Connect with us

Cerpen

Konto

mm

Published

on

Tidak ada yang tahu darimana asal-usul Konto.

Sama seperti kanak-kanak lain di panti asuhan, hanya Ibu Pantinah saja yang mengetahui asal-usul semua anak asuhnya. Para sukarelawan yang biasa ada pun tak hendak tahu banyak. Mereka cuma paham kalau Konto itu anak ajaib, sebab perawakannya agak lain.

Ada yang bilang kalau badan Konto itu mirip kelamin, sedang kelamin Konto mirip tubuhnya sendiri.

Seorang pengasuh paling sepuh mengatakan demikian, waktu pertama kali Konto datang, usianya belum  genap lima. Bersih dan mulus benar macam porselin cina. Tak seorang juga merasa, bahwa Konto bakal tumbuh jadi dewasa dan berbeda seperti sekarang. Tubuh bagian atasnya, dari puser hingga ubun-ubun, tak berambut sebiji pun! Sementara, tubuh bagian bawah, dari puser sampai ujung kuku, ditumbuhi rambut ikal berimbun. Hal ini membuat siapapun yang menyaksikan Konto secara langsung bakal berpikiran macam-macam dan aneh-aneh. Ada yang menyebut kalau Konto itu anak lelembut. Lahir dari persetubuhan manusia dan jin. Bahkan yang lebih absurd, ada yang percaya jika Konto lahir tidak dari dalam kandung. Melainkan di-lepeh atau dari gumpalan daki yang dikumpul waktu orangtuanya bersetubuh. Tapi semua itu Cuma desas-desus dan hanyalah takhayul orang-orang kampung.

Konto sendiri anak yang kikuk. Ia tak banyak bicara dan lebih sering terlihat membaca dikamarnya yang kurang cahaya lampu. Tak ada sport yang dia suka juga, sebab ia tak boleh sampai berkeringat banyak-banyak. Esoknya pasti kulitnya gatal-gatal semua. Maka dari itu, ia tak banyak punya kawan. Dan hingga usianya dua belasan, tak juga ada satupun orangtua asuh yang mau memungutnya dijadikan anak. Banyak yang keburu takut duluan melihat bentuknya. Pernah ada yang iba lantas hendak mencari tahu lebih banyak dahulu, sebelum jadi dipungut. Tetapi seteah diberitahu kalau, setiap pagi, badan Konto akan meregang berapa senti, orang yang berniat mau memungut tak kunjung ada batang hidungnya lagi. Tapi meskipun ia sering dikucilkan, ia tak lantas punya dendam apalagi niatan bunuh diri meski ia tahu kalau tubuhnya lain daripada orang kebanyakan.

Suatu hari, tiba-tiba Konto datang menemui Bu pantinah. Minta sunat katanya. Tapi Bu Pantinah malah terkekeh, “Emangnya kamu sudah berani, Cah bagus?,” sambil diusapnya kepala Konto yang plontos dan licin itu, yang jika siang terik bakal merah menyala. Tapi jika hujan atau cuaca sedang banyak angin, ia biasa pakai topi atau kupluk. Sebab kepalanya yang tak berambut barang sejumput itu, tiba-tiba jadi mengkerut. Dan sebenarnya Konto sendiri tidak suka jika dirinya disentuh-sentuh orang. Apalagi macam perempuan. Seketika tubuhnya bakal kaku sekeras butir paku. Mau menolak? Bagaimana sanggup jika dibatinya mulai merasa enakan. Bibirnya ikutan kelu!

Lantas Bu Pantinah menceritakan kejadian lucu, ketika itu, usia Konto genap delapan. Bu Pantinah berniat mengadakan khitanan untuk Konto sendiri. Biasanya kanak-kanak lain didaftarkan sunat massal. Bu Pantinah kemudian memanggil mantri kampung. Seorang muda tapi sudah terkenal potongannya bagus punya. Tak ada yang kecewa dengan hasil kerjanya. Tapi baru saja celana Konto dibuka, si mantri tak jadi potong anunya. Lekas ia minta pamit tiba-tiba. Acara khitan batal tak jadi. Esoknya, ada kabar kalau si mantri muda pindah kampung tak jelas alasannya apa.

Usia sembilan hendak di khitan lagi. Kali itu dipanggil mantri yang lebih tua. Pasti lebih banyak pengalaman, dipikirnya. Tapi si mantri tua pun juga sama, baru lihat barangnya, belum juga di apa-apakan, sudah pamit undur diri. Esoknya, ada kabar kalau si mantri tua mati bunuh diri.

Tapi semua cerita itu tak diceritakan penuh kepada Konto. Takut menyinggung perasaan. Mendengar kali ini Konto sendiri yang minta sunat, Bu Pantinah pun mengiyakan. Konto didaftarkan khitanan massal, sebab ketika itu Bu Pantinah tak punya cukup uang untuk menggelar acara khitanan sendiri.

Dengan ditemani oleh Pak Ojan, Konto pun berangkat. Ketika sampai ditempat, Cuma Konto sendiri yang bongsor. Lainya masih kanak-kanak semua. Tapi Konto tak begitu saja kecut hatinya. “Konto, kamu tidak usah takut. Sunat itu sakitnya cuma sedikit.. Lepas itu enak-enak terus,” nasihat Pak Ojan sudah sering Konto dengar. Di tempat acara, ada tiga bilik buatan. Salah satunya bilik di isi oleh seorang dokter dan anak magang. Dan karena Bu Pantinah berkarib dekat dengan si dokter, Konto bakal ditangani langsung olehnya. Langsung dokter spesialis kulit! Dijamin sudah kenyang asam-garam dunia perkelaminan.

Nama Konto pun  dipanggil. Sedikit tegang Konto berjalan masuk ke salah satu bilik. Dilihatnya ternyata sudah ada tiga orang perempuan yang bersiap menyambutnya. Salah satunya si dokter spesialis kulit. Konto disambut dengan ramah sekali seperti seorang raja yang hendak mandi. Ia dibaringkan keatas dipan dengan posisi kaki mekakah macam orang mau beranak. Kemudian si dokter spesialis memberikan suntikan pereda nyeri. Lepas itu, Konto diminta pejam sebentar, selagi si dokter spesialis melihat-lihat. Tak sampai berapa menit sudah selesai dan Konto sudah diperbolehkan pulang.

Girang benar hati Konto sehabis disunat. Pak Ojan juga tak kalah senang dan tak sangkanya bakal secepat itu.

Esoknya, si dokter spesialis masuk halaman depan koran karena memotong habis kelamin suaminya sendiri.

Pondok Petir, 2017

Bagas Nik Harsulung, lahir di Jakarta 12 Mei 1994, tengah menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Penikmat sastra klasik, beberapa tulisannya terpilih sebagai terbaik pertama dalam sayembara antologi Puisi Harapan Baru yang diterbitkan oleh Mandala Pratama. Beberapa tulisannya juga dapat ditemui di Instagram: @bagabass

 

Continue Reading

Cerpen

Doa Kang Suto

mm

Published

on

Ahmad Tohari *)

Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.” Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

“Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit. “Ngain,” kata Kang Suto.
“Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad. Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

“Al-kham-du …,” tuntun guru barunya. “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”
“Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.
“Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran. Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

Kang Suto tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah saya, minta pandangan keagamaan saya.

“Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Nabi Musa langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

“Sira guru nyong,” (kau guruku) kata Kang Suto, gembira.

Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Saya pun tak keberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

“Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini? Salahkah hamba? duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas …”

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …

*) Ahmad Tohari, 1971 

Continue Reading

Cerpen

Perempuan yang Pertama-tama Kutemui Dalam Hening

mm

Published

on

*) Aura A. Asmaradana[1]

Aku menemui Klara di dalam bis komuter. Selama tiga minggu berturut-turut, ia memilih duduk di sampingku, seringkali di baris kedua sebelah kiri. Ketika duduk di dalam bis, aku lebih sering membaca apapun yang ada di dalam tas. Buku-buku atau sekadar lembar-lembar rancangan pembelajaran semester atau beberapa kertas bungkus kacang rebus yang terselip.

Selasa pertama, ketika bis berhenti di kompleks perumahan Klara, ia naik dengan memeluk sebuah buku tebal ukuran folio. Esok hari dan hari-hari setelahnya begitu pula. Waktu itu, dalam hati aku menduga Klara memilih duduk denganku karena ia melihatku membaca diktat kuliah—merasa senasib sepenanggungan sebagai mahasiswa.

Kalau sedang tak membaca, di dalam bis, aku tidur. Apalagi ketika penumpang penuh, lampu dalam bis akan dimatikan. Maka aku tak mungkin lagi membaca. Klara pun kuperhatikan begitu. Ia akan mengeluarkan seplastik masker sekali pakai dari dalam tas, mengeluarkan selembar, mengenakannya, dan tidur. Aku tahu ada banyak orang yang tak mau mulutnya terlihat ketika tidur. Bisa jadi mereka tertidur dengan mulut menganga, tak kuasa membendung air liur, atau hanya sekadar perasaan tak nyaman diperhatikan orang lain.

Butuh tiga minggu hingga aku dan Klara berhasil bercakap-cakap secara verbal. Percakapan kami selalu tanpa kata-kata. Sekali waktu, ia ngambek padaku. Dari awal peristiwa hingga akhirnya duduk bersama kembali, kami tak pernah bicara satu sama lain. Cerita ini baru kami bagi setelah berani berbincang lebih jauh.

Waktu itu hari Kamis. Aku duduk di kursi baris kedua sebelah kanan karena baris sebelah kiri sudah ada yang lebih dulu menempati. Klara duduk di sebelah kiriku. Melamun. Mengeluarkan masker. Memasangnya. Tidur. Aku pun tertidur setelah menyelesaikan membaca salah satu bagian introduksi Kritik Atas Rasio Murni dan belum juga memahaminya. Kernet mengumpulkan ongkos, aku terbangun. Membayar dengan uang pas, selembar sepuluh ribu dan selembar lima ribu. Bis naik di jalan layang. Aku terbangun lagi. Kulirik Klara yang masih tertidur. Aku memejamkan mata lagi tanpa benar-benar tidur. Bis terus berada di jalan layang hingga gedung-gedung khas perkotaan terlihat dan penumpang bis berkasak-kusuk. Bis mulai ambil jalur kiri karena hendak keluar tol. Klara masih tidur. Aku tahu tak jauh lagi ia harusnya turun. Keberanianku membangunkannya maju mundur. Di satu sisi aku agak cemas ia tak terbangun, di sisi lain aku percaya bahwa ia tak mungkin abai pada keributan di sekitarnya. Tapi aku pun ragu untuk membangunkannya. Apa kata-kata yang harus kupakai untuk membangunkannya? “Halo, bis sudah mau berhenti.” “Hai, sebentar lagi harusnya turun, kan?”

Aku menegakkan punggung. Klara masih tidur ketika bis turun dari jalan layang. Tepat ketika bis berhenti di tepian jalan, orang-orang mengantri untuk turun di lorong bis, ia tersentak bangun. Setelah sebentar melirik ke arahku yang pura-pura tak lihat, ia menyiapkan ranselnya dan turun. Aku merasa sedikit bersalah. Sedikit saja. Sebab toh ia akhirnya bangun dan tak melewatkan kuliah paginya. Minggu depannya, Selasa hingga Kamis, ia tak mau lagi duduk di sampingku. Ia duduk di seberang lorong, sejajar dengan tempatku.

Selasa berikutnya, ia naik bis tepat ketika aku masih membiarkan inhaler menggantung di lubang hidungku. Ia berdiri sebentar di lorong, melihatku, mungkin merasa iba melihatku yang kalah oleh pendingin ruang, mata sembab dan berair akibat flu. Klara duduk di sampingku. Mengeluarkan sebungkus masker. Mengenakannya dan mulai tidur seakan menyiapkan diri untuk menemaniku, menghangatkanku.

Aku tak pernah bilang pada Klara bahwa aku sangat bersyukur tidak mengajaknya bicara lebih dulu. Gengsi. Klara pun mungkin begitu. Kami hanya berkomunikasi dalam hening. “Kau tahu, keheningan seringkali lebih menyampaikan banyak hal.” Ujarku kemudian, mengingat pembahasan kelas kuliah seminar sore sebelumnya membahas tentang Dasein yang berdiskursus dengan cara schweigen. Klara manggut-manggut.

Pada pagi berjalanan licin di akhir bulan, kami mulai bicara. Kami menyaksikan kecelakaan dari balik jendela bis. Sesaat sebelum Klara turun di dekat kampusnya, seorang pengendara menuntun sepeda motornya melintasi pembatas jalan tinggi bertanaman hias demi menghindari razia oleh Polantas. Ia dengan gesit menurunkan sepeda motor dari atas pembatas jalan, menumpanginya dalam hitungan detik, mengendarainya di busway. Sanggup mengelak dari bis Transjakarta yang membunyikan klakson panjang, ia jatuh tertimpa sepeda motornya sendiri dan tak sanggup mengelak dari hantaman sedan yang melaju kencang di jalur kiri. Aku dan Klara menyaksikannya tersungkur di jalan basah akibat hujan semalaman. Semua terjadi begitu cepat dan tertata. Seperti ada tangan besar tak terlihat yang dengan lincah menata segala gerak serta maut. Pengendara motor itu tak bergerak lagi. Bahkan ketika tubuhnya dibopong ramai-ramai ke tepian.

Aku melirik Klara di samping kiri. Ia menatapku, seolah menanti responku atas peristiwa itu. Aku mengembuskan napas yang lama tertahan. Ia meringis. Padaku. Tadinya kukira bukan. Tapi tak ada siapapun di kursi itu selain aku. Aku menggelengkan kepala sambil menarik napas panjang. “Ngeri.” Akhirnya. Aku mendengar suara Klara bergema di dalam kepalaku. Jenis suara yang selama ini kuduga-duga macamnya; kukira-kira saja dari perawakan badan sekitar seratus enam puluh lima sentimeter dengan wajah oval, lesung pipi, dan rambut silky kuncir kuda. Suara itu lebih tegas dan berat daripada yang kupikirkan selama berminggu-minggu. “Iya.” Penumpang yang sudah berdiri di lorong berisik sekali. Namun aku tak dapat dengar komentar mereka karena telingaku sepenuhnya dikepung suara Klara. “Helmnya lepas.” Kataku. Padahal Klara juga melihatnya. Ia mengangguk. Bibir naik separuh. Ada kekhawatiran di lesung pipinya. Ia bangun dari duduk. Aku melepasnya pergi. Sungguh tak sanggup menunggu Selasa pagi.

Sejak itu, Klara dan aku berbincang banyak. Ia membahas beberapa buku yang pernah kubaca. Ingatannya tentang beberapa yang baru kubaca membuat kembang api meledak di kedua pipiku—ketika ia bilang dengan hati-hati. “Aku tidak mengintip, lho. Siapapun yang duduk di sebelahmu pasti bisa baca.” “Aku tahu. Tapi kau kan yang memilih duduk di sini.” Ia tersipu. “Sesama mahasiswa.” Dan pada masanya, aku akhirnya dapat menuntaskan rasa penasaranku, “Buku babonmu itu, kenapa tidak dimasukkan saja ke dalam tas?” Sebab kulihat tasnya tak penuh-penuh amat. Kutimbang, buku itu sepertinya muat dalam tas.  “Supaya kelihatan terpelajar.” Aku mencibir Klara hingga puas karena jawaban itu.

Usiaku dan Klara terpaut cukup jauh. Aku dua puluh empat, ia di akhir dua puluh satu. Tanpa diminta, aku menjelaskan padanya tentang kemalasanku kembali ke kampus setelah cuti satu semester. Dua semester. Tiga…. “Kamu bodoh.” Aku terhenyak. “Padahal kuliahmu asik.” Aku mengiyakan saja. Iya, kuliah filsafat memang fancy. Iya pula, mungkin aku memang bodoh.

Beberapa pertemuan setelah membicarakan hal-hal di permukaan, aku sering bercerita padanya tentang situasi di kampus. Ia pun begitu. Tentang dosen. Beberapa teman. Beberapa laki-laki. Beberapa laki-laki tampan. Laki-laki tampan beruban di pascasarjana—dalam cerita Klara, “Ia rajin ke Gereja.” Laki-laki tampan urakan berkulit coklat tua—dalam ceritaku, “Ia membiarkan tumbuh jenggot dan kumisnya. Juga mencepol rambutnya yang keriting mengembang.” Klara ber-ih panjang. Tapi mungkin kemudian ia ingat gerombolan uban di kepala calon kekasihnya, maka ia segera diam. “Ia bahkan lebih tua darimu.” “Tidak masalah, kan?” “Iya, karena sampai sekarang dari obrolan-obrolan kami tidak terjadi apa-apa” “Uh, apalagi aku. Bahkan aku sengaja tak mau tahu namanya.” Kubilang pada Klara, kekaguman jenis apapun akan luntur setelah manusia mendapatkan informasi terlalu mendalam. Kupikir, rasa penasaran itu justru bumbu utama. Semakin banyak dapat informasi, pengalaman mencecap rasa itu tidak berkesan lagi. Klara tak selalu sepakat padaku—meski masih mendorongku untuk bercerita tentang laki-laki yang beberapa tahun lebih muda usianya dariku itu. “Ia sama mudanya denganmu.” Kataku.

Obrolan-obrolan aku dan Klara menyentuh segala hal seperti beliung. Ketika aku bercerita tentang tema penelitian redaksi teks, aku baru tahu bahwa ayah Klara ada di penjara. “Kau tahu siapa yang sebetulnya membaptis Yesus di sungai Yordan?” “Yohanes Pembaptis.” “Dalam Injil Lukas, Yohanes sudah dipenjara ketika Yesus dibaptis.” “Tapi ia melihat Roh Kudus turun pada Yesus.” “Itu di teks yang lain.” Klara manggut-manggut. “Terima kasih, ya.” “Apa?” “Bisa jadi bahan obrolanku dengan Wahyu.” Ia menyebut nama laki-laki beruban itu. Aku tertawa saja waktu itu. “Coba kita lihat. Kalau kecenderungan tafsirannya sangat harfiah dan tekstual, itu menandakan dia tak peka. Berarti kamu memang harus bilang cinta duluan.” Kerut di kening Klara. “Tak ada hubungannya tauk!” Aku menguap. Sejak sering berbincang, kami berdua tak pernah tidur lagi di bis. “Aku tidur sebentar, ya.” Matahari naik pelan-pelan di horison. Klara mengangguk. Aku hampir lelap ketika Klara bicara. “Omong-omong soal Roh Kudus, waktu SD, aku pernah diminta menggambarnya oleh seorang frater ketika ret-ret.” Klara tahu aku mendengarkannya meski kedua mata terpejam. “Teman-teman menggambar merpati dan api dan kilatan cahaya. Aku menggambar tiang jemuran.” Aku melek dan langsung memelototinya. Hampir tertawa tapi tak jadi. Raut wajah Klara datar dan dingin. Aku bekerja keras menimbang apa ia akan tersinggung kalau aku tertawa? “Sesaat sebelum dipenjara, ayahku bilang bahwa Roh Kudus adalah tiupan angin keras yang sanggup memenuhi seluruh rumah. Pasti bisa mengeringkan cucian ibu walau segunung.” Aku terkagum-kagum pada sosok separuh asing di hadapanku. Aku berpikir, mungkin suatu hari, ketika Klara tak sedang sentimentil begitu, aku akan bertanya lebih banyak tentang ayahnya. Mungkin pula ada waktu ketika aku dan ia bisa datang mengunjunginya dalam penjara.

Satu hari di April yang basah, aku memberanikan diri mengajak Klara pergi. “Ke toko buku saja.” Kukira yang hendak ia perlihatkan adalah daftar beberapa buku yang ia inginkan, tapi yang kutemukan malah daftar bolpoin gel, stabilo, tipe-x, post-it, pensil mekanik, pensil serut HB, B2, B3, B4, dan seterusnya. “Aku memang tak pernah datang ke toko buku untuk membeli buku.” Ia mengangkat bahu. Kami berjanji untuk pergi hari Minggu sore. Namun aku mendapat telepon dari Klara menjelang pukul sepuluh malam di hari Sabtu. Waktu aku menemuinya di teras rumahnya—setelah bermacet-macet naik angkot sepanjang tiga kilometer saja—aku menemukan lebam besar warna buah manggis dan sedikit kulit dadas dan darah kering di sudut kelopak matanya. “Ini kecelakaan.” Aku agak kesal Klara tak memberitahuku tentang pertemuan dengan Wahyu malam Minggu itu. “Bagaimana ceritanya?” Ia menambahkan prolog sepanjang dan selihai ular sebelum akhirnya sampai di inti cerita. Aku agak terkejut mendengar keberaniannya bertindak. Kalau aku adalah Klara, mungkin aku sibuk menimbang apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan pembelaan seorang pengacara. Kalau Klara adalah aku, tentu ia takkan mendapat luka lebam.

“Aku tidak menyukainya.” Sesal Klara. “Sudah kubilang. Kau harus menciptakan jarak dalam mengagumi seseorang, membiarkannya tetap jadi misteri.” “Seperti Tuhan.” Kami berbincang lagi soal laki-laki dan Tuhan, meski tak banyak-banyak. Padahal kuyakin sekitar mata Klara masih berdenyut pedih. Malam itu adalah kali pertama percakapan kami tidak dibatasi laju bis dan jam kuliah pertama pukul setengah delapan pagi.

Di ujung malam, ketika aku pamit pulang dan memeluk Klara serta berpesan supaya ia menjaga diri, ia mengecup bibirku lama-lama. Pipiku. Baiklah, mungkin bibir. Agak ke pipi. Bibir di bagian ujung. Klara memegangi pipiku selama ciuman itu, seolah tak membiarkan aku pergi, meski sebetulnya kepalaku rasanya hendak lepas dan menggelinding di jalan aspal. Tatapan mata Klara padaku setelahnya terasa seperti ia telah membayar lunas segala sesuatu.

Sebelumnya mungkin aku keliru. Setelah mendapat ciuman di luar persetujuan, aku tidak sibuk mengingat apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan pembelaan seorang pengacara. Klara tak serta merta jadi seorang bajingan. Aku tak menampar seperti yang dilakukan Klara sehingga Wahyu kemudian meledak. Aku malah memikirkan segala teori tentang menjaga jarak—yang runtuh seketika. Aku mendapatkan fakta betapa nikmat tenggelam dalam misteri setelah mendapatkan segala tentangnya; tentang perempuan yang pertama-tama kutemui dalam hening di bis.

Dari sentuhan bibir Klara malam itu, diam-diam aku tak bisa menghapus bayangan laki-laki tampan berkulit coklat bak nelayan yang melaut belasan siang, serta bagaimana ia mengisap-embuskan asap rokoknya. (*)

Cawang, 13-14 April 2018

[1] Aura Asmaradana (Twitter: @aurasmaradana) sedang berusaha menyelesaikan perkuliahan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Gemar menulis cerita pendek, puisi, dan esai. Karyanya yang telah dibukukan adalah Solo Eksibisi (kumpulan cerita, 2015) dan Solilokui (novel, 2018).

Continue Reading

Cerpen

Cinta yang Sulit

mm

Published

on

Kawan pertamanya di semesta ganjil ini adalah seekor ayam jago muda. Dengan suaranya yang tipis dan belum matang benar, si ayam jago muda senantiasa menjadi yang pertama berkokok. Jago-jago yang lain, dengan malas-malasan, kemudian mengikutinya. Sesekali mereka mengeluh apalah gunanya berkokok di semesta yang seperti itu. Sia-sia belaka, tukas yang lain. Namun tak urung, mereka tetap saja berkokok. Jago-jago yang benar-benar labil. Ayam-ayam betina akan bangun dari tidur mereka dan berciap-ciap ribut. Lalu hari yang membosankan pun dimulai. Mereka berkeliaran. Kadang-kadang, mengikuti kebiasaan alami kaum ayam, mereka mematuk-matuk lantai semesta tersebut. Namun tak ada cacing atau remah tanah yang bisa diasin. Bahkan, tak ada partikel apa pun yang masuk melalui paruh-paruh mereka. Semesta ini bersih dan jembar dengan caranya sendiri yang sepertinya tak terdeskripsikan. Bukan hanya umat ayam penghuni semesta tersebut, tentu saja. Banyak. Aneka tetumbuhan seperti bayam dan kangkung, hingga binatang-binatang, mulai sapi hingga kelelawar dan tikus.

“Bagaimana bisa ada tikus dan kelelawar?” ia pernah bertanya seperti itu.

“Menado,” jawab si ayam jago muda. “Mereka masuk ke sini ketika ia berada di Menado.”

“Ia pernah ke Menado? Itu kan jauh,” katanya. “Kukira ia tidak cukup kaya untuk bisa pergi ke Menado.”

“Kau beruntung aku sudah berada di sini cukup lama. Lebih lama ketimbang kelelawar dan tikus itu. Jadi aku bisa tahu dengan pasti bagaimana ia bisa sampai ke Menado, lalu memasukkan kelelawar dan tikus itu ke sini. Jadi begini,” si ayam mendehem sebentar. Ia mengepakkan sayapnya tiga kali, membenahi posisi berdirinya, lalu meneruskan, “dia seorang penyair. Kau pasti tahu itu kan? Sekitar tiga tahun yang lalu, ia pernah dikirim oleh Dewan Kesenian Jawa Timur untuk menghadiri temu sastrawan di sana. Semua biaya ditanggung. Selain itu, ia juga mendapat uang saku yang cukup banyak. Ini akan ada hubungannya denganmu.”

“Ada hubungannya denganku? Apa maksudmu?”

“Dengan uang saku yang ia dapat, ia melamar perempuan itu.”

“Siti?”

“Siti.”

“Oh.”

“Kenapa?”

“Kukira mereka kawin lari.”

“Mereka memang kawin lari.”

“Apa maksudmu? Bukankah katamu ia melamar Siti. Lalu kenapa mereka kawin lari?”

“Lamarannya ditolak. Mereka beda agama. Masa kau tidak tahu itu? Dan karena ditolak itulah, mereka kawin lari. Uang yang sedianya untuk beli peningset itu yang mereka gunakan untuk lari dan mengontrak rumah di tepi kali itu.”

“Begitu?”

“Begitulah. Dan kau sudah tahu apa yang kemudian terjadi.”

Ia memang tahu apa yang kemudian terjadi. Sejak suatu sore tiga tahun yang lalu, hari kedua kepindahan pasangan muda tersebut, ia tahu hampir semua yang terjadi atas mereka. Ia sedang mengintai seekor kodok yang tengah bersantai di pinggir kali sewaktu Siti hendak membuang sampah. Setengah tubuhnya tersembunyi di balik gerumbul semak. Namun ekornya yang panjang menjulur tak terlindung. Jarak mereka tidak begitu jauh, sekitar dua puluh meter. Cahaya matahari sore menimpa sisik-sisik gelapnya. Takdir menumbukkan padangan mata Siti ke ekornya.

“Buaya… buaya…” Siti berteriak seraya menjatuhkan keranjang sampahnya dan berlari balik ke rumah petak kontrakannya. Ia terkejut mendengar teriakan itu dan melesat nyemplung ke dalam kali. Si kodok juga terkejut dan melompat entah ke mana. Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari rumah, dengan Siti yang mukanya sepucat mayat mengikuti dan mengintip dari balik bahu.

“Di mana buayanya?” lelaki itu bertanya.

“Di sana. Tadi aku melihat ekornya. Di sana. Mungkin sudah pergi. Tapi hati-hatilah.”

Si lelaki menggenggam sebilah parang. Dengan mantap, ia berjalan menuju semak-semak. Melempar batu ke sana. Lalu diam sebentar dalam jarak lima meter.

“Kalau memang ada buaya, pasti ia sudah keluar,” kata si lelaki.

“Mungkin batunya kurang besar.”

Si lelaki memungut batu yang lebih besar. Lalu melemparkannya ke gerumbul semak.

“Tidak ada,” kata si lelaki. Lalu ia berjalan semakin mendekati gerumbul itu. Dan dengan parangnya, ia tebasi gerumbul itu.

“Tidak ada apa-apa.”

“Tapi aku bersumpah.”

“Mungkin kau hanya salah lihat.”

Ia mengamati adegan itu dengan sepasang mata kecilnya dari bawah permukaan air yang coklat. Itulah saat ia merasa darahnya yang dingin berubah hangat. Ia lupa akan dirinya, akan bahaya yang mengancamnya. Ia berenang ke tepian yang baru saja ia tinggalkan. Seperti ada magnet yang menariknya. Dan ia tahu, perempuan itulah magnet tersebut. Si lelaki sudah membalikkan badan dan mulai melangkah menuju rumah kontraknya ketika ia sampai di tepian. Siti berjalan mengikuti lelaki itu, namun sebelum memasuki halaman rumah, Siti menoleh. Pandangan mereka bertemu. Siti kembali menjerit. Dan ia merasa tubuhnya kaku.

Si lelaki menoleh. Lantas tertawa kencang. “Itu biawak. Bukan buaya. Sama sekali tidak berbahaya,” kata si lelaki di sela-sela tawa.

Sejak itu, satu-satunya hal yang ia ingini adalah melihat si perempuan yang di kemudian hari, dari bagaimana si lelaki memanggil, ia ketahui bernama Siti. Semakin dekat semakin baik. Dan dalam rangka itulah ia kerap menyelinap di antara tumpukan sampah tak jauh dari rumah petak tersebut, kadangkala ia mendekam di antara potongan kayu dan tong-tong yang berada di samping rumah. Namun yang paling ia sukai adalah berada di kolong tempat tidur pasangan baru tersebut.

Beberapa kali Siti memergokinya. Ia gembira ketika tahu bahwa Siti mengetahui kehadirannya. Namun tidak dengan Siti. Perempuan itu selalu berteriak. Dan si lelaki akan segera datang untuk mengusirnya.

“Usir yang jauh supaya dia tidak kembali lagi,” begitu selalu yang dikatakan Siti.

“Jangan takut. Nanti aku akan menangkapnya. Daging biawak enak kalau dimasak rica-rica.”

“Ih… jangan begitu. Menjijikkan.”

Namun si lelaki tak pernah berhasil menangkapnya. Ia terlalu gesit. Sekali waktu, ia hampir tertangkap. Si lelaki bahkan berhasil menyabetkan parang yang merobek punggungnya. Namun ia segera berlari. Kesakitan yang ia rasakan memberi semacam kekuatan ekstra yang tak ia duga sebelumnya. Setelah kejadian itu, ia menjadi lebih berhati-hati.

Namun dua minggu yang lalu, ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya. Dan untuk keputusan paling penting dalam keseluruhan takdirnya itu, ia berhutang kepada seekor kodok yang sedianya bakal menjadi menu makan siangnya. Seekor kodok petapa, pikirnya, dan karenanya, telah memperoleh pencerahan yang tidak didapat oleh kebanyakan makhluk. Kodok itu, tanpa ia tahu bagaimana, mengerti bahasanya.

“Aku lebih suka menjadi santapanmu ketimbang mati karena usia tua dan membusuk dalam tanah,” kata si kodok. “Dengan menjadi santapanmu, aku tidak benar-benar mati. Aku akan meneruskan hidupku, hanya saja dalam semesta tubuhmu, menjadi bagian dari dirimu.”

Itu adalah hari ketiga ia tersiksa dalam nelangsa yang tidak karuan besarnya. Itu adalah hari ketiga ia mengetahui bahwa Siti telah meninggalkan si lelaki setelah sebuah pertengkaran atas hal yang sama, namun telah mencapai puncaknya. Ia berada di kolong ranjang ketika pertengkaran tersebut terjadi. Dan karenanya, ia tahu detil-detilnya.

“Kita ini kualat. Karena itu rezeki kita seret. Aku lapar. Dan kita terancam jadi gelandangan kalau tidak bisa membayar kontrakan bulan depan,” rintih Siti terbata, di antara isak tangis yang sedemikian pilu.

“Sabarlah. Aku yakin sebentar lagi tulisanku akan ada yang terbit. Dan itu berarti kita akan dapat honor.”

“Seberapa besar honormu? Tidak. Kau tahu, bukan karena tulisanmu jelek sehingga jarang ada yang mau memuatnya. Tapi karena kualat. Kita sudah melawan orangtua kita. Kita ini durhaka. Ini hukuman.”

“Ada apa denganmu? Kau dulu tidak pernah berkata seperti ini.”

“Dulu aku belum tahu kalau kita akan kualat.”

Keesokan paginya, Siti meninggalkan rumah itu sebelum si lelaki bangun. Pergi untuk selama-lamanya. Dan ia tahu, ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Siti kalau ia tidak melakukan sesuatu. Ucapan si kodoklah yang membuatnya keluar dari persembunyiannya, menampakkan diri pada si lelaki, dan membiarkan lelaki lapar itu menebas kepalanya, lalu mengulitinya, memotong-motong dagingnya, memasaknya, lalu memangsanya.

Dan seperti yang dikatakan si kodok, ia ternyata tidak benar-benar mati. Ia hanya berpindah semesta. Meneruskan hidup dalam diri si lelaki. Dan bertemu serta berkenalan dengan banyak makhluk yang juga meneruskan hidup dalam diri si lelaki.

Ia berharap si lelaki akan menyusul Siti dan membujuknya, dan mereka akan kembali hidup bersama, lalu berbahagia selama-lamanya. Namun ucapan si ayam jago muda membuat semangatnya menyusut.

“Kau tahu apa yang membuat hubungan mereka tidak direstui?”

Ia menggeleng.

“Mereka beda agama. Dan secinta-cintanya mereka satu sama lain, keimanan mereka jauh lebih kuat. Mereka memang bukan orang saleh dan karenanya kau tak akan mendapatkan mereka tengah beribadah. Kekurang salehan mereka, selain cinta tentu saja, yang menyebabkan mereka memutuskan kawin lari. Namun toh, tetap saja, tak ada yang mau mengalah dengan berpindah agama. Mereka pikir itu bukan kendala yang berarti. Dan sekarang kau tahu, yang menjadi kendala adalah kelaparan. Uang. Dan aku yakin, bila ia menyusul Siti, orang tua Siti hanya akan memberi dua pilihan: berpisah atau ia pindah agama.”

“Kemungkinan mana yang lebih besar?”

“Berpisah.”

Tapi si lelaki, ternyata, tak pernah menyusul Siti. Tak pernah. Dan ia, yang merasa pengorbanannya sia-sia, hanya bisa merutuki si lelaki: lelaki terkutuk ini tidak pernah benar-benar mencintai Siti. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending