Connect with us

Milenia

Melestarikan Cagar Budaya, Melestarikan Kemanusiaan

mm

Published

on

Suatu hari, Mandra tampak duduk di sebuah beranda rumah milik keluarga Sabeni. Raut wajahnya murung; kepalanya ditekuk ke bawah; sesekali matanya menerawang kosong. Rupanya, Mandra sedang memikirkan uang hasil narik oplet yang pada hari itu nilainya jauh dari target storan. Ya,  setiap harinya Mandra selalu memberikan uang hasil narik oplet kepada Mpok Lela yang merupakan kakak kandungnya dan juga istri dari almarhum Babe Sabeni.

Mandra pun berpikir bagaimana caranya agar uang hasil narik oplet bisa memenuhi target storan. Akhirnya, terbesit di pikirannya untuk menjual sebuah radio butut miliknya yang merupakan kenang-kenangan dari mantan kekasihnya yang bernama Munaroh. Baru saja Mandra hendak melangkah untuk menjual radio itu, Mas Karyo—yang  saat itu duduk di dekatnya—bersicepat  menghalangi langkahnya.

“Eh. eh mau kemana?” ujar Mas Karyo.

“Gue mau jual aja tuh radio gue. Gue gak enak ame  Mpok Lela kalau sampai storan oplet kurang,” jawab Mandra.

“Lho lho lho, mbok yo apa-apa itu dipikirkan dulu, toh. Radio itu, kan, satu-satunya kenang-kenangan dari  kekasihmu dulu, si Munaroh. Mosok iya mau kamu jual gitu aja. Apa kamu tega ngebuang satu-satunya kenangan dari si Munaroh dulu?” timpal Mas Karyo.

Mandra yang dulu sangat menyayangi Munaroh itu,  tampak tersentak dengan peringatan dari Mas Karyo. Sejenak ia terdiam; menekurkan kepalanya.

“Iye juga, ya…” jawab Mandra datar.

“Nah, kan, apa aku bilang, makannya jangan buru-buru. Segala sesuatu itu harus dipikirkan dulu matang-matang,” tambah Mas Karyo.

***

Agaknya kita sudah bisa menebak, cuplikan adegan di atas diambil dari sebuah sinetron yang melegenda di Indonesia, yang tayang menghiasi layar kaca pada medio 1990an bernama Si Doel Anak Sekolahan. Adegan itu saya tuliskan karena menyiratkan sebuah pesan yang berkaitan dengan hal yang akan saya bahas: mengenai betapa pentingnya kita untuk menghargai dan melestarikan cagar budaya—baik itu benda maupun bangunan warisan sejarah.

Hal ini menjadi penting, terlebih di tengah suasana maraknya isu pembangunan infrastruktur yang mengakibatkan penggusuran di berbagai tempat di Indonesia seperti saat ini.  Karena, dalam penggusuran, yang menjadi korban bukan saja para warga yang huniannya hancur diterjang ekskavator, melainkan juga berbagai bangunan bersejarah yang ada di kawasan penggusuran itu pun turut menjadi korban.

Kita bisa mengambil contoh nyata dari kasus yang terjadi baru-baru ini terjadi di Kota Depok. Di sana, sebuah bangunan bersejarah bernama Rumah Cimanggis terancam tergusur akibat pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia. Parahnya lagi, salah seorang panitia dari proyek pembangunan itu mengaku bahwa aparat pemerintah setempat tidak memberikan informasi terkait nilai historis rumah tersebut.

Padahal dahulu, bangunan tersebut merupakan rumah singgah salah satu Gubernur VOC bernama Petrus Albertus van Der Parra. Hingga saat ini pun, Rumah Cimanggis sebenarnya masih menjadi tujuan study tour pelajar dan masyarakat umum  yang ingin mengetahui sejarahnya.

Selain kasus Rumah Cimanggis, pada 2016 pun situs bersejarah ada yang  telah  menjadi korban penggusuran. Adalah sebuah benteng bernama Bastion Zeeburg yang rusak pada saat Pemprov DKI Jakarta melakukan penggusuran di kawasan Pasar Ikan, Jakarta Utara.

Tembok Bastion Zeeburg tersebut padahal merupakan sejarah  awal benteng Kota Batavia. Akibat terjangan buldoser, situs bersejarah tersebut harus mengalami kerusakan.

Penghancuran atau pengrusakan situs bersejarah, jelas merupakan tindakan melawan hukum. Karena kelestariannya dilindungi oleh Undang-undang. Seperti oleh UU No. 11 tahun 2010 mengenai Cagar Budaya,

Tapi, terlepas dari hal itu, memang apa perlunya kita melestarikan benda atau bangunan bersejarah?

Kita bisa belajar dari kisah Mandra yang saya paparkan di awal tulisan, ketika ia mengurungkan niatnya untuk  menjual radio pemberian dari mantan kekasihnya.  Radio tersebut adalah satu-satunya benda yang dapat dijadikan Mandra untuk mengawetkan kenangan kisah cintanya dulu bersama Munaroh.

Bagi Mandra yang dahulu melakoni dan merasakan langsung setiap denyut momen bersama Munaroh ditemani radio itu, tentunya kehadiran radio tersebut menjadi sangat penting baginya. Radio tersebut menjadi benda yang memiliki nilai historis  bagi Mandra. Menjual radio itu, sama saja dengan menjual dan menghilangkan segenap kenangannya bersama Munaroh.

Jadi, melestarikan bangunan bersejarah itu sesederhana kita menyimpan dan merawat baik-baik barang kenang-kenangan dari orang terkasih, atau dari mereka yang pernah hadir di hidup kita dengan membawa kesan yang sangat mendalam.

Ditambah lagi, seperti kata Andrew Jones dalam bukunya  Memory and Material Culture (2007), “Human memory is fragile and finite.” Ingatan manusia itu mudah hancur dan terbatas. Kendati manusia bisa melakukan proses mengingat, akan tetapi proses mengingat itu kerap kali tidak sempurna dalam memutar ulang setiap kejadian atau kisah di masa lalunya.

Oleh karena itu, manusia selalu butuh suatu alat  yang dapat membantu mereka agar dapat mengingat dengan lebih baik. Benda  dan  bangunan bersejarah adalah salah dua dari alat itu.

Bangunan bersejarah sangat berperan dalam menjaga memori kolektif sebuah masyarakat.  Bahkan bisa dibilang bangunan bersejarah merupakan sebentuk monumen ingatan untuk banyak orang.  Menghancurkannya, sama saja dengan merampas dan merenggut kenangan dan ingatan banyak orang. Ketika ingatan dari banyak orang sudah terenggut, maka kita akan sangat mungkin menjadi pribadi yang tak pernah bisa belajar dari masa lalu sebagai salah satu usaha kita  dalam menciptakan masa depan yang lebih baik.

Selain berperan dalam menjaga ingatan bersama, bangunan memiliki nilai sejarah pun bisa berperan lebih jauh dari itu; salah satunya dapat menjadi media yang membantu seseorang menemukan kembali sisi kemanusiaannya.

Sebagaimana di awal saya membuka tulisan ini dengan penggalan kisah, saya pun akan menutup tulisan ini dengan fragmen kisah dari cerita yang lain; yakni dari fragmen yang termaktub dalam novel The Plague karya Albert Camus. Penggalan kisah ini, akan menunjukkan bagaimana sebuah bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi seseorang, mampu membangkitkan kembali nurani kemanusiaan orang tersebut.

Tersebutlah seorang pria bernama Gonzales yang tinggal di kota Oran. Awalnya Gonzales berkarir sebagai pesepakbola. Namun semua berubah ketika wabah sampar menerjang kota tersebut. Akibat dari serangan wabah itu, banyak warga Oran yang harus meregang nyawa.

Gonzales pun mulai meninggalkan pekerjaannya sebagai pesepakbola. Ia kali ini menjadi seorang pedagang gelap yang sibuk memperkaya diri sedangkan orang-orang di sekitarnya banyak yang menderita akibat wabah.

Kala wabah semakin sulit terbendung, dikisahkan pemerintah setempat memutuskan untuk mengisolasi para penderita sampar di sebuah stadion sepak bola di Kota Oran. Ketika tahu bahwa para penderita sampar diungsikan ke stadion—tempat yang sangat memiliki nilai historis bagi Gonzales semasa dirinya menjadi pesepakbola—ia pun mulai tergerak untuk membantu mereka. Ia lalu memutuskan untuk turut menjadi sukarelawan di tempat pengungsian itu.

Ketika ia tiba di stadion, memulai tugasnya sebagai sukarelawan, ia kembali teringat dengan masa-masanya sebagai pesepakbola dulu. Ia menengadahkan kepalanya ke atas sambil mengenang bahwa pada jam-jam itu biasanya ia sedang berganti pakaian di ruang ganti; mendengarkan riuh rendah nyanyian suporter; menghirup aroma jeruk yang dibagikan ketika jeda pertandingan.

Dari pasase itu, kita bisa melihat bagaimana stadion—bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi Gonzales—dapat membantu dirinya menemukan kembali sisi kemanusiaannya. Gonzales yang awalnya hanya ongkang-ongkang kaki menikmati kekayaannya dari hasil berdagang gelap, akhirnya mampu meninggalkan profesi itu dan memulai tugas barunya sebagai sukarelawan ketika tahu bahwa para korban penderita sampar diungsikan ke stadion. Di titik itulah Gonzales menemukan kembali sisi humanisnya.

Apa yang dialami oleh Gonzales, sangat mungkin dapat terjadi di kehidupan nyata. Namun, bagaimana hal itu bisa terjadi kalau benda-benda dan bangunan bersejarah itu sudah terlebih dulu dihancurkan atau digusur. (*)

 

*) Rio Rizky Pangestu: Aktif menulis esai mengenai sosial, budaya, dan sepak bola di beberapa media daring, peminat sejarah. Saat ini tinggal di Bandung. Twitter: @riorpangestu

Continue Reading

Milenia

Bagaimana Menjadi Diri Sendiri Menurut Carl Jung ?

mm

Published

on

Akhir-akhir ini saat duduk ngopi di kafe, banyak sejawat bertanya kepada saya, “aku kudu piye?” (aku harus bagaimana), yang pas saya jadi apa? Memang pertanyaan itu sejatinya hanya muqaddimah untuk melangsungkan obrolan yang lebih publik sifatnya seperti soal politik, komunitas, atau dunia objektif kita. Akan tetapi pertanyaan itu pada akhirnya mengusik juga untuk dijawab.

Untuk menjawabnya saya membuka buku babon Carl Gustav Jung—kebetulan saya pernah membaca lama pemikiran Jung (dan juga Erich Formm) saat dalam upaya menulis untuk sebuah jurnal tentang analisis psikologis tokoh rekaan dalam karya Pram dan NH. Dini, jadi kemudian saya pikir meresume pemikiran Jung terkait individuasi bisa memberi jalan lapang (meski bukan jawaban konkrit) dari pertanyaan aku kudu piye atau sebaiknya saya menjadi apa dan harus kepiye?

Maka tulisan ini pun merupakan resume saja dari pemikiran genuine Carl Jung dan tidak memuat sama sekali opini atau pandangan saya–dan memang saya hanya pembaca buku dan  bukan psikolog. Berikut saya ihtisarkan:

Dalam teorinya, Jung membagi psyche (jiwa) menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah ego yang di identifikasi sebagai alam sadar. Bagian kedua, yang terkait erat dengan yang pertama, adalah alam bawah sadar personal, yang mencakup segala sesuatu yang tidak disadari secara langsung, tapi bisa diusahakan untuk disadari.

Alam bawah sadar personal adalah apa yang seperti dipahami banyak orang yaitu mencakup kenangan-kenangan yang dapat dibawa ke dalam sadar dengan mudah serta kenangan-kenangan tertentu yang ditekan karena alasan-alasan tertentu. Tetapi alam bawah sadar ini tidak mencakup insting-insting sebagaimana yang dipahami Freud.

Kemudian Jung menambah satu bagian lain yang membuat teorinya berbeda, yaitu alam bawah sadar kolektif atau yang biasa disebut dengan “warisan psikis”.

Alam bawah sadar kolektif adalah tumpukan pengalaman kita sebagai spesies, semacam pengetahuan bersama yang kita miliki sejak lahir. Akan tetapi pengalaman ini tidak bisa kita sadari secara langsung. Ia memengaruhi segenap pengalaman dan perilaku kita, khususnya yang berbentuk perasaan, tetapi hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui pengaruh-pengaruh yang ia timbulkan.

 

Individuasi

“Induviduasi” (menjadi diri sendiri) kemudian berarti sebagai jalan unik yang harus ditempuh oleh setiap orang agar dapat mewujud atau mengembangkan kepribadiannya yang asli.

Dengan proses individuasi, pertanyaan, “siapa saya” atau lebih tepat, “Siapa saya selain dari ego yang sadar”. (hal ini berarti: selain dari apa yang sudah saya ketahui tentang diri saya sendiri, terlaksana juga ucapan ini; ‘jadilah dirimu sendiri dengan seluruh adamu yang sebenarnya’= you have to become your own truly self (Rogers) /werde, wer du eigenlich schon bist) keinginan menjadi utuh hanya dapat diwujudkan dalam suatu kehidupan yang unik dan pribadiah.

Menurut Jung, individuasi dapat diterjemahkan sebagai proses menjadi diri sendiri (werselbsttung) atau realisasi diri (selbstverwirklichung). “saya menggunakan istilah individuasi untuk menamakan proses yang dialami oleh seorang pribadi menuju menjadi individu yang psikologis; yaitu satu kesatuan atau keseluruhan yang tak terbagi dan terpisah dari yang lain “(The Archetipe and The Colective Unconsciousness, Coll. Works, Vol. 9, hlm. 275) atau: “Individuasi berarti proses menjadi manusia yang cuma satu dan homogen. Dan sejauh ketakterbagian mencakup keunikan yang paling dalam, paling dasar dan tidak dapat dibandingkan, maka ia juga mengandung proses menajadi diri sendiri.

Kesimpulannya, pada permulaan manusia belum memiliki dirinya yang sudah terwujud. Tetapi perlahan-lahan dirinya itu harus diwujudkan dalam kehidupannya yang unik.

Proses inviduasi atau menjadi diri sendiri itu selalu disertai rasa sakit dan beban psikis sebab pada permulaan proses itu, orang merasa sepi, sunyi, dan terpisah dari orang lain. Hasil pertama dari perkembangan kepribadian ialah bahwa individu itu menyadari diri sebagai pribadi yang khas, yang lain, yang orisinal. Dan itu berarti bahwa individu itu harus melepaskan diri dari massa yang anonym dan tak sadar.

Inviduasi berarti berani menerima kesunyian. Dan memang tidak ada penyesuaian—betapa pun penyesuaian itu baik dan kuat, dengan lingkungan sosial, dan keluarga, dengan masyarakat, dan dengan status sosial tertentu yang dapat menghindari kesunyian individu.

Itulah rasa sunyi seorang yang matang dan kreatif. Orang tidak lagi ditentukan lagi oleh sifat konformistis terhadap ketentuan-ketentuan kolektif. Ia juga tidak lagi merupakan satu bagian kecil saja dari massa anonim.

Kesunyian itu merupakan sisi belakang yang mutlak harus ada. Kesunyian itu juga merupakan tugas etis untuk setia pada irama batin dan jalan nasib yang unik. Setiap orang harus secara positif menerima irama batin dan jalan nasibnya. Dengan demikian orang itu akan memperoleh keseluruhan pribadi. (*)

*) Sabiq Carebesth, pecinta kopi, dan masih berupaya menjadi penyair.

 

Continue Reading

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Milenia

9 Pesan Mas Pram Tentang Bangsa dan Humanisme dalam Novel “Bumi Manusia”

mm

Published

on

Membaca roman “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, kita akan mendapati putaran waktu pada saat-saat mula sebuah bangsa dibibit, mula-mula bersemainya pergerakan nasional.

Roman pertama dari tetralogi Pulau Buru ini mengambil latar belakang dan cikalbakal nation Indonesia di awal abad ke- 20.

Dalam roman “Bumi Manusia”, Pram, salah satu sastrawan paling besar dan agung yang dimiliki Indonesia, tidak hanya melahirkan tokoh-tokoh, tapi juga suatu kesadaran, karakter, yang ditegaskan lewat para tokoh utama romannya seperti Minke. Istimewanya, penyemaian bibit kebangsaan itu lahir dari para tokoh perempuan dalam novelnya, sebutlah Nyai Ontosoroh dan Annelies.

Para srikandi ditempatkan oleh Pram sebagai penyemai dan pengawal utama bangunan nasional yang kelak akan melahirkan Indonesia modern. Perempuan Indonesia modern saat ini, terlebih generasi milenial, sudah sepantasnya barang sekali dalam hidupnya membaca roman yang diselesaikan Pram pada tahun 1975 ini.

Berikut adalah 9 kutipan dari roman “Bumi Manusia” tentang kesadaran akan bangsa, kemerdekaan dan hargadiri sebagai anak suatu bangsa:

  1. Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaanya atas ilmu dan pengetahuan. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.
  2. Seorang harus punya perasaan hargadiri baik sebaga pribadi mau pun anak bangsa. Jangan seperti kebanyakan umumnya, merasa sebagai bangsa tiada tara di dunia  ini bila berada di antara mereka sendiri. Begitu di dekat seorang Eropa, seorang saja, sudah melata, bahkan mengangkat pandang pun tak ada keberanian lagi.
  3. Pekerjaan Pendidikan dan pengajaran tak lain dari usaha kemanusiaan. Kalau seorang murid di luar sekolah telah menjadi pribadi berkemanusiaan, kemanusiaan sebagai faham, sebagai sikap, semestinya kita berterimakasih dan bersyukur sekali pun saham kiita terlalu amat kecil dalam pembentukan itu. Pribadi luar biasa memang dilahirkan oleh keadaan dan syarat-sayarat luar biasa.

    Sampul muka roman “Bumi Manusia” edisi penerbit: Hasta Mitra.

  4. Kita adalah suatu bangsa—tak akan membiarkan yang asing melihat kita tanpa perasaan manusia—tak membiarkan mereka melihat kita sebagai inventaris.
  5. Aku tak pernah bersekolah, Nak, Nyo, tak pernah diajar mengagumi Eropa. Biar kau belajar sampai puluhan tahun, apa pun yang kau pelajari, jiwanya sama: mengagumi mereka tanpa habis-habisnya, tanpa batas, sampai-sampai orang tak tahu lagi dirinya sendiri siapa, dan di mana. Biar begitu memang masih lebih beruntung yang bersekolah. Setidak-tidaknya dapat mengenal cara bangsa lain merampas milik bangsa lain.
  6. Kau sudah harus adil sejak dalam pikiran! Jangankan tukang bawa parang dan pendekar, batu-batu bisu pun bisa membantu—kalau kau menenal mereka. Jangan sepelekan kemampuan satu orang, apalagi dua!
  7. Tahu kau apa yang dibutuhkan bangsamu? Seorang pemimpin yang mampu mengangkat derajat bangsamu kembali. Seorang pemula dan pembaru sekaligus.
  8. Mana bisa Multatuli diajarkan di sekolah? Yang benar saja. Dalam buku pelajaran tak pernah disebut!
  9. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak dia takkan jadi apa-apa.
Continue Reading

Classic Prose

Trending