Connect with us

Cerpen

Lensa Bertuah

mm

Published

on

Kamu telah menanggalkan semua: kebaya merah marun, sanggul, arloji imitasi, kemben hitam berenda; kecuali beban yang kautanggung. Beban yang telah lama hinggap di pundakmu, membuat hidup yang seharusnya merona semata kuyu. Kamu tersadar kamu tak boleh tidur karena pagi sebentar lagi tiba. Kamu harus menunaikan kewajiban bekerja. Kamu sedikit menyesali ajakan teman untuk menghabiskan malam di bar setelah meninggalkan resepsi pernikahan.

Oleh: Fajar Martha

___

Kamu memasuki pelataran. Sepasang kakimu yang jenjang terlihat melangkah pasti, kanan ke kiri. Namun, dari raut wajahmu, orang akan menebak yang kamu pampangkan semata ketegaran yang dipaksakan.

Kamu berhenti sebentar, melepas pengait berwarna perak yang menjepit rambutmu yang legam. Kauhela napasmu. Bukan hanya udara yang kaucoba embus, namun juga kelu di hati. Setelah bibir bawah kaugigit, kamu menghela napas lagi. Kali ini sambil memejamkan kedua mata yang berlumur maskara.

Kamu pun memasuki kamar apartemen. Tubuhmu toh masih segar seperti dulu. Cobaan hidup tak berhasil membuatmu layu. Lagi, kamu menarik napas panjang dan dalam. Tatapanmu kosong melompong. Kaugumamkan suatu kalimat seraya mendongak ke arah langit-langit kamar yang sekosong tatapan matamu. Kamu lantas menjerit. Pupuslah segala kesabaran yang sejak tadi kautahan. Air mata tumpah subuh ini.

Kamu telah menanggalkan semua: kebaya merah marun, sanggul, arloji imitasi, kemben hitam berenda; kecuali beban yang kautanggung. Beban yang telah lama hinggap di pundakmu, membuat hidup yang seharusnya merona semata kuyu. Kamu tersadar kamu tak boleh tidur karena pagi sebentar lagi tiba. Kamu harus menunaikan kewajiban bekerja. Kamu sedikit menyesali ajakan teman untuk menghabiskan malam di bar setelah meninggalkan resepsi pernikahan.

Sambil tetap menghalau kantuk, kamu termenung di bibir kasur yang semrawut. Sengaja tak kaurapikan karena jika rapi, kamu pasti dikalahkan kantuk. Kamu belum siap kehilangan pekerjaan.

Kamu belum siap kehilangan pekerjaan setelah empat bulan yang lalu kehilangan lelaki yang selama ini membuat hidupmu berpijar.

Namamu Silvia dan aku sungguh-sungguh mencintaimu.

***

 

Aku duduk berpangku tangan di bilik berbentuk oval. Seperti daerah asalku, Sungai Ungu, ruangan ini juga memendarkan warna yang sama. Dingin. Sunyi. Memang ada suara, tetapi hanya dengung konstan dan monoton sehingga seperti tiada.

Telah lama aku berada di ruangan ini, tanpa memedulikan lapar dan kantuk. Sepertinya kebutuhan ragawi sudah tak bisa lagi menyandera diri ini. Kini segalanya semata-mata tertuju padamu, Silvia.

Terdengar derit pintu. Seperti bungker, pintu bilik ini berada di langit-langit. Setelah pintu ditutup aku melihat bayangan seorang pria. Ketika akhirnya ia menapaki tangga turun, wajahku pun bersemu. Akhirnya aku tahu kepada siapa bisa bercerita.

“Namaku Iqbal. Senang bisa jumpa dengan Bung. Di negeri asing, bukankah bertemu dengan rekan senegara adalah berkah? Aku harap Bung setuju. Aku tahu Bung orang baru di sini. Oh iya, nama Bung siapa?”

“Jevandy. Tapi panggil saja Andi. Iya, betul. Senang sekali rasanya. Setelah sekian bulan, akhirnya aku bisa menjumpai orang yang bertutur bahasa yang sama,” jawabku sambil mengguncang-guncangkan tangannya.

“Sepertinya Bung sudah mengalami tuah lensa?”

Percuma saja menyebut nama jika tetap memanggilku Bung. Mungkin di masa lalunya pria ini seorang aktivis. Dia mengambil posisi duduk di hadapanku, meleseh seperti seorang cenayang.

“Iya, Bal. Seru sekali! Lensa itu betul-betul canggih. Rasanya tidak seperti menguntit. Kita bisa terus mengetahui keadaan orang yang kita sayang. Kalau diperkenankan bertemu dengan si pembuat lensa, akan kukecup kedua kakinya!”

Demi mengakrabkan diri, aku pun memutuskan untuk turut memanggilnya dengan tambahan “Bung”. Ini negeri asing, aku harus cepat-cepat mendapat sahabat. Dengung suara tak lagi terdengar monoton dan membosankan.

“Tapi Bung tahu kan konsekuensinya?” ia bertanya sembari menaikkan alis sebelah kiri. “Bung akan terus—“

“Terus menerus melihat orang yang sama?” potongku.

“Iya. Itu maksudku.”

“Tak masalah. Lagipula aku telah membayar mahal. Bung Iqbal sendiri mengintai siapa?”

“Ayah dan ibuku. Sedih sekali memang. Tapi, yaa… kita tak pernah sempat berpikir panjang, kan, sebelum membayarnya?”

Ada keheningan yang tak mengenakkan selama beberapa saat. Sayangnya tidak ada rokok atau camilan sebagai pengalih rasa kikuk. Kami lantas bersitatap ke arah yang berlainan.

“Hhhh,” dengusnya, “yang tidak mengenakkan adalah kita takkan pernah bisa berbuat apa-apa meski tahu orang yang kita intai sedang sedih atau mengalami musibah.”

“Itu juga harga mahal yang telah kita bayar, bukannya?” ucapku mencoba membesarkan hatinya. Bung Iqbal melankolis juga.

“Yah.. Meski kita hidup secara nafsi-nafsi, ikatan antara orang tua dengan anak adalah ikatan gaib yang azali, Bung. Biar kutebak. Orang yang kau pilih bukan orang tuamu, kan?”

***

Aku tak lagi memedulikan hari-hari. Konsep waktu menjadi kehilangan arti jika dirimu bisa merasakan berkah lensa berharga mahal ini.

Selain seratus persen aman, fitur lensa ini sanggup mengamati sasaran dari sudut pandang 360 derajat. Bayangkan saja, lensa ini bisa menjangkau daerah-daerah paling terpencil seperti ketiak atau lipatan paha!

Ah, itu engkau. Kukulum senyum jemawa ketika melihat isi keranjang belanjamu di swalayan: lima kaleng acar. Olala! Kamu pasti sedang merindukanku.

Berkat ajakanku ke Jerman-lah kamu jadi suka menjadikan acar sebagai camilan. Kita ke sana untuk menikmati Oktoberfest, masa di mana kita menjadi pencandu sauerkraut. Setelah masa pelesir tuntas, kita pun menjadikan asinan sebagai pengganti. Namun, asinan gampang basi. Kita kembali berpaling pada acar, meski acar kubis tak dapat kita temukan di supermarket mana pun.

Puluhan lelaki menelanjangimu dengan tatapan-tatapan mereka. Kasihan sekali. Gadisku mengacuhkan semua, memilih sibuk dengan pikirannya. Setelah memasuki gerbong kereta, kamu mengenakan masker. Bukan untuk menghalau debu atau kuman, tapi demi mengusir tatapan liar lelaki. Kamu sungguh gadis yang pintar bersetia.

Ah, iya, aku lupa memberitahumu beberapa kelemahan besar lensa ini. Alat ini tak dilengkapi mikrofon sehingga kita tak bisa mendengar apa pun. Kita juga tak bisa mengendalikan waktu-pakainya seenak hati. Satu sesi lensa bisa berlangsung sampai tiga hari, tapi tak jarang ada yang terjadi hanya selama dua puluh menit.

Sebentar. Kamu tidak turun di stasiun biasa, yang hanya berjarak selemparan batu dari apartemenmu. Kamu baru turun setelah tiga stasiun terlewati.

Setelah menjejakkan kaki di atas peron, kamu menuju kamar mandi. Semoga bukan untuk buang air besar. Aku ingin menggerayangi tubuhmu lagi walau tanpa membelai. Aku ingin mencermati setiap lekuknya walau tanpa mengecup. Untungnya lensa tidak memiliki fitur pengantar bau.

Waktu bergerak cepat dan yang kamu lakukan hanya duduk melamun. Kuatur lensa semakin ke bawah, demi mengetahui apa yang sebenarnya kamu lakukan. Mungkin saja kamu mendadak bergairah, lantas memutuskan untuk bermasturbasi.

Tunggu. Kamu menangis, sambil berupaya keras menahan agar tangisanmu tak terdengar. Ini sungguh menjengkelkan. Seperti yang Bung Iqbal katakan, kita tak bisa menyudahi adegan memilukan seperti ini.

Kamu memutuskan untuk keluar dari bilik toilet. Sebelum membuka selot, kaukeluarkan blus satin berwarna krem dari tas. Wahai jelita, malam mulai larut, apa kau hendak menghadiri pesta?

Tanpa bersusah-susah memperbaiki make-up, kamu bergegas melangkah keluar stasiun. Sembari melaju kauraih ponsel yang bordering dari saku celana.

Kamu berjalan membelah peron yang masih disesaki lautan manusia. Selama itu pula kauladeni suara di balik ponsel dengan riang. Pipimu merah jambu dan jantungku mulai berdegup kencang. Sial!

Kamu membonceng pengojek yang kautemukan di muka stasiun. Motor melaju dengan gesit, meliuk-liuk di antara kendaraan-kendaraan lain. Lensa membuatku terhuyung karena mengikuti gerak motor. Aku kewalahan mengatur posisi pandang. Rasanya seperti berada di atas roller coaster.

Motor berhenti di bibir losmen berarsitektur jengki. Tak jauh dari serambi, terdapat sebuah plang bertuliskan “Sri Rejeki”. Setelah membayar tagihan, kamu melangkah masuk. Aku berteriak supaya sesi kali ini berhenti sampai di sini.

Percuma.

Walau kutahu sia-sia, teriakanku semakin kencang saat kamu memasuki kamar nomor sekian. Di dalamnya telah menunggu seorang lelaki yang amat kukenal.

Dimas.

Lelaki itu kakakku dan kontan kutahu harga yang telah kubayar terlampau mahal, teramat mahal, sekaligus tak berarti.

***

“Kami tahu Anda masih shock. Tapi tolong bantu kami. Kami tak mungkin mengizinkan Anda meninggalkan lokasi sebelum mendapatkan kesaksian Anda. Cuma saudari yang menyaksikan peristiwa ini. Tenang, kami bukan petugas kepolisian. Kami hanya ingin memastikan beberapa hal sebelum jenazah ini kami tangani. Benar Anda mengenal pria ini?”

“I-i-iya, Pak. Saya mengenalnya.”

“Apa yang ia katakan sebelum membakar diri di depan pintu apartemen Anda?”

Silvia kembali bungkam. Ia baru tahu bahwa, salah sikap—meski kita merasa tindakan yang kita ambil bukan suatu kesalahan—bisa memicu reaksi tak terduga. Seperti apa yang diperbuat Jevandy, setelah kemarin Silvia ucap kata perpisahan, memangkas hubungan yang telah lama mereka rajut. Kali ini bunuh diri bukan cuma berita, peristiwa itu melibatkan Silvia.

Kobaran api telah menyisakan bara dan aroma anyir. Lorong apartemen itu pun dikepung asap pekat nan menyesakkan dada. (*)

*) Fajar Martha: Pengarang esai dan cerpen. Cerpen-cerpennya antara lain pernah terbit di Pikiran Rakyat, Radar Surabaya, Lampung Post, Detik dan Jakarta Beat.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Leo Tolstoy: Seusai Pesta Dansa

mm

Published

on

Seusai Pesta Dansa

“Sesuatu terjadi, saya sangat jatuh cinta. Jatuh cinta, saya banyak sekali, tetapi ini adalah cinta saya yang paling kuat. Ini urusan di waktu lalu, wanita itu memiliki anak-anak yang telah bersuami sekarang. Itu adalah B, ya, Varenka B.” Ivan Vasilyevich menyebutkan nama keluarga. “Dalam usia lima puluh tahun, dia masih cantik gemilang, tetapi pada masa mudanya, saat berumur delapan belas tahun, dia mempesona: tinggi, ramping, anggun dan mulia, terutama mulia. Dia selalu mempertahankan dirinya luar biasa tegak, seolah-olah tidak dapat membungkuk, mencondongkan kepalanya sedikit ke belakang, dan itu memberikan, dengan kecantikan dan tubuhnya yang jangkung, tanpa melihat pada kekurusannya, bahkan tonjolan tulangnya yang kelihatan, kepadanya perbawa ratu dan perbawa dari dia itu membuat takut, jika saja dia tidak lemah lembut, selalu memiliki senyum riang dan mulutnya, matanya bersinar cemerlang, keseluruhan manusia muda yang memikat.”

Oleh: Leo Tolstoy | Penerjemah: Ladinata

_____

“Jadi kalian berpendapat, bahwa manusia tidak dapat secara mandiri mampu memahami, apa yang baik, apa yang buruk, bahwa segalanya adalah soal lingkungan, bahwa lingkungan mencengkram manusia. Tetapi saya berpikir, bahwa semua itu adalah masalah terjadinya suatu peristiwa. Saya akan bercerita mengenai diri saya sendiri.”

Demikianlah kata Ivan Vasilyevich, laki-laki terhormat, selepas perbincangan yang berlangsung di antara kami tentang, bahwa untuk penyempurnaan diri harus terlebih dulu mengubah keadaan-keadaan, yang di dalamnya manusia hidup. Pada hakikatnya, tidak satu orang pun yang berkata, bahwa tidak mungkin untuk memahami, apa yang baik, apa yang buruk, tetapi Ivan Vasilyevich, mempunyai kebiasaan menjawab atas pikiran-pikirannya sendiri, yang muncul sebagai akibat perbincangan dan dengan alasan pikiran-pikiran tersebut dia memaparkan peristiwa-peristiwa dari dalam hidupnya. Dia sering lupa pada dalih, ketika dia terpikat oleh sebuah kisah, yang membuat dia benar-benar bercerita, apalagi dia bercerita dengan begitu sungguh hati dan berterus terang.

Begitulah, sekarang dia melakukannya.

“Saya akan menceritakan mengenai diri sendiri. Seluruh hidup saya jadi seperti ini, bukan melalui cara lain, bukan lantaran lingkungan, tetapi karena sesuatu yang benar-benar berbeda.”

“Karena apatah itu?” tanya kami.

“Ya, ini adalah cerita yang panjang. Untuk memahami, harus banyak yang diceritakan.”

Ivan Vasilyevich mulai berpikir, menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya,” katanya. “Seluruh hidup saya berubah pada suatu malam, atau lebih ke arah pagi.”

“Apatah yang terjadi?”

“Sesuatu terjadi, saya sangat jatuh cinta. Jatuh cinta, saya banyak sekali, tetapi ini adalah cinta saya yang paling kuat. Ini urusan di waktu lalu, wanita itu memiliki anak-anak yang telah bersuami sekarang. Itu adalah B, ya, Varenka B.” Ivan Vasilyevich menyebutkan nama keluarga. “Dalam usia lima puluh tahun, dia masih cantik gemilang, tetapi pada masa mudanya, saat berumur delapan belas tahun, dia mempesona: tinggi, ramping, anggun dan mulia, terutama mulia. Dia selalu mempertahankan dirinya luar biasa tegak, seolah-olah tidak dapat membungkuk, mencondongkan kepalanya sedikit ke belakang, dan itu memberikan, dengan kecantikan dan tubuhnya yang jangkung, tanpa melihat pada kekurusannya, bahkan tonjolan tulangnya yang kelihatan, kepadanya perbawa ratu dan perbawa dari dia itu membuat takut, jika saja dia tidak lemah lembut, selalu memiliki senyum riang dan mulutnya, matanya bersinar cemerlang, keseluruhan manusia muda yang memikat.”

“Perian yang bukan main, Ivan Vasilyevich.”

“Memerikan tidak boleh demikian, tetapi bagaimana pun juga perikanlah; itu agar kalian mengerti, bagaimana dia dulu. Tetapi bukan dalam hal itu masalahnya: apa yang akan saya ceritakan, terjadi pada tahun empat puluhan. Saat itu saya adalah seorang mahasiswa di universitas, di suatu provinsi. Saya tidak tahu, baikkah itu atau buruk, tetapi ketika itu kami tidak memiliki kelompok studi, tidak juga teori, di universitas, kami hanyalah manusia muda dan hidup, seperti biasanya orang-orang muda: belajar dan riang gembira. Saya orang muda yang riang dan enerjik dan juga berada. Saya punya seekor kuda kereta yang gesit, saya mengendarainya dari atas gunung dengan para perempuan muda (seluncur ketika itu masih belum jadi kebiasaan), saya pergi melakukan pesta-pesta minum dengan kawan-kawan universitas (saat itu kami tidak minum apa-apa, kecuali sampanye; uang tidak ada, kami tidak minum sesuatu pun, tetapi kami tidak minum, seperti galibnya sekarang, vodka). Kesenangan saya yang utama adalah pesta-pesta dan pesta dansa. Saya menari dengan baik dan tentu saja saya tidaklah jelek.”

“Ayo, jangan terlalu rendah hati,” seorang wanita, dari orang-orang yang mendengarkan, menyelanya. “Kami mengetahui potret daguerrotype[1]Anda. Tidak, Anda tidaklah jelek. Anda adalah seorang laki-laki rupawan.”

“Rupawan, boleh jadi dulunya. Tetapi soalnya bukan itu. Soalnya adalah pada saat cinta yang paling kuat saya kepadanya, saat hari terakhir Shrovetide[2], saya berada di pesta dansa Marshal of Nobility[3], seorang laki-laki tua baik hati, manusia berharta yang murah hati dan seorang kamerger[4]. Sebagaimana sang suami, istrinya juga sangat baik hati, menerima kami, para tamu, mengenakan gaun panjang beludru berwarna merah kecoklatan, di kepalanya ada tiara berlian, bahu dan lehernya yang terbuka, tampak tua, putih dan padat, seperti potret Elizaveta Petrovna[5]. Pesta dansa begitu menakjubkan: ruang dansanya mentereng, dengan paduan suara dan para pemain musik dari kaum hamba sahaya, yang ketika itu terkenal, merupakan milik tuan tanah, pecinta musik, makanan berlimpah dan lautan sampanye mengalir. Meski saya pemburu sampanye, saya tidaklah minum, karena tanpa anggur, saya telah mabuk cinta, meski demikian saya menari sampai saya jatuh, saya berdansa quadrille[6],waltz[7],polonaise[8],dan tanpa perlu dikatakan, sejauh ada kemungkinan, saya ingin melakukan semua itu dengan Varenka. Dia mengenakan baju putih dengan selempang pinggang warna merah muda, sarung tangan halus putih, yang tidak begitu menjangkau siku tangannya yang kurus dan menonjol, dan sepatu satin warna putih. Mazurka[9] saya dirampas: seorang insinyur yang menyedihkan bernama Anisimov, sampai sekarang saya tidak pernah dapat memaafkannya, meminta Varenka untuk berdansa dengannya, saat Varenka baru masuk ke dalam ruang dansa, sedangkan saya ketika itu pergi dulu ke tukang pangkas rambut serta membeli sarung tangan dan saya terlambat. Karena itulah saya tidak menari mazurka dengannya, tetapi dengan seorang perempuan Jerman, yang sebelumnya saya pernah agak kerajingan. Tetapi saya khawatir, pada malam itu, saya sangat tidak santun kepadanya, tetapi saya hanya memandang pada seseorang bertubuh tinggi, ramping, yang mengenakan baju putih dengan selempang pinggang warna merah muda, wajahnya yang berlesung pipi bersinar-sinar, kemerah-merahan, sorot matanya lembut dan sejuk. Bukan hanya saya sendiri, tetapi semua orang melihat kepadanya dan mengaguminya, baik itu laki-laki, maupun perempuan, mengagumi, dengan tidak memandang pada, bahwa dia membelakangi mereka semua. Sangat tidak mungkin untuk tidak mengaguminya.

Menurut aturan, demikianlah yang dilisankan, saya tidak menari mazurka dengannya. Dia, dengan tanpa tersipu, berjalan langsung ke arah saya melewati panjangnya ruang dansa dan saya bangkit, tidak menanti permintaan dan dia berterima kasih melalui senyuman kepada saya atas perkiraan saya tersebut. Ketika kami, para lelaki, diarahkan kepadanya, dia tidak dapat menebak karakter pokok saya[10], dia, seraya mengulurkan tangan bukan kepada saya, tetapi kepada orang lain, mengangkat bahunya yang kurus, sebagai tanda penyesalan dan pelipur lara dan dia memberikan senyuman kepada saya.

Ketika mazurka diganti dengan waltz, begitu lama saya menari waltz dengannya dan dia, sambil sering menghela nafas, tersenyum dan berkata kepada saya: “Encore[11]”. Dan saya terus-menerus menari waltz dan tidak merasakan tubuh sendiri.”

“Mana bisa Anda tidak merasakannya, saya pikir, Anda sangat merasakannya, ketika Anda merengkuh pinggangnya, bukan hanya badan Anda sendiri, tetapi juga tubuhnya,” kata salah seorang dari para tamu.

Ivan Vasilyevich tiba-tiba memerah dan dia dengan marah hampir berteriak:

“Ya, begitulah kalian, orang muda zaman sekarang. Kalian itu, kecuali tubuh, tidak ada sesuatu pun yang dilihat. Pada zaman kami tidaklah demikian. Semakin kuat saya jatuh cinta, semakin dia bagi saya jadi tidak bersifat badaniah. Kalian sekarang hanya melihat kaki, pergelangan kaki dan juga yang lainnya, kalian menelanjangi perempuan, yang kalian cintai, buat saya, seperti yang dikatakan Alphonse Karr[12], seorang penulis yang bagus, selalu ada baju zirah dari perunggu pada objek cinta saya. Kami tidak menanggalkan pakaian, tetapi kami berusaha menyembunyikan ketelanjangan, seperti anak nabi Nuh yang baik hati[13]. Tetapi sudahlah kalian tidak akan memahami hal ini.”

“Jangan dengarkan dia. Selanjutnya bagaimana?” kata seorang dari kami.

“Ya. Begitulah, saya terus berdansa dengannya dan tidak memperhatikan, bagaimana waktu berlalu. Para pemain musik dengan kelelahan yang sangat, kalian tahu, itu selalu terjadi pada setiap akhir pesta dansa, terus memainkan motif mazurka, dari meja kartu di ruang tamu para orang tua beranjak, mempersiapkan diri untuk makan malam, secara lebih kerap pelayan-pelayan berlarian, sambil membawa sesuatu. Sudah pukul tiga; menit-menit yang penghabisan, mestilah, dipergunakan. Sekali lagi saya memintanya untuk berdansa dan kami untuk yang keseratus kalinya melalui panjangnya ruang dansa.”

“Selepas makan malam, bolehkan saya menjadi partner Anda untuk quadrille?” kata saya kepadanya, sambil membawanya kembali ke tempatnya.

“Tentu saja, jika saya tidak dibawa pulang,” katanya sambil tersenyum.

“Tidak akan saya biarkan,” kata saya.

“Kipas tangan saya, tolong berikan,” katanya.

“Menyesal saya harus mengembalikannya,” kata saya, seraya memberikan kepadanya kipas tangan putih yang tidaklah mahal.

“Kalau begitu ini untuk Anda, agar Anda tidak merasa menyesal,” katanya, seraya melepaskan selembar bulu kipas tangan dan memberikannya kepada saya.

“Saya mengambilnya dan hanya dengan tatapan saya mengungkapkan rasa terpaku dan rasa terima kasih. Saya bukan saja riang dan senang, saya bahagia, terberkati, saya dipenuhi kebajikan, saya sudah bukan saya, tetapi saya adalah mahluk di luar bumi, yang tidak mengenal kejahatan dan hanya dapat melakukan kebaikan. Saya menyimpan selembar bulu itu ke dalam sarung tangan dan saya berdiri saja, tidak memiliki kekuatan untuk menjauh darinya.”

“Lihat, ayah diminta untuk berdansa,” katanya kepada saya, sambil menunjuk pada sosok ayahnya yang tinggi dan agung, seorang kolonel dengan tanda pangkatperak[14], yang berdiri di pintu dengan sang nyonya rumah dan beberapa wanita lainnya.

“Varenka, kemarilah,” kami mendengar suara keras sang nyonya rumah, yang memakai tiara berlian dengan bahu bergaya Elizaveta Petrovna.

Varenka mendekat ke arah pintu dan saya berjalan di belakangnya.

Ma chere[15], berbicaralah pada ayahmu, agar dia berdansa denganmu. Pyotr Vladislavich, ayolah berdansa,” kata sang nyonya rumah kepada kolonel tersebut.

Ayah Varenka adalah laki-laki tua yang sangat tampan, agung, tinggi dan terpelihara kesehatannya. Wajahnya begitu kemerah-merahan dengan kumis putih melengkung, seperti Nikolai I[16], jambangnya yang juga putih, menyentuh kumis dan dengan rambut yang disisir ke depan, di atas pelipis; senyumannya yang lembut, yang gembira, seperti yang dimiliki anaknya, tampak pada matanya yang bercahaya dan pada kedua bibirnya. Tubuhnya sangat sempurna dengan dada yang lebar, membusung, khas militer, dihiasi, secara sederhana, oleh tanda jasa; bahunya kekar, kedua kakinya tampak sangat baik dan panjang. Dia adalah seorang perwira dari tipe lama dengan karakter militer akademi Nikolai.

Ketika kami sampai di pintu, sang kolonel menampik seraya mengatakan, bahwa dia telah lupa bagaimana caranya berdansa, tetapi meskipun demikian, sambil tersenyum, setelah mengulurkan tangan ke arah kiri, dia mengeluarkan pedang dari sarungnya, menyerahkannya kepada seorang laki-laki muda yang membantunya dan setelah meletakkan sarung tangan kulit ke tangan kanan, dia berkata, “semua harus menurut aturan,” seraya tersenyum, dia meraih tangan putrinya dan mengambil kedudukan seperempat putaran, sambil menunggu ketukan irama yang tepat.

Setelah permulaan motif mazurka terdengar, dengan tangkas sang kolonel menghentakan salah satu kakinya dan mengayunkan kakinya yang kedua dan kemudian sosoknya yang tinggi besar, kadang senyap dan lembut, kadang berisik dan bergolak, dengan bunyi derap sepatu dan hentakan satu kaki terhadap kaki yang lain, mengarungi sekeliling ruangan dansa, sosok Varenka yang lemah gemulai melayang di samping sang kolonel, dengan tanpa terlihat dan selalu tepat waktu dia terus memendekkan atau memperpanjang langkah kaki mungilnya yang diselimuti sepatu satin warna putih untuk mematutkan gerakan dengan ayahnya.

Semua orang mengikuti setiap gerakan dari pasangan tersebut. Saya bukan hanya mengagumi, tetapi dengan sentuhan kegembiraan memandangi keduanya, saya, terutama, tersentuh oleh sepatu sang kolonel, yang diikat dengan tali pengikat; sepatu dari kulit sapi yang baik, sepatu tersebut tidak fashionable dan tidak lancip, tetapi bergaya lama dengan ujung-ujung yang berbentuk empat sudut dan tanpa hak. Tak pelak lagi, sepatu itu dibuat oleh tukang sepatu batalyon. “Dia tidak membeli sepatu yang fashionable, mengenakan sepatu buatan rumah, agar dapat memakaikan dan membawa putri kecintaannya ke dalam pergaulan masyarakat,” pikir saya dan begitulah utamanya, mengapa saya tersentuh oleh sepatu dengan ujung-ujung yang berbentuk empat sudut tersebut. Semua orang melihat, bahwa sebelumnya sang kolonel berdansa dengan baik sekali, tetapi sekarang dia tampak berat dan kaki-kakinya tidak lagi cukup fleksibel untuk melakukan semua langkah indah dan cepat, yang dia ingin lakukan. Tetapi dia, biarpun demikian, dengan cekatan melewati dua kali putaran ruang dansa. Saat dia dengan cepat melebarkan kakinya, kemudian merapatkannya lagi dan meskipun agak susah, menjatuhkan dirinya dengan bertumpu pada satu lutut, dan Varenka, sambil tersenyum dan memperbaiki gaun bagianbawah, yang dipegang oleh ayahnya, secara anggun melayang menyeputari sang kolonel; semua orang bertepuk tangan dengan gemuruh. Melalui beberapa kekuatan sisa sang kolonel berusaha untuk bangkit sedikit, dengan lembut, halus, merengkuh putrinya lewat kedua tangan yang menyentuh telinga Varenka dan setelah mencium keningnya, kolonel itu membimbingnya ke arahku, karena berpikiran, bahwa saya berdansa dengan anaknya; saya pun mengatakan, bahwa saya bukan partner Varenka dalam berdansa.

“Sama saja, sekarang berdansalah Anda dengannya,” katanya, sambil tersenyum dengan hangat dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.

Seperti biasa terjadi, bahwa tetesan pertama yang keluar dari dalam botol, pada kesudahannya mengalirkan isinya menjadi curahan-curahan yang besar, begitu juga di dalam jiwa saya, cinta terhadap Varenka membebaskan seluruh kemampuan cinta saya yang terselubung. Saya merangkul, pada ketika itu, segenap dunia dengan cinta. Saya menyukai nyonya rumah yang mengenakan tiara berlian dengan gaya potret sedada Elizaveta, suaminya, para tamunya, para pelayannya, dan bahkan pada insinyur Anisimov, yang jelas-jelas marah pada saya. Terhadap ayah Varenka, yang mengenakan sepatu buatan rumah dengan senyum lembut, yang mirip benar dengan senyumnya, saya saat itu menjalani sesuatu rasa kagum yang mempesona.

Mazurka berakhir, tuan dan nyonya rumah meminta para tamu untuk makan malam, tetapi kolonel B menolak, mengatakan, bahwa dia besoknya harus bangun pagi-pagi sekali dan dia berpamitan dengan tuan dan nyonya rumah. Saya ketakutan, Varenka akan dibawa serta. Akan tetapi dia tetap tinggal bersama ibunya.

Setelah makan malam saya menari quadrille, yang telah terjanjikan, dengannya, dan tanpa berpijak pada hal, bahwa, tampaknya, saya tak akan dapat sangat gembira, kebahagiaan saya terus tumbuh dan berkembang. Kami tidak mengatakan apa-apa mengenai cinta. Saya tidak bertanya baik kepadanya, maupun kepada diri sendiri, bahkan mengenai: cintakah dia kepada saya. Bagi saya sudah cukup, saya mencintai dia. Dan saya mencemaskan hanya pada satu hal, akan ada sesuatu yang menghancurkan kebahagiaan saya.

Ketika sampai di rumah, saya menanggalkan pakaian dan memikirkan mengenai tidur nyenyak, tetapi saya melihat, bahwa itu benar-benar tidak mungkin. Pada genggaman tangan saya ada selembar bulu dari kipas tangannya dan sebelah sarung tangan, yang dia berikan kepada saya, saat dia duduk di dalam kereta kuda dan saya ketika itu membimbing ibunya, kemudian Varenka untuk naik ke dalam kereta tersebut. Saya menatapi barang-barang itu dan, karena tidak dapat memejamkan mata, saya melihat Varenka ada di hadapan saya lagi sesaat, ketika dia, memilih salah satu dari dua partner, memperkirakan karakter saya dan saya mendengar suara lembutnya, manakala dia berkata: “Rasa bangga? Benar?” Dan dengan gembira dia mengulurkan tangannya kepada saya atau ketika makan malam dia mereguk sedikit demi sedikit segelas kecil sampanye dan menatap saya sambil mengernyitkan kening dengan mata yang menawan. Tetapi dari semuanya yang terbaik, ketika saya melihat Varenka berpasangan dengan ayahnya, dia melayang dengan anggun di samping sang kolonel dan dengan bangga dan gembira dia melihat pada para penonton yang terkagum-kagum terhadap dirinya dan ayahnya. Dan tanpa disadari saya menggabungkan keduanya di dalam satu perasaan yang lembut dan mengharukan.

Ketika itu saya tinggal dengan saudara laki-laki yang pendiam. Saudara saya itu benar-benar tidak menyukai pergaulan masyarakat dan tidak pernah pergi ke pesta dansa, sekarang dia sedang mempersiapkan ujian kandidat[17] dan menjalani kehidupan yang sangat lurus. Dia tertidur. Saya memandang pada bagian kepalanya yang terpendam bantal dan setengahnya tertutup dengan selimut flanel, dan saya, dengan rasa sayang, mulai jadi kasihan terhadapnya, kasihan karena dia tidak mengetahui dan tidak dapat berbagi kebahagiaan, yang saya alami. Petrusha[18], pembantu saya, menemui saya dengan lilin di tangan dan dia ingin membantu saya melepaskan pakaian, tetapi saya menyuruhnya pergi. Rupa wajah saudara saya yang tertidur dengan rambut tidak karuan membuat saya jadi iba. Dengan berupaya untuk tidak membuat gaduh, saya masuk ke dalam kamar sendiri dengan bersijingkat dan duduk di atas tempat tidur. Tidak, lantaran begitu bahagia, saya tidak dapat tidur. Lain daripada itu, saya merasa kepanasan di dalam kamar, dan saya, dengan tidak menanggalkan pakaian seragam, pelan-pelan keluar ke ruang depan, memakai mantel, membuka pintu masuk dan pergi keluar ke arah jalan.

Saya pulang dari pesta dansa pada pukul lima, ketika saya sampai di rumah, saya duduk di sana, kira-kira dua jam, jadi saat saya keluar, langit sudah terang. Demikianlah udara Shrovetide: berkabut, salju yang dijenuhi oleh air bercairan di jalanan dan dari semua atap rumah bertetesan. Ketika itu keluarga B tinggal di ujung kota dan di dekatnya terdapat lahan luas terbuka, yang pada salah satu sisinya ada ruang untuk berjalan-jalan, sedang pada sisi kedua berdiri sebuah institut untukkaum perempuan[19]. Saya melewati jalanan kecil yang kosong dan keluar menuju ke jalan besar, di sana saya bertemu dengan para pejalan kaki dan para penarik kereta yang membawa kayu di atas kereta luncur, yang berusaha dikeluarkan dari hamparan salju ke jalanan beraspal oleh kuda-kuda penariknya. Dan kuda-kuda tersebut secara berirama mengayun-ayunkan kepalanya yang basah di bawah kayu berbentuk melengkung yang disampang[20] dan ditempatkan pada bagian lehernya, dan para penarik kereta yang mengenakan baju dari kain kasar berjalan lambat melewati lumpur salju dengan sepatunya yang besar di samping kereta kudanya dan rumah-rumah pada sisi jalan yang lain, di dalam cuaca berkabut, tampak sangat tinggi: bagi saya, terutama sekali, segalanya itu begitu memiliki nilai dan sangat signifikan.

Ketika saya keluar menuju ke lahan, yang di atasnya berdiri rumah keluarga B, saya melihat sesuatu yang besar dan hitam di ujung lahan, pada arah ruang untuk berjalan-jalan dan saya mendengar suara flute dan genderang dari sana. Jiwa saya sepanjang waktu berdendang dan terkadang terdengar motif mazurka. Akan tetapi ini adalah irama musik yang lain, parau dan menakutkan.

“Apakah itu?” Saya merasa ingin tahu dan mulai melangkah melalui jalanan licin di tengah tengah lahan ke arah suara tersebut berasal. Setelah berjalan kira-kira seratus langkah, saya mulai melihat dengan jelas, dari balik kabut, sekumpulan orang yang tampak hitam, agaknya itu para serdadu. “Benar, mereka sedang latihan berbaris,” pikir saya dan bersama seorang tukang tempa besi yang mengenakan pakaian kerja yang terkotori minyak dan mantel dari bulu domba, yang membawa sesuatu dan berjalan di depan saya, melangkah lebih mendekat. Para serdadu dengan seragam hitam berdiri membentuk dua barisan, berhadap-hadapan seraya memegang senjata selurus dengan kaki dan sama sekali tidak bergerak. Di belakang mereka berdiri para penabuh genderang dan peniup flute, yang selalu mengulang, tanpa henti-hentinya, irama yang tidak menyenangkan dan melengking.

“Apakah yang mereka perbuat?” tanya saya pada sang penempa, yang berdiri di samping saya.

“Mereka menggiring seorang Tartar karena berusaha melarikan diri,” kata sang penempa dengan marah, sambil memandang ke ujung jauh barisan.

Saya mulai menatap ke sana juga dan melihat sesuatu yang mengerikan di tengah-tengah barisan, berjalan ke arah saya. Sesuatu yang mendekat kepada saya itu adalah seorang laki-laki bertelanjang dada, yang dihimpit senapan oleh dua orang serdadu, yang mengawalnya. Di samping laki-laki tersebut berjalan seorang perwira bertubuh tinggi, mengenakan mantel dan penutup kepala dinas, sosok tersebut tampaknya saya kenal. Sang pesakitan bergerak maju ke arah saya di bawah hujan pukulan yang menghajarnya dari dua sisi, seluruh badannya tersentak dan kakinya menginjak keras-keras salju yang meleleh, kadang dia tersungkur ke belakang dan saat itu serdadu yang mengawalnya dengan senapan, mendorongnya ke depan, kadang dia jatuh menyorong ke depan dan saat itu serdadu tersebut, sambil menahannya agar tidak jatuh, menarik sang pesakitan ke belakang. Dan di sampingnya, perwira yang bertubuh tinggi tak pernah sedikit pun melangkah di belakang, berjalan dengan tegap. Dia adalah ayah Varenka, dengan wajahnya yang merah, jambang pipi dan kumis warna putih.

Pada setiap pukulan, sang pesakitan, seperti orang yang keheranan, memalingkan wajahnya yang meringis karena kesakitan ke arah, dari mana datangnya pukulan dan sambil menyeringaikan gigi-gigi putihnya, dia terus mengulangi kata-kata yang sama. Hanya pada saat dia sangat dekat, saya mendengar kata-kata tersebut. Dia tidak mengatakannya, tetapi lebih kepada melenguh: “Tolonglah, ampuni. Ampunilah saya.” Akan tetapi orang-orang itu tidak mengampuninya dan manakala prosesi itu benar-benar tepat di depan saya, saya melihat, bagaimana serdadu yang berdiri di depan saya tanpa ragu-ragu melangkah maju ke depan dan setelah mengibaskan tongkat pemukul ke udara, hingga terdengar bunyi mendesing, dia memukulkannya keras-keras pada punggung orang Tartar tersebut. Sang pesakitan jatuh ke depan, tetapi serdadu-serdadu itu menahannya dan pukulan yang seperti tadi menghajarnya dari arah yang lain, dan sekali lagi dari arah yang tadi, dan sekali lagi dari arah yang lain. Sang kolonel berjalan di samping orang Tartar, kadang dia melemparkan pandangan ke arah kakinya sendiri, kadang ke arah sang pesakitan, dia menghirup udara, kemudian menggelembungkan pipinya dan pelan-pelan mengeluarkannya melalui bibirnya. Ketika prosesi tersebut melewati tempat, yang di atasnya saya berdiri, selintasan saya melihat, di tengah-tengah barisan serdadu, punggung sang pesakitan, tampak sesuatu yang sulit digambarkan: berbilur-bilur, basah, merah, mengejutkan. Saya hampir tak percaya, jika itu bagian tubuh manusia.

“Ya, Tuhan!” gumam sang penempa, yang berdiri di samping saya.

Prosesi bergerak menjauh. Pukulan-pukulan dari dua arah tetap menghajar mahluk yang terhuyung-huyung dan menggelepar, genderang juga tetap ditabuh, flute pun tetap melengking, dan sosok sang kolonel yang jangkung dan perbawa berjalan di samping orang Tartar dengan langkah yang tegap. Tiba-tiba kolonel tersebut berhenti dan dengan cepat menghampiri salah seorang serdadu.

“Aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana melalaikan perintah,” saya mendengar suaranya yang murka. “Kau ingin melalaikan perintah? Kau ingin begitu?”

Dan saya melihat, bagaimana dia memukul serdadu yang berbadan pendek dan lemah tersebut dengan tangannya yang kuat, yang terbungkus sarung tangan kulit, lantaran serdadu itu tidak cukup kuat menghajarkan tongkat pemukulnya ke punggung orang Tartar yang terlihat sangat merah.

“Berikan tongkat pemukul yang baru!” teriaknya dan berpaling: dia melihat saya. Seraya berpura-pura tidak mengenal saya, dia mengernyitkan dahi dengan keji dan mengerikan, kemudian secepat-cepatnya memalingkan wajah. Sampai pada tingkat ini saya merasa malu, saya tidak tahu harus ke mana melemparkan pandangan, seolah-olah saya tertangkap dalam perbuatan yang mendatangkan malu. Saya jatuhkan pandangan ke bawah dan dengan tergesa-gesa pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, di telinga saya terngiang kadang tabuhan genderang dan lengkingan flute, kadang terdengar kata-kata: “Ampunilah saya”, kadang saya mendengar suara murka, yang terlalu percaya diri dari sang kolonel, yang berteriak: “Kau ingin melalaikan perintah? Kau ingin begitu?” Dan pada ketika itu di dalam hati saya ada penderitaan yang hampir-hampir bersifat jasmani, yang membuat saya muak, sehingga untuk beberapa kali saya berhenti, dan kelihatannya, saya harus membuang semua hal yang mengerikan, yang masuk kepada saya melalui tunjukkan yang tadi. Saya tak lagi ingat, bagaimana saya sampai ke rumah dan berbaring. Akan tetapi saya hanya tidur barang sebentar, kemudian mendengar dan melihat lagi segalanya itu dan saya terlonjak bangun.

“Tampaknya, dia mengetahui sesuatu, yang tidak saya ketahui,” saya berpikir mengenai sang kolonel. “Sekiranya saya mengetahui, apa yang dia ketahui, saya akan memahami, dan apa yang saya lihat, tidak akan menyiksa saya.” Akan tetapi beberapa kali pun saya berpikir, saya tidak dapat mengerti, apa yang diketahui oleh sang kolonel dan saya pun jatuh tertidur menjelang malam. Dan setelah itu, saya kemudian berkunjung ke rumah seorang kenalan dan di sana saya minum-minum dengannya sampai saya benar-benar mabuk, untuk melupakan.”

“Apakah kalian mengira, bahwa apa yang saya simpulkan saat itu mengenai apa yang saya lihat adalah sesuatu yang buruk? Sama sekali tidak. Jikalau itu dilakukan dengan penuh keyakinan dan diterima oleh setiap orang sebagai sesuatu yang diperlukan, maka itu artinya mereka mengetahui sesuatu, yang tidak saya ketahui, saya berpikir begitu dan berupaya untuk mengetahui hal tersebut. Akan tetapi seberapa pun saya berusaha, saya kemudian tetap tidak mampu mengetahuinya. Dan karena saya tidak dapat mengetahui, saya pun tidak mampu masuk ke dalam dinas militer, sebagaimana yang saya inginkan dulu. Dan bukan hanya di dalam kedinasan militer, tetapi di mana-mana saya tidak sanggup masuk ke dalam dinas apa pun dan ke manapun, sebagaimana yang kalian lihat, saya telah berubah menjadi seorang manusia yang tak berguna.”

“Ya, kami mengetahui, bagaimana Anda telah berubah menjadi orang yang kehilangan guna,” kata salah seorang tamu. “Lebih baik dikatakan demikian saja: jadi sebelum ada Anda, betapa banyaknya orang, yang telah berubah menjadi manusia yang tidak berguna.”

“Itu adalah sesuatu yang bodoh untuk dikatakan,” kata Ivan Vasilyevich dengan nada yang sangat kesal.

“Baiklah, bagaimanakah dengan cinta Anda?” tanya kami.

“Cinta saya? Sejak hari itu cinta saya jadi meluruh. Ketika Varenka, ini sering terjadi terhadapnya, dengan senyuman di wajah memikirkan sesuatu secara mendalam, dan saya, dengan secepatnya, teringat pada sang kolonel, yang ketika itu berada di atas lahan, dan saya, tidak tahu bagaimana, merasa jadi tidak nyaman dan tidak bahagia, saya pun kemudian jadi lebih jarang bertemu dengannya. Dan cinta saya menghilang menuju pada tidak ada. Begitulah kadang-kadang sesuatu terjadi dan karena apa seluruh hidup manusia bisa berubah dan memiliki tujuan. Sedangkan kalian di sini hanya memperbincangkan mengenai lingkungan,” kata Ivan Vasilyevich mengakhiri. (*)

1903

____
*Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin.

[1] Merupakan foto yang dikerjakan di atas piring perak. Namanya disesuaikan dengan nama penemu metode ini, L.J.M Daguerre (1787-1851). Pada tahun 1851 diketahui ada daguerreotype Tolstoy

[2] Seminggu sebelum puasa masehi; festival Slavia Kuno untuk mengucapkan selamat jalan pada musim dingin, yang ditandai oleh pekerjaan musim semi di ladang

[3] Dipilih oleh kaum bangsawan di suatu Uyezd atau Guberniya di dalam badan pemilihan kepemerintahan lokal

[4] Gelar senior hukum di Rusia

[5] Anak Peter I. Ratu Rusia (1709-1761), yang memerintah sejak tahun 1741. Di dalam potret resminya terpampang jelas bahunya yang putih dan lembut

[6] Aslinya adalah nama permainan kartu. Pada tahun 1740 diberikan untuk penamaan tarian. Quadrille diperkenalkan di Perancis sekitar tahun 1760. Quadrille dibawakan oleh dua pasang penari; pertama-tama di Perancis hanya diperlukan 4 orang, kemudian dua pasang penari ditambahkan pada masing-masing sisi untuk menggantikan pasangan yang lelah. Tarian ini sangat enerjik

[7] Tarian ini muncul di Wina, Austria pada awal abad 17. Tarian ini berirama ¾, pun musiknya

[8] Tarian rakyat Polandia. Pasangan penari membawakan tarian ini dengan berkeliling ruang dansa. Tempo tarian ini cepat

[9] Tarian nasional Polandia yang dibawakan sejak abad 16. Musiknya berirama ¾. Tarian ini dikarakterisasikan dengan hentakan kaki dan sentakan tumit, saat ada gerakan membalik

[10] Untuk tarian mazurka ada aturan khusus. Para penari pria memilih kualitas konvensional, misalkan rendah hati, rasa bangga, riang, sedih. Seorang penari pria akan memilih dua orang penari lainnya dan meminta sang penari wanita untuk menebak kualitas mereka. Penari wanita akan menari dengan laki-laki yang kualitasnya dapat diterka

[11] Maksudnya’lagi’ (bahasa Perancis)

[12] Penulis Perancis (1808-1890), yang mendirikan majalah satir ‘Wasps’

[13] Di dalam kitab Injil dikisahkan nabi Nuh jatuh tertidur, setelah banyak minum. Ham, anaknya, menertawakan, tetapi Sim dan Japhet, anak lainnya, dengan rasa respek menyelimuti ketelanjangan ayahnya

[14] Tanda pangkat untuk masa seremonial, yang disulam secara khusus pada bagian ujung pundak

[15] Maksudnya ‘sayangku’ (bahasa Perancis)

[16] Kaum militer pada masa Nikolai I (1825-1855) meniru tsar mereka, yang di dalam potret resminya memakai kumis dan jambang

[17] Ujian akhir di universitas dan mahasiswa yang berhasil diberi gelar: kandidat akademik

[18] Nama diminutif Pyotr atau Peter

[19] Institusi pendidikan eksklusif untuk putri-putri kaum bangsawan, yang didirikan oleh Marya Fyodorovna (1759-1828), istri tsar Pavel I

[20] Dipernis, agar kayu jadi berkilat

Continue Reading

Cerpen

Maxim Gorky: Karena Tidak Ada Sesuatu yang Lebih Baik Untuk Dilakukan

mm

Published

on

Dan pada musim dingin, ketika badai datang menderu dan meraung dari padang stepa, seraya menghujani stasiun kecil itu dengan salju dan suara-suara yang menakutkan, menjadikan hidup di sana lebih lengang dari yang pernah ada.

Oleh: Maxim Gorky | Penerjemah: Ladinata

____

Kereta penumpang, seperti seekor ular yang sangat besar, yang mengeluarkan kumpulan asap tebal berwarna abu-abu, hilang ditelan padang stepa yang tidak ada batasnya, hilang di lautan gandum berwarna kuning. Ketika asap tebal abu-abu larut di dalam udara yang terik, hentakan suara gaduh yang murka untuk beberapa saat mengusik keheningan yang tenang di dataran luas dan kosong, yang di tengah-tengahnya berdiri sebuah stasiun kereta kecil, yang kelengangannya membangkitkan perasaan yang sangat memilukan.

Dan ketika suara gaduh kereta yang terdengar parau, tetapi setidak-tidaknya dipenuhi sentuhan rasa semangat, hilang dari pendengaran, kemudian senyap jadi di bawah kubah langit yang tanpa awan dan keheningan yang menekan datang sekali lagi menyelimuti stasiun kereta tersebut.

Padang stepa tampak berwarna kuning keemasan dan langit terlihat biru nilakandi. Dan kedua warna itu sangat tidak memiliki batas. Di tengah keleluasan yang begitu rupa bangunan kecil stasiun berwarna coklat itu memberikan impresi adanya kemungkinan gambar melankolis yang rusak karena sapuan kuas, yang dilakukan oleh seorang seniman yang tanpa imajinasi.

Setiap hari pada jam dua belas siang dan pada jam empat sore kereta-kereta keluar dari padang stepa dan berhenti di stasiun, tepatnya untuk dua menit. Keseluruhan empat menit tersebut merupakan hiburan pokok dan satu-satunya di stasiun: para penumpang kereta akan membawa kesan-kesannya sendiri terhadap orang-orang yang bekerja di sana.

Di dalam setiap kereta terdapat beraneka ragam manusia dengan berjenis-jenis pakaian. Mereka adalah kesejenakkan; dari balik jendela kereta terlintas wajah-wajah yang lelah, tidak sabaran dan tidak peduli – dan kemudian terdengar suara lonceng, bunyi peluit; dan dengan suara gaduh mereka akan bergerak cepat ke dalam padang stepa, maju ke depan, ke dalam kota-kota, yang memiliki kehidupan yang sibuk dan pikuk.

Para pekerja stasiun memandang pada wajah-wajah tersebut dengan rasa mau tahu dan kemudian setelah melepaskan kereta pergi, mereka akan berbagi terhadap satu sama lainnya pengamatan-pengamatan, yang dengan cepat mampu difahami. Di sekitar mereka padang stepa yang bisu membentang, di atas tampak langit yang tidak mau ambil peduli,dan di dalam hati mereka ada rasa cemburu yang samar-samar pada orang-orang tersebut, yang dengan cepat, melalui mereka, pergi ke tujuan, yang tidak diketahui dari hari ke hari, dan mereka tetap tinggal, terpenjara di dalam padang belantara, seolah-olah hidup di luar batas kehidupan.

Dan demikianlah, setelah mengantarkan kereta, mereka berdiri di peron, sambil memperhatikan lajur hitam keberangkatan, yang menghilang di lautan gandum keemasan. Dan mereka terdiam dengan kesan-kesan kehidupan, yang berlalu melewati mereka.

Hampir setiap orang ada di sini: kepala stasiun, seorang lelaki yang berjiwa baik, tambun, memiliki rambut pirang keemasan dengan jambang pria Kosak yang gembal; asistennya, laki-laki muda berambut merah dan berjanggut kambing. Luka, penjaga stasiun, seorang laki-laki kecil, tetapi cekatan dan terampil; dan salah seorang dari para pelangsir bernama Gomozov, seorang laki-laki pendiam, pendek gemuk dengan janggut tebal.

Istri kepala stasiun duduk di atas bangku yang ada di samping pintu stasiun. Dia adalah perempuan yang kecil dan gemuk, dan begitu menderita karena kepanasan. Bayinya tertidur di dalam pangkuannya dan wajah bayi tersebut sebulat dan semerah wajah ibunya.

Kereta menghilang di bawah landaian dan menghilang, seolah-olah, ditelan bumi.

Dan ketika itu kepala stasiun berpaling ke arah istrinya dan berkata:

Samovar[1] sudah siap, Sonya[2]?”

“Tentu saja,” jawab sang istri dengan suara yang lemah dan pelan.

“Luka! Taruh tanda di sini, bersihkan peron dan rel. Lihat kotoran-kotoran, yang mereka tinggalkan.”

“Saya mengerti, Matvei Yegorovich.”

“Bagus, ingin minum teh, Nikolai Petrovich?”

“Seperti biasanya,” jawab sang asisten.

Dan jika itu terjadi pada siang hari, ketika kereta sudah lewat, Matvei Yegorovich akan mengatakan kepada istrinya:

“Makan siang sudah siap, Sonya?”

Kemudian dia akan memberikan Luka instruksi yang selalu sama dan dia akan berkata kepada asistennya, yang tinggal menumpang dengan mereka:

“Bagus, kau ingin makan siang?”

Dan sang asisten akan menjawab dengan cukup layak:

“Seperti biasanya…”

Dan mereka meninggalkan peron, masuk ke dalam ruangan, yang mempunyai banyak tanaman dan sedikit furniture; ruangan itu berbau masakan dan popok bayi dan yang di dalamnya,di sekitar meja, mereka berbincang-bincang mengenai apa yang telah mereka lewati.

“Kau memperhatikan wanita berambut coklat yang mengenakan pakaian warna kuning di dalam kereta kelas dua, Nikolai Petrovich? Jika kau bertanya kepadaku, dia itu seperti sekerat makanan yang menggiurkan!”

“Tidak buruk, tetapi dia tidak mempunyai selera dalam berpakaian,” kata asistennya.

Kata-katanya selalu ringkas dan diucapkan dengan penuh percaya diri, karena dia menganggap dirinya manusia, yang mengetahui kehidupan dan berpendidikan. Dia menamatkan gimnasium[3]. Dia memiliki buku catatan dengan sampul depan hitam, yang di dalamnya dia menuliskan kata-kata mutiara dari orang-orang terkenal, yang dia dapatkan dari artikel surat kabar dan buku-buku, yang secara kebetulan jatuh ke tangannya. Kepala stasiun mengakui kewenangannya dalam semua hal, yang tidak berkaitan dengan pekerjaan mereka dan dia dengan penuh perhatian mendengarkan kata-kata sang asisten. Dia, terutama, tertarik dengan mutiara-mutiara bijak, yang ada di dalam buku catatan Nikolai Petrovich dan dia selalu terkesan pada mutiara-mutiara bijak tersebut dengan jalan hati yang sederhana. Pengamatan asistennya pada selera wanita berambut coklat dalam cara berpakaian memunculkan satu pertanyaan pada diri Matvei Yegorovich:

“Apakah pakaian warna kuning tidak mesti untuk wanita-wanita dengan rambut coklat?”

“Saya tidak berbicara mengenai warna, tetapi potongannya,” jelas Nikolai Petrovich, sambil memindahkan selai dengan akurat dari pinggan kaca ke piringnya sendiri.

“Potongannya? Itu masalah lain..!” kata kepala stasiun setuju.

Istrinya bergabung dalam percakapan tersebut, karena subjek percakapan ini dekat dengan hatinya dan dapat dimengerti olehnya. Akan tetapi lantaran pikiran orang-orang ini tidak begitu terasah, maka perbincangan mereka bergerak jadi perlahan dan jarang menyentuh perasaan mereka.

Dan lewat jendela tampak terlihat padang stepa, yang diselimuti pesona kesunyian; dan langit, yang megah ada di dalam ketentramanyangluar biasa.

Hampir setiap jam, kereta barang lewat. Para pekerja, yang mengiringi kereta tersebut, adalah orang-orang yang sudah lama saling kenal. Awak-awaknya merupakan mahluk-mahluk pengantuk, mahluk-mahluk yang ditindas oleh perjalanan yang menjemukan di padang stepa. Namun demikian, terkadang mereka menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sepanjang jalan: di suatu jarak verst[4] tertentu, seorang laki-laki tergilas; atau mereka memperbincangkan mengenai masalah-masalah, yang bertalian dengan pekerjaan sendiri: si pulan dikenai hukuman denda, seseorang yang lain telah dimutasikan. Seluruh berita-berita itu tidak didiskusikan, tetapi ditelan, seperti penganan lezat, seperti mereka melahap makanan yang enak dan jarang diperoleh.

Perlahan-lahan dari langit matahari terbenam di batas padang stepa dan kadangkala matahari tersebut hampir menyentuh bumi, yang memperjadi warna merah tua. Di atas padang stepa terbentang sinar kemerah-merahan, yang memunculkan perasaan yang membosankan, membangunkan kecenderungan hati yang samar untuk pergi jauh ke depan, meninggalkan kehampaan. Kemudian matahari menyentuh kaki langit dan jatuh dengan tanpa gairah ke dalam atau ke balik kaki langit. Dalam jangka waktu yang masih lama, setelah itu, musik dari warna-warna yang terang di langit dengan lembut dimainkan, tetapi senandung musik ini semakin meredup, ketika jelang malam yang hangat dan tanpa suara datang menyelimuti. Bintang-bintang bersinaran, semuanya bergetar, seperti ditakut-takuti oleh rasa jemu di atas bumi.

Padang stepa kelihatannya jadi makin kabur di dalam jelang malam; dengan diam-diam bayangan malam merangkak ke stasiun dari semua sudut. Dan malam itu sendiri kemudian datang, gelap dan muram.

Di stasiun kereta api itu sinar-sinar bercahayaan; ada sinar hijaudari tiang sinyal, yang diliputi oleh kegelapan dan kesunyian, tampak lebih terang dan tinggi dibandingkan dengan semua yang lain. Kadang-kadang terdengar bunyi lonceng – suara peringatan akan datangnya kereta api; bunyi lonceng yang tergesa-gesa itu terbawa ke padang stepa, yang dengan cepat di tempat tersebut kemudian hilang tertelan.

Segera setelah bunyi gemerincing lonceng dari kejauhan yang pekat sinar warna merah yang sebentar-sebentar menyala berlarian dan keheningan di padang stepa dipecahkan oleh raungan kereta yang meredam, yang bergerak ke depan menuju ke stasiun yang lengang dan dibelit oleh kegelapan.

Manusia-manusia kecil ‘kelas bawah’ di stasiun kecil ini hidup sedikit berbeda dibandingkan dengan kaum aristokrat. Luka, sang penjaga stasiun, selalu melakukan perjuangan yang konstan dengan hasratnya untuk lari menuju ke istrinya dan saudara laki-lakinya, yang tinggal di desa, tujuh verst jauhnya dari stasiun. Dia mempunyai ‘tanah pertanian’ di sana, seperti yang dikatakannya kepada Gomozov, ketika dia meminta pelangsir yang tenang dan pendiam ini untuk mengerjakan tugas-tugasnya di stasiun.

Mendengar kata ‘tanah pertanian’ Gomozov selalu dengan berat menarik helaan nafas dan dia berkata kepada Luka:

“Bagus sekali, pergilah,” katanya. “Tanah pertanian memang harus diurus, tidak ada keraguan mengenai hal itu…”

Akan tetapi pelangsir yang lain, Afanasy Yagodka, seorang serdadu berumur dengan wajah bulat dan merah, yang ditumbuhi oleh janggut abu-abu; seorang manusia yang memiliki pembawaan mengejek dan senang marah, tidak mempercayai Luka.

“Tanah pertanian!” teriaknya dengan menyeringai. “Seorang istri!.. Saya mengerti betul, tanah pertanian ya tanah pertanian… Dan istrimu itu – apakah dia janda? Ataukah suaminya seorang serdadu?”

“Ah, kau ini memang gubernur burung!” Luka mendengus dengan menghina.

Dia menyebut Yagodka gubernur burung, karena serdadu tua itu sangat senang memelihara burung. Di rumahnya yang kecil, baik di dalam maupun di luar, tergantung sangkar-sangkar dan tempat burung bertengger; sepanjang hari terdengar suara ramai burung-burung di dalam rumahnya dan di sekitarnya. Burung puyuh, yang ditangkap oleh sang serdadu, terus-terusan mengeluarkan bunyi ciap-ciap yang membosankan dan tak berjeda, burung jalak membunyikan suara-suara yang panjang, seperti berkomat-kamit, burung-burung kecil dengan ragam warna mencericit, menciap dan bersenandung tanpa lelah, mengisi kehidupan kosong sang serdadu dengan kesukaan. Dia mencurahkan semua waktu luangnya untuk burung-burung peliharaannya; dan ketika dia bertalian dengan burung- burung tersebut dengan lemah-lembut dan penuh peduli, sedikit pun dia tidak menaruh perhatian pada kawan-kawannya di stasiun. Dia menyebut Luka – ular dan Gomozov – tukang jagal, dan dengan tanpa sungkan langsung mengatakan kepada mereka, bahwa keduanya adalah pengekor kaum perempuan, dalam hal ini, menurut pendapatnya, mereka layak dihajar.

Luka, terhadap kata-kata itu, tidak begitu ambil peduli, tetapi jika sang serdadu sudah terlalu jauh mengejeknya, Luka secara panjang lebar dan dengan pedas akan memaki-maki sang serdadu:

“Kau itu garnisun tidak berpendidikan, remah sisa makanan tikus! Kau mengerti apa, bekas tukang tabuh tambur kambing? Kau mengejar katak dengan acungan bedil dan menjaga kubis seorang kolonel… Apa yang dapat diperdebatkan dari pekerjaanmu? Pergi kau ke burung-burung puyuhmu, kau itu hanya komandan burung!”

 

Lukisan Karya Patrick Wowor (2014)

Yagodka, setelah dengan tenang mendengarkan begitu banyak semburan kata-kata marah sang pelangsir, akan pergi untuk menyampaikan keluhan kepada kepala stasiun, yang akan berteriak, agar jangan datang membawa urusan-urusan sepele kepadanya dan kepala stasiun akan mengusir Yagodka keluar. Oleh karena itu Yagodka akan menemui Luka dan dia sendiri yang memarahi Luka – dengan tenang, tanpa kehilangan kesabarannya, dengan memakai kosa kata cabul yang demikian berbobot, yang membuat Luka segera akan lari menjauh, sambil meludah dengan jijik.

Gomozov terhadap kata-kata cela sang serdadu menjawab dengan tarikan nafas dan dengan rasa malu melakukan dalih untuk membela diri.

“Apa yang harus diperbuat? Tidak ada yang dapat dilakukan dengan hal itu…Tentu saja…itu tidak berbahaya…tetapi, omong-omong, ini sambil lalu saja, jika tidak menilai orang lain, maka kau pun akan tidak dicela.”

