Connect with us

Cerpen

Liliana Heker: Pesta Yang Tercuri

mm

Published

on

Segera setelah di rumah Luciana, ia langsung pergi ke dapur untuk melihat apakah monyet itu memang ada. Memang demikian: betapa leganya! Ia tak mau mengakui bahwa ia benar. Ibunya telah menyindir, Monyet pada hari ulang tahun?Pergilah kamu, mau saja diohongi!  Ibu marah, tapi bukan karena monyet, pikir si gadis; tapi karena pesta itu.

“Aku tak ingin kamu pergi,” sang ibu berkata kepadanya. “itu pesta orang kaya.”

“Orang kaya masuk surga juga,” kata si gadis itu yang belajar  agama di sekolah.

“Lupakan surga,” kata sang ibu. “Masalahmu, nona muda, adalah kamu ingin kentut lebih tinggi dari pantatmu.”

Gadis itu tidak setuju pada cara bicara ibunya. Ia masih berumur sembilan tahun dan salah satu yang terbaik di kelasnya.

“Aku pergi karena aku diundang,” katanya. “Dan aku diundang karena Luciana adalah temanku. Begitu”

“Ah, ya, temanmu,” gerutu ibunya. Ia berhenti sejenak. “Dengar, Rosaura, “katanya kemudian. “Yang ini b uakn temannmu. Kamu tahu apa arti dirimu bagi mereka? Anak perempuan seorang pembantu.”

Rosaura mendelik: ia tak akan menangis. Lalu ia berteriak: “Diam! Ibu tak tahu apa-apa tentang teman!”

Setiap sore, ia terbiasa pergi kerumah Luciana dan mereka berdua akan menyelesaikan pekerjaan rumah mereka sementara ibu Rosaura membersihkan rumah. Mereka minum teh di dapur dan saling menceritakan rahasia masing-masing. Rosaura menyukai semua yang ada di dalam rumah besar itu dan ia juga menyukai orang-orang yang tinggal di sana.

“Aku akan datang kerena itu akan menjadi pesta paling indah di seluruh dunia. Begitu kata Luciana padaku. Akan ada seorang pesulap, dan ia akan membawa seekor monyet  dan semuanya.”

Sang ibu berjlan keliling untuk mendapatkan pandangan yang bagus atas anaknya dan dan dengan kesal kerkacak pinggang.

“Monyet pada hari ulang tahun?” katannya. “Pergilah kamu,  mau saja dibohongi!”

Rosaura merasa sangat tersinggung. Ia pikir ibunya tidak adil dalam menuduh orang lain telah berbohong hanya karena mereka kaya. Tentu saja Rosaura juga ingin menjadi kaya. Bila suatu hari kelak ia dapat tinggal di sebuah istana yang indah, apakah ibunya akan berhenti menyayanginya? Ia merasa sangat sedih. Ia ingin datang kepesta itu lebih dari apapun di dunia.

“Aku akan mati kalu aku tak datang,” ia berbisik, nyaris tanpa menggerakan bibirnya.

Dan ia tak yakin apakah kata-katanya telah didengarkan, tepi pada pagi hari sebelum pesta itu ia menemukan ibunya telah memberi baju Natal-nya dengan kapur barus. Dan pada sore harinya, setelah berkeramas, ibunya membilas rambutnya dengan sari buah apel agar rambutnya tampak indah dan berkilau. Sebelum berangkat, di depan cermin Rosaura mengagumi dirinya sendiri, dengan gaun putih dan rambutnya yang berkilau, ia berpikir bahwa ia sangat cantik.

Senora Ines tampaknya juga menyadari hal itu. Segerala setelah ia melihat Rosaura, ia berkata: “Hari ini kamu cantik sekali Rosaura.”

Rosaura menjumput gaunnya yang berkapur barus dan berjalan ke dalam pesta itu dengan langkah-langkah yang mantap. Ia mengucapkan “hai” kepada Luciana dan bertnaya tentang monyert itu. Luciana memasang tatapan rahasia dan berbisik di telinga Rosaura: ia ada di dapur. Tapi jangan beri tahu siapapun, karena itu kejutan.”

Rosaura ingin memastikan. Dengan hati-hati ia memasuki dapur dan di sana ia melihat monyet itu : sedang tercenung di dalam kandangnya. Monyet itu tampak sangat lucu sehingga gadis itu berdiri di sana untuk beberapa lama, melihatnya, dan kemudian, setiap kali ada kesempatan, ia menyelip keluar dari pesta dan mengaguminya. Rosaura adalah satu-satuntya yang diizinkan ke dapur. Sonora Ines telah berkata: “Kau ya, tapi yang lain tidak, mereka terlampau riuh, mungkin saja mereka memecahkan sesuatu.”

Rosaura belum pernah memecahkan sesuatu. Ia bahkan membawa guci jus jeruk, membawanya dari dapur ke ruang makan malam. Ia memegangnya dengan hati-hati dan tak menumpahkan satu tetes pun. Dan Sonora Ines telah berkata: “Apa kamu yakin kamu dapat membawa guci sebesar itu?” tentu saja ia mampu. Ia bukan orang yang memiki tenaga kue, seperti yang lain. Seperti gadis beramput pirang dengan pita di kepalanya. Segera setelah ia melihat Rosaura, gadis berpita itu berkata:

“Dan kamu? Siapa kamu?”

“Aku teman Luciana,” kata Rosaura.

“Bukan,” kata gadis berpita itu, “kamu bukan teman Luciana karena aku sepupunya dan aku kenal semua temannya. Dan aku tak kenal kamu.”

“Lalu apa,” kata Rosaura, “aku datang kesini setiap sore dan kami mengerjakan pekerjaan rumah kami bersama-sama.”

“Kamu dan ibumu mengerjakan pekerjaan rumah kalian bersama-sama?” kata gadis itu sambil tertawa.

“Aku dan Luciana mengerjakan pekerjaan rumah kami bersama-sama,” kata Rosaura dengan sangat serius.

Gadis berpita itu mengangkat bahunya.

“Itu tidak menjadikanmu teman,” katanya. “Apakah kalian berangkat ke sekolah bersama-sama?”

“Tidak.”

“Jadi dari mana kau mengenalnya?” kata gadis itu dengan tidak sabar. Rosaura teringat kata-kata ibunya dengan sangat baik. Ia menghela nafas dalam-dalam.

“Aku anak karayawan,” katanya.

Ibunya telah berkata dengan sangat jelas: “Kalau ada yang bertanya, kamu bilang bahwa kamu anak karyawan, itu saja.” Ibu juga memberitahunya agar menambahkan: “Dan bangga karenanya.” Tapi Rosaura berpikir bahwa dala hidupnya ia taka akan pernah berani mengatakan hal semacam itu.

“Karyawan apa?” kata gadis berpita. “karyawan di sebuah toko?”

“Bukan,” kata Rosaura dengan marah. “Ibuku tak menjual apapun di toko manapun.”

“Jadi bagaiman ia dapat menjadi seorang karyawan?” kata gadis berpita.

Tiba-tiba Senora Ines datang sambik berkata shhh shhh,  dan bartanya apakah Rosaura keberatan membantu mengeluarkan hotdog, karena ia lebih mengenal rumah itu ketimbang orang lain.

“Lihat?” kata Rosaura kepada gadis berpita, dan ketika ada yang melihat, ia mendandang tulang keris gadis itu.

Selain tentang gadis berpita itu, semua menyenangkan. Yang paling ia sukai adalah Luciana, dengan mahkota emas ulang tahunnya; dan lalu anak-anak lelaki. Rosaura memenangkan lomba lari karung, dan tak ada yang berhasil menagkapnya ketika bermain kejar-kejaran. Ketika mereka berpencar menjadi dua tim untuk bermain tebak-tebakan, semua anak lelaki ingin ia berada di sisi mereka. Rosaura merasa ia belum pernah demikian bahagia di dalam hidupnya.

Tapi yang terbaik masih belum datang. Yang terbaik datang setelah Luciana meniup lilin. Pertama, kue. Senora Ines telah memintanya membantu memutar kue itu, dan Rosaura melaksankan tugas itu dengan gembiras, karena setiap orang berteriak kepadanya “Aku! Aku!” Rosaura teringat sebuah cerita di mana ada seorang ratu yang memiliki kekuasaan untuk menentukan hidup mati para bawahannya. Ia selalu menyukai hal itu, memiliki kekuasan menentuka hidup mati. Kepada Luciana dan para anak lelaki ia memberi potongan yang terbesar, dan kepada gadis berpita ia memberi seiris kecil hingga seseorang dapat melihat melalui irisan itu.

Setelah kue, datanglah sang pesulap, tinggi dan tegap, dengan topi lancip berwarna merah. Seorang pesulap sejati: ia dapat mengurai ikatan sapu tangan dengan tiupan, membuat sebuah rantai dengan rangkaian yang tak punya bukaan. Ia dapat menebak kartu apa yang ditarik dari sebuah tumpukan, dan monyet itu adalah asistennya. Ia memanggil monyet itu “partner”. “Mari sini, partner” katanya, “baliklah sehelai kartu.” Dan, “jangan lari, partner, sekarang waktunya bekerja.”

Trik terakhir sangat menakjubkan. Salah satu anak harus memegang monyet itu pada lengannya dan si pesulap berkata bahwa ia akan menghilangkan monyet itu.

“Apa, anak lelakinya?” mereka semua berseru-seru.

“Bukan, monyetnya!” si pesulap berseru balik. Rosaura berpikir bahwa ini benar-benar pesta paling menyenangkan di dunia.

Si pesulap meminta bantuan anak kecil yang gemuk, tapi bocah itu langsung ketakutan dan menjatuhkan si monyet ke lantai. Si pesulap mengambil monyet dengan hati-hati, membisikan sesuatu ke dalam telinganya, si monyet mengangguk se olah-olah ia mengerti.

“Kamu tak boleh berlaku seperti bukan seorang laki-laki kawanku,” si pesulap berkata kepada bocah kecil gemuk itu.

“Tidak laki-laki bagaiman?” kata bocah gemuk itu.

“Seorang banci,” kata si pesulap. “Duduklah.” Lalu ia memandangi semua wajah, satu demi satu. Rosaura merasa hatinya bergetar.

“Kamu, dengan mata spanyol,” kata si pesulap. Dan setiap orang melihat bahwa ia menunjuk Rosaura. Rosaura tidak takut. Ia tidak tajut keika memegang monyet itu, atau ketika si pesulap menghilangkan monyet itu; bahkan ia tidak takut ketika pada akhirnya, si pesulap mengibaskan topi merahnya atas kepala Rosaura dan mengucapkan kata-kata sihir…. dan monyet itu kelihatan lagi, bersuara dengan gembira di lengan Rosaura. Anak-anak bertepuk tangan dengan riuh. Dan sebelum Rosaura kembali ke tempat duduknya, si pesulap berkata:

“Terima kasih, putri kecilku.”

Rosaura begitu senang dengan kesopanan itu sehingga sejenak kemudian,ketika ibunya datang untuk menjemputnya, hal itu adalah pertama kali ia ceritakan kepada ibunya.

“Aku menolong si pesulap dan ia berkata kepadaku, “Terima kasih, putri kecilku.”

Adalah aneh karena sampai saat itu Rosaura telah berpikir bahwa ia sedang marah kepada ibunya. Sepanjang waktu ia membayangkan bahwa ia akan mengatakan keapda ibunya: “Lihat ‘kan kalau monyet itu bukan tipuan?” tapi ia begitu gembira sehingga ia hanya bercerita tentang si pesulap itu kepada ibunya.

Ibunya menepuk kepalanya dan berkata, “Jadi, sekarang kita adalah putri!” tapi dapat terlihat bahwa ia tersenyum. Dan sekarang mereka berdua berdiri di pintu masuk, karena beberapa saat yang lalu Senora Ines, sambil tersenyum, berkata: “Tunggu di sini sebentar.”

Tiba-tiba sang ibu tampak cemas.

“Ada apa?” tanyanya kepada Rosaura.

“Apanya yang ada apa?” kata Rosaura. “Tidak ada apa-apa; ia hanya akan memberi hadiah kepada mereka yang pulang, lihat ‘kan?”

Ia menunjuk kepada bocah gendsut dan gadis pita yang juga menunggu di sana, bersisian dengan ibu-ibu mereka. Dan ia menerangkan tentang hadiah-hadiah itu. Ia tahu, karena ia telah melihat mereka yang lebih dulu pergi sebelum dia. Ketika seorang gadis akan pulang, Senora Ines akan memberinya sebuah gelang. Ketika seorang bocah lelaki pergi, Senora Ines memberinya sebuah yoyo. Rosaura lebih memilih yoyo karena yoyo itu berkilapan, tapi ia tak menyebutkan hal itu kepada ibunya. Ibunya mungkin akan berkata: “Jadi, kenapa kau tak meminta, bodoh?” Seperti itulah ibunya. Rosaura malas menerangkan bahwa ia merasa sangat malu kalau menjadi yang paling ganjil. Ia justru berkata:

“Aku yang paling berkilauan baik di pesta itu.”

Dan ia tak berkata-kata lagi karena Senora Ines datang ke aula dengan dua buah tas, tas yang satu berwarna merah jambu dan yang satu lagi biru.

Ia mendatangi bocah gendut lebih dulu, memberinya yoyo dari tas biru, dan bocah itu lalu pergi dengan ibunya. Lalu Senora Ines mendatangi gadis berpita dan memberinya sebuah gelang dari tas merah jambu, dan si gadis kemudian pergi.

Akhirnya ia mendatangi Rosaura dan ibunya. Ia tersenyum lebara dan Rosaura menyukai itu. Senora Ines menatapanya, lalu sang ibu, dan mengatakan sesuatu yang membuat Rosaura bangga:

“Betapa hebat anakmu, Herminia.”

Dalam sekejap, Rosaura mengira bahwa Senora Ines akan memberinya dua hadiah: gelang dan yoyo. Senora Ines membungkut seolah sedang mencari sesuatu. Rosaura juga membungkuk ke depan, tapi ia tak pernah menyelesaikan gerkannya itu.

Senora Ines tidak mencari di dalam tas merah jambu. Ia juga tak mencari di dalam tas biru. Justru ia menelusur dompetnya. Di tangannya tampak dua lembar uang.

“Kamu pantas mendapatkan ini,” katanya sambil mengulurkan kedua uang itu. “Terima kasih atas bantuanmu sayang.”

Rosaura merasa tangannya membeku, terpaku rapat pada tubuhnya, dan lalu ia menyadari tangan ibunya di pundaknya. Secara insting ia merapatkan diri ke tubuh ibunya. Seluruhnya. Kecuali matanya. Mata Rosaura menatap dengan dingin dan jernih pada wajah Senora Ines.

Senora ines, tak bergerak, berdiri di sana dengan tangan terulur. Seolah-olah ia tak berani menarik tangannya lagi. Seolah-olah sebuah gerakan paling kecil akan memburaikan sesuatu keseimbangan yang manis. (*)

_____________________________________________________

*) Liliana Heker: Perempuan penulis Argentina, Liliana Heker, menebitkan kumpulan ceritanya yang pertama dan mendapat pujian,  Those Who Bebeld the burning bush,  sewaktu masih remaja. Sebgaai editor kepala majalah sastra ternama  ElOrnitorinco (The Platypus), Heker tetap membuka sebuah forum nasional untuk para penulis selama bertahun-tahun kekacauan Argentina di bawah kediktatoran militer. Dalam salah satu karyanya, ia berdebat dengan Julio Cortazar tentang peran yang tepat bagi penulis dalam sebuah masyarakat yang tertindas. Sementara Cortazar tinggal di Paris dan membela perannya sebagai seorang penulis eksil, Heker mengambil posisi yang sama dengan Nadine Gordimer: “Untuk didengar, kita harus berteriak dari dalam.” Pesta yang Tercuri (The Stolen Party), pertama terbit pada 1982, diterjemahkan dari bahasa Spanyol ke dalam bahasa Inggris oleh Alberto Miguel untuk antologinya yang berjudul Other Fires (1985)

Cerpen

Janin Badai

mm

Published

on

Oleh Ken Hanggara

Di perutku badai asing tumbuh dan beranak-pinak. Hitam, garang, dan liar. Jika ia mengamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki melayang. Ketika badai itu reda, hidupku hambar. Dan saat ia marah, aku mau mati saja.

“Badai asing melukaiku,” ujarku tersengal-sengal, “jadi kubunuh dia.”

Tapi, kata Ibu, kalau kamu bunuh badai di perutmu, bisa saja kamu yang mati. Aku takut dan belum tentu Tuhan menaruhku di surga kalau aku mati. Tapi badai ini sudah keterlaluan. Di perutku ia menggila. Tak tahu apa yang badai itu mau atau bagaimana ia beraktivitas hingga seolah-olah kulihat gambaran: lumatan nasi di lambung campur baur dengan cairan asam berlebih akibat derasnya badai.

Selama badai marah, aku melingkar di kasur, berputar-putar mirip gasing. Kadang diam dan memejamkan mata, atau mengejan dengan maksud mengusir badai itu, dengan harapan bisa kentut, meski ternyata tidak. Sakit luar biasa!

Ibu melarangku mengejan begitu, karena badai dikhawatirkan keluar lewat lubang kentut dengan kekuatan superbesar dan membikin gubuk kami roboh. Kalau rumah ini hancur, mau tinggal di mana kita? Mau menggelandang, ha?

Kubantah kata-kata Ibu. Kita tidak akan menggelandang dan rumah jelek ini tidak mungkin roboh hanya karena kentut. Tidak masuk akal. Bagaimana bisa badai dari perut gadis kurus sepertiku membuat bangunan ini roboh?

Tapi, untuk satu kata ‘logis’, badai yang tumbuh dan beranak-pinak di perut saja tidak bisa dibilang logis. Ia antara ada dan tiada. Bagi orang waras yang tidak tahu, aku pasti dianggap sinting.

“Kamu yakin ada badai di perutmu?” tanya temanku.

“Tidak sih. Di saat tertentu aku tenang. Tapi di saat lain aku mengejan-ngejan, atau berputar-putar seperti gasing. Kukira itu pertanda bahwa badai asing ini mengamuk.”

“Bagaimana kamu menyimpulkan kalau itu adalah badai?”

“Soalnya perutku seperti diputar, digiling. Kamu tahu digiling, nggak?”

Temanku tidak bisa berkata lain selain menyuruhku ke dokter. Anak ini sudah tidak beres, begitu katanya berulang-ulang, diam-diam, bisik-bisik ke yang lain; sayangnya aku dengar, Tolol!

Kataku, pergi ke dokter bukan solusi, meskipun Ibu menyarankan hal yang sama. Barangkali ahli meteorologi bisa memberiku penjelasan mengapa ada badai di perut manusia, sebuah badai yang tidak diketahui asal usulnya, yang tumbuh, berkembang, mengamuk, dan beranak-pinak di sana. Itulah kenapa kusebut dia ‘badai asing’.

Pertanyaan lain, yang sesungguhnya juga kutanyakan: Bagaimana aku yakin badai asing beranak-pinak di perutku? Aku tidak tahu. Aku semakin bingung setelah ada satu malam di mana badai itu menangisi anak-anaknya. Dia tenang dalam kondisi menangis, seperti danau di tengah hutan tanpa seekor binatang atau manusia atau pengaruh musim yang menimbulkan riak di permukaan air. Sikap menangis wanita lemah.

“Kalau badai itu menangis, aku ikut menangis. Tapi aku bingung, buat apa badai menangis? Apa badai asing ini bernyawa? Apa dia makhluk, seperti hewan, tumbuhan, manusia, jin, malaikat…”

Kurasa ini petunjuk Tuhan. Mungkin badai di perutku termasuk makhluk semacam malaikat—atau jin, tapi beda jenis. Kalau benar, ini penemuan besar. Mungkin sudah takdirnya begitu, sehingga aku lega karena ada alasan di balik misteri badai di perutku. Secara teori, badai ini tidak cuma bisa menembus benda material sebagaimana malaikat atau jin, tetapi juga memiliki akal dan nafsu dalam dirinya.

Saat pertama kuberi tahu soal badai di perutku, Ibu diam. Beberapa jam Ibu tidak bicara dan sekalinya bersuara, dia bilang tidak terima saat kukatakan badai asing bisa beranak-pinak karena dia satu dari sekian jenis makhluk di dunia ini.

“Kamu bicara apa? ‘Kan sudah Ibu bilang, kamu bawa saja ke dokter!”

“Ibu tidak tahu badai asing ini makhluk berbahaya! Dokter tidak bisa melawannya. Kalau bisa, tidak satu pun dokter di dunia ini yang meninggal!”

“Kamu ini kacau, ya!”

“Memang, Bu. Kalau badai ini ngamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki di atas. Ibu tahu, nggak? Benar-benar biadab! Beraninya main di perut. Coba berhadapan langsung, sudah kubunuh dia!”

“Ya Tuhan, cobaan apa ini!”

Ibu pergi dan membanting pintu.

Setelah itu Ibu jarang bicara denganku dan aku bergelut dengan sakit luar biasa akibat badai dalam perut yang aneh dan lama-lama menakutkan. Ini pasti ada akhirnya. Tapi, betapapun kuatnya keyakinan bahwa si badai asing makhluk bernyawa dan kelak akan mati sebagaimana janji Tuhan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan diambil, aku tidak tenang. Badai ini, jika beranak-pinak, suatu saat memenuhi seluruh bagian perut; ini juga ada waktunya. Kubayangkan lambung, usus, dan sebagainya, tak lagi cukup menampung hal lain selain badai asing dan anak turunnya. Dan badanku mungkin meledak!

Yang paling kuingat dari malam penemuanku, badai ini menangis dan memohon agar anak-anaknya tidak nakal dan kabur. Dia rela berbagi tubuh dengan mereka: “Satu sisi di puncak untukmu, Mata, Akal, Telinga. Sisi di samping untuk kalian, Jantung, Hati, Perasaan. Dan bawah badanku bagimu, Nafsu, Bencana, Aib…”

Dasar sinting! Ibu macam apa itu? Akal, perasaan, nafsu…? Jangan sok bijak, Setan! Tujuan dia menetap di perutku karena ingin menyiksaku. Mungkin badai ini semacam benalu, yang numpang hidup dalam tubuh makhluk lain, tapi tak sedikit pun memberi manfaat.

“Ya! Itulah dirimu, wahai badai asing!”

Aku sering berputar. Tubuhku tak lagi melingkar. Aku bergelinjang seperti belut di penggorengan. Aku mengejan sekuat tenaga seperti membuang tinja sebesar buaya. Ketika badai reda, tubuhku normal, tetapi pikiranku lari ke mana-mana. Aku tidak bisa menebak bagaimana mulanya badai asing tumbuh. Sesuatu yang ada pasti datang dari ketiadaan. Dulu tidak ada badai di perutku, tapi sejak lima bulan lalu, sejak badai itu datang, hidupku mulai berbeda.

“Kukira kamu perlu ke ahli meteorologi,” kata teman yang sama. “Karena asal-usul badai bisa dilacak. Badai di perutmu mungkin sama dengan badai umumnya. Mungkin ada perubahan atmosfer dalam tubuhmu, meski aku tidak yakin.”

“Dia bukan badai biasa. Dia makhluk seperti jin dan malaikat.”

“Kamu selalu sok tahu!”

“Ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena dia beranak-pinak dan menangis, dan aku juga tahu dia ingin membagi raganya untuk anak-anaknya.”

“Tak masuk akal!”

“Memangnya masuk akal, ada badai dalam perutku? Bisa bayangkan?!”

Aku mencoba cara lain, yang sudah jadi keputusan akhir. Aku tidak tahan lebih lama. Setiap badai asing mengamuk, badanku tidak lagi berputar seratus delapan puluh derajat, atau mengejan, atau menggelinjang, atau melingkar dan mengerang di kasur, tapi aku lari ke sana kemari persis orang gila, karena amukan badai sangat menyakitkan!

Aku harus bunuh badai itu.

Aku tidak yakin diriku tidak terluka oleh rencana ini, tapi badai itu bisa mati kalau aku tahu titik pusatnya.

Jadi begini, saat badai tenang, kuraba perutku, kupijat, lalu kuremas bagian-bagian tertentu. Di sanalah titik pusatnya. Aku tidak menunggu badai mengamuk. Selagi ada kesempatan, ia kubunuh pada detik itu. Bisa dengan pisau atau pedang panjang, sehingga aku menusuknya melalui pusarku dan tembus sampai punggung. Aku tak punya pedang dan tak perlu berpikir rumit untuk sekadar membunuh badai dalam perutmu, bukan?

Aku hanya perlu mencari tempat di mana ia bisa kukubur, setelah kubunuh nanti. Aku percaya kematian badai membuatnya mudah kukeluarkan. Tidak lewat lubang anus, karena anak-anak badai sungguh amat sangat banyak. Hampir tiap malam ia melahirkan anak dan membagi dalam kelompok sesuai kebutuhan fisiknya: bagian atas, samping, bawah…. Tidak heran, hari ini anak-anak itu membuatnya lebih ganas. Aku bahkan tidak yakin selamat usai membunuh badai asing itu. Tapi satu yang pasti: percobaan ini jelas membunuhnya.

Kiranya ada hal yang membuat Tuhan tersinggung, aku minta maaf. Aku penemu sekaligus pembasmi makhluk jenis baru serupa jin dan malaikat yang bisa hidup dan beranak-pinak dalam perut seorang gadis tanpa diketahui bagaimana ia bermula.

Maka dengan tenang kuucap, “Badai asing kurang ajar yang masuk ke perutku, beranak-pinak tanpa peduli betapa susah fisikku karena menampung bobotmu yang kian hari kian berat, kuucapkan selamat tinggal.”

Dalam pandangan lamur, pisauku berlumuran darah. Tidak ada makhluk serupa jin atau malaikat, atau tiupan angin hingga gubuk roboh.

Setelah perut terbelah, yang ada seonggok daging, segumpal rambut, dua bola mata, dan bau amis. Tuhan bercanda. Terbuat dari apa badai yang tumbuh dan beranak-pinak dalam perutku sih? [ ]

Gempol, 2015-2019

 

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

 

Continue Reading

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading

Cerpen

Tentang Maria, Gedung Bioskop, dan Buku Harian yang Tertinggal

mm

Published

on

Getty Images/ The Lovers by Rene Magritte

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

 

Oleh Ken Hanggara *)

Pada sore hari setelah Maria pergi, aku duduk di teras dan membuka-buka sebuah buku harian. Di sampul depan buku harian tersebut terdapat suatu cap yang dahulu aku buat di sana untuk kenang-kenangan agar Maria tak melupakanku.

“Ini hadiah dariku, Bung,” kataku kepada seorang tetangga.

“Kau yakin kalian benar-benar saling mencintai?”

Aku berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Toni tetangga baruku, dan ia belum pernah menyapa Maria. Tiga hari yang lalu Toni datang dengan membawa mobil pick up berisi berbagai perabot, dan kepadaku yang kebetulan berada di teras rumahku, ia mengaku semua benda tersebut warisan. Ia akan tinggal di rumah sebelah yang sudah sepuluh tahun lebih kosong.

Aku mengenal Toni sejak itu, dan karena ia bujangan, aku bisa mengajak pemuda itu mengobrol apa saja sampai larut malam. Maria tidak pernah mau kuajak bercumbu sebelum tidur dan itu tidak kuceritakan pada Toni.

Karena tidak pernah kuungkit-ungkit soal Maria, dan begitu tahu pasanganku pergi tanpa pamit, Toni berpikir Maria tidak benar-benar mencintaiku. Ia berkata, sambil kami melangkah ke dalam, “Kalau tidak begitu, ada sesuatu yang salah.”

Aku berhenti dan bermenung di depan foto diriku dan Maria yang berdiri sambil berpelukan di depan gedung bioskop tujuh tahun lalu, waktu kami pengantin baru. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya sadar ada Toni di sini, dan kujawab, “Sebetulnya tidak ada yang salah.”

Aku tahu ada yang beda di wajah Toni, dan kukira dia tidak enak saja padaku yang lebih tua beberapa tahun, tapi sudah dituduh macam-macam. Soal asmara bagi beberapa orang bisa jadi sensitif. Mungkin karena itu Toni memutuskan diam.

Kami tidak berkata apa-apa sampai kuajak Toni ke ruang tengah. Ada lebih banyak fotoku dan Maria dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang sengaja dibuat khusus untuk mengenang bahwa kami tidak akan berubah soal cinta.

“Foto-foto macam ini,” jelasku pada Toni, yang terlihat agak lega, karena aku bisa bersikap santai, “dimulai dari ketidaksengajaan. Itu foto waktu kami pertama jadian.”

Kutunjuk sebuah foto, dan kemudian jariku beralih ke foto lain di samping kanan foto tadi.

“Ini setahun pertama kami jadian. Posisiku dan Maria terlihat sama seperti di hari ketika kami bersumpah akan terus bersama. Dia di kanan dan aku di kiri. Kami tetap berpelukan. Lihat, senyum kami juga sama. Ketika itu Maria bilang, ‘Aku tidak mau kita pacaran, dan kelak selesai begitu saja tanpa ada yang bisa dikenang.’ Maka kusodorkan ide foto dengan pose yang sama dari tahun ke tahun, dan perempuanku itu setuju. Dan kini, kamu lihat hasilnya!”

Toni mengangguk-angguk selagi kujelaskan itu. Ia sesekali bicara soal keakuratan senyum kami.

Senyumku dan Maria dari tahun ke tahun nyaris tak pernah terlihat beda dari foto di tahun sebelum dan sesudahnya. Bagi Toni, merancang foto seperti ini tidak semudah yang orang pikir, apalagi yang kami lakukan melebihi dari foto dengan pose tunggal. Yang kami lakukan membeku untuk urusan asmara. Ada beberapa yang beda di wajahku, yang jadi agak bulat, tapi senyumku dan Maria tak pernah beda.

Lalu kami melompat ke topik lain soal ayah dan anak di suatu belahan bumi, yang berfoto dengan pose tunggal setiap tahunnya, dan ketika si bocah semakin lama semakin besar, posisi ayah yang menggendong anaknya dapat dibalik sewaktu-waktu.

“Di foto kalian, tidak ada yang bakal terbalik, sebab kalian saling berpelukan, dan kita bisa memeluk siapa pun tanpa harus menjadi kuat. Apa yang tadi sempat kukatakan soal kalian yang sama-sama saling mencintai, harus kutarik dan aku menyesal sudah mengatakannya,” tutur Toni dengan memandangku lesu.

Aku mengangguk. Urusan percintaan saat manusia sudah berusia tiga puluh ke atas, atau empat puluhan, atau bahkan lima puluh hingga seratus tahun, sangat berbeda dari kisah cinta yang pada umumnya orang percayai.

“Aku dan Maria sering bertengkar dari waktu ke waktu setelah tahun keenam kami. Bayangkan, itu baru enam tahun kami menikah. Aku menikahi Maria pada saat umurku dua puluh delapan, dan dia dua puluh tujuh. Jadi, sekarang ini kami masih cukup muda, padahal kenyataannya aku dan Maria merasa sama-sama menua.”

Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Kuajak Toni berjalan lagi ke depan setelah puas melihat hampir semua fotoku dan Maria yang ada di ruang tengah.

Begitu aku ingat sudah menunjukkan foto-foto kami dengan pose tunggal kepada seorang tetangga baru, aku berbelok ke kamar dan mencari sesuatu di sana.

“Kau tunggu di depan,” kataku pada Toni.

Tak butuh waktu lama untuk tahu betapa Maria sudah membawa kamera dan setiap file dalam laptopku yang menyimpan seluruh foto dengan pose tunggal tadi. Itu adalah bukti untuk, paling tidak, dua kemungkinan. Pertama, Maria tidak ingin melupakanku sehingga foto-foto yang kami buat akan ia simpan selamanya meski kami tak bersama. Kedua, ia hapus seluruh file tersebut sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara kami menyimpan cinta yang dulu begitu kami agungkan.

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

Di gedung bioskop,” desisku.

Itulah potongan kalimat pertama di buku harian Maria. Ia pernah bilang bahwa ia sengaja memindah catatan hariannya ke buku baru, setelah ada lelaki yang memenuhi kebutuhan cintanya, yakni aku. Jadi, hari ketika kami berdua bertemu itu Maria jadikan halaman pertama di buku harian barunya yang tebal.

Aku pernah bertanya, “Kamu menyiapkan buku setebal itu untuk tahun-tahun yang manis bersama orang paling beruntung, ya?”

“Aku yakin buku ini tidak akan pernah putus, karena ketika dia sudah kehabisan halaman kelak, akan kutambah dengan buku harian yang juga tebal, lalu mereka berdua kujahit, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan? Kelak anak cucu kita akan tahu betapa nenek moyang mereka adalah penulis yang romantis!”

Aku bahagia dan merasa terhormat mendapat tempat seistimewa itu di hati Maria. Dia pernah dikhianati lelaki sewaktu masih SMA, dan sejak itu hingga berumur dua puluh tujuh, tidak sekali pun jatuh cinta. Dengan kata lain, akulah pria pertama yang ia cintai setelah bertahun-tahun membenci cinta.

Di gedung bioskop, seorang lelaki datang menyapaku, dan dia bertanya film apa yang bagus ditonton seorang diri? Kalimat pertama itulah yang ditulis Maria, dan aku ingat betapa dengan konyolnya aku bertanya soal film yang baik ditonton oleh orang yang kesepian. Waktu itu pilihan filmnya hanya romansa. Aku dan Maria dengan senang hati menonton bersama. Ia mudah menerima teman baru sepertiku, yang baginya lucu. Memang ketika itu aku merasa bodoh dan lucu.

Pulang dari bioskop kami mengobrol seperti teman biasa yang baru berkenalan. Ia kumintai nomor telepon, dan sejak itu, kami sering pergi ke bioskop. Sering juga kami menonton film yang dibuat untuk mereka yang tidak punya pasangan. Film-film macam superhero dan hal-hal tak masuk akal yang cenderung kekanak-kanakan. Aku tahu film semacam itu tidak benar-benar dibuat khusus untuk mereka yang single, tetapi tentu saja aku dan Maria ketika itu senang bercanda.

Begitulah, aku membaca halaman demi halaman buku harian Maria yang ditinggal, entah sengaja atau tidak. Buku harian itu kutemukan di lantai ruang tengah, tergeletak begitu saja bersama beberapa brosur liburan murah ke luar negeri serta beberapa buah buku bacaan yang Maria sukai. Benda-benda ini tersimpan di salah satu tas yang kukira harus Maria bawa, namun tak sengaja ditinggalkan. Aku tahu dia pergi dari rumahku dengan tergesa-gesa. Tidak ada alasan lain selain karena takut aku melarangnya.

Memikirkan Maria yang merasa tidak akan ada gunanya kami hidup tanpa pernah ada calon bayi di perutnya, membuatku sedih dan mungkin baiknya aku juga berkemas malam ini dan pergi dari rumah. Aku pergi untuk mencari Maria, atau mungkin pergi ke tempat mana pun yang kusuka untuk menghibur diri. Tapi, tubuhku lemas dan tak ada kemauan mewujudkan pikiran gila apa pun.

Mungkin esok keputusan itu ada. Mungkin juga tidak. Tapi, untuk saat ini tak ada hal apa pun yang ingin kulakukan selain tetap di sini. (*)

Gempol, 2017-2019

 _______________

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending