Connect with us

Milenia

Marlina dan Perlawanan Perempuan

mm

Published

on

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, film yang masih tayang di bioskop ini menghadirkan perempuan dan penindasan. Tokoh perempuan yang diceritakan dalam film ini merupakan sebuah upaya pembuat film dalam menyebarkan pesan keberanian. Film ini memuat semangat juang para perempuan yang akhirnya keluar dari penindasan yang mereka alami selama ini. Perempuan yang acap kali dicap sebagai sosok yang lemah berhasil dipatahkan lewat adegan demi adegan di film ini.

Marsha Timothy sukses memainkan karakter Marlina. Ini dibuktikan dengan penghargaan tingkat dunia yang berhasil ia gondol. Marlina digambarkan sebagai perempuan yang tidak cuma diam membisu saat dirinya diopresi oleh sekelompok laki-laki. Ia dengan gagah melawan perlakuan semena-mena dari para lelaki. Tidak mudah bagi Marlina untuk lepas dari cengkeram kuasa jahat para lelaki.

Marlina, seorang janda yang ditinggal mati suami dan anaknya harus rela rumahnya didatangi sekawanan pria. Gerombolan laki-laki itu menyatroni rumahnya dengan maksud mengambil hewan ternak kepunyaan Marlina sebagai pengganti hutang yang belum terbayar. Pada awalnya, Marlina menuruti permintaan demi permintaan para perampok dari mulai menyuruh dibuatkan minum, makan, hingga pasrah ketika sapi, babi, dan binatang lain miliknya digiring naik ke atas truk. Namun ia sangat cerdik rupanya. Ia telah membubuhi racun ke dalam makanan yang akan disajikan kepada para laki-laki tak tahu diri itu. Satu persatu para laki-laki itu tumbang dan tak berdaya dengan racun yang merasuki tubuh.

Tersisa tiga dari tujuh laki-laki yang belum meregang nyawa. Salah satunya Markus, pria berumur separuh abad ini merupakan yang tertua di antara rekan-rekan perampok. Markus tak sampai teracuni sup ayam buatan Marlina karena mangkuk supnya jatuh dan pecah. Peran pria uzur ini diperagakan oleh Egi Fedly. Nafsu birahi Markus tersalurkan dengan memperkosa Marlina. Sayangnya nasib malang tak dapat ditolak. Kepuasan Markus harus ditukar dengan hilang nyawanya. Marlina terus memberontak saat disetubuhi, hingga parang pun melayang menebas kepala Markus.

Perwujudan Perempuan yang Tampil Bertindak

Alur kisah dalam film ini pun berlanjut. Marlina yang mencari keadilan segera menuju ke kantor polisi. Kepala Markus yang sudah terpenggal ia tenteng ke mana-mana. Marlina tak gentar menuntut hukuman setimpal bagi para bandit yang masih hidup atas apa yang menimpa dirinya. Potongan tubuh Markus yang kadang kala membuntutinya pun tidak menyurutkan niat Marlina.

Marsha Timothy, Pemeran Utama Film “Marlina the Murderer in Four Acts”

Marlina sukses melampaui anggapan dari aliran feminism eksistensialis. Feminisme eksistensialis memandang perempuan sebagai jenis kelamin kedua atau the second sex yang mendefinisikan dirinya liyan. Sedangkan laki-laki melabeli dirinya sebagai Sang Diri. Ia ada untuk dirinya. Liyan bertugas melayani Sang Diri. Wanita disimbolkan sebagai objek yang dikuasi Diri atau subjeknya. Ada relasi kuasi superioritas dan inferioritas.

Marlina unggul pada tamatnya cerita, meski di permulaan sempat beradu dan tunduk sementara pada laki-laki. Penggiat feminism eksistensialis, Simone de Beauvoir menegaskan, dalam dunia patriarki, perempuan tidak bisa lepas dari jerat dunia laki-laki, perangkap ini merupakan tanda penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Para bandit-bandit sepertinya menerapkan pemikiran itu.

Bentang alam Sumba menjadi latar perjalanan Marlina ke polsek terdekat dari rumahnya. Film ini juga menggambarkan betapa ketersediaan sarana transportasi masih jarang di Sumba. Untuk mendapat tumpangan bus truk, warga harus menanti selama satu jam. Begitu pula Marlina. Bahkan ia harus menyambung perjalanannya dengan menunggangi kuda.

Fakta tersebut sangat kontras dengan mudahnya akses komunikasi, yang ditunjukkan dengan adanya interaksi antar tokoh yang sedang berkomunikasi lewat telepon seluler. Film ini pun tak sepenuhnya menikam penonton dengan terus-menerus meneror lewat bayangan seram dan berdarah-darah. Kejadian-kejadian menggelitik mengundang tawa dimunculkan lewat dialog khas Sumba.

Lagi-lagi, pemahaman mengenai perempuan  punya kekuatan untuk menantang sekaligus menentang ketakberpihakan yang menimpa ingin ditularkan kepada penonton dari film ini. Tokoh Mama dan Novi turut mengokohkan film ini sebagai propaganda agar perempuan jangan mau diinjak nasibnya oleh laki-laki.

Mama di sini diperankan sebagai wanita yang tak menampakkan rasa takut sama sekali meski melihat Marlina membawa kepala Markus tanpa dibungkus kain. Berbeda dengan penumpang lelaki yang justru ketakutan dan berusaha menghindar dari Marlina. Mama juga memiliki andil besar dalam perkawinan keponakannya. Ia ditugasi untuk segera mengirim tambahan kuda sebagai semacam mahar bagi ponakan laki-lakinya yang akan menikahi seorang perempuan. Adegan ini merefleksikan bagaimana laki-laki seolah-olah bisa menebus perempuan dengan harta sebagai penggantinya.

Novi, teman Marlina ikut menambah gambaran betapa kuatnya perempuan Sumba. Novi yang tengah mengandung 10 bulan ikut membantu Marlina dalam mengatasi kisruh dengan para bandit laki-laki. Novi bahkan tanpa ragu-ragu memenggal kepala Frans yang memerkosa Marlina pada babak akhir. Kondisinya yang sedang hamil besar tidak menghalangi langkahnya dalam menghadapi ulah para lelaki yang semena-mena, termasuk Umbu, suaminya. Setiap detil percakapan atau laku dalam film ini benar-benar mencerminkan usaha untuk memberi panduan kepada masyarakat tentang bagaimana memandang perempuan dan laki-laki secara setara. Status janda, kemiskinan, kehamilan, harta, pernikahan, pemerkosaan, dan aparat hukum merupakan sedikit dari banyak hal yang coba ditonjolkan lewat film ini.

Kehamilan perempuan begitu diatur sedemikian rupa oleh konstruksi pikiran masyarakat. Novi menanggung akibat dari masyarakat yang terlalu menyetir urusan reproduksi perempuan itu. Suami Novi menyimpan rasa ketidakpercayaan kepada Novi yang konon hamil sungsang, tak kunjung melahirkan. Umbu termakan hasutan masyarakat dan orang lain, daripada memilih yakin dengan istrinya.

Novi menyepakati kepercayaan yang dipegang para penganut paham feminism radikal. Feminisme radikal libertarian berprinsip bahwa orang lain tidak perlu mencampuri urusan reproduksi perempuan. Seksualitas adalah ranah pribadi yang tak usah diganggu oleh omongan masyarakat. Dominasi atas lingkup privat berarti pelanggaran yang lebih luas dan berbahaya hingga ke wilayah publik. Novi tak mengambil pusing dengan desas-desus orang-orang mengenai kehamilannya yang tak kunjung lahir. Baginya, tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Perempuan bebas menentukan apapun yang berhubungan dengan raganya termasuk urusan reproduksi dan kesehatan.

Marlina terpaksa mendapat kesialan yakni diperkosa karena status jandanya. Markus bahkan berujar, Marlina akan menjadi perempuan paling beruntung karena akan tidur bergilir dengan para lelaki. Kehebatan Marlina pun terpapar, ia tidak diam dan sanggup menampik perkataan Markus. Menyandang status janda sangat riskan saat hidup di masyarakat. Apalagi diperparah dengan perkosaan yang dilakukan Markus dan Frans. Penderitaan Marlina sungguh bertumpuk.

Aparat hukum pun lemah dan tak kunjung menyelesaikan aduan pemerkosaan yang dilaporkan Marlina. Polisi justru sibuk bermain ping-pong. Aparat kepolisian malah mengutarakan berbagai alasan seperti tidak ada kendaraan operasional, dan ketiadaan fasilitas kesehatan saat Marlina membutuhkan penuntasan dan pengusutan kasusnya segera.

Apa yang disuguhkan dalam film ini menunjukkan sebuah kegagalan dari sistem patriarki dan dampak buruk dari dominasi laki-laki. Perempuan yang terkena masalah kekerasan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga tampak dibiarkan saja. Perempuan dinilai pantas memeroleh itu semua dan tak berhak protes karena seperti itu garis hidupnya. Gejala yang mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat apabila praktik penindasan diabaikan tanpa penyelesaian.

Film ini juga mengulas secara satir bagaimana sarana sanitasi masih minim di daerah pedalaman. Novi dan Marlina terlihat dalam secuil adegan tengah kencing di padang sabana. Mereka seakan lumrah dengan kebiasaan tersebut karena memang terbatas fasilitas.

Akting para artis dalam film ini sangat memukau dan berkesan. Diputarnya film ini, diharapkan bisa mengembalikan kejayaan dunia sineas Indonesia. Dan semoga opresi terhadap perempuan bisa terhenti. Baik perempuan dan laki-laki sama-sama menyadari kedudukan mereka setara, tidak ada yang tinggi atau rendah. (*)

 

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Milenia

Bagaimana Menjadi Diri Sendiri Menurut Carl Jung ?

mm

Published

on

Akhir-akhir ini saat duduk ngopi di kafe, banyak sejawat bertanya kepada saya, “aku kudu piye?” (aku harus bagaimana), yang pas saya jadi apa? Memang pertanyaan itu sejatinya hanya muqaddimah untuk melangsungkan obrolan yang lebih publik sifatnya seperti soal politik, komunitas, atau dunia objektif kita. Akan tetapi pertanyaan itu pada akhirnya mengusik juga untuk dijawab.

Untuk menjawabnya saya membuka buku babon Carl Gustav Jung—kebetulan saya pernah membaca lama pemikiran Jung (dan juga Erich Formm) saat dalam upaya menulis untuk sebuah jurnal tentang analisis psikologis tokoh rekaan dalam karya Pram dan NH. Dini, jadi kemudian saya pikir meresume pemikiran Jung terkait individuasi bisa memberi jalan lapang (meski bukan jawaban konkrit) dari pertanyaan aku kudu piye atau sebaiknya saya menjadi apa dan harus kepiye?

Maka tulisan ini pun merupakan resume saja dari pemikiran genuine Carl Jung dan tidak memuat sama sekali opini atau pandangan saya–dan memang saya hanya pembaca buku dan  bukan psikolog. Berikut saya ihtisarkan:

Dalam teorinya, Jung membagi psyche (jiwa) menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah ego yang di identifikasi sebagai alam sadar. Bagian kedua, yang terkait erat dengan yang pertama, adalah alam bawah sadar personal, yang mencakup segala sesuatu yang tidak disadari secara langsung, tapi bisa diusahakan untuk disadari.

Alam bawah sadar personal adalah apa yang seperti dipahami banyak orang yaitu mencakup kenangan-kenangan yang dapat dibawa ke dalam sadar dengan mudah serta kenangan-kenangan tertentu yang ditekan karena alasan-alasan tertentu. Tetapi alam bawah sadar ini tidak mencakup insting-insting sebagaimana yang dipahami Freud.

Kemudian Jung menambah satu bagian lain yang membuat teorinya berbeda, yaitu alam bawah sadar kolektif atau yang biasa disebut dengan “warisan psikis”.

Alam bawah sadar kolektif adalah tumpukan pengalaman kita sebagai spesies, semacam pengetahuan bersama yang kita miliki sejak lahir. Akan tetapi pengalaman ini tidak bisa kita sadari secara langsung. Ia memengaruhi segenap pengalaman dan perilaku kita, khususnya yang berbentuk perasaan, tetapi hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui pengaruh-pengaruh yang ia timbulkan.

 

Individuasi

“Induviduasi” (menjadi diri sendiri) kemudian berarti sebagai jalan unik yang harus ditempuh oleh setiap orang agar dapat mewujud atau mengembangkan kepribadiannya yang asli.

Dengan proses individuasi, pertanyaan, “siapa saya” atau lebih tepat, “Siapa saya selain dari ego yang sadar”. (hal ini berarti: selain dari apa yang sudah saya ketahui tentang diri saya sendiri, terlaksana juga ucapan ini; ‘jadilah dirimu sendiri dengan seluruh adamu yang sebenarnya’= you have to become your own truly self (Rogers) /werde, wer du eigenlich schon bist) keinginan menjadi utuh hanya dapat diwujudkan dalam suatu kehidupan yang unik dan pribadiah.

Menurut Jung, individuasi dapat diterjemahkan sebagai proses menjadi diri sendiri (werselbsttung) atau realisasi diri (selbstverwirklichung). “saya menggunakan istilah individuasi untuk menamakan proses yang dialami oleh seorang pribadi menuju menjadi individu yang psikologis; yaitu satu kesatuan atau keseluruhan yang tak terbagi dan terpisah dari yang lain “(The Archetipe and The Colective Unconsciousness, Coll. Works, Vol. 9, hlm. 275) atau: “Individuasi berarti proses menjadi manusia yang cuma satu dan homogen. Dan sejauh ketakterbagian mencakup keunikan yang paling dalam, paling dasar dan tidak dapat dibandingkan, maka ia juga mengandung proses menajadi diri sendiri.

Kesimpulannya, pada permulaan manusia belum memiliki dirinya yang sudah terwujud. Tetapi perlahan-lahan dirinya itu harus diwujudkan dalam kehidupannya yang unik.

Proses inviduasi atau menjadi diri sendiri itu selalu disertai rasa sakit dan beban psikis sebab pada permulaan proses itu, orang merasa sepi, sunyi, dan terpisah dari orang lain. Hasil pertama dari perkembangan kepribadian ialah bahwa individu itu menyadari diri sebagai pribadi yang khas, yang lain, yang orisinal. Dan itu berarti bahwa individu itu harus melepaskan diri dari massa yang anonym dan tak sadar.

Inviduasi berarti berani menerima kesunyian. Dan memang tidak ada penyesuaian—betapa pun penyesuaian itu baik dan kuat, dengan lingkungan sosial, dan keluarga, dengan masyarakat, dan dengan status sosial tertentu yang dapat menghindari kesunyian individu.

Itulah rasa sunyi seorang yang matang dan kreatif. Orang tidak lagi ditentukan lagi oleh sifat konformistis terhadap ketentuan-ketentuan kolektif. Ia juga tidak lagi merupakan satu bagian kecil saja dari massa anonim.

Kesunyian itu merupakan sisi belakang yang mutlak harus ada. Kesunyian itu juga merupakan tugas etis untuk setia pada irama batin dan jalan nasib yang unik. Setiap orang harus secara positif menerima irama batin dan jalan nasibnya. Dengan demikian orang itu akan memperoleh keseluruhan pribadi. (*)

*) Sabiq Carebesth, pecinta kopi, dan masih berupaya menjadi penyair.

 

Continue Reading

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Milenia

9 Pesan Mas Pram Tentang Bangsa dan Humanisme dalam Novel “Bumi Manusia”

mm

Published

on

Membaca roman “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, kita akan mendapati putaran waktu pada saat-saat mula sebuah bangsa dibibit, mula-mula bersemainya pergerakan nasional.

Roman pertama dari tetralogi Pulau Buru ini mengambil latar belakang dan cikalbakal nation Indonesia di awal abad ke- 20.

Dalam roman “Bumi Manusia”, Pram, salah satu sastrawan paling besar dan agung yang dimiliki Indonesia, tidak hanya melahirkan tokoh-tokoh, tapi juga suatu kesadaran, karakter, yang ditegaskan lewat para tokoh utama romannya seperti Minke. Istimewanya, penyemaian bibit kebangsaan itu lahir dari para tokoh perempuan dalam novelnya, sebutlah Nyai Ontosoroh dan Annelies.

Para srikandi ditempatkan oleh Pram sebagai penyemai dan pengawal utama bangunan nasional yang kelak akan melahirkan Indonesia modern. Perempuan Indonesia modern saat ini, terlebih generasi milenial, sudah sepantasnya barang sekali dalam hidupnya membaca roman yang diselesaikan Pram pada tahun 1975 ini.

Berikut adalah 9 kutipan dari roman “Bumi Manusia” tentang kesadaran akan bangsa, kemerdekaan dan hargadiri sebagai anak suatu bangsa:

  1. Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaanya atas ilmu dan pengetahuan. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.
  2. Seorang harus punya perasaan hargadiri baik sebaga pribadi mau pun anak bangsa. Jangan seperti kebanyakan umumnya, merasa sebagai bangsa tiada tara di dunia  ini bila berada di antara mereka sendiri. Begitu di dekat seorang Eropa, seorang saja, sudah melata, bahkan mengangkat pandang pun tak ada keberanian lagi.
  3. Pekerjaan Pendidikan dan pengajaran tak lain dari usaha kemanusiaan. Kalau seorang murid di luar sekolah telah menjadi pribadi berkemanusiaan, kemanusiaan sebagai faham, sebagai sikap, semestinya kita berterimakasih dan bersyukur sekali pun saham kiita terlalu amat kecil dalam pembentukan itu. Pribadi luar biasa memang dilahirkan oleh keadaan dan syarat-sayarat luar biasa.

    Sampul muka roman “Bumi Manusia” edisi penerbit: Hasta Mitra.

  4. Kita adalah suatu bangsa—tak akan membiarkan yang asing melihat kita tanpa perasaan manusia—tak membiarkan mereka melihat kita sebagai inventaris.
  5. Aku tak pernah bersekolah, Nak, Nyo, tak pernah diajar mengagumi Eropa. Biar kau belajar sampai puluhan tahun, apa pun yang kau pelajari, jiwanya sama: mengagumi mereka tanpa habis-habisnya, tanpa batas, sampai-sampai orang tak tahu lagi dirinya sendiri siapa, dan di mana. Biar begitu memang masih lebih beruntung yang bersekolah. Setidak-tidaknya dapat mengenal cara bangsa lain merampas milik bangsa lain.
  6. Kau sudah harus adil sejak dalam pikiran! Jangankan tukang bawa parang dan pendekar, batu-batu bisu pun bisa membantu—kalau kau menenal mereka. Jangan sepelekan kemampuan satu orang, apalagi dua!
  7. Tahu kau apa yang dibutuhkan bangsamu? Seorang pemimpin yang mampu mengangkat derajat bangsamu kembali. Seorang pemula dan pembaru sekaligus.
  8. Mana bisa Multatuli diajarkan di sekolah? Yang benar saja. Dalam buku pelajaran tak pernah disebut!
  9. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak dia takkan jadi apa-apa.
Continue Reading

Classic Prose

Trending