© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

Tidak ada yang tahu darimana asal-usul Konto.

Sama seperti kanak-kanak lain di panti asuhan, hanya Ibu Pantinah saja yang mengetahui asal-usul semua anak asuhnya. Para sukarelawan yang biasa ada pun tak hendak tahu banyak. Mereka cuma paham kalau Konto itu anak ajaib, sebab perawakannya agak lain.

Ada yang bilang kalau badan Konto itu mirip kelamin, sedang kelamin Konto mirip tubuhnya sendiri.

Seorang pengasuh paling sepuh mengatakan demikian, waktu pertama kali Konto datang, usianya belum  genap lima. Bersih dan mulus benar macam porselin cina. Tak seorang juga merasa, bahwa Konto bakal tumbuh jadi dewasa dan berbeda seperti sekarang. Tubuh bagian atasnya, dari puser hingga ubun-ubun, tak berambut sebiji pun! Sementara, tubuh bagian bawah, dari puser sampai ujung kuku, ditumbuhi rambut ikal berimbun. Hal ini membuat siapapun yang menyaksikan Konto secara langsung bakal berpikiran macam-macam dan aneh-aneh. Ada yang menyebut kalau Konto itu anak lelembut. Lahir dari persetubuhan manusia dan jin. Bahkan yang lebih absurd, ada yang percaya jika Konto lahir tidak dari dalam kandung. Melainkan di-lepeh atau dari gumpalan daki yang dikumpul waktu orangtuanya bersetubuh. Tapi semua itu Cuma desas-desus dan hanyalah takhayul orang-orang kampung.

Konto sendiri anak yang kikuk. Ia tak banyak bicara dan lebih sering terlihat membaca dikamarnya yang kurang cahaya lampu. Tak ada sport yang dia suka juga, sebab ia tak boleh sampai berkeringat banyak-banyak. Esoknya pasti kulitnya gatal-gatal semua. Maka dari itu, ia tak banyak punya kawan. Dan hingga usianya dua belasan, tak juga ada satupun orangtua asuh yang mau memungutnya dijadikan anak. Banyak yang keburu takut duluan melihat bentuknya. Pernah ada yang iba lantas hendak mencari tahu lebih banyak dahulu, sebelum jadi dipungut. Tetapi seteah diberitahu kalau, setiap pagi, badan Konto akan meregang berapa senti, orang yang berniat mau memungut tak kunjung ada batang hidungnya lagi. Tapi meskipun ia sering dikucilkan, ia tak lantas punya dendam apalagi niatan bunuh diri meski ia tahu kalau tubuhnya lain daripada orang kebanyakan.

Suatu hari, tiba-tiba Konto datang menemui Bu pantinah. Minta sunat katanya. Tapi Bu Pantinah malah terkekeh, “Emangnya kamu sudah berani, Cah bagus?,” sambil diusapnya kepala Konto yang plontos dan licin itu, yang jika siang terik bakal merah menyala. Tapi jika hujan atau cuaca sedang banyak angin, ia biasa pakai topi atau kupluk. Sebab kepalanya yang tak berambut barang sejumput itu, tiba-tiba jadi mengkerut. Dan sebenarnya Konto sendiri tidak suka jika dirinya disentuh-sentuh orang. Apalagi macam perempuan. Seketika tubuhnya bakal kaku sekeras butir paku. Mau menolak? Bagaimana sanggup jika dibatinya mulai merasa enakan. Bibirnya ikutan kelu!

Lantas Bu Pantinah menceritakan kejadian lucu, ketika itu, usia Konto genap delapan. Bu Pantinah berniat mengadakan khitanan untuk Konto sendiri. Biasanya kanak-kanak lain didaftarkan sunat massal. Bu Pantinah kemudian memanggil mantri kampung. Seorang muda tapi sudah terkenal potongannya bagus punya. Tak ada yang kecewa dengan hasil kerjanya. Tapi baru saja celana Konto dibuka, si mantri tak jadi potong anunya. Lekas ia minta pamit tiba-tiba. Acara khitan batal tak jadi. Esoknya, ada kabar kalau si mantri muda pindah kampung tak jelas alasannya apa.

Usia sembilan hendak di khitan lagi. Kali itu dipanggil mantri yang lebih tua. Pasti lebih banyak pengalaman, dipikirnya. Tapi si mantri tua pun juga sama, baru lihat barangnya, belum juga di apa-apakan, sudah pamit undur diri. Esoknya, ada kabar kalau si mantri tua mati bunuh diri.

Tapi semua cerita itu tak diceritakan penuh kepada Konto. Takut menyinggung perasaan. Mendengar kali ini Konto sendiri yang minta sunat, Bu Pantinah pun mengiyakan. Konto didaftarkan khitanan massal, sebab ketika itu Bu Pantinah tak punya cukup uang untuk menggelar acara khitanan sendiri.

Dengan ditemani oleh Pak Ojan, Konto pun berangkat. Ketika sampai ditempat, Cuma Konto sendiri yang bongsor. Lainya masih kanak-kanak semua. Tapi Konto tak begitu saja kecut hatinya. “Konto, kamu tidak usah takut. Sunat itu sakitnya cuma sedikit.. Lepas itu enak-enak terus,” nasihat Pak Ojan sudah sering Konto dengar. Di tempat acara, ada tiga bilik buatan. Salah satunya bilik di isi oleh seorang dokter dan anak magang. Dan karena Bu Pantinah berkarib dekat dengan si dokter, Konto bakal ditangani langsung olehnya. Langsung dokter spesialis kulit! Dijamin sudah kenyang asam-garam dunia perkelaminan.

Nama Konto pun  dipanggil. Sedikit tegang Konto berjalan masuk ke salah satu bilik. Dilihatnya ternyata sudah ada tiga orang perempuan yang bersiap menyambutnya. Salah satunya si dokter spesialis kulit. Konto disambut dengan ramah sekali seperti seorang raja yang hendak mandi. Ia dibaringkan keatas dipan dengan posisi kaki mekakah macam orang mau beranak. Kemudian si dokter spesialis memberikan suntikan pereda nyeri. Lepas itu, Konto diminta pejam sebentar, selagi si dokter spesialis melihat-lihat. Tak sampai berapa menit sudah selesai dan Konto sudah diperbolehkan pulang.

Girang benar hati Konto sehabis disunat. Pak Ojan juga tak kalah senang dan tak sangkanya bakal secepat itu.

Esoknya, si dokter spesialis masuk halaman depan koran karena memotong habis kelamin suaminya sendiri.

Pondok Petir, 2017

Bagas Nik Harsulung, lahir di Jakarta 12 Mei 1994, tengah menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Penikmat sastra klasik, beberapa tulisannya terpilih sebagai terbaik pertama dalam sayembara antologi Puisi Harapan Baru yang diterbitkan oleh Mandala Pratama. Beberapa tulisannya juga dapat ditemui di Instagram: @bagabass

 

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT