata-mata “meniru yang di alam riil” tanpa menyertakan pengertian reintrepretasi dan konfrontasi seperti pernah dibicarakan Umar Kayam atau YB. Mangunwijaya.”Usaha meniru adalah usaha reintrepretasi, semakin kompleks akan semakin baik dalam usahanya memahami.”

Lantas apakah yang diinginkan Camus bagi seni (dan kebebasan) zaman kita? ”Tidak perlu menentukan, apakah seni harus lari dari realitas atau tunduk pada realitas, melainkan berapa dosis realitas yang harus di ambil karya seni sebagai pemberat agar tidak mengapung di antara awan-awan atau supaya tidak terseret di dasar bersama sepatu pemberat.” (Albert Camus, Perlawanan, Pemberontakan, Kematian. Hlm. 336) frasa itu lama dan tentu tentang perdebatan lama terkait apakah seni untuk seni atau seni untuk propaganda sebagaimana kita telah lama pula mendengarnya, tetapi terus aktual di zaman kita sekarang?

Dalam pernyataan Camus di atas terkandung dengan jelas paham absurditas sekaligus pemberontakan; suatu yang pada dasarnya berkelindan dalam ambiguitas Camus, bahwa seni sekaligus merupakan penolakan dan penerimaan, resepsi dan sekaligus paralogi (meminjam istilah Jean Francois Lyotard) imaji ideal manusia dengan realitas historis yang berlangsung dialekstis; dan inilah sebabnya mengapa seni harus merupakan aksi menjauh yang terus menerus diperbarui. Seniman senantiasa hidup dalam abiguitas; yang tidak mampu menegasikan yang riil, namun terus menerus mempertanyakan dalam aspek-aspeknya yang tidak pernah selesai.

Konskuensinya, gaya yang agung terletak antara seniman dan objeknya. Setiap seniman memecahkan masalah ini menurut hemat sendiri dan kemampuannya. Semakin besar seorang seniman memberontak melawan realitas dunia, semakin besar bobot realitas untuk mengimbangi pemberontakkan itu, sekaligus penindasannya yang berlangsung dengan konstan. Namun, bobot itu tidak pernah melumpuhkan kebutuhan soliter seniman. Itulah pandangan Camus atas persoalan relitas, imaji dan seni kita, kiranya masih pantas ditimbang zaman kita kini yang makin memberi batas-batas (politis) sekaligus kerap mengabaikan batas (moralitas).

 “Realitas Imaji dan Seni Kita”

Juru jagal yang senantiasa menjadi ancaman bagi dunia kasusatraan, atau yang Jean Paul Sarte menyebutnya “seni menulis”, dalam renungannya pada tahun 1947 mengatakan bahwa seni menulis terancam oleh dua bahaya: propaganda dan hiburan. “Seandainya dunia menulis terbawa menjadi propaganda belaka, atau hiburan semata, maka masyarakat akan kembali hidup tanpa ingatan bak lebah atau siput.” Tulisnya dalam situation de la literature (1947).

Daniele Sallanave, seorang guru sastra dan film Universitas Nanterre dalam esainya yang berjudul “Dunia Kita” memberikan suatu penalaran yang mempermudah kita memahami ancaman yang dimaksud Sarte. Menurut Daniele Sallanave, tentang seni propaganda, kita tahu banyak melalui rezim otoriter yang sepanjang abad ini, dengan tekad dan tekun mengekang semua jenis fiksi dan narasi, dan mengintimidasi para pengarang, atau menumpasnya begitu saja. Apa yang menimpa Pramodya Ananta Toer dan karyanya adalah contoh yang dekat dan nyata dalam hal ini.

Tentang hiburan semata, seni untuk seni, kita tahu lebih banyak ketimbang Sarte, atau Pram, sebabnya, zaman kita ini ditandai secara mencolok oleh suatu kemerosotan seni kearah budaya mengisi keisengan, kekenesan sindiran-sindiran dan hiburan, hampir seluruhnya kearah komoditas—dengan mempromosikan buku-buku pelarap (best seller) bikinan misalnya. Dengan kata lain, seni makin tunduk pada hukum konsumsi. Jika ada yang mengatakan dibandingkan dengan seni rupa dan perfilman, kasusatraan sedikit banyak berhasil lolos, saya kira itu lebih karena factor investasi (uang modal) dibidang sastra relative rendah, lain cerita jika mata modal melirik dunia literasi kita. Karena celakanya, dengan ironis, minimnya aliran modal dalam dunia literasi kita juga dibarengi dengan suatu ralitas minimnya apresiasi (kepedulian dan minat) orang terhadap sastra. Jumlah pembaca karya sastra (pembaca yang oleh NH. Dini disebut sebagai yang mau melesat kedalam dunia pengarang dan meninggalkan dunianya sendiri,) mandek atau bahkan menurun. Sementara produksi sastra yang bisa dikatakan mengalami peningkatan—di antara indikasi semakin banyak bermunculannya penulis—tetap menyimpan ironisme dengan kenyataan produksi sastra yang lahir masih cenderung mempergunakan jenis dan topik narasi yang sudah usang. Ujung-ujungnya,–hiburan massal—beralih ke film atau bahkan sinetron.

Pada akhir 70-an Mario Vargas Llosa menyebut fenomena tersebut sebagai pesta pora tanpa akhir, yaitu konfrontasi yang mandul antara kasusastraan hiper formalis yang berasal dari Noeveau Roman di satu pihak, dan kasusastraan yang bersifat pelampiasan, yang dipandu oleh kitsch, hiasan, kecantikan dan hiburan dipihak lain. Karena realitas itu, tepat rasanya kalimat Sarte sampai tahun terakhir ini: “kalau menjadi propaganda belaka atau hiburan semata, kasusastraan akan membiarkan manusia diserbu segala jenis penaklukan.” Mengerikan?

***

Pertanyaanya: di dalam dunia yang semakin seragam ini, bagaimana kasusastraan dapat menempatkan diri, berkembang dan memberi sumbangsih untuk mewujudkan kebebasan kita? Aplagi di zaman kita sekarang di mana dominasi mesin, kabel dan teknologi dalam dunia digital makin menguasai manusia tanpa manusia sendiri mampu merumuskan pemberontakan yang efektif?  Kalau demikian, jawaban atas pertanyaan itu mengandung konskuensi untuk menjawab pertanyaan sumbernya: apa itu Seni? Ya, jawabannya memang tidak sederhana. Apalagi di tengah kecenderungan zaman kita untuk menyederhanakan segala sesuatu—sekedar demi kepantasan dan dianggap logis—sekaligus cepat dan untuk terus terhubung?

Ketidaksederhanaan tentang apa itu seni disebabkan karena seniman ada bersama karya seninya, yang karya seni menjadi bukan apa-apa tanpa realitas dan tanpa seni. Realitas menjadi tidak siginifikan; itulah ambiguitas, konfrontasi dan paradoks bagi realitas, imaji dan seni kita—yang sekali lagi tidak sederhana apalagi untuk disederhanakan.

Seniman menjadi subjek dari realitas yang dipilihnya, juga seniman menjadi objek bagi realitas yang telah memilihnya. Itulah seni dalam dialektika historisnya yang terus menerus beserta aspek-aspeknya yang tidak pernah selesai—barangkali bisa kita nyatakan sebagai “harapan zaman”?

“Demikianlah dunia, namun bukan demikian: dunia bukan apa-apa dan dunia adalah segalanya.” Itulah jeritan ambigu yang berarti harapan dalam pengertian Alber Camus. “Seni bukanlah penolakan total bukan pula penerimaan total terhadap sesuatu seperti apa adanya. Seni sekaligus merupakan penolakan dan penerimaan. Dan inilah sebabnya mengapa seni harus merupakan aksi menjauh yang terus menerus diperbarui sementara seniman senantiasa hidup dalam kondisi ambiguitas, yang tidak mampu menegasikan yang riil, namun terus menerus mempertanyakannya dalam pemberontakan yang tak pernah selesai.” (Wawancara dalam majalah DEMIAN; th. 1942)

Andre Gide menarasikan hal serupa dengan baik, walau menurut Camus pernyataan Gide sering disalah pahami: ”Seni hidup dengan pengekangan-pengakangan dan mati kerena kebebasan.”

Yaitu pengekangan dari pembatasan yang dikenakan terhadap seni itu sendiri, dan bukan sebab seni bisa dikontrol. Hal itu mengandaikan bahwa jika seni tidak membatasi diri sendiri, seni akan menggunakan ocehan hegemoniknya dan menjadi budak bayang-bayang belaka. Alber Camus menilai, tidak akan ada karya seni yang magis dan jenius seperti dalam tragedy Yunani, Tolstoy atau Gabriel Garcia Marquez, jika seni di dasarkan pada kebencian dan penghinaan. Sebab seniman (dan karya seninya) memerdekakan dan bukan mengutuk. Bukankah demikian daya emansipatoris yang kita harapkan dari dunia seni kita? Karena tujuan seni bukanlah mengatur atau merajalela, melainkan yang utama adalah memahami. Memahami zaman kita yang makin riuh oleh begitu banyak kepentingan tak terkecuali tiap kali masyarakat kita terbelah menjelang Pemilu atau Pilkada?

Seorang pengarang Austria, Heimito Von Doderer, mengistilahkan usaha “memahami” itu sebagai “ilmu kehidupan”: menawarkan suatu model pemahaman hubungan, tindakan dan gairah manusia. Bukan untuk menentang melainkan mendampingi model-model ilmiah tentang pengetahuan dunia. Kasusastraan, menurut Louis Althuser memang tidak mampu melakukan tindakan perubahan total untuk suatu kondisi politik dari anganan kehidupan sejahtera, kasusatraan tidak perlu mengganti kepolitikan, tetapi kasusastraan menjadi pendorong dari usaha-usaha perbaikan. Fungsi dan keabsahannya yaitu membuka renungan yang tidak akan berakhir tentang makna kehadiran manusia-manusia konkrit.

Karena itulah, tepat rasanya di tengah gagasan “seni untuk seni” dan “seni komitmen” yang mengancam zaman kita seperti telah kita refleksikan di awal tulisan ini, kita mempertimbangkan apa yang oleh Alber Camus di istilahkan sebagai “Memasukkan karya kedalam zamannya”—dengan kata lain, kejadian yang terdekat, manusia-manusia konkrit yang hidup hari ini. Bahwa seniman tidak dapat berpaling dari kondisi zamannya, tidak pula kehilangan diri dalam zamannya. Jika dia berpaling dari zamannya, dia berbicara dalam ruang hampa. Apabila dia menggunakan zamannya sebagai objek, dia menegaskan eksistensinya sendiri sebagai subjek yang mungkin hegemonic dan efektif sebagai alat politik.

”….Cuma kenangan berdebu/ kita memberi arti/ atau diserahkan pada anak lahir sempat/ karena itu jangan mengerdip/ tatap dan penamu asah.”(Chairil Anwar: 1942) itulah sajak ajakan Chairil Anwar yang menjadi tonggak bagi semangat zaman modern kita.

Sudah berakhir kiranya zaman d imana seniman hidup sendirian berpangku tangan tercerabut dari realitas generasi zamannya. Sejak Rendra mengumandangkan sajaknya yang megah “untuk apa kesenian bila terasing dari masyarakatnya”? Mereka memang hidup, dan akhirnya mati sendirian seperti ketika mereka hidup.

Begitulah manifesto kesenian Camus yang dengan baik berusaha memahami zamannya, memberontak dan tidak tunduk dikalahkan oleh kondisi zamannya.”Kami para penulis abad ke-20 tidak akan pernah lagi sendirian. Kita hidup bersama zaman kita, kita harus tahu kita tidak pernah dapat lari dari kesengsaraan bersama yang menindas zaman kita. Dan satu-satunya justifikasi kita, jika ada justifikasi, ialah berbicara sejauh kita dapat, bagi mereka yang tidak dapat berbicara.” Atau dengan kata lain Camus ingin mengatakan, sebagaimana ia sampaikan dalam sambutan pada acara penerimaan hadiah Nobel bidang sastra untuknya tahun, 1957: bahwa seorang penulis saat ini tidak dapat melayani orang-orang yang membuat sejarah; ia harus melayani mereaka yang menjadi sasaran sejarah itu. Sesuatu frasa yang tentu saja telah begitu sering Anda dengar bukan?

Maka dari itu izinkanlah saya menutup tulisan ini dengan ajakan, untuk terus hidup dan untuk terus berkarya dalam zaman kita, sambil lalu mempertimbangkan untuk terlibat pada soal regenerasi, sebab mungkin kita akan hidup untuk seribu tahun lagi?

*Sabiq Carebesth, Freelance Writer. Author of  “Memoar Kehilangan” (2011). Chief  Editor Galeri Buku Jakarta. Twitter: @sabiqcarebesth

**Tulisan ini sebelumnya tayang di Kolom Kompas.com. Ditayangkan kembali oleh Galeri Buku Jakarta (2016) sebagai upaya mengenang kelahiran Albert Camus 103 tahun lalu pada 7 November 1913 dan juga unutk Mas W.S Rendra 7 November 1935.

Continue Reading

Budaya

Mengembalikan Kedigdayaan Maluku

mm

Published

on

Tak ada yang memungkiri, Tiongkok merupakan penguasa ekonomi awal abad XXI. Bahkan, tingkat pertumbuhan Tiongkok merupakan yang tertinggi kedua di dunia. Tiongkok dapat mengancam kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat (AS). Padahal, hingga akhir abad XX AS merupakan penguasa ekonomi dunia, jauh meninggalkan Tiongkok.

Tak pelak, pencapaian yang diraih Tiongkok menimbulkan persaingan dengan AS. Bahkan, untuk menahan laju perekonomian Tiongkok, AS membangun jalur perdagangan transpasifik Trans Pacific Partnership (TPP) pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama 2009 lalu. Sedangkan, Tiongkok, membangkitkan kembali jalur sutera yang pernah dirintis oleh pedagang-pedagangnya pada awal masehi, untuk kembali menguasai perekonomian dunia.

Lalu di manakah posisi Indonesia? Sebagai negara yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia dapat masuk dalam kedua kutub persaingan dua jalur perekonomian dunia. Tapi apakah Indonesia harus memilih salah satu diantaranya atau Indonesia dapat membuat poros baru perdagangan dunia?

Melalui buku ini, Komarudin Watubun mencoba menawarkan sebuah gagasan agar Indonesia untuk dapat membuat poros perekonomian dunia yang baru? Di mana, bagaimana, dan mengapa, Indonesia mesti membangun poros perekonomian itu?

Komarudin menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad XXI. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa harus Maluku? Kenapa poros perdagangan dunia tidak dimulai di bagian Barat Indonesia yang sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dibandingkan wilayah Timur Indonesia seperti Maluku?

Secara umum, buku ini terdiri atas tiga bagian yakni kondisi Maluku dan Indonesia saat ini, sejarah Maluku, dan strategi untuk mewujudkan Maluku sebagai pusat perekonomian Indonesia dan dunia. Penulis mengungkapkan empat tesis untuk memperkuat alasan pemilihan Maluku menjadi titik perdagangan Indonesia dan dunia.

Pertama, tentu nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara sejak abad XII hingga abad XX. Layaknya Tiongkok yang membangkitkan kembali jalur sutera, sejarah semestinya tidak menjadi benda mati dan hanya menjadi pelajaran menghafal di sekolah. Sebab, dalam perjalanan sejarah nusantara, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri. Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya.

Dalam catatam sejarah, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI. Bahkan, selama abad XVI—XVIII Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritim dunia, inovasi, dan revolusi sistem keuangan dan korporasi global pertama kali di dunia (hlm.247).

Bahkan, karena kekayaannya, Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut bahkan  menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

Judul Buku : Maluku, Staging Point RI Abad ke-21 Penulis : Komarudin Watubun Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Tahun Terbit : Cetakan I, November 2017 Tebal : vi + 431 halaman Harga : Rp.120.000

Namun, tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah Maluku, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa (hlm.274) Hal itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku.

Kedua, Geostrategis Maluku dan Indonesia. Posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura (hlm.129).

Ketiga, faktor mineral strategis Maluku. Maluku memiliki kekayaan alam selain rempah-rempah yaitu ladang gas Blok Masela. Blok Masela merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan. Cadangan gasnya mencapai 10,73 triliun cubic feet (tcf).

Selain itu, produk dari gas dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan (hlm.74). Bahkan, Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

Keempat, seleksi alam dan segitiga arus alam Maluku selama ini pada tiga tingkat global.  Secara historis ratusan tahun sejak pramasehi, kebutuhan masyarakat dunia dapat dipasok dari kawasan arus alam Papua, Maluku, dan Nusa tenggara Timur (NTT). Zona tersebut merupakan satu garis alam (hlm.395).

Pola hubungan alam zona-zona tersebut saling terkait, saling mendukung, dan saling melindungi. Oleh sebab itu, penerapan strategi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada zona tersebut akan perubahan signifikan dan bersamaan pada seluruh sektor yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan, dan perhubungan baik secara nasional maupun internasional.

Posisi Indonesia—terutama Maluku—yang sangat strategis semestinya dapat dijadikan untuk membangun poros perekonomian baru, bukan harus memilih antara jalur transpasifik AS dan jalur sutera Tiongkok. Tentu saja, pembangunan Maluku menjadi poros ekonomi baru Indonesia harus dapat menyejahterahkan rakyat Maluku dan Indonesia.

Sebab, hingga saat ini, dibalik kekayaan alam yang melimpah, Provinsi Maluku menjadi salah satu provinsi miskin di Indonesia. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang atau naik 10 ribu orang dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,03 juta. Dengan demikian, Provinsi Maluku menjadi daerah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi (TPT) dengan persentasi 9,29 persen.

Oleh sebab itu, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama pemerintah dan rakyat Indonesia khususnya Maluku. Bagi pemerintah, buku ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk membangun perekonomian yang berpihak pada rakyat. Sedangkan, bagi rakyat Maluku, buku ini mengingatkan agar kita tak lengah atau terlena dengan kekayaan alam yang dimiliki. Kita tentu tak ingin mengulangi kesalahan pengelolaan kekayaan alam yang kita miliki di Papua yang tak memberi dampak bagi rakyat Indonesia. Selain itu, buku ini banyak memiliki data-data yang sangat lengkap, baik data sejarah maupun data ekonomi dan geostrategis politik dunia.

Kita tentu tak ingin terus membenarkan sebuah adagium bahwa kekayaan alam suatu negara adalah kutukan. Kekayaan alam hanya menghasilkan konflik dan kemiskinan bagi sebuah negara. Kita tentu ingin membuktikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, sila kelima dalam pancasila bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah realitas dan keniscayaan bagi rakyat Indonesia.

*) Virdika Rizky Utama, Penulis dan Wartawan Majalah GATRA

Continue Reading

Milenia

Marlina dan Perlawanan Perempuan

mm

Published

on

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, film yang masih tayang di bioskop ini menghadirkan perempuan dan penindasan. Tokoh perempuan yang diceritakan dalam film ini merupakan sebuah upaya pembuat film dalam menyebarkan pesan keberanian. Film ini memuat semangat juang para perempuan yang akhirnya keluar dari penindasan yang mereka alami selama ini. Perempuan yang acap kali dicap sebagai sosok yang lemah berhasil dipatahkan lewat adegan demi adegan di film ini.

Marsha Timothy sukses memainkan karakter Marlina. Ini dibuktikan dengan penghargaan tingkat dunia yang berhasil ia gondol. Marlina digambarkan sebagai perempuan yang tidak cuma diam membisu saat dirinya diopresi oleh sekelompok laki-laki. Ia dengan gagah melawan perlakuan semena-mena dari para lelaki. Tidak mudah bagi Marlina untuk lepas dari cengkeram kuasa jahat para lelaki.

Marlina, seorang janda yang ditinggal mati suami dan anaknya harus rela rumahnya didatangi sekawanan pria. Gerombolan laki-laki itu menyatroni rumahnya dengan maksud mengambil hewan ternak kepunyaan Marlina sebagai pengganti hutang yang belum terbayar. Pada awalnya, Marlina menuruti permintaan demi permintaan para perampok dari mulai menyuruh dibuatkan minum, makan, hingga pasrah ketika sapi, babi, dan binatang lain miliknya digiring naik ke atas truk. Namun ia sangat cerdik rupanya. Ia telah membubuhi racun ke dalam makanan yang akan disajikan kepada para laki-laki tak tahu diri itu. Satu persatu para laki-laki itu tumbang dan tak berdaya dengan racun yang merasuki tubuh.

Tersisa tiga dari tujuh laki-laki yang belum meregang nyawa. Salah satunya Markus, pria berumur separuh abad ini merupakan yang tertua di antara rekan-rekan perampok. Markus tak sampai teracuni sup ayam buatan Marlina karena mangkuk supnya jatuh dan pecah. Peran pria uzur ini diperagakan oleh Egi Fedly. Nafsu birahi Markus tersalurkan dengan memperkosa Marlina. Sayangnya nasib malang tak dapat ditolak. Kepuasan Markus harus ditukar dengan hilang nyawanya. Marlina terus memberontak saat disetubuhi, hingga parang pun melayang menebas kepala Markus.

Perwujudan Perempuan yang Tampil Bertindak

Alur kisah dalam film ini pun berlanjut. Marlina yang mencari keadilan segera menuju ke kantor polisi. Kepala Markus yang sudah terpenggal ia tenteng ke mana-mana. Marlina tak gentar menuntut hukuman setimpal bagi para bandit yang masih hidup atas apa yang menimpa dirinya. Potongan tubuh Markus yang kadang kala membuntutinya pun tidak menyurutkan niat Marlina.

Marsha Timothy, Pemeran Utama Film “Marlina the Murderer in Four Acts”

Marlina sukses melampaui anggapan dari aliran feminism eksistensialis. Feminisme eksistensialis memandang perempuan sebagai jenis kelamin kedua atau the second sex yang mendefinisikan dirinya liyan. Sedangkan laki-laki melabeli dirinya sebagai Sang Diri. Ia ada untuk dirinya. Liyan bertugas melayani Sang Diri. Wanita disimbolkan sebagai objek yang dikuasi Diri atau subjeknya. Ada relasi kuasi superioritas dan inferioritas.

Marlina unggul pada tamatnya cerita, meski di permulaan sempat beradu dan tunduk sementara pada laki-laki. Penggiat feminism eksistensialis, Simone de Beauvoir menegaskan, dalam dunia patriarki, perempuan tidak bisa lepas dari jerat dunia laki-laki, perangkap ini merupakan tanda penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Para bandit-bandit sepertinya menerapkan pemikiran itu.

Bentang alam Sumba menjadi latar perjalanan Marlina ke polsek terdekat dari rumahnya. Film ini juga menggambarkan betapa ketersediaan sarana transportasi masih jarang di Sumba. Untuk mendapat tumpangan bus truk, warga harus menanti selama satu jam. Begitu pula Marlina. Bahkan ia harus menyambung perjalanannya dengan menunggangi kuda.

Fakta tersebut sangat kontras dengan mudahnya akses komunikasi, yang ditunjukkan dengan adanya interaksi antar tokoh yang sedang berkomunikasi lewat telepon seluler. Film ini pun tak sepenuhnya menikam penonton dengan terus-menerus meneror lewat bayangan seram dan berdarah-darah. Kejadian-kejadian menggelitik mengundang tawa dimunculkan lewat dialog khas Sumba.

Lagi-lagi, pemahaman mengenai perempuan  punya kekuatan untuk menantang sekaligus menentang ketakberpihakan yang menimpa ingin ditularkan kepada penonton dari film ini. Tokoh Mama dan Novi turut mengokohkan film ini sebagai propaganda agar perempuan jangan mau diinjak nasibnya oleh laki-laki.

Mama di sini diperankan sebagai wanita yang tak menampakkan rasa takut sama sekali meski melihat Marlina membawa kepala Markus tanpa dibungkus kain. Berbeda dengan penumpang lelaki yang justru ketakutan dan berusaha menghindar dari Marlina. Mama juga memiliki andil besar dalam perkawinan keponakannya. Ia ditugasi untuk segera mengirim tambahan kuda sebagai semacam mahar bagi ponakan laki-lakinya yang akan menikahi seorang perempuan. Adegan ini merefleksikan bagaimana laki-laki seolah-olah bisa menebus perempuan dengan harta sebagai penggantinya.

Novi, teman Marlina ikut menambah gambaran betapa kuatnya perempuan Sumba. Novi yang tengah mengandung 10 bulan ikut membantu Marlina dalam mengatasi kisruh dengan para bandit laki-laki. Novi bahkan tanpa ragu-ragu memenggal kepala Frans yang memerkosa Marlina pada babak akhir. Kondisinya yang sedang hamil besar tidak menghalangi langkahnya dalam menghadapi ulah para lelaki yang semena-mena, termasuk Umbu, suaminya. Setiap detil percakapan atau laku dalam film ini benar-benar mencerminkan usaha untuk memberi panduan kepada masyarakat tentang bagaimana memandang perempuan dan laki-laki secara setara. Status janda, kemiskinan, kehamilan, harta, pernikahan, pemerkosaan, dan aparat hukum merupakan sedikit dari banyak hal yang coba ditonjolkan lewat film ini.

Kehamilan perempuan begitu diatur sedemikian rupa oleh konstruksi pikiran masyarakat. Novi menanggung akibat dari masyarakat yang terlalu menyetir urusan reproduksi perempuan itu. Suami Novi menyimpan rasa ketidakpercayaan kepada Novi yang konon hamil sungsang, tak kunjung melahirkan. Umbu termakan hasutan masyarakat dan orang lain, daripada memilih yakin dengan istrinya.

Novi menyepakati kepercayaan yang dipegang para penganut paham feminism radikal. Feminisme radikal libertarian berprinsip bahwa orang lain tidak perlu mencampuri urusan reproduksi perempuan. Seksualitas adalah ranah pribadi yang tak usah diganggu oleh omongan masyarakat. Dominasi atas lingkup privat berarti pelanggaran yang lebih luas dan berbahaya hingga ke wilayah publik. Novi tak mengambil pusing dengan desas-desus orang-orang mengenai kehamilannya yang tak kunjung lahir. Baginya, tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Perempuan bebas menentukan apapun yang berhubungan dengan raganya termasuk urusan reproduksi dan kesehatan.

Marlina terpaksa mendapat kesialan yakni diperkosa karena status jandanya. Markus bahkan berujar, Marlina akan menjadi perempuan paling beruntung karena akan tidur bergilir dengan para lelaki. Kehebatan Marlina pun terpapar, ia tidak diam dan sanggup menampik perkataan Markus. Menyandang status janda sangat riskan saat hidup di masyarakat. Apalagi diperparah dengan perkosaan yang dilakukan Markus dan Frans. Penderitaan Marlina sungguh bertumpuk.

Aparat hukum pun lemah dan tak kunjung menyelesaikan aduan pemerkosaan yang dilaporkan Marlina. Polisi justru sibuk bermain ping-pong. Aparat kepolisian malah mengutarakan berbagai alasan seperti tidak ada kendaraan operasional, dan ketiadaan fasilitas kesehatan saat Marlina membutuhkan penuntasan dan pengusutan kasusnya segera.

Apa yang disuguhkan dalam film ini menunjukkan sebuah kegagalan dari sistem patriarki dan dampak buruk dari dominasi laki-laki. Perempuan yang terkena masalah kekerasan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga tampak dibiarkan saja. Perempuan dinilai pantas memeroleh itu semua dan tak berhak protes karena seperti itu garis hidupnya. Gejala yang mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat apabila praktik penindasan diabaikan tanpa penyelesaian.

Film ini juga mengulas secara satir bagaimana sarana sanitasi masih minim di daerah pedalaman. Novi dan Marlina terlihat dalam secuil adegan tengah kencing di padang sabana. Mereka seakan lumrah dengan kebiasaan tersebut karena memang terbatas fasilitas.

Akting para artis dalam film ini sangat memukau dan berkesan. Diputarnya film ini, diharapkan bisa mengembalikan kejayaan dunia sineas Indonesia. Dan semoga opresi terhadap perempuan bisa terhenti. Baik perempuan dan laki-laki sama-sama menyadari kedudukan mereka setara, tidak ada yang tinggi atau rendah. (*)

 

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Buku

Melawan Klise, Menghampiri Kesegaran

mm

Published

on

Simon Dentith dalam bukunya tentang Bakhtinian Thought: Antroductory Reader (1995) mengatakan sebuah kamus adalah sebentuk makam bagi bahasa. Temuan Dentith ini sungguh mengejutkan, mengingat definisi kamus pada umumnya merupakan penanda (kata/frase/idiom) secara sangat general, terlepas dari konteks sosial saat penanda itu diungkapkan atau dipakai.

Dengan pemahaman tersebut berarti sebuah kamus malah seringkali menjadi sarana untuk meringkus dan membatasi makna suatu penanda, dan bukan justru dijadikan wadah atau penampung ketakterbatasan kemungkinan makna sebuah penanda dalam konteks-konteks sosial tertentu. Akibatnya, justru kamuslah yang menjadikan suatu (makna) bahasa menjadi terhimpit dan terbelenggu oleh serangkaian daftar istilah yang termaktub dalam sebuah kamus.

Namun, maklumat Dentith di atas nampaknya kurang tepat—untuk tidak mengatakan tidak berlaku—bagi Tesaurus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Eko Endarmoko ini. Kamus bukannya menjadi makam bagi bahasa sebagaimana dikhawatirkan Dentith, tetapi justru kamus-kamus sinonim semacam ini memungkinkan bisa menjadi sarana yang amat penting bagi siapapun, khususnya mereka yang setiap hari bergulat dengan bahasa atau dunia tulis-menulis sebagai wahana untuk memperkaya dan menghidupkan (makna) bahasa.

Dalam dunia tulis-menulis sesungguhnya bukan sekedar menyusun kata, kalimat, paragraf lantas menjadi tulisan yang utuh. “Dalam menulis”, begitu kata Goenawan Mohamad dalam sampul belakang, “saya selalu ingin menghindari satu kata yang sama berulang dalam satu kalimat—bahkan kalau mungkin dalam satu paragraf. Bagi saya”,  begitu lanjut Mas Goen biasa disapa, “tiap karya tulis yang bersungguh-sungguh ibarat sebuah ukiran. Prosesnya memerlukan kreativitas dan ketekunan, inovasi terus-menerus, dan kemauan meneliti pelbagai anasir untuk memasukkan yang ‘baru’ itu”. Itulah dunia tulis-menulis. Ia membutuhkan kecergasan dan ketangkasan mengunyah kata-kata.

JUDUL : Tesaurus Bahasa Indonesia PENULIS : Eko Endarmoko PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta TAHUN TERBIT : Pertama, 2006 TEBAL : xxii + 715 halaman

Dalam bahasa Inggris, misalnya avontur dalam merangkai kata-kata semacam itu mungkin tidaklah terlalu sulit. Seorang penulis siap dibantu oleh “kamus” seperti Merriam-Webster’s Collegiate Thesaurus (1993), Collins English Thesaurus in A-Z Form (1993) atau The Concise Roget’s International Thesaurus (2003). Di sana kekayaan sinonim bahasa didaftar dengan begitu rapi dan tangkas.

Dalam bahasa Indonesia, paling tidak sudah ada dua kamus sinonim yang menjadi umum dikenal publik. Pertama, Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (1988) karya Harimurti Kridalaksana. Kedua, Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia (2000) disusun oleh Nur Arifin Chaniago dkk. Namun, keduanya kurang begitu lengkap dalam menyusun lema atau entri, dan nampak cara penyajiannya pun belum sungguh-sungguh digarap secara sistematis.

Menjadi penting untuk disadari, seperti dalam bahasa lain juga, bahwa tidak ada kesamaan makna yang mutlak dalam bahasa Indonesia. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dialek regional (contoh: menurut dan manut), dialek sosial (contoh: kebatinan, mistik dan tasawuf), dialek temporal (contoh: abdi dan pelayan), nuansa makna (contoh: dongkol, geram, dan marah), serta perbedaan ragam bahasa (contoh: mampus dan meninggal). Semua perbedaan itu menegaskan bahwa makna kata senantiasa ditentukan atau terkait oleh konteksnya dalam kalimat (hlm. viii). Inilah satu kelebihan Tesaurus garapan Eko Endarmoko ini. Pembaca bisa leluasa memilih makna kata-kata yang sesuai bersama konteksnya.

Di samping itu, Tesaurus ini juga sungguh membantu bagi orang-orang yang setiap saat berjibaku dengan bahasa atau tulisan. Hal ini dimungkinkan untuk menghindari klise dalam penggunaan suatu kata, frase, dan idiom tertentu dalam satu kalimat atau sebuah ungkapan. Penggunaan sebuah kata, frase, atau idiom akan menjadi tumpul, kurang segar, dan nampak kehilangan makna, jika sudah amat sangat sering digunakan, sehingga tanpa disadari sebenarnya mereka sudah terjerembab dalam klise.

Bagi orang yang berhasrat membahasakan pikiran atau perasaannya dengan tepat, cermat atau elok dan santun, Tesaurus ini merupakan tambang emas kata yang sangat diperlukan. Buku inilah yang saya kira dinanti-nantikan oleh para penulis, penyair, pengajar, dan pelajar untuk memperagakan serta memperkaya bahasa Indonesia yang narum dan bernas. Sungguh kita dapat menimba dari karya Eko Endarmoko ini sebagai sebuah hasil dari ikhtiar yang patut dicatat sejarah.***

 

*)Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending