Connect with us

Literature

Kita yang kesepian takkan mengerti

mm

Published

on

Puisi Sederhana

Jika kita kalah malam ini penyairku

Sebelum anjing di langit melolong

Sebelum tikus-tikus merayakan rembulan

Dan kita terus gagal menjadi waktu

Kita harus tunduk dan bunuh diri

 

Puisi adalah detak jantung

Yang mempercepat malam

Menggiring kesunyian kita

Ke peraduan di mana kita

Menggambar cinta dengan penuh nafsu

 

Puisi adalah langkah kaki

Yang menuntun jiwa kita

Mengarungi lautan paling dalam

Di sana matanya

Membawa kita kembali

Ke meja-meja kopi

Kepada jendela-jendela hotel

Pada jalan-jalan berembun

Pada kereta terakhir

Yang tiba dari kejauhan subuh

Kepada sajak-sajak ngeri

Kepada nisan-nisan waktu

Di mana kita menemukan rindu

Di mana luka-luka jadi prasasti

Dengan taman bunga kehilangan

 

Di laut di laut penyairku

Di lautan dalam segelas kopi yang lalu

Kita mungkin menyerah sekali lagi..

Jakarta, 2017

 

Puisi Pendek

 

Ratapku bersama segelas kopi

Tentang malam yang hingar

Tentang nasib kita yang tambah sunyi

 

Dua dara dengan kaki selembut ombak

Duduk dalam kerapuhan

Ia sepertiku juga

Tak tahu ke mana hendak pulang

Selain menepi pada malam

Dengan lagu-lagu panjang

Tentang hari-hari kelu

 

Tapi siapa peduli

Kita hanya mahluk asing

Lelah pada zaman

Tapi kita tak lebih

Dari potret diri

Dalam hingar bingar

Mencari jalan pulang

Sementara kita tahu

Di rumah tak siapa menanti..

Jakarta, 2017

 

Penyair Zaman Kita

 

Para penyair kehilangan lagunya

Para penyair kehilangan bahasa

Para penyair terkapar

Di belantara malam

Di pintu-pintu pagi

Benar-benar tak berdaya

 

Penyair zaman kita

Benar-benar tak berdaya

Terkutuk oleh hayalannya sendiri

Tak tahu rasanya kebebasan

Menari dalam kesepian

Bercinta dengan bayangan

 

Penyair zaman kita

Menua dan sia-sia

Benar-benar tak berdaya

Siapa hendak dihiburnya

Setiap orang tenggelam

Dalam keterasingan sendiri-sendiri

Dan penyair tahu nasibnya

Di belantara malam

Dipintu-pintu pagi

Benar-benar tak berdaya

 

Kita adalah lelucon

Bagi zaman yang semu.

Jakarta, 2017

 

Puisi dan Penyairnya

 

Kita adalah tubuh masa silam

Telah menjadi kenangan

Seperti kereta tua melaju

Ke stasiun terakhir

Tak ke mana-mana lagi

 

Katakana padaku

Kenapa kau berhenti menulis puisi?

Kita mungkin kalah, tapi tidak puisi

Kita mungkin tak ke mana-mana lagi

Tapi puisi jarak abadi

Dan kita peziarah yang malang

 

Kau tahu di mana senja waktu itu istirah?

Di mata puisi !

Jakarta, 2017

 

Kita Adalah Jarak

 

Mataku terbenam di lautan

Dalam malam yang membosankan

 

Aku ingin menari aku ingin menunggang kuda

Betapa omong kosong telah begitu lama

Betapa larut untuk menyadari sia-sia

 

Orang-orang menderita

Orang-orang lupa

Waktu hanya catatan pendek

Dari halaman segala yang pergi

 

Kita memandang malam

Mendengar anjing melolong kesepian

Suara AC, tikus-tikus resah

Dan kita yang nyaris tak berdaya

 

Kita pendosa tanpa sebab

Kita menjadi bodoh ketika larut

Kita begitu kecil dan hampa

Kita seperti juga malam

Seperti sepi seperti ombak

Seperti laut—kita menelan

Kesunyian sendiri-sendiri

 

Kita harus terlahir setiap hari

Tapi kita hampa setiap hari

Kita mahluk fana setiap kali malam

 

Musik yang mengalun dalam jiwa

Datang dari penjuru kejauhan

Kita selalu dalam jarak

Kita dalam waktu yang berdenting

Menjadi bunyi, lagu, musik

Menjadi kenangan, hilang…

 

Kita sama dengan segala ketiadaan

Kita hanya meminjam cahaya

Untuk melihat setiap kegelapan

Kita meminjam keindahan

Untuk melihat segala hampa

Kita akan berhenti

Dan saat itu kerinduan menjadi nyawa

Kita kedinginan, seperti berdiri sendirian

Di hadapan lautan

Kita mungkin menyeberangi

Segala yang tak kita tahu di kejauhan

Kita mungkin terhempas

Dan tak satu benang pun

Menghubungkan kita dengan masa silam

 

Tak satu jiwa pun bebas dari hampa

Apa yang kita punya?

Jakarta, 2017

 

Kita yang kesepian takkan mengerti

 

Jubah malam merenggut hasrat

Membenamkan kita dalam tiada

Sekan kemarin tiada

Seakan esok tinggal hampa

 

Kita akan pergi juga

Menjauh dari segala

Entah kenapa kita tiada

Atau malam telah sia-sia

 

Para pecinta berhenti mabuk

Tapi tiada kuasa merenggut anggur

Dari bibir kekasihnya dahulu

Dan mawar yang ia tanam

Kini jadi belantara hampa

 

Siapa akan menemukan jalan

Dalam belantara

Mawar tumbuh merekah pada matahari

Kita yang kesepian takkan mengerti

 

Oh jiwa-jiwa hampa

Malam adalah lelucon paling ngilu

Tentang cinta yang tersesat

Malam adalah leucon paling ngilu

Hanya mungkin bagi mereka

Yang jiwanya penuh lara.

Jakarta, 2017

*SABIQ CAREBESTH: Lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Editor pada Halaman Kebudayaan “Galeri Buku Jakarta” (GBJ). Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Kumpulan sajak terbarunya “Seperti Para Penyair” (2017)

**Puisi ini sebelumnya terbit di Koran Media Indonesia (2017)

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kajian

Buku Terbaik Ditulis Althusser Adalah Autobiografinya

mm

Published

on

Louise Althusser lahir di Aljazair pada tahun 1918 dan meninggal dalam penjara di kota Paris pada tahun 1990 atas tuduhan telah membunuh isterinya. Pada tahun 1939 ia diterima sebagai calon agregation dalam bidang filsafat di Ecole Normale Superieure (reu d’Ulm). Akan tetapi, sementara itu datanglah Perang Dunia II dan Althusser ditawan oleh tentara Jerman sehingga ia tidak bisa menyelesaikan agregation-nya sampai tahun 1948. Segera setelah itu, ia diangkat menjadi caiman di rue d’Ulm, jabatan yang memberinya kesempatan untuk mempersiapkan para calon peserta agregation. Selama hampir empat puluh tahun para tokoh lingkungan kehidupan akademik dan intelektual Paris, seperti Michel Foucault dan Derrida, dipersiapkan melalui sentuhan tangan tokoh ini. Sebelum tahun 1960-an, saat artikel-artikelnya mulai diterbitkan dalam For Marx, pengaruh Althusser hanya ada dalam lingkungan Ecole saja, dan sejak saat itu ia dikenal sebagai seorang teoretisi Marxis dengan kecondongan strukturalis. Althusser menjadi salah seorang tokoh filsafat Prancis yang paling sering disebut-sebut dalam lingkungan agregation.[1]

Althusser terkenal karena sikap “anti-humanisme”-nya. Melalui anti-humanisme, para pembaca Das Kapital berupaya memberikan semangat baru pada Marxisme yang ter-Kristen-kan melalui pengaruh Teilhard de Chardin,[2] dihumanisasikan oleh Mazhab (Sekolah) Frankfurt, dan dihumanisasikan sekaligus dihistoriskan oleh Sartre dan Gramsci.[3] Althusser menentang gagasan bahwa individu itu ada sebelum munculnya kondisi-kondisi sosial. Kemudian dengan menggambarkan masyarkat sebagai suatu kesatuan struktural yang tersusun dari tingkatan-tingkatan otomi (hukum, kultural, politis, dan sebagainya) yang cara artikulasinya, atau “efektivitasnya”, pada akhirnya ditentukan oleh ekonomi, Althusser mengejutkan banyak orang, baik yang berbeda di dalam lingkungan Marxisme maupun yang berada di luarnya. Adanya perbedaan antara berbagai tingkatan tersebut, dan bukan kesatuannya, di mana setiap unsur akan mencerminkan ciri keseluruhannya, menjadi sesuatu yang penting. Sekarang sudah tidak ada lagi para pelaku individu yang dengan sadar membentuk hubungan sosial seperti disarankan oleh struktur, yang ada adalah bahwa setiap subjek menjadi pelaku sistem tersebut.

Dalam karyanya yang terkenal, Reading Capital, Althusser tidak hanya “membaca” Marx, tetapi menjelaskan perbedaan antara bacaan “permukaan” yang hanya memikirkan kata-kata yang benar-benar ada dalam naskah dengan bacaan simptomatis yang berusaha mempersatukan problematika yang mengungkapkan atau membentuk makna naskah yang sebenarnya. Upaya pemusatan perhatian pada wacana memberi Althusser kesempatan untuk mengalihkan perhatian  baik dari ekonomis – yang melihat Marx sebagai pewaris dari kerangka kerja ekonomi politik klasik (Smith dan Ricardo) – maupun dari humanisme dan historisisme yang mengandalkan otoritas karya-karya awal Marx: The Economic and Philosophic Manuscripts dan Theses on Feuerbach. Althusser berpendapat bahwa bila Marx hanya dilihat sebagai pewaris ekonomi-politik klasik, maka pengertian ekonomi menurut Marx adalah sangat sempit, tidak masuk akal, dan menghasilkan suatu determinisme ekonomi, karena, seperti juga dengan Hegel, hal ini mengandaikan bahwa masyarakat merupakan suatu totalitas sosial yang secara langsung menampilkan hubungan-hubungan ekonomi yang berlangsung di dalam masyarakat.

Meskipun dalam karya besar Marx, Das Kapital, terdapat bahasa-bahasa Hegelian, atau “ekonomi-politik”, ini belum merupakan bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa Marx bisa didudukkan di dalam problematika yang sama dengan Hegel atau ekonomi-politik klasik. Demikian juga, saat muncul komentar dari para ahli yang merujuk pada klaim Marx tentang dibalikkannya dialektika Hegel – membuatnya “berdiri di atas kepalanya” – sehingga yang utama adalah landasan material, bukan lingkup hegelian dari Ide Absolut, Althusser berpendapat bahwa pembalikan semacam itu tidak selalu berarti berlakunya sebuah problematika lain, atau bahwa seseorang bisa saja melepaskan diri dari pengaruh problematika Hegelian. Oleh karena sebuah problematika menunjukkan suatu cakrawala pemikiran maka: ia merupakan “wadah tempat diletakkannya semua masalah”; ia membatasi bahasa dan konsep terhadap pemikiran dalam perjalanan sejarah tertentu. Akhirnya, problematika ini membentuk situasi kemungkinan yang mutlak dan pasti dari struktur teoretis tertentu. Akibatnya, hal-hal baru yang bersifat radikal dalam Marx tidak akan bisa terungkap dalam tulisan-tulisannya karena ia terpaksa mempergunakan konsep dan bahasa yang sudah ada sebelumnya. Pencekatan Marx yang berpandangan negatif pada ekonomi-politik klasik, dan dengan demikian berarti sebagai yang mendukung para pekerja untuk melawan para ekonom politik yang mendukung kaum kapitalis, sedikit berbeda dengan pendekatan Feuerbach pada Hegel. Mempertentangkan humanisme Feuerbach dengan idealisme Hegelian berarti terus terperangkap di dalam problematika Hegelian yang sama, yang memerlukan – agar tetap manjur – aspek-aspek negatif (yang ditolaknya) seperti juga aspek-aspek positifnya.

Oleh sebab itu, strategi Althusser adalah memperkenalkan suatu praktek membaca yang bisa mengenali bagaimana Marx mengawali suatu revolus teoretis yang didasarkan pada objek yang sepenuhnya baru, yaitu cara produksi. Menurut Marx, ini menjadi suatu struktur tak kelihatan pada artikulasi unsur-unsur yang ada pada keseluruhan sistem sosial; hal ini tidak lagi berada dalam problematika yang membentuk filsafat dan ekonomi-politik klasik dari Hegel. Dalam strategi ini terdapat juga sebuah epistemologi yang memisahkan teori pengetahuan Marxis dari yang lainnya, dan secara khusus dari segala bentuk empirisisme. Sebagai akibatnya, dalam mencari konsep cara produksi, Marx harus melepaskan diri dari bentuk-bentuk pengetahuan yang, agar bisa absah, mengadalkan “kejelasan” pengalaman langsung. Cara produksi ini (struktur masyarakat) memang tidak tampak dalam pengalaman langsung. Menurutnya ia juga tidak muncul dalam bentuk-bentuk pengetahuan yang mengklaim diri sebagai bagian dari objek Nyata. Setiap epistemologi yang mempersatukan pengetahuan dengan objek nyata tidak akan mampu menghasilkan kosnep tentang objek tersebut. Menurut Althusser ini berlaku, baik saat kita berhadapan dengan idealisme Hegelian (yang nyata = pemikiran) maupun dengan empirisisme klasik (yang nyata adalah yang tidak terpisahkan dari pengalaman inderawi). Karena para pendahulunya (termasuk yang datang sesudahnya) tidak mampu menghindari empirisisme – tidak mampu melepaskan kaitan antara pengetahuan dengan objek nyata – maka mereka juga tidak mampu untuk “melihat” (memberikan pengetahuan tentang) cara produksi seperti yang dilakukan Marx, dan pada gilirannya Marx sendiri pun tidak mampu menjelaskan lebih lanjut konsep cara produksi karena ia masih bersandar pad bahasa empirisisme. Dengan demikian, hanya dalam naskah tertentu saja (dalam Pendahuluan yang dibuat tahun 1857, The Critique of Goethe Programme, dan Marginal Notes on Wagner) pendapat Marx benar-benar asli dari dirinya. Oleh sebab itu, sekarang ini para pembaca Marx harus melakukan suatu pembacaan simptomatik untuk melihat dengan jelas temuan Marx ini. Ini berarti memberikan konsep bagi revolusi teoretis yang dipelopori Marx.

Jika problematika penganut empirisisme bisa diatasi, maka pengetahuan dan dunia objektif menjadi terpisah sepenuhnya. Dari sini tampak bahwa keabsahan suatu teori itu tidak bergantung pada apakah yang disebutkannya sesuai dengan kenyataan atau tidak, tetapi pada apakah premis-premisnya itu konsisten atau tidak. Dengan cara yagn sama suatu kebenaran ilmiah tidak diturunkan secara aposteriori, tetapi sepenuhnya apriori; teori relativitas itu sepenuhnya benar (atau salah) sebelum diuji dalam kenyataan. Berdasarkan hal ini maka Althusser berani mengatakan bahwa Spinoza adalah pendahulu langsung dari Marx karena Spinoza mengatakan bahwa ilmu itu benar karena ia berhasil; bukan sebaliknya, ia berhasil karena ia benar. Ini adalah karakteristik mendasar dari suatu ilmu yang menurut Althusser membedakannya dengan ideologi. Dengan demikian, ciri menonjol ideologi adalah pengandaiannya bahwa pengetahuan atau gagasan diturunkan dari bagaimana benda-benda berperilaku baik “benda-benda” ini merupakan karya Tuhan, seperti dalam agama, maupun merupakan karya manusia seperti dalam filsafat Zaman Pencerahan. Singkatnya, ideologi menerima kejelasan (yang salah) dari benda-benda; ia tidak menerima pertanyaan, dan menghindari upaya penyusunan objek pengetahuan.

Berdasarkan hal ini, apa yang Marx temukan? Di sini muncul dua kemungkinan jawaban yang mewakili dua tingkatan analisis yang berbeda. Yang pertama adalah bahwa Marx menemukan konsep cara produksi di dalam sejarah, dan secara khusus cara produksi kapitalis (nilai lebih, nilai tukar, komoditas); jawaban kedua, menurut Althusser adalah bahwa Marx menemukan ilmu sejarah atau materialisme historis seperti juga materialisme dialektik – di sini kerangka kerja filosofis penganut non-empirisme menghasilkan konsep tentang penemuan ini. Sebaliknya, historisisme lupa bahwa Marxisme itu juga adalah sebuah filsafat, sedangkan humanisme lupa bahwa Marx memelopori sebuah ilmu baru, ilmu sejarah, di mana sejarah harus dipahami sebagai sejarah cara produksi. Althusser tidak jemu-jemunya menegaskan kembali bahwa cara produksi merupakan objek unik materialisme historis, suatu objek yang berbeda dengan objek ekonomi-politik klasik serta teori sejarah dan masyarakat dalam era Pencerahan. Menurut Marx sekarang ini tidak ada “masyarakat”, yang ada hanya cara produksi yang ber-evolusi dalam sejarah. Cara produksi ini selalu imanen dalam berbagai tingkatan yang relatif otonom dari keseluruhan struktur sosial.

Jika akhirnya cara produksi itu juga setara dengan determinisme ekonomi, bagaimana mungkin ekonomi itu muncul dalam bentukan sosial yang membangkitkannya? Selain itu, jika di dalam ekonomi berlangsung perubahan, apakah ini akan tampak dalam seluruh masyarakat? Paling tidak sampai tahun 1930-an, Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah bahwa perubahan dalam ekonomi (atau dalam infrastruktur) akan tercermin di dalam msyarakat dan kultur (super-struktur). Oleh sebab itu, jika kapitalisme setara dengan eksploitasi pekerja melalui pengurasan nilai lebih, atau keuntungan, maka hubungan antagonistik antara kaum kapitali dengan pekerja ini juga mendapatkan ungkapan ideologisnya dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain, para pekerja dan kaum kapitalis akan menyadari antagonisme ini dan memeranginya. Oleh sebab itu, ekonomi akan langsung menentukan kehidupan sosial dan kultural.

Sedikit perenungan akan menunjukkan bahwa jika penjelasan determinis ini absah, maka untuk memahaminya kita tidak perlu berpaling ke Marx. Sudah sangat memadai kalau kita meninjaunya berdasarkan antropologi Feuerbachian (yang meletakkan “Manusia” di pusat alam semesta), atau mengikuti Hegel jika ingin lebih memadai. Bagi Alhusser, konsep Marx tentang cara produksi tidak bisa dipelajari dari tingkatan kesadaran atau ideologi. Sebaliknya, sebagai suatu gejala struktural ia hanya bisa ada secara “teroverdeterminasi” pada seluruh bentuk realitas seluruh bentukan sosial yang terkait dengannya. “Overdeterminasi” adalah istilah yang Althusser pinjam dari Freud (yang menggunakannya dalam The Interpretation of Dreams untuk menunjukkan bagaimana “pikiran mimpi” atau “gagasan mimpi” muncul dalam bentuk yang sudah berubah dalam mimpi itu), dalam menjelaskan bahwa realitas tataran ekonomis atau cara produksi tidak langsung terungkap dalam ideologi atau kesadaran, tetapi muncul dalam bentuk yang sudah berubah melalui bentuk realitas sosial yang terkait dengan cara produksi tersebut. Dalam hal ini berbagai kontradiksi dalam sistem menjadi teroverdeterminasi. Mereka tidak segera tampak, akan tetapi harus dianalisis dan dimunculkan melalui ilmu.

Althusser bukanlah yang pertama dari para pemikir Marxis yang menentang sikap terlalu menyederhanakan yang terdapat pada pencirian kaum determinis terhadap ekonomi. Ini karena setelah ditemukannya karya Marx, Economic and Philosophic Manuscript, pada tahun 1932, kaum Marxis humanis menentang tidak hanya determinisme ekonomi, tetapi juga semua interprestasi terhadap kehidupan sosial yang menyangkal bahwa manusia tidak bisa berinisiatif untuk mengubah kondisi sosial. Pada tahun 1960-an, kesadaran dan ideologi (politik) menjadi semboyan dari banyak teori radikal tentang masyarakat. Dengan demikian Althusser menentang gagasan bahwa Marxisme hanyalah sebuah humanisme, seperti juga ia menentang gagasan yang menyatakan bahwa Marxisme adalah sebuah determinisme ekonomis. Itulah sebabnya, khususnya pada tahun 1960-an, ia begitu giat dan tak henti-hentinya menulis tentang adanya “perpisahan epistemologis” antara Marx awal dan Marx akhir.[4] Althusser berpendapat bahwa Marx awal itu lebih bersifat humanis dan Feuerbachian; namun, Alhussser mengatakan bahwa ini bukan Marx yang memisahkan diri dari problematika Hegelian-Feuerbachian yang mengatur determinisme ekonomi maupun humanisme. Ada sebuah perpisahan epistemologis antara Marx awal yang ideologis dengan Marx akhir yang ilmiah.

Meskipun demikian, jika ilmu dari Marx ini terlepas dari problematika yang mengutamakan ideologi dalam upaya memberikan penjelasan sosial, apakah ini berarti bahwa ideologi adalah suatu ilusi murni, atau semacam mitos yang tidak memiliki landasan apa pun dalam kehidupan sosial? Seolah berupaya menjawab pertanyaan ini, pada tahun 1967 dalam rangka mengembalikan kekuatan penjelas pada ideologi yang ada dalam versinya tentang Marxisme, pada bagian Prakata For Marx (dalam versi bahasa Inggris). Althusser menuliskan: “Saya tidak mengutuk ideologi sebagai suatu realitas sosial. Sudah dikatakan Marx bahwa didalam ideologi, manusia ‘menjadi sadar’ akan pertentangan kelas yang mereka alami dan berjuang untuk menghapuskannya.”[5] Tiga tahun kemudian Althusser bergerak lebih lanjut dalam menganalisis ideologi, dan dalam sebuah esainya yang berjudul “Ideologi dan aparat pemerintahan ideologis”,[6] ia menawarkan teori ideologi yang bersifat Marxis. Negara – yang dalam pandangan kaum Leninis diangap ikut campur dalam pertarungan para borjuis melawan kaum proletar – terdiri atas beberapa aparat ideologis (gereja, sekolah, sistem hukum, keluarga, komunikasi, partai-partai politik, dan sebagainya) serta aparat-aparat represif (polisi, penjara, tentara, dan sebagainya). Althusser berusaha menggunakan teorinya tentang ideologi untuk menutupi kesenjangan yang selalu ada dalam teori Marxis; penjelasan tentang bagaimana sebenarnya hubungan-hubungan produksi yang ada direproduksi. Ideologi adalah sebuah mekanisme yang dipakai kaum borjuis untuk mereproduksi dominasi kelasnya. Melalui ideologi, berbagai generasi terus-menerus menyesuaikan diri dengan status quo. Seperti yang dikatakan Althusser, “Dalam keadaannya yang terdistorsi, ideologi tidak mewakili hubungan-hubungan produksi yang ada (dan hubungan-hubungan lain yang diturunkan darinya), tetapi mewakili semua hubungan (imajiner) para individu pada hubungan-hubungan produksi serta semua hubungan yang diturunkan darinya.”[7]

Ideologi memberikan kerangka kerja yang di dalamnya manusia menjalani hubungannya dengan realitas sosial tempat mereka berada. Ideologi membentuk subjek-subjek dan, dalam pembentukan ini, meletakkan mereka di dalam sistem hubungan yang diperlukan agar hubungan kelas yang ada bisa bertahan. Ideologi “mencela” dan atau “memuji” para individu sebagai subjek dari sistem: ia memberinya identitas yang perlu demi berfungsinya situasi yang sedang berjalan. Dalam banyak praktek, identitas ini tersusun secara material dan konkret yaitu praktek-praktek ritual seperti berjabatan tangan dan berdoa. “Kejelasan” – yang dianggap sebagai yang sudah ada dengan sendirinya – adalah satu ciri khas dari praktek-praktek ideologis; ini jelas karena semua praktek ini tidak terpisahkan dari cara manusia menjalani aspek-aspek “eksistensi” yang spontan dan dekat dengan mereka. Bila dilihat dari pengertian ini maka tidak ada seorangpun yang tidak dipengaruhi ideologi. Tidak satupun masyarakat yang tidak memiliki tataran yang spontan dan praktis ini. Setiap orang berada di bawah pengaruh ideologi, dan setiap orang menjadi subjek praktek-praktek material ini.

Keterkenalan Althusser sebagai seorang Marxis menurun bersamaan dengan memudarnya teori Marxis pada akhir tahun 1970-an. Mungkin intervensi Althusserian ini belum pernah mendapatkan landasan operasional yang mantap, sehingga akhirnya doktrin sosial yang dikembangkannya mengalami kesulitan dalam mengguncangkan pandangan dunia abad kesembilan belas yang diilhami oleh industrialisme yang juga ikut membidani kelahiran doktrin sosial tersebut. Di pihak lain, bila “nyanyian” seorang peziarah Marxis diabaikan, dan jika disiplin ketat pada organisasi dan penyusunan tulisannya diamati dengan cermat, maka karya Althusser ini sangat pantas untuk disimak terus. Lebih lanjut, tidak bisa disangkal bahwa strategi membaca ala Althusser ini membawa kegiatan yagn sudah lazim dilakukan ini ke luar dari katagori kejelasan semu menyangkut pengalaman yang bersifat langnsung. Sekarang ini tidak banyak teoretisi yang terus maju dengan empirisisme naif yang sudah menjadi kebiasaan sebelum datangnya Althusser.

Bila kita lihat secara lebih kritis lagi, teori-teori yang dikembangkan Althusser sebenarnya berwawasan sangat sempit, karena terlalu bersandar pada pokok-pokok pemikiran Marxis. Sebagai akibatnya, meskipun pemikiran Althusser langsung terkait dengan ilmu, dan meskipun ia mengklaim bahwa Marx adalah pelopor ilmu sejarah, namun apa yang sebenarnya dimaksudkannya dengan ilmu itu hampir tidak mungkin ditentukan di luar fakta bahwa ilmu itu tidak memiliki subjek, dan ini merupakan suatu hal yang bertentangan dengan kenyataan. Selain itu, bila dalam karya Althusser tentang ideologi terdapat aspek-aspeknya yang terbaik, kaitan yang nyata antara ideologi, reproduksi, dan upaya mempertanyakannya tidak tampil dengan cukup nyata. Jika ideologi (yang menjadi hubungan langsung antara manusia dengan dunia) selalu ada, namun, di bawah cara produksi kapitalis, merupakan suatu cara agar eksploitas tetap dipertahankan, lalu bagaimana kaitan antara ideologi yang bersifat umum dan cara khas historis, bahwa invidu didudukkan sebagai subjek dalam kapitalisme? Segera kita lihat bahwa dengan semua penekanan pada temuan ilmiah Marx tentang cara produksi – temuan yang meninggalkan ideologi – maka sifat ideologi sebagai kedekatan hubungan yang semu antara manusia dan dunia menjadi diabaikan. Yang dibutuhkan tampaknya bukan hanya ilmu tentang cara produksi, melainkan juga ilmu tentang sifat ideologi. Demikian juga, meskipun pada umumnya Althusser memberikan sumbangan yang penting kepada ideologi, hal ini bertentangan dengan apa yang hendak dikatakannya sebagai seorang filsuf Marxis yang berkutat dengan masalah eksploitasi. Apa sebenarnya yang bisa dikatakan oleh seorang ahli teori ideologi Marxis tentang eksploitasi? Hampir tak satu pun, jika kita ingin mengikuti jejak Althusser, meskipun ideologi itu terkait erat dengan reproduksi sistem. Secara lambat laun mulai disasari bahwa mungkin buku terbaik yang pernah ditulis Althusser adalah autobiografinya.[8]

[1] Jean Lacroix, disebutkan oleh Didier Eribon dalam karyanya Michel Foucault, Paris, Flammarion, 1989, hlm. 183.

[2] Ibid., hlm. 189.

[3] Lihat komentar Althussser tentang Gramsci dalam Reading Capital, terjemahan Ben Brewster, London, New Left Books (dicetak dalam sampul tipis), hlm. 130; ‘Jelas bahwa Gramsci cenderung menganggap teori sejarah dan materialisme dialektis berada dalam materialisme historis saja, meskipun mereka membentuk dua disiplin yang berbeda’.

[4] Louis Althusser, For Marx, terjemahan Ben Brewster, Harmondworth, Penguin Books, 1960, hlm. 33.

[5] Ibid., hlm. 11.

[6] Terdapat dalam karya Louis Althusser, Lenin and Philosophy and Other Essays, terjemahan Ben Brewster, London, New Left Books, 1971, hlm. 121-173. (Di dalamnya terdapat esai ‘ideologi dan aparat negara ideologis’).

[7] Ibid., hlm. 155.

[8] Louis Althusser, L’Avenir due longtemps suivi de les faits, naskah yang dibuat oleh Olivier Corpet et Yann Moulier Boutang, paris, Stock/IMEC, 1992. Dalam bahasa Inggris diterbitkan sebagai The Future lasts a Long Time, terjemahan Richard Veasey, London. Chatto & Windus, 1993.

Continue Reading

Cerpen

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak

mm

Published

on

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak[1] | Karya: Svava Jakobsdóttir[2] | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Sepanjang ingatannya, ia telah menetapkan hati untuk setia pada sifat dasarnya dan mengabdikan seluruh tenaga untuk rumah dan anak-anaknya. Saat ini ada beberapa anak dan dari pagi hingga malam ia dibanjiri pekerjaan, melakukan kegiatan rumah tangga dan mengurus anak. Ia sekarang sedang menyiapkan makan malam dan menunggu kentang mendidih.[3] Majalah wanita Denmark tergeletak di atas bangku dapur seakan dilempar dengan tidak sengaja; kenyataannya, ia memang sengaja menaruh majalah itu disana dan meliriknya ketika ada kesempatan. Tanpa mengacuhkan panci kentang dari pikirannya, ia mengambil majalah dan membaca sepintas kolom nasihat Fru Enson[4].  Bukan berarti kolom itu terlihat paling menarik baginya, namun karena tulisannya pendek-pendek. Mungkin juga akan memakan cukup banyak waktu untuk membacanya sehingga kentang yang dimasak akan mendidih ketika, ia selesai membaca. Surat pertama di kolom itu singkat: Kepada Fru Enson, saya hidup demi anak saya dan selalu melakukan segala sesuatunya untuk mereka. Sekarang saya ditinggal sendiri dan mereka tidak pernah mengunjungi saya. Apa yang harus saya lakukan? Fru Enson membalas: Lakukan lebih untuk mereka.

Tentunya, ini jawaban yang logis. Sangat jelas hingga tidak ada lagi hal yang lebih memungkinkan. Ia berharap tidak akan mulai menulis untuk majalah itu tentang hal yang sudah jelas adanya ketika waktunya tiba. Tidak, kolom ini tempat orang-orang mengerang dan mengeluh bukanlah kesukaannya.  Kolom yang berisi cara pengasuhan anak dan peran ibu – lebih terdengar positif. Aspek fundamental pengasuhan anak tentunya telah familiar baginya sekarang ini, tapi ada saatnya ia merasa lemah dan letih di beberapa waktu. Di saat itu, ia akan buru-buru membalik halaman majalah untuk segera membaca kolom pengasuhan anak demi mencari keteguhan hati dan penegasan bahwa ia memang berada di jalur yang benar dalam hidup. Ia hanya menyesal memiliki sedikit dan semakin sedikit waktu untuk membaca.

Ikan yang belum dibersihkan menunggu dirinya di bak cuci piring dan kali ini ia menahan godaan untuk membaca kolom pengasuhan anak. Ia menutup majalah dan kemudian berdiri. Ia sedikit pincang sejak anak-anaknya memotong satu jari besar di kaki kanannya. Mereka penasaran apa yang akan terjadi jika seseorang hanya memiliki sembilan jari kaki. Di dalam dirinya, ia merasa bangga atas kepincangannya dan atas hasrat belajar anak-anaknya, dan terkadang ia bahkan pincang lebih sering daripada seharusnya. Sekarang ia mendinginkan kentang dan mulai membersihkan ikan. Pintu dapur terbuka dan anak laki-laki kecilnya, yang berusia enam tahun, bermata biru dan berambut agak ikal, menghampirinya.

“Mama,” katanya, dan menusukkan peniti ke tangannya. Ia kaget dan hampir mengiris jarinya dengan pisau.

“Ya, sayang,” jawabnya, dan membentangkan tangannya yang lain sehingga sang anak bisa menusuknya juga.

“Mama, ceritakan aku satu kisah.”

Ia menaruh pisau, mengeringkan tangan dan duduk dengan anaknya di pangkuan untuk menceritakan sebuah kisah. Ia sudah setengah jalan bercerita ketika terpikirkan bahwa salah seorang anaknya bisa menderita gangguan psikologi akibat tidak makan malam tepat waktu. Di wajah anaknya, ia mencoba melihat bagaimana anaknya akan bereaksi ketika ia berhenti bercerita. Ia merasakan keraguan menggenggam tangannya dan menjadi tidak konsentrasi bercerita. Ketidakmampuan dirinya untuk membuat keputusan semakin bertambah beriringan dengan banyaknya anak dan tugas rumah tangga yang tak ada habisnya. Ia mulai mengkhawatirkan hal-hal tadi yang menyela kesibukannya dari pagi hingga malam.  Lebih dan lebih sering ia kehilangan ketenangan jika berhenti membuat keputusan. Kolom pengasuhan anak sedikit sekali, bahkan tidak membantu, pada saat-saat seperti itu, meskipun ia mencoba mengingatnya. Kolom itu hanya membicarakan satu masalah dan satu anak di satu waktu. Masalah-masalah lainnya selalu harus menunggu hingga minggu depan.

Kali ini ia menghindari membuat keputusan. Pintu terbuka dan semua anaknya berbondong masuk ke dapur. Stjani, si sulung, memimpin yang lain. Di usia yang amat dini, dia telah menunjukkan minat mengagumkan akan biologi manusia dan hewan. Anak laki-laki yang sedaritadi mendengarkan cerita sekarang meluncur dari pangkuan dan mengambil posisi di antara saudara-saudara lelaki dan perempuannya. Mereka membentuk setengah lingkaran di sekelilingnya dan ia memandang mereka satu persatu.

“Mama, kami mau tahu rupa otak seseorang.”

Ia melirik jam dinding.

“Sekarang juga?” tanyanya.

Stjani tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dengan anggukan kepala dan pandangan tajam, dia memberikan tanda kepada adik laki-lakinya, dan si adik laki-laki keluar dan kembali dengan tali, sementara Stjani mengencangkan pisau gergaji ke pegangan kursi. Tali kemudian diikatkan disekitar sang ibu. Sang ibu merasakan ketika tangan-tangan kecil meraba punggungnya sementara simpul dikencangkan.  Talinya dibuat longgar dan tidak butuh banyak usaha untuk meloloskan diri. Namun ia berhati-hati agar anak-anak tidak mengetahui hal itu. Stjani selalu sensitif akan kecerobohan tangannya sendiri. Tepat ketika anaknya, Stjani, mengangkat gergaji ke kepalanya, gambaran akan sang ayah dari anak-anak muncul di pikirannya. Ia melihat lelaki itu di hadapannya seperti dia sesekali terlihat: berdiri di ambang pintu dengan tas kerja di satu tangan dan topi di tangan lainnya. Ia tidak pernah melihat lelaki itu kecuali di pintu depan rumah, entah ketika lelaki itu sedang berjalan keluar atau masuk ke rumah. Ia pernah sekali berhasil membayangkan lelaki itu sedang berada di luar rumah di antara orang-orang atau di kantor, tapi sekarang, setelah anak-anak mereka lahir, mereka pindah ke rumah baru dan lelaki itu bekerja di kantor baru, dan ia kehilangan arah.  Lelaki itu akan pulang lebih cepat dan ia bahkan belum mulai menggoreng ikan. Darahnya sekarang mulai menetes dari kepalanya. Stjani sudah selesai dengan gergaji. Operasi itu nampaknya berhasil, dan lumayan singkat.  Lalu dia berhenti seakan sedang mengira-ngira dengan matanya, seberapa besar lubang yang dihasilkan. Darah memuncrat ke seluruh wajahnya dan makian terucap dari mulutnya. Dia menganggukkan kepala dan adik laki-lakinya buru-buru keluar ruangan untuk mengambil ember pel. Mereka menaruh ember itu di bawah lubang dan tak lama ember terisi setengah penuh. Prosedur itu selesai dilaksanakan tepat di saat sang ayah muncul di pintu rumah. Sang ayah berdiri kaku sesaat dan merenungkan pemandangan yang tersuguhkan kepadanya: istrinya terikat, dengan sebuah lubang di kepala, anak laki-laki bungsunya memegang otak berwarna abu-abu di tangan, anak-anak dengan rasa penasaran saling berkerumun membentuk grup, dan hanya ada satu panci di kompor.

“Anak-anak! Bisa-bisanya kalian berpikiran melakukan ini di saat waktunya makan malam?”

Sang ayah mengambil potongan tengkorak istrinya dan memasangnya kembali saat sang istri hampir mati karena pendarahan. Lalu dia mengambil kendali dan segera setelahnya anak-anak sibuk merapihkan diri mereka. Dia mengelap hampir semua noda darah di dinding sebelum memeriksa panci di kompor. Ada suara mencurigakan dari panci itu. Air sudah lama mendidih dan dia memindahkan panci dari kompor dan menaruhnya di meja besi di sebelah bak cuci piring. Saat dia melihat ikan yang setengah bersih di bak cuci piring, dia sadar bahwa istrinya belum bergerak dari kursi. Bingung, dia mengerutkan alis. Tidak biasanya istrinya hanya duduk-duduk ketika ada banyak hal yang harus dikerjakan. Dia menghampiri istrinya dan menatapnya dengan penuh perhatian. Ternyata, anak-anak lupa membuka tali yang mengikat istrinya.

Saat dia telah membebaskan istrinya dari tali, mereka saling menatap mata satu sama lain dan tersenyum. Tidak pernah ada saat harmoni mereka terasa lebih dalam dibanding ketika mata mereka bertemu karena rasa bangga atas anak-anak mereka.

“Anak-anak malang,” katanya, dan suara lelaki itu dipenuhi nada khawatir sekaligus sayang untuk keluarganya.

Tak lama setelahnya mereka duduk di meja. Semuanya kecuali Stjani. Anak laki-laki itu sedang di kamar mempelajari otak dibawah mikroskop. Sementara itu, ibunya menghangatkan makan malamnya di dapur. Mereka semua lapar dan menghabiskan makanan dengan lahap; makan malam kali ini lebih telat dari biasanya. Tidak ada perubahan terlihat pada sang ibu. Ia sudah keramas dan menyisir rambut melewati bekas luka sebelum ia duduk. Ekspresi tenangnya menampakkan kesabaran dan penyangkalan diri yang biasa terlihat pada waktu makan. Ekspresi ini pertama kali muncul bertahun-tahun lalu ketika ia selalu menomorsatukan anaknya dan hanya menyimpan bagian yang teramat kecil bagi dirinya sendiri. Sekarang anak-anaknya sudah cukup besar hingga mereka dapat mengambil potongan terbaik untuk diri mereka sendiri dan ekspresi sebenarnya tidaklah penting, namun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan makan. Sebelum makan malam berakhir, Stjani masuk ke ruangan dan duduk. Sang ibu segera mengambilkannya makan malam. Di dapur, ia membersihkan ikan dari tulang dengan cermat sebelum meletakkannya di piring. Saat mengambil ember sampah untuk membuang tulang-tulang ikan, ia berteriak kencang. Otaknya ada di bagian paling atas ember itu.

Anggota keluarga lainnya bergegas keluar sesaat setelah teriakannya mencapai ruang makan. Sang ayah memimpin di depan dan segera mengetahui permasalahan ketika dia melihat istrinya menundukkan pandangan ke ember sampah. Teriakan istrinya telah padam, namun masih bisa terlihat di garis wajahnya.

“Kamu malu membuangnya, bukankah begitu, sayang?” dia bertanya.

“Aku tidak tahu,” jawabnya dan menatap dengan penuh rasa maaf. “Aku tidak berpikir.”

“Mama engga berpikir, mama engga berpikir, mama engga berpikir,” ejek salah seorang anaknya yang berselera humor tajam.

Mereka semua tertawa terbahak dan tawa itu nampaknya menyelesaikan masalah. Sang ayah berkata dia punya ide; mereka tidak harus membuang otak itu, mereka bisa merendamnya dalam alkohol.

Maka, sang ayah meletakkan otak itu di toples bening dan menuangkan alkohol di atasnya. Mereka membawa toples itu ke ruang tamu dan menaruhnya di rak pajangan. Mereka semua sepakat otak itu cocok ditaruh disana. Kemudian mereka menyelesaikan makan malam.

Tidak ada perubahan kentara pada rutinitas rumahtangga akibat hilangnya otak. Awalnya, banyak orang berkunjung. Mereka datang ingin melihat otak itu, dan mereka yang membanggakan diri karena memiliki mesin pintal tua nenek mereka yang diletakkan di sudut ruang tamu sekarang tampak iri akan otak yang ditaruh di rak itu. Sang ibu tidak merasakan sedikitpun perubahan pada dirinya bahkan sejak awal. Tidak juga sulit baginya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau untuk mengerti majalah Denmark. Banyak hal bahkan menjadi lebih mudah dimengerti dibandingkan sebelumnya, dan situasi yang dahulu sempat membuatnya harus putar otak tidak lagi berlaku sekarang. Namun lama-kelamaan ia mulai merasa sesak di dada. Seakan paru-parunya tidak lagi punya cukup ruang untuk berfungsi dan setelah setahun berlalu ia pergi ke dokter. Melalui pemeriksaan seksama terungkap bahwa di dalam hatinya telah tumbuh usus in naturalis et adsidui causa.[5] Ia meminta maaf pada dokter karena telah melupakan Bahasa Latin yang pernah dipelajarinya di sekolah, dan dengan sabar sang dokter menjelaskan padanya bagaimana hilangnya satu organ bisa berdampak perubahan pada organ lainnya. Sama halnya dengan seorang pria yang kehilangan penglihatan akan menderita gangguan pendengaran akut, hatinya telah mengalami peningkatan aktivitas yang pesat di saat otaknya tidak lagi tersedia. Ini adalah perkembangan yang alami, lex vitae[6], konon begitu katanya – dan karena hal itu, sang dokter tertawa – tidak perlu khawatir karena dalil tersebut pasti adil. Maka ia tidak perlu takut. Ia dalam kondisi primanya.

 Ia merasa lega karena kata-kata itu. Belakangan ini ia khawatir hanya memiliki sedikit waktu tersisa dalam hidup, dan ketakutan ini telah menjadi suara lantang di dalam dadanya yang berkata: Akan jadi apa mereka jika aku mati? Namun sekarang ia menyadari bahwa suara ini, yang kekuatan dan kemurniannya semakin bertumbuh, bukanlah ramalan, melainkan suara hatinya. Hal ini membuatnya senang sebab suara hati seseorang dapat dipercaya.

Tahun demi tahun berlalu dan suara hatinya menunjukkan jalan: mulai dari kamar anak-anaknya dan ruang kerja suaminya hingga ke dapur dan kamar tidur. Rute ini berharga baginya, dan tidak sedikitpun angin yang menghempas dari pintu rumah cukup kuat untuk menyapu jejaknya. Hanya satu hal yang bisa bangkitkan ketakutan dirinya: perubahan yang tidak terduga di dunia ini. Tahun ketika orang-orang lima kali memecat dan mengganti gadis-gadis konter di toko susu, ia tidak pernah merasa baik-baik saja. Namun anak-anak tumbuh. Ia bangun bersamaan dengan mimpi buruk saat anak tertuanya, Stjani, mulai merapihkan kopernya untuk pergi menjelajah dunia. Dengan kekuatan berapi-api yang tak terkontrol ia melemparkan dirinya ke ambang pintu untuk menghadang anaknya keluar. Suara sesapan terdengar saat anak laki-laki itu menginjaknya kala melangkah keluar. Anak laki-laki itu mengira ia sedang merintih dan berhenti sejenak lalu berkata bahwa semua salah dirinya sendiri. Tidak ada yang menyuruhnya untuk berbaring di lantai. Wanita itu tersenyum kala ia bangkit karena apa yang telah dikatakan anak laki-laki itu tidaklah benar. Hatinya berkata untuk berbaring disana. Ia telah mendengar suara itu teramat jelas dan sekarang, saat ia melihat lelaki itu berjalan menyusuri jalanan, suara itu kembali berbicara padanya dan berkata kalau ia masih bisa merasa senang karena telah melunakkan langkah pertama anak laki-lakinya keluar menuju dunia. Setelahnya mereka semua, anak-anaknya, pergi satu per satu dan ia ditinggal sendirian. Ia tidak lagi punya hal untuk dilakukan di kamar anak-anaknya dan ia seringkali duduk di kursi goyang di ruang tamu belakangan ini. Jika ia mendongak, toples di rak terlintas di pandangannya, dimana otaknya berada selama bertahun-tahun ini, dan nyatanya, hampir terlupakan. Budaya membuat hal ini lumrah adanya. Kadang ia merenungkan ini. Sejauh yang ia lihat, otaknya baik-baik saja disana. Namun ia kehilangan kesenangan menatap itu. Membuatnya teringat anak-anaknya. Dan lambat laun ia merasa suatu perubahan sedang terjadi dalam dirinya, namun ia tidak bisa mengatakan hal ini pada suaminya. Ia jarang melihat suaminya akhir-akhir ini, dan kapanpun suaminya muncul di rumah, ia segera beranjak dari kursi, seakan tamu baru saja tiba. Suatu hari suaminya dengan sendirinya bertanya apakah ia tidak baik-baik saja. Puas, ia mendongak, tapi ketika ia lihat suaminya sedang menghitung rekening di saat yang bersamaan, ia jadi bingung menjawab (ia tidak pernah mahir dalam berhitung). Dalam kebingungannya ia berkata tidak punya cukup banyak hal yang bisa dilakukan. Suaminya melihat ke arahnya takjub dan berkata bahwa ada cukup banyak hal yang bisa dilakukan hanya jika orang menggunakan otak mereka. Tentu saja lelaki itu berkata demikian tanpa berpikir. Lelaki itu tahu benar kalau ia tidak punya otak, tapi bagaimanapun juga ia tidak mengartikannya secara harfiah. Ia menurunkan toples dari rak, membawanya ke dokter dan bertanya jikalau otak itu masih bisa digunakan. Dokter tidak meniadakan kemungkinan otak itu masih berfungsi untuk satu dua hal, namun di sisi lain, semua organ akan mengalami penyusutan setelah diawetkan dalam alkohol dengan rentang waktu sedemikian lama. Oleh karena itu, akan menjadi perdebatan apakah sebanding jika harus memindahkannya; sebagai tambahan, nervi cerebrales[7] telah berubah bentuk menjadi memprihatinkan, dan dokter bertanya apakah pernah ada sosok ceroboh yang melakukan operasi sebelumnya.

“Ia masih sangat kecil waktu itu, menyedihkan sekali,” kata si wanita.

“Omong-omong,” kata dokter, “Saya ingat anda pernah punya hati yang tumbuh pesat.”

Sang wanita menghindari tatapan menyelidiki sang dokter dan sebersit samar hati nurani mencengkeramnya. Ia berbisik pada dokter apa yang tidak berani ia ungkapkan pada suaminya:

“Suara hatiku telah bungkam.”

Saat mengatakan ini ia sadar mengapa ia datang ke tempat itu. Ia membuka kancing blusnya, melepaskannya, dan menyampirkannya rapi di belakang bangku. Bra nya juga bernasib sama. Lalu ia berdiri siap di hadapan dokter, telanjang dari pinggang ke atas. Dia mengambil pisau bedah dan menyayat, lalu sesaat kemudian dia menyerahkan hati yang merah juga berkilauan. Hati-hati dia menaruhnya di atas telapak tangan wanita itu dan tangan si wanita lalu mendekapnya. Detak ragu-ragu hati itu serupa kepakan burung dalam sangkar. Ia menawarkan untuk membayar sang dokter, namun dia menggelengkan kepala dan, melihat bahwa ia sedang dilanda kesulitan, dia membantunya berpakaian. Dia lalu menawarkan untuk memanggilkan taksi untuknya mengingat ia memiliki banyak hal untuk dibawa. Ia menolak, menyumpalkan toples berisi otak ke tas belanjanya dan menyampirkan tas itu di lengannya. Kemudian ia pergi dengan membawa hatinya di kedua tangannya.

Sekarang dimulailah long march dari anak yang satu ke yang lainnya. Mulanya ia pergi menemui anak laki-lakinya, tapi tak satupun dari mereka ada di rumah. Mereka telah menemukan tempat berlabuh di kapal Negara dan mustahil untuk berkata kapan mereka akan kembali. Terlebih lagi, mereka tak pernah berlabuh di rumah cukup lama untuk memiliki waktu melakukan hal lain alih-alih mengurus anak. Ia menarik diri dari kegetiran menantu perempuannya dan pergi mengunjungi putri sulungnya, yang membuka pintu rumah. Ekspresi terkejut dan jijik muncul di wajahnya saat melihat hati merah, berlendir, yang berdenyut di telapak tangan ibunya, dan ketakutan, ia membanting pintu. Tentu ini hanya reaksi sesaat dan segera ia membuka pintu kembali, namun ia menekankan pada ibunya bahwa ia sama sekali tidak peduli akan hati ibunya; dan ia tidak yakin hati itu akan cocok dengan furnitur baru di ruang tamu. Sang ibu lalu sadar bahwa sia-sia melanjutkan long march-nya, sebab anak-anak perempuannya yang lebih muda bahkan memiliki furnitur baru. Maka, ia pulang. Di sana ia mengisi toples dengan alkohol dan menjatuhkan hatinya ke dalam toples. Suara sesapan yang dalam, seperti hembusan napas dalam dada manusia, bisa terdengar saat hati itu tenggelam ke dasar. Dan sekarang, mereka berdiri beriringan di rak dalam toples masing-masing, otaknya dan hatinya. Tapi tak ada satupun orang yang datang untuk melihatnya. Dan anak-anaknya tidak pernah datang berkunjung. Mereka selalu beralasan sibuk. Namun kenyatannya, mereka tak suka bau steril yang melekat pada segala hal yang ada di rumah. (*)

______________________________________________

[1] Teks asli berjudul Saga Handa Börnum dalam Bahasa Islandia diterjemahkan oleh Dennis Auburn Hill ke dalam Bahasa Inggris berjudul A Story for Children. Teks diunduh dari http://www.shortstoryguide.com/feminist-short-stories/.  Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti untuk perempuan dan dia adalah kata ganti untuk pria.

[2] Svava Jakobsdóttir (1930-2004) ialah seorang penulis, politikus, juga feminis asal Islandia. Ia banyak menyuarakan hak-hak perempuan dalam karyanya. Jane Simmonds (1999) dalam buku berjudul Iceland (1999) menyebutnya sebagai penulis yang berhaluan feminisme surealis.

[3] Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti orang ketiga perempuan, dan dia adalah kata ganti orang ketiga lelaki

[4] Fru Enson, Bahasa Denmark: Nyonya Kesepian

[5] Latin: kasus yang melibatkan penggunaan yang tidak wajar dan terus-menerus

[6] Latin: dalil kehidupan

[7] Latin: saraf otak

 

Continue Reading

Cerpen

Anton Chekhov: Oh! Masyarakat

mm

Published

on

Karya: Anton Pavlovich Chekhov[1] (1885) | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

“Baiklah, cukup sudah aku minum-minum! Tidak… t-ti-dak akan aku tergiur lagi. Saatnya ambil kendali, aku harus bangkit dan bekerja… Tentunya kau senang mendapat gaji, jadi kau harus bekerja dengan jujur, tulus, teliti, tanpa peduli tidur dan kenyamanan. Mesin membuat segalanya mudah. Kau mendapat gaji secara cuma-cuma, kawanku – itu bukan hal baik… bukan hal baik bagaimanapun juga…”

Setelah menceramahi dirinya sendiri, Podtyagin, Kepala Pengumpul Tiket, mulai tergerak hatinya untuk kembali bekerja. Kala itu sudah lewat pukul 01.00 dini hari, walaupun begitu, ia membangunkan pengumpul tiket lainnya dan bersama mereka naik dan turun gerbong kereta, memeriksa tiket.

“M-m-m-mohon T-t-t-iketnya…!” ia terus berteriak, begitu lihainya merobek kertas dengan alat pemotong.

Sosok-sosok yang mengantuk, terselimuti senja gerbong kereta api, tersentak, menggelengkan kepala, dan menyerahkan tiket mereka.

“M-m-m-mohon T-t-t-iketnya…!” Podtyagin berbicara pada penumpang kelas dua, pria ramping, kurus kering, yang terbungkus mantel berbulu dan tikar dan dikelilingi bantal. “Mohon tiketnya!”

Si pria kurus kering tak memberikan jawaban. Ia benar-benar terlelap. Kepala Pengumpul Tiket itu menyentuh pundaknya dan mengulang perkataan dengan tidak sabar: “M-m-mohon t-t-tiketnya!”

Si penumpang tersentak, membuka matanya, memandang Podtyagin dengan gelisah.

“Apa? … Siapa? … Eh?”

“Anda ditanya dengan bahasa yang sederhana: m-m-mohon t-t-tiketnya! Jika Anda berkenan!”

“Ya Tuhan!” erang si pria kurus, menunjukkan wajah sedihnya. “Yang benar saja! Saya menderita rematik…. Sudah tiga malam saya tidak tidur! Saya baru saja minum morfin supaya bisa tidur, dan Anda… dengan tiket Anda! Anda tidak kenal ampun, tidak manusiawi! Kalau saja Anda tahu betapa sulitnya saya supaya bisa tidur maka Anda tidak akan mengganggu saya hanya untuk hal yang tidak masuk akal… Tak kenal ampun, ini kejam! Dan apa yang Anda inginkan dengan tiket saya! Perbuatan Anda sungguh bodoh!”

Podytagin mempertimbangkan apakah harus membalas ucapan tersebut atau tidak – dan memutuskan untuk membalasnya.

“Jangan berteriak di sini! Ini bukan bar!”

“Tidak, bahkan di bar, orang-orang lebih manusiawi…” kata si penumpang sambil terbatuk. “Mungkin Anda akan membiarkan saya tidur di lain waktu! Luar biasa: Saya telah bepergian ke luar negeri, ke semua tempat, dan tidak ada yang menagih tiket saya di sana, tapi sekarang Anda menagih lagi dan lagi, seperti sedang dikejar setan….”

“Nah, harusnya Anda pergi saja ke luar negeri jika benar-benar suka di sana.”

“Itu bodoh, Tuan! Ya! Tidak hanya membunuh penumpang dengan asap dan kesesakan dan udara dingin, mereka juga ingin mencekik kami dengan birokrasi yang sulit, terkutuklah semua ini! Anda harus menagih tiket itu pula! Ya ampun, antusias sekali! Kalau bukan karena kepentingan perusahaan – setengah penumpang bisa bepergian tanpa tiket!”

“Dengar baik-baik, Tuan!” teriak Podtyagin, marah. “Jika Anda tidak berhenti berteriak dan mengganggu masyarakat, saya berhak mengeluarkan Anda di stasiun berikutnya dan melaporkan kejadian ini!”

“Ini memuakkan!” seru ‘masyarakat’, naik pitam. “Menganiaya seorang invalid! Dengar dan pedulilah sedikit!”

“Tapi pria itu sendiri juga kasar!” kata Podtyagin, sedikit takut. “Bagus sekali… saya tidak akan menagih tiketnya… seperti yang Anda mau… Hanya, tentu saja, seperti yang Anda ketahui dengan baik, sudah tugas saya untuk melakukannya… Jika itu bukan tugas saya, maka tentu saja… Anda bisa tanya kepala stasiun… tanyakan siapa pun yang Anda mau…”

Podtyagin mengangkat bahunya dan berjalan menjauhi si invalid. Awalnya ia merasa dirugikan dan agak terluka hatinya, lalu, setelah melewati dua atau tiga gerbong, ia mulai merasa gelisah.

“Sebenarnya tidak perlu membangunkan si invalid,” pikirnya, “meskipun itu bukan salahku… Mereka pikir aku melakukannya tanpa alasan, tanpa tujuan. Mereka tidak tahu aku terikat kewajiban… kalau mereka tidak percaya, aku bisa bawa kepala stasiun untuk bertemu mereka.”

Stasiun. Kereta berhenti setiap lima menit. Sebelum bel ketiga[2] berbunyi, Podtyagin memasuki gerbong kelas dua yang sama. Kepala stasiun mengikuti di belakangnya.

“Laki-laki ini,” mulai Podtyagin, “menyatakan bahwa saya tidak memiliki hak untuk meminta tiketnya dan… dan dia merasa tersinggung. Saya mohon pada Anda, Pak Kepala Stasiun, untuk menjelaskan padanya… Apakah saya menagih tiket menurut peraturan atau untuk menyenangkan diri saya sendiri? Tuan,” Podtyagin memanggil lelaki kurus itu, “Tuan! Anda bisa tanya kepala stasiun sekarang jika Anda tidak percaya ucapan saya.”

Si invalid terkejut seperti baru saja disengat, membuka mata, dan dengan wajah sedihnya ia tenggelam di kursinya.

“Ya Tuhan! Saya baru saja minum puyer dan terlelap barang sekejap ketika ia sekarang mulai lagi… lagi! Saya mohon kasihanilah saya!”

“Anda bisa tanya kepala stasiun… apakah saya punya hak untuk menagih tiket Anda atau tidak.”

“Benar-benar keterlaluan! Ambil tiketnya, ambil! Saya bersedia membayar lima kali lipat jika Anda membiarkan saya mati dalam damai! Tak pernahkah Anda sakit? Dasar orang tak punya hati!”

“Ini adalah penganiayaan!” Seorang pria berbaju militer naik pitam. “Saya rasa tidak ada penjelasan lain dari kekeraskepalaan Anda ini.”

“Jatuhkan tiketnya…” ucap si kepala stasiun, memberengut dan menarik lengan baju Podtyagin.

Podtyagin mengangkat bahu dan berjalan perlahan melewati kepala stasiun.

“Tidak untuk menyenangkan hati mereka!” pikirnya, kebingungan. “Demi ia lah saya membawa kepala stasiun kemari, agar ia bisa paham dan lebih tenang, dan ia… mengumpat!”

Stasiun lainnya. Kereta berhenti sepuluh menit. Sebelum bunyi bel kedua, saat Podtyagin sedang berdiri di bar makanan dan minuman, meminum air soda, dua pria menghampirinya, seorang berpakaian seperti insinyur, dan seorang lainnya mengenakan mantel militer.

“Dengar, petugas pengumpul tiket!” seru si insinyur, mengalamatkan Podtyagin. “Perlakuanmu terhadap penumpang invalid membuat muak semua orang yang menyaksikannya. Nama saya Puzitsky; saya seorang insinyur, dan pria di sebelah saya ini seorang kolonel. Jika Anda tidak meminta maaf kepada penumpang tadi, kami harus mengadukan hal ini kepada kepala lalu lintas yang juga adalah teman kami.”

“Tuan-tuan sekalian! Mengapa tentunya saya… mengapa tentunya Anda…” Podtyagin diserang kepanikan.

“Kami tidak mau dengar penjelasan apa pun. Tapi kami peringatkan Anda, jika Anda tidak meminta maaf, kami harus memastikan keadilan berlaku pada penumpang tadi.”

“Tentu saya… saya akan minta maaf, pastinya… saya pastikan…”

Satu setengah jam setelahnya, Podtyagin yang sedang memikirkan ucapan permintaan maaf yang akan meyakinkan si penumpang tanpa merendahkan harga dirinya, berjalan menuju gerbong. “Tuan,” ia berkata pada si invalid. “Dengar, Tuan…”

Si invalid terkejut dan melompat: “Apa?”

“Saya… bagaimana ya? … Anda tidak seharusnya merasa tersinggung…”

“Argh! Air…” ucap si invalid megap-megap, mencengkeram dadanya. “Saya baru saja minum dosis ketiga morfin, jatuh tertidur, dan… lagi! Oh Tuhanku! Kapan siksaan ini akan berhenti!”

“Saya hanya… Anda harus memaafkan…”

“Oh! . . . Turunkan saya di stasiun berikutnya! Saya tak tahan lagi… saya… saya sekarat…”

“Benar-benar jahat, menjijikkan!” seru ‘masyarakat’, muak. “Enyahlah! Kau harus bertanggung jawab atas penyiksaan yang kau lakukan. Enyah dari sini!”

Podtyagin melambaikan tangannya berputus asa, mendesau, dan pergi keluar gerbong. Ia menghampiri kompartemen[3] pegawai kereta, duduk di meja, kelelahan, dan mengeluh:

“Oh, masyarakat! Tak ada gunanya menyenangkan mereka! Tak ada gunanya bekerja dan melakukan yang terbaik! Karenanya orang jadi tergerak untuk minum-minum dan bersumpah-serapah… Kalau kau tidak mengerjakan apapun – mereka marah, kalau kau mulai mengerjakan tugasmu, mereka juga marah. Lebih baik minum-minum daripada memikirkannya!”

Podtyagin menenggak habis sebotol minuman keras saat itu juga dan tidak mau lagi memikirkan pekerjaan, kewajiban, dan kejujuran! (*)

_____________________________

[1] Karya ini pertama kali dipublikasikan di Rusia pada 30 November 1885. Versi bahasa Inggris berjudul Oh! The Public diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris oleh Constance Garnett. Teks sumber berasal dari http://www.eldritchpress.org/ac/jr/

[2] Penumpang kereta diberikan 3 bel peringatan: bel pertama (1 kali denting) menandakan 15 menit sebelum keberangkatan, bel kedua (2 kali denting) menandakan 5 menit sebelum keberangkatan, dan bel ketiga (3 denting) dibunyikan saat kereta meninggalkan stasiun.

[3] Ruang terpisah di kereta.

Continue Reading

Trending