Connect with us

Cerpen

Maxim Gorky: Karena Tidak Ada Sesuatu yang Lebih Baik Untuk Dilakukan

mm

Published

on

Dan pada musim dingin, ketika badai datang menderu dan meraung dari padang stepa, seraya menghujani stasiun kecil itu dengan salju dan suara-suara yang menakutkan, menjadikan hidup di sana lebih lengang dari yang pernah ada.

Oleh: Maxim Gorky | Penerjemah: Ladinata

____

Kereta penumpang, seperti seekor ular yang sangat besar, yang mengeluarkan kumpulan asap tebal berwarna abu-abu, hilang ditelan padang stepa yang tidak ada batasnya, hilang di lautan gandum berwarna kuning. Ketika asap tebal abu-abu larut di dalam udara yang terik, hentakan suara gaduh yang murka untuk beberapa saat mengusik keheningan yang tenang di dataran luas dan kosong, yang di tengah-tengahnya berdiri sebuah stasiun kereta kecil, yang kelengangannya membangkitkan perasaan yang sangat memilukan.

Dan ketika suara gaduh kereta yang terdengar parau, tetapi setidak-tidaknya dipenuhi sentuhan rasa semangat, hilang dari pendengaran, kemudian senyap jadi di bawah kubah langit yang tanpa awan dan keheningan yang menekan datang sekali lagi menyelimuti stasiun kereta tersebut.

Padang stepa tampak berwarna kuning keemasan dan langit terlihat biru nilakandi. Dan kedua warna itu sangat tidak memiliki batas. Di tengah keleluasan yang begitu rupa bangunan kecil stasiun berwarna coklat itu memberikan impresi adanya kemungkinan gambar melankolis yang rusak karena sapuan kuas, yang dilakukan oleh seorang seniman yang tanpa imajinasi.

Setiap hari pada jam dua belas siang dan pada jam empat sore kereta-kereta keluar dari padang stepa dan berhenti di stasiun, tepatnya untuk dua menit. Keseluruhan empat menit tersebut merupakan hiburan pokok dan satu-satunya di stasiun: para penumpang kereta akan membawa kesan-kesannya sendiri terhadap orang-orang yang bekerja di sana.

Di dalam setiap kereta terdapat beraneka ragam manusia dengan berjenis-jenis pakaian. Mereka adalah kesejenakkan; dari balik jendela kereta terlintas wajah-wajah yang lelah, tidak sabaran dan tidak peduli – dan kemudian terdengar suara lonceng, bunyi peluit; dan dengan suara gaduh mereka akan bergerak cepat ke dalam padang stepa, maju ke depan, ke dalam kota-kota, yang memiliki kehidupan yang sibuk dan pikuk.

Para pekerja stasiun memandang pada wajah-wajah tersebut dengan rasa mau tahu dan kemudian setelah melepaskan kereta pergi, mereka akan berbagi terhadap satu sama lainnya pengamatan-pengamatan, yang dengan cepat mampu difahami. Di sekitar mereka padang stepa yang bisu membentang, di atas tampak langit yang tidak mau ambil peduli,dan di dalam hati mereka ada rasa cemburu yang samar-samar pada orang-orang tersebut, yang dengan cepat, melalui mereka, pergi ke tujuan, yang tidak diketahui dari hari ke hari, dan mereka tetap tinggal, terpenjara di dalam padang belantara, seolah-olah hidup di luar batas kehidupan.

Dan demikianlah, setelah mengantarkan kereta, mereka berdiri di peron, sambil memperhatikan lajur hitam keberangkatan, yang menghilang di lautan gandum keemasan. Dan mereka terdiam dengan kesan-kesan kehidupan, yang berlalu melewati mereka.

Hampir setiap orang ada di sini: kepala stasiun, seorang lelaki yang berjiwa baik, tambun, memiliki rambut pirang keemasan dengan jambang pria Kosak yang gembal; asistennya, laki-laki muda berambut merah dan berjanggut kambing. Luka, penjaga stasiun, seorang laki-laki kecil, tetapi cekatan dan terampil; dan salah seorang dari para pelangsir bernama Gomozov, seorang laki-laki pendiam, pendek gemuk dengan janggut tebal.

Istri kepala stasiun duduk di atas bangku yang ada di samping pintu stasiun. Dia adalah perempuan yang kecil dan gemuk, dan begitu menderita karena kepanasan. Bayinya tertidur di dalam pangkuannya dan wajah bayi tersebut sebulat dan semerah wajah ibunya.

Kereta menghilang di bawah landaian dan menghilang, seolah-olah, ditelan bumi.

Dan ketika itu kepala stasiun berpaling ke arah istrinya dan berkata:

Samovar[1] sudah siap, Sonya[2]?”

“Tentu saja,” jawab sang istri dengan suara yang lemah dan pelan.

“Luka! Taruh tanda di sini, bersihkan peron dan rel. Lihat kotoran-kotoran, yang mereka tinggalkan.”

“Saya mengerti, Matvei Yegorovich.”

“Bagus, ingin minum teh, Nikolai Petrovich?”

“Seperti biasanya,” jawab sang asisten.

Dan jika itu terjadi pada siang hari, ketika kereta sudah lewat, Matvei Yegorovich akan mengatakan kepada istrinya:

“Makan siang sudah siap, Sonya?”

Kemudian dia akan memberikan Luka instruksi yang selalu sama dan dia akan berkata kepada asistennya, yang tinggal menumpang dengan mereka:

“Bagus, kau ingin makan siang?”

Dan sang asisten akan menjawab dengan cukup layak:

“Seperti biasanya…”

Dan mereka meninggalkan peron, masuk ke dalam ruangan, yang mempunyai banyak tanaman dan sedikit furniture; ruangan itu berbau masakan dan popok bayi dan yang di dalamnya,di sekitar meja, mereka berbincang-bincang mengenai apa yang telah mereka lewati.

“Kau memperhatikan wanita berambut coklat yang mengenakan pakaian warna kuning di dalam kereta kelas dua, Nikolai Petrovich? Jika kau bertanya kepadaku, dia itu seperti sekerat makanan yang menggiurkan!”

“Tidak buruk, tetapi dia tidak mempunyai selera dalam berpakaian,” kata asistennya.

Kata-katanya selalu ringkas dan diucapkan dengan penuh percaya diri, karena dia menganggap dirinya manusia, yang mengetahui kehidupan dan berpendidikan. Dia menamatkan gimnasium[3]. Dia memiliki buku catatan dengan sampul depan hitam, yang di dalamnya dia menuliskan kata-kata mutiara dari orang-orang terkenal, yang dia dapatkan dari artikel surat kabar dan buku-buku, yang secara kebetulan jatuh ke tangannya. Kepala stasiun mengakui kewenangannya dalam semua hal, yang tidak berkaitan dengan pekerjaan mereka dan dia dengan penuh perhatian mendengarkan kata-kata sang asisten. Dia, terutama, tertarik dengan mutiara-mutiara bijak, yang ada di dalam buku catatan Nikolai Petrovich dan dia selalu terkesan pada mutiara-mutiara bijak tersebut dengan jalan hati yang sederhana. Pengamatan asistennya pada selera wanita berambut coklat dalam cara berpakaian memunculkan satu pertanyaan pada diri Matvei Yegorovich:

“Apakah pakaian warna kuning tidak mesti untuk wanita-wanita dengan rambut coklat?”

“Saya tidak berbicara mengenai warna, tetapi potongannya,” jelas Nikolai Petrovich, sambil memindahkan selai dengan akurat dari pinggan kaca ke piringnya sendiri.

“Potongannya? Itu masalah lain..!” kata kepala stasiun setuju.

Istrinya bergabung dalam percakapan tersebut, karena subjek percakapan ini dekat dengan hatinya dan dapat dimengerti olehnya. Akan tetapi lantaran pikiran orang-orang ini tidak begitu terasah, maka perbincangan mereka bergerak jadi perlahan dan jarang menyentuh perasaan mereka.

Dan lewat jendela tampak terlihat padang stepa, yang diselimuti pesona kesunyian; dan langit, yang megah ada di dalam ketentramanyangluar biasa.

Hampir setiap jam, kereta barang lewat. Para pekerja, yang mengiringi kereta tersebut, adalah orang-orang yang sudah lama saling kenal. Awak-awaknya merupakan mahluk-mahluk pengantuk, mahluk-mahluk yang ditindas oleh perjalanan yang menjemukan di padang stepa. Namun demikian, terkadang mereka menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sepanjang jalan: di suatu jarak verst[4] tertentu, seorang laki-laki tergilas; atau mereka memperbincangkan mengenai masalah-masalah, yang bertalian dengan pekerjaan sendiri: si pulan dikenai hukuman denda, seseorang yang lain telah dimutasikan. Seluruh berita-berita itu tidak didiskusikan, tetapi ditelan, seperti penganan lezat, seperti mereka melahap makanan yang enak dan jarang diperoleh.

Perlahan-lahan dari langit matahari terbenam di batas padang stepa dan kadangkala matahari tersebut hampir menyentuh bumi, yang memperjadi warna merah tua. Di atas padang stepa terbentang sinar kemerah-merahan, yang memunculkan perasaan yang membosankan, membangunkan kecenderungan hati yang samar untuk pergi jauh ke depan, meninggalkan kehampaan. Kemudian matahari menyentuh kaki langit dan jatuh dengan tanpa gairah ke dalam atau ke balik kaki langit. Dalam jangka waktu yang masih lama, setelah itu, musik dari warna-warna yang terang di langit dengan lembut dimainkan, tetapi senandung musik ini semakin meredup, ketika jelang malam yang hangat dan tanpa suara datang menyelimuti. Bintang-bintang bersinaran, semuanya bergetar, seperti ditakut-takuti oleh rasa jemu di atas bumi.

Padang stepa kelihatannya jadi makin kabur di dalam jelang malam; dengan diam-diam bayangan malam merangkak ke stasiun dari semua sudut. Dan malam itu sendiri kemudian datang, gelap dan muram.

Di stasiun kereta api itu sinar-sinar bercahayaan; ada sinar hijaudari tiang sinyal, yang diliputi oleh kegelapan dan kesunyian, tampak lebih terang dan tinggi dibandingkan dengan semua yang lain. Kadang-kadang terdengar bunyi lonceng – suara peringatan akan datangnya kereta api; bunyi lonceng yang tergesa-gesa itu terbawa ke padang stepa, yang dengan cepat di tempat tersebut kemudian hilang tertelan.

Segera setelah bunyi gemerincing lonceng dari kejauhan yang pekat sinar warna merah yang sebentar-sebentar menyala berlarian dan keheningan di padang stepa dipecahkan oleh raungan kereta yang meredam, yang bergerak ke depan menuju ke stasiun yang lengang dan dibelit oleh kegelapan.

Manusia-manusia kecil ‘kelas bawah’ di stasiun kecil ini hidup sedikit berbeda dibandingkan dengan kaum aristokrat. Luka, sang penjaga stasiun, selalu melakukan perjuangan yang konstan dengan hasratnya untuk lari menuju ke istrinya dan saudara laki-lakinya, yang tinggal di desa, tujuh verst jauhnya dari stasiun. Dia mempunyai ‘tanah pertanian’ di sana, seperti yang dikatakannya kepada Gomozov, ketika dia meminta pelangsir yang tenang dan pendiam ini untuk mengerjakan tugas-tugasnya di stasiun.

Mendengar kata ‘tanah pertanian’ Gomozov selalu dengan berat menarik helaan nafas dan dia berkata kepada Luka:

“Bagus sekali, pergilah,” katanya. “Tanah pertanian memang harus diurus, tidak ada keraguan mengenai hal itu…”

Akan tetapi pelangsir yang lain, Afanasy Yagodka, seorang serdadu berumur dengan wajah bulat dan merah, yang ditumbuhi oleh janggut abu-abu; seorang manusia yang memiliki pembawaan mengejek dan senang marah, tidak mempercayai Luka.

“Tanah pertanian!” teriaknya dengan menyeringai. “Seorang istri!.. Saya mengerti betul, tanah pertanian ya tanah pertanian… Dan istrimu itu – apakah dia janda? Ataukah suaminya seorang serdadu?”

“Ah, kau ini memang gubernur burung!” Luka mendengus dengan menghina.

Dia menyebut Yagodka gubernur burung, karena serdadu tua itu sangat senang memelihara burung. Di rumahnya yang kecil, baik di dalam maupun di luar, tergantung sangkar-sangkar dan tempat burung bertengger; sepanjang hari terdengar suara ramai burung-burung di dalam rumahnya dan di sekitarnya. Burung puyuh, yang ditangkap oleh sang serdadu, terus-terusan mengeluarkan bunyi ciap-ciap yang membosankan dan tak berjeda, burung jalak membunyikan suara-suara yang panjang, seperti berkomat-kamit, burung-burung kecil dengan ragam warna mencericit, menciap dan bersenandung tanpa lelah, mengisi kehidupan kosong sang serdadu dengan kesukaan. Dia mencurahkan semua waktu luangnya untuk burung-burung peliharaannya; dan ketika dia bertalian dengan burung- burung tersebut dengan lemah-lembut dan penuh peduli, sedikit pun dia tidak menaruh perhatian pada kawan-kawannya di stasiun. Dia menyebut Luka – ular dan Gomozov – tukang jagal, dan dengan tanpa sungkan langsung mengatakan kepada mereka, bahwa keduanya adalah pengekor kaum perempuan, dalam hal ini, menurut pendapatnya, mereka layak dihajar.

Luka, terhadap kata-kata itu, tidak begitu ambil peduli, tetapi jika sang serdadu sudah terlalu jauh mengejeknya, Luka secara panjang lebar dan dengan pedas akan memaki-maki sang serdadu:

“Kau itu garnisun tidak berpendidikan, remah sisa makanan tikus! Kau mengerti apa, bekas tukang tabuh tambur kambing? Kau mengejar katak dengan acungan bedil dan menjaga kubis seorang kolonel… Apa yang dapat diperdebatkan dari pekerjaanmu? Pergi kau ke burung-burung puyuhmu, kau itu hanya komandan burung!”

 

Lukisan Karya Patrick Wowor (2014)

Yagodka, setelah dengan tenang mendengarkan begitu banyak semburan kata-kata marah sang pelangsir, akan pergi untuk menyampaikan keluhan kepada kepala stasiun, yang akan berteriak, agar jangan datang membawa urusan-urusan sepele kepadanya dan kepala stasiun akan mengusir Yagodka keluar. Oleh karena itu Yagodka akan menemui Luka dan dia sendiri yang memarahi Luka – dengan tenang, tanpa kehilangan kesabarannya, dengan memakai kosa kata cabul yang demikian berbobot, yang membuat Luka segera akan lari menjauh, sambil meludah dengan jijik.

Gomozov terhadap kata-kata cela sang serdadu menjawab dengan tarikan nafas dan dengan rasa malu melakukan dalih untuk membela diri.

“Apa yang harus diperbuat? Tidak ada yang dapat dilakukan dengan hal itu…Tentu saja…itu tidak berbahaya…tetapi, omong-omong, ini sambil lalu saja, jika tidak menilai orang lain, maka kau pun akan tidak dicela.”

Suatu hari sang serdadu memberikan jawaban pada hal tersebut dengan sedikit tertawa:

“Itu resep lama untuk semua jenis penyakit! Janganlah menilai, janganlah menilai…Dan jika tidak diperbolehkan untuk menilai, maka manusia tidak akan memperbincangkan apapun juga…”

Di sana, di stasiun masih ada seorang perempuan lagi, selain dari istri sang kepala stasiun. Dia adalah Arina, seorang tukang masak. Dia berumur di bawahempat puluh tahun dan sangat jelek rupa – tubuhnya gemuk pendek, dengan payudara terjuntai, dengan pakaian yang koyak-moyak dan selalu kotor. Ketika dia berjalan, dia terkedek-kedek dan mata kecilnya yang menakutkan, yang diseputari kerutan-kerutan, berkilatan di wajahnya yang bopeng. Dan ada sesuatu yang tampaknya seperti pembawaan budak dan terasa terintimidasi di dalam sosok tubuhnya yang canggung, bibir tebalnya secara permanen mengkerut, seolah-olah dia ingin minta maaf pada setiap orang – seakan-akan dia ingin berlutut di depan orang-orang dan dia takut untuk menangis. Selama delapan bulan Gomozov hidup di stasiun tersebut, dia tidak memberikan perhatian khusus terhadap perempuan itu; ketika dia bertemu dengan Arina, dia akan mengatakan salam. Sang perempuan akan membalas dengan mengembalikan salam itu, mereka saling bertukar dua-tiga frasa dan kemudian saling berpisah, setiap orang akan melanjutkan langkahnya menuju ke masing-masing tujuan. Akan tetapi suatu hari Gomozov datang ke dapur kepala stasiun dan meminta Arina untuk menjahitkan beberapa kemeja. Arina setuju dan jika kemeja-kemeja itu sudah jadi, dia sendiri yang akan membawanya kepada Gomozov.

“Terima kasih,” kata Gomozov. “Tiga kemeja; masing-masing kemeja – satu grivennik[5], jadi tiga puluh kopek aku berhutang kepadamu, bukan begitu?”

“Saya pikir demikian,” kata Arina.

Gomozov mulai berpikir-pikir dan cukup lama berdiam diri.

“Kau datang dari guberniya[6]mana?” Akhirnya dia bertanya kepada perempuan tersebut, yang di sepanjang waktu matanya terpancang pada janggut Gomozov.

“Ryazan[7],” katanya.

“Itu jauh! Bagaimana kau bisa sampai ke sini?”

“Ya, begitulah… Saya selalu sendiri. Tidak punya siapa-siapa.”

“Hal yang begitu, cukup membuat orang pergi, bahkan lebih jauh,” Gomozov menarik nafas panjang.

Dan keduanya diam lagi.

“Demikian juga aku. Asalku dari Nizhny Novgorod[8]. Sergachev Uyezd[9]…” kata Gomozov beberapa saat kemudian. “Aku sendiri juga. Begitulah. Dulu aku memiliki keluarga, istri dan anak-anak. Dua orang anak. Istriku meninggal karena kolera, anak-anakku meninggal, karena memang meninggal. Dan aku – aku menjadikan diriku terlalu lelah karena duka cita. Kemudian sekali lagi aku berusaha untuk menyusun segalanya, tetapi malah sebaliknya. Mesin-mesin rusak, tidak jalan. Jadi, sebagai konsekuensinya, aku pergi dari tempat sendiri …ke tempat yang lain. Sudah tahun ketiga aku bersusah payah begini.”

“Tidaklah baik,ketika kau tidak memiliki tempat, yang akan memanggilmu kembali,” kata Arina dengan lembut.

“Ya, tentu saja. Kau seorang janda?”

“Bukan, saya seorang gadis.”

“Bagaimana mungkin bisa begitu!” kata Gomozov dengan tidak berusaha menyembunyikan kekurangpercayaannya.

“Begitulah adanya, seorang gadis” Arina meyakinkan Gomozov.

“Mengapa kau tidak pernah kawin?”

“Saya ini, siapakah yang akan mengawini? Saya tidak punya apa-apa. Lelaki menginginkan sesuatu. Dan lagi pula rupa saya amat jelek.”

“Be-nar…” kata Gomozov dengan lafal yang panjang, sambil melihat pada Arina secara cermat dengan perasaan ingin tahu, seraya mengusap-usap janggutnya. Gomozov bertanya pada Arina, berapakah jumlah upahnya.

“Dua setengah.”

“Baiklah, aku mengerti. Jadi aku berhutang kepadamu tiga puluh kopek, heh? Begini, datang dan ambillah malam ini. Kira-kira jam sepuluh, kau mau? Aku akan membayarmu dan kita akan meminum teh bersama-sama, kita akan berbincang-bincang, karena tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan. Kita ini orang-orang yang kesepian, kita berdua. Jadi datanglah.”

“Saya akan datang,” katanya dengan bersahaja dan pergi keluar.

Kemudian Arina datang tepat jam sepuluh dan pergi ketika fajar datang.

Gomozov tidak mengundangnya untuk datang lagi dan tidak memberikan tiga puluh kopek miliknya. Arina datang kembali atas kemauannya sendiri. Dia, perempuan bodoh dan patuh ini, datang kembali dan berdiri dengan membisu di depan Gomozov. Seraya berbaring di atas ranjang, lelaki itu memandangi Arina, dan setelah bergeser ke arah dinding, dia berkata:

“Duduklah.”

Ketika perempuan tersebut telah duduk, Gomozov berkata kepadanya:

“Dengar, simpanlah ini di dalam rahasia. Jangan biarkan orang mengetahui hal ini, kau dengar? Aku akan mendapatkan masalah, jika kau melakukannya. Aku tidak muda lagi, begitu juga denganmu… Mengerti kau?”

Perempuan itu menganggukkan kepala, bersetuju.

Ketika Gomozov mengantarkannya keluar, dia menyerahkan beberapa pakaian kepada Arina untuk ditisik dan dia mengingatkannya lagi:

“Jangan biarkan orang mengetahui hal ini!”

Dan demikianlah, mereka memulai hidup secarademikian, menyembunyikan dengan hati-hati hubungan mereka dari yang lain.

Pada setiap malam Arina akan menyelinap hampir seperti merayap-rayap ke kamar Gomozov. Laki-laki itu menerimanya dengan sikap jumawa, dengan raut wajah seorang majikan, dan kadang-kadang secara terus-terang dia berkata kepada Arina:

“Ah, dari rupamu itu, kau memang jelek!”

Perempuan tersebut dengan terdiam hanya tersenyum dengan senyuman pucat dan bersalah, dan ketika pergi, dia akan membawa sesuatu kerja, yang diberikan oleh Gomozov.

Mereka sering saling tidak melihat. Akan tetapi kadang-kadang, ketika mereka bertemu di halaman stasiun, Gomozov akan berbisik:

“Singgahlah malam ini…”

Dan perempuan tersebut secara patuh akan datang dengan raut yang sangat serius, seperti yang terlihat pada wajah bopengnya, seakan-akan dia datang untuk menyelesaikan sesuatu kewajiban, sesuatu yang maha penting, yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

Akan tetapi sekali lagi muncul, dalam perjalanan pulang ke rumah, raut wajah bersalah, raut wajah takut yang beku dan biasanya terhadap Gomozov.

Kadang-kadang perempuan itu berhenti di suatu sudut tersendiri atau di balik pohon untuk berlama-lama memandang ke arah padang stepa. Malam di sana berkuasa dan lantaran keheningan yang suram, hatinya dipenuhi dengan kengerian.

Suatu hari, setelah mengantarkan kereta api sore, para pekerja stasiun duduk untuk minum teh di halaman, di depan jendela rumah Matvei Yegorovich, di bawah rimbunnya beberapa pohon topol[10].

Mereka sering minum teh di sana, ketika hari terasa panas – mereka memasukkan selingan yang khusus ke dalam kemonotonan hidup sendiri.

Setelah memperbincangkan kesan-kesan yang dapat dikatakan mengenai kereta terakhir, mereka meminum teh dan terdiam.

“Hari ini lebih panas dari hari kemarin,” kata kepala stasiun, sambil mengulurkan sebelah tangannya dan memberikan gelas kosong kepada istrinya dan menyeka keringat dari dahinya dengan tangan yang lainnya.

Istrinya, seraya mengambil gelas, berkata:

“Tampaknya, itu karena kau kebosanan, jadi terasa lebih panas…”

“Hm, mungkin kau memang benar…Dalam keadaan seperti ini, baik juga bermain kartu. Akan tetapi kita hanya bertiga.”

Asistennya mengangkat bahu dan setelah memicingkan matanya, dengan saksama dia berkata:

“Permainan kartu, menurut Schopenhauer[11], menunjukkan adanya kebangkrutan pikiran.”

“Pandai sekali!” Matvei Yegorovich tersentuh. “Apakah itu tadi? Kebangkrutan pikiran, hm. Siapa yang mengatakannya?”

“Schopenhauer, orang Jerman, Filsuf.”

“Seorang filsuf? Hm…”

“Filsuf-filsuf itu – apakah mereka bekerja di universitas?” tanya Sofia Ivanovna ingin tahu.

“Bagaimana saya menjelaskannya kepada Anda? Menjadi filsuf bukanlah pekerjaan, tetapi kemampuan natural, begitulah yang dapat dikatakan. Siapa saja dapat menjadi seorang filsuf – siapa pun yang dilahirkan dengan kecenderungan berpikir dan mencari awal dan akhir dalam segala hal. Tentu saja, para filsuf kadang-kadang dapat dijumpai di universitas, tetapi mereka bisa ditemui di mana saja – bahkan di tempat kerja rel kereta.”

“Dan apakah mereka banyak menghasilkan uang – filsuf-filsuf yang ada di universitas itu?”

“Bergantung pada kemampuan mereka.”

“Kalau saja kita punya partner keempat, kita bisa menghabiskan beberapa jam yang menyenangkan,” kepala stasiun menghela nafas panjang.

Dan perbincangan terhenti lagi.

Tinggi di atas langit biru burung-burung djavoronok[12]bernyanyi, burung-burung murai berlompatan dari satu cabang ke cabang pohon topol yang lain, bersiul dengan lembut. Dari dalam rumah terdengar tangisan bayi.

“Arina di sana?” tanya kepala stasiun.

“Tentu saja,” jawab istrinya dengan ringkas.

“Ada sesuatu yang sangat orisinal dari perempuan itu, kau memperhatikannya, Nikolai Petrovich?”

“Keorisinalan adalah impresi pertama dari kebanalan[13],” Nikolai Petrovich berkata, seolah-olah mengenai diri sendiri, dengan rupa terpekur dan berpikir.

“Apatah itu?” kepala stasiun merasa jadi lebih gembira.

Dan ketika Nikolai Petrovich mengulang kembali kata-kata mutiara tersebut agar dengan jelas dapat difahami, dengan penuh kenikmatan sang kepala stasiun sedikit agak memejamkan matanya, sementara Sofia Ivanovna mengucapkan kata-kata dengan nada yang tenang:

“Anda dengan baik mengingat, apa yang Anda baca…sedangkan saya, saya membaca dan di hari berikutnya, ini di sepanjang hidup saya, saya tidak ingat apapun juga. Bahkan belum lama ini saya baru saja membaca sesuatu yang menarik, yang menghibur di Niva,[14] tetapi apa? Tidak ada satu kata pun yang saya ingat!”

“Semua hanya masalah kebiasaan,” jelas Nikolai Petrovich dengan singkat.

“Tidak, itu bahkan lebih baik dari yang tadi – siapa nama dia? Schopenhauer…” kata kepala stasiun dengan tersenyum. “Dengan kata lain, segala sesuatu yang baru akan menjadi tua!”

“Atau bahkan sebaliknya, karena, seorang sastrawan mengatakan: ‘Dan, kebijaksanaan eksistensi sederhana: semua yang baru di dalamnya dijadikan dari yang lama’.”

“Ah kau ini, brengsek betul! Dari mana kau peroleh kata-kata begitu? Kata-kata itu keluar dari mulutmu, seperti keluar dari penapis[15]!”

Kepala stasiun tertawa dengan rasa senang, istrinya tersenyum manis dan Nikolai Petrovich merasa tersanjung dan berusaha dengan percuma untuk menyembunyikan rasa puasnya.

“Siapa yang berbicara mengenai kebanalan?”

“Baratinsky[16], sastrawan.”

“Dan yang satunya lagi?”

“Sastrawan juga, Fofanov[17].”

“Orang-orang pintar,” kata kepala stasiun dengan penerimaannya yang baik terhadap para sastrawan tersebut dan dengan suara menembang dia mengulangi kembali petikan itu, senyum puas tampak terlihat di wajahnya.

Rasa jemu terhadap hidup sendiri menyebabkan mereka melakukan semacam permainan; itu, barang sebentar, akan melepaskan mereka dari genggaman jenuh, tetapi setelahnya kejenuhan tersebut akan mencengkram mereka lebih keras lagi. Kemudian mereka akan kembali jadi bisu dan duduk di sana dengan diterpa panas, yang hanya mempertambah minum teh mereka.

Tidak ada apa-apa di sana, kecuali matahari di atas padang stepa.

“Seperti yang aku katakan mengenai Arina,” kepala stasiun mengingatkan. “Dia perempuan yang aneh. Aku memandangnya dan merasa heran. Seakan-akan dia itu sangat terpukul oleh sesuatu apa,– tak pernah tertawa, tak pernah menyenandung, hampir tak pernah bicara…seperti tunggul pohon di atas tanah. Akan tetapi dia memang bekerja dengan sangat baik dan begitulah, Anda sendiri tahu, bagaimana dia menjaga Lolya,[18] sang bayi, bagaimana dia sangat perhatian terhadapnya.”

Kepala stasiun berbicara dengan suara yang pelan, dia tidak ingin Arina mendengar kata-katanya lewat jendela. Dia sadar betul, jika tidak mau para pembantu jadi besar kepala, jangan memberikan pujian kepada mereka. Sonya menginterupsinya dan mengerutkan seluruh dahinya dengan penuh isyarat:

“Cukupkan untuk bicara terlalu banyak. Ada banyak hal yang tidak kau ketahui mengenai dia.”

Cinta seorang budak,

            Aku begitu lemah,

            Dalam peperangan denganmu,

O, iblisku!

Senandung Nikolai Petrovich dengan perlahan, seraya memukul-mukulkan, dengan irama yang teratur, sendoknya ke atas meja. Dia kemudian tersenyum.

“Apa? Apatah itu maksudnya? Dia? Arina? Kalian pasti berolok-olok, kalian berdua!”

Dan kepala stasiun tiba-tiba tertawa keras. Pipinya berguncang-guncang dan butiran keringat menetes dengan cepat dari keningnya.

“Ini sama sekali tidak lucu!” kata Sonya mencoba menghentikan tingkah laku suaminya. “Pertama, dialah yang bekerja menjaga sang bayi, dan kedua – lihatlah bagaimana roti ini? Hangus dan rasanya jadi agak masam. Dan sebabnya apa?”

“Ya, roti itu memang tidak boleh seperti itu. Kau harus menegur dia karena hal ini! Akan tetapi, demi Tuhan! Aku tak pernah mengira! Perempuan itu sendiri kan hanya seperti racikan gumpalan terigu! Ah, brengsek betul, Dan laki-laki itu, siapa dia? Luka? Aku akan ejek dia, laki-laki bajingan! Atau Yagodka – si tua kelimis?”

“Gomozov,” kata Nikolai Petrovich, ringkas.

“Dia? Laki-laki pendiam itu? Ayolah, kau pasti mengada-ada, benar?”

Kepala stasiun sangat senang terhadap kejadian yang sangat menggelikan tersebut. Kadang dia terbahak-bahak sampai matanya basah, kadang dengan serius dia mengatakan tentang keharusan untuk menegur secara keras orang-orang yang tengah mencinta itu, kemudian dia membayangkan percakapan-percakapan yang mesra di antara keduanya dan sekali lagi dia tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Akhirnya dia merasa tertarik untuk mengetahui rincinya. Wajah Nikolai Petrovich seketika itu juga, tak pelak lagi jadi menegang dan Sofia Ivanovna berusaha menghentikan kemauan suaminya secara keras.

“Dasar bajingan! Aku akan memperolok-olok mereka! Ini sangat menarik,” kata kepala stasiun, yang merasa sudah tidak sabar lagi.

Pada saat itu Luka datang dan dia memberitahukan:

“Telegrap berbunyi,”

“Aku akan datang. Berikan sinyal nomor 42.”

Dengan segera dia dan asistennya berjalan ke stasiun dan di sana Luka sedang menarik-narik lonceng dengan sekeras-kerasnya untuk memberikan sinyal kedatangan kereta. Nikolai Petrovich duduk, mendekati peralatan dan mengirimkan kawat ke stasiun berikutnya: ‘Dapatkah saya berangkatkan kereta nomor 42’, sedang kepala stasiun berjalan ke sana kemari di atas lantai kantor tersebut, seraya tersenyum sendiri dan berkata:

“Kau dan aku akan menggoda mereka, orang-orang brengsek itu…Karena tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan. Setidak-tidaknya kita akan sedikit tertawa.”

“Ya, itu diperbolehkan,” kata Nikolai Petrovich, sambil menggerakkan kunci telegrap.

Dia tahu, bahwa kaum filsuf harus bertindak secara ringkas dan padat.

Sesegeranya, setelah itu, datang kesempatan kepada mereka untuk tertawa.

Pada suatu ketika, di malam hari, Gomozov datang menemui Arina di gudang bawah tanah dan di sana, atas permintaan Gomozov dan dengan persetujuan istri kepala stasiun, Arina membuat tempat tidur untuk dirinya sendiri, yang ada di antara berbagai macam barangrongsokan rumah tangga. Di tempat ini terasa lembabdan dingin; dan bangku-bangku rusak, tong-tong kayu, papan-papan dan semua barang bekas lainnya membentuk wujud-wujud yang menakutkan di dalam gelap; ketika Arina sendirian, dia begitu ketakutan, sampai-sampai dia tidak dapat tidur dan hanya akan berbaring di atas jerami dengan mata terbuka lebar, sambil menggumamkan doa-doa, yang dia ketahui.

Gomozov yang telah datang itu, dalam waktu yang lama mengkusutkan pikirannyadan menekannyadengan tidak mengatakan sepatah kata pun, kemudian jadi lelah dan jatuh tertidur. Akan tetapi dengan segera Arina membangunkannya dengan bisikan yang penuh rasa khawatir:

“Timofei Petrovich![19] Timofei Petrovich!”

“Ada apa?” jawab Gomozov, setengah tersadar.

“Mereka mengunci kita.”

“Bagaimana bisa begitu?” tanyanya, seraya melompat bangun.

“Mereka mendekati pintu dan…mengunci gemboknya.”

“Kau berbohong!” Dia berbisik dengan ketakutan dan penuh amarah, sambil mendorong Arina menjauh dari dirinya.

“Lihatlah sendiri,” jawab perempuan itu dengan rasa tunduk.

Gomozov bangun, berjalan terhuyung-huyung, menabrak semua barang-barang, yang dia jumpai, ketika melangkah, mendekati pintu dan berusaha mendorongnya; dan setelah agak terdiam, dia berkata dengan murung:

“Semua ini pekerjaan si serdadu.”

Ledakan tawa terdengar dari balik pintu.

“Keluarkan kami!” pinta Gomozov dengan suara yang keras.

“Apa?” terdengar suara sang serdadu.

“Keluarkan kami, kataku…”

“Besok pagi,” kata sang serdadu, sambil pergi menjauh.

“Brengsek, aku harus mengerjakan semua pekerjaanku!” Gomozov berteriak dengan marah dan memohon.

“Aku akan mengerjakan semua tugasmu. Diamlah baik-baik di sini.”

Dan serdadu itu pun pergi.

“Kau anjing buduk!” geram sang pelangsir dengan perasaan tidak karuan. “Tunggu…kau tidak boleh mengurung aku di sini seperti ini. Itu kepala stasiun. Apa yang kau katakan kepada kepala stasiun? Dia akan bertanya: di mana Gomozov kan? Kalau begitu kau jawablah…”

“Saya takut, kepala stasiunlah yang memerintahkan si serdadu untuk melakukan hal ini,” kata Arina dengan lirih dan tanpa harapan.

“Kepala stasiun?” ulang Gomozov dengan takut. “Mengapa dia mesti memerintahkan si serdadu melakukan hal seperti ini?” Dan, setelah beberapa saat terdiam, dia kemudian berteriak kepada perempuan tersebut: “Kau berbohong!”

Arina menjawab hanya dengan helaan nafas yang dalam.

“Ya, Tuhan, apa yang akan terjadi sekarang?” kata sang pelangsir dan dia duduk di atas tong kayu di dekat pintu. “Cemarlahaku ini. Dan semuanya salahmu, monster jelek!”

Dan setelah mengepalkan tangan, Gomozov mengacung-acungkan kepalan tangan tersebut ke arah terdengarnya helaan nafas Arina. Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa.

Mereka diselubungi bayangan-bayangan kelabu – bayangan yang dipenuhi oleh bau acar kubis dan jamur serta bau sengit lainnya, yang menggelitik cuping hidung. Berkas-berkas tipis sinar bulan masuk melewati celah pintu. Dari luar terdengar suara gemuruh kereta barang, meninggalkan stasiun.

“Hei, kau, perempuan kuntilanak! Mengapa kau tak bicara apa-apa?” kata Gomozov, dengan marah dan memandang rendah. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kau menyurukkan aku ke dalam kesulitan ini dan sekarang kau tak mengatakan apa-apa? Pikirkan jalan keluarnya, brengsek, apa yang akan kita lakukan? Kemana aku harus sembunyi dari rasa malu ini? Ya, Tuhan! Bagaimana aku bisa berhubungan dengan mahluk yang seperti ini!”

“Maafkanlah saya,” kata Arina dengan pelan.

“Heh?”

“Mungkin saya akan dimaafkan.”

“Apa artinya untukku? Baiklah, kau akan dimaafkan; lantas hasilnya apa? Kecemaran itu akan tetap ada padaku atau tidak? Sama saja, aku akan ditertawakan .”

Setelah dalam beberapa saat terdiam, Gomozov mulai memaki-maki dan mencerca-cerca perempuan itu lagi. Waktu bergerak dengan berat dan pelan. Akhirnya perempuan tersebut berkata kepada Gomozov dengan suara gemetar:

“Maafkanlah saya, Timofei Petrovich.”

“Dengan kapak di kepalamu itu, baru kau aku maafkan!” bentak Gomozov.

Dan kembali muncul keheningan, kesuraman dan ketertekanan, keterpenuhan rasa sakit yang hampa bagi dua orang, yang terpenjara di dalam kegelapan.

“Ya, Tuhan! Sekiranya saja segera datang benderang,” dengan keterpiluan Arina memohon.

“Diamlah kau… Aku yang akan menunjukkan kepadamu bagaimana terang!” Gomozov mengancam dan sekali lagi mulai melontarkan rentetan-rentetan makian terhadap perempuan itu. Kemudian datang lagi siksaan karena keheningan dan kebisuan. Dan kebengisan waktu semakin bertambah dengan mendekatnya fajar, seakan-akan setiap menit itu menghilang dengan berlambat-lambat, seperti disenangkan oleh situasi yang menggelikan dari dua orang tersebut.

Beberapa waktu kemudian Gomozov tertidur dan dibangunkan oleh kokok ayam jantan, yang ada di luar gudang.

“Hei, nenek penyihir! Kau tidur?” tanya Gomozov dengan meredam.

“Tidak,” jawab Arina, dengan helaan nafas.

“Kalau begitu kau tidur saja!” Gomozov dengan mengejek menawarkan. “Ah, kau ini!”

“Timofei Petrovich!” kata Arina, hampir seperti menjerit. “Jangan marah dengan saya! Kasihanilah saya! Atas nama Kristus, saya memohon – kasihanilah saya! Saya betul-betul sendiri, tanpa seorang pun di dunia ini. Kau – kau satu-satunya yang aku miliki. Betapapun, kita…”

“Berhentilah meratap! Jangan membuat orang tertawa!” Gomozov memotong dengan kasar lenguhan histeris dari sang perempuan, yang meski demikian sedikit melunakkan hatinya. “Diamlah, kau – perempuan bodoh.”

Dan kemudian, tanpa berkata sepatah pun, mereka menunggui jalannya setiap menit yang berurutan. Akan tetapi lintasan menit tersebut tidak membawakan mereka apa-apa. Akhirnya sinar matahari datang melewati celah pintu, saling bersilang melalui kegelapan dalam bentuk berkas-berkas cahaya. Suara langkah terdengar dari luar gudang. Seseorang datang mendekati pintu, berdiri sebentar di sana dan kemudian pergi menjauh.

“Hei, setan!” Gomozov meraung, sambil meludah penuh kemarahan. Sekali lagi mereka menanti di dalam keheningan yang menegangkan.

“Ya, Tuhan, kasihanilah…” Arina berbisik.

Suara langkah yang diam-diam, rasa-rasanya, terdengar. Tiba-tiba ada bunyi gembok dibuka dan suara keras kepala stasiun terdengar.

“Gomozov!” teriaknya. “Pegang tangan Arina dan keluarlah kalian! Penuh rasa semangat, Gomozov! Semangat!”

“Ke sini, kau,” gumam Gomozov. Arina menghampiri dan berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk dalam.

Pintu terbuka dan di sana berdiri kepala stasiun. Dia menundukkan kepala, tanda takzim dan berkata:

“Selamat atas perkawinan kalian! Ayo, mainkan musik!”

Gomozov melangkah keluar melalui ambang pintu dan dia dihentikan oleh gemuruh suara, yang memekakkan telinga. Luka, Yagodka dan Nikolai Petrovich berdiri di depan pintu. Luka memukul-mukul bagian bawah ember dengan kepalan tangannya dan berteriak dengan sekuat-kuatnya dalam suara tenor yang melengking; sang serdadu meniup horn dari kaleng; Nikolai Petrovich, yang pipinya menggelembung, menggerak-gerakkan tangannya seperti ombak dan melalui bibirnya, seolah-olah, dia meniup sebuah terompet:

“Pom! Pom! Pom-pom-pom!”

Dari ember dihasilkan bunyi berdetam; suara yang melengking dan meraung keluar dari horn. Kepala stasiun tergelak, sampai terbungkuk-bungkuk memegangi bagian rusuknya. Asistennya juga terbahak-bahak, sambil melihat pada Gomozov, yang tampak ternganga dengan wajah pucat pasi dan bibir bergetar, yang tergurat di dalam senyum karena malu. Di belakangnya Arina berdiri, kepalanya tertunduk sampai ke dada, dia seperti tak bergerak dan seolah-olah telah berubah menjadi sebongkah batu.

Arina mengatakan kepada Timofei

            Kata-kata yang manis

 

            Luka menyanyikan hal-hal yang sepele dan menunjukkan wajahnya tampaktidak menyenangkan terhadap Gomozov. Sedangkan sang serdadu berjalan ke arah tempat Gomozov berdiri dan membunyikan horn-nya di telinga Gomozov, dia terus memainkannya, terus memainkan.

“Ayo, jalan, ayo…pegang tangan Arina!” teriak kepala stasiun, agak tertahan karena bahak tawanya. Tubuh Sonya, sang istri, yang duduk di serambi, terguncang-guncang karena gelak tawa dan dia berteriak histeris:

“Oh, oh! Hentikanlah! Aku bisa mati!”

Lantaran momen bahagia ini

Aku benar-benar sabar menderita

 

Nikolai Petrovich bersenandung, tepat di depan wajah Gomozov.

“Hore! Kepada pengantin baru, selamat!” teriak kepala stasiun, ketika Gomozov melangkah ke depan. Dan semuanya, keempat orang tersebut berteriak dengan serempak hore, tambahan lagi sang serdadu berteriak dengan suara bas yang menderam.

Arina melangkah di belakang Gomozov. Kepalanya sekarang terangkat, mulutnya ternganga dan tangannya terjuntai lemah di kedua belah pinggangnya. Matanya sayu menatap apa, yang ada di hadapannya, tetapi, bahwa kedua mata tersebut melihat sesuatu, itu diragukan.

“Buatlah mereka saling mencium! Ha…ha…ha!”

“Sebuah ciuman saja, pengantin baru!” teriak Nikolai Petrovich, sedang Matvei Yegorevich bahkan bersandar dengan lemah pada sebatang pohon dan karena tertawa kedua kakinya tidak lagi dapat menopang dirinya. Dan ember terus bersuara, horn berbunyi, menjerit, menggoda, dan Luka agak sedikit menari, ketika dia bernyanyi:

Dan kau, Arina, untuk kami

            Membuatkan sup kubis yang terlalu kental!

            Nikolai Petrovich sekali lagi mengeluarkan udara dari pipinya, yang digelembungkan:

“Pom-pom-pom! Toot-toot-toot! Pom-pom! Toot-toot-toot!”

Ketika Gomozov telah sampai di pintu barak, dia menghilang. Tinggal Arina berdiri di halaman dengan di kelilingi oleh sekelompok manusia liar, yang berteriak, tertawa dan bersuit-suit di telinganya; dan berjingkrak-jingkrak di sekitarnya dalam keriangan yang sangat gila. Dia berdiri di sana, di hadapan mereka dengan wajah yang tak bereaksi – kotor, tidak rapi, menyedihkan, dan absurd.

“Pengantin lelaki pergi menghilang dan meninggalkannya di belakang,” kata kepala stasiun kepada istrinya, sambil menunjukkan jari ke arah Arina dan tertawa sampai terbungkuk-bungkuk.

Arina menolehkan kepalanya ke arah kepala stasiun dan kemudian dia berjalan melewati barak, keluar menuju ke padang stepa. Kepergiannya disertai oleh teriakan, siulan dan gelak tawa.

“Cukup! Jangan usik dia lagi!” teriak Sofia Ivanovna. “Biarkan dia sendiri. Nanti dia harus meyiapkan makan siang.”

Arina pergi keluar menuju ke padang stepa; keluar melewati garis pemisah ke ladang gandum, yang berbulu kasar. Dia berjalan dengan pelan, seperti orang yang tenggelam dalam tafakur.

“Bagaimana, bagaimana?” berkali-kali kepala stasiun bertanya kepada mereka-mereka, yang ikut dalam percandaan yang tadi, yang menceritakan kepada satu sama lainnya detil-detil kecil dari rincian perilaku sang pengantin baru. Mereka semuanya tertawa terbahak-bahak. Dan bahkan, di dalam hal ini, Nikolai Petrovich mendapatkan kesempatan untuk memasukkan salah satu mutiara bijaknya:

Tertawa, pada apa, yang tampaknya jenaka

Benar-benar, bukanlah dosa

 

Hal ini dia katakan kepada Sofia Ivanovna, seraya menambahkan secara meyakinkan, “tetapi jika tertawa terlalu banyak, itu berbahaya.”

Pada hari itu, di sana, di stasiun telah terjadi gelak tawa yang riuhnya bukan main, tetapi makan siang jadi sangat buruk, karena Arina tidak datang untuk memasak dan pekerjaan tersebut terlimpah kepada istri kepala stasiun. Bahkan makan siang yang jelek itu tidak mampu menghancurkan suasana hati yang cerah. Gomozov tidak keluar dari barak sampai datang waktu, ketika dia harus mengerjakan tugasnya. Saat dia keluar, dia dipanggil ke kantor kepala stasiun dan di sana Nikolai Petrovich, dengan disertai kekehan Matvei Yegorovich dan Luka, menanyai Gomozov mengenai, bagaimana dia dapat memikat hatiperempuan cantiknya.

“Berdasarkan keorisinalannya – ini adalah kejatuhan laki-laki nomor wahid,” kata Nikolai Petrovich kepada kepala stasiun.

“Ya kejatuhan itu ada,” kata Gomozov yang tampak tenang dan serius dengan senyum kecutnya. Dia menyadari, bahwa seandainya dia dapat memberikan cerita, yang akan membuat Arina tampak menggelikan, maka dia sendiri akan sedikit terhindar dari terpaan gelak tawa. Dan dia bercerita:

“Mulanya perempuan itu berkali-kali mengedipkan matanya kepadaku.”

“Mengedipkan mata? Ha, ha, ha! Bayangkan itu, Nikolai Petrovich, bagaimana dia, Arina, dengan raut yang begitu, mengedipkan matanya kepada Gomozov? Itulah dia daya pikat!”

“Jadi, dia mengedipkan mata, sedang saya hanya memandang dan berpikir mengenai diri sendiri – kau nakal, perempuanku! Kemudian, akhirnya, dia berkata: kau mau, dia berkata begini, saya akan jahitkan kau beberapa kemeja.”

“Tetapi ‘di sini kekuatan ada bukan pada jahitannya’,” kata Nikolai Petrovich memperhatikan, seraya menambahkan kepada kepala stasiun dengan penjelasan: “Itu, Anda tahu, dari Nekrasov[20]– dari salah satu sajaknya yang berjudul ‘Ubogaya i Naryadnaya’.[21] Teruskan, Gomozov.”

Dan Gomozov melanjutkan, pertama-tama dengan memaksa-maksa, tetapi sedikit demi sedikit dia memperoleh inspirasi dari dusta-dustanya, karena dia melihat, bahwa kebohongan-kebohongan itu berfaedah bagi dirinya.

Sementaraitu perempuan yang sedang dibicarakan Gomozov, berbaring di atas padang stepa. Dia sudah berjalan jauh ke luar, masuk ke dalam lautan gandum dan di sana dia membenamkan diri dengan susah hati ke atas tanah dan berbaring tanpa bergerak. Ketika dia tidak sanggup lebih lama lagi menahan panasnya sinar matahari, yang mendera punggungnya, dia berbalik dan melindungi wajahnya dengan tangan untuk menghalangi pandangan ke langit yang terlalu terang, ke arah matahari yang sangat menyilaukan.

Pohon-pohon gandum yang ada di seputaran perempuan, yang telah diremukkan oleh perasaan malu itu, berdesir lembut; belalang-belalang yang tak terkira jumlahnya, mengerik secara kontinyu dan teratur. Hari, rasanya, panas. Perempuan tersebut berusaha untuk berdoa, tetapi dia tidak dapat mengingat kata-kata doa. Wajah-wajah yang penuh ejekan menari-nari di depan matanya. Telinganya dipenuhi oleh suara gelak tawa, horn yang menjerit dan lengkingan dari Luka. Karena itu, atau karena panas yang membuat dadanya terkerut; dan dia membuka bajunya dan memperlihatkan tubuhnya ke arah matahari, sambil berharap akan menjadikannya lebih mudah bernafas. Sinar matahari membakar kulitnya; sesuatu yang terasa panas tampaknya menggurdi[22]di dalam dadanya; nafasnya menjadi tersengal-sengal.

“Tuhan, kasihanilah…” bisik lirih Arina dari waktu ke waktu.

Akan tetapi jawaban yang datang hanyalah dari desiran pohon gandum dan suara belalang yang mengerik. Sambil mengangkat kepalanya lebih tinggi dari pohon gandum yang berombak, dia melihat kilauan pohon gandum yang keemasan, menara air berwarna hitam yang menjulang ke udara terbuka, di luar stasiun, dan atap dari bangunan stasiun. Tidak ada sesuatu yang lain di atas dataran berwarna kuning yang tak bertepi, yang diselubungi oleh lengkung langit biru; dan tampaklah pada Arina, bahwa dia sendirian di seluruh dunia ini dan dia berbaring di tengah-tengahnya, seorang pun tidak ada yang pernah datang untuk membebaskannya dari beban rasa sepi. Seorang pun, tidak pernah…

Menjelang malam perempuan itu mendengar teriakan:

“Arina-a! Arina, kau dengar!”

Suara yang satu itu milik Luka, sedang yang kedua milik sang serdadu. Perempuan tersebut berharap mendengar suara yang ketiga, tetapi laki-laki itu tidak memanggilnya dan oleh karena itulah dia meneteskan limpahan airmata, yang mengalir deras di atas pipi bopengnya. Dan ketika dia menangis, dia menggosok-gosokkan dada telanjangnya pada tanah yang kering dan hangat untuk menghentikan perasaan membaranya, yang akan menjadikan dirinya semakin lama, semakin disengsarakan. Perempuan itu menangis, dan kemudian menghentikan tangisnya, sambil menahan isakannya, seakan dia takut seseorang akan mendengar dan melarangnya menangis.

Ketika malam sudah datang, dia bangun dan dengan perlahan dia berjalan pulang menuju ke stasiun.

Saat dia sudah sampai di bangunan tersebut, dia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada dinding gudang, untuk waktu yang cukup lama dia memandangi padang stepa. Kereta barang datang dan pergi, dan perempuan itu mendengar, ketika sang serdadu menceritakan kisah malu dirinya kepada para awak kereta, yang tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka dibawa jauh keluar, menuju ke padang stepa dan di sana marmut-marmut bersuara dengan lirih.

“Tuhan, kasihanilah,” perempuan itu menghela nafas, sambil menekan tubuhnya pada dinding gudang. Akan tetapi   helaan nafasnya tidak mampu mengurangi beban hatinya.

Menjelang pagi dia naik ke atas, masuk ke dalam loteng stasiun dan menggantung dirinya dengan tali pakaiannya.

Dua hari kemudian bau mayat Arina menuntun orang-orang untuk menemukannya. Mula-mula mereka takut, tetapi kemudian mereka mulai membicarakan, siapa yang mungkin bersalah atas apa, yang terjadi. Nikolai Petrovich, tanpa bisa dibantah, memperlihatkan, bahwa Gomozov-lah yang bersalah. Kepala stasiun memberikan kepada pelangsir tersebut sebuah pukulan ke bagian rahang dan memerintahkan Gomozov untuk tetap diam.

Orang yang berwenang datang dan melakukan investigasi. Akhirnya diketahui, bahwa Arina mengalami derita hati karena melankolia – kemurungan jiwa. Beberapa pekerja rel kereta api diperintahkan untuk membawa mayat Arina keluar, ke padang stepa dan menguburkannya di sana. Semua telah terjadi, kedamaian dan ketentraman sekali lagi berkuasa di stasiun kereta tersebut.

Dan sekali lagi orang-orang yang tinggal di sana hidup selama empat menit dalam sehari, merana karena rasa sepi dan jenuh, karena panas terik dan ketiadaan pekerjaan, memandang dengan rasa iri, kereta-kereta yang cepat pergi, meninggalkan mereka.

Dan pada musim dingin, ketika badai datang menderu dan meraung dari padang stepa, seraya menghujani stasiun kecil itu dengan salju dan suara-suara yang menakutkan, menjadikan hidup di sana lebih lengang dari yang pernah ada. (*)

____

*Cerita karya Maxim Gorky ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti adalah penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Leo Tolstoy, Maxim Gorky, Anton Chekov dan sebagian penulis besar Rusia lainnya. Setelah menamatkan studi di Rusia penulis kini tercatat sebagai pengajar di Jurusan Sastra FIB UNPAD.

 

 Catatan Kaki:

[1] Ketel teh khas Rusia

[2] Nama diminutif Sofia

[3] Sebutan untuk lembaga pendidikan menengah umum

[4] Ukuran panjang Rusia kuno, setara 1,06 km

[5] Sepuluh kopek

[6] Provinsi, divisi teritorial dan administratif utama di Rusia (1708-1929). Sekarang diubah menjadi oblast (region) dan kray (territory)

[7] Nama kota, letaknya 196 kilometer dari sebelah tenggara kota Moskow

[8] Kota terbesar keempat setelah kota Moskow, Saint Petersburg dan Novosibirsk. Dari tahun 1932 sampai tahun 1990 kota ini dikenal dengan nama Gorky, karena Maxim Gorky dilahirkan di Nizhny Novgorod

[9] Divisi teritorial dan administratif terendah di Rusia tahun 1708-1929, sekarang rayon

[10] Poplar, sejenis pohon dari kelas pohon willow

[11] Arthur Schopenhauer (22 Pebruari 1788-21 September 1860) termasyur dengan karyanya ‘the World as Will and Representation’. Schopenhauer memformulasikan filsafat yang pesimistik, yang memandang hidup, pada dasarnya, menjadi jahat, gagal dan penuh derita. Filsafatnya ini memperoleh sandaran yang kuat setelah kegagalan revolusi Jerman dan Austria tahun 1848. Akan tetapi melalui pemikiran Timur, dia melihat adanya penyelamatan, pembebasan atau lari dari derita dalam renungan estetis, rasa simpati pada orang lain dan perikehidupan menyepi

[12] Lark, burung yang gemar bernyanyi dari kelas burung gereja atau burung pipit

[13] Hal yang bersifat biasa sekali, dangkal, atau umum

[14] Majalah mingguan untuk bacaan keluarga, terbit di Saint Petersburg (1870-1918)

[15] Saringan

[16] Penulis Rusia Evgeny Baratinsky (1800-1844) merupakan penulis elegi, epigram, filsafat, lirik, sajak, prosa dan prosa liris.

[17] Penulis Rusia Konstantin Fofanov (1862-1911) merupakan penulis lirik, sajak, prosa liris dan epigram

[18] Nama diminutif Elena

[19] Timofei Petrovich Gomozov

[20] Nikolai Nekrasov (1821-1877/1878) merupakan penulis puisi, puisi satiris, prosa liris, prosa dan drama. Penulis Rusia yang melanjutkan tradisi Pushkin dan Lermontov. Karya-karyanya sangat berpengaruh pada perkembangan puisi-puisi demokratis paruh kedua abad 19

[21] Beggarly and Smart, petikan di sini kekuatan ada bukan pada jahitannya diambil dari baris terakhir bagian 1 ‘Karangan dalam Tiga Jilid’ Nekrasov. Sajak ini ditulis pada tahun 1859

[22] Men-drill atau mengebor

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

William B Yeats: Tidak Ada Apa Pun Selain Tuhan

mm

Published

on

KEPALA BIARA pastor Malathgeneus, Pastor Dove, Pastor Bald Fox, Pastor Peter, Pastor Patrik, Pastor Bittern, Pastor Fair Brows, duduk mengelilingi api. Salah seorang sibuk menjahit jaring untuk menangkap belut di sungai. Seorang lagi mengatur perangkap burung, seorang membetulkan pegangan sekop yang rusak, yang lain tengah menulis di buku besar, dan seorang lagi tengah memaku kotak emas di pojok yang digunakan untuk mengikat buku. Dan di antara semak-semak sekat api, berbaring seorang pelajar yang pada suatu hari telah menjadi saudara mereka. Dia seorang anak berusia 8-9 tahun beranama Olioll, terbaring sambil menerawang bintang yang muncul-hilang di awan. Dia beralih ke pastor yang sedang menulis di buku besar, yang memang tugasnya sebagai guru Olioll. Olioll berkata, “Pastor Dove, bintang itu terikat pada apa?”

Pastor Dove senang mendengar keingintahuan muridnya yang terkenal bodoh itu. Sambil meletakkan pulpennya dia berkata, “Ada sembilan bola yang terdiri dari kristal; bulan terikat pada yang pertama, kedua Planet Merkurius, ketiga Planet Venus, keempat matahari, kelima Planet Mars, keenam Plane Jupiter, ketujuh Planet Sartunus. Itulah bintang-bintang yang berkeliling, dan pada yang kedelapan terikat bintang tetap, tetapi bola yang kesembilan adalah bola yang termuat dari substansi pertama.”

“Apa yang ada di jauh sana?” tanya anak itu.

“Tidak ada lagi, kecuali Tuhan.”

Kemudian mata anak itu tertuju pada kotak emas, dan berkata, “Mengapa Pastor Peter menaruh batu delima besar di sebelah kotak itu?”

“Batu delima adalah simbol kecintaan pada Tuhan. Karena batu delima itu merah seperti api dan api membakar apa saja, dan bila sudah tidak ada apa-apa, Tuhan itu tetap ada.”

Olioll hanyut dalam kesunyian, tapi tiba-tiba dia bangkit dan berakata, “Ada orang di luar.”

“Tidak ada,” jawab Pastor Dove. “Itu hanya  serigala; aku sering mendengar mereka berkeliaran di salju beberapa kali. Mereka sangat liar, dan sekarang musim dingin membuat mereka keluar dari gunung. Kemarin malam mereka mengganggu biri-biri, dan bila kita tidak hati-hati, mereka akan merusak apa saja.”

“Bukan, itu langkah-langkah manusia, karena langkahnya berat; saya bisa membedakannya dengan suara langkah serigala. Saya akan membuka pintu, karena mereka pasti kedinginan.”

“Jangan buka pintu, karena mungkin itu manusia serigala dan mereka akan menyerang kita!”

Tetapi anak itu sudah membuka pintu; seseorang terlihat pucat ketika pintu terbuka.

“Dia pasti bukan manusia serigala,” kata Olioll, karena bahu orang itu terletak dekat perut. Orang itu lalu masuk dan menatap semua orang secara perlahan, berdiri mengambil jarak dekat api; dan akhirnya tertuju pada Pastor Malathgeneus, dia berkata:

“Yang Mulia, saya mohon izin ikut menghangatkan diri dekat api, agar saya tidak mati kedinginan karena kemarahan Tuhan.”

“Mendekatlah ke api,” kata Pastor Malathgeneus. “Adalah hal yang menyedihkan jika ada orang Kristen mati dalam keadaan menderita seperti Anda.”

Laki-laki itu duduk di dekat api dan Olioll menghidangkan daging, roti, dan anggur di hadapannya. Tetapi dia hanya mau rotinya saja dan menolak anggur, lalu meminta air. Ketika jangut dan rambutnya mulai kering, ia mulai bicara lagi:

“Beri saya pekerjaan, mungkin pekerjaan yang paling berat, karena saya adalah orang termiskin di antara makhluk Tuhan yang miskin.”Para Pastor itu pun berunding membahas pekerjaan apa yang pantas diberikan pada lelaki itu, karena saat itu tidak ada pekerjaan yang kekurangan tenaga. Tetapi akhirnya mereka ingat pada usaha Pastor Bald Fox yang bisnisnya beralih ke perumahan, sehingg ia bisa pergi ke sana di pagi hari, karena ia tak mampu dan terlalu tua untuk mengerjakan yang lain.

Musim dingin berlalu, berganti musim semi dan beralih ke musim panas, dan para pekerja tidak berpangku tangan; tidak ada yang enggan, juga jika ada peminta-minta yang menyanyikan lagu. Penyebab kemurungan Olioll di waktu lalu, sehingga ia kerap terpisah dari saudara-saudaranya, adalah karena dari dulu ia bodoh dan tidak bisa diajar atau belajar. Tetapi sekarang kemurungan itu telah berlalu, karena dia berubah menjadi pintar dan adalah “keajabian” tatkala kepintaran itu datang secara tiba-tiba. Suatu hari bahkan ia pernah lebih tolol dari biasanya dan diancam akan diturunkan ke kelas di bawahnya bila ia tetap tidak bisa mengerti pelajaran-pelajarannya, dan tentu ia akan ditertawakan oleh anak-anak lain. Tetapi ia telah melewati perjalanan penuh deraian air mata itu. Akhirnya dia naik kelas, dan menjadi pelajar yang terpintar.

Pada mulanya Pastor Dove mengira ini adalah jawaban dari doa-doanya, sehingga ia merasa bangga. Tetapi setelah ia mencoba mendoakan hal-hal yang penting, dia gagal. Dia meyakinkan dirinya, bahwa anak itu adalah petunjuk adanya sihir. Dia menceritakan pemikirannya pada Kepala Biara, yang menyuruh datang ketika dia diminta membuktikan kebenarannya. Pada hari berikutnya, di hari Minggu, pastor Dove berdiri di jalan setapak. Ketika Kepala Biara dan pastor-pastor lain datang dari kebaktian malam dengan ditandu oleh para pelayan, ia berkata:

“Peminta-minta itu adalah orang yang paling suci dari orang-orang suci dan pekerja yang ajaib. Baru saja saya mengikuti Olioll, sampai dia tiba di hutan kecil dekat perumahan pekerja. Saya tahu karena ada jalan setapak yang rusak, dan dari bekas-bekas kaki di tempat berlumpur di mana dia telah melalui jalan itu berkali-kali.

William Butler Yeats
Yeats  adalah sastrawan pertama Irlandia yang memperoleh penghargaan nobel sastra, persisnya pada 1923. Ia Lahir di Sandymount, Irlandia tahun 1865 dan meninggal tahun 1939. Yeats adalah penyair yang sangat dihormati di negaranya, sekaligus menjadi panutan bagi penyair-penyair yang lebih muda, karena kemampuannya menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan makin mendekati usia tua, puisi-puisinya main matang. Yeats lebih dikenal sebagai penyair, meskipun ia juga menulis drama dan esai. Kumpulan puisi pertamanya The Wondering of Oisin and Otehr Poems (1889) menandai eksistensinya di dunia sastra, kemudian disusul dengan buku-buku lain. Tetapi ia paling dikenal berkat kumpulan-kumpulan puisinya yang terbit kemudian, The Tower (1928), The Winding Stair (1933), dan Last Poems (1940).



“Saya bersembunyi di semak-semak, di mana ada jalan setapak di tempat yang miring dan saya tahu, dari deraian air matanya, bahwa kebodohannya sudah terlalu lama dan kecerdasannya datang terlalu cepat. Ketika dia di perumahan para pekerja, saya pergi ke jendela dan melihat ke dalam; burung-burung datang dan hinggap di kepala dan bahu saya, karena mereka malu-malu di tempat suci itu. Dan seekor serigala lewat, kaki kanannya mengentak semak-semak. Olioll membuka bukunya dan melihat pada halaman yang saya suruh untuk dipelajarinya.

“Tetapi ia menangis; pengemis tua yang duduk di sampingnya lalu menenangkannya sampai Olioll tertidur. Ketika dia sudah tertidur lelap, pengemis itu bersujud dan berdoa dengan keras, katanya, “Tuhan yang menguasai seluruh bintang dan segalanya, kepunyaan-Mu adalah awal dari segala kekuatan; berikanlah pengetahuan setelah dia bangun dari tidurnya nanti, pengetahuan yang tidak ada di dunia ini.’ Kemudian sebuah cahaya berkobar di udara dan tercium semerbak bunga mawar. Pengemis itu beralih melihat pada saya, lalu membungkuk dan berkata, ‘O, Pastor Dove, bila saya telah melakukan kesalahan, maafkan saya, dan saya akan melakukan penebusan dosa. Kebodohan saya yang membawa saya kemari, tapi saya takut dan berlari, dan terus berlari sampai saya datang kemari.’”

Kemudian semua pastor berbicara bersama-sama; salah satu mengatakan bahwa dia sosok orang suci, yang lain mengatakan yang suci bukan dia tapi yang lain, yang satu mengatakan bahwa ia bukan orang suci, dan perbincangan itu hampir mendekati pertengkaran karena semua mengklaim orang suci karena asalnya. Pada akhirnya Kepala Biara berkata, “Dia bukanlah salah satu dari yang kalian bicarakan; saya ucapkan terima kasih pada semuanya. Dia Aengus, seorang pengembara yang tak punya tujuan. Sepuluh tahun lalu dia pergi ke hutan dan kerjanya hanya memuji Tuhan; banyak kabar tentang kesuciannya yang membawa banyak berkah. Sembilan tahun lalu dia hanya mengenakan kain buruk, dan sejak hari itu tak seorang pun yang melihatnya, karena dia menjauh dari manusia dan hidup dengan serigala di hutan. Dia hanya makan rumput-rumput yang tumbuh di ladang. Mari kita menghadap dia dan memberi hormat padanya, karena setelah mengalami pencarian diri yang lama, dia tidak menemukan apa pun kecuali Tuhan!” (*)

Continue Reading

Cerpen

Perempuan Bermata Merah

mm

Published

on

“Yang merasa kawanku, angkat tangan! Yang merasa selingkuhanku, angkat bicara! Yang merasa mantanku, angkat kaki!”

Oleh: Syukur Budiardjo[1]

Demikian update status terbaru yang ditulis oleh perempuan bermata merah di akun facebooknya. Perempuan bermata merah? Ya! Karena setiap malam ia selalu membunuh waktunya shingga menjelang subuh dengan menulis status di dinding beranda facebooknya atau chatting dengan siapa pun yang disukainya. Karena kurang tidur, matanya terlihat merah. Sangat merah.

Malam-malam panjangnya selalu ia gunakan untuk curhat dan berbicara dengan lelaki yang menjadi kekasihnya di dunia maya. Sementara itu, putri semata wayangnya telah tidur pulas, Ia berbicara apa saja yang berkelebat di dalam kepala atau hatinya. Tanpa beban. Juga mendengarkan keluh kesah yang disampaikan kekasihnya. Dengan bahasa yang mbeling. Atau barangkali malah vulgar!

Namun, pertemanan perempuan bermata merah itu dengan lelaki kekasihnya, selalu berumur pendek. Ia merasa bosan. Ia akhiri pertemanan itu. Ia kemudian mencari kekasih lagi. Ia berbicara dan mendengar lagi dengan kekasih barunya. Ia bosan lagi. Ia putuskan cintanya. Ia mencari kekasih baru lagi. Ia berbicara dan mendengar lagi. Ia sudahi lagi karena bosan. Hingga tak terhitung dengan jari tangan mantan kekasihnya di dunia maya. Mangsanya bertumbangan.
                                                         

                                                                   ***

Perempuan bermata merah itu masih duduk menghadap laptop ketika nyanyian jengkerik di tengah malam masih terdengar. Lolong anjing liar tak membuatnya takut, kemudian berhenti mencari mangsa. Ia tak peduli. Karena malam hari baginya adalah waktu kebahagiaan itu bersemayam di dalam hatinya. Meski diwarnai dengan kata-kata tak sedap didengar. Ia masih juga chatting dengan kekasihnya yang baru.

Perempuan bermata merah itu adalah perempuan yang kesepian jiwanya, juga raganya. Karena suaminya pergi meninggalkannya begitu saja. Tanpa alasan yang jelas. Pergi tanpa kabar. Dengan meninggalkan anak perempuan yang masih bersekolah di kelas satu sekolah dasar.

                                                               ***

Perempuan bermata merah itu mengambil tempat duduk di dalam kamarnya setelah meletakkan majalah kesukaannya ke atas meja. Sesaat kemudian ia menyeruput teh hangat. Sinar matahari pagi menerobos masuk ke dalam kamarnya. Putri semata wayangnya telah diantarkannya ke sekolah.

Ia lalu membuka laptopnya, kemudian menyalakan akun facebooknya. Ia terperanjat. Karena ada delapan pesan yang masuk ke dalam kotak pesan. Padahal, setiap hari ia menerima paling banyak tiga pesan inboks. Itu pun rata-rata berisi ucapan terima kasih karena perempuan muda itu telah mengabulkan permohonan pertemanan. Tak lebih dari itu.

Perempuan bermata merah itu selalu memosting statusnya setiap hari. Tak pernah henti. Di atas dua ratusan orang yang menyukai, setiap kali postingan statusnya muncul di beranda facebookinya. Komentar atas statusnya pun kebanyakan memujinya. Itu entah karena foto profilnya atau isi statusnya. Bisa keduanya atau bisa salah satunya.

Wajah yang menghiasi foto profilnya memang cantik! Wajah Asia khas Melayu. Alis matanya legam berbentuk bulan sabit. Matanya mampu menyihir siapa pun yang melihatnya, bagaikan mata elang yang sangat awas menemukan mangsanya. Hidungnya menyerupai hidung yang dimiliki oleh bangsa-bangsa asli di Timur Tengah atau Eropa. Bibirnya tipis merah merekah seolah hendak membisikkan pesan rahasia nan terselubung. Rambutnya yang hitam panjang terbelah dua di sebelah kiri dan kanan, menutupi wajahnya yang putih bersih.

                                                               ***

“Ah, cuma ucapan terima kasih!” Ia berkata lirih. Sudah enam pesan di kotak pesan dibukanya. Semuanya berasal dari laki-laki dan semuanya berisi ucapan terima kasih.

“Ha!” Ia terbelalak ketika membaca pesan ketujuh. Ia mulai membaca perlahan dan mencermati kata demi kata.

“Hai! Apa kabar sayang? Maukah kau menjadi pacarku di facebook? Aku menyukai bibirmu yang tipis, juga alis matamu yang hitam bagaikan celurit. Tapi yang membuatku menjadi tak bisa tidur adalah matamu yang menerkamku!”

“Hahahaha …. Picisan! Dasar lelaki buaya! Cuma pandai merayu di facebook! Gombal! Pret!” Ia mencemooh. Ia tak membalas pesan itu. Ia tak menggubrisnya.

Ia kemudian membuka pesan terakhir. Ia terpekik. Menahan napas. Matanya menembak kata per kata yang tertulis di kotak pesan.

“Dasar wanita peselingkuh! Kau tak lebih dari musang berbulu domba. Karena kau telah merebut suamiku. Dengan modal status yang kau posting di facebook kau racuni suamiku dengan kata-kata yang memabukkan. Dasar wanita pelakor!”

“Memang, kau sangat pintar merakit pesan rayuan yang kau kemas dengan kata-kata mutiara! Benar-benar menyakitkan! Coba bayangkan, jika posisimu ditukar dengan posisiku! Pasti kau juga akan marah! Dasar wanita berakhlak comberan!”

Sesaat perempuan bermata merah  itu terkesima. Belum sempat ia menjawab pesan terakhir yang menusuknya,, pintu rumahnya diketuk tamu.

“Kring! Kring! Kring!” Telepon genggamnya juga berdering. Ia hanya mematung.

Sesaat kemudian perempuan bermata merah itu mematikan telepon genggamnya. Kemudian ia membuka pintu. Namun, tak ada siapa pun. 

                                                                ***

Malam hari perempuan bermata merah itu kembali membuka akun facebooknya. Kemudian ia melihat-lihat kabar berita di beranda facebooknya. Ia lalu chatting dengan kekasih mayanya.  

Menjelang subuh ia mengakhiri perbincangan dengan kekasihnya. Akan tetapi, ia tak menyadari ada sepasang mata selalu mengawasinya. Ketika lengking muazin tepat waktu subuh terdengar, sepasang tangan kekar bertato kupu-kupu di lengan kanan, membekap mulutnya. Ia memberontak, tetapi tak berhasil. Perempuan bermata merah itu kehabisan napas. Lemas. Lunglai.

Cibinong, Oktober 2020


[1] *) Syukur Budiardjo, Penulis dan Pensiunan Guru ASN di DKI Jakarta. Alumnus Fakultas pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Jakarta. Menulis artikel, cerpen, dan puisi di media cetak, media daring, dan media sosial. Kontributor sejumlah antologi puisi. Menulis buku kumpulan puisi Mik Kita Mira Zaini dan Lisa yang Menunggu Lelaki Datang (2018), Demi Waktu (2019), Beda Pahlawan dan Koruptor (2019), buku kumpulan esai Enak Zamanku, To! (2019), dan buku nonfiksi Straegi Menulis Artikel Ilmiah Populer di Bidang Pendidikan Sebagai Pengembangan Profesi Guru (2018). Tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Continue Reading

Cerpen

Gabriel Garcia Marquez: Monolog Isabel Memandangi Hujan di Macondo

mm

Published

on

Gabriel Garcia Marquez*

Musim dingin jatuh pada suatu Minggu saat orang keluar dari gereja. Sabtu malam udara sudah terasa menyesakkan. Namun, hingga Minggu pagi tak seorang pun menduga akan turun hujan. Seusai misa, sebelum kami kaum wanita sempat menemukan gagang payung kami, angin tebal gelap berhembus dengan pusaran luas menyapu debu dan sampah berat bulan Mei. Seseorang di sebelahku berucap: “Ini angin basah.” Dan itu sudah kuketahui sebelum terjadi. Saat kami berjalan keluar, di tangga gereja kurasakan mual menggoncang perutku. Para pria berlarian ke perumahan terdekat dengan satu tangan memegang topi dan tangan lainnya memegang sapu tangan, berlindung diri dari debu dan angin. Lalu hujan turun. Dan langit bagaikan zat kental kelabu yang mengepakkan sayap-sayapnya setengah depa di atas kepala kami.


One Hundred Years of Solitude mengisahkan tentang naik turunnya, kelahiran dan kematian kota mitos Macondo melalui sejarah keluarga Buend. Penuh dengan kehidupan, menghibur, magnetis, sedih, dan berkisah tentang hidup pria dan perempuan yang tak terlupakan—penuh dengan kebenaran, kasih sayang, dan sihir liris yang menyerang jiwa—novel ini adalah mahakarya seni fiksi.

Sepanjang sisa pagi itu aku dan ibu tiriku duduk dekat pagar, merasakan bahagia bahwa hujan akan menyegarkan lagi kuntum-kuntum rosemary dan nard yang dahaga di pot-pot bunga, setelah tujuh bulan menjalani musim terik dan debu membakar. Pada tengah hari gaung bumi berhenti dan aroma tanah yang berganti, tetumbuhan yang bangkit dan hidup kembali, bergabung dengan hawa sejuk dan segar dari hujan yang jatuh di kuntum-kuntum rosemary. Sewaktu makan siang ayahku berkata: “Hujan di bulan Mei adalah suatu pertanda akan datang masa yang baik.” Sambil tersenyum, dilintasi berkas cahaya musim baru, ibu tiriku berkata padaku: “Itulah yang kudengar dalam khotbah.” Dan ayahku tersenyum. Ia makan dengan lahap dan mengunyah makanan perlahan-lahan di samping pagar, diam, mata terpejam, namun bukan tidur, seakan ia membayangkan sedang bermimpi saat jaga. Hujan turun sepanjang sore dalam nada tunggal. Engkau dapat mendengar air jatuh dalam kekerapan yang seragam dan damai, seperti yang dapat engkau dengar saat engkau bepergian sore hari dengan kereta api. Namun, tanpa kami perhatikan, hujan merasuk terlampau jauh ke dalam perasaan kami. Senin dini hari, ketika kami menutup pintu untuk menghindari angin dingin menusuk yang berhembus dari halaman, perasaan kami sudah dipenuhi hujan. Dan Senin pagi air sudah meluap. Aku dan ibu tiriku menuju belakang rumah untuk melihat taman. Tanah kasar bulan Mei yang kelabu telah berubah dalam semalam menjadi zat hitam becek seperti sabun murahan. Tetesan air mulai meninggalkan pot-pot bunga. “Kukira pot-pot bunga itu telah mendapat air lebih dari cukup sepanjang malam,” gumam ibu tiriku. Dan kuperhatikan senyumnya sirna dan kesenangannya di hari sebelumnya telah berubah malam itu menjadi keseriusan yang memelas dan menjemukan. “Kukira engkau benar,” kataku. “Lebih baik menyuruh orang-orang Indian itu menaruh pot-pot itu di beranda sampai hujan berhenti.” Dan itulah yang mereka lakukan, ketika hujan menderas seperti pohon raksasa di atas pepohonan lainnya. Ayahku memandangi tempat ia berada pada Minggu sore, namun ia tak bicara soal hujan. Ia berkata: “Tadi malam aku pasti tak nyenyak tidur sebab aku bangun dengan punggung terasa pegal.” Dan ia ada di sana, duduk di samping pagar dengan kaki di atas kursi dan kepala menghadap ke taman yang kosong. Baru pada petang hari, setelah ia menolak makan siang ia berucap: “Kelihatannya langit takkan pernah cerah lagi.” Dan aku ingat bulan-bulan yang panas. Aku teringat bulan Agustus, tidur siang yang panjang dan gundah di mana kami merebahkan tubuh untuk mati di bawah beratnya hawa panas, pakaian lengket ke tubuh, mendengar hiruk-pikuk di luar yang terus-menerus dan dungu dari waktu yang tak pernah berlalu. Kulihat dinding-dinding basah kuyup, sambungan-sambungan balok memuai oleh air. Aku melihat ke taman kecil, kosong mula-mula, dan rumpun melati pada dinding, yang setia pada kenangan akan ibuku. Kulihat ayahku duduk di kursi goyang, punggung sakitnya bersandar pada sebuah bantal, dan mata dukanya tersesat ke dalam labirin hujan. Aku teringat malam-malam bulan Agustus, keheningannya yang menakjubkan, tak sesuatu pun terdengar selain suara ribuan tahun bumi, yang berputar pada porosnya yang berkarat dan tak berpelumas. Tiba-tiba aku merasa dicengkam nestapa tak terperi.

Hujan turun sepanjang Senin, sebagaimana hari Minggu. Tapi, kini seakan hujan turun dengan cara lain, sebab sesuatu yang berbeda dan getir terjadi dalam hatiku. Pada petang hari sehembus suara di samping kursiku berkata: “Hujan ini sungguh menjemukan.” Tanpa menoleh, kukenali suara Martin. Aku tahu ia berkata di kursi sebelah, dengan ungkapan dingin yang sama dan menggiriskan yang belum berubah, bahkan belum berubah sejak fajar Desember yang muram, saat ia mulai menjadi suamiku. Lima bulan telah berlalu semenjak itu. Kini aku akan mempunyai seorang anak. Dan Martin di situ, di sampingku, berkata bahwa hujan membuatnya jemu. “Bukan menjemukan,” kataku. “Bagiku terasa menyedihkan, melihat taman yang kosong dan pohon-pohon ranggas yang tak bisa berlindung dari hujan.” Lalu aku menoleh ke arahnya dan Martin tak lagi di sana. Hanya sebersit suara berkata padaku: “Tampaknya takkan pernah cerah lagi,” dan ketika kutoleh ke arah suara itu hanya kudapati kursi kosong.


No One Writes to the Colonel
Ditulis dengan realisme dan kecerdasan welas asih, kisah-kisah dalam koleksi yang memikat ini menggambarkan perbedaan kehidupan kota dan desa di Amerika Selatan, tentang kenangan dan ilusi akan ruang antara yang sangat miskin dan terlampau kaya, serta peluang yang hilang dan kegembiraan saat ini. Jumat selalu berbeda. Setiap hari dalam seminggu, Kolonel dan istrinya yang sakit berjuang terus-menerus melawan kemiskinan dan kehidupan yang monoton,  mereka mengumpulkan sisa-sisa tabungan mereka untuk makanan dan obat-obatan yang membuat mereka tetap hidup. Tetapi pada hari Jumat, tukang pos datang – dan itu memberi gelombang harapan yang sekilas mengalir melalui hati Kolonel yang menua.

Selasa pagi kami temukan seekor lembu di taman. Tampak bagai sebongkah lempung dari tanah semenanjung dalam kekerasan dan kelembamannya yang meronta. Kukunya membenam ke dalam lumpur dan kepalanya merunduk. Sepanjang pagi itu orang-orang Indian berusaha mengusirnya dengan tongkat dan batu. Namun, ia tetap bertahan di sana, tak terusik di tengah taman, keras, tak tergugat, kukunya masih membenam di lumpur dan kepalanya yang besar seakan dipermalukan oleh hujan. Orang-orang Indian itu mengusiknya hingga kesabaran ayahku menyuntuk batas. “Tinggalkan saja,” katanya. “Ia akan pergi sebagaimana ia datang.”

Saat matahari tenggelam di hari Selasa, air terasa menegang dan melukai, seperti selembar kafan di atas hati. Kesejukan awal pagi mulai berubah menjadi kelembaban yang panas dan lengket. Suhu tidak panas atau dingin; suhu panas-dingin. Kaki berkeringat di dalam sepatu. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih menggeresahkan, kulit telanjang atau baju yang lekat pada kulit. Di rumah semua kegiatan sudah berhenti. Kami duduk di beranda, namun kami tak lagi memperhatikan hujan seperti pada hari pertama. Kami tak lagi merasakan hujan turun. Kami tak melihat apa pun selain sketsa pepohonan di tengah kabut, dengan sebuah mentari terbenam yang murung dan terasing yang meninggalkan di bibirmu rasa seperti ketika engkau terbangun dari sebuah mimpi tentang orang asing. Aku tahu waktu itu Selasa, dan aku ingat si kembar asuhan Santo Jerome, dua gadis buta yang datang ke rumah tiap pekan dan menyanyikan untuk kami lagu-lagu sederhana. Aku tergetar oleh kegetiran dan keagungan yang rawan dari suara mereka. Di atas hujan kudengar nyanyian kecil si kembar buta, dan aku membayangkan mereka berada di rumah, berkumpul, menunggu hujan reda hingga mereka bisa pergi dan bernyanyi. Kukira si kembar Santo Jerome tak bisa datang hari itu. Juga perempuan pengemis yang datang tiap Selasa takkan berada di beranda usai waktu tidur siang untuk meminta cabang baka jeruk balsam.

Hari itu kami kehilangan selera makan. Pada jam tidur siang ibu tiriku menghidangkan sepiring sup hambar dan sepotong roti basi. Meski sebenarnya kami belum makan sejak terbenam matahari pada hari Senin, dan kukira sejak itu kami berhenti berpikir. Kami lunglai, terbius hujan, menyerah pada amuk alam dengan sikap pasrah dan damai. Hanya lembu itu yang bergerak di sore hari. Tiba-tiba semacam suara garau menggoncang jeroannya, dan kuku-kukunya menghunjam ke lumpur dengan tenaga lebih dahsyat. Lalu ia diam berdiri selama setengah jam, seakan sudah mati, tapi tak terjerembab sebab kebiasaan untuk bertahan hidup mencegahnya, kebiasaan untuk bertahan dalam satu posisi di tengah hujan, sampai kebiasaan itu menjadi lebih lemah ketimbang berat tubuhnya. Lalu ia menggandakan tenaga pada kaki depannya (pangkal pahanya yang hitam dan berkilap masih tegak dalam upaya terakhir yang sangat menyiksa) dan moncongnya yang berliur menyungkur ke dalam lumpur. Dan akhirnya ia menyerah pada berat tubuhnya sendiri, dalam sebuah upacara maut yang sunyi, bertahap, dan bermartabat. “Ia telah berusaha sampai sejauh itu,” seseorang berucap di belakangku. Dan aku berpaling untuk melihat: di ambang pintu masuk kulihat perempuan pengemis hari Selasa telah datang menerobos badai untuk meminta cabang jeruk balsam.

Mestinya pada hari Rabu aku sudah terbiasa dengan suasana mengharu biru itu seandainya di ruang tamu tak kujumpai meja yang dipepetkan ke tembok, dengan perabotan bertumpuk di atasnya, dan pada bagian lain, di atas dinding pembendung yang dibuat sepanjang malam, teronggok kopor dan kotak perkakas rumah tangga. Pemandangan itu menghadirkan di hatiku perasaan kosong yang memiriskan. Sesuatu telah terjadi sepanjang malam itu. Rumah berantakan; orang-orang Indian Guajiro, tak berbaju dan telanjang kaki, celana digulung hingga lutut, mengangkati perabotan ke ruang makan. Pada air muka mereka, pada kerapian kerja mereka, orang dapat melihat kebengisan pemberontakan mereka yang sia-sia, dari kenistaan yang niscaya dan memalukan di tengah hujan itu. Aku bergerak tanpa tujuan, tanpa kemauan. Aku merasa bagaikan sehamparan padang rumput terpencil bersemai ganggang dan lelumutan, dengan jamur payung yang lembut, lengket, dan subur oleh tetumbuhan menjijikkan yang muncul dari kelembaban dan kegelapan. Di ruang tamu aku sedang merenungi pemandangan gurun perabotan rumah yang berantakan ketika kudengar suara ibu tiriku mengingatkanku dari kamarnya bahwa aku bisa terserang radang paru-paru. Saat itu barulah kusadari bahwa air telah naik ke mata kakiku, bahwa rumah kebanjiran, lantai tertutup tebal permukaan air pekat yang menggenang.

Rabu tengah hari, fajar belum berlalu. Dan sebelum pukul tiga sore, malam telah hadir sempurna, mendahului waktu dan kuyu, dengan kelambanan yang sama, menjemukan, diiringi irama bengis hujan di halaman. Sebentang petang yang hadir sebelum waktunya, lembut dan murung, hadir di tengah kesunyian orang-orang Guajiro, yang berjongkok di atas kursi-kursi menghadap tembok, kalah dan tak berdaya melawan amuk alam. Itulah yang terjadi saat berita mulai tiba dari luar. Tak seorang pun membawanya ke rumah ini. Tiba begitu saja, tepat, sendiri, seolah dihanyutkan oleh lempung cair yang menyusuri jalan-jalan dan menyeret segala perkakas rumah tangga bersamanya, benda-benda dan kian banyak benda, sisa-sisa dari sebuah bencana yang jauh, sampah dan bangkai binatang. Berita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Minggu, ketika hujan masih dianggap sebagai pertanda musim keberuntungan, perlu dua hari untuk sampai di rumah kami. Dan hari Rabu berita itu tiba, seakan didorong oleh tenaga inti badai itu. Kemudian terkabar bahwa gereja terlanda banjir dan diperkirakan runtuh. Seseorang yang tak berkepentingan untuk mengetahui berkata malam itu: “Kereta api tak bisa melewati jembatan sejak Senin. Tampaknya sungai itu menghanyutkan rel.” Dan terdengar berita bahwa seorang wanita yang sedang sakit hilang dari ranjangnya, dan sore harinya ditemukan terapung di halaman.

Terbelit rasa ngeri, yang muncul dari jeri dan air bah, aku duduk di kursi goyang dengan kaki terlipat dan mata terpaku pada gelap kabut yang penuh isyarat suram. Ibu tiriku muncul di ambang pintu dengan lampu diangkat tinggi dan kepala tegak. Ia tampak seperti hantu penghuni rumah yang sama sekali tak membuatku takut sebab aku pun merasa gaib seperti dirinya. Ia berjalan menghampiriku. Kepalanya masih tegak dengan lampu menggantung di udara; dan ia mencipratkan air ke beranda. “Sekarang kita harus berdoa,” katanya. Dan kuperhatikan wajahnya yang kering dan keriput, seakan baru bangkit dari kubur atau seakan ia tercipta dari zat yang berbeda dengan tubuh manusia. Ia di seberangku dengan rosario di tangannya, berkata: “Sekarang kita harus berdoa. Air bah telah membongkari kuburan dan mayat-mayat malang kini mengapung di atasnya.”

Aku mungkin baru sebentar tidur malam itu ketika hawa anyir seperti bau bangkai menyentakku bangun. Kugoncang tubuh Martin yang mendengkur di sampingku. “Tidakkah kau rasakan?” tanyaku padanya. Dan ia berucap: “Apa?” Aku berkata: “Bau itu. Pasti mayat-mayat yang mengambang di sepanjang jalan.” Aku giris dengan pikiran itu, tapi Martin hanya memalingkan muka ke dinding dan dengan suara serak setengah tidur ia berkata: “Itu cuma pikiranmu sendiri. Wanita hamil memang selalu membayangkan macam-macam.”

Pada fajar hari Kamis bau itu lenyap, pemahaman tentang jarak sirna. Pengertian tentang waktu, yang mulai kacau sejak hari sebelumnya, telah hilang sama sekali. Lalu hari Kamis itu pun raib. Apa yang mestinya adalah hari Kamis kini menjelma sesuatu yang wadag, bahan lentuk-kenyal yang dapat dipisah-pisah menggunakan tangan demi memunculkan hari Jumat. Tak ada lelaki atau perempuan di sana. Ibu tiriku, ayahku, orang-orang Indian itu adalah tubuh-tubuh gemuk dan ganjil yang bergerak di rawa-rawa musim dingin. Ayahku berkata padaku: “Jangan pergi dari sini sampai kamu diberi tahu apa yang harus dilakukan,” suaranya jauh dan samar, dan seakan bukan untuk dicerap lewat telinga tapi lewat sentuhan, satu-satunya indera yang masih bekerja.


Leaf Storm
‘Tiba-tiba, bak puyuh menerjang di tengah-tengah kota, perusahaan pisang itu tiba, dikejar oleh badai daun’
Dibasahi hujan, kota itu mulai membusuk sejak perusahaan pisang pergi. Penduduknya menjengkelkan dan dingin, sehingga saat dokter itu – orang asing yang berakhir sebagai orag paling dibenci di kota – mati, tak ada seorang pun yang menangisinya. Tapi juga hidup di sana seorang Kolonel, yang terpaksa harus melaksanakan janji yang dibuat bertahun-tahun lalu. Sang Kolonel dan keluarganya harus mengubur dokter itu, kendati harapan para warga tetangganya agar mayat dokter itu terlupakan dan dibiarkan membusuk.

Namun, ayahku tak kembali. Ia tersesat di tengah cuaca. Karenanya saat malam tiba kuminta ibu tiriku menemaniku tidur di ranjang. Aku tidur pulas dan damai, menghabiskan malam itu. Hari berikutnya suasana masih sama, tak berwarna, tak beraroma, dan tanpa panas sedikit pun. Ketika terbangun, segera saja aku melompat ke kursi dan termangu diam di sana, sebab sesuatu mengatakan padaku bahwa masih ada satu wilayah kesadaranku yang belum sepenuhnya terjaga. Lalu kudengar kereta api melengking. Lengkingan panjang dan pilu kereta api yang lolos dari badai. Kukira, di mana-mana cuaca pasti sudah cerah. Dan sekelebat suara di belakangku seperti menjawab pikiranku. “Di mana?” katanya. “Siapa di situ?” aku bertanya sembari mencari-cari. Dan kulihat ibu tiriku dengan lengannya yang kurus panjang pada arah dinding. “Ini aku,” katanya. Dan kubertanya padanya: “Apa engkau dapat mendengarnya?” Dan ia menjawab ya. Mungkin cuaca sudah cerah di daerah pinggiran dan mereka akan memperbaiki rel. Lalu ia menyodoriku sebuah baki dengan sarapan pagi yang masih mengepul. Tercium aroma saus bawang putih dan mentega yang dididihkan. Sepiring sup. Masih nanar, kutanya ibu tiriku sudah jam berapa sekarang. Dan ia, dengan tenang, suara terasa pasrah tanpa daya, berkata: “Mestinya sekitar jam dua lewat tiga puluh. Kereta api toh tidak terlambat setelah semua ini.” Aku berkata: “Dua lewat tiga puluh! Bagaimana aku bisa tidur begitu lama?” Dan katanya: “Kamu tidur belum terlalu lama. Belum lagi lewat jam tiga.” Gemetar, aku merasa piring itu tergelincir dari tanganku. “Dua lewat tiga puluh hari Jumat,” kataku. Dan ia, dengan ketenangan yang menggiriskan: “Dua lewat tiga puluh hari Kamis, nak. Masih dua lewat tiga puluh hari Kamis.”

Aku tak tahu berapa lama aku berjalan-jalan dalam keadaan tidur di mana indera kehilangan nilai. Aku hanya tahu bahwa setelah rentang waktu yang tak terukur itu, terdengar suara di kamar sebelah, berkata: “Sekarang engkau dapat menggulung kasur itu ke sebelah sini.” Sebuah suara yang lelah, tapi bukan suara orang yang sedang sakit, lebih mirip suara orang yang mulai sembuh dari sakitnya. Lalu kudengar kemericik air. Aku masih terbujur kaku sebelum kusadari bahwa aku dalam posisi mendatar. Lalu kurasakan kekosongan yang teramat langut. Kurasakan di rumah ini kesunyian yang rawan dan bengis, kediaman yang menyeramkan, yang memengaruhi segalanya. Dan tiba-tiba kurasakan hatiku berubah menjadi sekepal batu beku. Kukira aku mati. Ya Tuhan, aku mati. Aku melompat ke ranjang. Aku berteriak: “Ada! Ada!” Martin dengan suara garau menjawab dari bagian lain. “Mereka tak dapat mendengarmu. Mereka sudah di luar sekarang.” Baru kusadari kini bahwa cuaca sudah cerah dan di sekitar kami hamparan kesunyian membentang, sehampar ketenangan, kekudusan yang wingit dan dalam, sebentuk suasana yang sempurna, menyerupai kematian. Sesaat terdengar di beranda langkah-langkah kaki. Suara hentakan kaki yang nyata dan hidup. Lalu sehembus angin dingin mengayun daun pintu, gagang pintu berderit, dan sesosok tubuh padat dan besar, senampak buah yang masak, jatuh membenam ke dalam kolam di halaman. Di udara menyeruak sesosok manusia gaib yang tersenyum dalam kegelapan. Ya Tuhan, pikirku, bingung oleh kekacauan waktu. Kini aku takkan terkejut lagi jika mereka datang mengajakku pergi ke Misa Minggu yang lalu.(*)

____

*) Gabriel Garcia Marquez: adalah Penulis peraih Nobel Kesusastraan asal Kolombia. Ia meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Kamis 17 April 2014 ia telah meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Karya Marquez yang paling terkenal adalah One Hundred Years of Solitude yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia. Novel yang ditulisnya pada tahun 1967 itu sudah terjual lebih dari 30 juta buku di seluruh dunia dan meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Beberapa novel lainnya yang juga mendunia antara lain Love in the Time of Cholera, Chronicle of a Death Foretold, dan The General in His Labyrinth. Gaya bertuturnya yang hidup dengan cerita mencampurkan kenyataan serta gaib menempatkan dia menjadi pelopor aliran sastra yang disebut realisme magis. Dia tinggal di Meksiko selama 30 tahun belakangan sampai wafatnya. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, menyampaikan penghormatan kepadanya melalui Twitter. “One Hundred Years of Solitude dan kesedihan atas kematian warga agung Kolombia sepanjang masa.”

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending