Connect with us

Cerpen

Maxim Gorky: Karena Tidak Ada Sesuatu yang Lebih Baik Untuk Dilakukan

mm

Published

on

Dan pada musim dingin, ketika badai datang menderu dan meraung dari padang stepa, seraya menghujani stasiun kecil itu dengan salju dan suara-suara yang menakutkan, menjadikan hidup di sana lebih lengang dari yang pernah ada.

Oleh: Maxim Gorky | Penerjemah: Ladinata

____

Kereta penumpang, seperti seekor ular yang sangat besar, yang mengeluarkan kumpulan asap tebal berwarna abu-abu, hilang ditelan padang stepa yang tidak ada batasnya, hilang di lautan gandum berwarna kuning. Ketika asap tebal abu-abu larut di dalam udara yang terik, hentakan suara gaduh yang murka untuk beberapa saat mengusik keheningan yang tenang di dataran luas dan kosong, yang di tengah-tengahnya berdiri sebuah stasiun kereta kecil, yang kelengangannya membangkitkan perasaan yang sangat memilukan.

Dan ketika suara gaduh kereta yang terdengar parau, tetapi setidak-tidaknya dipenuhi sentuhan rasa semangat, hilang dari pendengaran, kemudian senyap jadi di bawah kubah langit yang tanpa awan dan keheningan yang menekan datang sekali lagi menyelimuti stasiun kereta tersebut.

Padang stepa tampak berwarna kuning keemasan dan langit terlihat biru nilakandi. Dan kedua warna itu sangat tidak memiliki batas. Di tengah keleluasan yang begitu rupa bangunan kecil stasiun berwarna coklat itu memberikan impresi adanya kemungkinan gambar melankolis yang rusak karena sapuan kuas, yang dilakukan oleh seorang seniman yang tanpa imajinasi.

Setiap hari pada jam dua belas siang dan pada jam empat sore kereta-kereta keluar dari padang stepa dan berhenti di stasiun, tepatnya untuk dua menit. Keseluruhan empat menit tersebut merupakan hiburan pokok dan satu-satunya di stasiun: para penumpang kereta akan membawa kesan-kesannya sendiri terhadap orang-orang yang bekerja di sana.

Di dalam setiap kereta terdapat beraneka ragam manusia dengan berjenis-jenis pakaian. Mereka adalah kesejenakkan; dari balik jendela kereta terlintas wajah-wajah yang lelah, tidak sabaran dan tidak peduli – dan kemudian terdengar suara lonceng, bunyi peluit; dan dengan suara gaduh mereka akan bergerak cepat ke dalam padang stepa, maju ke depan, ke dalam kota-kota, yang memiliki kehidupan yang sibuk dan pikuk.

Para pekerja stasiun memandang pada wajah-wajah tersebut dengan rasa mau tahu dan kemudian setelah melepaskan kereta pergi, mereka akan berbagi terhadap satu sama lainnya pengamatan-pengamatan, yang dengan cepat mampu difahami. Di sekitar mereka padang stepa yang bisu membentang, di atas tampak langit yang tidak mau ambil peduli,dan di dalam hati mereka ada rasa cemburu yang samar-samar pada orang-orang tersebut, yang dengan cepat, melalui mereka, pergi ke tujuan, yang tidak diketahui dari hari ke hari, dan mereka tetap tinggal, terpenjara di dalam padang belantara, seolah-olah hidup di luar batas kehidupan.

Dan demikianlah, setelah mengantarkan kereta, mereka berdiri di peron, sambil memperhatikan lajur hitam keberangkatan, yang menghilang di lautan gandum keemasan. Dan mereka terdiam dengan kesan-kesan kehidupan, yang berlalu melewati mereka.

Hampir setiap orang ada di sini: kepala stasiun, seorang lelaki yang berjiwa baik, tambun, memiliki rambut pirang keemasan dengan jambang pria Kosak yang gembal; asistennya, laki-laki muda berambut merah dan berjanggut kambing. Luka, penjaga stasiun, seorang laki-laki kecil, tetapi cekatan dan terampil; dan salah seorang dari para pelangsir bernama Gomozov, seorang laki-laki pendiam, pendek gemuk dengan janggut tebal.

Istri kepala stasiun duduk di atas bangku yang ada di samping pintu stasiun. Dia adalah perempuan yang kecil dan gemuk, dan begitu menderita karena kepanasan. Bayinya tertidur di dalam pangkuannya dan wajah bayi tersebut sebulat dan semerah wajah ibunya.

Kereta menghilang di bawah landaian dan menghilang, seolah-olah, ditelan bumi.

Dan ketika itu kepala stasiun berpaling ke arah istrinya dan berkata:

Samovar[1] sudah siap, Sonya[2]?”

“Tentu saja,” jawab sang istri dengan suara yang lemah dan pelan.

“Luka! Taruh tanda di sini, bersihkan peron dan rel. Lihat kotoran-kotoran, yang mereka tinggalkan.”

“Saya mengerti, Matvei Yegorovich.”

“Bagus, ingin minum teh, Nikolai Petrovich?”

“Seperti biasanya,” jawab sang asisten.

Dan jika itu terjadi pada siang hari, ketika kereta sudah lewat, Matvei Yegorovich akan mengatakan kepada istrinya:

“Makan siang sudah siap, Sonya?”

Kemudian dia akan memberikan Luka instruksi yang selalu sama dan dia akan berkata kepada asistennya, yang tinggal menumpang dengan mereka:

“Bagus, kau ingin makan siang?”

Dan sang asisten akan menjawab dengan cukup layak:

“Seperti biasanya…”

Dan mereka meninggalkan peron, masuk ke dalam ruangan, yang mempunyai banyak tanaman dan sedikit furniture; ruangan itu berbau masakan dan popok bayi dan yang di dalamnya,di sekitar meja, mereka berbincang-bincang mengenai apa yang telah mereka lewati.

“Kau memperhatikan wanita berambut coklat yang mengenakan pakaian warna kuning di dalam kereta kelas dua, Nikolai Petrovich? Jika kau bertanya kepadaku, dia itu seperti sekerat makanan yang menggiurkan!”

“Tidak buruk, tetapi dia tidak mempunyai selera dalam berpakaian,” kata asistennya.

Kata-katanya selalu ringkas dan diucapkan dengan penuh percaya diri, karena dia menganggap dirinya manusia, yang mengetahui kehidupan dan berpendidikan. Dia menamatkan gimnasium[3]. Dia memiliki buku catatan dengan sampul depan hitam, yang di dalamnya dia menuliskan kata-kata mutiara dari orang-orang terkenal, yang dia dapatkan dari artikel surat kabar dan buku-buku, yang secara kebetulan jatuh ke tangannya. Kepala stasiun mengakui kewenangannya dalam semua hal, yang tidak berkaitan dengan pekerjaan mereka dan dia dengan penuh perhatian mendengarkan kata-kata sang asisten. Dia, terutama, tertarik dengan mutiara-mutiara bijak, yang ada di dalam buku catatan Nikolai Petrovich dan dia selalu terkesan pada mutiara-mutiara bijak tersebut dengan jalan hati yang sederhana. Pengamatan asistennya pada selera wanita berambut coklat dalam cara berpakaian memunculkan satu pertanyaan pada diri Matvei Yegorovich:

“Apakah pakaian warna kuning tidak mesti untuk wanita-wanita dengan rambut coklat?”

“Saya tidak berbicara mengenai warna, tetapi potongannya,” jelas Nikolai Petrovich, sambil memindahkan selai dengan akurat dari pinggan kaca ke piringnya sendiri.

“Potongannya? Itu masalah lain..!” kata kepala stasiun setuju.

Istrinya bergabung dalam percakapan tersebut, karena subjek percakapan ini dekat dengan hatinya dan dapat dimengerti olehnya. Akan tetapi lantaran pikiran orang-orang ini tidak begitu terasah, maka perbincangan mereka bergerak jadi perlahan dan jarang menyentuh perasaan mereka.

Dan lewat jendela tampak terlihat padang stepa, yang diselimuti pesona kesunyian; dan langit, yang megah ada di dalam ketentramanyangluar biasa.

Hampir setiap jam, kereta barang lewat. Para pekerja, yang mengiringi kereta tersebut, adalah orang-orang yang sudah lama saling kenal. Awak-awaknya merupakan mahluk-mahluk pengantuk, mahluk-mahluk yang ditindas oleh perjalanan yang menjemukan di padang stepa. Namun demikian, terkadang mereka menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sepanjang jalan: di suatu jarak verst[4] tertentu, seorang laki-laki tergilas; atau mereka memperbincangkan mengenai masalah-masalah, yang bertalian dengan pekerjaan sendiri: si pulan dikenai hukuman denda, seseorang yang lain telah dimutasikan. Seluruh berita-berita itu tidak didiskusikan, tetapi ditelan, seperti penganan lezat, seperti mereka melahap makanan yang enak dan jarang diperoleh.

Perlahan-lahan dari langit matahari terbenam di batas padang stepa dan kadangkala matahari tersebut hampir menyentuh bumi, yang memperjadi warna merah tua. Di atas padang stepa terbentang sinar kemerah-merahan, yang memunculkan perasaan yang membosankan, membangunkan kecenderungan hati yang samar untuk pergi jauh ke depan, meninggalkan kehampaan. Kemudian matahari menyentuh kaki langit dan jatuh dengan tanpa gairah ke dalam atau ke balik kaki langit. Dalam jangka waktu yang masih lama, setelah itu, musik dari warna-warna yang terang di langit dengan lembut dimainkan, tetapi senandung musik ini semakin meredup, ketika jelang malam yang hangat dan tanpa suara datang menyelimuti. Bintang-bintang bersinaran, semuanya bergetar, seperti ditakut-takuti oleh rasa jemu di atas bumi.

Padang stepa kelihatannya jadi makin kabur di dalam jelang malam; dengan diam-diam bayangan malam merangkak ke stasiun dari semua sudut. Dan malam itu sendiri kemudian datang, gelap dan muram.

Di stasiun kereta api itu sinar-sinar bercahayaan; ada sinar hijaudari tiang sinyal, yang diliputi oleh kegelapan dan kesunyian, tampak lebih terang dan tinggi dibandingkan dengan semua yang lain. Kadang-kadang terdengar bunyi lonceng – suara peringatan akan datangnya kereta api; bunyi lonceng yang tergesa-gesa itu terbawa ke padang stepa, yang dengan cepat di tempat tersebut kemudian hilang tertelan.

Segera setelah bunyi gemerincing lonceng dari kejauhan yang pekat sinar warna merah yang sebentar-sebentar menyala berlarian dan keheningan di padang stepa dipecahkan oleh raungan kereta yang meredam, yang bergerak ke depan menuju ke stasiun yang lengang dan dibelit oleh kegelapan.

Manusia-manusia kecil ‘kelas bawah’ di stasiun kecil ini hidup sedikit berbeda dibandingkan dengan kaum aristokrat. Luka, sang penjaga stasiun, selalu melakukan perjuangan yang konstan dengan hasratnya untuk lari menuju ke istrinya dan saudara laki-lakinya, yang tinggal di desa, tujuh verst jauhnya dari stasiun. Dia mempunyai ‘tanah pertanian’ di sana, seperti yang dikatakannya kepada Gomozov, ketika dia meminta pelangsir yang tenang dan pendiam ini untuk mengerjakan tugas-tugasnya di stasiun.

Mendengar kata ‘tanah pertanian’ Gomozov selalu dengan berat menarik helaan nafas dan dia berkata kepada Luka:

“Bagus sekali, pergilah,” katanya. “Tanah pertanian memang harus diurus, tidak ada keraguan mengenai hal itu…”

Akan tetapi pelangsir yang lain, Afanasy Yagodka, seorang serdadu berumur dengan wajah bulat dan merah, yang ditumbuhi oleh janggut abu-abu; seorang manusia yang memiliki pembawaan mengejek dan senang marah, tidak mempercayai Luka.

“Tanah pertanian!” teriaknya dengan menyeringai. “Seorang istri!.. Saya mengerti betul, tanah pertanian ya tanah pertanian… Dan istrimu itu – apakah dia janda? Ataukah suaminya seorang serdadu?”

“Ah, kau ini memang gubernur burung!” Luka mendengus dengan menghina.

Dia menyebut Yagodka gubernur burung, karena serdadu tua itu sangat senang memelihara burung. Di rumahnya yang kecil, baik di dalam maupun di luar, tergantung sangkar-sangkar dan tempat burung bertengger; sepanjang hari terdengar suara ramai burung-burung di dalam rumahnya dan di sekitarnya. Burung puyuh, yang ditangkap oleh sang serdadu, terus-terusan mengeluarkan bunyi ciap-ciap yang membosankan dan tak berjeda, burung jalak membunyikan suara-suara yang panjang, seperti berkomat-kamit, burung-burung kecil dengan ragam warna mencericit, menciap dan bersenandung tanpa lelah, mengisi kehidupan kosong sang serdadu dengan kesukaan. Dia mencurahkan semua waktu luangnya untuk burung-burung peliharaannya; dan ketika dia bertalian dengan burung- burung tersebut dengan lemah-lembut dan penuh peduli, sedikit pun dia tidak menaruh perhatian pada kawan-kawannya di stasiun. Dia menyebut Luka – ular dan Gomozov – tukang jagal, dan dengan tanpa sungkan langsung mengatakan kepada mereka, bahwa keduanya adalah pengekor kaum perempuan, dalam hal ini, menurut pendapatnya, mereka layak dihajar.

Luka, terhadap kata-kata itu, tidak begitu ambil peduli, tetapi jika sang serdadu sudah terlalu jauh mengejeknya, Luka secara panjang lebar dan dengan pedas akan memaki-maki sang serdadu:

“Kau itu garnisun tidak berpendidikan, remah sisa makanan tikus! Kau mengerti apa, bekas tukang tabuh tambur kambing? Kau mengejar katak dengan acungan bedil dan menjaga kubis seorang kolonel… Apa yang dapat diperdebatkan dari pekerjaanmu? Pergi kau ke burung-burung puyuhmu, kau itu hanya komandan burung!”

 

Lukisan Karya Patrick Wowor (2014)

Yagodka, setelah dengan tenang mendengarkan begitu banyak semburan kata-kata marah sang pelangsir, akan pergi untuk menyampaikan keluhan kepada kepala stasiun, yang akan berteriak, agar jangan datang membawa urusan-urusan sepele kepadanya dan kepala stasiun akan mengusir Yagodka keluar. Oleh karena itu Yagodka akan menemui Luka dan dia sendiri yang memarahi Luka – dengan tenang, tanpa kehilangan kesabarannya, dengan memakai kosa kata cabul yang demikian berbobot, yang membuat Luka segera akan lari menjauh, sambil meludah dengan jijik.

Gomozov terhadap kata-kata cela sang serdadu menjawab dengan tarikan nafas dan dengan rasa malu melakukan dalih untuk membela diri.

“Apa yang harus diperbuat? Tidak ada yang dapat dilakukan dengan hal itu…Tentu saja…itu tidak berbahaya…tetapi, omong-omong, ini sambil lalu saja, jika tidak menilai orang lain, maka kau pun akan tidak dicela.”

Suatu hari sang serdadu memberikan jawaban pada hal tersebut dengan sedikit tertawa:

“Itu resep lama untuk semua jenis penyakit! Janganlah menilai, janganlah menilai…Dan jika tidak diperbolehkan untuk menilai, maka manusia tidak akan memperbincangkan apapun juga…”

Di sana, di stasiun masih ada seorang perempuan lagi, selain dari istri sang kepala stasiun. Dia adalah Arina, seorang tukang masak. Dia berumur di bawahempat puluh tahun dan sangat jelek rupa – tubuhnya gemuk pendek, dengan payudara terjuntai, dengan pakaian yang koyak-moyak dan selalu kotor. Ketika dia berjalan, dia terkedek-kedek dan mata kecilnya yang menakutkan, yang diseputari kerutan-kerutan, berkilatan di wajahnya yang bopeng. Dan ada sesuatu yang tampaknya seperti pembawaan budak dan terasa terintimidasi di dalam sosok tubuhnya yang canggung, bibir tebalnya secara permanen mengkerut, seolah-olah dia ingin minta maaf pada setiap orang – seakan-akan dia ingin berlutut di depan orang-orang dan dia takut untuk menangis. Selama delapan bulan Gomozov hidup di stasiun tersebut, dia tidak memberikan perhatian khusus terhadap perempuan itu; ketika dia bertemu dengan Arina, dia akan mengatakan salam. Sang perempuan akan membalas dengan mengembalikan salam itu, mereka saling bertukar dua-tiga frasa dan kemudian saling berpisah, setiap orang akan melanjutkan langkahnya menuju ke masing-masing tujuan. Akan tetapi suatu hari Gomozov datang ke dapur kepala stasiun dan meminta Arina untuk menjahitkan beberapa kemeja. Arina setuju dan jika kemeja-kemeja itu sudah jadi, dia sendiri yang akan membawanya kepada Gomozov.

“Terima kasih,” kata Gomozov. “Tiga kemeja; masing-masing kemeja – satu grivennik[5], jadi tiga puluh kopek aku berhutang kepadamu, bukan begitu?”

“Saya pikir demikian,” kata Arina.

Gomozov mulai berpikir-pikir dan cukup lama berdiam diri.

“Kau datang dari guberniya[6]mana?” Akhirnya dia bertanya kepada perempuan tersebut, yang di sepanjang waktu matanya terpancang pada janggut Gomozov.

“Ryazan[7],” katanya.

“Itu jauh! Bagaimana kau bisa sampai ke sini?”

“Ya, begitulah… Saya selalu sendiri. Tidak punya siapa-siapa.”

“Hal yang begitu, cukup membuat orang pergi, bahkan lebih jauh,” Gomozov menarik nafas panjang.

Dan keduanya diam lagi.

“Demikian juga aku. Asalku dari Nizhny Novgorod[8]. Sergachev Uyezd[9]…” kata Gomozov beberapa saat kemudian. “Aku sendiri juga. Begitulah. Dulu aku memiliki keluarga, istri dan anak-anak. Dua orang anak. Istriku meninggal karena kolera, anak-anakku meninggal, karena memang meninggal. Dan aku – aku menjadikan diriku terlalu lelah karena duka cita. Kemudian sekali lagi aku berusaha untuk menyusun segalanya, tetapi malah sebaliknya. Mesin-mesin rusak, tidak jalan. Jadi, sebagai konsekuensinya, aku pergi dari tempat sendiri …ke tempat yang lain. Sudah tahun ketiga aku bersusah payah begini.”

“Tidaklah baik,ketika kau tidak memiliki tempat, yang akan memanggilmu kembali,” kata Arina dengan lembut.

“Ya, tentu saja. Kau seorang janda?”

“Bukan, saya seorang gadis.”

“Bagaimana mungkin bisa begitu!” kata Gomozov dengan tidak berusaha menyembunyikan kekurangpercayaannya.

“Begitulah adanya, seorang gadis” Arina meyakinkan Gomozov.

“Mengapa kau tidak pernah kawin?”

“Saya ini, siapakah yang akan mengawini? Saya tidak punya apa-apa. Lelaki menginginkan sesuatu. Dan lagi pula rupa saya amat jelek.”

“Be-nar…” kata Gomozov dengan lafal yang panjang, sambil melihat pada Arina secara cermat dengan perasaan ingin tahu, seraya mengusap-usap janggutnya. Gomozov bertanya pada Arina, berapakah jumlah upahnya.

“Dua setengah.”

“Baiklah, aku mengerti. Jadi aku berhutang kepadamu tiga puluh kopek, heh? Begini, datang dan ambillah malam ini. Kira-kira jam sepuluh, kau mau? Aku akan membayarmu dan kita akan meminum teh bersama-sama, kita akan berbincang-bincang, karena tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan. Kita ini orang-orang yang kesepian, kita berdua. Jadi datanglah.”

“Saya akan datang,” katanya dengan bersahaja dan pergi keluar.

Kemudian Arina datang tepat jam sepuluh dan pergi ketika fajar datang.

Gomozov tidak mengundangnya untuk datang lagi dan tidak memberikan tiga puluh kopek miliknya. Arina datang kembali atas kemauannya sendiri. Dia, perempuan bodoh dan patuh ini, datang kembali dan berdiri dengan membisu di depan Gomozov. Seraya berbaring di atas ranjang, lelaki itu memandangi Arina, dan setelah bergeser ke arah dinding, dia berkata:

“Duduklah.”

Ketika perempuan tersebut telah duduk, Gomozov berkata kepadanya:

“Dengar, simpanlah ini di dalam rahasia. Jangan biarkan orang mengetahui hal ini, kau dengar? Aku akan mendapatkan masalah, jika kau melakukannya. Aku tidak muda lagi, begitu juga denganmu… Mengerti kau?”

Perempuan itu menganggukkan kepala, bersetuju.

Ketika Gomozov mengantarkannya keluar, dia menyerahkan beberapa pakaian kepada Arina untuk ditisik dan dia mengingatkannya lagi:

“Jangan biarkan orang mengetahui hal ini!”

Dan demikianlah, mereka memulai hidup secarademikian, menyembunyikan dengan hati-hati hubungan mereka dari yang lain.

Pada setiap malam Arina akan menyelinap hampir seperti merayap-rayap ke kamar Gomozov. Laki-laki itu menerimanya dengan sikap jumawa, dengan raut wajah seorang majikan, dan kadang-kadang secara terus-terang dia berkata kepada Arina:

“Ah, dari rupamu itu, kau memang jelek!”

Perempuan tersebut dengan terdiam hanya tersenyum dengan senyuman pucat dan bersalah, dan ketika pergi, dia akan membawa sesuatu kerja, yang diberikan oleh Gomozov.

Mereka sering saling tidak melihat. Akan tetapi kadang-kadang, ketika mereka bertemu di halaman stasiun, Gomozov akan berbisik:

“Singgahlah malam ini…”

Dan perempuan tersebut secara patuh akan datang dengan raut yang sangat serius, seperti yang terlihat pada wajah bopengnya, seakan-akan dia datang untuk menyelesaikan sesuatu kewajiban, sesuatu yang maha penting, yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

Akan tetapi sekali lagi muncul, dalam perjalanan pulang ke rumah, raut wajah bersalah, raut wajah takut yang beku dan biasanya terhadap Gomozov.

Kadang-kadang perempuan itu berhenti di suatu sudut tersendiri atau di balik pohon untuk berlama-lama memandang ke arah padang stepa. Malam di sana berkuasa dan lantaran keheningan yang suram, hatinya dipenuhi dengan kengerian.

Suatu hari, setelah mengantarkan kereta api sore, para pekerja stasiun duduk untuk minum teh di halaman, di depan jendela rumah Matvei Yegorovich, di bawah rimbunnya beberapa pohon topol[10].

Mereka sering minum teh di sana, ketika hari terasa panas – mereka memasukkan selingan yang khusus ke dalam kemonotonan hidup sendiri.

Setelah memperbincangkan kesan-kesan yang dapat dikatakan mengenai kereta terakhir, mereka meminum teh dan terdiam.

“Hari ini lebih panas dari hari kemarin,” kata kepala stasiun, sambil mengulurkan sebelah tangannya dan memberikan gelas kosong kepada istrinya dan menyeka keringat dari dahinya dengan tangan yang lainnya.

Istrinya, seraya mengambil gelas, berkata:

“Tampaknya, itu karena kau kebosanan, jadi terasa lebih panas…”

“Hm, mungkin kau memang benar…Dalam keadaan seperti ini, baik juga bermain kartu. Akan tetapi kita hanya bertiga.”

Asistennya mengangkat bahu dan setelah memicingkan matanya, dengan saksama dia berkata:

“Permainan kartu, menurut Schopenhauer[11], menunjukkan adanya kebangkrutan pikiran.”

“Pandai sekali!” Matvei Yegorovich tersentuh. “Apakah itu tadi? Kebangkrutan pikiran, hm. Siapa yang mengatakannya?”

“Schopenhauer, orang Jerman, Filsuf.”

“Seorang filsuf? Hm…”

“Filsuf-filsuf itu – apakah mereka bekerja di universitas?” tanya Sofia Ivanovna ingin tahu.

“Bagaimana saya menjelaskannya kepada Anda? Menjadi filsuf bukanlah pekerjaan, tetapi kemampuan natural, begitulah yang dapat dikatakan. Siapa saja dapat menjadi seorang filsuf – siapa pun yang dilahirkan dengan kecenderungan berpikir dan mencari awal dan akhir dalam segala hal. Tentu saja, para filsuf kadang-kadang dapat dijumpai di universitas, tetapi mereka bisa ditemui di mana saja – bahkan di tempat kerja rel kereta.”

“Dan apakah mereka banyak menghasilkan uang – filsuf-filsuf yang ada di universitas itu?”

“Bergantung pada kemampuan mereka.”

“Kalau saja kita punya partner keempat, kita bisa menghabiskan beberapa jam yang menyenangkan,” kepala stasiun menghela nafas panjang.

Dan perbincangan terhenti lagi.

Tinggi di atas langit biru burung-burung djavoronok[12]bernyanyi, burung-burung murai berlompatan dari satu cabang ke cabang pohon topol yang lain, bersiul dengan lembut. Dari dalam rumah terdengar tangisan bayi.

“Arina di sana?” tanya kepala stasiun.

“Tentu saja,” jawab istrinya dengan ringkas.

“Ada sesuatu yang sangat orisinal dari perempuan itu, kau memperhatikannya, Nikolai Petrovich?”

“Keorisinalan adalah impresi pertama dari kebanalan[13],” Nikolai Petrovich berkata, seolah-olah mengenai diri sendiri, dengan rupa terpekur dan berpikir.

“Apatah itu?” kepala stasiun merasa jadi lebih gembira.

Dan ketika Nikolai Petrovich mengulang kembali kata-kata mutiara tersebut agar dengan jelas dapat difahami, dengan penuh kenikmatan sang kepala stasiun sedikit agak memejamkan matanya, sementara Sofia Ivanovna mengucapkan kata-kata dengan nada yang tenang:

“Anda dengan baik mengingat, apa yang Anda baca…sedangkan saya, saya membaca dan di hari berikutnya, ini di sepanjang hidup saya, saya tidak ingat apapun juga. Bahkan belum lama ini saya baru saja membaca sesuatu yang menarik, yang menghibur di Niva,[14] tetapi apa? Tidak ada satu kata pun yang saya ingat!”

“Semua hanya masalah kebiasaan,” jelas Nikolai Petrovich dengan singkat.

“Tidak, itu bahkan lebih baik dari yang tadi – siapa nama dia? Schopenhauer…” kata kepala stasiun dengan tersenyum. “Dengan kata lain, segala sesuatu yang baru akan menjadi tua!”

“Atau bahkan sebaliknya, karena, seorang sastrawan mengatakan: ‘Dan, kebijaksanaan eksistensi sederhana: semua yang baru di dalamnya dijadikan dari yang lama’.”

“Ah kau ini, brengsek betul! Dari mana kau peroleh kata-kata begitu? Kata-kata itu keluar dari mulutmu, seperti keluar dari penapis[15]!”

Kepala stasiun tertawa dengan rasa senang, istrinya tersenyum manis dan Nikolai Petrovich merasa tersanjung dan berusaha dengan percuma untuk menyembunyikan rasa puasnya.

“Siapa yang berbicara mengenai kebanalan?”

“Baratinsky[16], sastrawan.”

“Dan yang satunya lagi?”

“Sastrawan juga, Fofanov[17].”

“Orang-orang pintar,” kata kepala stasiun dengan penerimaannya yang baik terhadap para sastrawan tersebut dan dengan suara menembang dia mengulangi kembali petikan itu, senyum puas tampak terlihat di wajahnya.

Rasa jemu terhadap hidup sendiri menyebabkan mereka melakukan semacam permainan; itu, barang sebentar, akan melepaskan mereka dari genggaman jenuh, tetapi setelahnya kejenuhan tersebut akan mencengkram mereka lebih keras lagi. Kemudian mereka akan kembali jadi bisu dan duduk di sana dengan diterpa panas, yang hanya mempertambah minum teh mereka.

Tidak ada apa-apa di sana, kecuali matahari di atas padang stepa.

“Seperti yang aku katakan mengenai Arina,” kepala stasiun mengingatkan. “Dia perempuan yang aneh. Aku memandangnya dan merasa heran. Seakan-akan dia itu sangat terpukul oleh sesuatu apa,– tak pernah tertawa, tak pernah menyenandung, hampir tak pernah bicara…seperti tunggul pohon di atas tanah. Akan tetapi dia memang bekerja dengan sangat baik dan begitulah, Anda sendiri tahu, bagaimana dia menjaga Lolya,[18] sang bayi, bagaimana dia sangat perhatian terhadapnya.”

Kepala stasiun berbicara dengan suara yang pelan, dia tidak ingin Arina mendengar kata-katanya lewat jendela. Dia sadar betul, jika tidak mau para pembantu jadi besar kepala, jangan memberikan pujian kepada mereka. Sonya menginterupsinya dan mengerutkan seluruh dahinya dengan penuh isyarat:

“Cukupkan untuk bicara terlalu banyak. Ada banyak hal yang tidak kau ketahui mengenai dia.”

Cinta seorang budak,

            Aku begitu lemah,

            Dalam peperangan denganmu,

O, iblisku!

Senandung Nikolai Petrovich dengan perlahan, seraya memukul-mukulkan, dengan irama yang teratur, sendoknya ke atas meja. Dia kemudian tersenyum.

“Apa? Apatah itu maksudnya? Dia? Arina? Kalian pasti berolok-olok, kalian berdua!”

Dan kepala stasiun tiba-tiba tertawa keras. Pipinya berguncang-guncang dan butiran keringat menetes dengan cepat dari keningnya.

“Ini sama sekali tidak lucu!” kata Sonya mencoba menghentikan tingkah laku suaminya. “Pertama, dialah yang bekerja menjaga sang bayi, dan kedua – lihatlah bagaimana roti ini? Hangus dan rasanya jadi agak masam. Dan sebabnya apa?”

“Ya, roti itu memang tidak boleh seperti itu. Kau harus menegur dia karena hal ini! Akan tetapi, demi Tuhan! Aku tak pernah mengira! Perempuan itu sendiri kan hanya seperti racikan gumpalan terigu! Ah, brengsek betul, Dan laki-laki itu, siapa dia? Luka? Aku akan ejek dia, laki-laki bajingan! Atau Yagodka – si tua kelimis?”

“Gomozov,” kata Nikolai Petrovich, ringkas.

“Dia? Laki-laki pendiam itu? Ayolah, kau pasti mengada-ada, benar?”

Kepala stasiun sangat senang terhadap kejadian yang sangat menggelikan tersebut. Kadang dia terbahak-bahak sampai matanya basah, kadang dengan serius dia mengatakan tentang keharusan untuk menegur secara keras orang-orang yang tengah mencinta itu, kemudian dia membayangkan percakapan-percakapan yang mesra di antara keduanya dan sekali lagi dia tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Akhirnya dia merasa tertarik untuk mengetahui rincinya. Wajah Nikolai Petrovich seketika itu juga, tak pelak lagi jadi menegang dan Sofia Ivanovna berusaha menghentikan kemauan suaminya secara keras.

“Dasar bajingan! Aku akan memperolok-olok mereka! Ini sangat menarik,” kata kepala stasiun, yang merasa sudah tidak sabar lagi.

Pada saat itu Luka datang dan dia memberitahukan:

“Telegrap berbunyi,”

“Aku akan datang. Berikan sinyal nomor 42.”

Dengan segera dia dan asistennya berjalan ke stasiun dan di sana Luka sedang menarik-narik lonceng dengan sekeras-kerasnya untuk memberikan sinyal kedatangan kereta. Nikolai Petrovich duduk, mendekati peralatan dan mengirimkan kawat ke stasiun berikutnya: ‘Dapatkah saya berangkatkan kereta nomor 42’, sedang kepala stasiun berjalan ke sana kemari di atas lantai kantor tersebut, seraya tersenyum sendiri dan berkata:

“Kau dan aku akan menggoda mereka, orang-orang brengsek itu…Karena tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan. Setidak-tidaknya kita akan sedikit tertawa.”

“Ya, itu diperbolehkan,” kata Nikolai Petrovich, sambil menggerakkan kunci telegrap.

Dia tahu, bahwa kaum filsuf harus bertindak secara ringkas dan padat.

Sesegeranya, setelah itu, datang kesempatan kepada mereka untuk tertawa.

Pada suatu ketika, di malam hari, Gomozov datang menemui Arina di gudang bawah tanah dan di sana, atas permintaan Gomozov dan dengan persetujuan istri kepala stasiun, Arina membuat tempat tidur untuk dirinya sendiri, yang ada di antara berbagai macam barangrongsokan rumah tangga. Di tempat ini terasa lembabdan dingin; dan bangku-bangku rusak, tong-tong kayu, papan-papan dan semua barang bekas lainnya membentuk wujud-wujud yang menakutkan di dalam gelap; ketika Arina sendirian, dia begitu ketakutan, sampai-sampai dia tidak dapat tidur dan hanya akan berbaring di atas jerami dengan mata terbuka lebar, sambil menggumamkan doa-doa, yang dia ketahui.

Gomozov yang telah datang itu, dalam waktu yang lama mengkusutkan pikirannyadan menekannyadengan tidak mengatakan sepatah kata pun, kemudian jadi lelah dan jatuh tertidur. Akan tetapi dengan segera Arina membangunkannya dengan bisikan yang penuh rasa khawatir:

“Timofei Petrovich![19] Timofei Petrovich!”

“Ada apa?” jawab Gomozov, setengah tersadar.

“Mereka mengunci kita.”

“Bagaimana bisa begitu?” tanyanya, seraya melompat bangun.

“Mereka mendekati pintu dan…mengunci gemboknya.”

“Kau berbohong!” Dia berbisik dengan ketakutan dan penuh amarah, sambil mendorong Arina menjauh dari dirinya.

“Lihatlah sendiri,” jawab perempuan itu dengan rasa tunduk.

Gomozov bangun, berjalan terhuyung-huyung, menabrak semua barang-barang, yang dia jumpai, ketika melangkah, mendekati pintu dan berusaha mendorongnya; dan setelah agak terdiam, dia berkata dengan murung:

“Semua ini pekerjaan si serdadu.”

Ledakan tawa terdengar dari balik pintu.

“Keluarkan kami!” pinta Gomozov dengan suara yang keras.

“Apa?” terdengar suara sang serdadu.

“Keluarkan kami, kataku…”

“Besok pagi,” kata sang serdadu, sambil pergi menjauh.

“Brengsek, aku harus mengerjakan semua pekerjaanku!” Gomozov berteriak dengan marah dan memohon.

“Aku akan mengerjakan semua tugasmu. Diamlah baik-baik di sini.”

Dan serdadu itu pun pergi.

“Kau anjing buduk!” geram sang pelangsir dengan perasaan tidak karuan. “Tunggu…kau tidak boleh mengurung aku di sini seperti ini. Itu kepala stasiun. Apa yang kau katakan kepada kepala stasiun? Dia akan bertanya: di mana Gomozov kan? Kalau begitu kau jawablah…”

“Saya takut, kepala stasiunlah yang memerintahkan si serdadu untuk melakukan hal ini,” kata Arina dengan lirih dan tanpa harapan.

“Kepala stasiun?” ulang Gomozov dengan takut. “Mengapa dia mesti memerintahkan si serdadu melakukan hal seperti ini?” Dan, setelah beberapa saat terdiam, dia kemudian berteriak kepada perempuan tersebut: “Kau berbohong!”

Arina menjawab hanya dengan helaan nafas yang dalam.

“Ya, Tuhan, apa yang akan terjadi sekarang?” kata sang pelangsir dan dia duduk di atas tong kayu di dekat pintu. “Cemarlahaku ini. Dan semuanya salahmu, monster jelek!”

Dan setelah mengepalkan tangan, Gomozov mengacung-acungkan kepalan tangan tersebut ke arah terdengarnya helaan nafas Arina. Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa.

Mereka diselubungi bayangan-bayangan kelabu – bayangan yang dipenuhi oleh bau acar kubis dan jamur serta bau sengit lainnya, yang menggelitik cuping hidung. Berkas-berkas tipis sinar bulan masuk melewati celah pintu. Dari luar terdengar suara gemuruh kereta barang, meninggalkan stasiun.

“Hei, kau, perempuan kuntilanak! Mengapa kau tak bicara apa-apa?” kata Gomozov, dengan marah dan memandang rendah. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kau menyurukkan aku ke dalam kesulitan ini dan sekarang kau tak mengatakan apa-apa? Pikirkan jalan keluarnya, brengsek, apa yang akan kita lakukan? Kemana aku harus sembunyi dari rasa malu ini? Ya, Tuhan! Bagaimana aku bisa berhubungan dengan mahluk yang seperti ini!”

“Maafkanlah saya,” kata Arina dengan pelan.

“Heh?”

“Mungkin saya akan dimaafkan.”

“Apa artinya untukku? Baiklah, kau akan dimaafkan; lantas hasilnya apa? Kecemaran itu akan tetap ada padaku atau tidak? Sama saja, aku akan ditertawakan .”

Setelah dalam beberapa saat terdiam, Gomozov mulai memaki-maki dan mencerca-cerca perempuan itu lagi. Waktu bergerak dengan berat dan pelan. Akhirnya perempuan tersebut berkata kepada Gomozov dengan suara gemetar:

“Maafkanlah saya, Timofei Petrovich.”

“Dengan kapak di kepalamu itu, baru kau aku maafkan!” bentak Gomozov.

Dan kembali muncul keheningan, kesuraman dan ketertekanan, keterpenuhan rasa sakit yang hampa bagi dua orang, yang terpenjara di dalam kegelapan.

“Ya, Tuhan! Sekiranya saja segera datang benderang,” dengan keterpiluan Arina memohon.

“Diamlah kau… Aku yang akan menunjukkan kepadamu bagaimana terang!” Gomozov mengancam dan sekali lagi mulai melontarkan rentetan-rentetan makian terhadap perempuan itu. Kemudian datang lagi siksaan karena keheningan dan kebisuan. Dan kebengisan waktu semakin bertambah dengan mendekatnya fajar, seakan-akan setiap menit itu menghilang dengan berlambat-lambat, seperti disenangkan oleh situasi yang menggelikan dari dua orang tersebut.

Beberapa waktu kemudian Gomozov tertidur dan dibangunkan oleh kokok ayam jantan, yang ada di luar gudang.

“Hei, nenek penyihir! Kau tidur?” tanya Gomozov dengan meredam.

“Tidak,” jawab Arina, dengan helaan nafas.

“Kalau begitu kau tidur saja!” Gomozov dengan mengejek menawarkan. “Ah, kau ini!”

“Timofei Petrovich!” kata Arina, hampir seperti menjerit. “Jangan marah dengan saya! Kasihanilah saya! Atas nama Kristus, saya memohon – kasihanilah saya! Saya betul-betul sendiri, tanpa seorang pun di dunia ini. Kau – kau satu-satunya yang aku miliki. Betapapun, kita…”

“Berhentilah meratap! Jangan membuat orang tertawa!” Gomozov memotong dengan kasar lenguhan histeris dari sang perempuan, yang meski demikian sedikit melunakkan hatinya. “Diamlah, kau – perempuan bodoh.”

Dan kemudian, tanpa berkata sepatah pun, mereka menunggui jalannya setiap menit yang berurutan. Akan tetapi lintasan menit tersebut tidak membawakan mereka apa-apa. Akhirnya sinar matahari datang melewati celah pintu, saling bersilang melalui kegelapan dalam bentuk berkas-berkas cahaya. Suara langkah terdengar dari luar gudang. Seseorang datang mendekati pintu, berdiri sebentar di sana dan kemudian pergi menjauh.

“Hei, setan!” Gomozov meraung, sambil meludah penuh kemarahan. Sekali lagi mereka menanti di dalam keheningan yang menegangkan.

“Ya, Tuhan, kasihanilah…” Arina berbisik.

Suara langkah yang diam-diam, rasa-rasanya, terdengar. Tiba-tiba ada bunyi gembok dibuka dan suara keras kepala stasiun terdengar.

“Gomozov!” teriaknya. “Pegang tangan Arina dan keluarlah kalian! Penuh rasa semangat, Gomozov! Semangat!”

“Ke sini, kau,” gumam Gomozov. Arina menghampiri dan berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk dalam.

Pintu terbuka dan di sana berdiri kepala stasiun. Dia menundukkan kepala, tanda takzim dan berkata:

“Selamat atas perkawinan kalian! Ayo, mainkan musik!”

Gomozov melangkah keluar melalui ambang pintu dan dia dihentikan oleh gemuruh suara, yang memekakkan telinga. Luka, Yagodka dan Nikolai Petrovich berdiri di depan pintu. Luka memukul-mukul bagian bawah ember dengan kepalan tangannya dan berteriak dengan sekuat-kuatnya dalam suara tenor yang melengking; sang serdadu meniup horn dari kaleng; Nikolai Petrovich, yang pipinya menggelembung, menggerak-gerakkan tangannya seperti ombak dan melalui bibirnya, seolah-olah, dia meniup sebuah terompet:

“Pom! Pom! Pom-pom-pom!”

Dari ember dihasilkan bunyi berdetam; suara yang melengking dan meraung keluar dari horn. Kepala stasiun tergelak, sampai terbungkuk-bungkuk memegangi bagian rusuknya. Asistennya juga terbahak-bahak, sambil melihat pada Gomozov, yang tampak ternganga dengan wajah pucat pasi dan bibir bergetar, yang tergurat di dalam senyum karena malu. Di belakangnya Arina berdiri, kepalanya tertunduk sampai ke dada, dia seperti tak bergerak dan seolah-olah telah berubah menjadi sebongkah batu.

Arina mengatakan kepada Timofei

            Kata-kata yang manis

 

            Luka menyanyikan hal-hal yang sepele dan menunjukkan wajahnya tampaktidak menyenangkan terhadap Gomozov. Sedangkan sang serdadu berjalan ke arah tempat Gomozov berdiri dan membunyikan horn-nya di telinga Gomozov, dia terus memainkannya, terus memainkan.

“Ayo, jalan, ayo…pegang tangan Arina!” teriak kepala stasiun, agak tertahan karena bahak tawanya. Tubuh Sonya, sang istri, yang duduk di serambi, terguncang-guncang karena gelak tawa dan dia berteriak histeris:

“Oh, oh! Hentikanlah! Aku bisa mati!”

Lantaran momen bahagia ini

Aku benar-benar sabar menderita

 

Nikolai Petrovich bersenandung, tepat di depan wajah Gomozov.

“Hore! Kepada pengantin baru, selamat!” teriak kepala stasiun, ketika Gomozov melangkah ke depan. Dan semuanya, keempat orang tersebut berteriak dengan serempak hore, tambahan lagi sang serdadu berteriak dengan suara bas yang menderam.

Arina melangkah di belakang Gomozov. Kepalanya sekarang terangkat, mulutnya ternganga dan tangannya terjuntai lemah di kedua belah pinggangnya. Matanya sayu menatap apa, yang ada di hadapannya, tetapi, bahwa kedua mata tersebut melihat sesuatu, itu diragukan.

“Buatlah mereka saling mencium! Ha…ha…ha!”

“Sebuah ciuman saja, pengantin baru!” teriak Nikolai Petrovich, sedang Matvei Yegorevich bahkan bersandar dengan lemah pada sebatang pohon dan karena tertawa kedua kakinya tidak lagi dapat menopang dirinya. Dan ember terus bersuara, horn berbunyi, menjerit, menggoda, dan Luka agak sedikit menari, ketika dia bernyanyi:

Dan kau, Arina, untuk kami

            Membuatkan sup kubis yang terlalu kental!

            Nikolai Petrovich sekali lagi mengeluarkan udara dari pipinya, yang digelembungkan:

“Pom-pom-pom! Toot-toot-toot! Pom-pom! Toot-toot-toot!”

Ketika Gomozov telah sampai di pintu barak, dia menghilang. Tinggal Arina berdiri di halaman dengan di kelilingi oleh sekelompok manusia liar, yang berteriak, tertawa dan bersuit-suit di telinganya; dan berjingkrak-jingkrak di sekitarnya dalam keriangan yang sangat gila. Dia berdiri di sana, di hadapan mereka dengan wajah yang tak bereaksi – kotor, tidak rapi, menyedihkan, dan absurd.

“Pengantin lelaki pergi menghilang dan meninggalkannya di belakang,” kata kepala stasiun kepada istrinya, sambil menunjukkan jari ke arah Arina dan tertawa sampai terbungkuk-bungkuk.

Arina menolehkan kepalanya ke arah kepala stasiun dan kemudian dia berjalan melewati barak, keluar menuju ke padang stepa. Kepergiannya disertai oleh teriakan, siulan dan gelak tawa.

“Cukup! Jangan usik dia lagi!” teriak Sofia Ivanovna. “Biarkan dia sendiri. Nanti dia harus meyiapkan makan siang.”

Arina pergi keluar menuju ke padang stepa; keluar melewati garis pemisah ke ladang gandum, yang berbulu kasar. Dia berjalan dengan pelan, seperti orang yang tenggelam dalam tafakur.

“Bagaimana, bagaimana?” berkali-kali kepala stasiun bertanya kepada mereka-mereka, yang ikut dalam percandaan yang tadi, yang menceritakan kepada satu sama lainnya detil-detil kecil dari rincian perilaku sang pengantin baru. Mereka semuanya tertawa terbahak-bahak. Dan bahkan, di dalam hal ini, Nikolai Petrovich mendapatkan kesempatan untuk memasukkan salah satu mutiara bijaknya:

Tertawa, pada apa, yang tampaknya jenaka

Benar-benar, bukanlah dosa

 

Hal ini dia katakan kepada Sofia Ivanovna, seraya menambahkan secara meyakinkan, “tetapi jika tertawa terlalu banyak, itu berbahaya.”

Pada hari itu, di sana, di stasiun telah terjadi gelak tawa yang riuhnya bukan main, tetapi makan siang jadi sangat buruk, karena Arina tidak datang untuk memasak dan pekerjaan tersebut terlimpah kepada istri kepala stasiun. Bahkan makan siang yang jelek itu tidak mampu menghancurkan suasana hati yang cerah. Gomozov tidak keluar dari barak sampai datang waktu, ketika dia harus mengerjakan tugasnya. Saat dia keluar, dia dipanggil ke kantor kepala stasiun dan di sana Nikolai Petrovich, dengan disertai kekehan Matvei Yegorovich dan Luka, menanyai Gomozov mengenai, bagaimana dia dapat memikat hatiperempuan cantiknya.

“Berdasarkan keorisinalannya – ini adalah kejatuhan laki-laki nomor wahid,” kata Nikolai Petrovich kepada kepala stasiun.

“Ya kejatuhan itu ada,” kata Gomozov yang tampak tenang dan serius dengan senyum kecutnya. Dia menyadari, bahwa seandainya dia dapat memberikan cerita, yang akan membuat Arina tampak menggelikan, maka dia sendiri akan sedikit terhindar dari terpaan gelak tawa. Dan dia bercerita:

“Mulanya perempuan itu berkali-kali mengedipkan matanya kepadaku.”

“Mengedipkan mata? Ha, ha, ha! Bayangkan itu, Nikolai Petrovich, bagaimana dia, Arina, dengan raut yang begitu, mengedipkan matanya kepada Gomozov? Itulah dia daya pikat!”

“Jadi, dia mengedipkan mata, sedang saya hanya memandang dan berpikir mengenai diri sendiri – kau nakal, perempuanku! Kemudian, akhirnya, dia berkata: kau mau, dia berkata begini, saya akan jahitkan kau beberapa kemeja.”

“Tetapi ‘di sini kekuatan ada bukan pada jahitannya’,” kata Nikolai Petrovich memperhatikan, seraya menambahkan kepada kepala stasiun dengan penjelasan: “Itu, Anda tahu, dari Nekrasov[20]– dari salah satu sajaknya yang berjudul ‘Ubogaya i Naryadnaya’.[21] Teruskan, Gomozov.”

Dan Gomozov melanjutkan, pertama-tama dengan memaksa-maksa, tetapi sedikit demi sedikit dia memperoleh inspirasi dari dusta-dustanya, karena dia melihat, bahwa kebohongan-kebohongan itu berfaedah bagi dirinya.

Sementaraitu perempuan yang sedang dibicarakan Gomozov, berbaring di atas padang stepa. Dia sudah berjalan jauh ke luar, masuk ke dalam lautan gandum dan di sana dia membenamkan diri dengan susah hati ke atas tanah dan berbaring tanpa bergerak. Ketika dia tidak sanggup lebih lama lagi menahan panasnya sinar matahari, yang mendera punggungnya, dia berbalik dan melindungi wajahnya dengan tangan untuk menghalangi pandangan ke langit yang terlalu terang, ke arah matahari yang sangat menyilaukan.

Pohon-pohon gandum yang ada di seputaran perempuan, yang telah diremukkan oleh perasaan malu itu, berdesir lembut; belalang-belalang yang tak terkira jumlahnya, mengerik secara kontinyu dan teratur. Hari, rasanya, panas. Perempuan tersebut berusaha untuk berdoa, tetapi dia tidak dapat mengingat kata-kata doa. Wajah-wajah yang penuh ejekan menari-nari di depan matanya. Telinganya dipenuhi oleh suara gelak tawa, horn yang menjerit dan lengkingan dari Luka. Karena itu, atau karena panas yang membuat dadanya terkerut; dan dia membuka bajunya dan memperlihatkan tubuhnya ke arah matahari, sambil berharap akan menjadikannya lebih mudah bernafas. Sinar matahari membakar kulitnya; sesuatu yang terasa panas tampaknya menggurdi[22]di dalam dadanya; nafasnya menjadi tersengal-sengal.

“Tuhan, kasihanilah…” bisik lirih Arina dari waktu ke waktu.

Akan tetapi jawaban yang datang hanyalah dari desiran pohon gandum dan suara belalang yang mengerik. Sambil mengangkat kepalanya lebih tinggi dari pohon gandum yang berombak, dia melihat kilauan pohon gandum yang keemasan, menara air berwarna hitam yang menjulang ke udara terbuka, di luar stasiun, dan atap dari bangunan stasiun. Tidak ada sesuatu yang lain di atas dataran berwarna kuning yang tak bertepi, yang diselubungi oleh lengkung langit biru; dan tampaklah pada Arina, bahwa dia sendirian di seluruh dunia ini dan dia berbaring di tengah-tengahnya, seorang pun tidak ada yang pernah datang untuk membebaskannya dari beban rasa sepi. Seorang pun, tidak pernah…

Menjelang malam perempuan itu mendengar teriakan:

“Arina-a! Arina, kau dengar!”

Suara yang satu itu milik Luka, sedang yang kedua milik sang serdadu. Perempuan tersebut berharap mendengar suara yang ketiga, tetapi laki-laki itu tidak memanggilnya dan oleh karena itulah dia meneteskan limpahan airmata, yang mengalir deras di atas pipi bopengnya. Dan ketika dia menangis, dia menggosok-gosokkan dada telanjangnya pada tanah yang kering dan hangat untuk menghentikan perasaan membaranya, yang akan menjadikan dirinya semakin lama, semakin disengsarakan. Perempuan itu menangis, dan kemudian menghentikan tangisnya, sambil menahan isakannya, seakan dia takut seseorang akan mendengar dan melarangnya menangis.

Ketika malam sudah datang, dia bangun dan dengan perlahan dia berjalan pulang menuju ke stasiun.

Saat dia sudah sampai di bangunan tersebut, dia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada dinding gudang, untuk waktu yang cukup lama dia memandangi padang stepa. Kereta barang datang dan pergi, dan perempuan itu mendengar, ketika sang serdadu menceritakan kisah malu dirinya kepada para awak kereta, yang tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka dibawa jauh keluar, menuju ke padang stepa dan di sana marmut-marmut bersuara dengan lirih.

“Tuhan, kasihanilah,” perempuan itu menghela nafas, sambil menekan tubuhnya pada dinding gudang. Akan tetapi   helaan nafasnya tidak mampu mengurangi beban hatinya.

Menjelang pagi dia naik ke atas, masuk ke dalam loteng stasiun dan menggantung dirinya dengan tali pakaiannya.

Dua hari kemudian bau mayat Arina menuntun orang-orang untuk menemukannya. Mula-mula mereka takut, tetapi kemudian mereka mulai membicarakan, siapa yang mungkin bersalah atas apa, yang terjadi. Nikolai Petrovich, tanpa bisa dibantah, memperlihatkan, bahwa Gomozov-lah yang bersalah. Kepala stasiun memberikan kepada pelangsir tersebut sebuah pukulan ke bagian rahang dan memerintahkan Gomozov untuk tetap diam.

Orang yang berwenang datang dan melakukan investigasi. Akhirnya diketahui, bahwa Arina mengalami derita hati karena melankolia – kemurungan jiwa. Beberapa pekerja rel kereta api diperintahkan untuk membawa mayat Arina keluar, ke padang stepa dan menguburkannya di sana. Semua telah terjadi, kedamaian dan ketentraman sekali lagi berkuasa di stasiun kereta tersebut.

Dan sekali lagi orang-orang yang tinggal di sana hidup selama empat menit dalam sehari, merana karena rasa sepi dan jenuh, karena panas terik dan ketiadaan pekerjaan, memandang dengan rasa iri, kereta-kereta yang cepat pergi, meninggalkan mereka.

Dan pada musim dingin, ketika badai datang menderu dan meraung dari padang stepa, seraya menghujani stasiun kecil itu dengan salju dan suara-suara yang menakutkan, menjadikan hidup di sana lebih lengang dari yang pernah ada. (*)

____

*Cerita karya Maxim Gorky ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti adalah penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Leo Tolstoy, Maxim Gorky, Anton Chekov dan sebagian penulis besar Rusia lainnya. Setelah menamatkan studi di Rusia penulis kini tercatat sebagai pengajar di Jurusan Sastra FIB UNPAD.

 

 Catatan Kaki:

[1] Ketel teh khas Rusia

[2] Nama diminutif Sofia

[3] Sebutan untuk lembaga pendidikan menengah umum

[4] Ukuran panjang Rusia kuno, setara 1,06 km

[5] Sepuluh kopek

[6] Provinsi, divisi teritorial dan administratif utama di Rusia (1708-1929). Sekarang diubah menjadi oblast (region) dan kray (territory)

[7] Nama kota, letaknya 196 kilometer dari sebelah tenggara kota Moskow

[8] Kota terbesar keempat setelah kota Moskow, Saint Petersburg dan Novosibirsk. Dari tahun 1932 sampai tahun 1990 kota ini dikenal dengan nama Gorky, karena Maxim Gorky dilahirkan di Nizhny Novgorod

[9] Divisi teritorial dan administratif terendah di Rusia tahun 1708-1929, sekarang rayon

[10] Poplar, sejenis pohon dari kelas pohon willow

[11] Arthur Schopenhauer (22 Pebruari 1788-21 September 1860) termasyur dengan karyanya ‘the World as Will and Representation’. Schopenhauer memformulasikan filsafat yang pesimistik, yang memandang hidup, pada dasarnya, menjadi jahat, gagal dan penuh derita. Filsafatnya ini memperoleh sandaran yang kuat setelah kegagalan revolusi Jerman dan Austria tahun 1848. Akan tetapi melalui pemikiran Timur, dia melihat adanya penyelamatan, pembebasan atau lari dari derita dalam renungan estetis, rasa simpati pada orang lain dan perikehidupan menyepi

[12] Lark, burung yang gemar bernyanyi dari kelas burung gereja atau burung pipit

[13] Hal yang bersifat biasa sekali, dangkal, atau umum

[14] Majalah mingguan untuk bacaan keluarga, terbit di Saint Petersburg (1870-1918)

[15] Saringan

[16] Penulis Rusia Evgeny Baratinsky (1800-1844) merupakan penulis elegi, epigram, filsafat, lirik, sajak, prosa dan prosa liris.

[17] Penulis Rusia Konstantin Fofanov (1862-1911) merupakan penulis lirik, sajak, prosa liris dan epigram

[18] Nama diminutif Elena

[19] Timofei Petrovich Gomozov

[20] Nikolai Nekrasov (1821-1877/1878) merupakan penulis puisi, puisi satiris, prosa liris, prosa dan drama. Penulis Rusia yang melanjutkan tradisi Pushkin dan Lermontov. Karya-karyanya sangat berpengaruh pada perkembangan puisi-puisi demokratis paruh kedua abad 19

[21] Beggarly and Smart, petikan di sini kekuatan ada bukan pada jahitannya diambil dari baris terakhir bagian 1 ‘Karangan dalam Tiga Jilid’ Nekrasov. Sajak ini ditulis pada tahun 1859

[22] Men-drill atau mengebor

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Tiara

mm

Published

on

by Widya Yustina *)

“Mas Edi menelepon tadi.”

“Apa, Bu?” tanyaku.

“Iya, Mas Edi menelepon Ibu.”

“Oh, ya?”

“Nyariin kamu.”

Untuk apa dia mencariku?

“Dia bilang nomor handphone-mu tak bisa lagi dihubungi, makanya itu mungkin dia nelepon kemari.”

“Begitu ya? Lain kali, kalau Mas Edi telepon, ndak usah diangkat saja ya, Bu,”

“Lho?”

“Iya, pokoknya nanti kalau Mas Edi telepon lagi, langsung tutup saja sama Ibu.”

“Hhmm… Sebenarnya bukan sekali ini saja dia kontak Ibu, minggu lalu juga Mas Edi telepon, nanya kabar Tiara, mungkin kangen.”

Kangen? Tumben kangen.

Nduk… Mungkin sudah saatnya kalian bicara, biar bagaimana keadaannya, pikirkan masa depan anakmu, Tiara.”

Apakah selama ini dia memikirkannya?

 “Genduk… Ibumu ini bicara serius.”

Inggih, Ibu, tapi sekarang Lastri pergi kerja dulu ya.”

“Kamu ini… Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya.”

Suara Ibu bergetar terdengar waswas. Tiara, bayi perempuanku, beringsut nyaman dalam dekapan neneknya. Usianya belum genap 2 tahun, rambutnya keriwil, hidungnya lumayan bangir. Manis kalau tersenyum. Kugenggam jari-jemarinya yang montok dan menggemaskan. Kucium keningnya lalu pamit pada ibuku.

Tetangga dan handai tolan bilang, Tiara sangat persis mirip bapaknya ketimbang denganku. Sorot matanya acapkali mengingatkanku pada sesosok lelaki yang dulu sangat kuhormati, Mas Edi Wibowo, atau haruskah kusebut saja namanya tanpa panggilan hormat ‘Mas’? Ingin rasanya kuenyahkan dia dari ingatan. Namun, setiap kali menatap Tiara, mustahil melakukannya.

Pria itu begitu memesona waktu awal jumpa. Pintar dan tampak bersahaja. Posturnya tak terlalu tinggi namun kesan wibawa terpancar kuat darinya. Setelan kemejanya rapi. Rambutnya disisir klimis. Sepatu pantofelnya mengilat. Menjinjing tas kulit berwarna cokelat. Kami bertemu muka di bus kota.

Alih-alih bersikap cuek, aku terkejut melihatnya tersenyum padaku. Tunggu, apa benar ia tersenyum padaku? Kutengok kanan dan kiri, benar pandangannya tertuju padaku saja. Jantungku tersendat, dihunjam ratusan anak panah. Sepersekian detik terbang ke langit ketujuh. Pipiku memerah, dibuatnya jadi salah tingkah.

“Kenalkan, namaku Edi, Edi Wibowo.”

“Ah iya, saya… Ayu Lastri, panggil saja Lastri, Mas.”

Silir angin menembus celah jendela kaca tempat duduk kami berdampingan. Semerbak aroma wangi parfum segar tercium hidungku seketika membuat harga diriku terhempas karena cuma pakai deodoran. Harga parfumnya pasti mahal, pikirku kala itu.  Mas Edi terpaksa naik bus karena motor bebek yang dikendarainya mendadak mogok di tengah jalan. Ia hendak pergi mengajar di salah satu universitas tinggi negeri di Yogyakarta.

Pertemuan itu kukenang sebagai tengara bahwa hidup selalu memberi kejutan. Enam bulan setelah perkenalan, kami menggelar pesta pernikahan kecil-kecilan. Mas Edi, seorang Pegawai Negeri Sipil, mengenyam pendidikan doktoral di Amerika, melabuhkan petualangan cintanya padaku. Seorang gadis biasa-biasa saja, bahkan hanya lulusan diploma. Mungkinkah itu benar disebut cinta jika akhirnya membuatku sengsara?

 “Mbak, Mbak, ojek Mbak…,” lamunanku seketika buyar oleh seruan tukang ojek pangkalan.

“Oh iya, tolong antar saya ke Belo Garmen Industri di Jalan Mergo sari ya pak.”

“Ah, siap!” ujarnya sambil menyodorkan helm.

Matahari menggeliat bersinar garang. Bunyi klakson menggemuruh. Kabut udara dari asap kendaraan bercampur dengan butiran semangat dan keringat. Deru mesin motor melaju kencang di jalanan. Membelai rambutku yang panjang terurai, terkena imbasan angin. Jalanan yang sama kutempuh selama dua tahun ini menuju tempat perusahaanku bekerja di bagian administrasi.

Gajinya tak terlalu besar tetapi paling tidak dapat menyelamatkan harga diriku ketimbang menagih janji tanggung jawab dari ayah Tiara, seolah-olah itu utang. Tiara masih berumur 6 bulan waktu bapaknya itu menjatuhkan talak. Mas Edi rupanya kecantol cinta lain, sesama kolega.

Entah kapan dan di mana mereka bertemu, hanya Tuhan yang tahu. Perempuan itu tak mau mengaku ketika kuhubungi. Jejak perselingkuhan mereka tetap tercium meski suamiku berusaha menutupinya. Saat itu pula, harga diriku sebagai istri telah lenyap. Perselingkuhan itu seketika mematikan sumbu cinta di dalam hatiku. Menghancurkan keyakinanku akan ikatan suci sebuah perkawinan.

Gelora hasrat puber kedua telah membuatnya mati rasa. Tugasnya menjadi tugasku. Menjadi seorang ayah sekaligus menjadi seorang ibu. Demi anakku, rela kulakukan segala. Kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala. Kini laki-laki itu mencari-cariku setelah dia nyatakan urusan kami selesai bertahun-tahun lalu. Hidup tak sebercanda itu.

“Pak, pak, berhenti di sini ya.” Motor berhenti di lajur jalanan beraspal, khusus karyawan pabrik.

“Berapa, Pak?” ujarku sambil membuka helm.

“Eeh, itu, gak apa-apa, Mbak, gak usah bayar.”

“Lho?” ucapannya membuat keningku seketika berkerut.

“Jangan, bener gak apa-apa.”

“Masa gratis? Kan jadi gak enak saya.”

“Bener gak apa-apa, itu tapi, nganu, begini, saya kepengin ngobrol sama Mbak, sebentar saja, boleh ya?”

“Mau ngobrol apa?”

“Eehhmm…, gini, anu…, saya sering perhatikan Mbak kalau pulang kerja malam, pergi ke mana-mana juga sendirian, apa ndak takut begitu?” Bola matanya menyipit. Alisnya tegak. Sudut bibirnya merruncing, menampak seringai serigala.

“Dengar kabar, Mbak janda ya? Apa ndak kesepian? Boleh sekali-kali saya temani? Nanti pulang kerja, kita jalan-jalan dulu ya, gimana? Mau?”

Wajahku sontak terasa panas bagai ditampar bara. Sekelebat bayangan pedang muncul menghunjam dada pria paruh baya bertubuh gempal itu. Tubuhnya ambruk, menggelepar-gelepar di atas tanah. Mulutnya mesem-mesem sembari terus mengeluarkan celotehan busuk. Perutku mual ketika jari-jemarinya mencoba menyentuhku.

Kurogoh kocek lima puluh ribuan, kulemparkan kehadapannya lalu beranjak pergi. Pandanganku kabur, tergenang air mata. Hati remuk bagai gelas retak berdebu. Sepagi ini menanggung malu. Duh Gusti Mahasuci yang Maha menyaksikan segala, harus berapa lamakah lagi menahan diri dari fitnah, bujuk rayu dari segala penjuru?

Belumlah reda gemuruh di dalam dadaku. Langkah kakiku mendadak terhenti. Terlihat kerumunan karyawan berjejalan di depan pintu pabrik. Selembar kertas pengumuman tertempel di pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Aku bergegas menghampiri Marni, seorang teman yang kukenal bekerja di bagian operator.

“Ada apa ini ribut-ribut, Mar?”

“Oh kamu, Las, ini perusahaan ngasih pengumuman, kegiatan operasional pabrik kita ditutup, katanya hasil tes beberapa karyawan kita positif kena corona.”

“Apa?!” Ucapan Marni seketika membuat mulutku menganga.

“Yang benar? Siapa, Mar?”

“Iya benar. Mulai hari ini kita ndak usah datang ke pabrik lagi. Tuh! kamu baca saja sendiri,” ujar Marni sambil berlalu pergi. Aku pun bergegas mendekat ke arah kerumunan, bergesek beradu, membaca sendiri isi pengumuman itu. Ternyata benar yang dikatakan Marni. Pabrik ditutup sementara waktu.

Suasana semakin ricuh. Sebagian karyawan berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tangan. Seseorang kemudian merusak kertas pengumuman itu lalu melemparkannya ke tanah. Petugas keamanan menyuruh kami mundur dan bersabar menunggu instruksi lanjutan dari pimpinan. Marni tampak diam berdiri di seberang jalan, mata kami saling bertatapan.

Seluruh kejadian beruntun pagi ini pun membuat dadaku sesak, jantungku berdetak kencang tak karuan. Kepalaku mendadak pening alang bukan kepalang. Bagaimana akan kuberi makan anakku? Apa yang harus kulakukan sekarang?  Hanya pekerjaan ini yang kuandalkan. Hidup berhemat agar mampu bertahan. Kuabaikan keinginan serta kebutuhan pribadiku agar Tiara bisa hidup layak.

Sekumpulan ojek terlihat berada di tikungan tampak asyik mengobrol, salah seorang dari mereka tertawa terbahak-bahak. Langkah kakiku otomatis berbelok, memutar arah, berjalan lebih jauh menuju persimpangan, menaiki angkutan umum, kembali menuju tempat ibuku sebagai karyawan yang dirumahkan. Dalam perjalanan, pikiranku kembali menerawang. Berita pagi ini sulit kuterima, dan sejujurnya aku pun belum tahu akan bagaimana. Akan tetapi, aku harus mampu menghadapinya, karena aku adalah seorang ibu. Ibu yang bahkan rela mati demi anaknya.

Selesai.

__
*) Widya Yustina lahir di Ciamis, 1986. Menyelesaikan studi Ilmu Jurnalistik di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Selain hobi menulis, ia juga gemar menonton dan jalan-jalan. Karyanya yang lain diantaranya, Buku Dongeng Fabel 2019 Jilid 1 (2019), Menenun Rinai Hujan (2019) bersama Sapardi Djoko Damono, Orakadut Jadi Tokoh (2020) kumpulan antologi cerpen bersama Golagong.

Continue Reading

Cerpen

Asmara Lembah Silikon

mm

Published

on

Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

Damhuri Muhammad *)

Di mata orang-orang yang lemah daya ingat, Hafiz Imtiaz adalah hard disk drive  (HDD)  bernyawa.  Seolah-olah ada ribuan folder  penyimpan ingatan dalam big storage  yang tertanam di jantungnya. Di gudang penyimpanan itulah rupa-rupa ingatan dikandangkan. Mulai dari ingatan remeh, seperti hari pertama bisa pipis sendiri, hari pertama bisa menyalakan korek api, hari pertama pakai seragam sekolah, atau hari pertama bisa mengendarai sepeda tanpa bantuan dua roda samping.

            Ada pula folder berisi memori-memori yang terklasifikasi pada level medium, semacam rahasia perempuan yang ternyata berjodoh dengan laki-laki yang dulu kerap ia hina dengan kata-kata yang lebih menyakitkan dari kematian, jawaban atas rasa penasaran kenapa gadis ayu level dewa rela menerima pinangan duda seusia bapaknya, termasuk ingatan atas hari pertama melihat tubuh perempuan tanpa busana dari pengalaman mengintip orang mandi. Tersedia pula folder khusus dengan berlapis-lapis kata kunci, berisi koleksi ingatan berkategori kelas berat. Misalnya, jawaban akurat atas tanda tanya besar perihal kematian mendadak seorang jaksa tinggi yang lazimnya dibereskan dengan dalih serangan jantung. Atau jawaban tak tersangkal atas  kenyinyiran netizen kenapa seorang Presiden yang dulu dibela mati-matian oleh pendukungnya, kini menjadi penguasa kesepian dan tinggal menunggu momentum derita post power syndrome.

            Sebelum total berkhidmat sebagai penggenggam ingatan, Hafiz Imtiaz pernah menyebut dirinya sebagai pemulung. Pekerjaannya mengais-ngais sampah di belantara big data, seperti pemulung yang berkeliling dari gang ke gang di permukiman padat, mencari kardus atau botol plastik bekas. Di jagat maya, sampah yang ia bereskan tentu meme sisa TwitWar, politisi berkepala lembu hasil olah photoshop, diagram palsu, hingga infografis berisi statistik yang sudah ketahuan halu.

            “Sampah doyannya sampah juga,” sindir netizen, saat Hafiz Imtiaz sempat mengunggah meme kadaluarsa berjudul dibuang sayang.

Tapi ketika sebuah isu baru memerlukan sokongan konten lama itu, meme milik si penggenggam ingatan sudah lenyap. Sampah yang melesap ke dalam big storage-nya hilang tak berbekas, dan tak bakal terlacak search engine secanggih Google sekalipun. Piranti lunak bikinan Hafiz Imtiaz bagai mesin pengisap hoaks, kebencian, dan  bacot unfaedah. Akibat pekerjaan si pemulung, ruang interaksi media sosial tidak lagi bergairah. Konten yang tersisa hanya buku-buku teori yang bikin ngantuk, nasihat-nasihat jaim berbungkus basa-basi, dan video-video kultum yang lebih buruk dari pidato politisi.

            “Hai Pemulung. Algoritmamu itu, mukjizat dari rasul mana?” tanya seorang pakar datamining  bernama Irman Gugelman, yang kemudian diketahui sebagai utusan khusus penguasa Lembah Silikon.

            “Kau mau kemewahan seperti apa, anak muda? Jangan menganggu tatanan  kekacauan informasi bikinan kami!” lanjut Irman Gugelman, yang terdengar seperti bujukan.

            “Saya memulung yang tak berguna. Mukjizat itu datang dari jazirah Bantar Gebang. Seperti langit dan bumi bedanya dengan Lembah Silikon,” balas Hafiz Imtiaz. Santai.

Meski dapat menembus big storage milik pemulung, misi penting utusan khusus dari Lembah Silikon gagal. Jutaan gigabyte limbah, aset penting penguasa Lembah Silikon, sudah terlanjur menjadi fosil di big storage si pemulung.

            “Secara visual, timbunan fosil itu membentuk anatomi makhluk yang sedang membungkuk, seolah-olah ia sedangmenyembah Dajjal itu!” kata Irman Gugelman, melaporkan kegagalan misinya.

            “Rekomendasi Anda?” tanya pejabat ring satu Lembah Silikon.

Irman Gugelman diam. Ia hanya membayangkan algoritma baru, yang dapat menciptakan kecerdasan buatan sekaliber kecerdasan Nabi, terutama yang  punya mukjizat dapat menghidupkan data mati.

***

            Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

            “Yang sudah hilang tak bisa kalian temukan. Tapi, saya akan berhenti sebagai pemulung!” kata Hafiz Imtiaz setelah menolak semua iming-iming dari Lembah Silikon.

            “Sekadar simpanan guna mengamankan hidupmu di usia senja, tak berminat juga, Pemulung?” tanya Irman Gugelman, yang ia maklumatkan sebagai peluang penghabisan.

            “Saya tidak akan pernah tua! Saya menolak ketuaan. Ndak usah repot-repot, Sodara!” balas Hafiz Imtiaz.

            Sejak itulah si pemulung beralihrupa menjadi penggenggam ingatan. Itupun hanya untuk membuat piranti lunak bikinannya tetap bekerja, sekadar bertahan untuk tidak berakhir sebagai barang rongsokan. Portofolio Hafiz Imtiaz yang pernah mengguncang kedigdayaan para inventor dan inovator Lembah Silikon, membuat ia begitu mudah mendapatkan klien. Si penggenggam ingatan seperti gula yang dikerubungi kawanan semut. Banyak tawaran yang mengandung ajakan agar ia kembali berkiprah sebagai pemulung dalam wajah baru, misalnya menghisap data pribadi dari sebuah platform percakapan daring yang disebut-sebut telah meraup 7 juta user. Tangkapan besar yang sangat berharga bagi saudagar ruang iklan, dan potensi tak ternilai  incaran para kontestan pemilihan Walikota.

            “Kami bisa membantu penyempurnaan piranti lunak Anda. Setelah itu kita bergembira ria di pesta kemenangan Walikota,” kata perwakilan tim sukses salah satu kandidat.

            “Tiga kali tawaran macam ini mendatangi saya, dan saya sudah menolaknya empat kali. Saya alergi politik. Bila kambuh, antibiotiknya kurang ampuh!” kata Hafiz Imtiaz.

            Penggenggam ingatan tak tergoyahkan. Ia hanya ingin bekerja atas nama kemanusiaan. Menyimpan dan mengonservasi ingatan yang di masa datang mungkin akan berguna, terutama bagi kaum yang sudah tumpul daya ingatnya. Hafiz Imtiaz tahu betul, sampah-sampah digital yang ia musnahkan, telah membuat banyak orang abai menjaga ingatan. Terlalu banyak bicara, ketagihan bergunjing, dan hobi berkelahi di linimasa, bisa membuat orang tidak lagi mampu menghapal nomor ponsel sendiri.

            “Ini tentang letak tahi lalat Miftahul Hayati, mantan nomor delapan. Kelak saya akan mengambilnya,” kata pelanggan mula-mula bernama Aulad Mustaqbal. “Jangan sekali-kali berpikir untuk kembali mengaktifkan fitur pemusnahan di perkakas rongsokmu itu!”  tambah Aulad dengan sorot mata mengandung ancaman.

            “Soal imbalan atas jasa ini, tak perlu kuatir.  Sesuai tarif yang tertera, dan tak bakal ditawar.”  

            Bagi Aulad Mustaqbal, mantan nomor delapan itu istimewa. Sekali waktu, pernah menyelamatkan mukanya di hadapan ibu mertua. Masa itu ia sedang jalan berduaan dengan Miftahul Hayati di sebuah mal. Celakanya, ibu mertua sedang berbelanja di mall yang sama. Mereka berpapasan di pintu masuk sebuah toko pakaian dalam. Beruntung ada kawan laki-laki bernama Untung di antara dirinya dan Miftahul Hayati. “Ini siapa, Ananda?” tanya ibu mertua, curiga. Aulad Mustaqbal berkeringat dingin, tapi Miftahul Hayati lekas bertindak. “Saya istri Mas Untung!” balasnya, sambil merangkul sahabat kekasihnya itu. Ibu mertua lega. Curiga yang menyala-nyala padam seketika.

            “Titipan saya hanya berisi angka-angka. Tapi kalau hilang, percayalah, saya akan menderita sebagai tua bangka tanpa nostalgia,” kata pelanggan selanjutnya.

            Di folder itu tersimpan nomor punggung pesepak bola idola ayahnya, saat pelanggan itu berusia 9 tahun. Begitu juga nomor celana dalam pertama, yang dibelikan ibunya beberapa hari setelah ia disunat. Nomor rumah tempat ia dirawat sebagai bayi prematur sebelum kemudian pindah dari kota ke kota, dari negara ke negara. Nomor sepatu olah raga pertama hadiah paman, pada hari ulang tahun yang tak didampingi ayah-ibu lantaran keduanya sedang menjalani sidang perceraian di pengadilan agama.  Dan, yang paling berharga adalah nomor kursi yang tertera pada lembaran tiket bioskop, pada kesempatan mula-mula ia memberanikan diri menonton dengan pacar perdana.

            Jangan dikira mereka tidak berlangganan platform dengan teknologi komputasi awan semacam I-Cloud atau Google Drive. Tapi menurut analisa si penggenggam ingatan, mereka tidak mau lagi bertelanjang dalam jerat raksasa bikinan orang-orang culas di Lembah Silikon. Perisai privasi mereka sudah bolong di sana-sini, lantaran terlalu sering mengunggah data pribadi dalam ekosistem digital. Mereka ingin melarikan diri dari intaian algoritma yang memperlakukan mereka sebagai mangsa di belantara big data.

            “Bagaimana kita bisa mempercayai penggenggam ingatan?” tanya Aulad Mustaqbal pada sejawat-sejawat sesama pelanggan.

            “Semua jejaknya mengandung perlawanan atas kuasa Lembah Silikon. Ia belum punya pengalaman berkhianat!” balas pelanggan bernama Maya Rumantir.

            “Lagi pula, titipan kita cuma remah-remah yang tak mungkin laku dijual.”

            “Apa kau bilang? Remah-remah? Aku sudah lama mencari mantan kedelapan. Hanya saja aku sedang sibuk untuk beberapa tahun ke depan, makanya kunci pencarian kutitipkan sementara. Jaga bicaramu, Nyonya!”

            “Ahai, kau pikir letak tahi lalat tak bergeser pasca revolusi kosmetik?”

            “Berhentilah menakut-nakutiku seperti anak kecil!”

            “Penggenggam ingatan peluang kita satu-satunya. Juru selamat dari penjarahan ingatan besar-besaran yang dikendalikan dari Lembah Silikon. Percayai Hafiz Imtiaz! Oke?”

            “Yups. I have no choice!

****

            Lantaran berbagai kesibukan, kotak surel milik Aulad Mustaqbal telah melewatkan tiga pesan yang seharusnya masuk secara otomatis. Artinya, sudah tiga bulan penggenggam ingatan me-nonaktifkan fitur notifikasi. Setelah berkali-kali diperiksa, dikontak berulang-ulang, Aulad Mustaqbal berkesimpulan; penggenggam ingatan telah menghilang!  Begitu pula bunyi pesan berantainya ke seluruh pelanggan. Kepanikan tak terhindarkan.

            “Celaka! Kita akan berakhir sebagai manula tanpa nostalgia!”

            “Bedebah kunyuk! Ia pikir ingatan bisa dilelang, hah?” umpat Maya Rumantir.

            “Tenang, Sodara-sodara. Bukankah kita punya asuransi kehilangan?”

            “Tai kucing! Asuransi macam apa yang mau mengganti ingatan yang hilang?”  

            Selepas kabar buruk itu, Aulad Mustaqbal adalah pelanggan yang sudah lupa letak tahi lalat mantan kekasihnya. Di dagu, pipi kanan, bawah pusar, atau bahu kiri? Entahlah. Oh, Miftahul Hayati. Satu-satunya yang bisa memastikannya adalah serbuk ingatan dalam  folder  yang sudah raib.

            “Lapor polisi aja gimana, Bro?”

            “Sejak kapan Polsek punya detektif  bagi maling ingatan?”

            “Kalau begitu, kita umumkan saja di Twitter.”

            “No! Itu yang diharapkan rejim Lembah Silikon,” kata Aulad Mustaqbal.   

            Sementara para pelanggan sudah di berada ambang putus asa dan hampir mengikhlaskan hidup mereka sebagai calon manula paling menderita, nun di Lembah Silikon, persisnya di sebuah klinik mewah dengan perkakas medik super canggih, pasien atas nama Miftahul Hayati, baru selesai menjalani operasi ringan; membuang tahi lalat di punggungnya, tepat di bawah tato kupu-kupu biru.

            “Kau bebas sekarang, Sayang! Ia tak mungkin lagi menemukanmu,” bisik Hafiz Imtiaz, dalam senyum bahagia, sambil mendekap perempuan itu erat-erat.

Damhuri Muhammad: Menulis cerpen, esai budaya, artikel politik, dan resensi buku  di  sejumlah media nasional.  Buku fiksi terkininya Anak-anak Masa Lalu (2015). Buku nonfiksi terbarunya, Takhayul Milenial (2020). Associate editor Galeri Buku Jakarta. 

Continue Reading

Cerpen

Pagi Ini, Ada Burung yang Mati

mm

Published

on

By Ruly R *)

Pukul tujuh lebih delapan belas. Masih pagi untuk merutuki nasib, namun Sarju sudah melakukan itu. Dua lembar lima ribuan habis disekali putaran dadu permainan pasar.

“Kirik!” umpat Sarju entah untuk siapa. Wajahnya penuh kesal. Uang yang didambakan berlipat seperti dalam mimpinya kemarin malam justru menguap.

Memang setiap pagi lelaki itu hobi menyambangi meja putaran dadu. Kalau siang kerjanya kalau tidak nongkrong di warung tuak tentu tidur di rumah. Jika waktu malam tiba, dia suka mengendap untuk mengambil barang yang laku dijual.

Pagi ini setelah kalah di meja putaran, Sarju memutuskan untuk menyusuri panjangnya trotoar. Kaki dan fisik Sarju masih saja segar, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda.

Sarju mengedar pandang ke jalan raya. Cepat dan ugal-ugalan kendaraan yang melintas, saking cepatnya seakan nyawa para pengendara itu lebih dari satu. Tampak kepanikan dan terburu-buru bertumpuk di pagi hari. Ada juga bocah sekolah dengan wajah cemas karena telat berangkat, tampak resah menunggu datangnya angkot.

Sayup suara burung, lalu semakin jelas. Cericit burung beradu dengan bisingnya deru kendaraan. Burung itu terbang melintang di atas kepala Sarju, hinggap dari satu pohon di sebelah utara jalan ke sisi selatan jalan. Sarju saksama melihat burung itu.

Memang, saat ini jarang sekali burung di jalanan kota, sama jarangnya dengan pohon-pohon di sisi kanan-kiri jalan. Gedung-gedung lebih subur tumbuh di kabupaten tempat tinggal Sarju, utamanya di kompleks perkantoran kabupaten, yang hanya berjarak tidak lebih dari dua ratus meter dengan jarak pasar.

Burung terus bercericit. Nyaring terdengar meski terus ditingkahi suara motor dan mobil. Mata Sarju masih saksama melihat burung itu, seakan tak ada hal lain yang ingin ditatapnya pagi ini. Suara burung memanggil ingatan Sarju. Dia ingat desanya. Rindu menyelusup halus pada hati Sarju.

Di waktu yang telah lalu—sebelum dia pindah ke kabupaten ini, cuitan burung menjadi hal akrab bagi Sarju. Membelah dan merentang waktu, nasib dan keadaan berubah seiring zaman, namun ingatan Sarju menjadi bola-bola yang utuh karena suara burung dan desanya. Ingatan yang sebenarnya tidak sempurna bahkan cacat dan bopeng di sana-sini. Hal yang tidak bisa ditambalnya sampai sekarang.

***

Sarju tinggal dan tumbuh bersama kakeknya di desa. Tanpa teman, kecuali keadaan alam sekitarnya saja. Sarju masih ingat betapa itu memedihkan dan memilukan. Satu anak sepantaran saja tak ada yang mau berkawan dengannya. Hanya satu kawan yang ada, yaitu kakeknya sendiri.

“Gak masalah. Ayo melu golek kayu wae,”[1] ucap kakeknya yang langsung mengambil parang ketika melihat raut wajah Sarju yang sedih. Kakeknya memang pandai mengalihkan perasaan Sarju yang sedang berduka. Bukan sekadar mencari kayu saja, kadang Sarju diajak ke sawah, atau tiga bulan sekali pergi ke kota untuk menjual hasil panen. Di pasca panen itu, Sarju benar-benar senang, segala permintaannya pasti akan dipenuhi kakeknya, kecuali satu yaitu teman.

Sarju tidak pernah belajar di bangku sekolah. Ketika bocah sepantarannya mengenyam pendidikan formal, Sarju justru lebih giat membantu kakeknya ke sawah atau main sendiri ke kuburan. Pernah suatu kali kakeknya marah, ketika Sarju membawa kemboja yang begitu banyak.

Nggo opo?!”[2]

“Dolanan,” jawab Sarju ragu.

Setelah peristiwa itu Sarju tidak berani lagi membawa kamboja, bahkan dia takut main ke kuburan. Kakeknya pasti akan marah kalau tahu dirinya main di sana. Tidak ada orang atau teman yang dimilikinya selain kakeknya sendiri.

Penah suatu kali Sarju juga bertanya kenapa dia tak memilik teman. Kakeknya hanya tersenyum. Senyum yang getir dan penuh kepahitan, tumpukan beban datang dari senyum itu. Kakek justru mengajak Sarju ke kreteg Mojo. Di sana kakek menunjuk tempuran sungai dan menyebut Geger Boyo. Sarju hanya diam, tak ada tanya miliknya.

Semua diketahui Sarju seiring usianya yang terus bertambah dan kakeknya mulai sakit-sakitan. Satu waktu, ketika malaikat maut sudah membayang dalam benak kakek, Sarju baru mengetahui yang sebenarnya. Permintaan maaf keluar dari lelaki yang tinggal lunglit itu. Maaf karena selama ini banyak yang disembunyikan kakeknya, terutama kenapa Sarju tidak punya kawan atau lebihnya warga desa mengasingkan mereka untuk tinggal di kaki bukit. Terbata kakek menceritakan itu pada Sarju.

“Aku muk melu-melu, Ju,”[3] ucap kakek. Semua terang diceritakan kakek ketika dia ikut partai palu-arit. Satu malam di musim bediding, beberapa orang bertubuh tegap, berseragam, dan berwajah garang mendobrak pintu rumah kakek yang lama. Tubuh kakek diseret paksa ke Geger Boyo.[4] Kebengisan di depan mata, tidak ada warga yang berani melihat apalagi sampai meningkah saat itu, kecemasan dan ketakuan seakan menyatu dalam benak warga. Kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, keluarga kakek mulai dikucilkan. Saat itu hanya ada satu hal untuk keluarga kakek—menyingkir dari desa.

Bertahun kejadian itu berlalu, namun kesepian abadi dalam keluarga Sarju. Usia selalu ada batasnya, banyak cara atau juga sebab untuk mati. Sarju lahir. Hanya tinggal ibunya, ayah Sarju bunuh diri saat ibu Sarju mengandung. Dan saat belum genap usia Sarju empat tahun kakeknya pulang dari pengasingan di Nusakambangan. Kakeknya tak dibunuh di Geger Boyo, namun dibawa ke Nusakambangan setelah dari tempat itu.

Seperti Tuhan telah menggariskan nasib, kesunyian dan kesepian lekat dalam diri Sarju. Karena sakit yang entah apa, ibu Sarju meninggal. Satu keberuntungan, kakeknya sudah ada di rumah waktu itu.

Kakeknya bercerita bagaimana dia bertahan karena Sarju. Bulir halus keluar dari dua mata Sarju. Tidak berhenti sampai beberapa hari karena kakeknya meninggal. Segala menyesakan bagi Sarju yang sudah bukan lagi bocah. Tidak ada warga yang melayat, bahkan untuk tanah seukuran 2×1 meter, Sarju harus mencangkul sendiri. Terbayang wajah kakek, terngiang permintaan maaf dari kakek, semakin waktu, semakin Sarju merasakan kedegilan dan kesepian yang nyata. Bagi Sarju tidak ada cara membunuh kesepian kecuali memang pergi jauh meninggalkan desa. Begitu yang dilakukannya.

***

Bunyi klakson dari motor yang ugal-ugalan membuyarkan lamunan Sarju. Burung yang dilihatnya dari tadi hanya meloncat-loncat kecil tanpa meninggalkan ranting pohon. Lalu lintas masih ramai. Bunyi klakson kembali berulang, kali ini burung itu terbang berpindah pohon. Burung itu melintas di atas kepala Sarju lagi.

Kembali, suara klakson dari satu kendaraan melintas. Tidak lama burung itu hinggap di pohon lalu terbang lagi. Menukik dan terlalu rendah burung itu melayang di atas jalan, mobil bercat putih melintas cepat. Dada Sarju tiba-tiba sesak. Matanya tajam menatap jalan. Pagi ini, ada burung yang mati. Sarju menjadi saksi, tapi tidak ada yang bisa dituntut karena matinya burung itu, sama seperti ingatan dan kata-kata kakenya yang mengiang dalam benak Sarju hingga sekarang.

“Opo pancen kudu nyalahke kahanan?”[5] begitu yang pernah diucap kakeknya dulu.

Bagi Sarju, dulu dan saat ini masih tetap sama saja, karena dia hanya bisa menangis. (*)

______

*) Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020). Surat-menyurat: riantiarnoruly@gmail.com


[1] Tidak masalah. Ayo ikut cari kayu saja.

[2] Buat apa?

[3] Aku hanya ikut-ikut, Ju.

[4] Dua tempuran sungai di Sungai Mojo (Sungai yang terletak di antara Solo dan Sukoharjo). Saat tragedi kemanusiaan tahun 1965, tempat itu dijadikan salah satu ladang pembantaian orang yang dianggap Komunis.

[5] Apa memang harus menyalahkan keadaan?

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending