Connect with us
Lusifer Lusifer

Cerpen

Lusifer

mm

Published

on

RASA TAKUT seorang Andrea Tafi, pelukis kanvas dan mozaik dari Florence, terhadap setan-setan neraka pastilah bukan tanpa alasan. Apalagi pada waktu malam, saat yang biasanya membawa kemenangan-kemenangan gemilang bagi para penghuni neraka itu. Pada zamannya, para setan neraka punya alasan yang cukup kuat untuk lebih membenci para seniman pelukis kanvas, sebab justru mereka itulah yang paling berhasil merenggut jiwa-jiwa dari jerat penghuni neraka itu. Dengan satu lukisan kecil saja, para seniman itu sanggup meluputkan lebih banyak jiwa yang tersesat daripada yang sanggup dihasilkan oleh seorang pastor dengan ratusan khotbah yang hebat.

Dan kita tidak sangsi lagi. Seorang rahib yang ingin menanamkan rasa ngeri dan takut menyangkut masalah keselamatan jiwa ke dalam hati para umatnya, pastilah akan menggambarkan dengan sebisa-bisanya suasana “hari penuh murka serta ratap” yang mengisi seluruh muka bumi ini, yang hancur oleh api menurut kesaksian Daud dan Sybilla. Dia juga akan mengumandangkan suaranya yang tegas dan pasti, sambil menudingkan tangan ke bawah seperti yang dilakukan Mikhail[1] tatkala mengenyahkan Lusifer dan konco-konconya.

Akan tetapi semua itu lebih baik daripada semacam konser kemarahan yang tak punya arti apa-apa. Padahal sebuah lukisan misalnya, yang terpampang di tembok kapel[2] atau biara, yang memperlihatkan Kristus duduk di sebuah takhta kebesaran untuk mengadili orang hidup dan mati, sanggup berbicara terus-menerus dan tak henti-hentinya di depan orang-orang berdosa; secara visiual ia mampu menyadarkan para pendosa akan dosa-dosa yang pernah mereka lakukan dengan mata atau indra-indra lainnya. Ini dapat Anda saksikan pada lukisan misteri Pengadilan Terakhir karya seniman-seniman besar di Gereja Santa Croce di Florence dan Campo Santo di Pisa. Karya-karya agung ini dikerjakan berdasarkan interpretasi atas pusi Dante Alighieri[3], seorang yang sangat terpelajar dalam Ilmu Teologi dan Hukum Kanon[4] pada masa silam. Beliau menulis tentang pengalaman pengembaraannya ke Neraka, ke Api penyucian[5] dan ke Surga. Pelukisannya menjadi begitu hidup terutama berkat jasa gadis kekasihnya Beatrice. Segala yang dilukiskan ini demikian instruktif dan benar, sehingga jauh lebih beruntunglah kita merenungkan apa yang terkandung dalam karya seni yang representatif itu daripada harus membaca seluruh riwayat yang mahaluas itu. Apalagi para pelukis kampiun dari Florence senantiasa menaruh perhatian besar untuk melukiskan pemandangan di bawah bayang pepohonan jeruk atau bunga-bunga yang menyamak. Mereka senang melukiskan gadis-gadis cantik dan pahlawan-pahlawan gagah, sementara Dewa Maut melayang-layang dengan sabitnya di depan mata mereka yang lagi asyik bercanda dalam buaian musik. Memang benar, tak ada karya yang lebih luhur daripada menyadarkan pendosa-pendosa-daging ini yang mereguk kealpaan akan Tuhan pada bibir-bibir para wanita! Maka untuk mencela ketamakan semacam ini, para seniman pelukis akan menghadirkan semacam karikatur yang menggambarkan seorang uskup[6] atau kepala biara yang mengabaikan tugas kerasulannya, lantaran suatu usaha penyogokan. Dan itulah sebabnya mengapa para setan di zaman itu adalah musuh paling besar bagi para seniman pelukis, terutama pelukis-pelukis dari Florence yang umumnya memiliki kecerdasan luar biasa. Mereka misalnya menolak setan-setan terutama dengan melukiskan setan-setan itu dalam bentuk abstrak, berkepala burung atau ikan, berbadan ular dan bersayap kelelawar. Sikap yang terasa sangat pahit ini akan nyata jelas dalam kisah Spinello dari Arezzo di bawah ini.

***

 

SPINELLO SPINELLI adalah seorang keturunan keluarga bangsawan kota Florence. Kebangsawanannya bisa dilihat jelas dari sikap hidupnya sendiri. Apalagi di zamannya, ia terkenal sebagai seniman yang paling ulung. Di Florence ia telah menggarap banyak karya agung, sedangkan dari penduduk Pisa pernah diterimanya tawaran merampungkan lukisan-lukisan tembok karya Giotto[7] di Gereja Campo Santo, suatu lukisan yang memperlihatkan orang-orang mati sedang beristirahat di tengah kembang-kembang mawar di tanah suci Jerusalem. Dan akhirnya, setelah bekerja bertahun-tahun di berbagai kota sambil mengumpulkan uang berlimpah-limpah, ingin juga ia pulang untuk sekali lagi menengok kota kelahirannya Arezzo.

Orang-orang di Arezzo pasti tak akan lupa betapa Spinello pada massa mudanya, sebagai anggota persaudaraan Santa Maria de la Misericordia, telah turut mengunjungi orang-orang sakit serta menguburkan orang-orang yang meninggal akibat mengamuknya wabah penyakit di tahun 1383. Kecuali itu mereka pun tidak lupa bersyukur padanya, sebab dengan karya-karyanya yang agung ia telah memasyhurkan kota kelahiran mereka ke seluruh pelosok Tuscani. Karena itulah ketika pulang ke Arezzo, Spinello disambut dengan penghormatan yang luar biasa.

Kemudian, ketika hari tuanya tiba, ia masih saja mengerjakan karya-karya penting bagi kota kelahirannya. Di kala itulah istrinya berkata, “Kau sudah jadi orang kaya, Spinello. Sekarang istirahatlah dan biarkan anak-anak muda yang meneruskan pekerjaanmu. Seseorang harus mau menggunakan sisa hidupnya dalam ketenangan yang manis dan religius. Itu kan namanya mencobai Tuhan bila seseorang terus saja bekerja membangun monumen-monumen baru dan megah, atau candi-candi Babel yang kafir. Nah, coba tinggalkan kotak-kotak warna dan cat-cat itu, kalau kau tak mau kedamaian batinmu dirusak olehnya!” Demikian istri seniman itu berkhotbah. Akan tetapi seniman itu pasti tak akan mau mendengarnya, karena satu-satunya yang dipikirkan olehnya hanya bagaimana ia bisa memperbaiki nasibnya dan bagaimana ia bisa masyhur kembali.

Rasa tidak puas dengan puji-pujian yang diberikan padanya, malah mendorong dia bersama penjaga-penjaga Gereja St. Agnolo mengusahakan suatu karya berharga dari kisah Malaikat Mikhail, yang harus menutupi seluruh panti-imam gereja tersebut. Untuk usaha inilah Spinello menyerahkan seluruh dirinya dengan semangat yang luar biasa besar. Berulang kali dibacanya ayat-ayat Kitab Suci yang nanti menjadi sumber inspirasinya. Dipelajarinya secara mendalam setiap baris dan setiap kata dari kutipan-kutipan yang diambilnya. Belum puas melukis sehari suntuk di sanggarnya, ia meneruskannya di tempat tidur atau di meja makan. Dan bila senja tiba, maka seraya menyusuri bukit yang dengan bangga mendukung gedung-gedung serta menara kota Arezzo, pikiran Spinello masih saja mengembara jauh-jauh bersama lukisannya. Dan kita boleh yakin, bahwa kita malaikat agung itu telah terpancang-dalam di kepalanya, tatkala dia mulai membuat sketsa kejadian-kejadian itu dengan kapur merah di atas tembok. Segera saja garis besar lukisan itu selesai. Kemudian seniman itu akan menyerahkan seluruh waktunya untuk menggarap kisah agung itu di atas altar utama gereja. Lukisan itulah yang nantinya akan membiaskan keindahan paling cemerlang dari semua hasil karyanya. Karena demikian maksud seniman itu untuk mengagungkan tokoh pemimpin pasukan surgawi itu demi kemenangan gemilang yang diperolehnya sebelum awal zaman. Maka dilukisnya Malaikat Mikhail yang berjuang melawan seekor naga besar berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, sedangkan di bawahnya dihadirkan dengan indahnya Sang Lusifer, pangeran para setan, dalam rupa raksasa yang sangat menakutkan. Lukisan tersebut seolah-olah hidup di bawah komando tangannya. Sukses yang dicapai dengan lukisan ini ternyata jauh melampaui harapannya sendiri. Wajah Sang Lusifer tampak begitu seram dan mengerikan,sehingga tak seorang pun dapat melepaskan diri dari mimpi yang menakutkan, yang terbayang dari air mukanya. Wajah itu seakan mengejar-ngejar sang pelukisnya ke mana saja, dan bahkan terus membuntutinya ketika ia pulang ke rumah.

***

 

LEWAT sejurus malam pun turun. Pelukis tua itu membaringkan tubuhnya di samping istrinya, lalu segera tertidur.

Dalam waktu singkat tampaklah padanya seorang malaikat serupa Mikhail,namun sekujur tumbuhnya berwarna hitam.

“He, Spinello,” kata malaikat itu. “Aku ini Lusifer. Coba kaukatakan padaku, di mana kau pernah melihat aku, sampai kau bisa melukiskan aku dengan rupa yang begitu keji?”

Pelukis tua itu menjawab dengan gemetar, bahwa ia belum pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dia belum pernah turun ke Neraka seperti Dante. Akan tetapi, saat membuat lukisan Sang Lusifer, dia hanya berusaha menggunakan garis-garis dan warna sekedar untuk menyatakan betapa kejinya dosa.

Sang Lusifer mengangkat bahu tak peduli, dan Bukit San Gemingnano rasanya turut terangkat dan bergoyang.

“Spinello,” berkata Lusifer lagi, “coba kaupikir sedikit! Aku bukan seorang filsuf, akan tetapi Dia yang kepada-Nya kau selalu berdoa, Dia mengetahui semuanya.”

Karena tak mendapatkan jawaban, Sang Lusifer melanjutkan lagi.

“Spinello, kau telah membaca buku-buku yang menulis tentang diriku, bukan? Kalau begitu kau tahu keberanianku, dan bagaimana aku telah menolak kuasa surga atas bumi ini. Sebuah pengalaman yang hebat dan unik memang, sekiranya para raksasa dalam rupa seperti ini tidak menyerang Yupiter, seperti kau sendiri saksikan terpampang pada batu-batu marmer di sebuah kuburan  purba.”

“Benar,” jawab Spinello. “Aku sudah melihat kuburan itu. Bentuknya menyerupai sebuah drum besar, di dalam Gereja Santa Reparata di Florence. Sebuah karya raksasa dari zaman Romawi memang!”

“Tetapi raksasa-raksasa itu tidak dilukiskan dalam rupa katak-katak atau bunglon atau semacam makhluk yang menakutkan,” sambung Lusifer tersenyum.

“Memang benar begitu,” jawab pelukis tua itu meng-iyakan. “Tetapi, “lanjutnya, “jangan lupa, mereka sama sekali tidak menyerang Tuhan yang benar. Mereka hanya menyerang berhala palsu dan orang-orang kafir. Itu lain. Yang jelas, kau sendiri telah mengibarkan panji-panji pemberontakan menentang Raja Surga dan Bumi yang sebenarnya.”

“Yah, itu memang kuakui, Spinello!” jawab Lusifer. “Lalu berapa jenis dosa yang mau kautunduhkan padaku karena itu?”

“Tujuh,” jawab pelukis tua itu dengan pasti. “Dan itu sudah cukup. Bahkan semuanya adalah dosa-dosa pokok.”

“Aha, tujuh!” teriak Lusifer. “Baiklah. Angka itu memang angka istimewa dari Kitab Kanon. Dan segala sesuatu dari hidupku sesungguhnya telah berlangsung dalam angka itu juga. Dan sedikitnya Tuhan juga begitu. He, Spinello, kauanggap aku ini sombong, pemarah, dan suka cemburu. Apa kaukira aku ini ternak juga? Tapi tak apalah, ketamakan itu memang suatu kebajikan bagi para pangeran. Kalaupun kau ingin mempersalahkan aku dalam hal tamak dan nafsu, aku sendiri tak keberatan. Sekarang tinggal soal kemalasan. “Ketika mengucapkan kata itu, Lusifer menyilangkan tangan-tangannya ke dada, lalu sambil menggelengkan kepala dilemparkannya ikal rambutnya ke belakang, dan dengan muka yang menyala kemerahan ia berkata lagi pada pelukis tua itu:

“Katakanlah padaku sekarang, hai Spinello, apa kau betul-betul menganggap aku ini malas? Atau kau kira aku ini pengecut berangkali? Apa kaukira aku masih kurang berani dalam pemberontakan itu? Haah, tidak, bukan? Tetapi kau sudah melukiskan aku dalam rupa seorang pahlawan yang berwajah sombong dan angkuh! Kau tak perlu mempersalahkan seorang pun, bahkan setan pun tidak! Akan tetapi, apa kau tak bisa menyadari bahwa dengan caramu itu kau telah menghina Dia yang selalu kau sembah dan muliakan? Yaitu dengan menghadapkan Dia dengan musuh yang hina, seekor binatang yang teramat keji? He, Spinello, sebagai manusia dari abad ini kau terlampau tolol! Dan sebenarnya aku harus menjewer kupingmu, seperti seorang guru terhadap muridnya yang tolol!”

Mendengar ancaman itu, dan melihat kedua tangan Lusifer sedang terentang lurus ke arahnya, Spinello memukul-mukul kepalanya dan menyerit-jerit ketakutan.

Istrinya yang baik segera bangun dan menanyakan keadaannya. Maka dikisahkannya oleh seniman tua itu betapa dia baru saja melihat Lusifer, dan betapa mengerikan mendengar dia berbicara.

“Kan sudah kubilang,” jawab istri yang setia itu. “Aku sudah tahu kalau semua tokoh yang kaulukis di tembok itu akhirnya akan membuat kau gila.”

“Ah, tidak! Aku tidak gila! Tidak!” protes seniman itu. “Aku betul-betul melihatnya dengan mata kepalaku sendiri…….. Tampangnya boleh juga, meski agak angkuh dan muram. Dan kau boleh tahu, yang pertama-tama kukerjakan besok pagi adalah menghapus lukisan yang mengerikan di tembok itu, kemudian akan kuganti dengan bentuk lain yang kuperoleh dalam mimpi tadi. Sebab, bagaimanapun, kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa, bahkan setan sekalipun tidak.”

“Ah, baiknya kau tidur lagi, Spinello!” bentak istrinya. “Omongamu seperti orang sinting saja ……. Dan kafir lagi!”

Spinello tua itu kemudian mencoba bangun, tetapi tenaganya hilang sama sekali. Ia terjatuh ke atas bantal tak sadarkan diri. Demam tinggi yang menyerangnya selama beberapa hari akhirnya merenggut hidupnya.

 

(Penerjemah: Frans Beding)

ANATOLE FRANCE

(Nobel Prize for Literature 1921

 

Lahir di Paris, Prancis tahun 1844 dan meninggal tahun 1924, France, atau yang nama lengakpnya Jacques Anatole Francois Thibault, terutama dikenal lewat karya-karya yang bernada humanisme dan skeptisisme, di samping karya-karyanya menampakkan ironi yang tajam. Ia pernah bergabung dan menjadi anggota Academi Francaise.

France dikenal sebagai novelis, penyair, dramawan, dan kritikus sastra. Tetapi novel-novelnya mungkin adalah prestasinya yang paling baik, diantaranya yang menonjol adalah Le crime de Sylvestre Bonnard (1881), Le livre de mon ami (1885), Crainquebille dan Les dieux ont soif.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusasteraan pada France sebagai pengakuan: “…… atas prestasi sastranya yang cemerlang, disifati keluhuran gaya, kecintaan kemanusiaan yang mendalam, anggun dan memiliki temperamen Gallic sejati…….”

France adalah sastrawan keempat Prancis (setelah Sully Prudhomme tahun 1901, Frederic Mistral tahun 1904, dan Romain Rolland tahun 1915) yang memperoleh penghargaan tersebut.

[1] Mikhail: malaikat yang disebut dalam Kitab Perjanjian Lama (Old Testament) sebagai malaikat yang mengusir Adam dan Hawa dari Taman Firdaus.

[2] Kapel: ruang doa.

[3] Dante Alighieri: penyair Italia, hidup antara tahun 1265-1321.

[4] Hukum Kanon: prinsip-prinsip/aturan dasar dalam Gereja Katolik yang didasarkan pada beberapa kitab dari Kitab Suci.

[5] Api Penyucian: ruang antara Surga dan Neraka yang diyakini sebagai tempat penantian bagi jiwa-jiwa (spirits) sebelum terangkat ke Surga.

[6] Uskup: pemipin Gereja Katolik di suatu wilayah dalam lingkup negara.

[7] Giotto: pelukis dan arsitek Italia, hidup antara tahun 1226-1337.

Continue Reading

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Classic Prose

Trending