Connect with us

Cerpen

Liliana Heker: Pesta Yang Tercuri

mm

Published

on

Segera setelah di rumah Luciana, ia langsung pergi ke dapur untuk melihat apakah monyet itu memang ada. Memang demikian: betapa leganya! Ia tak mau mengakui bahwa ia benar. Ibunya telah menyindir, Monyet pada hari ulang tahun?Pergilah kamu, mau saja diohongi!  Ibu marah, tapi bukan karena monyet, pikir si gadis; tapi karena pesta itu.

“Aku tak ingin kamu pergi,” sang ibu berkata kepadanya. “itu pesta orang kaya.”

“Orang kaya masuk surga juga,” kata si gadis itu yang belajar  agama di sekolah.

“Lupakan surga,” kata sang ibu. “Masalahmu, nona muda, adalah kamu ingin kentut lebih tinggi dari pantatmu.”

Gadis itu tidak setuju pada cara bicara ibunya. Ia masih berumur sembilan tahun dan salah satu yang terbaik di kelasnya.

“Aku pergi karena aku diundang,” katanya. “Dan aku diundang karena Luciana adalah temanku. Begitu”

“Ah, ya, temanmu,” gerutu ibunya. Ia berhenti sejenak. “Dengar, Rosaura, “katanya kemudian. “Yang ini b uakn temannmu. Kamu tahu apa arti dirimu bagi mereka? Anak perempuan seorang pembantu.”

Rosaura mendelik: ia tak akan menangis. Lalu ia berteriak: “Diam! Ibu tak tahu apa-apa tentang teman!”

Setiap sore, ia terbiasa pergi kerumah Luciana dan mereka berdua akan menyelesaikan pekerjaan rumah mereka sementara ibu Rosaura membersihkan rumah. Mereka minum teh di dapur dan saling menceritakan rahasia masing-masing. Rosaura menyukai semua yang ada di dalam rumah besar itu dan ia juga menyukai orang-orang yang tinggal di sana.

“Aku akan datang kerena itu akan menjadi pesta paling indah di seluruh dunia. Begitu kata Luciana padaku. Akan ada seorang pesulap, dan ia akan membawa seekor monyet  dan semuanya.”

Sang ibu berjlan keliling untuk mendapatkan pandangan yang bagus atas anaknya dan dan dengan kesal kerkacak pinggang.

“Monyet pada hari ulang tahun?” katannya. “Pergilah kamu,  mau saja dibohongi!”

Rosaura merasa sangat tersinggung. Ia pikir ibunya tidak adil dalam menuduh orang lain telah berbohong hanya karena mereka kaya. Tentu saja Rosaura juga ingin menjadi kaya. Bila suatu hari kelak ia dapat tinggal di sebuah istana yang indah, apakah ibunya akan berhenti menyayanginya? Ia merasa sangat sedih. Ia ingin datang kepesta itu lebih dari apapun di dunia.

“Aku akan mati kalu aku tak datang,” ia berbisik, nyaris tanpa menggerakan bibirnya.

Dan ia tak yakin apakah kata-katanya telah didengarkan, tepi pada pagi hari sebelum pesta itu ia menemukan ibunya telah memberi baju Natal-nya dengan kapur barus. Dan pada sore harinya, setelah berkeramas, ibunya membilas rambutnya dengan sari buah apel agar rambutnya tampak indah dan berkilau. Sebelum berangkat, di depan cermin Rosaura mengagumi dirinya sendiri, dengan gaun putih dan rambutnya yang berkilau, ia berpikir bahwa ia sangat cantik.

Senora Ines tampaknya juga menyadari hal itu. Segerala setelah ia melihat Rosaura, ia berkata: “Hari ini kamu cantik sekali Rosaura.”

Rosaura menjumput gaunnya yang berkapur barus dan berjalan ke dalam pesta itu dengan langkah-langkah yang mantap. Ia mengucapkan “hai” kepada Luciana dan bertnaya tentang monyert itu. Luciana memasang tatapan rahasia dan berbisik di telinga Rosaura: ia ada di dapur. Tapi jangan beri tahu siapapun, karena itu kejutan.”

Rosaura ingin memastikan. Dengan hati-hati ia memasuki dapur dan di sana ia melihat monyet itu : sedang tercenung di dalam kandangnya. Monyet itu tampak sangat lucu sehingga gadis itu berdiri di sana untuk beberapa lama, melihatnya, dan kemudian, setiap kali ada kesempatan, ia menyelip keluar dari pesta dan mengaguminya. Rosaura adalah satu-satuntya yang diizinkan ke dapur. Sonora Ines telah berkata: “Kau ya, tapi yang lain tidak, mereka terlampau riuh, mungkin saja mereka memecahkan sesuatu.”

Rosaura belum pernah memecahkan sesuatu. Ia bahkan membawa guci jus jeruk, membawanya dari dapur ke ruang makan malam. Ia memegangnya dengan hati-hati dan tak menumpahkan satu tetes pun. Dan Sonora Ines telah berkata: “Apa kamu yakin kamu dapat membawa guci sebesar itu?” tentu saja ia mampu. Ia bukan orang yang memiki tenaga kue, seperti yang lain. Seperti gadis beramput pirang dengan pita di kepalanya. Segera setelah ia melihat Rosaura, gadis berpita itu berkata:

“Dan kamu? Siapa kamu?”

“Aku teman Luciana,” kata Rosaura.

“Bukan,” kata gadis berpita itu, “kamu bukan teman Luciana karena aku sepupunya dan aku kenal semua temannya. Dan aku tak kenal kamu.”

“Lalu apa,” kata Rosaura, “aku datang kesini setiap sore dan kami mengerjakan pekerjaan rumah kami bersama-sama.”

“Kamu dan ibumu mengerjakan pekerjaan rumah kalian bersama-sama?” kata gadis itu sambil tertawa.

“Aku dan Luciana mengerjakan pekerjaan rumah kami bersama-sama,” kata Rosaura dengan sangat serius.

Gadis berpita itu mengangkat bahunya.

“Itu tidak menjadikanmu teman,” katanya. “Apakah kalian berangkat ke sekolah bersama-sama?”

“Tidak.”

“Jadi dari mana kau mengenalnya?” kata gadis itu dengan tidak sabar. Rosaura teringat kata-kata ibunya dengan sangat baik. Ia menghela nafas dalam-dalam.

“Aku anak karayawan,” katanya.

Ibunya telah berkata dengan sangat jelas: “Kalau ada yang bertanya, kamu bilang bahwa kamu anak karyawan, itu saja.” Ibu juga memberitahunya agar menambahkan: “Dan bangga karenanya.” Tapi Rosaura berpikir bahwa dala hidupnya ia taka akan pernah berani mengatakan hal semacam itu.

“Karyawan apa?” kata gadis berpita. “karyawan di sebuah toko?”

“Bukan,” kata Rosaura dengan marah. “Ibuku tak menjual apapun di toko manapun.”

“Jadi bagaiman ia dapat menjadi seorang karyawan?” kata gadis berpita.

Tiba-tiba Senora Ines datang sambik berkata shhh shhh,  dan bartanya apakah Rosaura keberatan membantu mengeluarkan hotdog, karena ia lebih mengenal rumah itu ketimbang orang lain.

“Lihat?” kata Rosaura kepada gadis berpita, dan ketika ada yang melihat, ia mendandang tulang keris gadis itu.

Selain tentang gadis berpita itu, semua menyenangkan. Yang paling ia sukai adalah Luciana, dengan mahkota emas ulang tahunnya; dan lalu anak-anak lelaki. Rosaura memenangkan lomba lari karung, dan tak ada yang berhasil menagkapnya ketika bermain kejar-kejaran. Ketika mereka berpencar menjadi dua tim untuk bermain tebak-tebakan, semua anak lelaki ingin ia berada di sisi mereka. Rosaura merasa ia belum pernah demikian bahagia di dalam hidupnya.

Tapi yang terbaik masih belum datang. Yang terbaik datang setelah Luciana meniup lilin. Pertama, kue. Senora Ines telah memintanya membantu memutar kue itu, dan Rosaura melaksankan tugas itu dengan gembiras, karena setiap orang berteriak kepadanya “Aku! Aku!” Rosaura teringat sebuah cerita di mana ada seorang ratu yang memiliki kekuasaan untuk menentukan hidup mati para bawahannya. Ia selalu menyukai hal itu, memiliki kekuasan menentuka hidup mati. Kepada Luciana dan para anak lelaki ia memberi potongan yang terbesar, dan kepada gadis berpita ia memberi seiris kecil hingga seseorang dapat melihat melalui irisan itu.

Setelah kue, datanglah sang pesulap, tinggi dan tegap, dengan topi lancip berwarna merah. Seorang pesulap sejati: ia dapat mengurai ikatan sapu tangan dengan tiupan, membuat sebuah rantai dengan rangkaian yang tak punya bukaan. Ia dapat menebak kartu apa yang ditarik dari sebuah tumpukan, dan monyet itu adalah asistennya. Ia memanggil monyet itu “partner”. “Mari sini, partner” katanya, “baliklah sehelai kartu.” Dan, “jangan lari, partner, sekarang waktunya bekerja.”

Trik terakhir sangat menakjubkan. Salah satu anak harus memegang monyet itu pada lengannya dan si pesulap berkata bahwa ia akan menghilangkan monyet itu.

“Apa, anak lelakinya?” mereka semua berseru-seru.

“Bukan, monyetnya!” si pesulap berseru balik. Rosaura berpikir bahwa ini benar-benar pesta paling menyenangkan di dunia.

Si pesulap meminta bantuan anak kecil yang gemuk, tapi bocah itu langsung ketakutan dan menjatuhkan si monyet ke lantai. Si pesulap mengambil monyet dengan hati-hati, membisikan sesuatu ke dalam telinganya, si monyet mengangguk se olah-olah ia mengerti.

“Kamu tak boleh berlaku seperti bukan seorang laki-laki kawanku,” si pesulap berkata kepada bocah kecil gemuk itu.

“Tidak laki-laki bagaiman?” kata bocah gemuk itu.

“Seorang banci,” kata si pesulap. “Duduklah.” Lalu ia memandangi semua wajah, satu demi satu. Rosaura merasa hatinya bergetar.

“Kamu, dengan mata spanyol,” kata si pesulap. Dan setiap orang melihat bahwa ia menunjuk Rosaura. Rosaura tidak takut. Ia tidak tajut keika memegang monyet itu, atau ketika si pesulap menghilangkan monyet itu; bahkan ia tidak takut ketika pada akhirnya, si pesulap mengibaskan topi merahnya atas kepala Rosaura dan mengucapkan kata-kata sihir…. dan monyet itu kelihatan lagi, bersuara dengan gembira di lengan Rosaura. Anak-anak bertepuk tangan dengan riuh. Dan sebelum Rosaura kembali ke tempat duduknya, si pesulap berkata:

“Terima kasih, putri kecilku.”

Rosaura begitu senang dengan kesopanan itu sehingga sejenak kemudian,ketika ibunya datang untuk menjemputnya, hal itu adalah pertama kali ia ceritakan kepada ibunya.

“Aku menolong si pesulap dan ia berkata kepadaku, “Terima kasih, putri kecilku.”

Adalah aneh karena sampai saat itu Rosaura telah berpikir bahwa ia sedang marah kepada ibunya. Sepanjang waktu ia membayangkan bahwa ia akan mengatakan keapda ibunya: “Lihat ‘kan kalau monyet itu bukan tipuan?” tapi ia begitu gembira sehingga ia hanya bercerita tentang si pesulap itu kepada ibunya.

Ibunya menepuk kepalanya dan berkata, “Jadi, sekarang kita adalah putri!” tapi dapat terlihat bahwa ia tersenyum. Dan sekarang mereka berdua berdiri di pintu masuk, karena beberapa saat yang lalu Senora Ines, sambil tersenyum, berkata: “Tunggu di sini sebentar.”

Tiba-tiba sang ibu tampak cemas.

“Ada apa?” tanyanya kepada Rosaura.

“Apanya yang ada apa?” kata Rosaura. “Tidak ada apa-apa; ia hanya akan memberi hadiah kepada mereka yang pulang, lihat ‘kan?”

Ia menunjuk kepada bocah gendsut dan gadis pita yang juga menunggu di sana, bersisian dengan ibu-ibu mereka. Dan ia menerangkan tentang hadiah-hadiah itu. Ia tahu, karena ia telah melihat mereka yang lebih dulu pergi sebelum dia. Ketika seorang gadis akan pulang, Senora Ines akan memberinya sebuah gelang. Ketika seorang bocah lelaki pergi, Senora Ines memberinya sebuah yoyo. Rosaura lebih memilih yoyo karena yoyo itu berkilapan, tapi ia tak menyebutkan hal itu kepada ibunya. Ibunya mungkin akan berkata: “Jadi, kenapa kau tak meminta, bodoh?” Seperti itulah ibunya. Rosaura malas menerangkan bahwa ia merasa sangat malu kalau menjadi yang paling ganjil. Ia justru berkata:

“Aku yang paling berkilauan baik di pesta itu.”

Dan ia tak berkata-kata lagi karena Senora Ines datang ke aula dengan dua buah tas, tas yang satu berwarna merah jambu dan yang satu lagi biru.

Ia mendatangi bocah gendut lebih dulu, memberinya yoyo dari tas biru, dan bocah itu lalu pergi dengan ibunya. Lalu Senora Ines mendatangi gadis berpita dan memberinya sebuah gelang dari tas merah jambu, dan si gadis kemudian pergi.

Akhirnya ia mendatangi Rosaura dan ibunya. Ia tersenyum lebara dan Rosaura menyukai itu. Senora Ines menatapanya, lalu sang ibu, dan mengatakan sesuatu yang membuat Rosaura bangga:

“Betapa hebat anakmu, Herminia.”

Dalam sekejap, Rosaura mengira bahwa Senora Ines akan memberinya dua hadiah: gelang dan yoyo. Senora Ines membungkut seolah sedang mencari sesuatu. Rosaura juga membungkuk ke depan, tapi ia tak pernah menyelesaikan gerkannya itu.

Senora Ines tidak mencari di dalam tas merah jambu. Ia juga tak mencari di dalam tas biru. Justru ia menelusur dompetnya. Di tangannya tampak dua lembar uang.

“Kamu pantas mendapatkan ini,” katanya sambil mengulurkan kedua uang itu. “Terima kasih atas bantuanmu sayang.”

Rosaura merasa tangannya membeku, terpaku rapat pada tubuhnya, dan lalu ia menyadari tangan ibunya di pundaknya. Secara insting ia merapatkan diri ke tubuh ibunya. Seluruhnya. Kecuali matanya. Mata Rosaura menatap dengan dingin dan jernih pada wajah Senora Ines.

Senora ines, tak bergerak, berdiri di sana dengan tangan terulur. Seolah-olah ia tak berani menarik tangannya lagi. Seolah-olah sebuah gerakan paling kecil akan memburaikan sesuatu keseimbangan yang manis. (*)

_____________________________________________________

*) Liliana Heker: Perempuan penulis Argentina, Liliana Heker, menebitkan kumpulan ceritanya yang pertama dan mendapat pujian,  Those Who Bebeld the burning bush,  sewaktu masih remaja. Sebgaai editor kepala majalah sastra ternama  ElOrnitorinco (The Platypus), Heker tetap membuka sebuah forum nasional untuk para penulis selama bertahun-tahun kekacauan Argentina di bawah kediktatoran militer. Dalam salah satu karyanya, ia berdebat dengan Julio Cortazar tentang peran yang tepat bagi penulis dalam sebuah masyarakat yang tertindas. Sementara Cortazar tinggal di Paris dan membela perannya sebagai seorang penulis eksil, Heker mengambil posisi yang sama dengan Nadine Gordimer: “Untuk didengar, kita harus berteriak dari dalam.” Pesta yang Tercuri (The Stolen Party), pertama terbit pada 1982, diterjemahkan dari bahasa Spanyol ke dalam bahasa Inggris oleh Alberto Miguel untuk antologinya yang berjudul Other Fires (1985)

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Classic Prose

Trending