Connect with us
Malam yang Tak Terlupakan Malam yang Tak Terlupakan

Cerpen

Malam yang Tak Terlupakan

mm

Published

on

BILA kita menuruni bagian pelabuhan kota Kopenhagen, kita akan tiba di sebuah jalan raya yang baru tetapi sepi bernama Vestervold. Di kiri-kanannya terdapat beberapa rumah dan di atas jalan itu bergantungan beberapa lampu gas yang meneranginya pada waktu malam. Jarang sekali terlihat orang di situ. Bahkan hal ini masih saja kita jumpai dalam musim panas.

Malam kemarin aku mengalami suatu peristiwa di jalan itu. Aku naik-turun melalui jalan itu beberapa kali. Dari jauh tampak seorang wanita yang berjalan ke arahku. Tak seorang pun yang kelihatan selain wanita itu. Lampu-lampu gas telah terpasang, tapi nyalanya agak suram, sehingga muka wanita itu tidak begitu jelas tampaknya. Aku berpikir, mungkin seorang anak yang lain akan berjalan di belakang membuntutinya.

Pada ujung jalan raya itu, aku berbalik. Wanita itu berbalik juga. Aku cepat-cepat melewatinya. Mungkin dia sedang menantikan seseorang, demikian pikirku.

Ketika untuk ketiga kalinya kami berpapasan, kubuka topiku.

“Selamat malam! Anda sedang menunggu seseorang?” ujarku menyapanya.

“Tidak……”

“Bolehkah aku menemani Anda?”

Ia mengucapkan terima kasih padaku. Sebetulnya ia tidak sedang menunggu seseorang, hanya sekedar berjalan-jalan, demikian katanya. Jalan raya sepi-mati. Kami berjalan berdampingan, sambil bersenda gurau. Lenganku kuulurkan padanya.

“Terima kasih,” ujarnya seraya menggelengkan kepala.

Dalam kesuraman sinar lampu itu, aku tak dapat melihat mukanya dengan jelas. Kunyalakan geretan dan menerangi arloji tanganku. Nyala geretan itu kunaikkan sehingga menerangi mukanya.

“Jam 9.30,” ujarku.

Tiba-tiba ia menggigil.

“Kau kedinginan tentu. Marilah kita pergi mencari minuman penyegar. Ke mana? Ke Trivoli? National?”

“Aku tak dapat pergi sekarang,” katanya perlahan-lahan. Dalam samar cahaya malam itu masih sempat kulihat ia memakai selubung perkabungan yang panjang sekali.

Aku minta maaf, lalu melembarkan putung anak geretan itu ke dalam gelap. Melihat caranya memaafkan aku, dapatlah kutarik kesimpulan bahwa ia bukan wanita malam yang biasa.

“Kepitlah lenganku ini dan kau akan merasa hangat,” aku berkata sambil menyodorkan lenganku padanya. Lenganku dikepitnya.

Kami berjalan-jalan, ke sana kemari begerapa lamanya. Tiba-tiba ia menyuruhku untuk melihat jam sekali lagi.

“Jam sepuluh,” jawabku. “Di mana kau tinggal?”

“Di Gamle Kongevei.”

Wanita itu kuhentikan.

“Bolehkah aku mengantarmu?”

“Jangan, jangan! Kau tidak boleh mengantarkan aku ….. Bukankah kau tinggal di Bredegade?’

“Bagaimana kau tahu?” aku bertanya keheranan.

“Telah kutahu siapa kau,” jawabnya.

Hening. Kami berjalan bergandengan menuju terang lampu. Ia berjalan tergesa-gesa, sehingga selubungnya yang panjang  itu berkibar-kibar.

“Cepat!” katanya.

Di depan pintu gerbang rumahnya yang terletak di Gamle Kongevei, ia berbalik ke arahku, seakan-akan hendak mengucapkan terima kasih karena telah sudi mengawaninya. Kubukakan pintu untuknya. Perlahan-lahan ia masuk ke dalam. Pintu gerbang itu kudorong kembali pelan-pelan dengan bahuku, lalu berjalan di belakangnya. Di sini ia mencekal tanganku. Kami tak sanggup mengeluarkan kata-kata.

Kami menaiki tangga rumah itu dan berhenti pada tingkat kedua. Ia sendiri membuka pintu depan, kemudian pintu berikutnya, membimbing tanganku dan aku diantarnya masuk ke dalam. Di depan pintu ia berhenti beberapa saat. Tiba-tiba aku didekapnya, lalu dikecupnya dengan penuh birahi. Seluruh tubuhnya gemetar. Aku dikecupnya dengan mutulutnya!

“Duduklah sekarang,” katanya, “akan kunyalakan  lilin sebentar.”

Mataku menjalar melihat sekelilingku, dipenuhi oleh perasaan aneh dan ragu. Aku berada dalam sebuah rumah yang besar, sebuah kamar tamu yang mewah terhias. Beberapa pintu yang menuju ke kamar-kamar di sekitarnya tampak terbuka. Aku tak bisa membayangkan, manusia manakah yang sedang kuhadapi sekarang ini.

“Alangkah indahnya! Kau tinggal di sini?” aku bertanya.

“Ya, inilah rumahku,” jawabnya.

“Ini rumahmu? Kau seorang putri dalam rumah ini?”

Ia tertawa.

“Tidak, aku telah lama kawin. Nati akan kaulihat sendiri.”

Ia menanggalkan mantel dan selubungnya.

“Lihatlah,” katanya, lalu merangkul dan mendekapku sekali lagi dengan tiba-tiba, dihanyutkan oleh perasaan meluap yang tak terkendalikan.

Umurnya kira-kira dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun. Pada jari kanannya terdapat sebentuk cicin. Ia cantik? Tidak, pada mukanya terdapat beberapa tahi lalat dan alis matanya hampir-hampir tidak ada. Tetapi pada wajahnya terlukis kegembiraan dan mulutnya bagus.

Ingin kutanyakan namanya dan di mana suaminya. Aku ingin mengetahui lebih jauh, dalam rumah siapa sekarang ini aku berada. Tetapi ketika mulutku hendak kubuka, ia menontarkan tumbuhnya kepadaku, seakan-akan melarang aku merasa aneh berada disitu.

“Namaku Ellen. Kau suka minum? Tentu, nanti kupesan, Tetapi sekarang juga kau harus masuk ke sana, ke kamar tidur.”

Aku masuk ke dalam kamar tidur. Lampu yang terpasang di kamar tamu  masih dapat menerangi kamar itu. Di situ terpasang dua ranjang yang rapi teratur. Ellen menekan bel dan memesan anggur. Kudengar bunyi langkah seorang gadis membawa minuman yang dipesan tadi, kemudian langkahnya menghilang, menjauhi kamar tamu. Ellen segera masuk. Sejenak ia berdiri di depan pintu memandang ke arahku. Aku bangkit berjalan ke arahnya. Tanpa menghiraukan apa-apa, ia berlari memburuku, tepat pada saat yang bersamaan……….

Peristiwa itu terjadi kemarin malam.

Ketika aku terbangun, hari telah siang. Cahaya siang menerobos masuk melalui kedua sisi tudung jendela. Ellen terbangun juga. Lengannya putih dan lembuh laksana berludru. Dadanya menonjol ke atas, sangat indah. Aku berbisik kepadanya, tetapi mulutku dikatupkan rapat-rapat dengan kedua bibirnya. Hening. Yang terdengar hanya detak jantung dan desah napas kami masing-masing. Hari bertambah terang juga.

 

***

 

DUA JAM kemudian aku bangkit. Demikian juga Ellen. Ia mengenakan pakaiannya. Di depan wastefel aku berdiri mematut-matutkan diriku, Ellen kemudian keluar untuk suatu keperluan di kamar sebelah. Ketika ia membuka pintu, aku menoleh dan melihat kedalam. Angin pagi yang sejuk berembus melalui jendela yang lebar terbuka. Aku terkejut, darahku seakan-akan berhenti berdesis. Di atas meja yang terletak di  tengah-tengah ruangan itu, terbujur mayat laki-laki dalam peti jenazah. Ia berpakaian putih, cambang dan jenggotnya berwarna kelabu. Kedua lututnya yang kurus menonjol kaksana sebuah tinju yang terkepal, serta mukanya pucat mengerikan. Semua itu kulihat dalam terang-siang. Aku berpaling kembali tanpa mengucapkan sepatah kata. Sampai saat ini, kengerian itu masih saja merayapi seluruh badanku. Hhhh!

Ketika Ellen masuk, aku sudah selesai berpakaian. Aku tak berdaya membalas dekapannya. Ia mengenakan beberapa macam pakaian lagi. Ia ingin mengantarkan aku sampai ke pintu gerbang. Hal itu kubiarkan saja. Di pintu gerbang ia menempelkan tubuhnya rapat-rapat pada tembok agar jangan kelihatan.

“Sampai berjumpa lagi!” bisiknya.

“Sampai besok?” aku bertanya sekadar hendak menguji hatinya.

“Jangan, lain kali saja.”

“Kenapa?”

“Ssst! Diamlah, kekasihku. Aku akan ke pekuburan besok. Seorang keluargaku meninggal. Kau sudah mengerti, bukan?”

“Lusa?”

“Ya, lusa saja, di pintu gerbang ini. Aku akan menunggumu.”

Aku pergi ………

 

***

 

SUNGGUH-SUNGGUH aneh! Siapa wanita itu? Lalu mayat siapakah yang terbujur dalam peti jenazah itu? Alangkah ngerinya; tinjunya terkepal, mulutnya kejang-kaku. Seolah-olah ia sedang melihat suatu komedi yang sangat aneh! Lusa ia mengharapkan kedatanganku lagi. Aku akan ke sana nanti?

Langsung saja aku berjalan ke Kafe Bernina, lalu kutanyakan jalan itu kepada seorang penunjuk jalan. Kucari nomor demi nomor pada Gamle Kongevei. Nah, nama itu sudah kutemukan. Di depan berada rumah, aku menanti sejurus, menanti datangnya harian pagi; mataku segera mencari , siapa orang yang meninggal hari ini. Nama itu kutemukan, tercetak dengan huruf tebal pada permulaan daftar itu. Suamiku meninggal hari ini setelah berbulan-bulan lamanya menderita sakit. Umurnya empat puluh tiga tahun. Tanggal pemberitahuan itu dua hari yang lalu.

Aku duduk beberapa lamanya merenungkan peristiwa itu. Memang aneh! Masih mungkinkan mereka itu suami-istri? Alangkah besar perbedaan umur keduanya. Dua puluh tahun bukanlah jumlah sedikit. Penyakitnya telah merenggutnya dari hidup bedampiingan dengan istri yang muda belia itu.

Tiga-tiba janda muda itu telah mengambang di dalam kepalaku. Ia tidak lagi menjalankan peranannya sebagai istri yang setia ………

 

(Penerjemah: Ben Oleona).

KNUT HAMSUN

(Nobel Prize for Literature 1920)

 

Lahir di Gudbransdal, Norwegia tahun 1859 dan meninggal tahun 1952. Hamsun, atau nama lengkapnya Knut Pedersen Hamsun, lewat karya-karyanya dianggap telah mencanangkan suatu zaman baru bagi sastra dunia. Ia sering disebut sebagai sang pemula dalam arus sastra modern yang memengaruhi banyak sastrawan yang muncul kemudian, mulai dari Maxim Gorki, Thomas Mann, Stefan Zweig, hingga Ernest Hemigway dan William Faulkner.

Hamsun lebih dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis puisi. Sejak novel pertamanya Sult (1890) namanya mulai dikenal, disusul dengan novel Mysterier (1892) dan Pan (1899). Kemudian Svaermere (1904) dan mencapai puncaknya dalam Markens Grade (1917), yang diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Growth of the Soil.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Hamsun sebagai pengakuan atas: “….. karya monumentalnya, Growth of the Soil …..”

Hamsun adalah sastrawan kedua Norwegia yang memperoleh penghargaan tersebut, setelah Bjornsterne Bjornson menerimanya lebih dari satu dasawarsa sebelumnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Gao Xingjian: Bayangan Kematian

mm

Published

on

Getty Images/ google

Kau tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal-hal aneh, dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andaikan kau menginginkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya rasa takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.

Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal di masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar dari kini. Kesedihan sepele membuatmu begitu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.

Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan sebuah keajaiban. Tak cukupkah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?

Ketakutanmu pada kematian muncul saat kau rapuh jiwa dan raga. Kau merasa sesak dan cemas, khawatir keburu mati sebelum sempat menghela napas berikutnya. Seolah-olah kau terlempar ke dasar jurang, perasaan keterpurukan ini sering muncul dalam mimpi-mimpi masa kecilmu dank au akan terbangun dengan napas terengah-engah, ketakutan. Saat itu ibumu akan membawamuke rumah sakit, namun kini, sebuah permintaan dokter untuk melakukan pemeriksaan pun kau tunda berkali-kali.

Jelas sekali bagimu kehidupan berakhir dengan sendirinya dan saat akhir itu tiba rasa takutmu memudar, karena rasa takut itu sendiri adalah perwujudan kehidupan. Saat kehilangan kesadaran dan keinsyafan, hidup tiba-tiba berakhir tanpa menyisakan makna dan pemikiran.

Penderitaanmu adalah pencarian makna bagimu. Saat kau mulai membincangkan arti kesejatian hidup manusia dengan teman-teman masa mudamu, kau hidup dengan susah payah, seolah-olah kini kau telah menikmati segala kesemuan hidup dank au menertawakan kesia-siaanmu dalam pencarian makna. Yang terbaik adalah mengalami keberadaan dan menjaganya.

Kau merasa melihat makna hidup dalam kehampaan, cahaya samar yang muncul dari antah berantah. Ia tak berdiri di tempat tertentu di atas bumi. Ia seperti dahan pohon tanpa bayangan, sementara ufuk yang memisahkan langit dan bumi telah lenyap. Atau, ia bagaikan seekor burung di sebuah tempat berselimut salju yang memandang berkeliling. Terkadang, ia menatap ke depan, menghunjam dalam pikiranmu, walaupun tak jelas benar apa yang ia renungi. Itu hanyalah isyarat tubuh sederhana, isyarat tubuh yang indah. Keberadaan pun senyatanya adalah sebuah isyarat tubuh, mencoba mencari rasa nyaman, merentangkan lengan, menekuk lutut, berbalik, memandang ke belakang di atas relung kesadaran. Dari situ ia mampu menggapai kebahagiaan sekejap. Tragedi, komedi, dan lelucon. Penghakiman atas keindahan hidup manusia yang berbeda bagi masing-masing orang, waktu, dan tempat. Perasaan pun mungkin seperti ini. Kesedihan yang timbul di saat ini di waktu yang lain bisa jadi sebuah kekonyolan dan penyucian diri. Hanya isyarat tubuh yang tenang bisa memperpanjang hidup ini dan bersusah payah menyimpulkan misteri kekinian di saat kebebasan tercapai. Menyendiri, meneliti pendapat diri melalui kekalahan-kekalahan orang lain.

Kau tak tahu apa lagi yang akan dilakuan, apa pun yang bisa kau lakukan tak penting lagi. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Tapi tak kau lakukan pun tak jadi soal. Dan kau tak perlu ngotot melakukan sesuatu jika kau merasa lapar dan haus, lebih baik kau makan dan minum. Tentu saja kau bebas berpendapat, menafsir apapun, punya keinginan, dan bahkan marah, biarpun kau telah sampai pada usia di mana tenagamu tak cukup lagi untuk marah. Secara alamiah, kau bisa naik darah, namun tanpa gairah amarah. Perasaan dan inderamu tetap bekerja, namun tak seperti dulu. Tak akan ada lagi penyesalan. Penyesalan itu sia-sia dan merusak diri.

Bagimu hanyalah kehidupan yang bernilai. Kau telah melekat dan terserap padanya seolah-olah masih ada hal menakjubkanyang bisa kau temukan di dalamnya. Seolah-olah hanya kehidupan yang bisa membuatmu senang. Bukankah itu yang kau rasakan? (*)

Gao Xingjian (高行健, pinyin: Gāo Xíngjiàn, lahir di Ganzhou, Jiangxi, Republik Rakyat Tiongkok, 4 Januari 1940; umur 77 tahun), ialah penulis seorang novelis, dramawan, dan kritikus Tiongkok seberang lautan. Ia juga seorang penerjemah, sutradara, dan pelukis terkenal.

Continue Reading

Cerpen

Oedipus Dalam Kabut

mm

Published

on

I

Aku tumbuh untuk tak menjadi diriku, di tengah hutan terjauh—dalam bayang-bayang kesunyian. Aku, yang kau panggil Oedipus, sekarang tak ingin melihat apa pun selain yang kucintai; adalah segalah hal yang telah kutaklukkan! Tetapi terambil dariku dengan kengerian yang lebih pilu dari dosaku pada masa lalu.

Aku merindukan nyanyian dari rakyatku yang padanya mereka telah kubebaskan—yang dengan kebebasannya aku terkutuk untuk menanggung semua penderitaannya—sudah takdirku untuk menjauh dari takdirku sendiri, dan segala yang kucintai.

Gambar-gambar dosa pada wajah Jocasta, pada Laius, telah menyergap mataku dengan api sehingga kebutaanku sungguh tak berguna untuk menghindarkan penderitaan yang telah kupilih sendiri; inilah yang kutahu—adalah jiwaku yang membatu, membimbingku pada nafsu kepahlawanan, dan ketika cinta dan dendam hilang batas, dewa-dewa mulai menuntunku pada kehendaknya agar aku jadi sekutu dewa; membebaskan yang papa, lalu menarikku dalam takdir sunyi kepahlawanan. Tapi semua itu tak berakhir pada kebahagiaanku—sebaliknya aku adalah penanda bagi zaman baru di mana aku dikenang dan dilupakan. Apa yang lebih memiliukan dari dipaksa berlalu?

Bukan karena sesalku atas dosa harus kutinggalkan tanah lahirku, tapi harus kusadari bahwa aku harus turut pada dewa dan tidak lagi berkehendak. Sungguh malang diriku dihadapan takdir yang dibawakan Tiresias.

Ceritaku telah berakhir ketika aku direnggut kesunyian yang jiwaku tak pernah menginginkannya. Dalam kabut suci perjalananku—sewaktu kutanggalkan semua yang dulu kutaklukkan, tak satu pun dari kalian mau tahu; aku memulai perjalananku, jalan cerita yang telah berakhir bagimu. Tapi permulaan bagiku.

*

O biar kukisahkan ini untuk Jocasta dan Antigone, untuk tubuh yang sekarat, untuk jiwa yang mengembara.

Di gerbang kota tanpa senja dan rembulan pada hari ketika kulupakan diriku sendiri: pertama-tama jiwaku menanggung kehancuran; aku tidak akan lagi melihat tanah kelahiranku, nyanyian rakyat juga anak-anakku—segala ikatan dilepaskan, semua jembatan dirobohkan, segala yang menghubungkanku pada masa lalu luruh, tak pernah ada jalan untuk kembali pulang pada kejayaan masa silam.

Hidupku baru, di kota tanpa senja dan rembulan, tanpa kuda-kuda atau rajawali, tak ada ranjang, istana atau payudara, tak ada siapa-siapa tak ada hidup milik sesiapa; hidup adalah hidupku, tanah adalah jengkal langkahku—depanku kabut, di belakangku gulita, di atasku mendung di bawahku tak kutahu. Kehidupan seperti hanya bertumpu pada keberadaanku, tanpa nafsu dan gairah, dan jawablah pertanyaanku: ke mana aku hendak mengembara? Ke mana mencari penaklukan? Atau belas kasihan? Setelah itu tak ada yang kuingat atau kulupakan; harapan adalah kabut besar yang harus kusingkap selangkah demi selangkah. O bagaimana jika abadi?

Aku mencari dewa tapi mataku buta? Hanya selubung rasa yang kupunya; itu pun jika tak menipuku.

Aku lalu mengira dewa-dewa ada dalam diriku, tapi bagaimana aku melihat diriku sendiri? Jiwaku gelap dan sia-sia. Sekarang Antigone tak di sisiku lagi. Barangkali ia tersesat di dalam kabut lalu mendapati dirinya di antara penderitaan dan bencana rakyatku, di sana ia mengingatku sebagai manusia menderita; dan ketika hujan menderas ia melupakanku, raib ditelah suara jeritan-jeritan, penderitaan oleh perang dan kebencian.

Berabad yang tak lagi terhitung oleh waktu, aku tak lagi bisa mengingat Antigone melebihi gerbang kota terakhir di mana aku kehilangan diriku dan tuntunan tangannya—itulah perasaan terakhir yang kupunya.

Sekarang aku masih dalam kabut yang sama, tanpa cinta atau penaklukkan. Jiwa dan nafsuku entah di mana… O lalu bagaimana kau akan menemukanku? Bagaimana aku akan mencari jalan padamu?

O sungguh malang manusia sampai ia dibebaskan dari segala hubungan—sampai ia kembali pulang ke dalam dirinya sendiri.

II

O jika masih bisa kutulis surat padamu, setelah segala derita yang kulihat, ingin kukatakan padamu wahai Jocasta:

Siapa yang harus kucintai, ranjang dan tubuhmu bukan milikku. Setelah sekian lama kau biarkan aku berlindung di antara lekuk leher dan payudaramu, bersandar pada lembah halus punggungmu, di sana kudengar nyanyian dan kelembutan—kukira tak akan pernah berakhir.

Oh tidak bahwa aku harus kehilangan setelah selama ini kau biarkan aku menyusu sebagai anakmu dan kukira payudarmu kejelitaan seorang kekasih! Tak ada penderitaan yang lebih berat dari melepaskan diriku untuk menjauh dari segala yang kukira surga.

Jocasta kekasihku dan ibu dari jiwaku yang kanak-kanak… Aku abadi dalam cintamu, dan terluka setiap kali harus melepaskan diri darimu—inilah kelemahan terbesarku, untuk membunuh monster dalam diriku yang amukannya tak pernah sebanding bahkan dengan Sphinx? Aku talah kau kutuk dengan kematianmu di tali gantungan; dan jiwaku yang tergantung, mati kehausan.

Bukan keselamatan yang kuharapkan, tapi pengampunan dari jiwaku yang kanak-kanak; yang tak pernah bisa merangkak—berjalan menemukan kebenaran bahwa aku harus terima atas segala nasib yang dikabarkan burung-burung untuk takdirku.

Jocasta jelitaku, aku sekarang bukan kanak-kanak lagi. Aku pergi dalam kembara jiwaku, mencari waktu yang memungkinkan kita seranjang kembali—sebagai bayi suci dalam rahimmu.

III

Suara-suara,  seperti nyanyian, suara Atigone—seperti biasa terdengar merdu, lirih dan jauh: “O, Oedipus yang malang… jika tidak Jocasta dalam ranjang dan kau tersesat ke dalam jiwanya—bagaimana aku akan ada? Bukankah sekarang kau tahu, bukan Tiresias yang menuntunmu dalam kesunyian—membawamu menjauh dari segala beban dan penaklukkan, juga bukan Ismene atau Creon, tapi aku, Antigone kesayanganmu.”

Oedipus tertatih, berdiri dalam kabut, sejengkal demi sejengkal berjalan mengikuti suara-suara Antigone:

“Oedipus yang malang… penyesalanmu dari segala dosa meniadakanku dari segala takdir untukmu. Tidakkah kau memahami? Sungguh bukan lantaran dosa-dosa itu membimbingmu pada dirimu sendiri, tapi penerimaanmu atas segala, juga atas dosa dan kepahlawananmu—bahwa kau bahkan tak kuasa atas dirimu sendiri!”

“Dan padaku, Oedipus sayangku, kuterima nasib dari takdirku, untuk melepaskanmu sendirian, mengantarkanmu ke kembara kesunyian: kuterima takdirku untuk melihat semua penderitaan dan kemalangan pada nasib dari takdirmu… ini lah penderitaanku yang lebih dalam dari deritamu. Betapa kanak-kanaknya jiwamu, dan karenannya kau mungkin diselematkan”. (*)

——————————————————————–

*Terinspirasi dari naskah drama “Oedipus” Karangan André Paul Guillaume Gide

 Jakarta, 23 November 2016

@sabiqcarebesth

Continue Reading

Cerpen

K

mm

Published

on

Putra Marenda

Saat aku terbangun tiba-tiba saja aku berada ditempat ini. Padahal ingatan terakhirku, aku berada di rumah sakit dengan tangan terinfus, serta ada beberapa kerabatku yang menungguiku. Aku berada disini karena aku merasa sakit di bagian perut. Kalau kata dokter sakit diperutku karena aku hanya memiliki satu ginjal. Ya, aku pernah melakukan donor ginjal, kepada temanku. Kembali ke tempat dimana aku sekarang. Tempat ini bertembok warna putih, dimana tidak ada hiasan atau peralatan apapun. Televisi tidak ada. Kulkas tidak ada. AC tidak ada. Tapi mengapa tempat ini sudah dingin? Atau mungkin jangan-jangan kamar rumah sakitku sedang direnovasi? Tidak-tidak, mungkin aku ini cuma bermimpi.

Aku yang tertidur diranjang yang super nyaman ini tidak merasakan bahwa aku sedang merasakan sakit. Bahkan aku merasakan sangat sehat. Tubuhku sangat leluasa untuk digerakan. Aku pun bisa merasakan sendi-sendiku bergerak sesuka ku tanpa perlu menahan rasa sakit dibagian perut. Disaat aku menikmati kesembuhanku ini tiba-tiba saja seperti ada yang melayang dihadapanku. Aku begitu kaget. Bagaimana bisa, benda itu bisa melayang, jangan-jangan aku diganggu setan. Aku tediam sejenak melihat benda itu

Benda yang melayang itu kunci. Berbentuk huruf K. Aku pun gemetar ketika ingin mengambilnya yang mengambang diudara. Dengan penuh kecemasan ku ambil kunci berhuruf K itu. Akhirnya kunci telah ku ambil.

Kunci apa ini?

            Kenapa berhuruf K?

Tanyaku saat itu. Ruangan itu sangat sepi. Jelas saja tidak ada yang menjawab pertanyaanku tadi. Tapi sebentar, seperti nya aku mendengar suara sesuatu. Aku mendengarkan baik-baik asal suara itu. Seperti nya ada suara gemricik air ataupun suara burung-burung bersahutan. Akhirnya aku mengerti asal suara itu yaitu dibalik pintu itu. Aku pun beranjak dari ranjang dan perlahan mendekati pintu itu. Langkah demi langkah, pintu itu makin dekat saja. Ketika telah sampai aku pun memandangi sejenak kunci berhuruf K. Apa iya cocok. Pikirku. Kemudian ku coba memasukan kunci berhuruf K. Bles. Benar cocok kunci K dengan pintu tersebut. Ku putar kanopi nya sekali. Cekrik. Belum tebuka, kuputar sekali lagi dan pintu pun terbuka.

Aku tediam untuk beberapa saat. Aku terus mengucek mataku. Seolah ini majinasi. Benar-benar mimpi indah, lalu aku pandangi kunci berhuruf K, mungkin saja K berarti keindahan, kebahagiaan atau kenikmatan. Entahlah ini sangat indah!. Yang aku lihat sekarang ialah panorama hutan yang masih belum terjamah dengan disisi utaranya terdapat air terjun yang suara air jatuh nya sangat memikat hati. Belum lagi burung-burung yang beterbangan. Dan itu yang dipohon, Burung Cendrawasih!. Astaga, burung surga, apa aku ini disurga?

 Tanah disini berwarna merah, dengan pohon yang tertanam ialah pohon pinus yang amat banyak. Aku mulai berjalan untuk memasuki hutan. Aku lebih tertarik pergi ke hutan daripada air terjun karena aku rasa aku dapat bertemu hal-hal indah disana. Aku pun terus berjalan ke barat. Sepanjang perjalanan ku, dilangit dipenuhi burung cendrawasih beterbangan tidak malu-malu. Sayapnya aku suka sangat mengembang. Satu lagi keindahan tempat ini, buah seperti ditebar di batang pohon pinus, bagaimana bisa ya, aku tidak habis pikir bisa seperti itu. Aku  yang terpesona dengan daerah ini, terus saja jalan memasuki hutan. Namun tiba-tiba saat aku tengah berjalan, ada tangan yang menyentuh bahuku sembari memanggil namaku.

“Heri?” Aku pun merespon dengan berbalik badan.

“Agung? Fahmi ? Wah apa kabar kalian?”

Aku tidak menyangka ternyata aku bertemu teman lamaku Agung dan Fahmi ditempat indah seperti ini.

“Kamu ngapain ke sini Her?”

“Tidak tau nih, tadi aku dapat kunci ini, aneh hurufnya K?”

Mereka yang kutunjukan kunci berhuruf K hanya saling pandang dan tiba-tiba saja mereka menjadi berwajah muram. Kami pun bercerita-cerita tentang masa lalu kami di sekolah sambil berjalan menyusuri hutan. Suatu ketika, Agung dan Fahmi pun minta izin untuk pergi dahulu, tidak bisa menemaniku lama-lama. Katanya sudah ada yang menungu dirinya dibalik pintu itu. Aku pun mengiyakan dan memberi isyarat ke mereka supaya hati-hati. Aku pun terduduk sebentar disebuah bangku yang terbuat dari pohon pinus ini sambil melihat langit-langit. Sangat indah, burung Cendrawasih tak henti-hentinya menghiasi langit.

Aku merasa bahagia disini. Tentram rasanya. Namun aku merasa kesepian, dan terbesit dipikiran, kenapa aku tidak menyusul Agung dan Fahmi saja, pintu masuknya kan ke pintu yang diseberang sana. Akhinya ku putuskan untuk pergi ke pintu itu dan memasukinya. Dan yang terjadi setelah pintu itu terbuka ialah sesuatu yang mengagetkanku.

…………..

Aku seperti tertusuk ketika membuka pintu itu. Aku bisa melihat dengan kepalaku sendiri orang-orang sedang mengelilingi manusia yang wajahnya mirip denganku, atau benar itu aku?. Orang-orang menangis tidak henti-henti. Ibu ku terlihat terpukul sambil memeluk Bapak yang terlihat seperti menahan air mata. Adik ku seperti memukul tangan-tanganku meminta agar aku bangun.

“Pak, Heri pak”

“Sabar bu, ini takdir Tuhan”

“Kakak, bangun kakak, nanti siapa yang bantuin pr adek kalo kakak gak ada”

Ucapan itu seperti menusuk ku. Aku melihat mereka sangat kehilangan. Aku melihat tubuhku kaku. Mulutku pucat dan wajahku mulai memutih. Aku telah meninggal ? Jadi yang melihat tubuhku sekarang ialah aku yang berbentuk roh? Aku ingin ikut menangis bersama kalian.

Ternyata aku telah meninggal.

Meninggal.

Meninggal.

Meninggal.

Ku ulang kata meninggal beberapa kali sampai akhirnya kata meninggal itu tidak ada artinya. Sekarang duniaku sudah beda dengan mereka. Aku berbalik arah untuk masuk ke pintu itu sekali lagi. Ternyata aku tidak mimpi. Pantas saja tubuhku tidak merasakan sakit lagi, ternyata aku sudah tidak ada ditubuhku. Sambil berjalan gontai untuk memasuki pintu yang tadi ku masuki, aku teringat satu hal. Soal Agung dan Fahmi. Ternyata aku baru ingat bahwa mereka sudah meninggal mendahului ku. Agung meninggal karena sakit dan setelah itu ia berwasiat mendonorkan kornea matanya. Sementara Fahmi meninggal karena kecelakaan saat hendak menolong anak kecil yang mau menyeberang. Aku terdiam saat itu. Tak habis pikir, apa yang sedang kulalui saat ini.

Aku pun terus melangkah menuju pintu. Langkah gontaiku ini akhirnya sampai juga di depan pintu dan ku buka pintu itu. Ketika pintu terbuka dan aku mulai memasukinya, ternyata ada dua orang yang sudah menantiku  sambil bicara:

“Darimana saja ? kami sudah menunggu lama”

Dua orang itu berbaju putih, dan bermuka kembar dengan jenggot yang panjang.

Mereka lalu berjalan disampingku. Aku pun akhirnya bertanya kepada mereka.

“Apa K itu artinya Kematian?”

Mereka hanya tersenyum dan hanya menjawab.

“Kamu akan kami antar ke taman kebahagiaan”

Itu jawaban mereka.

Taman kebahagiaan ? Apa maksud nya?

Jadi yang benar K itu Kematian atau Kebahagiaan? Atau mengartikan keduanya? Kematian adalah kebahagiaan, atau kebahagiaan adalah kematian? Entahlah apa itu sebutannya, yang pasti aku tidak menyesal pernah mendonorkan ginjalku untuk seseorang, karena balasannya lebih dari yang aku harapkan. Balasannya ialah huruf K.

Kemenangan.

(*)

Putra Marenda. Penulis cerpen ini merupakan penulis yang sudah mengeluarkan buku dengan judul “Jejak Langkah yang Kau Tinggal” yang terbit pada Agustus 2016 oleh penerbit Ellunar. Penulis lahir di Bojonegoro, 11 Maret 1996. Penulis sekarang sedang menempuh kuliah di UPN “veteran” Yogyakarta jurusan teknik Geofisika.

Continue Reading

Trending