Suatu hari sang serdadu memberikan jawaban pada hal tersebut dengan sedikit tertawa:

“Itu resep lama untuk semua jenis penyakit! Janganlah menilai, janganlah menilai…Dan jika tidak diperbolehkan untuk menilai, maka manusia tidak akan memperbincangkan apapun juga…”

Di sana, di stasiun masih ada seorang perempuan lagi, selain dari istri sang kepala stasiun. Dia adalah Arina, seorang tukang masak. Dia berumur di bawahempat puluh tahun dan sangat jelek rupa – tubuhnya gemuk pendek, dengan payudara terjuntai, dengan pakaian yang koyak-moyak dan selalu kotor. Ketika dia berjalan, dia terkedek-kedek dan mata kecilnya yang menakutkan, yang diseputari kerutan-kerutan, berkilatan di wajahnya yang bopeng. Dan ada sesuatu yang tampaknya seperti pembawaan budak dan terasa terintimidasi di dalam sosok tubuhnya yang canggung, bibir tebalnya secara permanen mengkerut, seolah-olah dia ingin minta maaf pada setiap orang – seakan-akan dia ingin berlutut di depan orang-orang dan dia takut untuk menangis. Selama delapan bulan Gomozov hidup di stasiun tersebut, dia tidak memberikan perhatian khusus terhadap perempuan itu; ketika dia bertemu dengan Arina, dia akan mengatakan salam. Sang perempuan akan membalas dengan mengembalikan salam itu, mereka saling bertukar dua-tiga frasa dan kemudian saling berpisah, setiap orang akan melanjutkan langkahnya menuju ke masing-masing tujuan. Akan tetapi suatu hari Gomozov datang ke dapur kepala stasiun dan meminta Arina untuk menjahitkan beberapa kemeja. Arina setuju dan jika kemeja-kemeja itu sudah jadi, dia sendiri yang akan membawanya kepada Gomozov.

“Terima kasih,” kata Gomozov. “Tiga kemeja; masing-masing kemeja – satu grivennik[5], jadi tiga puluh kopek aku berhutang kepadamu, bukan begitu?”

“Saya pikir demikian,” kata Arina.

Gomozov mulai berpikir-pikir dan cukup lama berdiam diri.

“Kau datang dari guberniya[6]mana?” Akhirnya dia bertanya kepada perempuan tersebut, yang di sepanjang waktu matanya terpancang pada janggut Gomozov.

“Ryazan[7],” katanya.

“Itu jauh! Bagaimana kau bisa sampai ke sini?”

“Ya, begitulah… Saya selalu sendiri. Tidak punya siapa-siapa.”

“Hal yang begitu, cukup membuat orang pergi, bahkan lebih jauh,” Gomozov menarik nafas panjang.

Dan keduanya diam lagi.

“Demikian juga aku. Asalku dari Nizhny Novgorod[8]. Sergachev Uyezd[9]…” kata Gomozov beberapa saat kemudian. “Aku sendiri juga. Begitulah. Dulu aku memiliki keluarga, istri dan anak-anak. Dua orang anak. Istriku meninggal karena kolera, anak-anakku meninggal, karena memang meninggal. Dan aku – aku menjadikan diriku terlalu lelah karena duka cita. Kemudian sekali lagi aku berusaha untuk menyusun segalanya, tetapi malah sebaliknya. Mesin-mesin rusak, tidak jalan. Jadi, sebagai konsekuensinya, aku pergi dari tempat sendiri …ke tempat yang lain. Sudah tahun ketiga aku bersusah payah begini.”

“Tidaklah baik,ketika kau tidak memiliki tempat, yang akan memanggilmu kembali,” kata Arina dengan lembut.

“Ya, tentu saja. Kau seorang janda?”

“Bukan, saya seorang gadis.”

“Bagaimana mungkin bisa begitu!” kata Gomozov dengan tidak berusaha menyembunyikan kekurangpercayaannya.

“Begitulah adanya, seorang gadis” Arina meyakinkan Gomozov.

“Mengapa kau tidak pernah kawin?”

“Saya ini, siapakah yang akan mengawini? Saya tidak punya apa-apa. Lelaki menginginkan sesuatu. Dan lagi pula rupa saya amat jelek.”

“Be-nar…” kata Gomozov dengan lafal yang panjang, sambil melihat pada Arina secara cermat dengan perasaan ingin tahu, seraya mengusap-usap janggutnya. Gomozov bertanya pada Arina, berapakah jumlah upahnya.

“Dua setengah.”

“Baiklah, aku mengerti. Jadi aku berhutang kepadamu tiga puluh kopek, heh? Begini, datang dan ambillah malam ini. Kira-kira jam sepuluh, kau mau? Aku akan membayarmu dan kita akan meminum teh bersama-sama, kita akan berbincang-bincang, karena tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan. Kita ini orang-orang yang kesepian, kita berdua. Jadi datanglah.”

“Saya akan datang,” katanya dengan bersahaja dan pergi keluar.

Kemudian Arina datang tepat jam sepuluh dan pergi ketika fajar datang.

Gomozov tidak mengundangnya untuk datang lagi dan tidak memberikan tiga puluh kopek miliknya. Arina datang kembali atas kemauannya sendiri. Dia, perempuan bodoh dan patuh ini, datang kembali dan berdiri dengan membisu di depan Gomozov. Seraya berbaring di atas ranjang, lelaki itu memandangi Arina, dan setelah bergeser ke arah dinding, dia berkata:

“Duduklah.”

Ketika perempuan tersebut telah duduk, Gomozov berkata kepadanya:

“Dengar, simpanlah ini di dalam rahasia. Jangan biarkan orang mengetahui hal ini, kau dengar? Aku akan mendapatkan masalah, jika kau melakukannya. Aku tidak muda lagi, begitu juga denganmu… Mengerti kau?”

Perempuan itu menganggukkan kepala, bersetuju.

Ketika Gomozov mengantarkannya keluar, dia menyerahkan beberapa pakaian kepada Arina untuk ditisik dan dia mengingatkannya lagi:

“Jangan biarkan orang mengetahui hal ini!”

Dan demikianlah, mereka memulai hidup secarademikian, menyembunyikan dengan hati-hati hubungan mereka dari yang lain.

Pada setiap malam Arina akan menyelinap hampir seperti merayap-rayap ke kamar Gomozov. Laki-laki itu menerimanya dengan sikap jumawa, dengan raut wajah seorang majikan, dan kadang-kadang secara terus-terang dia berkata kepada Arina:

“Ah, dari rupamu itu, kau memang jelek!”

Perempuan tersebut dengan terdiam hanya tersenyum dengan senyuman pucat dan bersalah, dan ketika pergi, dia akan membawa sesuatu kerja, yang diberikan oleh Gomozov.

Mereka sering saling tidak melihat. Akan tetapi kadang-kadang, ketika mereka bertemu di halaman stasiun, Gomozov akan berbisik:

“Singgahlah malam ini…”

Dan perempuan tersebut secara patuh akan datang dengan raut yang sangat serius, seperti yang terlihat pada wajah bopengnya, seakan-akan dia datang untuk menyelesaikan sesuatu kewajiban, sesuatu yang maha penting, yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

Akan tetapi sekali lagi muncul, dalam perjalanan pulang ke rumah, raut wajah bersalah, raut wajah takut yang beku dan biasanya terhadap Gomozov.

Kadang-kadang perempuan itu berhenti di suatu sudut tersendiri atau di balik pohon untuk berlama-lama memandang ke arah padang stepa. Malam di sana berkuasa dan lantaran keheningan yang suram, hatinya dipenuhi dengan kengerian.

Suatu hari, setelah mengantarkan kereta api sore, para pekerja stasiun duduk untuk minum teh di halaman, di depan jendela rumah Matvei Yegorovich, di bawah rimbunnya beberapa pohon topol[10].

Mereka sering minum teh di sana, ketika hari terasa panas – mereka memasukkan selingan yang khusus ke dalam kemonotonan hidup sendiri.

Setelah memperbincangkan kesan-kesan yang dapat dikatakan mengenai kereta terakhir, mereka meminum teh dan terdiam.

“Hari ini lebih panas dari hari kemarin,” kata kepala stasiun, sambil mengulurkan sebelah tangannya dan memberikan gelas kosong kepada istrinya dan menyeka keringat dari dahinya dengan tangan yang lainnya.

Istrinya, seraya mengambil gelas, berkata:

“Tampaknya, itu karena kau kebosanan, jadi terasa lebih panas…”

“Hm, mungkin kau memang benar…Dalam keadaan seperti ini, baik juga bermain kartu. Akan tetapi kita hanya bertiga.”

Asistennya mengangkat bahu dan setelah memicingkan matanya, dengan saksama dia berkata:

“Permainan kartu, menurut Schopenhauer[11], menunjukkan adanya kebangkrutan pikiran.”

“Pandai sekali!” Matvei Yegorovich tersentuh. “Apakah itu tadi? Kebangkrutan pikiran, hm. Siapa yang mengatakannya?”

“Schopenhauer, orang Jerman, Filsuf.”

“Seorang filsuf? Hm…”

“Filsuf-filsuf itu – apakah mereka bekerja di universitas?” tanya Sofia Ivanovna ingin tahu.

“Bagaimana saya menjelaskannya kepada Anda? Menjadi filsuf bukanlah pekerjaan, tetapi kemampuan natural, begitulah yang dapat dikatakan. Siapa saja dapat menjadi seorang filsuf – siapa pun yang dilahirkan dengan kecenderungan berpikir dan mencari awal dan akhir dalam segala hal. Tentu saja, para filsuf kadang-kadang dapat dijumpai di universitas, tetapi mereka bisa ditemui di mana saja – bahkan di tempat kerja rel kereta.”

“Dan apakah mereka banyak menghasilkan uang – filsuf-filsuf yang ada di universitas itu?”

“Bergantung pada kemampuan mereka.”

“Kalau saja kita punya partner keempat, kita bisa menghabiskan beberapa jam yang menyenangkan,” kepala stasiun menghela nafas panjang.

Dan perbincangan terhenti lagi.

Tinggi di atas langit biru burung-burung djavoronok[12]bernyanyi, burung-burung murai berlompatan dari satu cabang ke cabang pohon topol yang lain, bersiul dengan lembut. Dari dalam rumah terdengar tangisan bayi.

“Arina di sana?” tanya kepala stasiun.

“Tentu saja,” jawab istrinya dengan ringkas.

“Ada sesuatu yang sangat orisinal dari perempuan itu, kau memperhatikannya, Nikolai Petrovich?”

“Keorisinalan adalah impresi pertama dari kebanalan[13],” Nikolai Petrovich berkata, seolah-olah mengenai diri sendiri, dengan rupa terpekur dan berpikir.

“Apatah itu?” kepala stasiun merasa jadi lebih gembira.

Dan ketika Nikolai Petrovich mengulang kembali kata-kata mutiara tersebut agar dengan jelas dapat difahami, dengan penuh kenikmatan sang kepala stasiun sedikit agak memejamkan matanya, sementara Sofia Ivanovna mengucapkan kata-kata dengan nada yang tenang:

“Anda dengan baik mengingat, apa yang Anda baca…sedangkan saya, saya membaca dan di hari berikutnya, ini di sepanjang hidup saya, saya tidak ingat apapun juga. Bahkan belum lama ini saya baru saja membaca sesuatu yang menarik, yang menghibur di Niva,[14] tetapi apa? Tidak ada satu kata pun yang saya ingat!”

“Semua hanya masalah kebiasaan,” jelas Nikolai Petrovich dengan singkat.

“Tidak, itu bahkan lebih baik dari yang tadi – siapa nama dia? Schopenhauer…” kata kepala stasiun dengan tersenyum. “Dengan kata lain, segala sesuatu yang baru akan menjadi tua!”

“Atau bahkan sebaliknya, karena, seorang sastrawan mengatakan: ‘Dan, kebijaksanaan eksistensi sederhana: semua yang baru di dalamnya dijadikan dari yang lama’.”

“Ah kau ini, brengsek betul! Dari mana kau peroleh kata-kata begitu? Kata-kata itu keluar dari mulutmu, seperti keluar dari penapis[15]!”

Kepala stasiun tertawa dengan rasa senang, istrinya tersenyum manis dan Nikolai Petrovich merasa tersanjung dan berusaha dengan percuma untuk menyembunyikan rasa puasnya.

“Siapa yang berbicara mengenai kebanalan?”

“Baratinsky[16], sastrawan.”

“Dan yang satunya lagi?”

“Sastrawan juga, Fofanov[17].”

“Orang-orang pintar,” kata kepala stasiun dengan penerimaannya yang baik terhadap para sastrawan tersebut dan dengan suara menembang dia mengulangi kembali petikan itu, senyum puas tampak terlihat di wajahnya.

Rasa jemu terhadap hidup sendiri menyebabkan mereka melakukan semacam permainan; itu, barang sebentar, akan melepaskan mereka dari genggaman jenuh, tetapi setelahnya kejenuhan tersebut akan mencengkram mereka lebih keras lagi. Kemudian mereka akan kembali jadi bisu dan duduk di sana dengan diterpa panas, yang hanya mempertambah minum teh mereka.

Tidak ada apa-apa di sana, kecuali matahari di atas padang stepa.

“Seperti yang aku katakan mengenai Arina,” kepala stasiun mengingatkan. “Dia perempuan yang aneh. Aku memandangnya dan merasa heran. Seakan-akan dia itu sangat terpukul oleh sesuatu apa,– tak pernah tertawa, tak pernah menyenandung, hampir tak pernah bicara…seperti tunggul pohon di atas tanah. Akan tetapi dia memang bekerja dengan sangat baik dan begitulah, Anda sendiri tahu, bagaimana dia menjaga Lolya,[18] sang bayi, bagaimana dia sangat perhatian terhadapnya.”

Kepala stasiun berbicara dengan suara yang pelan, dia tidak ingin Arina mendengar kata-katanya lewat jendela. Dia sadar betul, jika tidak mau para pembantu jadi besar kepala, jangan memberikan pujian kepada mereka. Sonya menginterupsinya dan mengerutkan seluruh dahinya dengan penuh isyarat:

“Cukupkan untuk bicara terlalu banyak. Ada banyak hal yang tidak kau ketahui mengenai dia.”

Cinta seorang budak,

            Aku begitu lemah,

            Dalam peperangan denganmu,

O, iblisku!

Senandung Nikolai Petrovich dengan perlahan, seraya memukul-mukulkan, dengan irama yang teratur, sendoknya ke atas meja. Dia kemudian tersenyum.

“Apa? Apatah itu maksudnya? Dia? Arina? Kalian pasti berolok-olok, kalian berdua!”

Dan kepala stasiun tiba-tiba tertawa keras. Pipinya berguncang-guncang dan butiran keringat menetes dengan cepat dari keningnya.

“Ini sama sekali tidak lucu!” kata Sonya mencoba menghentikan tingkah laku suaminya. “Pertama, dialah yang bekerja menjaga sang bayi, dan kedua – lihatlah bagaimana roti ini? Hangus dan rasanya jadi agak masam. Dan sebabnya apa?”

“Ya, roti itu memang tidak boleh seperti itu. Kau harus menegur dia karena hal ini! Akan tetapi, demi Tuhan! Aku tak pernah mengira! Perempuan itu sendiri kan hanya seperti racikan gumpalan terigu! Ah, brengsek betul, Dan laki-laki itu, siapa dia? Luka? Aku akan ejek dia, laki-laki bajingan! Atau Yagodka – si tua kelimis?”

“Gomozov,” kata Nikolai Petrovich, ringkas.

“Dia? Laki-laki pendiam itu? Ayolah, kau pasti mengada-ada, benar?”

Kepala stasiun sangat senang terhadap kejadian yang sangat menggelikan tersebut. Kadang dia terbahak-bahak sampai matanya basah, kadang dengan serius dia mengatakan tentang keharusan untuk menegur secara keras orang-orang yang tengah mencinta itu, kemudian dia membayangkan percakapan-percakapan yang mesra di antara keduanya dan sekali lagi dia tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Akhirnya dia merasa tertarik untuk mengetahui rincinya. Wajah Nikolai Petrovich seketika itu juga, tak pelak lagi jadi menegang dan Sofia Ivanovna berusaha menghentikan kemauan suaminya secara keras.

“Dasar bajingan! Aku akan memperolok-olok mereka! Ini sangat menarik,” kata kepala stasiun, yang merasa sudah tidak sabar lagi.

Pada saat itu Luka datang dan dia memberitahukan:

“Telegrap berbunyi,”

“Aku akan datang. Berikan sinyal nomor 42.”

Dengan segera dia dan asistennya berjalan ke stasiun dan di sana Luka sedang menarik-narik lonceng dengan sekeras-kerasnya untuk memberikan sinyal kedatangan kereta. Nikolai Petrovich duduk, mendekati peralatan dan mengirimkan kawat ke stasiun berikutnya: ‘Dapatkah saya berangkatkan kereta nomor 42’, sedang kepala stasiun berjalan ke sana kemari di atas lantai kantor tersebut, seraya tersenyum sendiri dan berkata:

“Kau dan aku akan menggoda mereka, orang-orang brengsek itu…Karena tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan. Setidak-tidaknya kita akan sedikit tertawa.”

“Ya, itu diperbolehkan,” kata Nikolai Petrovich, sambil menggerakkan kunci telegrap.

Dia tahu, bahwa kaum filsuf harus bertindak secara ringkas dan padat.

Sesegeranya, setelah itu, datang kesempatan kepada mereka untuk tertawa.

Pada suatu ketika, di malam hari, Gomozov datang menemui Arina di gudang bawah tanah dan di sana, atas permintaan Gomozov dan dengan persetujuan istri kepala stasiun, Arina membuat tempat tidur untuk dirinya sendiri, yang ada di antara berbagai macam barangrongsokan rumah tangga. Di tempat ini terasa lembabdan dingin; dan bangku-bangku rusak, tong-tong kayu, papan-papan dan semua barang bekas lainnya membentuk wujud-wujud yang menakutkan di dalam gelap; ketika Arina sendirian, dia begitu ketakutan, sampai-sampai dia tidak dapat tidur dan hanya akan berbaring di atas jerami dengan mata terbuka lebar, sambil menggumamkan doa-doa, yang dia ketahui.

Gomozov yang telah datang itu, dalam waktu yang lama mengkusutkan pikirannyadan menekannyadengan tidak mengatakan sepatah kata pun, kemudian jadi lelah dan jatuh tertidur. Akan tetapi dengan segera Arina membangunkannya dengan bisikan yang penuh rasa khawatir:

“Timofei Petrovich![19] Timofei Petrovich!”

“Ada apa?” jawab Gomozov, setengah tersadar.

“Mereka mengunci kita.”

“Bagaimana bisa begitu?” tanyanya, seraya melompat bangun.

“Mereka mendekati pintu dan…mengunci gemboknya.”

“Kau berbohong!” Dia berbisik dengan ketakutan dan penuh amarah, sambil mendorong Arina menjauh dari dirinya.

“Lihatlah sendiri,” jawab perempuan itu dengan rasa tunduk.

Gomozov bangun, berjalan terhuyung-huyung, menabrak semua barang-barang, yang dia jumpai, ketika melangkah, mendekati pintu dan berusaha mendorongnya; dan setelah agak terdiam, dia berkata dengan murung:

“Semua ini pekerjaan si serdadu.”

Ledakan tawa terdengar dari balik pintu.

“Keluarkan kami!” pinta Gomozov dengan suara yang keras.

“Apa?” terdengar suara sang serdadu.

“Keluarkan kami, kataku…”

“Besok pagi,” kata sang serdadu, sambil pergi menjauh.

“Brengsek, aku harus mengerjakan semua pekerjaanku!” Gomozov berteriak dengan marah dan memohon.

“Aku akan mengerjakan semua tugasmu. Diamlah baik-baik di sini.”

Dan serdadu itu pun pergi.

“Kau anjing buduk!” geram sang pelangsir dengan perasaan tidak karuan. “Tunggu…kau tidak boleh mengurung aku di sini seperti ini. Itu kepala stasiun. Apa yang kau katakan kepada kepala stasiun? Dia akan bertanya: di mana Gomozov kan? Kalau begitu kau jawablah…”

“Saya takut, kepala stasiunlah yang memerintahkan si serdadu untuk melakukan hal ini,” kata Arina dengan lirih dan tanpa harapan.

“Kepala stasiun?” ulang Gomozov dengan takut. “Mengapa dia mesti memerintahkan si serdadu melakukan hal seperti ini?” Dan, setelah beberapa saat terdiam, dia kemudian berteriak kepada perempuan tersebut: “Kau berbohong!”

Arina menjawab hanya dengan helaan nafas yang dalam.

“Ya, Tuhan, apa yang akan terjadi sekarang?” kata sang pelangsir dan dia duduk di atas tong kayu di dekat pintu. “Cemarlahaku ini. Dan semuanya salahmu, monster jelek!”

Dan setelah mengepalkan tangan, Gomozov mengacung-acungkan kepalan tangan tersebut ke arah terdengarnya helaan nafas Arina. Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa.

Mereka diselubungi bayangan-bayangan kelabu – bayangan yang dipenuhi oleh bau acar kubis dan jamur serta bau sengit lainnya, yang menggelitik cuping hidung. Berkas-berkas tipis sinar bulan masuk melewati celah pintu. Dari luar terdengar suara gemuruh kereta barang, meninggalkan stasiun.

“Hei, kau, perempuan kuntilanak! Mengapa kau tak bicara apa-apa?” kata Gomozov, dengan marah dan memandang rendah. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kau menyurukkan aku ke dalam kesulitan ini dan sekarang kau tak mengatakan apa-apa? Pikirkan jalan keluarnya, brengsek, apa yang akan kita lakukan? Kemana aku harus sembunyi dari rasa malu ini? Ya, Tuhan! Bagaimana aku bisa berhubungan dengan mahluk yang seperti ini!”

“Maafkanlah saya,” kata Arina dengan pelan.

“Heh?”

“Mungkin saya akan dimaafkan.”

“Apa artinya untukku? Baiklah, kau akan dimaafkan; lantas hasilnya apa? Kecemaran itu akan tetap ada padaku atau tidak? Sama saja, aku akan ditertawakan .”

Setelah dalam beberapa saat terdiam, Gomozov mulai memaki-maki dan mencerca-cerca perempuan itu lagi. Waktu bergerak dengan berat dan pelan. Akhirnya perempuan tersebut berkata kepada Gomozov dengan suara gemetar:

“Maafkanlah saya, Timofei Petrovich.”

“Dengan kapak di kepalamu itu, baru kau aku maafkan!” bentak Gomozov.

Dan kembali muncul keheningan, kesuraman dan ketertekanan, keterpenuhan rasa sakit yang hampa bagi dua orang, yang terpenjara di dalam kegelapan.

“Ya, Tuhan! Sekiranya saja segera datang benderang,” dengan keterpiluan Arina memohon.

“Diamlah kau… Aku yang akan menunjukkan kepadamu bagaimana terang!” Gomozov mengancam dan sekali lagi mulai melontarkan rentetan-rentetan makian terhadap perempuan itu. Kemudian datang lagi siksaan karena keheningan dan kebisuan. Dan kebengisan waktu semakin bertambah dengan mendekatnya fajar, seakan-akan setiap menit itu menghilang dengan berlambat-lambat, seperti disenangkan oleh situasi yang menggelikan dari dua orang tersebut.

Beberapa waktu kemudian Gomozov tertidur dan dibangunkan oleh kokok ayam jantan, yang ada di luar gudang.

“Hei, nenek penyihir! Kau tidur?” tanya Gomozov dengan meredam.

“Tidak,” jawab Arina, dengan helaan nafas.

“Kalau begitu kau tidur saja!” Gomozov dengan mengejek menawarkan. “Ah, kau ini!”

“Timofei Petrovich!” kata Arina, hampir seperti menjerit. “Jangan marah dengan saya! Kasihanilah saya! Atas nama Kristus, saya memohon – kasihanilah saya! Saya betul-betul sendiri, tanpa seorang pun di dunia ini. Kau – kau satu-satunya yang aku miliki. Betapapun, kita…”

“Berhentilah meratap! Jangan membuat orang tertawa!” Gomozov memotong dengan kasar lenguhan histeris dari sang perempuan, yang meski demikian sedikit melunakkan hatinya. “Diamlah, kau – perempuan bodoh.”

Dan kemudian, tanpa berkata sepatah pun, mereka menunggui jalannya setiap menit yang berurutan. Akan tetapi lintasan menit tersebut tidak membawakan mereka apa-apa. Akhirnya sinar matahari datang melewati celah pintu, saling bersilang melalui kegelapan dalam bentuk berkas-berkas cahaya. Suara langkah terdengar dari luar gudang. Seseorang datang mendekati pintu, berdiri sebentar di sana dan kemudian pergi menjauh.

“Hei, setan!” Gomozov meraung, sambil meludah penuh kemarahan. Sekali lagi mereka menanti di dalam keheningan yang menegangkan.

“Ya, Tuhan, kasihanilah…” Arina berbisik.

Suara langkah yang diam-diam, rasa-rasanya, terdengar. Tiba-tiba ada bunyi gembok dibuka dan suara keras kepala stasiun terdengar.

“Gomozov!” teriaknya. “Pegang tangan Arina dan keluarlah kalian! Penuh rasa semangat, Gomozov! Semangat!”

“Ke sini, kau,” gumam Gomozov. Arina menghampiri dan berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk dalam.

Pintu terbuka dan di sana berdiri kepala stasiun. Dia menundukkan kepala, tanda takzim dan berkata:

“Selamat atas perkawinan kalian! Ayo, mainkan musik!”

Gomozov melangkah keluar melalui ambang pintu dan dia dihentikan oleh gemuruh suara, yang memekakkan telinga. Luka, Yagodka dan Nikolai Petrovich berdiri di depan pintu. Luka memukul-mukul bagian bawah ember dengan kepalan tangannya dan berteriak dengan sekuat-kuatnya dalam suara tenor yang melengking; sang serdadu meniup horn dari kaleng; Nikolai Petrovich, yang pipinya menggelembung, menggerak-gerakkan tangannya seperti ombak dan melalui bibirnya, seolah-olah, dia meniup sebuah terompet:

“Pom! Pom! Pom-pom-pom!”

Dari ember dihasilkan bunyi berdetam; suara yang melengking dan meraung keluar dari horn. Kepala stasiun tergelak, sampai terbungkuk-bungkuk memegangi bagian rusuknya. Asistennya juga terbahak-bahak, sambil melihat pada Gomozov, yang tampak ternganga dengan wajah pucat pasi dan bibir bergetar, yang tergurat di dalam senyum karena malu. Di belakangnya Arina berdiri, kepalanya tertunduk sampai ke dada, dia seperti tak bergerak dan seolah-olah telah berubah menjadi sebongkah batu.

Arina mengatakan kepada Timofei

            Kata-kata yang manis

 

            Luka menyanyikan hal-hal yang sepele dan menunjukkan wajahnya tampaktidak menyenangkan terhadap Gomozov. Sedangkan sang serdadu berjalan ke arah tempat Gomozov berdiri dan membunyikan horn-nya di telinga Gomozov, dia terus memainkannya, terus memainkan.

“Ayo, jalan, ayo…pegang tangan Arina!” teriak kepala stasiun, agak tertahan karena bahak tawanya. Tubuh Sonya, sang istri, yang duduk di serambi, terguncang-guncang karena gelak tawa dan dia berteriak histeris:

“Oh, oh! Hentikanlah! Aku bisa mati!”

Lantaran momen bahagia ini

Aku benar-benar sabar menderita

 

Nikolai Petrovich bersenandung, tepat di depan wajah Gomozov.

“Hore! Kepada pengantin baru, selamat!” teriak kepala stasiun, ketika Gomozov melangkah ke depan. Dan semuanya, keempat orang tersebut berteriak dengan serempak hore, tambahan lagi sang serdadu berteriak dengan suara bas yang menderam.

Arina melangkah di belakang Gomozov. Kepalanya sekarang terangkat, mulutnya ternganga dan tangannya terjuntai lemah di kedua belah pinggangnya. Matanya sayu menatap apa, yang ada di hadapannya, tetapi, bahwa kedua mata tersebut melihat sesuatu, itu diragukan.

“Buatlah mereka saling mencium! Ha…ha…ha!”

“Sebuah ciuman saja, pengantin baru!” teriak Nikolai Petrovich, sedang Matvei Yegorevich bahkan bersandar dengan lemah pada sebatang pohon dan karena tertawa kedua kakinya tidak lagi dapat menopang dirinya. Dan ember terus bersuara, horn berbunyi, menjerit, menggoda, dan Luka agak sedikit menari, ketika dia bernyanyi:

Dan kau, Arina, untuk kami

            Membuatkan sup kubis yang terlalu kental!

            Nikolai Petrovich sekali lagi mengeluarkan udara dari pipinya, yang digelembungkan:

“Pom-pom-pom! Toot-toot-toot! Pom-pom! Toot-toot-toot!”

Ketika Gomozov telah sampai di pintu barak, dia menghilang. Tinggal Arina berdiri di halaman dengan di kelilingi oleh sekelompok manusia liar, yang berteriak, tertawa dan bersuit-suit di telinganya; dan berjingkrak-jingkrak di sekitarnya dalam keriangan yang sangat gila. Dia berdiri di sana, di hadapan mereka dengan wajah yang tak bereaksi – kotor, tidak rapi, menyedihkan, dan absurd.

“Pengantin lelaki pergi menghilang dan meninggalkannya di belakang,” kata kepala stasiun kepada istrinya, sambil menunjukkan jari ke arah Arina dan tertawa sampai terbungkuk-bungkuk.

Arina menolehkan kepalanya ke arah kepala stasiun dan kemudian dia berjalan melewati barak, keluar menuju ke padang stepa. Kepergiannya disertai oleh teriakan, siulan dan gelak tawa.

“Cukup! Jangan usik dia lagi!” teriak Sofia Ivanovna. “Biarkan dia sendiri. Nanti dia harus meyiapkan makan siang.”

Arina pergi keluar menuju ke padang stepa; keluar melewati garis pemisah ke ladang gandum, yang berbulu kasar. Dia berjalan dengan pelan, seperti orang yang tenggelam dalam tafakur.

“Bagaimana, bagaimana?” berkali-kali kepala stasiun bertanya kepada mereka-mereka, yang ikut dalam percandaan yang tadi, yang menceritakan kepada satu sama lainnya detil-detil kecil dari rincian perilaku sang pengantin baru. Mereka semuanya tertawa terbahak-bahak. Dan bahkan, di dalam hal ini, Nikolai Petrovich mendapatkan kesempatan untuk memasukkan salah satu mutiara bijaknya:

Tertawa, pada apa, yang tampaknya jenaka

Benar-benar, bukanlah dosa

 

Hal ini dia katakan kepada Sofia Ivanovna, seraya menambahkan secara meyakinkan, “tetapi jika tertawa terlalu banyak, itu berbahaya.”

Pada hari itu, di sana, di stasiun telah terjadi gelak tawa yang riuhnya bukan main, tetapi makan siang jadi sangat buruk, karena Arina tidak datang untuk memasak dan pekerjaan tersebut terlimpah kepada istri kepala stasiun. Bahkan makan siang yang jelek itu tidak mampu menghancurkan suasana hati yang cerah. Gomozov tidak keluar dari barak sampai datang waktu, ketika dia harus mengerjakan tugasnya. Saat dia keluar, dia dipanggil ke kantor kepala stasiun dan di sana Nikolai Petrovich, dengan disertai kekehan Matvei Yegorovich dan Luka, menanyai Gomozov mengenai, bagaimana dia dapat memikat hatiperempuan cantiknya.

“Berdasarkan keorisinalannya – ini adalah kejatuhan laki-laki nomor wahid,” kata Nikolai Petrovich kepada kepala stasiun.

“Ya kejatuhan itu ada,” kata Gomozov yang tampak tenang dan serius dengan senyum kecutnya. Dia menyadari, bahwa seandainya dia dapat memberikan cerita, yang akan membuat Arina tampak menggelikan, maka dia sendiri akan sedikit terhindar dari terpaan gelak tawa. Dan dia bercerita:

“Mulanya perempuan itu berkali-kali mengedipkan matanya kepadaku.”

“Mengedipkan mata? Ha, ha, ha! Bayangkan itu, Nikolai Petrovich, bagaimana dia, Arina, dengan raut yang begitu, mengedipkan matanya kepada Gomozov? Itulah dia daya pikat!”

“Jadi, dia mengedipkan mata, sedang saya hanya memandang dan berpikir mengenai diri sendiri – kau nakal, perempuanku! Kemudian, akhirnya, dia berkata: kau mau, dia berkata begini, saya akan jahitkan kau beberapa kemeja.”

“Tetapi ‘di sini kekuatan ada bukan pada jahitannya’,” kata Nikolai Petrovich memperhatikan, seraya menambahkan kepada kepala stasiun dengan penjelasan: “Itu, Anda tahu, dari Nekrasov[20]– dari salah satu sajaknya yang berjudul ‘Ubogaya i Naryadnaya’.[21] Teruskan, Gomozov.”

Dan Gomozov melanjutkan, pertama-tama dengan memaksa-maksa, tetapi sedikit demi sedikit dia memperoleh inspirasi dari dusta-dustanya, karena dia melihat, bahwa kebohongan-kebohongan itu berfaedah bagi dirinya.

Sementaraitu perempuan yang sedang dibicarakan Gomozov, berbaring di atas padang stepa. Dia sudah berjalan jauh ke luar, masuk ke dalam lautan gandum dan di sana dia membenamkan diri dengan susah hati ke atas tanah dan berbaring tanpa bergerak. Ketika dia tidak sanggup lebih lama lagi menahan panasnya sinar matahari, yang mendera punggungnya, dia berbalik dan melindungi wajahnya dengan tangan untuk menghalangi pandangan ke langit yang terlalu terang, ke arah matahari yang sangat menyilaukan.

Pohon-pohon gandum yang ada di seputaran perempuan, yang telah diremukkan oleh perasaan malu itu, berdesir lembut; belalang-belalang yang tak terkira jumlahnya, mengerik secara kontinyu dan teratur. Hari, rasanya, panas. Perempuan tersebut berusaha untuk berdoa, tetapi dia tidak dapat mengingat kata-kata doa. Wajah-wajah yang penuh ejekan menari-nari di depan matanya. Telinganya dipenuhi oleh suara gelak tawa, horn yang menjerit dan lengkingan dari Luka. Karena itu, atau karena panas yang membuat dadanya terkerut; dan dia membuka bajunya dan memperlihatkan tubuhnya ke arah matahari, sambil berharap akan menjadikannya lebih mudah bernafas. Sinar matahari membakar kulitnya; sesuatu yang terasa panas tampaknya menggurdi[22]di dalam dadanya; nafasnya menjadi tersengal-sengal.

“Tuhan, kasihanilah…” bisik lirih Arina dari waktu ke waktu.

Akan tetapi jawaban yang datang hanyalah dari desiran pohon gandum dan suara belalang yang mengerik. Sambil mengangkat kepalanya lebih tinggi dari pohon gandum yang berombak, dia melihat kilauan pohon gandum yang keemasan, menara air berwarna hitam yang menjulang ke udara terbuka, di luar stasiun, dan atap dari bangunan stasiun. Tidak ada sesuatu yang lain di atas dataran berwarna kuning yang tak bertepi, yang diselubungi oleh lengkung langit biru; dan tampaklah pada Arina, bahwa dia sendirian di seluruh dunia ini dan dia berbaring di tengah-tengahnya, seorang pun tidak ada yang pernah datang untuk membebaskannya dari beban rasa sepi. Seorang pun, tidak pernah…

Menjelang malam perempuan itu mendengar teriakan:

“Arina-a! Arina, kau dengar!”

Suara yang satu itu milik Luka, sedang yang kedua milik sang serdadu. Perempuan tersebut berharap mendengar suara yang ketiga, tetapi laki-laki itu tidak memanggilnya dan oleh karena itulah dia meneteskan limpahan airmata, yang mengalir deras di atas pipi bopengnya. Dan ketika dia menangis, dia menggosok-gosokkan dada telanjangnya pada tanah yang kering dan hangat untuk menghentikan perasaan membaranya, yang akan menjadikan dirinya semakin lama, semakin disengsarakan. Perempuan itu menangis, dan kemudian menghentikan tangisnya, sambil menahan isakannya, seakan dia takut seseorang akan mendengar dan melarangnya menangis.

Ketika malam sudah datang, dia bangun dan dengan perlahan dia berjalan pulang menuju ke stasiun.

Saat dia sudah sampai di bangunan tersebut, dia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada dinding gudang, untuk waktu yang cukup lama dia memandangi padang stepa. Kereta barang datang dan pergi, dan perempuan itu mendengar, ketika sang serdadu menceritakan kisah malu dirinya kepada para awak kereta, yang tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka dibawa jauh keluar, menuju ke padang stepa dan di sana marmut-marmut bersuara dengan lirih.

“Tuhan, kasihanilah,” perempuan itu menghela nafas, sambil menekan tubuhnya pada dinding gudang. Akan tetapi   helaan nafasnya tidak mampu mengurangi beban hatinya.

Menjelang pagi dia naik ke atas, masuk ke dalam loteng stasiun dan menggantung dirinya dengan tali pakaiannya.

Dua hari kemudian bau mayat Arina menuntun orang-orang untuk menemukannya. Mula-mula mereka takut, tetapi kemudian mereka mulai membicarakan, siapa yang mungkin bersalah atas apa, yang terjadi. Nikolai Petrovich, tanpa bisa dibantah, memperlihatkan, bahwa Gomozov-lah yang bersalah. Kepala stasiun memberikan kepada pelangsir tersebut sebuah pukulan ke bagian rahang dan memerintahkan Gomozov untuk tetap diam.

Orang yang berwenang datang dan melakukan investigasi. Akhirnya diketahui, bahwa Arina mengalami derita hati karena melankolia – kemurungan jiwa. Beberapa pekerja rel kereta api diperintahkan untuk membawa mayat Arina keluar, ke padang stepa dan menguburkannya di sana. Semua telah terjadi, kedamaian dan ketentraman sekali lagi berkuasa di stasiun kereta tersebut.

Dan sekali lagi orang-orang yang tinggal di sana hidup selama empat menit dalam sehari, merana karena rasa sepi dan jenuh, karena panas terik dan ketiadaan pekerjaan, memandang dengan rasa iri, kereta-kereta yang cepat pergi, meninggalkan mereka.

Dan pada musim dingin, ketika badai datang menderu dan meraung dari padang stepa, seraya menghujani stasiun kecil itu dengan salju dan suara-suara yang menakutkan, menjadikan hidup di sana lebih lengang dari yang pernah ada. (*)

____

*Cerita karya Maxim Gorky ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti adalah penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Leo Tolstoy, Maxim Gorky, Anton Chekov dan sebagian penulis besar Rusia lainnya. Setelah menamatkan studi di Rusia penulis kini tercatat sebagai pengajar di Jurusan Sastra FIB UNPAD.

 

 Catatan Kaki:

[1] Ketel teh khas Rusia

[2] Nama diminutif Sofia

[3] Sebutan untuk lembaga pendidikan menengah umum

[4] Ukuran panjang Rusia kuno, setara 1,06 km

[5] Sepuluh kopek

[6] Provinsi, divisi teritorial dan administratif utama di Rusia (1708-1929). Sekarang diubah menjadi oblast (region) dan kray (territory)

[7] Nama kota, letaknya 196 kilometer dari sebelah tenggara kota Moskow

[8] Kota terbesar keempat setelah kota Moskow, Saint Petersburg dan Novosibirsk. Dari tahun 1932 sampai tahun 1990 kota ini dikenal dengan nama Gorky, karena Maxim Gorky dilahirkan di Nizhny Novgorod

[9] Divisi teritorial dan administratif terendah di Rusia tahun 1708-1929, sekarang rayon

[10] Poplar, sejenis pohon dari kelas pohon willow

[11] Arthur Schopenhauer (22 Pebruari 1788-21 September 1860) termasyur dengan karyanya ‘the World as Will and Representation’. Schopenhauer memformulasikan filsafat yang pesimistik, yang memandang hidup, pada dasarnya, menjadi jahat, gagal dan penuh derita. Filsafatnya ini memperoleh sandaran yang kuat setelah kegagalan revolusi Jerman dan Austria tahun 1848. Akan tetapi melalui pemikiran Timur, dia melihat adanya penyelamatan, pembebasan atau lari dari derita dalam renungan estetis, rasa simpati pada orang lain dan perikehidupan menyepi

[12] Lark, burung yang gemar bernyanyi dari kelas burung gereja atau burung pipit

[13] Hal yang bersifat biasa sekali, dangkal, atau umum

[14] Majalah mingguan untuk bacaan keluarga, terbit di Saint Petersburg (1870-1918)

[15] Saringan

[16] Penulis Rusia Evgeny Baratinsky (1800-1844) merupakan penulis elegi, epigram, filsafat, lirik, sajak, prosa dan prosa liris.

[17] Penulis Rusia Konstantin Fofanov (1862-1911) merupakan penulis lirik, sajak, prosa liris dan epigram

[18] Nama diminutif Elena

[19] Timofei Petrovich Gomozov

[20] Nikolai Nekrasov (1821-1877/1878) merupakan penulis puisi, puisi satiris, prosa liris, prosa dan drama. Penulis Rusia yang melanjutkan tradisi Pushkin dan Lermontov. Karya-karyanya sangat berpengaruh pada perkembangan puisi-puisi demokratis paruh kedua abad 19

[21] Beggarly and Smart, petikan di sini kekuatan ada bukan pada jahitannya diambil dari baris terakhir bagian 1 ‘Karangan dalam Tiga Jilid’ Nekrasov. Sajak ini ditulis pada tahun 1859

[22] Men-drill atau mengebor

Continue Reading

Cerpen

Gabriel Marquez: Monolog Isabel Memandangi Hujan di Macondo

mm

Published

on

Aku mungkin baru sebentar tidur malam itu ketika hawa anyir seperti bau bangkai menyentakku bangun. Kugoncang tubuh Martin yang mendengkur di sampingku. “Tidakkah kau rasakan?” tanyaku padanya. Dan ia berucap: “Apa?” Aku berkata: “Bau itu. Pasti mayat-mayat yang mengambang di sepanjang jalan.” Aku giris dengan pikiran itu, tapi Martin hanya memalingkan muka ke dinding dan dengan suara serak setengah tidur ia berkata: “Itu cuma pikiranmu sendiri. Wanita hamil memang selalu membayangkan macam-macam.”

 

Gabriel Garcia Marquez*

____

Musim dingin jatuh pada suatu Minggu saat orang keluar dari gereja. Sabtu malam udara sudah terasa menyesakkan. Namun, hingga Minggu pagi tak seorang pun menduga akan turun hujan. Seusai misa, sebelum kami kaum wanita sempat menemukan gagang payung kami, angin tebal gelap berhembus dengan pusaran luas menyapu debu dan sampah berat bulan Mei. Seseorang di sebelahku berucap: “Ini angin basah.” Dan itu sudah kuketahui sebelum terjadi. Saat kami berjalan keluar, di tangga gereja kurasakan mual menggoncang perutku. Para pria berlarian ke perumahan terdekat dengan satu tangan memegang topi dan tangan lainnya memegang sapu tangan, berlindung diri dari debu dan angin. Lalu hujan turun. Dan langit bagaikan zat kental kelabu yang mengepakkan sayap-sayapnya setengah depa di atas kepala kami.

Sepanjang sisa pagi itu aku dan ibu tiriku duduk dekat pagar, merasakan bahagia bahwa hujan akan menyegarkan lagi kuntum-kuntum rosemary dan nard yang dahaga di pot-pot bunga, setelah tujuh bulan menjalani musim terik dan debu membakar. Pada tengah hari gaung bumi berhenti dan aroma tanah yang berganti, tetumbuhan yang bangkit dan hidup kembali, bergabung dengan hawa sejuk dan segar dari hujan yang jatuh di kuntum-kuntum rosemary. Sewaktu makan siang ayahku berkata: “Hujan di bulan Mei adalah suatu pertanda akan datang masa yang baik.” Sambil tersenyum, dilintasi berkas cahaya musim baru, ibu tiriku berkata padaku: “Itulah yang kudengar dalam khotbah.” Dan ayahku tersenyum. Ia makan dengan lahap dan mengunyah makanan perlahan-lahan di samping pagar, diam, mata terpejam, namun bukan tidur, seakan ia membayangkan sedang bermimpi saat jaga. Hujan turun sepanjang sore dalam nada tunggal. Engkau dapat mendengar air jatuh dalam kekerapan yang seragam dan damai, seperti yang dapat engkau dengar saat engkau bepergian sore hari dengan kereta api. Namun, tanpa kami perhatikan, hujan merasuk terlampau jauh ke dalam perasaan kami. Senin dini hari, ketika kami menutup pintu untuk menghindari angin dingin menusuk yang berhembus dari halaman, perasaan kami sudah dipenuhi hujan. Dan Senin pagi air sudah meluap. Aku dan ibu tiriku menuju belakang rumah untuk melihat taman. Tanah kasar bulan Mei yang kelabu telah berubah dalam semalam menjadi zat hitam becek seperti sabun murahan. Tetesan air mulai meninggalkan pot-pot bunga. “Kukira pot-pot bunga itu telah mendapat air lebih dari cukup sepanjang malam,” gumam ibu tiriku. Dan kuperhatikan senyumnya sirna dan kesenangannya di hari sebelumnya telah berubah malam itu menjadi keseriusan yang memelas dan menjemukan. “Kukira engkau benar,” kataku. “Lebih baik menyuruh orang-orang Indian itu menaruh pot-pot itu di beranda sampai hujan berhenti.” Dan itulah yang mereka lakukan, ketika hujan menderas seperti pohon raksasa di atas pepohonan lainnya. Ayahku memandangi tempat ia berada pada Minggu sore, namun ia tak bicara soal hujan. Ia berkata: “Tadi malam aku pasti tak nyenyak tidur sebab aku bangun dengan punggung terasa pegal.” Dan ia ada di sana, duduk di samping pagar dengan kaki di atas kursi dan kepala menghadap ke taman yang kosong. Baru pada petang hari, setelah ia menolak makan siang ia berucap: “Kelihatannya langit takkan pernah cerah lagi.” Dan aku ingat bulan-bulan yang panas. Aku teringat bulan Agustus, tidur siang yang panjang dan gundah di mana kami merebahkan tubuh untuk mati di bawah beratnya hawa panas, pakaian lengket ke tubuh, mendengar hiruk-pikuk di luar yang terus-menerus dan dungu dari waktu yang tak pernah berlalu. Kulihat dinding-dinding basah kuyup, sambungan-sambungan balok memuai oleh air. Aku melihat ke taman kecil, kosong mula-mula, dan rumpun melati pada dinding, yang setia pada kenangan akan ibuku. Kulihat ayahku duduk di kursi goyang, punggung sakitnya bersandar pada sebuah bantal, dan mata dukanya tersesat ke dalam labirin hujan. Aku teringat malam-malam bulan Agustus, keheningannya yang menakjubkan, tak sesuatu pun terdengar selain suara ribuan tahun bumi, yang berputar pada porosnya yang berkarat dan tak berpelumas. Tiba-tiba aku merasa dicengkam nestapa tak terperi.

Hujan turun sepanjang Senin, sebagaimana hari Minggu. Tapi, kini seakan hujan turun dengan cara lain, sebab sesuatu yang berbeda dan getir terjadi dalam hatiku. Pada petang hari sehembus suara di samping kursiku berkata: “Hujan ini sungguh menjemukan.” Tanpa menoleh, kukenali suara Martin. Aku tahu ia berkata di kursi sebelah, dengan ungkapan dingin yang sama dan menggiriskan yang belum berubah, bahkan belum berubah sejak fajar Desember yang muram, saat ia mulai menjadi suamiku. Lima bulan telah berlalu semenjak itu. Kini aku akan mempunyai seorang anak. Dan Martin di situ, di sampingku, berkata bahwa hujan membuatnya jemu. “Bukan menjemukan,” kataku. “Bagiku terasa menyedihkan, melihat taman yang kosong dan pohon-pohon ranggas yang tak bisa berlindung dari hujan.” Lalu aku menoleh ke arahnya dan Martin tak lagi di sana. Hanya sebersit suara berkata padaku: “Tampaknya takkan pernah cerah lagi,” dan ketika kutoleh ke arah suara itu hanya kudapati kursi kosong.

Selasa pagi kami temukan seekor lembu di taman. Tampak bagai sebongkah lempung dari tanah semenanjung dalam kekerasan dan kelembamannya yang meronta. Kukunya membenam ke dalam lumpur dan kepalanya merunduk. Sepanjang pagi itu orang-orang Indian berusaha mengusirnya dengan tongkat dan batu. Namun, ia tetap bertahan di sana, tak terusik di tengah taman, keras, tak tergugat, kukunya masih membenam di lumpur dan kepalanya yang besar seakan dipermalukan oleh hujan. Orang-orang Indian itu mengusiknya hingga kesabaran ayahku menyuntuk batas. “Tinggalkan saja,” katanya. “Ia akan pergi sebagaimana ia datang.”

Saat matahari tenggelam di hari Selasa, air terasa menegang dan melukai, seperti selembar kafan di atas hati. Kesejukan awal pagi mulai berubah menjadi kelembaban yang panas dan lengket. Suhu tidak panas atau dingin; suhu panas-dingin. Kaki berkeringat di dalam sepatu. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih menggeresahkan, kulit telanjang atau baju yang lekat pada kulit. Di rumah semua kegiatan sudah berhenti. Kami duduk di beranda, namun kami tak lagi memperhatikan hujan seperti pada hari pertama. Kami tak lagi merasakan hujan turun. Kami tak melihat apa pun selain sketsa pepohonan di tengah kabut, dengan sebuah mentari terbenam yang murung dan terasing yang meninggalkan di bibirmu rasa seperti ketika engkau terbangun dari sebuah mimpi tentang orang asing. Aku tahu waktu itu Selasa, dan aku ingat si kembar asuhan Santo Jerome, dua gadis buta yang datang ke rumah tiap pekan dan menyanyikan untuk kami lagu-lagu sederhana. Aku tergetar oleh kegetiran dan keagungan yang rawan dari suara mereka. Di atas hujan kudengar nyanyian kecil si kembar buta, dan aku membayangkan mereka berada di rumah, berkumpul, menunggu hujan reda hingga mereka bisa pergi dan bernyanyi. Kukira si kembar Santo Jerome tak bisa datang hari itu. Juga perempuan pengemis yang datang tiap Selasa takkan berada di beranda usai waktu tidur siang untuk meminta cabang baka jeruk balsam.

Hari itu kami kehilangan selera makan. Pada jam tidur siang ibu tiriku menghidangkan sepiring sup hambar dan sepotong roti basi. Meski sebenarnya kami belum makan sejak terbenam matahari pada hari Senin, dan kukira sejak itu kami berhenti berpikir. Kami lunglai, terbius hujan, menyerah pada amuk alam dengan sikap pasrah dan damai. Hanya lembu itu yang bergerak di sore hari. Tiba-tiba semacam suara garau menggoncang jeroannya, dan kuku-kukunya menghunjam ke lumpur dengan tenaga lebih dahsyat. Lalu ia diam berdiri selama setengah jam, seakan sudah mati, tapi tak terjerembab sebab kebiasaan untuk bertahan hidup mencegahnya, kebiasaan untuk bertahan dalam satu posisi di tengah hujan, sampai kebiasaan itu menjadi lebih lemah ketimbang berat tubuhnya. Lalu ia menggandakan tenaga pada kaki depannya (pangkal pahanya yang hitam dan berkilap masih tegak dalam upaya terakhir yang sangat menyiksa) dan moncongnya yang berliur menyungkur ke dalam lumpur. Dan akhirnya ia menyerah pada berat tubuhnya sendiri, dalam sebuah upacara maut yang sunyi, bertahap, dan bermartabat. “Ia telah berusaha sampai sejauh itu,” seseorang berucap di belakangku. Dan aku berpaling untuk melihat: di ambang pintu masuk kulihat perempuan pengemis hari Selasa telah datang menerobos badai untuk meminta cabang jeruk balsam.

Mestinya pada hari Rabu aku sudah terbiasa dengan suasana mengharu biru itu seandainya di ruang tamu tak kujumpai meja yang dipepetkan ke tembok, dengan perabotan bertumpuk di atasnya, dan pada bagian lain, di atas dinding pembendung yang dibuat sepanjang malam, teronggok kopor dan kotak perkakas rumah tangga. Pemandangan itu menghadirkan di hatiku perasaan kosong yang memiriskan. Sesuatu telah terjadi sepanjang malam itu. Rumah berantakan; orang-orang Indian Guajiro, tak berbaju dan telanjang kaki, celana digulung hingga lutut, mengangkati perabotan ke ruang makan. Pada air muka mereka, pada kerapian kerja mereka, orang dapat melihat kebengisan pemberontakan mereka yang sia-sia, dari kenistaan yang niscaya dan memalukan di tengah hujan itu. Aku bergerak tanpa tujuan, tanpa kemauan. Aku merasa bagaikan sehamparan padang rumput terpencil bersemai ganggang dan lelumutan, dengan jamur payung yang lembut, lengket, dan subur oleh tetumbuhan menjijikkan yang muncul dari kelembaban dan kegelapan. Di ruang tamu aku sedang merenungi pemandangan gurun perabotan rumah yang berantakan ketika kudengar suara ibu tiriku mengingatkanku dari kamarnya bahwa aku bisa terserang radang paru-paru. Saat itu barulah kusadari bahwa air telah naik ke mata kakiku, bahwa rumah kebanjiran, lantai tertutup tebal permukaan air pekat yang menggenang.

Rabu tengah hari, fajar belum berlalu. Dan sebelum pukul tiga sore, malam telah hadir sempurna, mendahului waktu dan kuyu, dengan kelambanan yang sama, menjemukan, diiringi irama bengis hujan di halaman. Sebentang petang yang hadir sebelum waktunya, lembut dan murung, hadir di tengah kesunyian orang-orang Guajiro, yang berjongkok di atas kursi-kursi menghadap tembok, kalah dan tak berdaya melawan amuk alam. Itulah yang terjadi saat berita mulai tiba dari luar. Tak seorang pun membawanya ke rumah ini. Tiba begitu saja, tepat, sendiri, seolah dihanyutkan oleh lempung cair yang menyusuri jalan-jalan dan menyeret segala perkakas rumah tangga bersamanya, benda-benda dan kian banyak benda, sisa-sisa dari sebuah bencana yang jauh, sampah dan bangkai binatang. Berita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Minggu, ketika hujan masih dianggap sebagai pertanda musim keberuntungan, perlu dua hari untuk sampai di rumah kami. Dan hari Rabu berita itu tiba, seakan didorong oleh tenaga inti badai itu. Kemudian terkabar bahwa gereja terlanda banjir dan diperkirakan runtuh. Seseorang yang tak berkepentingan untuk mengetahui berkata malam itu: “Kereta api tak bisa melewati jembatan sejak Senin. Tampaknya sungai itu menghanyutkan rel.” Dan terdengar berita bahwa seorang wanita yang sedang sakit hilang dari ranjangnya, dan sore harinya ditemukan terapung di halaman.

Terbelit rasa ngeri, yang muncul dari jeri dan air bah, aku duduk di kursi goyang dengan kaki terlipat dan mata terpaku pada gelap kabut yang penuh isyarat suram. Ibu tiriku muncul di ambang pintu dengan lampu diangkat tinggi dan kepala tegak. Ia tampak seperti hantu penghuni rumah yang sama sekali tak membuatku takut sebab aku pun merasa gaib seperti dirinya. Ia berjalan menghampiriku. Kepalanya masih tegak dengan lampu menggantung di udara; dan ia mencipratkan air ke beranda. “Sekarang kita harus berdoa,” katanya. Dan kuperhatikan wajahnya yang kering dan keriput, seakan baru bangkit dari kubur atau seakan ia tercipta dari zat yang berbeda dengan tubuh manusia. Ia di seberangku dengan rosario di tangannya, berkata: “Sekarang kita harus berdoa. Air bah telah membongkari kuburan dan mayat-mayat malang kini mengapung di atasnya.”

Aku mungkin baru sebentar tidur malam itu ketika hawa anyir seperti bau bangkai menyentakku bangun. Kugoncang tubuh Martin yang mendengkur di sampingku. “Tidakkah kau rasakan?” tanyaku padanya. Dan ia berucap: “Apa?” Aku berkata: “Bau itu. Pasti mayat-mayat yang mengambang di sepanjang jalan.” Aku giris dengan pikiran itu, tapi Martin hanya memalingkan muka ke dinding dan dengan suara serak setengah tidur ia berkata: “Itu cuma pikiranmu sendiri. Wanita hamil memang selalu membayangkan macam-macam.”

Pada fajar hari Kamis bau itu lenyap, pemahaman tentang jarak sirna. Pengertian tentang waktu, yang mulai kacau sejak hari sebelumnya, telah hilang sama sekali. Lalu hari Kamis itu pun raib. Apa yang mestinya adalah hari Kamis kini menjelma sesuatu yang wadag, bahan lentuk-kenyal yang dapat dipisah-pisah menggunakan tangan demi memunculkan hari Jumat. Tak ada lelaki atau perempuan di sana. Ibu tiriku, ayahku, orang-orang Indian itu adalah tubuh-tubuh gemuk dan ganjil yang bergerak di rawa-rawa musim dingin. Ayahku berkata padaku: “Jangan pergi dari sini sampai kamu diberi tahu apa yang harus dilakukan,” suaranya jauh dan samar, dan seakan bukan untuk dicerap lewat telinga tapi lewat sentuhan, satu-satunya indera yang masih bekerja.

Namun, ayahku tak kembali. Ia tersesat di tengah cuaca. Karenanya saat malam tiba kuminta ibu tiriku menemaniku tidur di ranjang. Aku tidur pulas dan damai, menghabiskan malam itu. Hari berikutnya suasana masih sama, tak berwarna, tak beraroma, dan tanpa panas sedikit pun. Ketika terbangun, segera saja aku melompat ke kursi dan termangu diam di sana, sebab sesuatu mengatakan padaku bahwa masih ada satu wilayah kesadaranku yang belum sepenuhnya terjaga. Lalu kudengar kereta api melengking. Lengkingan panjang dan pilu kereta api yang lolos dari badai. Kukira, di mana-mana cuaca pasti sudah cerah. Dan sekelebat suara di belakangku seperti menjawab pikiranku. “Di mana?” katanya. “Siapa di situ?” aku bertanya sembari mencari-cari. Dan kulihat ibu tiriku dengan lengannya yang kurus panjang pada arah dinding. “Ini aku,” katanya. Dan kubertanya padanya: “Apa engkau dapat mendengarnya?” Dan ia menjawab ya. Mungkin cuaca sudah cerah di daerah pinggiran dan mereka akan memperbaiki rel. Lalu ia menyodoriku sebuah baki dengan sarapan pagi yang masih mengepul. Tercium aroma saus bawang putih dan mentega yang dididihkan. Sepiring sup. Masih nanar, kutanya ibu tiriku sudah jam berapa sekarang. Dan ia, dengan tenang, suara terasa pasrah tanpa daya, berkata: “Mestinya sekitar jam dua lewat tiga puluh. Kereta api toh tidak terlambat setelah semua ini.” Aku berkata: “Dua lewat tiga puluh! Bagaimana aku bisa tidur begitu lama?” Dan katanya: “Kamu tidur belum terlalu lama. Belum lagi lewat jam tiga.” Gemetar, aku merasa piring itu tergelincir dari tanganku. “Dua lewat tiga puluh hari Jumat,” kataku. Dan ia, dengan ketenangan yang menggiriskan: “Dua lewat tiga puluh hari Kamis, nak. Masih dua lewat tiga puluh hari Kamis.”

Aku tak tahu berapa lama aku berjalan-jalan dalam keadaan tidur di mana indera kehilangan nilai. Aku hanya tahu bahwa setelah rentang waktu yang tak terukur itu, terdengar suara di kamar sebelah, berkata: “Sekarang engkau dapat menggulung kasur itu ke sebelah sini.” Sebuah suara yang lelah, tapi bukan suara orang yang sedang sakit, lebih mirip suara orang yang mulai sembuh dari sakitnya. Lalu kudengar kemericik air. Aku masih terbujur kaku sebelum kusadari bahwa aku dalam posisi mendatar. Lalu kurasakan kekosongan yang teramat langut. Kurasakan di rumah ini kesunyian yang rawan dan bengis, kediaman yang menyeramkan, yang memengaruhi segalanya. Dan tiba-tiba kurasakan hatiku berubah menjadi sekepal batu beku. Kukira aku mati. Ya Tuhan, aku mati. Aku melompat ke ranjang. Aku berteriak: “Ada! Ada!” Martin dengan suara garau menjawab dari bagian lain. “Mereka tak dapat mendengarmu. Mereka sudah di luar sekarang.” Baru kusadari kini bahwa cuaca sudah cerah dan di sekitar kami hamparan kesunyian membentang, sehampar ketenangan, kekudusan yang wingit dan dalam, sebentuk suasana yang sempurna, menyerupai kematian. Sesaat terdengar di beranda langkah-langkah kaki. Suara hentakan kaki yang nyata dan hidup. Lalu sehembus angin dingin mengayun daun pintu, gagang pintu berderit, dan sesosok tubuh padat dan besar, senampak buah yang masak, jatuh membenam ke dalam kolam di halaman. Di udara menyeruak sesosok manusia gaib yang tersenyum dalam kegelapan. Ya Tuhan, pikirku, bingung oleh kekacauan waktu. Kini aku takkan terkejut lagi jika mereka datang mengajakku pergi ke Misa Minggu yang lalu.(*)

____

*Gabriel Garcia Marquez: adalah Penulis peraih Nobel Kesusastraan asal Kolombia. Ia meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Kamis 17 April 2014 ia telah meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Karya Marquez yang paling terkenal adalah One Hundred Years of Solitude yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia. Novel yang ditulisnya pada tahun 1967 itu sudah terjual lebih dari 30 juta buku di seluruh dunia dan meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Beberapa novel lainnya yang juga mendunia antara lain Love in the Time of Cholera, Chronicle of a Death Foretold, dan The General in His Labyrinth. Gaya bertuturnya yang hidup dengan cerita mencampurkan kenyataan serta gaib menempatkan dia menjadi pelopor aliran sastra yang disebut realisme magis. Dia tinggal di Meksiko selama 30 tahun belakangan sampai wafatnya. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, menyampaikan penghormatan kepadanya melalui Twitter. “One Hundred Years of Solitude dan kesedihan atas kematian warga agung Kolombia sepanjang masa.”

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending