Connect with us

Buku

Kopi Rasa Kolonial

mm

Published

on

Oleh: Sabiq Carebesth*

Hari ini kopi dinikmati tak hanya sebagai “obat” anti kantuk. Kopi telah menjelma menjadi gaya hidup, lambang kemapanan, absurditas kaum kreatif, bahkan suatu tingkat kemewahan. Kopi telah menjelma menjadi produk kebudayaan—dan dengan demikian juga sejarah penindasan.

Cita rasa pahit kopi rupanya sebanding dengan kepahitan yang dialami kuli-kuli pribumi di kebun kopi Priangan, Jawa Barat khususnya pada masa “tanam paksa” kolonialisme Belanda. Kopi kemudian memulai globalisasi paling mutakhir di tanah Priangan. Pada level paling bawah atas rantai komoditas global, kuli kopi di tanah Pasundan adalah penyuplai setengah kebutuhan kopi dunia ini.
Melalui buku Jan Breman “Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870” ini kita ditunjukkan nasib para produsennya, yakni petani kopi pasundan, yang mengalami transformasi secara berangsur-angsur dari semula sebagai petani dan pemilik tanah dalam berbagai tingkatannya, menjadi orang yang hanya mengandalkan tenaga yang ada pada dirinya. Berakhir mereka menjadi pekerja bebas atau kuli.

Rasa Kolonial

Penanaman kopi di tanah ini dijalankan melalui tanam paksa, kerja paksa, mobilisasi penduduk dan perubahan penggunaan tanah, hingga penyerahan wajib atas biji kopi yang dipetik, yang kesemuanya itu menyengsarakan masyarakat Priangan. Ekonomi kolonial yang berlangsung sejak hadirnya perusahaan dagang VOC pada abad XVIII hingga berakhirnya era Kerja Paksa ini tak terhindarkan melahirkan masyarakat kuli.

Kolonialisme menyediakan jalan yang lempang bagi kapitalisme. Inilah setitik konklusi dari buku Jan Breman. Buku ini memberi sumbangan penting bagi penulisan sejarah sosial dan ekonomi-politik Indonesia, tepatnya sejarah kritis yang mengajak agar sejarah kolonialisme di Indonesia ditulis ulang.
Penulisan ini menurut sejarawan Muda Ahmad Nashih Luthfi, dilakukan dengan cara menempatkan perluasan ekonomi sebagai konteks global bagi berlangsungnya kebijakan-politik jajahan, dan menunjukkan nasib rakyat yang terkena dampak atas kebijakan tersebut.

Dengan demikian secara historiografis Jan Breman dalam karya ini berada di dalam wacana historiografi sub-altern, yakni menunjukkan secara meyakinkan pesimisme mikro (kekerasan kemanusiaan penduduk) atas kebijakan tanam paksa kopi, serta kemampuan para petani melakukan perlawanan ala Scottian; dan bukan sebaliknya cara pandang etatistik yang penuh gambaran optimisme (pertumbuhan ekonomi kolonial). Ia menentang historiografi dominan yang ada bahwa kebijakan “Kultuur-stelsel” atau Sistem Tanam itu menghasilkan saldo tinggi bagi ekonomi negara Belanda, dan membuka kebuntuan ekonomi masyarakat pribumi di negeri jajahan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.

***

Meski menggunakan sumber-sumber resmi yang ditulis pejabat negara dalam rentang pergantian rezim sejak VOC hingga berakhirnya era tanam paksa, Jan Breman berhasil menghindari “colonial apologetic” sehingga tak heran, tesis Jan Breman dalam buku ini seakan membantah dengan tegas pandangan dominan selama ini. Yaitu pandangan yang menyatakan bahwa era tanam paksa berakhir sebab ekonomi negara (state enterprise) dijalankan secara lamban dan tidak efisien, sehingga harus beralih ke private enterprise.

Di situlah kemudian kita menyaksikan berkumandangnya gagasan-gagasan liberal disuarakan di parlemen. Argumen lanjutan dari pandangan umum ini, yang meski benar sebagai proses politik daripada pertimbangan utama nasib rakyat, adalah suara-suara kritis yang muncul saat itu dengan menunjukkan kekejaman dan kengerian yang dihadapi.

Suara-suara itu dipertimbangkan oleh otoritas penguasa. Akan tetapi, sekali lagi bukan pertimbangan kemanusiaan yang utama, namun karena menurunnya produksi kopi sehingga sistem ekonomi yang dijalankan tidak lagi profitable, dan koreksi diperlukan untuk memperbaiki sistem.

Marcel van der Linden, Direktur penelitian Institut Internasional Sejarah Sosial, Amsterdam, menyebut buku Jan Breman ini sebagai terobosan karya yang mampu memperlihatkan pada kita bagaimana pemerintah kolonial pada masa pemerintahan Hindia-Belanda menerapkan “kerja paksa yang didelegasikan“ sebagai dasar cara kerja yang dipakai untuk pertanian dengan tujuan ekspor.
Halaman demi halaman buku ini memuat uraian dengan argumen kuat tentang penerapan dan dampak politik kolonial, yang memperlihatkan bagaimana ‘masyarakat pribumi’ dipaksa untuk menghasilkan surplus yang menyebabkan mereka berada dalam kemiskinan, membuat para penguasa kaya, dan menjadikan negeri Belanda siap melaksanakan proses modernisasinya. Demikian komentar John Ingleson, Deputy Vice Chancellor University of Western Sydney dan sejarawan dalam bidang kolonialisme di Indonesia.

Bukan “Mooie Indie”

Tanah Priangan yang terbentang mulai dari Cianjur, Bandung, Sumedang, Sukapura, Limbangan dan sebagian Cirebon diimajinasikan secara “Mooie Indie” oleh pelukis-pelukis romantik. Kota Bandung hingga pertengahan abad XX berjejuluk indah sebagai “Paris van Java”, dan tumbuh sebagai kota kolonial yang menjadi tujuan belanja layaknya Singapore saat ini.

Di balik selubung kertas pencitraan kolonial tersebut, terdapat penghisapan sumberdaya alam dan lebih-lebih adalah eksploitasi manusia. Sistem Priangan di wilayah-wilayah “frontier” Jawa Barat ini mengingatkan mengenai modus produksi kolonialistik yang melahirkan dampak kerusakan sosial dan ekologis yang luar biasa. (*)

Data Buku:
♦ Judul: Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa:
Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870
♦ Penulis: Jan Breman
♦ Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014
♦ Tebal: xvi + 400 halaman
♦ ISBN: 978-979-461-874-5

*Sabiq Carebesth: Pecinta Buku, Editor Galeri Buku Jakarta. Twitter: @sabiqcarebesth

Continue Reading

Buku

Tiongkok Tuliskan Sejarah Nusantara

mm

Published

on

Judul Buku: Nusantara dalam Catatan Tionghoa

Penulis: W.P. Groeneveldt

Penerbit: Komunitas Bambu | Tahun Terbit: 2018

Tebal; vvxi + 172 halaman, ISBN 978-602-9402-92-6

_____________________________________________

Ada sebuah pernyataan bijak yang tidak diketahui namanya menyatakan, “Orang yang bijak adalah orang yan mengenal sejarahnya.” Sekilas ini merupakan sebuah pernyataan yang sangat baik. Kita diminta mengenal sejarah kita, agar dapat belajar mengambil sikap dan memetakan masa depan.

Akan tetapi, kita juga dapat mempertanyakan pernyataan di atas? Dari mana kita dapat mengetahui sejarah kita? Apakah dari dalam diri kita sendiri atau lingkungan kita? Atau bahkan kita harus mengetahui sejarah kita dari orang lain?

Suka atau tidak, hal itu yang terjadi pada pencatatan sejarah Indonesia atau saat masih gugusan kepulauan nusantara. Justru sejarah Indonesia, banyak ditulis oleh orang asing yang dikenal dengan istilah Indonesianis. Mereka banyak menulis tentang sejarah Indonesia periode kontemporer hingga periode klasik yang masih bernamakan nusantara.

