Connect with us

Tabloids

Kiat Menulis dari Emily Ruskovich, penulis Idaho

mm

Published

on

Kami tahu bahwa pembaca biasanya juga merupakan penulis, jadi kami menampilkan kiat-kiat menulis dari penulis kami. Siapa yang lebih baik menawarkan saran, wawasan, dan inspirasi daripada penulis yang anda kagumi? Mereka akan menjawab beberapa pertanyaan tentang kerja mereka, berbagi teknik andalan mereka dan banyak lagi. Sekarang, mulailah menulis!

Writing Tips from Emily Ruskovich, author of Idaho by The Perch

 _________________
(p) by Affan Firmansyah

Apa rekomendasi anda dalam menciptakan dan memahami karakter-karakter yang anda buat?

Marilynne Robinson pernah berkata di sebuah kelas yang saya hadiri bahwa “semua karakter hanyalah sebuah rasa dari karakter tersebut”. Hal ini sangat terasa dalam pengalaman saya menulis fiksi. Saya tidak secara aktif menciptakan karakter saya; sebagai gantinya, saya mendapatkan perasaan tentang mereka, jadi saya akan mengejar perasaan ini dan menepatkannya dalam sebuah adegan agar bisa mengenal dan menghabiskan waktu dengannya, dan berharap perasaan itu bermetamorfosis menjadi sesuatu yang dapat saya lihat dan pahami. Saya tidak membangun karakter dengan memikirkan fakta tentang karakter tersebut, seperti apa yang mereka inginkan, seperti apa rupa mereka, apa yang mereka minati. Detil itu datang setelahnya. Saya tahu bahwa membuat profil dari sebuah karakter adalah metode yang bekerja sangat baik untuk banyak penulis, tetapi ketika saya mencoba mengenal sebuah karakter, rasanya seperti saya mencoba mengenal bayangan yang dibuat oleh seseorang yang tidak bisa saya lihat, dan mungkin tidak akan pernah saya lihat, bahkan ketika cerita sudah selesai. Dan satu-satunya cara yang berhasil bagi saya — satu-satunya cara — adalah dengan membangun adegan di sekitar bayangan itu, hanya “rasa” saja. Bahkan ketika sebuah cerita atau novel selesai, saya tidak pernah benar-benar melihat wajah karakter saya. Ketika saya memikirkan mereka, perasaan yang saya dapatkan dari mereka berbeda dan sangat, sangat nyata, tetapi saya tidak membayangkan struktur wajah mereka, tangan mereka, pakaian mereka. Meskipun hal-hal itu penting namun agak tidak berarti bagi saya ketika saya menulis; saya merasa hal-hal itu seperti adalah satu-satunya hal yang serta merta saya “buat”. Bahkan, kadang-kadang saya lupa fakta dasar tentang karakter itu dan harus kembali dan memeriksa warna mata untuk memastikan konsisten, atau bahkan memeriksa usia karakter saya. Fakta-fakta semacam itu terasa sangat terpisah dari siapa sebenarnya karakter itu. Ada beberapa aspek tertentu yang bisa saya lihat. Sikap tubuh mereka sering sangat mudah dibedakan. Begitu juga penampilan sepatu mereka. Suara mereka, dan cara mereka berbicara. Dan terkadang warna rambut juga jelas bagi saya, tetapi tidak selalu. Seperti ketika saya mencoba memvisualisasikannya, mereka memalingkan wajah mereka. Mereka selalu bergerak. Baru-baru ini saya menyadari bahwa ini juga cara saya dalam membaca. Ketika saya membaca sebuah novel, saya tidak benar-benar “menggambarkan” orang-orang di kepala saya, bahkan jika wajah mereka digambarkan dengan sangat detil. Saya hanya merasakannya. Tidak ada yang bisa saya bandingkan dengan pengalaman ini, karena tidak ada pengalaman yang sama bagi saya seperti membaca kecuali menulis. Dan mungkin bermimpi, ketika Anda memiliki perasaan yang kuat di pagi hari tentang apa yang terjadi, dan itu benar-benar memengaruhi Anda, tetapi Anda tidak dapat mengingat detailnya. Wajah-wajah itu kabur. Saya tidak tahu apakah ini berguna atau tidak. Saya kira intinya adalah: Ketika Anda mencoba mengenal karakter, cobalah untuk tidak melihat mereka secara tepat. Percayalah pada insting Anda, betapapun cepat dan membingungkannya, dan cobalah untuk membangun adegan di sekitar perasaan anda, atau lebih tepatnya, biarkan perasaan itu membangun adegan itu untuk Anda. Ini satu-satunya cara karakter saya terasa nyata dan jujur. Saya harap ini tidak terlalu “abstrak” untuk menjadi saran yang bermanfaat. Tentu saja, ada banyak cara untuk mengenal karakter Anda, dan saya pikir penulis lain memiliki cara yang lebih mudah untuk mengenal mereka. Saya merasa sangat sulit menerjemahkan perasaan ke dalam bentuk manusia. Saya pikir itu sangat sulit.

Emily Ruskovich

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Saya suka menulis dengan hewan di sekitar saya. Kelinci saya memiliki kandang besar yang kami buat tepat di depan jendela saya, jadi saya selalu melihat, mengawasinya dan juga tupai-tupai yang mengunjunginya. Di pagi hari, sebelum saya mulai menulis, saya pergi ke sungai dan memanggil bebek peliharaan saya. Biasanya, mereka terbang langsung ke arah saya dan makan langsung dari tangan saya. Saya menetaskan mereka di inkubator, jadi mereka sangat jinak, meskipun mereka telah memilih untuk hidup di alam liar sekarang. Ketika mereka masih kecil, mereka akan tidur di pangkuan saya, atau di kaki saya, ketika saya bekerja dengan komputer saya. Ketika bebek-bebek saya memutuskan untuk tinggal di sungai, saya mengadopsi anak-anak kucing, sebagian alasannya agar saya memiliki sesuatu untuk dipanggil ke pangkuan saya ketika saya menulis. Bahkan hanya dengan memiliki pengumpan burung di luar jendela saya akan sangat membantu. Seringkali, saya mulai dengan membaca bagian-bagian indah dari penulis yang saya kagumi. Ruang kerja suami saya berada di sisi lain dari ruang saya, dan seringkali kita memulai hari kita dengan saling membacakan apa yang telah kita tulis sehari sebelumnya, untuk membuat kita bergerak, untuk meningkatkan kepercayaan diri kita. Sangat membantu memiliki seseorang yang mengejar hal yang sama dengan saya. Kami banyak saling membantu. Dia juga selalu punya kucing di pangkuannya.

Apakah Anda selalu ingin menulis? Bagaimana Anda memulai karir Anda sebagai seorang penulis?

Baca Juga:

Ya, saya sudah tertarik untuk menulis sejak saya masih sangat muda. Sebelum saya bisa menulis, saya sering mendikte cerita atau puisi kepada ibu dan ayah saya, dan mereka akan menuliskannya untuk saya. Saya ingat itu sepertinya merupakan hal yang paling ajaib bagi saya, bahwa hal-hal yang saya katakan dapat disimpan selamanya hanya dengan orang tua saya membuat goresan di selembar kertas. Saya sangat beruntung dibesarkan di sebuah rumah dimana menulis adalah bagian alami dari kehidupan. Ayah saya adalah penulis yang sangat produktif. Bahkan dengan semua yang harus dia kerjakan ketika saya tumbuh dewasa — mengajar, bertani, berkebun, merawat anak-anak, memotong kayu, membangun lumbung, mengelola masalah uang — dia masih punya waktu hampir setiap hari untuk menulis, bahkan ketika dia kelelahan. Dan itu adalah bagian yang sangat alami dari keberadaan saya. Saya memahami menulis sebagai sesuatu yang sewajarnya dilakukan orang-orang, bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Beberapa tahun lalu, ayah saya memberi saya satu koper penuh dengan puisi. Lima puluh pon puisi! Saya tahu persis beratnya lima puluh pon, karena kami tidak ingin membayar biaya tambahan di bandara ketika saya menerbangkan puisi-puisi ini dari Idaho ke Colorado, jadi kami menimbangnya dengan sangat hati-hati dan harus meninggalkan beberapa untuk menurunkan beranya. Mengangkut koper itu dari satu negara bagian ke negara bagian lain, setiap kali saya pindah, membuat saya merasa sangat sentimental, seperti saya diberi hadiah untuk benar-benar menyimpan beban imajinasinya. Sebagian besar puisi itu ditulis tangan. Banyak dari puisi itu adalah soneta. Banyak merupakan puisi yang sangat indah. Lima puluh pon puisi itu adalah harta favorit saya. Saya selalu ingin mengikuti jejaknya, jadi saya juga menulis sepanjang waktu. Dia mengajarkan saya sejak usia sangat dini. Jadi saya merasa karir saya tidak pernah memiliki titik awal. Dari awal menulis adalah sesuatu yang selalu dan akan saya lakukan, karena itu adalah apa yang ayah saya lakukan.

Klise atau kebiasaan buruk apa yang ingin Anda sampaikan kepada penulis pemula untuk dihindari?

*) Artikel lain dari topik ini bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Saya memiliki daftar klise yang saya berikan kepada siswa menulis kreatif tingkat intro saya. kami menyebutnya “The List.” Sebagai sebuah kelas, kami menyusunnya sepanjang semester. daftar ini sangat panjang, dan saya harap para siswa menganggapnya lucu sekaligus bermanfaat. daftar itu dibuat dengan humor. Berisi semua tema atau situasi yang saya temui berkali-kali dalam tulisan siswa. Beberapa item dalam daftar termasuk: “Tidak boleh ada kedai kopi; tidak ada bangun untuk memulai hari; tidak ada pesta anak kuliahan atau SMA; tidak ada Thanksgiving yang canggung; tidak ada badai yang mematikan listrik; tidak ada tempat tidur rumah sakit; tidak ada pembunuh bayaran; tidak ada anak yang menendang kaleng; tidak ada amnesia; tidak ada agen FBI; tidak ada eksekutif CEO yang tiba-tiba berhenti dari pekerjaan mereka dan menjadi makhluk bebas yang hidup di jalanan bermain musik; tidak ada pembunuh berantai; tidak ada kehamilan yang tidak diinginkan jika pusat konfliknya adalah apakah mempertahankan bayi atau tidak; tidak ada cerita berkemah atau hiking jika pusat konfliknya hilang atau diserang oleh binatang buas; tidak ada cerita yang energinya sepenuhnya berasal dari suara getir atau sarkastik; tidak ada yang menyeringai. Seringai jauh lebih sederhana daripada senyuman.” Daftar ini terus berlanjut. Tak satu pun dari hal-hal ini mutlak, tentu saja. Semuanya ditulis dengan sangat baik. Tetapi ini adalah tantangan yang ingin saya sampaikan di kelas menulis saya. Saya pikir siswa menikmatinya. Saya berharap begitu. Tentu saja, saya terkadang melanggar aturan itu sendiri. Salah satu aturan yang saya langgar adalah, “Tidak ada cerita dari sudut pandang binatang.” Dan saya benar-benar melanggar aturan itu dalam novel saya. Juga, novel saya memiliki badai yang mematikan listrik di semua tempat. Dan juga berisi tempat tidur rumah sakit.

Apakah Anda pernah membuat karakter berdasarkan orang yang Anda kenal? Kenapa atau kenapa tidak?

Ya dan tidak. Karakter saya adalah diri mereka sendiri, berbeda dari siapa pun yang saya temui. Tetapi saya menemukan bahwa saya memberikan karakter saya banyak kualitas dari orang yang saya cintai. Dalam novel saya, karakter utamanya menyerupai anggota keluarga saya. Tidak dalam tindakan mereka, atau dalam cerita mereka, hanya perasaan yang saya dapatkan dari mereka. Bagian terbaik dari karakter saya Wade mengingatkan saya pada ayah saya. Ada adegan di bab pertama ketika Wade mengetukan buku jarinya di atas piano seolah-olah untuk menguji kualitas kayunya, dan itu adalah tepat ayah saya. Tentu saja, mereka juga sangat-sangat berbeda.

Demikian pula, saya melihat ibu saya dalam kedua karakter perempuan utama saya, Jenny dan Ann. Ini mungkin hal yang aneh untuk dikatakan, mengingat saya melihat ibu saya sebagai orang yang paling lembut di Bumi, namun saya memberikan beberapa sifatnya yang paling baik kepada Jenny, yang telah melakukan tindakan kekerasan yang mengerikan. Tapi meminjamkan Jenny beberapa sifat ibu saya adalah cara berempati dengan Jenny, cara membuatnya kompleks, cara mencintainya terlepas dari apa yang dia lakukan, yang menurut saya sangat penting. Dan saya memang mencintai Jenny. Saya perlu, untuk melanjutkan kisah yang cukup menyedihkan ini. May juga terinspirasi dari saudari saya Mary. Karakter itu adalah yang paling dekat yang saya tulis tentang seseorang secara langsung, meskipun itu sama sekali bukan niat saya. Mary menjadi hidup dalam diri Mei begitu cepat. Saya hampir tidak mengubah satu kata pun dari bab tentang Mei sejak naskah pertamanya, karena bab-bab itu hampir seperti ditulis untuk saya, oleh suara masa kecil Mary. Saya memiliki foto saudara perempuan saya ketika dia masih muda “berenang” di tempat sampah yang diisi dengan air yang telah dihangatkan di bawah sinar matahari. Ketika saya melihat foto itu, saya melihat Mary dan May, sama. Itu membuat menuliskan perspektif May sangat alami dan sangat menyakitkan. Saya merasakan perasaan May bahkan lebih dalam karena kemiripannya dengan saudara perempuan saya. Karena itulah menyakitkan bagi saya untuk kembali ke beberapa bagian dari novel itu. June juga banyak mengingatkan saya tentang diri saya sendiri ketika saya masih muda.

Apa tiga atau empat buku yang mempengaruhi tulisan Anda, atau memiliki pengaruh yang mendalam pada diri Anda?

The Progress of Love oleh Alice Munro, dan juga semua bukunya. Beloved oleh Toni Morrison. Never Let Me Go oleh Kazuo Ishiguro. Lila oleh Marilynne Robinson. Dan Watership Down oleh Richard Adams.

Tabloids

Puisi Selalu Menemukan Jalannya Sendiri

mm

Published

on

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Pertanyaan yang muncul setelah The Dream Songs adalah bilamana aku akan berusaha menulis sebuah puisi yang panjang lagi, dan kupikir itu tidak mungkin, jadi aku tidak berharap untuk menulis bait-bait lagi.

Tapi tiba-tiba suatu hari di musim dingin tahun lalu aku menuliskan satu baris: “I fell in love with a girl.” Aku memerhatikannya, dan aku tak dapat menemukan ada yang salah dengan baris itu. Aku berpikir, “Sial, hal itu nyata” Aku merasa, seperti seorang temanku mengatakan, “merasa nyaman dengan hal itu.” Dan aku memerhatikannya sampai aku memikirkan sebuah baris kedua, dan kemudian baris ketiga, dan kemudian baris keempat, dan jadilah sebuah stanza. Tak berima. Dan semakin kuperhatikan, semakin aku menyukainya, jadi aku menulis stanza kedua. Dan kemudian aku menulis lebih banyak stanza, dan tahukah kau? Aku memliki sebuah lirik sajak, dan itu sangat bagus. Aku tak pernah tahu aku memilikinya dalam diriku! Jadi, ketika hari berikutnya aku menggubah sebuah stanza, mengubah beragam baris, disana sini, tapi segera setelahnya hal itu terlihat klasik.

Seklasik salah satu dari puisi-puisi Rubaiyat-tanpa keniscayaan rima dan matra, tetapi dengan keniscayaan-keniscayaannya sendiri. Kukira itu sebagus puisi-puisi awalku, dan beberapa dari mereka sangatlah bagus; kebanyakan dari mereka tidak, tapi beberapa memang bagus. Lebih jauh, baris-baris itu tidak mempunyai kemiripan dengan bait manapun yang pernah kutulis seumur hidupku, dan lebih jauh lagi, subjeknya sama sekali baru, benar-benar dan hanya tentang diriku sendiri. Tak ada yang lain. Sebuah subjek dimana aku adalah seorang ahlinya. Tak ada seorang pun yang bisa membantahku.

Aku percaya dengan teguh atas otoritas dari pembelajaran. Alasan mengapa Milton merupakan penyair terbesar Inggris kecuali untuk Shakespeare adalah karena otoritas dari pembelajarannya. Aku sarjana di bidang-bidang tertentu, tetapi subjek yang aku mempunyai otoritas penuh atasnya adalah diriku, jadi aku menghapus semua kepura-puraan dan mulai bekerja. Dalam lima atau enam minggu aku memiliki sesuatu yang tampak jelas sebagai sebuah buku berjudul Love & Fame.

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku sebelumnya sudah mengirimkan puisi pertama kepada Arthur Crook di Times Literary Supplement. Dia senang membacanya dan mengirimkanku sebuah contoh cetakan. Aku, sebaliknya, merasa senang bahwa dia menyukainya, jadi aku mengoreksi contoh cetakannya dan mengirimkannya lima puisi lagi-Aku tidak ingin puisi itu tampil sendirian. Jadi dia mencetak keenamnya, yang mengisi satu halaman penuh-sangat indah secara tipografi-dan ini semakin membesarkan hati.

Tapi aku masih tak yakin. Sementara itu, aku sedang berada di rumah sakit. Aku seorang pencemas. Aku telah kehilangan sembilan belas pon dalam lima minggu dan minum-minum banyak sekali-satu quart per hari. Jadi aku meminta penerbitku di New York, Giroux, mengkopi selusin salinan, yang aku kirimkan kepada teman-temanku diseluruh negeri untuk mendapatkan opini mereka. Itu adalah hal yang aneh untuk dilakukan-Aku tak pernah mendengar orang lain melakukannya-tapi aku melakukannya, mencari penguatan diri, konfirmasi, menginginkan kritik, dan seterusnya, dan aku mendapat sejumlah kritik yang sangat baik. Dick Wilbur memilih “Shirley & Auden”, salah satu lirik yang paling penting di bagian pertama-beberapa sajak yang lain begitu ringan, dan yang lainnya sangat ambisius- dan menjadikannya sengsara. Dan aku setuju-aku mengadopsi hampir semua saran.

Aku juga mendapat sejumlah konfirmasi dan penguatan diri, akan tetapi ada opini-opini yang lain juga. Edmund Wilson, yang pendapatnya sangat aku hargai, mendapati buku itu tak punya harapan. Dia mengatakan terdapat beberapa baris yang baik dan bait-bait yang menohok. Bagaimana kau menyukainya? Itu seperti mengatakan kepada seorang perempuan cantik, “Aku menyukai kuku kelingkingmu yang sebelah kiri; itu benar-benar manis,” sementara perempuan itu berdiri telanjang bulat tampak seperti Venus. Aku sangat terluka karena surat itu. Dan kemudian respon-respon yang lain sangatlah aneh. Mark Van Doren, guruku, seorang teman lama dan seorang hakim yang luar biasa bagi puisi, juga menulis. Aku lupa tepatnya yang dia katakan, tapi dia sangat serius dengan buku itu. Dia mengatakan hal-hal seperti “orisinil,” dan “akan berpengaruh”, dan “akan menjadi populer,” dan seterusnya, tapi “juga akan ditakuti dan dibenci.”

Sungguh surat yang sangat mengejutkan! Aku membutuhkan berhari-hari hingga aku terbiasa dengan surat itu, dan aku membutuhkan lebih banyak hari lagi untuk memahami maksudnya. Tapi sekarang aku mengerti apa yang yang dia maksud.

Sejumlah puisinya mengancam, sangat mengancam untuk sebagian pembaca, tak ada keraguan untuk itu. Sebagaimana beberapa orang menganggapku mengancam-berada dalam satu ruangan denganku membuat mereka gila. Dan kemudian ada cukup banyak kecabulan dalam sajak-sajak itu juga. Dan ada begitu banyak belas kasihan dalam sajak-sajak terakhir, yang akan mengganggu banyak orang.

Kau tahu, negeri ini penuh dengan para ateis, dan mereka benar-benar akan merasa diri mereka terancam oleh puisi-puisi itu. Majalah The Saturday Review mencetak lima dari puisi-puisi itu, dan aku menerima banyak sekali surat tentang itu- lagi-lagi menyampaikan opini yang sangat beraneka ragam.

Beberapa orang setulusnya hanya berterimakasih karena aku memberitahu mereka bagaimana menempatkan apa yang mereka rasakan selama bertahun-tahun. Dan ada orang-orang lain yang membencinya—mereka tak menyebutnya tak tulus, tapi mereka hanya tak bisa memercayainya.

*) John Berryman

Continue Reading

Tabloids

Saat Ide Menulis Macet dan Pengarang Putus Asa

mm

Published

on

Ya, itu bisa berwujud apa saja. Bisa saja sebuah suara, sebuah gambar; bisa jadi sebuah momen terdalam dari keputusasaan diri. Misalnya, dengan Ragtime aku sedang sangat putus asa untuk menulis, aku menghadap dinding ruang kerjaku di rumahku yang berada di New Rochelle dan jadilah aku mulai menulis tentang dinding itu. Itu salah satu jenis hari yang terkadang kita alami, sebagai penulis. Kemudian aku menulis tentang rumah yang menempel dengan dinding itu. Rumah itu dibangun tahun 1906, kau paham, jadi aku memikirkan tentang era itu dan bagaimana Broadview Avenue terlihat pada masa itu: mobil-mobil trem listrik berjalan melalui jalan raya yang berada dibawah bukit itu; orang-orang mengenakan baju berwarna putih pada musim panas agar tetap sejuk.

Waktu itu Teddy Roosevelt seorang presiden. Satu hal menuntun ke hal lain dan begitulah buku itu dimulai, melalui keputusasaan menuju gambaran-gambaran itu. Dengan Loon Lake, sangat berbeda, itu hanya sebuah perasaan yang kuat tentang sebuah tempat, perasaan yang membuncah ketika aku menemukan diriku sendiri di Adirondacks setelah bertahun-tahun pergi jauh…dan semua ini sampai pada titik dimana aku melihat sebuah tanda, sebuah penanda jalan: danau Loon. Jadi itu bisa apa saja… aku menyukai bunyi dari dua kata yang bergandengan-danau Loon. Aku memiliki bayangan-bayangan pembuka itu tentang sebuah kereta dengan rel pribadi di atas trek tunggal di malam hari menanjak melalui Adirondacks dengan sekelompok gangster di dalamnya, dan seorang gadis cantiK berdiri, telanjang, memegangi sebuah busana berwarna putih tepat di hadapan cermin untuk mengetahui apakah dia harus mengenakannya.

Aku tak tahu darimana para gangster itu berasal. Aku tahu kemana mereka akan pergi-ke kamp seorang lelaki kaya. Bertahun-tahun lalu orang yang sangat kaya raya menemukan alam liar di pegunungan paling timur Amerika. Mereka membangun kamp yang sangat luar biasa itu-C. W. Post. Harriman, Morgan-mereka menjadikan alam liar itu kemewahan bagi mereka sendiri. Jadi aku membayangkan sebuah kamp semacam ini, dengan para gangster itu, orang-orang kelas bawah itu pergi ke atas menumpang sebuah kereta dengan rel pribadi. Itulah yang membuatku memulai. Aku mempublikasikan materi ini di Kenyon Review, tetapi aku tidak terpuaskan.

Aku terus berpikir tentang bayangan-bayangan itu dan merasa heran darimana hal itu berasal. Latar waktunya adalah tahun 1930an, benar-benar saat terakhir seseorang dapat memiliki jalur kereta mobil pribadi, seperti halnya saat ini orang-orang memiliki jalur jet pribadi. Terjadi sebuah krisis ekonomi saat itu, jadi orang yang menyaksikan kereta yang mengagumkan ini pastilah seorang tunawisma, seorang pejalan kaki. Lalu aku mendapatkan karakterku, Joe, diluar sana dalam kedinginan cuaca seperti ini, kegelapan semacam ini, melihat lampu utama mesin itu menuju kelokan dan membutakannya, dan kemudian selagi kereta itu berlalu menyaksikan orang-orang itu di meja-meja dengan tabir hijau disuguhi minuman-minuman dan gadis itu berdiri di sebuah kamar kompartemen menggenggam gaunnya. Dan pada saat fajar, dia mengikuti lintasan ke arah kereta itu berlalu. Dan dia pergi dan berlari, dan begitu pun diriku.

*) E. L. Doctorow

Continue Reading

Tabloids

Cara Terbaik agar Tidak Gagal Menulis Novel

mm

Published

on

Kecuali jika kau seorang Henry James, hal tersuit adalah memikirkan kalimat pertama.

Apa yang sulit dengan kalimat pertama hingga kau terjebak dengan itu. Segala hal yang lainnya akan mengalir dari kalimat itu. Dan saat kau sudah menuliskan dua kalimat pertama, pilihan-pilihanmu sudah menghilang.

Benar sekali, dan kalimat terakhir dalam sebuah karya adalah sebuah petualangan lain. Kalimat itu harus membuka ceritanya. Ia harus membuatmu kembali dan mulai membaca dari halaman pertama. Begitulah seharusnya, tapi itu tak selalu berhasil. Aku berpikir tentang menuliskan sesuatu apa pun itu sebagai semacam tindakan yang berisiko tinggi. Saat kau mulai membubuhkan kata-kata di atas kertas kau sedang menghapus kemungkinan-kemungkinan.

Kecuali jika kau seorang Henry James.

Kukira itu bagian dari dinamikanya. Aku memulai sebuah buku dan aku ingin membuatnya sempurna, ingin buku itu menghasilkan semua warna, ingin buku itu menjadi dunia itu sendiri. Sepuluh halaman berlalu, aku sudah menghancurkannya, membatasinya, membuatnya lebih sempit, merusaknya. Hal itu sangat mengecilkan hati. Aku membencinya pada saat itu. Setelah beberapa waktu aku tiba pada sebuah kesepakatan: baiklah, itu bukan buku yang ideal, itu bukan objek sempurna yang ingin kubuat, tetapi mungkin saja-jika aku terus melanjutkan dan menyelesaikannya-aku dapat memperbaikinya lain waktu. Mungkin aku bisa mendapatkan kesempatan lain.

*) Joan Didion

Continue Reading

Trending