Connect with us

Proses Kreatif

Kuliah dan Keharusan untuk Menulis

mm

Published

on

Oleh: Juma’

Kisah menulis ini akan saya mulai dengan dua ungkapan “provokatif” dan cukup membuat saya punya keberanian untuk merantau. Pertama, “hidup yang tak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan”. Ungkapan Fredrich Schiller memberi gairah hidup dalam diri saya untuk tidak pernah gentar dengan gelombang hidup. Hidup bukan dengan menghindari gelombang, tetapi menari di tengah badai. Kedua, “merantaulah. Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)”. Ungkapan Imam Syafi’ie menjadi motivasi untuk mengarungi samudera rantau guna menuntut ilmu.

Ungkapan pertama, akhirnya menjadi populer ketika saya berada di Rantau, tepatnya sejak saya memutuskan untuk mondok di Pondok Kutub, Caben Yogyakarta. Ungkapan ini sering diucapkan senior di pondok untuk memotivasi kami yang baru mondok

Perjalanan rantau saya (mungkin) tidak akan pernah terjadi tanpa motivasi untuk hidup dari dunia kepenulisan. Motivasi kuliah dengan “iming-iming” menulis di sebuah pondok bernama Pondok Kutub (Pesantren Hasyim Asy’ari) yang didirikan oleh (alm.) Gus Zainal Arifin Thaha. Ya, perjalanan rantau saya tidak lepas dari motivasi untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi dengan “pertaruhan” hidup mandiri dari menulis. Saya pun berangkat ke Jogja untuk mondok di Kutub. Pondok Kutub mengajarkan saya dan para santrinya untuk menulis di koran dan bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai kuliah. Keinginan untuk melanjutkan kuliah berbarengan dengan “iming-iming” hidup mandiri dengan menulis.

Pendiri pondok, Gus Zainal Arifin Thaha “mengharamkan” santrinya untuk meminta kiriman pada orang tua jika hanya untuk kebutuhan makan. Dari sinilah, perjalanan belajar menulis saya tekuni di Jogja. Perkenalan saya dengan dunia tulis menulis diawali dengan seringnya membaca tulisan kakak senior yang sudah kuliah di Jogja. Namanya, Rahbini. Saya sering disuruh membaca resensinya yang dimuat di koran.

Ketika sampai di Jogja pun, saya langsung ditantang menulis resensi. Saya diberikan buku baru untuk dibaca. Waktu itu, saya diberi waktu sekitar 3-5 hari untuk membaca buku, mencatat point yang ingin ditulis, lalu menuliskan resensi buku.

            Ketika resensi yang saya tulis selesai, saya mengirimkan tulisan saya ke koran lokal di Jogja, Kedaulatan Rakyat (KR). Setiap hari minggu, tulisan resensi yang sudah saya kirim selalu saya cek keberadaannya; dimuat atau tidak.

Sembari menunggu, saya terus belajar menulis; mulai resensi hingga opini dan esai. Setiap minggu, saya selalu mengirimkan tulisan baik dalam bentuk opini, esai atau resensi.

Ketika memasuki minggu kelima, saya dikejutkan dengan gurauan anak-anak pondok bahwa resensi saya dimuat di koran KR. Saya sangat terkejut. Saya bersujud syukur dan merasa tidak percaya jika tulisan saya dimuat di KR. Saya terkejut, karena itu tulisan pertama saya. Tantangan dari kakak senior saya berhasil saya lewati dengan dimuatnya tulisan saya. tentu, Rasa bangga dan tak percaya menggelatui saya selama semingguan. Waktu itu tahun 2007, honor resensi 50.000 sudah cukup membuat saya sangat bahagia. Apalagi ditambah saya mendapatkan dua buku dari penerbit. Saya pun langsung meminta Buku Sejarah Umat Manusia karya Arnold J. Toynbee.

Kehidupan di Pondok Kutub menuntut saya untuk terus berjuang dan berkarya. Saya diharuskan untuk membaca buku dan membaca karya teman yang dimuat, membaca koran untuk mendapatkan inspirasi ide agar bisa dituliskan ke media massa. Rasanya, tiada hari tanpa membaca dan menulis. Setiap hari, kami diajarkan untuk menulis, minimal satu karya; bisa esai, opini atau resensi. Selain itu, pondok memfasilitasi kami dengan kajian rutin; kajian editorial; mengkaji tema-tema aktual di media massa; kajian sastra; berupa bedah karya puisi atau cerpen teman-teman pondok dan kajian tokoh yang mengkaji pemikiran tokoh-tokoh yang dianggap dapat membantu teman-teman mengembangkan ide di kepenulisan.

Di Pondok Kutub, kami selalu diberikan motivasi dengan petuah guru kami: “lebih baik bertidak walau pun sedikit, daripada terjebak angan-angan ingin berbuat banyak”. Adigium ini begitu kuat memotivasi kami untuk terus belajar, membaca dan menulis. Kami diajarkan untuk hidup mandiri dengan menulis atau berjualan koran di perempatan jalan. Berjualan koran di perempatan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari; makan dan rokok.

Aktifitas belajar dan diskusi dunia literasi di Pondok Sastra Kutub, Yogyakara. (getty image/ sastra kutub)

Guna menumbuhkan semangat menulis bagi teman-teman baru atau lama, pondok Kutub memberlakukan sebuah aturan tak tertulis bahwa setiap karya yang dimuat, harus difoto kopi dan ditempel di dinding. Menempel karya di dinding bertujuan agar kami (yang belum dimuat) terus berlomba-lomba menulis, tentu saja tidak lupa membaca. Bahkan, senior kami di Pondok Kutub akan membully kami secara halus, jika tulisan kami tidak pernah dimuat. Kami dibully dengan pertanyaan yang sangat halus; “mana tulisanmu?” pertanyaan ini menjurus pada kami yang pernah dimuat, tetapi lama tak dimuat lagi atau bagi kami yang memang belum pernah dimuat sama sekali.

Disinilah, saya mengalami masa yang cukup pahit dalam kepenulisan. Paska dimuat resensi pertama kali di Kedaulatan Rakyat, selama hampir 3 bulan, tulisan saya tidak pernah dimuat lagi di koran. Selama kurun waktu itu, perasaan pesimis dan frustasi menghampiri saya. Padahal, setiap minggu saya pasti mengirim tulisan, untuk rubrik resensi dan opini. Saya berkesimpulan, mungkin tulisan pertama yang dimuat, lebih karena berbau keberuntungan, bukan karena kualitas tulisan saya yang bagus.

Dalam kurun hampir 3 bulan tulisan yang tidak pernah dimuat, saya terus belajar menulis, membaca karya orang dan minta dieditkan pada senior. Terakhir, saya ingin mengutip pesan Gus Zainal Arifin Thaha (alm) yang sering dituturkan senior saya; “bacalah semua buku. Jangan takut. Tuhan bersama orang-orang yang rajin membaca. Dan janganlah anggap dirimu berhasil kalau belum memberikan manfaat bagi orang lain. Serta janganlah kalian meninggal sebelum banyak malahirkan karya.” Dari sini, saya tak pernah berhenti membaca dan menulis.

*Juma’, Santri Kutub, Alumni UIN Sunan Kalijaga, tertarik pada tema-tema Sejarah. twitter: _jdPutra.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog Pembaca

Virdika: Buku-Buku Mempertajam Rasa Kemanusian Kita

mm

Published

on

Membaca buku-buku membuat kita bertemu dan mengalami banyak kisah, cerita, perasaan manusia dalam beragam bentuknya. Kita mengetahui penderitaan, penindasan dan peminggiran atau tentang jiwa manusia yang kalut—hal itu secara konstan membuat kita memiliki kemampuan untuk melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia.

Paling tidak itulah salah satu makna dan arti mendalam dari buku dan membaca buku-buku menurut Virdika Rizky Utama. Pekerjaannya sebagai wartawan Majalah GATRA membuatnya terus memiliki kesempatan menggali lebih dalam makna-makna yang bisa ia dapat dari interaksi dengan buku dan tentu saja, banyak ragam manusia.

Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat, adalah buku penting yang membuatnya benar-benar menjadi pembaca buku. LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) DIDAKTIKA di UNJ yang memeng terkenal menjadi ruang diskursus dan penjaman naluri kemanusiaan mahasiswa di UNJ membuatnya kian memiliki dunia yang mendekatkannya dengan buku-buku dan akhirnya, menjadi penulis, sebagai seorang wartawan.

Buku apa yang paling penting dan telah merubah cara berpikir dan menentukan dalam kehidupannya kini? Jawabannya: buku “Di bawah bendera revolusi” dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat. Dia memiliki alasan kuat atas jawaban itu. Simak kisah menarik selengkapnya dari Virdika dan dunia buku dalam wawancara Galeri Buku Jakarta dengannya berikut ini:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Bagi saya, Buku merupakan kawan paling setia yang sangat mudah ditemui. Buku melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Momen pertama kali bertemu dengan dunia membaca (buku) terutama saat belajar membaca yang diajarkan oleh ibu dan ayah saya. Pertama dibacakan cerita, belajar membaca apa pun bukan hanya buku, termasuk papan reklame saat saat saya dan keluarga saya bepergian di akhir pekan.

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Minat membaca saya semakin menguat dan akhirnya menjadi seorang pembaca adalah pada saat ikut dalam Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika, Universitas Negeri Jakarta. Di didaktika punya kegiatan acara bedah buku—seminggu biasanya 3 kali—momen bedah buku pertama saya sangat berkesan. Buku pertama yang saya bedah adalah Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat—kebetulan saya sangat hobi baca buku sejarah dan politik.

Ketika membedah buku itu, saya kaget bukan main, karena saya pikir hanya akan membahas aspek apa, siapa, dan kapan, layaknya pelajaran sejarah di SMA. Namun nyatanya, segala aspek sosial, politik, ekonomi, dan kontekstualisasi ke masa kini juga jadi pembahasan. Kita harus bisa membaca konteks dalam setiap teks. Saat itu, saya merasa gagal dalam hal membaca buku. Tapi, itu bukan jadi satu alasan untuk saya tidak membaca buku, justru sebaliknya. Saya semakin giat membaca. Membaca buku membuat kita peka dengan permasalahan kehidupan.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Selama ini, tempat paling nyaman saya membaca buku adalah rumah, terurama ruang keluarga. Biasanya baca buku sambil tengkurap, ditemani bantal seebagai penyangga, dan teh hangat yang tak terlalu manis—sebab saya tidak suka kopi, hehe.

Saya pikir di bus dan kereta sama saja. saya pernah membaca di kedua tempat tersebut. Tapi jangan harap anda bisa membaca saat jam sibuk—berangkat atau pulang kerja. Bisa menjejakkan kaki seutuhnya di dalam bus atau kereta saja sudah sebuah kebanggan, hehe. Saya biasanya butuh bantuan musik, saat membaca di dalam transportasi umum. Ketika tangan mulai membuka tiap halaman dan telinga disumbat oleh suara musik, saya bisa langsung bisa fokus.

Tapi itu hanya bisa saya lakukan pada buku berbahasa Indonesia. Saat membaca buku bahasa inggris saya sangat butuh suasana tenang. Sebab saya perlu mempelajari tata bahasa, arti kalimat, kosa kata, dan konteks bacaan.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang sangat sulit. Selama ini, setiap buku yang saya baca selalu memengaruhi pola pikir dan hidup saya. Saya rasa buku tersebut adalah buku Soekarno. Di bawah bendera revolusi dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat.

Alasannya, siapa yang tak bergetar mendengar nama Soekarno? Apalagi saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya langsung terbayang Soekarno memperjuangkan sebuah bangsa baru bernama Indonesia—bukan berarti saya mendeskreditkan perjuangan pendiri bangsa yang lain.

Di kedua buku itu, kita diajak menyelami pemikiran, ide tentang bagaiamana Indonesia akan dibentuk, dengan cara apa, dan tentu tujuannya seperti apa. Soekarno sangat paham kondisi Indonesia. Oleh sebab itu, ia tidak menelan mentah-mentah teori atau pemikiran dari Eropa atau negara mana pun.

Ia tahu kondisi rakyatnya, ia merumuskan keadaan sendiri rakyatnya, ia tidak mabuk teori dan metode, baginya semua pengethauan yang ia miliki harus bisa menjawab segala persoalan kehidupan rakyat Indonesia. Akibatnya, pemikirannya selalu kontekstual dengan zaman, tak lekang oleh waktu.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Tetralogi Pulau Buru—Pramoedya Ananta Toer dan Dan Damai di Bumi! (Karl May). Untuk tetralogi Pulau Buru, kita tak hanya disuguhkan dengan cerita yang luar biasa. Sosok Minke yang menjadi pembaru gerakan perlawanan Indonesia terhadap pemerintah kolonial melalui tulisan. Cerita di balik penulisan tetralogi Pulau Buru pun sangat menggetarkan dunia.

Buku Karl May yang satu ini, lebih mengedepankan sisi psikologis dibandingkan fisik seperti dalam buku Karl May lainnya. Di sini juga ide Karl May tentang konsep humanismenya. Ada satu sajak yang tak akan pernah saya lupa dalam novel tersebut:

“Bawalah warta gembira ke seantero dunia

Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,

Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,

Jadikanlah ia perlambang damai antarumat.

Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah hanya cinta,

Segala lainnya tinggalkan di rumah.

Justru karena ia pernah berkorban nyawa,

Dalam dirim, kini ia hidup selamanya”.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Saya sudah sebutkan ini berikut jawabannya di pertanyaan sebelumnya, hehe. Otobiografi Soekarno, Bumi Manusia, dan Dan Damai Di Bumi!

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Menulis fiksi itu sangat sulit. Bagi saya, penulis fiksi—novelis atau apapun sebutannya— merupakan sebuah tahap tertinggi bagi seorang penulis. Saya tidak mau main-main dalam menulis.

Oleh sebab itu, saya akan menulis nonfiksi. Ya, tentang sejarah pastinya. Menulis tentang perjalanan demokrasi di Indonesia. Sebab, demokrasi di Indonesia sedang berkembang dan mencari format terbaik.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang maha dahsyat, haha. Saya kira, kita harus melibatkan semua pihak dalam mengatasi krisis literasi. Tidak bisa parsial, satu lembaga misalnya Kementerian Pendidikan Budayaan (kemendikbud). Pun kalau ini hanya menjadi tugas kemendikbud, tidak bisa hanya satu pihak yang membaca.

Kita ambil contoh, Saya pernah PKL di SMAN 30 Jakarta. Ada jam literasi bagi siswa. Pada saat itu, siswa diharuskan membaca buku—genre nya bebas. Sayangnya, ini hanya buat siswa saja. gurunya tidak membaca. Ini kan jadi semacam bentuk hipokrit. Menyuruh siswa membaca, tapi gurunya tidak membaca.

Oleh sebab itu, apabila pemerintah serius ingin mengatasi krisis literasi. Maka, kebijakan harus tersruktur, masif, dan melibatkan semua pihak. (*)

Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Proses Kreatif

Mendengarkan Puisi

mm

Published

on

Sewaktu kuliah di fakultas ilmu pengetahuan budaya alias fakultas sastra UI, sesekali suara-suara merdu terdengar dari auditorium salah satu gedung. Mahasiswa sastra Indonesia sedang melantukan puisi dengan iringan musik. Terhibur, tapi tak sampai ingin mendengar utuh apalagi memasukkannya ke dalam playlist di gawai. Empat tahun berlalu dan puisi-puisi yang biasa bertebaran menghilang lenyap dikerumunan manusia dalam kereta. Hanya suara-suara orang mengaduh di dalam gerbong khusus wanita (perempuan) yang mungkin jika dibuatkan puisi elok juga.

Hampir lupa rasanya jentik-jentik melankoli ketika tak sengaja menemukan puisi di majalah dinding, di majalah, atau buku milik teman yang memang menyukai puisi-puisi Joko Pinurbo dan Aan Mansyur. Sampai suatu malam di bulan Mei 2016, setelah kecewa melihat pantai Losari yang ternyata cuma lapisan beton, kemilau cahaya warna-warni menarik perhatian ke arah Fort Rotterdam. Sedang ada acara besar rupanya, Makassar International Writer Festival (MIWF). Benteng yang seharusnya nampak menyeramkan di malam hari, berkilau dengan lampu-lampu dan dekorasi panggung warna-warni.

Seseorang sedang membacakan puisi dalam bahasa Inggris, di atas panggung dengan ketinggian rendah yang di depannya dipenuhi manusia. Sebagian duduk beralas rumput, sebagian berdiri saja menikmati gairah dalam intonasi pembaca puisi. Mungkin tak semua mengerti isinya karena dibacakan dalam bahasa asing, tetapi penyair di atas panggung itu seperti aktris dalam pantonim. Kami semua mengerti ada kritik yang disampaikan dalam jalinan kata-kata yang diberi judul Who am I?

Bingung ingin duduk atau pergi, melihatlah berkeliling stand-stand jualan. Ada yang menjual buku termasuk buku puisi Aan Mansyur yang sudah ludes karena hebohnya film Ada Apa dengan Cinta? Tidak Ada New York Hari Ini sudah tidak ada di Makassar. Selain buku-buku, ada stand yang menjual CD album, isinya musikalisasi puisi. Jadi teringat masa-masa kuliah di fakultas Sastra. Tapi masih belum tertarik untuk membeli.

Acara di panggung terus berlanjut. Tiba-tiba terdengar bunyi-bunyi merdu. Ada Hujan (di) Bulan Juni, dinyanyikan dengan musik yang memikat dan dua suara vocal yang merdu. Ari-Reda. Begitu mereka dipanggil, menyanyikan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Terpikat dengan suara, musik, dan suasana malam di benteng Fort Rotterdam dengan lampu warna-warni mencolok di kegelapan. Kembalilah ke stand penjualan, membeli satu album Ari-Reda dengan 12 lagu yang kebanyakan diambil dari puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Aku Ingin, Ketika Berhenti Di Sini, dan tentu saja Hujan Bulan Juni di kemudian hari masuk playlist dalam gawai dan menjadi teman di perjalanan sambil sekali lagi menyaksikan kerumunan manusia yang suara mengaduhnya tak lagi terdengar, tersumbat jalinan kata-kata Sapardi melalui suara merdu Ari.

Beruntung sebelum pulang, rasa haus membawa diri ke tempat nongkrong hits anak Makassar ‘Popsa’, tepat di seberang Fort Rotterdam. Sambil menunggu minuman diantar yang lamanya sebanding dengan sepuluh lagu dalam playlist, mata ini menangkap rombongan pengisi acara yang mungkin juga kehausan. Ari-Reda menyempatkan diri berfoto dan membubuhkan tanda tangan di album yang kupegang. Album manis berjudul Becoming Dew.

Continue Reading

Proses Kreatif

Menulis Tanpa “Keharusan” Menulis

mm

Published

on

Marlina Sopiana*

Sudah dua tahun sejak lulus kuliah, rasanya menulis bukan lagi kegiatan yang lumrah dan mudah dilakukan. Bukan berarti ketika kuliah menulis paper merupakan kegiatan yang mudah. Akan tetapi, menulis tanpa embel-embel keharusan sebagai pelajar mempunyai tantangan tersendiri. Pertama, ketiadaan deadline seperti masa-masa “nugas” membuat saya malas-malasan menyelesaikan satu tulisan. Alhasil banyak sekali file .doc di dalam folder Write di laptop saya yang isinya tulisan-tulisan tak terselesaikan. Kedua, kurangnya rekan diskusi mengurangi ketajaman analisa. Ide-ide yang tertulis seringnya hanya berupa opini pribadi yang parahnya seringkali merupakan hasil analisa reaksioner dari suatu peristiwa. Ketiga, lingkungan yang kurang menunjang, misalnya jika kita tinggal di dalam rumah yang anggota keluarganya gagap literasi. Kegiatan membaca dianggap buang-buang waktu.

Selain faktor-faktor di atas, wacana yang berkembang di masyarakat juga mempengaruhi semangat menulis. Misalnya, wacana pilkada DKI yang menjamuri hampir seluruh media online nasional. Saat ini banyak sekali media online yang mempersilahkan siapa saja untuk berkontribusi memberikan tulisan berupa opini, cerpen, atau puisi. Sebagian menerapkan kebijakan kurasi. Sebagian yang lain hanya memberikan penyuntingan minimal, artiya semua tulisan bisa masuk. Media yang menerapkan kebijakan kurasi biasanya mempunyai konten yang beragam karena tulisan dipilih dan disunting oleh editor. Sedangkan media yang hanya memberikan penyuntingan minimal kontennya sangat bergantung pada selera pasar. Alhasil ketika ramai kasus Ahok, hampir semua tulisan yang tayang membahas isu tersebut. Meskipun ada tulisan yang membahas isu lain, tulisan ini akan segera tertimpa dan terlupakan di halaman beranda.

Menulis merupakan sarana mengingat, mengendapkan, dan menganalisa ide. Untuk itu perhatian dari pembaca lain sangat penting, apalagi jika dapat memberikan kritikan yang konstruktif.

Menulis merupakan sarana mengingat, mengendapkan, dan menganalisa ide. Untuk itu perhatian dari pembaca lain sangat penting, apalagi jika dapat memberikan kritikan yang konstruktif. Saya teringat masa-masa “nyekripsi”, ketika saya ingin menulis dengan tema yang cukup jarang diminati oleh teman-teman seangkatan. Kami sering “nyekripsi” bareng, saling berdiskusi tentang tema tulisan masing-masing dan memberikan masukan yang berarti. Kesulitan saya waktu itu adalah tidak ada teman yang meminati tema tulisan saya. Sehingga tiap saya bertanya untuk mempertajam ide tulisan saya, mereka mundur teratur dan mempersilahkan saya untuk bertanya kepada yang lain. Untungnya ada kelas seminar yang memaksa setiap mahasiswa mendiskusikan tiap-tiap tema yang akan ditulis, baik yang mereka minati ataupun tidak.

Lain halnya dengan media online sekarang. Dunia online mempersilahkan kita untuk memilih apa yang ingin kita lihat, baca, dan, dengar. Ketika tulisan yang muncul di halaman depan media favorit anda tidak anda minati, anda bisa dengan santainya melanjutkan ke halaman lain. Artinya, media online memungkinkan kita untuk mengabaikan saja ide yang muncul. Semangat menulis tidak hanya muncul dari ketertarikan seseorang akan suatu ide, namun juga dari kritik dan masukan pembaca lain. Ide akan berbunga jika didiskusikan dan akan layu jika mengendap sebagai tulisan opini reaktif yang tertimbun oleh tulisan-tulisan opini reaktif lainnya. (*)

*Marlina Sopiana lahir 11 Juni 1991. Mantan mahasiswa filsafat yang masih meminati percakapan filosofis, terutama tema-tema philosophy of mind. Kadang-kadang aktif di media sosial twitter @marlinnfish.

“Tak peduli abadi atau tidak bagi zaman, menulis tetap melibatkanmu sebagai pembentuk zaman”. – Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Trending