Hal itu yang coba diusahakan oleh W.P Groeneveldt dalam usahanya mengenalkan sejarah nusantara. Sebagai seorang arkeolog dan juga memegang jabatan penting dalam administrasi kolonial Belanda di Indonesia, ia melacak sejarah gugusan kepulauan nusantara yang akan menjadi cikal bakal Nusantara.

Uniknya, ia tidak memakai catatan orang-orang Eropa dalam menuliskan sejarah nusantara, tetapi memakai catatan-catatan orang-orang Tiongkok yang pernah mendatangi langsung kepuluan nusantara seperti Jawa, Sumatra, Bali, dan Kalimantan. Bukan tanpa sebab Groeneveldt memakai  catatan orang-orang Tiongkok, pasalnya Tiongkok memiliki literature lengkap yang tidak pernah terputus dari dinasti ke dinasti dalam berbagai subjek (hlm.XV).

Tentu, hal yang menghubungkan Kekaisaran Tiongkok dan nusantara adalah perdagangan. Bahkan, dalam catatan yang ditemukan oleh Groeneveldt, Kekaisaran Tiongkok sudah memiliki kontak dagangan mulai sejak zaman dinasti Shang pada 2000 SM. Dinasti Shang banyak melakukan interaksi perdagangan baik melalui jalur darat maupun jalur laut ke wilayah Sumatra dan Jawa. Interaksi antara Tiongkok dan wilayah nusantara pun terus berlanjut dari dinasti ke dinasti berikutnya tanpa terputus.

Selain itu, dari setiap utusan dinasti yang berkunjung ke nusantara melibatkan banyak orang yang menjadi perantara yang merangkap menjadi penerjemah untuk para pedagang baik secara resmi maupun pribadi. Adanya penerjemah ini adalah satu petanda bahwa interaksi sudah berjalan cukup intens. Terlebih saat masa kekaisaran Dinasti Ming, melibatkan utusan bernama Zheng He. Ia dikenal memiliki reputasi catatannya yang akurat dari hasil kunjunngannya ke luar negeri (Hlm.48).

Dampak lain dari perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Tiongkok adalah dibolehkannya orang-orang Tiongkok menetap di wilayah-wilayah nusantara. Baik sebelum masa kerajaan maupun sampai masa kerajaan. Mereka menetap dan melakukan akulturasi dengan penduduk nusantara.

Tentu orang-orang Tiongkok tidak hanya sekadar mencatat interaksi perdagangan dengan orang-orang nusantara, tetapi juga mencatat kegiatan masyarakat nusantara pada saat itu. Ini merupakan hal penting, karena dalam sejarah Indonesia terdapat missing link setelah era prasejarah, langsung memasuki era kerajaan-kerajaan nusantara dimulai dari Kutai Kartanegara.

Mereka mencatat kehidupan orang-orang nusantara cukup mengerikan, “Mereka berjalan tanpa alas kaki dan apabila ada kerabat yang meninggal, jenazahnya akan diletakkan di hutan agar di makan anjing. Apabila, jenazahnya di makan sampai habis, maka keluarga akan bahagia. Sedangkan, jika jenazahnya tidak di makan sampai habis, maka keluarga akan bersedih dan membuang sisa jenazahnya ke laut.” (Hlm.58-59) Catatan-catatan tersebut tentu sangat penting dalam mengisi kekosongan pencatatan sejarah di Indonesia, meski secara kuantitas hingga saat ini masih sangat kurang.

Dikarenakan ditulis oleh orang-orang Tiongkok, catatan-catatan ini hanya menunjukkan bagaimana adikuasanya Tiongkok atas kepuluan-kepulauan nusantara. Kendati demikian, berdasarkan catatan ini kita bisa melihat sumbangsih atau peran orang Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari hingga mereka melakukan pembauran dengan masyarakat. Nusantara.

Buku ini juga bisa menjadi jawaban atas sentimen rasial yang tengah melanda di Indonesia terhadap orang-orang Tionghoa. Sebab, sering kali banyak yang menyatakan bahwa orang Tionghoa tidak memiliki peran di Indonesia. Justru, dengan buku ini, orang-orang Indonesia berhutang budi karena Orang Tionghoa telah mencatat dan mengenalkan sejarah Indonesia.

__________________________

*) Virdika Rizky Utama: Periset di NARASI.TV

Continue Reading

Budaya

Mengembalikan Kedigdayaan Maluku

mm

Published

on

Tak ada yang memungkiri, Tiongkok merupakan penguasa ekonomi awal abad XXI. Bahkan, tingkat pertumbuhan Tiongkok merupakan yang tertinggi kedua di dunia. Tiongkok dapat mengancam kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat (AS). Padahal, hingga akhir abad XX AS merupakan penguasa ekonomi dunia, jauh meninggalkan Tiongkok.

Tak pelak, pencapaian yang diraih Tiongkok menimbulkan persaingan dengan AS. Bahkan, untuk menahan laju perekonomian Tiongkok, AS membangun jalur perdagangan transpasifik Trans Pacific Partnership (TPP) pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama 2009 lalu. Sedangkan, Tiongkok, membangkitkan kembali jalur sutera yang pernah dirintis oleh pedagang-pedagangnya pada awal masehi, untuk kembali menguasai perekonomian dunia.

Lalu di manakah posisi Indonesia? Sebagai negara yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia dapat masuk dalam kedua kutub persaingan dua jalur perekonomian dunia. Tapi apakah Indonesia harus memilih salah satu diantaranya atau Indonesia dapat membuat poros baru perdagangan dunia?

Melalui buku ini, Komarudin Watubun mencoba menawarkan sebuah gagasan agar Indonesia untuk dapat membuat poros perekonomian dunia yang baru? Di mana, bagaimana, dan mengapa, Indonesia mesti membangun poros perekonomian itu?

Komarudin menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad XXI. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa harus Maluku? Kenapa poros perdagangan dunia tidak dimulai di bagian Barat Indonesia yang sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dibandingkan wilayah Timur Indonesia seperti Maluku?

Secara umum, buku ini terdiri atas tiga bagian yakni kondisi Maluku dan Indonesia saat ini, sejarah Maluku, dan strategi untuk mewujudkan Maluku sebagai pusat perekonomian Indonesia dan dunia. Penulis mengungkapkan empat tesis untuk memperkuat alasan pemilihan Maluku menjadi titik perdagangan Indonesia dan dunia.

Pertama, tentu nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara sejak abad XII hingga abad XX. Layaknya Tiongkok yang membangkitkan kembali jalur sutera, sejarah semestinya tidak menjadi benda mati dan hanya menjadi pelajaran menghafal di sekolah. Sebab, dalam perjalanan sejarah nusantara, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri. Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya.

Dalam catatam sejarah, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI. Bahkan, selama abad XVI—XVIII Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritim dunia, inovasi, dan revolusi sistem keuangan dan korporasi global pertama kali di dunia (hlm.247).

Bahkan, karena kekayaannya, Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut bahkan  menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

Judul Buku : Maluku, Staging Point RI Abad ke-21 Penulis : Komarudin Watubun Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Tahun Terbit : Cetakan I, November 2017 Tebal : vi + 431 halaman Harga : Rp.120.000

Namun, tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah Maluku, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa (hlm.274) Hal itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku.

Kedua, Geostrategis Maluku dan Indonesia. Posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura (hlm.129).

Ketiga, faktor mineral strategis Maluku. Maluku memiliki kekayaan alam selain rempah-rempah yaitu ladang gas Blok Masela. Blok Masela merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan. Cadangan gasnya mencapai 10,73 triliun cubic feet (tcf).

Selain itu, produk dari gas dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan (hlm.74). Bahkan, Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

Keempat, seleksi alam dan segitiga arus alam Maluku selama ini pada tiga tingkat global.  Secara historis ratusan tahun sejak pramasehi, kebutuhan masyarakat dunia dapat dipasok dari kawasan arus alam Papua, Maluku, dan Nusa tenggara Timur (NTT). Zona tersebut merupakan satu garis alam (hlm.395).

Pola hubungan alam zona-zona tersebut saling terkait, saling mendukung, dan saling melindungi. Oleh sebab itu, penerapan strategi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada zona tersebut akan perubahan signifikan dan bersamaan pada seluruh sektor yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan, dan perhubungan baik secara nasional maupun internasional.

Posisi Indonesia—terutama Maluku—yang sangat strategis semestinya dapat dijadikan untuk membangun poros perekonomian baru, bukan harus memilih antara jalur transpasifik AS dan jalur sutera Tiongkok. Tentu saja, pembangunan Maluku menjadi poros ekonomi baru Indonesia harus dapat menyejahterahkan rakyat Maluku dan Indonesia.

Sebab, hingga saat ini, dibalik kekayaan alam yang melimpah, Provinsi Maluku menjadi salah satu provinsi miskin di Indonesia. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang atau naik 10 ribu orang dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,03 juta. Dengan demikian, Provinsi Maluku menjadi daerah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi (TPT) dengan persentasi 9,29 persen.

Oleh sebab itu, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama pemerintah dan rakyat Indonesia khususnya Maluku. Bagi pemerintah, buku ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk membangun perekonomian yang berpihak pada rakyat. Sedangkan, bagi rakyat Maluku, buku ini mengingatkan agar kita tak lengah atau terlena dengan kekayaan alam yang dimiliki. Kita tentu tak ingin mengulangi kesalahan pengelolaan kekayaan alam yang kita miliki di Papua yang tak memberi dampak bagi rakyat Indonesia. Selain itu, buku ini banyak memiliki data-data yang sangat lengkap, baik data sejarah maupun data ekonomi dan geostrategis politik dunia.

Kita tentu tak ingin terus membenarkan sebuah adagium bahwa kekayaan alam suatu negara adalah kutukan. Kekayaan alam hanya menghasilkan konflik dan kemiskinan bagi sebuah negara. Kita tentu ingin membuktikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, sila kelima dalam pancasila bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah realitas dan keniscayaan bagi rakyat Indonesia.

*) Virdika Rizky Utama, Penulis dan Wartawan Majalah GATRA

Continue Reading

Milenia

Marlina dan Perlawanan Perempuan

mm

Published

on

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, film yang masih tayang di bioskop ini menghadirkan perempuan dan penindasan. Tokoh perempuan yang diceritakan dalam film ini merupakan sebuah upaya pembuat film dalam menyebarkan pesan keberanian. Film ini memuat semangat juang para perempuan yang akhirnya keluar dari penindasan yang mereka alami selama ini. Perempuan yang acap kali dicap sebagai sosok yang lemah berhasil dipatahkan lewat adegan demi adegan di film ini.

Marsha Timothy sukses memainkan karakter Marlina. Ini dibuktikan dengan penghargaan tingkat dunia yang berhasil ia gondol. Marlina digambarkan sebagai perempuan yang tidak cuma diam membisu saat dirinya diopresi oleh sekelompok laki-laki. Ia dengan gagah melawan perlakuan semena-mena dari para lelaki. Tidak mudah bagi Marlina untuk lepas dari cengkeram kuasa jahat para lelaki.

Marlina, seorang janda yang ditinggal mati suami dan anaknya harus rela rumahnya didatangi sekawanan pria. Gerombolan laki-laki itu menyatroni rumahnya dengan maksud mengambil hewan ternak kepunyaan Marlina sebagai pengganti hutang yang belum terbayar. Pada awalnya, Marlina menuruti permintaan demi permintaan para perampok dari mulai menyuruh dibuatkan minum, makan, hingga pasrah ketika sapi, babi, dan binatang lain miliknya digiring naik ke atas truk. Namun ia sangat cerdik rupanya. Ia telah membubuhi racun ke dalam makanan yang akan disajikan kepada para laki-laki tak tahu diri itu. Satu persatu para laki-laki itu tumbang dan tak berdaya dengan racun yang merasuki tubuh.

Tersisa tiga dari tujuh laki-laki yang belum meregang nyawa. Salah satunya Markus, pria berumur separuh abad ini merupakan yang tertua di antara rekan-rekan perampok. Markus tak sampai teracuni sup ayam buatan Marlina karena mangkuk supnya jatuh dan pecah. Peran pria uzur ini diperagakan oleh Egi Fedly. Nafsu birahi Markus tersalurkan dengan memperkosa Marlina. Sayangnya nasib malang tak dapat ditolak. Kepuasan Markus harus ditukar dengan hilang nyawanya. Marlina terus memberontak saat disetubuhi, hingga parang pun melayang menebas kepala Markus.

Perwujudan Perempuan yang Tampil Bertindak

Alur kisah dalam film ini pun berlanjut. Marlina yang mencari keadilan segera menuju ke kantor polisi. Kepala Markus yang sudah terpenggal ia tenteng ke mana-mana. Marlina tak gentar menuntut hukuman setimpal bagi para bandit yang masih hidup atas apa yang menimpa dirinya. Potongan tubuh Markus yang kadang kala membuntutinya pun tidak menyurutkan niat Marlina.

Marsha Timothy, Pemeran Utama Film “Marlina the Murderer in Four Acts”

Marlina sukses melampaui anggapan dari aliran feminism eksistensialis. Feminisme eksistensialis memandang perempuan sebagai jenis kelamin kedua atau the second sex yang mendefinisikan dirinya liyan. Sedangkan laki-laki melabeli dirinya sebagai Sang Diri. Ia ada untuk dirinya. Liyan bertugas melayani Sang Diri. Wanita disimbolkan sebagai objek yang dikuasi Diri atau subjeknya. Ada relasi kuasi superioritas dan inferioritas.

Marlina unggul pada tamatnya cerita, meski di permulaan sempat beradu dan tunduk sementara pada laki-laki. Penggiat feminism eksistensialis, Simone de Beauvoir menegaskan, dalam dunia patriarki, perempuan tidak bisa lepas dari jerat dunia laki-laki, perangkap ini merupakan tanda penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Para bandit-bandit sepertinya menerapkan pemikiran itu.

Bentang alam Sumba menjadi latar perjalanan Marlina ke polsek terdekat dari rumahnya. Film ini juga menggambarkan betapa ketersediaan sarana transportasi masih jarang di Sumba. Untuk mendapat tumpangan bus truk, warga harus menanti selama satu jam. Begitu pula Marlina. Bahkan ia harus menyambung perjalanannya dengan menunggangi kuda.

Fakta tersebut sangat kontras dengan mudahnya akses komunikasi, yang ditunjukkan dengan adanya interaksi antar tokoh yang sedang berkomunikasi lewat telepon seluler. Film ini pun tak sepenuhnya menikam penonton dengan terus-menerus meneror lewat bayangan seram dan berdarah-darah. Kejadian-kejadian menggelitik mengundang tawa dimunculkan lewat dialog khas Sumba.

Lagi-lagi, pemahaman mengenai perempuan  punya kekuatan untuk menantang sekaligus menentang ketakberpihakan yang menimpa ingin ditularkan kepada penonton dari film ini. Tokoh Mama dan Novi turut mengokohkan film ini sebagai propaganda agar perempuan jangan mau diinjak nasibnya oleh laki-laki.

Mama di sini diperankan sebagai wanita yang tak menampakkan rasa takut sama sekali meski melihat Marlina membawa kepala Markus tanpa dibungkus kain. Berbeda dengan penumpang lelaki yang justru ketakutan dan berusaha menghindar dari Marlina. Mama juga memiliki andil besar dalam perkawinan keponakannya. Ia ditugasi untuk segera mengirim tambahan kuda sebagai semacam mahar bagi ponakan laki-lakinya yang akan menikahi seorang perempuan. Adegan ini merefleksikan bagaimana laki-laki seolah-olah bisa menebus perempuan dengan harta sebagai penggantinya.

Novi, teman Marlina ikut menambah gambaran betapa kuatnya perempuan Sumba. Novi yang tengah mengandung 10 bulan ikut membantu Marlina dalam mengatasi kisruh dengan para bandit laki-laki. Novi bahkan tanpa ragu-ragu memenggal kepala Frans yang memerkosa Marlina pada babak akhir. Kondisinya yang sedang hamil besar tidak menghalangi langkahnya dalam menghadapi ulah para lelaki yang semena-mena, termasuk Umbu, suaminya. Setiap detil percakapan atau laku dalam film ini benar-benar mencerminkan usaha untuk memberi panduan kepada masyarakat tentang bagaimana memandang perempuan dan laki-laki secara setara. Status janda, kemiskinan, kehamilan, harta, pernikahan, pemerkosaan, dan aparat hukum merupakan sedikit dari banyak hal yang coba ditonjolkan lewat film ini.

Kehamilan perempuan begitu diatur sedemikian rupa oleh konstruksi pikiran masyarakat. Novi menanggung akibat dari masyarakat yang terlalu menyetir urusan reproduksi perempuan itu. Suami Novi menyimpan rasa ketidakpercayaan kepada Novi yang konon hamil sungsang, tak kunjung melahirkan. Umbu termakan hasutan masyarakat dan orang lain, daripada memilih yakin dengan istrinya.

Novi menyepakati kepercayaan yang dipegang para penganut paham feminism radikal. Feminisme radikal libertarian berprinsip bahwa orang lain tidak perlu mencampuri urusan reproduksi perempuan. Seksualitas adalah ranah pribadi yang tak usah diganggu oleh omongan masyarakat. Dominasi atas lingkup privat berarti pelanggaran yang lebih luas dan berbahaya hingga ke wilayah publik. Novi tak mengambil pusing dengan desas-desus orang-orang mengenai kehamilannya yang tak kunjung lahir. Baginya, tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Perempuan bebas menentukan apapun yang berhubungan dengan raganya termasuk urusan reproduksi dan kesehatan.

Marlina terpaksa mendapat kesialan yakni diperkosa karena status jandanya. Markus bahkan berujar, Marlina akan menjadi perempuan paling beruntung karena akan tidur bergilir dengan para lelaki. Kehebatan Marlina pun terpapar, ia tidak diam dan sanggup menampik perkataan Markus. Menyandang status janda sangat riskan saat hidup di masyarakat. Apalagi diperparah dengan perkosaan yang dilakukan Markus dan Frans. Penderitaan Marlina sungguh bertumpuk.

Aparat hukum pun lemah dan tak kunjung menyelesaikan aduan pemerkosaan yang dilaporkan Marlina. Polisi justru sibuk bermain ping-pong. Aparat kepolisian malah mengutarakan berbagai alasan seperti tidak ada kendaraan operasional, dan ketiadaan fasilitas kesehatan saat Marlina membutuhkan penuntasan dan pengusutan kasusnya segera.

Apa yang disuguhkan dalam film ini menunjukkan sebuah kegagalan dari sistem patriarki dan dampak buruk dari dominasi laki-laki. Perempuan yang terkena masalah kekerasan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga tampak dibiarkan saja. Perempuan dinilai pantas memeroleh itu semua dan tak berhak protes karena seperti itu garis hidupnya. Gejala yang mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat apabila praktik penindasan diabaikan tanpa penyelesaian.

Film ini juga mengulas secara satir bagaimana sarana sanitasi masih minim di daerah pedalaman. Novi dan Marlina terlihat dalam secuil adegan tengah kencing di padang sabana. Mereka seakan lumrah dengan kebiasaan tersebut karena memang terbatas fasilitas.

Akting para artis dalam film ini sangat memukau dan berkesan. Diputarnya film ini, diharapkan bisa mengembalikan kejayaan dunia sineas Indonesia. Dan semoga opresi terhadap perempuan bisa terhenti. Baik perempuan dan laki-laki sama-sama menyadari kedudukan mereka setara, tidak ada yang tinggi atau rendah. (*)

 

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Classic Prose

Trending