Connect with us

Art & Culture

Max Perkins, Si Jenius Editor Para Jenius

mm

Published

on

“Seorang editor tidak menambah-nambahkan isi buku. Peran terbesar seorang editor adalah membantu penulis-nya. Jangan pernah merasa bahwa peran seorang editor itu teramat penting, karena apa yang kita lakukan adalah melepaskan sebuah energi. Tapi kita tetap tidak menciptakan apa-apa.” – Max Perkins

Nama-nama sastrawan seperti F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Thomas Wolfe, tentu tak asing dalam khasanah (pembaca) sastra Indonesia, itu lantaran novelnya telah banyak diterjemahkan bahkan menjadi rujukan para penulis Indonesia. Kecuali nama terakhir, Thomas Wolfe, yang masih asing. Atau banyak dari kita melihat foto novelis Ernest Hemingway pada kapal dengan ikan besar hasil burunnya—di sebelahnya ada seorang lelaki, berwajah lembut, rapid an terlihat sebagai penyabar yang empatik. Dunia hampir tak memedulikannya, tapi lelaki itu sebenarnya adalah aktor kunci, seorang genius dalam dunia penerbitan dan editor.

Hadirnya film GENIUS besutan Michael Grandage yang disusun berdasar tokoh utamanya, novelis Thomas Wolfe, sedikit banyak memberi informasi tentang penulis kompluisif ini. Tapi bukan Thomas Wolfe yang sesungguhnya menjadi pesan utama dalam film tersebut, melainkan Max Perkins. Nama itu terdengar asing bukan? Tidak banyak yang mengenal nama itu, tapi dia sesungguhnya adalah legenda sastra Amerika khususnya angkatan lost generation; nama-nama novelis beken seperti F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Thomas Wolfe, lahir dan besar di tangan dinginnya sebagai editor. Iya ini adalah cerita tentang editor genius yang menangani para penulis genius. Siapa Max Perkins? Mari sekilas berkenalan dengannya.

Melalui buku Max Perkins, Editor of Genius, memberi kita informasi yang berharga kalau tak bisa dibilang istimewa. Dalam buku yang menjadi pemenang National Book Award tersebut, penulisnya A Scott Berg menuturkan dengan gemilang sosok Max Perkins.

Maxwell Evarts Perkins mungkin tidak begitu dikenal oleh khalayak umum, demikian A. Scott Berg menulis dalam bab satu bukunya yang semula adalah tehisis kuliahnya, tetapi bagi sekian banyak individu yang bergulat di bidang penerbitan, ia tak ubahnya seorang pahlawan. Max adalah editor yang sangat handal. Di masa mudanya, ia telah memupuk sejumlah bakat-bakat baru yang berhasil menjadi figur raksasa di dunia sastra—seperti F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, dan Thomas Wolfe. Ia bahkan mempertaruhkan kariernya sendiri untuk mereka, mendobrak tembok-tembok kesusastraan yang didirikan di abad sebelumnya dan memimpin sebuah revolusi yang mengubah wujud Sastra Amerika untuk selamanya.

Namanya lekat dengan Charles Scribner’s Sons—penerbitan bergengsi di kota New York yang sekarang beroperasi di bawah bendera Simon & Schuster—karena selama 36 tahun masa kerjanya disana, tak ada editor lain yang sanggup menyamai rekor-nya dalam “menemukan” para pengarang berbakat dan mencetak karya-karya besar mereka untuk dinikmati khalayak umum.

Tugas seorang editor, sudah banyak berubah sejak dulu; tidak melulu menangani kesalahan eja dan tanda baca, melainkan menentukan apa yang harus diterbitkan, bagaimana cara menerbitkannya, dan apa yang perlu dilakukan untuk meraih jumlah pembaca terbesar.

Untuk semua kriteria di atas, Max Perkins adalah yang terbaik. Penilaiannya akan karya-karya sastra condong memiliki pendekatan orisinil dan tepat sasaran; selebihnya, Max dipuji karena kemampuannya menyemangati para penulis untuk menghasilkan karya-karya terbaik. Bagi para penulis yang ia bimbing, Max Perkins adalah seorang teman, bukan sekadar rekan kerja—dan ia akan berusaha untuk membantu mereka dalam segala hal. Misalnya, membantu menetapkan struktur pada karya tulisan, jika memang diperlukan; memikirkan judul-judul yang menarik, memberi ide-ide plot; dan mengambil peran penting sebagai seorang terapis, penasihat, manajer, dan peminjam uang.

Hanya ada segelintir editor yang rela menghabiskan banyak waktu untuk menyempurnakan naskah tulisan, tapi Max Perkins tetap memegang teguh prinsipnya: “Sebuah buku akan selalu kembali kepada penulisnya.”

Dalam beberapa hal, Max Perkins tidak mencerminkan profesi-nya sebagai seorang editor: ejaannya sering salah, caranya membubuhkan tanda baca juga tak jarang meleset dari kurikulum penggunaan tanda baca yang baik dan benar, dan dia butuh waktu lama untuk menyelesaikan satu naskah tulisan. “Seperti kerbau berjalan,” ujar Max perihal kecepatannya dalam membaca.

Walau begitu, ia memperlakukan karya sastra layaknya seorang dokter yang mempertimbangkan antara hidup dan mati seorang pasien. Suatu kali, ia menulis surat kepada Thomas Wolfe dan berkata: “Tak ada yang lebih penting di dunia ini daripada sebuah buku.”

  1. A. Scott Berg yang merupakan seorang penulis biografi dan jurnalis lulusan Princeton University yang pernah dianugerahi penghargaan Pulitzer, juga menuliskan:

Ketenaran Max sebagai seorang editor legendaris mungkin disebabkan oleh beberapa hal: a) di masanya, dia adalah editor paling ternama; b) para penulis-nya banyak yang menyandang predikat ganda sebagai selebriti; dan c) ia memiliki kepribadian eksentris—tapi hampir semua kisah-kisah seru tentang Max berakar pada kenyataan.

Banyak kisah gila tentang bagaimana Max “menemukan” F. Scott Fitzgerald; atau bagaimana istri Scott, Zelda, pernah berkendara bersama Max di dalam kendaraan milik Scott yang akhirnya terpuruk di Danau Long Island Sound; atau bagaimana Max membujuk rumah penerbitan tempatnya bekerja untuk meminjamkan uang sebesar ribuan dolar kepada Scott, dan bagaimana ia kemudian menyelamatkan si penulis dari gangguan depresi.

Kisah lain mengacu pada momen di mana Max pernah menyetujui penerbitan novel pertama karya Ernest Hemingway yang berjudul The Sun Also Rises tanpa membaca isinya terlebih dahulu, hingga ia sekali lagi harus mempertaruhkan kariernya di Charles Scribner’s Sons begitu naskah yang ditunggu tiba. Pasalnya, Ernest menggunakan bahasa kasar yang bagi perusahaan bergengsi seperti Charles Scribner’s Sons tergolong sebagai bahasa orang tak berpendidikan.

Maka tak heran bila kisah favorit tentang pertengkaran Max dengan Charles Scribner, pemilik Charles Scribner’s Sons, menyangkut penggunaan repetitif kata-kata slang empat huruf dalam novel ke-dua karya Ernest Hemingway yang berjudul A Farewell to Arms.

Menurut para saksi, Max menuliskan setiap kata yang ingin ia pertahankan—shit, fuck, piss—di kalender mejanya, tanpa mengindahkan kalimat yang tertera di atas kalender tersebut: “Things To Do Today”. Charles Scribner sempat berkomentar bahwa apabila Max perlu mengingatkan dirinya sendiri untuk melakukan ketiga hal tersebut, maka dia patut memeriksakan diri ke dokter.

Selain itu, kisah yang paling sering diasosiasikan dengan kepiawaian Max sebagai seorang editor umumnya terkait dengan hubungan editor-penulis antara dirinya dan Thomas Wolfe. Tulisan dan temperamen Thomas yang terkenal tanpa batas sudah lama menghantui dunia kesusastraan di AS.

Merujuk adegan dalam film Genius, kita bisa menyaksikan adegan bagaima Thomas menulis naskah Of Time and the River sambil bersandar di kulkas: dengan tinggi tubuh lebih dari 2 meter ia menggunakan permukaan kulkas sebagai meja, dan melempar setiap lembar kertas yang selesai ia tulis ke dalam kotak kayu tanpa dibaca ulang. Sebuah adegan unik di mana tiga orang pria berbadan besar menggotong kotak kayu berbobot berat itu ke dalam ruang kerja Max kerap diceritakan ulang oleh para saksi yang bekerja di Charles Scribner’s Sons dengan rasa takjub. Terutama karena Max berhasil mengubah tumpukkan kertas di dalam kotak itu menjadi buku-buku yang layak dibaca.

Begitulah  Max, ia begitu khas dan sederhana, semua kalangan pada zamannya bahkan sangat lekat pada sebuah topi fedora yang lusuh, yang ia pakai sepanjang hari, yang hanya ia lepas saat tidur.

Wajah Max yang lonjong menunjukkan bias warna semu merah muda, membuatnya tampak lebih lembut dari biasa. Kontur wajah Max memang sangat ke-Eropaan, dengan sudut-sudut tajam nan tegas: hidungnya mancung dengan ujung elok, seperti paruh unggas. Sementara matanya berwarna biru pastel.

Thomas Wolfe pernah menggambarkan mata Max sebagai tempat yang “sarat akan cahaya berkabut, seperti udara laut yang membumbung di kejauhan—sepasang mata milik seorang pelaut asal New England yang berlayar selama berbulan-bulan menuju Cina di atas rakit, seolah tengah meratapi seseorang atau sesuatu yang telah hilang dan tenggelam.”

Sisi lain Max adalah ia tidak pernah membuka diri untuk berbicara di depan orang banyak. Setiap tahun, ia menerima surat undangan untuk berbicara di depan umum, namun setiap tahun juga ia tolak undangan tersebut. Alasan pertama, pendengarannya sudah tidak begitu baik, maka itu ia condong menghindari kegiatan-kegiatan berkelompok. Alasan ke-dua, Max percaya bahwa peran seorang editor ada di belakang layar—apabila pihak publik merasakan kehadiran mereka, maka para pembaca akan hilang kepercayaan terhadap para penulis, yang mengakibatkan para penulis hilang kepercayaan diri. Lebih dari itu, Max tak ingin mendiskusikan kariernya—

Sesederhana Di Belakang Layar

Ia adalah seorang editor supel yang sangat populer, menerapkan prinsip ‘belakang layar’ dalam pekerjaannya, “Hal pertama yang harus kalian ingat,” katanya, tanpa secara langsung menatap para hadirin: “Seorang editor tidak menambah-nambahkan isi buku. Peran terbesar seorang editor adalah membantu penulis-nya. Jangan pernah merasa bahwa peran seorang editor itu teramat penting, karena apa yang kita lakukan adalah melepaskan sebuah energi. Tapi kita tetap tidak menciptakan apa-apa.”

Max mengakui bahwa, dalam kariernya, ia pernah mengusulkan beberapa ide buku kepada para penulis yang tak tahu hendak menulis apa saat itu. Namun karya-karya tersebut biasanya berkualitas standar, walau terkadang meraup keuntungan finansial yang signifikan dan menjadi juara di antara para kritikus.

“Karya terbaik seorang penulis,” ujar Max, “harus datang dari dirinya sendiri.”

Ia juga memperingati audiens-nya agar tidak menyelipkan sudut pandang mereka ke dalam karya seorang penulis, atau mencoba untuk mengubah si penulis menjadi sosok yang berbeda.

“Prosesnya sederhana,” lanjut Max. “Kalau kalian berhadapan dengan Mark Twain, jangan mengubah dia jadi Shakespeare, dan sebaliknya. Pada akhirnya, seorang editor hanya bisa mengeluarkan potensi seorang penulis sesuai dengan apa yang dimiliki si penulis.”

Suatu ketika Max  berada dalam sebuah forum diskusi tentang dunia buku dan penebrita, seorang bernama Kenneth memulai sesi tanya-jawab. Maka mengumaka pertanyaan pertama: “Apa rasanya bekerja dengan F. Scott Fitzgerald?”

Seutas senyum rapuh melintas di wajah Max. Ia memikirkan jawabannya untuk sesaat, lalu berkata, “Scott adalah seorang gentleman. Kadang dia butuh dukungan ekstra—dan kesabaran—namun tulisannya begitu kaya dan berwarna.” Max bercerita bahwa dibandingkan penulis lain, Scott cukup mudah ditangani dari segi pengeditan karena dia adalah seorang perfeksionis yang selalu mendorong dirinya sendiri untuk menghasilkan karya sempurna. Namun, terlepas dari itu, tambah Max, “Scott sangat sensitif terhadap kritikan. Ia bisa menerima kritikan, tapi sebagai seorang editor saya harus yakin akan setiap hal yang saya usulkan kepadanya.”

Setelah itu, diskusi beralih pada pribadi Ernest Hemingway. Max berkata bahwa di awal kariernya, Ernest membutuhkan banyak dorongan, dan lebih banyak lagi di masa-masa selanjutnya, “karena tulisan dan hidup Ernest memiliki kualitas petualangan yang sangat intens.”

Max yakin bahwa nilai yang dijunjung tinggi oleh para protagonis karya-karya Ernest tertera jelas dalam tulisannya, mencakupi tema “manusia yang berlaku mulia saat dihadapi pilihan sulit.” Tapi Ernest juga sangat rentan terhadap karyanya.

“Suatu kali, Ernest pernah mengeluh bahwa ia telah merevisi beberapa bagian dari A Farewell To Arms sebanyak 50 kali,” kata Max. “Sebelum seorang penulis menghancurkan kualitas alami dari tulisannya sendiri—itulah saat yang tepat bagi seorang editor untuk maju. Tapi tidak semenit pun sebelum itu.”

Yang terakhir, seolah menanti saat yang tepat, muncul pertanyaan tentang Alm. Thomas Wolfe, yang di penghujung ajalnya menyesali keretakan yang terjadi pada hubungannya dengan Max Perkins—moment yang juga sangat menyentuh terdapat dalam film Genius, maka sesi Tanya-jawab terkait Thomas Wolfe, seorang penulis yang notabene menguras tenaganya habis-habisan, mengemuka paling banyak dan intens.

Selama bertahun-tahun, gosip tentang hubungan Max dan Thomas diulas di berbagai media, di mana Max dituduh memiliki keterlibatan langsung dengan penulisan novel-novel Thomas Wolfe.

“Tom adalah seorang penulis dengan bakat luar biasa, bahkan jenius,” ujar Max. “Bakat seperti itu, bagaimana dia memandang negaranya sendiri, terlalu besar untuk dirangkum dalam sebuah buku atau satu masa kehidupan. Tak ada medium yang cukup besar untuk menampung semua yang hendak ia tulis.”

Saat Thomas mengolah dunianya ke dalam bentuk fiksi, Max merasa tugas utamanya sebagai seorang editor adalah untuk menciptakan batasan-batasan—baik itu dari segi panjang naskah maupun format tulisan. Max menambahkan, “Batasan-batasan tersebut adalah hal-hal praktis yang menjadi obsesi Thomas.”

“Tapi apakah dia menerima usulan Anda?” pertanyaan itu seperti kilat, dan…

Max tertawa untuk pertama kalinya malam itu. Ia mengisahkan suatu episode di mana ia mencoba untuk membujuk Thomas agar mau mencabut satu bagian besar dari naskah Of Time and the River.

“Saat itu malam musim panas,” ujarnya. “Udara sangat panas, dan waktu sudah amat larut—namun kami masih bekerja di kantor Charles Scribner’s Sons. Saya meletakkan tas saya di dekatnya, lalu saya duduk dalam kesunyian, membaca naskahnya.”

Max tahu bahwa pada akhirnya Thomas takkan keberatan menghapus bagian besar dari naskah tersebut, terutama karena alasan yang diberikan Max memang tepat. Tapi Thomas takkan menyerah segampang itu. Berlaku seperti anak kecil, Thomas menengadahkan kepalanya dan memutar kursi duduknya, matanya mengamati ruang kerja Max yang nyaris tak berperabot.

“Saya terus membaca selama kurang dari 15 menit,” lanjut Max, “dan saya sadar akan gerak-gerik Tom—sadar bahwa dia menatapi salah satu sudut ruang kerja saya dengan pandangan curiga, serius. Di sudut itu tergantung topi dan jas overcoat saya, dan di bawah topi, terselempang di pundak jas overcoat, adalah suvenir berbentuk kulit ular berbisa dengan tujuh simpul.” Suvenir itu merupakan hadiah dari Marjorie Kinnan Rawlings. Max menoleh ke arah Tom, yang masih menatapi topi, jas overcoat, dan si ular berbisa. “Aha!” seru Tom. “Sosok seorang editor!”

Setelah puas menggoda Max, Thomas setuju menghapus bagian besar dari naskahnya.

Tidak hanya cerita tentang para penulis besar ditanganinya menjadi begitu menarik, kisah Max sendiri begitu empatik. Seperti deceritakan Kenneth,  bahkan dalam menjawab pertanyan-pertanyaan, Max banyak terdiam di tengah-tengah kalimat. Ia berusaha menjawab setiap pertanyaan dengan seelegan mungkin, namun ia seolah tersedot ke dalam masa lalu yang justru menjeratnya dalam kebingungan.

“Saat itu, Max seakan hilang di dunianya sendiri,” ujar Kenneth, bertahun-tahun kemudian. “Beliau masuk ke dalam ruang pikirannya, masa lalunya, dan menutup pintunya rapat-rapat.”

Setelah peritiwa diskusi yang membuat Max untuk pertama kalinya menceritakan begitu detail tentang dirinya dan juga pekerjaanya, buku Max Perkins: Editor of Genius, mengisahkan ketika akhirnya Max pulang dan tiba di kediaman keluarga Perkins di New Canaan, Connecticut, malam telah larut. Max menemukan putri sulungnya sedang menunggu kedatangannya. Putrinya melihat kelelahan yang menggantung di tubuh Max serta rasa sedih yang mendera. Ia bertanya kepada sang ayah apa yang membuatnya begitu lesu.

“Malam ini aku datang ke sebuah acara seminar dan mereka memanggilku ‘kepala dari semua editor di Amerika Serikat’,” jelas Max. “Saat mereka mengenalimu sebagai ‘kepala’ sesuatu, itu berarti tugasmu sudah selesai.”

“Duh, Yah: aku yakin maksud mereka bukan itu,” protes putri sulungnya. “Mereka hanya bermaksud untuk mengakui Ayah sebagai editor terbaik.”

“Tidak,” kata Max, datar. “Itu artinya tugasku sudah selesai.”

Yah, Max memang sudah selesai, tapi inspirasinya hidupnya tidak. Apakah Anda menyetujinya?

(Dari berbagai sumber. Editor: SC)

Continue Reading

Editor's Choice

Batik, Riwayat Identitas Yang Mencari Generasi

mm

Published

on

“Sudah semestinya kecintaan terhadap batik mulai ditumbuhkan sedari dini, bukan hanya sekedar sebagai laku fashion and style, atau suatu komoditas ekonomis, tapi sebagai dokumen sejarah dan pakain identitas kebudayaan. Apa jadinya bangsa besar yang mengabaikan identitas budaya dan sejarahnya bahkan malah tak mengenalnya?”

| Oleh: Gui Susan*

Tiga orang perempuan sedang tekun dengan kain putih di hadapannya. Tangan mereka sesekali turun ke bawah, dan canting pun memulai sihirnya yang mengesankan.

Bau khas malam langsung tercium seketika kaki kita menginjakkan langkah pertama di depan pintu. Ruangan ini dipenuhi dengan kain-kain yang akan dibatik, banyak diantaranya sudah di berikan gambar motif, seperti motif Bokong Semar, Ayam Jago, Ikan Etong, Kereta Kencana, atau pun Pentil Kuista.

Ruangan ini tidak besar, seperti industri rumahan batik pada umumnya, hanya berukuran 4×3 dan diisi oleh empat orang perempuan “seniman” batik. Mata saya melirik ke sana ke mari, jeli dan kagum melihat warna-warni di atas kain, melihat ketekunan 3 orang seniman pembatik tengah bekerja. Melihat pemandangan itu saya langsung merasa beruntung bisa berada di sini. Lebih-lebih satu dari perempuan lantas bergegah ramah menyambut saya sebagai tamu. Keberuntungan saya datang lantaran ia mengiyakan untuk ngobrol-ngobrol lebih dalam. Ibu Esih namanya, dialah pemimpin produksi sekaligus empunya usaha batik industri “Paoman” yang saya singgahi malam itu (7/4) di Indramayu.

Aktifitas perempuan buruh pembatik sendiri disebut Ngobeng, mereka duduk di atas dingklik dan sesekali mereka berbagi cerita tentang politik, gosip artis dan tentu saja harga beras.

Sambil terus mengobrol saya mengamati dengan antusias sekeliling ruangan; di samping ruangan membatik terdapat ruangan kecil berukuran 3×2, jendelanya berukuran kecil dan berada di bagian atas. Ruangan itu digunakan sebagai tempat mewarnai kain batik, terdapat dua meja besar dengan kotak besar dan pewarna batik. Bau menyengat tercium, biasanya ada dua orang yang mengerjakan pewarnaan. Namun sudah beberapa bulan terakhir, ibu Esih, pemilik home industry Batik tulis di Indramayu, menuturkan ia kesulitan mendapatkan orang baru untuk membantu mewarnai batik.

Home Industry Batik itu diberi nama Batik Silva. Penamaan batik Silva diambil dari anak pertama ibu Esih, ia percaya pemberian nama anaknya akan memanggil rezeki baik untuk keluarganya.

Corak Pesisir

Batik Silva berada di keluarahan Paoman, Indramayu, Jawa Barat. Paoman merupakan daerah pesisir Pantai Utara, tidak heran jika motif dari batik Paoman didominasi dengan corak pesisiran. Sama halnya seperti Cirebon yang terkenal dengan batik Trusmi, Indramayu pun dikenal dengan batik Paoman.

Batik Paoman juga dikenal dengan nama batik Dermayon, banyak juga yang mengenalnya dengan batik pesisir.  Perempuan-perempuan di Paoman biasanya membatik ketika nelayan tidak bisa melaut karena cuaca buruk. Hal inilah yang menjadi kendala dari pemasaran batik Paoman, masalah kontinuitas dan promosi menjadi tantangan bagi para industri rumahan yang ingin mengembangkan batik Paoman.

Batik Paoman pun beradaptasi dengan perkembangan zaman, tidak sedikit industri rumahan yang mengembangkan batik cap dan batik print. Proses panjang membuat batik tulis menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang masih memilih cara konvensional.

Setidaknya ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh batik tulis. Diawali dengan Nyoret atau menggambar pola batik di atas kain mori. Sebagian orang yang mendengar kata mori mungkin sedikit bertanya-tanya, apakah yang dimaksud adalah kain mori yang sering digunakan untuk membungkus mayat. Terdapat banyak jenis kain mori, dalam membatik biasanya jenis kain mori yang digunakan adalah Prima dan Primis. Pola dasar dari batik dibuat di atas kain mori dengan menggunakan pinsil.

Pada tahapan kedua, perempuan-perempuan mulai Nglowongi yaitu melukis pola batik menggunakan malam/lilin. Tahapan ini merupakan tahapan yang paling panjang, biasanya akan memakan waktu kurang lebih 1  minggu untuk satu kain. Jika satu kain ingin punya lebih dari satu warna dasar, seperti warna merah dan biru maka satu bagian harus ditutupi oleh malam terlebih dulu. Para pembatik menyebut proses ini dengan istilah nembok yaitu memberikan blok pada bagian tertentu untuk kemudian lanjut pada proses pewarnaan.

Tahapan ketiga adalah mewarnai kain batik. Terdapat dua teknik mewarnai, yaitu Teknik Soga dimana kain batik akan dicelup di dalam bak besar berbentuk kotak yang telah diberi pewarna. Teknik mewarnai lainnya adalah Teknik Colet, yaitu dengan cara kain batik dibentangkan dan dicolet pewarna menggunakan kuas atau alat lainnya. Adapun pewarnaan kain batik dengan teknik Colet banyak dilakukan oleh pengrajin yang ingin kain batiknya dirancang dengan banyak warna.

Terakhir, pengrajin harus melewati proses Ngelorod malam yang ada di kain batik. Malam tidak tahan dengan panas, untuk itu kain batik direndam di kuali besar berisi air yang mendidih. Malam di atas kain batik akan luntur ke bawah, dan untuk itulah disebut Melorot/Melorod.

Lintas Batas Muasal Batik

Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Penemuan seni pewarnaan kain dengan menggunakan malam berasal dari Mesir Kuno/Sumeria pada abad ke-4 SM, yaitu dengan ditemukannya kain pembungkus mumi yang dilapisi oleh malam dan membentuk pola tertentu. Sedangkan di Asia, perkembangan yang serupa dengan batik ditemukan di Tiongok, yaitu semasa Dinasi T’ang (618-907) dan di India serta Jepang semasa Periode Nara (645-794).

Batik di Indonesia erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan sejarah, batik dikembangkan pada zaman kesultanan Mataram dan berlanjut pada zaman Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Namun, seorang arkeolog Belanda bernama J.L.A.Brandes dan F.S Sutjipto seorang sejarawan Indonesia percaya bahwa tradisi batik adalah asli berasal dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Daerah-daerah tersebut merupakan wilayah yang tidak dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki traidisi kuno membuat batik.

Batik tulis terus berkembang hingga pada abad ke-20. Sedangkan batik cap baru mulai diperkenalkan setelah perang dunia 1 berakhir atau sekitar tahun 1920. Di Indonesia, kegiatan membatik merupakan aktifitas yang terbatas dalam lingkup keraton saja.

Batik yang dibuat pun digunakan sebagai pakaian raja dan keluarga raja, pemerintahan dan keluarganya. Seiiring dengan perkembangan zaman, banyaknya pembesar dan pejabat pemerintahan yang tinggal di luar keraton maka aktifitas batik pun dibawa keluar dari keraton. Semenjak saat itu, kesenian membatik mulai dilakukan di rumah masing-masing dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat.

Perempuan Membatik

Dalam industri rumahan Batik Silva, rata-rata pengrajin adalah perempuan. Ibu Esih sendiri memiliki lebih dari 3 orang pengrajin perempuan yang datang ke rumahnya setiap hari. Perempuan menjadi dekat dengan aktifitas membatik, karena perempuan memiliki ketekunan dan ketelitian yang tinggi.

Para Pembatik di rumah batik “Silva” Indramayu. (foto by; Gui Susan)

Di Paoman, akfititas membuat batik merupakan pekerjaan sampingan perempuan nelayan selagi menunggu suami pulang dari melaut. Pada saat bersamaan, membatik merupakan salah satu upaya meneruskan tradisi yang telah dijalankan oleh warga Paoman dari turun temurun.

Namun, batik pesisir memiliki ciri khas tersendiri. Berdasarkan beberapa catatan bahwa di daerah pesisir, laki-laki pun membatik. Hal tersebut dapat dilihat dari garis maskulin dan tegas yang terdapat di corak “Mega Mendung”, artinya pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum laki-laki di daerah pesisir.

Di masa lampau, perempuan-perempuan Jawa menjadikan membatik sebagai keterampilan sekaligus mata pencaharian. Hal inilah yang membuat membatik menjadi pekerjaan ekslusif perempuan. Hingga akhirnya ‘Batik Cap’ mulai ditemukan pada tahun 1920 dan membuka peluang bagi laki-laki masuk ke dalam bidang ini. Tidak ada catatan yang mengungkap sejak kapan pekerjaan membatik menjadi pekerjaan untuk perempuan.

Riwayatmu Kini

Munculnya batik cap sejak tahun 1920 perlahan merubah tradisi dari batik tulis. Batik cap yang dinilai lebih cepat diproduksi dengan harga yang murah menyebabkan batik tulis mulai terkikis perlahan-lahan.

Untuk memproduksi satu kain batik, para pengrajin membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan agar warna dan hasilnya memuaskan. Panjangnya proses yang dilewati membuat harga batik tulis lebih mahal. Di Paoman harga satu lembar kain batik tulis berkisar Rp 300.000 sampai dengan Rp 350.000 dengan menggunakan kain dari Mori Primis dan Rp 200.000 sampai dengan Rp 300.000 untuk kain Mori Prima.

Sedangkan untuk batik cap, harga satu lembar kain berkisar Rp 50.000 sampai dengan Rp 100.000. Perbedaan harga yang cukup tinggi membuat banyak konsumen lebih memilih membeli batik cap.

“Orang yang membeli batik tulis biasanya mereka yang mengerti bahwa batik tulis itu adalah bentuk karya seni tinggi dan biasanya yang membeli itu sudah masuk dalam kolektor.” Tutur Ibu Esih.

Hari ini batik tulis menghadapi masalah besar, regenerasi merupakan masalah utama yang dihadapi oleh industri batik tulis. Para Pengrajin di desa Paoman rata-rata adalah perempuan di atas 35 tahun. Pun jika ada yang muda, jumlahnya bisa terhitung dengan jari.

Di Paoman sendiri, anak-anak muda banyak yang memilih bekerja sebagai buruh di luar daerah. Pengembangan sentra batik dirasa masih terkendala dengan modal dan pemasaran yang kreatif. Batik Paoman dianggap masih belum mengimbangi Batik Trusmi di Cirebon, untuk itulah Ibu Esih mengharapkan semua pihak mau bersama-sama mengembangkan batik Paoman.

Batik merupakan identitas masyarakat Indonesia. Hampir semua wilayah negeri ini memiliki ciri khas batiknya, sebagai pengejewantahan nilai masyarakat dan sejarah yang dikandung dan telah melahirkan peradaban masyarakat itu sendiri. Maka sudah semestinya kecintaan terhadap batik mulai ditumbuhkan sedari dini, bukan hanya sekedar sebagai laku fashion and style, atau suatu komoditas ekonomis, tapi sebagai dokumen sejarah dan pakain identitas kebudayaan. Apa jadinya bangsa besar yang mengabaikan identitas budaya dan sejarahnya bahkan malah tak mengenalnya? (*)

———————–

*Susan Gui, Pecinta Batik.

Continue Reading

Milenia

Memulung Inspirasi di Pasar Santa

mm

Published

on

Pasar identik dengan kesan kumuh, becek, berantakan, dan bau. Tapi tidak dengan Pasar Santa yang terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pasar Santa ini bersih, rapi, dan well organized. Asyiknya lagi, pasar yang dibangun sejak tahun 1971 itu dihuni stand-stand unik nan kreatif. Sampai sekarang, lebih dari 100 kios di lantai satu diisi berbagai macam stand modern. Mulai dari stand makanan, kudapan, fesyen, musik (vinyl, CD, dan kaset), jasa cuci sepatu, pangkas rambut, toko buku, hingga tukang jahit.

Sebagian besar kios-kios itu dikelola oleh entrepreneur muda. Sehingga produk-produknya pun inovatif. Misalnya, kios DOG (Dudes of Gourmet) yang berada tepat di depan tangga utama. Di sana, kita bisa merasakan sensasi hotdog hitam yang lezat. Ada juga kios Substore yang menyediakan koleksi piringan hitam. Keunikan stand-stand itulah yang membuat Pasar Santa selalu ramai dikunjungi kawula muda. Apalagi ketika weekend, Pasar Santa pasti berjubel dengan pengunjung yang ingin nongkrong sembari ngemil atau pengunjung yang ingin sekaadar berbelanja.

Suasana di dalam Pasar Santa. di Kafe-kafe dalamnya banyak generasi muda Jakarta melangsungkan agenda seni dan budaya seperti membaca puisi dan diskusi buku.

 

Meski dihuni stand modern, Pasar Santa tidak mengubah fungsi utamanya sebagai pasar tradisional. Pihak pengelola pasar tetap memertahankan pedagang konvensional di lantai dasar. Pengunjung pasar bisa tetap membeli kebutuhan sehari-hari seperti sembako, alat-alat rumah tangga, di Pasar Santa. Sebelum direnovasi setahun lalu, Pasar Santa nyaris menjadi pasar yang mati. Kehadiran stand-stand unik dari berbagai komunitas diharapkan bisa mendongkrak pula penjualan di toko-toko konvensional.

Konsep tradisional dan modern yang ditawarkan Pasar Santa terbilang sangat unik. Sebetulnya, perpaduan konsep tersebut telah banyak diaplikasikan di pasar-pasar Australia dan beberapa negara di Eropa. Kehadiran Pasar Santa diharapkan mengubah mindset masyarakat terutama kalangan anak muda supaya mau datang ke pasar. Hal itu sangat bagus untuk menghidupkan kembali denyut perekonomian pengusaha kecil dan menengah yang ada di pasar.

Oh ya, setiap minggunya Pasar Santa selalu menggelar acara yang asyik. Kalau tidak ingin ketinggalan infonya, silakan cek Instagram Pasar Santa. Selamat bersenang-senang di Pasar Santa!!

—————————————-

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Milenia

Ke Taman Ismail Marzuki Yuk…

mm

Published

on

Kamu menggemari seni dan budaya? Sudah pernah berkunjung ke Taman Ismail Marzuki (TIM)? Jika belum pernah, maka kamu belum resmi mendapat gelar anak artsy. Berlokasi di Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, TIM merupakan salah satu pusat kesenian ternama di Jakarta. Sejak diresmikan pada tahun 1968, TIM menjadi kiblat para seniman di Indonesia. Dari dulu hingga sekarang, para seniman berbondong-bondong untuk menggelar pertunjukan di tempat yang dulunya bernama Taman Raden Saleh (TRS) itu.

Segala jenis kesenian mulai dari seni rupa, seni tari, drama, musik, dan cabang seni lainnya mendapatkan tempat istimewa di TIM. Ragam seninya pun bervariasi dari yang tradisional hingga kontemporer. Asyiknya lagi, kita tidak hanya menonton tetapi juga bisa mempelajari jenis seni yang kita minati. Sebab. ada puluhan sanggar seni yang rutin menggelar workshop di sana.

Jika ditilik dari sisi historisnya, TIM merupakan ruang ekspresi yang pembangunannya diinisiasi oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin atau karib disapa Bang Ali. Sebelum menjadi pusat kesenian, TIM merupakan Kebun Binatang Jakarta yang sudah dipindahkan daerah Ragunan. Pemberian nama Ismail Marzuki tidak lain juga sebagai bentuk apresiasi terhadap komponis legendaris yang telah menciptakan lebih dari 200 lagu tersebut.

Di dalam TIM ada berbagai macam galeri pertunjukan. Mulai dari skala kecil hingga besar. Selain itu ada juga gedung Planetarium dan Obeservatorium Jakarta.  Di sana, kita bisa melihat pertunjukan Teater Bintang dan multimedia atau citra ganda. Jika beruntung, kita juga bisa melihat fenomena di atas langit yang menakjubkan seperti gerhana, komet, dan lainnya. Untuk yang mencintai sastra, harus mampir ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jasin. Ada sekitar 50 ribu dokumentasi sastra Indonesia yang disimpan di sana.

Salah satu sudut ruang pamer dan instalasi di TIM, Jakarta

Di sekitar area seluas sembilan hektare itu pula dibangun sebuah sekolah seni yang termasyhur di Indonesia yakni, Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tak terhitung, jumlah sineas dan seniman hebat dan kreatif yang lahir dari IKJ. Sebut saja seperti Slamet Rahardjo, Didi Petet, Garin Nugroho, Mira Lesmana, Naif, White Shoes and The Couples Company dan masih banyak lagi.

Setiap minggunya, TIM selalu menyajikan penampilan para seniman berkualitas. Jadi, pengunjung tidak akan bosan datang ke TIM. Menariknya lagi, di TIM juga ada bioskop 21 Cineplex yang memutarkan film-film terkini. Namun bagi yang suka film indie atau film-film festival yang tidak diputar di bioskop mainstream, jangan kuatir! Ada Kineforum! Apa itu Kineforum? Kineforum merupakan bioskop mini berkapasitas kurang lebih 30 penonton yang sering memutarkan film indie. Letaknya di belakang persis 21 Cineplex.

Saya sendiri paling suka dengan gedung Teater Jakarta yang megah. Jika Australia punya Sydney Opera House dan Inggris punya Royal Albert Hall, maka saya bangga dengan gedung Teater Jakarta. Kendati tidak seluas gedung di luar negeri, Teater Jakarta mampu menampung 1200 penonton dan sudah didukung dengan teknologi mutakhir yang memungkinkan perhelatan akbar digelar di sini.

Komplek TIM memang menyajikan ruang hiburan dan edukasi seni budaya terlengkap di Jakarta. Jadi, kalau mampir ke Jakarta, jangan lupa mampir di TIM, ya!! (*)

——————————————–

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Classic Prose

Trending