© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Melihat Saras Dewi Mengurai Disekuilibrium

Buku terbaru karya Saras Dewi ini tidak bisa dipisahkan dari momentum perjuangan masyarakat Bali dalam mempertahankan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi. Pasca disahkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 51 Tahun 2014 tentang Perubahan Perpres Nomor 45 tahun 2011 yang mengatur kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan), pergerakan ribuan massa kontra reklamasi kian masif.

Bahkan, gelombang penolakan yang dimulai oleh penduduk lokal itu meluas dengan dukungan dari para aktivis lingkungan. Mereka satu suara menyatakan perubahan Perpres tersebut justru memicu kerusakan lingkungan berupa perluasan abrasi di selatan perairan Bali. Apalagi menurut hasil studi analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) oleh Universitas Udayana, reklamasi memang tidak layak dilakukan.

Lahir dan dibesarkan di Pulau Dewata, Saras memiliki kecintaan mendalam terhadap tanah kelahirannya. Pada bagian pembuka buku setebal 172 halaman ini, Saras mengisahkan kegelisahannya atas pembangunan di Bali yang membabibuta. Kegelisahan tersebut bermula ketika ia duduk di bangku SD.

Kala itu, pemilik nama lengkap Luh Gede Saraswati Putri ini sangat mengagumi pohon ketapang yang tumbuh di sekolahnya. Saras kecil sering menghabiskan waktu luang di bawah rindangnya pohon ketapang. Namun menjelang kelulusan sekolah, ia mendengar kabar mengecewakan lantaran pohon ketapang tersebut akan ditebang untuk perluasan gedung sekolah. Dalam benaknya terbersit untuk protes, tetapi ia menyadari pikiran kecilnya belum sanggup membangun argumen yang kuat untuk menentang penebangan pohon ketapang kesayangannya.

Seiring dengan pesatnya pariswisata di Bali, Saras melihat maraknya eksploitasi sumber daya tanpa memerhatikan keselarasan alam. Atas nama pembangunan, atas nama kemewahan, juga atas nama kemajuan, alam liar berangsur-angsur digantikan beton-beton dan rimba gedung-gedung. Parahnya, ada pula pihak yang mengatasnamakan kesejahteraan sebagai pembenaran untuk merusak alam.

Pengalaman historis itulah yang mengusik naluri dosen sekaligus Kepala Program Studi (Kaprodi) Filsafat, Universitas Indonesia (UI) untuk melakukan perenungan filosofis demi tercapainya keseimbangan relasi antara alam dan manusia. Bagi pelantun tembang Lembayung Bali tersebut, buku terbitan Marjin Kiri ini juga merupakan argumen yang tertunda atas kegagalan menyelamatkan penebangan pohon ketapang saat ia masih berseragam putih merah.

Kendati berawal dari fenomena di Bali, buku sepanjang enam bab ini memaparkan pendekatan baru dalam menganalisis fenomena kerusakan alam secara universal. Saras menekankan pentingnya rekonstruksi pandangan manusia tentang alam sebagai tempat mereka berpijak. Hal tersebut penting, mengingat selama ini ekologi dan etika lingkungan tidak cukup gamblang dalam menjawab masalah kemerosotan lingkungan hidup.

Sejatinya, pada tataran etis sejumlah teori telah dikembangkan untuk menjelaskan relasi antara manusia dan alam. Namun, pemikiran etis tidak cukup tajam membedah dan memilah substansi permasalahan kerusakan alam (hlm 1). Sebagai contoh perspektif Aldo Leopold tentang Etika Tanah (1949) yang menunjukkan betapa rapuhnya kehidupan manusia karena dikuasai oleh perilaku antroposentrik.

Leopold telah menawarkan suatu konsep konservasi untuk meminimalisasi kerusakan alam. Ia mengklaim bahwa konservasi adalah kondisi harmoni antara manusia dan alam (Cottingham, 1996: 452). Akan tetapi, konsep Leopold tentang konservasi tersebut menimbulkan persepsi dari pemikir lingkungan bahwa alam hanya sebatas properti. Alam dianggap tidak memiliki nilai intrinsik dan hanya relevan dalam kegunaannya bagi manusia. Pandangan alam sebagai properti itu, menyebabkan manusia tidak terikat kewajiban untuk merawat alam (hlm 4).

Dalam buku ini, Saras mengungkapkan bahwa rekonstruksi terhadap alam yang rusak tidak dapat diselesaikan lewat pandangan etis praktis saja. Tetapi harus melalui pemahaman ontologis tentang alam. Akan tetapi, ia menegaskan konsep ontologi yang dimaksud berbeda dengan pemahaman sebelumnya. Etika lingkungan memahami alam dan manusia sebagai ontologi yang berlainan, sedangkan Saras menawarkan ontologi baru yang menyorot secara spesifik relasi alam dan manusia. Maksudnya alam dan manusia dinilai sebagai substansi yang utuh, yaitu kehidupan.

Menggunakan metode fenomenologi lingkungan, Saras meneliti dan mengkritik relasi antara alam dan manusia secara radikal. Ia menggunakan fenomenologi Edmund Husserl (1970), Maurice Merleau-Ponty (1973), dan Martin Heidegger (1983) sebagai kerangka berpikirnya. Ketiga tokoh fenomenologi ini mengantarkan Saras pada kesimpulan bahwa telah terjadi kondisi disekuilibrium di alam semesta.

Disekuilibrium merupakan hilangnya kestabilan dari dua substansi yang ada, yang berbeda dan juga berlawanan tetapi saling berpengaruh. Kondisi tersebut terjadi karena manusia mengeksploitasi alam tanpa memikirkan keberlanjutan hidupnya. Walau alam memiliki kemampuan untuk memulihkan diri, tetapi lambat laun kondisi disekuilibrium yang terus menerus akan membawa manusia di ambang kehancuran.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mencapai kondisi yang ekuilibrium? di tengah derasnya arus industrialisasi, pembangunan kian tidak terbendung. Pemerintah yang diharapkan mampu berperan sebagai aktor untuk mencegah kerusakan lingkungan ternyata belum berbuat banyak. Jargon pembangunan sebagai pembasmi kemiskinan dilantangkan, namun justru rakyat miskin yang akhirnya disengsarakan. Seperti tertuang dalam buku Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi karya Emil Salim (2010). Emil mengkritik pola pembangunan yang merusak lingkungan dan memperparah kemiskinan.

Melalui buku Ekofenomenologi Saras meyakini, ketimpangan relasi antara manusia dan alam yang terjadi saat ini dapat dipulihkan apabila ada kesadaran ontologis relasi manusia dan dan alam yang lebih adil (hlm 146). Pada bagian penutup, Saras menyinggung gagasan penting Thomas More mengenai kaum Utopia. Dalam kuotasinya More menyebutkan, “kala alam memperlakukan diri manusia dengan baik dan lembut, mestinya mereka tidak berbuat kejam dan kasar terhadap diri mereka juga,” (hlm 85).

Senada dengan More, Heidegger juga menyatakan kehidupan yang baik tidak mungkin dilepas dari relasi seimbang dengan alam. Cara memperlakukan alam mencitrakan sikap sebagai manusia. Perlakuan yang adil tidak saja kewajiban manusia terhadap sesamanya, tetapi juga sensitivitas terhadap kelestarian alam (hlm 142). Kesadaran manusia sebagai makhluk yang sempurna tidak seharusnya menjerumuskan mereka pada keangkuhan. Sebab, alam dan manusia adalah satu kesatuan yang saling menopang adanya kehidupan di bumi.

Pada akhirnya, Ekofenomenologi memang sangat detil dalam membedah isu kerusakan lingkungan. Secara spesifik, Saras telah merangkai metode baru yakni fenomenologi lingkungan. Buku ini membawa perspektif baru bagi akademisi, swasta, pemerintah, dan masyarakat untuk mendiskusikan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Akan tetapi pada implementasinya, mencapai kondisi ekuilibrium tentu bak mencari satu jarum dalam tumpukan jerami. Tentu dibutuhkan perjuangan esktra keras untuk mengubah moralitas dan paradigma manusia supaya lebih mencintai alam semesta. (*)

Penulis           : Saras Dewi

Penerbit         : CV Marjin Kiri

Cetakan          : Pertama, Maret 2015

Tebal               : xiv + 172 halaman

ISBN               : 978-979-1260-42-8

Peresensi       : Fikri Angga Reksa
————————————
Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT