Connect with us

Art & Culture

Max Perkins, Si Jenius Editor Para Jenius

mm

Published

on

“Seorang editor tidak menambah-nambahkan isi buku. Peran terbesar seorang editor adalah membantu penulis-nya. Jangan pernah merasa bahwa peran seorang editor itu teramat penting, karena apa yang kita lakukan adalah melepaskan sebuah energi. Tapi kita tetap tidak menciptakan apa-apa.” – Max Perkins

Nama-nama sastrawan seperti F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Thomas Wolfe, tentu tak asing dalam khasanah (pembaca) sastra Indonesia, itu lantaran novelnya telah banyak diterjemahkan bahkan menjadi rujukan para penulis Indonesia. Kecuali nama terakhir, Thomas Wolfe, yang masih asing. Atau banyak dari kita melihat foto novelis Ernest Hemingway pada kapal dengan ikan besar hasil burunnya—di sebelahnya ada seorang lelaki, berwajah lembut, rapid an terlihat sebagai penyabar yang empatik. Dunia hampir tak memedulikannya, tapi lelaki itu sebenarnya adalah aktor kunci, seorang genius dalam dunia penerbitan dan editor.

Hadirnya film GENIUS besutan Michael Grandage yang disusun berdasar tokoh utamanya, novelis Thomas Wolfe, sedikit banyak memberi informasi tentang penulis kompluisif ini. Tapi bukan Thomas Wolfe yang sesungguhnya menjadi pesan utama dalam film tersebut, melainkan Max Perkins. Nama itu terdengar asing bukan? Tidak banyak yang mengenal nama itu, tapi dia sesungguhnya adalah legenda sastra Amerika khususnya angkatan lost generation; nama-nama novelis beken seperti F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Thomas Wolfe, lahir dan besar di tangan dinginnya sebagai editor. Iya ini adalah cerita tentang editor genius yang menangani para penulis genius. Siapa Max Perkins? Mari sekilas berkenalan dengannya.

Melalui buku Max Perkins, Editor of Genius, memberi kita informasi yang berharga kalau tak bisa dibilang istimewa. Dalam buku yang menjadi pemenang National Book Award tersebut, penulisnya A Scott Berg menuturkan dengan gemilang sosok Max Perkins.

Maxwell Evarts Perkins mungkin tidak begitu dikenal oleh khalayak umum, demikian A. Scott Berg menulis dalam bab satu bukunya yang semula adalah tehisis kuliahnya, tetapi bagi sekian banyak individu yang bergulat di bidang penerbitan, ia tak ubahnya seorang pahlawan. Max adalah editor yang sangat handal. Di masa mudanya, ia telah memupuk sejumlah bakat-bakat baru yang berhasil menjadi figur raksasa di dunia sastra—seperti F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, dan Thomas Wolfe. Ia bahkan mempertaruhkan kariernya sendiri untuk mereka, mendobrak tembok-tembok kesusastraan yang didirikan di abad sebelumnya dan memimpin sebuah revolusi yang mengubah wujud Sastra Amerika untuk selamanya.

Namanya lekat dengan Charles Scribner’s Sons—penerbitan bergengsi di kota New York yang sekarang beroperasi di bawah bendera Simon & Schuster—karena selama 36 tahun masa kerjanya disana, tak ada editor lain yang sanggup menyamai rekor-nya dalam “menemukan” para pengarang berbakat dan mencetak karya-karya besar mereka untuk dinikmati khalayak umum.

Tugas seorang editor, sudah banyak berubah sejak dulu; tidak melulu menangani kesalahan eja dan tanda baca, melainkan menentukan apa yang harus diterbitkan, bagaimana cara menerbitkannya, dan apa yang perlu dilakukan untuk meraih jumlah pembaca terbesar.

Untuk semua kriteria di atas, Max Perkins adalah yang terbaik. Penilaiannya akan karya-karya sastra condong memiliki pendekatan orisinil dan tepat sasaran; selebihnya, Max dipuji karena kemampuannya menyemangati para penulis untuk menghasilkan karya-karya terbaik. Bagi para penulis yang ia bimbing, Max Perkins adalah seorang teman, bukan sekadar rekan kerja—dan ia akan berusaha untuk membantu mereka dalam segala hal. Misalnya, membantu menetapkan struktur pada karya tulisan, jika memang diperlukan; memikirkan judul-judul yang menarik, memberi ide-ide plot; dan mengambil peran penting sebagai seorang terapis, penasihat, manajer, dan peminjam uang.

Hanya ada segelintir editor yang rela menghabiskan banyak waktu untuk menyempurnakan naskah tulisan, tapi Max Perkins tetap memegang teguh prinsipnya: “Sebuah buku akan selalu kembali kepada penulisnya.”

Dalam beberapa hal, Max Perkins tidak mencerminkan profesi-nya sebagai seorang editor: ejaannya sering salah, caranya membubuhkan tanda baca juga tak jarang meleset dari kurikulum penggunaan tanda baca yang baik dan benar, dan dia butuh waktu lama untuk menyelesaikan satu naskah tulisan. “Seperti kerbau berjalan,” ujar Max perihal kecepatannya dalam membaca.

Walau begitu, ia memperlakukan karya sastra layaknya seorang dokter yang mempertimbangkan antara hidup dan mati seorang pasien. Suatu kali, ia menulis surat kepada Thomas Wolfe dan berkata: “Tak ada yang lebih penting di dunia ini daripada sebuah buku.”

  1. A. Scott Berg yang merupakan seorang penulis biografi dan jurnalis lulusan Princeton University yang pernah dianugerahi penghargaan Pulitzer, juga menuliskan:

Ketenaran Max sebagai seorang editor legendaris mungkin disebabkan oleh beberapa hal: a) di masanya, dia adalah editor paling ternama; b) para penulis-nya banyak yang menyandang predikat ganda sebagai selebriti; dan c) ia memiliki kepribadian eksentris—tapi hampir semua kisah-kisah seru tentang Max berakar pada kenyataan.

Banyak kisah gila tentang bagaimana Max “menemukan” F. Scott Fitzgerald; atau bagaimana istri Scott, Zelda, pernah berkendara bersama Max di dalam kendaraan milik Scott yang akhirnya terpuruk di Danau Long Island Sound; atau bagaimana Max membujuk rumah penerbitan tempatnya bekerja untuk meminjamkan uang sebesar ribuan dolar kepada Scott, dan bagaimana ia kemudian menyelamatkan si penulis dari gangguan depresi.

Kisah lain mengacu pada momen di mana Max pernah menyetujui penerbitan novel pertama karya Ernest Hemingway yang berjudul The Sun Also Rises tanpa membaca isinya terlebih dahulu, hingga ia sekali lagi harus mempertaruhkan kariernya di Charles Scribner’s Sons begitu naskah yang ditunggu tiba. Pasalnya, Ernest menggunakan bahasa kasar yang bagi perusahaan bergengsi seperti Charles Scribner’s Sons tergolong sebagai bahasa orang tak berpendidikan.

Maka tak heran bila kisah favorit tentang pertengkaran Max dengan Charles Scribner, pemilik Charles Scribner’s Sons, menyangkut penggunaan repetitif kata-kata slang empat huruf dalam novel ke-dua karya Ernest Hemingway yang berjudul A Farewell to Arms.

Menurut para saksi, Max menuliskan setiap kata yang ingin ia pertahankan—shit, fuck, piss—di kalender mejanya, tanpa mengindahkan kalimat yang tertera di atas kalender tersebut: “Things To Do Today”. Charles Scribner sempat berkomentar bahwa apabila Max perlu mengingatkan dirinya sendiri untuk melakukan ketiga hal tersebut, maka dia patut memeriksakan diri ke dokter.

Selain itu, kisah yang paling sering diasosiasikan dengan kepiawaian Max sebagai seorang editor umumnya terkait dengan hubungan editor-penulis antara dirinya dan Thomas Wolfe. Tulisan dan temperamen Thomas yang terkenal tanpa batas sudah lama menghantui dunia kesusastraan di AS.

Merujuk adegan dalam film Genius, kita bisa menyaksikan adegan bagaima Thomas menulis naskah Of Time and the River sambil bersandar di kulkas: dengan tinggi tubuh lebih dari 2 meter ia menggunakan permukaan kulkas sebagai meja, dan melempar setiap lembar kertas yang selesai ia tulis ke dalam kotak kayu tanpa dibaca ulang. Sebuah adegan unik di mana tiga orang pria berbadan besar menggotong kotak kayu berbobot berat itu ke dalam ruang kerja Max kerap diceritakan ulang oleh para saksi yang bekerja di Charles Scribner’s Sons dengan rasa takjub. Terutama karena Max berhasil mengubah tumpukkan kertas di dalam kotak itu menjadi buku-buku yang layak dibaca.

Begitulah  Max, ia begitu khas dan sederhana, semua kalangan pada zamannya bahkan sangat lekat pada sebuah topi fedora yang lusuh, yang ia pakai sepanjang hari, yang hanya ia lepas saat tidur.

Wajah Max yang lonjong menunjukkan bias warna semu merah muda, membuatnya tampak lebih lembut dari biasa. Kontur wajah Max memang sangat ke-Eropaan, dengan sudut-sudut tajam nan tegas: hidungnya mancung dengan ujung elok, seperti paruh unggas. Sementara matanya berwarna biru pastel.

Thomas Wolfe pernah menggambarkan mata Max sebagai tempat yang “sarat akan cahaya berkabut, seperti udara laut yang membumbung di kejauhan—sepasang mata milik seorang pelaut asal New England yang berlayar selama berbulan-bulan menuju Cina di atas rakit, seolah tengah meratapi seseorang atau sesuatu yang telah hilang dan tenggelam.”

Sisi lain Max adalah ia tidak pernah membuka diri untuk berbicara di depan orang banyak. Setiap tahun, ia menerima surat undangan untuk berbicara di depan umum, namun setiap tahun juga ia tolak undangan tersebut. Alasan pertama, pendengarannya sudah tidak begitu baik, maka itu ia condong menghindari kegiatan-kegiatan berkelompok. Alasan ke-dua, Max percaya bahwa peran seorang editor ada di belakang layar—apabila pihak publik merasakan kehadiran mereka, maka para pembaca akan hilang kepercayaan terhadap para penulis, yang mengakibatkan para penulis hilang kepercayaan diri. Lebih dari itu, Max tak ingin mendiskusikan kariernya—

Sesederhana Di Belakang Layar

Ia adalah seorang editor supel yang sangat populer, menerapkan prinsip ‘belakang layar’ dalam pekerjaannya, “Hal pertama yang harus kalian ingat,” katanya, tanpa secara langsung menatap para hadirin: “Seorang editor tidak menambah-nambahkan isi buku. Peran terbesar seorang editor adalah membantu penulis-nya. Jangan pernah merasa bahwa peran seorang editor itu teramat penting, karena apa yang kita lakukan adalah melepaskan sebuah energi. Tapi kita tetap tidak menciptakan apa-apa.”

Max mengakui bahwa, dalam kariernya, ia pernah mengusulkan beberapa ide buku kepada para penulis yang tak tahu hendak menulis apa saat itu. Namun karya-karya tersebut biasanya berkualitas standar, walau terkadang meraup keuntungan finansial yang signifikan dan menjadi juara di antara para kritikus.

“Karya terbaik seorang penulis,” ujar Max, “harus datang dari dirinya sendiri.”

Ia juga memperingati audiens-nya agar tidak menyelipkan sudut pandang mereka ke dalam karya seorang penulis, atau mencoba untuk mengubah si penulis menjadi sosok yang berbeda.

“Prosesnya sederhana,” lanjut Max. “Kalau kalian berhadapan dengan Mark Twain, jangan mengubah dia jadi Shakespeare, dan sebaliknya. Pada akhirnya, seorang editor hanya bisa mengeluarkan potensi seorang penulis sesuai dengan apa yang dimiliki si penulis.”

Suatu ketika Max  berada dalam sebuah forum diskusi tentang dunia buku dan penebrita, seorang bernama Kenneth memulai sesi tanya-jawab. Maka mengumaka pertanyaan pertama: “Apa rasanya bekerja dengan F. Scott Fitzgerald?”

Seutas senyum rapuh melintas di wajah Max. Ia memikirkan jawabannya untuk sesaat, lalu berkata, “Scott adalah seorang gentleman. Kadang dia butuh dukungan ekstra—dan kesabaran—namun tulisannya begitu kaya dan berwarna.” Max bercerita bahwa dibandingkan penulis lain, Scott cukup mudah ditangani dari segi pengeditan karena dia adalah seorang perfeksionis yang selalu mendorong dirinya sendiri untuk menghasilkan karya sempurna. Namun, terlepas dari itu, tambah Max, “Scott sangat sensitif terhadap kritikan. Ia bisa menerima kritikan, tapi sebagai seorang editor saya harus yakin akan setiap hal yang saya usulkan kepadanya.”

Setelah itu, diskusi beralih pada pribadi Ernest Hemingway. Max berkata bahwa di awal kariernya, Ernest membutuhkan banyak dorongan, dan lebih banyak lagi di masa-masa selanjutnya, “karena tulisan dan hidup Ernest memiliki kualitas petualangan yang sangat intens.”

Max yakin bahwa nilai yang dijunjung tinggi oleh para protagonis karya-karya Ernest tertera jelas dalam tulisannya, mencakupi tema “manusia yang berlaku mulia saat dihadapi pilihan sulit.” Tapi Ernest juga sangat rentan terhadap karyanya.

“Suatu kali, Ernest pernah mengeluh bahwa ia telah merevisi beberapa bagian dari A Farewell To Arms sebanyak 50 kali,” kata Max. “Sebelum seorang penulis menghancurkan kualitas alami dari tulisannya sendiri—itulah saat yang tepat bagi seorang editor untuk maju. Tapi tidak semenit pun sebelum itu.”

Yang terakhir, seolah menanti saat yang tepat, muncul pertanyaan tentang Alm. Thomas Wolfe, yang di penghujung ajalnya menyesali keretakan yang terjadi pada hubungannya dengan Max Perkins—moment yang juga sangat menyentuh terdapat dalam film Genius, maka sesi Tanya-jawab terkait Thomas Wolfe, seorang penulis yang notabene menguras tenaganya habis-habisan, mengemuka paling banyak dan intens.

Selama bertahun-tahun, gosip tentang hubungan Max dan Thomas diulas di berbagai media, di mana Max dituduh memiliki keterlibatan langsung dengan penulisan novel-novel Thomas Wolfe.

“Tom adalah seorang penulis dengan bakat luar biasa, bahkan jenius,” ujar Max. “Bakat seperti itu, bagaimana dia memandang negaranya sendiri, terlalu besar untuk dirangkum dalam sebuah buku atau satu masa kehidupan. Tak ada medium yang cukup besar untuk menampung semua yang hendak ia tulis.”

Saat Thomas mengolah dunianya ke dalam bentuk fiksi, Max merasa tugas utamanya sebagai seorang editor adalah untuk menciptakan batasan-batasan—baik itu dari segi panjang naskah maupun format tulisan. Max menambahkan, “Batasan-batasan tersebut adalah hal-hal praktis yang menjadi obsesi Thomas.”

“Tapi apakah dia menerima usulan Anda?” pertanyaan itu seperti kilat, dan…

Max tertawa untuk pertama kalinya malam itu. Ia mengisahkan suatu episode di mana ia mencoba untuk membujuk Thomas agar mau mencabut satu bagian besar dari naskah Of Time and the River.

“Saat itu malam musim panas,” ujarnya. “Udara sangat panas, dan waktu sudah amat larut—namun kami masih bekerja di kantor Charles Scribner’s Sons. Saya meletakkan tas saya di dekatnya, lalu saya duduk dalam kesunyian, membaca naskahnya.”

Max tahu bahwa pada akhirnya Thomas takkan keberatan menghapus bagian besar dari naskah tersebut, terutama karena alasan yang diberikan Max memang tepat. Tapi Thomas takkan menyerah segampang itu. Berlaku seperti anak kecil, Thomas menengadahkan kepalanya dan memutar kursi duduknya, matanya mengamati ruang kerja Max yang nyaris tak berperabot.

“Saya terus membaca selama kurang dari 15 menit,” lanjut Max, “dan saya sadar akan gerak-gerik Tom—sadar bahwa dia menatapi salah satu sudut ruang kerja saya dengan pandangan curiga, serius. Di sudut itu tergantung topi dan jas overcoat saya, dan di bawah topi, terselempang di pundak jas overcoat, adalah suvenir berbentuk kulit ular berbisa dengan tujuh simpul.” Suvenir itu merupakan hadiah dari Marjorie Kinnan Rawlings. Max menoleh ke arah Tom, yang masih menatapi topi, jas overcoat, dan si ular berbisa. “Aha!” seru Tom. “Sosok seorang editor!”

Setelah puas menggoda Max, Thomas setuju menghapus bagian besar dari naskahnya.

Tidak hanya cerita tentang para penulis besar ditanganinya menjadi begitu menarik, kisah Max sendiri begitu empatik. Seperti deceritakan Kenneth,  bahkan dalam menjawab pertanyan-pertanyaan, Max banyak terdiam di tengah-tengah kalimat. Ia berusaha menjawab setiap pertanyaan dengan seelegan mungkin, namun ia seolah tersedot ke dalam masa lalu yang justru menjeratnya dalam kebingungan.

“Saat itu, Max seakan hilang di dunianya sendiri,” ujar Kenneth, bertahun-tahun kemudian. “Beliau masuk ke dalam ruang pikirannya, masa lalunya, dan menutup pintunya rapat-rapat.”

Setelah peritiwa diskusi yang membuat Max untuk pertama kalinya menceritakan begitu detail tentang dirinya dan juga pekerjaanya, buku Max Perkins: Editor of Genius, mengisahkan ketika akhirnya Max pulang dan tiba di kediaman keluarga Perkins di New Canaan, Connecticut, malam telah larut. Max menemukan putri sulungnya sedang menunggu kedatangannya. Putrinya melihat kelelahan yang menggantung di tubuh Max serta rasa sedih yang mendera. Ia bertanya kepada sang ayah apa yang membuatnya begitu lesu.

“Malam ini aku datang ke sebuah acara seminar dan mereka memanggilku ‘kepala dari semua editor di Amerika Serikat’,” jelas Max. “Saat mereka mengenalimu sebagai ‘kepala’ sesuatu, itu berarti tugasmu sudah selesai.”

“Duh, Yah: aku yakin maksud mereka bukan itu,” protes putri sulungnya. “Mereka hanya bermaksud untuk mengakui Ayah sebagai editor terbaik.”

“Tidak,” kata Max, datar. “Itu artinya tugasku sudah selesai.”

Yah, Max memang sudah selesai, tapi inspirasinya hidupnya tidak. Apakah Anda menyetujinya?

(Dari berbagai sumber. Editor: SC)

Continue Reading
Advertisement

Philoshopia

Merajut Nalar Masyarakat melalui Filsafat Publik

mm

Published

on

Samuel Jonathan *)

Indonesia sedang darurat filsafat, katanya. Kemiskinan pemahaman dan radikalisme agama adalah kondisi yang menunjukkan bahwa negara ini darurat nalar. Filsafat, sebaliknya, mengajar untuk berpikir secara jernih dan menekankan dialog daripada koersi. Dengan demikian, kata Reza Watimena, filsafat adalah jalan keluar bagi semuanya itu.[1]

Tidak berlebihan apabila filsafat dianggap sebagai obat penawar bagi berbagai penyakit nalar: dogmatisme yang tidak berdasar, ikut arus pendapat mayoritas, atau takhayul – ringkasnya, dalam terminologi yang Tan Malaka gunakan, terkungkung dalam logika mistika.

Dogmatisme yang tidak berdasar menjadikan seseorang merasa paling benar, tanpa pernah memiliki niat untuk berefleksi akan kemungkinan bagi dirinya untuk pernah salah. Semata ikut arus mayoritas menjadikan seseorang serupa dengan hewan ternak yang hanya tahu soal makan dan tidur. Takhayul menjadikan seseorang pasrah akan keadaan yang ada tanpa berusaha mencari penjelasan bagaimana sesuatu bisa terjadi – untuk mencari kebenaran, memakai nalar, atau meneliti.[2]  

Filsafat membawa para pembelajarnya berbalik dari hal-hal tersebut. Mengutip Bertrand Russell di dalam The Problems of Philosophy bahwa filsafat,”… dipelajari bukan demi jawaban pasti … melainkan (ia dipelajari) demi pertanyaan itu sendiri; karena ia memperluas konsepsi kita akan yang mungkin, memperkaya imajinasi intelektual dan menyingkirkan kepastian dogmatis yang menutup pikiran dari spekulasi; namun, dari keseluruhannya … pikiran diubah dengan handal, dan menjadikannya satu dengan semesta.”[3] Belajar berfilsafat adalah belajar untuk bertanya dengan baik: itu kuncinya.

Permasalahannya adalah filsafat memiliki terminologi-terminologi teknis yang tidak mudah dipahami oleh kebanyakan orang awam yang tidak mempelajari ilmu filsafat secara formal – oleh publik. Terminologi-terminologi teknis yang ada di dalam ilmu filsafat acap kali membuat publik memiliki impresi pertama yang buruk. Kadang kelihatan terlalu besar, sehingga publik merasa kecil untuk berhadapan dengan filsafat; atau, terlalu rumit, sehingga publik khawatir tersesat di dalamnya.

Para ahli filsafat boleh ribut kalau Indonesia darurat filsafat, tetapi pertanyaannya adalah: apa yang sudah mereka kerjakan bagi publik? Apakah selama ini ada satu upaya untuk turun dari menara gading, dan bergaul bersama orang awam – mereka yang tidak belajar filsafat secara formal? Sejauh ini, rasa-rasanya, tidak banyak. Nampaknya, memang benar apa yang Marx sampaikan bahwa para filsuf terlalu sibuk untuk mendeskripsikan dunia, ketika seharusnya mereka mengubahnya.

Dibandingkan membawa publik ke dalam akademia filsafat, ada baiknya untuk mencoba mengerjakan yang sebaliknya, yaitu: membawa filsafat bagi publik.[4] Itulah yang disebut sebagai filsafat publik.

Perlu realistis bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendalami filsafat secara formal, tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak boleh mempelajari filsafat dengan cara mereka sendiri – sebuah pembelajaran filsafat yang ramah bagi publik.

Publik tidak lagi memerlukan dewa-dewi lainnya, ahli-ahli filsafat, yang berdiam di atas gunung Olimpus, di akademia, yang asyik dengan urusannya masing-masing. Publik memerlukan dewa Hermes yang tidak berdiam di Olimpus, melainkan pergi turun darinya untuk menyampaikan pesan dewa-dewi – yang tidak bisa secara langsung dimengerti manusia – dan menyampaikannya, dengan menerjemahkannya, bagi manusia.

Publik memerlukan orang-orang yang mampu memijakkan filsafat: seorang komunikator filsafat. Sains punya Richard Feynman, Neil deGrasse Tyson, Richard Dawkins, atau bahkan Ryu Hasan. Mereka menyederhanakan sains, tapi tidak membuat sains terlihat bodoh.

Sama seperti sains bagi publik, filsafat publik tentu bukan pengganti dari ilmu filsafat itu sendiri. Ilmu filsafat memiliki permasalahan, metodologi, pemecahan yang khas di dalam ilmunya, dengan terminologi yang eksklusif pula. Filsafat publik memiliki sifat yang lebih komplementer, atau bersifat pengantar bagi mereka yang bersedia, atau tertarik, untuk mencicip kedalaman dari ilmu filsafat. Ia bukan yang sesungguhnya, tetapi, mudah-mudahan, memimpin ke yang sesungguhnya.[5]

Apa yang bisa kita harapkan dari filsafat publik? Mengutip Warburton, filsafat memiliki kemampuan untuk mengubah kehidupan bagi mereka yang mempelajarinya[6] – pertama-tama secara intelek, kemudian afektual, terakhir laku hidup.

Setidak-tidaknya, ada tiga hal mendasar yang pertama mempengaruhi intelek dari publik, yaitu: kritisisme, perasaan kagum, dan keingin tahuan. Dalam pendidikan, ketiga hal tersebut adalah yang paling fundamental untuk memberikan alasan, makna, atau motivasi, bagi seseorang berkeinginan untuk belajar. Bayangkan apabila ketiga hal tersebut terbentuk fondasinya sedari masa remaja seseorang. Betapa transformasionalnya!

Meski begitu, filsafat yang ditawarkan bagi publik bukan bertujuan untuk menjadikan mereka intellectual snob. Filsafat memang soal diskursus, argumentasi, dan sebagainya, tetapi bukan semata yang itu-itu saja. Karena, dibandingkan bicara soal orang yang lain, filsafat, pertama-tama, adalah ajakan untuk menjadi reflektif terhadap diri sendiri, kehidupan yang tidak diuji (melalui refleksi) bukanlah kehidupan yang layak untuk dihidupi. Filsafat adalah sebuah usaha untuk mengenal diri sendiri, sesama, dan semesta.

Beruntung bahwa di masa pandemi ini, bermunculan komunitas-komunitas filsafat yang berbasis daring yang berusaha untuk menghadirkan filsafat bagi publik dengan cara yang khas masing-masingnya. Sebut saja @logos_id dan @schole_id di Twitter, atau @kelas.isolasi di Instagram, juga berbagai profil lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu per satu.

Bermunculannya komunitas-komunitas tersebut boleh jadi sebuah kabar baik bagi diskursus filsafat di Indonesia. Apabila dahulu orang-orang Yunani memiliki Agora atau Gimnasium untuk berdiskusi, berdebat, dan belajar, mudah-mudahan, di era ini kita bisa mengerjakan ketiganya di internet. Tantangannya adalah bagaimana filsafat boleh dihadirkan bagi publik tanpa ada distorsi makna, atau membuatnya terlalu dangkal; sekaligus menghindarkannya dari teminologi teknis yang menghalangi kebanyakan orang untuk mempelajari filsafat. Filsafat publik harus berjalan di garis tipis yang memisahkan antara yang pertama dan yang kedua, untuk selalu berjalan dengan seimbang.

*) Samuel Jonathan, S.Hum. seorang pendidik dan penggiat filsafat yang berusaha menyajikan filsafat yang lebih mudah diakses oleh publik. Menyelesaikan pendidikan sarjananya di departemen filsafat Universitas Indonesia. Selain sibuk untuk bekerja sebagai tutor sejarah dari perusahan rintisan Zenius Education, juga merupakan inisator dari komunitas filsafat berbasis daring Schole Indonesia.


[1] Reza Wattimena, Indonesia darurat Filsafat, 2018, diambil 16 Agustus 2020 dari https://rumahfilsafat.com/2018/08/27/indonesia-darurat-filsafat/

[2] Franz Magnis-Suseno, Dalam Bayang-bayang Lenin, PT Gramedia, Jakarta, 2016, hlm. 213.

[3] Bertrand Russell, The Problems of Philosophy, Oxford University Press, UK, 2001, Hlm. 93-94.

[4] Gary Gutting, What Philosophy Can Do, W. W Norton & Company, New York, 2015, hlm. xii.

[5] Julian Baggini, New British Philosophy: The Interviews, Taylor & Francis, UK, hlm. 280

[6] Ibid., hlm. 282

Continue Reading

Art & Culture

Soekanto SA: Mengarus di Sastra Anak (Indonesia)

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih

“Cerita anak-anak lebih subtil dan esensial. Pantangan-pantangan dalam cerita anak-anak memaksa seorang pengarang untuk lebih kreatif. Hasil pencarian, eksplorasi hidup bisa disampaikan lebih tersaring. Di sinilah pesonanya!” inilah jawaban Soekanto SA ketika Agus Dermawan T. menyinggung pilihan berlabuh di dermaga cerita anak (Kompas, 16 Desember 1979). Berpindah dari Tegal ke Jakarta pada 1949, Pak Kanto kepincut sastra. Saat itu, ia mondok di rumah guru bahasa, Soeparto Dirdjowinoto, yang berlangganan majalah sastra Mimbar Indonesia. Di majalah ini, cerpen pertama dimuat. Pak Kanto mulai bergaul dengan para sastrawan-seniman, seperti Ajip Rodisi, Ramadhan KH, Trisnoyuwono. Pak Kanto juga menulis cerita untuk harian Pikiran Rakyat, majalah Kisah dan Siasat serta ngantor di Penerbit Indrapress dan Gaya Favorit.   

Soekanto SA

Usai 90 tahun nan panjang, Soekanto SA (18 Desember 1930-8 Juni 2020) berpulang. Pak Kanto memang lebih karib sebagai penulis cerita anak, pendongeng, pemikir kepustakaan anak-remaja. Terutama sejak 70-an, namanya tidak asing meriuhkan pertemuan mendongeng untuk anak-anak, kelas diskusi-penulisan cerita anak, seminar sastra anak, sampai forum perbukuan anak bersifat nasional dan internasional. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Pamusuk Eneste, ed., 1983) mencatat bahwa lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini pernah menjadi redaktur majalah Arus (1954) dan redaktur harian Jakarta Post (1995).

Disebutkan buku-buku garapan Pak Kanto, di antaranya Bulan Merah (1954-mengalami cetak ulang kedua pada 1964), Orang-orang Tercinta (1971), Sahabat dan Kembang (1971), Jayamada (1971, digarap bersama Toha Mochtar), Anak-anak Malam (1973). Tidak disinggung kontribusi di Femina (editor buku anak dan remaja penerbitan Femina Group), dan terkhusus majalah anak Si Kuncung (1956) didirikan Soedjati SA, sosok yang juga mengajurkan Pak Kanto bertungkus lumus di bacaan anak.    

Di tahun 70-an, menguat perbincangan identitas bacaan anak Indonesia bertaut dengan penulis cerita anak “dalam negeri”. Indonesia tidak saja mengalami masalah kemandirian dan politik impor pangan, tapi juga impor bacaan. Di majalah dua mingguan Mutiara, edisi 1-14 Juni 1988, pernah memuat liputan panjang tentang asupan bacaan bagi anak-anak Indonesia. Asupan rohani berwujud buku digelisahkan. Indonesia lebih didominasi bacaan impor (terjemahan). Anak-anak Indonesia masa itu lebih karib dengan serial Lima Sekawan, Tin Tin, Oshin, Asterix, Donald Bebek. Kepala Bidang Penerbitan Balai Pustaka saat itu, Sudibyo Z. Hadisutjipto, mengatakan masalahnya bukan krisis naskah masuk, tapi mutu cerita. Penulis seperti mengalami kegersangan ide karena cerita berkisar di kedurhakaan anak, gembala, atau dramatisasi kemiskinan.

Buku-buku garapan Pak Kanto, di antaranya Bulan Merah (1954-mengalami cetak ulang kedua pada 1964), Orang-orang Tercinta (1971), Sahabat dan Kembang (1971), Jayamada (1971, digarap bersama Toha Mochtar), Anak-anak Malam (1973). Tidak disinggung kontribusi di Femina (editor buku anak dan remaja penerbitan Femina Group)

Pak Kanto urun tulisan berjudul “Lintas Sejarah Bacaan Anak-anak”. Setiap tahun, lahir buku-buku dianggap sebagai “karya-karya asli”. Misal di akhir 40-an, makin bergaung nama Aman Dt. Majoindo pengarang cerita klasik Si Doel Anak Betawi. Ada juga Duapuluh Dongeng Anak-anak garapan Zuber Usman, atau Dari Anak untuk Anak garapan Ibu Munah. Selain berpredikat asli, cerita sanggup menggembirakan hati dan imajinasi anak-anak. Pak Kanto juga menandai upaya-upaya intelektual sekalipun birokratis untuk menyokong bacaan dan anak. Pada tahun 1973 di Bogor misalnya, diadakan “Makan Siang Bersama Presiden” sekaligus sebagai ajang menghimpun dana bagi Yayasan Buku Utama untuk menobatkan buku-buku fiksi dan nonfiksi terbaik. Buku-buku anak turut ditimbang sejak 1981.  

Pesta dan Gila Buku

Yang sangat seru sekalipun masih memusat di Jakarta, Indonesia pernah menghelat “Pesta Buku Anak-anak dan Remaja” I dan II (1984 dan 1985). Seperti dipercayai anak-anak bahwa buku itu membahagiakan, Pak Kanto mengatakan bahwa buku “memberikan kenikmatan kepada anak-anak dan bukan sebaliknya, membuat anak-anak lari darinya karena jemu.” Setidaknya pada 1993 dan 1994, anak-anak masih memiliki perayaan bacaan bernama “Pesta Buku Anak ’93” dan Pesta Buku Anak ‘94” yang melibatkan pelbagai penerbit; Gaya Favorit Press, Djambatan, Balai Pustaka, Indira, BPK Gunung Mulia, dan lainnya.

Kita bisa menyepakati jika laporan khusus bacaan anak di Prisma (Mursidi Musa, M. Ahmad Soemawisastra, dan Edward S. Simandjuntak, Mei 1987) menyebut anak-anak Indonesia mengalami “sakit gila baca”. Meski bukan indikator satu-satunya, kegilaan tampak dari serbuan anak sekolah dasar ke pameran buku yang dihelat Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Gunung Agung, toko buku berjaya di masa itu bahkan hampir mirip perpustakaan atau tempat penitipan anak saking lama dan sering pembaca belia singgah. Inilah peristiwa di masa-masa kejayaan asupan bacaan cetak sebelum globalisasi memasukkan televisi ke rumah ruang keluarga atau mukjizat internet lebih dikagumi daripada ilustrasi-ilustrasi apik sampul majalah Kawanku.

Namun, laporan khusus sekaligus membabarkan dampak aliran dana Inpres sejak 1973 yang membuat ribuan eksemplar buku dibeli dan disebar ke sekolah se-Indonesia. Penerbit yang awalnya emoh menerbitkan buku bacaan anak karena takut merugi, berbalik berburu naskah. Memang muncul penulis-penulis baru dengan jaminan finansial, tapi mutu terkadang tidak berbarengan dengan naskah-naskah yang digarap serba cepat dan banyak. Di luar sokongan pemerintah, penerbitan bacaan anak masih membawa beban sampingan sampai hari ini seperti pernah diungkap Pak Kanto; royalti, idealisme penulis dan penerbit, dan kualitas.

Kebijakan pemerintah dan politik perbukuan memang terlihat menonjol saat buku masuk masalah nasional. Perubahan kebijakan berdampak besar, tapi upaya-upaya “bawah” lebih menjanjikan dampak seismik. Inilah yang diingat dan dibagi Pak Kanto usai melakukan pelawatan ke Tokyo, Jepang, memenuhi undangan Asian Culture Centre for Unesco bersama Perhimpunan Penerbit Buku Jepang dalam acara “The Elevent Training Course/ Seminar on Book Production in Asia” pada 7 September-7 Oktober 1978 (Kompas, 27 November 1978). Asupan buku untuk anak di Jepang, salah satunya ditekuni oleh ibu-ibu yang merintis Katei Bunko atau rumah pustaka setingkat RT tanpa sponsor pemerintah. Katei Bunko tidak hanya menyediakan buku bacaan. Setiap bulan, diundang para ahli membuat pertimbangan dan saran tentang buku-buku. Hasilnya akan disebar lewat siaran pers. Katalog atau brosur buku anak juga diterbitkan untuk pegangan para ibu. Hal ini dilengkapi dengan tindakan 20 menit ibu dan anak membaca buku tanpa penjadwalan khusus. Serunya, ada majalah bulanan Japan Children Book Publishers yang mengabarkan buku-buku terbit bulan depan. Tentu ditegaskan Pak Kanto, Jepang adalah negeri yang bersemangat menerjemahkan dan menerbitkan buku.       

Jika ditimbang di Indonesia, potensi PKK bertahan sampai hari ini bisa saja menyejahterakan asupan buku anak. Tapi, sepuluh program pokok belum menyasar bacaan anak dan keluarga dengan tepat. Lalu, apa kabar “Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita untuk Anak?” Gerakan tidak menimbulkan dampak seismik karena diserukan dari “atas” sebagai program. Kita justru lebih bersemangat menyaksikan gairah mengantarkan buku ke setiap pelosok Indonesia oleh ibu, bapak, mas, dan mbak dengan gerobak, bronjong, kuda, perahu, bahkan noken. Mengantarkan buku berarti mengantarkan harapan dan kegembiraan kepada anak-anak.

Penulis sekaligus pernah wartawan Kompas, Maria Hartiningsih, dalam pengantar penerbitan ulang kumpulan cerita anak Pak Kanto berjudul Orang-orang Tercinta (Kompas, 2006) mengatakan bahwa Pak Kanto “tinggal dalam kenangan banyak anak yang sekarang sudah menjadi orang tua.” Suatu hari di kantor Si Kuncung, kedatangan anak bernama Gustini. Ia bertemu Pak Kanto sekaligus menghibur diri karena ikan-ikan peliharaannya megap-megap karena akuarium kena tendangan bola adik. Kedatangan Gustini membuat Pak Kanto menulis serial Hari-hari Bersama Gustini. Pertemuan pembaca kecil dengan Pak Kanto ini pasti istimewa. Bukan dari hal-hal muluk atau menggurui, Pak Kanto mencipta cerita-cerita hangat bagi jiwa anak-anak.

Saya membayangkan salah satu peristiwa di Lantai III Aldiron Plaza Blok M pada Sabtu sore, 20 Mei 1980 (Kompas, 20 Mei 1980). Para bocah berebut duduk paling depan menantikan Pak Kanto mendongeng dalam rangkaian acara pameran buku. Suara dan cerita itulah semesta yang dipanggil setiap anak di dalam kepala dan pendar matanya. Tidak boleh ada satu kata pun berkelit. Tiga tahun kemudian, bukan dari representasi pahlawan super, selebritas, tokoh militer, atau penguasaha sukses anak-anak memilih sosok lekat di tepian biografinya. Mereka menahbiskan Pak Kanto sebagai sang “Tokoh Favorit di Mata Anak-anak.”

Selamat jalan, Pak Kanto! Terima kasih untuk cerita-cerita bersahaja nan lembut..     

*) Esais dan penulis Kitab Cerita (2019)

Continue Reading

Art & Culture

Apa Yang Kreatif?—Melawan Suara-Suara Penyederhanaan

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth *)

Siapa orang kreatif atau mari bertanya lebih dulu apa (orang) yang kreatif itu? Apa bahaya-bahayanya untuk menjadi “siapa” sementara ruang reflektif meminta menuntaskan maksud dan tujuan dari “apa” penulis atau pribadi kreatif itu sendiri?

Orhan Pamuk dalam pidato untuk penerimaan hadiah nobel sastra yang diterimanya mengisahkan sosok ayahnya; sebagai pribadi yang menyendiri di dalam kamar, dengan buku-buku dan menulis. Merenungkan dunia dan, terus bertanya lalu apa? Tetapi pertanyaan itu hanya menghasilkan ruang lebih luas dan kemampuan menyendiri lebih jauh lagi—dan tidak selalu berarti keberuntungan—untuk katakan menjadi penulis atau pribadi kreatif yang berhasil. Camus menuliskan:

“Menurut Saya, pengarang adalah orang yang tekun, selama bertahun-tahun, berupaya menemukan ‘diri’ yang kedua, sekaligus memahami dunia pembentuk dirinya yang aktual. [o]rang yang mengurung diri di kamar, duduk di depan meja, menyendiri, merenung, dan di antara bayang-bayang, membangun dunia baru dengan kata-kata. [s]etelah sekian lama, mungkin ia akan bangkit dari duduknya, melongok keluar jendela untuk menyaksikan anak-anak bermain di jalanan serta pepohonan dan sepotong pemandangan, atau mungkin malah menatap dinding hitam. Ia mungkin telah mengarang puisi, naskah drama, atau seperti Saya, menulis novel. Semua itu terjadi usai ia melakukan kerja amat penting: duduk di depan meja dan menyelami batin. “

Mary Oliver, penyair perempuan yang dikasihi publik, memastikan bahwa dunia kreatif dihuni mereka yang memiliki kebernaian dan komitmen menuruti laku aliran batinnya, suatu panggilan jiwa yang berlaku sebagaimana kesetiaan air pada gaya gravitasi. Seseorang yang berjalan dengan susah payah melalui hutan belantara ciptaan, “mereka yang tidak mengetahui hal ini – yang tidak ‘menelan’ ini – akan hilang.”

Itulah yang dibutuhkan untuk menyelam dalam dunia kreatif dan mengambil dari dalamnya mutiara.

Maka seperti Pamuk, Oliver mengandaikan bahwa bagaimana pun [b] idang kreatif butuh kesendirian. Bidang kreatif membutuhkan konsentrasi tanpa interupsi. Itu membutuhkan seluruh langit untuk dituju, dan tak ada sorot mata melihat hingga sampai pada kepastian yang diinginkannya. Privasi. Sebuah tempat yang terpisah—untuk melangkah, untuk mengunyah pensil, untuk mencoret-coret dan menghapus kemudian mencoret-coret kembali. Tetapi sama seringnya, jika tidak lebih sering, interupsi tidak datang dari orang lain namun dari diri sendiri, atau diri lain di dalam diri.”

Suatu gagasan dari Keats tentang “kemampuan negatif,” Dani Shapiro mendesak bahwa seorang seniman, seorang pribadi kreatif, tak terhindarkan “untuk merangkul ketidakpastian, untuk diasah dan dikikir olehnya,”—untuk petualangannya yang tidak diketahui.

Pada kenyataannya, pekerjaan kreatif itu adalah bagian dari petualangan itu sendiri. Dan tidak ada seniman yang dapat mengerjakan pekerjaan ini, atau ingin melakukannya, dengan energi dan konsentrasi yang tidak utuh.

Halanya seperti laku kesendirian. Itu lebih seperti pengambil resiko (risk-taker) daripada pengambil tiket (ticket-taker). Bukannya itu akan mengecilkan arti sebuah kenyamanan, sosialitas, atau menetapkan rutinitas dunia, namun perhatiannya lebih mengarahkan ke tempat lain. Perhatiannya ada pada batas, dan pembuatan bentuk dari ketidakberwujudan yang melebihi batas.

Seperti pepatah Turki yang menjadi kredo menulis Pamuk, mereka para pribadi kreatif, para seniman dan penulis, dalam kesendirian dan kesunyiannya “menggali sumur dengan jarum”—maka tentu saja itu membutuhkan nyaris seluruhnya, dan lagi pula, tak selalu berhasil. Tetapi itu tetap tak mematahkan hidup yang memberinya perasaan berarti, untuk mengambil risiko dan memenuhi panggilan jiwa.

Panggilan jiwa yang memastikan mereka memahami, sebagaimana narasi Sontag yang menggugah, pekerjaan pertama para penulis atau bidang kreatif lainnya, adalah “untuk melawan suara-suara penyederhanaan.”

Dalam seni menulis khsusnya, Sontag menekankan bahwa; tugas penulis adalah mempersulit orang untuk memercayai para perampok batin. Tugas penulis adalah membuat kita melihat dunia apa adanya, penuh dengan berbagai klaim dan bagian, serta pengalaman. (*)

*) Sabiq Carebesth—Editor in Chief Galeri Buku Jakarta—Catatan ini adalah pengantar redaksi untuk Majalah “Book Coffee and More” yang akan dirilis perdana oleh Galeri Buku Jakarta pada Agustus 2020.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending